Perfect Match Part 10


image

Author: Keita

Title: Perfect Match Part 10

Category: NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast:

Han Hyo Joo as Oh Yeon Joo

Park Chanyeol

Support Cast:

Lee Donghae

Mr-Kim

Annyeong haseyeo … Terimakasih untuk pada reader yang menyempatkan waktunya untuk membaca cerita yang saya buat.. Terimakasih untuk admin yang sudah mempost tulisan saya.. Maaf kalau ada kata-kata yang bikin bingung. Mmmmmmmm…. Moga suka sama ceritanya ya.. HAPPY READING…

Ia diam. “Ada satu hal yang dapat kau lakukan.”

“Apa?” bentakku.

“Menikahlah denganku,” bisiknya.

Aku tak dapat percaya akan apa yang baru saja ia katakan.

Ia melamarku untuk menikah? Apakah ia bercanda? Aku tak dapat menahannya-tawa kecil, gugup. Ku gigit bibirku agar dapat menghentikannya menjadi tawa histeris dan menyedihkan. Aku tak bisa menahannya dan menyerah pada tawaku, tertawa seperti aku tak pernah tertawa sebelumnya.

Saat tawaku mulai berhenti, Chanyeol mengangkat tanganku dengan perlahan dari wajahku. Aku

berbalik dan menatap kearahnya. Ia mencondongkan tubuhnya kearahku. Mulutnya membentuk senyum masam, tapi matanya menyala, mungkin terluka. Oh tidak.

Dengan perlahan ia menghapus air mataku dengan punggung tangannya.

“Apakah menurutmu lamaranku lucu, sayang?”

Ku raih, usap pipinya lembut. Tuhan, aku mencintai pria ini.

“Mr. Park Chanyeol. Pemilihanmu akan waktu sangat sangat tak bisa dipercaya…” aku menatap kearahnya saat kata-kata gagal mengungkapkannya.

Ia nyengir kearahku, tapi sinar di matanya menunjukkan padaku bahwa ia terluka. Ia menangis.

“Kau memotongku dengan cepat. Mau kah kau menikahiku?”

Aku duduk dan bersandar padanya, meletakkan tanganku di dengkulnya. Ku tatap kedalam wajahnya yang tampan. “itu bukanlah lamaran yang paling romantis.”

Ia memiringkan kepalanya ke satu sisi dan bibirnya membentuk senyuman.

“Jadi, itu berarti bukan sebuah kata tidak?”

Aku mengambil napas panjang.

“Bukan, itu bukan lah sebuah kata tidak, tapi itu juga bukanlah sebuah jawaban ya. Kau melakukan ini karena Kau takut, dan kau tidak percaya padaku.”

“Bukan, aku melakukan ini karena akhirnya aku menemukan seseorang yang aku inginkan

untuk menghabiskan hidup bersama.”

Oh . Jantungku berhenti sesaat dan didalam aku meleleh. Bagaimana bisa di tengah-tengah situasi paling kacau ia bisa mengatakan suatu hal yang paling romantis? Mulutku terbuka dalam kejut.

“Aku tak pernah berpikir itu akan terjadi padaku,” lanjutnya, ekspresinya memancarkan ketulusan yang murni.

Aku membuka mulutku, mencari kata yang tepat.

“Can I think about it . . . please? And think about everything else that’s happened to¬day? What you’ve just told me? You asked for patience and faith. I need those now.”

Ia maju dan menyematkan rambutku ke belakang telingaku. Ia menciumku cepat di bibir.

“Not very romantic, eh?” Ia mengangkat alisnya, dan aku memberinya gelengan kepala.

“Hearts and flow¬ers?” tanyanya perlahan. aku mengangguk dan Ia memberiku senyum sekilas.

“Kau lapar?”

“Ya.”

“Kau belum makan?” Matanya membeku dan rahangnya mengeras.

“Tidak, aku belum makan.”

.

“Biar aku siapkan sesuatu untuk dimakan,” katanya.

“Tak bisakah aku pergi tidur saja?” gumamku saat kuletakkan tanganku di tangannya.

Ia mengangkatku. Badanku terasa kaku. Ia menatap kearahku, ekspresinya lembut.

“Tidak, Kau butuh makan. Ayo.” Bossy Chanyeol telah kembali, dan itu melegakan.

Ia membawaku ke dapur dan mendudukkanku di kursi bar saat ia berjalan menuju lemari es.

Aku melihat jamku. Astaga, hampir setengah dua belas dan aku harus berangkat kerja besok

pagi.

“Chanyeol, aku tidak lapar.”

Ia mengabaikanku saat Ia mencari-cari sesuatu di lemari es.

