One Last Shot Part 15 END


flynctumblr_oankmhuitu1r1aju5o1_1280

 

Author : Ssihobitt

Tittle : One Last Shot (Part 15-end)

Category : Romance, NC-21, Chapter

Cast : Cho Kyuhyun & Cha Eungi

Other Cast :Choi Siwon

 

Senyum lebar masih menggantung di wajah mereka dalam perjalanan pulang, Kyuhyun merangkul bahu Eungi dengan santai dan wanita itu melingkarkan lengannya di pinggang Kyuhyun, menikmati moment kelegaan dari sidang yang baru saja dilalui pria itu barusan. Kyuhyun sudah tidak ingat berapa kali ia menjabat tangan orang-orang yang menawarinya banyak posisi di lab mereka, ia bahkan tidak ingat nama dan wajah mereka semua. Yang diingatnya hanya ekspresi jahil di wajah bulat Van Wijk dan sorot bangga yang memancar dari wajah Eungi.

 

“Adiktif, bukan? Perasaan tegang yang kau rasakan itu.” Cengiran lebar masih menghiasi wajah cantiknya.

 

Kyuhyun mengangguk. “Persis sekali seperti yang kau deskripsikan, rasanya bagai menanti hukuman pancung di akhir-akhir. Tapi sepertinya aku jadi serakah noona.”

 

“Maksudmu?”

 

“Kau tahu, setelah ditambahkan embel-embel M. Sc di belakang namaku, aku jadi ingin menambahkan gelar lain di bagian depan.” Kyuhyun terkekeh. “Bayangkan, keren tidak kalau namaku jadi Dr. Cho Kyuhyun, PhD?”

 

Eungi tertawa, mengakui bahwa memang titel itu akan sangat cocok untuk kekasihnya. “Terdengar keren sekali kuakui. Tapi kau tahu perjuangan yang harus kau lalui akan berkali-kali lipat lebih menegangkan dari yang barusan, kan?”

 

“Jadi kau meragukanku? Apa itu tantangan darimu? Aku hanya perlu menerima tawaran Van Wijk, ia baru menawariku posisi sebagai peneliti doktoral sebagai pekerjaan full-time—kau tahu tipe beasiswa yang itu kan?” Kyuhyun berhenti melangkah lalu menatap mata Eungi sungguh-sungguh. “Haruskah aku menerima tawarannya?”

 

Rahang Eungi menganga, kekasihnya yang baru menuntaskan studi magister dengan nilai sempurna saja masih membuat jantungnya berdebar keras, jadi berita baik ini benar-benar membuat mata wanita itu terbelalak kaget. “Sir Joost benar-benar menawarimu itu?”

 

“Ng.” Angguknya. “Kenapa? Omo, apa kau cemburu? Profesor kesayangmu punya mahasiswa favorit baru sekarang.” Ledeknya sambil menunjuk dirinya sendiri.

 

Eungi memutar matanya. “Lalu bagaimana dengan urusan ayahmu?”

 

“Tidak ada masalah. Beliau sudah sembuh total sekarang dan aku bisa melakukan apa pun yang kumau—dan aku mau mengejar hal yang positif noona. Dengan title Doktor, aku bisa mengajukan posisi sebagai rektor di kampus ayahku kelak.” Kyuhyun membiarkan dirinya bermimpi tinggi. “Ayahku bisa mengawasi masalah keuangan dan aku bisa memantau dari masalah pendidikan dan kurikulumnya.”

 

“Jadi kau menerima tawaran itu?” Rasanya wanita itu siap melompat kegirangan di tempatnya. “Kau akan tinggal di Belanda lebih lama kalau begitu?”

 

Kyuhyun menarik tubuh Eungi mendekat lalu memeluknya. “Noona, siapa yang menyangka studi post-doktoralmu bisa selama ini, ng? Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di negara ini. Aku belum bilang apa-apa pada Van Wijk karena aku ingin mendiskusikannya denganmu terlebih dahulu, tapi kalau boleh jujur aku memang sangat tertarik.”

 

“Kenapa kau harus mendiskusikan denganku? Lakukan apa pun yang kau sukai, Kyu.” Ia membenamkan wajahnya pada setelan jas Kyuhyun. “Aku tetap akan menjadi cheerleader-mu.”

 

Kyuhyun mendorong wajah Eungi lalu menangkupkan dengan tangannya. “Karena hidupku adalah hidupmu juga, apa yang kulakukan akan berpengaruh padamu dan sebaliknya. Dulu kau percaya aku bisa berhasil di bidang ini saat semua orang merendahkanku, lihat aku sekarang! Tiga tahun yang lalu aku bahkan tidak bermimpi untuk punya pekerjaan tetap. Jadi opini dan pendapatmu sangat penting bagiku dan itu sebabnya aku perlu mendiskusikannya denganmu.”

 

“Kau tahu aku selalu menganggapmu seorang jenius kan? Jika kau memang mau melanjutkan studimu, lakukanlah!”

 

“Benarkah?”

 

“Aku punya dua alasan.” Ujar Eungi sambil mengangkat telunjuk dan jari tengahnya membentuk hufuf V. “Pertama dari sudut pandang mantan dosenmu.”

 

“Hmm, beri tahu aku.” Ia mengalungkan lengan kanannya di bahu Eungi dan menuntun langkah mereka untuk kembali berjalan.

 

“Dari sudut pandang profesionalku, kau harus mengambilnya. Kau punya fondasi yang sempurna untuk melebarkan sayap di dunia desain berkelanjutan yang jelas semakin berkembang sekarang. Global warming itu bukan cerita dongeng belaka dan kita sama-sama paham pentingnya inovasi berbasis green-design. Jadi dalam lima puluh tahun ke depan, apa yang kita teliti akan menjadi penyokong harkat hidup orang banyak.” Jelas Eungi.

 

“Lalu pendapat yang tidak professional darimu?”

 

“Kau harus mengambilnya, karena artinya kau akan tinggal lebih lama lagi di Delft bersamaku.” Eungi terkekeh. “Aku suka tinggal bersamamu dan sejujurnya aku mulai gelisah karena memikirkan setelah kau lulus, kau akan segera kembali ke Seoul tanpa diriku untuk setidaknya satu tahun. Aku tidak bisa memprediksikan kapan penelitian post-doktoralku berakhir karena masih bermasalah dengan teknologinya. Jadi kalau boleh egois, aku mau kau mengambil tawaran itu sebagai alasan untuk tinggal lebih lama bersamaku.”

 

Kyuhyun tertawa puas. “Noona, kau sudah ketergantungan padaku, bukan?”

 

“Yeah, dan kekhawatiranku nampak seperti lelucon bagimu sekarang.” Ia memutar matanya kesal sambil memanyunkan bibirnya.

 

Kyuhyun menunduk sedikit untuk mengecup pelipis Eungi. “Baiklah, aku akan menerima tawaran Van Wijk. Tapi kau setuju kan denganku, namaku akan lebih keren dengan titel Dr. Cho Kyuhyun, PhD.”

 

“Sangat Kyu!” Ia menatap kekasihnya sambil mtersenyum lebar. “Aku tidak sabar menunggumu mempresentasikan riset doktoralmu nanti, hari ini saja kau sudah terlihat sexy sekali saat presentasi, aku benar-benar harus menahan diri untuk tidak menyerangmu. Aku bertaruh, kau akan tampak jauh lebih sexy lagi nanti.” Ia mengedip pada Kyuhyun.

 

“Secara resmi kunyatakan kau adalah wanita paling aneh yang pernah kutemui dalam hidupku.” Pria itu mengacak rambut Eungi. “Itu kah yang membuatmu terangsang? Serius? Aku harus presentasi lagi seperti tadi untuk membangkitkan gairahmu?” Ia tertawa puas.

 

Eungi menghentikan langkah mereka, berjinjit mantap di depan Kyuhyun sambil melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu untuk memberikan ciuman yang sejak tadi ingin diberikannya. Kyuhyun bisa merasakan seberapa besar gairah tertahan yang tersampaikan dari lumatan panas Eungi di bibirnya, wanita itu mengigit bibir bawah Kyuhyun dengan seduktif dan desahan lembut lolos diantara ciuman mereka.

