The Wild Couple Part 8


 

Author            : Syafalula (Lula)

Title                 : The Wild Couple

Category         : Action, Romance, Married-life, NC-21, Yadong, Chapter.

Cast                  : Lee Hyukjae, Lee Yeong Eun, another cast.

 

Hallooooooo, apa kabar? Apa kalian baik-baik saja? Bagi yang menunggu kelanjutannya, kumohon jangan kesel ya :” Iya deh, aku nggak tau mesti ngomong apa lagi. Yang penting ini aku bawain kelanjutannya, supaya kalian jangan marah lagi :3 kkk~

Oh ya, aku nggak tau apakah ada yg sadar atau nggak. Kalau kalian teliti, kalian pasti tau kalo ada kekeliruan di part-part sebelumnya. Pas perkenalan aku tuliskan kalo nama si cewek partner kerja Eunhyuk itu Min Joo-Won, tapi pas di part kemaren aku malah bilang kalo namanya Han Joo-Won XD

Itu kesalahanku. Maaf, khilaf, terlewatkan untuk detil yg satu itu. Jadi sebenernya namanya Han Joo-Won ya, bukan Min. Tolong abaikan dulu bagian yg keliru di awal itu XD

Oh, dan untuk Kak Sooyeon, Kak Jiyoo, dan Kak Handa, terima kasih atas kesempatannya. Juga untuk rekan sejawat, sepenanggungan, sependeritaan, tems-tems sesama author FNC, Kak Princess, Kak Vhiy Zaza, Irene, dan banyak lagi yg tak bisa disebutkan satu per satu, terima kasih atas dorongannya sehingga aku nggak kebiasaan telat ngelanjutin anak-anakku. Yah, kemalasan ini emang ganggu banget. Makasih ya :* :*

Oh, dan terima kasih untuk Kak Irene atas covernya! Bagus! Meskipun katanya kesan action-nya nggak terlalu nampak tapi cukup mewakili deh untuk part yang satu ini. Aku nggak jago editing, jadi makasih udah mau sempet buatin :* bagi kalian yg jago editing dan sekiranya mau ikut bantuin aku, boleh kok nawarin bantuan, hubungin aku aja ya :3 Ini serius lho, bener :3

Oke, itu aja deh😉

Happy reading! ^^

 

 

Yeong Eun bergeser di kasurnya. Mencoba mencari kehangatan di tengah cuaca Amerika yang terasa membekukan tubuhnya. Masih musim dingin, tidak diragukan bahwa temperatur akan membuat kulit dan tulangnya bergemeletuk kedinginan. Ditambah lagi pendingin ruangan di kamar itu menyala pada suhu terendah yang dapat diatur. Matanya masih terpejam, terlalu malas untuk bangun mengingat lelahnya tubuhnya karena latihannya semalam. Pelatihan intelijen terasa begitu memeras tubuhnya hingga membuat semua selnya berkeriut merajuk minta istirahat.

 

Yeong Eun mencoba mencari selimut. Memaksa mengurai tubuhnya yang meringkuk bagaikan bayi dalam kandungan. Baru saja tangannya bergerak, ia menyerah. Memutuskan untuk memeluk kakinya lagi.

 

“Hyuk~ah,” panggilnga setengah mengigau.

 

Suara geraman halus di belakang tubuhnya terdengar. Memberi tanda bahwa pria yang dipanggil itu memang ada di belakangnya. Tertidur sama pulasnya dan terlalu malas untuk bergerak.

 

“Hyuk~ah … dingin … dingin sekali.”

 

Yeong Eun merengek. Menggerakkan tubuhnya dengan susah payah agar bisa menemukan selimut. Kakinya menggapai-gapai di sisi ranjang tapi tak bisa menarik apa pun.

 

“Remote AC-nya … di mana remote-nya? Matikan ….”

 

Yeong Eun bergumam tak jelas dengan suara seraknya. Ia bukan wanita yang gampang kedinginan, tapi tubuhnya sudah terpapar suhu dingin terlalu lama, entah itu saat latihan outdoor lebih dari tujuh jam atau juga di dalam ruangan. Baju kaus tipis dan celana pendek jelas bukan pilihan yang tepat untuk dikenakan. Tapi sekali lagi, ia begitu tidak bertenaga untuk bangun.

 

Hyukjae di belakangnya bergerak. Meraba-raba meja di samping ranjang. Melanjutkannya lagi ke permukaan kasur di bagian kepala, tengah, hingga kakinya yang bergerak-gerak mencoba menemukan benda itu. Tapi tubuhnya tak menemukan apa pun.

 

“Tidak tahu … Di mana kau melemparnya semalam?”

 

Hyukjae menjawab dengan sama gamangnya. Masih dengan mata tertutup rapat dan desahan napas yang teratur.

 

“Uugh … dingin …,” rengek Yeong Eun sekali lagi. Masuh meringkuk dan tak menjawab pertanyaan pria itu.

 

Hyukjae bergerak spontan. Kakinya menggapai selimut yang nyaris jatuh ke lantai. Membukanya agar bisa menutupi tubuhnya dan tubuh Yeong Eun. Tangannya bergerak menarik tubuh gadis itu agar menempel dekat pada tubuhnya. Mencoba membagi kehangatan dan panas tubuh.

 

Yeong Eun meringkuk dengan nyaman. Ia bisa merasakan tubuh Eunhyuk di punggungnya. Menempel dengan begitu pas bagaikan enzim dan substrat. Tangan kiri pria itu menjadi bantal kepalanya, sementara tangan kanannya memeluknya erat di bagian pinggang dan menyelip hingga ke perutnya. Kaki Hyukjae menindih kakinya, berusaha menyembunyikannya dari udara yang kini terasa membahayakan.

 

“Remote sialan itu entah di mana. Masih dingin?” Hyukjae bertanya sambil setengah tidur. Masih memeluk Yeong Eun erat-erat.

 

“Berat,” gumam Yeong Eun, entah sedang mengeluh ataukah mendesah keenakan.

 

“Apa?” Gumam Eunhyuk dengan suara beratnya yang teredam. Tidak benar-benar bertanya karena kondisinya yang memang setengah terlelap.

 

“Hangat … Enak ….”

 

Yeong Eun ganti mendesah nyaman. Merasa hangat karena impitan tubuh Eunhyuk. Pria itu semakin memejamkan mata. Merasa bukan main nyaman karena adanya tubuh gadis itu dalam dekapannya. Irama napasnya bergerak serentak dengan napas Yeong Eun. Eunhyuk membenamkan hidungnya di rambut gadis itu. Menghirup napas dalam-dalam dan merasa semakin teranestesi oleh aroma harum itu. Pria itu menggeser wajahnya turun. Menenggelamkan wajahnya di cekungan leher Yeong Eun yang terbuka. Lagi-lagi menghidu aroma lembut itu dan merasa semakin melayang. Yeong Eun memiringkan wajahnya, membiarkan Eunhyuk mencari posisi senyaman mungkin. Tangannya ikut memeluk tubuhnya sendiri, berimpit dengan tangan pria itu pula.

 

“Jangan kedinginan,” gumam Eunhyuk. Masih sempat mengingatkan gadis itu.

 

“Hm,” jawab Yeong Eun malas.

 

“Jangan bangun,” kata Eunhyuk lagi.

 

“Hm.” Yeong Eun kembali menjawab dengan seringai geli yang samar. Dan dalam cuaca yang membeku itu, mereka kembali tidur dengan lelap sambil merekat satu sama lain. Menikmati rasa hangat yang mengikat.

 

Ingatan akan kenangan itu menyerbu benak Yeong Eun dengan kasar. Memenuhi seluruh rongga dalam otaknya hingga membuatnya merasa penuh sesak. Kenangan manis itu kini terasa seperti mengejek. Menertawai dirinya yang kini terbanting oleh kenyataan. Tangan Yeong Eun yang gemetar tak kuasa untuk mengendalikan tali-temalinya. Kibasan angin menghempasnya lagi dalam pergerakannya yang tidak tentu arah. Tubuhnya terayun dan jatuh begitu saja ke udara. Terpental bersama dengan rasa sakitnya dan air matanya yang sudah merembes ke luar.

