Sunflower


image

Author : Oh Eonnie

Title : Sunflower.

Poster by: LATTEPARK Art

Category: NC-17, Yadong, Family-life, Sad, Oneshot.

Cast:

• Oh Sehun

• Oh Seulbi

• Kim Hani (Seulbi’s Mother)

Summary: “Kenangan adalah di suatu akhir yang tidak terlupakan awalnya. Ketika segala sesuatu yang pahit di masa itu, menjadi sesuatu yang indah bila waktu dapat kita ulang. Sedetik pun masa itu, sangat manis hingga menyayat hati. Hati yang pernah rasakan manis pahitnya suatu masa kebersamaan. Kejadian di balik hidup dan segala sesuatu yang indah akan masa itu hanya dapat kita ratapi melalui rindu ini.”

Recommendation Song:

• [Colaboration] – Soyou (Sistar) x Baekhyun (EXO) – Rain

• [STATION] – Kim Junmyeon (Suho EXO) – Curtain

• EXO – Heaven

Terimakasih sebanyak mungkin buat readers yang baik hati sudah berkenan untuk membaca postingan ff ku ini. Aku masih penulis amatiran yang belum bisa nandingin kehebatan authornim yang sudah berpengalaman dalam menulis ff NC, jadi mohon dimaklumi jika ceritanya ini aneh dan absurd ya, readers.

Cerita ini hanya sebuah karangan. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh, judul dan yang lainnya, karena itu semua unsur ketidak sengajaan. Maaf juga kalau banyak kesalahan dalam penulisan.

Jangan berharap NC lebih ya adek-kakak cantik. Aku kurang jago membuat scene NC.

                   •••Happy Reading•••



_____________Sunflower_____________

Sebuah misteri yang menghampiriku dengan wajah malaikat, kehangatanmu, kelembutanmu, selalu terbayang dalam pikiranku…

Dulu, aku akan memelukmu erat, memberikan hati dan jiwaku padamu, karena kau segalanya dalam hidupku, seumur hidup…

Tapi itu dulu, sebelum kau pergi meninggalkanku  bersama buah hati kita menyisakan kepulan asap kesedihan…

Tapi, aku tahu tidak semua kisah cinta berakhir bahagia dan manis, ini takdir Tuhan yang diberikan kepadaku…

Terimakasih, Sayang, karena cinta ini yang membuatku sadar, cintaku yang tidak akan berakhir, selamanya…

I love you, Honey…, today, tomorrow and forever.

Air mancur berbentuk malaikat peri itu mengalir deras mengelilingi rumah megah nan mewah yang sangat indah di kota Busan. Rumah megah dengan taman yang luas dengan gemerlap lampu terang benderang menjadi saksi bagaimana kekayaan keluarga yang tersohor di kota itu menjadi duplikat kesejahteraan yang diterimanya.

Suara derap langkah kaki yang beradu pada marmer batik itu tergesa-gesa  membawanya memasuki pelataran rumah keluarga Oh dengan perasaan gelisah. Sehun yang bahkan tidak peduli tentang lelah di tubuhnya, langsung lari dan kejutanpun datang menghampiri. Sambutan ibunya lengkap dengan pandangan kesal juga gelengan kepala pelannya itu berdiri menjulang. Sehun sudah menduga, ibunya pasti tengah menunggu dirinya dengan amarah yang siap meletup-letup kapan saja. Menceramahi ini dan itu yang membuat kepala Sehun terserang pening mendadak.

“Kemana saja?” tanya Nyonya Oh yang begitu kesal seperti ia tidak terlalu tertarik untuk menanyakannya. Melirik jam dinding besar yang terpasang di salah satu sudut ruang utama keluarga Oh, Sehun yang mengikuti arah pandang ibunya, membuang nafas lelah dengan kedua bahunya yang turun. Sehun menyadari, lelah yang terasa di tubuhnya tak sebanding dengan kekecewaan putrinya itu.

“Maaf, aku terlambat, Ibu…” kepalanya tertunduk menyesali perbuatannya. Ini kesalahannya yang harus ia terima dan pertanggungjawabkan. Entah itu ketidaksengajaan yang ada, Sehun sampai melupakan hari ulang tahun putri kecilnya.

“Jangan minta maaf padaku, tapi minta maaflah kepada putrimu.”

“Seulbi sudah tidur?” tanyanya mendekat dengan langkah perlahan dan kepala tertunduk.  Sebelah tangannya yang kosong, mulai Sehun gerakkan untuk memijat salah satu bahunya yang terasa pegal.

“Ya, setelah selesai menangis, dia langsung tertidur karena seharian penuh menunggumu,” sindir Nyonya Oh tidak peduli pada bagaimana usaha anaknya untuk bisa segera pulang dan memenuhi janjinya. Sehun memang memiliki kebiasaan selalu mengingkari janji, tidak satu atau dua kali. Pria tampan berstatus single parent seperti itu, bahkan pernah satu minggu lebih ia tidak pulang ke rumah, membuat Seulbi selalu menangis setiap malam.

“Seulbi menungguku?”

“Hm,” timpal Nyonya Oh cepat masih dengan raut kesalnya hingga Sehun makin merasa bersalah.

Sehun membanting tubuhnya pada sofa ruang utama kediamannya. Dia mengistirahatkan tubuhnya. Menutup matanya yang memang ingin tertutup sejak siang tadi. Nyonya Oh yang kasihan melihat putra bungsunya langsung duduk di sebelahnya sambil memijit kening putra tersayangnya itu.

“Lain kali, jika tidak bisa menepati janji, tidak usah berjanji, Nak. Kau bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya,” Ibunya mulai mengomel lagi dengan tanganya terus memijit kening Sehun.

“Aku sudah berusaha untuk pulang cepat, Bu. Tapi pekerjaanku yang membuatku begini. Ahh, ya di situ, Bu…”

“Berhenti saja, jika begitu.”

“Gila! Bagaimana aku menghidupi putriku nanti?”

“Akhhhh sa..kiiittt, Bu!” gemas atas perkataan putranya, Nyonya Oh langsung meremas rambut itu dengan remasan cukup kuat. Terbukti erangan Sehun yang kesakitan.

“Jika tidak ikhlas, tidak usah memijitku,” kesal Sehun menatap ibunya yang juga tengah menatap dirinya, kesal.

“Kau ini seorang Direktur Utama OS Departemen Store Holding. Kau tinggal duduk manis menunggu uang datang padamu. Apanya yang susah?”

“Ibu pikir menjadi direktur semudah itu? Menjadi direktur tidak hanya duduk manis seperti yang ibu katakan, tapi kerja keras kita bagaimana memimpin perusahaan dengan baik dan stabil, meningkat pesat setiap tahunnya, mendapat keuntungan setiap bulannya,” Sehun tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya ini. Mana bisa begitu, dirinya harus duduk manis sambil menunggu uang datang padanya, sementara bawahan yang bekerja tanpa pemimpin yang mengatur mereka. Huh, yang benar saja. Jika Sehun berpikir seperti itu bisa-bisa perusahaannya akan langsung gulung tikar.

“Kau ini benar-benar seperti mendiang ayahmu. Gila kerja,” cetus Nyonya Oh memandang kesal Sehun. “Apa kau tahu, aku dan Sunghwa (kakak ipar Sehun) harus membujuknya agar dia mau melanjutkan pesta ulang tahunnya. Dia kecewa padamu Sehun.”

“Aku akan minta maaf padanya.”

“Percuma. Dia sudah marah padamu.”

“Bisakah Ibu tidak membuatku stres?” kesal Sehun. Dadanya naik-turun, melirik ibunya yang berada di sampingnya. Kesal sudah pasti. Wajah ibunya itu tampak nyalang pada dirinya. Seakan menggambarkan ketidaksukaannya secara terang-terangan. Pandangan kesal, sedih dan iba yang diperlihatkan ibunya membuat Sehun tidak suka, “Berhenti memandangku seperti itu, Bu. Apa yang Ibu pikirkan?”

“Kau sudah memikirkan ucapan Ibu seminggu lalu? Tentang…”

“Berhenti, Bu. Aku tidak mau mendengarnya,” potong Sehun lantas berdiri dan menghindar secepat yang dia mampu. Sehun menarik nafas dalam. Inilah yang ia takutkan, setiap kali pulang ia selalu merasa cemas jika suatu saat ibunya mempertanyakan sesuatu yang ia hindari. Sehun lebih baik pulang larut malam atau bahkan lebih memilih tidur di kantor, daripada mendengar perkataan ibunya yang tidak masuk akal.

“Aku tidak akan menikah lagi,” Sehun melangkah pergi meninggalkan ibunya yang memancarkan kekesalan di sana. Berkeinginan menilik putri kecilnya di lantai atas, tapi baru beberapa langkah kakinya itu naik, segera terhenti karena teriakan ibunya.

“Jangan kekanakan! Ini sudah 6 tahun lebih, Oh Sehun!”

Sehun membuang napas kasar sebelum menjawab teriakan ibunya. “Lalu kenapa jika ini sudah 6 tahun lebih, Bu? Bukankah sudah kubilang berapa kali, aku tidak akan menikah lagi!”

“Ibu hanya ingin melihatmu bahagia dan juga cucuku.”

