ZOE : A Lifetime Part 3 END


 

AUTHOR: .DancingChen

TITLE: ZOE: A Lifetime (Chapter 3)

CATEGORY: NC-17, Yadong, Romance, Fantasy, Chapter (3/3)

CAST: [SJ] Cho Kyu Hyun [OC] Zoe/Jo-Eui [OC] Choi Hwa Yeon [f(x)] Krystal Jung || Slight! [EXO] Kim Kai [EXO] Kim Jong Dae

DISCLAIMER: .DancingChen©2017; WhiteChokyulate; Penulis tak memiliki apa pun selain alur. Poster by RirinM.

A/N: >< Warning! Untuk yang ga suka fantasi silahkan close tab. Selain itu, typo bertebaran. Oh ya, untuk sudut pandang, yang digunakan hanya sudut pandang dari penulis. Tetapi untuk karakter Zoe ada DUA PENULISAN. Sudut pandang terhadap Zoe melalui dirinya-sendiri tetap ditulis Zoe. Sudut pandang terhadap Zoe melalui Kyu Hyun ditulis Jo-Eui.

Happy reading.

.

.

Tak ada yang lebih khawatir daripada Zoe saat ini. Kyu Hyun kembali di keesokan hari menjelang sore dengan keadaan yang sama sekali tak baik. Lelaki itu tampak kotor dengan pakaian serta rambut berantakan. Bau alkohol pun menyeruak masuk ke dalam hidung.

 

Krystal berdiri di dekat pintu dengan muka kesal. Gadis itu sangat kesal sampai tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Matanya memicing tajam. “Untung saja tak satu pun wartawan yang tahu kejadian ini,” kata Krystal.

 

Zoe mengompres Kyu Hyun dengan beberapa buah es yang ditempatkan pada sebuah ice bag. Suhu tubuhnya memang agak tinggi. Mungkin saja Kyu Hyun demam.

 

“Dia demam,” kata Zoe menyimpulkan.

 

“Aku akan melihat kotak obat. Mungkin Kyu Hyun Oppa menyimpan beberapa obat penurun panas,” kata Krystal beranjak dari dekat pintu. Dia mencoba meredam kesalnya dengan menolong Zoe.

 

“Jo-Eui-ya….” Kyu Hyun mengigau.

 

Zoe dengan tanggap memegang tangan Kyu Hyun. “Apa yang terjadi padamu?”

 

“Jo-Eui-ya….”

 

Eonni,” kata Krystal. Tangannya mengulurkan sebuah botol berlabel ‘Paracetamol Sirup, Penurun Panas’.

 

Zoe menuangkan sejumlah dosis yang dianjurkan pada sendok. Gadis itu mengarahkan sendoknya ke mulut Kyu Hyun. Awalnya sirup itu masuk sebagian. Namun, Kyu Hyun tersedak dan tubuhnya bergerak tak nyaman. Zoe tak menyerah, dia mencobanya kembali. Lagi-lagi sirup itu dimuntahkan lagi oleh Kyu Hyun.

 

“Ini tak akan berhasil.”

 

Krystal melirik Zoe sebentar. “Baiklah, aku tak akan melihatnya, Eonni.”

 

“Apa?”

 

Krystal menepuk dahinya pelan. Bola matanya berputar malas. Dia menunjuk mulut Zoe, kemudian sirup itu dan telunjuknya berakhir di mulut Kyu Hyun. “Kau mengerti?”

 

Zoe menelan ludahnya kasar. Sekarang ia mengerti. Tetapi … Kyu Hyun minum obat melalui mulutnya? Oke, sejauh ini, setelah insiden di guest house, Zoe agak trauma untuk melakukan kontak fisik dengan Kyu Hyun.

 

“Kau pernah menciumnya kan, Eonni?” tanya Krystal.

 

Zoe mengangguk, ragu.

 

“Lalu kenapa kau ragu? Cepat atau aku yang akan melakukannya.”

 

“Baiklah!” Zoe berseru. Tidak, tentu dia tak ingin Krystal menyentuh Kyu Hyunnya. “Akan kulakukan.”

 

“Aku akan menunggu di luar.”

 

Zoe melihat Krystal menghilang di balik pintu utama. Kini tinggalah ia bersama Kyu Hyun. Bibir lelaki itu tampak bergetar. Oh, tidak! Jangan sampai sesuatu yang tak diinginkan terjadi.  Setidaknya suhu tubuh Kyu Hyun harus turun untuk saat ini.

 

Zoe memasukkan sesendok dosis sirup ke mulutnya. Alisnya berkerut merasakan rasa aneh obat itu. Dengan cepat ia menempelkan bibirnya di bibir Kyu Hyun. Ia membuka mulutnya di dalam mulut Kyu Hyun.

 

Sepasang tangan merengkuh tubuh Zoe. Kyu Hyun membuka matanya sedikit demi sedikit. Mereka berciuman cukup lama.

 

“Aku merindukanmu, Jo.”

 

“Kau membuatku khawatir.”

 

Kyu Hyun tersenyum, namun terkesan dipaksakan. “Aku selalu membuatmu kesulitan.”

 

“Tidak sama sekali. Itu hanya perasaanmu saja.”

 

“Jangan katakan karena kau adalah asistenku, Jo,” kata Kyu Hyun pelan.

 

“Kenyataannya seperti itu, Kyu.”

 

“Sekarang bisakah kau hanya menjadi kekasihku saja?”

 

“Tetapi—”

 

“Hari ini kau kupecat,” kata Kyu Hyun. “Kau kupecat sebagai asistenku, Nona Jo-Eui.”

 

Kyu Hyun menatap Zoe dalam. Dia tersenyum tulus kemudian. Bibirnya yang pucat sama sekali tak mengurangi rupa tampannya.

 

“Aku menolaknya.” Zoe memalingkan wajahnya. “Kupikir, kau harus menghubungi bibiku untuk memecatku. Kau menandatangani kontrak dengannya, bukan denganku.”

 

Kyu Hyun menghela napasnya panjang. “Aku akan melenyapkan kontrak kerjamu nanti.”

 

“Bibiku masih mempunyai salinannya. Kau tetap tak bisa memecatku.”

 

Kyu Hyun menyeringai kesal. “Aku akan selesaikan hal itu secepatnya,” katanya pelan. “Lalu aku akan menikahimu, Jo-Eui.”

 

***

 

Zoe membenarkan selimut yang membalut Kyu Hyun. Setidaknya lelaki itu sudah dalam keadaan bersih dan bau alkohol pun sudah tak tercium. Zoe membenarkan posisi tirai untuk menghalangi cahaya masuk melalui jendela kamar. Ia akan memastikan Kyu Hyun beristirahat dengan nyaman, sebelum Krystal menghujaninya dengan puluhan pertanyaan nanti.

 

Sebuah cangkir dengan sisa air madu yang mulai mendingin diangkat oleh Zoe dari nakas. Ia melewati pintu tanpa suara. Krystal masih tampak duduk di sofa sambil memainkan ponselnya ketika Zoe menuruni tangga.

 

“Aku masih tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Kyu Hyun Oppa,” kata Krystal.

 

“Mungkin dia membuat pesta lain setelah pesta itu selesai,” sahut Zoe sembari menuju dapur.  Dia mencuci cangkir itu di wastafel dapur.

 

“Maksud Eonni?”

 

“Kyu Hyun punya teman minum, kan? Kupikir dia minum terlalu banyak soju di kedai cumi-cumi.” Zoe menerka dan membuat pikirannya sepositif mungkin. Dia meletakkan cangkir itu pada lemari lalu menuju ke sofa.

 

“Bisa saja,” kata Krystal sepakat. “Setahuku dia peminum yang kuat.” Gadis itu mengangguk-angguk setuju.

 

Zoe duduk di atas sofa. Dia memeriksa ponselnya, melihat-lihat salah satu media sosial. Semenit setelah itu, Zoe menyipitkan kedua matanya. Dia memandang sesuatu dalam ponselnya dengan tatapan tak percaya. Dagunya terangkat dan melihat Krystal.

 

Dengan ekspresi nyaris sama, Krystal melihat ponselnya dengan mata membola. Bunyi krik terdengar saat gadis itu melakukan screenshoot.

 

Eonni, kau melihatnya?” tanya Krystal datar, namun sarat akan keterkejutan. Matanya masih berfokus pada ponselnya.

 

Zoe mengangguk. Wajahnya memanas. Dia melihat ke ponselnya lagi. Zoe menarik napasnya dalam, seolah menahan agar air matanya tak jatuh menganak sungai di pipinya.

 

Memangnya siapa yang tak kesal? Hwa Yeon mengunggah sebuah foto di akun hinstagramnya. Sebetulnya tak ada yang salah. Unggahan berusia sepuluh menit itu sah-sah saja oleh sebagian besar orang. Tapi tidak dengan Zoe. Bukan Hwa Yeon yang menjadi titik fokusnya, melainkan…

 

“Jung… Jung-ah,” gumam Zoe mulai terisak.

 

…Kyu Hyun.

