ZOE : A Lifetime Part 1


 

AUTHOR: .DancingChen

TITLE: ZOE: A Lifetime (Chapter 1)

CATEGORY: NC-17, Yadong, Romance, Fantasy, Chapter (1/3)

CAST: [SJ] Cho Kyu Hyun [OC] Zoe/Jo-Eui [OC] Choi Hwa Yeon [f(x)] Krystal Jung || Slight! [EXO] Kim Kai [EXO] Kim Jong Dae

DISCLAIMER: .DancingChen©2017; WhiteChokyulate; Penulis tak memiliki apa pun selain alur. Poster by RirinM.

A/N: Terima kasih karena sudah buka FF ini >< Warning! Untuk yang ga suka fantasi silahkan close tab. Selain itu, typo bertebaran. Oh ya, untuk sudut pandang, yang digunakan hanya sudut pandang dari penulis. Tetapi untuk karakter Zoe ada DUA PENULISAN. Sudut pandang terhadap Zoe melalui dirinya-sendiri tetap ditulis Zoe. Sudut pandang terhadap Zoe melalui Kyu Hyun ditulis Jo-Eui.

Happy reading.

.

.

Zoe selalu menganggap Cho Kyu Hyun indah, seperti tunas berembun atau sungai dengan gemericik air yang merdu. Pemuda itu tampan, tegap dan mengesankan. Sosoknya yang berkulit putih bak porselen begitu menonjol di antara pepohonan. Rahangnya tegas—meskipun ia memiliki pipi yang tampak agak tembam. Rambutnya ikal kecoklatan dan mata obsidiannya yang nyaman untuk dipandang.

 

Secara kasat mata, Kyu Hyun tinggal sebatang kara di sebuah rumah yang cukup besar untuk ukuran seorang penghuni. Rumah itu terletak di tepian jalan yang dekat dengan hutan. Beberapa tahun lalu, ia tinggal bersama seorang pria tua—sebelum akhirnya pria tua yang merupakan kakeknya itu meninggal dunia.

 

Kyu Hyun tampak membuka pintu utama rumah. Kedua kakinya melangkah keluar menuju halaman samping, di mana setumpuk kayu bakar kering berada. Ekor coat abu-abunya melambai-lambai pelan ketika ia berjalan.

 

Bibir Zoe melengkung, mengulas sebuah senyum. Tangannya menopang dagu, memperhatikan tiap gerik Kyu Hyun. Apa pun yang dilakukan pemuda itu pasti memesonanya. Meskipun selama bertahun-tahun Zoe menghabiskan waktu hanya untuk memperhatikan Kyu Hyun, ia tak pernah merasa bosan. Kian hari, semakin ia ingin menatap kedua obsidian pemuda itu secara langsung.

 

Zoe menengok tiba-tiba. Sekilas ia seperti melihat sosok wanita yang mengenakan gaun putih panjang. Namun, wanita itu menghilang di balik pilar rumah Kyu Hyun. Kedua matanya menyipit, berharap dapat menemukan celah kalau-kalau wanita itu benar-benar bersembunyi di balik pilar. Zoe harap, Kyu Hyun dapat melihat wanita itu ketika ia kembali membawa kayu bakar ke dalam rumah kemudian menangkapnya.

 

“Zoe.”

 

Zoe tersentak. Suara itu mengalun lembut nan merdu, namun mengandung kesan tegas dan sedikit memerintah. Ia melirik melalui ekor matanya. Wanita itu, wanita yang ia lihat di balik pilar tadi.

 

Kedua mata wanita mengerjap ketika memandang Zoe. Iris matanya yang kehijauan tampak mengkilap ketika cahaya matahari menerpanya. Warna kulitnya tak jauh berbeda dengan warna kulit Kyu Hyun: putih porselen. Wanita itu memang cantik sempurna.

 

“Kau mau, Zoe?” tanyanya sembari mengulurkan salah satu tangannya yang memegang sebuah apel merah.

 

Zoe meraih apel itu. “Terima kasih, Demeter*.” Dalam sekejap mata, sebuah apel kembali muncul dalam genggaman Demeter. Kemudian, Zoe menggigit segigit bagian yang besar dari apel itu.

*) Demeter : dewi pertanian dan kesuburan; pasangan, saudara Zeus.

 

“Hampir seperempat abad.” Napas Demeter berhembus panjang. “Aku ingat ketika kau adalah khloe* dari sebatang pinus muda,” ucap Demeter lalu mengigit apel yang berada di dalam genggamannya. Ujung helai rambutnya melambai-lambai saat diterpa angin.

*) khloe : tunas hijau.

 

“Kau sangat memperhatikanku.” Zoe tersenyum sembari melihat ke bawah, ke arah Kyu Hyun yang merapikan kayu bakar dalam gendongannya. Ia hanya teringat ketika Demeter menjatuhkan sebuah biji pinus yang dibawa dari Olympus di halaman rumah ini.

 

“Aku memperhatikan seluruh pohon dan tumbuhan di dunia ini dan memastikan mereka tumbuh subur. Jadi, kau jangan terlalu merasa istimewa.” Demeter terkekeh setengah mencibir.

 

“Ya, aku mencoba untuk mengerti akan hal itu. Tetapi, apa yang kau lakukan di sini? Menyelinap di pekarangan rumah Kyu Hyun lalu secara tiba-tiba menduduki salah satu dahanku?”

 

Wanita dengan mahkota emas bermotif gandum itu mengangguk pelan. “Ya … terkadang aku harus memastikan segala sesuatunya berjalan normal.”

 

“Sesuatu yang ‘berjalan normal’?” tanya Zoe menekankan.

 

“Aku tahu kau menyukai pemuda itu—” Manik mata Demeter melirik Kyu Hyun, “—sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.”

 

Zoe menyipitkan kedua matanya. Alisnya saling bertautan hingga menimbulkan beberapa kerutan halus pada dahinya. Demeter pasti sudah menduga jika Zoe akan bereaksi seperti itu. Bahkan, barangkali ia sudah membaca apa yang terlintas di dalam benak Zoe: Manusia bisa saja mencintai pohon dan melindunginya, kenapa pohon tidak dapat melakukan hal sebaliknya?

 

“Kau tahu? Ini tidak sesederhana yang kau pikirkan, Zoe.” Demeter menghela napas, lagi. “Kodrat hamadryad*, em maksudku, kodrat pohon adalah tidak memiliki akal pikiran. Kau tahu artinya? Kau tidak bisa mencintai manusia. Kau hanya bisa memberi mereka kehidupan, bukan cinta.”

*) hamadryad : dalam Mitologi Yunani, peri yang menggantungkan hidup pada pohon; memiliki hubungan yang kuat dengan jiwa dan kehidupan pohon.

 

Zoe semakin menatap wanita itu dalam, seakan begitu menentang pernyataannya yang baru saja terlontar.

 

“Baiklah, ini pertama kalinya aku mendapat tatapan tajam dari sebatang pohon yang bertahun-tahun kupelihara.” Demeter kembali mengigit apelnya yang mulai memerah pada bekas gigitannya. “Tetapi, ada pengecualian untukmu, Zoe. Kau akan kuberi satu kesempatan untuk hidup bersama pemuda itu sebagai manusia. Jika kau berhasil membuatnya mencintaimu, kau akan kuizinkan meninggalkan pohon ini. Selamanya.”

 

***

 

Kedua matanya mengerjap pelan. Samar-samar hal di sekitarnya perlahan terlihat. Zoe merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Rasanya seperti bobot tubuhnya lebih berat dari sebelumnya.

 

Zoe bangkit dari posisi merebahnya. Kedua tangannya bergerak naik, menggosok-gosok kedua matanya yang terasa agak gatal. Matanya terpejam sekali lagi, hingga akhirnya ia dapat melihat hal-hal di sekitarnya dengan jelas.

 

Zoe terkejut, bukan main.

 

Lehernya memutar, ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Bingung. Heran. Perasaan-perasaan seperti itu melanda diri Zoe.

 

Aku… aku ada di mana?

 

Ruangan yang asing ini memang tampak lebih nyaman daripada tempat tinggal sebelumnya—sebatang pohon pinus berusia belasan tahun yang tumbuh di luar rumah, tanpa atap.

 

Zoe kemudian teringat sesuatu. Sebelumnya ia duduk di atas dahan miliknya dalam wujud nymph* pohon bersama Demeter, sang dewi kesuburan Olympus. Sang dewi memberi Zoe sebuah apel merah segar, dan jelas terlintas di benaknya ketika sang dewi memperingatkan untuk membuang halusinasi bersama manusia bernama Cho Kyu Hyun.

*) nymph : nimfa; Mitologi Yunani, kaum dari makhluk legendaris berwujud wanita, tinggal di tempat-tempat tertentu dan menyatu dengan alam.

 

Suara denting bel mengejutkan Zoe tiba-tiba. Seperti raganya yang tak dikehendaki, Zoe berlari menuju pintu keluar ruangan itu, menuruni beberapa anak tangga, lalu menuju sebuah pintu lagi kemudian membukanya.

 

Annyeong haseyo.”

 

Zoe terdiam sejenak. Kalimat itu memang tidak asing terdengar. Itu adalah kalimat yang seringkali Kyu Hyun dan kakeknya ucapkan ketika tamu mengunjungi rumah mereka dulu.

 

Annyeong haseyo.”

 

“Ah, kau gadis yang kemarin pindah ke rumah ini kan? Wah… ternyata kau sangat cantik, Nona.”

