When The Smile Being Ornate Part 4


 

Author : Irene Cho

Tittle : She’ Back

Category : NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast :

Cho Kyuhyun

Jung Nara

Disclaimer : This story is mine! Don’t copy without permission!

Note : Terimakasih untuk admin FNC yang udah mau publish tulisanku di blog ini dan terimakasih juga buat reader untuk apresiasinya. Part ini cukup panjang, maaf kalo ceritanya gaje, membosankan dan diksinya berantakan. Awas typo bertebaran.

 Happy reading ^^

 

~~~

 

Preview

Oppa!” dengan tiba-tiba seorang gadis memeluk Kyuhyun, hingga membuat pria itu terkejut, sementara Nara juga tak kalah terkejut.

 

“Aku merindukanmu.”

 

Story Begin

 

Aku ingin mencintaimu dengan cukup. Cukup banyak, hingga kau candu.*

 

Kyuhyun’s Home, Gangnam, Seoul.
07.00 PM KST

Kyuhyun dan Nara masih terpaku dengan kejadian yang tiba-tiba itu. Hingga akhirnya bibi Kim menarik lengan gadis yang memeluk Kyuhyun untuk menjauh.

 

“Maaf, Tuan Muda, Minji datang secara tiba-tiba, jadi saya tidak sempat mengatakan terlebih dahulu kepada Tuan Muda.” Bibi Kim terlihat Khawatir dan sedikit merasa kurang enak.

 

“E-Eo, tak apa, Ahjumma.” Kyuhyun sudah kembali dari keterkejutannya.

 

“Jadi ini Minji? putri Ahjumma itu?” Tanya Nara antusias. Karena Nara cukup sering mendengar cerita tentang Minji dari Bibi Kim maupun Kyuhyun. Namun Nara tak pernah melihat wajah Minji.

 

“Ne, Nona. Ini Minji putri saya. Mohon Maaf atas ketidaksopanannya.” Bibi Kim membungkuk kepada Nara dengan wajah menyesal. Wanita itu merasa tak enak hati dengan tindakan tiba-tiba putrinya terhadap Kyuhyun.

 

Gwaenchana.” Nara menyunggingkan senyumnya. “Bukankah Kyuhyun sudah menganggap Minji seperti adiknya sendiri, jadi kenapa disebut tidak sopan saat seorang adik memeluk kakaknya setelah tak bertemu sekian lama, benarkan Kyu?” Nara melirik Kyuhyun yang berdiri di sebelahnya.

 

“Benar,” jawab Kyuhyun dengan lengkungan di sudut bibirnya. “Ini sudah sangat lama, kenapa kau tak pernah berkunjung lagi setelah kau kuliah?” Tanya Kyuhyun pada Minji.

 

“Aish, jangankan berkunjung ke Seoul, untuk jalan-jalan di sekitar Busan saja aku tak bisa, setiap hari hidupku selalu dijerat tugas kuliah,” gerutu Minji.

 

“Benarkah? Bukan karena kau terlalu sibuk berkencan?” tanya Kyuhyun menggoda Minji.

 

“Pria-pria di sana tak ada yang menarik minatku, mereka tak sekeren pria-pria di seoul.” Minji menekuk wajahnya.

 

“Benar sekali, karena disana tak ada aku.” Kyuhyun menimpali dengan menyombongkan diri.

 

“Aku juga tak suka tipe pria sepertimu, kau terlalu dingin, dan tak berperasaan pada gadis yang selalu mengejarmu,” sengit Minji.

 

“Kau menceritakan pengalaman pribadimu, Minji-ya?” Kyuhyun tersenyum mengejek.

 

“Bukan,” sangkal Minji.

 

Minji kembali mengingat saat awal-awal ia bertemu dengan Kyuhyun. Saat itu libur musim panas. Ibunya mengajaknya ke Seoul, di sana ia tinggal di rumah besar nan mewah layaknya istana. tapi itu bukan rumahnya, melainkan rumah majikan ibunya, rumah keluarga Cho.

 

Saat itulah ia bertemu dengan Kyuhyun. Gadis itu meyukai Kyuhyun saat pertamakali melihatnya. Berbagai cara ia lakukan untuk menarik perhatian Kyuhyun, namun pria itu selalu saja bersikap dingin padanya.

 

Hingga akhirnya ia menyerah, dan Kyuhyun menawarkan status lain kepadanya, bukan sebagai kekasih, tapi sebagai adik. Yah, menjadi adik seorang Cho Kyuhyun, itu tak terlalu buruk.

 

Sejak saat itu mereka menjadi sangat dekat. Minji selalu tak sabar menanti libur sekolah datang, karena setiap liburan ia bisa bertemu dengan kakak tampannya, Cho Kyuhyun, karena ibunya pasti akan menjemputnya, untuk berlibur ke Seoul. Walaupun tidak berhasil menjadi kekasih Kyuhyun, setidaknya ia bisa terus dekat dengan lelaki itu sebagai seorang adik, yah … adik.

 

“Maaf, Nyonya dan Tuan Muda, bolehkah Minji tinggal di sini untuk beberapa hari, sampai ia mendapatkan pekerjaan? Setelah bekerja, maka kami akan mencari flat yang dekat dengan tempat kerjanya.”

 

Bibi Kim dan Minji sudah merundingkannya semalam, mereka akan meminta pada Kyuhyun untuk mengizinkan Minji tinggal dirumah ini selama beberapa hari, sampai gadis itumendapatkan pekerjaan. Karena ia akan memyewa flat murah yang dekat dengan tempat kerja Minji, untuk mengefesienkan pengeluarannya dan juga tenaga Minji saat bekerja nanti.

 

“Kenapa hanya beberapa hari? Akan bagus jika Minji tinggal di sini, bahkan setelah ia mendapat pekerjaan. Bukankah rumah ini mempunyai banyak kamar kosong? Minji-ya silahkan pilih kamar yang kau suka dan jangan berpikir untuk pindah ke manapun. Tinggallah di sini bersama kami,” sela Nara tak setuju dengan rencana bibi Kim.

 

“Benarkah, Eonni?” Minji terlihat bersemangat.

 

“Tentu saja,” jawab Nara dengan mengembangkan senyumnya.

 

GomawoEonni.” Minji menghambur memeluk Nara. “Tak apa kan kalau aku memanggil dengan panggilan Eonni?” tanya Minji setelah melepas pelukannya.

 

“Tentu saja, kau kan adik Kyuhyun, dan itu artinya kau juga adikku.” Nara memeluk Minji sambil tersenyum lebar.

 

“Kyu apa diperusahaan tak ada tempat untuk Minji?” Nara menoleh ke arah Kyuhyun setelah menyudahi pelukannya dengan Minji.

 

“Sepertinya ada. Tapi nanti akan ku pastikan dulu.”

 

Mianheoppa … eonni ….
Aku … ingin mendapat pekerjaan dengan jerih payahku sendiri. Selama ini keluarga Cho sudah banyak membantuku. Aku tak ingin menyusahkan lagi. Kalaupun aku ingin masuk ke perusahaan Oppa, aku akan mengirimkan surat lamaran dan mengikuti interview-nya. Aku tak mau masuk ke perusaahan dengan cara nepotisme, karena mungkin orang-orang akan meremehkanku tanpa melihat kemampuanku. Untuk itu biarkan aku berusaha sendiri,” ujar Minji dengan yakin dan percaya diri.

 

“Kau memang benar-benar Oh Minji” Kyuhyun mengusap kepala Minji, sambil tersenyum hangat.

 

Sementara bibi Kim terlihat bangga dengan keputusan putrinya. Wanita berusia 50-an tahun itu tak menyangka putrinya akan berpikiran sedewasa itu. Karena selama ini yang ia tau putrinya itu agak pecicilan, dan hanya bisa mengeluh.

 

Putri kecilku sudah dewasa, batinnya.

 

“Baiklah jika itu menjadi keputusanmu, tapi jika nanti kau menemukan kesulitan, jangan sungkan untuk meminta bantuan kami, kau tahu kanpersaingan untuk masuk ke perusahaan besar sangat ketat?” Nara memperingatkan.

 

“Siap kapten.” Minji menempelkan tangan di keningnya, bergaya seperti seorang prajurit yang memberi hormat kepada kaptennya.

 

Mereka semua terkekeh.

 

“Terimakasih banyak, Tuandan Nyonya.” Bibi Kim sangat bersyukur memiliki majikan yang menganggapnya seperti keluarga.

 

“Ne, Ahjumma.”

 

“Baiklah, kami ke atas dulu.”

 

Ne” jawab Bibi Kim dan Minji bersamaan.

 

“Merekke atasr-benar terlihat sangat serasi,” tutur Minji, setelah Kyuhyun dan Nara tak terlihat lagi dari pandangannya.

 

“Benar.” Bibi Kim menyahuti. Semoga kebahagiaan selalu menyertai mereka, sambungnya dalam hati.

***

 

“Hah … aku benar-benar lelah.” Nara langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang setelah sampai di kamar.

 

“Istirahatlah,Ra-ya.”

 

Kyuhyun terlihat merasa bersalah karena membuat istrinya itu kelelahan.

 

“Heum … aku ganti baju dulu. Kau jga gantilah bajumu, Kyu. Dan langsung istirahat, bukankah besok kau harus berangkat pagi ke kantor?”

 

Nara bangkit dari pembaringannya. Perlahan melangkah menuju wallking closet.

 

“Hah … aku semakin lelah jika mengingat aktivitas besok,” gerutu Kyuhyun, lalu mengikuti Nara masuk ke wallking closet.