 

Layaknya seorang kekasih yang baik, Kyuhyun memeluk pinggang Eungi erat sambil membalas ciuman wanita itu, sebelum ia mempercepat langkah mereka segera pulang ke rumah untuk menuntaskan kegiatan mereka.

 

*

 

Pria itu menikmati guyuran air panas di tubuhnya, sementara Eungi sekarang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Energi Kyuhyun bener-benar sudah terkuras rasanya. Pertama karena tingkat stress yang dialaminya sejak kemarin malam, ketegangan yang harus dilalui sejak pagi tadi, lalu sesi panas di atas ranjang dengan Eungi barusan benar-benar membuat Kyuhyun lelah—dan harinya belum berakhir. Pria itu sudah kehilangan nafsu makan sejak seminggu yang lalu, namun ia tidak terlalu merasa ada yang aneh dengan pola makannya, baru tadi setelah mereka selesai memuaskan satu sama lain, Kyuhyun benar-benar sadar bahwa ia lapar.

 

Eungi menyarankan mereka untuk pergi ke Amsterdam sekalian merayakan dengan acara minum-minum di daerah Zeedijk, tapi pria itu menolak mentah-mentah. Pertama karena ia malas jalan jauh-jauh, kedua karena memang penting sekali demi kelangsungan rencananya bagi mereka untuk tetap diam di rumah. Kalau boleh jujur, sidang tesis barusan tidak semenegangkan apa yang akan dilakukannya sekarang, dan Kyuhyun harus mengusap wajahnya di bawah siraman air hangat berkali-kali untuk mengumpulkan keberaniannya—sambil melawan keinginan untuk muntah saking tegangnya.

 

Saat pria itu selesai mandi, Eungi sudah menyiapkan mac and cheese sebagai opsi makan malam mereka. Bukannya ia malas, hanya saja dengan bahan yang tersisa di dapurnya, mac and cheese inilah yang masih bisa dibilang ‘makanan’.

 

“Kalau ini tidak membuatmu kenyang, aku bisa menelepon delivery dari restoran pizza.” Eungi meringis malu saat Kyuhyun menatap piring mac and cheese-nya dengan bingung.

 

“Tidak apa, aku bisa makan mac and cheese. Sebentar, biar kuambil wine dulu.” Ia berjalan ke arah lemari wine mereka.

 

Mac and cheese dengan wine?” Eungi tertawa. “Cara yang cerdik untuk mengubah makanan murahan jadi sedikit elegan.”

 

“Ey, di mana ada keju, di situ harus ada wine. Dalam wujud apa pun keju itu berada. Keju itu enak, wine juga lebih enak lagi, bersama-sama mereka jadi sempurna.” Kyuhyun menyeringan jail meledek Eungi sambil mengambil pembukan sumbat wine di kabinet.

 

Suasana makan malam mereka bisa dikatakan sangat sunyi. Kyuhyun fokus memakan apa yang ada di piringnya seperti orang yang belum bertemu makanan satu bulan dan Eungi sudah kebingungan karena ia menghitung jumlah gelas wine yang sudah diteguk Kyuhyun, tiga gelas terkesan terlalu banyak bahkan untuk standar makan malam pria itu. Dalam hati senarnya wanita itu heran karena bagian paling menegangkan dari hari Kyuhyun sudah lewat, jadi usaha pria itu untuk tetap rileks terlihat agak janggal.

 

“Kyu, kau baik-baik saja?” Ia menunjuk gelas Kyuhyun dengan garpunya. “Itu gelasmu yang ketiga.”

 

Kyuhyun mengangguk. “Aku hanya menikmatinya.” Ia berdeham. “Aku boleh berpesta kecil-kecilan atas pencapaianku, bukan?” Ia mengangkat alisnya meminta persetujuan Eungi.

 

“Kau benar, maafkan aku. Silakan habiskankanlah botol itu, aku akan mengambil yang baru.” Ia menggeser duduknya untuk bangkit namun Kyuhyun menahannya.

 

“Jangan, simpan saja itu untuk nanti.” Ia membawa porsi terakhir makan malamnya ke dalam mulut dan menelannya dengan bantuan sisa wine yang ada di gelasnya.

 

“Baiklah, kalau begitu aku akan beberes.” Ia mengambil piring kosong mereka dan membawanya ke wastafel untuk membilasnya. “Apa rencana kita malam ini? Bermalas-malasan di sofa menonton pertandingan bola?”

 

“Aku punya ide yang lebih brilian.” Kyuhyun menghabiskan sisa cairan merah di botol wine itu lalu bangkit untuk mengambil sesuatu.

 

Pria itu pergi ke ruang kerja mereka untuk mengambil tabung silinder hitam yang biasa digunaka arsitek untuk menyimpan gulungan blueprint mereka, kemudian ia membawanya ke meja makan.

 

Eungi yang melihat hal ini langsung merengek protes.

 

“Ya! Kita istirahat saja malam ini, ne? Jangan bekerja, kumohon. Mengapa juga kau mau bekerja di malam kelulusanmu?” Ia mengelap tangannya pada handuk di samping sink lalu segera melangkah mendekat ke meja makan untuk menarik tabung itu dari tangan Kyuhyun.

 

“Hanya sedikit pekerjaan, kumohon. Aku harus menunjukkanmu sesuatu dan butuh pendapatmu.” Ia memohon lewat tatapannya. “Ayolah noona, aku sedang dapat ide, kau tidak bisa menunda pekerjaan kreatif, kau tahu peraturan di rumah ini.”

 

“Tapi—”

 

“Tidak akan lama, aku janji. Aku hanya perlu pendapatmu saja, tidak akan menggambar malam ini.” Ia membuka tutup silinder dan mengeluarkan beberapa lembar kertas kalkir berukuran A2 dari dalam lalu mebuka gulungannya di atas meja.

 

Eungi menghela napas panjang dan menyerah, memang itulah peraturan di rumah mereka, mereka berjanji untuk tidak menunda ide kreatif kapan pun itu datang—dan ide itu bisa menyerang kapan saja, dalam kasus ini, ide Kyuhyun muncul sekarang dan Eungi harus menahan diri untuk tidak menjitak kekasihnya yang butuh beristirahat itu. Wanita itu duduk di sementara Kyuhyun berdiri di belakangnya, menahan bobot tubuhnya dengan lengan kanan yang disandarkan pada meja sambil membungkkukkan tubuhnya agar bisa menjelaskan detail gambar pada Eungi.

 

Mata Eungi berdansa dengan lincah di atas gambar Kyuhyun, mencoba memahami detil-detil kecil di sana. “Kau mengerjakan proyek rumah?”

 

Kyuhyun meletakkan empat pemberat pada sudut-sudut keras lalu semakin mendekatkan tubuhnya pada Eungi dari belakang, mengambil posisi paling nyaman untuk menjelaskan gambarnya.

 

“Jadi ini adalah rumah yang berlokasi di Bukchon.” Jelasnya.

 

“Mwo?! Whoa pasti harganya mahal sekali, rumah tradisional?” Eungi mulai semangat melihat gambar Kyuhyun.

 

Kyuhyun mengangguk. “Site ini menghadap ke selatan ke arah bukit Namsan.” Kyuhyun menunjuk pada arah mata angin di sudut kanan atas.

 

Eungi mencerna gambar Kyuhyun baik-baik, dalam hati mencatatat beberapa hal yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan revisi Kyuhyun nanti, tapi dengan spontan ia langsung menunjuk ke arah kamar utama di rumah itu. “Kyu, jika sebuah rumah berada di lokasi seindah ini, bukankah sebaiknya pamandangan Namsan diberikan untuk kamar utama alih-alih untuk ruang keluarga?” Ia menunjuk pada denah yang dimaksud.

 

“Menurutmu begitu?” Kyuhyun mengerutkan keningnya. “Mengapa? Apa menurutmu mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu di kamar tidur ketimbang ruangan lain?”

 

“Ah, aku lupa bertanya. Silakan jelaskan profil klienmu.” Ia menepuk dahinya sendiri karena melupakan hal yang fundamental dari tugas berurusan dengan klien.

 

Well, mereka pengantin baru.” Jelas Kyuhyun.

 

“Pengantin baru tapi sudah mampu membeli rumah di Bukchon?! Daebak!” Eungi berdecak kagum.

