ZOE : A Lifetime Part 2


 

AUTHOR: .DancingChen

TITLE: ZOE: A Lifetime (Chapter 2)

CATEGORY: NC-17, Yadong, Romance, Fantasy, Chapter (2/3)

CAST: [SJ] Cho Kyu Hyun [OC] Zoe/Jo-Eui [OC] Choi Hwa Yeon [f(x)] Krystal Jung || Slight! [EXO] Kim Kai [EXO] Kim Jong Dae

DISCLAIMER: .DancingChen©2017; WhiteChokyulate; Penulis tak memiliki apa pun selain alur. Poster by RirinM.

A/N: >< Warning! Untuk yang ga suka fantasi silahkan close tab. Selain itu, typo bertebaran. Oh ya, untuk sudut pandang, yang digunakan hanya sudut pandang dari penulis. Tetapi untuk karakter Zoe ada DUA PENULISAN. Sudut pandang terhadap Zoe melalui dirinya-sendiri tetap ditulis Zoe. Sudut pandang terhadap Zoe melalui Kyu Hyun ditulis Jo-Eui.

Happy reading.

.

.

Mereka sampai di Jeju saat jam makan siang. Kyu Hyun menyewa sebuah guest houseyang cukup untuk 5 orang—Kyu Hyun, Jo-Eui, Krystal, Kim Kai—kekasih Krystal dan Pak Sopir mobil van. Pemuda itu mengatur keseluruhan kegiatan libur mereka, mulai dari pembelian tiket pesawat, sewa rumah sampai hal sepele, seperti jadwal makan siang, juga pembagian kamar tidur yang akan ditempati ketika menjelang malam. Kyu Hyun akan menempati kamar tidur di lantai dua, yang mana kamarnya akan bersebelahan dengan Jo-Eui. Dia beralasan kalau gadis itu adalah asistennya, jadi jika perlu sesuatu ia tinggal memanggil Jo-Eui. Untuk itulah gadis itu harus dekat dengannya. Krystal, Kim Kai dan Pak Sopir akan menempati lantai satu, dan kamar tidur mereka saling berseberangan.

*) guest house : suatu penginapan yang menyewakan suatu tempat atau bangunan secara keseluruhan yang biasanya berbentuk sebuah rumah dan disewakan secara harian maupun bulanan; pada umumnya penginapan ini menyediakan lebih dari satu kamar, menyediakan sarapan, terdapat fasilitas dapur, ruang makan, ruang keluarga, kamar mandi, dan fasilitas-fasiltas lainnya yang dapat dinikmati secara privat seperti tinggal dirumah sendiri.

 

Kyu Hyun berjalan di belakang Jo-Eui yang terseok-seok karena koper besarnya. Tinggal beberapa langkah lagi mereka akan sampai di kamar masing-masing. Kyu Hyun sebenarnya merasa marah pada gadis berambut sebahu itu. Sejak insiden di taman, Jo-Eui mendiaminya seolah Kyu Hyun seseorang yang tidak dikenalnya.

 

“Butuh bantuan?” tanya Kyu Hyun mencoba berbicara lagi pada Jo-Eui.

 

“Tidak. Terima kasih,” sahut Jo-Eui terkesan ketus. Dua langkah kemudian, gadis itu berbelok masuk ke sebuah ruangan. Tanpa berkata apa pun lagi, ia menutup pintu, mengabaikan majikannya begitu saja.

 

“Aku akan mencobanya lagi,” gumam Kyu Hyun, berkata pada dirinya-sendiri.

 

***

 

Keesokan harinya saat sarapan Jo-Eui masih mendiami Kyu Hyun. Matanya melirik heran gadis itu sejak turun dari atas. Kyu Hyun hanya mengungkapkan perasaannya, dan tak ada yang salah dengan hal itu. Dia tahu juga kalau Jo-Eui sudah menyukainya sejak lama. Bahkan ia mencoba menerima secuil alasan klasik yang diungkapkan Jo-Eui kemarin.  Kyu Hyun hanya tak ingin hubungan mereka betul-betul terputus.

 

“Kalian akan ke mana hari ini?” tanya Kyu Hyun.

 

“Museum Teddy Bear!” Krystal tampak penuh semangat.

 

“Saya akan pergi ke Yongduam,” timpal Pak Sopir seraya tersenyum.

 

“Kalau kau ke mana, Hyung?” tanya Kim Kai.

 

“Pulau Udo.”

 

“Pulau Udo? Hei! Itu curang, Oppa!” teriak Krystal tiba-tiba. Jo-Eui yang terkejut nyaris tersedak, membuat Kyu Hyun melihat ke arahnya.

 

“Curang?” tanya Jo-Eui pelan, bahkan siapa pun tak mendengarnya. Hanya Kyu Hyun dan Krystal yang menyadari gestur bibirnya ketika mengucapkan kata itu. Entah apa maksudnya, tetapi Jo-Eui benar-benar polos dengan pertanyaannya.

 

“Iya, Eonni. Apa kau juga tak tahu Pulau Udo?”

 

Jo-Eui melirik Kyu Hyun sebentar. Kyu Hyun dapat menebak eskpresinya. Mungkin Jo-Eui sedang berkata, Satu lagi kebodohan yang ditampilkan di depan pujaan hatiku. Lelaki itu terkekeh. Deheman yang kemudian keluar menutupi sikap salah tingkahnya. Sepertinya dengan berat hati Jo-Eui mengangguk karena mungkin ia memang benar-benar tidak tahu.

 

“Jika ingin kesana, kau butuh menyeberang dengan kapal feri, Eonni. Memang tak lama, sih, tapi itu artinya seseorang pergi lebih dari sehari.” Krystal mendelik pada Kyu Hyun di kalimat terakhirnya.

 

“Kau benar, Krystal. Aku berencana tiga hari berada di sana,” Kyu Hyun tersenyum lebar, “tanpa pengawasanmu.”

 

“Apa kau pikir akan aman berada di sana huh? Tanpa pengintai?”

 

Kyu Hyun mengangguk. “Bukankah orang-orang di luar sana tidak tahu scheduleku? Bahkan aku memutuskan hal ini saat di tangga tadi. Aku akan mengajak Jo-Eui. Kau akan menjagaku ‘kan, Jo-Eui?”

.

.

.

Setelah mendapat protes dan penolakan dari Krystal, akhirnya Kyu Hyun berhasil membujuk gadis itu dan memulai perjalanannya menuju Pulau Udo bersama Zoe. Zoe pun mencari informasi seputar pulau tersebut. Ternyata mereka harus menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Dari guest house mereka naik bus menuju Pelabuhan Seongsangri, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan kapal feri (paling cepat selama 15 menit).

 

Mereka berdiri di atas geladak di buritan samping kiri kapal. Zoe merasa begitu senang. Tubuhnya menempel pada railing* kapal yang tingginya setara dada. Ketiaknya menjepit bagian melintang railing sedemikian sehingga tangannya melewati railing. Zoe melambai mengikuti arah angin laut yang berdesir, atau terkadang melambai pada ikan-ikan yang bermain di terumbu karang. Airnya begitu jernih. Cuacanya juga sedang baik—langit biru yang diselimuti awan sirokumulus di barat daya.

*) railing : susunan atau pagar pelindung pada kapal.

 

“Apa kau pernah naik kapal laut sebelumnya?” tanya Kyu Hyun. Dia menurunkan maskernya sampai di bawah bibir bawahnya. Topi baseballnya diturunkan hingga bayangan bagian depan topi menutupi sebagian wajah Kyu Hyun.

 

Zoe menggeleng. “Ini pertama kalinya. Aku bahkan baru pertama kali melihat laut dari dekat.”

 

“Hei… Jo-Eui … sebenarnya kau ini siapa hum? Kau ini sedang pura-pura atau apa, sih?” selidik Kyu Hyun. Satu lagi sikap aneh Zoe yang tertangkap.

 

Zoe hanya melirik Kyu Hyun. Pemuda itu mengubah posisinya yang semula kedua tangannya memegang railing menjadi bertumpu menggunakan siku kanannya. Matanya menatap penuh ke arah Zoe. Kalau saja mata Kyu Hyun memiliki jari berkuku panjang, mungkin sejak tadi ia telah diterkam.

 

“Aku Jo-Eui. Memangnya kau pikir siapa huh?!” Zoe tiba-tiba ketus. Alih-alih tadi ia hampir saja lupa untuk menjaga sedikit jarak dari Kyu Hyun. “Lagi pula aku mengatakan yang sebenarnya. Memangnya itu aneh?”

 

Zoe menuju ke sisi lain buritan meninggalkan Kyu Hyun. Dahinya mengernyit kesal. Tangannya mengepal ingin memukuli dirinya-sendiri. Mungkin jika terus-terusan bersikap seperti itu di depan Kyu Hyun, bisa saja pemuda itu berhenti menyukainya. Sebetulnya Zoe hanya ingin mengulur waktu saja. Lagi pula ia juga ingin menyiapkan mental kalau sewaktu-waktu mendapat hujatan dari fans Kyu Hyun—jika benar-benar memacari idolanya.

 

Zoe berpegangan pada railing. Telapak tangannya seketika terasa basah. Semakin ia ingin menolak Kyu Hyun dengan alasan hanya ingin berteman, rasa ingin memilikinya semakin besar saja. Itu akan menjadi perkara mudah jika Zoe menginginkannya. Gadis itu tinggal mengatakan iya atas pernyataan Kyu Hyun kemarin dan mereka pun resmi berpacaran. Tetapi, setiap Zoe ingin mengungkapkan kata itu telinganya berdengung, dan Krystal seperti membisikinya begitu saja: Aku hanya takut kalau seseorang memanfaatkan kehadiranmu untuk menghancurkan karir Kyu Hyun Oppa.