 

“Kemarilah, Kyu.” Nara tengah bersandar di headboard ranjang. Ia tidak langsung berbaring setelah keluar dari wallking closet.

 

Kyuhyun naik ke atas ranjang, mengahampiri Nara dan dengan seketika Nara merebahkan kepala Kyuhyun di dadanya. Ia mengelus pelan surai coklat Kyuhyun, mencoba membuat Kyuhyun nyaman bersandar padanya. Sementara Kyuhyun memeluk pinggang Nara.

 

“Kau terlalu fokus dengan perusahaan, bahkan saat libur pun, kau terkadang harus ke kantor atau menghadiri pertemuan bisnis.” Nara membuka pembicaraan. Terselip nada protes dalam kalimatnya.

 

“Ini demi masa depan kita Ra-ya, kalau aku tidak bekerja keras, maka aku tak akan bisa mencukupi kebutuhan kita, dan juga anak-anak kita nanti. Aku hanya tak ingin orang-orang yang kucintai hidup dalam kekurangan. Dunia bisnis itu sangat keras, sekarang kehidupanmu berkecukupan, tapi bisa saja besok semuanya berbalik,” ujar Kyuhyun menjelaskan.

 

“Aku tahu, Kyu, tapi tak bisakah kau mengambil cuti untuk liburan selama beberapa hari saja? lalu tinggalkan pekerjaanmu pada asistenmu. Bukankah kau memiliki asisten dan sekretaris yang bisa menggantikan tugasmu untuk sementara? Atau kau coba minta bantuan Donghae oppa, aku rasa Donghae oppa lebih dari mampu untuk menggantikan tugasmu selama beberapa hari.

 

“Aku tak ingin kau jatuh sakit, biar bagaimanapun kesehatanmu lebih penting, jangan terlalu memforsir tubuh dan pikiranmu.” Nara terdengar khawatir.

 

Walaupun saat ini Kyuhyun terlihat sehat-sehat saja, tapi ia takut, seiring dengan padatnya kegiatan Kyuhyun, maka kesehatannya juga bisa terancam jika tubuh dan pikirannya terlalu diforsir utuk bekerja. Karena sejak menduduki kursi CEO Cho Corporation, suaminya itu hampir tak pernah pergi berlibur, ia terlalu sibuk mengurus perusahaan.

 

Kyuhyun nampak berpikir. Ia menimbang-nimbang saran dari istrinya itu.

 

“Baiklah, Sayang. Aku akan mencoba minta bantuan Donghae hyung, dan kita akan pergi berlibur.” Kyuhyun mengeratkan pelukannya di pinggang Nara, membuatgadisitutersenyumlega, karenaKyuhyunakhirnyamenurutiucapannya.

 

“Ngomong-ngomong, kau ingin berlibur kemana?” Kyuhyun mendongak menatap Nara.

 

“Hmmm ….” Nara terlihat berpikir. “Maldives, sepertinya menyenangkan. Hamparan pantai yang indah dan suara deburan ombak bisa membuat pikiran relax, bagaimana?”tanya Nara bersemangat. Gadisitusebenarnyasudah lama inginpergikesanabersamaKyuhyun, tapimelihatkesibukanKyuhyun, iamemilihmemendamnyasaja.

 

Okejoha.”

 

Kyuhyun mengecup sekilas bibir Nara, ia merubah posisinya, lalu menarik Nara untuk bersandar di dadanya.

 

“Ra-ya, mengenai Minji … apa kau benar-benar tak keberatan?” tanya Kyuhyun. Pria itu sedikit khawatir, mungkin saja Nara tak begitu menyukai kehadiran orang lain di rumah mereka. Walaupun tadi Nara sepertinya menerima dengan senang hati, tapi mungkin saja itu hanya karena ia merasa tak enak pada bibi Kim.

 

“Tentu saja tidak, Kyu. Aku justru senang, karena impianku untuk mempunyai adik perempuan terwujud. Aku bisa melakukan hal-hal menyenangkan dengannya, seperti belanja, kesalon dan bergosip.” Nara tersenyum membayangkan hal-hal menyenangkan yang bisa ia lakukan bersama Minji.

 

“Kau ingin mempunyai adik perempuan hanya untuk diajak bergosip?” kaget Kyuhyun, karena yang ia tahu istrinya itu tak suka melakukan hal-hal yang baru saja disebutkan oleh Nara.

 

“Bukan begitu maksudku, aku ingin melakukan hal-hal yang biasa dilakukan wanita saat bersama teman-temannya, karena dari dulu tak ada yang mau berteman denganku.”

 

Kyuhyun mengerti maksud Nara dengan kalimat ‘tak ada yang mau berteman denganku’. Sebagai keluarga konglomerat, Kyuhyun juga pernah mangalami hal yang dialami Nara.

 

Orang-orang mendekatinya hanya karena ia adalah putra mahkota dari kerajaan bisnis Cho Corporation, tapi saat di belakangnya orang-orang itu akan mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya, khas seorang penjilat.

 

Tapi beruntung Kyuhyun bertemu dengan Siwon, Donghae dan Hyukjae. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah memandang Kyuhyun sebagai pewaris “kerajaan bisnis” Cho Corporation, mereka tulus ingin berteman dengan Kyuhyun, junior mereka.

 

Namun Nara tak seberuntung Kyuhyun. Walaupun ia sempat mempunyai sahabat serta seorang kekasih saat High School, tapi akhirnya kedua orang itu mengkhianatinya. Beruntung Nara masih memiliki dua orang sepupu yang tak pernah membiarkan gadis itu kesepian.

 

“Minji adalah gadis yang periang, dan dia bukanlah tipe orang yang mendekati orang lain karena ada maunya, dia adalah gadis yang tulus. Kau pasti akan cocok dengannya.” Kyuhyun mencoba meyakinkan Nara bahwa tidak semua orang seperti yang ia pikirkan. Masih ada orang-orang yang memiliki hati yang tulus.

 

“Iya, Kyu. Aku tahu. Aku bisa melihat ketulusan dari matanya.”

 

“Baiklah,Nyonya Cho, selamat bersenang-senang dengan adik barumu.” Mereka terkekeh.

 

“Cah, ayo kita tidur, sepertinya kau sangat kelelahan.” Kyuhyun membawa Nara berbaring, dengan posisi memeluk Nara.

 

“Kau yang membuatku kelelahan, Kyu.”

 

“Hey,Nyonya Cho, aku hanya berusaha memenuhi keinginan ketigamu,” seringai Kyuhyun.

 

“Dasar pervert.”

***

A Street, Jeju
09.00 PM KST

“Aish … sial! Kemana si evil itu? Kenapa tak menjawab panggilanku?” gerutu Donghae.

 

Ini sudah panggilannya yang ke sepuluh ke nomor Kyuhyun, tapi panggilannya selalu dialihkan ke kotak suara, padahal ada sesuatu yang penting yang harus ia sampaikan mengenai proyek pembangunan departement store milik Siwon.

 

“Apa dia sudah tidur? Tapi ini baru jam 9,” herannya, karena tak biasanya sahabat yang sekaligus atasannya itu tidur di awal malam.

 

“Ah, mungkin besok saja aku hubungi lagi.”

 

Donghae meletakkan kembali ponselnya, lalu kembali berkonsentrasi menyetir. Namun saat melewatisebuah jembatan, samar-samar matanya menangkap sosok seorang gadis sedang berdiri di atas pagar pembatas jembatan itu. Tanpa perlu berpikir panjang, Donghae tahu apa yang akan dilakukan gadis itu.

 

Dengan seketika ia menghentikan mobilnya, dan bergegas berlari menuju tempat gadis itu berdiri, lalu Donghae langsung menarik lengangadis tersebut hingga jatuh menimpanya.

 

Gadis itu terkejut melihat wajah Donghae yang tepat berada di depan wajahnya. Ia langsung bangun, diikuti Donghae.

 

“Apa yang kau lakukan?” geramnya.

 

Gadis itu menatap tajam pada Donghae. matanya memancarkan aura ketidaksukaan, seolah Donghae menghentikan ia untuk melakukan hal yang paling ia sukai.

 

“Aku sedang menghentikan seorang gadis bodoh, untuk melakukan hal bodoh,” jawab Donghae dengan santai, seolah tatapan tajam itu tak berpengaruh bagi dirinya.

 

“Jangan mencampuri urusanku, dan pergilah,” sengit gadis itu.

 

“Lalu kau akan melakukan hal bodoh itu lagi?”

 

“Bukan urusanmu!”

 

“Aku tak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi hingga membuatmu memilih melakukan hal bodoh ini. Tapi yang harus kau ingat, masalahmu tak akan selesai saat kau memilih mengakhiri hidupmu.”

 

“Aku tak peduli,” tandas gadis itu dengan raut dingin.

 

Donghae terlihat sedikit frustasi, karena gadis ini begitu keras kepala. Ia berusaha memikirkan cara lain untuk menghentikan niat gadis tersebut.

 

Dia pasti akan mencoba melompat lagi jika aku tinggalkan, batin Donghae.

 

“Saat kau ingin mengakhiri hidupmu seperti ini, apa kau tak pernah berpikir? mungkin saja ada seseorang di luar sana yang ingin memiliki kehidupan yang sekarang kau miliki,” ujar Donghae.

 

“Cih ….” Gadis itu berdecak, mengejek perkataan Donghae yang sangat naif menurutnya.

 

“Aku menjadi penyebab kematian adikku, dan karena itu ibuku membenciku, lalu kekasihku meninggalkanku untuk menikah dengan gadis lain. Menurutmu adakah orang-orang di luaran sana yang ingin berada di posisiku? aku yakin mereka juga akan memilih mengakhiri hidupnya karena merasa begitu benci dengan dirinya sendiri.”

