Perfect Match Part 12


image

Author: Keita

Title: Perfect Match Part 12

Category: NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast:

Han Hyo Joo as Oh Yeon Joo

Park Chanyeol

Support Cast:

Annyeong haseyeo … Terimakasih untuk pada reader yang menyempatkan waktunya untuk membaca cerita yang saya buat.. Terimakasih untuk admin yang sudah mempost tulisan saya.. Maaf kalau ada kata-kata yang bikin bingung. Mmmmmmmm…. Moga suka sama ceritanya ya.. HAPPY READING…

Chanyeol menggenggam tanganku saat kami menunggu lift, Lift tiba dan kami melangkah masuk. Chanyeol melirik ke arahku, Dia mengerang dan menarikku, tangannya melilit disekelilingku, satu tangannya di pangkal leherku, mendorong kepalaku kebelakang ketika bibirnya menyentuh pangkal leherku. Jariku berada di rambutnya dan membelai pipinya saat ia mendorongku kebelakang menempel dinding lift. Tangannya di pinggulku, dan tiba-tiba dia menarik rokku keatas, jari-jarinya membelai pahaku.

“Aku ingin melihat ini,” dia mengambil nafas, dan dia menarik rokku sampai benar-benar keatas,

memperlihatkan bagian atas pahaku.

Melangkah kebelakang, ia mencapai keatas untuk menekan tombol stop, dan posisi lift pelan-pelan berhenti diantara lantai dua puluh dua dan dua puluh tiga. Matanya gelap, bibir terpisah, dan dia mengambil napas sama kerasnya denganku. Kami saling memandang, tidak menyentuh.

Dia menelan ludah. “Apa kau tahu bagaimana kau terlihat sangat menggiurkan sekarang?”

Dengan sengaja, aku menggigit bibirku dan menggelengkan kepalaku. Dia menutup matanya sebentar, kemudian membukanya lagi, matanya menyala. Dia melangkah ke depan dan menempatkan tangannya kedinding lift diantara kedua sisi wajahku.

Wajahku mendongak untuk memenuhi tatapannya, dan ia membungkuk dan menempelkan hidungnya ke hidungku, jadi ini satu-satunya sentuhan diantara kita. Aku begitu panas di dalam lift ini bersamanya. Aku menginginkan dia – sekarang.

Dia meraihku, menangkap kakiku di atas lututku dan mengaitkannya di sekitar pinggangnya, hingga aku berdiri dengan satu kaki, bersandar pada dirinya. Aku bisa merasakannya, merasakan kekerasan dan keinginannya di atas pangkal pahaku saat ia menyapukan bibirnya menuruni tenggorokanku. Aku mengerang dan membungkus lenganku di lehernya.

“Aku akan membawamu sekarang,” dia mengambil nafas dan aku meresponnya dengan melengkungkan punggungku, tubuhku menekan dia, keinginan untuk menggeseknya.

Dia mengerang begitu dalam dan pelan terdengar dibelakang tenggorokannya dan mendorongku lebih tinggi ketika ia menurunkan celananya.

“Pegang erat-erat, sayang,” bisiknya, dan seperti sihir mengeluarkan sebungkus foil yang ia pegang di depan mulutku.

Aku mengambilnya di antara gigi, dan dia menariknya, diantara kami, kami merobeknya hingga terbuka. “Gadis pintar.”

Dia mundur sedikit kebelakang saat ia menggulungkan kondomnya.

“Ya Tuhan, aku tak bisa menunggu sampai empat hari lagi,”

Tanpa mengalihkan pandangan dariku, ia tenggelam perlahan-lahan ke dalam diriku. Tubuhku melengkung dan aku memiringkan kepalaku ke belakang, menutup mataku, menikmati nuansa dirinya didalam diriku. Dia menarik lagi kemudian bergerak masuk kedalam diriku lagi, begitu lambat, begitu manis. Aku mengerang.

“Kau milikku, Yeon Joo,” bisiknya di tenggorokanku.