 

Kyuhyun terkekeh. “Katakan saja suaminya sekarang sudah sukses mengejar passion di bidangnya dan ia mampu membeli akomodasi semacam ini untuk orang yang sangat dicintainya.”

 

Eungi mengangguk. “Oke, lanjutkan. Pengantin baru, lalu mereka meminta ada ruangan apa saja di dalam rumah mereka?”

 

“Mereka berencana memiliki tiga anak.” Kyuhyun melanjutkan penjelasannya sambil menunjuk tiga buah ruangan yang lebih kecil pada denah. “Seekor anjing.” Lanjutnya sambil menunjuk pada halaman belakang yang lumayan luas. “Mereka juga sangat menikmati acara duduk-duduk santai sambil meminum wine di halaman belakang saat cuaca sedang cerah, jadi teras belakang sangat penting. Isterinya tidak terlalu suka masak, tapi kurasa dapur besar tidak pernah mengecewakan bagi wanita mana pun, bukan?” Kikiknya geli.

 

“Benar sekali, lanjutkan.”

 

“Suaminya butuh ruang kerja yang lumayan besar karena ia punya dua pekerjaan sekaligus. Isterinya kutu buku, jadi mereka meminta rak buku yang tertanam di tembok sampai ke langi-langit rumah.” Kyuhyun menunjukkan garis putus-putus penanda rak buku tanam yang disembunyikan di balik tembok.

 

“Lalu ini apa?” Eungi menunjuk pada gambar arsitektur perapian. “Apa ini cocok dengan konsep rumah tradisional?”

 

“Perapian itu permintaan spesial dari sang isteri. Ia memiliki impian tinggal di negeri dongeng saat musim dingin, dan baginya yang ideal adalah merayakan natal di depan perapian dengan segelas eggnog di tangan. Aku mendesain perapian ini dengan konsep yang menyatu dengan desain rumah luar, jadi tidak terlalu mencolok.” Kyuhyun menunjukkan gambar potongan dari lembaran kalkir lainnya. “Dan aku percaya kamar utama sebaiknya menghadap ke timur, agar mereka selalu menikmati sapaan matahari pagi saat membuka mata.”

 

Eungi mengamati gambar Kyuhyun lebih teliti lagi, ada yang aneh dengan gambar ini, tapi ia belum bisa menemukan kejanggalannya.

 

“Ah, isterinya juga butuh ruang kerja. Kau tahu, suaminya itu sangat cerdas, tapi sebenarnya ia bisa sehebat itu karena isterinya. Wanita itu menikmati membaca buku, meriset dan kadang-kadang juga suka memasak. Maka karena itu aku masih bingung tentang proporsi dapur dan ruang kerjanya, mana yang sebaiknya kubuat lebih luas.” Pria itu menggeser jemarinya antara denah dapur dan denah ruang kerja.

 

“Mengapa kau tidak mengabungkan saja ruang kerja mereka? Ruang yang tersedia masih cukup luas jika kau menghilangkan tembok ini.” Tunjuk Eungi pada tembok yang dimaksud.

 

“Apa menurutmu itu bijaksana? Mereka itu pengantin baru yang masih sangat bergairah, noona.” Kyuhyun terkekeh. “Isterinya juga mudah sekali tergoda jika melihat suaminya sedang serius mengerjakan sesuatu. Kalau tembok ini kuruntuhkan, bisa-bisa ruang kerja mereka beralih fungsi.”

 

“Wow, klienmu itu terbuka sekali ya.” Ujar Eungi sinis. “Apa suaminya se-sexy dirimu saat kau sedang bekerja?” Eungi menyengir iseng lalu menatap mata Kyuhyun di sampingnya.

 

Pria itu mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum. “Aku tidak tahu, bagaimana menurutmu?”

 

Ia mengambil silinder di atas meja lalu menjungkirkan tabung untuk mengeluarkan benda yang disimpan di bawah. Memindahkannya ke dalam genggaman tangannya, tanpa melepas kontak matanya dengan Eungi, Kyuhyun meletakkan benda kecil berbentuk lingkaran itu di atas denah yang masih terbuka di atas meja.

 

Suara hentakan kecil di meja mengalihkan pandangan Eungi dari Kyuhyun, saat mata Eungi kembali menatapa blueprint di atas meja, Kyuhyun langsung menyingkirkan tangannya, menunjukkan benda yang ingin diserahkan untuk kekasihnya.

 

Jantung Eungi berhenti bekerja saat itu juga. Wanita itu bingung emosi yang mana yang menyerangnya duluan, ia tersentuh, ia senang, ia kewalahan dengan sensasi memabukkan di hatinya, wanita itu bisa merasakan wajahnya memanas hanya dengan melihat cincin berlian yang diletakkan Kyuhyun di atas blueprint-nya.

 

“Noona, apa menurutmu menyatukan ruang kerja kita itu bijaksana?” Ia membungkuk lebih dekat dengan Eungi untuk berbisik di telinga wanita itu, memberitahu secara tersirat bahwa blueprint yang sedari tadi ia tunjukkan adalah rumah masa depan mereka. Boleh saja pria itu sekarang terdengar sangat santai, padahal kalu boleh jujur jantung Kyuhyun siap melompat keluar dari rongganya dan ia rasanya ingin pingsan.

 

Eungi membungkam mulut untuk menyembunyikan cicitan aneh yang keluar darinya, ia benar-benar kehilangan kata-kata. Kyuhyun telah melakukan hal yang benar-benar di luar dugaannya, ia tidak pernah mengira Kyuhyun akan melamarnya dengan cara ini, di rumah mereka yang nyaman sementara keduanya hanya mengenakan baju tidur seadanya, sambil dengan santai membicarakan ‘proyek’ yang sedang dikerjakannya. Tidak, Eungi tidak pernah mengira pria itu bisa melakukan aksinya selihai ini dan jelas wanita itu masih terpatung.

 

“Aku masih menunggu jawabanmu, noona. Lepaskan aku dari rasa sengsara menunggu jawabanmu, kumohon.” Ia berbisik sekali lagi, namun kali ini suara pria itu bergetar lebih gugup.

 

“Jadi kita akan punya tiga anak?” Eungi mengangkat wajahnya untuk memandang pria kesayangannya.

 

Kyuhyun mengangguk mantap.

 

“Kumohon, buatkan aku dapur yang besar itu, aku akan belajar memasak lebih giat lagi untukmu dan ketiga anak kita nanti.” Wajah wanita itu sudah sangat memerah karena bahagia.

 

“Apa itu artinya kau mau menikahiku?”

 

Eungi mengangguk cepat. “Tentu saja, ya Tuhan, terima kasih. Ini indah sekali, ini benar-benar indah sekali, Kyu. Aku rasanya terbang ke langit ketujuh sekarang.” Wanita itu bangkit lalu mengalungkan lengannya di seputar tubuh Kyuhyun, membelai pria yang baru saja menggambarkan masa depan mereka dengan sebuah denah yang indah, lengkap dengan lamaran yang sangat manis.

 

“Tidak, aku lah yang berterima kasih padamu. Terima kasih karena sudah merubahku menjadi sosok yang bisa membuatmu bangga. Kuharap kau akan selalu bangga padaku seperti hari ini.” Ia memeluk Eungi lebih erat sambil menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher wanita itu.

 

“Kau tahu bahwa aku fans nomor satumu kan?” Eungi mendorong tubuh Kyuhyun sedikit lalu mengangkat tangan kirinya ke wajah pria itu. “Apa aku harus menyelipkan cincin itu sendiri?” Ia bertanya dengan nada meledek.

 

Kyuhyun mendengus lalu mengambil cincin yang disiapkannya dari atas meja, lalu perlahan menyelipkan ke jari manis tangan kiri Eungi. “Tidak cliché, tidak ada menara Eiffel, dan aku tidak berlutut.” Ia berujar lembut sambil menggiring wajahnya mendekat wajah Eungi. “Aku harap kau akan mengingat momen ini sepanjang hidup kita nanti.”

 

Kyuhyun mendaratkan ciuman hangat di bibir Eungi, sebuah ciuman yang sederhana namun mampu menyampaikan seluruh cintanya pada wanita itu. Di benaknya, potongan kenangan mereka kembali berputar, saat pertama ia melihatnya, pertama kali pria itu merasa ingin melindunginya, argument pertama mereka, kali pertama Kyuhyun jatuh cinta pada Eungi, ciuman pertama mereka, hancurnya hubungan mereka yang disusul dengan usaha keras mereka untuk kembali bersama, lalu usaha jungkir-balik Kyuhyun untuk membuktikan bahwa dirinya memang pantas bersanding dengan wanita yang selalu melihat sisi terbaik dari dirinya.

