Sun Flower Part 13


 

Title : SUN Flower Part 13 (The Tears Of Moon)

 Author : DEVITA

 Gendre : Colosal, Angst, Romence, Drama, Thrailer, NC

Ranting : 21+

Cast :

  • Kim Taehyung
  • Choi Min Gi
  • Park Jong Soo
  • Han Ahn Rin
  • Kim Seokjin
  • Park Ji Soo
  • BTS member & Super Junior Member&SNSD

Author Note :

Kembali lagi bersama saya permisah, author nggak yakin sama feel part ini bisa sesuai ekspetasi author apa enggak soalnya mood author nggak lagi bagus-bagus amat. Author nggak tau karena pembacanya bukan author kekekeke oh ita kebiasaan author kalo lagi nulis ff dengan part yang melow biasanya sambil dengerin lagu yang melow juga. Jadi author sararnini kalian baca part ini sambil dengerin lagu-lagu yang melow *nasehat ceritanya*

 

Lagu baru yang author suka dengan jendre melow itu Beautiful Life OST drama Golbin, tapi yang Cover Jungkook soalnya suaranya lebih bagus dan lebih alus dari penyanyi asliya wkwkwkw #Kutuk saya permisah *Padahal author belum liat dramaya #Nguk!* sama House Of Card – BTS. Yuk capcus sekarang nanti author kebanyakan bacot.

 

 

SUN Flower part 13

(The Tears Of Moon)

 

 

Jung Soo duduk di singgasana-nya sambil menatap tajam Ji Sung dan Kyuhyun sementara kedua jendral tersebut berlutut di hadapanya sambil merunduk dalam. Tanganya mencengkram ujung singgasananya kuat, ia tidak yakin siapa yang seharusnya disalahkan disini? Mendengar semua penjelasan Kyuhyun membuatnya memendam kemarahan yang sulit untuk di luapkan. Gugoryeo telah membunuh Jendral kesayanganya dan Buyeo lah penyebabnya sementara Silla bersahabat dengan Buyeo. Apakah dia harus marah dan menuduh Buyeo lalu menghancurkan bersahabatan mereka? Lalu setelah itu apa?

 

“Maafkan kami Yang Mulia, kami tidak bisa menjaga Jendral besar. Saat itu kami juga bertarung dengan Gugoryeo kami tidak tau masalahnya saat tiba disana tapi pasukan Gugoryeo ikut menyerang kami. Jadi kami tidak sempat bertanya…” kata Kyuhyun melirik ke atas dimana Jung Soo duduk dan menatapnya dengan wajah yang dingin.

 

“Dan kalian tidak menyisakan satu pun prajurit mereka untuk bertanya?” tanya Jung Soo balik dengan nada yang sarkatis.

 

“Bukan kami yang membunuh mereka semua tapi Buyeo yang melakukanya.” Sahut Jisoo.

 

“Dan kalian tidak menghentikan mereka?!” kali ini Jung Soo bertanya lagi dengan nada yang lebih tinggi.

 

“Maafkan kami Yang Mulia, saat itu kami dalam posisi yang serba salah kami tidak tau duduk masalahnya jadi kami hanya tidak mengerti apa yang harus kami lakukan…” sahut Ji Sung lagi.

 

“Kau aku angkat menjadi Wakil Jendral Besar bukan tanpa alasan Tuan Jeon, aku pikir kau memiliki kemampuan lebih baik dari pada hanya berdiri di tempat melihat kerusuhan dan ketuamu dibunuh!”

 

“Kami tidak bisa mencegah mereka Yang Mulia.” Sahut Kyuhyun membela diri. “Buyeo memiliki banyak prajurit dan mereka sulit untuk mendengarkan perintah kami dan saat Jendral Besar masuk ke tengah pertempuran untuk melerai mereka pihak Buyeo malah menuduh Jendral Besar menghianati kita sedangkan Goguryeo berfikik Jendral Besar lah yang memerintah mereka. Kami tidak bisa berbuat apa-apa saat tuduhan-tuduhan itu muncul dan keadaan semakin keruh kami hanya berfikir kami harus segera keluar dari posisi itu.”

 

“Kami terpencar dan saat pertarungan selesai kami hanya bisa menemukan seluruh jasad prajurit Goguryeo dan Jendral Besar di tengah tempat pertempuran.”

 

Tatapan Jung Soo semakin mendingin, membuat Kyuhyun dan Ji Sung semakin merunduk dalam takut akan mati membeku di sana karena tatapan Jung Soo. Lelaki itu kemudan berdiri dan menggebrak meja di sampingnya kuat membuat kepala pelayan dan kepala rumah tangga kerajaan terlonjak kaget.

 

“Pergi dan temui Mentri Min!” katanya dengan suara yang penuh dengan emosi kepada kepala rumah tangga kerajaan. “Katakan padanya aku akan pergi ke Buyeo sekarang juga!”

 

“B-baik Yang Mulia.” Kata lelaki itu merunduk kemudian berjalan pergi.

 

Tanpa berbicara apa pun lagi dengan nafas yang memburu seperti banteng Jung Soo pergi ke luar istana tanpa menatap satupun manusia yang berada disana.

*****

 

Min Gi menatap lurus tajam ke arah pintu yang sejajar dengan tempat duduknya seolah dia bisa melihat tembus melewati pintu itu untuk menemukan seorang lelaki muda yang sudah di tunggu pertanggungjawabanya. Kedua tanganya saling meremas satu sama lain semakin kuat rahangnya mengerat dan giginya menyaru dengan kuat seolah jika lelaki itu muncul ia akan membunuhnya saat itu juga di depan pintu.

 

Tidak cukupkah nyawa adiknya menjadi jaminan? Jimin yang saat itu terlihat begitu menyayangi adiknya, Jimin si lelaki berhati malaikat dengan mudahnya di perdaya oleh Tae Hyung lagi dan bahkan mampu mengorbankan adiknya sekarang? Pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok yang di tunggunya.

 

“Aku menunggumu keponakanku sayang….” matanya terus menatap Jimin tajam. “Aku tidak yakin, tapi mengingat apa yang sudah kau lakukan rasanya menunggu sedetik sama dengan setahun.”

 

Jimin menatap Min Gin dengan berani sekilas kemudian merunduk hormat. “Maafkan saya membuat Anda Yang Mulia.”

 

“Yang terpenting sekarang kau ada disini,” Wajah Min Gi sedikit melembut kemudian melirik ke samping sekilas. “Dan jawabanmu, sekarang. Karena adikmu sedang dalam yang benar-benar terancam.”

 

“Apa maksud Anda Yang Mulia?” tanya Jimin tanpa menatap Min Gi.

 

“Apakah perlu aku perjelas? Aku fikir kau tau kenapa adikmu bersamaku, apa kau lupa?” Min Gi memiringkan kepalanya dan menyeringai sinis pada Jimin. “Kau pasti sudah mendengar kabar buruk Silla bukan? Jadi berhenti bersandiwara sebelum aku benar-benar muak dan kau akan menyesal.”

 

“Saya tidak pernah menyesal atas apa yang lakukan Yang Mulia, saya melakukan ini semua dengan begitu banyak perimbangan. Anda akan membunuh Jisoo? Anda bisa melakukannya sekarang…” tanpa terduga dengan berani Jimin menatap tepat ke mata Min Gi.

 

Seringaian Min Gi perlahan luntur rahangnya semakin tinggi dan mengeras menatap Jimin dengan tatapan serigala gunungnya tapi yang mengejutkan lelaki itu tidak terpengaruh sama sekali.

 

“Kau merelakan nyawa adikmu untuk keinginan Tae Hyung? Biar aku ingatkan sekali lagi keponakanku sayang dia akan membunuh pamanmu…”

 

“Dan Anda akan membunuh adik saya…” sahut Jimin cepat.

 

Min Gi menatap Jimin beberapa saat kemudian mulai terkekeh muak, ini memuakan benar-benar memuakan. “Bukankah sudah aku bilang aku tidak akan membunuhnya asalkan kau mengikuti perintahku? Aku tidak tau apa yang kau fikirkan, bagaimana kau bisa mengorbankan adikmu keponakanku sayang? Apa uang Tae Hyung berikan padamu?”

 

“Pangeran memberikan segalanya untuk Jisoo, semuanya yang tidak bisa orang lain berikan padanya dan itu jauh lebih dari cukup untuk saya Yang Mulia.” Jawaban itu membuat alis Min Gi berkerut tipis dan Jimin bisa membacanya dengan cepat, wanita itu tidak paham dengan apa yang ia ucapkan barusan.

 

“Anda berfikir bahwa Jisoo ada bersama Anda Yang Mulia? Kenapa anda tidak mencoba memeriksanya? Apakah benar adik saya ada bersama Anda?” Jimin menyeringai tipis hampir tidak terbaca.

 

Mendengar pertanyaan dan ekspresi Jimin wajah Min Gi mendingin kepalanya mundur sedikit dan menatap tajam Jimin. Lelaki muda ini cukup berani rupanya tidak jauh dengan adiknya yang bermulut lancang.