 

Foto itu menampilkan Hwa Yeon yang berdiri di balkon apartemennya dengan ekspresi imut. Jemarinya membentuk huruf V di ekor mata kanannya. Salah satu matanya terpejam membentuk pose kedipan genit. Yang menjadi fokus utama orang-orang di kolom komentar adalah seseorang yang tertidur di sofa. Meskipun hanya terlihat sampai sebatas dada karena terhalang sliding-door, Zoe rasa itulah yang akan menjadi topik utama. Seseorang itu dalam keadaan…

 

yekyung_j Siapa itu? Yang tertidur di sofa?

kimmin_h Kyu Hyun?

in.yeon Aku tak salah lihat kan? Tapi lelaki itu mirip Kyu Hyun ><

dohakang__ Kyu Hyun!

wai.emyoung Aku harap yang di sana memang Kyu Hyun. Apa kalian melakukan sesuatu semalam? ㅎㅎ @chyeon

isabelle.a >< semalam pesta High Kat Magazine, dan hari ini kau mengunggah foto ini? Luar biasa! @chyeon

miyoo__b Ini tak masuk akal. Apa setelah ini akan ada konfirmasi dari agensi? Kurasa imej manismu akan hilang sekarang @chyeon

yoonh_han Ini akan menjadi topik terhangat ㅋㅋㅋ

 

topless.

 

Krystal berpindah tempat duduk. Gadis itu memeluk Zoe kemudian. Zoe membenamkan wajahnya di ceruk leher Krystal. Pertahanannya runtuh sudah. Zoe menangis sekencang-kencangnya. Tangannya memegang erat kaos Krystal di bagian pinggang.

 

Napas Krystal ditarik dalam-dalam. Wajahnya mengadah melihat langit-langit rumah. Air mata Krystal menggenang pada pelupuk matanya. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Jika saja ia tak mengingat Zoe ada di sana, sudah pasti Krystal akan menghampiri Kyu Hyun lalu menamparnya.

 

Krystal mencoba melihat unggahan itu kembali. Dia melakukan refresh pada lamannya. Namun unggahan itu… menghilang. Napasnya terhela panjang. Siapa pun pasti tahu, ini akan menjadi topik terhangat di Korea mulai detik ini. Dan, ketakutannya selama ini tiba begitu saja.

.

.

.

Menjelang malam, Kyu Hyun terjaga. Ia berusaha bangkit sementara kepalanya berdenyut sakit. Kyu Hyun sudah tersadar sepenuhnya. Demam yang ia derita beberapa jam lalu juga berangsur membaik. Kyu Hyun pun berusaha mengingat-ingat peristiwa-peristiwa sebelum ia sampai di rumah.

 

Jo-Eui…

 

Kyu Hyun menggeleng. Bukan. Mungkin ia dapat mengingat peristiwa jauh sebelum Jo-Eui membantunya meminum obat penurun panas.

 

Pesta …

 

High Kat Magazine …

 

Wine …

 

Bunyi notifikasi di ponselnya membuyarkan lamunan Kyu Hyun. Ia berusaha meraih benda yang terletak di atas nakas itu. Pada layarnya, Kyu Hyun melihat lebih dari 30 ribu komentar masuk ke akun hinstagramnya.

 

dohakang__ .ㅇ kurasa @gaemkyu akan segera menikah dengan @chyeon

wai.emyoung Sependapat! @dohakang__

luluyin Ini pertama kalinya sebuah skandal mendapat dukungan dari para penggemar. Kupikir mereka cocok ㅋㅋㅋㅋ

 

Kyu Hyun mengernyitkan dahi. Komentar macam apa itu? Kenapa dukungan mereka semakin menjadi-jadi setelah sempat meredup ketika musikal Kyu Hyun dan Hwa Yeon selesai?

 

Penasaran. Kyu Hyun merasa amat sangat penasaran. Dengan segera, ia mencari buletin berita hari ini. Saat itu juga jantungnya terasa mau melompat keluar.

 

BREAKING News: Netizen Menduga Sosok Lelaki di Foto Unggahan Choi Hwa Yeon Adalah Cho Kyu Hyun

BREAKING News: Fans Hwa Yeon Beri Dukungan Atas Hubungan Kyu Hyun-Hwa Yeon

BREAKING News: Tuai Respon Positif, Sebagian Netizen Menyayangkan Tindakan Hwa Yeon Atas Pengunggahan Foto

 

Kyu Hyun menarik rambutnya kesal. Hal ini bagaimana bisa terjadi? Foto itu … bagaimana ia bisa tertidur di sofa apartemen milik Hwa Yeon? Jo-Eui … bagaimana dengan gadis itu nantinya? Pasti Jo-Eui sudah melihat buletin berita hari ini. Dan Kyu Hyun, ia tak mampu mengingat satu pun potongan peristiwa itu kecuali … tunggu!

 

Hwa … Yeon?

 

Kyu Hyun hampir mengingatnya sedikit lagi.

 

Toi … toilet?

 

Kedua mata Kyu Hyun membola. Toilet! Ah, bagaimana … oh, Tuhan. Aku… aku…. Kyu Hyun seketika menjadi panik.

 

Kyu Hyun bangkit dari tempat tidur. Rasa pusing yang dideritanya nyaris tak terasa lagi. Ponselnya dilempar begitu saja. Tungkainya melangkah menuju jendela, menyibak tirai yang menutupinya dengan kasar. Kamar Jo-Eui dalam keadaan gelap.

 

Dengan pikiran kalut, Kyu Hyun berlari menuju ke rumah Jo-Eui tanpa mengenakan alas kaki sama sekali. Karena pintu rumah Jo-Eui tak terkunci, Kyu Hyun begitu saja masuk lalu menuju ke lantai dua. Bahkan ia tak menyadari kalau Krystal yang duduk di sofa sedang memandangnya.

 

“Jo-Eui!”

 

Kyu Hyun berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.

 

“Jo-Eui?”

 

Kyu Hyun melangkahkan tungkainya mendekati tempat tidur Jo-Eui. Gadis itu duduk di sudut ranjang dengan kaki tertekuk. Wajahnya terbenam.

 

“Jangan menggangguku,” gumam Jo-Eui pelan. Suaranya terdengar berat, seperti seorang yang habis menangis.

 

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyu Hyun.

 

“Apa menurutmu aku baik-baik saja?” tanya Jo-Eui balik. “Gadis mana yang baik-baik saja melihat kekasihnya menginap di rumah gadis lain? Sementara dirinya menunggu dengan khawatir?”

 

Kyu Hyun terdiam. Dia tak mampu berkata apa pun. Foto itu mengatakan sebuah kebenaran. Mungkin semalam Kyu Hyun memang berada di sana bersama Hwa Yeon tanpa ia ketahui bagaimana gadis licik itu membawanya. Kyu Hyun hanya mampu mengingat ketika dirinya meminum wine bersama obat perangsang di dalamnya. Semuanya terjadi begitu saja.

 

“Maaf—”

 

“Berhenti mengucapkan kata itu di depanku, Cho Kyu Hyun.”

 

“Jo… aku—”

 

“Kau menyentuhnya?” tanya Jo-Eui.

 

Kyu Hyun lagi-lagi terdiam. Dia tak mungkin mengatakan apa yang telah terjadi semalam.

 

“Bisakah kau membiarkanku sendiri? Aku butuh waktu, Kyu.”

 

Kyu Hyun bangkit secara perlahan. Dia meninggalkan kamar Jo-Eui dengan langkah berat. Tungkainya menuruni anak tangga dengan lesu. Wajahnya menunduk. Kyu Hyun menyesal. Dia merasa dirinya hanyalah seorang pecundang.

 

“Kau merusak kepercayaannya,” kata Krystal yang berdiri di ujung anak tangga. Salah satu tangannya bertumpu pada handrail tangga.

 

“Aku dijebak, Jung-ah.”

 

“Aku tahu,” jawab Krystal. “Ah… kau benar-benar menambah daftar pekerjaanku, Oppa. Aku sudah menerima lebih dari seratus panggilan telpon.”

 

“Apa aku bisa menyelamatkan hubunganku dengan Jo-Eui?” Kyu Hyun bergumam.

 

“Apa kau menyentuh Hwa Yeon kemarin?”

 

“Kenapa kau menanyakan hal itu?” tanya Kyu Hyun.

 

“Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak.”

 

“Ya,” jawab Kyu Hyun singkat. “Kurasa aku berada di bawah pengaruh obat. Aku melakukannya di bawah kendaliku, Jung-ah.”

 

“Astaga, aku bahkan bisa membaca skenario murahan semacam ini.” Krystal menyeringai kesal.

 

“Apa maksudmu dia akan….”

 

“Tepat,” jawab Krystal cepat. “Ah… leherku.” Krystal mendesah sambil menepuk lehernya. “Kau harus bersiap saat opini publik akan mengombang-ambingmu, Oppa.”

 

***

 

Apa yang dikatakan Krystal tak sepenuhnya salah. Bahkan itu benar-benar terjadi.

 

Beberapa hari telah berlalu sejak foto itu diunggah oleh Hwa Yeon. Kyu Hyun kira isu itu akan hilang bersama waktu, tapi nyatanya sampai sekarang mereka masih penasaran dengan hubungan keduanya. Menurut hitungan Krystal, paparazzi Kyu Hyun meningkat dua kali lipat, entah itu dari pihak penggemar Hwa Yeon, atau pun pihak media pengintai kehidupan pribadi para artis.

 

Di sisi lain, Jo-Eui kembali bersikap seperti biasanya. Dia banyak tersenyum seperti Jo-Eui yang selama ini Kyu Hyun kenal. Meskipun Kyu Hyun tahu dibalik senyuman gadis itu, dia menyimpan banyak luka karena dirinya.

 

“Aku akan membantumu,” kata Jo-Eui meraih tas jinjing dari tangan Kyu Hyun.

 

Jo-Eui mendahului Kyu Hyun berniat menyusul Krystal yang sudah agak jauh di depan. Ia menutup bagasi belakang mobil van lalu berjalan menyusul mereka. Kyu Hyun agak terkejut ketika dua orang gadis dengan topi hoodie yang menutupi kepala berlari kencang melewatinya.