 

Yeong Eun seolah kehilangan tenaga. Ia bahkan lupa bahwa kini ia sedang terlihat akan bunuh diri dengan tali-temali itu. Suara Kang In di telinganya terkalahkan oleh bunyi udara dan angin yang memekakkan.

 

Talinya …

 

Sarung tangannya …

 

Yeong Eun berpikir dengan susah payah. Ia harus bergerak ke atas sebelum benar-benar terjatuh ke tanah. Tapi jantungnya terasa begitu sakit untuk membuatnya berpikir apa yang harus dilakukannya lebih dulu. Tidak. Bernapas saja kini terasa begitu salah.

 

Yeong Eun memegang kembali kendali talinya. Mencoba menggapai dinding agar bisa sekaligus merayap naik. Saat ia merasa bahwa ia masih memegang kontrol, tangannya malah melakukan kesalahan dengan melepaskan kaitan salah satu tali penahannya. Tubuhnya nyaris limbung ke udara jika tidak ada satu tali lagi yang mengikatnya.

 

Yeong Eun tidak lagi merasakan getaran tubuhnya karena rasanya ia sudah mati rasa. Air matanya mengalir lagi. Ia tidak tahu … apa yang begitu salah dengan kenyataan ini. Dengan hatinya. Otaknya meneriakinya agar mengingat kembali posisinya yang sebenarnya, tapi itu malah membuatnya semakin tercekik.

 

Kyuhyun menerjang turun. Menggapai tubuhnya dengan mudah dan berusaha membawanya ke atas. Pria itu tidak bertanya. Bagaimana ia bisa melakukan kesalahan sefatal ini hingga nyaris menyongsong maut. Wajah Kyuhyun tak terlihat lebih baik tapi Yeong Eun tak punya waktu untuk memikirkan itu. Tidak saat nyawanya sendiri bertanya-tanya, benarkah ia masih hidup? Benarkah ia masih bernapas? Benarkah … yang tadi baru saja dilihatnya?

 

Mereka sudah berdiri di atap, membereskan perlengkapan. Kyuhyun sudah mengantongi USB dan map berisi berkas-berkas yang mereka cari, dan Yeong Eun merasa begitu bodoh, lemah, dan rapuh. Pekerjaannya benar-benar berantakan. Dan itu hanya karena adegan berdurasi satu menit.

 

“Aku ingin pergi sebentar. Kau pulanglah bersama Kang In.”

 

Kyuhyun berkata singkat. Kang In hanya mengangguk, tak merespon lebih banyak. Pria itu bahkan tidak berkomentar atas kejadian tadi. Hanya mengambil benda dari Kyuhyun lalu berjalan menuju pesawat. Yeong Eun tidak sadar saat kakinya sudah melangkah masuk ke pesawat. Terbang kembali ke kantor. Ia merasa dirinya tertinggal di belakang. Di kamar hotel. Terpaku di lantai yang sama dan tak bisa beranjak satu senti pun.

 

Tatapannya menatap kosong ke depan. Mengamati awan yang terasa lebih dekat. Tangannya saling meremas. Tidak. Tidak ada air mata. Semua kejutan ini begitu menusuk hingga air matanya tak bisa keluar.

 

***

 

Eunhyuk merasa kehilangan orientasi waktu. Tidak. Ia merasa kehilangan semuanya. Apa yang telah dilakukannya? Kenapa … bagaimana ….

 

Eunhyuk tak bisa memutuskan apa yang kini dirasakannya. Apakah ia puas? Atau merasa bersalah? Ia tak bisa melupakan sedikit pun bagaimana cara Yeong Eun menatapnya tadi. Gadis itu … seolah sedang menatap kiamat. Hal yang begitu mengerikan, membuat jantungnya berdebar keras hingga nyaris meledakkannya karena takut.

 

Demi Tuhan, dia benar-benar seorang pendosa! Ia menghancurkan semuanya. Merobek-robek gadis itu hingga nyaris tidak bersisa. Setetes air mata Yeong Eun saat itu terasa seperti tusukan pedang menembus jantungnya. Tidak. Bahkan lebih buruk. Dan ia akan menerima itu tanpa perlawanan karena ialah yang menyebabkannya. Menyakiti gadisnya. Mengkhianati istrinya.

 

Eunhyuk benar-benar lupa diri. Kehilangan arah. Ia bahkan tidak sadar sudah berapa kali wajahnya terlihat begitu mengerikan dengan nada bicara yang amat menyakitkan telinga. Terlebih lagi, itu dilakukannya terhadap presiden! Kalau bukan karena image seorang pengawal yang memang kaku, ditambah dengan hasil kerjanya yang baik, pria itu tidak akan bisa selamat. Ia membentak semua agen yang bertugas bersamanya. Dan rohnya terasa begitu frustrasi hingga membuatnya ingin merusak semua hal di sekelilingnya hingga tak berbentuk.

 

Ia ingin pergi. Ia harus pergi. Yeong Eun … Lee Yeong Eun …

 

Eunhyuk mengakui kesalahan terbesar yang telah dilakukannya sejauh ini. Dan meskipun ia punya pembelaan, ia tahu itu tetap tak akan bisa dibenarkan. Tapi apa pun yang terjadi nanti, yang harus dilakukannya hanyalah menemui Yeong Eun. Melihat wanita itu. istrinya. Yang dengan kejamnya sudah ia buang hati dan tubuhnya ke tanah. Menginjaknya hingga remuk dan tidak terekatkan lagi.

 

***

 

Yeong Eun duduk diam di sofa. Memandangi dengan bosan pada etalase yang berdiri di depannya. Berbagai zat yang terkemas dalam botol berbagai ukuran kini tersusun rapi dan teratur dalam lemari kaca itu. Ikat rambutnya sudah terlepas. Menyisakan untaian rambut cokelat-emas bergelombang yang kini tampak agak kusut. Tangan Yeong Eun menggenggam sebuah gelas kopi yang masih mengepul. Panasnya bahkan tidak bisa masuk ke dalam kulitnya.

 

Lee Sungmin, pegawai DISK bagian laboratorium, masuk ke dalam ruangan. Pria itu mengenakan jas khas labor, berwarna putih bersih. Ia baru saja membuka sarung tangan karet yang membungkus kedua tangannya saat mendapati Yeong Eun yang kini duduk di salah satu kursi tinggi sambil memandanginya.

 

“Oh? Yeong Eun? Kupikir kau sedang melaksanakan misi. Kyuhyun ribut sekali soal itu.”

 

“Sudah selesai.”

 

Yeong Eun menjawab singkat. Memaksakan sedikit senyum di akhir ucapannya.

 

“Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu lagi untuk tugasmu?” tanya Sungmin sekaligus menebak. Biasanya, jika Yeong Eun mendatanginya maka gadis itu juga akan membawa permintaan khusus untuk menyiapkan sesuatu untuknya. Serum, peledak, pembius, dan lain-lain.

 

Yeong Eun menggeleng sebagai jawaban. Lebih memilih meneguk kembali kopinya sambil memandangi botol-botol itu. Seketika itulah Sungmin merasa ada yang aneh. Gadis ini … terlalu tenang.

 

“Ada apa?”

 

Sungmin mencoba bertanya. Ia duduk di kursi di hadapan Yeong Eun. Wajahnya tanpa bisa ditahan kini terlihat cemas. Berusaha mengorek sesuatu agar setidaknya Yeong Eun mau menceritakannya. Dan setelah itu, barulah ia bisa membantu.

 

Keheningan berlangsung agak lama. Sebelum Yeong Eun akhirnya berkata.

 

Oppa,” panggilnya tanpa menoleh.

 

“Hm?”

 

“Apakah kau punya cairan penidur yang manjur? Di mana saat aku meminumnya, aku bisa benar-benar … tidur. Seperti mayat. Tanpa memikirkan apa-apa lagi.”

 

Yeong Eun bertanya sambil masih menatap kosong pada botol-botol  vial, ampul, dan sederet bola-bola kecil itu. Ia akhirnya memutuskan untuk menoleh saat Sungmin tak kunjung menjawab.

 

Sungmin hanya diam. Masih menatap lekat pada Yeong Eun.