“Ya. milikmu.” Aku terengah-engah.

Dia mengerang dan mulai bergerak, benar-benar bergerak. Dan aku menyerahkan diriku pada iramanya tanpa berhenti, menikmati setiap dorongan dan tarikannya. Dia mendorong lebih keras dan lebih keras, napasnya memburu, kehilangan dirinya didalam diriku saat aku kehilangan diriku didalam dirinya.

“Oh, Sayang,” Chanyeol mengerang, giginya menyentuh rahangku, dan aku datang dengan keras di sekelilingnya.

Dia diam, mencengkeramku, dan mengikuti meledak, membisikkan namaku.

Saat ini Chanyeol kehabisan tenaga, tenang dan menciumku dengan lembut, napasnya mereda. Dia memelukku berdiri tegak melawan dinding lift, dahi kami saling menekan, dan tubuhku seperti jelly, lemah tapi sangat puas dengan klimaks-ku.

“Oh, sayang,” bisiknya. “Aku sangat membutuhkanmu.” Dia mencium dahiku.

“Dan aku juga membutuhkanmu, oppa.”

Melepaskanku, dia meluruskan rokku, lalu memencet kombinasi ke keypad untuk menyalakan lift lagi. Liftnya naik dengan sentakan hingga aku meraih dan menggenggam lengannya.

“Mr-Kim akan bertanya-tanya di mana kita berada,” dia tersenyum mesum kearahku.

Oh sial. Aku menarik jariku ke rambutku, suatu usaha yang sia-sia untuk mengatasi tampilan seperti baru saja bercinta.

“Kau sudah terlihat rapi.” Chanyeol nyengir saat dia menarik celananya keatas dan menempatkan kondom di saku celananya.

Aku sangat mencintai pria ini.

Mr-Kim sedang menunggu ketika pintu terbuka.

“Masalah dengan lift,” Chanyeol berbisik saat kami berdua melangkah keluar, dan aku tak dapat melihat salah satu dari wajah mereka. Aku bergegas melalui pintu ganda menuju kamar Chanyeol dan segera mandi.

Besoknya

“Aku berangkat dulu, sayang.” Chanyeol menciumku persis di bawah telingaku.

Aku membuka mataku dan ternyata sudah pagi. Aku berbalik supaya bisa menatapnya, tapi dia sudah bangun, sudah berpakaian, segar dan wangi, mencondongkan tubuhnya di atasku.

“Jam berapa sekarang?” kataku tiba-tiba

“Jangan panik. Aku ada meeting sambil sarapan pagi.” Dia menggosok hidungnya kehidungku.

“Baumu wangi,” bisikku,

Aku membungkus lenganku di lehernya.

“Jangan pergi.”

Dia memiringkan kepalanya ke satu sisi dan mengangkat alisnya.

“Sayang, apa kau mencoba menahan seorang pria untuk membolos kerja?”

Aku mengangguk padanya tapi masih mengantuk, dan ia tersenyum dengan senyum malunya.

“Kamu sangat menggoda, aku harus berangkat.” Dia menciumku dan berdiri.

Dia mengenakan setelan jas biru tua benar-benar sangat gelap, kemeja putih dan dasi biru tua, dengan melihat setiap incinya dia benar-benar terlihat seperti seorang CEO… Seorang CEO yang panas.

“Laters baby,” bisiknya dan dia pergi.

“menikahlah denganku” katanya muncul kembali.

“aku akan memikirkannya”

“errr.. baiklah” katanya agak kesal dan langsung pergi.

Melirik kearah jam, aku melihat sudah pukul tujuh – aku pasti tidur nyenyak sampai melewati alarm.

Well, waktunya untuk bangun.

Di kamar mandi, sebuah inspirasi menyentuhku. Aku memikirkan hadiah ulang tahun untuk Chanyeol. Sangat sulit untuk membelikan sesuatu untuk orang yang sudah memiliki segalanya. Aku memeluk diriku sendiri dalam penantian saat aku mematikan shower. Aku harus mempersiapkannya.

