Idiot’s Love : I, You and We Part 1


 

Author             : KeyNana

Title                : Idiot’s Love : I, You and We (Sequel of Idiot’s Love)

Category         : NC 21, Comedy, Romance, Twoshoot

Main Cast       :

  • Kim Tae Hyung
  • Lee Jae Ha
  • Kim Hee Chul

Other Cast       :

  • Min Yoon Ji

Author’s Note : Sebelumnya author sangat berterimakasih pada admin Flying NC Fanfiction sudah mau menerima Fanfictku dan juga author sangat, sangat berterimakasih pada readers yang ternyata menyukai Idiot’s Love padahal sebelumnya author tidak yakin akan banyak yang menyukai Idiot’s Love, terimakasih.

Sesuai permintaan kalian, author akan membuat sequel-nya. Banyak yang penasaran siapa itu Yoon Ji, bukan? Nah, di sini akan terjawab pertanyaan kalian. Author tidak yakin Sequel ini akan sebagus yang pertama (orang bilang jika yang pertama itu yang terbaik) semoga kalian menyukainya.

 

 

Happy Reading

 

 

 

Monday, July 17 2017
Gangnam-gu, Seoul, South Korea

 

Matahari senja berpendar malu-malu dari balik gumpalan awan putih, meninggalkan jejak-jejak jingga langit barat. Cahaya yang mulai bersinar hadir disetiap cela jendela kamar mengusik sang penghuni yang masih terbalut selimut tebal miliknya yang hanya memiringkan badannya membelakangi arah matahari.

Langkah suara kaki terdengar keluar dari kamar mandi, seorang wanita keluar dengan rambut basahnya yang ia balut dengan handuk kecil berjalan perlahan mendekati ranjang besar dimana seorang lelaki masih terlelap disana.

“Tae.. kau masih belum bangun?” Dia mendekat diatas ranjang, Tae Hyung tidak terusik sama sekali.

“Tae Hyung-ah.. bangunlah ini sudah siang.” Sekali lagi dia membangunkannya dengan menepuk-nepuk pelan pipi yang tidak tirus milik prianya.

Tae Hyung mulai terusik dengan sentuhan tangan dari isterinya, Jae Ha. “Bangunlah, ini sudah siang.”

Tae Hyung mengerutkan wajahnya sedikit memanyunkan bibir dengan kedua matanya masih tertutup. Jae Ha mengelus pipiTae Hyung sekali lagi “Jangan malas, cepat bangun.” Sebelum dia meninggalkan ranjangnya.

Tak ada suara yang dikeluarkan dari mulut Tae Hyung, dia hanya bangun dan duduk diatas ranjang dengan malas. Rambut tebal semi merahnya begitu berantakan bahkan dia tidak memakai kaos, dia setengah telanjang.

Aaa..Aw… sakit.” Entah mengapa tiba-tiba dia merintih kesakitan dengan memegangi pinggang kirinya, Jae Ha yang sedang membuka gorden kamar mereka langsung menghampiri Tae Hyung ketika mendengar suaminya merintih kesakitan.

“Ada apa?”

“Pinggangku sakit, sangat sakit.”

“Benarkah, coba kulihat.” Jae Ha duduk kembali disampingnya dan melihat kearah pinggang Tae Hyung mencari tahu apa pinggangnya terluka.

“Tidak ada yang luka.”

“Tapi ini sakit, rasanya seperti batu besar menindihku.”

“Benarkah, aku harus bagaimana sekarang. Apakah kita harus ke rumah sakit?”

“Tidak mau, aku tidak mau pergi kerumah sakit. Dokter itu akan memberikanku obat lagi, aku tidak suka obat rasanya pahit sama sekali tidak enak”

Aahh.. ini sakit sekali. Ini semua karenamu.” Tiba-tiba Tae Hyung menyalahkan Jae Ha membuatnya mengerutkan dahinya tak mengerti. “Semalam kau menindihku terlalu lama, ini semua salahmu. Aku sakit salahmu.” Dengan tegas Tae Hyung menyalahkan Jae Ha.

“Bukankah semalam kau yang memintaku menindihmu.” Jae Ha memanyunkan bibirnya sementara Tae Hyung hanya meliriknya tak suka bahkan bibirnya semakin ia majukan.

“Awas..” Dengan kasar Tae Hyung turun dari ranjang dan berlari pergi keluar dari kamar.

“Tae Hyung-ah kau mau kemana?” Dengan segera Jae Ha mengikuti Tae Hyung keluar yang masih setengah telanjang.

Tae Hyung berlari kecil turun dari anak tangga dirumah ini. “Yoon Ji-ah.. Yoon Ji..” Dia berteriak memanggil Yoon Ji.

 

Setelah memanggil nama ‘Yoon Ji’ berulang kali akhirnya seorang gadis datang lengkap dengan pakaian pelayannya. Min Yoon Ji adalah pelayan di rumah ini sebelum Tae Hyung menikah dia bertanggung jawab untuk Tae Hyung lebih tepatnya dia diperkerjakan sebagai perawat Tae Hyung tetapi setelah Tae Hyung menikah dia bekerja hanya pada urusan rumah karena Jae Ha yang akan mengurus suaminya.

“Iya tuan.” Dengan lembut Yoon Ji menghadap pada Tae Hyung. Gadis ini sedikit memekik terkejut melihat Tae Hyung keluar dengan setengah telanjang memperlihatkan tubuh bagian atasnya, meski dia bekerja sejak dulu untuk Tae Hyung tetapi ini kali pertama dia melihat Tae Hyung keluar tanpa baju ditubuhnya.

“Tubuhku sakit semua aku mau kau memijatnya seperti dulu waktu kakiku terkilir.” Jae Ha mematung terdiam dibelakang Tae Hyung, hatinya terasa sakit ketika mendengar Tae Hyung meminta orang lain yang memijatnya bukan dia.

“Baik tuan, tunggulah disini saya akan mengambil minyak anginya dulu.”

“Cepatlah, aku tidak kuat lagi.” Teriak Tae Hyung kesal membuat Yoon Ji tak bisa hanya berjalan untuk mengambil minyak angin.

 

“Kenapa kau hanya berdiri disini?” Suara pria lain datang menghampiri Jae Ha yang tetap mematung diam didasar tangga.

AhhOppa” Jae Ha terlihat terkejut atas kedatangan Kim Hee Chul.

Yoon Ji datang dengan minyak angin ditangannya membuat Kim Hee Chul mengerutkan dahinya heran.

“Ada apa dengan Tae Hyung?” Hee Chul mengalihkan pandangannya untuk menoleh kearah Jae Ha.

“Aku tidak tahu ada apa dengannya, bangun tidur Tae Hyung mengeluh pinggangnya sakit.”

“Lalu mengapa harus Yoon Ji yang memijatkan, dia tidak memintamu?” Hanya gelengan kepala Jae Ha sebagai jawabannya.

Kim Hee Chul melihat Jae Ha pilu seperti tahu jika adik iparnya ini cemburu, dia menghampiri Tae Hyung.

“Berhenti Yoon Ji.” Suara Kim Hee Chul menghentikan tangan Yoon Ji yang hendak menyentuh pinggang polos Tae Hyung.

“Yoon Ji-ah cepat kau pijat pinggangku”Tae Hyung meninggikan suaranya kesal.

“Tae Hyung-ah… sekarang kau tidak bisa meminta Yoon Ji melakukan itu untukmu.”

Tae Hyung mengerutkan dahi heran.

“Kenapa?”

“Kau sudah memiliki Jae Ha, minta dia untuk melakukannya untukmu.”

“Tidak mau, dia yang membuatku sakit. Aku sakit karena dia.” Tae Hyung masih menyalahkan Jae Ha membuat Hee Chul spontan menoleh kearah Jae Ha yang tetap hanya diam ditempat.

“Ada apa ini pagi-pagi sudah berisik sekali.” Cho Yu An datang bersama Kim Yong Kwang, mendengar sang Ibu datang Tae Hyung langsung bangun dari tempat duduknya untuk menghampiri sang Ibu.

