Uncontrollably Crush Part 5


 

Author              : Shan Shine

Tittle               : Uncontrollably Crush

Category        : NC21, Yadong, Romance, Oneshoot

Cast                :

– Cho Kyuhyun.                                 

– Shin Hyunni.

 

***

Uncontrollably Crush part 5^^ So, Enjoy! and happy reading~

***

Part 5

Plak!

 

Bibir yang sedikit lagi menyapa bibir Hyunni, berhenti bergerak maju. Bahkan mata Kyuhyun sudah membulat. Rasa sedikit perih di pipinya menyadarkannya. Dan tangan Hyunni yang telah menampar Kyuhyun masih melayang di udara.

 

Keduanya saling memandang. Kedua mata membulat. Dan saat itu Kyuhyun sadar, untuk pertama kalinya, ada seorang wanita yang menolak sentuhannya. Di saat di mana semua wanita menginginkan ciumannya, Hyunni malah menolaknya dengan tamparan.

 

Dengan mata yang membulat karena ikut kaget, Hyunni perlahan menatap tangannya. Matanya semakin membulat saat melihat wajah Kyuhyun masih menatap ke samping karena tamparannya. Mulut Hyunni pun terbuka tidak percaya dan segera ditutup dengan kedua telapak tangannya.

 

Ya tuhan, aku baru saja menampar seorang yang sangat berkuasa! batin Hyunni berseru tidak percaya.

 

Tangannya hanya bergerak spontan tadi. Mungkin karena Hyunni sadar bahwa ciuman pertamanya akan diambil membuat tangan spontan menampar Kyuhyun. Bagaimana Hyunni tidak pernah bercium sebelumnya. Dan kegugupan membuatnya melakukan hal yang memalukan di luar keinginannya.

 

“Maafkan aku,” lirih Hyunni yang terdengar panik. Beberapa detik kemudian, Hyunni sudah berlari pergi. Ia benar-benar malu sekarang. Ia baru saja menampar salah seorang yang paling berpengaruh di dunia bisnis. Matilah dia.

 

“Hyunni-ssi! Shin Hyunni-ssi!”

 

Kyuhyun ikut berlari mengejar Hyunni. Namun, sayang ia terlambat. Hyunni sudah masuk ke dalam lift. Kyuhyun pun tidak menyerah dengan memasuki lift yang satunya. Namun, tetap saja ia terlambat.

 

Saat ia sudah keluar dari lift, sosok Hyunni sudah pergi menjauh menggunakan sepedanya. Meninggalkan Kyuhyun dengan berjuta perasaan berkecamuk di salah satu anak tangga besar yang ada didepan perusahaannya itu. Kyuhyun pun berjanji, hanya kali ini ia melepaskan Hyunni. Pertemuan selanjutnya, ia benar-benar akan menjerat Hyunni padanya.

 

Sial, umpat batin Kyuhyun.

 

Kyuhyun merasa frustasi karena gadis itu pergi begitu saja setelah menamparnya. Dan sialnya, tubuh bawahnya tegang hanya dengan membayangkan bibir Hyunni  bersentuhan dengan bibirnya.

 

***

 

“Eonni, kau dari mana saja? Kenapa begitu lama? Apa Kyuhyun menahanmu?” tanya Sana ambigu sembari mamainkan alisnya menggoda Hyunni saat ia melihat Hyunni memasuki kafe.

 

Hyunni hanya terus berjalan dengan wajah letihnya. Ia berjalan ke belakang meja kasir lalu duduk di kursi yang ada di samping Sana yang terus menatapnya penuh minat. Hingga kemudian kepala Hyunni ia tidurkan di meja kasir begitu ia sudah duduk di sana.

 

“Aku menamparnya.”

 

“Apa?! Kenapa?!”

 

“Dia hampir menciumku dan aku malah menamparnya,” jawab Hyunni sembari menutup matanya lelah.

 

“Yak! Eonni, kau bodoh!”

 

“Aku tahu.”

 

“Lalu?”

 

“Aku rasa aku akan dituntut karena menampar wajah seorang Cho Daepyo,” lirih Hyunni dengan wajah yang sekarang ia sudah sembunyikan di antara kedua lipatan tangannya.

 

Sana hanya bisa menggeleng sebentar. Kelakuan aneh Hyunni benar-benar tidak tertolongkan lagi. Sana sangat yakin itu karena tidak berpengalamannya Hyunni dalam menjalin hubungan. Gadis itu bahkan baru jatuh cinta saat umur sudah seperempat abad. Dan sekalinya jatuhnya, gadis itu bertingkah bodoh. Sana tak punya pilihan lain selain berjaln pergi sembari menggeleng-geleng, membiarkan Hyunniterus meratapi sikap memalukannya.

 

Beberapa jam berlalu. Matahari sudah bertukar tugas dengan bulan kecil. Lampu-lampu pun menyala terang, membantu cahaya redup bulan untuk menerangi sisi gelap bumi. Jarum jam sendiri sudah menunjukkan waktu hampir pukul sembilan kurang tiga puluh menit saat papan keterangan buka itu sudah dibalik menjadi keterangan tutup.

 

Donghae sengaja memutuskan untuk memulangkan karyawannya lebih cepat setengah jam dari biasanya. Karena acara ulang tahun salah satu pelanggan kafe kemarin yang membuat karyawannya lembur, Donghae pun menggantinya dan membuat mereka pulang lebih awal malam ini. Ia berharap karyawan istirahat cukup malam ini.

 

Selain itu, Donghae juga akan pergi keluar kota untuk seharian besok. Ia harus menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa pulang nanti. Jadi, Donghae segera menyuruh yang lain pulang sebelum ia benar-benar mengunci semua pintu kafe.

 

“Eonni, pulanglah. Biar aku yang menyelasaikannya,” ucap Sana melihat Hyunni masih tampak sibuk membantunya merapihkan susunan kursi dan meja, di saat semua telah pulang.

 

“Sedikit lagi, aku tinggal menaikkan beberapa kursi lagi ke atas mejanya.”

 

“Tetapi ini sudah malam, eonni.”

 

Hyunni terkekeh geli setelah menatap Sana sekilas. “Yak, biasanya kita pulang lebih terlambat. Kemarin kita bahkan pulang jam sebelas malam. Kau mencemaskan apa memangnya?”

 

“Tidak ada, hanya saja ada rumor yang sering kudengar akhir-akhir ini,” ucap Sana sambil terus menaikkan kursi itu satu persatu ke atas mejanya masing-masing.

 

“Rumor?”

 

Sana mengangguk.

 

“Rumor apa?”

 

“Katanya akhir-akhir ini ada sering penculikannya yang terjadi di tempat-tempat sepi di Seoul pada malam hari. Katanya mereka hanya menculik gadis-gadis muda untuk dijual bahkan diperkosa sebelum dibunuh. Aku hanya khawatir karena kawasan rumahmu terkadang gelap dan sangat sepi jika malam, eonni.”