 

“Ada,” jawab Sungmin singkat.

 

Yeong Eun mengalihkan pandangannya lagi. Kembali melamun.

 

“Bagaimana dengan serum penghilang ingatan? Tidak amnesia total, tentu saja.” Yeong Eun tertawa frustrasi. Ia meletakkan gelas kopinya ke atas meja lalu melanjutkan, “hanya untuk hari ini saja. Supaya aku bisa melupakan semua yang terjadi hari ini. Bisa kau berikan serum macam itu padaku?”

 

Yeong Eun menatap datar, tak terlihat menginginkan jawaban. Dan Sungmin tahu itu, jadi dia tak berniat repot-repot menjawab. Yeong Eun, gadis itu membutuhkan hal yang lain.

 

“Atau, kau bisa beri aku obat anestesi paling kuat. Supaya hatiku juga tidak merasakan apa-apa lagi.”

 

Yeong Eun melanjutkan dengan nada datar dan suara yang lebih pelan. Tak berniat supaya didengarkan. Tapi Sungmin adalah pendengar yang terlalu baik. Pria itu mendengarkan tanpa menginterupsi. Menunggu kata-kata Yeong Eun selanjutnya tapi gadis itu hanya diam saja.

 

“Apa yang terjadi?” Sungmin bertanya hati-hati. Tak ingin membuat Yeong Eun merasa lebih tertekan daripada sekarang. Padahal situasinya sekarang sudah cukup buruk untuk dilihat.

 

Yeong Eun tidak menjawab. Masih memandangi etalase Sungmin.

 

“Apa kau bertengkar dengan Eunhyuk?”

 

Mendengar nama pria itu spontan membuat hatinya berdenyut kuat. Seluruh darahnya terasa berkumpul di jantungnya hingga bisa saja benda itu meledak detik ini juga. Yeong Eun mengembuskan napas perlahan. Mencoba bersikap normal tapi tak berhasil. Karena nyatanya ia benar-benar jauh dari kata normal.

 

“Aku pergi dulu.”

 

Yeong Eun bangkit. Membawa gelas kopinya ikut serta. Tanpa menunggu respon dari Sungmin, dan tanpa melihat reaksi pria itu lagi, ia melangkah meninggalkan kantor Sungmin. Ia harus pergi dari sini. Sebelum dirinya benar-benar berakhir di tempat itu.

 

***

 

Kedatangan Eunhyuk mengacaukan kantor. Pria itu datang tanpa berkata apa-apa. Tapi kelakuannya setelah itu benar-benar membuat semuanya berantakan. Eunhyuk berjalan gusar. Menggeledah seluruh ruangan seolah sedang mencari bom yang mungkin bisa meledak dalam waktu dekat. Atau bisa saja dialah yang akan meledak jika tidak bisa menemukannya.

 

“LEE YEONG EUN!”

 

Teriakan itu akhirnya lolos dari bibirnya setelah sejak tadi ia menahan untuk tidak mengucapkan nama itu. Ia berteriak, mencari, memanggil. Berusaha menemukan istrinya dengan menyisiri seluruh kantor seperti orang gila.

 

“Di mana Yeong Eun?”

 

Pria itu bertanya. Merujuk pada seluruh orang yang kini sedang berada di ruangan timnya.

 

“Tadinya ia di sini, tapi kupikir sudah pergi.” Ryewook menjawab ragu ketika memerhatikan ekspresi gelap Eunhyuk.

 

“Ke mana?”

 

“Tidak ada yang melihatnya setelah itu,” sambung Donghae dengan enggan. Tahu bahwa Hyukjae pasti tidak akan suka jawaban itu.

 

“Sialan!”

 

 

Hyukjae memaki. Ia menutup pintu ruangan tempat para agen menyiapkan peralatan misi. Merasa murka karena lagi-lagi tidak menemukan gadis itu. Eunhyuk sudah mencarinya di seluruh lantai, tapi Yeong Eun tidak ada.

 

Eunhyuk sudah berniat meninggalkan tempat itu saat tiba-tiba Kyuhyun datang. Menghampirinya dengan langkah lebar dan langsung menerjangnya. Meninjunya dengan telak di bagian wajah. Pria itu terlihat sama murkanya.

 

“DASAR BERENGSEK!” Kyuhyun mengumpat.

 

Eunhyuk sesaat merasa terkejut. Bermodal pada refleksnya yang bagus Hyukjae berhasil menghindari pukulan Kyuhyun yang selanjutnya. Pria itu bergerak menghabisinya seperti pembunuh bayaran.

 

“SIALAN! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN, HAH?”

 

Hyukjae balas memaki. Tubuhnya bergesar dengan luwes. Menghindar dari tendangan kaki dan pukulan Kyuhyun yang terasa begitu mematikan. Jika saja dia pengawal biasa, gerakan Kyuhyun pastilah bisa menumbangkannya hanya dengan satu-dua pukulan.

 

“Kau bajingan! Kau pikir apa yang sudah kau lakukan pada Yeong Eun?”

 

Kyuhyun bertanya perlahan. Tak lagi berteriak seperti sebelumnya. Tapi ucapan dingin itu berhasil membuat Eunhyuk tertohok sedalam-dalamnya.

 

“Apa yang kau pikirkan saat meletakkan tanganmu di tubuh wanita itu?”

 

Kyuhyun bertanya lagi. Berusaha keras menahan rasa marahnya yang memuncak seiring dengan cengkeramannya di leher Eunhyuk yang kian mengetat.

 

Eunhyuk berusaha menemukan kewarasannya. Pikirannya begitu kalut dengan perasaan bersalah yang mencekiknya terlalu kuat. Tapi ia tidak bisa menahannya. Bagaimana pun terlukanya Yeong Eun karena itu, ia tak bisa menyerah karena ia membutuhkannya.

 

Tangan Eunhyuk menepis kuat tangan Kyuhyun hingga cengkeramannya terlepas. Kyuhyun kembali menerjang tapi kali ini Eunhyuk tidak kesulitan untuk menghindarinya. Baku hantam itu terus terjadi berkali-kali. Seluruh isi meja berserakan ke lantai saat Eunhyuk menendang kuat tubuh Kyuhyun hingga pria itu menubruk meja dengan suara yang keras. Orang-orang melihat dengan mata membulat ngeri. Tak ada yang berniat mengambil risiko untuk melerai keduanya yang terlihat bagaikan chimaera yang mengamuk.

 

“Itu sama sekali bukan urusanmu.” Eunhyuk berkata dingin. Matanya menyorot tajam dengan ekspresi memeringatkan bagaikan sipir penjara dunia. Pria itu lalu melanjutkan dengan lengan yang menahan Kyuhyun di bagian leher. “Jadi jangan pernah mencoba untuk mengambil tindakan apa pun.”

 

Napas Kyuhyun memberat, melepaskan desahan amarah yang semakin parah. Pria itu bangun dari tekanan Eunhyuk. Mendorongnya mundur dan menendang perutnya sekuat tenaga. Membuat Eunhyuk menabrak dinding di belakangnya.

 

“Jangan mencampuri, kau bilang?” Kyuhyun bertanya dengan seringai merendahkan yang membuat Eunhyuk bertambah panas. Sekali lagi, dengan tinjunya pria itu melayangkannya ke arah Eunhyuk. Tapi tidak benar-benar mengenainya. Hanya disasarkan ke arah dinding di samping kepala Eunhyuk. Tapi Eunhyuk sama sekali tidak berkedip.

 

“Kalau aku tidak ikut campur, maka Yeong Eun pasti sudah mati sekarang.”

 

Kyuhyun berkata lambat-lambat. Merasakan bagaimana jeda kalimat itu berhasil menyakitinya dengan tajam.

 

“Kau masih memintaku tidak ikut campur?”

 

Kyuhyun berkata sambil berjalan mundur. Ia melayangkan kepalan tinjunya lagi. Dan kali ini, Eunhyuk sama sekali tidak menghindar. Pria itu terhuyung sedikit saat tinjuannya berakhirdi tulang pipinya. Menyebabkan sedikit robekan. Eunhyuk sama sekali tidak meringis. Tidak juga merasa sakit. Ia terlalu … kalut dan tersesat.

