When The Smile Being Ornate Part 2


 

Author : Irene Cho

Tittle : Surprise (?)

Category : NC17, Mature, Romance, Chapter

Cast :

Cho Kyuhyun

Jung Nara

Disclaimer : This story is mine! Don’t copy without permission!

Note : Terimakasih untuk admin FNC yang udah mau publish tulisanku di blog ini dan terimakasih juga buat reader yang udah mengapresiasi ffini. Awas typo bertebaran. Ff ini sudah pernah aku publish di watty dan blog pribadiku.

 Happy reading ^^

 

Preview

 

Siwon menghapus pikiran buruknya, dan melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar, ia lalu memasuki mobil yang telah menunggunya di depan perusahaan sahabatnya itu. Sementara gadis itu melenggang memasuki lift, menekan tombol berangka 30, menuju ruang CEO perusahaan.

 

Story Began

Cho Corporation Building, Seoul.
10.00 AM KST

 

Kyuhyun berdiri menghadap kaca besar yang memperlihatkan pemandangan Seoul dari ruang kantornya yang terletak di lantai 30 gedung pencakar langit itu. Dari sini ia merasa bisa menggenggam dunia.

 

Kerja kerasnya selama ini telah membawa perusahaannya menjadi perusahaan multinasional yang sangat diperhitungkan.

 

Ia menerawang, kembali mengingat masa setahun yang lalu, saat perusahaan masih dipimpin oleh ayahnya, Cho Younghwan. Perusahaan multinasional itu mengalami krisis yang pelik, sehingga membuat perusahaan itu terancam pailit.

 

Cho Younghwan bahkan telah menjual beberapa persen sahamnya untuk menutupi kerugian-kerugian yang dialami perusahaan, namun hal tersebut tetap tak membuahkan hasil. Hutang perusahaan terlalu besar, ditambah harga saham perusahaan yang merosot setiap jam.

 

 

Hingga akhirnya penyakit jantung yang telah lama bersarang di tubuh tuanya, berhasil merenggut nyawa Younghwan. Saat itulah Kyuhyun mengambil alih perusahaan, meneruskan kepemimpinan sang ayah. Otak jeniusnya membawa perusahaan kembali kepada keadaan semula, bahkan sekarang perusahaan itu mengalami perkembangan yang signifikan sejak berada di bawah kepemimpinannya.

 

“Kau bisa bangga padaku sekarang, Aboeji.” Ia bergumam.

 

Suara telepon menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya.

 

Depyeonim, ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan Anda, katanya dia sudah membuat janji,” suara dari sekretarisnya.

 

“Biarkan dia masuk,” perintahnya tegas.

 

“Baik, Depyeonim.”

 

Panggilan itu berakhir, sejurus kemudian pintu ruangan Kyuhyun terbuka, menampilkan sekretarisnya dan seorang gadis yang memang telah Kyuhyun tunggu.

 

Gadis itu melangkah masuk, sementara sekretaris Kyuhyun kembali keluar dan menutup pintu ruangan itu.

 

“Duduklah, Rin-ah.”

 

Gadis itu melangkah ke arah sofa yang terletak di tengah ruangan dan menjatuhkan bokongnya di atas sofa itu dengan nyaman, sementara Kyuhyun juga melangkah mendekati sofa dan duduk tepat di hadapan gadis itu.

 

“Ayo kita mulai lagi, Rin-ah ….” Pria itu membuka pembicaraan. “Ayo kita mulai lagi seperti dulu,” Kyuhyun melanjutkan.

 

“A-Apa maksudmu, Kyu?” tanya gadis itu dengan mata melebar, ia tak bisa menutupi keterkejutannya.

 

“Ayo kita kembali berkencan,” jawab Kyuhyun mantap.

 

***

Fabulous Florist, Dongjak, Seoul
01.00 PM KST

 

“Hyukjae-ssi! sudah berapa kali kukatakan, jangan kembali ke sini lagi jika kau tak berniat untuk membeli bunga.”

 

Suara bentakan seorang gadis menyambut Hyukjae, saat pria itu memasuki toko bunga yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi. Namun ia seperti tak merasa terusik sama sekali. Hyukjae justru melanjutkan langkahnya mendekati gadis itu dengan senyuman manis bertengger di bibirnya.

 

“Aku kesini memang bukan untuk membeli bunga, Yura-ya, tapi aku sedang berusaha mencuri bunga yang paling cantik di toko ini,” ujarnya santai sambil mengerlingkan matanya saat setelah berada cukup dekat dengan gadis yang ia panggil Yura itu.

 

“Jangan bercanda Hyukjae-ssi, aku harap kau benar-benar pergi sekarang juga, sebelum aku mengguyurmu dengan air seperti kemarin,” ancam gadis itu sembari menatap tajam pada lelaki yang selama dua bulan ini mengganggu hidupnya.

 

Yura sering bertanya-tanya, dosa apa yang telah ia lakukan, hingga hidupnya dibuat tak tenang oleh lelaki gila ini.