 

Zoe mengulas senyum, meskipun di dalam hati sedang terheran-heran dan merasa semakin aneh. Sebelumnya ia tak dapat memahami bahasa yang biasa digunakan Kyu Hyun, tetapi entah kenapa sekarang ia dapat memahami pernyataan seorang wanita paruh baya yang berdiri di depannya. Ajaibnya, Zoe fasih mengucapkan bahasa itu meskipun mulutnya terasa sedikit aneh.

 

“Ah… kau pasti sedang sibuk berberes. Aku lihat, kau cukup banyak membawa barang-barang.”

 

“Berberes?” Zoe terlihat canggung. Ia menoleh ke belakang dan ruangannya tampak rapi. “Ah iya… barusan aku sedang membereskan dapur, Nyonya.”

 

Wanita itu mengangguk. “Aku membawakanmu sedikit makanan, karena kupikir kau pasti akan sangat sibuk setelah pindah dan tak sempat memasak.” Ia mengulurkan dua buah kotak bekal makan siang. “—oh ya, namaku Woo Hee Jin. Kau bisa memanggilku Bibi Woo. Aku tinggal tepat di sebelah rumahmu.”

 

Zoe meraih dua kotak bekal makan siang itu—dan tetap merasa canggung. Lagi-lagi ia terdiam, sebentar.

 

“Ah! Terima kasih, Bibi Woo! Aku memang tak sempat memasak. Hehehe….” Akh! Rasanya Zoe ingin memukul dirinya sendiri karena sikap canggung itu. “Oh ya, namaku Zoe.”

 

“Zo…e?”

 

Woo Hee Jin tampak terheran dengan cara pengucapan Zoe. Meskipun ia fasih berbahasa Korea sekarang, tetapi Zoe tetap mengucapkan namanya dengan pelafalan bahasa Yunani.

 

“Jo-Eui,” ulangnya.

 

“Oh, Jo-Eui…. Senang mengenalmu, Jo-Eui.” Untuk kesekian kalinya, Woo Hee Jin tersenyum. “Em… kalau begitu aku akan pulang sekarang. Kau boleh mengembalikan kotaknya kapan pun kau mau. Nanti, datanglah ke rumahku.”

 

“Ya. Terima kasih.”

 

Woo Hee Jin berbalik meninggalkan rumah Zoe. Zoe menutup pintu beranda dengan pelan, punggungnya menyandar kemudian. Napasnya terhela panjang. Ini pertama kalinya ia berinteraksi dengan manusia secara langsung.

 

Demeter!

 

Zoe teringat dengan dewi itu lagi. Tungkainya melangkah cepat menuju ke ruangan di mana ia mendapati dirinya dalam keadaan itu untuk pertama kali. Segera ia meletakkan kedua kotak bekal itu di atas meja rias setelah sampai. Napasnya terengah-engah. Tubuhnya berputar bingung. Di mana ia harus mencari celah untuk menemukan Demeter, sementara ia tidak tahu cara untuk kembali ke ‘pohonnya’?

 

Beberapa benda di atas nakas cukup menarik perhatian Zoe. Sebuah buku berisi penanggalan dan sebuah benda persegi dengan bagian menyerupai kaca pada tengahnya. Zoe menghampiri nakas kemudian duduk di pinggir ranjang. Ia melihat kedua benda itu secara bergantian lalu mengambilnya. Zoe berharap dapat menggunakan dan mengerti kedua benda itu seperti ia mengerti pembicaraan Woo Hee Jin.

 

“Kalender meja,” katanya melihat buku penanggalan itu. Zoe berucap meskipun sama sekali tak menginginkannya. “Ponsel,” ucap Zoe berikutnya sembari memandang benda persegi itu.

 

Zoe menekan salah satu tombol hingga ponsel itu menyala. Sebuah pemberitahuan pesan dari seseorang ‘tanpa nama’ masuk setelahnya.

 

Malam ini, drama musikal Cho Kyu Hyun. Seoul Arts Center.

 

Zoe melirik pada kalender. Tanggal hari ini memang ditandai dengan lingkaran merah. Sebuah pesan masuk lagi.

 

2406 Nambusunhwan-ro, Seocho 3-dong, Seocho-gu.

 

Cho Kyu Hyun? Drama musikal?

 

Selama ini Zoe tidak pernah mengetahui jika Kyu Hyun bagian dari sebuah kelompok musikal. Yang ia tahu, kesehariannya tinggal di rumah peninggalan sang kakek. Sesekali Kyu Hyun keluar rumah untuk membeli beberapa bahan makanan. Setelah kakeknya tiada pun, setahunya Kyu Hyun tak mengambil pekerjaan sama sekali dan menggunakan harta peninggalan kedua orang tuanya untuk hidup. Beberapa malam yang terlewat, ia hanya mendengar suara denting piano dan nyanyian merdunya saja.

 

Datang saja!

 

Sebuah pesan masuk lagi dari Si Tanpa Nama. Zoe memiringkan kepalanya. Sejenak terlintas jika Demeter adalah Si Tanpa Nama. Tetapi, pemikiran itu segera ia tepis. Mana mungkin ‘kan Demeter menggunakan alat semacam ponsel ini? Belum lagi tulisan dari pesan-pesan yang dikirim berupa hangul. Sangat tidak mungkin jika itu adalah Demeter.

 

Ah, entahlah…. Zoe pikir, lebih baik ia segera bersiap-siap untuk melihat pertunjukkan musikal Kyu Hyun.

 

***

 

Tungkainya melangkah menyusuri trotoar, menapaki inci demi inci lantai yang tersusun dari puluhan batu. Seiring waktu berjalan, Zoe semakin menyadari jika ia telah berubah wujud, dari hamadryad menjadi seorang manusia.

 

Zoe mulai memahami apa yang dimaksudkan Demeter beberapa saat yang lalu. Dia benar-benar memberinya sebuah kesempatan. Kapan lagi roh pohon dapat berinteraksi langsung dengan manusia? Terlebih itu dengan Cho Kyu Hyun, yang notabene adalah seorang yang ia kagumi sejak lama.

 

Tak lama berselang, Zoe sampai di tempat yang dituju, Seoul Arts Center.

 

Poster-poster berisikan gambar Kyu Hyun tertempel di beberapa titik strategis gedung. Dia menggunakan semacam pakaian pangeran Kerajaan Inggris berwarna merah dengan sentuhan detail berwarna emas. Di dalam poster juga menampilkan beberapa orang berpakaian serupa, menunjukkan bahwa mereka juga tergabung dalam musikal itu.

 

Zoe segera menuju ke loket pembelian tiket.

 

“Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang gadis yang berdiri di belakang meja loket. Pakaiannya rapi dan parasnya juga lumayan cantik.

 

“Ya. Aku ingin menonton musikal itu,” kata Zoe sambil menunjuk poster musikal Kyu Hyun yang tertempel di belakang si gadis.

 

“Maaf, tiket untuk drama musikal tersebut sudah habis terjual seminggu sebelum pertunjukkan, Nona,” ujar gadis itu tersenyum, namun tersirat makna penyesalan serta permohonan maaf.

 

Zoe tersenyum tipis kemudian meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa pun. Jika tiket sudah habis terjual sejak seminggu yang lalu, tidak mungkin Si Tanpa Nama mengiriminya pesan untuk datang. Lagi pula, seharusnya ia tidak langsung mempercayai pesan itu, apalagi dari seorang yang belum dikenalnya. Dia harus banyak belajar untuk ‘peran’ sebagai seorang manusia.

 

Saat akan mencapai pintu keluar gedung dengan penuh perasaan jengkel, ponselnya kembali berbunyi. Zoe membuka pemberitahuan yang tampil pada layar ponselnya. Sebuah pesan lagi dari Si Tanpa Nama.

 

Kau datang bukan untuk menonton musikal. Segera menuju ruangan staff!

 

Tidak! Zoe tidak akan terjebak dengan pesan semacam ini lagi! Tetapi, kakinya tak berkata demikian. Seseorang sepertinya telah mengambil kendali penuh pada tubuh itu.

 

Zoe melangkah menuju sebuah lorong di dalam gedung. Pada dindingnya terpaku sebilah papan persegi bertuliskan “STAFF” dengan tanda panah berwarna merah menunjuk ke arah lorong. Kakinya melangkah tanpa ragu. Lorong ini cukup terang dan juga lebar. Tiap satu meter terdapat kotak bohlam yang menyala di kedua sisinya.

 

Tiba-tiba seorang gadis berambut lurus sepinggang keluar dari sebuah pintu di sisi kanan lorong. Rautnya panik. Pandangannya seperti tertuju pada Zoe. Langkah Zoe pun praktis terhenti dan menatap gadis itu keheranan.

 

Gadis itu berlari ke arah Zoe. Kedua lengannya yang berbalut kemeja biru muda memegang pergelangan tangan Zoe kemudian. Napasnya tak teratur. Dia tak mengucap sepatah kata sembari mengatur kembali napasnya yang terengah-engah.

 

“Kau Jo-Eui kan?” tanyanya menggunakan bahasa tak formal.

 

Zoe mengangguk.

 

“Ayo, cepat! Kyu Hyun sudah menunggumu. Mereka akan segera tampil,” ujarnya tergesa. Gadis itu menarik tangan Zoe untuk mengikutinya menuju pintu di mana ia muncul.

