Breakable Part 2


image

Author: Queensera P.

Title: (Un)Breakable

Category: NC21, Romance, Complicated, Multi-Chaptered

Cast:

Cho Kyuhyun

Lee Sena

Shim Changmin

Irene Kim

Disclaimer:

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders! Happy Reading (

.
Although loneliness has always been a friend of mine, I’m leaving my life in your hand.

.

Perpaduan dua warna glamour yaitu, merah dan keemasan menghiasi seluruh sudut ruang gedung serbaguna milik keluarga Cho. Letaknya persis sekali berada disamping rumah besar kepemilikan konglomerat tersebut.

Sebagian para undangan yang notabene merupakan relasi kerja atau kenalan Cho Yeunghwan maupun Kim Hana juga sudah mengisi ruangan mahabesar itu. Mencipta sebuah keramaian dan momen saling menyapa antarpengusaha yang sekaligus digunakan sebagai area perbincangan mengenai perkembangan apa saja yang dimiliki oleh perusahaan mereka masing-masing.

Namun, hal itu samasekali tidak menarik minat Kyuhyun—setidaknya untuk saat ini. Pria itu hanya terdiam, menikmati cairan kuning-keemasan yang baru saja dia tuang dari botolnya. Biasanya, dia adalah orang yang paling menantikan hal-hal seperti ini; bertemu dengan orang-orang asing yang berotak jenius kemudian saling bertukar pikiran maupun strategi guna memecahkan masalah yang dihadapi oleh perusahaan mereka sendiri. Atau bagaimana cara menarik investor agar mau bekerjasama. Atau mungkin, juga saling menyampaikan usul untuk membangun proyek bersama. Apapun, karena Kyuhyun adalah orang yang suka sekali bersosialisasi.

Kyuhyun memang tidak terlalu menyukai kesibukan, tapi jangan salah, karena dia adalah tipikal orang yang menyukai sebuah tantangan dan membuka diri terhadap orang lain. Well —seperti kata orang, kunci kesuksesan seorang pebisnis berasal dari keahlian dan keaktifannya dalam membangun sebuah komunikasi. Benar bukan? Dan Cho Kyuhyun memilikinya.

Atau mungkin yang akan dilakukan oleh pria tersebut saat ini adalah bergabung dengan Ayah-Ibunya diatas panggung sana. Sekadar memberikan ungkapan terimakasih pada para tamu karena telah datang memenuhi undangan.

Sayangnya, malam ini terasa berbeda—baginya. Kyuhyun meneguk sekali lagi sampanye yang berada ditangannya. Bar kecil yang didesain dipojok ruangan, berhasil menyembunyikan dirinya yang memang sedang tidak tertarik untuk melanjutkan pesta ini. Dari awal sebenarnya dia sudah tidak tertarik.

Kepalanya berdenyut. Entah karena efek minuman beralkohol itu atau karena memikirkan hal yang beberapa jam lalu baru terjadi. Dia menghela napas, perkataan Ibunya tadi siang benar-benar membuat pikirannya kacau.

Meninggalkan Sena.

Kyuhyun mengusap wajah. Yang benar saja! Untuk berpisah jarak antara Singapore-Seoul saja dia bisa setengah mati merindukan wanita itu, apalagi jika dia benar-benar meninggalkannya. Dia tidak bisa. Walau tanpa cinta tapi sungguh, kehadiran Lee Sena benar-benar sangat berpengaruh untuknya.

Dan harus berapa kali dia mengulangi kalimat itu didalam benaknya?

Lagipula, apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Ibunya? Kenapa wanita baya itu sangat membenci Sena? Dan bersikeras memintanya untuk menjauhi wanita itu. Setidaknya kalimat-kalimat itulah yang mengacaukan pikiran Kyuhyun saat ini dan membuatnya merenung sendiri.

Apa karena tidak adanya cinta diantara mereka?

Kemudian pertanyaan itu muncul. Kyuhyun menggeleng dan mendesah frustasi. Ingin sekali dia berteriak sekarang, menumpahkan semua hal yang membebankan pikirannya. Benarkah tidak ada cinta? Dia tidak memiliki perasaan itu pada Sena bahkan setelah bertahun-tahun mereka menghabiskan waktu bersama? Ah, dua silabel itu sulit sekali untuk ditebak.

Jikapun tidak ada cinta diantara mereka, kenapa rasanya sulit sekali mengikuti permintaan Ibunya? Apalagi saat Kim Hana menghina habis-habisan Sena, rasanya seperti ada yang menginjak ulu hatinya. Sakit. Tapi jikapun ada cinta disana, kenapa hanya keraguan yang memenuhi pikirannya? Cinta itu tidak pernah mengenal kata ragu, bukan? Jadi sebenarnya, apa yang dia inginkan?

“Berikan aku segelas wine!” pinta sebuah suara yang berasal dari samping tubuhnya.

Kyuhyun menoleh. Bola matanya mendapati tubuh seorang wanita dengan dress selututnya yang berwarna navy-blue. Dilihat dari samping, bisa dia simpulkan bahwa wanita itu manis. Sangat manis malah.

Jika Kyuhyun jabarkan lebih detail lagi, wanita itu memiliki bibir tipis yang diulas dengan gincu soft-pink, tulang hidung kecil namun tinggi, dan pipi tirus. Lalu, rambut cokelat panjangnya yang bergelombang—sama seperti milik Sena—diikat kebelakang menyerupai ekor kuda, hingga menyisakan poni tipis dan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahinya.