 
“Tenanglah, Yura-ya. Aku hanyaingin mengajakmu makan siang, karena aku tak biasa makan sendirian, sementara aku tak mempunyai seseorang yang bisa kuajak makan siang, selain kau,” Hyukjae berkata dengan nada memelas.

 

“Kenapa aku?” tanya gadis itu polos.

 

“Karena aku menyukaimu.” Hyukjae menjawab tak kalah polos.

 

“Yak! Kau benar-benar menguji kesabaranku!” teriak Yura, lalu mengembuskan napasnya kasar. Gadis itu merasa kesal karena Hyukjae tak pernah mengerti dengan penolakannya. Pria itu seolah tak pernah lelah mendatangi toko bunganya setiap hari, dan selalu mengganggu ketenangannya.

 

“Ayolah …” Hyukjae masih berusaha membujuk Yura, sembari menggapai tangan gadis itu, dan bersiap menyeret gadis itu keluar.

 

Getaran ponsel Hyukjae menghentikan perdebatan mereka, lelaki itu meraba kantong bagian dalam jasnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih menggenggam tangan Yura. Hyukjae mengambil ponselnya dan menerima panggilan itu. SementaraYura tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melepaskan genggaman Hyukjae di tangannya.
“Aish, kau mengangguku saja. Ada apa?” Hyukjae langsung menumpahkan kekesalannya.

 

Hyung, aku butuh bantuanmu,” suara di seberang sana.

 

“Aku sedang sibuk,” jawabnya ketus.

 

Jangan begitu, Hyung, aku benar-benar butuh kemampuanmu dalam merayu wanita.

 

“Apa maksudmu, Kyu?” Hyukjae bertanya heran.

 

“Yang jelas kita bertemu saja dulu, nanti baru kuceritakan, aku tunggu kau di Kona Beans.”

 

“Ya! Aku se—, yeobseo … yeobseo …, aish, sial!” Hyukjae mengumpat kesal karena Kyuhyun mengakhiri panggilan sebelum ia selesai bicara.

 

“Yura-ya, sepertinya kita tak bisa makan siang bersama hari ini karena aku harus menemui seseorang, besok aku akan kembali lagi,” ujar Hyukjae pada Yura, lalu pria itu bergegas menuju mobilnya.

 

“Dasar lelaki aneh, siapa yang mau makan siang dengannya?” dumel Yura, gadis itu hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian Hyukjae.
***


Sangji Ritzvil Caelum Cheongdam, Gangnam, Seoul.
10.00 PM KST

 

Audi R8 itu memasuki pekarangan rumah mewah yang terletak di salah satu kawasan perumahan elit di Gangnam. Sang pengemudi dengan gagahnya keluar dari kuda besi itu, melangkah meninggalkan garasi menuju pintu rumahnya, sementara istrinya berdiri di depan pintu menyambut kedatangannya.

 

“Kenapa belum tidur, Ra-ya?”

 

Mereka melangkah kedalam. Nara mengambil tas kerja Kyuhyun dan membantu Kyuhyun melepas jasnya.

 

“Kau tau kan Kyu, kalau aku tak bisa tidur jika tak ada kau di sampingku.”

 

“Jangan begitu, bagaimana kalau seandainya nanti aku tak bisa pulang karena sesuatu, apa kau tak akan tidur semalaman?” tanya Kyuhyun khawatir.

 

“Kalau begitu jangan pernah mencoba untuk tidak pulang, Kyu, karena aku benar-benar tak akan tidur semalaman.”

 

“Baiklah tuan putri, pangeranmu ini akan mematuhi perintahmu,” ujar Kyuhyun dengan kekehan. Sementara Nara tersenyum geli.

 

“Apa kau ingin makan malam dulu, Kyu?”

 

“Tidak, Ra-ya, tadi aku sudah makan malam di kantor.”

 

“Baiklah.”

 

Keduanya melangkah menuju kamar mereka yang terletak di lantai dua, dengan Kyuhyun yang melingkarkan lengannya di pinggang Nara.

 

“Tadi siang eommonim berkunjung,” beritahu Nara setelah mereka sampai di kamar, dan langsung memposisikan diri duduk di bagian tepi ranjang.

 

“Benarkah? Sayang sekali aku tak bisa pulang saat makan siang,” ujar Kyuhyun dengan wajah menyesalnya, sambil mengikuti Nara duduk di pinggir ranjang.

 

Sebenarnya Kyuhyun sangat merindukan ibunya, tapi pekerjaan di kantor membuatnya tak bisa berkunjung ke kediaman sang ibu.

 

“Iya, kalau ada waktu luang, ayo kita berkunjung ke tempat eommonim,” ujar Nara lembut sambil mengusap lengan Kyuhyun, “dan … sebenarnya eommonim meninggalkan sesuatu untuk kita,” lanjut Nara dengan pipi memerah.

 

“Sesuatu? Apa itu?” Tanya Kyuhyun penasaran, terlebih melihat pipi Nara yang bersemu merah.