 

Sementara raga Zoe yang pasrah, pikirannya mulai berkecamuk. Berbagai pertanyaan menghujani dirinya sendiri. Benarkah? Kyu Hyun menunggu Zoe? Bagaimana bisa? Tunggu! Gadis ini mengatakan ‘mereka akan tampil’, mungkinkah Zoe bagian dari musikal itu?

 

Zoe terpaku ketika sampai di dalam ruangan di balik pintu itu. Ruangan yang agak besar itu terlihat berantakan. Orang-orang memenuhinya bak sebuah kapal kelebihan muatan. Mereka sibuk dengan diri masing-masing, entah itu dengan kostum, makeup atau properti lainnya.

 

Gadis berambut panjang itu menepuk pundak Zoe pelan, menyadarkannya dari lamunan. Manik mata gadis itu bergerak memberi isyarat. Ekor matanya menunjuk pada seorang pemuda yang sedang duduk di depan cermin berbingkai lampu.

 

Zoe menunjuk dirinya sendiri seakan bertanya: Aku? Apa yang harus aku lakukan?

 

Gadis itu menghembuskan napas berat. “Bukankah kau asisten Cho Kyu Hyun yang baru? Sekarang kau harus meriasnya. Dia akan segera tampil.”

 

Zoe mengangguk canggung dan tentunya pura-pura mengerti maksud gadis itu. Asisten? Dia bercanda?

 

Layaknya langkah jingkat, Zoe mendekati Kyu Hyun. Dia menoleh ke arah Zoe dan mengangkat kepalanya. Mata obsidiannya secara langsung menatap Zoe kali ini. Darah Zoe seketika berdesir aneh. Ia merasakan dadanya berdegup-degup dengan kencang.

 

“Kau Jo-Eui kan?” tanya Kyu Hyun.

 

Zoe menelan ludahnya kasar. Kyu Hyun berbicara padanya. Benar-benar sesuatu yang menakjubkan! Zoe mengangguk cepat. “Ya, namaku Jo-Eui!” sahutnya terkesan bersemangat.

 

Kyu Hyun menyeringai. “Kau cantik, seperti kata bibimu.”

 

“Bibi?”

 

Kyu Hyun mengangguk kecil beberapa kali. “Em, tiga hari yang lalu bibimu datang ke rumahku setelah aku memasang iklan pencarian asisten baru secara online. Dia menawarkanmu untuk bekerja padaku.”

 

Demeter, pasti dewi itu pelakunya, pikir Zoe. Rasanya Zoe ingin mengumpat karena sang dewi sama sekali tak menceritakan detail rencananya. Dan sekarang, dia juga sedang menyamar.

 

“Ah iya, kau benar.” Lagi-lagi Zoe tersenyum canggung. Dalam sehari entah berapa kali ia menyunggingkan senyuman itu.

 

“Kau bisa memulainya,” kata Kyu Hyun seolah memberi Zoe aba-aba.

 

Zoe mengambil sebuah kotak makeup berwarna hitam bludru. Sebenarnya ia sama sekali tak mengerti cara menggunakan hal-hal berbau duniawi seperti ini. Tetapi, ia harap kedua tangannya bertindak ajaib seperti sebelumnya.

 

Zoe mengambil sebuah benda berbentuk lingkaran kemudian membukanya. Di dalamnya terdapat serbuk padat kecoklatan dan juga sebuah spons. Kedua tangannya bergerak seolah ia terbiasa melakukan pekerjaan ini.

 

Secara tak sengaja kepalanya menoleh ke cermin. Disaat yang bersamaan Zoe merasa terkejut dan kagum. Ia melihat pantulan bayangan dirinya dan juga Kyu Hyun saling berdekatan. Ini bukanlah sebuah mimpi, ia yakin itu. Untuk pertama kalinya pula ia melihat bagaimana rupanya.

 

Tidak terlalu buruk. Rambutnya pendek sejajar bahu dengan bagian ikal pada ujungnya. Wajahnya terlihat bulat dengan pipi agak tembam, bibir yang tipis, hidung mancung serta kedua mata yang terlihat indah.

 

“Apa yang kau perhatikan?” tanya Kyu Hyun seketika membuyarkan lamunan Zoe.

 

“Aku hanya memperhatikan wajahmu untuk menyesuaikan riasannya,” kilahnya.

 

Zoe melanjutkan pekerjaannya hingga akhirnya selesai. Kyu Hyun berdiri lalu membenarkan kostumnya. Kostum yang ia kenakan sama persis seperti di posternya. Dari dekat, ia betul-betul terlihat tampan.

 

“Kau bisa menungguku di sini sampai pertunjukkannya selesai. Oh ya, kau juga boleh keluar kalau ingin berjalan-jalan di sekitar gedung. Tetapi, kau harus kembali sebelum pukul 24.00,” kata Kyu Hyun, “jika ada yang tidak kau mengerti, bertanyalah pada Krystal,” jelasnya mengacu gadis yang sebelumnya Zoe temui.

 

“Ya. Aku hanya akan menunggumu di sini …”

 

“Kyu Hyun, panggil saja begitu.”

 

“Baiklah… Kyu… Hyun.”

 

“Em, aku pergi,” katanya kemudian beranjak menuju ke pintu yang diberi tanda “STAGE HOUSE*”.

*) stage house : seluruh ruang panggung, meliputi latar dan area untuk tampil.

 

***

 

Dalam perjalanan pulang, Zoe duduk di kursi barisan tengah mobil van milik Kyu Hyun. Lelaki itu duduk tepat di sebelahnya. Di kursi depan, Krystal duduk sembari mengobrol bersama si sopir. Ketika pertunjukkan selesai, Zoe baru mengetahui jika gadis itu adalah manajer Kyu Hyun. Umurnya memang lebih muda 6 tahun dari lelaki itu.

 

“Kemana jadwalku besok?” tanya Kyu Hyun pada Krystal, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

 

Fanmeet di Busan, Oppa,” jawab Krystal sambil melirik Kyu Hyun melalui ekor matanya.

 

Fanmeet?

 

“Apa sebuah musikal membuatmu seterkenal itu?” tanya Zoe tanpa berpikir.

 

Krystal seketika menahan tawanya, begitu pula sang sopir yang berada di sebelahnya–sampai-sampai mengalihkan pandangan pada kaca spion samping kanan. Sedangkan Kyu Hyun memandang tajam ke arah Zoe.

 

“Apa?” tanya Zoe, secara harfiah memang tak mengerti.

 

“Di mana kau tinggal sebelumnya? Amerika? Inggris? Afrika? Atau malah di hutan pedalaman Korea Utara?” tanya Krystal. Dari nadanya seperti sedang meledek Zoe.

 

“Aku… entahlah,” jawabnya asal.

 

Sangatlah tidak mungkin jika Zoe mengatakan kalau selama ini ia tinggal di dalam sebuah pohon. Bukan, maksudnya tubuhnya yang asli adalah pohon pinus. Lagi pula Zoe sendiri belum mengerti kenapa Kyu Hyun bisa seterkenal itu, belum lagi ia bisa tampil dalam sebuah musikal populer, alih-alih kemarin ia masih terlihat melakukan aktivitas selayaknya bukan orang terkenal.

 

Semuanya terdiam. Zoe pun begitu. Tiba-tiba ia teringat dengan ponselnya. Mungkin benda ajaib itu mampu menjawabnya. Setelah sampai di rumah, Zoe berencana untuk mencari segala sesuatu yang perlu ia ketahui.

 

Dalam keadaan hening, tak terasa mobil van itu berhenti. Zoe melihat rumahnya beberapa meter di belakang posisi parkir. Ia pikir, mereka sengaja mengantarnya pulang. Setelah menoleh ke samping, mobil itu ternyata parkir tepat di depan sebuah rumah. Kyu Hyun segera turun. Tanpa ambil pusing, Zoe juga turun dari mobil. Saat kakinya melangkah menuju rumah, Kyu Hyun keheranan melihatnya.

 

“Hei! Rumahmu di sekitar sini?” tanya Kyu Hyun setengah berteriak.

 

Zoe mengangguk pelan lalu menunjuk pada rumahnya yang terletak tepat di sebelah rumah Kyu Hyun. Bahkan kedua rumah hanya dibatasi oleh pagar kayu pendek.

 

Oppa, aku pulang!” teriak Krystal dari dalam mobil van. Ia juga melambaikan kedua tangannya. Kyu Hyun mengangguk sekilas. Mobil van itu melaju perlahan.

 

Zoe melangkah menuju rumahnya tanpa peduli. Ini kali pertama ia merasa acuh pada Kyu Hyun. Yang ada dalam benaknya sekarang, siapa sebenarnya Kyu Hyun? Apa ia sedang dipindahkan ke dimensi lain? Sungguh, Kyu Hyun tak seperti Cho Kyu Hyun yang ia ketahui selama ini.

 

Setelah masuk melewati pintu beranda, Zoe segera merogoh ponselnya. Tangannya bergerak menyentuh salah satu aplikasi mesin pencari. Sekali lagi, ia merasakan tangannya memang ajaib. Bahkan mereka tampak lebih cerdas dari otak Zoe sendiri.

 

Zoe mengetik ‘CHO KYU HYUN’ di kotak pencarian. Dalam sekejap, ia seperti dipindahkan ke dalam perpustakaan kecil yang khusus membahas Kyu Hyun.

 

Dalam Kurun Waktu Dua Tahun, Cho Kyu HyunBerhasil Menduduki Posisi Puncak Penyanyi Solo

 

Tak Hanya Suara Merdu, Wajah Tampan Cho Kyu Hyun Memikat Perhatian Netizens

 

BREAKING NEWS: Bintangi Sebuah Drama Musikal, Kyu Hyun akan Jumpa Fans di Busan!