 

Dengan lengan Eungi yang memeluknya erat sekarang Kyuhyun tahu, bahwa ia rela melakukan semua usaha keras itu dari awal demi berada di sisinya. Jika hadiah yang diperolehnya seindah wanita yang ada dalam dekapannya, dengan lapang dada ia akan melalui semua rintangan itu lagi berkali-kali demi merasakan kebahagian yang ia rasakan sekarang.

 

*

 

Kyuhyun dan Eungi mengambil kesempatan liburan musim panas yang panjang untuk kembali ke Seoul selama beberapa bulan sambil mengurus berbagai hal penting. Tujuan utama mereka kembali jelas untuk melangsungkan pesta pernikahan, namun agenda tambahan yang ikut masuk ke dalam jadwal mereka termasuk pengurusan admisnistrasi kampus, di mana posisi Kyuhyun secara resmi dinaikkan menjadi kepala direktur bidang pendidikan. Sejak kelulusannya yang mengagumkan itu, Kyuhyun bisa dengan percaya diri mengambil posisinya di jajaran pemeggang saham dan dengan jabatan barunya itu pula, Kyuhyun mendapat kuasa baru untuk menyingkap penyimpangan kurikulum dan kinerja dosen. Posisi ini jelas sudah dipikirkan matang-matang oleh Kyuhyun dan Eungi sebelum Kyuhyun mengajukan surat lamarannya, ini adalah cara mereka untuk menurunkan musuh besar tukang plagiat, Hwang Hojin—seluruh bukti sudah mereka siapkan, dan karena gelar Professor pria itu diberikan oleh universitas ayah Kyuhyun, maka pencabutan gelar dari sisi internal lebih mudah, apalagi mereka memang menemukan bukti plagiarisme baru dalam dua tahun terakhir yang merugikan mahasiswa lain.

 

Mereka juga menggunakan waktu kunjungan ini untuk memantau pembangunan rumah masa depan mereka di Bukchon yang waktu itu telah digambar Kyuhyun sebelum ia melamar Eungi. Wanita itu tetap ternganga kagum dengan pilihan site yang Kyuhyun peroleh—serta besarnya lahan itu. Lokasinya sesempurna yang digambarkan Kyuhyun dan Eungi tidak berani berspekulasi bagaimana cara pria itu bisa membeli tempat ini, meskipun besar kemungkinan uang hak patennya beralih menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk masa depan mereka seterusnya.

 

Keduanya memang tidak berencana menempati rumah itu dengan segera, karena urusan studi mereka di Belanda masih terhitung cukup panjang, apalagi sejak pria itu diterima sebagai mahasiswa doktoral di kampus mereka. Penelitian Eungi juga masih memerlukan waktu sekitar setahun untuk benar-benar selesai, maka rumah di Bukchon ini belum akan menjadi tempat mereka bernaung setidaknya dalam tiga tahun ke depan.

 

Tapi agenda hari ini adalah yang terpenting dari rangkaian rencana mereka, hari pernikahan Eungi dan Kyuhyun.

 

Pagi itu Eungi sudah sibuk mondar-mandir di ruang tunggu pengantin wanita dengan gelisah. Mereka mengadakan upacara pernikahan dengan gaya barat, maka paham bahwa kedua mempelai dilarang untuk melihat satu sama lain sebelum acara dimulai dijunjung tinggi dalam proses ini.

 

Wanita itu memeriksa kembali pantulan bayangannya di cermin tinggi dalam ruangan itu, mencoba membenarkan beberapa detil kecil yang kurang lurus di gaunnya. Ia menarik napas dalam-dalam sambil mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia baru mendapatkan informasi yang mencengangkan dan masih cukup shock untuk bisa percaya berita yang diperolehnya, bagian terburuknya, ia baru mengetahui fakta itu tepat pagi hari di hari pernikahan mereka.

 

Professor Van Wijk mengetuk pintu besar di ruang tunggu Eungi dan mempersilakan dirinya masuk tanpa menunggu aba-aba dari wanita itu, ia membawa buket bunga yang akan Eungi genggam saat berjalan menuju altar nanti dan tangan sebelahnya memegang segelas champagne.

 

“Minumlah ini, dulu aku merasa lebih rileks di pernikahanku dengan sedikit bantuan alkohol.” Ia menyerahkan gelas tinggi itu pada Eungi.

 

Wanita itu menggeleng. “Aku tegang sekali sampai rasanya aku mau muntah sekarang, aku tidak mau memasukkan apa pun ke mulutku. Apa memang rasanya menikah semenegangkan ini?” Ia memandang profesornya dengan tatapan bingung.

 

“Apa yang membuatmu takut, Cha? Kau akan menikahi pria yang kau cintai.”

 

“Bagaimana jika ia berubah pikiran?” Eungi menggigit bibirnya gugup. “Apa Kyuhyun masih di dalam ruang tunggunya? Kumohon jangan bilang ia sudah kabur duluan.”

 

Van Wijk tertawa. “Aku bertaruh, pria itu juga mengkhawatirkan hal yang sama di ruang sebelah.”

 

“Beritahu aku bahwa semua ini akan baik-baik saja.” Wanita itu duduk di sofa yang disediakan lalu menyandarkan punggungnya ke punggung sofa, sambil menahan kepalanya agar tatanan rambutnya tidak rusak.

 

Van Wijk mengambil waktunya untuk memperhatikan kelakuan Eungi, seingatnya wanita itu tidak pernah berlaku seperti sekarang bahkan saat sedang menyampaikan sidang tesis dan sidang doktoralnya—Van Wijk tidak pernah melihat Eungi ketakutan hingga riasan di wajahnya tidak bisa menutupi kepucatan di balik kegugupannya. Pria paruh baya itu juga menyadari bahwa pupil mata Eungi bergerak-gerak cepat dari satu sudut ke sudut lainnya, seolah ia sedang berpikir keras.

 

“Cha!” Van Wijk membungkuk di depan Eungi sambil meremas kedua bahu wanita itu. “Tatap aku, kau sedang mengalami panic attack sekarang bukan?”

 

Eungi mencoba menatap Van Wijk pada mata hijaunya dan pria itu jelas bisa mencerna kengerian di mata Eungi.

 

“Apa jangan-jangan kau yang siap kabur dari acara ini?” Van Wijk memiringkan kepalanya bingung.

 

Eungi menggeleng mantap. “Sir Joost, aku harus bagaimana?” Ia berbisik.

 

“Kau hanya perlu menarik napas dalam, ikuti tempo langkahku selama kita berjalan ke altar, katakan ‘aku bersedia’ di waktu yang tepat dan biarkan pria itu menciummu. Se-simple itu Cha, tidak terlalu sulit sebenarnya. Bukan hari pernikahan yang sulit, tapi komitmen yang ikut serta setelahnya. Kalau acara bertukar sumpah itu akan berlangsung sangat cepat dan kujamin semua akan selesai sebelum kau sempat merasa lebih tegang lagi.” Kekehnya sambil mencoba menenangkan Eungi.

 

“Bukan, bukan tentang itu.” Ia menggigit bibirnya semakin gugup. “Aish, aku bahkan tidak yakin sebaiknya memberitahumu hal ini atau tidak.”

 

“Apa?”

 

Wanita itu menarik napas dalam sambil menepuk dadanya mencoba untuk rileks.

 

“Cha Eungi, kau mau membuatku mati penasaran ya? Kelakuanmu ini aneh sekali, beritahu aku apa yang mengganggumu.”

 

Eungi menarik napas dalam-dalam sebelum menepuk tempat kosong di sampingnya agar Van Wijk duduk di samping. Ia benar-benar butuh konsultasi singkat dengan pria yang sudah menjadi sosok pengganti ayahnya itu.