 

“Saya mengikuti Perintah Anda karena Jisoo bersama Anda, tapi Jisoo sudah tidak berada di daerah kekuasaan Anda lagi Yang Mulia. Sekarang Jisoo aman bersama saya dan Pangeran, tidak ada lagi alasan untuk saya mengikuti Anda apakah jawaban saya sudah menjadi pertanggung jawaban yang sesuai untuk Anda Yang Mulia?”

 

Tangan Min Gi terkepal kuat Jimin bisa melihat jelas kemarahan Min Gi tapi Jimin tau wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Min Gi tidak bisa memperalatnya lagi.

 

“Kau tau? Kau baru saja keluar dari kandang serigala ini keponakan ku sayang, kau bebas dari tekananku kau memang lelaki yang hebat.” Min Gi menarik tanganya dari atas meja ke atas pangkuanya sendiri sambil mencoba mengontrol amarahnya. “Tapi sayang sekali tidak seharusnya kau masuk ke kandang harimau seperti Tae Hyung…”

 

“Aku memang mengancam membunuh adikmu tapi dia akan memintamu membunuh pamanmu.” Menarik nafasnya dalam lalu menghembuskanya perlahan. “Kau akan membunuh paman yang menjadi walimu selama ini, yang menjagamu dan juga yang menyayangimu keponakanku sayang. Kau akan membunuhnya, bukankah itu menarik?”

 

“Jika Paman memang menyayangi saya Yang Mulia, dia tidak akan memerintahkan Jendral besar untuk mengabaikan nyawa saya dan teman-teman saya hanya untuk membunuh Pangeran.” Jawab Jimin secara gamblang tanpa berfikir lagi.

 

Untuk yang kedua kalinya Min Gi terkejut, ia tau Jimin pasti mengetahui tentang penyebab insiden peperangan Gaeseong kemarin tapi ia tidak berfikir bahwa Jimin berfikir sejauh itu. ia juga tidak tau kalau Jimin tidak mengetahui tentang Jung Soo yang berusaha melindunginya saat misi itu.

 

“Pamanmu tidak pernah mengabaikan nyawamu, dia tidak pernah ingin membunuhmu secara sengaja atau pun tidak sengaja. Dia memang mengirim Dong Hae dan pasukanya untuk membunuh Tae Hyung tapi dia juga memerintahkan mereka untuk melindungimu.” Jawab Min Gi dengan amarah yang sudah merada menatap Jimin dengan tatapan yang dalam. Lelaki itu membulatkan matanya sedikit dengan pupil yang mengecil, benar Jimin tidak tau tentang yang itu.

 

“Dan aku memang mengancam membunuh Jisoo tapi itu hanya sebuah ancaman Jimin-ah, aku pikir kau bisa lebih pandai. Aku pikir aku akan melepaskan Jisoo setelah Tae Hyung menikah dan tinggal di Tamna, setelah aku yakin dia tidak akan melakukan pemberontakan lagi maka aku akan membebaskan Jisoo. Aku pikir kau akan paham posisiku tapi aku salah, kau malah membantu Tae Hyung membunuh pamanmu dan menyerahkan Jisoo padanya.”

 

Mendengar penjelasan itu kepala Jimin merunduk, ia tidak tau keadaan yang sebenarnya. Jimin berdiri di tengah-tengah Min Gi dan Tae Hyung, kedua penguasa yang memiliki kelicikan yang setara ia tidak tau mana yang benar dan mana yang salah karena di kedua bola mata Jimin. Kedua orang ini sama-sama mengerikan.

 

Min Gi yang menatap Jimin yang terdiam dan merunduk ikut menurunkan kepalanya agar bisa melihat wajah lelaki itu. “Apa kau menyesal dengan keputusanmu sekarang?”

 

“Tapi Paman mengabaikan nyawa teman-teman saya Yang Mulia, teman yang saya anggap seperti saudara saya sendiri.” Kepala Jimin semakin terangkat. “Dan caranya untuk membunuh Pangeran sudah kelewat batas, dia tidak memikrkan orang-orang di sekitarnya. Saya tidak bisa memilih apakah aku harus membantu Pangeran membunuh paman yang sangat menyayangi saya atau membiarkan teman-teman saya yang juga sangat menyayangi saya terbunuh karena paman.” Berhenti sejenak menatap Min Gi.

 

“Saya juga tidak bisa memilih menyerahkan Jisoo pada Pangeran dan melihat adik saya bahagia tapi aku harus membunuh paman atau saya membiarkan Jisoo menderita sementara di pengasingan dan kehilangan lelaki yang dicintainya demi hidup paman. Jika Anda berada di posisi saya Yang Mulia mana yang akan Anda pilih?”

 

Karena Jimin benar-benar putus asa untuk memilih teman dan adiknya atau pamanya. Walaupun Jung Soo sangat menyayanginya dan Jisoo walaupun Jisoo akan tetap hidup bersamanya pada akir nanti tapi apakah ia bisa berdiri tanpa Jungkook? Tanpa Yoongi, Namjoon dan Hoseok? Ia yatim sejak Jisoo lahir, Jimin kehilangan kedua orang tuanya dan hanya teman-teman yang berada disekiranya yang selalu menghiburnya.

 

Begitu banyak, terlalu banyak yang mereka lalu bersama saat ia sakit pun Hoseok yang merawatnya, saat ia sedih Jungkook yang menghiburnya saat ia merasa jatuh dan tertekan Namjoon yang menyemangatinya dan saat ia kesepian Yoongi yang menemaninya. Jung Soo memang berperan hampir seperti ayahnya saat ayahnya meninggal lelaki itu menjadi wakilnya sampai kemarin ia tau Jung Soo adalah sosok yang hangat ia berfikir kehilangan orang tua bukanlah berarti kehilangan segalanya karena Jung Soo ada di sampingnya saat itu tapi ketika insiden Gaeseong terjadi Jung Soo merubah semuanya.

 

Semua orang yang berada disana mengutuk Jung Soo, Jimin tetap diam saat itu dan memilh untuk tidak ikut campur tapi mendapati semua sahabatnya mendukung Tae Hyung membuatnya melemah. Lalu ketika Min Gi dengar serta merta menghukum Jisoo ia tidak memiliki jalan lain selain meminta bantuan Tae Hyung dan baru kemarin Tae Hyung menujukan tanggungjawabnya pada Jisoo baru kemarin ia menerima uluran tangan persahabatan dari Tae Hyung dan sekarang kenyataan baru menghatamnya dan membuatnya bingung.

 

“Sudah terlambat Yang Mulia….” jawab Jimin pada akirnya dengan denyut jatung yang terasa menyakitkan. “Saya tidak bisa memilih, dan sekalipun saya merubah haluan saya semuanya sudah terlambat.” Bola matanya menatap Min Gi. “Seandainya saat itu Anda memohon dengan baik pada saya mungkin saya berada di pihak Anda saat ini tapi yang Anda lakukan malah menindas Jisoo dan memaksa saya membuat saya salah paham terhadap anda dan membuat saya membenci Anda Yang Mulia.”

 

 

“Seandainya saya tau niat Anda tidak sejahat itu mungkin sekarang menjadi berbeda. Sekarang sudah terlanjur, Jisoo terlanjur bersama Pangeran, semua sahabatku ada di pihak Pangeran dan aku sudah berhutang terlalu banyak pada Pangeran. Jika ini memang takdir paman, biarkan takdir yang memutuskanya dia mungkin akan mengutuku nanti di surga dan aku akan menerimanya.”

 

Min Gi menatap Jimin beberapa saat sebelum merundukan kepalanya. Ia tau, sangat tau bagaimana keadaan Jimin sekarang karena sekarang pun ia sedang mengalaminya. Ia tidak berfikir akan menempatkan Jimin di posisi yang seperti ini, wanita itu kemudian mendongak menatap Jimin.

 

“Baiklah jika itu pilihanmu keponakanku kau boleh pergi…” katanya kemudian mengalihkan tatapanya dari Jimin.

 

“Terima kasih atas pengetian Anda Yang Mulia, tapi sebelum pergi aku hanya ingin bilang. Pangeran sudah melangkah sangat Jauh, jauh dari apa yang bisa Anda rasakan dan jauh dari apa yang Anda pikirkan. Saya harap bagaimanapun hasilnya nanti itu akan menjadi yang terbaik untuk Silla.”

 

Matanya menatap Jimin lagi dengan tatapan tidak percaya, apakah lelaki itu baru saja memberikan satu bocoran untuknya menghadapi Tae Hyung? Jimin tidak berbicara apa pun lagi setelah itu, lelaki itu merunduk lalu keluar dari ruang pertemuan istana permaisuri.

*****

 

Min Gi terdiam mematung di kamar Jung Soo, malam ini ia mendatangi Jung Soo setidaknya untuk melihat bagaimana keadaan lelaki itu namun pengawal bilang Jung Soo pergi tadi siang. Mereka bilang Jung Soo mengunjungi Buyeo yang itu berarti masalah ini sudah menjadi begitu runyam. Hanya karena satu orang, tiga negara saling berselisih hanya karena kelakuan satu orang. Kim Tae Hyung apakah masih pantas disebut manusia? Lelaki itu pasti sedang tertawa senang diatas rusuhnya Silla, Goguryeo dan Buyeo.