 

Zoe hampir saja tersedak oleh ludahnya sendiri. Cho Kyu Hyun seorang artis?! Dia seorang publik figur. Oh Tuhan… apa ini mimpi? Tunggu! Dua tahun? Apa itu artinya ia sedang melompat ke masa dua tahun setelahnya? Tetapi, Zoe sangat yakin, ia bertemu Demeter kemarin bukan dua tahun yang lalu.

 

Zoe segera berlari menuju ke kamarnya. Perasaannya bercampur aduk, antara bahagia, sedih dan takut. Zoe hanya ingin mencintai Kyu Hyun dengan sosoknya yang masih ia temui kemarin sore, bukan seorang publik figur seperti sekarang.

 

“Demeter! Bisakah kau mendengarku? Aku ingin berbicara padamu!” Zoe berusaha memanggil Demeter, tetapi tanda keberadaan sang dewi tak kunjung tampak.

 

Saat kepanikan melanda dirinya, saat itu pulalah sebuah pesan masuk. Si Tanpa Nama. Kali ini isi pesannya berbahasa Yunani.

 

Zoe… kau di sana?

 

Zoe terdiam sesaat. Meskipun agak tak yakin, tetapi ia pikir Si Tanpa Nama itu memanglah Demeter. Dewi itu memang tak mencintai Zeus* sama sekali, namun ia bisa saja merengek untuk mendapatkan benda duniawi semacam ponsel dan dibawa ke Olympus.

*) Zeus : dewa langit dan petir; Raja Olympus; pasangan, saudara Demeter

 

“Ya! Demeter, kau ‘kah itu?” tanyanya menggunakan bahasa Yunani.

 

Sebuah pesan masuk lagi.

 

Ini aku, Zoe. Kau terkejut kan?

 

“Sangat! Menurutku ini sangat kejam dan tak adil!”

 

Ya. Ini memang agak kejam. Kau tahu? Ini juga bagian dari keputusan Zeus untuk kehidupan barumu. Berterimakasihlah. Pria itu tidak pernah sebaik ini pada sesosok Hamadryad yang bahkan tidak penting bagi kelangsungan Olympus. Aku juga menyiapkan banyak hal untukmu. Di lemari, aku menyimpan seluruh identitas yang kau perlukan. KTP, surat kelulusan, passport, serta SIM. Kau juga tercatat secara resmi sebagai warga Korea. Jadi, kau tak usah khawatirkan itu. Aku juga membuatmu selayaknya manusia seperti mengerjakan hal-hal yang sebenarnya tak kau ketahui sebelumnya.

 

“Tetapi, bukan kehidupan seperti ini aku yang aku inginkan, Demeter.”

 

Kau ingin hidup layaknya putri di dunia manusia yang kejam itu? Apa kau yakin dengan cara itu dapat mengetahui cinta Kyu Hyun terhadapmu? Ingat, Zoe, apa yang kau alami saat ini bukan hal gratis.

 

“Maksudmu?”

 

Kau ingat? Yang kau pertaruhkan adalah nyawamu, Zoe. Jika kau gagal, kau akan menghilang selamanya. Dan aku akan mengizinkanmu meninggalkan pohonmu jika kau berhasil.

 

Zoe menelan salivanya kasar. Ia mengumpat dalam hati. Alih-alih belum sempat menyetujui apa yang dikatakan Demeter sebelumnya, sekarang ia malah sedang mempertaruhkan nyawanya sendiri demi Cho Kyu Hyun.

 

“Baiklah. Aku tidak akan gagal. Lagi pula aku memang menunggu kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan Kyu Hyun,” ucapnya yakin. “Terima kasih. Sampaikan juga hal ini pada Zeus.”

 

Tak ada balasan pesan lagi. Zoe segera menuju ke lemari, kemudian membuka salah satu daun pintunya. Di dalam laci lemari, ia menemukan beberapa berkas. SIM, KTP, passport, surat kelulusan, bahkan selembar foto keluarga yang menampilkan ayah serta ibunya. Zoe tersenyum tipis. Mau tidak mau, sepertinya ia harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi pada kehidupan barunya ini.

.

.

.

Sekali lagi Kyu Hyun berbalik. Matanya mencoba untuk terpejam kemudian berharap segera terbawa ke alam mimpi. Tetapi, usahanya terasa sia-sia. Kedua tangannya menarik selimutnya kasar. Rasa kantuk sebenarnya sudah menyerang sejak perjalanan pulang. Seketika rasanya hilang ketika gadis bernama Jo-Eui melintas di benaknya.

 

Betul, dia adalah asisten baru Kyu Hyun. Hanya asisten.

 

Kyu Hyun berbalik, lagi. Penerangan di dalam kamarnya sudah padam sejak satu setengah jam yang lalu. Tetapi di seberang sana, cahaya dari kamar lain agak mengganggunya. Menurut Kyu Hyun, gadis itu memanglah cantik. Kulitnya terlihat bercahaya dan bersih. Kyu Hyun memang menyukai orang semacam itu.

 

Kyu Hyun terduduk di pinggir kasurnya kemudian. Dipan yang tak terlalu tinggi membuat kakinya tertekuk. Kedua sikunya bertopang pada pahanya. Obsidiannya tak mampu melepas pandangan dari jendela yang ditutup tirai putih tipis itu. Di benaknya, ia terus saja memikirkan Jo-Eui.

 

Ah, konyol! Kyu Hyun kembali merebahkan tubuhnya. Kepalanya berbantalkan lengan kanannya. Ia hanya tak mengerti kenapa bayangan gadis itu terus saja melintas. Alih-alih di hari pertama Jo-Eui bekerja, gadis itu tak berperilaku yang terlalu mencolok. Dia polos dan terlihat imut dengan rambut pendek sebahunya.

 

Kyu Hyun lagi-lagi terduduk. Pikirannya berkecamuk. Semakin ia ingin tertidur, semakin ia memikirkan Jo-Eui, seolah Kyu Hyun ingin mengetahui gadis itu lebih dalam. Oh, ayolah … dia hanya asisten. Tetapi, baru kali ini ia merasa tertarik pada asistennya. Alih-alih di sisi lain Kyu Hyun merasa tak yakin kalau Jo-Eui mampu bertahan lama bekerja padanya.

 

Akhirnya Kyu Hyun memutuskan untuk turun dari ranjangnya dan mendekati jendela demi mengurangi rasa penasaran. Ia menyingkap tirai dan mengintip dari baliknya. Obsidian Kyu Hyun menyelidik sekitar: menelusuri rumah Jo-Eui mulai dari halaman depan sampai ke halaman belakang. Dan … disaat itulah matanya terbelalak. Kyu Hyun membuka kaca jendelanya cepat. Kepalanya melongok beberapa inci melewati jendela.

 

“Hei! Apa yang kau lakukan di sana?!” teriaknya di kesunyian dini hari.

 

Gadis itu menoleh pada Kyu Hyun lalu tersenyum sampai menampilkan deretan gigi depannya. Tangannya terangkat dan melambai. Sekilas, perilaku itu tampak agak menjengkelkan. Tanpa pikir panjang, Kyu Hyun segera menghampiri gadis itu. Ia pun menerobos masuk ke pekarangan rumah tetangganya saat dini hari seperti ini.

 

“Jo-Eui! Apa yang kau lakukan di atas sana huh?!” teriak Kyu Hyun, lagi-lagi memecah keheningan. Kepalanya mendongak penuh. Kedua tangannya berkacak pinggang. Ekspresi mukanya penuh dengan keheranan. Memangnya siapa yang tidak heran melihat seorang gadis duduk di atas dahan pohon setinggi tiga meter saat dini hari seperti itu?

 

“Aku belum terbiasa dengan kasur,” sahut Jo-Eui dari atas dahan.

 

Kyu Hyun mengernyit. Apa Jo-Eui sedang mencoba tidur di atas pohon? Malam-malam begini?, pikirnya. Mungkin apa yang diprediksi Krystal ada benarnya: Jo-Eui adalah orang yang berasal dari Afrika, atau mungkin dari hutan pedalaman Korea Utara.

 

“Turun!” perintah Kyu Hyun. Telunjuknya menunjuk ke bawah.

 

Jo-Eui segera turun. Hebatnya, gadis itu menuruni pohon tanpa kesulitan. Ia melakukannya begitu saja. Dan sekarang, Jo-Eui sudah berdiri tepat di depan Kyu Hyun.

 

“Kau ini bodoh, ya?” tanya Kyu Hyun jengkel.

 

“Memangnya apa yang salah? Aku hanya duduk di sana,” katanya seraya menunjuk dahan pohon tadi.

 

Kyu Hyun membuang napasnya berat. “Apa kau tidak tahu kalau tidak baik mendekati pohon rindang seperti ini malam-malam? Hei! Sebenarnya nilai biologimu berapa, sih?”

 

“Ni..lai biologi? En…tahlah.” Kedua bahu Jo-Eui terangkat.

 

Ekspresi Kyu Hyun berubah datar. Kakinya melangkah menjauhi Jo-Eui. Tetapi, baru tiga langkah ia berjalan, sebuah suara membuatnya berhenti. Kyu Hyun menengok ke belakang.