“Chanyeol, aku akan pergi tidur. Kau bisa menggeledah kulkasmu semalaman kalau kau mau. Aku lelah, dan aku telah mengalami hari yang jauh dari menyenangkan. Satu hari yang ingin kulupakan.”

Aku turun dari kursi dan Ia merengut ke arahku, tapi kali ini aku tidak peduli. Aku ingin pergi tidur–aku kelelahan.

“mac and cheese?” Ia mengangkat mangkuk putih tertutup foil. Ia terlihat berharap dan manis.

“Kau suka mac and cheese?” tanyaku.

Ia mengangguk antusias, dan hatiku meleleh. Tiba-tiba saja ia terlihat sangat muda. Chanyeol menyukai makanan anak-anak.

“Kau mau sedikit?” tanyanya, terdengar berharap.

Aku tak bisa menolaknya dan aku lapar. Aku mengangguk dan memberinya senyuman lemah. Jawabannya membentuk sebuah senyuman yang memesona. Ia membuka foilnya dan memasukkan mangkuknya ke dalam microwave. Aku duduk kembali di kursi dan melihat Chanyeol yang tampan—pria yang ingin menikahiku–bergerak anggun dengan senang di sekitar dapurnya.

“Jadi Kau tahu cara menggunakan microwave?” aku mengejeknya perlahan.

“Jika berada dalam kemasan, aku biasanya bisa melakukan sesuatu. Makanan yang sesungguhanlah yang aku permasalahkan.”

Aku tak percaya ini adalah pria yang sama dengan pria yang tadi berlutut dihadapanku setengah jam yang lalu. Dia dengan dirinya yang selalu berubah-ubah. Ia menyiapkan piring, peralatan makan, dan taplak di meja sarapan.

“Ini sudah larut,” gumamku.

“Jangan pergi kerja besok.”

“Aku harus kerja besok. Ada beberapa berkas yang harus ku kerjakan dengan Donghae”

Chanyeol membeku.

Microwave berbunyi mengumumkan bahwa makanan kami telah panas.

Chanyeol menaruh piring diantara Kami dan duduk disampingku. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Menaruh mac and cheese di piring. Aromanya sedap, dan mulutku berair menantikannya. Aku kelaparan.

“Maaf tentang Sulli,” gumamnya.

“Mengapa Kau meminta maaf?” Mmm, makaroni ini sesedap aromanya.

“Itu pasti mengejutkanmu. Melihatnya menciumku”

“Kau masih ada perasaan padanya?”

“Tidak!” katanya, tercengang, dan ia menutup matanya, ekspresinya terlihat sedih. Aku berbalik arah, menatap ke arah makananku yang memuakkan. Aku tak sanggup melihat kearahnya.

“Yeon Joo, lihat aku.”

Aku tak bisa. Aku tahu jika aku melihatnya, aku akan menangis.

“Yeon Joo.”

“Apa?”

“Jangan. Itu tidak berarti apapun. Aku sudah melupakannya”

Aku mengambil napas tenang, dan Aku butuh tidur.

“Yeon Joo?”

Aku berdiri, membawa piringku menuju bak cuci piring, dan membuang isinya ke tempat sampah.

“Yeon Joo, kumohon.”

Aku berputar dan menatapnya.

“Berhentilah, Chanyeol! Berhentilah dengan ‘ Yeon Joo, kumohon’!”

Aku berteriak padanya, dan air mataku mulai turun di wajahku.

“aku akan pergi tidur. aku lelah dan emosional. Sekarang biarkan aku.”

Aku berlari ke kamar tidur, membawa memori dari Chanyeol yang matanya melebar, pandangan terkejut. Senang mengetahui bahwa aku dapat mengejutkannya juga. Aku melepas pakaianku dua kali lebih cepat, dan mengambil salah satu Tshirt milik Chanyeol di dalam laci dan berjalan ke kamar mandi.

“Hei,” kata Chanyeol lembut sambil menarikku ke dalam pelukannya, “Jangan menangis,

Yeon Joo, kumohon.”

Ia memohon. Dia di lantai kamar mandi, dan aku dipangkuannya. Aku memeluk dia dan menangis ke lehernya. Berbisik lembut ke rambutku, ia lembut membelai punggungku, kepalaku.

“Maafkan aku, Sayang,” bisiknya, dan itu membuat aku menangis lebih keras dan memeluknya lebih erat.

Kami duduk seperti ini sangat lama. Akhirnya, ketika aku sudah kehabisan tangis, Chanyeol berdiri, menggendongku, dan membawaku ke kamarnya di mana ia meletakkanku di tempat tidur. Dalam beberapa saat, dia sampingku dan lampu mati. Dia menarikku ke dalam pelukannya, memeluk erat-erat, dan aku akhirnya terlelap.