 

Sepasang tangan berpegangan pada railing sehingga Zoe berada di antaranya. Angin yang semula terasa berhembus pada punggungnya hilang begitu saja, digantikan oleh kehangatan. Kyu Hyun menundukkan kepalanya beberapa senti sampai sejajar Zoe. Zoe menahan napas. Apa Kyu Hyun memeluknya? Tidak, tidak, kedua tangannya berpegangan pada railing, bukan melingkar di pinggang Zoe. Tetapi, dada Kyu Hyun yang menempel di punggungnya cukup membuat jantung Zoe berdegup tak karuan.

 

“Kau suka ‘kan kuperlakukan seperti ini?” tanya Kyu Hyun. Oh … tampaknya dia menggoda Zoe.

 

“Aku … bia—sejatinya siapa pun suka diperlakukan seperti ini, apalagi kau sesosok idola yang sedang digandrungi.”

 

“Em.. em,” Kyu Hyun menggeleng. “Kau menganggapku lebih dari itu ‘kan, Jo-Eui?”

 

Zoe terdiam. Dalam hati ia berteriak IYA. Rasanya siapa pun tahu itu, Demeter dan Zeus sekalipun.

 

“Kau tahu apa alasanku pergi ke Pulau Udo? Aku ingin meluangkan waktuku untuk berdua denganmu, Jo-Eui. Bukan sebagai asistenku. Selama di Pulau Udo, kau kuanggap sebagai pacarku.”

 

“Bukankah sudah kubilang, aku lebih suka berteman denganmu Cho Kyu Hyun?”

 

“Ya. Aku mendengar itu, Jo. Aku berencana untuk menyatakan cintaku sekali lagi nanti. Dan kuramalkan, kau tak akan menolakku kali ini.”

 

“Cih, kau yakin sekali.” Zoe berdecih lalu memalingkan wajahnya.

 

Dan, saat itulah ia mengecup bibir Kyu Hyun. Untuk yang kedua kalinya. “Kupastikan besok aku tidak hanya akan mengecup bibirmu itu, Jo,” Kyu Hyun menyeringai. “Aku akan melakukan lebih dari itu.”

 

***

 

Lagi-lagi Zoe harus terseok-seok membawa koper. Tidak hanya kopernya, ia juga harus membawa ransel milik Kyu Hyun di punggungnya. Lelaki itu berjalan beberapa langkah di depannya, tanpa menawarkan bantuan pada Zoe seperti kemarin. Zoe rasa, ia tetaplah asisten Kyu Hyun, tidak lebih dari itu.

 

Di ujung jalan beraspal yang diapit pagar dari tumpukan batu, terdapat sebuah rumah berlantai satu. Dari luar tampak seperti guest house di Jeju, hanya saja lebih sederhana dan kecil. Di sisi kiri jalan, bunga-bunga canola tumbuh dan membentuk hamparan berwarna kuning yang indah. Sedangkan pada bagian kanan, lautan biru lagi-lagi memanjakan mata. Di pintu masuk rumah itu tumbuh sebatang pohon maple yang daunnya telah menguning. Beberapa daun pada dahan juga sudah meranggas. Musim dingin memang semakin dekat.

 

“Kita sampai.” Kyu Hyun berbalik lalu tersenyum. Maskernya dilepas berikut topi baseballnya. Helai rambutnya pun melambai-lambai diterbangkan angin. Kedua tangannya menekuk bertumpu pada pinggang.

 

“Hei! Apa kau tak bisa membantuku sedikit saja?!” Zoe berteriak. Ia berhenti berjalan beberapa meter di belakang Kyu Hyun. Kedua tangannya bertumpu pada lututnya. Zoe membuang napasnya kasar sampai poni depannya terhempas. Matanya menyipit tajam ke arah Kyu Hyun. Di kejauhan lelaki itu tampak menahan tawa. Dari jarak itu, ia melihat Zoe mirip kura-kura dengan ransel besar di punggungnya.

 

Kyu Hyun berjalan mendekati Zoe. Dari punggung gadis itu ia mengambil ranselnya. Ia juga membawa sekaligus koper milik Zoe. Kyu Hyun melangkah begitu saja meninggalkan Zoe yang kelelahan.

 

“Kau ingin tidur di luar?” tanya Kyu Hyun tanpa menoleh.

 

Zoe mengerucutkan bibirnya. Dengan sisa tenaga yang masih dimiliki, ia mengikuti Kyu Hyun. Setidaknya beban di punggung dan tangannya sudah berpindah ke orang lain.

 

Zoe dibuat takjub untuk kedua kalinya. Rumah itu memang lebih kecil dari guest house mereka di Jeju, tapi tak kalah mengesankan. Saat pertama akan memasuki pekarangan, mereka disambut pintu berbahan papan kayu. Sekeliling rumah dipagari batu bersusun yang tingginya mungkin hanya sepinggang Zoe. Susunannya tak beraturan, sangat mirip dengan pagar batu yang mengapit jalan.

 

Halaman rumah ditumbuhi oleh rumput jepang yang rapi. Untuk sampai ke beranda utama, mereka melewati batu berbentuk bulat yang tersusun semikian rupa—rasanya seperti sedang melewati sebuah kolam rumput. Dinding rumah tampak agak tebal, dan diberi cat berwarna putih di bagian luar atau pun dalamnya. Pintu utama terbuat dari kaca berdaun dua dengan bingkai kayu dicat coklat. Beberapa jendela seukuran pintu juga tampak di beberapa bagian rumah, tertutup oleh tirai berwarna krem. Bagian atapnya agak aneh menurut Zoe, bentuknya bulat dicat warna abu-abu.

 

Zoe langsung duduk di sofa krem ketika sampai di dalam rumah. Napasnya lagi-lagi terhela. Kalau saja bukan karena ransel Kyu Hyun, dia tak akan selelah itu.

 

“Masih siang, kau ingin istirahat sampai malam atau pergi keluar untuk mencari makanan?” tanya Kyu Hyun. Lelaki itu masih berdiri, tapi ranselnya sudah diletakkan di sofa.

 

“Apa tempatnya jauh?” tanya Zoe mengacu pada tawaran kedua.

 

“Tidak. Lagi pula kita akan pergi menggunakan sepeda.”

 

“Sepeda? Astaga … aku sudah lelah karena perjalanan tadi.”

 

“Pemalas,” gerutu Kyu Hyun, “kita pakai sepeda tandem*. Aku akan mengayuh lebih dominan. Kau duduk di belakang saja.”

*) sepeda tandem : sepeda yang dinaiki dua orang atau lebih dengan duduk berurut ke belakang dan semuanya turut mengayuh.

 

Zoe mengangguk beberapa kali. “Em.. aku juga merasa lapar. Baiklah! Tawaran kedua, setuju!”

.

.

.

Kyu Hyun mengulas senyum. Kakinya mengayuh semangat pedal sepeda di jalan landai. Lautan biru serta langit cerah masih mamanjakan mata keduanya. Jo-Eui duduk di bangku belakang sepeda tandem. Kakinya hanya mengikuti pedal yang otomatis berputar seiring dengan pedal di bangku depan.

 

“Kyu! Kita makan apa?!” tanya Jo-Eui berteriak. Suaranya dihempas angin.

 

“Abalon! Kau suka?!”

 

“Abalon?! Apa itu?!”

 

“Astaga.” Kyu Hyun bergumam. “Kau ikut saja dan rasakan rasanya nanti!”

 

Kyu Hyun membawa sepedanya menuju ke sebuah restoran yang terletak di tepi pantai. Bangunannya dominan terbuat dari kayu dan terlihat sederhana. Dari atapnya, asap putih beraroma ikan membubung di udara.

 

“Kita sampai,” ujar Kyu Hyun sembari turun dari sepeda dan memarkirkannya. Matanya menyipit karena angin yang berhembus lumayan kencang. Rambutnya pun praktis berantakan. Sementara Jo-Eui sepertinya merasa salah kostum karena mengenakan dress selutut dengan jaket sebagai outfitnya. Untung saja di bagian dalamnya ia memakai celana pendek. Hawanya terasa agak dingin.

 

“Aku ingin sup, Kyu,” kata Jo-Eui.

 

“Ya, kita akan memesan sup nanti. Sebaiknya kita masuk atau angin akan menerbangkan ketampananku,” sahut Kyu Hyun lalu menarik tangan Jo-Eui, membawanya ke dalam restoran.

 

Di dalam restoran tak terlalu ramai, hanya beberapa meja yang terisi. Mungkin karena sudah lewat dari jam makan siang. Kyu Hyun memilih sebuah meja lesehan di dekat jendela yang memiliki akses langsung pemandangan laut.

 

“Bibi, dua jeonbokjuk*, ya!” teriak Kyu Hyun sambil mengacungkan dua jarinya pada seorang wanita paruh baya yang cukup jauh di sana.

*) jeonbokjuk : jenis masakan Jeju yang terdiri dari bubur nasi dengan abalon; masakan ini memiliki rasa manis dan aroma yang unik; pada masa lalu Jeonbokjuk disajikan khusus untuk keluarga kerajaan.

 

“Jeon … bokjuk? Apa itu?” tanya Jo-Eui. Salah satu alisnya terangkat.

 

“Sudahlah. Kau akan lihat rupanya nanti. Dan kupastikan, kau tak akan pernah melupakan rasa ini di lidahmu.”

 

Tak lama, bibi pelayan membawa dua porsi jeonbokjuk besar ke arah Kyu Hyun dan Jo-Eui. “Aku pesan dua saenggang cha* untuk minumannya. Terima kasih,” kata Kyu Hyun tersenyum. Wanita itu pun melenggang pergi.

*) saenggang cha : teh akar jahe.