Pukul lima tiga puluh, aku merapikan mejaku. Aku tak percaya betapa cepatnya hari berlalu. Aku tahu apa yang akan kuberikan pada Chanyeol untuk hadiah ulang tahun. Aku ingin dia memilikinya sebelum pesta ulangtahunnya. Disebrang kantor ada toko kecil yang menjual hadiah. Insipirasi datang ke pikiranku dan aku memasuki toko itu.

Untung hadiah yang kucari ada. Tak perlu memesannya terlebih dahulu. hadiahku bisa langsung jadi pada saat itu juga, setelah menunggu beberapa menit hadiah untuk Chanyeol jadi dan aku memasukkannya ke dalam kotak hadiah. Dan menulis beberapa kata.  Kau harus membuka hadiah ini pada saat hari ulang tahunmu..

Setelah siap, aku membayar dan segera pulang menuju penthousenya.

Tidak terlihat tanda-tanda Chanyeol. Aku pun segera menuju ruang kerjanya, dan meletakkanya di atas meja kerjanya. Aku harap dia menyukai hadiahku.

Hari H

Chanyeol tak pernah membahas kotak hadiah dariku. Berarti dia belum membukanya. Aku tak sabar, apakah ia akan menyukainya.. aku ingin melihat ekspresi wajahnya. Chanyeol pulang terlambat hari ini. Aku menunggunya di ruang utama. Jam menunjukkan pukul 12 saat pintu lift terbuka. Dia terlihat lelah. Tapi senyumnya mengembang ketika melihatku. Dia langsung berjalan ke arahku dan memelukku erat.

“Kau menungguku?” katanya

“ya, tak biasanya kau pulang larut”

“Ayo mandi denganku,” bisiknya.

“Oke.” Aku melirik ke arahnya. Aku tidak ingin melepaskannya. Tangannya turun saat ia memiringkan daguku dengan jarinya. membungkuk dan menciumku dengan lembut.

“Aku harus melepaskan jasku,” bisiknya.

“Jatuhkan,” bisikku di bibirnya.

“Aku tak bisa.”

Aku mendongak untuk menatapnya, agak bingung.

Dia menyeringai ke arahku. “Inilah sebabnya mengapa.”

Dari saku dada bagian dalam dia mengeluarkan kotak kecil yang aku berikan padanya, hadiah ulang tahun dariku. Dia meletakkan jasnya ke sandaran sofa dan menempatkan kotak di atasnya.

“Bukalah,” bisikku, dan jantungku mulai berdebar-debar.

“Aku berharap kau akan bilang begitu,” bisiknya. “Hadiah ini sudah membuatku gila.”

Aku menyeringai nakal kearahnya. Dia memberiku senyum malunya, dan aku meleleh meskipun jantungku berdebar-debar, menyenangi ekspresi gelinya yang penasaran. Dengan jari-jari panjangnya, ia membuka bungkusnya dan kotaknya dengan cekatan. Keningnya berkerut saat ia melihat sebuah gantungan kunci berbahan logam dengan bentuk puzzle.

Memperlihatkan tanggal ulang tahunnya. Dia melihat itu sejenak dan kemudian menatap ke arahku melongo, mengerutkan alisnya yang indah.

“keychain?”

“Putar,” aku berbisik, menahan napasku.

Dia melakukannya, dan matanya menatap padaku, membelalak dengan keheranan dan bahagia. Bibirnya menganga tidak percaya.

Kata “YES!” ada di balik gantungan kunci itu.

“Selamat ulang tahun,” bisikku.

“Kau akan menikahiku?” bisiknya, ragu.

Aku mengangguk gugup, malu dan gelisah.

“Katakan itu,” perintahnya lembut, tatapannya intens dan panas.

“Ya, Aku akan menikahimu.”