 

Mati? Yeong Eun … mati? Apa maksud itu semua?

 

Eunhyuk diam. Tak berkata apa-apa lagi. Pria itu bahkan terlihat seperti sedang melamun. Melayang jauh entah ke mana. Matanya menatap kosong. Dengan tubuh yang masih berdiri tegak. Membiarkan Kyuhyun memukulnya. Pria itu belum berniat berhenti. Masih bertahan memukulinya seperti orang gila.

 

Kyuhyun memang tidak benar-benar berniat membunuhnya. Karena Kyuhyun tidak mungkin menyakiti hal yang amat disayangi Yeong Eun. Seberapa pun buruknya sikap Eunhyuk tadi, Kyuhyun tahu bahwa Yeong Eun sangat memedulikannya.

 

Tangan Eunhyuk terangkat. Menahan tangan Kyuhyun tepat saat pria itu berniat memukulnya. Masih dengan tatapan yang tidak melihat Kyuhyun.

 

“Apa … yang terjadi pada Yeong Eun?”

 

Suara Eunhyuk terdengar rendah dan datar. Kyuhyun bisa merasakan getaran itu. Dan itu membuatnya semakin … serba salah. Ia tidak mengerti sama sekali jalan pikiran Eunhyuk. Dan itu benar-benar mengesalkan! Alasannya untuk membunuh pria itu semakin terasa lemah.

 

“Apa pedulimu? Sialan! Kau bahkan tidak mengejarnya tadi.”

 

Kyuhyun menarik lepas tangannya. Membuang pandangannya dari Eunhyuk, memilih menyandarkan tubuhnya di meja yang baru saja ditariknya mendekat.

 

“Apa yang terjadi pada Yeong Eun?”

 

Eunhyuk bertanya untuk kedua kalinya. Jantungnya berdebar keras menanti penjelasan Kyuhyun. Tangannya mengepal menahan getaran yang membuat nyawanya seolah terlepas pelan-pelan. Ini … benar-benar berdampak buruk. Kalau seperti ini, bagaimana bisa ia menghadapi Yeong Eun nanti? Gadis itu jelas akan mendorongnya  keluar sebelum sempat menatapnya.

 

“Kau menghancurkannya terlalu banyak. Aku bahkan tidak berani untuk berusaha membantunya.”

 

Kyuhyun menjelaskan sambil menahan napas. Memutar kembali ingatan mengerikan tadi. Terlambat beberapa detik saja maka Yeong Eun benar-benar bisa mati karena jatuh dari ketinggian lebih dari dua puluh lantai.

 

Eunhyuk tersandar ke dinding, merasa kehabisan tenaga. Ia benar-benar telah menjadi pendosa yang tidak bisa dimaafkan. Dengan penampilan mengerikannya, Eunhyuk bergerak bangkit. Melangkah pergi dari tempat itu dengan bergegas.

 

***

 

Yeong Eun terdiam di sebelah mobilnya. Ia sudah berada di depan gerbang rumahnya—rumahnya dengan Hyukjae lebih tepatnya. Menyandar pada mobilnya dengan lunglai. Tak bisa masuk karena pintu gerbang yang terkunci. Sekalipun ia berteriak, tidak mungkin bisa terdengar hingga ke dalam. Ditambah lagi, ia merasa tidak mampu untuk sekedar berteriak.

 

Yeong Eun berjalan mendekati alat pemindai suara otomatis yang digunakan sebagai kuncimasuk untuknya dan Eunhyuk. Sebuah kamera CCTV terletak tak jauh di atasnya. Ia sudah melambai dan memanggil sejak tadi tapi pintu gerbang itu belum juga terbuka.

 

Yeong Eun menopangkan telapak tangannya di samping alat pemindai suara. Berusaha menguatkan posisinya berdiri karena kini ia benar-benar merasa bisa jatuh kapan saja.

 

“Cho Yeong Eun.”

 

Yeong Eun berkata dengan berusaha sejelas mungkin. Sebaik yang bisa dilakukan oleh pita suaranya yang bergetar mengerikan bagaikan kucing yang terjepit. Bunyi peringatan balasan terdengar.

 

“Kata kunci yang Anda katakan salah,” ujar alat pemindai suara itu dengan otomatis.

 

Yeong Eun tersedak oleh air matanya sendiri. Tidak bisa. Ia tidak bisa mengucapkan kata sandinya.

 

“Lee Yeong Eun.”

 

Katanya lagi dengan nada memaksa dan menahan isakannya. Merasa semakin sakit di setiap detiknya. Ia hanya ingin masuk. Tolong biarkan ia masuk.

 

“Kata kunci yang Anda katakan salah,” kata suara itu lagi.

 

Yeong Eun sontak menangis, isakannya pecah seiring dengan senggukannya yang keluar.

 

“Lee Yeong Eun. Tolong terbukalah. Lee Yeong Eun … Itu juga kata kuncinya.”

 

Kepala Yeong Eun terkulai, tertumpu pada tembok. Tangannya memukul-mukul dinding beton pagar rumahnya, meminta dengan amat sangat agar siapa pun membukakan pintu gerbangnya. Suaranya terdengar nyaris menghilang dengan nada yang memohon. Tapi suara peringatan balasan itu masih terdengar seperti sebelumnya. Kata kuncinya salah.

 

“Buka pintunya, sialan! Aku tidak bisa … Aku tidak bisa mengucapkan namanya. Lee Yeong Eun saja, kumohon … Lee Yeong Eun! Tolong … buka pintunya ….”

 

Yeong Eun bersuara terputus-putus. Menelan kuat-kuat isakannya. Ia sudah terduduk di tanah. Menyerah karena ketidakmampuannya. Dan air matanya tak bisa berhenti mengalir. Ia hanya ingin masuk ke rumah, berbaring di kamarnya sampai besok pagi karena rasanya jiwanya sudah meninggalkan tubuhnya pelan-pelan. Hatinya tak bisa berhenti berdenyut nyeri.

 

Sudah lima belas menit, tapi tetap tidak ada yang berubah. Pintu itu tidak membuka sedikit pun. Yeong Eun menyerah. Akhirnya, dalam hujan air matanya, Yeong Eun berusaha berkata. Berdesakan di antara ribuan rasa sakit dalam hatinya, ia berusaha menguatkan hatinya. Hanya sekali ini saja.

 

“Lee Hyukjae.”

 

Suara Yeong Eun terdengar lirih saat mengatakannya. Ia bahkan tidak yakin bahwa dengan frekuensi sekecil itu, getaran suara itu bisa mencapai alat pemindai suara keamanannya. Tapi apa yang terjadi setelah itu sudah cukup membuktikan hasilnya.

 

Bunyi bip kecil terdengar. Detik selanjutnya, pintu gerbang itu mulai berderak, bergeser terbuka dengan otomatis. Berhenti dalam keadaan terbuka lebar dengan suara dentingan jernih di bagian akhirnya.

 

“Selamat datang di rumah, Nyonya Lee.”

 

Suara datar wanita dari kotak pemindai suara itu terdengar. Menandakan bahwa kata kuncinya sudah benar. Mendengar itu semua malah membuat Yeong Eun runtuh seketika. Air matanya mengalir semakin menjadi. Ia menggigit punggung tangannya kuat. Mencoba meredamkan suara tangisnya.

 

Yeong Eun terduduk menyandar di tembok pagar rumahnya. Meringkuk seperti anak kecil yang ditinggalkan ibunya. Ia bahkan tidak sadar saat Hae Rin menghampirinya dengan berlari. Memapahnya untuk berjalan masuk ke rumah. Pikirannya terlalu dipenuhi oleh nama itu. Orang itu.

 

Lee Hyukjae … kenapa dia melakukan hal ini padanya? Dan kenapa … rasanya sakit sekali saat melihatnya?

 

***

 

Pukul sebelas malam. Yeong Eun sudah terlelap di atas ranjangnya. Lampu kamar itu sudah dimatikan. Menyisakan cahaya temaram bersumber sinar pencahayaan dari balkon dan pekarangan. Kepala Yeong Eun sudah berat. Ia bahkan merasa tidak bisa menangis lagi. Tidak. Tangisannya tidak sebanyak itu. Jika dihitung-hitung memang tidak banyak. Tapi dalam seluruh hidupnya, tak pernah sekalipun ia menangis seperti tadi. Tawa frustrasinya keluar saat menyadari bahwa efeknya benar-benar mengerikan.