“Aku sudah bahagia dengan Seulbi, aku tidak butuh istri, dan Seulbi tidak butuh ibu, kami bahagia berdua,” Sehun melanjutkan langkahnya itu, menaiki tangga satu per satu.

“Jika kau berpikir tidak butuh istri dan bisa mengurus dirimu sendiri, maka baiklah ibu tidak akan mengungkit masalah itu lagi. Tapi setidaknya pikirkan putrimu. Dia butuh seorang ibu,” jelas Nyonya Oh sembari berdiri dan Sehun sudah memutar matanya malas meladeni perkataan ibunya itu. Bahkan dengan pikiran yang licik nama Seulbi yang mulai dibawa-bawa dalam pembicaraan yang tidak pernah ada ujungnya, Sehun tidak peduli, ia berjalan naik lagi ke atas.

“Seulbi butuh figur seorang ibu, Oh Sehun! Seulbi butuh ibu!”

Langkahnya lagi-lagi terhenti. Sehun menatap tajam wanita paruh baya di sana. Astaga, kenapa ibunya teguh dengan keinginannya itu. “Bisakah Ibu tidak memaksaku? Aku lelah, Ibu selalu menekanku untuk menikah. Ibu selalu mempersulitku mencari ibu untuk Seulbi. Seulbi tidak butuh ibu. Dia baik-baik saja. Aku akan membahagiakannya,” ucap Sehun akhirnya.

“Dasar keras kepala!” Nyonya Oh gantian memijit keningnya sendiri. Otaknya pusing melihat anaknya itu bagai hilang tanpa arah. Hani, Hani dan Hani. Itulah yang selalu ada di pikiran putranya.

“Baiklah, hingga saat ini memang Seulbi baik-baik saja. Kau beranggapan dia bahagia bersamamu, tapi coba bayangkan jika kau bepergian seperti yang selama ini terjadi, dan bagaimana satu hari menjelang ulang tahun putrimu, kau tidak bisa dihubungi sama sekali, atau… bagaimana jika terjadi hal buruk? Bayangkan jika Ibu sakit dan tidak bisa menjaganya seperti sekarang, lalu siapa yang akan menjaga putrimu? Siapa yang akan menemani putrimu? Siapa yang akan bersamanya? Pikirkan itu, Nak.”

“Ibu…” Sehun memegang erat rolling tangga sampai menjadi kuku jarinya memerah. Ia tengah menahan emosi.

“Kau sering bepergian dan Seulbi sendirian di rumah. Bahkan meskipun kau tidak bepergian ke luar negeri untuk pekerjaan, seharian kau berada di kantor. Hanya ada Ibu, Sunghwa, dan Jisung yang menemaninya. Bahkan meskipun ada kami, Seulbi masih merasakan sendiri. Setidaknya, jika kau memiliki istri maka akan ada yang menjaga Seulbi tanpa kau perlu kebingungan tentang siapa yang akan menjaganya. Seulbi tidak akan merasa sendiri, terkucilkan seperti orang asing. Akan ada yang menemani Seulbi dan merawatnya. Kau masih muda, pasti banyak yang berkeinginan mendampingimu.”

Sehun memejamkan mata, seperti meresapi satu per satu kata yang dilontarkan ibunya itu. Hati tidak bisa dipaksa dan Sehun merasakan saat ini. “Tapi sayangnya aku tidak ingin, Bu.”

“Jangan egois! Seulbi butuh ibu, Sehun,” Nyonya Oh tahu betul tidaklah mudah menjadi single parent bagi sebagian orang. Sejak Seulbi lahir sampai beranjak besar hingga usia 6 tahun, Sehunlah yeng merawat, menjaga, dan melindunginya. Ayah muda yang siap siaga 24 jam hanya untuk putri kecilnya, Oh Seulbi. Tapi, hanya satu yang menjadikan keprihatinan Nyonya Oh kepada putranya, Sehun selalu terbayang mendiang istrinya, Kim Hani.

“Ibu tolong…,” Sehun memanggil wanita di hadapannya lebih pelan dengan langkahnya berbalik, menuruni anak tangga itu, menghampiri ibunya. Dengan kedua tangan yang ia letakkan pada bahu ibunya hingga segala ucapannya tentang hal seperti tadi terhenti. “Aku dan Seulbi baik-baik saja, aku yakin.”

“Berpikir dewasalah, Oh Sehun!” sungut Nyonya Oh. “Kau dan Seulbi  tidak baik-baik saja. Kalian butuh wanita dalam hubungan kalian. Kau membutuhkan istri dan Seulbi butuh figur seorang ibu. Di samping itu, ini adalah keinginan ibu. Kau menjadi pria sempurna dengan Seulbi memiliki ibu. Kalian bisa menjadi keluarga lengkap, seperti orang lain.”

“Seulbi memilikiku sebagai ayahnya. Ibu sebagai pengganti Hani yang bisa menyayanginya layaknya ibu menyayangi aku. Sunghwa Noona sebagai bibi yang baik, menasehati Seulbi seperti ia menasehati anaknya, Jisung. Lalu apa lagi?”

“Kami tak selamanya bersamamu, Nak. Terlebih ibu sudah tua, tak selamanya hidup, Nak. Suatu saat ibu juga akan menyusul mendiang ayah dan istrimu,” Sehun tertegun mendengarnya. Hidup tidak selamanya abadi, ada hukum alam tertera; jika ada kelahiran pasti ada pula kematian. Sehun menyadari hal itu.

“Lupakan Hani, Nak. Mulailah kehidupan barumu dengan wanita lain. Lupakan Hani dan bangunlah hubungan dengan wanita lain yang membuatmu menjadi sosok pria sempurna, carilah ibu untuk Seulbi, putrimu butuh sosok figur itu.”

Sehun terkekeh kecil, menertawakan ucapan ibunya. Pria sempurna? Bahkan kini hidupnya memang tidak sempurna lagi setelah Hani meninggal. Seperti halnya piring yang jatuh dan pecah. Apakah bisa diperbaiki menjadi utuh seperti semula? Itu mustahil, bukan?

Tulang rusuknya sudah hilang sebelah, hanya tinggal satu tulang rusuk yang memperkuat dirinya. Dan itu adalah Seulbi, putri kecilnya. Seulbilah yang menjadi penyemangat Sehun hingga saat ini. “Tidak akan pernah ada yang menggantikan posisi Hani, Bu. Istriku hanya Hani. Ibu Seulbi hanya Hani. Selain itu tidak ada dan aku tidak akan pernah mengkhianatinya. Tidak akan!” Sehun berbalik hendak beranjak pergi kembali. Tapi tertahan karena suara teriakan ibunya.

“Hani sudah pergi meninggalkanmu, Oh Sehun! Dia sudah meninggal!”

“Ibu kau…!”

“Hani sudah meninggal, Nak! Sadarlah!” Nyonya Oh menatap putranya geram. Menangkup wajah Sehun dengan kedua tangannya berharap bahwa pandangan lurus yang kini tengah terjadi diantara mereka bisa membuat Sehun sadar dan paham akan keadaannya saat ini. Kontak mata yang mereka lakukan menimbulkan semburat merah di mata mereka seakan mengartikan kesedihan dan kemarahan diantara keduanya. “Ibu Seulbi itu sudah meninggal dan tidak seharusnya kau menjalani hidupmu seperti dia masih hidup hingga kau selalu membawa namanya. Hani sudah tenang di alam sana, tidak seharusnya kau meratapi kepergian Hani lagi. Dia sudah meninggal, Nak. Apa kau tak kasihan pada Seulbi? Pikirkan anakmu. Pikirkan Seulbi dan tanya padanya, apakah dia tidak iri pada teman-temannya yang memiliki ibu? Apakah dia tidak iri selalu diantar-jemput oleh ibunya? Apakah dia tidak iri ketika teman-temannya membawa bekal buatan ibunya? Apakah dia tidak iri saat teman-temannya menceritakan tentang ibunya? Tidakkah kau ingin membuat Seulbi merasakan hal yang dirasakan oleh teman-temannya?”

“Ibu, tolong berhenti,” Sehun menggeleng dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “Aku mohon, Bu, jangan paksa aku untuk menikah lagi. Aku sudah bahagia bersama Seulbi. Aku tidak butuh wanita lain untuk menjadi pengganti Hani. Tidak! Sedikitpun aku tidak berniat menggantikan sosok Hani dengan wanita lain. Bagiku sudah cukup, aku hidup seperti ini dengan putriku. Aku tidak butuh sosok wanita yang menggantikan dan menempatkan sosok seorang ibu untuk Seulbi. Aku mencintai ibu Seulbi tulus dengan separuh jiwaku. Hidup atau mati aku akan tetap mencintainya dan tidak akan mengkhianatinya. Jadi, kumohon, Bu, jangan paksa aku lagi.”

“Sehun-ah…” mendengar perkataan yang dikeluarkan Sehun begitu menyayat hati ibunya. Begitu besarkah rasa cinta yang dimiliki putranya kepada sosok seorang Hani, ibu yang melahirkan cucunya, Oh Seulbi.