 

“Heum, Katanya kita harus meminumnya 2 kali sehari, agar baby Cho segera hadir di rahimku.”

 

Wajah Nara semakin merona setelah menyelesaikan kalimatnya.

 

Kyuhyun mengernyit. Pria itu tampak berpikir, namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah. Kyuhyun mengerti dan bisa menebak apa yang diberikan ibunya untuk mereka.

 

Kyuhyun membenarkan posisi duduknya, lalu menatap intens pada Nara.

 

“Apa kau benar-benar menginginkan kehadiran baby Cho di antara kita saat ini, Ra-ya?” tanya Kyuhyun masih dengan tatapan intensnya, pertanda bahwa ia menginginkan jawaban jujur dari Nara. Pria itu takut Nara merasa tertekan karena ibunya selalu membahas tentang bayi. Jadi, ia ingin memastikan, apakah Nara juga benar-benar menginginkan bayi saat ini, atau istrinya itu merasa terpaksa karena keinginan ibunya.

 

“Tentu saja, Kyu. Membayangkan little Cho tumbuh di rahimku dan beberapa bulan kemudian ia lahir dengan wajah lucunya yang mirip denganmu, membuatku bahagia.”

 

Nara berujar sambil mengembangkan senyumnya. Gadis itu terlihat bahagia bahkan hanya dengan membayangkannya saja. Kyuhyun ikut tersenyum melihat senyuman Nara. Pria itu cukup lega. Berarti Nara benar-benar menginginkannya, bukan karena merasa terpaksa.

 

“Kau menginginankan bayi laki-laki atau perempuan?” tanya Kyuhyun bersemangat.

 

“Aku ingin bayi laki-laki untuk anak pertama kita dan bayi perempuan untuk anak kedua kita, bukankah itu manis, Kyu?” Nara berucap dengan mata berbinar. Ketara sekali ia mengharapkan hal itu.

 

Dan lagi-lagi Kyuhyun tersenyum melihat ekspresi Nara. Ia merasa Nara sangat menggemaskan dengan binaran di matanya.

 

“Bayi perempuan yang memikili mata indah yang sama denganmu, itu terdengar menyenangkan,” ujar Kyuhyun masih dengan senyuman yang melengkung di sudut bibirnya.”Kalau begitu ayo kita buat secepatnya,” lanjut Kyuhyun dengan semangat menggebu sambil mencondongkan badannya ke depan, ke arah istrinya itu.

 

“Memangnya anak itu makanan? bisa dibuat, lalu langsung jadi,” ujar Nara kesal, sementara Kyuhyun hanya terkekeh.

 

“Sebaiknya kau mandi sekarang, kau bau keringat, Tuan Cho.”

 

Nara mendorong pelan tubuh Kyuhyun.

 

“Tapi kau suka kan bau keringatku?” ujarnya. Kyuhyun tersenyum jahil, ia sangat senang menggoda istrinya.

 

“Sudah cepat mandi sana.”

 

Nara mencoba menutupi kegugupannya, sambil kembali mendorong pelan tubuh Kyuhyun. Sementara Kyuhyun hanya terkekeh lalu berlalu menuju kamar mandi.

 

Nara melangkah keluar kamar, menuju dapur dan membuka lemari pendingin. Gadisitumengambil susu kotak dan membuka box yang tadi diberikan mertuanya. Mengambil isinya yang berupa cairan yang dibungkus dengan kemasan plastik. Nara menuangkan susu ke dalam gelas, lalu kembali meletakan susu kotak itu kedalam lemari pendingin. Gadis itu kembali melangkah ke kamarnya dengan membawa segelas susu dan kemasanberisicairan yang diberikanmertuanya, untukdiminumKyuhyun.

 

Sesampainya di kamar, Nara menemukan Kyuhyun sudah selesai mandi, dan sedang mengusapkan handuk di rambutnya. Nara menghampiri Kyuhyun.

 

“Minum ini dulu, Kyu, setelah itu baru minum susu untuk menghilangkan rasa pahitnya.” Nara menyodorkan kemasan yang tadi dibawanya, pada Kyuhyun.

 

“Apa ini ramuan yg bisa mempercepat kehadiran baby Cho?” tanya Kyuhyun jail, membuat pipi Nara kembali merona.

 

Kyuhyun mengambil kemasan itu, membuka tutupnya dan langsung meneguknya.

 

“Hais, kenapa pahit sekali?” Kyuhyun mengernyit sambil menjulurkan lidahnya karena rasa pahit yang menyengat lidahnya.

 

“Minum susu ini, maka rasa pahitnya akan hilang.”

 

Nara menyuapi segelas susu itu pada Kyuhyun. Dengan tergesa Kyuhyun meminum susu itu sambil mengenggam tangan Nara. Ia melahap habis susu di dalam gelas itu dalam satu tegukan.

 

“Apa setelah ini kita akan menuju langkah berikutnya?” Kyuhyun menunjukkan smirk-nya.

 

“Langkah berikutnya?” Nara bertanya, tak mengerti.