 

“Hei!” teriak Kyu Hyun tiba-tiba.

 

Eonni!” teriak Krystal yang jauh di sana kemudian. Gadis itu segera menghampiri Jo-Eui yang berjongkok. Tas jinjing milik Kyu Hyun jatuh begitu saja dari tangannya.

 

“Hei! Kau! Jangan pernah mengganggu Hwa Yeon dan Kyu Hyun! Ingat itu!” Kedua gadis yang tak dikenali itu melarikan diri, dan menghilang di belokan persimpangan.

 

Jo-Eui mengusap kepalanya yang kotor dan melihat cairan isi telur di tangannya. Sial! Kedua gadis asing itu melemparinya dengan telur busuk.

 

Krystal segera berlari menuju mobil van untuk mengambil beberapa lembar tisu. Sementara Kyu Hyun menghampiri Jo-Eui. Bau telur busuk begitu kentara ketika mendekati gadis malang itu.

 

“Sialan!” umpat Kyu Hyun.

 

Jo-Eui masih terdiam dengan posisi berjongkok. Sejak tadi dia hanya memperhatikan tangannya yang ikut kotor karena mengusap kepala. Cairan itu pun meluncur turun sampai ke dahi Jo-Eui. Kyu Hyun mengangkat tubuh Jo-Eui dengan posisi bridal, membuat gadis itu tertegun.

 

Dari arah mobil van, Krystal mendekati mereka membawa sekotak tisu. Tetapi, Kyu Hyun melewati dan mengabaikannya begitu saja.

 

Oppa! Kau mau ke mana?!” teriak Krystal.

 

Kyu Hyun membawa Jo-Eui ke mobil van. Dia ditempatkan di jok depan. Lalu Kyu Hyun menuju ke jok kemudi. Lelaki itu menyalakan mobil dan meninggalkan Krystal begitu saja.

 

***

 

Kyu Hyun membuang napas berat. Tangannya berpegangan pada handrail balkon kamar Jo-Eui. Ia merasa kesal. Penggemar Hwa Yeon sudah bertindak jauh karena melibatkan kekasihnya.

 

Ketika pintu kamar mandi terbuka, Kyu Hyun menoleh. Tungkainya melangkah mendekati Jo-Eui setelah menutup sliding door yang menghubungkan kamar dengan balkon.

 

“Aku akan membantumu,” kata Kyu Hyun. Tangannya meraih handuk yang berada di kepala Jo-Eui. Menggosok-gosokkan handuknya di kepala gadis itu.

 

“Apa mereka tahu keberadaanku?” tanya Jo-Eui. Nadanya terdengar khawatir. Tangannya memainkan tali piyama handuk yang membalut tubuhnya dengan gelisah.

 

“Tidak usah kau pikirkan,” kata Kyu Hyun berusaha menghibur, meskipun tidak terdengar seperti itu sama sekali. “Lebih baik kau istirahat, Jo.”

 

Jo-Eui mendekati Kyu Hyun. Kedua tangannya melingkar di pinggang lelaki itu. Kepala Jo-Eui bersandar di dadanya.

 

“Aku takut, Kyu,” adunya khawatir. “Aku takut orang-orang itu berusaha memisahkan kita.”

 

“Tenanglah, Jo-Eui-ya,” kata Kyu Hyun. Salah satu tangannya mengelus puncak kepala Jo-Eui, lalu mengecupnya singkat. “Tidak ada yang akan melakukan hal semacam itu pada kita.” Kecuali Hwa Yeon, kurasa.

 

Jo-Eui makin mengeratkan pelukannya. “Jangan tinggalkan aku, Kyu.”

 

Kyu Hyun menghela napas. Dia memundurkan wajahnya. Ditangkupnya wajah gadis berpipi tembam itu. “Tentu,” kata Kyu Hyun singkat. Sedetik setelahnya, bibir mereka saling bertautan satu sama lain.

 

Kyu Hyun menggendong Jo-Eui dengan posisi bridal. Dia merebahkan gadis itu di ranjang. Keduanya terlarut lagi dalam ciuman yang semakin bergairah.

 

Tangan Kyu Hyun tak tinggal  diam. Ia menyingkap bagian ujung bawah piyama yang dikenakan Jo-Eui. Tangannya membelai pangkal paha gadis itu. Dalam ciumannya Kyu Hyun menyeringai. Sepertinya Jo-Eui tak mengenakan apa pun selain piyama handuk yang digunakannya setelah mandi.

 

“Kau yakin?” tanya Kyu Hyun. Manik obsidiannya memandang dalam iris kehijauan milik gadis itu.

 

Jo-Eui terdiam seperti sedang menimang sesuatu. Mungkin ia berada di antara ya dan tidak. Dan sesegera mungkin Jo-Eui harus memutuskan apa yang harus dipilih.

 

“Jo-Eui-ya?” Kyu Hyun menyadarkan lamunan gadis itu.

 

“Kyu….”

 

“Ya atau tidak?”

 

Jo-Eui mengangguk pelan. Gadis itu menarik Kyu Hyun kembali ke dalam ciumannya. Jo-Eui membuka mulutnya di dalam mulut Kyu Hyun. Mereka berciuman cukup lama. Di sela-sela pertautan bibir mereka, Kyu Hyun menarik tali piyama yang menyatukan pakaian itu.

 

Dalam sekejap, Jo-Eui sudah dalam keadaan polos. Tanpa sehelai benang. Dengan rambut yang masih basah.

 

Kyu Hyun menelan ludahnya kasar. Menurutnya, tak hanya iris mata Jo-Eui yang berpendar kehijauan, tetapi juga kulit mulusnya. Dan gadis manis ini sangat indah di mata Kyu Hyun.

 

“Siapa ciuman pertamamu?” tanya Kyu Hyun sembari melepas kaosnya.

 

“Kau ….” Jo-Eui memalingkan wajahnya. Semburat merah muda muncul begitu saja di kedua pipinya.

 

“Kalau pacar pertama?”

 

“Kau ….”

 

“Apa itu berarti aku juga yang akan menyentuhmu untuk pertama kali?”

 

Jo-Eui mengangguk.

 

Kyu Hyun tersenyum. Helaan napas terdengar setelahnya. Tangannya membelai area yang paling pribadi dalam tubuh Jo-Eui. Sudah mulai basah.

 

Kyu Hyun mengecup bibir Jo-Eui sekali lagi. “Ini tak akan sakit. Jadi, bertahanlah.”

 

Kyu Hyun yang sudah dalam keadaan polos mengarahkan kejantanannya begitu saja di antara kaki Jo-Eui. Lelaki itu menggeseknya perlahan, membuat gadis berambut basah itu mengerang nikmat.

 

Tangan Jo-Eui memegang lengan Kyu Hyun, sementara lelaki itu berusaha melesakkan kejantanannya, menembus dinding pertahanan area pribadi milik Jo-Eui. Urat lehernya menegang. Keringat dingin begitu saja meluncur di tubuh mereka.

 

“Argh!” Jo-Eui mengerang. Kepalanya mendongak. Kuku-kukunya terasa menancap di lengan Kyu Hyun, dan mungkin saja sudah menimbulkan luka kecil di sana.

 

Kyu Hyun terengah-engah. Dia terdiam sebentar. Tangannya menyeka air mata yang menetes melalui ekor mata gadis itu. Kyu Hyun mengulas senyum seolah berkata: Tak apa, Jo-Eui. Kita berhasil.

 

Kyu Hyun menarik dirinya kemudian. Dilihatnya darah segar membasahi area pribadi mereka. Betul, Kyu Hyunlah yang pertama melakukan hal ini pada Jo-Eui.

 

“Masih sakit?” tanya Kyu Hyun hati-hati.

 

Jo-Eui menggeleng. “Kau boleh bergerak, Kyu.”

 

Kyu Hyun bergerak perlahan. Matanya setengah tertutup merasakan sensasi berdenyut dari jepitan area itu. Jo-Eui masih berpegang erat di lengan Kyu Hyun. Lenguhan, desahan, erangan saling bersahutan dari mulut mereka masing-masing.

 

Tempo ritme gerakan Kyu Hyun semakin cepat, seiring dengan gairah yang semakin memuncak. Jo-Eui membusungkan dada, menahan gejolak di dalam dirinya. Di bawah pengaruh nikmat duniawi itu, memori di dalam benaknya melebur menjadi satu.

 

Kyu Hyun berhenti menggerakkan tubuhnya. Ia mengerang lantang saat mencapai puncak. Sementara Jo-Eui, gadis itu terdiam. Pikirannya tiba-tiba kosong seperti lupa ingatan. Meskipun begitu, kejantanan Kyu Hyun terasa berkedut di dalam kewanitaannya.

 

Kyu Hyun mendaratkan sebuah kecupan di dahinya. “Terima kasih, Jo-Eui.”

 

“Kyu … aku ….”

 

“Ya, Jo-Eui?”

 

“Aku … aku … rasanya tak dapat mengingat apa pun.”

.

.

.

Zoe terdiam di atas balkon. Berbekal sebuah kursi, sudah hampir lima jam ia terduduk diam di sana. Matanya menatap langit yang kini dipenuhi jutaan bintang. Cahaya bulan tampak meredup, menuju penanggalan bulan mati.

 

Zoe menghela napas. Di dalam sana Kyu Hyun sedang terlelap. Sejenak ia sempat terkejut ketika memorinya hilang begitu saja sesaat setelah Kyu Hyun menyentuhnya. Sama sekali kosong. Setelah beberapa jam berlalu, perlahan memori itu kembali lagi. Awalnya Zoe mengira dirinya betul-betul lupa ingatan. Anehnya, ia hanya dapat mengingat Kyu Hyun ketika seluruh memorinya terhapus.