Tubuhnya sedikit lebih kecil dan ramping jika dibanding dengan Sena yang memang tinggi. Tapi bukan berarti wanita disampingnya ini tidak memiliki bentuk tubuh yang ideal. Untuk ukuran seorang pria yang memilki kriteria tinggi terhadap seorang wanita, Kyuhyun memberikan nilai delapan koma tujuh untuk wanita itu. Nilai yang mendekati sempurna.

Menyadari hal itu, Kyuhyun pun menggeleng. Kembali menyesap sampanye-nya sedikit demi sedikit. Bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu saat pikirannya sedang kacau. Oh, dia bahkan seperti mengkhianati Lee Sena.

“Oh. Hi!” Kyuhyun tersentak akan sapaan—sarat british—yang dilemparkan oleh wanita tersebut. “Sorry, would you mind if I sit here?” lanjutnya, yang membuat Kyuhyun mengernyitkan alis tak mengerti. Jika memang ingin duduk, ya duduk saja.

Wanita itu menyengir, menunjukkan dua gigi depannya yang nyaris menyerupai gigi kelinci. Sangat manis dan lucu.

Dengan mengedikkan bahu, dia berkata, “Okay, em—for a while ago, I only saw you who were sitting here. By yourself. Maybe… Oh sorry.. Am I bothering you?” tanyanya dengan mata yang membulat. Tidak lagi menyuarakan keinginannya untuk duduk disana. Apa kedatangannya mengganggu pria dihadapannya ini? Dia jadi merasa tidak enak, mungkin saja ‘kan pria ini sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Well, jika dilihat dari rambutnya yang sedikit tidak teratur dan berantakan sih begitu. Seperti sedang ada pikiran berat yang pria itu tanggung. Apa mungkin pria itu memang sedang frustasi? Dia meringis pelan, tapi apa yang membuat pria itu ingin sendiri ditengah pesta yang ramai seperti ini? Ah, mungkin sedang mati kebosana seperti dirinya.

Kyuhyun mengangkat sedikit sudut bibirnya, lantas tersenyum kecil. “No. Of course, not. Just enjoy your drink! ” katanya sambil menggerakkan dagu kearah gelas yang berisi cairan merah yang baru saja diletakkan oleh bartender didepan wanita itu.

Merasa kehadirannya tidak ditolak, wanita itupun tersenyum lagi. Lebih lebar. Kemudian, tangannya meraih gelas kecil yang ada dihadapannya, menyesap isinya kemudian. Membuat Kyuhyun lagi-lagi tersenyum kecil.

“Pestanya benar-benar membosankan ya?” celetuk wanita itu memecah keheningan yang beberapa saat lalu melingkupi mereka berdua.

“Huh? Kau bisa bicara bahasa Korea?” tanya Kyuhyun tak percaya, mengundang tawa wanita itu pecah seketika. “Ya, tentu saja!” sahutnya cepat dan tentunya dengan senyum yang tidak memudar. “Kau pasti berpikir aku ini hanya bisa berbahasa Inggris ya?” tambahnya dengan kikikan geli.

Satu hal yang Kyuhyun tahu, wanita ini mudah sekali tersenyum. Sangat berbeda dengan Sena.

Mata Kyuhyun kemudian memicing, memperhatikan wanita itu lebih teliti. Jika dilihat-dilihat, wajahnya memang tidak sepenuhnya wajah asli orang barat. Apa wanita ini memiliki keturunan Eropa? Atau Amerika?

“Ah, Irene.” Ungkap wanita itu dengan tangan kanan yang terulur padanya. Kyuhyun menatap jemari lentik dihadapannya sangsi, kemudian menatap lagi lensa cokelat-madu yang dimiliki wanita tersebut. Begitu seterusnya, hingga… “Namaku, Irene. Irene Kim. Kau bisa memanggilku Irene, Ryn, atau Kimmy tapi kebanyakan temanku memanggil dengan sebutan Ryn sih. Terserah padamu mau memanggilku apa karena aku membebaskan semua orang memanggilku dengan nama apapun. Asal jangan nama hewan saja,” lanjutnya yang diakhiri kekehan canggung, karena yang didapatnya hanya respon diam dari Kyuhyun. Atau bisa dibilang malah tidak mendapat respon sama sekali? Membuatnya meringis dalam hati, kasihan sekali dirinya.

Tangannya terus bergerak keatas-kebawah, bibirnya juga tak berhenti tersenyum, meminta pria itu untuk menyambut uluran tangannya kemudian mereka bisa saling berkenalan.

Kyuhyun menarik napas, dengan bibir yang terlipat kedalam—menahan senyum—dia menerima uluran tangan wanita tersebut. “Cho Kyuhyun. Kau bisa memanggilku Kyuhyun, Irene,” ucapnya.

“Jadi, kita berteman?” tanyanya antusias.

“Kau mau berteman dengan orang asing sepertiku?” tanya Kyuhyun balik.

“Kenapa tidak?”

Dengan alis yang terangkat keatas Kyuhyun melontarkan rentetan kalimatnya lagi, “Kita ‘hanya’ baru saling mengenal. Dan kau meminta untuk berteman, apa itu tidak aneh? Kau tidak takut begitu? Siapa yang tahu kalau aku ini orang baik atau bukan?”