“Ibu jebal…,” Sehun bahkan bersimpuh di kaki wanita yang melahirkan dirinya hanya untuk tidak menuruti perkataannya. Pada saat itulah, Nyonya Oh melangkah pergi dengan perasaan pedih yang amat dalam. Sehun menatap nanar ibunya yang pergi menjauh. Hatinya juga sakit, setiap menjemput pulang Seulbi, selalu berpapasan dengan keluarga sempurna, utuh. Dia iri? Tentu saja. Tapi, harus bagaimana lagi? Ini sudah takdir yang harus Sehun jalani. Tidak ada yang bisa menentang takdir yang Tuhan berikan.

••••••••

Sehun terdiam menatap tirai jendela yang bergerak pelan tertiup angin. Ia mengenggam erat kedua tangannya, menunduk dan memejamkan matanya. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, lalu dikeluarkan perlahan melalui mulutnya. Ia terkekeh pelan, membuka matanya, dan kembali menatap tirai yang bergerak itu.

Oppa berjanjilah, jagalah putri kita dengan sepenuh hatimu. Jangan membuatnya menangis, karena itu sama saja oppa menyakitiku.’ Kalimat yang pernah Hani ucapkan itu kembali terngiang di telinganya bersamaan dengan angin yang berhembus lebih kencang, menerbangkan kertas-kertas di meja Sehun yang kebetulan letaknya berdekatan dengan jendela.

“Aku merindukanmu…,” Sehun mengacak rambutnya frustasi, kenapa Hani selalu muncul di pikirannya. Belum lagi bayangan wajah mendiang istrinya yang tersenyum, membuatnya benar-benar frustasi.

Sehun beranjak mengambil jaket, dompet dan kunci mobilnya. Ia butuh udara segar untuk menenangkan hati juga pikirannya. Melihat Seulbi yang tadi meringkuk seperti janin dengan  mata sembabnya membuat hati dan pikirannya kalut tak karuan.

“Mau kemana?” sebuah pertanyaan ibunya lontarkan saat melihat Sehun terburu-buru keluar dari kamarnya. Pria tampan berkulit putih itu sibuk memakai jaketnya, tidak menghiraukan pertanyaan ibunya membuat wanita paruh baya itu bersedekap. Acara berita dimana wartawan wanita itu menyampaikan berita hangat yang sedang diperbincangkan tidak ia hiraukan, malah mengamati dan memperhatikan gerak-gerik putranya itu.

“Sudah malam, sebaiknya istirahat. Angin malam tidak baik untukmu,” nasehat Nyonya Oh tidak dihiraukan Sehun sama sekali. Wanita paruh baya itu membuang napas kasar, melihat tingkah pria 26 tahun itu yang hanya diam, tanpa menjawab perkataannya.

“Oh Sehun, apa kau mendengarkan ibu?” teriak Nyonya Oh kesal. Sudah cukup kesabaran wanita itu pada anak laki-lakinya. Semakin hari, tingkah Sehun semakin menyimpang. Kata menyimpang bukan dalam artian negatif tapi menyimpang karena tingkahnya itu tidak seperti dulu, pulang tepat waktu ataupun hanya untuk sekedar melihat putrinya di rumah.

“Aku mau membeli hadiah untuk Seulbi,” Sehun akhirnya berkata sebelum beberapa menit sebelumnya melakukan aksi diamnya.

“Bahkan kau lupa membelikan hadiah untuknya. Ayah macam apa kau ini, Nak?” Sehun tidak menjawab. Ia kembali mengikat tali sepatunya lalu beranjak pergi.

Sehun terdiam dan memejamkan matanya saat hendak membuka pintu, ‘Ayah macam apa kau ini, Nak?’ perkataan yang baru saja dikatakan ibunya itu terngiang begitu menusuk, tepat di jantungnya. Sehun sadar, ia memang bukan ayah yang baik. Tapi, ia akan berusaha sekuat jiwa raga untuk membahagiakan Seulbi. Itulah tekadnya.

••••••••••

“Seulbi tidak mau diantar Daddy,” gadis kecil berkucir kuda itu meletakan sendok dan garpunya agak keras menimbulkan dentingan yang nyaring membuat baik Nyonya Oh dan pria berjas itu tersentak. Sudah ditebak putrinya itu pasti marah. Sehun memejamkan matanya.



“Honey…?” lirihnya.



“Daddy jahat! Daddy tidak sayang Seulbi lagi,” spontan, tanpa penjedaan, gadis kecil itu menatap kesal ayahnya.



Sekilas Sehun dapat melihat wajah Seulbi saat mengatakan itu terpampang jelas di pikirannya. Mimik wajahnya berbeda. merah padam seperti menahan amarah. Tanpa sadar Sehun melempar pandangan tepat ke arah ibunya. Dia menggelengkan kepala pelan seakan-akan mengatakan, “Sudah, tak perlu ditanggapi, biar ibu yang berbicara.”



“Tidak seperti itu sayang. Daddy pulang telat semalam dan tidak menemanimu itu karena pekerjaan kantor sangat banyak. Seulbi kan tahu,  Daddy itu seorang raja. Apa Seulbi masih ingat, tugas seorang raja itu seperti apa?” Nyonya Oh menasehati cucunya. Karena sadar atau tidak, ada perasaan kasihan pada anak laki-lakinya itu yang menatap nanar wajah Seulbi. Cucu cantiknya yang ia rawat sampai sebesar ini sudah bisa mengeluarkan segala macam emosi untuk rata-rata anak seusianya.



“Tapi, Daddy mengingkari janji, Nek. Bukankah kata nenek mengingkari janji itu tidak baik.”



“Daddy tidak mengingkari janji sayang? Daddy bahkan pulang tengah malam dengan lelah yang mendera hanya demi Seulbi, malam itu Seulbi sudah tidur, jadi Seulbi tidak melihat. Semua yang daddy lakukan itu semua demi Seulbi. Daddy tidak mau mengecewakan Seulbi,”

Sehun terenyuh. Saat ibunya mengatakan hal seperti itu, ia hampir menangis. Air mata sudah membayang di pelupuk mata dan siap jatuh kapan saja tanpa komando.  Tapi ia masih mempertahankannya. Beruntung Sehun bisa mengendalikannya dengan cara menundukan kepalanya seakan tengah makan dengan hikmat.



“Baiklah Nenek. Seulbi mau diantar Daddy,” Akhirnya Seulbipun setuju, walau harus dinasehati panjang lebar terlebih dahulu.



“Nah, itu baru cucu nenek yang cantik,” Nyonya Oh menangkup pipi tembam cucunya gemas, membuat Seulbi tersenyum tipis.



“Ibu, kami berangkat dulu,” Sehun pamit memberi salam pada Nyonya Oh. Seulbipun hanya mengangkat alis kanannya dan memalingkan wajah, mendahului Sehun yang berdiri menunggunya. Sehun menghela napas sebelum ikut pergi menyusul putrinya itu.

“Masih terlalu pagi untuk melamun Direktur Oh!” tegur seorang pria membuat Sehun tersadar dari lamunannya. Sehun mendongakkan kepalanya menatap pria manis yang berdiri menjulang di depannya.

“Ckk, ternyata kau, Hyung,” Sehun mendesis acuh, tidak berkeinginan meladeni sahabat yang sudah dianggap seperti kakak kandungnya sendiri.

“Wah…, ada apa dengan Direktur Departemen Store Holding ini. Aku dengar putrimu kemarin merayakan ulang tahun, harusnya kau bahagia, kan? Kenapa malah wajah murung yang kau perlihatkan?” Sehun hanya diam, Luhan duduk di sebelahnya.

“Apa jangan-jangan kau berkeinginan menikah lagi, tapi kau takut putrimu tidak setuju. Begitu, kan?” tambahnya dengan nada menggoda.

“Ck! Aku stress sekarang, tolong jangan menggodaku, Hyung. Kalau kau tidak ingin berdarah pagi ini,” ujar Sehun dingin membuat pria keturunan China itu terkejut.

“Apa-apaan kau ini? Aku kan hanya bercanda  untuk menghiburmu. Bukan memintamu agar  menghajarku, Bocah!” Luhan mendengus kesal.  Lalu, ia duduk di depan Sehun berseberangan dan terhalang sebuah meja kantor.

“Apa ini?” tanya Sehun saat Luhan memberikan sebuah map bersampul biru dongker.

“Astaga Oh Sehun, kau pura-pura pikun apa memang sudah pikun, huh?” Luhan langsung berdiri berkacak pinggang begitu mendengar pertanyaan Sehun dengan mengatakan ‘Apa ini?’ Apa tidak ada pertanyaan lain yang membuatnya naik darah pagi ini. Sudah jelas itu adalah map kerjasama perusahaannya. “Sepertinya kau memang sudah pikun, ya?”

“Sialan!” Sehun melotot dan langsung melemparkan pulpen ke arah pria di hadapannya.

“Awhh! Yak, sakit bodoh,” ringis Luhan begitu kepala cantiknya terkena lemparan pulpen milik Sehun.

“Itu adalah kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan Jepang. Tepatnya besok kita akan terbang ke sana,” jelas Luhan.

“Besok?” Sehun mengerutkan dahi dengan pandangan bertanya.

“Ya. Tentu saja,” sahutnya.

“Aku tidak bisa jika hari itu,” Sehun memutar tubuhnya membuat kursi yang ia duduki ikut berputar. Matanya berpandangan dengan etalase kaca besar. Menampilkan kepadatan Kota Seoul dengan kendaraan yang ramai.

“Kenapa?” tanya Luhan penasaran.