 

Donghae mulai mengerti dengan perasaan gadis ini. Ia terlalu terpukul dan frustasi, tapi sepertinya tak ada seorangpun yang berusaha menguatkannya.

 

“Kau tahu takdir?” tanya Donghae dengan lembut.

 

Gadis itu hanya menunjukan ekspresi jengahnya, ia begitu benci mendengar kata itu. Ia sangat ingin menentang takdir yang merenggut kebahagiaannya.

 

“Takdir adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Tuhan dan tak bisa dirubah lagi. Sekuat apapun kau mencoba menentang takdir, usahamu pasti tak akan pernah berhasil.” Donghae memandang wajah gadis itu yang terlihat tanpa ekspresi.

 

“Saat adikmu meninggal, Tuhan telah menetapkan takdir seperti itu untuknya. Itu artinya Tuhan lebih sayang padanya sehingga ia memanggil adikmu untuk lebih cepat menemui-Nya. Lalu saat kekasihmu meninggalkanmu, saat itu Tuhan sedang berbicara kepadamu, bahwa dia bukan untukmu, karena Tuhan telah mempersiapkan lelaki terbaik untukmu, jadi tugasmu hanyalah menunggu sampai Tuhan mengirimkannya padamu.”

 

Donghae mencoba berbicara selembut mungkin, karena ia tahu gadis itu sangat sensitif saat ini.

 

“Dan mengenai ibumu, aku yakin dia tidak membencimu. Ibumu hanya butuh waktu untuk menerima kematian adikmu. Hatinya juga pasti teriris saat memperlakukanmu dengan buruk. Karena tak ada satupun orang tua di dunia ini yang membenci anaknya.”

 

Donghae melihat ekspresi gadis itu sudah melembut.

 

“Seseorang pernah berkata padaku, bahwa pelaut yang tangguh takkan lahir di lautan yang tenang. Pelaut yang tangguh, lahir di tengah deraan badai, karena di balik badai ia akan bisa melihat pelangi yang indah, pengobat hati setelah dilamun badai.**

 

“Jika kau bersabar dan bertahan dengan semua kemalangan yang menimpamu saat ini, maka kau akan menuai kebahagiaan yang akan membuatmu terpana dan melupakan semua rasa sakit yang menderamu selama ini.”

 

Donghae mengakhiri kalimatnya saat ia melihat mata gadis itu sudah berkaca-kaca.

 

“Bernarkah …? Benarkah ada kebahagiaan yang menungguku jika aku bertahan?” Gadis itu mulai sesenggukan, dan tak lama ia mulai meraung.

 

Donghae membawa gadis itu kedalam pelukannya, seolah berkata bahwa ‘kau tak sendirian’. Mencoba menyalurkan kekuatan agar gadis itu bangkit dari keterpurukannya. Gadis itu begitu rapuh, sehingga membuat Donghae begitu ingin melindunginya.

 

“Tentu saja. Kau harus percaya pada janji Tuhan.”

***

 

A Supermarket, Seoul
10.00 AM KST

Nara dan Minji tengahberada di supermarket. Tadi pagi Nara mencegat bibi Kim saat wanita itu akan pergi berbelanja, dia bilang ingin mencoba berbelanja bahan makanan bersama Minji, dan juga ingin memasak bersama Minji. Sepertinya Nara sangat menyukai sifat periang anak bibi Kim itu. Sehingga setelah menyiram dengan kilat bunga-bunga di green house-nya, ia langsung menyeret Minji untuk pergi bersamanya.

 

“Apa kita sudah membeli semuanya, Minji-ya?” tanya Nara sambil memeriksa belanjaannya di dalam trolley.

 

Minji memeriksa daftar belanjaan yang tadi diberikan oleh bibi Kim.

 

“Kita masih belum membeli rumput laut dan ikan tuna, bukankah kita akan membuat gimbab untuk makan siang nanti?”

 

“Oh benar, aku melupakan itu. Ayo kita cari ke sebelah sana.”

 

Nara sudah bersiap melangkah, namun lengannya dicekal oleh Minji.

 

“Kenapa, Minji-ya? tanya Nara dengan dahi berkerut.

 

“Eum … itu … Eonni, aku harus kekamar kecil dulu, dari tadi aku menahan hasrat untuk buang air kecil.”

 

“Ya! kenapa menahannya? Cepat selesaikan urusanmu,” suruh Nara khawatir.

 

Nde, aku akan kembali dengan cepat.”

 

Minji langsung berlari menuju toilet. Sementara Nara hanya menggeleng melihat kelakuan gadis itu.

 

Sambil menunggu Minji menyelesaikan urusannya di toilet, Nara mengedarkan pandangan kesekitarnya. Mungkin saja ada sesuatu yang menarik yang bisa ia beli diluar daftar yang diberikan bibi Kim, pikirnya.

 

Namun matanya menangkap sosok anak laki-laki yang sepertinya berusia 5 tahunan sedang menangis. Nara tertarik untuk menghampiri anak itu.

 

“Hey, kenapa menangis?” ujar Nara lembut, lalu ia berjongkok untuk menyesuaikan tingginya dengan anak itu.

 

“Ibuku hilang, aku sudah mencari ke mana-mana, tapi aku tak menemukan ibu,” jawab anak itu masih sambil menangis.

 

Nara merasa kasihan melihat anak itu. Ia teringat saat ibunya meninggal, ia juga menangis seperti itu. Nara tahu bagaimana rasanya kehilangan ibu, walaupun kasusnya berbeda dengan anak ini. Setidaknya anak ini masih bisa bertemu dengan ibunya, sementara ia hanya bisa bertemu dalam mimpi dan kenangannya saja.

 

Nara melihat ke sekelilingnya. Ia mencari-cari petugas keamanan yang mungkin saja berada di dekat mereka, setidaknya nanti dia bisa melaporkan tentang anak yang terpisah dari ibunya ini, dan meminta bantuan petugas itu untuk memberikan pengumuman agar ibu anak ini bisa mengetahui keberadaan anaknya. Namun Nara tak menemukan keberadaan petugas keamanan di sekitar sana.

“Ayo kita cari petugas keamanan dan melaporkan tentang kehilanganmu, agar nanti ibumu bisa menemukanmu,” lembut Nara.

 

“Bukan aku yang hilang, Ahjumma, tapi ibuku.” Anak itu berkata dengan aksen bocah dan ekspresi polosnya.

 

“Oh, baiklah, ayo kita umumkan tentang ibumu yang hilang.” Nara mengalah. Ia tersenyum, “dan … jangan panggil aku Ahjumma, aku tak setua itu, panggil aku Noona saja.” Nara tak terima dipanggil ‘ahjumma’. sementara anak itu hanya diam, ia tak menanggapi Nara, sepertinya ia masih kebingungan.

 

“Ngomong-ngomong, siapa namamu?”

 

“Jaehyun-ah!”

 

Mereka berdua secara bersamaan menoleh ke asal suara.

 

Eomma …”

 

Anak itu segera berlari kearah wanita yang ia panggil ‘eomma‘ itu.

 

“Syukurlah eomma bisa menemukanmu.” Wanita itu langsung berjongkok, memeluk dan menciumi wajah anak itu, terlihat raut kelegaan dari wajahnya.

 

“Jadi namamu Jaehyun?” tanya Nara, ia mendekati ibu dan anak itu.

 

Wanita itu mendongak, lalu berdiri.

 

“Benar, namanya Jaehyun.” Ia tersenyum. “Terimakasih sudah menemukannya” wanita itu membungkuk.

 

“Sama-sama.” Nara balik tersenyum. “Tadinya aku akan melaporpadapetugaskeamananuntuk mengumumkan tentang kehilangannya, tapi untunglah Anda segera datang.”

 

“Iya, aku tak sadar telah kehilangannya. Sepertinya dia pergi ke tempat mainan saat aku sedang sibuk memilih sayuran.”

 

Nara bejongkok, mengusap lembut kepala Jaehyun.

 

“Jaehyun-ah, kalau kau ingin membeli mainan, harus bilang pada ibumu dulu, jangan pergi sendiri. Jangan buat ibumu khawatir lagi ya.” Nara berkata dengan lembut. Sementara bocah itu hanya diam, ia menggenggam erat tangan ibunya, seolah-olah takut kehilangan ibunya lagi.

 

“Bolehkah aku tahu siapa namamu?” tanya wanita itu pada Nara.

 

“Tentu saja, aku Nara, Jung Nara.” Nara mengulurkan tangannya.

 

“Aku Sena, Han Sena. Senang berkenalan denganmu, Nara-ssi.” Wanita itu memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan Nara.

 

“Aku juga senang berkenalan denganmu, Sena-ssi, apalagi dengan Jaehyun, dia sangat menggemaskan.” Nara mengalihkan pandangnnya ke arah Jaehyun, sementara Jaehyun memasang ekpresi menggemaskan khas anak-anaknya.

 

“Sekali lagi, aku benar-benar berterimakasih karena sudah menjaga uri Jaehyun, Nara-ssi.”

 

Ne, Sena-ssi,” ujar Nara sambil tersenyum simpul.

 

“Apa kau sudah selasai berbelanja? Kalau sudah, ayo ku antar pulang. Kebetulan aku sudah selesai.” Sena ingin menunjukan rasa terimakasihnya.

 

“Terimakasih Sena-ssi, tapi aku belum selesai, masih ada yang harus kubeli. Lagipula aku membawa mobil, dan aku kemari bersama adikku.” Nara menolak dengan sopan.