Irene kembali meringis—menggigit bibir bawahnya—begitu menyadari ada kebenaran dalam kalimat yang diucapkan oleh Kyuhyun. Tetapi, dia membalasnya dengan gedikan bahu kemudian, “Well, kurasa kau bukan orang yang jahat. Jadi, apa kita akan berteman?” tanyanya sekali lagi, tetap kukuh, pun disertai alis yang ikut dinaik-turunkan.

Hal kedua yang Kyuhyun tahu, wanita dihadapannya adalah tipikal orang yang tidak pantang menyerah dan tidak memiliki pandangan buruk terhadap orang asing. Sangat berbeda dengan Sena karena, yang Kyuhyun pahami selama ini wanita itu sangat anti terhadap orang yang tidak dikenalnya—mendekati tipe wanita dingin dan sulit untuk bergaul. Seperti itu.

Dengan mendengus kecil, Kyuhyun pun tersenyum kemudian mengangguk. “Baiklah, kita berteman.”

Irene menepuk girang kedua tangannya, lalu menarik gelas wine-nya yang berada diatas meja untuk kemudian membawanya kedepan dada, mengajak Kyuhyun melakukan hal yang sama seperti dirinya. Dan Kyuhyun pun melakukannya. Lalu keduanya membenturkan sisi gelasnya masing-masing—melakukan cheers—atas nama pertemanan yang baru saja dimulai. Begitu cepat memang jika menilik fakta bahwa kedua anak manusia itu sebelumnya tidak saling mengenal.

“Kalau begitu, kau teman pertamaku hari ini!” sahut Irene dengan intonasi suara yang kelewat senang.

Alis Kyuhyun terangkat keatas. Teman pertama? Kyuhyun pikir wanita dihadapannya ini adalah tipikal orang yang suka berteman dengan banyak orang—seperti dirinya. Tapi kenapa Irene berkata seperti itu? Tapi tunggu, ‘hari ini’. Maksudnya?

“Sekadar informasi, aku baru saja tiba di Korea pukul dua siang tadi. Jadi, jangan heran jika aku menyebutmu sebagai teman pertamaku,” ucapnya dengan mengangkat kedua jari—telunjuk dan jari tengah—pada Kyuhyun yang dia sadari tidak mengerti atas ucapannya barusan.

“Dan kenapa kau bisa berakhir disini?” tanya Kyuhyun penasaran.

“Ah itu karena Mom! Setibanya aku di bandara, dia langsung menyeretku ke salon dan memintaku menemaninya datang ke pesta ini. Tanpa mengijinkanku untuk beristirahat. Se-ka-li-pun. Benar-benar tega ya? Padahal, acara ini tidak ada seru-serunya. Lihat saja—” Ujarnya bersungut-sungut, tangannya terulur dan Kyuhyun mengikuti telunjuk wanita itu yang mengarah pada segerombolan orang yang sedang berbincang dan tertawa bersama. “Tidak ada yang menarik ‘kan? Sejauh mataku memandang, yang kulihat hanya manusia-manusia tua berusia lanjut seumuran dengan kedua orangtuaku. Tidak ada yang muda, sama sekali. Kecuali saat lensaku ini menangkap siluetmu yang terduduk sendirian disini tadi,” lanjutnya dengan kepala yang menoleh pada Kyuhyun, menyiratkan tatapan ‘aku benar bukan?’.

Kyuhyun terkekeh pelan. “Kupikir kau memang sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk datang ke pesta ulang tahun Ibuku,” katanya.

Irene tersedak oleh minumannya, wanita itu mendelik. “A-apa? Ulang tahun ibu… ku? J-jadi.. Tunggu—maksudmu, Nyonya Kim itu ibumu?” ucapnya disertai bibir yang menganga lebar setelahnya.

Kyuhyun mengangguk, dia melipat kedua tangannya didepan dada kemudian berkata, “Terkejut?”

Irene menggaruk tengkuknya, kentara sekali dia sedang gugup dan malu. Bagaimana tidak, dia sedang bosan dengan pesta ini dan ternyata dia malah berbicara mengenai kegundahannya pada putranya sang pemilik pesta. Dia jadi tidak enak hati. Jika dipikir-pikir, benar juga sih untuk apa pria muda seperti Kyuhyun bisa terjebak di pesta membosankan seperti ini jika bukan karena yang berulang tahun adalah Ibunya sendiri atau Ayahnya atau siapapun—yang mungkin saudaranya.

Wanita itu tersenyum kaku, bingung mau menjeaskan apa. Karena memang sudah jelas-jelas dia mengatakan ketidaktarikannya pada acara ini. Kyuhyun yang melihatnya hanya tertawa, lucu sekali melihat wajah wanita yang tadi heboh menjadi canggung begini.

“Lalu kau—” Irene kembali menelan cairan merahnya, “Apa yang membuatmu sendirian disini? Bukannya disana menemani Ibumu atau apalah,” semoga saja pertanyaannya ini bisa membantunya. Oh, Irene sangat berharap sekali.

“Bagaimana jika aku berada disini seperti apa yang sedang mengganggumu sekarang, hm?” tanya Kyuhyun balik disertai senyum kecil yang terlihat disudut bibirnya.

Mata Irene menyipit, sudut bibirnya ikut tertarik keatas lalu terkekeh pelan. “Bosan?” tanyanya retoris.

Kyuhyun ikut terkekeh, kemudian mengangguk. “Kau sudah tau alasannya, kenapa bertanya?”

Wanita itu mengedikkan bahu, bola matanya berputar kesegala arah. “Karena kupikir bukan itu alasannya. Walau memang—well, pesta ini sangat membosankan. Ini acara ulang tahun Ibumu, Kyuhyun. Seharusnya, kau senang karena bisa menikmati ‘kehadiran Ibumu’ lagi ditahun ini bukan?”