Aku terbangun. Chanyeol memelukku. Dia mengomel dalam tidurnya saat aku menyelinap keluar dari tangannya, tapi dia tidak bangun. Aku duduk melirik jam. Sekarang jam tiga pagi. Aku perlu minum. Aku mengayunkan kakiku keluar dari tempat tidur dan menuju ke dapur di ruang besar.

Dalam lemari es, aku menemukan sekotak jus jeruk dan menuangkan untuk diriku sendiri segelas. Hmm…sangat lezat,.

Berkelana ke dinding kaca besar, aku mengintip keluar Kota Seoul yang sedang tidur. Lampu lampu berkedip dibawah penthouse Chanyeol. Aku menekan keningku ke jendela yang dingin – ini melegakan. Aku memiliki begitu banyak hal untuk dipikirkan setelah semua pengakuan kemarin. Aku menempatkan punggungku terhadap kaca dan merosot ke bawah di lantai. Ruang besar luas dalam gelap, satu-satunya cahaya berasal dari tiga lampu di atas ruangan dapur.

Bisakah aku tinggal di sini, menikah dengan Chanyeol?

Pernikahan.

Ketenangan damai ini pecah oleh teriakan yang membuat setiap helai rambut di tubuhku berdiri karena waspada. Chanyeol! Ya Tuhan, apa yang terjadi? Aku langsung berdiri, berlari kembali ke kamar tidur sebelum gema dari suara yang mengerikan itu telah lenyap, hatiku berdebar ketakutan.

Aku menghidupkan salah satu lampu, dan lampu samping tempat tidur Chanyeol langsung hidup. Dia berguling dan berputar-putar, menggeliat kesakitan. Tidak! Dia berteriak lagi, dan, suara ngeri yang menghancurkan menusuk melalui diriku lagi.

Sial – Sebuah mimpi buruk!

“Chanyeol!” Aku bersandar padanya, meraih bahunya, dan menggoyang dia agar bangun.

Dia membuka matanya, memandang cepat seluruh ruangan kosong sebelum kembali berhenti padaku.

“Kau pergi, kau pergi, kau pasti pergi,” gumamnya – mata membelalaknya menuduh-dan ia

tampak begitu hilang, itu membuat hatiku sakit.

“Aku di sini.” Aku duduk di tempat tidur di sampingnya. “Aku di sini,” bisikku pelan dalam

upaya untuk meyakinkan dia.

Aku menempatkan telapak tanganku di sisi wajahnya, berusaha menenangkannya.

“Kau pergi,” bisiknya dengan cepat.

“Aku pergi untuk mengambil minum. Aku haus.”

Dia menutup matanya dan menggosok wajahnya. Ketika ia membuka lagi, dia terlihat begitu

muram.

“Kau di sini. Oh, terima kasih Tuhan.”

Ia menggapaiku, dan meraihku erat-erat, dia menarikku ke tempat tidur di sampingnya.

“Aku hanya pergi untuk minum,” gumamku.

Oh, Aku bisa merasakannya. T-shirt bermandikan keringat, dan detak jantungnya berdebar-debar saat ia memelukku dekat. Dia menatapku seolah-olah meyakinkan dirinya sendiri bahwa aku benar-benar di sini. Aku membelai rambutnya lembut dan kemudian pipinya.

“Chanyeol, please. Aku di sini. Aku tidak akan kemana-mana,” kataku menenangkan.

” Yeon Joo,” dia mendesah.

Dia menggenggam daguku untuk menahanku tetap diam dan kemudian mulutnya dimulutku. Hasrat menyapu melalui dirinya, dan tanpa diminta tubuhku merespon-begitu terikat dan selaras dengannya. Bibirnya di telingaku, tenggorokan, kemudian kembali ke mulutku, giginya dengan lembut menarik-narik bibir bawahku, tangannya menjelajahi tubuhku dari pinggul ke payudaraku, menarik T-shirtku keatas.

Membelaiku, meraba-raba melalui lekuk dan lembah kulitku, dia memunculkan reaksi akrab yang sama, sentuhannya mengirimkan kegigilan melalui tubuhku. Aku mengerang saat tangannya menangkup payudaraku dan jarinya mengencang disekitar putingku.

“Aku ingin kau,” gumam dia.

“Aku di sini untukmu. Hanya kau, Chanyeol.”

Dia menggeram dan menciumku sekali lagi, penuh gairah, dengan semangat dan putus asa yang aku tak pernah kurasakan darinya sebelumnya. Meraih ujung T-shirt-nya, aku menariknya dan dia membantuku menarik dari atas kepalanya. Berlutut di antara kakiku, dia buru-buru menarikku tegak dan melepas T-shirt-ku. Matanya serius, ingin, penuh rahasia gelap-terekspos.