 

Benar apa yang di katakan Jimin lelaki itu sudah melangkah terlalu jauh, dia sudah seperti iblis yang haus peperangan dan darah lalu sekarang apa yang harus ia lakukan? Min Gi gagal menghentikan Tae Hyung. Dengan peringatan keras dan taktik yang ia susun ia tetap gagal menghentikan Tae Hyung, bagaimana lagi caranya untuk menghentikan lelaki itu?

 

Min Gi perlahan menududukan dirinya di kursi kebesaran Jung Soo lalu memegang pelipisnya pelan. Ia sangat marah, saking marahnya sampai membuat kepalanya hampir meledak dan tidak bisa lagi digunakan untuk berfikir. Ia hanya ingin melindungi Tae Hyung dan semua orang, ia hanya ingin semuanya tetap dalam keadaan baik, ia hanya ingin mengambulkan permintaan orang tua Tae Hyung untuk menjaga lelaki itu agar tetap hidup aman dan bahagia tapi yang Tae Hyung inginkan adalah dendamnya.

 

“Berjanjilah kau akan menjaga Pangeran kami dengan baik…. Berjanjilah bahwa matahari kami akan terus bersinar.”

 

Min Gi menutup matanya, bayangan suara Permaisuri Tae Yeon terus berdengung di telinganya membuat dadanya semakin sesak. Ia sudah mengorbankan hampir segalanya dan matahari itu masih saja dalam gerhana yang gelap, di tutupi dengan bayangan-banyangan kebencian dan dedamnya, lalu bagaimana caranya menghilangkan bayangan itu? apakah dengan semua rasa sakitnya tidak cukup? Min Gi berdiri kembali berjalan keluar menuju istana Pangeran walaupun hari sudah gelap.

 

Ia tidak bisa menghentikan Tae Hyung dengan cara yang frontal dan kasar jadi ia harap usaha terakhirnya bisa membuat lelaki itu mengerti bahwa rasa sakit ini harus di hilangkan bukan dibalas. Saat tiba di depan pintu istana Pangeran seorang pengawal mengumumkan kedatanganya lalu menggeser pintu untuk Min Gi.

 

“Ada badai apa Ibu Permaisuri mengunjungi ku?” Tae Hyung bertanya dengan nada yang santai, lelaki itu duduk di kursi kebesaranya sambil tersenyum tipis pada Min Gi. “Di malam seperti ini…” lanjutnya lagi.

 

“Kau tau apa badai apa yang terjadi Pangeran, karena kau lah penyebabnya.” Min Gi menjawab dengan nada dan wajah yang dingin membuat senyum Tae Hyung semakin melebar.

 

“Bulan dan Matahari selalu bergerak membuat pasang surut air laut Yang Mulia. Tentu saja kau tidak bisa menyalahkan aku disini, ah tidak kita berdua.” Perlahan Tae Hyung beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan mendekati Min Gi yang masih mematung di depan pintu yang tertutup. “Dan tentu saja tidak menutup kemungkinan bisa menyebabkan badai. Maka dari itu seharusnya kau tetap bersamaku, karena kalau tidak akan terus terjadi badai di Silla.”

 

Min Gi mengabaikan setiap ucapan Tae Hyung menatap lelaki yang tengah tersenyum itu dengan tatapan tajamnya. “Kau sudah berhasil membunuh Dong Hae apa kau senang?”

 

Tae Hyung terdiam namun senyumnya sama sekali tidak luntur, lelaki itu malah mengulurka tanganya pada Min Gi membuat wanita itu menatapnya bingung. Sampai beberapa saat Min Gi tidak merespon uluran tangan dari Tae Hyung membuat lelaki itu tidak sabar menunggu. Tae Hyung menghampiri Min Gi lebih dekat lagi tanganya terulur ke tengkuk wanita itu lalu menariknya mendekat dan mendaratkan bibirnya di pelipis Min Gi.

 

Bola mata Min Gi terkejut beberapa saat, isi kepalanya mendadak hilang karena sentuhan riangan dari Tae Hyung membuatnya seperti gadis remaja yang dungu. Kemudian Tae Hyung merangkum wajahnya dengan kedua tangan mengankat wajah Min Gi membuat wajah mereka hanya berjarak seujung kuku Min Gi.

 

“Apa maksudmu?” bisik lelaki itu tepat di depan bibir Min Gi membuat tubuh gadis itu bergetar mendamba. “Kematian Jendral Besar sama sekali tidak ada hubunganya dengaku Yang Mulia. Aku selalu duduk manis dan mengikuti semua perintahmu apakah kau tidak mau memberikan sebuah hadiah untukku?” kemudain Tae Hyung mengecup bibir Min Gi begitu saja membuat Min Gi hampir kehilangan akal sehatnya.

 

Tae Hyung kemudian tersenyum lagi menatap mata bulat Min Gi yang terkejut, seandainya mereka tidak dalam kondisi yang seperti ini mungkin Min Gi sudah polos dalam dekapan Tae Hyung. Tapi untuk yang ke seratus juta kalinya Tae Hyung harus mengumpat dirinya sendiri untuk mengendalikan dirinya. Lelaki itu duduk di sebuah kursi di dekat meja di kamar tersebut tanpa menatap Min Gi.

 

“Mood mu pasti sedang benar-benar baik saat ini Pangeran.” Kata Min Gi setelah kembali sadar dari kegilaan sesaatnya. Lalu menoleh pada Tae Hyung yang hanya tersenyum menatapnya, itu sangat terlihat itu seperti senyum kemenangan yang setengah mengejek. “Bagaimana kabar Jisoo? Apakah dia baik-baik saja bersamamu?”

 

“Kau cemburu?” senyuman itu semakin lebar saat Tae Hyung melihat kemarahan di mata Min Gi.

 

“Untuk apa aku cemburu?” tatapan Min Gi melembut, ia harus sadar apa tujuanya kemari ia tidak bisa terpancing oleh Tae Hyung dengan mudah. Lelaki itu mungkin bisa mempengaruhi semua orang kecuali Min Gi.

 

“Para wanita memang selalu jual mahal iya kan?” Tae Hyung menyenderkan punggungnya dengan santai tanpa perduli tata krama Pangeran dan Permaisuri lagi.

 

“Kau mencintai Jisoo? Jika iya mungkin aku akan berubah fikiran, aku bisa menjadikan Jisoo sebagai Selir Hibin untukmu.” Min Gi masih berdiri menatap Tae Hyung datar sementara lelaki itu memalingkan tatapanya. “Itu yang kau inginkan?” lelaki itu malah mengeratkan rahangnya.

 

“Kau tidak mencintainya?”

 

“Kenapa mengalihkan pembicaraan Noona?” akirnya Tae Hyung membuka mulutnya dengan wajah yang setengah kesal.

 

“Apa kau mencintaiku?” Min Gi bertanya lagi dengan nada yang lebih halus, ia menyimpan kata itu untuk Tae Hyung jauh, sangat jauh di dalam hatinya dan tidak pernah berfikir ucapan itu akan keluar dari sana. Kata itu seperti sebuah beling di dalam dirinya yang sudah menjadi satu dengan daging lalu dengan paksa lelaki itu menekan beling itu keluar dari dirinya dan membuat beling itu melukai dirinya lagi.

 

Membuat beling itu mengiris setiap urat dan daging dalam tubuhnya membuat luka baru yang besar dan dalam dengan darah segar yang terus megalir dari sana. Menyimpan rasa cinta itu sudah cukup menyakitkan untuk Min Gi tapi mengeluarkan jauh lebih menyakitkan lagi, karena menyimpan rasa cinta itu sudah menjadi bagian dari kehidupan Min Gi.

 

Tae Hyung terdiam menatap Min Gi tanpa berkedip sinar kedua bola mata Min Gi meredup, dan ia bisa merasakan berapa menyakitkanya kata itu saat keluar dari bibir indah Min Gi. Cintanya terdengar seperti racun yang baru saja wanita itu semburkan dari mulutnya, seperti sesuatu yang sangat tidak diinginkan dan sangat mematikan untuk Min Gi membuat Tae Hyung membisu.

 

“Jika kau mencintaiku hentikan semua ini Tae Hyung-ah…” ucap wanita itu sambil menarik nafasnya dalam.

 

Sementara lelaki itu masih saja menatap wajah cantik Min Gi beberapa saat sebelum membuka mulutnya. “Apakah kau juga mencintaiku?” Tae Hyung berdiri dari duduknya tangan kananya terulur menyentuh wajah Min Gi perlahan. “Kau mencintaiku?” tanyanya dengan nada sehalus deru anging di bawah pohon mapel di musim semi, lelaki itu menatapnya seperti ia adalah satu-satunya berlian berharga yang tersisa di dunia ini membuat Min Gi tidak lagi bisa menahan airmatanya.

 

Apakah itu pertanyaan yang harus dijawab? Apakah Min Gi harus menjawabnya? Karena pasti sangat menyakitkan saat diucapkan. Satu kata yang akan membuka semua lukanya yang sudah membusuk di dalam sana, seperti sebuah penyakit kronis yang tidak bisa diobati maupun ditolong lagi seperti itu cintanya untuk Tae Hyung dalam diri Min Gi. Penyakit itu tidak bisa di obati lagi, tidak bisa di sembuhkan tapi luka itu juga tidak pernah membiarkanya mati dengan tenang.