 

“Iya, langkah berikutnya untuk membuat baby Cho.” Lelaki itu kembali menunjukan smirk-nya yang membuat pipi Nara merona.

 

“M-memangnya apa langkah berikutnya?” Nara bertanya gugup, perasaannya mulai tak enak dengan melihat smirk Kyuhyun.

 

“Tentu saja bagian intinya, Sayang. Percuma saja kita meminum ramuan pahit itu jika kita tidak melakukan proses pembuatan bayinya.”

 

Kyuhyun semakin mendekatkan wajahnya kearah istrinya, sementara Nara terlihat semakin gugup.

 

Walaupun ia dan Kyuhyun sudah sering melakukan skinship, bahkan lebih dari itu, tapi tetap saja rasa gugup selalu melandanya jika Kyuhyun melakukan skinship ataupun menggodanya.

 

“Ayo kita membuat baby Cho yang cantik dan tampan.” Kyuhyun berkata pelan tepat di depan wajah Nara. Embusan napasnya menerpa wajah gadis itu.

 

Dengan seketika Kyuhyun menarik tengkuk Nara, menempelkan bibir penuhnya pada bibir merah Nara. Perlahan melumat bibir manis itu. Kyuhyun menciumnya dengan lembut namun penuh hasrat. Lelaki itu menarik pinggang Nara untuk memangkas jarak.

 

Nara mulai membalas ciuman Kyuhyun, meletakkan tangannya pada bahu kekar Kyuhyun, meremasnya ketika ciuman itu semakin panas dan merenggut jalan masuk oksigen.

 

Kyuhyun terus menyesap dan mengisap, sesekali mengigit kecil bibir Nara. Dengan lihai bibir Kyuhyun membuka mulut Nara, dan lidah panasnya dengan cepat menjelajahi isinya.

 

Kyuhyun melepas gaun tidur sutra yang melekat pada tubuh Nara, hingga hanya menyisakan pakaian dalam gadis itu. Kyuhyun tetap melanjutkan lumatannya pada bibir Nara, kembali menyesap bibir manis istrinya, sementara lidahnya sudah bergerilya di dalam mulut Nara, dan tangannya dengan nakal membelai punggung telanjang Nara.

 

Kyuhyun menurunkan ciumannya ke dagu Nara dan setelah itu bibirnya mendarat di leher putih Nara, ia mengisap dan sesekali menggigit kecil leher Nara, hingga membuat gadis itu menjenjangkan lehernya.

 

“Eungh …”

 

Nara melenguh menikmati sensasi hisapan Kyuhyun di lehernya, sementara Kyuhyun masih terus melanjutkan cumbuannya pada leher Nara, meninggalkan tanda keunguan pada leher putih itu.

 

Bibir Kyuhyun beralih pada tulang selangka Nara. Ia mengisap kuat dan juga meninggalkan tanda keunguan di sana, yang menandakan bahwa Nara hanyalah miliknya, hingga bibirnya sampai pada belahan dada Nara. Ia semakin buas, menjilat dan kemudian mengulum dada bagian atas Nara yang tidak tertutup bra. Kyuhyun masih enggan melepaskan benda itu dari tubuh Nara.

 

Bibir Kyuhyun menjalar ke atas, beralih pada bibir Nara, ia kembali merasai bibir penuh candu itu. Mereka kembali saling memagut, walau Kyuhyun tetap lebih mendominasi ciuman panas itu.

 

Masih dalam keadaan bibir yang saling bertaut, Kyuhyun mendorong pelan tubuh Nara ke arah ranjang. Merebahkan tubuh gadisnya, sementara pria itu menindih tubuh Nara dengan menjadikan sikunya sebagai tumpuan untuk menahan bobotnya.

 

Tautan bibir itu terlepas. Kyuhyun memandangi wajah cantik istrinya yang masih menutup matanya. Napas mereka memburu, terengah, akibat ciuman panas yang mereka lakukan dan juga karena gejolak yang berasal dari dalam diri keduanya yang ingin mendapatkan pelepasannya.

 

“Buka matamu, Sayang.” Kyuhyun setengah berbisik di depan wajah Nara. Gadis itu membuka matanya, menatap wajah tampan suaminya yang tepat berada di depan wajahnya. Kyuhyun mengelus pipi Nara dengan ibu jarinya.

 

“Demi Tuhan, Ra-ya, tak ada yang lebih membahagiakan bagiku selain menjalani hari-hari yang indah dan melewati malam yang panjang bersamamu, bahkan aku merasa seperti sedang bermimpi karena bahagianya.” Kata-kata Kyuhyun membuat pipi Nara semakin merona. “Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu.” Kyuhyun mengecup dalam kening Nara, menumpahkan semua rasa cintanya lewat kecupan itu.

 

Nara menangkup wajah Kyuhyun setelah pria itu mengakhiri kecupan di keningnya.