 

Wanita itu merendahkan suaranya, nyaris berbisik saat ia menjelaskan pada Van Wijk alasan di balik panic attack yang menyerangnya pagi ini. Wanita itu benar-benar takut seseorang akan menguping pembicaraan mereka jadi volume suaranya benar-benar dipelankan dan ia memilih untuk berbisik di samping telinga Van Wijk saja saat menyampaikan masalah yang baru ditemuinya pagi ini. Pria paruh baya itu mencondongkan tubuhnya untuk benar-benar mencerna keterangan Eungi, dan mata pria itu langsung melotot kaget saat ia memahami permasalahan Eungi.

 

Van Wijk menggenggam kedua tangan Eungi sambil meremasnya erat, sekarang ia pun ikut-ikutan merasa harus menenangkan wanita itu. “Kau bisa membicarakan itu dengannya nanti, aku yakin Cho akan mengerti.”

 

“Bukankah aku seharusnya bicara sekarang dengannya? Sebelum terlambat? Sebelum kami menyatakan sumpah kami?” Ia bisa merasakan bibirnya bergetar semakin gugup.

 

“Nanti, Cha.” Van Wijk menepuk bahu Eungi untuk meyakinkan. “Kita masih punya acara upacara sakral untuk dilangsungkan. Masalahmu bisa menunggu.”

 

“Tapi Sir—”

 

“Lagipula akan menjadi ‘bad luck’ kalau kau menemui pengantin pria sebelum upacara dilangsungkan, jadi jangan coba-coba keluar dari ruangan ini untuk menemuinya sekarang.” Ia menekan suaranya. “Aku akan menggenggam tanganmu untuk membantu menenangkan pikiranmu, kau bisa meremas tanganku saat kita berjalan menuju altar nanti. Tapi apapun yang kau lakukan, jangan temui pria itu sebelum upacara pemberkatan dimulai!”

 

“Kau sekarang jadi percaya takhayul macam itu?” Aku harus memberitahunya tentang hal ini, Sir.” Eungi menggembungkan pipinya untuk mengontrol tempo napasnya.

 

“Apa yang akan kau katakan padanya tidak akan merubah apa pun. Pria itu mencintaimu dan ia tidak akan bergeming dari rencana ini.” Van Wijk meyakinkan Eungi. “Hanya saja, jika kau memberitahunya sekarang, mood kalian akan sedikit terganggu dan sepertinya itu tidak akan terlihat bagus dalam sebuah upacara pernikahan. Pria itu sudah jungkir-balik untuk menggapai apa yang telah ia siapkan untukmu hari ini, Cha. Jangan rusak hari bahagianya hanya karena mulutmu tidak sanggup menjaga rahasia besar itu sedikit lebih lama.”

 

Eungi membuka mulutnya, siap untuk melawan kata-kata profesornya tapi pihak wedding organizer sudah mengetuk pintunya, meminta wanita itu untuk bersipa karena acara akan dimulai lima menit lagi.

 

“Ayo, sudah waktunya.” Van Wijk bangkit sambil mengulurkan tangan untuk membantu Eungi berdiri. Pria itu lalu menata sedikit gaun bagian bawah Eungi agar terlihat lebih bervolume.

 

“Aku takut, Sir.” Akunya. “Beritahu aku bahwa aku melakukan hal yang tepat.”

 

“Pernikahan ini adalah keputusan terbaik yang pernah kau buat dalam hidupmu.” Pria paruh baya itu mengangguk lalu memeluk tubuh mungil Eungi.

 

“Apa aku sudah terlihat cantik sekarang?” Ia melirik ke arah cermin untuk memeriksa bayangannya sekali lagi.

 

“Kau terlihat menakjubkan dan berkilau sekarang, pengantin wanita tercantik yang pernah kulihat.” Pria itu mengecup pipi Eungi dengan sayang. “Jangan bilang isteriku kalau aku bilang kau yang tercantik.”

 

Eungi tersenyum lemah dan akhirnya memaksa untuk menelan egonya saja pagi ini. Ia memilih untuk menyerahkan nasibnya di tangan Kyuhyun, mengikuti saran Van Wijk. Pria yang menggiringnya ke altar telah benar tentang banyak aspek dalam hidup Eungi, pasti pria itu tahu apa yang dibicarakannya tadi.

 

*

 

Kyuhyun berdiri dengan cemas di tempatnya tepat di altar, matanya tidak lepas dari pintu ganda besar tempat pengantin wanitanya akan muncul—yang seharusnya sudah terjadi sekitar lima menit yang lalu. Semua mata memandang dengan penuh antisipasi karena Eungi belum muncul dan Kyuhyun sendiri benar-benar penasaran seberapa mengagumkan wanita yang sangat dicintainya itu nanti.

 

Mereka memang memutuskan untuk melangsungkan pernikahan sederhana dengan cara tradisional, di dalam gereja tempat Kyuhyun biasa bersembahyang. Meskipun relasi ayah Kyuhyun sangat banyak, pria itu menghormati keputusan anak dan calon menantunya untuk melangsungkan pernikahan hanya dengan keluarga dan kerabat dekat mereka saja. Mereka ingin acara sakral ini menjadi berarti bagi orang-orang terdekat mereka, bukan menjadi ajang tukar menukar kartu nama untuk melebarkan sayap dalam dunia bisnis. Eungi pun sangat bersyukur karena banyak kawan dekatnya dari Belanda bersedia terbang jauh-jauh ke Seoul untuk menyaksikannya menikah—meskipun kebanyakan dari mereka justru senang karena bisa menggunakan alasan ini untuk berkeliling Korea Selatan.

 

Kyuhyun masih berdiri cemas, pria itu harus terus-terusan berbisik pada dirinya sendiri, mengingatkan agar tetap bernapas normal sementara mengunggu kekasihnya yang tidak biasanya telat. Wanita itu selalu tepat waktu, dan hal itu sekarang mulai membuatnya khawatir, apakah mungkin Eungi berubah pikiran? Kyuhyun ingin mati saja rasanya kalau sampai yang muncul dari pintu besar itu adalah Van Wijk seorang yang memberitahunya bahwa Eungi sudah kabur. Kyuhyun menggelengkan kepalanya cepat, menyingkirkan pikiran buruk itu dari benaknya dan kembali mengatur napasnya.

 

Kekhawatirannya lenyap ketika suara intro piano instrumental mulai dimainkah. Pria itu membebaskan Eungi untuk memilih lagu perjalanannya ke altar dan wanita itu memilih lagu dari Paul McCartney berjudul This Never Happened Before—yang harus diakui Kyuhyun sangat cocok untuk merangkum kisah mereka. Penantian Kyuhyun yang panjang  dan menegangkan tadi rasanya sangat setimpal setelah Eungi melangkah masuk dari pintu besar gereja itu.

 

Eungi menatap pria itu dengan mata berbinar dari ujung berlawanan tempat Kyuhyun berdiri, sorot ketegangan di wajah wanita itu sama dengan ketegangan yang melanda Kyuhyun sekarang dan wanita itu sepertinya bergantung sepenuhnya pada genggaman tangan Van Wijk untuk berdiri tegak, sementara tangan lainnya menggenggam buket bunga kecil berisikan mawar merah jambu dan lily yang serasi dengan make-up natural yang disapukan pada wajahnya.

 

Rahang Kyuhyun menganga kagum saat ia mempelajari tampilan pengantin wanitanya. Wanita itu menata rambutnya dalam bentuk sanggul rendah sederhana yang menggantung di bagian bawah kepalanya, tatanan rambutnya yang resmi itu disempurnakan oleh tiara kecil yang menghiasi puncak kepalanya dengan anggun untuk menyematkan cadar tule yang menggantung di belakang. Gaun putih Eungi membungkus tubuh mungilnya dengan sempurna komplit dengan sedikit aksen mengembang pada bagian bawah gaun, membuat wanita itu terlihat sempurna. Kyuhyun tahu bahwa kekasihnya itu memang cantik, tapi hari ini kata cantik saja tidak cukup untuk mendeskripsikan indahnya sosok Eungi di mata Kyuhyun, wanita itu bersinar dengan pesonanya dan Kyuhyun harus kembali mengingatkan dirinya sendiri untuk menarik napas.

 

Jarak dari pintu utama ke altar tidak terlalu panjang tapi bagi Eungi rasanya lorong itu tidak berujung dan langkahnya terasa sangat kaku. Ia akan memulai hidup baru dengan pria yang sangat dicintainya, pria yang sekarang sedang tersenyum konyol di depan altar, pria yang kini menatapnya dengan pandangan kagum yang tidak bisa disembunyikan.