Kyuhyun memandangnya dengan sebelah alis yang terangkat keatas, kemudian menyahut. “Tck, jangan sok tahu!”

“Aku benar. Iya kan?”

Hal ketiga yang Kyuhyun ketahui, Irene sok tahu. Baiklah—untuk yang satu ini Kyuhyun akui mirip sekali dengan watak Sena.

Dia mengedikkan bahu lantas berdiri dan meletakkan gelas yang berisi sampanye-nya diatas meja. Berdeham sejenak, dia pun berujar, “Hah.. sepertinya aku harus pergi,” ucapnya seraya melihat rolex silver yang melingkar ditangan kiri. “Tidak apa-apa ‘kan kau kutinggal sendiri?” lanjutnya.

“Oh?” Irene ikut bangkit dari posisi duduknya, sedikit merapikan bagian bawah dress-nya yang tidak rapi. “Kau akan pergi?” dia memandang Kyuhyun sejenak, “Kalau begitu, sampai jumpa—” balasnya dengan senyuman.

“Sampai jumpa? Kau berpikir kita akan bertemu lagi?”

Irene terkekeh, “Kenapa tidak? Memangnya kau tidak mau bertemu denganku lagi? Bukankah kita ini teman?”

“Tidak. Bukan begitu. Haha. Baiklah, terserah padamu saja. Aku pergi.”

Kyuhyun melangkahkan kakinya menjauhi wanita itu. Sebenarnya, Kyuhyun tidak tahu harus pergi kemana tapi tadi saat matanya melirik sebentar kebelakang punggung Irene, bola kelamnya mendapati Cho Yeunghwan yang sedang berjalan kearahnya. Kyuhyun yakin ada yang ingin pria tua itu sampaikan padanya, entah apa. Hanya saja untuk saat ini dia sedang tidak berminat untuk berinteraksi dengannya. Terlebih Ibunya. Pikirannya masih kacau dan dia ingin sendiri dulu. Masalah tentang hubungannya dengan Sena biarlah menjamur untuk sementara.

“Maaf—apa kau putri Kim Boyoung?” ucap sebuah suara yang berhasil membalikan tubuh Irene yang memang sedang memperhatikan langkah Kyuhyun yang menjauh.

Melihat ada seorang pria paruh baya didepannya Irene menjawab “Ah.. ya. Benar.” Irene sedikit membungkukkan tubuhnya, dia tahu siapa pria dihadapannya ini. Dia pun menoleh lagi kearah dimana Kyuhyun baru saja menghilang. Bukankah pria yang saat ini berbicara padanya adalah Ayah Kyuhyun? Lalu kenapa pria itu pergi?

“Saya, Cho Yeunghwan.”

“Ah.. ya, saya Irene Kim. Senang berkenalan dengan Anda Tuan Cho.”

Yeunghwan tersenyum kemudian berkata, “Bisa kita bicara sebentar?”

.
                         (Un)Breakable

.

Sena baru saja menutup pintu apartemennya ketika lampu ruang duduk yang tadi pagi dia tinggalkan dalam keadaan mati, kini menyala terang. Dia kaget, tentu saja. Setahunya Yoorin tidak bilang akan menginap disini, lalu siapa yang menyalakan lampu-lampu ini?

Buru-buru dia memutar tubuh kearah lain, dan terkesiap begitu melihat Kyuhyun sedang berdiri dengan sebelah bahu bersandar pada sisi tembok—dekat dengan pintu kamarnya. Pria itu melipat kedua tangannya didepan dada, menatap Sena intens.

Kenapa dia ada disini? batin Sena.

“Baru pulang?” tanya Kyuhyun tenang.

Menarik napas dalam lantaran lega bukan orang asing yang memasuki apartemennya, Sena pun merajut langkahnya menuju Kyuhyun, disertai dengan senyum tipisnya yang tampak lelah. Sesampainya disana, dia membuka lipatan tangan Kyuhyun untuk kemudian menjatuhkan kepalanya yang terasa sedikit pusing pada dada bidang pria itu.

Tangannya melingkar ringan pada pinggang Kyuhyun, lalu bergumam lirih, “Hm… yah…”

Kyuhyun membalas pelukan Sena. Setelah tadi berputar-putar tidak jelas mengelilingi Seoul, dia memutuskan untuk tinggal bersama wanitanya saja. Walau baru berpisah pagi tadi, entah kenapa rasa rindunya malah makin membuncah. Ingin selalu berada didekat wanita ini. Ditambah dengan perkataan Ibunya yang membuat rasa rindu malah semakin bertambah.

“Kenapa baru pulang?” tanyanya lembut, lalu menggiring tubuh yang masih berada dalam pelukannya itu menuju sofa. Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya terlebih dulu, kemudian menuntun Sena untuk duduk diatas pangkuannya. Lalu, mendekap kepala wanita itu lagi dan mengelus surai cokelatnya.

Tangan Sena memainkan kancing kemeja hitam Kyuhyun. Kepalanya mengusal sebentar sebelum menjawab, “Tidak apa-apa, aku hanya menghabiskan waktu dengan anak-anak dirumah besar.”

“Maksudmu, Shayna dan Shalom?” tanya Kyuhyun.

“Ya, kau pikir siapa lagi Tuan Konglomerat,” sahut Sena sinis seraya menepuk pelan bahu Kyuhyun, yang dibalas dengan kekehan pria itu.