Eomma pinggang Tae Hyung sakit sekali ini semua gara-gara dia.” Bahkan saat ini Tae Hyung menunjuk Jae Ha didepan semua orang membuat Jae Ha menjadi pusat perhatian mereka semua.

“Memang apa yang dilakukan Jae Ha padamu?” Kim Yong Kwang bertanya

“Semalam dia menindih Tae Hyung terlalu lama.” Jawaban polosnya berhasil membuat semua yang berada disini menahan tawa kecuali Yoon Ji, dia hanya tetap diam menundukkan kepalanya sementara Jae Ha tertunduk malu.

“Memangnya mengapa Jae Ha menindihmu, Hmm.. apakah kalian sedang main kuda-kudaan dimalam hari?” Kim Hee Chul bertanya seraya menahan tawanya, dia paham.

“Tidak, awalnya Tae Hyung yang menindihnya tetapi Tae Hyung bosan dan akhirnya Tae Hyung memintanya untuk gantian tetapi dia terlalu lama dan badannya sangat berat.” Jae Ha semakin dibuat malu oleh suaminya sendiri.

“Kau yang memintanya untuk menindihmu mengapa menyalahkannya dan bukankah kau lebih berat dari Jae Ha, Jae Ha bisa menahannya mengapa kau tidak?” Giliran Kim Yong Kwang menggodanya.

“Tae Hyung sering menindihnya dan dia bilang tidak apa-apa lagipula ini hanya permainan yang dilakukan pasangan. Kita melakukan seperti di film yang diberikan Hyung.” Aduannya sukses membuat Kim Hee Chul mendapatkan tatapan tajam dari kedua orang tuanya sementara pria yang berwajah cantik ini hanya memasang wajah tanpa dosanya.

“Ini bukan salah Jae Ha, pergilah kekamar dan minta isterimu untuk memijatnya. Yoon Ji tidak bisa menyentuhmu karena Jae Ha tidak akan menyukainya.” Cho Yu An mengerti perasaan Jae Ha.

“Kenapa, Yoon Ji juga teman Tae Hyung. Kenapa semua orang melarang Tae Hyung untuk bermain dengannya bahkan Jae Ha, dia melarang Tae Hyung untuk bermain dengan Yoon Ji dia mengatakan bahwa permainan itu hanya bisa dilakukan oleh pasangan.” Tae Hyung protes, bagaimanapun Yoon Ji adalah temannya sejak dulu.

Yak… Jae Ha benar, kau tidak boleh memainkan permainan itu dengan sembarang wanita.” Kim Hee Chul begitu heboh mendukung Jae Ha.

Hyung-mu benar, Yoon Ji memang temanmu tetapi dia tidak bisa menyentuhmu seperti apa yang Jae Halakukan padamu. Kau harus berbuat baik pada isterimu, mengerti.” Cho Yu An kembali menasehati putra bungsunya.

Kim Tae Hyung menatap kearah Jae Ha yang tetap berdiri disana, perlahan dia menghampiri Jae Ha. “Ayo kita kekamar, kau harus memijitku sampai aku sembuh.” Tae Hyung berjalan menaikki anak tangga untuk kembali kekamar.

“Saya permisi.” Pamit Jae Ha seraya membungkukkan badannya pada keluarga Tae Hyung sebelum dia menyusul Kim Tae Hyung.

 

“Bocah itu” Kim Yong Kwang hanya tersenyum.

“Semua ini karena ulah putra sulungmu itu” Cho Yu An menatap Kim Hee Chul yang hanya diam “Yak berhenti memberikan film-film seperti itu pada Tae Hyung, dia sudah benar-benar sudah kecanduan.”

“Aku hanya memberikannya sekali setelahnya dia yang memintanya sendiri.” Hee Chul membela dirinya sendiri membuat kedua orang tuanya hanya diam.

“Yoon Ji dimana sarapanku?”Hee Chul berjalan kearah meja makan.

“Saya akan menyiapkannya, tuan.” Yoon Ji segera berlalu pergi menyiapkan sarapan untukkeluarga ini.

 

Terlihat begitu nyaman Tae Hyung tidur tengkurap dengan Jae Ha yang setia memijat pinggangnya yang terasa sakit lebih tepatnya pegal. Tanpa bersuara apapun Jae Ha terus mengurut pinggang Tae Hyung dengan lembut membuat pria ini hanya tersenyum menikmatinya.

“Jae Ha-ah.. mengapa kau tidak menyukai Yoon Ji?” Jae Ha menghentikan pergerakan tangannya dipinggang Tae Hyung setelah mendengar pertanyaan dari suaminya.

“Apa maksudmu, aku menyukainya.” Jae Ha kembali memijatnya.

“Tidak, kau tidak menyukai Yoon Ji aku tahu itu. Kenapa, Yoon Ji juga temanku jadi kau jangan melarangku untuk bermain dengannya.” Terdengar seperti sebuah perintah,Jae Ha berhenti memijatnya dan menjauh dari Tae Hyung.

Tae Hyung yang sadar tak ada pergerakan dipinggangnya lagi, pria ini menoleh kearah Jae Ha kesal lalu ia ikut bangun membuat mereka duduk bersampingan tetapi hanya Tae Hyung yang menghadapnya.

“Aku tidak melarangmu untuk bermain dengan Yoon Ji aku hanya tidak suka dia menyentuhmu.” Jae Ha menundukkan kepalanya.

“Kau juga sering menyentuhku tetapi Yoon Ji tidak apa-apa. Kau temanku dia juga temanku aku akan senang jika kalian menyentuhku.” Kali ini Jae Ha menatapnya, Jae Ha sejenak terdiam dengan kedua mata polos Tae Hyung.

“Aku isterimu dia hanya teman untukmu status kita beda, berhenti mengatakan jika kau ingin disentuh Yoon Ji.” Jae Ha tak bisa menahan emosinya, dia mengalihkan pandangannya karena air matanya menetes begitu saja.

“Jae Ha-ah… kau memarahiku? Yak… Yoon Ji tidak pernah melakukan itu.”

“Tae Hyung-ah….” Jae Ha memekik kesal dengan menoleh kearahnya air matanya menetes membasahi pipinya.

Tae Hyung terkejut melihat Jae Ha menangis. “Jae Ha kau kenapa menangis, Hmm..?”

Dengan segera Jae Ha menyeka air matanya dengan kasar. “Tidak apa-apa. Apa pinggangmu masih sakit?” Jae Ha mengalihkan perbincangan mereka.

“Aku rasa sudah baikkan.”

“Syukurlah, aku akan memasakkan nasi goreng untukmu jadi tunggulah disini dan jangan lupa basuh wajahmu terlebih dahulu, pakai bajumu.” Jae Ha turun dari ranjang

“Aku mau bubur.” Permintaan Tae Hyung membuat Jae Ha kembali menoleh kearahnya.

“Kenapa, bukankah kau sangat menyukai nasi goreng. Kau selalu meminta nasi goreng untuk sarapanmu.”

“Aku ingin bubur. Aku ingin makan bubur.” Tae Hyung mengatakannya dengan kasar membuat Jae Ha menghela nafasnya lalu tersenyum paksa. “Baiklah, aku akan membuatkannya untukmu. Tunggulah sebentar.”

Tae Hyung memanyunkan bibirnya kesal, entah mengapa pria ini tidak seperti biasanya. Pagi ini dia lebih emosional kepada Jae Ha. Namun, seperti apa yang diminta sang isteri kini Tae Hyung beranjak dari tempat tidur berjalan memasuki kamar mandi.