 

“Aku juga sangat mencintaimu, Kyu. Menjadi istrimu adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku, bahkan aku tak tau lagi arti kesedihan dan air mata setelah menikah denganmu, yang aku tau hatiku selalu berbunga-bunga setiap harinya.” Nara balas mengecup kening Kyuhyun.

 

Keduanya kembali saling perpandangan, mempertemukan manik hazel mereka. Kyuhyun mulai mendekatkan wajahnya lagi, menyatukan bibir mereka, sementara tangannya sudah mengelus pelan dada Nara. Kembali mereka tenggelam dalam ciuman yang menggebu, penuh hasrat.

 

Namun, suara getaran ponsel menginterupsi kegiatan mereka. Nara mendorong pelan dada Kyuhyun.

 

“Ponselmu, Kyu.”

 

Nara mencoba menyadarkan Kyuhyun yang sepertinya masih terbuai dengan kegiatannya mencumbui gadis itu. Dengan seketika Kyuhyun menghentikan kegiatannya, melirik ponsel yang terletak di nakas yang berada di samping ranjang. Pria itu menjangkau ponselnya dan kemudian turun dari ranjang, lalu melenggang ke arah balkon.

 

Nara mengambil selimut, menutupi tubuhnya yang sudah half naked. Ia terus memperhatikan Kyuhyun yang menerima panggilan entah dari siapa. Tak beberapa lama Kyuhyun mengakhiri panggilannya. Ia melangkah menuju ranjang lalu memungut gaun tidur Nara yang tergelatak di lantai.

 

“Pakailah kembali.”

 

Kyuhyun menyodorkan gaun itu pada Nara, sementara gadis itu hanya melongo.

 

“Ayo kita langsung tidur saja. Aku lelah.” Kyuhyun kembali bersuara.

 

“E-eo.”

 

Nara tergagap. Gadis itu mengambil gaun tidurnya dari tangan Kyuhyun, lalu memakai kembali gaun tidur sutra itu. Sementara Kyuhyun sudah berbaring memungguginya.

 

Nara menatap heran pada Kyuhyun, tak biasanya suaminya itu tidur memunggunginya. ‘Apa yang terjadi? Siapa yang menghubungi Kyuhyun tengah malam begini?’, pertanyaan-pertanyaan itu bersarang di kepala Nara, ia terus memperhatikan punggung Kyuhyun, hingga ia terlelap.

***

 

Ahjumma, sudah dua hari ini Kyuhyun bersikap tak seperti biasanya. Dia tak pernah mengecup keningku lagi sebelum pergi ke kantor, selalu punya janji makan siang, dan pulang larut malam. Apa menurut Ahjumma ini tak aneh?”

 

Nara mengeluarkan isi pikirannya pada bibi Kim, karena sejak malam itu, Kyuhyun bersikap dingin padanya.

 

Sejak pertama bertemu dengan bibi Kim, Nara memang langsung dekat dengan wanita itu, karena ia merasa menemukan sosok seorang ibu pada bibi Kim.

 

Ibunya memang sudah meninggal sejak Nara berusia 7 tahun, karena hal ini juga nyonya Cho, mertuanya, memperlakukan Nara bukan seperti menantu, tapi seperti anaknya sendiri. Karena ia tahu, menantunya itu kekurangan kasih sayang seorang ibu.

 

“Mungkin tuan muda memang sedang banyak pekerjaan, Nyonya.” Bibi Kim berusaha menenangkan nyonya mudanya itu.

 

“Bagaimana kalau Nyonya mengantarkan makan siang untuk
tuan muda siang ini? Ahjumma yakin tuan muda pasti senang mendapat kejutan dari Nyonya.”

 

Mata Nara seketika berbinar mendengar saran dari bibi Kim.

 

Ahjumma benar, aku akan memberikan kejutan untuk Kyuhyun.” Nara terlihat kembali bersemangat.

***

Cho Corporation Building, Seoul
01.00 PM KST

Nara melangkah dengan tenang di lobi perusahaan Cho Corp. Para karyawan yang ada di sana segera menyapa dan membungkuk pada Nara. Tentu saja mereka tahu bahwa Nara adalah nyonya muda Cho, istri CEO mereka. Sementara Nara hanya tersenyum membalas sapaan mereka.

 

“Istri Depyeonim benar-benar cantik ya.”

 

Terdengar bisik-bisik dari karyawan wanita yang berada di lobi.

 

“Dia juga merupakan putri tunggal keluarga Jung, yang menguasai binis real estate di negara ini,” gadis itu melanjutkan.

 

“Benarkah? Wow!dia benar-benar seorang putri,” gadis yang lain menimpali.

 

“Kehidupannyabenar-benarsempurna, apalagi dia memiliki suami seperti Depyeonim, aku benar-benar iri padanya.”

 

Sementara Nara hanya tersenyum mendengar bisik-bisik karyawan wanita itu. Ia membenarkan perkataan mereka. Tuhan terlalu baik padanya, hingga ia diberikan kehidupan yang sempurna. Apalagi sejak ia menikah dengan Kyuhyun, Nara merasa hidupnya semakin sempurna. Tak ada lagi yang ia inginkan selain merasakan kebahagiaan ini sepanjang hidupnya. Ia selalu mengucap syukur pada Tuhan.