 

“Kau lapar?” tanya Kyu Hyun. Di situ Jo-Eui sedang memegangi perutnya kemudian tersenyum malu. Kyu Hyun memutuskan untuk mendekatinya lagi. “Ya … kau pasti sangat lapar. Suaranya keras sekali.” Kyu Hyun menggerutu sembari menarik tangan Jo-Eui menuju ke arah pintu belakang rumah.

 

***

 

Haruskah Kyu Hyun berpikir jika Jo-Eui adalah satu dari sekian anak autis yang ada di Korea? Tidak, tidak, Jo-Eui tampak normal seperti manusia pada umumnya. Mungkin sebetulnya gadis itu dapat melakukan apa pun yang ia inginkan layaknya orang normal, seperti memanaskan makanan misalnya. Tetapi anehnya, ia perlu semacam rangsangan, ah maksudnya semacam perintah untuk melakukan pekerjaan itu.

 

Kyu Hyun sedang menunggu di depan counter dapur, sesekali melihat ke arah Jo-Eui yang sedang sibuk. Ia mendapatkan beberapa makanan dari bibi tetangga bernama Woo Hee Jin. Sewaktu Kyu Hyun pindah, pun bibi tersebut juga datang ke rumahnya dan membawakan makanan. Dia juga membantu Kyu Hyun berberes di beberapa ruangan.

 

“Kau sudah selesai?” tanya Kyu Hyun.

 

“Aku hanya perlu memanaskan supnya saja sekarang.”

 

Tak dapat dipungkiri, Kyu Hyun juga sebenarnya merasa lapar. Setidaknya ia harus mengisi tenaga untuk tak tidur selama semalaman. Nanti pasti menjadi hari yang sangat sibuk di Busan.

 

“Kau punya saudara?” tanya Kyu Hyun berniat berbasa-basi.

 

“Tidak.”

 

“Orangtuamu bagaimana?”

 

“Mereka ada di suatu tempat yang jauh.”

 

“Jadi, selama ini kau tinggal bersama bibimu?”

 

Jo-Eui mengangguk. “Ya, aku rasa begitu.”

 

“Dia pasti sangat menyayangimu.”

 

“Sepertinya,” sahut Jo-Eui seperti mengira-ngira. Ia tampak mengambil dua buah lap pegangan panci. “Terakhir dia memperingatkanku agar tak terlalu merasa istimewa di depannya.”

 

Kyu Hyun hanya mengangguk pelan. Ia pikir Jo-Eui bukanlah seorang gadis manja, dan Kyu Hyun menyukai gadis tipikal seperti itu.

 

Jo-Eui meletakkan makanan yang telah ia panaskan di depan Kyu Hyun. Tak lupa juga ia menyiapkan dua porsi nasi. Jo-Eui kemudian menuju ke depan counter dapur dan duduk di sebelah Kyu Hyun.

.

.

.

Seperti yang dilakukan Zoe di waktu-waktu sebelumnya, ia rasa hidupnya memang dihabiskan hanya untuk memandangi Cho Kyu Hyun. Beruntungnya, sekarang ia dapat memandangi rupa tampan itu dari dekat, bahkan saat tertidur sekalipun.

 

Eonni, apa kau salah satu fan Kyu Hyun Oppa?” tanya Krystal melirik Zoe melalui kaca spion.

 

Eonni?” tanya Zoe tersadar dan memandang ke arah depan. Alisnya berkerut, agak terheran.

 

“Hm … bukankah kau lahir di tahun yang sama dengan Kyu Hyun Oppa? Jadi, tak aneh kan kalau aku memanggilmu ‘eonni’?”

 

“Hm … iya, tak masalah.”

 

“Jadi, apa kau salah satu fannya?”

 

Zoe kembali memandangi Kyu Hyun yang terlelap di kursinya. Mobil van melaju dengan kecepatan sedang membuatnya tertidur semakin lelap. “Kurasa begitu.” Zoe bergumam pelan. “Apa nanti kita akan bertemu dengan orang-orang yang suka memandangi Kyu Hyun sepertiku?”

 

“Em.” Krystal berdehem pelan. “Oh ya, namaku Krystal Jung. Kau bisa memanggilku Jung-ah, Eonni.” Gadis itu menoleh ke belakang.

 

“Baiklah, Jung-ah.”

 

“Berarti kau akan menjadi salah satu fan terberuntung Kyu Hyun Oppa. Kalau begitu sebaiknya kau menyembunyikan identitasmu jika kau adalah Sparkyu.”

 

“Kenapa? Apa fans lain akan menyerangku?”

 

“Sebetulnya itu hanya sebagian kecil kemungkinan. Aku hanya takut kalau seseorang memanfaatkan kehadiranmu untuk menghancurkan karir Kyu Hyun Oppa.” Krystal menghela napasnya agak dalam. “Yang jelas, kau akan tahu nanti setelah cukup lama ada di dunia seperti ini.”

 

Zoe mengangguk paham. Hidup di dunia manusia ternyata tak semudah yang ia kira. Bahkan belum genap seminggu ia menjelma menjadi Jo-Eui, dirinya harus menjaga dua rahasia. Pertama, kenyataan bahwa Zoe adalah roh pohon. Dan kedua, kenyataan bahwa ia harus menyembunyikan rasa sukanya pada Kyu Hyun untuk waktu yang lebih lama lagi.

 

***

 

Di luar gedung tempat berlangsungnya fanmeet, Zoe melihat begitu banyak orang terutama perempuan. Sepertinya mereka adalah fans Kyu Hyun, orang-orang yang disebut Krystal seperti dirinya: suka memandangi dan mengagumi Kyu Hyun. Sebagian besar dari mereka membawa berbagai properti, seperti banner, poster, bando nama, serta balon. Seluruhnya bertemakan Cho Kyu Hyun. Di dekat pilar utama gedung, staff laki-laki tampak sedang memasang umbul-umbul sebagai sentuhan terakhir demi membuat tempat itu tampak meriah.

 

Oppa!” Krystal berkata dengan suara agak kencang.

 

“Hm ….” Kyu Hyun berdehem pelan. Matanya terbuka sedikit demi sedikit.

 

“Hei! Kau belum merias wajahmu sama sekali. Lihatlah antrean penggemarmu di sana. Cepat, atau mereka akan pulang tanpa tandatanganmu.”

 

“Iya iya … cerewet sekali.” Kyu Hyun membenarkan posisi duduknya. Manik matanya melihat ke arah Zoe. Tangannya memberi kode untuk segera merias wajahnya.

 

Eonni, nanti kau bisa menyusulku ke aula utama.” Krystal segera keluar dari mobil van bersama si sopir, meninggalkan Zoe dan Kyu Hyun.

 

Zoe segera meraih kotak make-up yang terletak di jok paling belakang.

 

“Rias yang tipis saja. Aku tidak ingin wajah tampanku terhalangi bedak yang banyak,” kata Kyu Hyun berpesan. Kedua matanya kembali terpejam dan membuat posisi duduknya nyaman.

 

Zoe hanya mengangguk dan melakukan tugas seperti yang diperintahkan Kyu Hyun. Gadis itu sedikit mendekatkan dirinya saat akan mengoles bibir Kyu Hyun menggunakan lipgloss. Tanpa disadari olehnya, mata Kyu Hyun kembali terbuka. Obsidiannya melihat Zoe yang sedang berkonsentrasi pada bibirnya.

 

“Aw,” ringis Zoe pelan. Gadis itu terkejut sampai-sampai lipglossnya terjatuh. Darahnya berdesir aneh. Bulu kuduknya berdiri seketika. Matanya pun tampak membulat. “Kyu … Hyun …,” gumamnya pelan.

 

Tangan Kyu Hyun terasa masih melingkar di pinggang rampingnya. Kuping sebelah kanan Zoe pun menempel tepat di dada pemuda itu. Bahkan ia dapat mendengar suara detak  jantung Kyu Hyun.

 

Tunggu … Kyu … Hyun memeluknya? Oh Tuhan, Zoe baru saja tersadar. Ia hanya tak menyangka mendapat perlakuan seperti itu.

 

“Kau gugup?” tanya Kyu Hyun terkesan datar.

 

Zoe terdiam. Sesaat setelahnya, ia teringat dengan perkataan Krystal: dia tidak boleh terlalu menunjukkan jika dirinya menyukai Kyu Hyun, atau karir Kyu Hyun akan berakhir jika itu terjadi.

 

Zoe mendorong Kyu Hyun pelan dan tentunya menyingkirkan tangannya. “Aku sudah selesai melakukan tugasku. Aku akan menyusul Krystal.” Zoe turun dari mobil dengan gugup, kemudian segera menuju ke aula utama.

.

.

.

Di acara fanmeet itu, Kyu Hyun menyapa para fansnya. Antrean mengular panjang, menunggu album milik mereka masing-masing ditandatangani oleh sang idola. Sesekali Kyu Hyun tersenyum sambil bertegur sapa.

 

Namun, pandangan Kyu Hyun terlihat tak berkonsentrasi pada acaranya. Sebenarnya sejak tadi ia mencari sosok Jo-Eui. Berharap gadis itu menjadi salah satu gadis yang berdiri untuk tandatangannya. Saat di mobil van tadi, secara tak sengaja Kyu Hyun mendengar percakapan antara Jo-Eui dan Krystal. Setidaknya sekarang masih belum ada yang mengetahui jika Jo-Eui adalah salah satu staffnya.