“Aku dan Seulbi akan mengunjungi Hani besok. Batalkan saja,”

“Tapi ini kerja sama yang pent…”

“Batalkan, Hyung!” potong Sehun dengan spontan dan keras.

“Oke! Baiklah,” jika sudah begitu Luhan tidak bisa berkutik. Hal mutlak yang dikatakan ‘Batalkan’ keras dengan nada sarkatis yang keluar dari mulut seorang Oh Sehun tidak dapat ditentang.

Butuh beberapa waktu untuk Sehun dapat membujuk putrinya agar bisa memaafkan kesalahannya malam itu. Tapi, dengan bujukan dan rayuan yang Sehun katakan, akhirnya iapun berhasil.

“Kau sudah siap, Honey?”

Sehun masuk ke dalam kamar yang didominasi warna pink itu. Anak perempuan di hadapannya mengangguk dan langsung menghambur ke pelukan ayahnya.

“Daddy, apakah Seulbi sudah cantik?” tanya anak perempuan itu dengan menggemaskan. Gaun babydoll berwarna Pink dengan hiasan motif bunga-bunga menjadi pelengkap bagaimana cantiknya gaun yang sekarang dipakai.

“Ya, kamu sangat cantik hari ini, Honey,” sahut Sehun sambil membalas pelukan putri sematawayangnya.

“Cantikan siapa? Seulbi atau mommy, Dad?”

“Cantik dua-duanya. Seulbi dan mommy sama cantiknya bagi Daddy.”

“Ayo Daddy! Seulbi sudah tidak sabar sekali…”

Setelah mengunci pintu rumah, mereka naik ke dalam mobil. Seulbi duduk dengan manis tepat di sebelah Sehun yang berada di kursi pengemudi. Ketika melihat putrinya sudah bisa memakai sabuk pengaman sendiri, teringat oleh Sehun ketika Seulbi masih lebih kecil, setiap naik mobil, dia harus selalu membantu putrinya mengenakan sabuk pengaman.

“Kita mampir ke toko bunga sebentar, ya?” kata Sehun. Gadis kecil di sebelahnya mengangguk.

Sehun membeli dua tangkai bunga matahari yang masih segar. Seulbi sangat menyukai bunga itu, sampai-sampai ia bersikeras untuk memangku bunga itu sepanjang perjalanan. Bunga matahari, itulah yang selalu mengingatkan pada sosok wanita cantik yang melahirkan putri cantiknya, ibu Seulbi.

– [Colaboration] – Soyou (Sistar) x Baekhyun (EXO) – Rain

Di suatu sore yang indah, ia dan seorang gadis manis sedang berbaring di atas rumput taman, tak jauh dengan rumah mewahnya. Menatap langit senja yang mulai kemerahan.



“Oppa tahu kan, aku sangat menyukai hujan?” tanya Hani sambil terus menatap langit senja di pandangannya. Ia tiduran di pangkuan Sehun yang asyik membaca buku.



“Iya, tentu saja. Bahkan aku heran denganmu, di saat yang lain tidak menyukai hujan, termasuk aku, kau malah menyukainya. Aneh,” sahut Sehun sambil tersenyum dan melirik gadisnya. Tangan kirinya mengelus pelan puncak kepala Hani membuat gadis manis yang usianya satu tahun lebih muda darinya, tersenyum juga.



“Ada satu hal lagi yang sangat aku suka,” gumam Hani membuat Sehun menjerit dan memutuskan menutup bukunya. Fokusnya kini hanya pada gadis di pangkuannya.



“Apa?” tanyanya.



“Bunga matahari,” Hani menautkan jemarinya dengan jemari Sehun, memainkannya dengan senyum manisnya.



“Bunga matahari?” Sehun yang gemas menunduk untuk mencium hidung istrinya.



“Ya, bunga matahari. Bunga dengan kelopak kuning seperti cahaya matahari. Bunga yang selalu merindukan sang surya,” ujarnya. “Matahari, bunga matahari, dan hujan. Meskipun kedengarannya aneh, tiga hal itu memiliki hubungan, Oppa tahu?” tanya Hani.



Sehun menggeleng. Raut wajahnya bingung.



“Bunga matahari selalu mencari matahari, sedangkan hujan akan menutupi matahari. Namun, ketiganya saling membutuhkan. Tanpa sinar matahari, tidak ada uap air yang nantinya akan menjadi hujan. Tanpa hujan dan matahari, bunga tidak akan bisa tumbuh. Semua itu dibutuhkan untuk kehidupan,” Hani mengakhiri penjelasannya yang semakin membuat Sehun kebingungan.



‘Aneh sekali gadisku hari ini. Ada apa dengan dirinya?’ Batin Sehun sambil memainkan poni di dahi Hani.



“Oppa perhatikan tidak, jika setiap kali turun hujan, ada hal indah yang bisa oppa lihat?” Hani melanjutkan. Sehun mendengus sebal dan kembali menggeleng.



“Karena itulah aku selalu menunggu hujan. Walaupun tidak selalu ada setiap hujan reda, tapi satu hal itu muncul, rasa takjub yang bisa aku rasakan.”



Sehun bertambah bingung dengan ucapan Hani. “Kau ini bicara apa sih, Sayang? Aku tidak mengerti. Sudahlah, kita lihat awan saja. Sayang, lihatlah! Awan yang itu bentuknya seperti kelinci. Hahaha…”



“Oh iya, iya benar. Nah awan yang itu, bentuknya malah sepertimu, Oppa. Hahaha…” timpal Hani seraya tertawa geli menatap ke atas langit senja.



“Hey! Yang itu bentuknya seperti hidungmu, Hani. Pesek. Hahaha…” Sehun tertawa sampai matanya membentuk garis lurus.



Hani mendengus sebal, “Hidungku tidak pesek. Hanya kurang mancung saja.”



“Sama saja. Hahaha…”



“Aish. Hidungku tidak pesek. Hidungku mancung,” protes Hani.



“Iya, iya sayang…” Sehun yang gemas mencubit hidung Hani membuat gadis itu memberontak karena kesulitan bernafas.



“Oppa mau membunuhku, ya?” tanya Hani yang dijawab kedipan mata oleh Sehun. Lalu, kedua sepasang insan manusia yang dirundung kasmaran itupun tertawa.



“Oppa,” Hani menatap dengan serius. Sementara Sehun kepalanya masih tetap memandang langit senja.



“Oppa,” panggil Hani lagi.



“Hmm,” hanya sebuah deheman ringan yang disahut Sehun kepadanya.



“Jika aku hamil nanti, Oppa ingin punya anak berapa?” tanya Hani sambil memandang paras tampan suaminya.



Sehun hanya diam. Sekarang, ia tidak ingin bicara. Ia sangat terpukul begitu mendengar keinginan Hani memiliki anak. Batinnya tersayat. Tidak, Sehun juga berharap mempunyai anak seperti yang diharapkan Hani. Tapi, ada sesuatu hal yang membuatnya terpaksa tidak bisa mewujudkannya.



Menyadari tidak ada jawaban dari suaminya, Hanipun mendengus sebal.



“Sehun Oppa!” teriak Hani kesal. Tak pelak, teriakan cempreng Hani membuat Sehun menolehkan kepalanya.



“Ada apa Kim Ha…” belum sempat Sehun menyelesaikan ucapannya, ia terkejut saat wajah manis seorang Kim Hani berada sangat dekat dengannya. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang saat melihat senyum manis ciri khas Kim Hani yang mempesona.



“Aku mencintaimu,” ucapan tulus itu keluar dari bibir Hani dengan tambahan kecupan singkat di pipi Sehun.



Kau membuatku gila, hingga hati ini berpacu tidak dengan semestinya. “Aku sangat mencintaimu, Oh Se Hun,” sekali lagi gadis manis itu memberikan kecupan di pipi Sehun.



Debaran jantung ini terasa berkali-kali lipat berdetak, saat aku melihat mata indah berkilauanmu.



Sehun tersenyum, “Berani sekali melakukan ini kepadaku,” ujarnya. Kemudian mendekatkan dahinya dengan Hani. Nafas mereka saling menderu. Jantung Hani berdegup sangat kencang.



“Aku… aku…, Sehun Oppa,” Hani begitu gugup melihat tubuhnya ditindih oleh Sehun.



“Iya sayang?” Sehun tersenyum mengejek menyadari raut wajah Hani yang gugup.



“Kenapa wajahmu pucat? Kau sakit atau gugup, hmm?” tangannya menggenggam tangan Hani, menautkan jari-jari tangannya dan menarik tangan Hani ikut bersamanya masuk ke dalam genggaman. Sentuhan hangat itu membuat saraf tegang dalam diri Hani sedikit mengendur. Aroma maskulinnya tercium dan dadanya serasa bergemuruh.



“Op…, oppa apa yang kau lakukan?” jantung Hni bertalu-talu, sangat cepat. Bagaimana jika ada orang yang melihat dan berpikir yang tidak-tidak?



“Menurutmu?” seringaian itu keluar dari wajah tampan Sehun, menatap wajah Hani yang jaraknya beberapa senti saja. Hidung mereka bahkan hampir saja bersentuhan. Hani memalingkan wajahnya tidak berani membalas tatapan Sehun. Gadis itu merasa malu, Sehun kembali menyeringai sebelum membawa wajah Hani untuk menatapnya.