 

 

 

Setelah pernikahannya digelar di tanah kelahirannya tak lama kemudian hanya berselang beberapa hari keluarga Kim langsung membawa Jae Ha kerumah utamanya di Seoul. Jae Ha meninggalkan sang Ibu seorang diri, awalnya ini berat untuk Jae Ha tetapi karena Jin Joo meyakinkan dan memintanya untuk pergi mengikuti keluarga Kim akhirnya Jae Ha menurut. Dalam sebulan Jae Ha akan pulang untuk menjenguk sang Ibu bagaimanapun Jae Ha akan selalu mengingat Jin Joo tak bisa dipungkiri tempat paling nyaman adalah pelukan seorang ibu meskipun kini dirinya tinggal dirumah yang mewah, dia bisa melakukan apapun tetap saja terkadang dirinya merasa asing dan merindukan kampung halamannya.

 

Seperti pagi sebelumnya Jae Ha selalu menyiapkan sarapan dan hal lainnya sendiri untuk Tae Hyung. Makanan Tae Hyung dia yang membuatnya sendiri tanpa bantuan Yoon Ji. Selain karena Jae Ha tak menyukai Yoon Ji dia ingin merawat suaminya dengan tangannya sendiri.

Setelah beberapa menit Jae Ha didapur untuk membuatkan bubur untuk Tae Hyung kini akhirnya bubur permintaan sang suami telah siap saji. Jae Ha membawanya masuk kedalam kamar. Dirinya tersenyum melihat Tae Hyung duduk disofa yang berada didekat jendela dengan memainkan boneka kesayangannya.

“Tae Hyung-ah ini waktunya sarapan.” Jae Ha bergabung dengan Tae Hyung duduk disampingnya.

Wahh… baunya sangat harum, sepertinya enak.” Dengan semangat Tae Hyung mencium aroma bubur buatan Jae Ha.

Cha.. buka mulutmu.” Pinta Jae Ha dengan menyodorkan satu sendok penuh yang berisi bubur dengan semangat Tae Hyung membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Jae Ha.

“Bagaimana, apakah rasanya enak?” Jae Hapenasaran dengan pendapatTae Hyung

Hmm…. Huek…” Awalnya Tae Hyung terlihat senang tetapi entah mengapa tiba-tiba dia memuntahkannya bahkan dia tidak hanya memuntahkan bubur yang baru saja ia makan tetapi dia memang muntah.

Jae Ha terkejut dan langsung menaruh mangkuk buburnya di meja untuk memberikan air untuk Tae Hyung yang tak berhenti muntah. “Yak.. Tae Hyung kau kenapa. Jangan menakutikuJae Ha memberikan dia segelas air putih dengan terus memijat leher belakang Tae Hyung dan sesekali dia menepuk punggungnya perlahan.

Yak.. apa yang kau lakukan pada Tae Hyung? Buburmu membuatku mual, kau membenciku. Kau tidak menyukaiku lagi?” Jae Ha terdiam dengan bentakkan Tae Hyung padanya.

“Pertama punggungku sakit karenamu dan sekarang kau membuat perutku mual.” Jae Ha bergetar ini kali pertama Tae Hyung meneriakkinya.

 

Klek..

 

Sebuah pintu terbuka, rupanya teriakan Tae Hyung membuat kedua orang tuanya dan juga Kim Hee Chul datang. Mereka terkejut dengan keadaan Tae Hyung dan lantai yang kotor karena muntahan dari Tae Hyung.

Aigoo.. Tae Hyung. Kau kenapa?” Tentu saja Cho Yu An mengkhawatirkannya.

Eomma… dia membuat perut Tae Hyung mual. Dia merancuni bubur Tae Hyung.” Tae Hyung langsung mendekati Ibunya dan mengadu.

“Tidak Eommoni, aku tidak memasukkan apapun pada bubur Tae Hyung. Aku tidak mungkin melakukan itu.” Merasa begitu takut Jae Ha hanya memainkan jari-jarinya.

“Bohong, kau tidak menyukaiku lagi bahkan tadi kau memarahiku.” Tae Hyung terlihat begitu sedih mengatakannya sementara Jae Ha hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata kembali menetes membasahi kedua pipinya.

“Lebih baik sekarang bawa Tae Hyung kerumah sakit.” Pinta Hee Chul

Tanpa mengatakan apapun lagi kedua orang tua Tae Hyung langsung membawa keluar Tae Hyung. Kim Hee Chul melihat Jae Ha yang masih berdiri ditempat-pun mendekatinya.

“Ayo pergi, kau juga harus pergi. Kau isterinya, kan?” Ajak Hee Chul

“Tapi sungguh aku tidak meracuni Tae Hyung, mana mungkin aku menyelakakan suamiku sendiri?” Jae Ha menatap Hee Chul sendu.

“Aku tahu. Lebih baik kita segera pergi kerumah sakit agar bisa tahu ada apa dengan Tae Hyung.” Hee Chul begitu lembut, dia memiliki hati yang hangat.

“Tetapi ini…” Jae Ha menoleh kearah lantai serta meja kotor yang terkena muntahan Tae Hyung.

“Biarkan Yoon Ji yang membersihkan, ayo kita pergi.” Ajak Hee Chul kembali sementara Jae Ha hanya menganggukkan kepalanya menuruti Hee Chul.

 

 

 

“Bagaimana dengan keadaan putra saya, Dok?” Cho Yu An yang khawatir langsung menanyakan kondisi Tae Hyung setelah putranya selesai mendapatkan perawatan.

“Dia baik-baik saja”

“Lalu mengapa dia muntah-muntah bahkan tadi pagi dia merasa sakit dibagian pinggangnya apa anda yakin jika putra kami baik-baik saja?” Cho Yu An memastikannya.

“Saya tidak yakin tetapi apa putra ibu sudah memiliki seorang isteri?” Pertanyaan Dokter mampu membuat Cho Yu An melirik kearah Jae Ha yang hanya berdiri disamping Hee Chul.

“Iya, dia isteri Tae Hyung.” Cho Yu An menunjuk Jae Ha membuat Jae Ha semakin khawatir.

Ahh.. apa kau sudah mendapatkan haid untuk bulan ini?” Pertanyaan Dokter membuat semua semua mengerutkan dahinya tak mengerti.

“Belum Dokter bahkan bulan kemarinpun saya tidak datang bulan.” Jawaban Jae Ha membuat Dokter tampan ini tersenyum.

“Jika saya benar, selamat kalian akan segera memiliki seorang cucu.” Keluarga Kim menatap sang Dokter tak percaya. Jika Jae Ha hamil lalu apa hubungannya dengan kesakitan Tae Hyung?

“Putra ibu tidak memiliki masalah apapun. Pinggangnya yang tiba-tiba sakit lalu perutnya terasa mual dan muntah itu pengaruh dari janin yang sedang dikandung isterinya.” Jelas Dokter itu yang semakin membingungkan mereka bahkan Jae Ha hanya diam menganga tak mengerti.

“Tidak seperti biasanya, ketika wanita hamil maka yang akan merasakan pertama kali adalah sang ibu, tetapi untuk kasus anak anda ini berbeda. Putra Ibu yang akan merasakan gejala-gejala itu.” Dokter itu menjelaskannya dengan senyuman.

“Bagaimana bisa itu terjadi Dokter, apa karena putra saya berbeda dengan yang lain?” Tanya Kim Yong Kwang.

“Tidak Pak, ini juga terjadi pada pasangan lainnya walaupun tidak banyak tetapi kasus ini sudah pernah terjadi sebelumnya jadi anda tidak perlu khawatir.” Jelas Dokter itu “Untuk membenarkan dugaan saya anda bisa memerika menantu anda.”

“Saya akan meresepkan obat anti mual untuk Tae Hyung. Kalau begitu saya permisi.” Dengan menundukkan kepalanya sopan Doter itu pergi meninggalkan UGD.

 

Setelah Dokter itu pergi semua tetap diam tak ada yang megnatakan sepatah katapun. Jaeh atak percaya jika benar dirinya hamil, dirinya tersenyum seraya mengelus perut datarnya.

“Ada apa dengan suasana ini bukankah seharusnya kita bahagia?” Hee Chul menatap satu persatu anggota keluarganya.