 

Haruskah Kyu Hyun hanya menganggap Jo-Eui sekedar asisten? Sepertinya tidak untuk sekarang. Terlalu banyak misteri yang tersimpan di balik gadis imut itu. Seolah-olah ia adalah bayi besar yang baru saja terlahir ke dunia ini. Mungkin saja Jo-Eui lupa ingatan, atau hal lain yang membuatnya seakan asing akan segalanya. Meskipun nyatanya ia mampu melakukan suatu hal seperti kebiasaannya. Ya, semua itu membuat Kyu Hyun penasaran.

 

“Namamu siapa?” tanya Kyu Hyun menunduk hendak menulis tandatangannya di cover album yang baru saja diulurkan sebuah tangan.

 

“Choi Hwa Yeon,” sahut gadis itu.

 

Kyu Hyun segera mendongak. Obsidiannya membulat sesaat, lalu menunduk lagi, seolah menyembunyikan rasa terkejutnya.

 

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kyu Hyun.

 

“Meminta kau untuk menandatangani album yang kubeli kemarin. Setidaknya itu membantu penjualannya ‘kan?”

 

“Sebaiknya kau pergi. Orang-orang akan segera menyadari kehadiranmu.”

 

“Tidak …. Aku berencana untuk menemuimu setelah acara ini selesai.” Gadis bernama Choi Hwa Yeon itu tersenyum. “Sampai jumpa nanti, Cho Kyu Hyun.”

 

Hwa Yeon melenggang pergi. Sedangkan Kyu Hyun memandang tak suka ke arah gadis bersurai sepinggang itu. Penampilannya begitu berbeda, tak tampak seperti fans Kyu Hyun yang lainnya.

 

Oppa, kau baik-baik saja?” ujar seorang fan yang berdiri di barisan berikutnya.

 

Kyu Hyun mengadah lalu tersenyum. “Em… aku baik-baik saja. Namamu siapa?” tanya Kyu Hyun, dan melanjutkan kembali sesi tandatangannya.

.

.

.

Zoe menunggu di luar mobil van bersama Krystal. Gadis yang lebih muda darinya itu tampak bosan. Air wajahnya menunjukkan berbagai emosi. Yang paling kentara adalah rasa kesal dan marah. Zoe melihat lagi ke arah mobil van. Lima menit yang lalu Kyu Hyun masuk kesana bersama seorang gadis. Ia tak tahu pasti siapa gadis itu.

 

“Jung-ah, kau mengenalnya?” tanya Zoe.

 

“Siapa pun mengenalnya, Eonni. Apa kau benar-benar tak tahu siapa dia?”

 

Zoe menggeleng.

 

Krystal menghembuskan napasnya kasar. “Aku tak yakin kau benar-benar orang Korea.” Gadis itu bergumam. “Dia itu salah satu model ternama. Dia juga pernah bermain di sebuah musikal bersama Kyu Hyun Oppa.”

 

“Apa dia menyukai Kyu Hyun?”

 

Krystal mengangguk, “tetapi, sebaliknya Kyu Hyun Oppa tak menyukai gadis itu.”

 

“Kenapa?”

 

Krystal mengangkat kedua bahunya. “Sayangnya Kyu Hyun Oppa tak pernah memberitahuku alasannya. Eung … omong-omong apa kau menyukainya lebih dari sekedar fans, Eonni?”

 

Dahi Zoe mengernyit.

 

“Em … maksudku begini, kau tahu kan semua fans berharap bisa berakhir dengan idolanya? Ya, setidaknya itu yang mereka pikirkan. Tapi, apa kau punya rasa lain? Eung … hubungan di luar idola dan fans?”

 

“Kurasa begitu. Aku menyukainya sejak dia bukan seorang artis seperti sekarang.”

 

“Benarkah?!” Krystal memekik saking terkejutnya. Sesaat kemudian ia menutup mulutnya. “Kau tahu dia tinggal di mana sebelumnya?”

 

Zoe mengangguk. “Aku bahkan tahu apa yang dia lakukan setiap harinya. Apa ada yang aneh dengan semua itu?”

 

Krystal menggeleng. Matanya membelalak kagum. Entah kenapa pengakuan Zoe begitu menakjubkan baginya. “Daebak. Kau hebat, Eonni. Kau tahu? Bahkan fansnya sekalipun tak tahu detail Kyu Hyun Oppa di masa lalu. Mereka hanya tahu jika Kyu Hyun Oppa menjadi seorang idol karena insiden peran pengganti di sebuah musikal.”

 

“Insiden peran pengganti?”

 

“Eung … saat itu dia pergi menonton sebuah musikal, tetapi salah seorang staff salah mengira jika dia adalah pemeran pengganti seorang pemain yang cedera. Memang bukan seorang protagonis, sih, tapi hal itu yang berhasil membuatnya hidup di dunia seperti ini. Bahkan dia mampu menerbitkan albumnya sendiri dan tampil sebagai solois yang sukses.”

 

Zoe mengangguk beberapa kali. Dia teringat dengan Kyu Hyun di masa itu. Memang terkadang pemuda itu pergi keluar untuk melihat pertunjukkan musikal. “Terima kasih.”

 

“Untuk apa?”

 

“Itulah yang ingin kuketahui. Kenapa Kyu Hyun tiba-tiba menjadi sosok publik figur seperti itu.”

 

“Maksud Eonni?”

 

“Ah? Tidak … lupakan saja.”

 

Di kejauhan gadis yang bersama Kyu Hyun keluar dari mobil van. Zoe dan Krystal segera menuju ke sana. Langkah Zoe tergopoh-gopoh membawa kotak make-up dan sebuah tas besar berisi setumpuk hadiah dari fans. Begitu pula dengan Krystal yang berjalan di belakangnya.

 

“Kau asisten Kyu Hyun yang baru, ya?” tanya gadis itu saat melewati Zoe.

 

Langkahnya pun seketika terhenti. “Ya.”

 

“Namaku Choi Hwa Yeon.” Gadis itu mengulurkan tangannya.

 

Zoe meletakkan tas besar beserta kotak make-upnya di bawah. Ia juga mengulurkan tangannya berniat menjabat tangan gadis bernama Choi Hwa Yeon itu. Namun, saat salaman itu akan terjadi, Hwa Yeon malah menarik tangannya.

 

“Tanganmu terlalu kasar untuk kusentuh. Bukankah kau hanya seorang asisten?” ucap Hwa Yeon angkuh.

 

“Aku Jo-Eui,” kata Zoe, “kau … tidak cantik sama sekali, Nona.” Zoe mengangkat kembali tas besar beserta kotak make-upnya. Dengan langkah tak peduli, ia menuju ke mobil van. Dan, Krystal yang berada di belakangnya sangat ingin berteriak. Gadis itu pertama kalinya melihat orang yang berbicara seperti itu pada Hwa Yeon.

 

“Hei!” Hwa Yeon berteriak kesal. Salah satu kakinya dihentakkan.

 

Zoe lagi-lagi berhenti. Ia berbalik melihat ke arah Hwa Yeon. “Senang mengenalmu, Nona Choi Hwa Yeon!” Zoe tersenyum dan kembali melanjutkaan langkahnya menuju ke mobil van.

 

***

 

Perlahan tapi pasti, Zoe mulai membiasakan diri. Ia belajar banyak hal dari Krystal, mulai dari menjaga sikap sebagai orang yang dekat dengan publik figur sampai cara menghadapi manusia semacam Choi Hwa Yeon yang angkuh.

 

Zoe memeriksa ponselnya. Ia melihat kembali pesan singkat yang dikirim Demeter beberapa bulan lalu. Sudah lama sang dewi tak menampakkan dirinya. Mungkin ia sedang sibuk di belahan bumi yang lain, atau turun ke alam bawah untuk melihat puterinya: Persephone*.

*) Persephone : wujud kesuburan bumi; ratu dunia bawah; putri Demeter dan Zeus.

 

Zoe menghela napas panjang. Tubuhnya merebah pada kasur. Ia menoleh ke jendela. Di seberang sana adalah kamar tidur milik Kyu Hyun. Jika dulu ia memandangi Kyu Hyun dari atas pohon, maka sekarang ia bisa melihat pemuda itu melalui jendela kamarnya. Rasa cintanya pada pemuda bermarga Cho itu tak pernah berubah. Kadang Zoe berharap Kyu Hyun akan menaruh hati padanya karena seringnya mereka berdua bertemu. Tetapi Zoe pikir, jika hal seperti itu terjadi, mungkin Kyu Hyun akan menyukai Krystal lebih dulu.

 

Sebuah pesan masuk mengejutkan Zoe. Segera ia melihat ponselnya. Kyu Hyun!

 

Keluarlah. Makan es krim bersamaku.

 

Zoe bangkit dari kasurnya. Ia meloncat-loncat dengan teriakan tertahan. Satu lagi hari yang akan menjadi dekat dengan Kyu Hyun. Seringkali Zoe masih tak percaya dengan hal semacam ini.

 

Zoe mengambil syal dan tas selempang kecilnya yang tergantung di belakang pintu. Tak lupa juga coat merah muda selututnya. Tungkainya melangkah keluar. Di depan pintu beranda rumah, ia menoleh ke arah rumah Kyu Hyun. Tangannya melambai pada pemuda yang sedang berdiri di depan rumahnya. Saat ini sedang menuju pada bulan Desember. Angin dingin berhembus dengan kecepatan rendah. Meskipun begitu, hawa dingin menusuk sampai ke bagian terdalam tulang.

 

Eonni!” Zoe menoleh ke arah berlawanan. Gadis itu mengulas senyum. “Kau mau kemana?”

 

“Aku hanya akan… jalan-jalan, kurasa.”