 

Van Wijk di sampingnya tetap berbisik mengingatkan Eungi untuk tenang sambil menghitung langkah mereka menyesuaikan dengan lagu pengiring, pria paruh baya itu juga tetap menenangkan hati Eungi sambil berbisik bahwa semua akan baik-baik saja agar wanita itu tidak terbebani rahasianya yang barusan diberitahu padanya. Mungkin tanpa Van Wijk yang menjadi penghitung tempo dan pembimbing langkah Eungi, wanita itu sudah akan jatuh terjerembab beberapa kali saking tegangnya.

 

Akhirnya mereka tiba di tepi altar, Kyuhyun melangkah turun untuk menyambut tangan Eungi yang diserahkan oleh Van Wijk dambil membungkuk hormat pada profesornya itu, berterima kasih untuk semua yang telah dilakukan pria itu untuk mereka.

 

“Apa pun yang terjadi, berjanjilah kau akan menjaga dan melindunginya sampai akhir hayat kalian.” Van Wijk meremas tangan Kyuhyun dalam genggamannya sambil menatap tajam penuh ancaman pada pria tiu.

 

“Aku akan melakukannya, Sir.” Kyuhyun membungkuk sekali lagi. “Aku tidak akan membiarkannya lepas dari pengawasanku.”

 

Van Wijk mengambil tangan Eungi yang terkalung di lengannya lalu membawanya pada tangan Kyuhyun. “Good luck up there, I love you, Cha!” Pria itu mengecup pipi Eungi tiga kali selebum ia benar-benar melepas Eungi pada Kyuhyun dan mengambil tempat duduk di bangku yang disediakan.

 

Kyuhyun membantu Eungi meniti tangga altar, masih dengan tatapan kagum di wajahnya.

 

Pria itu memanfaatkan waktu sempit saat meniti tangga untuk berbisik mesra di telinga Eungi. “You took my breath away, Eungi-ya. kata ‘cantik’ tidak cukup untuk mendeskripsikan dirimu sekarang.”

 

Eungi tersenyum, ajaibnya kata-kata Kyuhyun yang sederhana itu bisa membuat beban di pundaknya terangkat begitu saja. Yang perlu dilakukan wanita itu hanya menatap keteduhan dalam sorot mata pria itu dan ia tahu bahwa pria itu mencintainya. Apa pun berita yang akan Eungi sampaikan padanya nanti, Eungi yakin Kyuhyun akan tetap berada di sisinya.

 

“Aku gugup.” Balas Eungi juga berbisik. “Dan kau terlihat tampan sekali dalam jas itu.”

 

“Aku sama gugupnya denganmu, sayang.” Kyuhyun terkekeh. “Ayo kita tuntaskan acara ini.”

 

Mereka berdiri tegak di atas altar, menghadap satu sama lain dengan seorang pastor di antara mereka, siap mengungkapkan sumpah setia seumur hidup mereka.

 

Pastor itu segera memimpin jalannya upacara, ia memulai dengan menjelaskan langkah-langkah suci yang akan mereka jalani serta hak dan kewajiban mereka sebagai suami-isteri. Pastor itu juga menjelaskan tenang bagaimana cinta itu adalah sesuatu yang membutuhkan kesabaran dan kebaikan hati manusia serta kata-kata mutiara lain yang sudah sering didengar mereka di dalam film-film romantis. Eungi dan Kyuhyun harus menahan diri untuk tidak tertawa geli dengan pidato pastor di antara mereka. Susah sekali rasanya tidak bersikap kekanakan sementara keduanya sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam inti acara saja. Hanya ketika sang pastor mulai menyuruh mereka untuk mengulang sumpah pernikahan yang ia ucapkan, Eungi dan Kyuhyun bisa kembali serius.

 

“Apakah engkau, Cha Eungi, bersedia menerima Cho Kyuhyun sebagai suamimu yang sah secara agama dan hukum, mendampinginya dalam kesulitan dan kebahagian, sepanjang hidup kalian?”

 

Eungi tersenyum lebar dan Kyuhyun bisa melihat rona di wajahnya semakin memerah saat wanita itu menyatakan “Aku bersedia.” Eungi maju selangkah agar Kyuhyun bisa menyelipkan cincin pernikahan ke dalam jari manisnya.

 

“Dan apakah engkau, Cho Kyuhyun, bersedia menerima Cha Eungi sebagai isterimu yang sah secara agama dan hukum, mendampinginya dalam kesulitan dan kebahagiaan, sepanjang hidup kalian?”

 

“Aku bersedia.” Ia menyengir lebar saat menyatakan kata-katanya. Ia mengangkat tangannya agar Eungi bisa menyelipkan cincin pernikahan untuknya dengan mudah.

 

“Dengan kuasa yang diberikan padaku, kunyatakan kalian sebagai sepasang suami-isteri.” Sang

pastor akhirnya meresmikan pernikahan mereka.

Kyuhyun mengambil langkah untuk mendekati Eungi, tidak perlu menunggu lebih lama untuk menundukkan tubuhnya agar bisa memberi Eungi ciuman pertama mereka sebagai sepasang suami-isteri. Pria itu menekankan bibirnya yang bergetar pada bibir Eungi, ia pun bisa merasakan kegugupan wanita itu melalui ciuman singkat mereka. Eungi mengangkat tangannya untuk membelai wajah Kyuhyun lembut sambil sedikit membuka mulutnya agar bisa mencium Kyuhyun dengan nyaman. Mereka tentu saja sadar sedang berada di mana, serta berapa banyak mata yang melihat mereka sekarang, jadi keduanya menahan diri dan menyudahi ciuman mereka dengan segera. Kyuhyun yang masih belum rela melepas ciumannya justru menyapukan hidung mancungnya pada hidung Eungi sembari membawa bibirnya ke atas dahi wanita itu, untuk memberikan ciuman lembut pada puncak kepala Eungi.

 

“Kau resmi menjadi isteriku sekarang, noona.” Ia berbisik sambil membantu Eungi turun dari altar.

 

“Dan kau masih akan memanggilku seperti itu.” Ledek Eungi balik berbisik.

 

“Sudah kubilang, aku akan tetap memanggilmu dengan panggilan kesayanganku sampai kita jompo nanti.” Kekehnya.

 

“Mulai detik ini, kau terjebak untuk hidup bersamaku sampai akhir hayatmu.” Tambah Eungi dengan cengiran lebar.

 

“Hmm.” Kyuhyun mengangguk setuju. “Just living the dream.”

 

*

 

Rangkaian acara mereka akhirnya tuntas di sore hari. Keduanya langsung memohon diri untuk beristirahat di dalam honeymoon suite yang sudah disediakan di sebuah hotel berbintang di Seoul. Kyuhyun masih tidak bisa melapas pandangan matanya dari Eungi, karena wujud wanita itu benar-benar membuatnya terkagum dari berbagai sisi. Dulu Kyuhyun tidak pernah mengira bahwa ia akan menjadi pria yang rela berkomitmen dalam sebuah pernikahan sakral, tapi kalau melihat wanita di hadapannya ini, rasanya justru konyol kalau mereka tidak meresmikan hubungan abadi mereka.

 

Dari seluruh keputusan yang pernah Kyuhyun buat, ia yakin bahwa menikahi wanita ini adalah keputusannya yang paling benar.

 

Eungi yang sejak tadi merasa risih dipandangi Kyuhyun langsung melemparkan bantal pada wajah pria itu. “Sampai kapan kau akan melongo seperti itu, Kyu?” Ia tersipu.

 

“Kau terlihat luar biasa dalam gaun itu, tapi sejujurnya aku justru tidak sabar untuk melepas gaun itu dari tubuhmu.” Ia terkikik jahil.

 

“Jas yang kau kenakan juga membungkus tubuhmu dengan sangat sempurna, aku pun harus mengakui bahwa aku sudah membayangkan berapa banyak lapisan pakaian yang harus kutanggalkan sebelum memulai malam pertama kita.” Ia balas menyeringat jahil.