 

Lihatlah betapa menyedikanya dirimu Choi Min Gi…

 

Tae Hyung menarik Min Gi dalam pelukanya, memeluk wanita itu dengan erat sangat erat seolah ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun padahal mereka sudah bertemu sejak lama. Tae Hyung seperti menemukan Min Gi yang dicarinya, ia baru saja menemukan Min Gi yang dirindukanya, Minie-nya…

 

“Jika kau mencintaiku kau hanya perlu terus berada disampingku, jika kau mencintaiku kau hanya perlu datang padaku Noona…” Kata Tae Hyung sambil menciumi kepala dan leher Min Gi.

 

“Aku mohon hentikan semuanya yang kau lakukan Tae, hentikan semuanya aku tidak ingin kau berubah menjadi Iblis sama seperti Jung Soo. Aku mohon hentikan sekarang juga…” Kata Min Gi dengan suara serak di tengah tangisanya.

 

“Kenapa aku harus berhenti? Dia yang menjadikan aku seperti ini dia yang telah membunuh kedua orang tuaku semua kerabatku dan memuatmu menderita seperti ini dan kau memintaku berhenti sebenarnya ada apa denganmu Choi Min Gi?!” Tae Hyung melepaskan pelukanya pada Min Gi, lelaki itu menggengam kedua pundak Min Gi yang tengah berusaha menenagkan dirinya dan menatap wanita itu dengan tatapan marahnya.

 

“Dia pantas mendapatkannya.” Kata Tae Hyung dingin. “Sampai mati aku tidak akan rela melihat orang yang menyayangiku menderita. Dia sudah membunuh semua orang yang berada di sekitarku, aku sudah lupa berapa kali aku menagis kesakitan dan marah melihat orang disekitarku mati satu persatu, aku sudah lupa berapa kali aku sekarat sampai aku rasa itu bukanlah suatu hal yang menakutkan lagi untuk ku. Begitu banyak rasa sakit yang aku rasakan sampai aku menjadi mati rasa Choi Min Gi!”

 

Tae Hyung melepaskan gengamanya dari pundak Min Gi dan mundur satu langkah, lelaki itu benar-benar tidak mengerti bagaimana jalan pikiran wanita? Jelas-jelas mereka menderita tapi kenapa mereka terus bertahan di tempat yang sama apakah mereka itu idiot atau bagaimana? Apa setiap wanita memiliki bakat masochis dalam diri mereka?!

 

“Aku sudah mati rasa Noona, kau mungkin benar aku adalah ibils yang jahat kejam dan tidak berperasaan karena bahkan aku tidak lagi memiliki rasa takut pada saiktnya sekarat. Semua rasa takut dan rasa sakit pada diriku sudah terlalu banyak sampai-sampai aku rasa aku mulai terbiasa.” Tae Hyung mengelengkan kepalanya pelan kemudian merunduk dalam sementara Min Gi menatap lelaki itu dengan tatapan yang benar-benar kabur dengan air mata.

 

“Aku tidak lagi merasa sakit saat sebuah pedang mengiris tubuhku, aku juga tidak lagi merasa takut saat sungai darah mengalir dibawah kakiku. Semuanya sudah tidak terasa lagi, yang tersisa hanya kebencianku pada diriku sendiri, setiap darah yang mengalir itu karena aku. Karena mereka semua melindungku, dan apakah aku dengan mudah mengabaikan mereka bagitu saja? Mengabaikan rasa sakit, keringat dan darah mereka? Tidak, aku tidak bisa.”

 

Tangan Min Gi terkepal di balik jubahnya, ia ingin melompat dan memeluk Tae Hyung tapi sebelum ia melakukan itu ia harus membuat lelaki itu paham bahwa semua pengorbanan mereka adalah untuk hidup Tae Hyung. Untuk hidup bukan untuk mati, mereka semua berkorban dan berharap Tae Hyung bisa tetap hidup dan mencari kebahagiaannya bukan tersiksa karena kebencianya sendiri.

 

“Baiklah jika itu yang kau inginkan Tae Hyung-ah..” Min Gi berdehem berusaha meredakan suaranya yang serak, sementara lelaki itu memealingkan wajah darinya. “Aku harap kau berhasil mencapai tujuanmu jika memang itu yang membuatmu bahagia. Tapi bolehkah aku bertanya satu hal?”

 

Tae Hyung kembali memandang Min Gi, lelaki itu tidak menjawab hanya menatap Min Gi dengan tatapan bertanya.

 

“Saat kau berhasil menaklukan Silla nanti, orang pertama yang harus kau bunuh adalah Jung Soo sebagai Kaisar Silla lalu orang kedua setelah Kaisar adalah Permaisuri.” Min Gi bisa melihat dengan jelas wajah tertohok Tae Hyung yang menyadari satu hal yang ia lupakan saat ia berhasil nanti. “Kau akan membunuhku Pangeran? Katakan padaku bagaimana caramu mencabut nyawaku nanti?”

 

Mata Tae Hyung membulat menatap Min Gi, nafasnya memburu dengan cepat seperti ada sesuatu yang menghambat aliran darahnya ke jantung dan ke kepala. Ia tidak pernah berfikir sejauh itu, kenapa semuanya menjadi serumit ini untuk mereka? Tae Hyung hanya ingin mebalaskan dendamnya dan merebut Min Gi kembali setelah itu mereka akan hidup bahagia berdua. Sepertinya benar apa yang di ucapkan orang-orang dongeng tuan putri dan pangeran yang saling mencintai dan hidup bahagia selamanya itu hanya omong kosong sialan.

 

Min Gi tidak tau harus berapa banyak lagi air mata yang harus ia gunakan untuk meluluhkan hari baja Tae Hyung tapi kenyataan yang mereka alami memang menyakitkan. Tae Hyung yang tidak penah menyadari sekalipun cintanya cukup besar tapi perasaan ini tidak pernah memiliki masa depan, perasaan ini seperti penyakit kronis yang tidak membiarkan mereka berdua hidup dengan bahagia atau pun mati dengan tenang.

 

“Jika dengan mengorbankan diriku dan seluruh hidupku masih tidak bisa membuatmu meras puas, Yang Mulia Pangeran kau boleh mengambil nyawaku.” Satu lagi air mata Min Gi menetes dari mata kirinya.

 

Tae Hyung mengeram kesal sambil memukul meja di sampingnya, lelaki itu begitu marah dan bingung. Membalikan tubuhnya memunggungi Min Gi dengan nafas yang memburu tangannya terkepal erat mungkin jika ia tidak ingat ada wanita yang dicintainya disini dia akan menghancurkan habis isi ruangan ini.

 

“Seperti dirimu yang kehilangan perasaanmu, apa kau berfikir bahwa aku kehilangan hidupku disini? Untuk apa aku disini? Bisakah aku pergi dari sini? Kenapa aku harus berada disini?” Min Gi terus menatap punggung Tae Hyung yang berderu. “Ah iya untuk Pangeranku, untuk sumpahku. Aku bisa pergi dari sini dan melupakan sumpahku, lalu kenapa aku masih disini? Kenapa aku tidak bisa membiarkanmu pergi? Apakah aku sudah menjadi segila itu padamu Pangeran?”

 

“Yang aku takutkan bukan saat kau mencabut nyawaku karena aku sadar bahwa itu lah satu-satunya cara untukku lepas dari penjara yang aku buat dengan perasaanku sendiri kepadamu Tae Hyung. Sejak pertama kali aku memutuskan menikahi Jung Soo aku kehilangan hidupku, masa depanku, hidupku hanya untuk benafas di hari esok dan selain itu aku tidak yakin apakah aku hidup, aku berdiri dan tersenyum disini setiap hari hanya untuk nafasmu, setiap hari rasanya seperti orang mati. Kapan aku bebas dari sini? Kapan ini akan berakhir? Dan sekarang aku tau kau akan mengakhiri semuanya jika kau berhasil aku bisa menyusul ayah dan ibu, aku juga sudah menjagamu hingga kau menjadi Kaisar dan menepati sumpahku pada orang tua mu. Tidak akan ada rasa sakit lagi yang harus aku rasakan.”

 

Min Gi berjalan perlahan mendekati Tae Hyung.

 

“Tapi bagaimana jika kau gagal?” tangan Min Gi terulur untuk menyetuh punggung lebar Tae Hyung. “Apa arti semua pengorbananku selama ini? seluruh hidupku yang aku korbakan untukmu semuanya akan berakhir sia-sia? Kau adalah satu-satunya yang aku punya dan satu-satunya alasan aku tetap hidup dan berdiri disini lalu apa jadinya aku jika kau juga pergi meninggalkanku? Aku sudah kehilangan semuanya Tae Hyung-ah bukan hanya dirimu. Aku kehilangan ayahku, lalu beberapa saat aku kehilanganmu aku tidak mau kehilanganmu lagi untuk selamanya.” Min Gi melingkarkan tanganya memeluk Tae Hyung dari belakang dan menyadarkan kepalanya di punggung lebar lelaki itu sementara air matanya tidak bisa ia hentikan.

 

“Kau adalah satu satunya hal yang berharga dalam hidupku, satu-satu satunya hal manis yang tersisa dalam ingatanku dan aku berdoa kepada surga setiap hari agar tetap manis seperti dulu. Aku berkorban untukmu demi hidup dan kebahagiaanmu Tae, dan semua orang yang berkorban untukmu mengharapkan hal yang sama. Maka dari itu kau harus hidup, kau harus bahagia. Aku memintamu berhenti bukan untuk Jung Soo ataupun diriku, tapi untukmu.”