Ia menghirup dalam-dalam dan tiba-tiba bergerak, mendekap dan memutarku. Ia tertawa, muda dan bebas, memancarkan kebahagiaan dan kegembiraan. Aku berpegangan pada tangannya, merasakan ototnya menegang dibawah jari-jariku. Ia menurunkanku dan menciumku. Kuat. Tangannya berada di kedua sisi wajahku, lidahnya mendesak, memaksa…membangkitkan gairah.

“Yeon Joo,” ia bernapas di bibirku, dan itu adalah suatu kegembiraan yang meluap yang membuatku terguncang.

Chanyeol berkedip tak percaya padaku. “Jadi selama ini, aku sudah memilikinya?”

Ia menyapukan tangannya kerambutnya, kemudian menggelengkan kepalanya dan merubah arah.

“Aku tak percaya kau menggantungkanku.” Bisikannya dipenuhi rasa tak percaya.

Ekspresinya berubah rumit, matanya bercahaya nakal, bibirnya berkedut membentuk senyum nakal. Chanyeol memegangku, dan dengan satu tarikan mudah saat aku menjerit senang, terkejut dan shock. Ia mengangkatku ke bahunya dan berjalan kearah lorong.

“Chanyeol!” Aku mendesis,

Aku menyeimbangkan tubuhku dengan menggenggam punggungnya, kemudian dengan dorongan berani, aku memukul punggungnya. Ia membalas memukulku.

“Ow!” Aku berteriak.

“Waktunya mandi,” ia menyatakan dengan senang.

“Turunkan aku!” Aku mencoba dan gagal untuk terdengar kesal. Perlawananku sia-sia – tangannya dengan lembut memegangi kakiku – dan untuk beberapa alasan aku tak dapat berhenti tertawa.

“Kau menyukai sepatu ini?” tanyanya senang saat ia membuka pintu kearah kamar mandinya.

“Aku lebih suka jika sepatu itu menyentuh lantai.” Aku mencoba menggertaknya, tapi itu tidak terlalu efektif saat aku tak bisa menahan tawa keluar dari mulutku.

“Keinginanmu adalah perintah bagiku.” Tanpa menurunkanku, ia melepas kedua sepatuku dan menjatuhkan mereka kelantai.

Terhenti karena sesuatu, ia mengosongkan kantongnya – HP, kunci, dompet, dan gantungan kunci itu. Aku hanya bisa membayangkan seperti apa aku terlihat di cermin jika dalam posisi seperti ini. Saat ia selesai, ia bergerak kearah showernya yang besar.

“Chanyeol!” Gertakku keras

Ia menyetel airnya kearah maksimum. Astaga! Air dingin menyembur kearah punggungku, dan aku berteriak. Airnya dingin dan aku masih berpakaian lengkap. Air dingin itu membasahi pakaianku, celana dalamku dan braku. Aku basah dan aku tak dapat berhenti tertawa geli.

“Tidak!” Aku berteriak. “Turunkan aku!” Aku memukulnya lagi, kali ini lebih keras, dan Chanyeol melepaskanku, membiarkanku merosot dari tubuhnya yang basah.

Kemeja putihnya tersingkap kedadanya dan celananya basah kuyup. Aku juga basah kuyup, merona, dan sulit bernapas, dan ia menatap kearahku, terlihat sangat… sangat panas.

Ia tenang, matanya berkilauan, dan ia menangkap wajahku lagi, menaruh bibirku ke bibirnya. Ciumannya lembut, bersemangat dan sangat mengalihkanku. Aku tak lagi peduli bahwa aku masih berpakaian lengkap dan basah kuyup di shower Chanyeol.