 

“Kau bersama adikmu? Tapi dari tadi kulihat kau sendirian,” heran Sena.

 

“Adikku sedang ke toilet.”

 

“Oh begitu, baiklah, Nara-ssi.” Sena merogoh handbag-nya lalu menyerahkan benda pipih berbentuk segi empat pada Nara. “Ini kartu namaku.”

 

Nara menerima kartu nama itu, ia membaca sekilas. “Kau seorang designer, Sena-ssi?” Nara terlihat terkejut.

 

“Iya, kapan-kapan berkunjunglah ke butikku, akan kutraktir kau makan siang.”

 

“Akan aku usahakan.”

 

“Baiklah, aku dan Jaehyun pulang dulu. Jehyun-ah ayo pamitan pada noona.”

 

“Aku pulang, Noona.” Jaehyun berbicara dengan suara khas anak-anaknya yang menggemaskan, membuat Nara ingin sekali mencium dan mencubit pipi tembamnya.

 

Ne, Jaehyun-ah, ayo kita bertemu lagi.” Nara berjongkok lalu mengusap kepala Jaehyun.

 

“Kalau begitu aku pergi dulu, Nara-ssi.” Sena membungkuk berpamitan.

 

Ne ….”

 

Sena melangkah menjauh sambil menggiring Jaehyun. Sementara Nara terus memandangi sampai mereka menghilang dari pandangannya. Dengan perlahan keinginan untuk memiliki buah hati bersama Kyuhyun kembali menguat dalam dirinya, saat melihat Jaehyun yang menggemaskan.

 

Eonni! maaf, aku terlalu lama ya?”

 

Minji mengejutkan Nara dari lamunannya. Gadis itu memasang wajah menyesalnya, karena sudah membuat Nara menunggu cukup lama.

 

” Aish … ini gara-gara Ahjumma cerewet itu,” gerutunya.

 

Ahjumma cerewet?” Tanya Nara tak mengerti.

 

“Eo, tadi ada Ahjumma yang membuang tisu sembarangan di toilet. Saat aku menegurnya dengan sopan, dia malah menghujaniku dengan kata-kata yang sangat pedas, hingga membuat telingaku panas.”

 

“Dan kau bertengkar dengan ahjumma cerewet itu di toilet?” tebak Nara.

 

Ne … hehehe” Minji menjawab sambil menyengir.

 

“Kau benar-benar sesuatu, Oh Minji,” gumam Nara.

 

***

 

Cho Enterprise Building, Seoul.
10.00 AM KST

Ruangan direktur Cho Enterprise itu terlihat sepi dan lengang, karena penghuninya sedari tadi hanya sibuk melamun dan memandangi sebuah kalung yang saat ini ada di genggamannya.

 

Lee Donghae, sepertinya tak pernah bosan memandangi kalung itu, sejak ia memungutnya dari seminggu yang lalu. Kalung itu seolah mengalihkan dunianya, hingga membuatnya hanya terfokus pada benda itu.

 

Sebenarnya yang menjadi titik fokus Donghae bukanlah kalung itu, tapi si pemilik kalung. Gadis yang secara tak sengaja ia temui saat ia berada di Jeju. Gadis rapuh yang ingin ia lindungi.

 

Apakah ia baik-baik saja sekarang? Adakah seseorang yang menguatkannya saat ini?Setidaknya itulah pertanyaan yang ada di pikirannya saat memandangi kalung itu, hingga ia tak menyadari kehadiran seseorang di ruangannya.

 

“Apa yang sedang kau pikirkan, Direktur Lee?”

 

Suara itu terdengar berat, khas suara seseorang yang sedang menahan emosi, yang akhirnya bisa menyeret seorang Lee Donghae kembali ke ruangan itu, karena sedari tadi pikiranya terus melayang-layang ke pulau Jeju.

 

“E-eo … Kyu, kapan kau masuk?” tanyanya sedikit gelagapan.

 

“Yak, Hyung, apa yang sedang kau pikirkan? Kau melamun seperti ayam mau mati besok saja,” kesal Kyuhyun.

 

“Astaga, biacaramu, Kyu! kau mengaharapkan aku mati besok?” kesal Donghae.

 

Kyuhyun mengabaikan ucapan Donghae dan memilih fokus pada bandul kalung yang digenggam Donghae.

 

“Jung Eunji?” tanya Kyuhyun dengan dahi berkerut.

 

Donghae secepat kilat menyimpan kalung itu kedalam laci meja kerjanya.

 

“Kenapa menyimpannya? Apa itu kalung curian?”tanyaKyuhyunpenuhminat.

 

“Kau semakin ngawur saja, Kyu.”

 

“Kau yang ngawur dari tadi, Hyung, kau hanya termenung saat aku memanggil-manggilmu. Apa gara-gara kalung itu?” selidik Kyuhyun.

 

“Sudahlah, tak perlu membahas kalung itu. Ngomong-ngomong kenapa kau tiba-tiba datang kemari?”

 

Donghae mengalihkan pembicaraan, karena ia belum ingin menceritakan tentang gadis itu pada orang lain.

 

“Aku hanya ingin menanyakan perkembangan proyek di Jeju,”jawabKyuhyun.

 

“Aku sudah menyuruh sekretarisku mengantar laporannya ke ruanganmu.”

 

“Aku belum mendapatkannya.”

 

“Mungkin tadi kalian berselisih jalan, tapi tumben sekali kau datang kesini hanya untuk menanyakan sebuah laporan?”tanyaDonghae, karenatakbiasanyaKyuhyunberkunjungkeruangannyahanyauntuksebuahlaporan.

 

“Sebenarnya ada hal lain yang ingin kubicarakan,”jawabKyuhyundenganekspresiserius.

 

“Hal lain?”keningDonghaemengerut. Hal lain apa yang ingindibicarakanKyuhyunpadanya?

 

Ne. Seminggu lagi aku dan istriku berencana akan pergi berlibur, mungkin sekitar 2 minggu, jadi bisakah kau menggantikanku untuk menghadiri beberapa meeting bersama para investor dan juga memeriksa beberapa laporan?”

 

“Woo … apa kau akan melangsungkan bulan madu keduamu?” tanya Donghae meledek.

 

“Anggap saja begitu.” Kyuhyun menjawab dengan santai.

 

“Pergilah, Kyu, kau sepertinya juga sangat butuh liburan. Jangan pikirkan apapun. Urusan perusahaan serahkan saja padaku.”

 

“Yah … setidaknya aku bisa secepatnya mengabulkan keinginan ketiga istriku.” Kyuhyun menyeringai.

 

“Keinginan ketiga?”

 

“Kau tak perlu tahu.”

 

“Aku juga tak ingin tahu,” sungut Donghae.

 

“Eoh benar, tadi Hyukjae menghubungiku, dia bilang Siwon mengajak kita untuk makan siang bersama di tempat biasa.”

 

“Kuda alay itu sudah kembali?”

 

“Kemungkinan pesawatnya tiba di Incheon siang nanti.”

 

“Aku sedang tak ingin makan diluar, istriku pasti sudah memasak untukku.”

 

“Kalau begitu biar kami ikut makan siang ke rumahmu, sudah lama juga aku tidak mencicipi masakan Nara.”

 

“Jangan datang ke rumahku, kau pikir rumahku panti sosial?”sergahKyuhyuncepat.

 

“Ayolah, Kyu, sudah lama kita tidak makan siang bersama,”bujukDonghae. Priaitusebenarnyajugainginmenikmatimakansiangbersamaparasahabatnya, karenasudah lama merekatidakmakansiangbersama, terlebihsejakKyuhyunmenikah.

 

“Tidak!”bantahKyuhyuntegas.

 

“Aish … dasar pelit. Pantas saja kau kaya,” dengus Donghae.

 

***

 

Kyuhyun’s Home, Gangnam, Seoul.
12.20 PM KST

Nara menghentikan aktivitasnya menata meja makan, saat ia mendengar deru mesin mobil di depan rumahnya. Setelah sampai di ruang depan, ia melihat Kyuhyun sudah melangkah memasuki rumah.

 

Nara menyambut Kyuhyun dengan senyum manisnya, hingga senyuman itu juga menular pada kyuhyun. Kyuhyun mendekati Nara, meraih pinggang Nara, menyapu jarak diantara mereka, kemudian Kyuhyun mengecup sekilas kening Nara, lalu turun ke bibirnya. Hanya sebuah kecupan singkat.

 

“Kau telat, Kyu.”

 

“Iya, tadi ada beberapa laporan untuk meeting nanti, yang harus ku periksa.”

 

Kyuhyun merangkul pinggang Nara, lalu mereka berjalan menuju ruang makan.

 

“Eo, kenapa ada banyak sekali makanan? apa ini hari yang spesial?”kagetKyuhyun, saatmelihatmejamakan yang penuhdenganmakananketikamerekasampai di ruangmakan.

 

“Heumm … bisa dibilang begitu, karena hari ini ada tamu spesial,”jawab Nara sambiltersenyumpenuharti.

 

“Tamu spesial?” Dahi Kyuhyun mengernyit. Pria itu tak mengerti dengan tamu spesial yang dimaksud Nara.

 

Annyeong, Kyuhyun-ah!”

 

Tiba-tiba muncul tiga orang, yang demi apapun ingin Kyuhyun tenggelamkan saat itu juga.