 

“Bubur?” tanya Jo-Eui. “Aku ingin sup, Kyu, bukan bubur.”

 

Kyu Hyun menghela napas panjang. “Jangan protes dan nikmati saja. Oh ya, aku memesan porsi besar dan harus kau habiskan. Kalau tidak, aku akan membuangmu di sini.” Kyu Hyun berkata panjang lalu menyuap satu suapan jeonbokjuk.

 

Jo-Eui mengaduk-ngaduk buburnya malas. Ia hanya ingin memakan masakan berkuah dengan nasi di suasana yang dingin seperti ini.

 

“Kau tak mau makan?” tanya Kyu Hyun. “Apa ada yang kau tak sukai di dalamnya? Atau kau alergi abalon?”

 

Jo-Eui menggeleng. Di dalam buburnya ia melihat begitu banyak bahan. Daging yang sepertinya adalah abalon, potongan wortel, rumput laut gim, daun bawang, buah kurma yang diletakkan di tengah-tengah atas, serta aroma biji wijen.

 

Jo-Eui melirik Kyu Hyun yang melihatnya. Jo-Eui tersenyum tipis dan sepertinya memutuskan untuk menikmati jeonbokjuk yang dipesan Kyu Hyun. Sesuap masuk ke dalam mulut Jo-Eui yang terlihat agak terpaksa. Kyu Hyun mengulas senyum. Detik berikutnya ia sangat ingin tertawa. Jo-Eui menyendok bubur itu berkali-kali, saat mulutnya penuh sekalipun. Sepertinya Jo-Eui kelaparan—atau malah keenakkan dengan sajian berasap beraroma minyak wijen dan abalon itu.

 

Bibi pelayan mendekati meja keduanya lagi, membawakan dua cangkir teh dengan asap beraroma jahe.

 

“Terima kasih,” ucap Kyu Hyun.

 

“Ya, selamat menikmati hidangan,” sahut bibi itu ramah, kemudian ia kembali ke dapurnya.

 

“Nah, kalau ini namanya saenggang cha,” jelas Kyu Hyun, “karena ini akan menjadi hari yang dingin, aku memutuskan untuk memesan yang hangat dan sehat untukmu, Jo.”

 

Jo-Eui hanya mengangguk dengan jeonbokjuk yang memenuhi mulutnya.

 

Kyu Hyun memakan makanannya dengan perlahan. Sepertinya ia sendiri yang ingin menyisakan makanan porsi besar itu. Melihat Jo-Eui yang makan dengan lahapnya sudah membuatnya sangat kenyang. Dengan susah payah, akhirnya Kyu Hyun menghabiskan jeonbokjuknya. Terkadang Jo-Eui juga mengambil barang sesendok atau dua sendok dari mangkuknya. Dan, hal itu sungguh sangat membantunya.

 

“Aku mau belajar membuat makanan ini, lalu memakannya setiap hari,” kata Jo-Eui. Matanya berbinar saat memandang mangkuk-mangkuk yang kosong.

 

“Ini makanan mahal, tahu. Kau tak akan bisa memakannya setiap hari,” jawab Kyu Hyun. Sebetulnya ia tak ingin berbicara apa pun karena perutnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bahkan, ia sedang memikirkan bagaimana caranya mereka pulang, sementara harus mengayuh dengan keadaan kekenyangan seperti itu.

 

“Lihat!” teriak Jo-Eui mengejutkan Kyu Hyun. Nyaris saja ia tersedak saat akan menyesap sisa tehnya.

 

Kyu Hyun menoleh ke arah jendela. Segerombolan perempuan berpakaian hitam-hitam dan masing-masing membawa jaring di tangannya terlihat dari balik jendela restoran.

 

“Mereka itu penyelam.”

 

“Apa mereka menangkap aloban ini?”

 

“Abalon, Jo. Iya, mereka menangkap itu. Mereka menangkap abalon liar yang harganya lebih mahal dan tentunya lebih enak di lautan. Nah, kau lihat di seberang sana?” tanya Kyu Hyun sambil menunjuk toko yang penuh dengan akuarium serta bak ikan di depannya, “—kalau di sana, kau bisa membeli abalon yang ditangkarkan juga. Rasanya, sih, tetap lebih enak yang liar menurutku.”

 

“Kalau begitu, aku akan belajar menyelam, lalu belajar memasak makanan ini. Sungguh, aku ingin membuatkanmu ini, Kyu!”

 

Kyu Hyun terdiam, mencerna ungkapan Jo-Eui barusan. Obsidiannya memandang iris Jo-Eui yang agak kehijauan—dan, Kyu Hyun baru saja menyadarinya. Ia tak menyangka kalau Jo-Eui berkeinginan seperti itu. Memasak abalon bahkan akan menangkapnya sendiri untuk Kyu Hyun? Sungguh, ini terdengar sangat mengesankan bagi Kyu Hyun.

 

“Ya, setelah kau kupecat dan tak tinggal di Seoul, kau bisa belajar menyelam dengan para bibi penyelam di sini.”

 

“Apa kau akan memecatku sekarang?” tanya Jo-Eui terdengar agak bersemangat.

 

“Tidak. Kau harus kembali ke Seoul untuk membawakan koper dan ranselku,” kata Kyu Hyun terkekeh.

 

Jo-Eui mengerucutkan bibirnya.

 

“Mau kembali sekarang?” tanya Kyu Hyun bermaksud mengembalikan mood Jo-Eui.

 

Jo-Eui terdiam, lalu melenggang pergi meninggalkan Kyu Hyun sendirian di dalam restoran.

 

***

 

Tawaran kembali Kyu Hyun tak benar-benar terjadi. Lelaki itu tentu ingin menghabiskan waktunya bersama Jo-Eui, sesuatu yang tak dapat ia lakukan ketika berada di Seoul. Kyu Hyun tak akan membuang kesempatan ini walaupun sedetik. Malam menjemput. Selimut biru tua dengan motif polkadot putih super mini membentang begitu saja di langit. Bulan bersinar dengan terang di barat laut. Deburan ombak pun seakan terdengar seperti sebuah orkestra.

 

“Bukankah kita akan pulang, Kyu?” tanya Jo-Eui. Gadis itu terlihat lebih manja, tidak seperti Jo-Eui pekerja keras yang dikenal Kyu Hyun.

 

“Tidak. Sudah kubilang kan, aku ingin berkencan dan menghabiskan waktu denganmu.”

 

“Tapi aku lelah, Kyu. Bahkan aku butuh tidur untuk mencerna jeonbukjuk ini.”

 

Jeonbokjuk, Jo. Kau sudah cukup mencernanya ketika mengayuh sepeda tadi.”

 

Lagi-lagi Jo-Eui mengerucutkan bibirnya.

 

“Baiklah … baiklah…. Kita pulang. Tetapi sebelum itu, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan untukmu,” kata Kyu Hyun. Dia terduduk di seawall*, membelakangi bibir pantai. Kyu Hyun menepuk bagian kosong di sebelah kanannya, memberi isyarat pada Jo-Eui untuk segera duduk.

*) seawall : bentuk pertahanan pesisir dibangun di mana laut, pesisir dan proses yang terkait, dampak langsung pada bentang alam pantai; tujuan dari seawall adalah untuk melindungi bidang kegiatan pemukiman, konservasi dan rekreasi manusia dari aksi pasang surut dan gelombang.

 

“Apa?” tanya Jo-Eui singkat, namun sarat akan kekhawatiran.

 

“Beberapa waktu lalu aku mendengar dari Krystal, kalau kau tahu rumahku sebelumnya—sebelum aku menjadi seperti Cho Kyu Hyun yang sekarang. Jadi, kau tinggal di mana sebelumnya? Apa kau memata-mataiku?” tanya Kyu Hyun.

 

“Aku hanya bergurau. Kenapa kau mempercayai Krystal begitu saja?” Jo-Eui terdengar gugup. “Lagi pula kau tak punya tetangga, jadi—” Jo-Eui seketika terdiam. Dia berpaling.

 

“Jadi, kau tahu kalau aku tak punya tetangga.” Kyu Hyun mengusap dagunya di antara ibu jari dan telunjuknya. “Baiklah, lupakan itu. Lalu, apa alasanmu menolakku kemarin?” tanya Kyu Hyun selanjutnya, “—alasan yang sebenarnya.” Ia menekankan.

 

Jo-Eui kembali melihat ke arah Kyu Hyun. Dia menatap Kyu Hyun dalam.

 

“Kau mencintaiku, ‘kan?”

 

Hening.

 

“Kau mencintaiku sejak lama, ‘kan? Bahkan sebelum aku terkenal seperti sekarang. Bagiku tak penting kau itu siapa dan tinggal di mana sebelumnya, sampai kau tahu seluk-belukku sekalipun. Yang aku butuhkan sekarang adalah kau, Jo-Eui.”

 

Tetap hening.

 

“Jadi, aku ingin mendengar alasanmu kenapa kau menolakku, sementara di sisi lain kau sangat mencintaiku, Jo.”

 

“Choi Hwa Yeon.”

 

Kyu Hyun terdiam. Obsidiannya menatap iris kehijauan itu dalam. Dari pelupuk mata Jo-Eui, air mulai menggenang.

 

“Choi … Hwa Yeon?”

 

“Aku hanya takut apa yang ditakutkan Krystal akan terjadi. Aku pikir, Choi Hwa Yeonlah yang berpotensi memanfaatkanku untuk menjatuhkanmu, Kyu,” jelas Jo-Eui, “aku tak ingin karir yang kau bangun hancur hanya karena seorang asisten rendahan sepertiku.” Jo-Eui mengusap kasar air mata yang mulai jatuh di pipinya.