Tanganku bergerak maju kearah kemejanya yang terbuka, Aku menarik ujung kemejanya dari celananya, dan ia mengerang dibibirku, tapi bibirnya tak meninggalkanku. Saat aku melepas kancing kemejanya, ia meraih ritsletingku, dengan perlahan menurunkannya. Bibirnya menjadi lebih memaksa, lidahnya menjajah mulutku – dan tubuhku dipenuhi dengan nafsu. Aku menarik kemejanya keras, merobeknya. Kancing berterbangan kemana-mana, memantul di keramik dan menghilang di lantai shower. Saat aku melepaskan pakaian basah itu dari bahunya turun ke tangannya, aku mendorongnya ke dinding, menghambat usahanya menelanjangiku.

“Kancing manset,” ia berbisik, mengangkat tangannya dimana kemejanya menggantung basah dan lemah.

Dengan jari yang gemetar, aku membuka manset yang pertama kemudian yang satunya, membiarkan kemejanya jatuh kelantai. Matanya mencariku dibawah air yang berjatuhan, tatapannya membara, erotis, panas seperti air. Aku meraih celananya, tapi ia menggelengkan kepalanya dan memegang bahuku, memutarku sehingga aku membelakanginya. Ia menyelesaikan perjalanan panjangnya untuk membuka ritsleting, menyingkirkan rambut basahku dari leherku, dan menjalarkan lidahnya disepanjang leher hingga garis rambutku dan kembali lagi, mencium dan menghisap sesukanya.

Aku mengerang dan dengan perlahan ia membuka bajuku dari bahuku menuruni payudaraku, mencium leherku tepat dibawah telinga. Ia membuka braku dan menurunkan talinya dari pundakku, membebaskan payudaraku. Tangannya meraih dan memegang keduanya saat ia bergumam di telingaku.

“Sangat cantik,” bisiknya.

Tanganku terjebak diantara bra dan pakaianku, dimana menggantung dibawah payudaraku, lenganku masih di lengan bajuku tapi kedua tanganku bebas. Aku memutar kepalaku, memberikan Chanyeol akses lebih baik ke leherku dan mendorong payudaraku kearah tangan ajaibnya. Aku meraih kebelakang dan menerima napasnya yang cepat saat jari-jariku menyentuh ereksinya. Ia menekan pahanya kearah tanganku. Sial, kenapa ia tak membiarkanku membuka celananya?

Ia menyentakkan putingku, dan saat mereka mengeras dan meregang dibawah sentuhan ahlinya, semua pikiran tentang celananya menghilang dan kenikmatan menampar keras dan bergairah di perutku. Aku menyandarkan kepalaku kearahnya dan mengerang.

“Ya,” ia bernapas dan memutarku lagi, menyatukan bibirku dengannya.

Chanyeol terdiam saat ia menyadari apa yang ingin aku lakukan. Menatap matanya lurus, aku menekan sedikit gel beraroma manis ke telapak tanganku dan mengangkat tanganku kedepan dadanya, menunggu sebuah jawaban dari pertanyaanku yang tak terlontar. Matanya melebar, kemudian ia memberikanku anggukan hampir tak terlihat.

Dengan lembut kutempatkan tangannya ke tulang dadanya dan mulai mengusap sabun ke kulitnya. Dadanya naik saat ia bernapas dalam-dalam, tapi ia tetap berdiri diam. Setelah beberapa detik, tangannya menggenggam pinggulku, Ia memperhatikanku, tapi bibirnya membuka saat nafasnya semakin cepat.

Aku membersihkannya dalam gerakan memutar yang lembut, membersihkan kekasihku, bergerak kebawah lengannya, kearah rusuknya, turun ke perutnya yang datar, kearah happy trail-nya, dan sabuk celananya.

“Giliranku,” ia berbisik dan mengambil shampoo, menjauhkan kami dari air yang mengalir turun dan mengeluarkan sedikit shampoo dikepalaku.

Aku rasa ini adalah tanda bagiku untuk berhenti membersihkannya, jadi aku taruh tanganku disabuknya. Ia menggosok shampoo ke rambutku, jarinya yang panjang dan lembut memijat kulit kepalaku. aku menutup mataku dan membiarkan diriku menikmati sensasi ini.