 

Memangnya kenapa kalau Hyukjae melakukannya? Dia seorang pria dewasa. Semua pria dewasa menginginkan hal itu. Jadi tentu itu sudah jadi hal wajar yang tak seharusnya dipikirkan. Yeong Eun mengerti. Lagipula ia juga tak seharusnya bersikap marah hanya karena hal itu. Dia tak berhak memprotes. Terlebih lagi untuk melarang. Karena apa pun statusnya, kedudukannya  hanyalah sebagai teman. Teman lama Eunhyuk.

 

Tapi, Yeong Eun tidak bisa mengabaikan perasaannya yang lain. Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalanya. Kenapa harus Han Joo-Won? Kenapa tidak … dia saja? Kalau memang Eunhyuk hanya butuh pelampiasan, ia tidak keberatan untuk hal itu. Lagipula itu juga sudah seperti surat kesepakatan tanpa tinta di antara mereka. Sebuah kesepakatan dalam pernikahan ini. Pria itu juga sudah pernah, mereka juga sudah pernah melakukannya. Jadi, kenapa tiba-tiba sekarang pria itu melakukannya juga dengan wanita lain? Untuk kedua kalinya, kenapa harus Han Joo-Won? Yeong Eun tidak suka wanita itu. Benar-benar tidak suka.

 

Yeong Eun membenamkan wajahnya ke kasur. Berusaha menahan teriakannya. Matanya terasa panas. Dan ia akhirnya tak bisa menahan tangisannya lagi.

 

Lee Hyukjae … apa sekarang kau sedang mengkhianatiku? Seperti inikah rasanya dikhianati?

 

Yeong Eun bermonolog. Makin menciutkan tubuhnya. Mengerut bagai bayi yang kedinginan.

 

Tolong, jangan lagi. Tolong, hanya satu kali ini saja. Karena aku tidak tahu apakah masih bisa menahannya untuk yang selanjutnya.

 

***

 

Sudah berjam-jam Eunhyuk duduk di ruang kerjanya. Memandangi berpuluh-puluh layar yang terhubung dengan kamera pengawas di seluruh rumahnya. Sebuah layar plasma menampilkan gambar dengan ukuran lebih besar dari yang lain. Layar itu terlihat gelap dan samar. Menampilkan pemandangan kamarnya dan Yeong Eun di lantai dua. Ia tahu gadis itu sedang bergelung di tempat tidur. Nampak dari kamera dengan mode infrared di sebelahnya dalam versi lebih kecil.

 

Hyukjae sudah berdiam diri terlalu lama. Ia merasa kecil. Bagaikan anak yang berbuat kesalahan besar dan tak akan dimaafkan. Ia bahkan tak tahu bagaimana cara meminta maaf. Eunhyuk benar-benar ingin masuk ke kamar itu. Melakukan apa pun agar Yeong Eun bisa merasa lebih baik. Tapi tak bisa. Ia hanya berharap Yeong Eun bisa mengerti. Memahaminya, memberikan pengertiannya. Menyadari bahwa Eunhyuk bisa dan memang inilah yang diinginkannya. Dan Yeong Eun tidak bisa ikut campur. Eunhyuk tahu bahwa kini ia benar-benar telah menjadi laki-laki hina.

 

Eunhyuk benar-benar merasa terusik. Hasilnya terlalu buruk. Tadinya ia tidak berpikir bahwa akibatnya akan seburuk ini. Ia sudah memikirkannya beberapa kali, tapi ternyata efeknya terlalu banyak. Yeong Eun menangis terlalu banyak hingga membuatnya ikut sesak. Eunhyuk tak pernah melihatnya separah itu. Dan ia jelas merasa tertekan melihat hal itu adalah hasil perbuatannya sendiri.

 

Tolong, Yeong Eun. Jangan membenciku. Mengertilah.

 

Eunhyuk menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya. Berputar-putar pelan, berusaha mencari kenyamanan. Bebannya terasa menghimpit di segala arah. Sepertinya malam ini ia harus tersiksa sampai pagi karena tidak bisa tidur nyenyak. Tidak perlu nyenyak, hanya tidur saja sudah cukup. Tapi tidak ada Yeong Eun di sampingnya. Dan tidak ada Yeong Eun berarti tidak ada tidur.

 

Eunhyuk mendengus.

 

Ini benar-benar menyedihkan.

 

***

 

Eunhyuk sudah tidak tahan. Mati-matian ia mencegahnya tapi tetap tidak berhasil. Akhirnya pada pukul tiga pagi, Eunhyuk berjalan menuju kamar. Berniat untuk meraih Yeong Eun sebentar. Jika ia tak bisa menyentuhnya, maka ia bisa puas hanya dengan melihatnya.

 

Tapi nyatanya niatnya salah besar. Setelah sampai di kamar, seluruh tubuhnya lebih dulu mengambil alih. Eunhyuk naik ke atas kasur. Menyelip perlahan di sebelah Yeong Eun. Sindrom Yeong-Eun-addicted miliknya kembali kambuh dan ia tidak ingin melawannya sama sekali. Peluk gadis itu lalu barulah semuanya kembali ke tempat semula. Barulah ia merasa benar. Dengan sepelan mungkin, Eunhyuk meraih Yeong Eun. Menariknya perlahan untuk mendekat, lalu mendekapnya dari belakang.

 

Gadis itu tidur dalam damai. Menggeliat sebentar lalu kembali tertidur nyenyak. Tangannya tanpa sadar sudah memeluk tubuhnya sendiri, menggenggam erat tangan Eunhyuk. Sementara pria itu tidak mengatakan apa-apa. Hidungnya terbenam dicekungan leher belakang Yeong Eun.

 

Yeong Eun menggigit bibir bagian dalamnya. Menahan segala tindakan yang mungkin dapat membangunkan Eunhyuk. Yeong Eun tahu bagaimana Eunhyuk mendatanginya tadi. Ia hanya berpura-pura tidur karena Yeong Eun tahu bahwa Eunhyuk tidak akan menemuinya jika Yeong Eun belum terlelap. Dan Yeong Eun … ia benar-benar tidak ingin Eunhyuk pergi. Ia ingin pria itu memeluknya, mendekapnya sampai pagi. Tak peduli bagaimana perasaan Eunhyuk atau kenapa pria itu melakukannya, yang ia tahu hanyalah bahwa ia menginginkan Eunhyuk.

 

Bayangan bagaimana Eunhyuk menyentuh Han Joo-Won di kamar hotel waktu itu seketika melesaki kepala Yeong Eun. Memenuhi otaknya hingga membuatnya nyaris muntah. Hatinya berdenyut lagi. Lagi-lagi ia tidak mengerti. Kenapa Eunhyuk melakukannya, kenapa ….

 

Denyutan itu belum pergi. Kesakitan itu sama sekali tidak berkurang. Dan kemarahan itu juga jelas belum hilang. Tapi Yeong Eun tak mampu menjauh. Ia tidak ingin pria itu menjauh darinya. Jadi, untuk terakhir kalinya, tolong biarkan ia tidur di pelukan Eunhyuk malam ini. Hanya malam ini saja. Karena ia tidak tahu apakah masih bisa melakukannya besok.

 

Akhirnya Yeong Eun membalikkan tubuhnya perlahan. Membenamkan wajahnya ke dada Eunhyuk, merapatkan diri. Sementara Eunhyuk mengeratkan pelukannya. Yeong Eun berharap ia tidak akan membasahi pakaian Eunhyuk dengan air matanya lagi nanti. Sementara Eunhyuk menghirup napas dalam-dalam. Tak ingin melupakan aroma lembut ini sedikit pun. Tidak sama sekali.