Sehun meraih dagu Hani untuk benar-benar menghadapkan wajah manis itu ke hadapan wajahnya. Sehun tersenyum, “Bukankah, ini yang kau mau, sayang,” bisiknya. Suaranya serak dan dalam, mengirimkan getaran aneh di sekujur tubuh Hani. “Tatap mataku Kim Hani,” perintahnya membuat Hani mau tak mau menatapnya, sedikit bingung. Sekarang ini nafas mereka menderu, dan Hani merasa sebentar lagi dirinya akan jatuh tak sadarkan diri. Sehun menopang kedua tangannya di sisi tubuh Hani.



“Aku juga mencintaimu. Apapun yang terjadi nanti tetaplah bersamaku. Hidup ataupun mati, tetaplah mencintai seorang Oh Sehun, dan aku berjanji, akan berusaha melindungimu dan menjagamu,” atmosfer berubah menjadi tenang. Tatapan mereka masih beradu satu sama lain sebelum sama-sama memiringkan kepala mereka. Sedetik kemudian bibir mereka menempel secara bersamaan. Sehun dan Hani menyembunyikan senyumnya sebelum sama-sama memejamkan mata mereka, menikmati ciuman lembut itu.



Sehun memeluk Hani membuat gadis itu semakin nyaman dalam dekapannya. Kedua tangan Hani juga melingkari pinggang Sehun. Mereka masih berciuman dengan saling melumat satu sama lain, membalas perasaan dengan lumatan-lumatan kecil dari bibir mereka. Sehun merapatkan tubuh Hani dan semakin memiringkan wajahnya yang diikuti oleh Hani.



“Terimakasih sudah menerimaku apa adanya,” ucap Sehun setelah melepas ciuman panjang mereka. Sehun memegang sisi wajah Hani dengan usapan kedua ibu jarinya. Hani mengangguk sebelum Sehun kembali mencium bibirnya dan kini gadis manis itu memberanikan diri mengalungkan tangannya di leher Sehun.



“Sepertinya kita membutuhkan ranjang,” bisik Sehun seduktif, membuat Hani merasa malu yang tak terbendung.



“Oppa!” Hani menutup kedua matanya, dia malu saat sang suami mengatakan dan menginginkan melakukan hal itu.



“Hahaha…” tawa Sehun pecah melihat raut wajah istrinya yang bersemu merah. Euforianya seakan tidak pernah habis jika berdekatan dengan gadis cantik yang sudah menjadi istrinya itu.



“Ahhh… Oppahh…” Hani mendesah saat tangan nakal sang suami meremas payudaranya dengan remasan pelan namun rasanya begitu sakit. Seringaian tipis itu jelas terpampang di wajah tampan suaminya.



“Oppa kau…?!” Hani melotot begitu Sehun melepas satu persatu kancing kemeja sehingga menampilkan tubuh tegap nan kekar. Pipi Hani terasa panas.



“Kita akan membuat sejarah baru, bercinta di taman. Bukankah itu ide yang tidak buruk?”



“Ber… bercinta di taman?” Hani membelalakan matanya tidak percaya. Astaga yang benar saja, bercinta di taman? Gila!



“O… oppa tapi…”



“Hust,” Sehun menempelkan jari telunjuknya di bibir Hani. “Diam dan nikmati saja, Sayang,” Sehun menenggelamkan bibirnya di ceruk leher istrinya.



“Eengghhh…” Hani menggeliat, kecupan Sehun di lehernya begitu membuatnya geli, meskipun nikmat.



“Long time no see my honey…” ucap Sehun serak, hasratnya ingin segera menikmati tubuh istrinya ini, mencapai puncak bersama. Dia begitu mendamba tubuh istrinya yang menggairahkan di matanya.



“Oppahh… eenghhhh…” ucap Hani tertahan. Dia tak bisa menanggapi perkataan suaminya itu. Entah mengapa seiring gairahnya yang meningkat seakan semakin mencekat tenggorokannya. Sehun meremas salah satu dari gundukan wanitanya. “Husstt… kita selesaikan ini dulu,” dengan membabi buta Sehun meremas kedua payudara Hani, memilin, mengecup, bahkan sampai menggigit kecil nipplenya.



“Ahhhh…” desah Hani saat Sehun mengigit lehernya dan turun semakin ke bawah hingga payudara yang sintal.



“Oppa!” Hani menjerit membuatnya terkekeh.



“Jangan digigit!” protes Hani saat Se Hun mengigit puting payudaranya, Rasanya sakit bercampur perih.



“Tapi, aku menyukai ini,” Sehun meremas lagi payudara Hani, lalu memasukan puting kecoklatan itu pada mulutnya.



“Aahhhh, Oppahh…” desahan erotis Hani yang didengar Sehun membuatnya bertambah semangat, gencar melahap puting itu dengan rakus.



Hani merutuki dirinya sendiri, kenapa dia sangat menikmati permainan suaminya, yang sangat menggoda, bahkan di bawah sana sudah basah. ‘Oh sial! Ini tidak benar, mereka berada sebuah taman. Bagaimana jika Park Ahjjusi atau Han Ahjjuma melihat? Astaga, ini tidak bisa di biarkan,’ pikir Hani.



“Oppahh di ka… mar saja. Akhhhh…” Sehun tidak menggubris perkataan Hani, ia terus saja mencium istrinya dengan penuh nikmat. Dengan tangan suaminya yang terus bergerilya di sekujur tubuh sang istri. Hani pening bukan main merasakan sentuhan Sehun berada diantara pahanya. Membuat wanita itu berkali-kali mendesah nikmat.



Sang matahari yang kini hampir tenggelam dan akan digantikan sang bulan menjadi saksi penyatuan cinta mereka. Bagaimana kisah kedua insan manusia yang sedang mempersatukan dua tubuh menjadi satu, menjadikan suatu kesatuan dengan gelombang cinta dahsyat yang mereka ciptakan dengan sendirinya.

Di saat hatimu beranjak pergi untuk meninggalkanku, tolong ajarkan aku sejenak saja cara meninggalkan jejak tentang kenang kenangan bersamamu…

“Daddy?” panggil Seulbi begitu menyadari tidak responnya ayahnya itu.

“Daddy!!” panggilnya lagi. Ini sudah kesekian kalinya Seulbi selalu mendapati raut wajah ayahnya semu, tidak ada gairah dalam pikirannya.

“Daddy!!!”

“Eh iya, kenapa?” seperti tidak merasa bersalah, Sehun malah bertanya membuat emosi Seulbi naik-turun.

“Kenapa masih belum jalan? Daddy jadi, kan, mengajak Seulbi ke tempat yang indah,” Seulbi menggembungkan pipinya jenuh.

“Oh, maaf…” Sehun tersadar dan langsung menginjak pedal gas mobil. Pergi dari kawasan parkiran itu.

“Daddy, jangan marah ya, Seulbi ingin mengatakan sesuatu.”

“Daddy tebak? Kamu pasti mau mengakui kenakalanmu, kan?” jawab Sehun sambil mencubit gemas pipi tembam Seulbi. Gadis kecil itu hanya cemberut setiap kali ayahnya melakukan hal itu.

“Kemarin di sekolah Seulbi ada perayaan Mother’s Day (Hari Ibu).”

Mendengar kata-kata itu, Sehun merasa sesak. Hari Ibu, hari dimana perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, yang dilakukan sang anak terhadap ibu yang melahirkannya. Sehun tersenyum miris, ia lalu mengelus kepala Seulbi, terdiam dalam kesesakan.

“Kemarin Seulbi kabur ke perpustakaan dan ketahuan sama Paman D.O.”

Gadis kecil itu menunduk sedih. Sehun bungkam, karena ia tahu bahwa itu bukan sepenuhnya kesalahan anak itu. Ia tahu betul bahwa Seulbi sangat tidak suka menunjukan kesedihannya dan lebih memilih untuk mengalihkannya dengan melakukan hal lain.

Ketika melirik putrinya, Sehun melihat mata Seulbi mulai berkaca-kaca.

“Sorry, Daddy. Besok Daddy diminta Paman D.O untuk ke sekolah karena Seulbi.”

Mendengar jawaban itu, Sehun tersenyum. Ia mengelus punggung Seulbi untuk menenangkannya.

“Ya sudah, tidak apa-apa. Besok Daddy akan datang. Seulbi jangan sedih lagi ya.”

Seulbi mengangguk mendengar jawaban ayahnya. Sehun merasa sangat bersalah belum bisa benar-benar membahagiakan putrinya. Ia tahu seberapapun ia berusaha, dirinya sendiri saja tidak cukup untuk membuat Seulbi bahagia.

Tling!

Sebuah pesan masuk.

Kyungsoo Hyung

[Apa kau sudah diberitahu putrimu untuk datang besok ke sekolah?]

Sehun tersenyum tipis begitu membaca pesan dari temannya itu yang sudah dia anggap seperti paman bagi Seulbi. Do Kyungsoo, adalah teman karibnya saat sekolah. Sampai saat inipun mereka masih berteman akrab, hanya saja Sehun dan Kyungsoo mengambil jurusan berbeda saat kuliah. Sehun yang saat itu memilih bidang bisnis sementara Kyungsoo dalam bidang pendidikan.