 

“Demeter, apa yang akan terjadi padaku?” gumam Zoe. Di irisnya terpantul cahaya bulan yang kini perlahan tertutup awan.

 

“Apa aku akan menjadi manusia seutuhnya? Apa aku akan melupakanmu dan Olympus setelah ini? Apa yang akan terjadi padaku, Demeter?”

 

Zoe putus asa. Amat sangat berputus asa. Kapan hal ini akan selesai?

 

Tentu, ia berharap secepatnya.

.

.

.

Kaki yang saling bertumpu setidaknya dapat meredam amarah Kyu Hyun. Krystal yang duduk di sebelahnya memegangi tangan Kyu Hyun agar tak bertindak kelewat batas. Pertemuan antara pihak agensinya dan agensi Hwa Yeon sudah sangat membuatnya muak.

 

“Apa alasan Cho Kyu Hyun harus menikahi Choi Hwa Yeon?” tanya Krystal. Gadis itu tentu ingin melindungi hubungan Kyu Hyun dan Jo-Eui. Setidaknya bukti akurat harus ditunjukkan sebelum menganjurkan solusi gila ini.

 

“Kalau aku pribadi, tentu aku ingin memanfaatkan ketenaran kalian berdua untuk meraup keuntungan lebih banyak,” kata seseorang dari pihak agensi Hwa Yeon.

 

“Tak bisa dipungkiri, skandal yang kalian buat menaikkan saham secara drastis. Kau tahu? Ini skandal tergila yang pernah kutemui. Kupikir penggemar dari kedua belah pihak akan sangat menyukai jika kalian sampai melangkah ke jenjang pernikahan,” timpal CEO dari agensi Kyu Hyun.

 

“Hentikan kekonyolan ini. Kalian pikir bisa menjual kehidupan cintaku begitu saja ke publik?” Kyu Hyun merapatkan giginya. Tangannya mengepal makin erat.

 

“Tentu. Ini menguntungkan kita semua. Bukan begitu, Choi Hwa Yeon?”

 

Hwa Yeon tersenyum. “Bagiku, hal itu menjadi tujuan kesekian dari keputusan ini.”

 

“Apa maksudmu?” tanya Kyu Hyun tersulut emosi. “Jangan aneh-aneh, Hwa Yeon.”

 

“Aneh-aneh? Tidak, Cho Kyu Hyun. Kau tahu ke mana arah publik melihat permasalahan di antara kita belakangan ini. Kau, Cho Kyu Hyun, menginap di apartemenku setelah pesta High Kat Magazine berlangsung. Apa kau tahu apa yang mereka pikirkan?”

 

Kyu Hyun menggebrak meja. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun dan tak bisa ditahan-tahan lagi. Kalau bisa, ia sangat ingin melenyapkan wanita bernama Choi Hwa Yeon ini dari muka bumi.

 

Hwa Yeon menyeringai. Tangannya merogoh clutchnya, melemparkan sebuah benda hingga terjatuh di depan Kyu Hyun.

 

“Kau mengerti apa yang kumaksudkan, kan, Cho Kyu Hyun? Bersyukurlah karena aku sama sekali tak melibatkan kekasihmu itu.”

 

Hwa Yeon meninggalkan tempat pertemuan, diikuti perwakilan dari agensinya. CEO agensi Kyu Hyun melirik benda yang dilempar oleh Hwa Yeon. Dia tersenyum.

 

“Kekayaanku akan meningkat setelah ini,” katanya kemudian melenggang pergi.

 

Sementara Kyu Hyun merasakan kakinya semakin melemas. Krystal mengambil benda itu dan melihatnya baik-baik. Gadis itu yakin matanya dalam keadaan sehat dan normal. Jadi, ia tak mungkin salah lihat.

 

“Hamil? Hwa Yeon hamil?” Bagaimanapun Krystal masih tak percaya.

 

“Tidak mungkin,” gumam Kyu Hyun. Lelaki itu terduduk di kursinya. Matanya menatap kosong ke arah depan.

 

“Kau hanya melakukannya sekali kan, Oppa? Tidak. Tidak mungkin. Di balik semua ini, Hwa Yeon pasti menyembunyikan sesuatu. Ini … di luar dugaan,” kata Krystal masih sulit untuk percaya.

 

“Jung-ah…. Aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana dengan Jo-Eui huh?”

.

.

.

Zoe rasa, dirinya memang akan segera sirna sebentar lagi. Nyawanya sudah tak tertolong.

 

Kabar yang baru saja didengarnya dari Krystal betul-betul membuatnya tertohok. Dadanya seperti dipanah. Jutaan anak panah menancap begitu saja di sana. Zoe sangat ingin menangis, mencaci-maki Demeter karena menggariskan nasib hidup setajam ini. Namun, setelah apa yang ia lewati selama ini cukup berhasil membuatnya tak meneteskan setetes air mata pun, sekalipun ketika mendengar kalau Hwa Yeon sedang mengandung.

 

Mengandung anak Kyu Hyun.

 

Zoe berdiri di depan kamar Kyu Hyun yang terkunci. Sekembalinya dari pertemuan tertutup yang membahas skandalnya, lelaki itu sama sekali tak ingin menemui siapa pun. Zoe mencoba bersabar. Menunggu lebih lama dan membujuk semampu yang ia bisa.

 

Eonni, setidaknya kau harus duduk. Apa kakimu tak pegal?”

 

Krystal terdengar mengkhawatirkannya. Gadis itu memegang lengan Zoe, seolah ingin memberinya penopang agar dapat berdiri sedikit lebih lama.

 

“Aku baik-baik saja.”

 

“Sekarang aku baru berpikir, sebenarnya kau ini manusia macam apa huh? Kau bahkan tak menangis saat mengetahui hal semacam ini.”

 

“Untuk apa? Toh tak lama lagi aku akan segera menghilang.”

 

“Menghilang? Apa maksudmu?”

 

“Tidak, lupakan saja.” Zoe tersenyum getir. Menghilang dari muka bumi ini,  Jung-ah.

 

“Besok mereka akan melakukan konferensi pers untuk klarifikasi,” kata Krystal memberitahu.

 

“Kapan pernikahannya akan berlangsung?” tanya Zoe.

 

“Paling cepat minggu depan, Eonni.”

 

Itu artinya waktuku tak lama lagi. Sungguh, aku ingin melihatmu lebih lama lagi, Cho Kyu Hyun.

 

***

 

Berdiri di bawah pancuran adalah opsi terbaik untuk menyingkirkan luka hati yang teriris. Jika Zoe menangis, mungkin matanya sudah memiliki kantung mata super hitam serta sembab. Sampai detik ini, ia berhasil menahan agar tak menangis. Meskipun di sisi lain dadanya menjadi semakin sesak saja.

 

Besok adalah pengumuman pernikahan sekaligus klarifikasi kasus skandal seksual yang menimpa Kyu Hyun. Mereka mengadakan acara itu untuk meredam opini publik yang sudah tak tentu arahnya. Bahkan salah satu media sudah sempat memberitakan penyerangan terhadap Zoe tempo hari. Jelas ini sangat tidak bagus karena telah menyeret pihak lain—meskipun itu hanya ungkapan saja. Nyatanya, Zoe memang bukanlah pihak lain. Ayolah… dia itu kekasih Kyu Hyun.

 

Zoe melepas pakaiannya, membiarkan teronggok di atas dudukan toilet. Tungkainya melangkah menuju ruangan yang dikelilingi kaca. Tangannya memutar keran dan air hangat pun mulai membasahi kepalanya.

 

Kedua mata Zoe terpejam. Gadis itu tak tahu apa yang akan terjadi padanya selanjutnya. Kyu Hyun mencintainya. Kyu Hyun juga ingin menikah dengannya. Zoe bisa saja terbebas dari hukuman Demeter; yang akan menghilang selamanya. Tetapi sekarang Kyu Hyun malah akan menikah dengan Hwa Yeon. Itu artinya mereka akan hidup bersama. Biarpun di satu sisi Kyu Hyun sama sekali tak mencintai Hwa Yeon, namun cinta mereka bisa saja tumbuh karena seringnya mereka bersama.

 

Tiba-tiba air shower berhenti mengalir. Zoe sontak terkejut. Kedua tangannya mengusap sisa air yang membasahi wajahnya. Namun, orang yang baru saja menyelinap masuk menahan Zoe agar tak berbalik.

 

“Jangan melihat ke arahku,” katanya pelan.

 

Zoe mengangguk. “Bagaimana kau bisa sampai di sini, Kyu? Apa Krystal tahu?”

 

“Aku menyuruhnya pulang,” sahut Kyu Hyun. Tangannya terulur mengambil botol sabun cair serta spon, lalu menuangkan isinya di atas benda itu.

 

“Lebih baik kau pulang. Besok kau akan mengumumkan pernikahanmu di hadapan publik,” kata Zoe. Baru saja kakinya berniat meninggalkan tempat itu, namun…

 

“Jangan bergerak,” ujar Kyu Hyun. “Lagi pula aku tak peduli dengan hal itu.”

 

“Hwa Yeon—engh….”

 

“Bisakah kau tak menyebut orang lain saat kita bersama, Jo?”

 

Zoe hanya mengangguk, menuruti apa yang dikatakan Kyu Hyun. Desahan lolos begitu saja saat Kyu Hyun meremas bokongnya. Tangan Kyu Hyun yang lain mengusapkan spon di lengan Zoe. Tangan-tangan yang kuat itu meluncur menuruni permukaan lengannya yang licin.