 

“Di pagi hari yang dingin ini? Kau tak pergi bekerja?”

 

“Tidak. Hari ini aku libur.”

 

“Yoo Seul Woo.” Zoe menoleh ke arah lain lagi. Ia melihat seorang pemuda berwajah dingin, dan berjalan melewati mereka yang sedang mengobrol. “Kau akan terlambat,” katanya kemudian berlalu.

 

“Dia pamanku, Eonni,” ujar gadis bernama Yoo Seul Woo itu. Dia adalah puteri dari Woo Hee Jin, tetangga baik yang memberi Zoe makanan beberapa waktu lalu.

 

“Ibumu di rumah?” tanya Zoe kemudian.

 

“Tidak. Dia sudah pindah beberapa hari lalu. Sekarang dia meninggalkanku bersama paman yang dingin itu,” gerutu Seul Woo.

 

“Benarkah? Akhir-akhir ini ibumu bersikap agak misterius. Bahkan aku tak tahu kalau dia sudah pindah.”

 

“Hehehe ….” Seul Woo terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya yang sepertinya tak gatal.

 

“Hei! Yoo Seul Woo!”

 

Eonni, aku pergi.” Seul Woo melambaikan tangannya lalu berlari kecil demi menyesuaikan langkahnya dengan pemuda jangkung berwajah datar itu.

 

Zoe mengangguk lalu berteriak, “Hati-hati!” Ia memiringkan kepalanya kemudian. Zoe hanya tak percaya jika pemuda itu adalah pamannya. Tentu, usia mereka terlihat sama. Bahkan mereka menggunakan seragam sekolah yang sama.

 

Dari arah perginya Seul Woo, Kyu Hyun tampak menuju ke arah Zoe. Di kejauhan Zoe juga dapat melihat gadis itu sedang menyapa Kyu Hyun.

 

“Ayo,” ujar Kyu Hyun setelah sampai. Ia meraih tangan Zoe dan menggenggamnya.

 

Zoe terdiam sejenak. Tangan Kyu Hyun memang dingin, tetapi berangsur menghangat ketika menggenggam tangannya. Mereka memang tak memiliki hubungan apa pun, namun perlakuan Kyu Hyun terhadapnya seringkali membuat Zoe mengira jika pemuda itu mungkin menyukainya.

 

Paparazzi akan melihatmu nanti,” gumam Zoe. Mulutnya beruap ketika ia berbicara.

 

“Krystal sudah memastikan jika mereka tak akan mengetahui lingkungan tempat tinggal kita.” Kyu Hyun mengulas senyum. Semburat merah muda muncul di pipi tembamnya. Mungkin karena udara terasa semakin dingin. “Kau ingin es krim rasa apa?”

 

“Coklat vanila, bagaimana?”

 

“Sepakat. Ayo.”

 

Zoe mengikuti langkah Kyu Hyun. Tangan mereka masih bertautan satu sama lain. Sesekali Zoe menaikkan posisi syalnya hingga menutupi mulutnya.

 

“Apa kau ingin mengganti menunya? Kau ingin Americano, misalnya?”

 

Zoe menggeleng. “Tidak. Makan es krim di suasana dingin seperti ini terdengar lebih romantis.”

 

“Romantis? Hei… rasanya seperti berkencan dengan pacarku sekarang.”

 

“Pacar? Ah, Kyu Hyun-ah, bukan hal seperti itu yang kumaksud.”

 

“Kenapa? Kalau kau bermaksud seperti itu juga tidak apa-apa.”

 

Zoe menunduk. Tentu ia tak ingin menangkap maksud lain dari gurauan Kyu Hyun tadi.

.

.

.

Tak terasa, mereka sampai di kedai es krim yang dituju. Saat Kyu Hyun membuka pintu, lonceng yang tergantung di sana berbunyi. Seorang gadis yang berdiri di belakang etalase es krim tersenyum pada mereka.

 

“Selamat datang. Anda ingin memesan apa, Tuan?” tanya gadis itu.

 

“Satu cup es krim ukuran sedang untuk dua orang. Rasa coklat vanila,” kata Kyu Hyun memesan.

 

“Baiklah. Mohon tunggu sebentar.” Gadis itu tersenyum.

 

Mereka menunggu sejenak. Tak satu pun dari mereka yang ingin membuka pembicaraan kembali. Kyu Hyun merasa agak bersalah setelah mengutarakan hal itu—meskipun tak sepenuhnya merasa demikian.

 

Di antara seluruh asisten yang bekerja padanya, Jo-Euilah yang bertahan paling lama. Kyu Hyun tak memiliki alasan yang mengkhusus mengenai hal itu. Jo-Eui termasuk orang yang menyenangkan, dia mudah bergaul walaupun terlihat pendiam. Dia juga akrab dengan Krystal, gadis yang dianggap oleh Kyu Hyun seperti adiknya sendiri. Jo-Eui juga mengerjakan hampir segala hal dan selesai tepat pada waktunya. Jadi, tidak ada alasan baginya untuk memberhentikan gadis berambut sebahu itu.

 

Krystal juga sudah menceritakan banyak hal tentangnya: Jo-Eui mengetahui tempat tinggal Kyu Hyun sebelum terkenal seperti sekarang, misalnya. Alih-alih tak seorang pun tahu, termasuk Krytal dan staffnya, Kyu Hyun pikir Jo-Eui bukanlah sekedar asisten. Sampai sekarang pun ia masih penasaran siapa gadis itu sebenarnya.

 

Mereka keluar dari kedai es krim dengan posisi yang tak berubah: tangan Kyu Hyun menggenggam tangan Jo-Eui. Tangannya yang lain memegang cup es krim. Tungkai pemuda itu melangkah menuju taman. Walaupun sudah agak siang, tetapi taman itu tampak lengang.

 

Mereka duduk di sebuah bangku panjang ukuran untuk tiga orang. Posisinya saling berdekatan. Kyu Hyun melepas tautan tangannya, kemudian memberi Jo-Eui satu buah sendok es krim.

 

“Aku sengaja memesan ukuran satu untuk berdua. Bukankah ini membuatnya semakin terkesan romantis?”

 

“Hei … apa yang kau katakan?”

 

Kyu Hyun menyendok es krim pada bagian yang berwarna coklat, lalu menyuapnya. “Apa kau menangkap maksud lain dari yang aku katakan?”

 

“Tidak. Aku tahu, kau hanya bergurau.”

 

“Kalau itu bukan sekedar gurauan bagaimana?”

 

“Aku akan menganggapnya gurauan pangkat dua.”

 

“Hahahaha …. Kita seperti sedang membicarakan matematika sekarang.” Kyu Hyun tertawa renyah. “Ayolah, Jo-Eui, kau harus menangkap maksud lain dari yang aku katakan.”

 

“Haruskah?”

 

Kyu Hyun mengangguk, “Karena sejak lama aku sudah menyukaimu, Jo-Eui-ya.”

 

Seketika itu Jo-Eui mengurungkan niat untuk menyendok es krim. Kyu Hyun menatap iris matanya. Menurut Kyu Hyun, gadis itu sepertinya sangat gembira sampai-sampai tak mampu berkata apa pun.

 

“Kyu Hyun-ah…. Kau tahu siapa diriku,” gumam Jo-Eui pelan.

 

Kyu Hyun merasa agak kecewa. Dugaannya terhadap gadis itu meleset: Jo-Eui tak tampak gembira sama sekali.

 

“Ya, aku tahu, Jo-Eui. Kau bagian Sparkyu, bagian dari fansku. Itu artinya kalau mereka mengetahui hubungan ini, meraka pasti tidak akan menyukainya.”

 

“Aku yakin kau sudah mendengar semuanya dari Krystal.” Jo-Eui bangkit dari posisi duduknya. “Aku memang menyukaimu, lebih dari yang kau bayangkan selama ini, Kyu Hyun-ah. Apa yang kau lontarkan barusan adalah penantian yang kutunggu dalam kurun waktu yang lama. Semua itu berharga bagiku. Tetapi, kau seorang publik figur sekarang. Kau sudah berbeda, Kyu Hyun-ah.”

 

Kyu Hyun meraih salah satu tangan Jo-Eui, lalu mensejajarkan posisinya dengan gadis itu. “Aku janji, aku akan menjagamu, Jo-Eui. Aku akan melindungimu dari mereka.”

 

Jo-Eui menarik tangannya. Wajahnya berpaling seolah tak ingin melihat Kyu Hyun lebih lama. “Jika aku diberi pilihan, aku akan memilih untuk menjadi temanmu saja, meskipun rasa yang kumiliki tidak seperti itu. Asal aku bisa berada di dekatmu, itu bukan masalah bagiku.”

 

Kyu Hyun terdiam. Dia berusaha memahami Jo-Eui. Andai saja dia bukan seorang publik figur, mungkin gadis itu akan menerimanya tanpa basa-basi. Kyu Hyun tahu, Jo-Eui pasti takut jika suatu saat akan berpisah dengannya. Jo-Eui pun berbalik meninggalkannya yang masih terpaku.

 

Angin berhembus semakin dingin. Kehangatannya pergi begitu saja. Sejenak Kyu Hyun berpikir untuk menjadi egois. Dia bisa saja memaksa gadis itu untuk menjadi kekasihnya sekarang, tetapi ia segera menepis pemikiran semacam itu.

 

Kyu Hyun melangkahkan tungkainya lebar. Salah satu tanganya meraih tangan Jo-Eui, lalu memutar gadis itu dan membawanya ke dalam dekapan musim dinginnya yang hangat.