 

“Ya! Kenapa kalian di sini?! Bukankah tadi aku sudah melarang kalian datang kemari?!” teriak Kyuhyun.Kyuhyun terlihat sangat kesal pada ketiga sahabatnya itu. Ia merasa kehadiran mereka bisa merusak quality time-nya bersama Nara.

 

“Jangan begitu, Kyu, bukankah kita sudah lama tidak makan siang bersama, lagipula anggap saja ini sebagai pesta penyambutan untuk Siwon oppa yang baru pulang dari Italia.” Nara mencoba menenangkan Kyuhyun.

 

“Nara benar, Kyu.” Hyukjae menyahuti, yang seketika mendapat delikan tajam dari Kyuhyun.

 

“Sudahlah, ayo kita langsung makan saja, bukankah kau ada meeting setelah ini?”

 

Kyuhyun menyeret kursi makansambilmenggerutu, dan langsung menjatuhkan bokongnya dikursi itu, lalu diikuti Nara dan ketiga sahabatnya.

 

“Kalian benar-benar menguras semua isi kulkasku,” desis Kyuhyun kesal, setelah melihat betapa banyaknya makanan yang tersaji di meja makan.

 

“Kau tak akan jatuh miskin hanya karena kami menguras isi kulkasmu,” dengus Siwon.

 

“Sudah, jangan bertengkar dimeja makan.”

 

Nara mencoba menengahi, terkadang ia tak mengerti dengan keempat pria ini. Mereka pria dewasa, tampan dan mapan yang membuat siapapun akan terkagum-kagum dengan karismanya, tapi jika mereka sudah berkumpul, maka mereka akan kembali seperti anak kecil. Bertengkar, saling mengejek dan terkadang juga suka menjahili satu sama lain.

 

Para lelaki hanya akan tumbuh besar, tapi mereka tak akan pernah dewasa. Mungkin ungkapan itu benar adanya.

 

“Kyu, tadi aku membeli banyak bahan makanan saat Donghae oppa mengatakan bahwa mereka akan makan siang di sini, jadi kau jangan mengkhawatirkan isi kulkas kita.” Nara mencoba memberi pengertian pada Kyuhyun, walupun ia tahu bukan isi kulkas itu yang menjadi permasalahan bagi Kyuhyun.

 

“Sudahlah, jangan membahas isi kulkas lagi, sebaiknya kita langsung makan saja.” Nara kembali menengahi. Terkadang ia merasa seperti seorang ibu yang melerai anaknya bertengkar, saat situasi seperti ini.

 

“Suapi aku,” ucap Kyuhyundengan nada manja.

 

Perkataan Kyuhyun membuat mata ketiga sahabatnya itu terbelalak secara otomatis. Satu hal yang ada di pikiran mereka, Kyuhyun mencoba memanas-manasi mereka, dengan bertingkah manja pada Nara.

 

“Tanganmu baik-baik saja kan, Kyu?”

 

“Tidak, Sayang, tanganku tidak baik-baik saja, tanganku terasa sedikit keram, karena dari pagi aku menandatangani beberapa berkas, jadi kau harus menyuapiku.” Kembali Kyuhyun berkata dengan nada manja.

 

“Ah sudahlah … aku sudah kehilangan nafsu makanku.” Hyukjae meletakkan sumpitnya.

 

“Kenapa kau mengajak kami kesini, Donghae-ya?” gerutu Siwon.

 

“Aku juga tak menyangka akan begini,” dengus Donghae.

 

Sementara Kyuhyun hanya menunjukan evil smirk-nya, karena ia berhasil membuat para sahabatnya itu kesal.

 

“Tanganmu baik-baik saja, Kyu. Kau bisa memegang sumpitmu sendiri.” Nara menolak permintaan Kyuhyun, karena ia merasa tak enak hati dengan para sahabat suaminya itu.

 

“Aku tidak mau, biasanya kau selalu mau menyuapiku walau tanganku baik-baik saja.”

“Sekarang kita sedang ada tamu, Kyu.”

 

“Mereka benar-benar mengganggu,” gerutu Kyuhyun.

 

Siwon, Donghae dan Hyukjae terkikik melihat Kyuhyun menekuk wajahnya karena Nara tak menuruti permintaannya.

 

Oppa, ayo dilanjutkan makannya.”

 

“Tentu saja, Adik Ipar.” Donghae menunjukan gummy smile-nya.

 

Kimbab ini terlihat enak.”

 

Hyukjae sudah mengapit kimbab itu dengan sumpitnya, namun tiba-tiba sumpitnya ditahan seseorang.

 

Kimbab ini punyaku, kau ambil yang lain saja,” ujar Kyuhyun santai.

 

“Aish … dasar evil,” dengus Hyukjae, lalu ia akhirnya mengambil makanan lain.

 

Oppa, bagaimana liburanmu di italia?”

 

“Menyenangkan,” jawab Siwon sambil tersenyum hingga menampakkan lesung pipi yang membuat senyumnya terlihat semakin memesona.

 

“Apa kau pergi ke Verona?” tanya Nara antusias.

 

“Verona hanya akan membuatnya makin merasa seperti bujang lapuk,” sahut Hyukjae.

 

“Diam kau,” ujar Siwon, diikuti delikan tajam pada Hyukjae.

 

“Kenapa? Bukankah Hyukjae hyung benar?” timpal Kyuhyun disertai senyuman mengejeknya, sementara Donghae hanya tersenyum geli.

 

“Kyu ….”

 

“Baiklah, Sayang.”

 

“Aku tidak sempat ke sana.” jawab Siwon, setelah para sahabatnya menghentikan ocehannya.

 

“Ah … sayang sekali, aku ingin sekali pergi kesana, mengunjungi rumah Juliet, lalu mengirim surat pada Juliet.”

 

“Kau ingin ke Verona, Sayang? mau merubah tujuan liburan kita?” tanya Kyuhyun.

 

“Aku memang ingin kesana, tapi untuk liburan minggu depan aku tetap ingin ke Maldives, disana juga sangat indah.”

 

“Kalian akan ke Maldives?” tanya Hyukjae antusias.

 

“Iya, Oppa,” jawab Nara.

 

“Bolehkah aku ikut? Aku ingin melihat pemandangan yang indah di sana.”

 

Pletak!!!

 

Donghae memukul kepala Hyukjae dengan sumpitnya.

 

“Hentikan pikiran mesummu itu,” ujar Donghae.

 

“Ya! Aku hanya mengatakan ingin melihat pemandangan indah,” gerutu Hyukjae, sambil mengusap kepalanya yang tadi dipukul Donghae.

 

Sementara yang lain hanya terkekeh. Semua mengerti apa yang dimaksud Hyukjae dengan pemandangan indah. Sudah pasti wanita-wanita berbikini. Karena tingkat kemesuman Hyukjae benar-benar sudah mencapai stadium akhir.

 

***

 

Nara tengah sibuk memeriksa perlengkapan yang akan ia bawa besok. Ia sudah memasukan semua barang-barang yang akan mereka butuhkan saat berada di Maldives kedalam dua buah koper. Yah … besok mereka akan pergi berlibur ke Maldives.

 

Ia mendengar suara pintu dibuka, lalu suara langkah kaki memasuki kamarnya.

 

“Kau sudah pulang, Kyu?” tanya Nara, masih dengan kegiatannya memeriksa isi kopernya.

 

“Heum ….” Kyuhyun hanya menjawab dengan gumaman, membuat Nara mengalihkan perhatiannya pada Kyuhyun.

 

“Ada apa, Kyu?”

 

“Tidak, hanya saja aku …” Kyuhyun menggantung kalimatnya.

 

“… sangat lelah,” sambungnya. “Hari ini sangat berat.”

 

Seketika Kyuhyun menyambar tubuh Nara, memeluk dengan erat tubuh mungil istrinya itu.

 

Nara mengusap punggung Kyuhyun. Mencoba memberi ketenangan pada Kyuhyun.

 

“Maafkan aku,” bisiknya, tepat ditelinga Nara.

 

“Untuk?” tanya Nara tak mengerti.

 

“Mungkin kita harus menunda rencana liburan kita,”jawabKyuhyunlemah.

 

“Kenapa?”

 

“Ada masalah dengan cabang perusahaan di Jepang, jadi besok aku harus terbang ke sana untuk menyelesaikannya.”

 

“Tak bisakah minta bantuan Donghae oppa saja?”ujar Nara dengan nada memohon.

 

Nara sebenarnyamerasasangatkecewa.Bagaimanatidak, besokadalahharikeberangkatanmerekake Maldives.Diasudahmembayangkanbetapamenyenangkannyabermainombak di salahsatupantai paling indah di duniaitu, melihatmatahariterbenamdanmelakukanhal-halmenyenangkanlainnya. Bahkaniasudahmembuatdaftarkegiatandantempat-tempat yang akaniakunjungibersamaKyuhyun. Tapitiba-tibasemuaituharusbuyarseketika.Sepertidebu yang disiramhujansemalam.

 

“Tak bisa, Ra-ya, maafkan aku.”

 

Nara masih terus mengusap punggung Kyuhyun, ia merasakan kerapuhan seorang Kyuhyun malam ini. Apa masalahnya benar-benar besar, sampai-sampai Kyuhyun terlihat tak berdaya seperti ini?

 

“Tak apa, Kyu, kita bisa liburan lain kali saja.” Nara mengalah, iamencobamengertiposisiKyuhyun.

 

Kyuhyun melepas pelukannya, lalu membingkai pipi Nara dengan telapak tangannya.

 

“Maafkan aku.”