 

***

 

Eunhyuk tersentak bangun pagi itu. Mendapati tempat di sebelahnya sudah kosong. Yeong Eun tidak ada. Ia mencari ke setiap sudut kamar hingga ke kamar mandi, tapi gadis itu tidak ada. Setelan kerjanya sudah siap di atas nakas, membuatnya tahu bahwa Yeong Eun-lah yang melakukannya. Pria itu sontak bangun dan bergegas mandi. Berpakaian secepat yang ia bisa. Dan saat dirinya turun ke lantai dasar, saat itulah Eunhyuk tahu bahwa Yeong Eun sudah berangkat ke kantor lebih dulu. Meninggalkannya tanpa satu kata pun.

 

Dengan gerakan serampangan, Eunhyuk mengambil kunci mobilnya. Berlari memasuki garasi rumahnya melalui pintu yang terhubung langsung ke garasi lalu melesat meninggalkan rumah. Pikirannya dipenuhi dengan kemungkinan terburuk. Saat itulah ia tahu bahwa mulai hari ini maka semuanya akan menjadi bertambah buruk.

 

Sial! Ia bahkan belum mengatakan apa-apa pada Yeong Eun. Meskipun tidak ada yang bisa dikatakannya sebagai alasan, tapi ini benar-benar membuatnya merasa buruk.

 

***

 

Yeong Eun menyeruput kopinya dengan malas. Menikmati pemandangan di balik dinding kaca dari lantai tiga DISK. Pukul sebelas siang. Tadi ia sudah menyelesaikan seluruh laporan kerjanya beserta semua rincian yang dibutuhkan. Tidak ada pekerjaan baru. Jadi dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa ia sedang kosong, menganggur. Dan itu jelas kabar buruk. Tidak ada pekerjaan, tidak ada pelampiasan. Itu berarti ia akan kembali melamun. Yeong Eun tadinya tak berniat pergi bekerja sepagi ini—ia bahkan berangkat pukul enam pagi. Tapi saat matanya melihat Hyukjae, ia benar-benar tidak tahan lagi. Akhirnya tanpa berpamitan sama sekali, Yeong Eun pergi meninggalkan Eunhyuk yang saat itu masih terlelap.

 

Kursi di depannya bergeser. Kyuhyun duduk tanpa izin di sana. Pria itu juga membawa segelas kopi. Yeong Eun tidak mengatakan apa-apa. Hanya kembali memandangi pemandangan di luar sana.

 

“Kau tidak lapar?” Kyuhyun bertanya.

 

“Belum,” jawab Yeong Eun sambil lalu.

 

“Lapar saja lah.”

 

Kyuhyun kembali bersuara dengan ngotot.

 

“Kubilang belum ya belum!”

 

“Tapi aku lapar.”

 

“Ya sudah, makan saja sana sendiri kalau lapar.” Yeong Eun menjawab tak acuh.

 

“Tidak bisa.” Lagi-lagi Kyuhyun menjawab ngotot.

 

“Kenapa tidak?”

 

“Karena kalau aku lapar kau juga pasti lapar.”

 

Yeong Eun spontan mendelik marah. Merasa geram luar biasa.

 

“Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan?”

 

“Memaksamu makan. Apa lagi memangnya? Ayolah, Nuna.”

 

“Tapi aku tidak mau makan.”

 

“Kau tidak pernah menolak makanan. Aku tidak mau kau jadi kurus.”

 

“Aagh! Apa-apaan kau ini? Jangan membuatku marah!”

 

Yeong Eun sontak berteriak. Sementara Kyuhyun masih dengan wajah menyebalkannya. Pria itu menarik Yeong Eun berdiri. Menyeretnya ke konter makanan. Berbaik hati mengambilkan piring lalu menyendokkan beberapa sendok nasi.

 

“Aku sudah menghajarnya jadi jangan khawatir,” ujar Kyuhyun tiba-tiba. Masih terfokus pada semangkuk besar sayur di hadapannya. Ia lalu melanjutkan, “kau harus banyak makan agar bisa menghadapinya.”

 

Yeong Eun tertegun. Baru menyadari maksud sebenarnya dari perlakuan Kyuhyun ini. Mau tak mau ikut tersenyum meskipun senyumannya terlihat patah.

 

“Kyuhyun~ah,” panggilnya perlahan.

 

Kyuhyun belum menoleh. Masih asyik menambahkan beberapa potong lauk ke dalam piring Yeong Eun.

 

“Kalau kau butuh bantuanku untuk menghadapinya, maka kau tinggal memanggilku. Aku sejak dulu memang ingin sekali bisa memukuli pria menyebalkan itu.”

 

Kyuhyun tanpa sadar merengut. Nampak jelas sedang iri.

 

“Cho Kyuhyun,” panggil Yeong Eun lagi.

 

“Apa lagi? Jangan coba-coba untuk menangis lagi atau aku akan membekapmu sampai mati.”

 

Kyuhyun mengancam. Menatap Yeong Eun dengan ekspresi memeringatkan meskipun tampak tidak sungguh-sungguh.

 

“Tambahkan dagingnya. Aku lapar,” ujar Yeong Eun pada akhirnya.

 

Gadis itu mengulum senyum. Menunggu Kyuhyun mengambilkan beberapa potong daging dengan senyum samar di bibirnya.

 

“Lagipula kau tidak perlu berusaha sekeras itu. Kau jelas tidak akan bisa menandinginya.”

 

Yeong Eun balas berkata dengan mengejek. Membuat Kyuhyun menoleh geram.

 

“Apa katamu?”

 

“Kau mendengarku dengan jelas.”

 

“Ya sudah. Ambil saja sendiri makananmu. Ini punyaku!”

 

Kyuhyun berkata sambil lalu. Berjalan meninggalkan Yeong Eun begitu saja. Sementara gadis itu menyusulnya dengan marah.

 

“Heeeiiii! Kembalikan! Tadi kau bilang itu punyaku!”

 

***

 

Dasar rapat sialan!

 

Eunhyuk sudah beribu kali memaki. Ia pasti sudah sampai di kantornya sejak tadi pagi kalau saja telepon itu tidak masuk dengan membabi-buta. Beralasan dengan segala situasi genting yang mengharuskannya untuk memutar arah dan malah berakhir di gedung biru—istana kepresidenan Korea Selatan.

 

Tugasnya akan berakhir hari ini. Terpujilah untuk itu. Tapi … demi segala dosa yang tak terampuni, kenapa harus sekarang? Di saat hal yang seharusnya ia lakukan adalah menyusul Yeong Eun, kenapa ia malah dipaksakan agar datang ke sini?

 

Eunhyuk menyalami duta besar Amerika dengan kaku. Menunduk hormat dengan pandangan lurus ke depan. Membalas terima kasih dengan gaya resmi. Mr. Brown akan kembali ke Amerika siang ini. Segala urusan Amerika-Seoul sudah selesai. Menghasilkan keputusan dan kesepakatan terbaik yang bisa dibuat.

 

“Kerja bagus.”

 

Ketua Park memuji saat mereka berdiri berdampingan di sisi lain ruangan. Di depan sana, terlihat Mr. Brown dan jajaran pemerintahan Korea Selatan sedang berkumpul. Berbasa-basi sebelum nanti akan pulang.

 

“Aku harus berangkat ke DISK.”

 

Eunhyuk berkata datar dengan rahang tegang. Ia tidak merasa nyaman sama sekali. Ketua Park tampak maklum. Pria itu terlihat ikut merasa prihatin.

 

“Ya. Kau memang harus segera ke sana.”

 

Untuk kesekian kalinya Eunhyuk mengembuskan napasnya kasar. Ia benar-benar harus pergi atau bisa meledak di tempat ini.

 

Istilah selesainya urusan itu ternyata terlalu sederhana. Karena nyatanya, ia baru benar-benar terbebas dari tugas itu beberapa jam setelahnya. Pukul setengah dua siang. Semua pihak dan utusan dari luar negeri tengah bersiap-siap kembali ke negara asal. Utusan Rusia dan Inggris bahkan sudah kembali sejak sebelum makan siang. Eunhyuk dan yang lain sedang berada di lapangan lepas landas pesawat jet Amerika. Menunggu jajaran pemerintahan itu masuk ke pesawat.

 

Han Joo-Won berjalan di barisan paling belakang. Wanita itu menghampiri Eunhyuk. Menyalaminya sambil memberikan pelukan ringan. Eunhyuk refleks tersenyum sejauh yang bisa diberikan wajah kakunya.