 

“Maafkan mereka semua yang menyakitimu bukan untuk  mereka, memaafkan mereka untuk dirimu sendiri untuk kebahagiaanmu sendiri. Kebencianmu hanya akan menyakiti dirimu sendiri aku disini untuk menjagamu bukan untuk mengobatimu, jadi hal pertama yang harus kau lakukan untuk sakit hatimu adalah maafkan mereka. Setelah itu kau bisa mencari teman hidupmu, teman baru atau apa pun yang membuatmu melupakan rasa sakitmu dan bahagia.”

 

Tae Hyung membalikan badanya dengan cepat mengangkat Min Gi dan mendudukan gadis itu di meja di sampingnya sambil memeluk wanita itu erat. Dengan semua rasa sakit iya mereka rasakan kenapa Min Gi masih bisa begitu kuat, kenapa Min Gi membuatnya merasa seperti pecundang?

 

“Kenapa..?” Tae Hyung menyembunyikan wajahnya di cekungan leher Min Gi sambil memeluk wanita itu erat. “Kenapa kau bisa seperti itu…?”

 

Min Gi membalas pelukan Tae Hyung tangan kananya mengusap kepala Tae Hyung halus tangan kirinya menepuk-nepuk punggung lelaki itu pelan. “Yang harus kau ketahui adalah satu-satunya hal yang membuat semua orang yang kau sayangi tenang di surga adalah memastikan bahwa kau hidup dengan aman dan bahagia. Jangan terlalu banyak berfikir, jangan terlalu banyak bertanya. Biarkan pelayan ini yang melakukan semuanya untukmu Pangeran.” Kata Min Gi sambil mencium kepala Tae Hyung.

 

Perlahan Tae Hyung melepaskan pelukanya lalu merangkum wajah Min Gi dengan kedua tanganya dan menatap jauh ke dalam mata wanita itu. Sinar mata Min Gi menjadi lebih terang dan itu menyakitinya, sinar itu menimbulkan rasa sakit di mata Tae Hyung saat menatapnya. Karena mata itu begitu indah, mata yang ia dambakan bisa ia lihat setiap hari terus meneteskan air mata karena dirinya. Biar ia ingat sekali lagi kapan Tae Hyung menatap Min Gi sedekat tanpa dibalas dengan tatapan dingin atau kemarahan, kapan terakhir kali Min Gi memeluknya, kapan terakhir kali Min Gi mengusap kepalanya.

 

Tae Hyung sudah lupa kapan terakhir kali mereka melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama, Tae Hyung bahkan sudah lupa bagaimana melihat Min Gi tertawa dan tersenyum kepadanya. Wanita itu selalu menampakan wajah dingin, senyum sinis atau seringaiannya, membuat Min Gi menjadi wanita yang begitu berbeda dengan gadis pelayan kecil yang ia ingat dulu.

 

Min Gi terdiam menatap mata Tae Hyung yang pelahan berubah memerah, lalu berkaca-kaca secara perlahan. Min Gi menyetuh wajah tampan Tae Hyung perlahan dengan lembut, jangan menangis, aku mohon jangan menangis sudah terlalu banyak kesedihan yang aku lihat dan aku dengar aku mohon jangan menagis jangan menabahkanya lagi Tae Hyung. Min Gi meraba pipi Tae Hyung pelan dengan tanganya yang bergetar sambil menggeleng pelan melarang lelaki itu meneteskan air matanya namun gagal.

 

“Aku merindukanmu…” suara bariton Tae Hyung yang rendah dan serak menusuk tepat di ulu jantungnya. Min Gi berusaha menghapus air mata Tae Hyung dengan cepat tapi air mata yang lain sudah mengalir lagi di pipi lelaki itu.

 

Tae Hyung hanya menatap Min Gi yang kalap dalam kebungkamanya, wanita itu terus berusaha mengapus air matanya sedangkan air mata Min Gi sendiri terus mengalir membuat Tae Hyung benar-benar hancur. Rasa sakit yang Min Gi tunjukan padanya saat ini lebih dari sekarat rasanya, Tae Hyung bahkan tidak menagis saat ia berada dalam kondisi setangah mati. Tapi kali ini ia menangis seperti bocah hanya karena sentuhan Min Gi, kenapa hidupnya berakhir seperti ini?

 

Ia sangat mencintai Min Gi begitu pun sebaliknya, mereka yang dulu belum tau apa itu cinta belum menyadari mereka saling mencintai bisa begitu dekat dan bagia. Tapi sekarang setelah mereka menyadarinya kenapa berakhir seperti ini?

 

“Aku merindukanmu, aku sangat meridukanmu Choi Min Gi…” Tae Hyung memeluk Min Gi kembali kali ini sambil menciumi apa pun yang bisa di jangkau bibirnya. Pundak, leher, telinga, pelipis, kening, hidung lalu turun lagi ke bibir mungil Min Gi. Ia sudah kalap, ia sudah tidak tau lagi bagaimana mengendalikan dirinya dan perasaanya dia hanya ingin Choi Min Gi sekarang berada sedekat mungkin denganya.

 

Min Gi membalas ciuman itu, ia mungkin sudah gila atau semacamnya tapi rasanya menyakitkan jika ia harus menolak Tae Hyung saat ini. Ia sudah hampir gila mendamba Kim Tae Hyung dan menahan dirinya untuk diam dan melihat Tae Hyung dari jauh. Selama ini Min Gi selalu berfikir saat memandangi Tae Hyung, betapa inginya ia menarik Tae Hyung mendekat padanya. Mendekatkan dirinya pada Tae Hyung, menyentuh wajahnya dan mendapati mata lelaki itu memandang kedalam matanya. Min Gi ingin menghilang ke dalam keliman baju Tae Hyung dan menjadi lebih dekat dari jeruk dan pusarnya.

 

Saat Tae Hyung mengaitkan kedua kakinya ke pinggang lelaki itu lalu membawa Min Gi ke ranjang kuning ke emasan yang berada di dekat sana. Saat lelaki itu terus menatap ke dalam matanya, jauh sampai Min Gi rasa Tae Hyung mungkin bisa melihat ke dalam jiwanya yang memberontak liar. Min Gi tidak tau lagi dimana dia berdiri, semua kesedihanya, kepada siapa dia berhutang kesetiaan. Yang Min Gi tau hanyalah ia takut kehilangan Tae Hyung.

 

Tae Hyung menarik jubah ungu Min Gi memperhatikan tulang selangka yang melintang indah dan diatas dada Min Gi lalu menyetuhnya dengan tulang hidungnya. Sambil tangan Tae Hyung menarik tusuk rambut Min Gi satu-persatu dan merasakan rambut halus dan panjang Min Gi terselip di jemarinya seperti air terjun di antara pepohonan. Dan aroma bunga angrek bercampur kayu manis dan rempah-rempah dari tubuh Min Gi membuatnya mabuk dan semakin gila. Ia menginginkan Min Gi untuk dirinya sendiri sekarang dan selamanya.

 

Tangan Tae Hyung terulur mencari tangan Min Gi lalu menautkan jari-jari mereka bersama, mengankat wajahnya dari leher Min Gi dan menatap mata wanita itu lagi. Keduanya terdiam beberapa saat, saling mengagumi satu sama lain. Lihatlah hidung mancung dan mata tajam itu rahang yang setajam pisau serta bibir tebal Tae Hyung kulitnya yang kecolkatan terlihat sangat mengkilap diterpa cahaya lilin. Pangeran impianya benar-benar tampan bukan? Dan hari ini adalah kesempatan pertama dan terakhir kalinya Min Gi bisa menyentuh dan tengelam di dalam kebahagiaan bersama Pangeran impianya.

 

Hanya kali ini cinta itu terasa begitu indah seperti yang orang-orang katakan…

 

Wajah Tae Hyung semakin mendekat, lelaki itu menyatukan kening mereka bulu mata lentik Min Gi terasa menggelitik di atas matanya tapi tidak menghentikan Tae Hyung memandang jauh ke dalam mata Min Gi.

 

“Aku mencintaimu…” bisik Tae Hyung tepat di atas bibir Min Gi membuat bibir gadis itu bergetar, ia ingin mengangkat wajahnya untuk menyetuh bibir yang mengucapkan cinta padanya tapi Tae Hyung menahan Min Gi dengan keningnya.

 

 

“Kenapa aku mencintaimu?” ucapan yang kedua teredengar menyakitkan, sekarang Tae Hyung terdengar sama putus asanya dengan Min Gi.

 

Dari sekian juta wanita di dunia ini kenapa harus Choi Min Gi? Jika lelaki itu bisa ia ingin mencintai wanita lain. Wanita lain yang lebih mudah untuk dicintai, yang membuatnya terlihat seperti seorang Pangeran sungguhan bukan seperti seorang pecundang seperti ini. saat ia sadar bahwa ia tidak berdaya sama sekali, ia tidak akan bisa meraih Min Gi, ia tidak bisa melindungi wanita yang dicintainya. Tae Hyung merasa seperti berada di ujung jurang dengan harimau di hadapanya.