 

Kyuhyun mengecup dalam kening Nara, menyalurkan rasa cinta dan permintaan maafnya yang mendalam lewat kecupan itu.

 

“Sekarang mandilah, Kyu, agar tubuhmu terasa segar.”

 

Ne.

 

Kyuhyun berjalan gontai kearah kamar mandi. Sementara Nara pergi ke dapur, membuatkan teh gingseng untuk Kyuhyun. Sesampainya di kamar, Kyuhyun belum selesai mandi.

 

Nara meletakkan teh gingseng itu di nakas samping tempat tidur, lalu masuk kedalam wallking closet, mengambil baju tidur Kyuhyun dan meletakkannya di atas ranjang.

 

Kyuhyun keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Lalu ia memakai baju yang telah disiapkan Nara.

 

“Apa kau mau makan malam dulu, Kyu?”

 

“Tidak, aku ingin langsung tidur saja.”

 

“Baiklah, tapi minum teh ini dulu.”

 

Nara menyodorkan teh gingseng itu pada Kyuhyun. Kyuhyun langsung meneguk teh itu sampai habis.

 

“Sekarang tidurlah.”

 

Kyuhyun hanya menurut, ia lngsung berbaring di ranjang, diikuti Nara berbaring di sebelahnya.

 

Setelah beberapa jam berbaring, Kyuhyun tampak gelisah, ia terus merubah posisi tidurnya. Hingga membuat Nara terbangun.

 

“Kenapa, Kyu?”

 

“Aku tak bisa tidur, Ra-ya.”

 

Nara bangun, lalu bersandar di headboard ranjang, meletakan bantal di pahanya.

 

“Bangunlah, Kyu. Dan berbaring disini.”

 

Kyuhyun hanya menurut, ia menjatuhkan kepalanya di bantal yang diletakan di paha Nara, lalu lengannya memeluk pinggang Nara dan membenamkan wajahnya di perut Nara.

 

Nara mengusap pelan rambut Kyuhyun, sambil bersenandung ringan, seperti seorang ibu yang menidurkan anaknya. Karena bagi Nara begitulah tugas seorang istri, bisa berperan sebagai apapun untuk suaminya. Terlebih saat keadaan suaminya yang terlihat sangat rapuh seperti sekarang.

 

Namun entah siapa yang memulai, yang jelas sekarang posisi Kyuhyun sedang menindih Nara. Melumat bibir Nara dengan intens. Sementara tangannya meremas gundukan didada Nara.

 

“Sakit,Kyu…” desah Nara, ia merasa kesakitan karena remasan kuat Kyuhyun di dadanya. kyuhyun seperti melampiaskan rasa frustasinya.

 

“Maaf,Sayang”

 

Kyuhyun mengecup dalam kening Nara, lalu turun ke mata Nara, hidung, hingga ia menautkan bibirnya kembali dengan bibir manis Nara.

 

Kembali melumat dan menyesap bibir cherry itu. Sementara tangannya meremas dada Nara, namun kali ini dengan lembut dan sensual.

 

Kyuhyun melepas tautan bibir mereka. Lalu ia menarik ujung gaun tidur Nara, berusaha melepaskan gaun tidur itu dari tubuh Nara.

 

Kyuhyun semakin bergairah setelah ia melihat tubuh Nara yang hanya dibalut celana dalam hitamnya, yang kontras dengan kulit Nara yang seputih susu.Nara tak memakai bra malam itu, hingga memudahkan pekerjaan Kyuhyun untuk menggeranyangi tubuh seksinya.

 

Kyuhyun tak bisa menahan hasratnya lagi. Ia langsung menjilat sesekali menggit kecil dada sebelah kanan Nara, lalu mengulum puncaknya, sementara tangannya meremas dengan gerakan pelan dada sebelah kiri Nara.

 

“Kyu .…”

 

Nara mendesah nikmat karena perlakuan Kyuhyun di kedua buah dadanya. Sesekali ia melengkungkan punggungnya, sementara tangannya menyusup kedalam rambut Kyuhyun, lalu menekan kepala Kyuhyun untuk memeperdalam hisapan Kyuhyun di dadanya.

 

“Kyu-hh…. enghh…..”

 

Kyuhyun menyudahi hisapannya di dada Nara. Ia sangat suka memandang wajah Nara saat terangsang seperti sekarang. Mulutnya yang terbuka, sambil sesekali mendesahkan namanya, matanya yang terpejam, dan dahinya yang berkerut menahan gairah, terlihat berkalilipat lebih cantik bagi Kyuhyun.

 

“Terus sayang…., terus sebut namaku” bisik Kyuhyun dengan suara berat menahan gairahnya.

 

kyuhyun membenamkan wajahnya di keher Nara, menghirup bau vanilla yang menguar dari tubuh Nara. Lalu menjilat dan menghisap leher putih itu. Hisapan Kyuhyun turun ke bahu Nara, lalu kembali ke dada Nara yang menggodanya.

 

Nara bergerak gelisah, tangannya meremas bantal, melampiaskan gairahnya.

 

Tangan Kyuhyun bergerak ketubuh bagain bawah Nara. Mengusap pelan paha bagian dalam gadis itu, lalu perlahan tangannya menyelip masuk kedalam celana dalam Nara, memasukan jari tengahnya ke kewanitaan Nara, disusul jari telunjuknya, mengocok kewanitaan Nara. Hingga membuat Nara melenguh, antara kaget dan menahan nikmat.

 

Sungguh Nara tak bisa menggambarkan bagaimna nikmatnya saat jari-jari panjang Kyuhyun menari-nari di daerah sensitifnya dan mulut Kyuhyun yang terus menghisap dadanya. Benar-benar membuat Nara merasakan kenikmatan yang luar biasa.

 

“Aaaaahhhhhh……”
Nara melenguh panjang, menandakan bahwa ia telah ber-orgasme untuk pertamakalinya malam itu. Membuat Kyuhyun menghentikan semua aktivitasnya di tubuh Nara. Membiarkan Nara menikmati orgasme-nya

 

Kyuhyun mengusap peluh di dahi Nara. Lalu megakkan badannya. Membuka bajunya, di bantu Nara yang ternyata sudah mendudukkan tubuhnya, hingga Kyuhyun full naked.

 

Kembali Kyuhyun menindih tubuh Nara, menyatukan bibir panasnya dengn bibir Nara lagi, kali ini ciumanya lebih menuntut bahkan lidahnya sudah menerobos bibir Nara dan membelitkan lidahnya dengan lidah Nara.

 

“Hmmppp…” mereka mendesah tertahan.

 

Tangan Kyuhyun berusaha menarik celana dalam Nara, ia menariknya hingga betis Nara, seterusnya Nara berusaha melepaskan dengan kakinya.

 

“Aaaaahhhhhh….”

 

Mereka mendesah saat milik Kyuhyun yang besar dan yang telah menegang sempurna, secara tak sengaja menekan bagian luar kewanitaan Nara.

 

Kyuhyun mengakhiri ciuman panas mereka. Lalu mengecup-ngecup ringan bibir Nara yang merah dan sedikit membengkak akibat lumatan ganas Kyuhyun.

 

“Aku akan memasukimu, sayang” bisik Kyuhyun tepat ditelinga Nara. Ia membelai wajah Nara, lalu mengecup kening Nara seiring dengan miliknya yang melesak masuk kedalam kewanitaan Nara.

 

“Haahhh…..”

 

Mereka kembali melenguh saat milik Kyuhyun telah tertanam sempurna di kewanitaan Nara. Membuat Nara merasa penuh dan sesak, namun juga nikmat.

 

“Aku mencintaimu, Cho Nara” Kyuhyun membisikan kata cinta itu tepat ditelinga Nara saat ia mulai menggerakan pinggulnya.

 

“Aku-hh… ju-ga-hh… Kyu-hh”

 

Nara membalas ungkapan cinta Kyuhyun diiringi dengan desahan, karena sungguh, ia tak bisa menahan kenikmatan saat Kyuhyun menghentak-hentakan kejantanannya pada kewanitaannya.

 

Kyuhyun kembali melumat bibir Nara, bibir yang menjadi candu baginya. Sementara ia terus menghentakan miliknya dengan irama yang ia ciptakan sendiri, kadang pelan, kadang cepat. Membuat Nara melengkungkan punggungnya kedepan, hingga membuat dadanya membusung dan menempel ke dada Kyuhyun.

 

Kyuhyun menurunkan ciumannya ke rahang Nara, lalu turun ke leher Nara. Kembali ia menghisap leher Nara, menambah tanda-tanda kemerahan di leher Nara. Kembali Kyuhyun menghisap puncak dada Nara. Membuat Nara mendesah hebat.

 

“Kyuhyun-ah… haahhh… haahhh”

 

“Terus-hh… sebut-hh… namaku-hh… sayang-hh… haahhh…”

 

Nara mengaitkan kakinya di pinggul Kyuhyun, lalu menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan gerakan pinggul Kyuhyun, membuat kejantanan Kyuhyun menusuk semakin dalam pada kewanitaannya.

 

“Ohhh.. sayang, ini nikmat”

 

Mereka terus bergerak, mencari kenikmatan. Kyuhyun menghentakan kejantanannya dengan keras, ia tak bisa bermain dengan pelan lagi. Membuat Nara merasakan kenikmatan lebih, karena kejantanan Kyuhyun menusuk semakin dalam.

 

Nara Kembali meremas seprei, saat ia merasakan kenikmatan yang hebat ketika Kyuhyun mengentakan dengan keras kejantanannya.

 

“Kyu-hh… aku-hh… hampir-hh.. sampai-hh…”

 

“Sebentar sayang”.