Dia melipat tangannya di sisi wajahku dan menciumku, dan kami tenggelam ke tempat tidur sekali lagi, pahanya antara kedua pahaku sehingga dia setengah berbaring di atasku. Ereksinya kaku dipinggulku melalui celana boxer-nya. Dia ingin aku. Sialan. Aku tak bisa melakukan ini. Tidak sekarang.

“Chanyeol…Berhenti. Aku tak bisa melakukan ini,” bisikku dengan mendesak di mulutnya, tanganku mendorong lengan atasnya.

“Apa? Apa yang salah?” Dia bergumam, dan mulai mencium leherku, menjalankan ujung

lidahnya ke tenggorokanku. Oh…

“Tidak, tolong. Aku tak bisa melakukan ini, tidak sekarang. Aku butuh sedikit waktu, tolonglah.”

“Oh, sayang, jangan terlalu memikirkan ini,” Dia berbisik saat mengigit telingaku.

“Ah!” Aku terkesiap, merasakan itu dalam pangkal pahaku, dan tubuhku melengkung, mengkhianatiku. Ini sangat membingungkan.

“Aku tetap sama, Yeon Joo. Aku mencintaimu dan aku membutuhkanmu. Sentuh aku. Kumohon.”

Dia menggosokkan hidungnya dihidungku, dan permohonan tulus pelannya menggerakkanku dan aku meleleh.

Dia mengangkat kepalanya di atasku, menatap ke bawah, dan dalam cahaya remang dari lampu samping tempat tidur yang redup, aku bisa mengatakan bahwa ia menunggu, menunggu keputusanku.

Aku meraih dan ragu-ragu menempatkan tanganku di atas tulang dadanya. Dia terengah-engah dan memejamkan matanya. Aku memindahkan tanganku ke bahunya, merasakan lari getaran melaluinya. Dia mengerang, dan aku menariknya turun bersamaku dan menempatkan kedua tanganku di punggungnya,  pada bilah bahunya, memeluk dia padaku.

Dia membenamkan kepalanya di leherku, mencium dan menghisap dan menggigitku, sebelum menjelajahi hidungnya ke atas daguku dan menciumku, lidahnya melumat mulutku, tangannya bergerak ke seluruh tubuhku sekali lagi. Bibirnya bergerak turun…bawah…turun ke payudaraku, menikmatinya saat dia bergerak, dan tanganku tetap tinggal di pundaknya dan punggungnya, menikmati setiap regangan dan gerakan dari otot bagusnya yang terasah, kulitnya masih lembab dari mimpi buruknya. Bibirnya menutupi putingku, dan menarik-nariknya sehingga putingku menengang naik menyambut mulut terampilnya.

Aku mengerang dan menjalankan kukuku di punggungnya. Dan dia terengah-engah, sebuah erangan tercekik.

“Oh, f***, Yeon Joo!”

Tangannya bergerak menuju ke bawah, turun ke perutku, ke bawah kelaminku dan jari-jarinya kemudian di atasku, lalu dalam diriku. Aku mengerang saat ia menggerakkan jari-jarinya di dalam diriku, dengan cara seperti itu, dan aku mendorong panggulku untuk menyambut sentuhannya.

Dia mendesah. Tiba-tiba ia melepaskanku dan duduk, ia melepas celana boxernya dan meraih ke meja samping tempat tidur untuk mengambil paket foil. Matanya menatapku intens saat dia memberiku kondom.

“Kau ingin melakukan ini? kau masih bisa mengatakan tidak. kau selalu bisa mengatakan tidak,” gumamnya.

“Jangan beriku kesempatan untuk berpikir, Chanyeol. Aku ingin kau juga.”

Aku merobek paket sampai terbuka dengan gigiku saat ia berlutut di antara kedua kakiku.

Dan dengan jari-jari gemetar aku menyelipkan itu diatas dirinya.

“Tahan,” katanya.

Aku mengagumi terhadap apa yang dapat aku lakukan untuk orang ini dengan sentuhanku. Dia membentang di atasku, dan untuk saat ini keraguanku didorong ke bawah dan terkunci dalam, di dalam kedalaman gelap menakutkan di belakang pikiranku.  Dia tiba-tiba bergeser, benar-benar membuatku terkejut, lalu aku jadi berada di atas. Tunggu dulu.

“Kau-bawa aku,” gumam dia, matanya bersinar dengan intensitas liar.