Segera setelah helaan napas yang panjang, Sehun pun mulai mengetik pesan di ponselnya itu.

[Ya. Baru saja dia memberitahuku, Hyung.]

Tling!

Kyungsoo membalas pesannya.

[Oh, baguslah. Jangan lupa besok.]



[Ya.]

Sehun memandangi ponsel pintarnya itu yang menampilkan foto dirinya tengah menggendong bayi mungil. Foto yang diambil pasca kelahiran Seulbi masa itu.

“Dari siapa Daddy?” Sehun menoleh saat Seulbi bertanya padanya.

“Dari Paman D.O, pamanmu,” jawab Sehun dengan memandangi putrinya yang menunjukan wajah keingin-tahuan. Sedetik setelah Sehun menjawab pertanyaan yang dilontarkan putrinya kemudian wajah imut itu tergantikan dengan raut takut dan cemas.

“Apa Paman D.O akan memarahi Seulbi, ya? Tapi Seulbi hanya menghindari pelajaran bukan bermaksud membolos.”

Sehun lagi-lagi tersenyum mendengar perkataan polos dari logat putrinya, benar-benar menggemaskan. “Jika Paman D.O memarahimu, Daddy yang akan gantian memarahinya,”

Sehun hanya bisa memandang Seulbi penuh arti.

“Benarkah? Memang Daddy berani?” Seulbi bertanya sangat antusias, mendengar jawaban ayahnya itu yang menjamin dirinya. Seulbi masih menunggu, sampai akhirnya…

“Tidak juga. Hehehe…” Sehun tersenyum tiga jari, lain halnya dengan Seulbi yang menampilkan wajah cemberut.

“Yaaa… Daddy menyebalkan,” pipi gembulnya ia gelembungkan dengan kesal. Ayahnya itu sebenarnya bukan tipikal humoris, hanya waktu tertentu saja jika memang ingin melakukan, dalam artian menurut moodnya. Seperti saat ini, entah kenapa Sehun ingun menjahili Seulbi.

Mereka kemudian saling melempar ledekan dan canda tawa. Sesekali Seulbi bernyanyi dengan logat cadelnya mengikuti lagu yang sering di dengarnya di playmusic.

Playmusic_Rookie_Red Velvet



Rookie rookie my super

Rookie rookie rookie

Majji majji geu neukkimjeogin neukkim neukkim

Rookie rookie my super

Rookie rookie rookie

Majji majji geu neukkimjeogin neukkim neukkim

Sehun hanya tersenyum meledek ketika mendengar suara Seulbi yang cempreng ketika nada yang dinyayikan tidak sampai. Melihat ledekan ayahnya, Seulbi mencibir kesal dan malah menyanyi lebih melengking lagi.

“Hahaha, ayolah, Honey. Berhenti bernyanyi. Kau membuat Daddy pusing.”

“Tidak. Seulbi sangat menyukai lagu ini,” Seulbi tidak menghiraukan ayahnya dan terus bernyanyi dengan nada sekenanya.

“Hei, kita sudah sampai, Honey.”

“Oh, sungguh?” Seulbi bertanya antusias.

Sehun mengangguk. Melihat anggukan ayahnya. Seulbi langsung berhenti bernyanyi dan merapikan pakaian dan rambutnya yang berantakan karena kelakuan yang tak mau diam.

“Honey?”

“Yes, Daddy?”

“Kita akan bertemu seseorang yang sangat ingin kau temui hari ini,” kata Sehun sambil tersenyum. Mobil yang dikendarainya melewati gapura besar berwarna putih.

“Sungguh Daddy? Mengapa Daddy tidak mengatakannya dari awal?”

Anak perempuan itu semakin antusias dan panik merapikan rambutnya. Sikapnya membuat Sehun tersenyum lagi, menariknya ke masa lalu, mengingatkan lagi pada sosok wanita cantik yang melahirkan putri kecilnya itu.

– [STATION] – Kim Joonmyeon (Suho EXO) – Curtain

Uhuk… Uhuk… Hasciiih…!



Sehun yang sedang menyiapkan dokumen-dokumen penting untuk dibawanya ke Osh Uner holding langsung sigap mendekati Hani yang terbatuk dan bersin-bersin. Gadis itu belum menyantap sarapannya, tidak nafsu makan.



“Apa yang terjadi?” Sehun menyentuh dahi dan leher Hani. Wajah Hani memucat, bibirnya kering, binar matanya meredup. Dia panik bukan main. “Badanmu panas sekali,” lalu Sehun mengambil mantel tebal berbulu dan melekatkannya ke badan Hani.



“Kita ke dokter sekarang,” perintahnya. Hani menggeleng pertanda dia tidak mau dibawa ke rumah sakit. Tidak tanpa alasan kenapa Hani menolak, karena Hani sangat takut jarum suntik.



“Jangan membantah suami!”



“Ta… tapi aku takut jarum suntik.”



“Tidak semua orang yang sakit harus disuntik Hani,” Sehun menggendong gadis itu, kemudian berjalan tergesa-gesa. Mobil Ferrari keluaran terbaru hadiah dari pernikahannya bersama Hani satu tahun lalu melaju dengan kecepatan tinggi, namun tetap berhati-hati demi kesehatan Hani.



Setibanya di rumah sakit, Hani segera ditangani oleh seorang dokter dan beberapa suster. Sehun sangat cemas, dia seolah tidak ingin meninggalkan Hani sedetikpun. Padahal dia tahu ada meeting penting dengan kolega bisnis China. Tapi Sehun tetap mementingkan wanitanya.



“Bagaimana keadaannya, Hyung?” tanya Sehun begitu melihat dokter yang menangani istrinya keluar. Dilihatnya Hani masih tampak tenang, tidak menolak.



“Tidak begitu buruk. Demam, batuk, dan flu bersamaan. Habiskan obatnya dengan teratur, banyak minum air putih, jaga pola makan, dan jangan ijinkan Hani melakukan hal terlalu berat,” jelas Dokter Zhang yang tidak lain sahabatnya itu.



“Ya, Hyung.”



“Beri Hani perhatian yang ekstra, Sehun. Apa semalam dia makan makanan yang manis?”



“Ya, tadi malam dia memakan cokelat dan beberapa permen lolipop. Ini salahku, Hyung,” Sehun menundukkan kepalanya.



‘PUKKK!’ Dokter bername-tag Zhang Yixing itu menepuk bahu Sehun. “Seharusnya kau tahu, Hun. Istrimu sangat pantang sekali memakan makanan yang mengandung glukosa, jangan diulangi lagi jika tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan,” sarannya. Sehun hanya mengangguk.



Sehun menuntun Hani untuk keluar ruangan. “Mianhae,” alis Hani mengeryit saat mendengar ucapan lirih suaminya.



“Ini semua salahku, maaf…” sesal Sehun menatap paras cantik istrinya itu dengan pandangan tak terbaca.



Ada senyum yang melengkung di wajah Hani. Sedangkan Sehun tampak tak nyaman. “Apa yang kau pikirkan?”



“Seharusnya aku yang minta maaf padamu, Oppa. Maaf, aku tidak mendengar perkataanmu. Maafkan aku…”



Mendengar itu, Sehun terdiam. Istrinya sadar itu kesalahannya. “Kau sudah tahu akibatnya, jangan diulangi lagi,” Sehun mengakhiri ucapannya. Kata-katanya seakan menusuk Hani.



“Ya, Oppa,” sesal Hani dengan memajukan bibirnya seperti anak kecil yang tengah merajuk. Dan itu berhasil membuat Sehun tersenyum dan mencubit pipi mulus Hani.



“Yaaa, sakit Oppa…” ringis Hani begitu telapak tangan suaminya mendarat di pipinya. Sehun tersenyum lagi, dan menghambur memeluk istri tercintanya.



“Berjanjilah. Jangan meninggalkanku,” Hani mengeryitkan alisnya tidak mengerti.



“Hani, tolong berjanjilah padaku. Kau takkan meninggalkanku.”



“Ya, aku berjanji, Oppa.”



Sulit bagiku menyaksikan dirimu pergi meninggalkan kami, juga lebih sulit lagi jika kuingat kebahagiaanku saat dirimu berjanji yang takkan pergi meninggalkanku…



••••••••

Sehun tersenyum miris begitu bayangan istrinya menghampiri lagi dalam pikirannya. Tidak, ia tidak boleh seperti ini. Sehun melirik Seulbi yang kini duduk tenang mempersiapkan dirinya bertemu seseorang.

“Oh ya, kamu harus menutup matamu sampai Daddy menyuruhmu membukanya,” pinta Sehun sambil memarkir mobilnya.

“Kenapa Daddy?”

“Namanya juga kejutan, Honey. Meskipun Daddy rasa kau sudah tahu hari ini kita akan mengunjungi siapa. Jadi, tutup matamu, oke!”

Mendengar jawaban ayahnya, gadis kecil itu menurut. Lalu ia memejamkan matanya. Sehun keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang. Ia menggendong Seulbi dengan sekali ayunan tangan. Yang digendongpun merespon dengan melingkarkan tangannya di sekeliling leher Sehun.

Sehun kemudian berjalan dengan pelan. Sudah beberapa bulan ia tidak ke sana. Kali ini ia datang bersama putri kecilnya dan itu membuatnya begitu resah. Ia tidak tahu bagaimana akan menghadapi anaknya jika mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka.