 

Kyuhyun kembali mempercepat gerakannya, menghentakan dengan kuat kejantannnya pada milik Nara, agar Nara segera sampai di puncaknya. Kyuhyun terus menaikturunkan pinggulnya dengan kecepatan menggila, hingga membuat tempat tidur mereka ikut mengeluarakan bunyi decikan, menggambarkan betapa hebatnya gerakan pinggul Kyuhyun.

 

“Kyuhyun-ah… eunghhh… aaahhhh…”

 

Lenguhan panjang Nara menandakan bahwa ia sudah mencapai puncaknya. Membuat Kyuhyun menghentikan gerakan pinggulnya. Membiarkan Nara menikmati puncaknya.

 

Kyuhyun menyingkirkan anak rambut yang menempel di wajah Nara, menyeka keringat Nara, lalu mengecup kening Nara. Setelah itu ia menarik keluar kejantanannya yang masih menegang sempurna. Membuat mereka kembali melenguh.

 

Berbaliklah, sayang” bisik Kyuhyun tepat diwajah Nara.

 

Nara hanya menurut, ia tau Kyuhyun belum mendapat pelepasannya.

 

Kyuhyun tambah bergairah melihat punggung mulus dan bokong seksi Nara. Ia tak dapat menahan hasratnya untuk mengelus dan mengusap dengan sensual bagian tubuh belakang Nara yang menggodanya. Mulai dari bokong, punggung, pundak, lalu turun pada dada Nara yang bergelantungan. Ia meremasnya. Mencoba membangkitkan gairah Nara lagi.

 

Nara kembali melenguh. Sungguh ia menjadi sangat bergairah hanya dengan usapan Kyuhyun pada bagian tubuh belakangnya, ditambah dengan remasan Kyuhyun pada dadanya. Tubuhnya akan cepat bereaksi jika itu Kyuhyun. Ya… hanya Kyuhyun yang mampu membuat ia cepat bergairah seperti ini.

 

Sementara Kyuhyun menggunakan bibirnya sebagai pengganti kerja tangannya yang sekarang sibuk memijat dada Nara. Kyuhyun mengecup bokong Nara, naik ke punggungnya.

 

Saat bibir panas Kyuhyun sampai di bahu nara, kecupan-kecupan itu berubah menjadi hisapan. Kuhyun menghisap bahu bagian belakang Nara yang putih, hingga meninggalkan jejak di sana. Lalu bibir Kyuhyun berpindah pada tengkuk Nara, melakukan hal yang sama. Membuat Nara tak henti-hentinya melenguh.

 

I love you, really really love you, Jung Nara”

 
Kembali, Kyuhyun membisikan kata-kata cintanya pada Nara, setelah itu, Nara kembali merasa penuh, sesak dan nikmat disaat bersamaan, karena Kyuhyun kembali menusukan kejantannya pada kewanitaan Nara.

 

Mianhe… jongmal…”

 

Nara tak mengerti mengapa Kyuhyun kembali mengucapkan kata maaf padanya di tengah sesi percintaan mereka. Apa Kyuhyun benar-benar merasa bersalah karena telah membatalkan rencana liburan mereka?.

 

“Eungh… haahhh….”

 

Nara kembali melenguh dan melupakan semua pemikirannya tentang permintaan maaf Kyuhyun. Ia tak dapat lagi berpikiran jernih saat ini. Tidak disaat Kyuhyun kembali menghentakan dengan kuat kejantannya yang membuat Nara merasakan kenikmatan yang tak bisa ia ungkapan dengan kata-kata.

 

Permainan Kyuhyun sedikit kasar malam ini. Sepertinya ia menumpahkan semua rasa frustasinya dalam percintaan mereka. Namun hal itu menambah kenikmatan yang mereka rasakan.

 

Kyuhyun menggerakan pinggulnya dengan cepat dan kuat, hingga kejantannya menusuk lebih dalam kewanitaan Nara.

 

“Arrghh…”

 

Ini sangat nikmat. Tidak… tidak ada yang senikmat Nara. Tidak ada yang senikmat istrinya. Yang membuatnya benar-benar kecanduan.

 

Kyuhyun terus bergerak dengan cepat, mengentak-hentakan kejantannya dengan kuat, membuat seluruh persendian Nara menjadi lemas. Ia mengalungkan sebelah lengannya pada leher Kyuhyun sebagai cara untuk bertahan, agar tubuhnya tidak tersungkur ke tempat tidur.

 

Nara terus mendesahkan nama Kyuhyun. Sungguh, ia tak dapat menahan semua kenikmatan ini, karena ketiga titik sensitifnya dipuaskan oleh Kyuhyun.

 

“Ra-ya, kau cantik dan…. nikmat, sayang”

 

Nara merasa senang, karena itu artinya Kyuhyun juga terpuaskan.

 

“Kyu, aku hampir…”
“Bersama sayang, tunggu aku”

 

Kyuhyun kembali menambah kecepatan gerakan pinggulnya. Ia juga merasa sudah mendekati titik itu. Titik puncak dari semua kenikmatan ini.

 

“Kyu-hh… eungh… haahhhh”
“Jung Nara.. arrghh…..”

 

Mereka sama-sama melenguh saat hentakan terakhir kejantanan Kyuhyun menusuk dengan kuat dan dalam di kewanitaan Nara.

 

Mereka telah mencapai titik puncak kenikmatan itu. Kenikmatan yang sangat hebat. Kyuhyun merasakan kejantannya menghangat dilumuri cairan Nara, dan Nara merasakan kehangatan di dalam tubuhnya karen semprotan cairan Kyuhyun pada rahimnya.

 

Dan mereka kembali berharap, semoga percintaan mereka kali ini membuhkan hasil. Ya mereka masih mendambakan seorang malaikat mungil untuk melengkapi kebahagiaan mereka.

 

Kyuhyun membawa tubuh Nara berbaring menyamping. Ia belum mengeluarkan miliknya dari tubuh Nara. Mereka sama-sama terengah. Menikmati sisa-sisa pelepasannya.

 

Kyuhyun mengeratkan pelukannya pada perut Nara, membuat punggung Nara semakin menempel pada dada telanjangnya, hingga Nara bisa merasakan debaran dada Kyuhyun di punggungnya.

 

Mereka kembali melenguh saat Kyuhyun melepas kontak mereka. Lalu ia membalik tubuh Nara agar menghadap padanya.

 

Nara menyeka wajah Kyuhyun yang penuh dengan keringat, lalu mengecup sekilas bibir Kyuhyun. Namun Kyuhyun menahan tengkuk Nara, dan membalas kecupan Nara dengan lumatan. Lalu ia bangun mengambil selimut untuk menutupi tubuh naked mereka.

 

Kyuhyun mengecup kening Nara dalam.

 

Saranghae

 

Na do

 

Mereka saling bertatapan dalam, menumpahkan semua rasa cinta mereka. Hingga akhirnya Kyuhyun menarik Nara kedalam pelukannya.

 

Wajah Nara tepat berada di dada bidang Kyuhyun. Membuat ia dapat mendengar dengan jelas detak jantung dan debaran dada Kyuhyun yang berdebar dengan kencang. Sementara Kyuhyun terus mengecup-ngecup ringan puncak kepala Nara. Hingga akhirnya mereka terlelap setelah percintaan panas itu.

***

 

Lotte World, Seoul.
10.00 AM KST

 

Suara berisik para pengunjung yang sedang menaiki wahana dan suara anak-anak yang kegirangan, menambah riuh suasana di taman bermain itu. Wahana-wahana yang dipenuhi oleh para pengunjung, mulai dari yang biasa saja sampai yang extreme, menunjukan betapa ramainya taman bermain itu saat akhir pekan seperti sekarang.

 

Eonni, ayo kita coba naik itu!” Minji dengan riang menunjuk sebuah tiang yang paling tinggi di taman bermain itu.

 

Nara memutuskan pergi ke taman bermain bersama Minji, hitung-hitung sebagai pengganti liburannya yang batal bersama Kyuhyun, karena Kyuhyun harus pergi ke Jepang hari ini.

 

Nara bertambah mual dan bergidik ngeri ketika melihat cara wahana yang ditunjuk Minji itu memberi ‘kesenangan’ pada orang-orang yang menaikinya. Mereka akan dibawa keujung tiang yang tingginya kira-kira hampir mencapai seratus meter, setelah itu mereka akan diturunkan lagi dengan kecepatan tinggi, dan begitu seterusnya.

 

Sementara ia baru saja menaiki sebuah wahana yang bernama Colossus. Wahana yang berputar seperti gangsing dengan kecepatan tinggi. Hingga membuat ia pusing dan mual.

 

“Aku tidak ikut, Minji-ya, kau saja,” sahut Nara.

 

“Eoh. Eonni, kau sakit?” kaget Minji saat ia menyadari wajah Nara yang pucat, tadi ia sibuk melihat-lihat wahana yang ingin ia naiki, hingga ia tak menyadari keadaan Nara setelah menaiki salah satu wahana extreme di taman bermain itu.

 

“Aku hanya sedikit pusing dan mual.”

 

“Ayo kita istirahat dulu, kita kesana saja.”

 

Minji menggiring Nara ke sebuah kafe yang cukup ramai, namun masih ada beberapa meja kosong di sana.

 

Eonni duduk di sini saja, aku akan memesan minuman, Eonni mau minum apa?”

 

“Aku Greentea latte saja.”

 

“Baiklah, aku akan memesan dulu.”