Oh my, dan perlahan-lahan, aku tenggelam ke dalam dirinya. Dia memiringkan kepalanya ke belakang dan menutup matanya saat ia mengerang. Aku ambil tangannya dan mulai bergerak, menikmati kepenuhan dari milikku, menikmati reaksinya, mengawasinya terlepas dibawahku. Aku menunduk dan mencium dagunya, menjalankan gigiku sepanjang rahangnya. Dia terasa lezat. Dia mendekap pinggulku dan memantapkan ritmeku, lambat dan santai.

” Yeon Joo, sentuh aku…please.”

Oh. Aku membungkuk dan menenangkan diriku dengan kedua tangan di dadanya. Dan dia berteriak, dan ia menghentak ke dalam diriku.

“Ahh,” Aku merintih dan menjalankan kuku jariku dengan lembut di dadanya, dan dia mengerang keras dan tiba-tiba berguling jadi aku sekali lagi di bawah dirinya.

“Cukup.” Dia mengerang.

Meraih ke depan, aku menggenggam wajahnya di tanganku, merasakan kelembaban di pipinya, dan menariknya ke bibirku sehingga aku bisa menciumnya. Aku mengenggamkan tanganku di sekitar punggungnya.

Dia mengerang dalam dan rendah dalam tenggorokannya saat ia bergerak di dalam diriku, mendorong aku maju dan ke atas, tapi aku tidak bisa menemukan pelepasanku. Pikiranku terlalu berawan, berawan dengan masalah. Aku terlalu terbungkus dalam dirinya.

“Lepaskan, Yeon Joo,” dia mendesakku.

“Tidak!”

“Ya!” Dia menggeram. Dia bergeser sedikit dan menggoyangkan pinggulnya, lagi dan lagi.

Astaga. . . argh!

“Ayo sayang, aku butuh ini. Berikan padaku.”

Dan aku meledak, tubuhku adalah budaknya, dan membungkus diri sendiri di sekeliling dia, menempel padanya seperti pohon anggur saat ia meneriakkan namaku, dan klimaks denganku, kemudian ambruk, berat tubuhnya menekanku ke kasur.

Chanyeol di pelukanku, kepalanya di dadaku, saat kami berbaring dalam kenikmatan sehabis bercinta kami. Aku menjalankan jariku melalui rambutnya saat aku mendengarkan napasnya normal kembali.

“Jangan pernah tinggalkan aku,” bisiknya, dan aku memutar mata dalam kesadaran penuh bahwa ia tak bisa melihatku.

“Aku tahu kau memutar matamu padaku,” gumam dia, dan aku mendengar jejak humor dalam suaranya.

“Kau mengenalmu dengan baik,” gumamku.

“Aku ingin mengenalmu lebih baik.”

“Ini sudah larut. Kita harus tidur.”

Dia bergeser mematikan lampu samping tempat tidur dan menarikku mendekatinya. Aku melirik jam alarm. Astaga, sekarang jam tiga empat puluh lima. Dia melingkarkan lengannya di sekitarku, tubuh depannya ke punggungku, dan mengelus leherku.

“Aku mencintaimu, Oh Yeon Joo, dan aku ingin kau di sisiku, selalu,” gumamnya sambil mencium leherku. “Sekarang tidurlah.”

Aku pun  menutup mataku.

Dengan enggan, aku membuka kelopak mata beratku dan cahaya terang mengisi ruangan. Aku mengerang. Chanyeol melilitku seperti tumbuhan menjalar. Aku terlalu hangat seperti biasa. Alarm belum berbunyi. Aku meregangkan tubuh untuk membebaskan diri dari panas dirinya, berbalik dalam pelukannya, dan ia menggumamkan sesuatu yang tidak dimengerti dalam tidurnya. Aku melirik jam. Jam delapan empat puluh lima.

Sial, aku akan terlambat. Persetan. Aku tergesa-gesa keluar dari tempat tidur dan bergegas ke

kamar mandi. Aku mandi dan keluar dalam waktu lima menit.

Chanyeol duduk di tempat tidur menontonku dengan kegelian tersembunyi ditambah dengan kecemasan saat aku terus mengeringkan diri sendiri sambil mengumpulkan pakaianku.  Aku memeriksa pakaianku – celana panjang hitam, kemeja hitam Aku buru-buru mengenakan bra hitam dan celana dalam, sadar bahwa dia mengawasi setiap langkahku. Ini…mengerikan.

“Kau terlihat bagus,” Chanyeol mendengkur dari tempat tidur. “Kau bisa mengaku sakit, kau tahu.” Dia memberiku senyuman miring.

Oh, dia begitu menggoda.

“No, Chanyeol, I can’t. I am not CEO with a beautiful smile who can come and go as he pleases.”

“like to come as I please.” Dia menyeringai dan menampilkan senyuman gemilangnya.

“Chanyeol!” Aku memarahinya. Aku melemparkan handukku ke dirinya dan dia tertawa.