Perlahan Cho Yu An mendekati Jae Ha, dia tersenyum sesaat sebelum dirinya memeluk Jae Ha yang hanya diam. “Terimakasih sayang. Kau tak pernah mengecewakan kami.”

Cho Yu An melepas pelukannya membuat Jae Ha menatap kedua mata Ibu mertuanya yang tak henti tersenyum padanya. “Tapi ini belum pasti, Eommoni.”

“Kita akan segera membawamu untuk melakukan pemeriksaan.”

Eomma…” Tae Hyung yang merasa diasingkan dibiarkannya sendiri tidur diblankar pasienpun beranjak dan menghampiri keluarganya.

“Tae Hyung-ah..” Pelukan hangat Cho Yu An menyambut kedatangan Tae Hyung.

Pria ini terlihat begitu bingung, dia menatap satu persatu anggota keluarganya yang juga menatap dia dengan tenang. Pandangan yang begitu bahagia. “Apa Tae Hyung akan mati, dia benar-benar mau membunuh Tae Hyung?” Tae Hyung tetap menuduh Jae Ha

“Tidak sayang, Jae Ha tidak melakukannya justru Jae Ha akan memberikanmu seorang anak.” Cho Yu An menjelaskannya penuh kebahagiaan.

“Untuk apa dia memberikan Tae Hyung anak, Tae Hyung tidak memintanya.” Tae Hyung memanyunkan bibirnya, Jae Ha terdiam mendengar perkataan Tae Hyung.

“Hee Chul-ah… bawa Tae Hyung pulang, ibu dan ayah akan membawa Jae Ha ke Dokter kandungan.” Cho Yu An hanya langsung meminta Hee Chul untuk membawa Tae Hyung pulang.

Hee Chul hanya menganggukkan kepalanya. “Tae Hyung-ah, ayo kita pulang sekarang.” Tanpa bertanya apapun lagi Tae Hyung menurut dan pulang bersama Hee Chul.

Sementara itu Kim Yong Kwang dan Cho Yu An segera membawa Jae Ha untuk menemui Dokter Kandungan untuk memeriksa apakah Jae Ha benar-benar hamil.

 

 

Setelah selesai melakukan pemeriksaan kini Cho Yu An dan Jae Ha duduk berhadapan dengan Dokter Kandungan sementara Kim Yong Kwang berdiri dibelakang. Cho Yu An begitu antusias ingin mendengar hasil tes dari pemeriksaan yang baru saja dilakukan Jae Ha sedari tadi dirinya terus memegang jemari Jae Ha karena dirinya merasa gugup sementara Jae Ha hanya diam namun jantungnya berdegub dengan kencang.

“Lalu bagaimana, Dok. Apakah menantu saya benar-benar sedang hamil?” Cho Yu An begitu tak sabar ingin mendengar hasil tes itu.

“Sepertinya Ibu sudah tidak sabar ingin menimang cucu.” Dokter wanita menggoda Cho Yu An membuat Kim Yong Kwang tersenyum dibelakang sementara Cho Yu An hanya tersenyum.

“Dari hasil USG memang benar nona Jae Ha sedang mengandung 8 minggu.” Cho Yu An tersenyum lebar mendengar penjelasan dari Dokter.

“Jae Ha-ah.. terimakasih sayang” Cho Yu An langsung memeluk Jae Ha bahagia sementara Jae Ha hanya membalas dan tersenyum tak percaya bahkan Kim Yong Kwang tersenyum dibelakang dan mengelus rambut Jae Ha lembut.

“Selamat ya bu atas kabar bahagia ini.” Dokter itu turut bahagia untuk Jae Ha.

“Lalu, mengapa suaminya yang merasa gejala-gejala itu?” Tanya Kim Yong Kwang

“Apa saja yang sudah dirasakan oleh suami andaJae Ha-ssi?”

“Tadi pagi, bangun tidur tiba-tiba Tae Hyung merasa sakit dibagian pinggangnya lalu dia merasa mual dan bahkan dia muntah aah… pagi ini dia mudah marah.”

“Sepertinya suami anda yang akan mengalami gejala-gejala atas kehamilan anda. Jadi tolong bersabarlah sedikit jika tiba-tiba suami anda marah-marah. Ketika seorang suami yang mengidam akan lebih sulit untuk mengontrol dirinya.” Jae Ha hanya menganggukkan kepalanya mengerti.

“Tetapi Dok, Tae Hyung berbeda dengan yang lain maksudnya dia memiliki keterbelakangan mental. Apakah ini bisa menurun ke anaknya?” Kim Yong Kwang mengkhawatirkan hal itu membuat Cho Yu An dan Jae Ha menatap dengan serius.

Ahh begitu rupanya. Selama kehamilan jangan lupa untuk mengonsumsi makanan dan minuman bergizi dan yang lebih penting sang ibu harus tetap stabil, nona Jae Ha tidak boleh stres. Jadi jangan mengkhawatirkan soal itu memang benar ada beberapa kasus yang terjadi tetapi anda tidak perlu khawatir selama nona Jae Ha bisa menjaga kandungannya dengan baik, saya yakin bayinya juga akan sehat (tanpa cacat).” Mereka hanya menganggukkan kepalanya mengerti.

Cho Yu An tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya lagi setelah mendengar penjelasan dari Dokter jika Jae Ha benar-benar sedang mengandung anak kandung Tae Hyung yang akan menjadi cucu pertama di keluarga Kim yang sudah dinanti-natikan sejak lama. Jae Ha-pun yang mengandung tentu saja dia bahagia sampai dia tidak bisa mengatakan apapun lagi bahkan dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain hanya terus tersenyum.

 

 

Kim Tae Hyung menyangga dagunya dengan kedua tangannya seraya menekan sedikit pipinya membuat bibirnya sedikit manyun, matanya tak lepas dari tingkah seekor anjing kecil dihadapannya. Kim Hee Chul yang melihatnya sendiri diruang tengah, iapun menghampirinya.

Aigoo… adikku tersayang kenapa terlihat begitu kusam?” Hee Chul hanya duduk disebelah Tae Hyung membuat pria ini langsung menolehnya.

Yak.. seharusnya kau bahagia, isterimu hamil. Chamhahahaha… aku tidak menyangka bocah sepertimu bisa menghamili seorang gadis, aku kalah. Aku benar-benar kalah” Dengan tawaan kasnya suara Hee Chul memenuhi ruang tengah.

Hyung mengapa Jae Ha belum pulang?” Tae Hyung yang kesepian mencari isterinya.

“Kenapa, kau merindukannya?” Hee Chul tak berhenti menggoda sang adik.

“Dia sudah tidak menyukai Tae Hyung lagi, dia benar-benar ingin meracuni Tae Hyung.” Hanya wajah sedihnya yang tergambar diwajahnya.

“Apa yang kau bicarakan. Dia tidak membencimu, dia tidak pernah membencimu. Jae Ha sangat menyukaimu.”

“Tidak, Jae Ha tidak menyukaiku lagi. Tadi dia marah sama Tae Hyung bahkan dia menangis padahal yang sakit itu Tae Hyung dia yang membuat Tae Hyung sakit, pinggang Tae Hyung sakit, perut Tae Hyung sakit, semua badan Tae Hyung sakit. Jae Ha ingin membunuh Tae Hyung.”

“Tae Hyung-ah, dengarkan Hyung baik-baik.” Dengan polosnya Tae Hyung langsung menatap Hee Chul dengan seksama. “Jae Ha tidak membencimu, dia sangat menyayangimu. Dia menangis bahkan marah padamu itu karena dia tidak suka kau disentuh wanita lain, tadi pagi bukankah kau meminta Yoon Ji untuk memijatmu?”

Hyung juga akan melarang Tae Hyung untuk bermain dengan Yoon Ji. Mengapa semua orang melarang Tae Hyung untuk bermain dengan Yoon Ji, dia teman Tae Hyung.”