 

Hyunni terdiam. Penjelasan Sana benar-benar membuatnya menegang ngeri sekaligus takut. Apalagi raut wajah Sana sekarang terlihat begitu kaku dan serius, seolah Sana juga menyimpan ketakutan dalam kalimatnya. Pandangan Sana pada Hyunni pun seolah memberi peringatan pada Hyunni.

 

“Be—benarkah?” tanya Hyunni dengan sedikit tergagap.

 

Sana menggangguk. Raut wajahnya sudah seperti penjahat di film-film horror mematikan. Namun, beberapa detik kemudian, tawa membahana keluar dari mulut Sana. Gadis itu bahkan sudah mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa terlalu keras.

 

“Yak! Min Sana!” Hyunni kemudian sadar, Sana tengah mempermainkannya. Menggodanya dengan cerita rumor mengerikan yang membuat Hyunni gemetaran ketakutan.

 

Dengat gemas, Hyunni memukul lengan sana. Membuat tawa Sana berubah menjadi ringisan kecil. Sana bahkan masih sesekali tertawa melihat Hyunni sembari mengusap lengan atasnya yang dipukul Hyunni dengan kekuatannya yang cukup besar.

 

“Eonni, kau harus melihat wajahmu! Kau benar-benar terlihat seolah kau berada di ambang kematian. Harusnya tadi aku memotretnya dan memajangnya dengan bingkai besar di kafe nanti.”

 

“Apa?! Yak!”

 

Hyunni hendak kembali memukul Sana. Namun sayangnya, gadis jahil dengan berjuta kelucuan itu sudah lari pergi untuk menghindari pukulan Hyunni. Membuat Hyunni hanya bisa menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan untuk menahan dirinya. Berdekatan dengan Sana terkadang membuatnya merasa menua lebih cepat.

 

Lima menit kemudian, Hyunni sudah merapihkan semua meja dan kursi-kursi. Semuanya sudah pulang dan hanya tersisa Donghae, Sana, serta dirinya. Donghae dan Sana pulang bersama terakhir karena mereka yang mengunci kafe.

 

Hyunni sendiri pulang menggunakan sepedanya. Jika ia tidak pakai sepeda dan memilih memakai bus, akan lebih lama waktunya. Setidaknya dengan sepeda, Hyunni bisa melewati jalan-jalan memotong rute terdekat ke rumahnya sehingga biasanya hanya empat puluh menit bersepeda, Hyunni akan sudah sampai di kawasan rumahnya.

 

“Min Sana benar-benar! Walau tadi hanya lelucon, kata-katanya terus tergiang di kepalaku,” gerutu Hyunni sembari terus mengayuh sepedanya lebih cepat dari biasanya saat melewati kawasan yang terang, tetapi cukup sepi. Hanya ada tiang-tiang lampu yang mengiringi Hyunni.

 

Perasaan itu lagi, bisik batin Hyunni.

 

Perasaan itu kembali. Perasaan yang seolah membuatnya merasa diikuti, kembali timbul di dadanya. Aura jalanannya pun berubah, padahal ini adalah jalan yang sama dengan jalan yang biasa Hyunni lewati dengan sepedanya. Semuanya sama, tidak ada yang berbeda. Kecuali perasaan takut itu.

 

Perasaan itu semakin menjadi saat Hyunni sadar, ada sebuah mobil melaju ke arahnya. Kecepatannya pun bisa dibilang di bawah rata-rata. Hyunni menengok sebentar ke belakang dan menarik napasnya kaget.

 

Mobil itu berwarna hitam pekat. Bahkan lebih hitam dari langit malam. Kaca mobil itu pun membuat Hyunni menahan napasnya sebentar. Kaca-kaca mobil itu tidak kalah hitam pekat mengkilap. Rasanya Pandangan Hyunni tidak bisa menembus ke dalam mobil itu, kacanya terlalu gelap.

 

Mobil itu mengikutinya. Membuat Hyunni sadar tentang kemungkinan bahwa target mobil itu adalah dirinya. Bahkan mobil itu berjalan seolah mengintai dari belakangnya.

 

Hyunni segera mengangkat bokongnya dari dudukan sepedanya. Ia mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Ia sangat takut jika apa yang ia pikirkan memang benar. Dan sialnya lagi, kata-kata Sana tadi terus mengiang semakin keras di dalam kepalanya. Suara-suara Sana di dalam kepalanya membuat keadaan semakin buruk. Hyunni merasa semakin panik dan mengutuk semua kalimat Sana tadi.

 

Melihat gadis bersepeda itu menjauh dengan mengayuh sepedanya lebih kencang, laju mobil kelam itu pun ikut meningkat. Tampaknya mobil itu juga tidak bisa bersabar lebih lama.

 

Setelah memastikan benar gadis yang bersepeda di depannya, mobil itu pun melaju kencang melewati Hyunni yang sudah mengeluarkan banyak keringat dingin. Lalu dengan cepat mobil itu membanting kemudinya, membuat badan mobil itu menyerong dan menutup seluruh jalan yang akan dilewati Hyunni tepat di depan gadis itu

 

Ya tuhan! Mereka benar-benar mengincarku, batin Hyunni menjerit ketakutan.

 

Tertutupnya jalannya, membuat Hyunni otomatis turun dari sepedanya. Ia mencengkram sepedanya kuat karena kakinya gemetar hebat dalam berdirinya. Keringatnya bahkan sudah membasahi sedikitnya permukaan kerah leher bajunya.

 

“Kalian mau apa?” tanya Hyunni panik, tetapi dengan suara yang kecil dan bergetar.

 

Tubuhnya menegang sempurna saat tiga orang berbadan besar dan berotot keluar dari dalam mobil itu. Mereka berjalan tegap dan lurus tepat ke arah Hyunni yang perlahan berjalan mundur. Hyunni bahkan tidak memegang sepedanya lagi. Ia terlalu syok untuk mengingat sepedanya sederhananya itu.

 

“Apa yang kalian inginkan?!” Nada Hyunni meningkat. Ia berusaha berteriak, tetapi suara terasa tertahan dan tercekat di dalam tenggorokannya.

 

“Tangkap dia.”

 

Mendengar suara tegas itu, Hyunni seketika berbalik dan mengambil langkah seribunya. Satu-satunya yang ada di kepalanya sekarang berlari. Ia harus terus berlari atau dia akan berada dalam masalah besar.

 

“Tolong! Tolong aku!” Hyunni menjerit sembari terus berlari.

 

Hyunni semakin panik saat ia sadar, dua orang pria ikut berlari mengejarnya. Langkah mereka sangat cepat dan panjang. Dalam hitungan detik mereka sudah dekat. Sedangkan paru-paru Hyunni sendiri rasanya ingin meledak karena ia berlari sangat kencang. Membuat ototnya kaget karena bekerja berkali lipat secara tiba-tiba.

 

“Cepat! Kita harus segera membawanya!”

 

Tepat setelah mendengar kalimat itu di belakangnya, sebuah tangan langsung melihat di sekitar perutnya. Tubuhnya terangkat dan kakinya sudah tidak berpijak dengan jalanan itu. Tubuhnya berhasil di tangkap dan dibawa oleh salah satu orang itu.