“Beautiful smile, huh?”

“Yes. You know the effect you have on me” kataku sambil memasang jam tanganku.

“Do I?” Dia berkedip tanpa berdosa.

“Yes, you do. The same effect you have on all women. Gets really tiresome watching them all swoon.”

“Does it?” Dia menaikkan alisnya padaku, lebih geli.

“Don’t play the innocent, it really doesn’t suit you,”

Ketika aku membungkuk untuk menciumnya selamat tinggal, ia meraihku dan menarikku ke tempat tidur, mencondongkan tubuh ke arahku dan tersenyum lebar selebar dari telinga ke telinga. Oh my. Dia begitu tampan – mata cerah dengan kenakalan, rambut lepek baru-saja bercinta, senyum yang mempesona itu. Sekarang dia sedang main-main.

“What can I do to tempt you to stay?” Katanya lembut, dan detak jantungku berhenti sejenak dan mulai berdebar. Dia adalah godaan yang paling sulit.

“You can’t,” Aku mengeluh, berjuang untuk duduk kembali. “Biarkan aku pergi.”

Dia merengut dan aku menyerah. Sambil menyeringai, aku menelusuri jari-jariku di atas bibirnya. Aku mencintainya. Aku merunduk untuk menciumnya, bersyukur bahwa aku telah menggosok gigiku. Dia menciumku lama dan kuat dan kemudian dengan cepat menegakkanku di kakiku.

“Mr-Kim akan mengantarmu. Lebih cepat daripada mencari tempat parkir. Dia menunggu di luar gedung,” kata Chanyeol ramah, dan ia tampaknya lega.

“Oke. Terima kasih,” gumamku,

“Enjoy your lazy morning, Mr.Park.”

Aku mengambil tasku.

“Why are you staying in bed? It’s not like you.”

Dia melipat tangannya di belakang kepala dan nyengir.

“Because I can”

Aku menggeleng padanya. “Laters baby”

Aku meniupkannya sebuah ciuman, dan aku keluar dari pintu.

Mr-Kim menunggu untukku, dan dia tampaknya mengerti bahwa aku terlambat karena dia mengemudi seperti kelelawar keluar dari neraka untuk mengantarkanku bekerja jam Sembilan lima belas. Aku bersyukur ketika ia sampai di pinggir jalan-bersyukur masih bisa hidup-cara mengemudinya itu menakutkan.

“Terima kasih, Mr-Kim,” Aku bergumam, wajah pucat.

“dengan senang hati nona”

Wendy nyengir saat aku terburu-buru melaluinya dan berjalan menuju ke mejaku.

“Yeon Joo!” Donghae memanggilku.

Oh sial.

“Jam berapa kau sebut sekarang ini?” Bentak dia.

“Maafkan aku. Aku ketiduran.” Aku merah padam.

“Jangan biarkan hal itu terjadi lagi! Temui aku di ruang rapat 10 menit lagi” Teriaknya

Kenapa dia begitu marah? Apa masalahnya? Apa yang telah kulakukan? Bahkan dia bukan bosku. Dia hanya ketua tim. Aku bergegas untuk menyiapkan dokumen yang akan dibahas. Mungkin aku harusnya membolos. Melakukan sesuatu yang panas dengan Chanyeol, atau sarapan dengan dia, atau hanya berbicara.

Setelah rapat selesai. Aku merasa lega sedikit, walaupun masih terlihat Donghae marah padaku. aku mengecek HPku. Ada panggilan tak terjawab dari appa dan sms dari Chanyeol.

Aku memutuskan untuk menelpon appa terlebih dahulu.

Yeon Joo.” Kata appa di sebrang sana

ne, appa. Ada apa?”

appa akan terbang ke China hari ini. mungkin untuk 1 minggu. Ada masalah yang harus appa kerjakan”

China? Appa pergi sendiri?”



“bersama Sehun. Rumah kosong. Kau menginap saja di rumah Chanyeol”

Oh.. appa masih ingat bahwa aku tak suka di tinggal sendirian. Dan untung saja appa tak pernah melarangku jika aku tinggal di penthouse Chanyeol. Ku rasa appa sudah sangat percaya pada Chanyeol.

mmmm… arraso… hati-hati.. tetap jaga kesehatan appa”



“ya.. appa mencintaimu”



“aku juga”



Setelah memutuskan telfon dengan appa. Aku membuka sms dari Chanyeol. Oh.. ada 3 sms.

From: Chanyeol

Tempat tidurku terlalu besar tanpamu.

Kelihatannya aku harus pergi bekerja juga.



From: Chanyeol

Aku sudah ditempat kerja.

Aku sangat merindukanmu

Oh, dan menikahlah denganku, please.