 

Kafe itu berdinding kaca, hingga memudahkan Nara untuk memandang keluar. Nara melihat-lihat sekelilingnya, pandangannya terarah ke wahana yang tadi ia naiki. Ia bergidik, dan rasa mual kembali menyerangnya. Hingga ia memutuskan mengalihkan pandangan ketempat lain. Secara tak sengaja ia melihat seseorang yang ia kenal menuju ke arah kafe.

 

“Sena-ssi!”

 

Tempat duduknya yang dekat dengan pintu masuk memudahkan ia memanggil seseorang yang ia kenal itu.

 

“Eo! Nara-ssi.” Sena sedikit kaget, lalu ia mendekati Nara. “Apa kabar?”

 

“Aku baik, kau sendiri bagaimna Sena-ssi?” Nara balik bertanya.

 

“Aku juga baik.”

 

“Dimana Jaehyun?” Tanya Nara yang merasa sedikit heran karena tak melihat Jaehyun bersama Sena, sebenarnya ia juga sangat ingin melihat bocah menggemaskan itu.

 

“Dia sedang naik komedi putar bersama ayahnya.”

 

“Oh ternyata kalian sedang liburan keluarga, ya?” tanya Nara sambil terkekeh.

 

Sena hanya tersenyum.

 

“Kau sendirian?” tanya Sena, karena sedikit aneh jika seseorang pergi sendirian ke taman bermain.

 

“Tidak.”

 

“Bersama kekasihmu?” tebak Sena.

 

“Aku tidak punya kekasih, Sena-ssi. Karena aku sudah menikah,” jawab Nara sambil tersenyum.

 

“Eo, benarkah? Maaf aku tidak tau. Jadi kau kesini bersama suamimu?”

 

“Tidak, aku bersama adikku.” Nara menunjukan senyumnya, sementara hatinya sedikit perih, mengingat ia jarang sekali pergi keluar di akhir pekan seperti ini bersama Kyuhyun.

 

“Lalu di mana adikmu?” tanya Sena, karena lagi-lagi ia tak melihat adik Nara itu.

 

“Dia sedang memesan minuman.”

 

“Permisi, ini dua greentea latte-nya.”

 

Kedatangan pelayan itu menginterupsi perbincangan mereka.

 

“Dimana gadis yang memesan minuman ini?” tanya Nara pada pelayan itu.

 

“Dia sepertinya ke toilet,” jawab si pelayan.

 

“Oh baiklah, terimakasih.”

 

Nde….”

 

“Sepertinya aku tak berjodoh dengan adikmu, dia selalu di toilet saat kita bertemu.” Sena terkekeh.

 

“Sepertinya begitu.” Nara ikut terkekeh.

 

“Nara-ssi, aku harus memesan minuman dengan cepat, aku takut Jaehyun mencariku.”

 

“Oh… baiklah.”

 

Sena memesan minuman di cafe itu, setelah mendapat pesanannya, ia kembali menuju meja Nara.

 

“Aku duluan Nara-ssi, sampaikan salamku pada adikmu,” ujar Sena.

 

“Baiklah sena-ssi, sampaikan juga salamku pada Jaehyun dan … ayahnya.”

 

Ne.”

 

Sena melangkah keluar kafe. Tak lama muncul Minji dengan ekspresi jengkelnya.

 

“Kenapa Minji-ya? Kau tidak bertengkar dengan ahjumma cerewet lagi kan?” tanya Nara saat melihat wajah Minji yang ditekuk.

 

Toilet-nya ramai sekali, aku harus menunggu lama untuk menyelesaikan urusanku,” kesal Minji.

 

“Ya sudah, yang penting urusanmu sudah selesai kan?”

 

Ne, setelah ini kita kemana?” tanya Minji pada Nara, karena sungguh ia masih ingin menaiki beberapa wahana yang ada di taman bermain itu.

 

“Bagaimna kalau kita naik bianglala?”

 

“Ide bagus.” Minji tertawa riang.

 

“Ngomong-ngomong soal bianglala, aku jadi ingat Kyuhyun oppa.”

 

“Memang apa hubungannya bianglala dengan Kyuhyun?” Tanya Nara tak mengerti.

 

“Dulu saat kami diajak jalan-jalan oleh paman dan bibi Cho ke taman bermain, aku mengajak Kyuhyun oppa naik bianglala, dan eo4nni tau apa yang terjadi?”

 

“Memangnya apa yang terjadi?” Nara penasaran.

 

“Dia menangis sangat kencang dengan wajah ketakutan saat kami berada di puncak ketinggian bianglala itu.”

 

“Benarkah?” Kaget Nara. Ia tak menyangka bahwa Kyuhyun akan menangis hanya karena bianglala.

 

“Aku tidak berbohong, sejak saat itu dia tak mau naik bianglala lagi, dan dia memaksaku untuk merahasiakannya.”

 

Mereka berdua tertawa, membayangkan bagaimana lucunya wajah Kyuhyun yang menangis ketakutan saat naik bianglala.

***

 

“Ini menyenangkan.” Nara tersenyum lebar.

 

Saat ini Nara dan Minji tengah menaiki bianglala dan berada di puncak ketinggian bianglala itu.

 

“Benar, aku merasa bisa menggapai langit dari sini,” sahut Minji.

 

“Heum … benar, dan Kyuhyun menangis ketakutan di saat seperti ini.” Mereka kembali menertawakan Kyuhyun.

 

“Kau pasti jengkel sekali waktu itu, karena pemandangan indah ini harus dirusak dengan suara tangisan Kyuhyun.”

 

“Benar sekali, ingin rasanya aku menyuruhnya untuk terjun bebas saja dari sini.”

 

“Ya! Oh Minji, kau kejam sekali pada suamiku,” desis Nara.

 

“Ups … maaf, aku terlalu bersemangat.”

 

Dan mereka kembali tertawa.

 

“Ah itu tadi menyenangkan, kapan-kapan aku akan mengajak Kyuhyun untuk naik bianglala bersamaku, agar dia bisa bernostalgia dengan kejadian ‘menyenangkan’ itu.” Kekeh Nara.

 

“Wow! itu akan jadi pertunjukan yang menarik,” sambung Minji.

 

Mereka baru saja turun dari wahana bianglala itu, dengan masih menertawai Kyuhyun. Hingga tak sengaja Nara melihat sosok Jaehyun dan Sena.

 

“Jaehyun-ah!” Panggil Nara.

 

Lalu ia mendekati Jaehyun.

 

“Kalian naik bianglala juga?” tanya Nara.

 

“Iya, kau juga Nara-ssi?” Tanya Sena.

 

“Se-na … Eonni?” Gumam Minji.

 

“Eo … Minji-ya.”

 

Sena terkejut dengan mata membulat melihat Minji, ia baru menyadari kehadiran Minji saat Minji menggumamkan namanya.

 

“Kalian saling kenal?” Tanya Nara dengan dahi berkerut, karena tak menyangka Minji dan Sena saling mengenal.

 

Minji dan Sena belum sempat menjawab, hingga tiba-tiba Jaehyun berteriak.

 

Appa!”

 

Jaehyun berlari kearah pria yang ia panggil appa itu, yang berjongkok menyambut Jaehyun. Jaehyun memeluk pria jangkung itu dan naik ke gendongannya. Nara bisa melihat dengan jelas wajah pria itu saat ia sudah berdiri dengan tegap.

 

Seketika pikiran Nara menjadi kosong, ia merasa tak bisa berfikir dengan jernih lagi saat wajah yang sangat familiar baginya itu terpampang jelas di depannya. Pria itu adalah Kyuhyun, pria yang dipanggil ‘appa‘ oleh Jaehyun itu adalah Kyuhyun, suaminya.

 

Nara masih berusaha mencerna semuanya. Mulai dari Kyuhyun yang membatalkan liburan yang telah mereka rencanakan dua minggu yang lalu, karena Kyuhyun harus ke pergi Jepang, sampai ia bertemu Sena di kafe tadi dan mengatakan bahwa Jaehyun sedang bersama ayahnya, hingga Jaehyun yang memanggil Kyuhyun dengan sebutan appa, dan sekarang Jaehyun dalam gendongan Kyuhyun.

 

“K-kyu … b-bukankah kau ke Jepang?” Nara berusaha mengeluarkan suaranya. Sungguh, ia belum bisa berfikir jernih saat ini.

 

Sementara pria itu, Kyuhyun, juga sangat terkejut saat menyadari kehadiran Nara di sana. Raut terkejut, penyesalan dan rasa bersalah tercetak jelas di wajahnya.

 

“Ra-ya, aku–”

 

Kyuhyun tak menemukan kata yang tepat untuk ia ungkapkan pada Nara.

 

Hingga akhirnya Nara berlari dari sana, yang ia inginkan hanyalah menjauh dari tempat itu, menjauh dari situasi yang penuh sesak itu. Ia terus berlari dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. Hingga tubuhnya limbung karena tak kuat lagi berlari.

 

Kakinya terluka entah karena apa. Ia hanya melihat darah yang mengalir, namun tak merasakan sakitnya.

 

Nara terus memandangi kakinya yang terluka sambil terus terisak. Tidak! bukan luka di kakinya yang membuat air matanya terus mengalir, melainkan goresan di hatinya, yang perihnya berkali lipat dibanding luka di kakinya.

 

Aku tidak marah, hanya saja hatiku terluka.

TBC

*aku dapat quotes ini dari sebuah akun instagram.

**ini quotes yang ditulis oleh seseorang yang spesial untukku wkwkkwk.

53 thoughts on “When The Smile Being Ornate Part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s