 

“Tidak!!” jerit Hyunni terus menerus. Kakinya terus menendang ke sana ke mari, berharap setidaknya tendangannya dapat mengenai mereka.

 

Namun sayang, kekuatan Hyunni tidak sebanding sedikit pun dengan kekuatan besar orang-orang berkaus hitam itu. Bahkan Hyunni sesekali mendaratkan gigitannya di lengan pria itu. Namun, badan pria itu seperti besi. Hyunni yakin, pria itu tidak merasakan gigitannya.

 

“Tidak!! Lepaskan aku!!” jerit Hyunni terus menerus semenjak salah satu pria itu menangkapnya. Hyunni benar-benar pantang menyerah. Ia benar-benar berusaha melepaskan diri dari kungkungan lengan-lengan yang sangat kekar itu.

 

“Sial, demi tuhan! Bius dia sekarang!” teriak kesal pria yang sedang memegang Hyunni. Lama kelamaan ia juga tidak tahan dengan jeritan dan gerakan-gerakan membela diri Hyunni.

 

Pria yang sejak tadi menunggu di dekat mobil pun segera masuk dan mengambil sesuatu dari dalam mobil itu. Pria itu mengambil sebuah saputangan yang berada di dalam sebuah plastik bening. Perlahan pria itu mengeluarkannya dan siap membius gadis itu.

 

Hyunni yang terlalu serius berusaha melepaskan dirinya, tidak sadar bahwa pria lain mendekat. Pria itu langsung membekap mulut Hyunni dengan kain itu. Seluruh pernapasan Hyunni ditutup oleh kain. Memaksa gadis itu agar menghirup kain itu.

 

Perlahan gerakan Hyunni melemah. Suara jeritan Hyunni di balik kain itu juga perlahan berangsur-angsur hilang. Dan hanya butuh beberapa saat setelah kain itu tertempel di pernapasannya, Hyunni pun melemas hingga akhirnya gadis itu benar-benar tidak bergerak.

 

Semua menjadi gelap perlahan. Semua indra perasanya perlahan tidak berfungsi. Dan akhirnya Hyunni benar-benar pingsan seketika.

 

***

 

“Apa dia sudah bangun?”

 

“Belum. Dia masih pingsan.”

 

“Seharusnya ia bangun setelah tiga puluh menit pingsan.”

 

“Kurasa dia akan bangun sebentar lagi.”

 

“Kalau begitu, dandani dia begitu dia bangun. Acara sebentar lagi di mulai. Pastikan ia muncul saat ia dipanggil. Aku tidak mau membuat tamu-tamu kaya itu menunggu lebih lama.”

 

“Baik.”

 

Detik berikutnya, hanya suara pintu yang menutup yang membelai pendengar Hyunni. Ia ingin bangun. Namun, rasanya begitu sulit membuka matanya. Kepalanya pun terasa pusing dan sedikit sakit.

 

“Kau sudah bangun? Bangunlah.”

 

Hyunni merasakan tubuhnya diguncang perlahan. Bisikkan kecil suara wanita pun terdengar berusaha membangunkannya. Perlahan juga mata Hyunni terbuka. Sesekali ia mengerjap saat cahaya ruangan tampak menyilaukan matanya.

 

Pandangan berkunang-kunang menyapa Hyunni. Rasa pening di kepalanya juga perlahan sirna seiring dengan kunang-kunang yang juga ikut menghilang. Kemudian Hyunni mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut yang dapat ia lihat. Ia sadar, ia berada di dalam sebuah ruangan.

 

“Aku di mana?” lirihnya sembari bangkit dari tidur rebahannya di atas sofa itu. Walau suara Hyunni kecil dan melirih, tetapi nada panik terdengar jelas di dalam sana.

 

“Kau di kamar ganti.”

 

“Ya tuhan! Aku baru saja diculik! Kalian menculikku!” pekik tidak percaya.

 

“Tenanglah. Kau baik-baik saja. Memang terkadang orang-orang itu berlaku kasar jika memburu seseorang. Tapi tenang saja, kau tidak akan disakiti di sini,” ucap wanita itu sembari mengambil bedak dan lipstick berwarna sedikit merah.

 

Setelah meneliti wajah gadis yang ada di depannya, wanita itu bisa langsung menyimpulkan wajah Hyunni begitu cantik. Kecantikannya alami. Dan wajah gadis itu tidak membutuhkan banyak alat rias untuk membuatnya bersinar. Hanya butuh sedikit bedak dan pewarna bibir, maka gadis itu akan semakin sempurna.

 

“Apa?! Tunggu dulu! Kenapa aku di sini? Dan astaga! Kenapa aku memakai gaun?! Siapa yang menggantikan pakaianku?!”

 

Hyunni semakin panik saat ia menatap tubuhnya ke bawah. Sebuah gaun malam selutut dengan lengan bertali kecil sudah melekat di tubuhnya. Begitu seksi dan anggun. Dengan panik Hyunni memeluk tubuhnya, seolah melindungi dirinya sendiri.

 

“Aku yang mengganti pakaianmu tadi saat kau pingsan. Hanya aku, tidak ada yang lain.” Wanita itu masih sibuk mengoles sedikit bedak di wajah Hyunni. Ia memanfaatkan kebingungan Hyunni yang terdiam bengong di tempat untuk menaruh bedak dan pewarna bibir itu. “Selesai. Nah, sekarang ayo. Kau akan mendapat giliran.”

 

“Giliran?! Giliran apa?! Kenapa aku di sini?!” Hyunni semakin memberontak saat wanita itu membawanya keluar ruangan.

 

Pikiran buruk membuat napasnya memburu. Ia berharap ia tidak benar-benar akan diperkosa lalu dibunuh kemudian mayatnya dibuang begitu saja. Ia tidak mau. Ia bahkan belum pernah melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Ia tidak ingin mati begitu saja.

 

“Kumohon, lepaskan aku. Kenapa kalian membawaku ke sini?”

 

Nada Hyunni melemah. Ia memohon pada wanita yang memeganginya erat agar tidak berlari pergi. Mata Hyunni bahkan berkaca-kaca, membuat beberapa bulir air mata meminta pengasihan jatuh di pipinya yang sudah diberi efek merona samar. Sangat cantik sekaligus menyedihkan.

 

Ia dibawa ke samping panggung kecil yang cukup mewah. Ia melihat di atas sana tampak seorang pria—yang bertugas seperti pembawa acara—dan seorang wanita yang berdandan cantik berdiri di sana. Gadis itu tampak dibalut gaun mewah dan beberapa perhiasan yang mempercantik tubuhnya. Gadis itu tampak tersenyum senang bahkan menggoda ke depan sana. Membuat Hyunni tidak mengerti sekaligus semakin takut.

 

“Shh, tenang! Jangan sampai riasanmu malah luntur dan menjadi menakutkan. Pria-pria di luar sana adalah pria-pria kaya bermartabat. Mereka tidak akan menyakitimu. Bisa dibilang kau mungkin akan meleleh dengan sikap mereka. Ini hanya lelang kencan seminggu biasa. Kau hanya dibeli untuk sementara. Lagipula jika kau dilelang mahal, hutang-hutang keluargamu akan dianggap lunas. Selain itu akan menyenangkan kencan dengan pria-pria kaya, bukan?”