 

Nara masih mendengar bisik-bisik beberapa karyawan itu, hingga ia memasuki lift.

 

OmoSamonim!” Sekretaris Kyuhyun tergagap melihat kedatangan istri boss-nya itu. Sementara Nara melengkungkan sudut bibirnya mebalas sapaan sang sekretaris.

 

“Hyena-ssi, apa Kyuhyun ada di dalam?” Nara bertanya ramah pada sekretaris suaminya itu.

 

“N-NeSamonimDepyeonim ada di dalam, hanya saja saat ini beliau sedang ada tamu.”

 

Hyena terlihat gugup.

 

“Benarkah? bukankah ini jam makan siang? Apa tamunya klien penting?” Nara kembali bertanya.

 

“Bukan, Samonim, sepertinya tamu itu teman depyeonim.” Hyena terlihat sedikit kurang yakin.

 

“Apakah Hyukjae Oppa?” tanyanya lagi, karena memang Hyukjae yang sering berkunjung saat jam makan siang seperti ini.

 

“Bukan, sebaiknya Samonim temui saja, mari saya antar.”

 

Hyena suda bersiap melangkah, namun niatnya terhenti saat Nara menggapai lengannya.

 

“Tidak usah, biar aku sendiri saja, aku ingin memberi kejutan pada Kyuhyun. Kau pergilah makan siang, Hyena-ssi,” suruh Nara lembut pada Hyena, agar gadis itu segera mendapatkan makan siangnya.

 

Nde, Samonim, saya akan turun sebentar lagi.”

 

“Baiklah, aku menemuai Kyuhyun dulu.”

 

Nara melangkah menuju ruangan Kyuhyun, meninggalkan meja sekretaris suaminya itu.

 

Nde.” Hyena sedikit membungkuk ke arah Nara.

 

Nara sampai di depan pintu ruangan Kyuhyun. Ia memutar kenop pintu dan mendorong pintu itu perlahan, hingga pintu ruangan itu sedikit terbuka. Namun, seketika matanya melebar, darahnya berdesir, sedikit shock. Ia menutup mulutnya melihat apa yang terjadi di dalam ruangan Kyuhyun.

 
Nara kembali menutup pintu dengan tangan bergetar dan berlari menuju lift. Gadis itu berhenti sebentar di depan meja Hyena.

 

“Hyena-ssi, tolong jangan katakan pada Kyuhyun bahwa aku datang hari ini.” Nara berkata dengan air mata yang mulai mengalir ke pipinya.

 

“Kenapa, Samonim?” wajah Hyena terlihat bingung dan sedikit panik melihat Nara yang tiba-tiba menangis.

 

Nara tak menjawab, ia terus berlari menuju lift.

 

Samonim! … Samonim! ….” Hyena terus memanggil Nara, hingga tubuh Nara tenggelam di balik pintu lift.

***


Sangji Ritzvil Caelum Cheongdam, Gangnam, Seoul.
02.00 PM KST

“Bagaimana, Nyonya? Apa tuan muda menyuk—”

 

Nara langsung menghambur kepelukan wanita itu. Gadis itu terisak dalam dekapan bibi Kim.

 

Ahjumma, bagaimana ini?” Ia terus terisak.

 

“Ada apa, Nyonya? Apa yang terjadi?” Bibi Kim tak mengerti melihat Nyonya Mudanya yang langsung menangis sepulang dari kantor Kyuhyun.

 

“Kyuhyun … aku melihatnya mencium wanita lain di ruangan kantornya.”

 

Gadis itu semakin terisak, mengingat kejadian yang nyaris membuatnya shock itu.

 

Bibi Kim terdiam sejenak.

 

“Apa mungkin Nyonya salah lihat?” tanyanya.

 

“Tidak,  Ahjumma! itu jelas-jelas adalah Kyuhyun, suamiku. Bagaimana bisa dia melakukan itu, Ahjumma?”

 

Bibi Kim hanya diam, ia membiarkan nyonya mudanya itu menumpahkan isi hatinya. Wanita itu sesekali menepuk pelan punggung bergetar Nara.

 

Nara perlahan melepas pelukannya pada bibi Kim, lalu mengusap air matanya dengan punggung tangannya.

 

Ahjumma, tolong jangan katakan apapun pada Kyuhyun, termasuk aku datang ke kantornya hari ini.”

 

“Baik, Nyonya.” Bibi Kim hanya mengangguk patuh.

 

“Aku kekamar dulu.” Gadis itu perlahan menaiki tangga dengan langkah gontai.

 

Setelah sampai di kamar, Nara meringkuk di tempat tidur masih dengan isakannya.

 

“Inikah alasannya, Kyu? Inikah alasannya kenapa kau berubah beberapa hari ini? kenapa kau lebih betah di luar dibanding pulang ke rumah? karena kau memiliki gadis lain?”