 

“Aku mengerti ketakutan itu.” Kyu Hyun berkata pelan. “Aku tidak akan memaksamu, Jo-Eui. Benar, kita bisa menjadi teman dan tetap dekat seperti ini. Tetapi, aku hanya ingin kau tahu perasaanku.”

 

Kyu Hyun terdiam sejenak. Pelukannya semakin erat mendekap gadis bertubuh mungil itu. Beberapa saat kemudian ia mendengar isakan. Kyu Hyun kira, Jo-Eui pasti sedang menangis sekarang. Pemuda bermarga Cho itu mengangkat dagu Jo-Eui kemudian. Obsidiannya menatap mata sembab gadis itu.

 

Kyu Hyun mengulas senyum. Ibu jarinya menyeka air mata yang menganak sungai di pipi Jo-Eui. Kepalanya memiring perlahan, dan semakin mendekati wajah Jo-Eui. Bahkan ia dapat merasakan deru napas gadis itu.

 

Chu …. Kyu Hyun mengecupnya pelan. Tangannya menangkup kedua pipi Jo-Eui, dan ia dapat merasakan tangan gadis itu yang mencengkram coatnya kuat.

 

“Aku mencintaimu, Jo-Eui-ya ….”

.

.

.

Zoe berposisi telungkup di atas kasurnya. Kamarnya seketika berantakan. Coat, sepatu serta tasnya tak berada di tempat semestinya. Zoe ingin menangis sekeras mungkin sambil merutuki nasibnya yang ia anggap begitu sial. Seharusnya dulu Demeter membuatnya menjadi gadis semacam Hwa Yeon saja. Cantik, terlihat dewasa, terkenal dan juga sedikit angkuh. Suatu saat Zoe mungkin saja bisa memaksa Kyu Hyun menyukainya melalui fisik.

 

Zoe menendang-nendang udara dengan kesal. Tadi Kyu Hyun memegang tangannya, memeluknya, mengatakan pada Zoe jika ia menyukai gadis itu, bahkan pemuda itu menciumnya. Zoe pikir ini akan semudah cerita fiksi yang beberapa kali ia baca bersama Krystal. Mungkin Zoe bisa saja menerima pernyataan cinta Kyu Hyun, mereka pacaran kemudian menikah, cerita pun tamat.

 

Tetapi, nyatanya tak semudah itu. Kehidupan Zoe lebih sulit dari apa yang sering ia bayangkan. Terjebak sebagai seorang asisten yang mencintai artisnya. Di sisi lain ia harus memikirkan fans dari sang idola, dan juga ancaman yang kapan saja bisa menghancurkan karir si pujaan hati. Tentu Zoe juga tak lupa pada pesan Demeter: yang dia pertaruhkan adalah nyawanya, jika Zoe gagal, maka ia akan menghilang selamanya.

 

“Ya Cho Kyu Hyun! Aku menyukaimu… ah maksudku, aku mencintaimu! Sangat! Sangat! Aku sangat ingin menjadi kekasihmu! Argh!” Zoe berteriak kencang dan mengacak rambutnya kesal. Setidaknya sekarang ia merasa sedikit lega.

 

Tiba-tiba ponsel Zoe berbunyi. Sebuah pesan masuk. Dari Kyu Hyun.

 

Apa kau mengatakan sesuatu tadi?

 

Mata Zoe terbelalak. Astaga … saking kesalnya, ia lupa jika Kyu Hyun adalah tetangganya. Zoe bersimpuh dengan gelisah di atas kasur. Tidak, tidak mungkin Kyu Hyun mendengar apa yang ia ucapkan ketika berteriak tadi.

 

Bisakah kau membuka jendelamu?

 

Sebuah pesan masuk lagi. Dengan langkah berat, Zoe menuju ke jendela dan membukanya. Di seberang sana Kyu Hyun sedang menatapnya sembari memegangi ponselnya. Tangannya beberapa kali mengetuk pada layar benda kotak pipih itu, sampai sebuah panggilan mengejutkan Zoe.

 

Kyu Hyun-i

Memanggil ….

 

Zoe menggeser tanda telpon berwarna hijau ke arah kanan, kemudian mendekatkan ponsel itu ke telinganya. “Halo.”

 

“Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Kyu Hyun di seberang telpon.

 

“Memandangimu, dan menjawab telpon darimu.”

 

“Hahaha … benar. Pandangi aku sampai aku menyuruhmu berhenti, Jo-Eui.”

 

“Tetapi….”

 

“Stt… ini perintah, Nona Jo-Eui. Ingat, bagaimanapun aku ini atasanmu.” Di seberang sana, Zoe dapat melihat sedang tersenyum ke arahnya. “Lalu perintah selanjutnya ….”

 

“Apa?”

 

“Bisakah kau berteriak lagi?”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Katakan lagi. Ya Cho Kyu Hyun! Aku mencintaimu! Aku sangat ingin menjadi kekasihmu!” Kyu Hyun terlihat menutupi mulutnya, membuat efek berteriak di telpon. Pemuda itu menyeringai kemudian.

 

“Itu … aku.. hanya …. Hei! Aku tak mengatakan apa pun!” Zoe berkata ketus lalu menutup sambungan telponnya secara sepihak. Tak lupa juga ia menutup jendela beserta tirainya.

 

Tak lama setelahnya, sebuah pangilan masuk lagi.

 

Kyu Hyun-i

Memanggil ….

 

“Kau marah?” tanya Kyu Hyun.

 

“Tidak. Aku hanya kesal pada diriku,” sahut Zoe masih terdengar ketus.

 

“Aku hanya ingin kau jujur pada perasaanmu, Jo-Eui.”

 

“Ya, aku tahu. Sebaiknya kau lupakan apa yang kau dengar tadi. Besok aku akan bekerja seperti biasa. Sebagai atasan, sudah selayaknya kau bersikap seperti sebelum hari ini.”

 

“Jo—”

 

“Akan kututup.”

 

Zoe mematikan ponselnya lalu meletakkannya di dalam laci. Tidak, dia harus mencegah perasaan-perasaan seperti itu. Meskipun Kyu Hyun merayunya, ia akan berusaha mengendalikan dirinya, karena bagi Zoe sekarang, karir Kyu Hyun berada di atas segalanya.

 

***

 

Zoe merapikan seluruh keperluan yang Kyu Hyun butuhkan di mini konsernya kali ini. Penampilan dengan lagu penutup berjudul At Gwanghwamun benar-benar membuat Zoe menghela napas lega. Akhirnya ia bisa beristirahat setelah bekerja seharian. Gadis itu menyalakan mesin mobil van, lalu masuk ke dalam dan duduk di jok bagian tengah. Kedua telinganya disumpal earphone yang terhubung ke ponselnya—yang memutar lagu milik Kyu Hyun. Matanya pun terpejam perlahan.

 

Sebuah ketukan tiba-tiba mengejutkan Zoe. Kepalanya menoleh, melihat ke arah jendela. Lagi-lagi Zoe harus menghela napasnya panjang. Oh jangan lagi! Dia sedang malas menghadapi Choi Hwa Yeon.

 

“Kenapa?” tanya Zoe setelah membuka pintu mobil, terdengar agak ketus. “Kau mau menggangguku lagi?”

 

“Aku hanya ingin menyuruhmu berhenti untuk yang terakhir kali. Aku berkata serius kali ini.”

 

“Ya, ya, ya … kau sudah menyuruhku sebanyak sepuluh kali? Tidak … kurasa sudah lebih dari itu.”

 

“Kau meremehkanku huh? Hei… kau ini hanya asisten. Tidak ada yang bisa kau lakukan selain menjadi pembantu Kyu Hyun.”

 

“Ya, terserah kau ingin mengatakan apa.”

 

“Sebaiknya kau berhenti sebelum menyesal. Jika kau tak menyerah juga, aku akan menghancurkan karir Kyu Hyun. Segera, bersamamu di dalamnya.”

 

***

 

Karena kejadian kemarin, Zoe membuang mukanya dari Kyu Hyun dan memilih melihat ke arah luar jendela. Di kursi depan, Krystal merasa canggung. Kyu Hyun pun terdiam sambil menatap lurus ke arah depan. Mobil van melaju sedang dengan keheningan di dalamnya. Hanya suara deru mesin yang terdengar.

 

“Aku ingin kalian mengambil libur,” ujar Kyu Hyun memecah keheningan.

 

Semuanya masih terdiam.

 

“Aku sudah memeriksa jadwalku. Aku memutuskan untuk mentraktir kalian berlibur ke Jeju. Kita akan melihat pantai musim dingin di sana.” Kyu Hyun menjelaskan maksudnya.

 

“Apa itu artinya gratis, Oppa?” tanya Krystal tiba-tiba bersemangat.

 

Zoe pun melirik Kyu Hyun. Dia tampak mengangguk menanggapi pertanyaan Krystal.

 

“Kalau aku tidak ikut, bagaimana?” tanya Zoe pelan.

 

“Aku tidak mengizinkan siapa pun untuk tidak ikut. Kalau kau menolak, aku akan memaksamu, Jo-Eui,” kata Kyu Hyun. Matanya mendelik tajam. Dia memang sedang memaksa Zoe.

 

“Baiklah ….” Zoe menundukkan kepalanya pelan, lalu memutar melihat ke arah luar jendela lagi.

.

TBC

59 thoughts on “ZOE : A Lifetime Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s