 

“H—hutang? Hutang apa?! Kenapa aku dijual?!”

 

Baiklah, Lee Yoonhee-ssi terjual empat juta won! Selanjutnya, seorang gadis muda yang cantik, Shin Yeonni!”

 

“Kau dipanggil! Pergilah!” Wanita itu langsung mendorong punggung Hyunni dengan kekuatan besar ke arah panggung itu.

 

“Apa?! Tunggu dulu! Itu bukan namaku!”

 

Semuanya terlambat. Hyunni berjalan—setengah melompat—masuk ke panggung itu. Membuatnya seketika sudah berdiri dengan kaku di tengah-tengah panggung itu tepat di samping sang pria yang membawa acara.

 

“Gadis yang benar-benar cantik dan mungil!”

 

Pujian dari pria berdasi kupu-kupu di sampingnya tidak membuatnya melayang. Hyunni malah bergidik. Ia merasa seolah ia berada di kandang serigala. Di mana serigala-serigala itu mengelilinya, memainkannya, sebelum memangsanya hidup-hidup.

 

Pandangan Hyunni menggarah ke depan. Tampak ada dua puluh sampai tiga puluh pria duduk di sana. Semuanya memakai jas yang di dominasi warna hitam dan abu-abu gelap.

 

Mereka semua pria yang masih muda. Beberapa dari mereka juga tampan-tampan. Dan sekali lihat, Hyunni tahu bahwa mereka bukanlah sembarang pria. Mereka menatap Hyunni penuh minat melihat betapa cantiknya Hyunni dibalut gaun malam dan riasan tipis yang mempesona.

 

“Oke, kita mulai! Siapa ingin yang menawar duluan? Waktunya sembilan puluh detik dari sekarang!”

 

Mata Hyunni melebar menatap pria di samping. Pria yang tampak menikmati acaranya. Mendengar kalimat-kalimat itu, tubuh Hyunni menegang. Ia hanya terdiam di tempatnya. Ia begitu syok. Ia masih berusaha memahami akan apa yang sebenarnya tengah terjadi.

 

Ada apa ini? Aku dilelang? Dijual? batin Hyunni rasanya ingin menjerit.

 

“Seratus ribu won!”

 

“Tiga ratus won!”

 

“Lima ratus won!”

 

“Dua juta won!”

 

“Delapan juta won!”

 

Hanya dalam beberapa detik saja suara-suara pria-pria berjas itu memenuhi pendengaran Hyunni. Membuatnya semakin terdiam dan mematung ditempatnya. Salah satu kebiasaan Hyunni jika ia sudah terlalu syok akan sesuatu.

 

“Sepuluh juta won!”

 

“Oke, apa ada penawaran lainnya?”

 

“Lima puluh juta won!” ucap pria berkacamata dengan wajah yang juga tampan. Melihat wajah itu membuat Hyunni melihat Clark Ken yang berasal dari Korea Selatan. Tampan, tetapi tidak menggetarkan hati Hyunni seperti Hyunni bergetar lemah saat menatap Kyuhyun.

 

“Wow, penawaran tertinggi sejauh ini! Ada yang ingin menawar lebih?”

 

“Seratus juta won!”

 

Suara lantang itu seketika membuat suasana ruang itu hening. Semuanya menatap pria berjas biru tua yang sangat gelap yang juga memakai kacamata hitam itu. Pria itu duduk dengan arogan. Dagunya terangkat tinggi penuh keangkuhan setelah menyebutkan nominal angka menakjubkan itu dengan begitu mudah.

 

Hyunni yang ikut syok dengan angka fantastis itu mencoba melihat jauh ke sana. Hyunni berharap ia tidak akan mati setelah ini. Ia tidak ingin mati mengenaskan di tangan pria kaya. Itu sangat menyeramkan.

 

“D—dia…”

 

Pria itu berdiri sembari merapihkan jasnya sedikit. Kacamata hitam yang menutup sedikit wajah Adonis ia buka perlahan. Menampakkan wajah sangat tampan yang membuat Hyunni perlahan membuka mulutnya tidak percaya.

 

“Cho Kyuhyun,” gumam Hyunni dengan suara-suara yang benar-benar kecil. Sangat kecil hingga rasanya ia sendiri sulit mendengarnya.

 

“Aku Cho Kyuhyun,  menginginkan gadis itu!” Suara berat itu kembali terdengar lantang memenuhi ruangan mewah itu. “Aku akan membayar seratus juta won. Tunai.”

 

Seketika pembawa acara itu memekik kegirangan. Ia bahkan sudah sedikit melompak di tempatnya. Mendengar itu, berartis rejeki besar untuk perusahaan tempat ia bekerja. Dan juga berarti rejeki hebat untuknya.

 

“Apa tidak ada yang yang ingin menawar lagi?” tanya penyiar itu basa-basi. Ia tahu, tidak ada pria yang berani melangkahi angka fantastis konglomerat tersohor, Cho Kyuhyun. “Oke, Shin Yeonni-ssi. Kau milik Cho Daepyo untuk tujuh hari ke depan!”

 

Seisi ruangan benar-benar hening. Hyunni sendiri masih terdiam dan terkejut. Ia menatap Kyuhyun lekat memastikan bahwa pria itu nyata. Dan saat Kyuhyun mengangkat senyuman miring mempesona seperti biasa, saat itu juga Hyunni tahu bahwa ia tidak sedang bermimpi di malam penuh kejutan ini.

 

Dan saat salah satu mata Kyuhyun mengedip menggodanya, saat itu Hyunni tahu bahwa ia benar-benar sudah terikat dengan Kyuhyun. Terikat secara batin dan fisik.

 

Tanpa Hyunni sadari. Ia sudah berakhir di dalam mobil mewah Kuhyun. Mobil yang berbeda dengan sebelumnya, tetapi semewah mobil-mobil yang pernah Hyunni lihat. Begitu empuk di bokongnya. Apalagi jok-jok mobil itu dilapisi kulit berkualitas membuatnya berbeda dengan mobil-mobil biasa lainnya. Harganya sudah pasti mahal bagi Hyunni, tetapi  pasti begitu murah bagi Kyuhyun.

 

Kesadaran tiba-tiba kembali menghantam kepala Hyunni. Ia sadar ia baru saja dibeli oleh Kyuhyun. Ia dibeli seharga seratus juta won. Itu bukanlah angka yang main-main. Hyunni bahkan tidak pernah berimajinasi memegang uang sebanyak itu. Namun, Kyuhyun? Pria itu menghamburkannya begitu saja hanya untuk membelinya. Bahkan secara tunai!

 

Hyunni penasaran, sebenarnya berapa banyak lagi uang yang pria itu sembunyikan di bagasi mobilnya itu. Apa ada berkoper-koper uang? Memikirkan itu saja membuat Hyunni bergidik ngeri. Namun, setidaknya ia berterima kasih pada Kyuhyun telah membawanya pergi dari gedung mengerikan itu.