“Benar, tetapi sekarang kau memiliki Jae Ha. Kau tidak bisa selalu bermain dengan Yoon Ji karena Jae Ha tidak menyukainya, dia akan terluka. Kau tidak mau melihat Jae Ha menangis, ‘kan?” Hanya gelengan cepat yang diberikan Tae Hyung “Maka dari itu, jika kau sakit pinggang lagi mintalah Jae Ha memijatmu, mengerti?”

“Jadi, Jae Ha tidak membenci Tae Hyung?”

“Tidak Tae Hyung. Sama sepertimu, Jae Ha juga menyukaimu. Bukankah kau menyukai Jae Ha?”

“Tentu saja, dia selalu mau Tae Hyung ajak main.”

Kim Hee Chul hanya tersenyum melihat adiknya ini tersenyum bahagia.

 

 

Jae Ha masuk kedalam kamar dengan membawa dua gelas susu putih dan juga buah-buahan segar. Jae Ha tersenyum mendapatkan Tae Hyung yang sudah menggunakan piyama tidurnya dan tiduran diatas ranjang dengan memainkan pesawat miliknya. Jae Ha mendekatinya dan menyimpan nampan yang berisi susu dan buah dimeja kecil samping tempat tidur.

“Tae Hyung-ah.. aku membawakan apel untukmu. Apa kau mau?” Tae Hyung menoleh kearah Jae Ha sebelum dia bangkit.

“Mana” Tangan kanannya ia ulurkan pada Jae Ha membuat wanita ini tersenyum lalu memberikan apel merah pada Tae Hyung tetapi Tae Hyung menolaknya dengan cepat. “Bukan itu.” Jae Ha mengerutkan dahinya tak mengerti. “Eomma bilang kau akan memberikanku anak, mana?”

Jae Ha tersenyum mendengar permintaan Tae Hyung, pria polos ini benar-benar membuat hari-hari Jae Ha dipenuhi dengan senyuman. “Jadi kau meminta anak padaku sekarang?” Jae Ha menggodanya

“Mana anak itu, kau berbohong bukan?” Tae Hyung meliriknya kesal seraya memanyunkan bibirnya.

“Tidak, aku tidak berbohong. Aku memang akan memberikanmu anak tetapi tidak hari ini, kau harus menunggu … 7 bulan lagi”

“Mengapa kau tidak bisa memberikannya hari ini. Jika kau ingin memberikannya padaku berikan saja sekarang jika tidak …” Tae Hyung tiba-tiba terdiam.

“Jika tidak ..??” Jae Ha menunggu

“Aku akan membencimu. Aku tidak akan bermain denganmu lagi.” Ancaman polos Tae Hyung membuat Jae Ha tersenyum. “Mengapa kau tersenyum?”

“Tae Hyung-ah, mana tanganmu?”

“Untuk apa kau meminta tanganku?”

“Kemarikan saja.” Meskipun masih terlihat ragu namun perlahan Tae Hyung mengulurkan tangan kanannya. Jae Ha meraihnya dan diletakkan pada perut yang beberapa bulan lagi akan membesar. “Disini. disini hidup anakmu, anak kita. Aku senang sekali karena aku bisa hamil anakmu, anak kita berdua. Aku bahagia Tae Hyung-ah.”

Jae Ha tersenyum lebar menatap kedua mata polos Tae Hyung, melihat Jae Ha tersenyum membuat Tae Hyung ikut tersenyum meskipun dirinya tidak mengerti apa yang dikatakan sang isteri. “Aku tidak suka ini. Bukankah kau tahu jika aku menyukai ini.” Jae Ha memekik terkejut ketika tiba-tiba Tae Hyung mengangkat tangannya dari perut Jae Ha dan beralih meremas dada kanannya.

Ahh… Tae Hyung-ah..” Desahan pertama lolos dari mulut Jae Ha.

Ahh… aku sangat menyukai ini.” Tae Hyung hanya tersenyum dengan memejamkan kedua matanya menikmati dada Jae Ha yang sangat ia sukai.“Jae Ha-ah.. berbaringlah kita akan mulai bermain.” Pinta Tae Hyung membuat Jae Ha terkejut.

“Tapi Tae Hyung, aku tidak bisa…

“Ya.. Ayolah.. eoh..” Kali ini Tae Hyung tak sekedar memohon dirinya langsung menarik Jae Ha naik keranjang dan langsung membaringkannya membuat apel yang sebelumnya berada ditangannya jatuh entah kemana.

“Aku akan melepas bajuku dulu.” Tae Hyung segera menindih Jae Ha kembali dan melepas piyama membuat Tae Hyung setengah telanjang.

“Tae Hyung… aku benar-benar tidak bisa, aku sedang hamil.”

Seperti tak mendengarkan permintaan sang isteri Tae Hyung langsung membuka paksa kaos Jae Ha. Berbohong jika Jae Ha tak menginginkannya juga terbukti ketika Tae Hyung membuka kaos miliknya, Jae Ha tidak menolaknya dan dengan pasrah ia membiarkan Tae Hyung melepas pakaiannya menyisakan bra berwarna putih ditubuh bagian atasnya.

“Ayo kita mulai.” Dengan semangat Tae Hyung langsung mendekatkan wajahnya pada dada Jae Ha yang semakin membesar. Selain karena Tae Hyung yang selalu memainkannya saat ini dirinya juga sedang mengandung.

Karena DVD yang selalu ia tonton membuatnya ahli dalam memanjakan isterinya. Tae Hyung mencium bibir Jae Ha tak sabaran, ia selalu mengecupi berulang-ulang bibir mungil Jae Ha sementara tangan kanannya dengan aktif meremas bagian dada kiri Jae Ha sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk meraba leher Jae Ha.

Ahh..  Tae aah….~”

“Jae Ha-ah.. mengapa kau tak menyentuhku. Kenapa kau hanya diam saja?” Tae Hyung protes karena Jae Ha sama sekali tidak menyentuhnya, kedua tangan Jae Ha hanya diam. Wanita ini terlalu sering pasrah dan membiarkan Tae Hyung bermain sendiri.

“Oh..”

“Kau harusnya menyentuh tubuhku seperti wanita difilm-film itu. Mereka menyentuh seluruh tubuh pria itu bahkan wanita itu memasukkan tangannya kedalam celana pria itu. Bukankah aku sudah bilang aku tidak suka kau hanya diam saja, kau juga harus bermain denganku seperti pasangan difilm itu.” Tae Hyung yang kesal langsung menyingkirkan tubuhnya tak lagi menindih Jae Ha, dia membelakangi Jae Ha sekarang.

Sementara Jae Ha yang masih terlentang dengan bagian atas yang hanya mengenakan bra terdiam. Dia menoleh kearah Tae Hyung, hanya punggung lebar yang ia lihat.

“Apa kau marah?”

“Aku tidak mau bermain denganmu lagi. Kau tidak menyenangkan.” Kesal Tae Hyung.

Jae Haterkekeh sebelum dirinya memiringkan tubuhnya menghadap Tae Hyung. “Apa kau ingin seperti ini?” Jae Ha memeluk Tae Hyungdari belakang, Tae Hyung merespon tubuhnya sedikit terperenjat terkejut. Jae Ha tersenyum, dia terus meraba perut Tae Hyung tak hanya meraba diapun mencium punggung Tae Hyung. “Aahh… geli.. geli Jae Ha-ahh.. ~~” Tae Hyung tersenyum dengan sedikit mendesah ketika tangan Jae Ha mengelus bagian dada Tae Hyung bahkan jari-jari kecilnya ia mainkan diputing Tae Hyung itu yang membuat Tae Hyung kegelian namun terasa nikmat.

“Apa kau masih marah padaku?”

Tae Hyung langsung membalikkan badannya menghadap Jae Ha.

“Tidak, aku tidak marah padamu.” Jae Ha tersenyum lalu tanpa basa-basi Jae Ha langsung mencium bibir Tae Hyung dengan mendorong pundak Tae Hyung agar suaminya terlentang. Dengan cepat Jae Ha melumat bibir Tae Hyung dengan tangan kanannya yang memainkan puting milik Tae Hyung.