“Daddy kita sudah sampai?” tanyanya gemas.

“Yup. Bukalah matamu, Honey.”

Background Songs Heaven – EXO

“Sayang, ayo kita berangkat.”



“Tunggu,” Hani mengambil syal kesayangannya dari dalam ransel yang ia bawa.



“Apa yang kamu cari?” Hani tidak menjawab, dia lebih memilih diam dan mencari barang yang dicarinya saat ini. Setelah menemukan barang yang dicarinya, lantas Hani menarik pergelangan tangan Sehun hingga menempel dekat dengannya.



“Ini,” jawab Hani sambil memasangkan syal di leher Sehun. “Ini musim dingin, tapi malah memakai baju seperti itu,” ucap Hani. Membuat Sehun tersenyum simpul memandang istrinya yang tengah memasangkan syal di lehernya. Hari ini Sehun mengajak Hani ke hotel yang berada di Pulau Jeju. Hotel yang akan menjadi miliknya. Hani menunggu Sehun. Namun pria bertubuh tinggi, berbadan proporsional, dan berambut hitam kecoklatan itu, tidak peka. Mereka pergi meninggalkan rumahnya. Jarak dari tempat tinggal Sehun ke hotel tidaklah jauh. Dia bisa berjalan kaki sembari melihat lalu-lalang orang dengan rutinitasnya masing-masing. Sehun melirik Hani yang berjalan santai di belakangnya.



“Mengapa lama sekali? Aku seperti orang yang sedang dibuntuti,” suami tak tahu diri. Hani masih lemas setelah sakit kemarin. Langkah kakinya tentu berbeda setelah sakit, membuat kening Hani mengerut dan bibirnya cemberut.



“Aku masih lemas, Oppa. Jangan melangkah terlalu cepat.”



“Kenapa tidak bilang jika masih kurang sehat?” Sehun langsung berjongkok di depan Hani.



“Naiklah di punggungku,” dia berlutut membelakangi istrinya dan perlahan Hani naik ke atas punggungnya. Hani melingkarkan kedua tangannya di leher Sehun. Sementara Sehun mulai melangkah dengan pelan. “Bagaimana? Sudah tidak lelah?”



“Tidak. Terimakasih, oppa,” ucap Hani senang.



Semakin lama, langkahnya semakin cepat dan tibalah mereka di sebuah hotel. Saat memasuki hotel, dia masih menggendong Hani. Dia baru menurunkan istrinya di atas tempat tidur. Ia selimuti Hani dengan selimut tebal kesayangannya.



“Istirahatlah,” Sehun mengecup kening istrinya penuh perasaan, membuat orang yang menerimanya memejamkan mata, seolah sedang meresapi perlakuan hangat suami tercintanya itu.



“I love you, Sweetheart,” sekali lagi Sehun mencium Hani penuh perasaan. Tapi kali ini ciuman itu tidak pada kening istrinya, melainkan pada bibir merah Hani. Sampai detik berikutnya ciuman itu menjadi berlanjut pada tahap dalam.



Kenangan terindah saat kita berdua. Kenangan itu hanya sekali saja. Aku sangat merindukan kehadiran dirimu…



••••••••

“Pada waktunya nanti, kamu juga akan menjadi angel yang cantik, sama seperti mommy,” Sehun mengelus rambut gadis kecil itu. Bayangan wajah istinya selalu tersemat di otaknya. Wajah Seulbi dan Hani begitu sangat mirip, hanya saja berbeda versi kecil dan dewasa. Tuhan seakan sedang menguji bagaimana kuatnya seorang Oh Sehun menghadapi takdir hidupnya.

“Daddy, ini sungguh indah,” kata Seulbi takjub.

Ketika ia membuka mata, yang ia lihat adalah hamparan rumput yang luas. Hari itu begitu cerah, seakan menyambut kedatangan Sehun dan Seulbi.

Gadis kecil itu menyadari, selain rerumputan, ada banyak batu marmer tertanam di situ. Sehun menurunkan gadis kecilnya dan ia mendarat tepat di depan batu marmer berwarna keabu-abuan. Di bagian atas ada foto seorang perempuan cantik, parasnya mirip dengan Seulbi, tapi sudah lebih dewasa.

“Daddy! Ini mommy. Jadi hari ini kita mau bertemu mommy, ya?” Seulbi terpekik gembira menyadari foto itu adalah foto yang sama yang terdapat di beberapa sudut rumah mereka.

Sehun mengangguk, lalu berjongkok di sebelah putrinya, dan memeluknya.

“Tapi, dimana mommy sekarang, Daddy?” tanya Seulbi pelan. Menengokkan kepalanya ke segala arah. Sehun terdiam, mengendalikan dirinya dalam kesesakan batin.

“Mommy sedang melihat kita dari sana, dari surga,” sahut Sehun sambil menunjuk ke langit yang cerah.

“Tapi Seulbi tidak bisa melihatnya,” jawab Seulbi sambil menengok ke langit.

“Kau tidak bisa melihatnya dengan matamu. Kau harus melihat dengan hatimu.”

“Kenapa Daddy?”

“Karena Mommy adalah seorang angel.”

“Angel?” Seulbi bertanya antusias. Sehun mengangguk.

“Semua Mommy di dunia adalah angel. Mereka turun ke dunia untuk menjaga anak-anaknya.”

“Benarkah, Daddy?” tanya Seulbi polos. Sehun kembali mengangguk.

“Ketika angel-angel itu berada di surga, mereka tidak akan terlihat. Tetapi mereka akan terlihat ketika turun ke bumi.”

“Lalu, kenapa Mommy tidak berada di bumi?”

Sehun mengambil napas berat. Ia mengalihkan pandangannya sejenak dari tatapan putrinya, mengambil bunga matahari yang dibawanya dan meletakkannya di depan foto Hani.

“Mommy berbeda dari angel yang lain. Ia adalah angel kesayangan Tuhan,” bisik Sehun. Seulbi terdiam. Terpana dengan jawaban ayahnya.

“Ketika Mommy turun ke bumi dan menjagamu, Tuhan merasa kesepian dan merindukan angel kesayangannya. Jadi, Ia memanggil Mommy kembali ke surga.”

Air mata mulai membasahi pipi Sehun. Seulbi mengusapnya dengan jari-jarinya yang mungil.

“Daddy, apa berarti mommy-mommy yang lain bukan kesayangan Tuhan?”

“Bukan begitu, Sayang. Mereka hanya diberi waktu lebih lama berada di bumi. Cepat atau lambat, mereka juga akan kembali ke surga.”

“Tapi, Seulbi ingin melihat dan memeluk Mommy, sama seperti teman-teman Seulbi yang bisa memeluk Mommy mereka,” rengek Seulbi. Sehun mengelus rambut putrinya.

“Kau tetap bisa memeluk dan dipeluk Mommy. Meskipun tidak terlihat, kau bisa merasakan kehangatan Mommy. Di sini,” Sehun menunjuk dada Seulbi. Ia lalu mengajak putrinya berdoa kepada Tuhan.

Aku tidak meminta banyak dariMu. Aku juga tahu diri, manusia seperti apa aku ini. Tapi, tolong kabulkan doaku kali ini. Berkatilah kehidupan putriku. Bahagiakanlah anakku. Lindungi dan jaga Seulbi, Tuhan. Biarkan putriku merasakan kebahagiaan sampai napas ini berhenti dengan sendirinya. Aku sangat mencintainya, dialah sumber napasku hingga saat ini. Dialah malaikat kecilku, Oh Seulbi.



Tuhan, tolong kabulkan doa Seulbi. Semoga Daddy diberi umur panjang sampai nanti Seulbi dewasa. Semoga Daddy selalu mencintai dan menyangi Seulbi. Seulbi tidak bisa hidup tanpa Daddy. Amin.

Setelah selesai berdoa, mereka berjalan kembali ke tempat parkir.

“Daddy, kapan-kapan bolehkah kita ke sini lagi?”

“Tentu, Honey,” Sehun menuntun putri kecilnya itu.

“Daddy, apakah suatu hari nanti Seulbi bisa jadi angel dan tinggal di surga sehingga bisa melihat Mommy?”

“Tentu saja. Pada waktunya nanti, kau akan menjadi angel yang cantik, sama seperti Mommy.”

“Seulbi jadi tidak sabar!” seru Seulbi ceria.

“Ya, Daddy juga,” Sehun tersenyum, lalu memeluk putrinya dengan hangat.

“Daddy, bolehkah Seulbi mengatakan sesuatu?”

“Ya, katakanlah,” Sehun tersenyum tulus begitu melihat wajah Seulbi ceria. Sehun terperangah saat Seulbi mengatakan hal yang tak terduga.

“Seulbi akan membacakan sebuah puisi buatan Seulbi sendiri untuk Daddy. Entah ini menurut Daddy jelek atau bagus, tapi puisi ini khusus aku persembahkan untuk Daddy tersayang.”