 

“Ayo, turun.”

 

Terlalu lama melamun membuat Hyunn tidak sadar bahwa mobil mewah itu sudah berhenti sejak tadi. Membuat Kyuhyun harus berbicara dan menyadarkan gadis itu. Kyuhyun sendiri sudah keluar dari mobilnya.

 

“K—kita di mana?” tanya Hyunni sedikit waspada. Yang ia lihat di sekitarnya hanya tempat parkir basement yang remang. Membuat Hyunni tidak bisa menyimpulkan sedang di mana dirinya berada sekarang.

 

Kyuhyun tersenyum simpul melihat kegugupan Hyunni. Gadis itu bahkan berusaha menutupi tubuhnya yang masih memakai gaun terbuka. Selain karena udara malamnya dingin, Hyunni juga tidak nyaman memakai gaun itu di samping seorang pria.

 

Kyuhyun kemudian membuka jas yang sejak tadi ia pakai. Ia memakaikannya di tubuh Hyunni. Berharap gadis itu sedikit hangat dan menutup tubuh atas Hyunni yang terbuka.

 

“Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal buruk,” jawab Kyuhyun yang sudah memasuki lift yang ada di parkiran itu.

 

Hyunni terdiam. Ia berada di depan lift. Ia masih tidak tahu berada di mana. Dan Kyuhyun hanya menyuruhnya masuk ke dalam lift tanpa menjelaskan apapun lebih rinci.

 

“Percayalah,” kekeh Kyuhyun gemas melihat Hyunni.

 

Akhirnya keduanya berada lift itu. Hyunni sedikit mengeryit saat Kyuhyun memecet tombol lift yang akan membawa mereka ke lantai teratas gedung itu. Hingga akhirnya semenit lebih, lift itu terbuka. Menampakkan lantai yang berisi rumah mewah dengan dinding-dinding kaca yang sangat indah di beberapa sisi dindingnya.

 

“Bukankah ini penthouse?”

 

“Selamat datang di rumahku,” ucap Kyuhyun. “Masuklah dan duduk dengan nyaman. Aku akan mengambilkanmu minuman hangat. Kau pasti kedinginan sejak tadi.”

 

Hyunni terdiam sebentar menatap Kyuhyun yang sudah menghilang masuk lebih dalam ke apartemennya itu. Hyunni hanya bisa menengok perlahan ke segela arah. Sekali lagi ia terpesona. Entah kenapa pria itu selalu mempesonanya. Bahkan wajah pria itu tetap selalu mempesonanya kapan pun.

 

Dengan kikuk, Hyunni akhirnya perlahan duduk di salah satu sofa empuk yang berwarna abu-abu terang. Tatapannya masih terus ke arah sekitarnya. Ia tidak bisa berhenti menatap terpesona rumah yang biasanya hanya ia lihat di televise saja.

 

“Minumlah,” ucap Kyuhyun begitu meletakkan secangkir cokelat panas di meja di depan Hyunni.

 

Hyunni meraihnya. Memegangnya dengan kedua telapak tangan yang ia tempelkan di sekitar permukaan samping cangkir keramik itu. Berusaha agar kehangatan minuman di dalamnya ikut menghangatkan telapak tangannya yang mudah kedinginan itu.

 

“Ah, benar-benar nikmat,” kata Hyunni menghela napas leganya merasakan cokelat itu mengalir di tenggorokannya dan menghangatkan dadanya dari dalam.

 

Pria itu terkekeh menatap Hyunni yang tampak begitu puas. Kyuhyun sekarang duduk di depan Hyunni dengan posisi yang sedikit membungkuk karena kedua siku tangannya ditumpukan di kedua pahanya. Seolah ia sedang menikmati pemandangan yang ada di depannya.

 

“Kyuhyun-ssi?”

 

“Hm?”

 

“Apa yang kau lakukan di tempat itu tadi?”

 

“Seharusnya aku yang bertanya. Sedang apa kau di sana? Sebagai gadis lelang? Apa kau mencoba mengikutinya atau kau sedang terlibat masalah sehingga kau berada di sana?”

 

Hyunni mengernyit. Masalah? Hyunni tidak pernah punya masalah dengan siapa-siapa.

 

“Sebenarnya tempat apa itu?” tanya Hyunni was-was.

 

Kyuhyun menengakkan punggung sebelum menyandarkannya dengan nyaman sembari masih menatap Hyunni. “Tadi itu kau berada di salah satu perusahaan. Perusahaan mereka juga menyediakan peminjaman uang dengan bunga dan dalam masa tenggang yang singkat.”

 

“Lalu apa hubungannya perusahaan itu dengan melelang semua gadis?” tanya Hyunni masih tidak bisa mengerti.

 

“Orang-orang yang tidak bisa membayar hutangnya biasanya harus menyerahkan putri mereka untuk dilelang kepada pria-pria kaya. Namun, tidak hanya orang-orang yang terlambat membayar hutangnya. Lelang itu dibuka untuk setiap gadis yang bahkan ingin mengajukan diri untuk dilelang untuk menjadi teman ngobrol, teman curhat atau bahkan teman kencan yang membelinya selama seminggu penuh. Tetapi tenang saja, perusahaan itu tidak sepenuhnya mengerikan. Perusahaan mereka mengeluarkan syarat bagi pembeli gadis lelang agar tidak menyentuh dengan intim gadis yang mereka lelang tanpa persutujuan gadis itu. Bagaimanapun perusahaan tidak ingin terjadi sesuatu pada gadis-gadis lelang terutama gadis yang dilelang karena hutang, larena tidak semua gadis yang memiliki hutang ingin dilelang,” ucap Kyuhyun menjelaskannya panjang lebar. “Mereka menganggap buruk lelang itu. Padahal bagi yang tahu betul tentang pelelangan itu, mereka pasti akan menerimanya dan mengajukkan diri seperti gadis-gadis yang tidak punya hutang.”

 

“Kenapa mereka mau mengajukan diri?”

 

Kyuhyun terkekeh. “Memangnya siapa yang tidak mau berkencan dengan pria kaya? Beberapa dari mereka—yang menolak—tidak sadar bahwa pelelangan itu bersifat simbiosis mutualisme. Uang pembelinya akan masuk ke perusahaan yang berarti potongan hutang. Begitu terus, mereka akan dilelang hingga hutang itu lunas. Dan untuk yang mengajukan diri akan membagi hasil pembelian itu dengan perusahaan dan dirinya. Selain itu bukankah menyenangkan kencan dengan pria-pria muda juga kaya? Para gadis itu sebenarnya hanya tidak tahu keuntungannya. Dan yang mengetahui keuntungannya mengajukan diri untuk ikut. Lelang seperti itu sudah biasa di dunia para pebisnis muda.”

 

Hyunni mengangguk-angguk. Dari penjelasan Kyuhyun tampaknya tidak ada yang buruk akan lelang itu.