Setelah berpisah dengan Changmin tadi siang, Sena memang memutuskan untuk mengunjungi kediaman Lee Hyukjae. Karena jadwalnya kosong, sementara dia tidak tahu akan melakukan apa di apartemen—yang bisa berakibat fatal pada dirinya yang kebosanan—jadi menurutnya pergi menemui keluarga kakaknya bukanlah hal yang salah.

Lagipula, sudah dua minggu ini, Sena tidak bertemu dengan dua gadis cilik itu omong-omong. Dan dia sangat merindukan si cat-dog garis keturunan kakanya dengan Jo Eunso itu.

Mereka terdiam lama. Menyesap keheningan bersama, saling membaumi feromon masing-masing yang sudah menjadi candu. Sena dengan kepalanya yang akhir-akhir terasa sakit disertai dengan perutnya yang seringkali terasa nyeri—entah karena apa, dan Kyuhyun yang masih termenung atas ucapan Ibunya tadi siang.

“Kenapa kau disini?” tanya Sena kemudian, memecah kebungkaman mereka. Bukannya menjawab, Kyuhyun malah semakin mengeratkan pelukan itu. “Bagaimana dengan rapatmu tadi?” tanya Sena lagi.

“Baik-baik saja.”

“Lalu, bisa kau jelaskan kenapa kau berada disini? Bukankah malam ini Ibumu berulang tahun? Besok, kau juga harus mengambil penerbangan pagi untuk ke Singapore kan?”

Kyuhyun terkekeh pelan, kemudian jarinya menjepit dagu Sena, membawa kepala wanita itu untuk mendongak kearahnya. “Kau selalu cerewet ya jika denganku,” ledeknya, “Aku harus jawab yang mana dulu kalau begitu? Satu-satu, Sena.” lanjutnya lagi.

Sena berdecak, tangan kanannya terangkat untuk melepaskan jemari Kyuhyun yang menjepit dagunya, namun tidak bisa. Karena, walaupun pria itu menjepitnya dengan lembut tapi bisa Sena rasakan adanya kekuatan disana, sedangkan dia yang sedang benar-benar kelelahan tidak cukup kuat untuk melepaskan jepitan itu. Jadi, yang dia lakukan sekarang hanya menyentuh pergelangan tangan Kyuhyun.

“Kau bisa menjawab tiga pertanyaanku sekaligus Cho Kyuhyun,” ucapnya dengan nada sedikit sinis.

Kyuhyun kembali terkekeh, lantas mengecup kilat bibir Sena yang sedikit terbuka itu. “Rapat tadi siang berjalan lancar dan mengambil keputusan bahwa aku akan dipindah-tugaskan disini. Seoul. Untuk membenahi Silk Air yang sedang kacau. Ulang tahun Ibuku sudah selesai sejak dua jam yang lalu Nona, bisa kau lihat pukul berapa sekarang? Setengah satu. Dan karena itulah, aku bisa berada disini. Puas?”

Mata Sena mengerjap lucu, dari semua kalimat yang dikeluarkan dari bibir tebal Kyuhyun yang dia tangkap baik-baik adalah ketika pria itu mengucapkan ‘aku akan dipindah-tugaskan disini. Seoul’. 

“Kyuhyun, kau akan menetap disini?” tanyanya.

Kyuhyun tersenyum, lalu menyembunyikan wajah Sena dilehernya. Kembali memeluknya dengan erat. “Teknisnya sih sementara, kau senang?” tanyanya. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah tawa wanita itu yang menggema dietelinganya. “Ya, tentu saja aku senang.” Balas Sena tanpa ragu.

Setelah bertahun-tahun harus berpisah jarak, hanya sesekali saja bertemu, akhirnya mereka bisa lagi berada disatu negara bahkan satu kota. Siapa yang tidak senang? Walau hanya sementara, setidaknya keinginan itu sudah terjadi.

Tunggu—keinginan? Apa sudah lama Sena mengharapkan ini?

Kyuhyun merenggangkan pelukannya, tersenyum lebar lagi menatap wajah kedambaannya. Namun itu hanya sesaat, karena begitu sadar wajah Sena yang memucat otot bibirnya langsung berkedut. “Kau sakit?” tanyanya khawatir.

Sena yang tidak mengetahui seberapa piasnya wajah itu, hanya memandang Kyuhyun dengan alis mengernyit. “Tidak, kenapa bertanya seperti itu?” tanyanya balik.

Jemari Kyuhyun mengusap bibir Sena yang baru dia sadari tidak semerah biasanya. Bibir itu mengering. Kemudian jari-jari panjangnya berlari untuk mengusap pipi wanita itu dengan penuh fokus, disana dia juga tidak mendapati rona merah yang selalu menghiasi kedua sisi wajah Sena.

“Kau terlihat pucat,” bisik Kyuhyun tegas.

Sena terkesiap, dengan gerakan cepat dia langsung meletakkan kedua telapak tangannya pada pipinya masing-masing. “Benarkah?” ucapnya yang dijawab satu kali anggukan oleh Kyuhyun. “Mungkin ini karena aku kelelahan,” lanjutnya lagi meyakinkan. Dia tidak mau memberitahu Kyuhyun jika kepalanya saat ini sedang berdenyut-denyut sakit karena jika dia mengatakan itu, dia akan tahu bagaimana selanjutnya reaksi Kyuhyun. Dan kejadian kemarin, tidak mau dia ulang lagi. Dimana pria itu marah-marah padanya karena bisa-bisanya sedang sakit tapi malah menyepelekan rasa sakit itu.