Ia terkikik dan aku membuka mataku dan melihatnya tersenyum kearahku. “Kau suka?”

“Hmm…”

Ia nyengir. “Aku juga,” ia berkata dan mencondongkan kepalanya untuk mencium keningku, jemarinya melanjutkan pijatan manis nan lembut dikepalaku.

“Berputar,” katanya memerintahkanku.

Aku lakukan apa yang diperintahkan padaku, dan jari-jarinya dengan perlahan bergerak dikepalaku, membersihkan, merelaksasi dan mencintaiku. Oh, betapa bahagianya. Ia meraih shampoo lagi dan mencuci rambut panjangku yang berada di punggungku. Saat ia selesai, ia menarikku kebawah shower lagi.

“Dongakkan kepalamu,” ia memerintah dengan lembut.

Aku menurutinya, dan ia dengan perlahan membilas busa-busanya. Saat ia selesai, aku menatapnya lagi dan mengarahkan tanganku langsung ke celananya.

“Aku ingin membersihkan seluruh tubuhmu,” Aku berbisik.

Ia membentuk senyuman miringnya dan mengangkat tangannya mengisyaratkan apa yang dikatakannya, “Aku milikmu, sayang.”

Aku nyengir; itu terasa seperti hari Natal. Aku membuka sretingnya, dan dengan segera celana dan boxernya bergabung dengan pakaian kami yang lain. Aku berdiri dan mengambil body wash dan spon mandi.

“Sepertinya kau senang melihatku,” aku menggumam.

“Aku selalu senang melihatmu, Yeon Joo.” Ia nyengir kearahku.

Aku menaruh sabun di spon, kemudian mengulangi jejakku di dadanya. Aku mengarah kebawah dengan spon, melewati perutnya, disepanjang happy trail-nya, melewati rambut pubisnya dan keatas ereksinya.

Aku menatapnya dan ia membalasku dengan tatapan teduh dan penuh gairah. Hmm… Aku suka pemandangan ini. Aku menjatuhkan sponnya dan menggunakan tanganku, menggenggam kejantanannya dengan lembut. Ia menutup matanya, mendongak kebelakang, dan mengerang, mendorong pinggulnya kearah tanganku.

Oh ya! Ini sangat menyenangkan.  Matanya yang membara tiba-tiba menatapku dalam. Ia teringat sesuatu.

“Ini sabtu,” katanya, matanya memancarkan tatapan cabul, dan ia menggenggam pinggangku, menarikku kearahnya dan menciumku liar.

Whoa – permainan berganti!

Tangannya turun ke tubuhku yang licin dan basah, kearah kemaluanku, jarinya menjelajah, menggoda, dan bibirnya kasar, meninggalkanku sulit bernapas. Tangannya yang lain dirambutku yang basah, menahanku ditempat saat aku melawan pelepasan gairahnya dengan sekuat tenaga. Jarinya bergerak kedalam tubuhku.

“Ahh,” Aku mengerang dimulutnya.

“Ya,” ia mendesis dan mengangkatku, tangannya di punggungku. “Lingkarkan kakimu

disekelilingku, sayang.”

Kakiku melingkar di tubuhnya, dan aku menggantung di lehernya. Ia memelukku didinding shower dan berhenti sejenak, menatap kearahku.

“Mata terbuka,” ia menggumam. “Aku ingin melihatmu.”

Aku berkedip kearahnya, jantungku berdetak kencang, darahku panas dan berat dengan gairah, nyata dan merajalela didalam diriku. Kemudian ia masuk kedalam diriku dengan oh sangat- pelan, memenuhiku, memilikiku, kulit dengan kulit. Aku mendorong kearahnya danmengerang dengan keras. Saat ia sudah berada didalam diriku, ia berhenti sekali lagi, wajahnya tegang, intens.

“Kau milikku, Yeon Joo” ia berbisik.

“Selalu.”

Ia tersenyum penuh kemenangan dan bergerak, membuatku terkejut.