 

Kyuhyun pun kembali memajukan tubuhnya. Ia membungkuk tubuhnya kembali dengan menatap Hyunni penasaran. “Jadi Shin Hyunni-ssi, kau gadis lelang apa? Memiliki hutang atau mengajukan diri?”

 

Pertanyaan itu membuat Hyunni menegang tubuhnya. Ia baru ingat kalau ia tadi diculik dan tiba-tiba dia sudah ada perusahaan itu. Dia tidak punya hutang. Walau Hyunni memang hidup sederhana, tetapi Hyunni tidak pernah berhutang pada siapapun termasuk kepada sebuah perusahaan. Ia juga tidak pernah mengajukannya dirinya. Ia bahkan baru tahu tentang soal lelang gadis seperti itu.

 

“Tidak dua-duanya,” gumam Hyunni.

 

Kyuhyun mengernyitkan alisnya tidak mengerti. “Apa maksudmu? Kau tahu punya hutang dan juga tidak pernah mengajukan diri? Lalu kenapa kau ada di sana? Kupikir kau punya hutang, kau tampak ketakutan tadi.”

 

“Entahlah, aku diculik begitu saja sepulang dari kafe tadi. Aku bahkan dibius! Dan tiba-tiba saja aku sudah dilelang begitu saja. Oh iya! Mereka malah menyebutkan nama Shin Yeonni. Padahal itu bukan namaku!” jawab Hyunni dengan intonasi yang sedikit panik.

 

Kyuhyun menghela napas panjang. Sepertinya ia mulai mengerti dengan situasi Hyunni.

 

“Mereka salah tangkap,” simpul Kyuhyun.

 

“Apa?!”

 

“Terkadang gadis yang memiliki hutang mangkir dari acara lelang itu. Sehingga mereka harus mengadakan pemaksaan kecil untuk membawa gadis-gadis itu. Dan sepertinya kau korban salah tangkap. Mereka pikir namamu Shin Yeonni. Mungkin ada kesalahan pengejaan nama sehingga mereka pikir gadis itu kau.”

 

Tiba-tiba rasa kesal memenuhi ubun-ubun Hyunni. Gara-gara kebodohan orang-orang itu, dia malah kena getahnya. Dia bahkan dihadang, dikejar, hingga dibius. Dan semua itu karena kesalahan pengejaan nama?!

 

Kyuhyun terkekeh. Wajah memerah menahan amarah Hyunni sangat  menggemaskan. “Kau tampak kesal sekali.”

 

Mendengar itu Hyunni menghela napas pasrah. Semuanya sudah terjadi. Tidak ada gunanya ia marah-marah lagi. Yang terpenting sekarang, ia sudah keluar dari acara lelang menyebalkan itu.

 

“Tidak, aku tidak kesal,” kilah Hyunni. “Pokoknya aku berterima kasih padamu, Kyuhyun-ssi.”

 

Kyuhyun memicingkan matanya. “Terima kasih?”

 

“Ya, karena sudah membeliku dan tidak membuatku jatuh pada pria asing yang tidak kukenal. Kau bahkan mengeluarkan seratus juta won hanya untuk menolongku.”

 

Kyuhyun tertawa lebar membuat Hyunni bungkam tidak mengerti. Ada beberapa detik lamanya Kyuhyun tertawa seolah ia baru saja mendengar sebuah lelucon. Sebelum akhirnya Kyuhyun berdiri dan berjalan ke arah Hyunni.

 

Kyuhyun sekarang berdiri tepat di depan Hyunni yang menengadahkan kepalanya ke atas menatap wajah Kyuhyun yang begitu tinggi. Terlihat senyuman miring Kyuhyun tercetak. Namun, Hyunni sadar bahwa senyuman itu sebenarnya adalah sebuah seringai yang nakal.

 

“Kau pikir, aku mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk menolongmu?”

 

Hyunni tertegun mendengarnya. Ia merasakan hal lain di nada bicara Kyuhyun. Seolah ada rencana yang tersusun sejak awal Kyuhyun membelinya seharga seratus juta won.

 

“Aku seorang penisnis handal, Hyunni-ssi. Kau pikir aku mengeluarkan seratus juta won secara cuma-cuma? Tidak.”

 

Tiba-tiba Kyuhyun membungkukkan tubuhnya. Mendekatkan wajahnya dengan Hyunni dengan jarak yang begitu dekat. Membuat masing-masing dari mereka dapat merasakan hawa napas satu sama lain. Bahkan Kyuhyun tinggal memajukan bibirnya sedikit untuk menyentuh permukaan bibir Hyunni.

 

“La—lalu?” tanya Hyunni dengan suara yang bergetar gugup. Wajah menawan Kyuhyun yang berada tepat di depan wajahnya membuatnya benar-benar bisa melihat pahatan sempurna di wajah pria itu. Membuat jantungnya berdebar berkali lipat sekali lagi.

 

“Karena aku memang ingin membelimu. Aku ingin memilikimu selama seminggu.”

 

***

 

Malam ini, rasanya Hyunni begitu sulit memejamkan matanya. Pikirannya terus berputar pada kalimat-kalimat yang Kyuhyun katakan padanya tadi. Rasanya ia masih kaget dan tidak percaya akan semuanya.

 

“Karena aku memang ingin membelimu. Aku ingin memilikimu selama seminggu.”

 

“K—kenapa? Kenapa kau menginginkanku?”

 

“Shin Hyunni-ssi, apa kau bodoh? Atau kau tidak bisa melihat semua apa yang kulakukan padamu? Aku memang orang yang ramah, Hyunni-ssi. Tapi aku tidak ramah pada orang asing. Namun, kau ada orang asing yang menerima keramahan bahkan perhatianku. Bukankah semua itu sudah jelas?”

 

“Apa artinya itu?”

 

“Aku menyukaimu, Shin Hyunni-ssi.”

 

“Kyuhyun-ssi, kau menyukaiku?”

 

“Benar.”

 

“Kenapa? Kenapa aku? Aku hanyalah gadis biasa. Kau bisa mendapatkan semua gadis-gadis cantik. Tapi kenapa aku?”

 

“Shin Hyunni-ssi, aku bukan tipe pria yang hanya tertarik dengan yang sederajat. Aku bisa menyukai siapapun. Termasuk dirimu. Kalaupun kau tidak mau. Maka uang seratus juta won. Akan kuanggap hutang. Jadi, mau tidak mau. Kau adalah milikku selama seminggu.”

 

Kata-kata yang terucap dari bibir penuh Kyuhyun benar-benar membuatnya seolah terbang dan bergidik secara bersamaan saat itu. Kyuhyun, pria yang selama ini membuatnya jatuh cinta pandangan pertama untuk pertama kalinya, juga mengatakan—secara tidak langsung—bahwa pria itu membalas perasaannya.

 

Hyunni sendiri sampai sekarang bungkam. Lidahnya kelu untuk mengatakan bahwa ia juga menyukai Kyuhyun, tetapi sayangnya dia begitu malu untuk mengatakannya. Ini pertama kalinya Hyunni benar-benar menyukai hingga jatuh cinta pada seseorang. Jadi, tidak aneh jika Hyunni gugup berlebih.