From: Chanyeol

Kabari aku bahwa kau baik-baik saja

Atau aku akan menyuruh Mr-Kim untuk memerikamu.!

Aku meneleponnya. Aku tidak ingin dia khawatir.

Telepon Park Chanyeol, Kim Jisoo berbicara.

Oh. Aku sangat bingung bukan Chanyeol yang menjawab telfon.

Halo? Bisa aku bantu?” Jisoo mengisi kekosongan keheningan yang canggung.

Maaf…Eh…Aku berharap untuk berbicara dengan Chanyeol-

Mr. Park dalam pertemuan saat ini” Dia menjawab dengan efisiensi. “Bisakah saya mengambil pesan?”

Bisakah kau beritahu padanya Yeon Joo menelepon?”



“Yeon Joo? Oh Yeon Joo?”



“Er…Ya ” Pertanyaannya membingungkanku.

Tahan sebentar, Ms Oh.

Aku mendengarkan dengan penuh perhatian saat ia menutup telepon, tapi aku tidak bisa mengatakan apa yang terjadi. Beberapa detik kemudian Chanyeol di telepon.

Apakah kau baik-baik saja?”



“Ya, aku baik-baik saja.”



Aku mendengar pelepasan cepat dari napasnya tertahannya. Dia lega.

Chanyeol, mengapa aku tidak baik-baik saja?” Aku berbisik menenangkan.

Kau biasanya begitu cepat dalam menanggapi sms-ku. Setelah apa yang aku katakan kemarin, aku khawatir,” katanya dengan tenang, dan kemudian ia berbicara dengan seseorang di kantornya.

Tidak, Jisoo. Katakan kepada mereka untuk menunggu,” Katanya tegas. Oh, aku tahu nada suara itu.

Aku tidak bisa mendengar respon Jisoo.

Tidak Aku berkata Tunggu!”, bentak dia.

Chanyeol, kau jelas sibuk. Aku hanya menelepon untuk membiarkan kau tahu bahwa aku baik-baik saja, dan memang benar aku baik-baik saja-hanya sangat sibuk hari ini. Donghae marah karena aku terlambat. Itu semua karena kau.”

Chanyeol tidak mengatakan apa-apa sejenak.

Jangan biarkan dia berada di atasmu, sayang.” Suaranya penuh humor.

Chanyeol!” Aku memarahi dia dan aku tahu dia menyeringai.

Hanya mengawasinya, itu saja. Dengar, aku senang kau baik-baik saja. Jam berapa aku harus menjemputmu? ”



“Aku akan mengirim sms padamu.”



“laters baby.”



“Bye…”

Dia masih tersambung.

Tutup teleponnya,” Aku memarahinya, tersenyum.

Dia menghela napas berat ke telepon. “Aku berharap kau tidak pernah pergi bekerja pagi ini.”

Aku juga. Tapi aku sibuk. tutup teleponnya.”



“Kau yang menutup telepon.” Aku mendengar senyumnya.

Aku suka Chanyeol yang main-main.

Hmm…Aku mencintai Chanyeol, sepanjang waktu.

Kau menggigit bibirmu.”

Sial, dia benar. Bagaimana dia tahu?

Kau lihat, kau pikir aku tidak tahu dirimu, Yeon Joo. Tapi aku tahu kau lebih baik daripada yang kau pikirkan,” gumam dia menggoda dalam cara yang membuatku lemah, dan basah.

Chanyeol, aku akan bicara denganmu nanti. Sekarang, aku benar-benar berharap aku tidak meninggalkanmu pagi ini juga. ”



“Aku akan menunggu untuk sms-mu, sayang.”



“Selamat Siang, Mr. Park.”

Menutup telepon, aku bersandar ke kursiku. Oh my, bahkan di telepon ia memiliki aku. Menggelengkan kepala untuk membersihkan semua pikiran dari semua tentang Chanyeol.  Oh.. Donghae terlihat cemberut ketika pandangan kami bertemu. Rasanya aku ingin cepat bertemu Chanyeol.

Continue…

Romantis ga?

Gimana?

Terimakasih sudah baca..