 

“Apa kebersamaan kita akan berakhir besok, Kyu?” tanya Zoe. Matanya mulai berkaca-kaca. Beruntung posisinya membelakangi Kyu Hyun, jadi lelaki itu tak akan melihatnya kalaupun Zoe menangis.

 

Kyu Hyun terdiam. Mungkin dia juga tak dapat menjawabnya. Zoe merasakan tangan lelaki itu menuruni pinggangnya, mengusapkan busa sabun yang diciptakan spon. Ia memutuskan untuk diam saja dan tak bertanya apa pun. Pertanyaan semacam itu bisa saja membuat Kyu Hyun terluka.

 

Sebuah kecupan mendarat di sisi leher Zoe. “Aku ingin sedikit lebih lama, Jo.”

 

Kecupan demi kecupan singkat tercipta di leher Zoe. Ia menutup matanya, menikmati sentuhan yang Kyu Hyun suguhkan untuknya. Zoe merasakan punggungnya menempel di dada Kyu Hyun.  Kedua tangan lelaki itu melingkar di bawah payudaranya, menekan bagian itu agak keras, sampai bagian menonjol di depan dada Zoe terlihat lebih menonjol.

 

Kini, lelaki itu melepas pelukannya. Tangannya membelai bokong Zoe yang basah.

 

“Kau sangat manis, Jo. Aku sangat menyukainya,” kata Kyu Hyun merujuk pada tubuh gadis itu.

 

Zoe tersenyum tipis meskipun Kyu Hyun tak melihatnya.

 

“Bisakah kau berpegangan di sana?” tanya Kyu Hyun menunjuk besi melintang tempat menggantungkan handuk.

 

Zoe menuruti Kyu Hyun. Tubuhnya agak condong ke depan dengan kedua tangan yang berpegangan pada besi. Sesuatu yang besar terasa melesak masuk ke dalam diri Zoe. Gadis itu menggigit bibirnya, menahan desahan nikmat agar tak lolos dari mulutnya. Ia juga masih merasakan sedikit rasa perih di bagian sensitifnya karena penyatuan sebelumnya.

 

Tanpa meminta persetujuan, Kyu Hyun menggerakkan tubuhnya dengan perlahan. Tangannya turut berpegangan pada besi sedemikian sehingga Zoe berada di antaranya. Tangan Zoe berpindah kemudian, hingga berada di atas tangan Kyu Hyun. Ia menggenggamnya erat seolah tak ingin melepasnya lagi. Hantaman di antara pahanya semakin cepat. Salah satu tangan Kyu Hyun berpindah lagi sampai memeluk leher Zoe.

 

Kyu Hyun mendongak, bersamaan dengan Zoe ia mencapai puncaknya. Napas mereka saling memburu. Kyu Hyun membalik posisi Zoe. Mereka pun berhadap-hadapan. Kyu Hyun menarik Zoe ke dalam pelukannya, membenamkan wajah gadis itu di dadanya.

 

“Apa yang akan kau lakukan kalau aku benar-benar menikah dengan Hwa Yeon?” tanya Kyu Hyun.

 

“Maka aku akan pergi dari hidupmu, Kyu.”

 

“Ke mana? Apa aku bisa bertemu denganmu lagi?”

 

Zoe tersenyum getir. “Tidak.”

 

“Apa kau akan pergi ke Amerika? Atau salah satu negara di Eropa? Seberapa jauh kau pergi, aku akan menemukanmu, Jo.”

 

Mata Zoe berkaca-kaca. Ia tak dapat membendung air matanya lagi. “Aku hanya akan kembali ke rumahmu, lalu menghilang begitu saja. Kita tak akan pernah bertemu satu sama lain. Selamanya.”

 

***

 

Zoe memoleskan bedak di permukaan wajah Kyu Hyun. Lelaki itu memejamkan matanya. Hari ini Kyu Hyun dan Hwa Yeon akan melakukan konferensi pers.

 

“Jo, kau bisa memintaku untuk berubah pikiran,” kata Kyu Hyun.

 

“Apa maksudmu?” tanya Zoe. Ia menghentikan kegiatannya. Tubuhnya berdiri, memandang Kyu Hyun dengan tatapan tak mengerti.

 

“Kita bisa melarikan diri dari sini.” Sorot mata Kyu Hyun ketika menatapnya terlihat begitu serius.

 

Zoe terdiam. Oke, itu ide gila. Semuanya tak akan selesai hanya karena Kyu Hyun membawanya pergi dan melupakan segala peristiwa ini. Mungkin tak akan menjadi masalah jika Kyu Hyun bukan seorang publik figur. Nyatanya dia seorang publik figur. Semua orang hampir mengetahuinya. Dan sangat mustahil untuk melarikan diri, apalagi dari kejaran media yang gila akan kehidupan pribadi para artis.

 

Lagi pula Hwa Yeon sedang mengandung anak Kyu Hyun. Zoe pikir, Kyu Hyun tak akan sejahat itu meninggalkan buah hatinya dengan Hwa Yeon hanya karena seorang gadis yang tak jelas identitasnya, semacam Zoe.

 

“Tidak. Aku tak bisa.”

 

“Kenapa? Apa kau tak mencintaiku lagi, Jo?”

 

“Bukan itu, Kyu. Apa kau tak lihat Hwa Yeon sedang mengandung anakmu? Lelaki macam apa yang tega meninggalkan gadis yang sedang mengandung anaknya?”

 

“Jo….”

 

“Maaf, Kyu. Tetapi aku tak ingin melihatmu menjadi seorang pria jahat.”

 

“Kyu Hyun-ah, acaranya akan dimulai tiga menit lagi,” kata salah seorang staff.

 

“Aku sudah selesai,” kata Zoe. Gadis itu berbalik berniat meninggalkan ruang make-up.

 

“Jo, ini kesempatan terakhir kita.” Kyu Hyun meraih tangan Zoe. Obsidiannya benar-benar menerjemahkan ungkapan memohonnya.

 

Zoe tersenyum. “Maaf, Kyu, aku tetap tak bisa.” Zoe menarik tangannya. Di sana terlalu banyak orang dan terlalu berbahaya untuk melakukan kontak fisik dengan Kyu Hyun. Belum lagi karena status Kyu Hyun yang sebentar lagi adalah calon suami orang lain.

 

“Hadirlah di acara itu, Kyu. Jangan pikirkan aku. Sungguh, aku baik-baik saja. Jadi, kau tak usah khawatir. Dan … setelah ini jangan pernah mengkhawatirkanku lagi, Cho Kyu Hyun.”

.

.

.

Sampai di hari pernikahannya dengan Hwa Yeon, Kyu Hyun semakin merasa bersalah pada Jo-Eui. Saat melakukan fitting pakaian pernikahan dua hari yang lalu, Jo-Eui secara resmi memutuskan hubungan seumur jagungnya dengan Kyu Hyun. Gadis itu mengatakan tetap akan datang ke hari pernikahannya. Lalu setelah itu Jo-Eui tak akan pernah kembali lagi.

 

Di aula tempat berlangsungnya pernikahan, para tamu undangan berdatangan silih berganti. Sangat ramai di tempat itu. Kyu Hyun menunjuk Pak Sopir untuk menjadi walinya. Setidaknya umur beliau cukup untuk melakukan hal semacam ini. Di sebelah kanannya, orangtua Hwa Yeon turut menemaninya menyambut para tamu.

 

Kyu Hyun semakin merasa tak tenang. Ia sangat berharap menemui bibi Jo-Eui di hari pernikahannya ini. Setidaknya Kyu Hyun harus tahu ke mana tujuan Jo-Eui selanjutnya sampai mengatakan mereka tak akan pernah bertemu untuk selamanya.

 

Pemberkatan tinggal beberapa menit lagi. Sejauh mata memandang, Kyu Hyun hanya melihat Krystal yang datang bersama Kim Kai. Serta…

 

“Jo-Eui?”

 

…yang mengekor di belakang pasangan itu. Gadis yang menggunakan bridesmaid dress selutut itu menuju ke ruangan di mana mempelai wanita sedang menunggu. Itu artinya Jo-Eui akan menemui Hwa Yeon.

.

.

.

Di hari terakhir Zoe, sebelum ia benar-benar sirna bersama angin, tentu gadis itu ingin tampil cantik di pernikahan pria yang dikaguminya sejak ia masih merupakan tunas muda dari sebatang pohon pinus. Bersama Krystal, Zoe memilih sebuah pakaian yang pas untuk menghadiri pesta itu. Bridesmaid dress berwarna hijau mint dengan sentuhan lace di seluruh bagian berukuran selutut.

 

Di balik balutan gaun itu, Zoe terlihat mempesona. Para tamu undangan yang kebetulan berpapasan dengannya melihat Zoe begitu lekat. Mereka mengagumi kecantikannya. Alih-alih Krystal hanya memoles sedikit make-up pada wajahnya.

 

Krystal memegang lengan Zoe yang menjadi salah tingkah. Gadis itu membiarkan Kim Kai berjalan mendahuluinya. “Lihat! Semua memperhatikanmu, Eonni,” bisik Krystal. “Entah kenapa aku melihat matamu sangat indah. Irisnya kehijauan, kau tahu?”

 

“Hijau? Benarkah?” tanya Zoe meyakinkan. Ia tak menyadari itu. Menurut Zoe, warna iris matanya sama seperti manusia-manusia yang ia temui pada umumnya.

 

Krystal mengangguk. “Aku bahkan tak tahu sejak kapan matamu berubah warna.”