Jae Ha memimpin permainan saat ini. “Hmmp… eugh…” Lenguhan nikmat Tae Hyung memenuhi kamar mereka. “Jae Ha..” Tae Hyung melepas tautan bibir Jae Ha.

“Biarkan aku juga bermain.”

“Lakukanlah, lakukan semaumu.” Jae Ha pasrah saat ini, dirinya memang selalu pasrah pada Tae Hyung.

Tae Hyung kembali menindih Jae Ha dan langsung memainkan dada Jae Ha kesukaannya. Begitu pula Jae Ha yang mengalungkan kedua tangannya pada leher Tae Hyung ketika pria ini mencium seluruh permukaan lehernya. Jae Ha meremas kuat rambut bagian belakang Tae Hyung ketika pria ini mulai menciumi leher sampai dada Jae Ha, dirinya tak berhenti membuka mulutnya untuk mendesahkan nama Tae Hyung.

Aahh… Tae Hyung … pelan-pelan…” Jae Ha mendesah kuat ketika dengan kuat pula Tae Hyung mengeluarkan payudara Jae Ha dari branya dan langsung menyesap kuat puting yang sedari tadi sudah mengencang. Tae Hyung menyesap kuat-kuat puting itu seperti seorang bayi yang menyusu pada Ibunya membuat Jae Ha menggelinjang tak kuat.

“Ini menganggu, cepat lepaskan ini.” Tae Hyung kesal dengan bra isterinya yang mengganggu aktifitasnya. Tanpa mengatakan apapun lagi Jae Ha langsung membuka branya sendiri dan membiarkan suaminya menyesap kembali putingnya.

Aah… Tae Hyung.. aku keluar ….”

“Apa kau pipis lagi?” Tae Hyung masih mengira pelepasan mereka adalah air kemihnya.

Tanpa mengatakan apapun Tae Hyung langsung memasukkan tangannya kedalam celana Jae Ha, basah yang ia rasakan.

“Benar, kau ngompol.” Jae Ha tersenyum sesaat sebelum mengangkat kepalanya untuk mengecup bibir suaminya.

“Biarkan aku buka celanamu” Tae Hyung beranjak dari tubuh Jae Ha dan langsung melepas celana Jae Ha termasuk celana dalamnya membuat isterinya kini telanjang sepenuhnya.

“Lihatlah, kau benar-benar ngompol” Tanpa rasa jijik Tae Hyung menyentuh bagian sensitif dari semua wanita termasuk Jae Ha. Memang seperti biasanya ketika Tae Hyung mengetahui jika Jae Ha basah dirinya akan langsung melepas celana Jae Ha dan membersihkan cairan itu dari vagina isterirnya.

“Tae Hyung … ah…. ~~” Tae Hyung tahu cara membuat isterinya terus mendesahkan namanya meskipun dirinya tak benar-benar tahu bahwa apa yang dia lakukan membuat isterinya mendesah.

Ahh.. aku tidak kuat, celanaku sudah sangat sempit.” Dengan terburu-buru Tae Hyung melepas semua celananya dan membuatnya juga telanjang sepenuhnya.

Tae Hyung kembali menindih Jae Ha dan langsung memasukkan miliknya pada Jae Ha membuat wanita ini kembali mendesah kuat. “Aahh.. kenapa susah sekali, kau selalu sempit. Pria di film itu terlihat mudah memasukkannya.” Kembali Tae Hyung protes namun dirinya tak berhenti berusaha untuk masuk kedalam pusat tubuh isterinya.

Aah.. Tae Hyungaahh~~” Desahan Jae Ha sebagai tanda bahwa kini Tae Hyung berhasil memasukinya.

Tanpa istirahat lagi Tae Hyung Dengan cepat menggoyangkan tubuhnya. “Tae Hyung-ah… pelan-pelan kau tidak boleh cepat-cepat. Kumohon, aku sedang hamil.”  Permohonan Jae Ha berhasil menghentikan Tae Hyung, pria ini mengangkat kepalanya menjauh dari leher Jae Ha dan menatapnya bingung.

“Lalu mengapa jika kau sedang hamil?”

“Jika kau terlalu cepat melakukannya aku takut anak kita akan sakit. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada anak kita.”

Tae Hyung menatapnya tak mengerti. “Kau bilang kau akan memberikan anak padaku 7 bulan lagi.”

“Anak kita masih didalam disini, dia hidup dirahimku. Jadi bisakah kau bermain dengan pelan, kau tidak maukan kehilangan anakmu, jika kita kehilangannya maka aku tidak bisa memberikanmu anak.”

“Jangan, aku mau anak. Kau harus memberikannya padaku, harus.”

“Maka dari itu, bisakah kau bermain pelan jangan cepat-cepat.” Hanya anggukan Tae Hyung menjawab permintaan Jae Ha.

Tae Hyung menurut dia hanya perlahan menggerakkan tubuhnya namun entah itu Jae Ha ataupun Tae Hyung merasa begitu tersiksa, wajah mereka begitu  pasrah.

Aah… ini tidak enak, aku tidak suka pelan.” Tae Hyung langsung menggerakkan kembali tubuhnya mencari kenikmatan yang ia cari dariwal.

Aah… Tae Hyung…” Jae Ha menjerit nikmat membuat.

Aahh… ini menyenangkan.” Tae Hyung tersenyum puas dan kembali menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher Jae Ha membuat wanita ini langsung menengadah keatas memberikan akses lebih untuk Tae Hyung.

Ahh.. cepat Tae Hyung .. cepatlah aku tidak kuat lagi aah.. ~~” Persetan dengan pelan-pelan, dia tidak bisa mengalahkan gejolak yang ada didalam dirinya, dia ingin Tae Hyung yang kasar ketika bermain diranjang.

“Aku mau pipis Jae Ha…”

“Aku juga Tae Hyungaaahh…..

Tae Hyung semakin cepat bergerak dipusat tubuh Jae Ha.

Aaahh….~~~”

Desahan mereka bersama ketika berhasil mengakhiri permainan ini. Tae Hyungmenatap Jae Ha dengan senyuman puas lalu ia kembali membaringkan kembali tubuhnya disebelah Jae Ha sementara gadis ini langsung mengambil selimut tebal untuk menutupi tubuh telanjang mereka.

Aahh.. ini menyenangkan. Aku sangat suka permainan ini.” Tae Hyung tersenyum sementara Jae Ha menatapnya juga ikut tersenyum.

Jae Ha memeluk Tae Hyung dari samping. “Apa yang kau lakukan. Kau ingin bermain lagi?” Tae Hyung benar-benar kecanduan.

“Tidak. Aku hanya ingin tidur seperti ini”

“Bisakah kita bermain lagi?”

“Tidak bisa Tae Hyung-ah, aku sangat lelah dan aku sudah mengantuk.” Jae Ha memejamkan kedua matanya

“Baiklah kalau begitu, kita tidur saja. Aku juga mengantuk.” Tae Hyung membiarkan Jae Ha tidur dengan memeluknya dan mulai memejamkan kedua matanya.

 

 

Malam berlalu begitu cepat, tanpa terasa matahari sudah mulai menerangi langit memudarkan cahaya bulan yang begitu terang ketika malam. Seperti biasa Jae Ha selalu bangun lebih dulu daripada Tae Hyung. Wanita yang sedang mengandung ini langsung membersihkan tubuhnya. Tak banyak waktu untuk Jae Ha membersihkan seluruh tubuhnya, setelah selesai dia langsung keluar kamar dan membiarkan Tae Hyung untuk tetap tidur lebih lama.

“Selamat pagi, Eommoni.” Sapa Jae Ha ketika melihat Cho Yu An sedang menyiapkan sarapan dibantu dengan Yoon Ji.

“Selamat pagi sayang. Bagaimana tidurmu semalam?” Setelah mengetahui menantunya sedang hamil Cho Yu An terlihat semakin menyayangi Jae Ha.

“Iya, aku sangat tidur dengan nyaman.” Jae Ha tersenyum lebar.