 

Wanita ini memintanya untuk berhenti tapi yang dia lakukan malah membuat Tae Hyung semakin terpojok pada perasaanya. Min Gi memintanya melupakanya dan mencari kebahagianya yang baru tapi yang wanita itu lakukan hanya membuat Tae Hyung semakin gila karena cintanya. Gila dengan semua pengorbananya, dengan semua keindahanya dan sekarang Min Gi membuatnya gila dengan semua sentuhanya. Katakan padaku Choi Min Gi bagaimana bisa aku melepaskanmu begitu saja?

 

Min Gi melepaskan tautan jari mereka lalu menyetuh wajah Tae Hyung menariknya lebih dekat lagi, mengecup bibir Tae Hyung perlahan. “Sudah aku bilan jangan terlalu banyak bertanya, jangan terlalu banyak berfikir. Lakukan hal yang membuatmu bisa mendapatkan kebahagiaanmu hanya itu…”

 

Tae Hyung tidak membalas ucapan Min Gi lelaki itu merasa tidak rela kehilangan bibir manis yang menempel di bibirnya tadi merundukan kepalanya membalas kecupan Min Gi dengan ciuman. Ciuman yang seperti sebuah air terjun di gurun pasir, seperti Tae Hyung hampir saja mati di gurun itu dan Min Gi menyuguhkan air untuknya. Ia sudah begitu haus menunggu hari dimana ia bisa menyetuh Min Gi. Hari dimana Min Gi menyetuhnya, dan ia tidak ingin kehilangan sumber mata air dalam kehidupanya.

 

Tangan Tae Hyung menarik lepas jubah Min Gi memperhatikan gaun dalam dan kain penutup dada wanita itu berwarna merah terang sangat kontras dengan kulitnya. Tae Hyung menarik Min Gi perlahan agar duduk sambil memperhatikan setiap ayunan anggun dari tubuh dan rambut Min Gi. lelaki itu mendundukan Min Gi di panggkuannya lalu menuntun kedua tangan Min Gi ke arah dadanya.

 

 

“Lakukan seperti yang sering kau lakukan dulu Noona…” kata Tae Hyung dengan suara bariton yang rendah serta setengah berbisik membuat bulu kuduk Min Gi meremang, tanganya bergetar di dada Tae Hyung dan jantungnya terasa hampir menggelinding ke pangkuanya.

 

Min Gi mnelan ludahnya susah payah matanya perlahan melirik ke atas untuk melihat wajah Tae Hyung dan itu memperburuk keadaan. Mendapati lelaki itu memandanginya dengan sangat intens membuatnya sangat ingin menyembunyikan wajahnys dari tatapan Tae Hyung. Ia yakin wajahnya pasti sudah seperti tomat matang di musim panas, Min Gi dengan cepat merunduk menatap dada Tae Hyung dan tanpa sadar ia menggingit bibir bawahnya sendiri membuat Tae Hyung mengeram dalam hati seperti hewan buas yang kelaparan.

 

Perlahan tapi pasti tangan Min Gi mulai bergerak melepaskan kain pengikat pinggang Tae Hyung, lalu tali pengikat jubah Tae Hyung dan dengan perlahan menarik jubah itu dari tubuh Tae Hyung. Min Gi melakukanya sambil merunduk, tidak berani menatap wajah Tae Hyung ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana lelaki itu menatapnya sekarang. Apa seperti ini rasanya malam pertama bersama seorang lelaki yang kau cintai? Karena dalam ingatan Min Gi saat ia berhubungan pertama kali dengan Jung Soo yang ia rasakan hanya rasa sakit di hati dan kepalanya.

 

Tapi dengan Tae Hyung terasa sangat berbeda, rasanya seperti kupu-kupu berterbangan di perutnya, jantungnya begitu bedebar dan sedikit lucu, ia merasa seperti seorang gadis perawan. Min Gi tanpa sadar tersenyum menyadari ia baru saja tersipu malu karena tatapan seorang lelaki yang bahkan lebih muda darinya, jelas-jelas ia lebih tua dan berpengalaman kenapa ia yang tersipu?

 

“Kau tersenyum?” suara Tae Hyung mengentikan lamunanya, kepalanya mendongak menatap wajah Tae Hyung.

 

“Kau tersenyum…” lelaki itu mengulanginya lagi sambil menyetuh kedua pipi Min Gi dengan kedua tanganya. “Tersenyumlah lagi, Tersenyumlah untukku Noona…” Tae Hyung menatapnya dengan mata yang berbinar, mata lelaki itu membulat dan berbinar sama persis seperti Tae Hyung-nya yang berusia sepuluh tahun.

 

Saat itu juga Min Gi merasa sesuatu menusuk jantungnya dari belakang saat lelaki itu menunggu senyumanya dengan mata yang begitu antusias dan berbinar. Lelaki itu menunggu senyumanya, dan Min Gi ingat sekarang bahwa ia tidak pernah lagi tersenyum pada Tae Hyung tidak pernah sekalipun dan tidak ada orang yang bisa membuatnya tersenyum kecuali Tae Hyung. Tae Hyung bisa membuatnya tersenyum tanpa ia sadari, senyum yang benar-benar senyum. Bukan senyum seringaian, bukan senyum ejekan atau senyum palsu senyum yang berasa dari hati karena bahagia.

 

Apakah semenyedihkan itu hidupnya selama ini? saat Tae Hyung dan ayahnya pergi meninggalkannya sendirian di istana yang luas ini kedua lelaki itu membawa serta senyum Min Gi bersama mereka. Hingga senyum itu hilang, senyum yang ia pikir tidak lagi bisa kembali dalam hidupnya. Tae Hyung membawanya pulang bersama lelaki itu, walaupun hanya sekali atau malam ini senyum itu Tae Hyung kembalikan padanya.

 

Perlahan tapi pasti Min Gi menarik kedua bibirnya menunjukan senyuman yang manis untuk Tae Hyung. Lelaki itu menatap Min Gi dengan matanya yang hangat saat Min Gi tersenyum padanya membuat Jantung wanita itu terasa semakin sakit dan sesak. Tae Hyung pelahan menyetuh kedua lesung pipi yang berada di kedua sisi bawah bibir Min Gi yang sangat manis.

 

Dunia yang sekarang tidak pernah tau seberapa manisnya senyuman Choi Min Gi, senyuman wanita itu menjadi jauh lebih manis dari yang terakhir diingat Tae Hyung. Tidak ada satu orang pun yang tau betapa manisnya dan cantiknya senyuman Min Gi yang sesungguhnya, senyuman ini bisa melelehkan berlian dan bisa mengikis baja dan hanya Tae Hyung yang bisa melihat senyuman ini. Senyuman ini hanya untuknya, hanya miliknya dan Min Gi tidak pernah menunjukanya pada orang lain, ia ingin melihat Min Gi terus tersenyum seperti ini, ia ingin mendengar tawa bahagia Min Gi. Seandainya ia bisa melakukan hal itu…

 

Tapi sayangnya ia tidak penah bisa menjadi seorang lelaki yang cukup berguna bukan? Lihatlah bahkan sekarang ketika Min Gi tersenyum gadis itu masih menteskan air matanya. Tae Hyung mengecup bibir Min Gi sambil menghapus dua titik air mata di wajah wanita itu.

 

“Kau sangat cantik Noona…” detik berikutnya Min Gi memeluknya dengan erat, sangat erat. Tae Hyung membalas pelukan itu dengan lembut sambil mengusap punggung Min Gi perlahan.

 

“Aku akan menjadi milikmu malam ini, aku milkmu Tae lakukan apa pun yang ingin kau lakukan tapi setelah ini bersupahlah padaku kau akan mengentikan semua rencanamu! Berumpahlah kau akan menjadi anak yang baik! kau akan melupakan semua dendammu dan memulai hidupmu yang baru!” Tangis Min Gi pecah, wanita itu memeluk Tae Hyung deng dengan erat sambil sesekali memukul punggung Tae Hyung. Ia takut kehilangan Tae Hyung lagi, ia takut satu-satunya orang yang bisa membuatnya tersenyum pergi dan tidak pernah kembali lagi.

 

Tae Hyung hanya diam sambil mengusap punggung Min Gi yang bergetar beberapa saat sebelum melepaskan pelukanya untuk mencium wanita itu. Perlahan ia menarik kain yang menutupi dada Min Gi lalu membaringkannya di ranjang. Tae Hyung menghapus air mata Min Gi perlahan lalu tanganya merambat turun menarik rok dalam Min Gi hingga gadis itu benar-benar polos di hadapanya.

 

Membuka baju dalamnya lalu melemparnya begitu saja memperhatikan tubuhnya yang cukup atletis lalu datang kembali ke dekat Min Gi. Wanita itu hanya diam memperhatikanya sementara Tae Hyung menarik tangan Min Gi perlahan dan di kalungkan di lehernya.

 

“Kau miliku…” Tae Hyung berucap dengan nada yang halus tapi syarat dengan intimidasi. Min Gi hanya mengangguk pelan sebelum Tae Hyung kembali menciumnya.