“Dan kini kita bisa memberitahu semua orang, karena kau telah mengatakan ya.” Katanya senang

Giginya menyentuh rahangku, daguku, dan turun ke leherku saat ia menaikkan kecepatan, mendorongku keatas, kebawah – menjauh dari bumi, shower yang sesak. Hanya ada aku dan pria favoritku bergerak, erangan dan desahan kami bercampur.

aku mencintainya… Aku sangat mencintainya,

Aku akan menghabiskan sisa hidupku.

Ia sampai pada klimaksnya dan menyembur kedalam diriku. Dengan wajahnya yang berada di leherku, ia terjatuh kelantai, menggenggamku erat, mencium wajahku, dan mencium airmataku saat air hangat mengucur disekitar kami, mencuci bersih tubuh kami berdua.

“Jariku berkerut,” aku menggumam, duduk dan menyender didadanya.

Ia mengangkat jariku ke bibirnya dan menciuminya satu per satu.

“Kita benar-benar harus keluar dari shower.”

“Aku nyaman disini.” Aku duduk diantara kedua kakinya dan ia mendekapku erat. Aku tak ingin bergerak.

Aku duduk di tempat tidur. Chanyeol memaksa mengeringkan rambutku – ia cukup pandai melakukannya. Ini sudah lewat pukul dua pagi, dan aku sudah siap untuk tidur. Chanyeol menatapku dan memperhatikan lagi gantungan kunci itu sebelum naik ke tempat tidur. Ia menggelengkan kepalanya, sekali lagi ragu-ragu.

“Ini sangat indah. Hadiah ulang tahun terbaik yang pernah kudapatkan.” Ia menatapku,

“Seharusnya aku memberitahumu lebih awal, tapi karena dekat dengan ulang tahunmu…Apa yang akan kau berikan pada seorang pria yang memiliki segalanya? Aku pikir aku akan memberikanmu… diriku.”

Ia menaruh gantungan kunci di meja disamping tempat tidur dan ia meringkuk disampingku, menarikku kedalam tangannya memunggungi dadanya.

“Ini sempurna. Seperti dirimu.”

Aku tersenyum, meskipun ia tak bisa melihat ekspresiku. “Aku jauh dari sempurna, Chanyeol.”

Aku pun berputar dan mengarah kepada Chanyeol.

“Selamat ulang tahun, Chanyeol. Aku bersyukur kau ada disini untuk berbagi harimu denganku. Dan kau belum melihat apa yang aku miliki untukmu besok um… hari ini.” Aku nyengir.

“Ada lagi?” katanya, terkejut, dan wajahnya membentuk senyum yang berubah menjadi seringai yang menakjubkan.

“Oh ya, tapi kau harus menunggu hingga nanti.”

Continue…

Gimana? Makin hot ga?

Terimakasih sudah baca..

Maaf kalau ada Typo

Keita…

Ps: cerita disini terinspirasi dari Fifty Shades

39 thoughts on “Perfect Match Part 12

  1. ceritanya mirip film fifty shades darker.
    apalagi yang pas yeon joo ngasih hadiah gantungan kunci ke chanyeol.

    tpi ceritanya buatan ka tetap keren.
    nextnya di tunggu. 🙂

    Suka

  2. Yeeyyyyyy akhirnya ff kesukaan ku publish juga sekian lama nunggu hehe. Suka banget suka deh!!!! Apalagi yeon joo terima lamaran ceye, ahhh pokok nya suka!!! Next ya thoorr!!!! Jangan lama lama dong next nya hehe dan cerita nya lebih panjangin yaaa ❤️❤️❤️

    Suka

  3. Yeeyyyyyy akhirnya ff kesukaan ku publish juga sekian lama nunggu hehe. Suka banget suka deh!!!! Apalagi yeon joo terima lamaran ceye, ahhh pokok nya suka!!! Next ya thoorr!!!! Jangan lama lama dong next nya hehe.❤️❤️❤️

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s