 

Hyunni masih memikirkan kata-kata Kyuhyun yang terus berputar di kepalanya saat ponselnya berbunyi sebentar. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Hyunni pun seketika bangkit dari tidurnya begitu melihat siapa yang mengirim pesan padanya.

 

Kyuhyun!

 

Besok kau sibuk? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Aku akan menjemputmu jam sembilan pagi. Tidak ada penolakan.

 

Hyunni tertegun sebentar membaca pesan yang benar-benar bernada diktator itu. Perlahan ia mengingat bahwa besok kafe juga tutup karena Donghae ada urusan di luar kota. Dan kafe tak bisa berjalan tanpa Donghae selaku koki utama dan manajer kafe itu, jadi kafe diliburkan sehari.

 

Hyunni jadi penasaran akan dibawa ke mana dirinya oleh Kyuhyun. Hyunni kemudian hanya mengedikkan bahunya. Ia kembali tidur melihat jam dindingnya sudah menunjukkan hampir pukul satu malam. Namun, sebelum Hyunni benar-benar menutup matanya, ponselnya kembali berbunyi.

 

Dan selamat malam, Hyunni-ssi. Semoga kau bermimpi indah. Sampai berjumpa besok.

 

Membaca itu sukses membuat Hyunni merona. Tidak pernah ada seorang pria mengucapkan kalimat itu sebelum ia tidur. Dan Kyuhyun, pria paling tampan yang pernah ia lihat, mengatakan itu padanya. Sekarang ia yakin. Ia pasti akan bermimpi indah.

 

***

 

Tepat jam sembilan pagi. Pria itu benar-benar sudah ada di depan rumahnya. Menunggu dengan posisi menyandar pada tubuh samping mobilnya dengan kacamata hitam yang menutup mata tajam pria itu.

 

Pria itu terlihat mencolok di kawasan sederhana Hyunni. Untung saja pria itu datang saat sebagian besar penduduk di kawasan rumah Hyunni sudah pergi beraktifitas. Sehingga Kyuhyun tidak menjadi objek pemandangan utama yang  mungkin akan membuat heboh seluruh kawasan itu.

 

Berapa menit mereka berkendara. Akhirnya Kyuhyun menepikan mobilnya di salah satu parkiran pinggir jalan di dekat Sungai Han. Ia kemudian sadar bahwa Kyuhyun membawanya ke Yeouido. Yeouido sendiri adalah sebuah area di pusat kota Seoul di sepanjang Sungai Han, atau tepatnya di Yeongdeunpo-gu. Yeouido sendiri adalah tempat popular di mana sering diadakan Festival Bunga Sakura setaip awal musim semi seperti ini.

 

Yeouido adalah tempat sempurna untuk menikmati jajaran pohon-pohon bunga sakura yang bersemi dan bermekaran dengan indah dan lembut. Warna merah muda yang hampir putih itu terlihat sangat cantik apalagi jika bunga-bunga itu sedang berguguran ditiup oleh angin. Seolah kita ikut merasakan sebuah hujan kelopak bunga sakura yang lembut.

 

Tempat itu sangatlah indah. Dan Hyunni benar-benar senang, Kyuhyun membawanya ke tempat itu. Melihat di mana daun-daun indah bunga sakura yang baru saja terlahir, memenuhi pohon-pohonnya.

 

“Kenapa kita ke sini?” tanya Hyunni begitu mereka sudah berjalan beriringan di jalan batu itu.

 

Sepanjang mata Hyunni memandang hanya ada puluhan pohon sakura yang sangat indah yang berada di pinggir jalan itu. Beberapa dari kelopak mereka sedikit berjatuhan karena angin hari ini yang memang tertiup lebih kencang dari biasanya. Hyunni cukup bersyukur dia sudah menyiapkan sweter hangat yang sekarang ia pakai, sehingga anggi tak membuatnya terlalu kedinginan pagi inni.

 

“Banyak orang bilang di sini tempat kencan yang bagus. Jadi, aku sengaja membawamu ke sini? Bagaimana? Kau suka?”

 

Hyunni terdiam. Ia merona. “I—ini kencan?”

 

Kyuhyun tersenyum miring sebelum mengangguk lalu terkekeh. “Tentu saja. Kau ingat, kan? Kau milik untuk seminggu ini. Jadi, dengan kata lain. Kau kekasihku seminggu ini. Dan tidak ada bantahan atau seratus juta won menjadi hutang.”

 

Hyunni heran, Kyuhyun selalu mengancamnya setiap menginginkan sesuatu. Pria itu selalu membuatnya agar ia tidak bisa menolak dengan ancaman menjadikan uang yang dipakai Kyuhyun dipelelangan kemarin menjadi hutang. Padahal Hyunni sendiri memang tidak ada niatan untuk menolaknya.

 

Hyunni tidak mungkin menolak tawaran seorang pria yang selama ini ia sukai. Apalagi permintaan tawaran pria itu ada menjadi milik pria itu. Menjadi kekasih Kyuhyun. Kenapa Hyunni harus menolak? Walau hanya seminggu, Hyunni ingin terus berada di dekat Kyuhyun. Itu lebih baik daripada ia hanya bisa mengagumi pria itu dari lembaran majalah bisnis yang ia beli hanya untuk melihat wajah Kyuhyun.

 

“Ayo, di sebelah sana lebih banyak pohon bunga sakura.”

 

Kyuhyun segera meraih salah satu tangan Hyunni. Menggenggamnya dengan erat bahkan mengautkan jemari mereka. Sebelum Kyuhyun tersenyum sangat mempesona. Walau Kyuhyun terus memakai kacamata hitamnya, Hyunni tetap terpesona. Senyum pria itu selalu mempesona kapan pun.

 

Pipi Hyunni kembali memanas. Telinganya bahkan ikut memerah merona. Salah satu ciri khas Hyunni jika di benar-benar sudah malu bercampur bahagia. Dengan agak ragu, Hyunni membalas genggaman tangan Kyuhyun.

 

Merasakan genggaman Hyunni ikut mengerat. Membuat Kyuhyun tidak bisa berhenti sengeluarkan senyuman miringnya. Ia tahu, Hyunni sudah jatuh terlalu dalam pada pesonanya. Dan ia senang jika memang benar begitu. Karena jika Hyunni sudah jatuh begitu dalam pada pesonanya, maka akan mudah bagi Kyuhyun menjadikan gadis itu miliknya.

 

Hampir dua jam lamanya mereka menikmati bunga-bunga sakuranya bersama tanpa bosan. Kyuhyun tidak berhenti tersenyum melihat Hyunni tampak terus terpesona lagi dan lagi pada bunga-bunga itu. Seolah Hyunni adalah gadis kecil yang baru saja melihat keindahan bunga sakura. Terlihat menggemaskan melihat Hyunni terus terkagum.

 

Sejak dulu, Hyunni memang jarang pergi melihat bunga sakura saat musim semi. Ia lebih suka di rumah belajar atau pergi berkerja paruh waktu. Sebelum Hyunni akhirnya mulai bekerja di kafe Donghae—salah satu oppa yang menjadi sahabat Hyunni saat itu—setelah tujuh bulan yang lalu kafe itu dibuka.