 

Benar Choi Min Gi, kau adalah milik Kim Tae Hyung dan selamanya akan menjadi milik Kim Tae Hyung. Orang lain mungkin bisa melihat dan menyetuhmu tapi dia tidak pernah bisa memilikimu. Jung Soo tidak pernah bisa memilikimu karena kau adalah miliku, hatimu, keinginanmu, senyummu, pikiranmu hanya milik Kim Tae Hyung.

 

Ciuman Tae Hyung mulai turun ke leher Min Gi lelaki itu menggodanya tepat di urat nadinya. Tae Hyung mengecupnya pelan, menjilatnya menggigitnya menghisapnya membuat tubuh Min Gi meremang. Tangan Tae Hyung mulai turun ke pinggang Min Gi menelusuri lengkuk samping tubuh Min Gi dengan ujung jarinya. Tae Hyung bisa merasakan bagai mana tubuh Min Gi yang mulai bergetar di bawahnya bagaimana nafas wanita itu mulai terdengar memburu seperti ombak laut di malam hari.

 

Kepala Tae Hyung perlahan turun bersama ciumanya perlahan merasakan kelembutan dan kehangatan tubuh Min Gi di bibirnya, rasa manisnya dan aroma memabukanya. Deruan nafas Min Gi mulai berubah menjadi desahan halus seperti bisikan yang memacing Tae Hyung untuk lebih dekat denganya lebih mendekat lagi sampai mereka menyatu tanpa jarak semili pun. Tae Hyung bisa melihat jelas bagaimana perut Min Gi bergetar saat Tae Hyung menciumnya di bagian itu. Mungkin jutaan kupu-kupu berterbangan di dalam sana? Tae Hyung kembali mencium perut Min Gi membuat desahan wanitu itu semakin terdengar.

 

Ciumanya kembali turun tepat di antara kedua kaki wanita itu, ia tersenyum tipis mendapati ia sudah gila dan mendapati dirinya berlutut di bawah kedua kaki Min Gi. mengangkat kedua kaki Min Gi ke atas pundak lebarnya lalu mulai mencium kaki atas Min Gi perlahan terus naik sampai ke pangkalnya. Desahan terkejut Min Gi serta sentakan tubuh yang bisa Tae Hyung rasakan saat lidahnya menyetuh kewanitaan Min Gi membuatnya semakin gila.

 

Tae Hyung ingin Min Gi mendesah putus asa dibahwanya, memohon atas sentuhanya bahwa wanita itu membutuhkanya lebih dari apa pun di dunia ini. Ia ingin memastikan bahwa Min Gi akan mengingat setiap sentuhanya, setiap rasa dalam dirinya dan setiap aroma dari tubuhnya. Tae Hyung mulai mencengram pinggang Min Gi karena wanita itu mulai mengeliat karena lidahnya, kaki wanita itu mulai bergerak gelisah di pudaknya dan wanita itu mulai terlihat tersiksa karena kenikmatan yang Tae Hyung berikan untuknya.

 

Min Gi mencengkram seprei ranjang itu kuat perutnya mulai bergetar hebat karena sentuhan Tae Hyung di bagian senitivenya. Kepalanya mendongak mencari udara sebanyak mungkin, ia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya walaupun Tae Hyung baru saja memulainya. Seluruh tubuhnya mulai bergetar dan menggeliat di bawah sentuhan Tae Hyung, ia juga sudah tidak bisa mengendalikan suara yang keluar dari mulutnya.

 

Gerakan lidah Tae Hyung semakin cepat membuat Min Gi tidak lagi bisa menahan gejolak di perut bagian bawahnya. Tidak terlalu lama kemudian tubuh gadis itu melengkung, tubuhnya bergetar hebat dan desahan panjang meluncur halus dari bibirnya yang sudah merah dan bengkak karena lelaki yang berlutut di bahwanya itu.

 

“Tae Hyung hhhh….” ucapnya pelan sesaat setelah ia tercebur dalam sumur kenikmatan karena Tae Hyung.

 

Mendengar namanya dipanggil Min Gi dengan begitu merdu terdengar mendamba dan putus asa setengah mati membuat lelaki itu mendongak dengan cepat kembali merangkak naik untuk menlihat seberapa gila Min Gi menginginkanya.

 

“Kenapa sayangku?” tanyanya dengan suara baritonya yang sangat halus sambil menjilat bibirnya sendiri membuat Min Gi hampir saja mengemis Tae Hyung agar memakanya hidup-hidup.

 

“Tae Hyung…” ulangnya lagi sambil meraih leher Tae Hyung menarik lelaki itu lebih dekat padanya.

 

“Kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu?” Tanya Tae Hyung sambil menyingkirkan anak rambut Min Gi dari wajahnya yang basah. “Katakan apa yang kau ingikan dariku sayang…”

 

Min Gi bergerak dengan gelisah dibahwah tubuh Tae Hyung, nafasnya memburu dan ia sudah tidak sabar untuk mendapati Tae Hyung menjadi satu denganya. “Sentuh aku…” katanya sambil menatap mata Tae Hyung sendu.

 

“Dimana?” bertanya dengan nada yang benar-benar menggoda sambil mencium pipi Min Gi. “Disini?” Tae Hyung menyetuh dada Min Gi dengan tangan besarnya, menekanya perlahan.

 

“Ahh…” wanita itu tidak menjawab, Min Gi malah menutup matanya merasakan kenikmatan dari tangan besar Tae Hyung yang hangat. Tae Hyung mengiup telinga Min Gi lalu menggingitnya perlahan mambuat desahan Min Gi semakin keras.

 

“Katakan padaku sayang…” ia berbisik dengan suara rendahnya tepat di telinga Min Gi membuat jantung wanita itu berdebar semakin keras.

 

“Tubuhku, seluruh tubuhku. Sentuh aku di seluruh tubuhku…” jawab Min Gi terdengar begitu mendamba dalam keputus asaannya karena sentuhan Tae Hyung.

 

Lelaki itu menyeringai menyelipkan kedua tanganya di belakang punggung Min Gi membuat dada wanita itu membusung tinggi lalu wajah Tae Hyung menghilang disana. Meraup seluruh kelembutan dan kehangatan tubuh Min Gi untuk dirinya sendiri menjadi lebih, dan lebih gila dari sebelumnya kepada Choi Min Gi.  Tubuh Min Gi mulai mengigil dalam dekapan Tae Hyung kepalanya mulai terasa pening tubuh Tae Hyung mulai membelainya dibawah sana.

 

“Agh!” Min Gi menutup matanya rapat kepalanya terlepar ke belakang merasakn betapa tegangnya tubuhnya saat Tae Hyung menyatukan tubuh mereka. Lelaki itu mengankat kepalanya menciumi setiap urat yang terlihat melintang indah memanjang di lehernya sambil mengangkat tubuh Min Gi ke pangkuanya.

 

Saat Min Gi sudah berada di pangkuanya lelaki itu mendongak sesaat mengeram pelan merasakan betapa dalam dan hangatnya tubuh Min Gi. Wanita ini membuatnya gila, wanita ini berhasil membuatnya terlihat seperti serigala buas yang meraung kehabisan makanan. Ia mulai mengerakan tubunya sambil merasakan bagaimana kuatnya cengkraman Min Gi di punggunya. Menurunkan kepalanya untuk menatap bagaimana reaksi wanita itu karena sentuhanya dan mendapati ia sangat menyukai wajah putus asa Choi Min Gi.

 

Tae Hyung menarik tubuh Min Gi lebih dekat agar menempel rapat denganya, sedekat mungkin sampai menjadi satu. Merasakan setiap deru nafas Min Gi, setiap denyutan nadinya, setiap detak jantungnya. Merasakan bagaimana setiap sel dalam diri Min Gi menempel padanya. Lelaki itu kembali menciumi leher Min Gi entah kenapa aroma tubuh Min Gi menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan untuk Tae Hyung, mendengarkan desahan gadis itu tepat di telinganya membuatnya selalu merasa kurang.

 

Ia mengingikan Min Gi mendesah lebih keras lagi, lebih mendamba lagi, lebih gila lagi. Tae Hyung mempercepat gerakanya. Membuat desahan Min Gi semakin keras kaki gadis itu mulai menggingil di kedua sisi tubuhnya, merasakan bagaimana hangat dan basahnya Choi Min Gi dibawah sana mencengramnya dengan kuat membuat Tae Hyung ingin menyiksa Min Gi lebih kejam lagi.

 

“Buka matamu Choi Min Gi!” sebuah perintah halus keluar dengan nada yang begitu halus dari bibir Tae Hyung. “Buka matamu…”

 

Min Gi membuka matanya perlahan, menatap Tae Hyung dengan sangat sendu. Menatap mata gelap berkabut Tae Hyung yang begitu intens menatap sampi ke dalam jiwanya. Lelaki itu menaikan rahangnya menatap Min Gi dengan mata yang sendu namun tajam, seolah dengan tatapan itu semua orang tau bahwa Min Gi hanya milik Tae Hyung dan akan terjadi bencana yang besar jika wanita itu lari darinya. Aura dominan Tae Hyung memancar begitu kuat dengan mata itu, seperti meperingatkan Min Gi bahwa tidak ada lelaki lain yang boleh berada di sekitarnya dan menyetuhnya kecuali Tae Hyung.