Kyuhyun sangat perhatian padanya, tapi jika dilingkupi dengan kekhawatirannya pria itu akan berbalik menjadi monster. Marah-marah tidak jelas. Dan kebiasaan itu sangat tidak Sena sukai.

Mata Kyuhyun menyipit, sedikit tidak percaya pada ucapan wanita didepannya. “Kau yakin?”

Sena mengangguk.

“Kau tidak sedang menipuku ‘kan?”

Sena kembali mengangguk.

“Tidak ada yang sakit?”

Sena menggeleng.

“Bisa kupegang kata-katamu?”

Kembali lagi Sena menganguk.

“Kau—”

“Ish Cho Kyuhyun! Aku tidak apa-apa. Sumpah!” sentaknya seraya menutup mulut Kyuhyun, tidak ingin mendengar pria itu menghakiminya lagi. Kalau begitu terus, yang ada nanti malah ketahuan.

Dengan mendesah pasrah, akhirnya Kyuhyun pun mengangguk. Bukan karena dia menerima setiap perketaan Sena, hanya saja untuk saat ini dia akan mengikuti kemauan wanita itu. Karena sungguh, sebenarnya, dia curiga dengan kondisi Sena saat ini.

“Kalau begitu minum obat,” Itu bukan permintaan tapi perintah dari seorang Cho Kyuhyun. Dan Sena menyadari itu. Oh tidak, Sena sedang tidak ingin merasakan yang pahit-pahit memasuki mulutnya. Dia tidak mau.

Kyuhyun hampir saja mengangkat tubuhnya untuk dituntun duduk diatas sofa, ketika dia dengan segera langsung melingkarkan tangannya pada leher pria itu. Menahan Kyuhyun untuk tidak bergerak.

Sena menggeleng, bibirnya dia tipiskan. Membuat Kyuhyun mendesah, “Aku harus mengambil obatmu, Sena,” ucapnya penuh penegasan.

Sena kembali menggeleng, kemudian berkata “Aku tidak sedang sakit Kyuhyun. Kita tidur saja, oke?” tawarnya.

Pria itu terdiam sesaat, fokusnya tak lepas dari wajah Sena, untuk kemudian menggeleng tegas. “Tidak bisa. Wajahmu pucat sekali, demi tuhan. Aku tidak mau tahu!” Kyuhyun akan bangkit lagi namun Sena juga lagi-lagi menahannya. “Ayolaaaah.. kita tidur saja~”

“Minum obat dulu.”

“Aku tidak mau!”

“Harus. Lee Sena.”

“Aku tidak ingin!”

Kyuhyun menghembuskan nafas keras, ini adalah salah satu sifat Sena yang sudah mendarah-daging, sulit sekali untuk diatur bahkan hanya untuk sekadar meminum obat. Bukannya apa-apa, Kyuhyun hanya cemas akan kondisinya. Mengingat kemarin wanita ini baru saja terkena asam lambung.

“Tck, terserah padamu sajalah Cho Kyuhyun! Kenapa kau suka sekali mengatur-atur sih?” gerutu Sena seraya bangkit dari pangkuan pria itu.

Dia baru saja akan melangkah memasuki kamarnya, ketika tangan kanannya digenggam oleh Kyuhyun yang menahannya untuk tidak pergi. “Sudah makan?” tanyanya dengan suara melembut. Sena menjulingkan mata, kemudian berdecak. “Kalau aku bilang belum, kau akan memaksaku lagi ‘kan?”

Kyuhyun ikut bangkit dari posisi duduknya, kedua tangannya dia gunakan untuk menangkup rahang Sena. Memperhatikan wanita itu baik-baik. “Berhenti membuatku cemas, bisa tidak? Jangan membuatku tidak berguna. Aku hanya khawatir padamu, kau paham betul itu. Jadi—tolonglah mengerti. Sedikit saja. Oke?”

Hati Sena menghangat tiba-tiba. Kenapa Kyuhyun suka sekali menjungkir-balikan perasaannya? Kalau seperti ini, dia mana bisa terus-terusan merasa kesal pada pria itu?

Sena tersenyum lemah, tangannya terangkat untuk menyentuh tangan pria itu yang masih bertengger pada rahangnya. “Aku tidak apa-apa, sungguh. Jangan berlebihan. Ini hanya kelelahan karena bermain dengan anak-anak,” ucapnya dengan mata meyakinkan Kyuhyun.

Kyuhyun kembali mendesah, kemudian mengangguk. “Baiklah.. kita tidur. Kajja!” dia pun menggiring Sena menuju kamarnya. Menyelimuti tubuhnya dan tubuh wanita itu. Malam ini, untuk pertama kalinya bagi mereka, tidur satu ranjang tanpa melakukan kegiatan apapun selain saling memeluk dan berbagi kehangatan.
.

                      (Un)Breakable
.

“Surprise!”

Changmin tersentak begitu membuka pintu rumah kecilnya yang beberapa bulan lalu baru saja dia huni. Matanya yang masih mengantuk, seketika membuka lebar kala melihat sosok yang kini sedang berdiri dihadapannya dengan senyum mahalebar.

“Kau?” tanyanya tak percaya.