 

“Aku akan berangkat sekarang.” Joo-Won mulai berpamitan.

 

“Hati-hati,” balas Eunhyuk. Pria itu memandang lurus pada mata cokelat Joo-Won.

 

“Ya. Hal yang sangat indah untuk bisa bekerja denganmu.” Wanita itu tersenyum saat mengatakannya.

 

“Aku tidak akan melupakannya.”

 

Eunhyuk melambai saat wanita itu sudah melangkah lebih dulu. Mulai menuju pintu masuk pesawat. Han Joo-Won memang akan kembali  ke Amerika. Kembali pada Kantor Intelijen di sana yang tugasnya dimulai dengan mengawal para utusan Amerika agar sampai kembali dengan selamat di sana. Beberapa pengawal juga terlihat ikut serta dengannya.

 

“Kita pasti akan bertemu lagi.”

 

Untuk terakhir kalinya, Han Joo-Won berkata pada Eunhyuk. Lengkap dengan tatapan mata yang tidak terbaca. Sementara Eunhyuk hanya terdiam. Membalas dengan ekspresi sama ambigunya.

 

***

 

Pagi selanjutnya, Yeong Eun bangun tidur dengan perasaan bagai zombie. Sudah tidak terhitung berapa kali ia terbangun semalaman. Ia bahkan tidak yakin apakah tidurnya bahkan bisa mencapai satu jam.

 

Yeong Eun meneguk susu putihnya tanpa minat. Ia belum melihat Eunhyuk sama sekali sejak kemarin. Donghae bilang bahwa Eunhyuk datang ke kantor siang itu, mencarinya dengan buru-buru tapi Yeong Eun tak sempat bertemu karena disibukkan membantu Yoon Seol dengan tugas barunya setelah sadar dari efek tidurnya. Menemani gadis itu menghapal berbagai istilah jepang untuk tugas barunya. Membuat mereka berakhir di perpustakaan hingga nyaris malam hari. Sebenarnya bisa saja Yeong Eun menemuinya, tapi ia tidak mampu. Tidak. Lebih tepatnya ia tidak berani sama sekali untuk menghadapi kemungkinan tentang apa saja yang bisa pria itu lakukan atau katakan padanya. Terlebih lagi, ia masih benar-benar marah. Yeong Eun tidak sedang dalam posisi ingin memahami Eunhyuk. Apa pun masalahnya. Itulah kenapa ia memilih menghindar. Karena jujur saja, hatinya masih berantakan entah karena apa.

 

Eunhyuk sampai di rumah sekitar pukul Sembilan malam. Yeong Eun tak berniat bertanya ke mana saja dia hingga baru pulang selarut itu. Baiklah, mungkin belum larut tapi jam kantorbahkan sudah berakhir sejak pukul lima sore.Lagipula memangnya apa yang akan menjadi jawabannya? Apakah ia perlu mendengarnya langsung?

 

Menghabisi waktu bersama Han Joo-Won.

 

Nah, tanpa diberitahu pun Yeong Eun bisa langsung tahu kan? Ya Tuhan … lalu dia apa? Kenapa kini ia malah merasa seperti istri kedua? Si pengganggu rumah tangga dan kebahagiaan orang lain.

 

Yeong Eun baru saja berniat menyuapkan sarapannya saat Eunhyuk turun dari tangga. Lengkap dengan setelan jas kantornya yang biasanya ia kenakan. Nampak agak kacau tapi tetap memesona. Rambutnya masih basah dan tampak diatur seadanya, tapi Yeong Eun tetap tak keberatan untuk memandanginya lama-lama. Ia nyaris lupa diri jika saja matanya tak melihat ekspresi terkejut Eunhyuk saat melihatnya.

 

Pria itu mendekati meja makan. Belum mengatakan apa-apa meskipun masih mengikuti Yeong Eun dengan tatapannya. Merasa mulai memiliki kesempatan untuk berusaha memerbaiki kejanggalan ini sebelum makin bertambah besar. Dengan risiko yang tentu juga besar melihat bagaimana perlawanan Yeong Eun terhadapnya. Gadis itu tidak ingin menerimanya sama sekali.Ia harus melakukannya dengan perlahan jika tidak ingin membuat semuanya makin buruk.

 

Tubuh Yeong Eun kaku. Ia tidak bisa menggerakkan apa pun. Keheningan yang damai itu kini terasa semakin menyiksa. Menyerah atas kesesakan itu, akhirnya Yeong Eun berdiri. Untuk kesekian kalinya memutuskan untuk menghindar.

 

“Aku pergi duluan,” ujar Yeong Eun pelan dan datar. Berniat meninggalkan meja makan secepatnya tapi gerakannya kalah cepat oleh Eunhyuk. Pria itu sudah lebih dulu berdiri.

 

“Tidak perlu. Makanlah. Biar aku yang pergi lebih dulu.”

 

Eunhyuk bergerak menuju meja di ruang tengah. Berniat mengambil kunci mobil. Seluruh pegawai memutuskan pergi tanpa suara. Tahu bahwa ini sudah menjadi daerah teritorial pribadi majikannya. Entah itu tempat ataupun pembicaraannya.

 

“Aku tidak tahu kau masih peduli padaku,” ujar Yeong Eun tiba-tiba. Murni karena spontanitas. Eunhyuk membatu. Urung melangkahkan kakinya lalu berbalik perlahan. Menatap Yeong Eun yang masih memandangi gelas susunya.

 

“Apa?”

 

“Aku terkejut kau masih peduli padaku.”

 

Kali ini wajah Eunhyuk menggelap seketika. Yeong Eun bahkan bisa merasakan aura hitam itu hingga ke kursi makannya. Tapi hatinya juga tidak lebih baik. Kemarahan dan kekecewaannya terlalu besar hingga rasanya ia tidak kenal rasa takut lagi.

 

“Apakah selama ini aku tidak peduli padamu?” Eunhyuk bertanya lambat dengan menekan emosi sekuat-kuatnya. Ia bisa memahami kemarahan Yeong Eun. Ia tahu kesalahannya. Tapi ucapannya itu sama sekali tidak membuatnya senang.

 

“Oh, tentu. Kau pasti terlalu peduli padaku saat memutuskan untuk meniduri jalang itu.”

 

Yeong Eun memuntahkan kata-katanya begitu saja. Menantang tatapan tajam Eunhyuk padanya.

 

“Kau sama sekali tidak tahu apa-apa tentang orang yang kau sebut jalang itu, Yeong Eun~ssi.”

 

Yeong Eun mengabaikan jeritan hatinya mendengar bagaimana pria itu memanggilnya. Matanya sudah berkaca-kaca karena emosinya yang tertahan sekaligus kekecewaannya yang merangkak naik.

 

“Tidak. Dan aku memang tidak berniat mengenalnya sama sekali. Kau jelas lebih mengenalnya dengan begitu baik karena kau bahkan sudah beberapa kali memasukinya. Hah! Apa yang kau tidak tahu darinya? Kau sudah tahu semuanya! KAU SUDAH MERASAKAN SEMUANYA!”

 

Yeong Eun berteriak. Emosinya menyembur keluar seiring dengan jeritan frustrasinya. Wajahnya memerah karena marah dan air matanya sudah mengumpul di kelopak matanya. Eunhyuk mengepalkan tangan. Mati-matian menahan amarahnya agar tidak memuntahkannya pada Yeong Eun. Pria itu membuang pandangannya. Memutuskan untuk pergi secepatnya. Kalau pun ia harus bicara, maka mereka tak bisa bicara sekarang. Tidak saat Yeong Eun lebih suka memakinya daripada mendengarkan.

 

“Hentikan rengekanmu dan makan. Aku pergi.”

 

“Pergilah! Kau berengsek! Pergi karena aku tidak membutuhkanmu!”

 

Yeong Eun berteriak lagi. Refleks mengambil piring lalu melemparkannya pada Eunhyuk. Benda itu terlempar dan jatuh menimpa lantai. Menghamburkan seluruh isinya dan menghasilkan bunyi yang memekakkan telinga. Eunhyuk tetap bergeming. Masih melangkahkan kakinya hingga ke pintu depan.