 

Kyu Hyun menarik Jo-Eui ke dalam pelukannya, menelusupkan gadis itu ke dadanya. “Kau bodoh, Jo. Aku sendiri tidak peduli jika karirku harus hancur hanya karena seorang yang aku cintai.”

 

“Bagaimana dengan fansmu? Mereka memberimu begitu banyak cinta.”

 

Kyu Hyun terdiam sebentar. “Ini mungkin akan terdengar egois. Tetapi, aku memiliki hidupku sendiri. Aku hanya bisa berharap mereka akan mengerti dengan posisiku.”

 

“Aku ingin tidur, Kyu. Aku lelah dengan semua ini. Bisakah kita pulang sekarang?”

 

***

 

Kyu Hyun menyibakkan rambut Jo-Eui yang menghalanginya melihat wajah gadis itu. Ditariknya selimut bulu sampai batas dada Jo-Eui. Tak lupa juga Kyu Hyun memberinya kecupan hangat di kening Jo-Eui.

 

“Kau tahu segalanya tentangku, Jo. Sebenarnya kau siapa huh? Sampai kapan kau akan menyimpan rahasia itu dalam dirimu?”

.

.

.

Zoe terjaga. Sejenak kepalanya terasa pusing. Sepertinya masih terlalu pagi untuk bangun. Zoe memutuskan untuk keluar saja dan menghirup udara segar pantai di pagi hari. Saat melewati ruang tengah, ia melihat Kyu Hyun masih terlelap di sofa. Zoe menghampiri lelaki itu, membenarkan posisi selimut yang melorot menyentuh lantai.

 

Setelah sampai di depan rumah, Zoe duduk di pagar batu bersusun yang mengapit jalan. Matanya memandang penuh langit bergradasi kuning, oranye, kecoklatan, lalu warna biru ketika semakin menjauhi laut. Zoe membentangkan selimutnya. Disampirkannya benda itu untuk membalut tubuhnya. Hidungnya menghirup udara pantai dalam. Ingin sekali ia menikmati suasana ini setiap pagi.

 

“Kurasa begitu. Aku menyukainya sejak dia bukan seorang artis seperti sekarang.”

“Aku bahkan tahu apa yang dia lakukan setiap harinya. Apa ada yang aneh dengan semua itu?”

 

Kalimat-kalimat itu tiba-tiba melintas di benak Zoe. Gadis itu ingat ketika ia berbicara bersama Krystal di hari keduanya bekerja pada Kyu Hyun. Tentu ia tahu, kalimat itu pasti merujuk pada Kyu Hyun. Tetapi, satu yang aneh menurut Zoe: ia sama sekali tak ingat apa yang dilakukan Kyu Hyun setiap harinya di rumah itu, detailnya sekalipun. Bahkan, ia tak ingat peristiwa-peristiwa sebelum bertemu Demeter yang duduk di salah satu dahannya hari itu.

 

“Apa yang terjadi padaku?” Zoe merasa frustasi. Ia mencoba mengingat kembali. Entah kenapa memori aneh mulai terlintas di benaknya—seperti melihat dirinya dalam versi bocah berangkat ke sekolah bersama seorang lelaki yang sama sekali tak dikenalnya, serta tersenyum pada wanita asing yang terlihat mirip dengannya. Zoe menjadi pusing. Memori-memori yang sama sekali tak pernah dialaminya begitu saja memenuhi laci-laci otaknya. Bahkan sekarang, Zoe mulai merasakan dirinya pernah mengalami semua itu.

 

“Jo-Eui.”

 

Zoe mengadah. Dilihatnya Kyu Hyun yang sedang berdiri di belakangnya. Lelaki itu tersenyum, lalu ikut duduk di sebelah Zoe.

 

“Kau terbangun sepagi ini?” tanyanya terkesan berbasa-basi.

 

Zoe menghela napas. Sejenak, peristiwa-peristiwa itu membuyar di dalam kepalanya. Tetapi, tetap saja ia tak dapat mengingat kehidupannya ketika menjadi roh pohon.

 

“Aku hanya terbangun. Mungkin karena udara segar di sini,” sahut Zoe asal.

 

Zoe kembali terdiam dalam kebingungannya sendiri. Apa yang terjadi padanya? Mungkinkah itu salah satu tanda kalau tak lama lagi ia akan menjadi manusia seutuhnya? Zoe akan melihat ponselnya nanti. Siapa tahu Demeter sudah mengiriminya pesan konfirmasi kalau memang itu yang terjadi.

 

“Kau ingin sarapan apa?” tanya Kyu Hyun selanjutnya.

 

“Apa saja.” Zoe tersenyum. “Sejujurnya, aku merindukan Krystal, Kyu,” dengusnya pelan.

 

Raut Kyu Hyun berubah datar. “Harusnya kau merindukanku saja.”

 

“Hei! Jangan mulai lagi, Kyu.”

 

“Aku tak akan menyerah sampai kau menjadi milikku, Jo.”

 

“Sudah kubilang aku tidak—”

 

Ucapan Zoe terpotong. Kyu Hyun menempelkan bibirnya pada bibir Zoe. Mata keduanya terpejam, sembari menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi. Kyu Hyun mengangkat dagu Zoe, meraup bibir bawah gadis itu ke dalam mulutnya, mengulumnya beberapa kali. Kadang ia memainkan lidahnya di dalam rongga basah nan hangat itu.

 

“Penawaran terakhir,” kata Kyu Hyun.

 

“Kali ini apa lagi?”

 

“Kita akan menjalin hubungan yang siapa pun tak akan tahu. Sampai kita siap, aku akan publikasikan kalau kau adalah kekasihku, Jo.”

 

“Tetap saja—”

 

“Jo, tak bisakah kau memenuhi keinginanku ini sekali saja? Aku memintamu sebagai seorang pria, bukan sebagai atasan pada asistennya.”

 

Zoe menarik napasnya dalam. Kali ini, ia akan mengambil sebuah keputusan yang barangkali akan menguntungkan keduanya: memenuhi keinginan Kyu Hyun, serta menyelamatkan nyawanya.

 

Zoe tersenyum. “Baiklah, Kyu. Aku menerimamu. Apa pun yang terjadi nanti, aku akan menghadapinya. Sekuat tenagaku.”

 

Kyu Hyun menautkan kembali bibirnya pada bibir Zoe. Tangannya merengkuh tubuh mungil gadis itu hingga mempersempit jarak di antara keduanya.

 

“Aku mencintaimu, Jo-Eui.”

 

***

 

Kyu Hyun sedang sibuk berberes. Mereka memutuskan untuk kembali ke Jeju lebih cepat dari perkiraan. Lima menit yang lalu Krystal menelpon dengan panik. Choi Hwa Yeon, model yang terkenal itu sepertinya berhasil meracuni otak seorang produser untuk melakukan pemotretan di sebuah majalah dengan Kyu Hyun.

 

“Kyu, aku akan membantumu.” Zoe berusaha membujuk Kyu Hyun. Karena peristiwa tadi pagi, lelaki itu selalu menolak bantuan Zoe. Dia bersikeras mampu melakukannya sendiri dan tak akan menyusahkan kekasihnya.

 

“Jo, apa kau tak ingat apa yang aku katakan di kapal saat itu? Di sini kita berkencan. Jadi, kau adalah kekasihku, bukan asisten,” kata Kyu Hyun lalu memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Zoe. Gadis itu menghela napas. Alih-alih berkata seperti itu, setibanya di Pulau Udo, tetap saja Zoe yang membawakan tas ranselnya.

 

“Cepat atau kita akan ketinggalan kapal.”

 

“Selesai!” Kyu Hyun berseru setelah menutup resleting ranselnya. “Dengar, Jo. Setibanya di pelabuhan, sebuah mobil akan menjemputmu dan membawamu untuk lebih cepat tiba di guest house. Segera temui Krystal—”

 

“—Dan, buat seolah diriku tak pernah datang ke pulau ini bersamamu,” potong Zoe melanjutkan. Ada sedikit goresan luka yang tercipta ketika ia mengatakan itu. Zoe lain yang berada jauh di dalam dirinya seakan sedang menyumpahinya: Sudah kubilang, kau itu hanya asisten! Kau tak akan pernah bisa bersanding dengan Kyu Hyun!

 

Kyu Hyun tersenyum tipis. “Maafkan aku.”

 

“Tak apa. Meskipun kita sepasang kekasih, soal pekerjaan, aku tetap asistenmu, Kyu.” Zoe berusaha tersenyum demi menutupi rasa terlukanya. Ia juga tak ingin membuat Kyu Hyun merasa bersalah. Bagaimanapun lelaki itu cukup terbebani karena hubungan mereka sekarang.

 

Sekali lagi Kyu Hyun memberinya kecupan singkat. “Sekarang aku malah berpikir untuk menikahimu, Jo.”

 

“Ish.” Zoe mendesis. Tangannya memukul pelan lengan Kyu Hyun, dan lelaki itu berpura-pura meringis kesakitan. “Kau itu banyak berangan, Kyu. Ayo!”

 

Kyu Hyun mengangguk. Tangannya meraih tangan Zoe, menggenggamnya dengan hangat. “Ayo.”

 

***

 

Zoe berekspresi datar. Kalau saja bukan karena status berpacarannya dengan Kyu Hyun, ia tak akan merasa secemburu itu. Zoe hanya tak suka jika Hwa Yeon menyentuh Kyu Hyunnya begitu intens di depan matanya. Sebetulnya, asalkan bukan Hwa Yeon, Zoe tak masalah. Wanita ular itu sudah cukup membuatnya muak selama ia menjelma menjadi seorang manusia.

 

Eonni, kau baik-baik saja?” Krystal yang berdiri di sebelahnya tampak khawatir.