“Kejutaaaaan..” balas orang tadi, kemudian tanpa permisi langsung mendorong tubuh tinggi Changmin hingga dia bisa masuk kedalam rumah pria tersebut. Mendudukan bokongnya diatas sofa cokelat-susu ruang tamunya, kemudian mendesah panjang. Senang karena berhasil mengejutkan Shim Changmin yang bahkan baru terbangun dari mimpi indahnya.

“Hei, kenapa hanya berdiri disitu? Ayo masuk!” perintahnya seperti dialah sang pemilik rumah bukan si pria jangkung itu.

Chagmin yang masih tak percaya akan kemunculan orang itu didepan rumahnya, hanya bisa mengangakan mulut. Well, dia tahu bahwa orang itu sudah kembali ke Seoul tapi dia sama sekali tidak menyangka jika orang itu mengetahui alamat rumah barunya ini. Dan ‘bertamu’ sepagi ini.

Dengan perlahan Changmin menggeser bola matanya, melirik jam digital yang menggantung indah di dinding, kemudian matanya membulat. Astaga apa yang ada didalam pikiran orang itu? ini bahkan masih pukul setengah tujuh pagi.

Chagmin mendengus keras, harusnya dia masih tidur. Masih bergelung dibalik selimut. Dan omong-omong ini adalah hari Sabtu. Weekend. Dimana dia tidak memiliki kewajiban apapun jadi bisa bersantai sampai siang nanti tapi, kehadiran orang itu malah mengganggu waktu istirahatnya.

Setelah semalam memberikan kejutan untuk Ibunya—Kim Hana—yang sedang berulang tahun (walau sedikit terlambat) kini malah dia yang mendapat kejutan. Terlalu cepat. Biar Changmin ulangi lagi, ini terlalu masih pagi. Pukul setengah tujuh. Benar-benar.

“Shim Changmin!” sahut suara itu lagi. Karena tidak ingin telinganya terasa ‘ramai’ pagi ini, akhirnya dia pun memutuskan untuk mendekati orang itu. Duduk disebelahnya, melipat kedua tangannya didepan dada, kemudian menjatuhkan punggungnya pada punggung sofa.

“Kenapa? Sepertinya kau tidak senang aku datang…” gumam orang itu dengan wajah yang merengut amsam.

Changmin meliriknya sekilas, sebelum menyahut, “Bukannya tidak senang, kau hanya terlalu pagi untuk berkunjung kerumah orang.”

Orang itu tersenyum girang, kemudian menepuk bahu Changmin. “Ini namanya kejutan tahu! Kalau aku datang siang-siang yang ada kau malah sedang tidak ada dirumah.”

“Ini weekend jika kau lupa, Ai.”

“Weekend bukan berarti kau akan dirumah terus-terusan. Siapa yang tahu kau akan pergi atau tidak, iya kan?” orang yang dipanggil Ai itu terus tersenyum. Merasa menang karena selanjutnya tidak ada sanggahan apapun dari pria bermarga Shim itu.

Changmin membenarkan posisi tubuhnya menjadi tegak, kemudian dia mengangkat tangannya mengusap surai panjang Ai. “Ck. Kau memang berhasil membuatku terkejut, Nona. Tapi bukan hanya terkejut, kau sekaligus berhasil mengganggu waktu tidurku,” sahutnya.

Wanita itu semakin melebarkan senyumnya, tertawa geli kemudian meraih tangan Changmin untuk dipeluknya, “Bagaimana jika kita berkeliling?” ajaknya “Kita berkencan,” lanjutnya dengan alis yang dimainkan, disambut oleh pria itu dengan kekehan gelinya.

Changmin mencubit gemas hidung Ai. “Aku sangat merindukanmu, omong-omong.” Katanya seraya memeluk tubuh ramping wanita itu. Membaumi aroma kekasihnya yang sudah lama tidak dia jumpai.

“Aku juga. Tidak menyangka akhirnya aku bisa menyusulmu kesini,” balas Ai disertai dengan kikikan diakhir kalimatnya.

“Ya. Dan akhirnya aku bisa mengencani seorang master bukan sarjana lagi,” ucap Changmin dengan tangan yang bergerak halus mengusap punggung wanita itu.

Setelah memutuskan untuk pergi menjauh dari Sena maupun Kyuhyun, Changmin tidak pernah menyangka akan bertemu dengan wanita ini ditahun keduanya tinggal di negara orang tersebut. Wanita yang selalu saja menebarkan senyumnya pada orang lain—yang kadang membuatnya cemburu saking ramahnya. Wanita yang penuh percaya diri dan penuh semangat serta tekad.

Yang tidak lebih dipercayanya lagi, bahwa dia bisa menaruh hatinya pada seorang Ai yang kebanyakan sifatnya berbanding terbalik dengan Lee Sena—wanita yang cenderung pendiam dan tidak suka macam-macam. Jujur saja, pada dasarnya dia lebih tertarik dengan wanita yang memiliki sifat seperti Sena, karena menurutnya sifat Sena sangat mencerminkan dirinya. Jadi dia pikir akan lebih mudah jika dia menjalin hubungan dengan orang yang sangat mirip dengannya.

Tetapi, hati seringnya tidak pernah patuh pada sang pemilik bukan? Hingga akhirnya dia bisa menjalani hubungan dengan Ai—yang kini hampir sepenuhnya menempati ruang dihatinya. Yang sebelum ini hanya diperuntukkan untuk Lee Sena seorang.