 

Kembali air matanya mengalir. Kejadian di kantor Kyuhyun terus berputar di kepalanya.

***

 

“Nyonya … Nyonya … bangun, Nyonya.”

 

Nara perlahan membuka mata, membuat bias cahaya menerobos retinanya. Gadis itu mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan bias cahaya yang menusuk matanya.

 

“Apa Nyonya merasa kurang enak badan?” bibi Kim bertanya khawatir.

 

“Aku tak apa, Ahjumma. Apa Kyuhyun sudah berangkat?” lirihnya sambil melirik ke bagian ranjang di sebelahnya.

 

“Tuan muda tidak pulang semalam. Katanya banyak pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan,” beritahu bibi Kim.

 

Nara mencelos mendengar ucapan bibi Kim. Kejadian kemarin kembali menyerang pikirannya dan berputar di kepalanya.

 

“Apa Kyuhyun menghabiskan malam dengan gadis itu? lalu kenapa aku bisa tertidur? Apa karena terlalu banyak menangis?” Ia bergumam, namun tak dapat didengar oleh bibi Kim.

 

“Tuan muda sudah mencoba menghubungi ponsel Nyonya semalam, tapi katanya ponsel Nyonya tidak aktif,” lanjut Bibi Kim. Sementara Nara berusaha menepis pikiran-pikiran buruk itu, lalu mengecek ponselnya.

 

“Astaga, aku lupa men-charge ponselku.” Ia menepuk dahinya.

 

“Aku akan membersihkan diri dulu, Ahjumma tunggulah di bawah, kita sarapan bersama saja.” Ia melangkah ke arah kamar mandi.

 

Nara memang suka mengajak bibi Kim makan dengannya jika Kyuhyun tak bisa menemaninya makan, karena ia tak suka makan sendirian.

 

“Baik, Nyonya.”

 

“Hmmm … aromanya enak sekali.”

 

Nara melangkah menuju meja makan yang sudah dipenuhi makanan saat ia turun ke bawah setelah membersihkan diri.Di atas meja itu sudahtersedia sup dakjuk, kimchi, yangnyeom tongdakdan spicy seafood salad.

 

Ahjumma tau saja kalau aku sedang ingin makan yangnyeom tongdak.

 

Nara mencomot ayam goreng khas korea itu dan langsung memasukan kemulutnya.

 

Yangnyeom tongdak buatan Ahjumma, memang yang terbaik.” Nara mengacungkan jempolnya, sementara bibi Kim hanya tersenyum, ia merasa lega melihat nyonya mudanya itu kembali ceria.

***

Jung’s Family Home, Pyeongchang, Seoul.
03.00 PM KST

Appa!”

 

Nara berlari ke arah tuan Jung, dan langsung memeluk sang ayah.

 

“Aku merindukan, Appa” ia merengek di pelukan ayahnya.

 

“Kau benar-benar gadis nakal, mentang-mentang sudah memiliki suami yang tampan, kau jadi melupakan Appa.” Tuan Jung memasang ekspresi merajuknya namun tetap membalas pelukan sang putri. Pria itu sebenarnya juga sangat merindukan putri sematawayangnya.

 

“Bukan begitu, Appa. Aku terlalu sibuk dengan anak-anakku.” Nara menjawab dengan wajah polosnya.

 

“Anak-anak?” Tuan Jung mengernyit.

 

“Maksudku bunga-bungaku.” Nara terkekeh.

 

“Astaga, appa kira kau telah hamil dan melahirkan anak tanpa sepengetahuanAppa” tuan Jung bernafas lega.

 

“Apa itu?” Tuan Jung menunjuk paper bag yg dibawa Nara. “Apa kau membawakan sesuatu untuk appa?”

 

Nara melirik sekilas paper bag yang dibawanya.

 

“Maaf, Appa, aku tak membawa apa-apa untuk Appa, ini hanya baju ganti Kyuhyun. Semalam dia tidak pulang, makanya aku bawakan baju ganti ini. Tapi kata sekretarisnya, Kyuhyun sedang pertemuanbisnis di luar.”

 

Sebenarnya Nara sedikit kecewa. Ia merasa hubunganya dan Kyuhyun semakin renggang, sehingga setelah dari kantor Kyuhyun, ia memutuskan untuk berkunjung ke rumah ayahnya. Setidaknya bermanja-manja dengan sang ayah membuat ia bisa sedikit melupakan masalahnya dengan Kyuhyun.

 

“Gadis manja, kau baru menemukan alamat rumah ini?” Suara itu mengiterupsi acara temu kangen ayah dan anak itu.

 

Mereka menoleh ke sumber suara. Iris keduanya menangkap sosok tinggi dengan wajah tampannya.

 

“Yak! bocah ingusan, kau pikir aku tak ingat alamat rumahku sendiri?” seru Nara dengan kesal.

 

“Aku bukan bocah ingusan. Aku sudah jadi pria dewasa sekarang, bahkan besok aku sudah bekerja di perusahaan, membantu Jungsoo hyung,” sahut lelaki itu tak terima.