 

“Em, aku baik-baik saja,” sahut Zoe pelan, namun kesan ketusnya sungguh kentara.

 

Krystal menelan salivanya. Secara bergantian kedua matanya melihat Zoe serta Kyu Hyun dan Hwa Yeon yang sedang berpose di depan kamera. Zoe tak tampak baik-baik saja.

 

“Kau yakin?” tanya Krystal memastikan.

 

“Apa kau tak percaya padaku lagi, Jung-ah?” tanya Zoe mulai jengkel.

 

Krystal menunduk. Dia menepuk bibirnya pelan beberapa kali. Mungkin seharusnya ia tak bertanya. Tetapi, satu hal masih membuatnya begitu penasaran.

 

Eonni.”

 

“Em.”

 

Wajah gadis itu mendekat ke telinga Zoe. Krystal pun berbisik. “Apa terjadi sesuatu padamu dan Kyu Hyun Oppa semalam? Em maksudku—” Dia menaikkan salah satu tangannya di depan Zoe, dan membentuk tanda kutip menggunakan telunjuk-jari tengahnya. “—err, apa kau melakukan hubungan itu?”

 

Zoe menjauhkan wajahnya dari Krystal, menatap gadis itu tak percaya. Plak! Tangannya memukul jengkel bagian belakang kepala Krystal. “Jangan berpikir yang aneh-aneh,” ujar Zoe pelan.

 

Krystal meringis, mengusap kepalanya yang terasa nyeri. “Kenapa kau galak sekali, sih, Eonni?”

 

“Maafkan aku. Aku hanya merasa kesal.”

 

Krystal mengerucutkan bibirnya.

 

Zoe kembali melihat ke arah Kyu Hyun dan Hwa Yeon. Ia terdiam, terhanyut dalam pikirannya sendiri.

 

Seperti yang Zoe alami tadi pagi, berbagai memori bercampur aduk dalam benaknya. Memori saat ia masih berwujud roh pohon yang mengintai Kyu Hyun setiap hari muncul kembali. Terkadang, ia melihat bayangan seorang anak gadis yang hidup bersama sepasang suami istri yang tak ia ketahui di benaknya. Selanjutnya muncul satu hari ketika Demeter datang. Zoe juga sudah memeriksa ponselnya dan sang dewi tak memberitahukan apa pun. Ia hanya dapat menebak-nebak. Mungkin kalau Zoe sudah menjadi manusia sepenuhnya, memori ketika ia adalah roh pohon akan hilang.

.

.

.

Kyu Hyun merasa kesal. Sesampainya di Jeju tadi, pekerjaan begitu saja menghadangkan. Sebetulnya Krystal sudah menjelaskan pada produser itu jika mereka ke Jeju untuk berlibur, bukan berbisnis. Tetapi, produser itu bersikeras untuk menyita waktu Kyu Hyun selama sehari demi pemotretan. Bahkan ia sempat mengancam Kyu Hyun jika tak mau bekerja sama dengannya. Dengan berat hati, mereka mengiyakan permintaan produser itu.

 

Kadar kesal Kyu Hyun makin bertambah karena Choi Hwa Yeon melakukan pemotretan dengannya secara tak terpisah. Sang produser memberitahu kalau mereka akan menjadi sampul majalah yang ia kelola minggu ini. Dengan berat hati (lagi), ia harus rela berpose seolah mereka adalah pasangan. Apalagi mendengar kalimat lebih dekat lagi dari sang fotografer, membuat kepala Kyu Hyun mengeluarkan asap imajiner.

 

Kyu Hyun khawatir, amat sangat khawatir apabila melihat Jo-Eui. Gadis itu berdiri di sebelah Krystal dan staff lainnya. Tangannya memegang sebuah kotak make-up, bersiaga membenarkan riasan Kyu Hyun kapan saja dibutuhkan. Tatapan matanya sayu ke arah Kyu Hyun. Begitu banyak beban yang terlihat di dalamnya.

 

Mereka berganti pose. Wajah Hwa Yeon begitu dekat dengan Kyu Hyun. Meski terlihat agak menunduk, namun ia dapat merasakan napas Hwa Yeon yang menerpa lehernya. Setelah bunyi klik, mereka berganti pose lagi dan seperti itu seterusnya.

 

“Harusnya kau melakukan beberapa pose dengan senyuman. Bagaimanapun fansmu akan membeli majalah ini nantinya,” bisik Hwa Yeon sembari tetap berpose.

 

“Kurasa para gadis lebih suka mimik wajah dingin. Bukankah itu dinilai lebih keren?”

 

Hwa Yeon tersenyum. Tangannya menarik tangan Kyu Hyun hingga berposisi pada pinggangnya. “Mereka akan berpikir kalau terpaksa melakukan hal ini.”

 

“Nyatanya memang seperti itu.”

 

Hwa Yeon berusaha menahan tawanya. “Kenapa kau tak pernah menyukaiku huh? Kau tahu berapa banyak fans gadismu yang menyukaiku karena kita pernah bergabung di musikal yang sama? Apa kau pernah membaca komentar mereka di SNS ketika musikal kita berakhir?”

 

“Ya, aku tahu. Dan, kau ingin memanfaatkan semua itu untuk menaikkan reputasimu.”

 

Hwa Yeon lagi-lagi tersenyum. Kali ini ia membelai pipi Kyu Hyun. “Tak hanya reputasi itu yang aku inginkan, Cho Kyu Hyun. Aku juga menginginkanmu.”

 

Kyu Hyun tersenyum miring. “Mungkin di panggung musikal aku bisa berakting mencintaimu, tapi tidak di dunia nyata.”

 

“Bukankah hal itu terdengar menarik? Kita bisa hidup tanpa cinta dan meraup untung yang banyak dengan hubungan itu. Bayangkan berapa banyak majalah dan brand yang akan menawari kita untuk pemotretan.”

 

Break!”

 

Kyu Hyun menghembuskan napas lega serta mengucap syukur. Setidaknya satu kata dari salah satu staff menyelamatkannya untuk tak memperpanjang obrolan dengan Hwa Yeon. Gadis itu tersenyum miring ke arahnya. Kecupan singkat di pipinya nyaris membuat jantung Kyu Hyun melompat keluar. Matanya membulat kesal. Jika saja di sana tak ramai, Kyu Hyun bersumpah akan menampar gadis kurang ajar itu.

 

“Aku masih menunggu persetujuanmu, Cho Kyu Hyun,” kata Hwa Yeon sembari membenarkan dasi Kyu Hyun. “Kalau kita hidup bersama suatu saat nanti, cinta bisa saja tumbuh, ‘kan?”

 

Kyu Hyun terdiam. Rasa jengkelnya sudah di ubun-ubun. Kalau saja Hwa Yeon bukan perempuan … argh! Kyu Hyun pasti sudah meledak sejak tadi.

 

“Sampai kapan pun, aku tetap dengan pendirianku. Lagi pula, aku mencintai gadis lain.”

 

“Aa… gadis lain? Kuharap dia cantik dan mampu menopang karirmu, Cho. Jangan sampai kau mencintai gadis semacam dia.” Hwa Yeon menunjuk ke arah Jo-Eui. “—oops, dia asistenmu, ‘kan? Aku harap kau tak menyukainya. Dia sama sekali tak cocok denganmu, Cho Kyu Hyun.”

 

“Hwa Yeon-ah. Ayo berganti kostum.” Salah satu staff wanita berkata. “Kyu Hyun-ah, kau juga.”

 

“Ya,” sahut Hwa Yeon tersenyum manis. Nada bicaranya juga terdengar lemah lembut. Gadis itu mengikuti staff barusan ke ruang ganti. Dia menoleh sekali ke arah Kyu Hyun. Lagi-lagi dia melempar senyum manisnya sembari melambaikan tangannya pelan.

 

Kyu Hyun menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mengambil kontrol penuh pada dirinya yang betul-betul kesal. Kyu Hyun kemudian melihat ke arah Jo-Eui. Gadis itu masih berdiri di tempatnya, tanpa bergerak barang seinci. Kyu Hyun kira, dia menyaksikan apa yang dilakukannya bersama Hwa Yeon barusan. Ia merasa begitu bersalah. Bahkan di hari pertama mereka berpacaran, Kyu Hyun telah melanggar janjinya: berjanji akan melindungi Jo-Eui. Jangankan dari fansnya yang berjumlah ribuan, saat Hwa Yeon merendahkan Jo-Eui, ia tak mampu berkata apa pun.

 

Dengan penuh rasa bersalah, Kyu Hyun menuju ruang ganti. Ia hanya berjalan melewati Jo-Eui dan Krystal dengan menundukkan kepalanya. Kyu Hyun menyadari, keduanya pasti terheran dengan perubahan sikapnya, terlebih Jo-Eui.

 

Ketika selesai, Kyu Hyun kembali menuju tempat pemotretan. Kali ini tangannya ditarik oleh Krystal membuatnya berhenti. Sementara Jo-Eui sudah siap dengan kotak make-upnya.

 

“Kau kenapa huh?” tanya Krystal. “Harusnya kau berhenti di sini untuk membenahi riasan wajahmu, Oppa.”

 

Jo-Eui mengambil pemoles bedaknya. Saat akan memoles wajah Kyu Hyun menggunakan bedak, tangannya dicengkram. “Bisakah kau meninggalkan kami berdua, Jung-ah?” tanya Kyu Hyun.

 

Krystal melihat Jo-Eui dan Kyu Hyun secara bergantian. Rautnya terlihat heran. Tetapi, akhirnya dia mengangguk. “Tetapi, kalian tak memiliki banyak waktu, ya.” Krystal pun melenggang pergi.

 

“Lepaskan aku, Kyu.” Jo-Eui menundukkan kepalanya. Cengkraman pada tangannya pun terlepas.