 

Sehingga tidak aneh jika sekarang Hyunni bertingkah kekanakkan. Gadis itu tampak terus menengadahkan kepalanya ke atas. Sesekali ia juga menyentuh dengan gemas bunga-bunga yang mekar di dahan rendah sehingga mudah untuk Hyunni untuk menyentuhnya.

 

Seingat Hyunni, terakhir ia menyentuh bunga sakura saat ia kelas satu di sekolah menangah pertama. Ia masih ingin betul bahwa ia datang bersama ayah dan ibunya. Dan seperti sekarang, Hyunni juga dulu seantusias ini.

 

“Benar-benar lembut. Seperti dulu,” gumam Hyunni.

 

Saat ada bunga sakura yang gugur dari pohonnya, Hyunni dengan sigap menengadahkan tangannya ke tempat di mana ia memprediksikan kelopak itu akan jatuh. Hyunni semakin antusias saat kelopak-kelopak itu jatuh di tangannya.

 

Hyunni tengah mengusap bunga sakura yang ada ditangannya saat ia merasakan sepasang tangan memeluk tubuhnya dari belakang. Ia bisa merakan punggung bidang itu di punggung. Sedangkan ia bisa merasakan dagu Kyuhyun sekarang berada di atas pucuk kepalanya.

 

“Kyuhyun-ssi?”

 

Hyunni menahan napasnya saat merasakan pelukan di sekitar perutnya itu mengerat. Membuat Hyunni semakin membeku menerima perlakuan Kyuhyun. Posisi ini, benar-benar membuat Hyunni menempel dengan tubuh Kyuhyun.

 

“Kyuhyun-ssi, kau kenapa?”

 

“Hyunni-ssi.” Hyunni yang hendak membalikkan tubuhnya menahan Kyuhyun, ditahan oleh pria itu dengan menyelanya cepat.

 

“A—apa?”

 

“Apa salah jika aku benar-benar mengharapkanmu?” tanya Kyuhyun dengan suara yang lembut, menggetarkan seluruh ruang tubuh Hyunni.

 

Kyuhyun kemudian membalikkan tubuh Hyunni. Menatap Hyunni langsung ke mata gadis itu. Berusaha membuat gadis itu tahu bahwa ia serius mengatakannya.

 

“Aku menyukaimu, Shin Hyunni.”

 

Rasanya telinga Hyunni semakin memerah. Ia tidak menyangka kembali mendengar kalimat yang selalu berhasil membuatnya berdebar selalu. Kata-kata yang Kyuhyun keluarkan begitu tegas, membuainya ke mimpi terindaah yang ia pikir tidak akanpernah ia capai sebelumnya.

 

“Aku sangat menyukaimu, Hyunni-ssi. Apa kau tidak merasakannya?”

 

Hyunni terdiam. Bibirnya begitu gatal ingin membalas ucapan Kyuhyun. Namun, sekali lagi ia malu. Ia tidak pernah mengatakan kalimat itu sebelumnya pada seorangnya pria. Namun, melihat ketegasan Kyuhyun membuat Hyunni tidak bisa menahannya lebih lama. Ia sadar, ia tidak mau menyembunyikan perasaan lebih lama.

 

“Aku… aku juga menyukaimu, Kyuhyun-ssi. Bahkan saat pertama kali melihatmu. Aku rasa aku sudah begitu menyukaimu. Aku masih tidak menyangka kau membalas perasaanku.”

 

Mendengar itu, senyuman miring penuh kepuasan terbit di bibir Kyuhyun. Ia mengusap salah satu pipi Hyunni yang masih merona dengan lembut. Membuat pipi itu semakin merona malu. Siapapun yang melihatnya akan terpesona karena cantiknya wajah Hyunni saat merona.

 

“Bagus, karena aku tidak suka penolakkan.”

 

Hyunni terkekeh. “Jika tadi aku bilang aku tidak menyukaimu, kau akan membuat seratus juta won itu menjadi hutang?”

 

“Tentu saja.”

 

“Kalau begitu sejak awal aku memang tidak punya pilihan lain.”

 

Keduanya terkekeh. Mereka tertawa kecil persis seperti pasangan bahagia yang baru saja terbentuk. Lama mereka saling menatap sebelum keduanya kembali terdiam. Suasana tiba-tiba saja membuat keduanya melankolis.

 

Perlahan Kyuhyun menurunkan tangannya. Memegang kedua tangan Hyunni dengan erat. Sebelum wajah Kyuhyun perlahan mendekat ke wajah Hyunni.

 

“Maaf, tapi aku harus memegang tanganmu. Aku tidak ingin mendapat tamparan untuk kedua kalinya saat aku benar-benar menginginkan bibirmu,” bisik Kyuhyun saat bibir pria itu tepat satu senti di depan bibir Hyunni.

 

Tanpa menunggu jawaban Hyunni, Kyuhyun langsung mendaratkan bibirnya di bibir merah muda Hyunni. Membuat Hyunni merasakan euforia yang meletup-letup seperti kembang api di dalam pikirannya. Rasanya tubuh Hyunni menjadi ringan saat perlahan Kyuhyun melumatnya dengan begitu lembut.

 

Angin berhembus sedikit kencang. Menerbangkan anak-anak rambut Kyuhyun dan Hyunni yang masih sibuk dalam ciuman pertama kedua pasangan itu. Angin itu pula membawa beberapa kelopak bunga sakura menjatuhi kedua tubuh mereka layaknya hujan yang indah. Sehingga suasana seolah mendukung ciuman mereka agar semakin dalam.

 

Dan ciuman itu benar-benar semakin dalam. Kyuhyun perlahan membawa kedua tangan Hyunni melingkar di sekitar lehernya. Kemudian kedua tangan Kyuhyun berada di kedua pinggang ramping Hyunni. Menarik pinggang itu perlahan supaya menempel pada tubuhnya. Sebelum akhirnya, tangan Kyuhyun berada di kedua tengkuk Hyunni. Memaksa gadis itu memangutkan lebih dalam.

 

Hanya satu dalam pikiran Kyuhyun saat ini. Bibir Hyunni seperti candu.

 

Beberapa menit berlalu hingga kedunya melepaskan tautan bibirnya. Keduanya tersenyum lebar. Kyuhyun menatap mata Hyunni dengan begitu tajam. Sesuatu menyiksa Kyuhyun sebenarnya sejak tadi merasakan bibir Hyunni. Sesuatu di tubuh Kyuhyun menegang meminta pemuasan dari gadis yang ada di hadapannya kini..

 

Hyunni tertegun sebentar. Tatapan Kyuhyun tampak berkabut. Seolah memohon padanya. Dan detik berikutnya Hyunni terdiam  kaget saat Kyuhyun menyampaikan kefrustasiannya.

 

“Aku benar-benar ingin membawamu ke ranjangku sekarang, Shin Hyunni.”

 

To be continue…

 

176 thoughts on “Uncontrollably Crush Part 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s