 

Mereka akhirnya memasuki sebuah ruangan yang didominasi warna putih dengan hiasan bunga mawar di beberapa bagian. Di sebuah kursi dengan ukiran pada bahunya, Hwa Yeon tampak duduk. Tangannya memegang sebuket bunga mawar putih. Ia sedang mengambil foto bersama teman-teman wanitanya.

 

Krystal dan Kim Kai masuk terlebih dahulu, sementara Zoe menjadi ragu ketika akan melewati pintu. Teman-teman Hwa Yeon pun keluar setelah mengambil foto bersama mempelai wanitanya. Ketika berpapasan, mereka melihat ke arah Zoe. Tatapan kagum dan tak suka mereka seolah bercampur menjadi satu.

 

“Bukannya dia asisten Cho Kyu Hyun? Kenapa dia cantik sekali?”

 

Sekilas Zoe mendengar mereka yang berbisik-bisik.

 

“Hei! Kau tak ingin masuk ke sini?” ucapan Hwa Yeon membuyarkan lamunan Zoe. Dengan langkah agak dipercepat, Zoe mendekati mereka bertiga.

 

Noona, selamat ya,” kata Kim Kai mengulurkan tangannya. Hwa Yeon pun menjabat tangan lelaki itu, sementara Krystal memandangnya dengan tatapan tak suka.

 

“Terima kasih,” sahut Hwa Yeon tersenyum.

 

“Selamat,” ucap Krystal ketus. Tangannya mengulur, namun wajahnya berpaling ke arah lain.

 

Hwa Yeon menyeringai sembari menjabat tangan Krystal. “Terima kasih.”

 

“Ayo keluar dari sini,” kata Krystal menarik tangan Kim Kai. “Eonni?”

 

“Kau duluan saja,” sahut Zoe.

 

“Kau tak apa-apa?” tanya Krystal berubah khawatir.

 

Zoe mengangguk yakin. Mereka berdua pun akhirnya keluar, meskipun Krystal merasa keberatan untuk meninggalkan Zoe seorang diri.

 

“Kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Hwa Yeon setelah Krystal dan Kim Kai menghilang di balik pintu. Tangan lain yang tak memegang buket membelai perutnya pelan.

 

“Selamat, Choi Hwa Yeon,” kata Zoe pelan. Gadis itu mengulas senyum.

 

“Terima kasih. Kau tahu? Akhirnya yang liciklah yang bisa mendapatkan Kyu Hyun.”

 

“Kau benar,” sahut Zoe menyetujui hal itu. “Di saat-saat seperti ini, aku hanya ingin para dewa menurunkan keajaiban mereka.”

 

“Hahaha…. Keajaiban? Kau bercanda? Apa sampai sekarang kau tak sadar juga? Kau itu hanya a-sis-ten,” kata Hwa Yeon penuh dengan penekanan. “Kau tak bisa memiliki Kyu Hyun hanya dengan cinta, Jo-Eui.”

 

“Aku harap hal seperti itu tidak pernah terjadi di dunia ini, Choi Hwa Yeon.”

 

Hwa Yeon berdecih. “Seharusnya kau cukup mengucap syukur karena aku membatalkan rencanaku untuk menjatuhkan karir Kyu Hyun. Dan, kau juga harus bersyukur karena aku tak menyeretmu ke dalam masalah ini. Merasa beruntunglah karena media tak terlalu menyoroti penyerangan dengan telur busuk itu.”

 

Zoe hanya tersenyum. Benar, setidaknya ia harus bersyukur karena ancaman Hwa Yeon waktu itu tak terjadi. Mungkin Hwa Yeon sudah mengalihkan rencananya untuk memanfaatkan ketenaran Kyu Hyun saja. Bersama diri Hwa Yeon di dalamnya.

 

“Aku permisi,” kata Zoe akhirnya. Tubuhnya berbalik menuju pintu keluar. Air matanya sudah tak dapat dibendung lagi. Zoe mengadahkan wajahnya agar air matanya tak lolos membasahi pipi.

 

“Jangan menangis, Zoe,” katanya pada dirinya sendiri. “Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Kyu Hyun. Setidaknya kau harus ikut bahagia bersama mereka.”

.

.

.

Kyu Hyun menampilkan senyuman lebar ketika matanya menangkap sosok yang tidak asing baginya. Seorang itu sedang mengobrol di salah satu meja yang dekat dengan altar pernikahan. Kyu Hyun segera menghampirinya. Sungguh, ia sangat mengharapkan kehadiran wanita itu di acaranya.

 

“Bibi?”

 

Wanita itu mengadah lalu tersenyum, begitu pula dengan wanita yang duduk di sebelahnya; Woo Hee Jin.

 

“Bibi, syukurlah kau datang ke sini,” kata Kyu Hyun dan segera duduk di salah satu kursi untuk bergabung dengan mereka. Ia merasa lega ketika melihat bibinya Jo-Eui datang ke pesta pernikahannya. “Anda juga, Bibi Woo,” katanya pada Woo Hee Jin.

 

“Tentu aku akan datang, Cho Kyu Hyun,” jawab bibinya Jo-Eui.

 

“Bibi sebenarnya aku ….”

 

“Aku tahu masalahmu, Cho,” jawab bibinya Jo-Eui cepat, cukup membuat Kyu Hyun terkejut. “Sebaiknya kau lupakan keponakanku. Setelah ini, kau tak akan bisa menemuinya lagi. Dan hiduplah dengan baik bersama perempuan itu.”

 

Kyu Hyun mengernyitkan dahi. Apa yang dikatakan Jo-Eui kemarin padanya juga dikatakan oleh bibinya sekarang.

 

“Aku mencintai Jo-Eui, Bibi.” Kyu Hyun memberi penekanan. “Tak bisakah kau membantuku untuk membatalkan pernikahan ini?”

 

“Aku tak bisa merubah takdir cinta seseorang, Cho Kyu Hyun. Lagi pula hanya tinggal beberapa menit menuju pemberkatan. Tak ada yang bisa kulakukan.”

 

Kyu Hyun membuang napas berat. Ia kemudian teringat jika Jo-Eui akan pergi setelah ini. Setidaknya Kyu Hyun harus tahu ke mana bibinya Jo-Eui akan membawa gadis itu.

 

“Bibi, ke mana kau akan—”

 

“Aku tak akan membawa Jo-Eui ke mana pun, apalagi menjauh darimu, Cho Kyu Hyun,” kata bibinya Jo-Eui memotong. “Dia anak paling keras kepala yang pernah kutemui sepanjang hidupku. Kalau dia pergi darimu yang sekarang, maka dia akan kembali pada dirimu yang sebelumnya.”

 

Kyu Hyun terdiam memahami kata-kata itu. Setelah terdiam cukup lama, ia tak juga mengerti dengan maksud bibinya Jo-Eui.

 

“Hari yang berbahagia,” kata Kim Kai yang sudah berdiri di podium. Seluruh tamu pun mengambil tempat masing-masing di sekitaran altar.

 

Kyu Hyun mengepalkan tangannya. Acaranya sudah dimulai. Seseorang tampak mendatanginya. Orang itu memberi kode agar Kyu Hyun segera bersiap di tempat di mana seharusnya ia berada. Pendeta pun sudah mengambil tempat untuk memimpin acara pemberkatan.

 

Bibinya Jo-Eui mengangguk ke arah Kyu Hyun. “Tenangkan dirimu, Cho Kyu Hyun. Niscaya jalan keluar akan berada di depan matamu.” Tangan wanita itu menyentuh pundak Kyu Hyun. Entah kenapa Kyu Hyun merasa lebih kuat untuk menghadapi hal ini. Lelaki itu berdiri, kemudian menuju sebuah kursi di dekat tempat pemberkatan.

 

“Saya Kim Kai akan memandu acara ini sampai akhir. Selamat datang untuk seluruh tamu undangan yang sudah menyempatkan hadir. Puji syukur kita panjatkan karena bisa berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat,” kata Kim Kai sembari kembali mengambil napas. “Hari ini adalah acara pernikahan dua sejoli yang begitu berbahagia, Tuan Cho Kyu Hyun dan Nona Choi Hwa Yeon. Acara pemberkatan akan dipimpin oleh Pendeta Dennis Park.”

 

Kyu Hyun menoleh ke arah Krystal. Satu kursi tampak kosong di sebelah gadis itu. Di mana Jo-Eui? , Kyu Hyun bertanya hanya dengan gestur bibir.

 

Krystal mengangkat bahu: Tidak tahu. Dia bersama Hwa Yeon tadi.

 

Hwa Yeon?

 

“Tuan Cho Kyu Hyun, dipersilahkan untuk berdiri di atas altar,” kata Kim Kai.

 

Kyu Hyun segera berdiri. Riuh tepuk tangan mengiringinya saat menaiki altar. Tangan kanannya ia letakkan di depan perut lalu membungkuk di hadapan para tamu.

 

“Baiklah. Nona Choi Hwa Yeon dipersilahkan untuk memasuki tempat acara.”

 

Kyu Hyun menahan napas. Mungkin selain ayah Hwa Yeon, bisa saja Jo-Eui yang akan mendamping Hwa Yeon menuju altar. Karena sampai saat ini, kursi kosong di sebelah Krystal tetap kosong.

 

Alun-alunan musik piano mengiringi Hwa Yeon ketika memasuki aula tempat acara. Dua orang bocah laki-laki dan perempuan pembawa keranjang bunga terlebih dahulu masuk. Mereka melempar-lempar belasan kelopak bunga mawar ke arah depan. Tak lama, dua orang dewasa memasuki tempat acara. Riuh tepuk tangan pun kembali terdengar.