 

“Tatap aku, Jo!”

 

Jo-Eui mengangkat dagunya perlahan. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia terlihat sedang berusaha menahan tangis. Salah satu tangan gadis itu terangkat. Ibu jarinya mengusap pipi Kyu Hyun, tepat di mana Hwa Yeon menciumnya tadi. “Aku hanya ingin menghapus bekas itu dengan tanganku sendiri, Kyu.”

 

Kyu Hyun menggenggam tangan Jo-Eui. “Maafkan aku, Jo.”

 

Jo-Eui tersenyum tipis dan mengangguk. “Tak apa, aku mengerti. Itu tuntutan pekerjaanmu, Kyu.”

 

Kyu Hyun memejamkan matanya perlahan. Napasnya terhela lagi. Saat membuka matanya kembali, gadis itu masih berusaha tersenyum ke arahnya, meskipun setetes air mata telah membasahi pipinya. Kyu Hyun menarik tangan Jo-Eui, membawanya menjauh dari tempat pemotretan. Ia tak peduli sama sekali. Sekalipun semua orang sedang menatap heran pada keduanya.

 

***

 

Jo-Eui tak melawan ketika Kyu Hyun menariknya paksa untuk pulang ke guest house. Termasuk saat Kyu Hyun membawa Jo-Eui ke dalam kamarnya. Ia mendorong Jo-Eui ke pintu setelah benda itu tertutup. Salah satu tangannya berada di sebelah kanan Jo-Eui, beberapa inci di atasnya. Napas keduanya terdengar memburu. Tatapan Kyu Hyun begitu menusuk ke arah Jo-Eui. Pipi gadis itu sudah sepenuhnya basah.

 

“Kenapa kau melakukan—hiks—hal seperti ini, Kyu?”

 

Kyu Hyun tak menjawab. Ia tak memiliki alasan pasti kenapa memperlakukan Jo-Eui seperti itu. Kyu Hyun hanya merasa kesal pada dirinya karena tak dapat melindunginya.

 

“Kenapa kau tak kembali saja—hiks—kesana?” tanya Jo-Eui. Gadis itu berusaha memundurkan wajahnya sejauh yang ia bisa. Namun, pintu sialan itu menghalanginya.

 

“Kenapa? Kenapa kau menyuruhku kembali? Apa kau suka melihatku diperlakukan seperti itu oleh Hwa Yeon di depanmu?”

 

“Bukan begitu, Kyu. Pekerjaan itu—hiks—adalah tanggungjawabmu. Tidak seharusnya kau—hiks—bersikap seperti itu.” Jo-Eui mencoba memperingatkan Kyu Hyun.

 

Kyu Hyun tersenyum miring. Tangannya makin erat mencengkram tangan Jo-Eui. Gadis itu meringis. “Persetan dengan semua itu!” Kyu Hyun menarik Jo-Eui begitu saja, lalu melemparkannya ke tempat tidur. Dengan paksa, ia mencium serta mengulum bibir Jo-Eui. Gadis itu berusaha mendorong Kyu Hyun menjauh dari atas tubuhnya.

 

Saat ciumannya akan turun, menuruni leher jenjang gadis itu, Kyu Hyun tersadar. Ia sedang memendam rasa jengkelnya pada Hwa Yeon, tetapi Kyu Hyun malah melampiaskannya pada Jo-Eui. Ia bangkit. Ditatapnya Jo-Eui yang menangis dalam diamnya. Gadis itu tampak ketakutan dengan tubuh yang menggigil. Jo-Eui telah terbiasa dengan sikap Kyu Hyun yang hangat. Diperlakukan seperti itu cukup membuatnya terkejut.

 

Kyu Hyun terduduk di pinggir tempat tidur. Tangannya menarik tubuh Jo-Eui, merangkul tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Ia berusaha menenangkan Jo-Eui dan membuatnya tak takut. “Maafkan aku, Jo. Aku tak bisa mengendalikan diriku.”

 

Jo-Eui hanya mengangguk pelan. Isakannya sesekali terdengar.

 

“Baiklah, aku akan kembali ke lokasi pemotretan. Sebaiknya sekarang kau beristirahat saja. Kau boleh tidur di sini, Jo.”

 

“Em … cepatlah kembali, Kyu.”

.

.

.

Zoe memegang ujung selimut yang menutupi tubuhnya sampai di dada. Matanya mengerjap, memandang kosong fitingan lampu yang berada di atas.

 

Beberapa menit lalu, Kyu Hyun meninggalkannya untuk kembali ke lokasi pemotretan. Perlakuan Kyu Hyun sebelumnya betul-betul membuat Zoe ketakutan. Apa tadi Kyu Hyun bermaksud melakukan hal yang begitu dewasa terhadapnya? Oh, tidak, tidak. Di mata Zoe, Kyu Hyun tetaplah seorang lelaki yang baik dan hangat. Tidak mungkin dia berniat seperti itu. Tetapi, umpatan Kyu Hyun membuat Zoe berpikir sebaliknya.

 

Beruntung, Kyu Hyun segera tersadar. Zoe juga tak ingin disentuh lebih jauh sebelum mengetahui jika Kyu Hyun benar-benar mencintainya.

 

Ponsel Zoe berbunyi. Ia bangkit, mengambil tas selempangnya di atas nakas. Awalnya ia mengira sebuah pesan dari Demeter, tetapi ternyata dari Kyu Hyun.

 

Jo-Eui, kau baik-baik saja? Maafkan aku. Sungguh, aku tak bermaksud menyakitimu. Aku harap, kau melupakan yang terjadi barusan. Aku mencintaimu.

 

Zoe tersenyum.

 

Aku akan melupakannya. Aku mencintaimu juga. ♥

 

Zoe kembali meletakkan ponselnya, dan merebah. Terus-terusan teringat pada sang dewi membuatnya berpikir kalau ia mungkin saja bergantung padanya. Untuk selanjutnya, mungkin Zoe sendiri yang harus memecahkan teka-teki hidupnya. Memori yang sekejap hilang, sekejap muncul; sikap Hwa Yeon yang semakin membuatnya muak; serta sikap Kyu Hyun yang semakin hari terlihat semakin tak ingin melepasnya. Tetapi, tetap saja, sekarang ia hidup di dunia manusia, dunia di mana Zoe akan lebih sulit menebak watak setiap orang. Mungkin besok, seseorang akan berkhianat padanya, atau mungkin, lebih banyak orang yang akan mendekat padanya. Seluruhnya misteri bagi Zoe. Kyu Hyun sekalipun.

 

***

 

Selepas kepulangan mereka dari Pulau Jeju, Zoe merasa sedikit jengkel pada Krystal. Gadis itu selalu mengekor di belakangnya. Belakangan, dia juga meminta untuk menginap di rumah Zoe. Ia tentu tahu tujuan gadis itu menempel padanya: menggali lebih dalam hubungan yang terjadi di antara Kyu Hyun dan Zoe.

 

Eonni!” Suara Krystal terdengar melengking. Dengan nada setinggi itu, Zoe pikir Krystal lebih pantas menjadi seorang penyanyi ketimbang manajer.

 

“Apa? Kau membuatku tuli, Jung-ah.”

 

“Sudah empat hari aku menguntitmu sejak kita kembali dari Jeju. Tapi, kau tak pernah mau menjawab pertanyaanku.”

 

“Pertanyaan apa?” Zoe berpura-pura lupa. “Kau tak pernah mengatakan apa pun padaku.”

 

“Sebaiknya kau jujur. Apa hubunganmu dengan Kyu Hyun Oppa?”

 

“Artis dengan asisten.”

 

“Tidak, tidak. Pasti lebih dari itu ‘kan?”

 

“Tidak. Tidak lebih dari itu. Astaga … berapa kali aku harus mengalami percakapan ini?”

 

“Sampai kau jujur padaku. Aku ini manajernya, Eonni. Aku harus tahu hubungan kalian sebelum publik mencari lebih jauh. Kalaupun kalian memiliki hubungan khusus, kalian harus berlindung dari Choi Hwa Yeon.” Zoe terdiam.

 

Kali ini Krystal menatapnya serius. Entah kenapa, nama Choi Hwa Yeon selalu berhasil membuat mereka masuk ke dalam situasi serius.

 

“Kita tidak akan tahu apa yang dia lakukan setelah peristiwa di lokasi pemotretan. Kau tahu? Semua staff di sana membicarakan kalian setelahnya.”

 

“Apa akan terjadi sesuatu yang buruk, Jung-ah?” tanya Zoe khawatir. Jika hal itu menjadi masalah, maka yang pertama terancam adalah karir serta reputasi Kyu Hyun.

 

“Ah… aku tak dapat memprediksinya. Sejauh ini, belum ada tanda-tanda jika hal itu akan diangkat ke media. Semoga saja tidak.”

 

“Ya, semoga saja tidak,” kata Zoe harap-harap cemas.

 

“Jadi, apa kau memiliki hubungan dengan Kyu Hyun Oppa? Yang—” Krystal lagi-lagi membentuk kutip menggunakan telunjuk-jari tengahnya, “—lebih dari sekedar asisten atau fan?”

 

Zoe menarik napas dalam. Sebelumnya ia memang berencana untuk merahasiakan hubungannya dengan Kyu Hyun, sampai keduanya siap untuk publikasi. Tetapi, situasi saat ini tak mengizinkan semua itu. Minimal Krystal, selaku manajer Kyu Hyun harus mengetahui hubungan mereka.

 

“Ya, kami memang memiliki hubungan itu, Jung-ah.”

 

Krystal terdiam tanpa ekspresi. Zoe pun menebak-nebak ekspresi gadis itu. Mungkin saja ia marah. Atau bisa saja ia jengkel, karena selama ini Krystal pasti sudah lelah memperingatinya. Atau, Krystal malah terkagum seperti saat Zoe menceritakan kalau ia mengetahui asal-usul Kyu Hyun.