“Duduklah, aku akan membuatkan  susu untukmu.”

“Tidak perlu Eommoni. Aku bisa membuatnya sendiri.”

“Tidak, biarkan aku melakukannya untukmu.”

Jae Ha tersenyum lalu duduk seperti yang diminta Cho Yu An. “Terimakasih Eommoni.”

“Jae Ha….. Jae Ha…. kau dimana??” Teriakan Tae Hyung membuat Jae Ha beranjak kembali dari tempat duduknya.

“Bukankah itu Tae Hyung?”

“Jae Ha…..”

Jae Ha terkejut melihat Tae Hyung datang yang hanya menggunakan panty dengan rambut yang begitu berantakan.

“Ada apa Tae Hyung?” Jae Ha mendekatinya.

“Mengapa kau meninggalkanku sendiri, mengapa kau keluar tanpa memberitahuku?” Tae Hyung terlihat begitu kesal pada Jae Ha.

“Kau terlihat begitu lelap jadi aku tidak berani membangunkanmu.”

“Bukankah kau tahu jika Tae Hyung tidak mau sendiri.”

“Maafkan aku.”

“Ayo kita kekamar.” Tae Hyung mengajaknya kembali.

“Tunggu.” Cho Yu An menghentikan mereka “Kim Tae Hyung, dimana piyamamu. Mengapa kau tidak memakai piyama?” Jae Ha menundukkan kepalanya langsung. Dia tidak bisa mengatakan bahwa semalam mereka melakukannya lagi, dia bisa terkena marah Cho Yu An.

“Ada dikamar.”

“Apa pingganmu masih sakit?”

“Iya Eomma, pinggang Tae Hyung masih sakit tapi tidak sesakit kemarin. Jae Ha nanti kau harus memijatnya lagi.” Tae Hyung tersenyum lebar melihat Jae Ha yang hanya bisa memaksakan senyumannya.

“Apa semalam Jae Ha menindihmu lagi?” Jae Ha semakin tertunduk dengan memejamkan kedua matanya kasar dan Cho Yu An bisa melihatnya.

“Tidak, semalam hanya Tae Hyung yang menindih Jae Ha. Tetapi pinggang Tae Hyung masih sakit.” Jae Ha tidak bisa berbuat apa-apa lagi sementara Cho Yu An sudah memasang wajah kesalnya.

“Jae Ha, Tae Hyung. Kalian tidak bisa melakukan itu lagi, mengerti.”

“Melakukan apa yang Eomma maksud?”

“Jae Ha, mengapa kau menurutinya. Seharusnya kau menolaknya, itu bisa berbahaya untuk kandunganmu. Usia kandunganmu masih sangat muda, kau tahu.”

“Maafkan aku Eommoni.” Jae Ha menundukkan kepalanya merasa bersalah.

“Ada apa ini, mengapa pagi-pagi selalu berisik.” Kim Hee Chul datang bersama Kim Yong Kwang lengkap dengan perlengkapan kantor mereka.

Woo.. Kim Tae Hyung telanjang lagi. Apa kau tidak dingin?” Goda Kim Hee Chul

“Diam kau Kim Hee Chul. Ini semua karenamu, kau menyebabkan adikmu yang tidak tahu apa-apa kecanduan akan seks.” Kim Hee Chul terdiam mendapatkan kemarahan dari sang Ibu.

Eomma mengapa kau memarahi Jae Ha. Apa salah Jae Ha?” Kim Tae Hyung bertanya.

“Baiklah. Mulai malam ini sampai Jae Ha melahirkan Tae Hyung tidur bersama Hee Chul.” Cho Yu An dengan tegas memutuskan memisahkan Tae Hyung dan Jae Ha.

“Apa?”

Eommoni…”

“Mengapa Tae Hyung harus tidur dengan Hyung lagi?”

“Tidak ada yang boleh menolak keputusanku. Ini semua demi kebaikkan bayi yang sedang berada dikandungan Jae Ha.” Cho Yu An pergi begitu saja meninggalkan mereka yang masih terkejut.

“Tae Hyung-ah, lebih baik kita kekamar. Kau harus memakai bajumu.” Ajak Jae Ha sementara Tae Hyung hanya menganggukkan kepalanya menurut. Jae Ha menundukkan kepalanya hormat kepada Kim Yong Kwang sebelum dirinya pergi bersama Tae Hyung.

Waah… aku tidak menyangka jika Tae Hyung bisa kecanduang hal seperti itu.” Kim Hee Chul sulit mempercayainya.

“Ini semua karena ulahmu. Mengapa kau meracuni otak polos adikmu.”

“Tetapi dia berhasil membuat Jae Ha hamil, bukan. Hahahahaha…” Hee Chul kembali tertawa membuat sang Ayah terkekeh sebelum mereka duduk dimeja makan untuk segera menyantap sarapan pagi mereka.

 

 

Seperti yang diperintahkan Cho Yu An mulai malam ini Tae Hyung dan Jae Ha tidur secara terpisah. Awalnya Tae Hyung tak akan menuruti permintaan sang Ibu tetapi ketika menjelang mereka akan pergi tidur Cho Yu An datang untuk memastikan jika Tae Hyung sudah pergi kekamar Hee Chul. Tae Hyung maupun Jae Ha tak bisa lagi menentang kemauan Cho Yu An dan pada akhirnya Tae Hyung pergi kekamar Hee Chul meninggalkan Jae Ha seorang diri.

 

Dengan perlahan Tae Hyung masuk kedalam kamar Hee Chul yang tak terkunci. Dia masuk dengan membawa guling kesayangannya. Didalam kamar dia mendapatkan sang kakak yang sedang tiduran diatas ranjang dengan ponsel yang berada ditangannya sebelum dirinya melihat sang adik datang. “Tae Hyung, kau sudah datang. Tidurlah.” Dengan senyuman Hee Chul meminta Tae Hyung untuk segera berbaring disampingnya. Tanpa mengatakan apapun lagi, Tae Hyung menurut.

Aigoo.. malangnya adikku tersayang.” Hee Chul selalu tersenyum melihat sang adik yang terlihat tak nyaman berada diranjang sang kakak.

“Apa kau ingin tidur bersama Jae Ha?”

Eomma melarang Tae Hyung untuk tidur dengan Jae Ha.” Hanya wajah yang berkerut yang ditunjukan oleh Tae Hyung.

Yak…” Hee Chul segera memiringkan tubuhnya menghadap sang adik. “Apa kau sering bermain sebelum tidur dengan Jae Ha?”

“Iya, setiap kita tidur Tae Hyung selalu meminta Jae Ha untuk bermain terlebih dahulu.”

“Setiap hari?” Hee Chul terlihat tak percaya.

Anggukan kepala Tae Hyung menjawab pertanyaannya. “Aah.. tidak, kita tidak memainkannya ketika bagian bawah Jae Ha berdarah (menstruasi). Dia sering mengeluarkan banyak darah dibagian bawahnya jadi Tae Hyungtidak bisa memintanya untuk bermain, dia sakit.”

“Bagaimana rasanya, apakah permainan itu menyenangkan?”

“Tentu saja, Tae Hyung sangat menyukainya. Apa hyung belum pernah memainkan itu. Ahh… benar, kata Jae Ha permainan itu hanya bisa dilakukan oleh pasangan, hyung-kan tidak punya pasangan” Dengan tawa tanpa dosanya Tae Hyung menggoda sang kakak.

Hee Chul menghela nafas sebelum kembali berbaring terlentang. “Benar, aku belum pernah melakukannya. Aku benar-benar kalah darimu, Kim Tae Hyung. Kalah besar.”

Hyung. Mengapa eomma memisahkan Tae Hyung dengan Jae Ha?”

“Agar kalian tidak bermain itu lagi.”

“Bermain, apa maksudmu? Lalu, Tae Hyung harus bermain dengan siapa?”

“Tae Hyung, untuk saat ini kau tidak bisa bermain dengan Jae Ha sebelum tidur karena perbuatanmu itu bisa menggugurkan calon anakmu.”