 

Kyu Hyun dapat menghembuskan napas untuk sementara. Jo-Eui tak bersama mereka. Dia menoleh lagi ke arah Krystal. Salah satu alisnya terangkat bermaksud menanyakan keberadaan Jo-Eui. Krystal mengangkat bahunya dengan khawatir. Gadis itu menoleh ke arah tamu undangan yang berada di belakangnya. Tetap nihil. Krystal pun memutuskan untuk mencari Jo-Eui dan meninggalkan tempat acara.

 

Jo-Eui, kau ke mana huh? Kau harus mengatakan keberatan atas pernikahan ini, setidaknya.

 

Hwa Yeon semakin mendekati altar tempat Kyu Hyun berdiri. Gadis itu tampak cantik di balik balutan gaun putih panjang dengan aksen lace di sekitar bahunya. Ayah Hwa Yeon menyunggingkan senyum untuk Kyu Hyun.

 

“Aku harap kau mampu menjaga putriku, Kyu Hyun-ah.”

 

Kyu Hyun tersenyum tipis. Diraihnya tangan Hwa Yeon dari tangan ayah gadis itu. Ayah Hwa Yeon turun meninggalkan altar menuju salah satu kursi untuk tamu.

 

“Di mana Jo-Eui?” tanya Kyu Hyun berbisik sembari menaikkan veil yang menutupi wajah Hwa Yeon.

 

“Tidak tahu. Lagi pula kenapa aku harus peduli?” sahut Hwa Yeon menyeringai.

 

“Kau menyakitinya?”

 

“Tidak ada gunanya melakukan hal itu. Dia pergi dengan sendirinya, Cho Kyu Hyun.”

 

“Choi Hwa Yeon.”

 

“Kenapa? Kau ini aneh, Kyu Hyun-ah. Memangnya gadis mana yang ingin melihat pemberkatan mantan kekasihnya hum?”

 

“Kepada mempelai, silahkan menghadap ke arah pendeta,” kata Kim Kai memberi aba-aba.

 

Dengan gigi gemertak, Kyu Hyun berbalik diikuti oleh Hwa Yeon. Mereka membungkuk pada pendeta, begitu pula sebaliknya.

 

“Kau tahu, Cho Kyu Hyun? Kaulah yang menyakiti Jo-Eui. Kaulah yang membuat gadis itu pergi dari hidupmu.”

 

“Diamlah.”

 

Kim Kai mengangguk pada pendeta, memberi kode agar pria tua itu segera memulai pemberkatan.

 

“Sebelum saya memulai pemberkatan antara Cho Kyu Hyun dan Choi Hwa Yeon, saya ingin seluruh hadirin agar memanjatkan doa untuk keduanya. Jika ada yang keberatan dengan pemberkatan ini, diharapkan mengatakan hal ini segera.”

 

Pendeta itu terdiam. Dia mengedarkan pandangan, melihat sudut demi sudut tempat acara. Orangtua Hwa Yeon tampak menahan napas. Tentu seluruhnya berharap agar acara ini berjalan lancar. Kecuali … Kyu Hyun. Sejak tadi ia berdoa agar seseorang segera menghentikan ini. Siapa saja!

 

“Baik—”

 

“Hentikan!”

 

Seluruh pasang mata melihat ke arah pintu. Seseorang yang menggunakan setelan jas biru dongker berhasil menarik seluruh perhatian. Ayah Hwa Yeon berdiri, memandang tak suka ke arah pria itu. Di belakangnya Krystal tampak kembali memasuki tempat acara. Napas keduanya terengah-engah.

 

“Henti … kan. Hentikan semua ini,” kata lelaki itu sembari mengatur napasnya.

 

“Hei! Siapa kau huh?!” Ayah Hwa Yeon menghampiri lelaki itu. “Kenapa kau mengganggu pernikahan putriku huh?!” Tangan ayah Hwa Yeon menarik kerah kemejanya.

 

Kyu Hyun terdiam melihat pemandangan itu. Dia melirik Hwa Yeon yang tampak gelisah. Mungkin Hwa Yeon mengenal siapa pemuda yang baru saja memasuki tempat acara. Kyu Hyun melihat Krystal yang masih berdiri di dekat sana. Siapa dia?

 

Krystal memegang tangan ayah Hwa Yeon. “Lepaskan dia, Tuan,” kata Krystal.

 

“Apa kau yang membawa pemuda ini ke sini huh?!” Ayah Hwa Yeon semakin tersulut emosi.

 

Krystal menggeleng. “Oppa, kau tertolong,” katanya pada Kyu Hyun, membuat lelaki itu mengernyitkan dahi. “Tuan, ketahuilah. Meskipun aku sangat membenci putrimu yang bernama Choi Hwa Yeon itu, tetapi aku tak pernah berniat untuk merusak pernikahannya. Dan lelaki ini, aku melihatnya di depan gedung. Anda harus tahu siapa sebenarnya ayah dari anak yang dikandung Choi Hwa Yeon.”

 

“Namaku Kim Jong Dae. Aku adalah kekasih Hwa Yeon. Aku bergegas kembali dari London setelah melihat video konferensi pers mereka beberapa hari lalu. Kupikir, anak yang sedang dikandung oleh Hwa Yeon adalah anakku,” jelas pemuda bernama Kim Jong Dae itu.

 

Ayah Hwa Yeon melonggarkan genggamannya pada kerah kemeja Kim Jong Dae. Lidah pria tua itu mendadak kelu. Di depan ratusan tamu undangan, dirinya merasa dipermalukan oleh putrinya sendiri.

 

Kyu Hyun menyeringai kesal ke arah Hwa Yeon. Raut gadis itu sejak tadi tampak resah. “Kau lihat? Semua ini karena keserakahanmu, Choi Hwa Yeon. Apa kau tak kasihan melihat ayahmu di sana?”

 

Abeoji,” gumam Hwa Yeon pelan dan terkesan cemas.

 

Kyu Hyun melepas sarung tangannya. Tangannya juga melepas kasar hiasan bunga pada jasnya. Kyu Hyun menuruni altar, berlari meninggalkan tempat acara.

 

Jo-Eui, aku kembali. Rumahku yang dulu, itulah tujuan yang kau maksud, kan?

.

.

.

Zoe harap, sopir taksi itu tak terlalu menyadari perubahan pada tubuhnya. Gadis itu turun setelah membayar tagihan. Kakinya kembali berpijak di sebuah tempat yang sudah lama tak ia tempati. Rumah lama milik Kyu Hyun.

 

Setelah memutuskan untuk kembali sebelum acara pemberkatan berlangsung, Zoe dapat menghela napas lega. Gadis itu semakin menyadari perubahan tubuhnya yang sebentar lagi akan sirna. Sampai saat ini, dari kepala hingga di bawah dada Zoe, tubuhnya tampak menjadi lebih transparan dengan pendar kehijauan.

 

Tungkai Zoe melangkah mendekati pintu gerbang. Terkunci. Ah … untunglah Zoe masih mengingat sebuah pintu masuk kecil yang berada di belakang rumah. Dia segera menuju ke pintu itu.

 

Rumah Kyu Hyun sama sekali tampak tak terawat. Sampah dedaunan kering berserakan di beranda dan mengotori atap rumah. Zoe menuju sebatang pohon yang tumbuh di depan rumah itu. Itu adalah tubuh lamanya. Tubuhnya ketika masih berwujud roh pohon.

 

“Kau tampak baik-baik saja, Zoe,” katanya mengulas senyum. Tangannya menyentuh kulit batang pohon pinus itu.

 

Zoe kemudian berjongkok, membersihkan dedaunan di bawah pohonnya dan duduk di sana. Ia memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang ditimbulkan dedaunan di atasnya. Zoe sangat merindukan masa-masanya dulu: melihat Kyu Hyun dari atas pohon.

 

Perubahan semakin kentara terlihat di tubuhnya. Kali ini efek transparan serta berpendarnya sudah mencapai paha. Mungkin saat Kyu Hyun mengucap janji sehidup-sematinya bersama Hwa Yeon, efek itu akan mencapai kaki Zoe. Lalu ia akan hilang bersama angin.

 

Bunyi dedaunan kering yang terinjak membuyarkan lamunan Zoe. Pandangannya mengarah ke pintu gerbang rumah Kyu Hyun. Seseorang yang sudah lama tak menampakkan diri di depan Zoe kini hadir kembali. Demeter.

 

“Zoe,” kata Demeter menyunggingkan senyum. Rambutnya serta terusan merah hati yang dipakainya melambai-lambai saat diterpa angin.

 

“Demeter.” Zoe berdiri. Gadis itu menghampiri sang dewi lalu memeluknya erat.

 

“Lama tak melihatmu, Zoe.”

 

“Kenapa kau baru datang sekarang? Kenapa di saat-saat terakhirku?” tanya Zoe. Air matanya sudah tak dapat dibendung lagi. Ia menangis di dalam pelukan Demeter.

 

Demeter memegang pundak Zoe. Wanita itu menyeka air mata yang terjatuh di pipi Zoe. Bak seorang ibu, Demeter menyunggingkan senyum lembutnya. “Justru aku ingin menolongmu sekarang, Zoe.”

 

“Me … menolong?”

 

Demeter mengangguk.

 

“Apa kau akan membawa Kyu Hyun kembali ke dalam pelukanku?” tanya Zoe penuh harap.

 

Demeter menggeleng. “Kau tahu? Eros tak akan membuang dua anak panahnya hanya untuk satu pasangan.” Sang dewi menghela napas. “Cintamu memiliki banyak sekali kesempatan, Zoe. Tetapi waktu dan situasilah yang mencegah kesempatan itu datang kembali padamu.”