 

“Tatap aku!” Tae Hyung semakin menekan tubuh Min Gi membuat wanita itu berteriak kecil, Min Gi hampir mencapai puncaknya. “Benar seperti itu…” saat mendapati Min Gi berusaha keras agar matanya tetap terbuka untuk menatapnya.

 

“Tatap aku sayangku, sebut namaku, datanglah padaku…” bisiknya dengan nada yang begitu menggoda lalu mengigit pelan dagu lancip Min Gi yang tepat terarah di depan bibirnya.

 

“Tae Hyung aahhh.. Tae Hyung!!” dan saat itu juga tubuh Min Gi mengelijang hebat dalam dekapan Tae Hyung, kakinya menendang-nendan pelan gelisah mengatkan cengkraman pada punggung Tae Hyung. Lehernya semakin memajang san kepalanya semakin mendongak tinggi sementara tubuhnya melengkung semakin menekan tubuh Tae Hyung.

 

Tae Hyung menyeringai senang menikmati pemandangan Min Gi yang tersiksa kenikmatan karena dirinya. Bagaimana liarnya wanita itu mencoba melepaskan diri dari siksaan kenikmatan yang Tae Hyung berikan padanya sampai putus asa. Tanganya meraba punggung Min Gi yang menggigil karena sisa-sisa pelepasanya. Tae Hyung kemudian beraring menarik Min Gi bersamanya membuat tubuh wanita itu jatuh tidak berdaya di atas tubuhnya.

 

Kemudian membalik tubuh Min Gi berada kembali di bawahnya. Tangan Tae Hyung menghapus perlahan keringat yang berada di sekitar wajah wanita itu membuat Min Gi merasa begitu hangat. Min Gi menyetuh rahang Tae Hyung perlahan menelusurinya dengan jari tengahnya. Rahang yang indah dan menakjubkan, mata yang tajam indah dan mematikan, Tae Hyung memiliki ketampanan yang semua wanita inginkan termasuk Min Gi. ia tidak munafik, ia juga mengingkan Tae Hyung mendambakan ketampanan Tae Hyung sama seperti wanita lain saat melihat wajah tampan Tae Hyung.

 

Mungkin suatu saat nanti. Min Gi tersenyum tipis membuat Tae Hyung juga tersenyum. Mungkin suatu saat nanti aku bisa memilikimu Kim Tae Hyung, suatu saat nanti jika kita terlahir kembali di dunia ini sebagai apa pun itu aku hanya berdoa pada surga aku bisa hidup bersama denganmu. Min Gi mengankat wajahnya mencium bibir Tae Hyung dan lelaki itu membalasnya.

 

Tae Hyung mulai mengerakan tubuhnya kembali masih dengan mencium Min Gi. gerakanya semakin cepat sekarang ia sadar ia sedang mengejar kepuasanya sendiri. Menenggelamkan kepalanya di cekungan leher Min Gi sambil terus bergerak cepat, lebih cepat sementara Min Gi kembali mencengram seprai yang sudah kusut. Min Gi bisa merasakan deru nafas Tae Hyung yang sangat memburu di lehernya dan geraman lelaki itu sesekali.

 

Sebentar lagi semuanya akan berakhir Choi Min Gi, Min Gi menatap atap kamar itu dengan matanya yang sendu. Tae Hyung semakin sering menggeram dan mereka mancapai puncaknya bersama-sama. Lelaki itu bernafas cepat di dalam pelukanya, Min Gi mengusap kepala Tae Hyung perlahan-lahan sambil mengatur nafasnya juga. Setelah keduanya menjadi lebih tenang Tae Hyung mengankat kepalanya mencium Min Gi tapi setelah itu kembali ke posisi semula sambil terus mengerakan tangan Min Gi untuk mengusap kepalanya membuat wanita itu tidak bisa menahan senyumanya.

 

Tae Hyung nya yang manja dulu masih ada, dia belum benar-benar hilang walaupun Tae Hyung yang sekarang benar-benar mengerikan. Min Gi terus mengusap kepala Tae Hyung di dadanya sambil menatap langit-langit kamar. Semuanya sudah selesai, semua kisah cinta menyakitkan ini sudah selesai sampai disini setelah ini mereka bukan siapa-siapa kecuali Pangeran dan permaisuri. Tae Hyung harus melupakanya dan Min Gi harus melupakan Tae Hyung karena cinta ini tidak pernah memiliki masa depan, cintanya milik masalalu. Masalalu yang sudah seperti mimpi indah untuk Min Gi.

 

“Kau akan menepati janjimu kan Pangeran?” tanyanya pelan pada Tae Hyung tanpa sadar air matanya menetes lagi.  Kau akan bahagia tanpa aku kau bisa kan Tae Hyung? Dan aku harus belajar menerima takdirku.

 

Tae Hyung tidak menjawab. Min Gi bisa merasakan nafas Tae Hyung yang sudah teratur, lelaki itu sudah tertidur? Min Gi memeluk kepala Tae Hyung lebih erat lagi. Jangan takut Kim Tae Hyung, aku disini untuk melindungimu, jangan merasa sakit karena itu menyakitiku, kau masih memiliki masa depan yang bisa kau pilih sendiri tidak seperti aku. Maka dari itu kau harus memilih kebahagiaanmu dari pada kebencianmu. Satu-satunya yang aku inginkan di dunia ini adalah melihatmu baik-baik saja dan bahagia.

 

TBC

 

Next Part 14…

 

Tidak perduli dengan semua kata orang di sekitarku, itu bukan masalah untukku sekalipun mereka mengumpat dan berkata jelek tentangku. Bahkan jika dunia mengutukku aku akan tetap mencintaimu.

 

Haseeeeekkk kekekekek bahasanya autor bikin nggak kuat permisahhhh ada yang butuh kantong? Beli sendiri yak!

Gimana ini Author nggak berpengalaman bikin Ncnya jadi author pusing pas bikin Ncnya maaf yeth, kurang hot? Garing? Yah maklum author belum pernah NC-an juga sebenarnya,  #apaan lu thor?!# pengenya sih sama Seok Jin *Diabok beneran sama Army ini lama”* oke sekian part 13 see you?!

62 thoughts on “Sun Flower Part 13

  1. Ceritanya daebak daebak daebakkkk banget thor apalagi cast nya kim taehyung(my bias😂)aku suka banget thor..lanjutin thor bikin yg lebih wow lg ok.aku tunggu next nya yaa thorr..fighting thorr,maaf baru bisa komen sekarang soalnya baru tau cara kirim komenan,tp aku ngikutin udah dr chapt 1 kok😂

    Suka

  2. Huhuhu sedih bnget di part ini….

    Tapi ncnya ngena bnget thor,bahasanya halus…

    Aku rasa si tae gg bkalan nurutin apa kata si min gi wkwk…

    Aku tunggu kelanjutannya thor….

    Suka

  3. Ini mau sad ending yah? Sedih bgt penggambaran cinta mereka. Tpi sbnernya klo aku jdi Tae Hyung pun bakal ngelakuin hal yg sama, bales dendam selagi dia bisa. Dan menurut aku Taehyung bner, Min Gi tinggal diem aja dan percaya bahwa Taehyung sekarang ngga akan mati gitu aja. Krna dia kuat, banyak dapet dukungan. Ngena bgt pas mereka nangis berdua. Min Gi masih menggunakan alasan mengentikan rencana Taehyung padahal dia sndiri bner2 nikmatin apa yg dia lakuin sma Taehyung. Dia tau sndiri kan klo Taehyung ngga mungkin batalin rencananya gitu aja. Semangat author, pliss jan sad ending walaupun cinta mereka ngga punya masa depan huhu,,, sedih dengernya…

    Suka

  4. kenapa makin nguras emosi ajasih?? makin kesini aku makin pengen nangis bacanya. dendam emang menyakitkan. dendam emang gak boleh ada. tapi kalau yang buat masalah udah keterlaluan. jangan salahin yg punya dendam. karna memaafkan itu sangat sulit.

    kok aku yakinnya v gak bakalan nurutin mingi ya. hehe.

    semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttttt

    Suka

  5. Njir , Gw mewek Tau gk sih ka, pas min gi ngomong tujuan sama maksud dia ngorbanin segalanya buat tae,udah greget bet nunggu moment itu,ah seru terus lanjut ya, gomawo and thank you eonnie, fighting

    Suka

  6. Oh my…. Baru sempet ngubek” ini ff lagi. . duh duh duh…
    Tae tae. Menang bny iniii…
    Semoga gak ada yg ngelapor ke jungsoo yahhh
    Aduhhh
    Dilema akunya

    Suka

  7. nc nya hot bngeeeettt👍 resep bnget bacanya pas malem” lagi hahayyyy
    penasaran sama kelanjutannya, apa taehyung bakalan nurutin kemaunya min gi ya ?
    kalo iya, sia” dong rencana yg udah mulai mateng itu, palagi masalah yang ada di tamna, taehyung kan udah janji bakal saling membantu.

    Jujur saya rada ga suka sama min gi yang mau rubah taehyung yang udah buat rencana besar ini. sama aja egois ya dan aga ada bahagia di belah pihak mana pun kecuali si Kaisar tua bangka itu heheyyy
    sebenernya masih pengen cerita tentang pendapat saya, tapi udah kepanjangan.
    okelah….
    tetep semangat ya thoor buat kelanjutannya….
    saya setia menanti….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s