 

“Benarkah, Appa? Apa nanti dia tidak akan mengacau di perusahaan?” Nara bertanya heboh pada tuan Jung.

 

“Benar, mulai besok Chanyeol akan bekerja di perusahaan sebagai karyawan biasa di divisi pemasaran, katanya ia ingin memulai karirnya dari bawah.” Tuan Jung membenarkan ucapan lelaki yang dipanggilnya Chanyeol itu.

 

“Paling-paling bocah ini hanya akan tebar pesona pada karyawan wanita, dasar player,” Nara mencibir.

 

“Kau benar, aku menemukan buruan baru di divisi yang akan kutempati besok.” Chanyeol menunjukan smirk-nya.

 

“Aku ikut prihatin untuk gadis itu.” Nara menundukan kepalanya, ia sangat tau bagaimana sepupunya ini.

 

Salah satu alasan kuatnya untuk berkunjung ke rumah ini ketika suasana hatinya sedang kacau seperti sekarang adalah sepupunya, Park Chanyeol, yang memang terkenal sebagai ‘Happy Virus’.

 

Park Chanyeol dan Park Jungsoo adalah anak dari Park Il Jae, adik Park Hee Nam, ibu Nara. Orang tua Chanyeol meninggal karena kecelakaan pesawat yang terjadi saat Chanyeol masih berusia 5 tahun. Sejak saat itu Chanyeol dan Jungsoo tinggal bersama keluarga Jung.

 

Chanyeol dan Nara tumbuh bersama, walaupun keduanya terlihat selalu bertengkar, tapi mereka bisa saling mengandalkan saat salah satu dari mereka dalam kesulitan. Seperti yang terjadi waktu keduanya masih duduk di bangku Junior High School. Saat itu Nara diganggu oleh geng pembuat onar di sekolah. Chanyeol yang berusaha melindungi Nara, rela dipukul sampai babak belur, sementara Nara hanya bisa menangis melihat keadaan sepupunya itu.

 

Mereka seumuran, lahir ditahun yang sama, hanya berbeda bulan saja. Karena Nara sedikit lebih tua dari Chanyeol, maka gadis itu sering memanggil Chanyeol dengan sebutan bocah, ditambah lagi menurut Nara, Chanyeol terkadang sangat kekanakan. Bukankah ia juga begitu?

 

Sedangkan Park Jungsoo jauh lebih tua dari mereka. Usia mereka tarpaut sembilan tahun. Namun, walaupun begitu, Nara juga sangat dekat dengan Jungsoo. Bahkan gadis itu sangat bahagia saat mengetahui bahwa kedua sepupunya itu akan tinggal bersama mereka setelah kematian paman dan bibinya.

 

Jungsoo sekarang menggantikan posisi tuan Jung yang saat ini sudah tidak aktif lagi di perusahaan. Tuan Jung dituntut untuk lebih banyak beristirahat setelah penyakit liver yang dideritanya semakin mengkhawatirkan.

 

Appa, apakah laki-laki bisa mencintai lebih dari satu wanita disaat bersamaan?”

 

Nara tiba-tiba bertanya tentang hal yang mengganjal dalam hatinya pada tuan Jung. Membuat tuan Jung dan Chanyeol menoleh padanya. Tuan Jung tersenyum mendengar pertanyaan sang putri. Lalu membuka suaranya.

 

“Kita menganggap cinta itu satu rasa, tapi faktanya bisa lebih banyak dari aneka rasa es krim. Kita pun bisa tergiur ke dalam dua rasa sekaligus dalam satu kap, Itu yang dikatakan oleh salah seorang psikolog,” jawab tuan Jung, masih dengan lengkungan di bibirnya.

 

“Jadi maksud Appa seorang pria bisa saja mencintai dua orang wanita secara bersamaan seperti kita yang bisa tergiur dengan dua rasa es krim?” tanya Nara lagi yang sedikit tak mengerti dengan maksud ucapan ayahnya.

 

“Kenapa pertanyaanmu aneh sekali?” tanya Chanyeol penuh selidik, “apa Kyuhyun hyung menduakanmu?” lanjut Chanyeol.

 

“Y-ya! Mana mungkin, Kyuhyun tidak sepertimu.” Nara sedikit tergagap.
Getaran ponsel Nara menghentikan niat Chanyeol yang ingin mendebat Nara. Nara merogoh handbag-nya, mencari-cari ponselnya yang bergetar.

 

Yeobseo” ia mengawali percakapan.

 

“………”

 

Nde?”

 

Tubuh Nara seketika lemas, ia merasa tulang-tulangnya telah ditarik dari tubuhnya. Bahkan ponselnya pun sudah terlepas dari tangannya.

TBC

60 thoughts on “When The Smile Being Ornate Part 2

  1. pemikiranku aja sih apa kyuhyun nikahin nara krn bales dendam sm keluarga yg ngancurin perusahaan bapaknya? omo aku terlalu drama kah wkwk

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s