 

Well, ini memang malam pertama kita, kita boleh melakukan apa saja yang kita mau.” Ia melangkah mendekat pada Eungi dan mulai menyudutkannya ke tembok. “Kau mau kugendong lagi seperti posisi favoritmu itu, atau kita mau mencoba posisi baru yang kemarin kita diskusikan?” Godanya sambil mengusap permukaan bibir Eungi dengan ibu jarinya sembari berbisik di telinga Eungi.

 

Eungi menarik napas dalam lalu langsung melumat bibir Kyuhyun tanpa aba-aba. Ia menekan bibirnya dengan tergesa, mengalungkan lengannya pada leher Kyuhyun sebelum ia melumat bibir pria itu dengan agak kasar. Pria itu terkejut dengan tindakan isterinya, tapi ia mencoba untuk mengikuti keinginan Eungi yang sekarang terkesan tidak sabaran. Semakin dalam ciuman mereka, semakin Kyuhyun merasa ada yang janggal, maka pria itu sedikit mendorong tubuh Eungi dengan halus agar wanita itu menghentikan lumatan pada bibirnya. Kyuhyun mengangkat dagu Eungi dengan jemarinya, meminta wanita itu untuk menatap matanya.

 

“Noona, apa kau baik-baik saja? Hey, upacara pemberkatan kita sudah berakhir, kau tidak perlu merasa tegang lagi.” Kyuhyun mengecup lembut bibir Eungi. “Kau tahu apa yang sebaiknya kita lakukan? Rileks sedikit sebelum menikmati malam pertama kita.”

 

Kyuhyun berjalan menuju meja tengah untuk mengambil champagne yang sudah menjadi satu paket dengan kamar mereka. Ia membuka lapisan alumunium foil, melonggarkan kawat yang mengikat sumbat botolnya, lalu dengan mantap melepaskan gabus penyumbat tanpa menimbulkan suara yang terlalu keras. Kemudian ia menuangkan isi champagne ke dalam dua gelas tinggi sebelum menyerahkan satu gelas pada Eungi.

 

“Kemarilah, duduk di sampingku.” Ia menarik Eungi ke arah sofa untuk duduk bersama dengan santai. “Untuk hari pernikahan kita dan kehidupan berumah tangga sampai akhir hayat!” Kyuhyun mengangkat gelasnya untuk toast dengan Eungi yang dibalas wanita itu dengan mengangkat gelasnya juga. Kyuhyun menyisip sedikit champagne dalam gelasnya sementara Eungi justru meletakkan gelas di tangannya ke atas meja.

 

“Aku harus bicara padamu.” Akhirnya ia membuka pembicaraan.

 

Ketegangan di wajah wanita itu masih sangat kentara dan dari nada bicaranya, Kyuhyun yakin pasti ada yang salah. Pasti ada yang disembunyikan isterinya itu sepanjang acara pernikahan tadi dan wanita itu siap meledak karena tidak bisa menahan pikirannya lebih lama lagi.

 

“Apa kau baik-baik saja?”

 

“Aish, berhentilah bertanya jika aku baik-baik saja.” Ia mendengus kasar.

 

“Kau terlihat bingung.” Kyuhyun meletakkan gelas di atas meja lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Eungi. “Eungi-ya, apa yang ingin kau bicarakan denganku?”

 

Eungi menggigit bibirnya, ia bisa merasakan matanya mulai memanas dan berair padahal ia belum berhasil memilih kata-kata yang tepat untuk mulai bicara.

 

“Eungi-ya, jangan bilang kau baru saja menyesali pernikahan kita?” Cecar Kyuhyun khawatir.

 

Eungi menggelengkan kepalangnya cepat dan langsung menangkupkan tangannya pada wajah Kyuhyun. “Tidak, demi Tuhan bukan itu. Tentu saja aku tidak menyesalinya. Aku sangat bahagia sekarang.”

 

“Lalu mengapa kau menangis?” Pria itu mengusapkan jemarinya di bawah pelupuk mata Eungi.

 

“Aku takut.”

 

“Upacara pernikahan sudah selesai, noona. Kita melakukannya dengan baik. Kita saling mengucapkan sumpah dan pernikahan kita sudah tercatat resmi sekarang. Apa lagi yang kau takutkan?”

 

“Janji padaku bahwa kau tidak akan mencampakkanku karena ini.” Bulir air mata lain jatuh dari pelupuk mata Eungi.

 

Kyuhyun menarik napas dalam, sedikit kesal dengan cara Eungi yang memutar-mutar kata-katanya. “Ada apa, Eungi-ya? Aku tidak akan mencampakkanmu. Apa kau gila? Aku sudah berjuang susah sekali untuk sampai di tahap ini bersamamu.”

 

Eungi bangkit dari duduknya untuk berjalan ke arah nakas di samping ranjang mereka, mengambil tas kecil berisi barang-barang penting miliknya. Dengan langkah yang semakin tertatih, ia kembali duduk di samping Kyuhyun sambil mempersiapkan mental.

 

“Aku baru mengetahuinya pagi ini dan aku takut.” Ia membuka tasnya.

 

“Apa yang baru kau ketahui? Noona, kau membuatku frustrasi sekarang.” Ia duduk tegak sambil merasa sangat gugup hanya karena menonton ketegangan di wajah Eungi.

 

Eungi mengeluarkan sebuah benda kecil seukuran thermometer dan memberikannya pada Kyuhyun. “Aku tidak tahu tentang ini sebelumnya, aku bersumpah. Aku juga mempertimbangkan untuk memberitahumu tentang ini pagi tadi sebelum kita menikah, tapi Van Wijk meyakinkanku untuk tetap menutup mulut dan tidak merusak suasana pagi tadi.” Suara Eungi semakin bergetar karena ia sudah mulai terisak. “Kumohon, jangan marah padaku.”

 

Kyuhyun tahu persis benda apa yang digenggamnya dan sekarang alisnya bertaut kebingungan, mencoba menterjemahkan makna indikator yang ada di benda itu. “Noona, apakah ini…” Ia mengangkat tatapannya dari alat itu dan menatap Eungi, “apakah kau sedang…”

 

Eungi menggigit bibirnya gugup masih sambil menangis dalam diam. “Maafkan aku, aku tidak tahu sebelumnya.”

 

Kyuhyun bisa merasakan serbuan emosi menyerang dirinya sekarang, kebingungan, kegemparan, kebahagiaan, rasa bangga, namun tidak satu pun dari emosi yang dirasakannya berhubungan dengan amarah pada isterinya.

 

“Inikah alasan mengapa kau tidak menyisip setetes alkohol pun hari ini?” Pria itu merasa kedua matanya memanas seiring senyuman di wajahnya melebar. “Apa anugrah ini benar-benar datang secepat ini untuk kita?”

 

“Apa kau marah?” Eungi menahan napasnya, menanti jawaban jujur Kyuhyun.

 

Kyuhyun menggeser duduknya lalu menarik Eungi ke dalam dekapannya. Pria itu membanjiri isterinya dengan banyak kecupan di seputar wajahnya sebelum ia mengecup mesra bibir Eungi yang masih bergetar.

 

“Noona,” ia menghapus sisa-sisa air mata di wajah Eungi. “Kau tidak perlu takut karena ini dan mengapa kau justru meminta maaf? Ini hal yang sangat baik.”

 

“Aku takut kau belum—kita belum—siap untuk ini.” Ujarnya jujur.

 

Kyuhyun terkekeh. “Kita berkencan lebih dari tiga tahun, kita sudah berusia tiga puluh tahun lebih, jelas kita sudah cukup dewasa dan kita pun sudah mapan sekarang. Kalau kita mau mengisi tiga kamar anak di rumah kita, bukankan kita memang harus menyegerakan segalanya?”

 

“Jadi kau tidak masalah?”

 

Kyuhyun mencium Eungi kembali. “Aku akan berbohong kalau bilang tidak terkejut. Selama ini kau meminum pil jadi memang berita ini sedikit mengagetkan. Tapi jika takdir kita seperti ini, jika anugrah ini datang sekarang, maka kuanggap ini sebagai hadiah terbaik yang bisa kau berikan untuk hari pernikahan kita.”

 

Rasanya beban di pundak Eungi benar-benar terangkat sekarang. Wanita itu tersenyum manis lalu menyandarkan kepalanya di atas bahu lebar suaminya, dalam hati merasa lega karena ia mendengarkan kata-kata Van Wijk pagi tadi.