Daddy…

Beribu kata telah Daddy ucapkan

Beribu cinta telah Daddy berikan

Beribu kasih telah Daddy lakukan

Hanya untuk  Seulbi seorang…

Daddy…

Seulbi tahu bagaimana kerja keras dirimu…

Seulbi tahu bagaimana susahnya mengurusku…

Seulbi tahu bagaimana perhatian Daddy untukku…

Daddy…

Daddy ajarkan Seulbi tentang kebaikan

Daddy tunjukkan Seulbi tentang arti cinta

Daddy jelaskan Seulbi tentang makna kehidupan

Dan Daddy mendidik Seulbi dengan kasih sayang…

Daddy…

Betapa mulianya hati Daddy…

Daddy korbankan segalanya demi Seulbi…

Daddy kerja larut malam hanya untuk Seulbi…

Kini Seulbi berjanji untuk semua kerja keras Daddy selama ini…

Seulbi berjanji untuk selalu sayang pada Daddy…

Daddy…

Seulbi berjanji untuk ketulusan hati Daddy…

Bahwa Seulbi akan selalu menjaga Daddy…

Seulbi akan selalu menyayangi Daddy hingga akhir hidup Seulbi…

Terimakasih Daddy untuk semua kasih sayang dan cinta untuk Seulbi selama ini…

Pertanda, Seulbi cantik.



Seulbi tersenyum saat puisi yang dibaca selesai, lalu ia mendekatkan bibir mungilnya ke arah Sehun. “I will always love you forever, Daddy…” bisiknya lirih sebelum mendaratkan sebuah kecupan di pipi ayahnya.

Kedua mata Sehun berkaca-kaca, rasanya terharu mendengarkan putrinya membaca puisi untuknya. Entah bagaimana Sehun bisa melupakan hari ini, hari ulang tahunnya sendiri.

“Selamat ulang tahun, Daddy! Seulbi mencintai Daddy!” Seulbi memeluk ayahnya dengan perasaan haru dan bahagia. Sehun tersenyum dibalik rambut putrinya yang panjang. Matanya berkaca-kaca sampai akhirnya buliran air mata keluar dari kelopak matanya. “Daddy juga, Sayang. Daddy mencintai Seulbi,” Sehun bahagia memiliki Seulbi di sampingnya. Kasih sayang yang tulus yang dicurahkan dengan hati dan cinta, lembut, dan juga tak ternilai harganya, akan terus melekat dan mengalir bagaikan air. Suatu kejadian dalam hidup tentang kasih sayang, kesetiaan, cinta, dan juga ketegaran.

Oh Sehun, pria dewasa berusia 26 tahun yang bergulat sebagai single parent, terus merasa ada sebuah kebahagiaan jika terus di samping Seulbi. Putri tercintanya yang akan terus ia jaga sampai ajal menjemputnya.

“Daddy, bolehkah Seulbi menanam bunga matahari di taman rumah kita?”

“Tentu saja, Honey. Tanamlah berapapun yang kamu inginkan.”

Sehun menoleh ke arah batu nisan di sana. Tempat peristirahatan ibu Seulbi yang ditumbuhi bunga matahari di atas tiang patokan. Sehun tersenyum sebelum benar-benar pergi bersama Seulbi. Memandang bunga matahati yang menjadi bayangan istrinya.

Jika ini keputusan dirimu untuk meninggalkan kami, aku hanya bisa mendoakan dirimu supaya kamu bahagia di sana…



Detik demi detik terus berjalan, aku dan putri kita akan pergi dan coba tinggalkan dirimu beserta bayang-bayangmu yang telah meninggalkan kami…



Aku pernah merasa bahagia saat-saat bersamamu, tapi semua terasa sakit di saat kau meninggalkanku…



Aku pernah menaruh harapan kepadamu, tapi semuanya sirna saat kau pergi meninggalkanku…



Aku selalu mempunyai alasan untuk mencintaimu, dan kau selalu mempunyai alasan untuk meninggalkanku…



Langit yang mendung takkan selamanya mendung, namun begitu juga dengan perasaanku saat ini…



Untuk apa tersenyum menyembunyikan rasa sakit, tersenyumlah untuk membuat sembuh rasa sakit ini…



Tiada manusia yang sempurna. Tapi seseorang akan terlihat sempurna ketika kau mencintainya dengan tulus hati…



Takkan perlu kita tangisi dan tak perlu pula di sesali, maka tersenyum dan mulai untuk bangkit karena perjalanan masih panjang…



Terkadang cinta memberikan alasan untuk membuatku tersenyum serta waktu yang begitu indah untuk tertawa, tapi kadang cinta juga memberikan kenangan yang tak pernah terlupakan…



Semua kuucapkan terimakasih karena telah meninggalkanku dan putri kita. Karena dari dirimu aku belajar menjadi orang yang tegar…



I love you forever, Seulbi’s Mom.

Wah, akhirnya selesai juga ceritanya. Gimana tanggapan kalian? Baperkah? Tidak sampai nangis, kan? Mungkin cuma berkaca-kaca ya, hayo ngaku? Hehehe…

Aku bikin sad ending. Maaf ya… Buat kamu yang tidak terlalu suka cerita dengan akhir sedih. Aku minta maaf… Dasar ceritanya memang aku buat kaya gini.

Pasti ada yang bingung dan berargumen gini, “Di umur Sehun yang ke-26 sudah memiliki anak aja? Nikah muda ya?”

Be like, “Yaps, Di sini aku buat mereka – Sehun dan Hani – nikah muda setelah lulus SMA. Sangking ngebetnya naena mungkin. *wkwkwk*

Udah ah, segini aja cuap-cuapnya ya. Takut kalian pada alergi. Eh bercanda. 😀

Aku 99line. Jangan kaget ya. Hehehe…

Salam hangat dariku. Oh Eonnie.

69 thoughts on “Sunflower

  1. Sayang tau cakep2 jadi duren… yakinlah banyak cewek yg antri buat gantiin posisi hani..
    But, susah nya ya itu. Cinta mati…bakal susah melupakan, susah menggantikan, dan yg pasti “Tak Bisa Ke Lain Hati…”

    Suka

  2. Huaaaa baper sebaper bapernya orang baper T-T thorr sumpah ini ff bagus banget T-T sedih nyeseknya dpt semua T-T ngefeel bgt T-T walaupun gue gasuka cerita gantung + sad ending, tapi ff ini amazing, daebak, sugoi.. Dan penuh misteri:v thor gue mewek sampe ingusan ini:’D

    Suka

  3. haaa mengharukan..
    bagus 👍
    jadi sisi ncnya itu saat sehun mengingat masa lalu..
    sad endingnya ngena dan tidak dipaksakan..
    seperti kehidupan nyata..
    aku suka ff ini..
    good job buat author dan pihak flyingnc..
    terima kasih 😃😊

    Suka

  4. Ceritanya keren ching (y)
    Dari opening smpe closing keren, aku nangis bacanya. 😥 Sehun sosweet banget, bijak, romantis, tanggung jawab, setia, perfect pokoknya. Klo bisa bikin yang berpart ching, jangan oneshoot. 😀

    Suka

  5. Nangisssssss TT aku biasanya ga suka baca yg sad ending, tp entah kenapa akhirnya baca smpe habis …. nangis bangettt thor sumpaahhh

    Suka

  6. Duh dek ini ceritanya bagus banget. Diawal baca kirain hani pergi ninggalin sehun karena selingkuh atau apa, tapi ternyata hani meninggal. Ceritanya ngena dan bikin nyesek. Aku sebagai reader bisa ikut ngrasain seberapa besarnya rasa cinta sehun buat hani dan seulbi buat orangtuanya. Bagian seulbi nanya tentang hani finalnya. Tambah nyesek. Ditunggu lagi karyanya yang lain dengan cast hani-sehun😘😄😄

    Suka

  7. Thoorr!!!!!! Dirimu sungguh terlalu😭😭😭 sumpah ini sedih banget banget banget, sampe nusuk ke hati weh 😭😭😭😭 aku ngomen ini aja masih sambil nangis sumpah 😭😭😭 ngena banget dahhh, Kezel.😭😭😭👍👍👍

    Suka

  8. suka sama ini ff realistis n fellnya menurut q dapet
    kesiaan tak terukur hanya dgn menjaga hati saat kita ditinggalkan pasangan tapi kesetiaan dilakukan dgn kita yg bertanggunh jawab pada kewajiban kita didunia ini selama kita hidup dgn menjaga yg ditinggalkan dan merawat sepenuh hati
    bukan terlarut dalam duka namun bangkit untuk menghadapi takdir dan berusaha sekuat tenaga
    meskipun berucap tak semudah tindakannya
    terimakasih ffnya😊

    Suka

  9. Q jd nangis bacax…
    g kebayang jd sehun.
    dia harus merelakan istri yg sangat dicintaix pergi, karna tuhan lebih sayang padax.
    dia t membiarkan cinta itu pergi dari hidupx sedetikpun…
    inikah yg dinamakan cinta sejati…

    Suka

  10. Ceritanya bikin baper bgt thor dah malem nahan tangis trnyata jebol juga pertahanannya
    Gk tau deh mo komen apa lagi mo ngelanjutin nangis aja abis itu tidur
    Keep wtiting thor ditunggu cerita2 slanjutnya….

    Disukai oleh 1 orang

  11. Sequelnya ada kahh ? Ceritanya ada gantungg menurut ku thorr wkkwkw
    Duhh sedihhhh diakhirrnya, apa sehun gk coba cari wanita lain ? Knpaa ?
    Kasiann kan anknyaa butuh sosok ibu..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s