 

Yeong Eun terduduk. Berusaha menormalkan napasnya yang memburu. Ia menghapus air matanya dengan kasar. Menyuapkan sarapannya dengan paksa agar setidaknya bisa membuatnya berhenti menangis.

 

“Pergi kau. Lee Hyukjae sialan!”

 

Umpatan lirih itu nyaris tak terdengar. Yeong Eun menghapus air matanya lagi. Memaki kebodohannya sendiri.

 

***

 

Yeong Eun menembakkan tembakan terakhirnya menuju papan sasaran. Ia lalu mengembuskan napas lelah. Membuka penutup telinganya lalu melangkah meninggalkan area latihan menembak. Yeong Eun meneguk air mineralnya besar-besar. Ia berjalan menuju lift. Berniat kembali ke ruangan kerjanya setelah selesai latihan. Kang In sudah memanggilnya sejak satu jam yang lalu. Berdalih dengan mengatakan ingin memberinya hadiah. Entah hadiah apa.

 

Yeong Eun masuk ke kantor tim intelijennya. Melangkah menuju ruangan pertemuan. Bisa melihat beberapa sosok manusia di dalamnya. Saking seriusnya berjalan, ia bahkan lupa jika masih membawa pistol latihannya di tangannya.

 

“Hai, Yeong Eun. Selamat! Ini tugas barumu!”

 

Kang In melambaikan amplop cokelat besar ke depan wajahnya. Nampak antusias. Tahu bahwa Yeong Eun sudah menantikan hal itu sejak beberapa hari lalu. Yeong Eun memaksakan senyumnya. Tidak berniat merespon saat Donghae dan Henry ikut bertepuk tangan.

 

“Tugas apa lagi?”

 

“Baca sendiri saja. Kau pasti terkejut.”

 

“Dan kenapa aku harus terkejut?”

 

“Tidak usah malu-malu. Aku tahu kau pasti senang karena akhirnya dapat tugas baru lagi, ya kanNuna?” Henry meledek sambil terkekeh geli. Menyambut tawaran high-five dari Donghae.

 

“Diam kau!” Yeong Eun membentak sambil lalu.

 

“Lalu, siapa temanku kali ini? Atau ini tugas pribadi?” Lanjutnya lagi.

 

“Tidak. Nah, itu dia. Kalian akan bertemu lagi dalam tugas.”

 

Kang In berusaha tersenyum dan nampak ramah saat mengatakannya. Pria itu mengedikkan dagunya ke arah pintu. Seorang pria bergerak masuk. Dan saat sosok itu berdiri di dalam ruangan, saat itulah suasana tegang itu memenuhi semuanya. Tidak ada yang bersuara. Bahkan Donghae dan Henry pun seolah mendapatkan pesan maha penting yang mengharuskan mereka untuk diam. Keduanya memandang Yeong Eun dan orang itu bergantian dengan ngeri.

 

Yeong Eun mengacungkan pistolnya. Mengarahkannya tepat ke dada Eunhyuk secara otomatis. Sementara Eunhyuk tidak berniat menghindar. Ia hanya berdiri diam di sana sambil menatap Yeong Eun lurus-lurus. Nampak tidak tergoyahkan.

 

“Kenapa kau juga ada di sini?”

 

Yeong Eun bertanya perlahan. Lebih terlihat sedang bicara pada dirinya sendiri. Eunhyuk tetap belum menjawab.

 

“Kalau kau memang mau pergi, maka pergilah.”

 

Eunhyuk maju perlahan. Mendekati Yeong Eun selangkah demi selangkah. Yeong Eun bergerak mundur. Masih mengacungkan pistolnya.

 

“Pergilah dan temui wanita itu!”

 

Yeong Eun berkata lagi. Masih dengan suara pelan dan tekanan yang sama. Matanya menatap tajam pada Eunhyuk. Berkobar karena emosinya untuk kesekian kalinya. Setiap melihatnya lagi, maka ia akan terus kembali ke titik awal. Berakhir pada posisi paling rendah di mana pengkhianatan itu mencambuknya berkali-kali.

 

“Kubilang pergi!”

 

Yeong Eun menjerit lagi. Ia tidak lagi melangkah mundur. Sebagai gantinya kini Yeong Eun memantapkan senjatanya. Mengarah lurus pada Eunhyuk lalu menarik pelatuknya perlahan.

 

Donghae dan Henry berteriak serempak. Meneriakkan namanya, nama Eunhyuk, sekaligus peringatan awas. Kang In bergerak mendekat berusaha menyelamatkan. Sementara Yeong Eun dan Eunhyuk tetap di tempat semula. Berdiri berhadapan tanpa niatan bergerak menjauh. Detik selanjutnya suara letusan meledak.

 

DOR!

 

 

To be continued …

 

Baiklah. Bagaimana?

Seperti biasa. Aku tahu aku agak terlambat. Tapi seperti inilah adanya. Untuk kedepan akan berusaha lebih baik lagi :”Terima kasih bagi yang masih mengikuti cerita ini. Kuharap belum bosan dan masih ingin mengikutinya sampai akhir XD

Nah, gimana? Apa pendapatnya? Ada yang kurang? Atau nggak puas? Atau mungkin … puas? Yah, pokoknya dipuas-puasin dulu ya wkwkJangan lupa kasih komentar ya^^

Aku sempet bingung, belum jago bikin sad moment, jadi semoga itu moment sedihnya nggak menggelikan XD

Oke deh. Sampai jumpa di lain kesempatan. Oh, dan terima kasih atas respon kalian untuk karyaku yang lain, INTERMEDIATE. Yah, meskipun nggak seramai yang ini tapi akan tetep aku lanjutin deh wkwk

Salam sayang,

 

Lula

112 thoughts on “The Wild Couple Part 8

  1. Serasa nangis bacanya😢 Yeong Eun kasihan bgt, dan Hyukjae kenapa blom jelasin alasannya ngelakuin itu semua😫
    Jd greget baca part selanjutnya😣

    Suka

  2. Setelah nunggu2 … ternyata udah masuk part 9 padahal kemarin kirain msh di part 7 ~~
    duuuuh makin kesini makin greget ajaa, udah hyuk jangan dijelasin dulu biar makin seru hahaha #tawasetan

    Suka

  3. Jangan bilang salah satu dari mereka tertembak . . . !!!
    Jangan mengutamakan emosikalian selesaikan masalahnya dengan baik-baik saja saya kira kalian pasti saling menyayangi.

    Suka

  4. Hhhuuuuwwwwaaaaaa kenapa nggantung 😥 kan nangis + penasaran ku juga gantung 😭😭😭😭😭
    Gak mau tau harus lanjut next eps nya thorrrrr 😂😂😂😂😂

    Suka

  5. Hi author, I would say that I really like your ff. the idea is so fresh and diferent than the other. kau menempatkan diksi dgn cantik, aku suka. jadi pembaca benar-benar diajak masuk kedalam jalur cerita yang kau buat. aku menyukai caramu dalam menulis, I swear! semangat aku ingin kau cepat menalnjutkan kelanjutan ff ini. for your information, aku lagi iseng krn sdh lama ga join utk liat ff, and than I found this good ff. akhirnya kubaca secara marathon dari part 1, oh jinjja daebak! aku benar benar suka. fighting!

    Your sincerely, Hkimwook<3

    Suka

  6. greget banget sma hyuk, kenapa ga ngejelasin apa2 sma yeong eun. jadi siapa itu yang kena tembak??? makin penasaran aja, next semangat author 🙂

    Suka

  7. akhirnya dilanjut jg,siapa yg kena tembakan disini,bkin penasaran aja ni sbenaranya ada hubungan apa antara hyukjae han jo won ko hyuk kayanya ngebela han jo won bgt pas yeong eun ngatain han jo won jalang,sbenarnya ada hubungan apa merka berdua.

    Suka

  8. Sebenernya ada hubungn apa sih antara han jo won sama hyukjae, kenapa hyukjae gk mau jelasin ke yeong eun, biar masalahnya gk semakin berlarut2.

    Itu siapa yang kena tembak sih bikin penasaran deh, apa mungkin hyukjae…

    Di tunggu next part nya ya…
    Tetep semangt buat author.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s