 

“Apa maksudmu aku tak memiliki kesempatan bersama Kyu Hyun lagi?”

 

“Tidak ada yang tahu. Hanya waktu yang tahu hal itu, Zoe.”

 

Zoe menunduk. Mungkin yang dimaksudkan Demeter benar. Ia sudah tak memiliki kesempatan dan waktu lagi. Kyu Hyun sebentar lagi akan menjadi suami orang lain.  Dan, Zoe tak dapat membawanya kembali.

 

“Aku akan memberi penawaran untukmu, Zoe.”

 

“Apa?” tanya Zoe antusias.

 

“Kau melihat perubahan pada tubuhmu, kan? Sebelum mencapai lutut, kau akan kuberi kesempatan untuk kembali menjadi roh pohon. Kau akan dimurnikan kembali karena Kyu Hyun yang pernah menyentuhmu. Kata lainnya, kau tak akan sirna walaupun Kyu Hyun sudah menikah dengan orang lain.”

 

Zoe melepas pegangan tangan Demeter di pundaknya. Ia melangkah mundur. Tangannya menyeka air mata yang menetes lagi. “Apa aku akan menghuni pohon ini lagi?” tanya Zoe.

 

Demeter mengangguk.

 

“Sendirian tanpa Kyu Hyun?”

 

“Mungkin.”

 

“Kalau begitu, aku akan menunggu kesempatan itu datang kepadaku, Demeter.”

 

“Kau keras kepala, Zoe. Kyu Hyun tak akan kembali.”

 

“Kau bukan waktu, Demeter. Jadi, kau tak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Kalaupun aku harus musnah karena Kyu Hyun, aku rela melakukan hal itu untuknya.”

 

Demeter menghembuskan napas berat. “Baiklah, Zoe. Kau kuanggap sudah memilih pilihanmu. Saat tubuhmu sudah mengalami perubahan sampai di ujung kaki, kau akan segera sirna. Kau sama sekali tak bisa kembali menjadi makhluk lain suatu hari nanti. Tetapi, jika kesempatan itu datang padamu, kau akan kehilangan semua memorimu ketika kau adalah roh pohon. Kau akan lupa pada Kyu Hyun di masa lalu, lupa padaku dan juga Olympus. Kau hanya akan hidup sebagai Jo-Eui, mengingat sepasang suami-istri di dalam memorimu sebagai ayah serta ibumu.”

 

Setelah mengatakan hal itu, Demeter menghilang. Sang dewi berubah menjadi potongan-potongan daun berwarna emas lalu diterbangkan oleh angin. Jadi, apa yang dipikirkan Zoe selama ini benar. Foto sepasang suami-istri di dalam lemarinya adalah ayah dan ibunya ketika dia adalah Jo-Eui. Memori yang sempat terlintas waktu itu adalah memori kalau Zoe menjadi manusia seutuhnya.

 

Zoe duduk kembali di bawah pohonnya. Dia hanya akan menunggu takdirnya di sana. Kyu Hyun yang akan kembali atau … dirinya yang akan segera sirna.

.

.

.

Kyu Hyun tentu tak ingin terlambat. Hari beranjak sore. Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Tujuan utamanya adalah rumah lamanya. Jo-Eui pasti menunggunya di sana. Meskipun Kyu Hyun tak tahu menghilang yang dimaksudkan Jo-Eui waktu itu, tetapi kata itu cukup membuatnya khawatir.

 

Kyu Hyun memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah. Ia merogoh kuncinya, lalu memasukkan benda itu dengan tergesa ke dalam pusaranya. Kyu Hyun segera berlari menuju halaman depan.

 

Kyu Hyun terdiam sejenak. Dia melihat seorang gadis yang begitu dicintainya sedang duduk di bawah pohon pinus. Menurut Kyu Hyun, Jo-Eui tampak sedikit aneh. Tubuhnya terlihat transparan serta berpendar kehijauan sampai di pergelangan kakinya—dan sisanya tampak normal. Jo-Eui membenamkan wajah di balik lutut dengan posisi duduk tertekuk.

 

“Jo-Eui,” ujar Kyu Hyun mendekati gadis itu.

 

Jo-Eui terlihat terusik. Gadis itu menggerakkan tubuhnya tak nyaman. “Kyu Hyun, kau kah itu?” tanya Jo-Eui saat tersadar.

 

Kyu Hyun berjongkok. Ia terheran melihat perubahan aneh pada tubuh Jo-Eui. “Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau … apa yang terjadi sebenarnya huh?”

 

“Maafkan aku, Kyu.”

 

Kyu Hyun memegang pundak Jo-Eui. Dia membantu gadis itu berdiri. Kyu Hyun pun segera memeluknya.

 

“Kau sakit?” tanya Kyu Hyun.

 

“Tidak, Kyu. Aku baik-baik saja.”

 

“Berhenti mengatakan baik-baik saja, Jo. Matamu sembab. Kau menangis.”

 

“Setidaknya sekarang aku merasa lega,” kata Jo-Eui. Gadis itu sedikit mendorong Kyu Hyun. Dilihatnya efek transparan serta pendar kehijauan itu. Sepertinya mulai berkurang dan kini sudah mencapai lutut.

 

“Jo-Eui, apa yang terjadi? Siapa kau sebenarnya huh?”

 

“Roh pohon, Cho Kyu Hyun,” kata Jo-Eui.

 

Kyu Hyun membulatkan matanya tak percaya. Kakinya melangkah mundur. Dia sedikit merasa takut ketika mendengar pengakuan gadis itu.

 

“Hantu?” tanya Kyu Hyun. Lelaki itu berusaha sekeras mungkin agar tak segera melarikan diri.

 

Jo-Eui tersenyum tipis, lalu menggeleng. “Tidak. Aku bukan hantu, Kyu. Aku hanya roh pohon. Jiwa dari pohon pinus ini.” Dia menunjuk pohon pinus yang berdiri kokoh di belakangnya.

 

“A—apa?”

 

Jo-Eui mengangguk-angguk pelan. “Itu sebabnya aku tahu segalanya tentangmu, Kyu. Aku tahu keseharianmu. Aku tahu di mana kau tinggal. Aku tahu semuanya. Aku melihatmu setiap hari di sini, Cho Kyu Hyun.”

 

“Ini tak masuk akal.”

 

“Aku tahu. Kau mungkin akan takut setelah mengetahui ini. Tetapi ketahuilah, Cho Kyu Hyun. Aku melakukan semua ini semata-mata hanya karena mencintaimu. Aku mendapat kesempatan untuk menjadi manusia dan mengubah takdirku sebagai roh pohon.”

 

Kyu Hyun memberanikan diri untuk mendekati Jo-Eui lagi. Tubuh gadis itu berangsur-angsur kembali seperti semula. Pendar kehijauan itu sudah mencapai lehernya sekarang. Kyu Hyun meraih tangan Jo-Eui, menggenggamnya dengan erat. Pantas, pantas selama ini Jo-Eui terlihat aneh. Meskipun nalar Kyu Hyun terasa berat untuk memahami hal itu, tetapi ia mencoba untuk mengerti.

 

“Apa ini seperti sebuah cerita dalam dongeng, Jo? Apa kau akan berubah menjadi manusia seutuhnya jika aku benar-benar mencintaimu?”

 

Jo-Eui tersenyum, mewakili pernyataan iya yang ingin dilontarkannya. “Aku akan menjadi manusia, Kyu. Kau kembali. Aku tak akan sirna.” Senyum Jo-Eui tampak melebar. Air mata bahagia terlihat menetes membasahi pipinya. Pendar itu pun sudah mencapai batas matanya.

 

Kyu Hyun menatap Jo-Eui dalam. “Apa kau mau menikah denganku, Nona Jo-Eui?”

 

Jo-Eui mengangguk. “Dan, aku akan melupakan seluruh masa laluku, Cho Kyu Hyun. Aku akan melupakan diriku di masa lalu yang selalu mengintaimu. Aku hanya akan menjadi Jo-Eui, istri dari Cho Kyu Hyun.”

 

Kyu Hyun mengangkat dagu Jo-Eui. Mulutnya terbuka, lalu mencium gadis itu dalam. Kyu Hyun memeluknya, semakin erat, seolah tak ingin melepas Jo-Eui lagi.

 

Efek transparan serta pendar kehijauan itu hilang seluruhnya dari tubuh Jo-Eui. Kaki gadis itu pun melemas. Tubuhnya membentur dada Kyu Hyun. Matanya terpejam seperti orang yang sedang pingsan. Kyu Hyun membenarkan posisi gadis itu dengan tetap memeluknya.

 

“Kyu …,” kata Jo-Eui setengah tersadar.

 

“Jo ….”

 

“Kita ada di mana?” tanya Jo-Eui. Matanya berusaha memfokuskan keadaan yang terlihat samar-samar.

 

“Di rumahku, Jo.”

 

“Rumah? Rumahmu tak seperti ini, Kyu.”

 

Kyu Hyun tersenyum. Jo-Eui betul-betul melupakan masa lalunya. “Ini adalah rumah lamaku. Rumah yang tak seorang pun tahu, Jo.”

 

“Be … benarkah? Kenapa kau membawaku ke sini? Bukankah kau berusaha merahasiakan tempat ini dari siapa pun?”

 

Kyu Hyun mengecup singkat bibir merah muda Jo-Eui. “Tidak darimu. Karena kau adalah calon istriku, Nona Jo-Eui.”[]

.

THE END

52 thoughts on “ZOE : A Lifetime Part 3 END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s