 

“Kau marah?” tanya Zoe meyakinkan. Ia menanyakan kemungkinan paling besar dari ekspresi itu.

 

“Tidak.” Krystal menjawab singkat. “Aku hanya bingung bagaimana menghadapi mereka kalau saat itu datang menimpa kita.”

 

“Saat apa?”

 

“Tidak, tidak ada. Lupakan saja.” Krystal tiba-tiba tersenyum. Kedua tangannya memegang pundak Zoe, seolah sedang memberikan penopang pada gadis yang mungkin sebentar lagi akan merasa rapuh.

 

***

 

Zoe begitu penasaran dengan maksud Krystal tadi. Tubuhnya merebah di tempat tidur. Ia memandangi jendela. Sebagian rumah Kyu Hyun terlihat dari sana. Zoe hanya teringat dengan lelaki itu. Hubungan mereka belum berlangsung begitu lama, tetapi terasa begitu berat baginya. Mungkin pilihan awal Zoe untuk menjadi teman Kyu Hyun lebih baik.

 

Zoe mengambil ponselnya. Sejenak, ia merindukan kehidupannya sebagai roh pohon, yang hanya mampu memandangi Kyu Hyun dari atas. Walaupun tak dapat bersentuhan atau pun memandang Kyu Hyun secara langsung, setidaknya ia tak akan pernah bertemu wanita semacam Choi Hwa Yeon.

 

Zoe membuka situs mesin pencari di ponselnya, lalu mengetikkan ‘CHOI HWA YEON’ di dalam kotaknya. Dadanya terasa sesak, ketika melihat saran pencarian teratas adalah ‘CHO KYU HYUN DAN CHOI HWA YEON’. Ribuan artikel pun muncul dengan cepat beberapa detik setelahnya. Yang paling populer adalah artikel dari majalah saat mereka melakukan pemotretan di Jeju. Zoe semakin merasakan tekanan berat di dadanya. Apalagi setelah membaca beberapa komentar dari puluhan ribu komentar yang masuk. Hampir seluruhnya adalah komentar positif.

 

[72, -15] Akhirnya setelah lama menunggu, mereka kembali melakukan pemotretan bersama.

[52, -9] Aku harap mereka menikah saja. Hwa Yeon Eonni sangat cantik dan manis. Aku rela kalau harus melepas Kyu Hyun Oppa bersamanya.

[23, -1] Setelah musikal mereka berakhir, aku kira mereka putus kontak. Ini mengejutkan! ><

[22, -6] Kyu Hyun Oppa, kapan kau akan menikah?

[20, -2] Kyu Hyun Oppa, menikahlah dengan Hwa Yeon Eonni! Dia wanita yang paling pantas untukmu!

[16, -1] Waktu itu, saat aku menghadiri fanmeeting di Busan, aku melihat Hwa Yeon Eonni datang! Dia memang baik sampai memberikan dukungan untuk album baru Kyu Hyun Oppa. Terima kasih atas dukuanganmu, Eonni!

 

Zoe melempar ponsel itu ke sebelah tubuhnya. Kedua tangannya merentang lebar, napasnya tertarik dalam, bermaksud mengurangi tekanan di dadanya. Air matanya perlahan menetes, mengingat komentar setiap orang untuk kekasihnya. Mereka sangat berharap agar Kyu Hyun segera menikahi Hwa Yeon.

 

Memangnya siapa Zoe di mata mereka? Tak ada yang tahu. Zoe hanya staff yang bekerja di belakang layar untuk Kyu Hyun. Ia tak bisa membuat pencitraan semacam yang Hwa Yeon lakukan. Publik menilai dia adalah wanita baik yang pantas untuk Kyu Hyun, dan mungkin akan seperti itu selamanya.

.

.

.

Kyu Hyun ingin segera pulang.

 

“Kau harus hadir di pesta yang kami adakan, Kyu Hyun-ah.”

 

Kyu Hyun menghela napas. Di satu sisi, ia amat sangat bersyukur dengan hasil dari pemotretan bersama Hwa Yeon di Pulau Jeju waktu itu. Rating mereka meroket dan merajai seluruh situs pencarian di Korea. Bahkan hal itu mempengaruhi penjualan album Kyu Hyun selama tiga hari terakhir. Dan, saat inilah yang membuat Kyu Hyun berubah muak. Sebuah pesta perayaan.

 

“Aku berniat untuk tinggal di rumah saja. Liburanku saat di Jeju sudah tertanggu. Jadi, anggap saja malam pesta ini adalah pengganti dari hariku yang tersita,” kata Kyu Hyun datar.

 

Si produser majalah menggeser kursi berodanya hingga berada di sebelah Kyu Hyun. Tangannya merangkul pundak Kyu Hyun akrab.

 

“Ei… jangan seperti itu, Kyu Hyun-ah. Apa kau tak takut mengecewakan partner kerjamu hum?” tanyanya sembari melirik Hwa Yeon yang tersenyum. “Setidaknya aku harus berbagi hasil pada kalian, karena permintaan iklan di majalahku meningkat. Semuanya berkat kau, Cho Kyu Hyun! Hahahaha ….” Si produser mendorong kursinya sampai kembali ke tempat semula.

 

“Terima kasih, Pak. Tentu, kami pasti datang ke pesta yang Anda adakan,” kata Hwa Yeon.

 

Kyu Hyun melihat Hwa Yeon sinis ketika menyadari kata kami. “Kami? Kau saja yang datang sendirian. Aku tidak ikut.” Kyu Hyun beranjak pergi tanpa permisi. Orang-orang itu sudah cukup membuatnya ingin muntah.

 

Kyu Hyun menuju basement. Tangannya sibuk pada ponselnya. Ia mengirim sebuah pesan kepada Jo-Eui, kekasihnya. Kyu Hyun berniat untuk membuat sebuah acara makan malam di halaman belakang. Ia juga sudah memesan beberapa ekor abalon liar segar sebagai menu utama.

 

Mobilnya melaju perlahan menjauhi basement. Bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyuman. Saat mengingat Jo-Eui, Kyu Hyun merasa begitu bahagia. Apalagi kalau mengingat saat-saat mereka berdua di Pulau Udo. Kadang ia ingin mengulang waktu itu sekali lagi tanpa gangguan dari siapa pun, termasuk Krystal.

 

Jung-ah

Memanggil ….

 

Kyu Hyun memasangkan wireless earphone di telinga kanannya. Telunjuknya menggeser tanda telpon hijau di ponselnya.

 

“Halo. Kyu Hyun Oppa?”

 

“Hm. Ada apa, Jung-ah?”

 

“Kau ada di mana sekarang?”

 

“Di jalan. Aku mau pulang. Kenapa?”

 

“CEO agensi baru saja menelponku. Kau diminta menghadiri pesta High Kat Magazine. Apa tak ada yang memberitahumu?”

 

“Em, aku baru saja selesai melakukan pertemuan dengan mereka. Aku menolak menghadiri pesta itu.”

 

“Kalau bisa, aku juga ingin mendukung keputusanmu itu. Tetapi, barusan CEO mengancamku akan mengeluarkanmu dari agensi kalau kau tak memenuhi undangan mereka. Sepertinya dia juga tahu apa yang terjadi di Jeju, saat kau melarikan diri bersama Jo-Eui Eonni.”

 

Kyu Hyun membanting kemudi ke kanan, memarkirkan kendaraannya di bahu jalan yang dekat dengan jembatan. Lelaki itu terdiam. Napasnya tertarik dalam. Lagi-lagi ia harus mampu menguasai dirinya agar tak terbakar emosi. Tidak, jangan sampai hal ini berpengaruh pada Jo-Eui nantinya.

 

Oppa?”

 

“Ya, Jung-ah.”

 

“Kau akan datang?”

 

Kyu Hyun terdiam. Sungguh, ia tak ingin datang ke acara itu. Kyu Hyun tak bisa mengingkari janjinya lagi. Acara makan malamnya bersama Jo-Eui tidak boleh batal begitu saja.

 

“Sebaiknya kau lakukan saja apa yang mereka inginkan. Tak hanya akan memberhentikanmu dari agensi, CEO juga berniat menuntutmu karena pelanggaran kontrak. Dia akan menagih dua kali lipat gaji yang kau dapatkan dua tahun terakhir. Selain itu … em, aku mengkhawatirkan kalian berdua, terutama Jo-Eui Eonni.”

 

“Kau tahu sesuatu tentang kami?”

 

“Ya. Jo-Eui Eonni menceritakan semuanya. Seharusnya kau mengatakan lebih awal padaku, Oppa.”

 

Kyu Hyun menghela napas. “Baiklah, aku akan datang ke pesta itu, Jung-ah.”

 

***

 

Kyu Hyun tak tahu berapa banyak kata maaf yang sudah terlontar untuk Jo-Eui. Acara makan malam mereka kali ini batal. Alih-alih ia tahu, Jo-Eui pasti akan sangat gembira kalau mengetahui menu utama mereka adalah abalon. Gadis itu terdiam tanpa suara di depannya. Hanya tangannya yang sibuk membantu memakaikan dasi pada Kyu Hyun.

 

“Jo, aku akan kembali sebelum tengah malam.”

 

Jo-Eui tersenyum. “Tidak usah buru-buru. Kau bisa menikmati pestamu kalau kau merasa senang. Aku baik-baik saja, Kyu.”

 

“Benarkah? Saat bertemu Hwa Yeon nanti, aku akan menganggap kalau kau sedang mengawasiku.”

 

“Ish.” Jo-Eui mendesis. “Baiklah, anggap saja aku dan Krystal sedang mengawasimu.”