 

“Tunggu dulu, noona. Si pak tua itu mengetahui berita penting ini sebelum aku?” Tanya Kyuhyun dengan nada kesal.

 

Eungi mengangguk. “Ia memaksaku untuk tetap bungkam sampai acara selesai. Dengan konyolnya ia bilang akan menjadi pertanda buruk jika mempelai pria dan wanita bertemu sebelum upacara berlangsung, bisa-bisanya pria tua itu percaya takhayul di saat-saat seperti ini.”

 

Kyuhyun menyandarkan kepalanya pada punggung sofa sambil menghela napas panjang. “Aku benar-benar semakin sentimen dengan profesor kita. Ia tahu banyak tentang hubungan kita, ia memainkan peran cupid sejak kita rujuk, ia memaksaku membaca bukumu bahkan ia menanamkan ide agar aku menjadi valedictorian jika ingin menikahimu…”

 

“Van Wijk melakukan itu?” Eungi tertawa geli.

 

Kyuhyun mengangguk. “Lalu sekarang dia pula yang menjadi orang pertama yang tahu tentang kehamilanmu. Damn! Kita benar-benar harus membuat perjanjian baru dan batasan-batasan yang jelas dengan pria itu.”

 

“Ia hanya melindungiku, Kyu.” Hibur Eungi.

 

“Aku tahu.” Ia mengecup puncak kepala Eungi. “Pantas saja kau terlihat berkilau hari ini, kudengar wanita yang sedang hamil memang memiliki kilau tersendiri.”

 

Eungi terkikik lalu memeluk Kyuhyun lebih erat. “Kukira kau akan kelabakan saat mendengar berita ini.”

 

“Kukira juga begitu.” Ia mengangguk, mengkonfirmasi kekhawatiran Eungi. “Tapi aku sudah bersumpah untuk menjagamu dan melindungimu sampai akhir hayat kita, jadi daripada aku kelabakan, lebih baik aku mensyukuri apa yang telah dititipkan pada kita.”

 

“Tapi aku masih ketakutan sekarang, Kyu. Bagaimana jika ternyata aku akan menjadi ibu yang buruk bagi anak kita?” Ia menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher Kyuhyun.

 

Pria itu mengecup puncak kepala Eungi sambil membelai punggungnya lembut. “Itu tidak akan terjadi, noona. Jika kau bisa merubah bocah brengsek bernama Cho Kyuhyun menjadi pria hebat yang sekarang mendekapmu, maka kau akan menjadi ibu yang sempurna bagi ketiga anak kita kelak.” Pria itu tersenyum lebar. “Aku tahu bahwa aku memilih wanita yang tepat untuk menghabiskan sisa hidupku.”

 

TAMAT!

 

Author’s note:

Terima kasih bagi yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan mengikuti perjalan power couple ini… Mudah-mudahan apa yang aku tulis bisa menghibur dan berkenan di hati kalian *bow*

71 thoughts on “One Last Shot Part 15 END

  1. Jujur, sedih harus pisah sama kyu-gi skrg. Mereka udh bahagia, gw juga ikut bahagia, tpi penasaran juga sama kehidupan rumah tangga mereka. Tpi gpp, yg penting mereka udh bahagiaaaaaaa. Makasih kak udh buat crita ini. This is rlly daebak. Kutunggu karya2 selanjutnyaaaa

    Suka

  2. OMG sumpah demi apapun ini keren banget ceritanyaa huhuuu
    aku belum pernah sama sekali ninggalin komentar di ff lain diblog ini, kecuali ff ini -yg bikin aku amaze banget-
    ditunggu karya selanjutnya, jujur aku lebih seneng kalo ff ini bakal ada sequelnya 🙂

    Suka

  3. hai thor.. maaf baru bisa tulis komen di part akhir. karena ngebut bgt bacanya. ff ini bagus
    banget bahasanya keren2, ceritanya deyail bgt baik dari tokoh maupun tempatnya. dan banyak ilmu yg gue dpt dari ff ini.

    Suka

  4. Hai min dan author nim sebelumnya saya minta maaf di part sebelum sebelumnya saya ga komen karena saya terbiasa komen setelah ceritanya END. dan jujur thor aku suka suka suka banget sama ff ini. Parah banget sukanya, aku suka jalan ceritanya dan konflik nya menurut aku itu ga mainstream. Aku yakin author nya pinter karena pasti author juga ngerti tentang desain, biasanya aku ga pernah.baca ff yang author nya ngejelasin objek (pekerjaan si pemeran) sedetail itu. Pokonya thor ini parah keren abis. Ku tunggu karya selanjutnya thor. Semangat❤❤

    Suka

  5. Wah komen2 diatas udh mewakili banget deh…..

    Sumpah buat admin flyngnc emng daebakkk …jago banget milih author & ceritanya…

    Favorit banget deh sama author Ssihobitt <3<3 Keren nih kalo sampe dipublish jadi novel :’3

    note: boleh ga kenalan sama authornya ? :v

    Suka

  6. akhirnya happy ending ,
    bingung mau kasih koment apa sama ini ff soalnya ff ini bagus banget dari segi penulisannya bahasanya alurnya pokoknya semuanya deh ,,
    salut sama perjuangan kyuhyun untuk meemntaskan diri bersading dengan eungi ..
    ada niatan gk ka ini ff buat di jadiin novel, ?
    soalnya ff ini udh sangat layak untuk di bukukan

    Suka

  7. Ini keren! Gak bisa ngomong apa2 lagi deh, pokoknya ini bagus banget! Hoho, Dr. cho Kyuhyun, Ph.D. Keren kali ya Kyuhyun punya gelar gitu. Udah master juga dia sebenernya. Salut banget sama idol satu ini. Itu, bagian Kyuhyun ngelamar Eungi. Awalnya, gak mikir ke situ. Demi apa, itu cara ngelamar terunik yg pernah au baca dari ff. Keren parah! Apalagi, apa yang disembunyiin Eungi waktu mau pemberkatan. udah mikir aneh2, Eungi hamil, Siwon hidup lagi, please ini bukan sinetron, wkwkwk… Finally happy ending! Thanks author udah bikin cerita ini. Gak berniat bikin novel kah? Ada blog? Cuma lagi-lagi, aku masih sedih karna yg komen cuma dikit. But, tetep semangat author!

    Suka

  8. Sukaa sekali dengan ff ini thor, gatau udah keberapa kalinya bilang suka sama ff ini, dan udh kesekian kalinya bilang ff jnj menginspirasi. Jujur awal aku pikir ini bakalan jadi ff yg isinya cinta2an doang, tapi pas aku baca part 2 dst aku sukaa bggt karna ff ini punya nilai kehidupan yg bisa menginspirasi org yg baca seengganya ini menginspirasi aku bgttt. Makasih buat author karna udh bikin ff sebagus ini. Aku harap author akan terus bikin ff sebagus dan jauh ebih baik dari ff ini. Aku gatau author bakalan baca komen aku atau ngga, yg jelas aku udh nahan untuk kasih kesan ini di part2 sebelum dan FYI ini pertama kalinya aku komen sepanjang dan setulus ini untuk ff… Maksih dan tetep semangat thor❤

    Suka

  9. Huft… Happy Ending ^^
    Sebenernya mah gue baru baca ampe part 8 (itu juga baru setengah) ㅋㅋㅋㅋㅋ Dan langsung loncat ke part terakhir, part 15 😀 hehe
    Soalnya gue panasaran pake banget sama endingnya, 50 sad ending : 50 happy ending dan ternyata 100% happy ending ^
    ^
    Kalo bisa sih ya kakak author, kasih sequelnya dong 😀 Penasaran sama Kyuhyun-Eungi pas udah punya anak dan gimana reaksi mereka selama Eungi hamil 😀 Sumpah penasaran banget gue, ㅋㅋㅋㅋㅋ
    Tapi kalo nggak bisa, ya nggak papa sih 🙂 Nggak maksa juga kok 😀 hehe
    Makasih kakak author sudah membuat cerita yang sangat wow ini ^^ Ditunggu cerita-cerita hasil karya kakak yang lain ^^ Fighting!!

    Suka

  10. ahh, akhirnya happy ending💞 ini ceritanya keren banget thorr!! kalo dijadiin drama series juga bagus bangett😍
    ngefeel bangett!! sukses buat ff selanjutnya thorr, semangattt!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s