Tae Hyung menatap tak mengerti. “Pokoknya kau tidak bisa bermain dengan Jae Ha lagi, jika kau terus bermain maka Jae Ha akan kesakitan. Apa kau ingin Jae Ha sakit?” Dengan cepat Tae Hyung menggelengkan kepalanya “Jadi mulai sekarang kau jangan bermain dengan Jae Ha sebelum tidur, mengerti.” Kembali Tae Hyung hanya menganggukkan kepalanya. “Cha.. sekarang tidurlah.”

Kim Hee Chul membenarkan selimut Tae Hyung yang mulai memejamkan kedua matanya setelah itu Hee Chul-pun mulai memejamkan kedua matanya, siap untuk tidur.

 

5 menit kemudian …

Tae Hyung membuka kedua matanya, dia memiringkan posisinya membelakangi Hee Chul dengan membawa guling yang sejak tadi ia peluk. Dia kembali mencoba untuk memejamkan kedua matanya.

 

10 menit kemudian…

Tae Hyung kembali memiringkan tubuhnya menghadap Hee Chul. Dia melihat sang kakak yang sudah terlelap tidur dengan mulut yang terbuka. Dirinya menggaruk-garuk kepala yang tak gatal dengan wajah kesalnya. Dia mencoba kembali memejamkan kedua matanya namun denan kasar Tae Hyung kembali membukanya.

“Aku tidak bisa tidur.” Tae Hyung bangun, dia melihat sekilas kearah Hee Chul yang tak terusik meskipun Tae Hyung sangat berisik. Tae Hyung bangkit dari tempat tidur membawa kembali gulingnya, dengan kaki yang ia jinjit perlahan keluar dari kamar Hee Chul.

Tae Hyung secara perlahan berjalan didalam rumahnya sendiri setelah berhasil keluar dari kamar Hee Chul yang berada dilantai bawah. Saat dirinya akan menaikki anak tangga untuk pergi menuju kamarnya tiba-tiba ada yang memanggilnya. “Tuan Tae Hyung?”

Tae Hyung terperenjat terkejut sebelum dirinya membalikkan badannya, menoleh kearah sumber suara. “Oh.. Yoon Ji-dda..” Tae Hyung terlihat senang melihat Yoon Ji memanggilnya dan langsung menghampiri gadis itu.

“Apa yang tuan lakukan disini. Bukankah seharusnya tuan sudah pergi tidur?” Yoon Ji bertanya heran.

“Tae Hyung tidak bisa tidur dikamar hyung jadi Tae Hyung kabur hihihi” Tae Hyung menjawabanya diakhiri dengan cengirannya.

“Apa tuan mau Yoon Ji ambilkan minum?” Hanya anggukan cepat yang diberikan Tae Hyung membuat Yoon Ji tersenyum. “Baiklah, lebih baik tuan duduk dulu saya akan mengambilkannya untukmu.”

Tae Hyung menurut, dia duduk disofa menunggu Yoon Ji mengambilkan air untuknya.

“Ini tuan, silahkan diminum.” Yoon Ji datang dengan segelas air putih untuk Tae Hyung. Pria polos ini hanya mengambilnya dan langsung menghambiskannya. “Ini Tae Hyung sudah menghabiskannya.” Dengan senyuman lebar dibibirnya Tae Hyung memberikan gelas kosong pada Yoon Ji, kembali Yoon Ji hanya tersenyum.

“Yoon Ji-ah.. sebenarnya Tae Hyung sedih karena Tae Hyung tidak punya teman bermain lagi.”

“Apa maksud tuan. Tuan memiliki nona Jae Ha.”

Eomma, Appa dan Hyung melarang Tae Hyung untuk bermain dengan Jae Ha lagi. Jika bukan dengan Jae HaTae Hyung harus bermain dengan siapa?” Tae Hyung terlihat begitu sedih.

“Yoon Ji. Tuan bisa bermain bersamaku.” Tae Hyung menatap Yoon Ji intens sementara gadis ini hanya tersenyum.

“Apa kau bisa memainkannya?”

“Bisa, Yoon Ji bisa bermain semua jenis permainan bahkan Yoon Ji bisa bermain baduk.” Dengan bangga Yoon Ji memamerkannya.

“Tetapi Jae Ha akan marah jika Tae Hyung bermain dengan Yoon Ji.”

“Tidak akan. Kita hanya bermain, mengapa harus marah?”

“Benarkah?” Anggukan kepala Yoon Ji membuat Tae Hyung tersenyum.

“Kalau begitu kemarilah.” Tae Hyung langsung menarik tangan Yoon Ji agar duduk disampingnya, Yoon Ji hanya diam dan tersenyum.

“Pertama-tama aku akan melepas pakaianku, kau juga.” Dengan semangat Tae Hyung melepas pakaiannya sementara Yoon Ji terdiam membolakan kedua matanya, dia terkejut. Gadis ini menelan ludahnya sendiri ketika melihat Tae Hyung yang kini sudah setengah telanjang.

“Mengapa kau belum membuka bajumu?”

“Ya?” Sepertinya Yoon Ji tidak tahu permainan yang dimaksud majikannya ini. Gadis ini hanya menatap Tae Hyung menganga.

“….”

 

 

 

Bersambung ….

84 thoughts on “Idiot’s Love : I, You and We Part 1

  1. wah Tae hyung polos gitu Jae ha bisa dibuat hamil. duh Heechul kerjaannya membuat Tae hyung ketagihan bermain sebelum tidur. apa Yoonji bakal memenuhi permintaan Tae hyung lalu bagaimana dengan Jae ha😉😉

    Suka

  2. Omaygattt omaywoooowww, aduduuuuuhhh taehyuuung 😂😂😂😂😄😄😄😄
    Thorr, aku ngakaakkk banget baca ff kamuu. Daebakk..!
    Anti mainstream, dan aku beneeerrr2 jatuh cinta sm kepolosan V dsini. 😍😍😘😘😘
    Keep write thor..!
    Ditunggu sekaliii next chapt nyaa. Hehhe

    Suka

  3. Hahaha.. Akhirnya.. Terjawab sudah siapa itu Yoonji.
    Eh? Ini Taehyungnya yang terlalu pengen atau terlalu polos?? Ahahaha.. Yoonji juga,, jangan dong..
    Please thor.. Jadiin Jaeha lewat terus liat mereka atau apa kek gitu.. Asdfghjkl

    Suka

  4. tae hyung polosnya kwtwrlaluaaannn.. jangannn sama yoon jiii andwaeeeeee T.T kesian jae ha pliss ada yg mergokin plis biar ga kwjadian

    Suka

  5. Tolong siapapun hentikan ini.
    Duh ini yang terlalu polos siapa sih. Astaga tepuk jidat aku bisanya.
    Ini tidak benar, Jae Ha kalo liat ini pasti sakit hati.
    Itu bang Hee Chul bener2 bikin adiknya ketagihan dasar hahaha ngalahin bang Eunhyuk 😂

    Suka

  6. Apa yang akan terjadi pada taehyung dan yoon ji apakah mereka akan mrmainkannya…..
    Jangan ….semoga saja ada yg menggagalkannya.

    Suka

  7. Apa iya taehyung bkalan main kuda2an ama yoon ji…
    jangan!!!!
    Itu cman bs dimainin ama jae ha aja tae…
    g ama orang lain…

    Suka

  8. ah…. jangan… tae jangan lakukan itu kasian jae ha.

    greget jadi nya. jangan sampe jangan sampe. penasaran kelanjutannya.
    aku g mau jae ha sedih.
    jangan sampe. semoga konflik nya ringan ga rumit juga.
    semangat ka mulusnya

    Suka

  9. Oh tidak!!
    Bagaimana ini?
    Taehyung apa yang kau lakukan?
    Seseorang, tolong hentikan mereka..
    Duh, yoojin ini polos / ogeb sih bisa nggak tahu maksud taehyung gitu..
    Next author

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s