Maaf kalau ada Typo

Keita…

Ps: cerita disini terinspirasi dari Fifty Shades

42 thoughts on “Perfect Match Part 10

  1. ahhhhh. sebenernya sweet bangetsih ceritanya. tapi tetep aja masih ada pertanyaan yang bersarang diotakku. aku bakalan nungguin terus authornim.

    semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattttttttt

    Suka

  2. Keren sih thor menurutku.. Tapi, entah kenapa. Mulai part 1 sampai part 10 ini aku merasa bahasa yang author bawakan terlalu tinggi dan bertele-tele. Itu menurutku sih.. Nah itu yang membuat aku selalu baca kembali ff ini, sering gak mudeng soalnya.
    Terus tadi ada typo yang menurutku fatal banget. Atau mungkin karena gaya bahasa authornya kali.. Pilah katanya dulu thor.. Masa ada bahasa “….Makanan yang sesungguhanlah yang aku permasalahkan”
    Kan harusnya ‘sesungguhnyalah’

    Suka

  3. Wow.. makin sulit aja ya gara2 ada sulli..
    Niat banget appa-nya yeon joo nyuruh anaknya tinggal di penthouse chanyeol. Coba kalo itu aku kayak yeon joo… bakalan jadi perang dunia ke100…
    Untung aku gak kayak gitu..

    #elusdada
    Fighting!!!!

    Suka

  4. Thor, kalimatnya mohon dikoreksi ya, kalo typo huruf dalam kata sih gpp ini kata dalam kalimat. Jadi bikin sedikit bingung dengan maksudnya ketika gak pas.
    Misal, kata ‘sesungguhanlah’ ini.
    Next part, semangat ya thor!

    Suka

  5. itu chanyeol punya trauma apa sih kok sampai segitunya ketakutan ditinggalkan apa ini ada hubungannya ma sulli moga aja yeon joo cepet nerima lamaran chanyeol

    Suka

  6. Suka suka suka suka suka Suka suka suka suka suka Suka suka suka suka suka Suka suka suka suka suka banget dengan ff ini sumpah!!!!!!!!!!!!
    Next dong ya kak please,, jangan lama lama next nya tolong banget. Hehe

    Suka

  7. Kurangg panjanggggg kakak.. Aku heran deh knp ff ini comen.nya sedikit.. Mungkin faktor cast,tp kalo menurutku knp coba kalo ff.nya bagus kita nggk kasih apresiasi.jujur kalo aku gitu orang.nya. . karna aku suka banget baca dan akan sangat suka sama penulis yg bisa bikin cerita bagus,menarik..aku slalu suka kasih apresiasi siapapun author ataupun cast.nya selagi itu bagus dan pantas dikasih bintang. Satu lagi konflik.nya mana kak.. Jangan lupa moment romance dibanyakin.. Makasih

    Good job slalu kak :-*

    Suka

  8. Chanyeol sampe memohon gtu dma yeonjoo ,, smga semuanya baik” ajja,,
    Smga ajj suli gk gangguin hubungan mereka lagi,,
    Oke semangat eonie ngetik nya

    Suka

  9. Kok setiap bcra tntang suli chanyeol seperti emosi atau kesakitan gtu yaa….
    Mimpi buruk??? takut kehilangan?? ?? Makin penasaran
    Yoenjo knpa gk trima lamaran yeol ituuuu,, klo akk mah langsung yes😂

    Suka

  10. SEPERTINYA INI AUTHOR HARUS BACA PENGERTIAN TERINSPIRASI DAN PLAGIAT! MAAF BUKANNYA NGEBASH, TAPI BANYAK SEKALI DIALOG DAN NARASI YANG PERSIS DENGAN 50 SHADE DARKER DI PART INI.SERIUS.
    INI SAMA SEKALI BUKAN INSPIRASI KALAU GAYA PENULISANNYA SAMA PERSIS DENGAN NOVEL YANG YANG KATANYA DI JADIKAN “INSPIRASI”
    TOLONG JADILAH CONTOH AUTHOR YANG BAIK JANGAN CUMA ENAK COMOT KARYA NOVEL BEST SELLER. MAAF SEKALI LAGI KALAU INI KELIHATAN KASAR, TAPI SAYA PERNAH BACA ATURAN RULES SEND FF DI FNC BAHWA MEREKA SUDAH TIDAK MENERIMA FF YANG REMAKE KARYA ORANG LAIN.
    INI AUTHOR JUGA YANG BUAT FF BARU DENGAN JUDUL BILLIONNAIRE EX-WIFE YANG SAMA PERSIS DI WATTPAD TAPI NAMA PENULISNYA BEDA.

    Suka

  11. Duuhh gk sabar bgt nih pengen mereka cepet nikah.. 😀
    Mereka romantis bgt siihh… 🙂
    Suka bgt sama cerita mereka.. 😉

    Suka

  12. huaaa iya romantis suka suka 😍😍😍😍 apa lagi yaa kira2 kejutan dari chanyeol utk yeon joo hahaha selalu suka tiap part ada aja tingkah chanyeol yg bikin gemes 😍😍😍

    Suka

  13. Knp si yoen joo ga lgsg jawab lamarannya y? Sbnrnya apa yg dia takutin?

    Trs swpertinya doanghae marah krn cemburu.. hihihi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s