 

“Kenapa Krystal?”

 

“Dia itu yang paling khawatir karena pesta ini.”

 

Kyu Hyun mengangguk. Sebuah kecupan mendarat di kening Jo-Eui. “Aku ingin segera menikahimu, Jo. Aku harap, aku bisa kembali ke kehidupanku yang dulu.”

 

Jo-Eui meraih tangan Kyu Hyun, menggenggam kedua tangan yang terasa basah itu. “Aku akan menunggumu, Cho Kyu Hyun.”

 

***

 

Tak banyak yang bisa dilakukan Kyu Hyun di pesta itu. Ia pergi sendirian, tanpa Krystal atau pun Jo-Eui. Sesekali ia tersenyum pada orang-orang yang lewat di depannya. Sebagian dari mereka adalah pengelola agensi-agensi besar di Korea, staff penting seperti sutradara, produser, pembuat naskah dan komposer, serta orang-orang dari majalah dan berbagai perusahaan produk ternama yang biasa mensponsori para artis. Sebagian lagi adalah seniman-seniman yang berkecimpung di dunia hiburan, mulai dari penyanyi, aktor sampai model.

 

Kyu Hyun mengedarkan pandangan hampir ke seluruh sudut aula tempat berlangsungnya pesta. Ia butuh seorang teman mengobrol untuk mengusir rasa bosan. Alih-alih sudah lewat dari jadwal, sang pemilik pesta belum juga memberi sambutan kalau pesta telah dimulai.

 

“Ternyata kau datang juga, Kyu Hyun.”

 

Kyu Hyun melihat ke arah suara. Oh … ia memang sedang butuh teman ngobrol, tetapi bukan berarti itu adalah Hwa Yeon. Gadis itu duduk di salah satu kursi kosong yang berseberangan dengan Kyu Hyun. Hwa Yeon memanggil seorang pelayan, lalu mengambil segelas wine yang terhidang di atas nampan.

 

“Kau tak ingin minum?” tanya Hwa Yeon. Dia menyesap winenya kemudian.

 

“Bisakah kita duduk di tempat yang terpisah saja?”

 

“Kalau kau ingin, kau saja yang pindah.”

 

Kyu Hyun segera berdiri, dan…

 

“Baiklah, diharapkan kepada seluruh tamu agar segera duduk di tempat masing-masing.”

 

…ia pun mengurungkan niatnya. Hwa Yeon tersenyum ke arahnya sambil mengedikkan bahu. Sedetik setelahnya, dia kembali meminum winenya.

 

“Hari yang berbahagia bagi kita semua. Ini adalah sebuah perayaan sederhana untuk mengapresiasi kedua model yang sudah menaikkan pamor High Kat Magazine di kancah hiburan Korea. Beri tepuk tangan untuk Cho Kyu Hyun dan Choi Hwa Yeon!”

 

Riuh tepuk tangan terdengar memenuhi setiap sudut aula. Lampu sorot mengarah ke arah meja Kyu Hyun dan Hwa Yeon. Hwa Yeon segera berdiri. Dia membungkuk terlebih dahulu, lalu melambai sambil menggumamkan kata terima kasih. Setelah terdiam memperhatikan akting Hwa Yeon yang beraga ramah, akhirnya Kyu Hyun turut berdiri. Ia juga membungkuk kepada para hadirin sembari menebar senyuman.

 

“Terima kasih untuk Kyu Hyun dan Hwa Yeon! Untuk sekarang, silahkan menikmati pesta! Terima kasih!”

 

Para tamu undangan kembali seperti semula, berbaur satu sama lain untuk sekedar mengobrol. Kyu Hyun memanggil seorang pelayan yang membawa nampan dengan wine yang berkeliling di sela-sela tamu undangan. Kyu Hyun pun mengambil segelas wine dari pelayan tersebut.

 

“Aku kira kau akan membiarkan tenggorokanmu kering, Kyu.”

 

Kyu Hyun menyesap winenya. “Tak usah berlagak peduli,” katanya ketus.

 

“Baiklah. Aku akan diam sampai kau membutuhkan bantuanku.”

 

Kyu Hyun menyipitkan matanya. Ia memandangi Hwa Yeon dengan heran. Bantuan? Memangnya bantuan apa yang Kyu Hyun butuhkan dari Hwa Yeon? Tidak ada. Kyu Hyun sama sekali tak membutuhkan Hwa Yeon.

 

Kyu Hyun menyesap winenya lagi, sementara Hwa Yeon memperhatikan setiap geriknya sembari memutar-mutar gelas balon itu di tangannya.

 

Kyu Hyun mulai risih. Ia memang terbiasa menjadi pusat perhatian di antara ribuan orang, tetapi saat Hwa Yeon memandangnya, Kyu Hyun merasa tak suka. Tidak ada yang salah pada dirinya sampai harus diperhatikan selekat itu.

 

Setelah satu menit berlalu dalam keheningan, Kyu Hyun mulai merasakan gejolak yang aneh. Tubuhnya terasa memanas seperti masuk ke kolam di atas tungku. Tangannya praktis melonggarkan dasi yang melingkar di balik kerah kemejanya. Kyu Hyun merasa tak nyaman.

 

Hwa Yeon menyeringai. Pasti ada yang salah. Atau …. Wine! Mungkin wine itu. Sial! Kyu Hyun masuk ke dalam perangkap picisan seperti itu.

 

Kyu Hyun bangkit menjauhi aula dan segera menuju ke toilet. Ia memandang dirinya di cermin. Napasnya mulai tak teratur. Wajahnya memerah. Bagian di bawah pusarnya pun mulai menyesak.

 

Tak lama, suara pintu terbuka terdengar. Kyu Hyun menoleh. Hwa Yeon mendorong daun pintu kemudian menguncinya. Tungkainya melangkah mendekati Kyu Hyun sembari menampilkan senyum ramah.

 

“Sudah kubilang kan, kau pasti akan membutuhkanku, Cho Kyu Hyun.” Hwa Yeon membelai pipi Kyu Hyun, kemudian turun sampai di bagian menonjol di balik celana lelaki itu.

 

Kyu Hyun menepis kasar tangan Hwa Yeon. Dia berusaha mengingat Jo-Eui sebelum lepas kendali menyerang gadis itu. Tetapi….

 

“Kenapa kau melakukan ini padaku huh?” Kyu Hyun mendesis. Didorongnya gadis itu sampai menempel di dinding. Tangan Hwa Yeon berada beberapa inci di  atas kepalanya dalam cengkraman Kyu Hyun.

 

“Aku akan melakukan apa pun agar kau jatuh ke pelukanku,” jawab Hwa Yeon enteng.

 

Gadis itu mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. Lidah Hwa Yeon menjulur, kemudian menjilat bibir Kyu Hyun. Lelaki itu tak tahan lagi. Ia meraup bibir Hwa Yeon. Menjilat, mengulum, menggigit, demi melampiaskan gejolak dalam dirinya. Kyu Hyun semakin tak terkendali. Jo-Eui menghilang begitu saja dari dalam benaknya. Bahkan sedikit pun tak terbersit bagaimana Jo-Eui akan menanggapi hal ini nantinya.

 

Hwa Yeon melenguh. Matanya setengah terpejam menikmati sentuhan yang Kyu Hyun berikan. Urat lehernya menegang serta bibir bawahnya yang digigit.

 

Kyu Hyun melepas jas yang masih membalutnya. Keringat dingin menetes nyaris di sekujur tubuh Kyu Hyun. Ia melepas ikat pinggang serta kancing pada celananya untuk memberi ruang pada sesuatu yang semakin menyesak.

 

Tersentak akan perlakuan Kyu Hyun, Hwa Yeon jadi menahan napas. Diputarnya tubuh gadis itu sampai menempel di meja wastafel. Dia dipaksa menunduk hingga bungkuk sembilan puluh derajat. Kepalanya menempel di meja dengan posisi menoleh ke kanan. Salah satu tangan Kyu Hyun menekan telinga kanan Hwa Yeon.

 

Napas Kyu Hyun semakin memburu. “Ya! Aku memang butuh bantuanmu, Choi Hwa Yeon!” rancaunya selayak orang mabuk.

 

Bayangan masing-masing yang terpantul pada cermin akan menjadi saksi mereka. Tangan-tangan yang kuat membelai lekuk pinggul Hwa Yeon. Gaun pestanya dinaikkan sampai pinggang, menyisakan dalaman yang membalut bagian paling pribadi. Dengan satu tangan, Kyu Hyun menurunkan dinding pertahanan itu kasar.

 

Kyu Hyun mengerang nikmat. Tubuhnya bergerak cepat. Hwa Yeon menyandarkan punggungnya pada Kyu Hyun. Salah satu tangannya menarik leher lelaki itu. Dia membuka mulutnya di dalam mulut Kyu Hyun sampai meredam desahan keduanya.

 

Pelukan pada perut Hwa Yeon yang masih dibalut gaun semakin erat, seiring dengan irama gerakan Kyu Hyun. Keduanya mendongak dan mengerang dalam pelepasan. Sejenak, Kyu Hyun merasa lega.

 

Hwa Yeon membenarkan pakaiannya lagi, sementara Kyu Hyun memegangi kepalanya yang terasa pusing. Gadis itu berbalik menghadapnya. Dia memeluk Kyu Hyun dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki yang tampak linglung itu.

 

“Ada satu hal lagi yang harus kuselesaikan, Cho Kyu Hyun,” kata Hwa Yeon sembari menancapkan sebuah jarum suntik di sisi yang dekat dengan leher Kyu Hyun.

 

Dan, Kyu Hyun pun pingsan.

.

TBC

51 thoughts on “ZOE : A Lifetime Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s