Changmin tidak akan mengatakan bahwa dia mendompleng eksistensi Sena didalam hatinya. Tidak pernah dan tidak akan bisa karena, walau bagaimanapun wanita itu menghancurkan perasaannya dulu, dia tetaplah menjadi cinta pertama untuknya. Kekasih pertamanya. Dan berkat wanita itulah dia bisa merasakan jantungnya berdebar tak karuan saat berhadapan dengan lawan jenis. Debaran yang menyenangkan. Sena adalah perempuan yang mengenalkannya pada makna cinta itu apa, walau dia tak pernah sekalipun mendapatkan imbalan setimpal atas perasaannya dulu.

Dan kini semuanya mulai berubah, Lee Sena bukan lagi pusat dunianya. Wanita itu adalah milik sahabatnya. Saudaranya.  Sena milik Cho Kyuhyun. Sementara dihatinya sendiri, kini sudah bertengger sebuah nama. Si perempuan yang diyakini seterusnya akan mengisi ruang dalam hatinya itu.

“Maaf tidak bisa datang dihari kelulusanmu,” lanjutnya dengan suara sarat penyesalan.

Mendengar penyesalan kekasihnya tersebut Ai pun mengangguk. Tersenyum maklum lalu mengeratkan pelukannya.

“Kau tidak mau bertanya kenapa aku mengetahui alamat rumahmu ini? Kau ‘kan tidak pernah memberitahuku,” katanya mulai memancing pembicaraan lain.

Dengan gerakan cepat pria itupun merenggangkan pelukannya, matanya menyelidik bola mata Ai. Dia baru ingat, darimana kira-kira wanita ini tahu alamat rumahnya?

Ai terkekeh geli menikmati raut wajah kekasihnya. “Jack yang memberitahuku. Kau tahu, sahabatmu itu mudah sekali untuk disogok,” Uugkapnya dengan menggesekkan jari telunjuk dan jempolnya didepan muka Changmin.

“Kau tidak menyogoknya dengan hal yang macam-macam kan?”

“Eiiy, tentu saja tidak. Kau pikir aku ini apa?” sanggah Ai. “Sudah, cepat mandi sana! Setelah itu kita mencari sarapan bersama. Shoo! Shoo ! Cepat! Cepat!” lanjutnya dengan kedua tangan yang mengibas-ngibas mengusir Changmin.

Changmin berdiri dari duduknya, namun begitu hendak melangkah, dia urungkan niatnya itu. Membuat Ai mengernyitkan alis. Lalu sedetik kemudian, Changmin kembali memutar tubuhnya, menukik tajam dihadapan Ai. Lalu, bibirnya melumat lembut bibir wanita itu, sarat akan kerinduan.

Ai sendiri tidak melakukan apa-apa, dia terlalu kaget akan gerakan Changmin omong-omong. Jadi dia hanya bisa menikmati setiap hisapan yang dilakukan pria itu pada bibirnya. Lima belas detik berselang hingga akhirnya Changmin mengakhiri ciuman tersebut. “Ternyata lebih dari yang kurindukan,” ucapnya lirih kemudian melumat lagi bibir itu sebentar, setelah itu dia pergi meninggalkan Ai yang terbengong sendiri.

“Yak! Kau belum menggososk gigimu kan? Dasar jorok! Aaaaargh… Shim Changmin jorok!” teriak Ai menggemparkan, dia melemparkan bantal sofa kearah dimana Shim Changmin, kemudian mengusap-usap bibirnya. Ewh. Bagaimana bisa dia terlena pada gerakan bibir pria itu tadi. Bodoh! Kenapa baru menyadarinya sih?

.
                            (Un)Breakable

.

Jika dihitung menggunakan waktu, maka hari ini adalah hari ketujuhnya Cho Kyuhyun menetap di Seoul. Walau masih tidak terima dengan ucapan Ibunya beberapa waktu lalu, dia tetap tidak bisa memutuskan sepihak untuk tidak tinggal dirumah besar kediaman keluarganya itu. Dia tetap tinggal disana, walau dengan kondisi hubungan yang sedikit merenggang.

Sebenarnya Kyuhyun bisa saja memilih untuk tinggal di apartemennya, tapi dia tidak mau. Bagaimanapun, Kim Hana dan Cho Yeunghwan adalah orang tuanya. Dan dibalik sifat kerasnya, Kyuhyun selalu mencoba untuk tetap menghormati keberadaan kedua manusia paruh baya yang telah membesarkannya tersebut.

Tok. Tok. Tok.

Bunyi ketukan pintu menginterupsi kegiatan Kyuhyun yang sedang memeriksa dokumen. Tatapan matanya kemudian beralih dari kertas-kertas putih yang ada diatas meja kerjanya, kearah pintu ganda berwarna abu-abu tua dihadapannya. “Masuk!” perintahnya.

“Apa aku mengganggu?”

Kyuhyun kembali mendongak, mendapati kepala Sena yang menyelip diantara celah pintu yang terbuka dengan bibir yang menyengir lebar. Dia pun terkekeh, melepas kacamata silindrisnya. Terkejut lantaran ini adalah pertama kalinya bagi wanita itu mendatangi kantornya setelah sekian lama.

“Apa yang kau lakukan disana? Masuklah.” ucapnya seraya bangkit berdiri, berjalan sebentar menuju tepi meja kemudian menumpu bokongnya disana dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada.

Sena tersenyum dengan menggigit bibir bawahnya. “Ta-Daaaaaa…” jeritnya kemudian sambil membuka lebar salah satu daun pintu itu.

Mata Kyuhyun membulat, kemudian tertawa keras. Langkahnya dia rajut menuju seseorang tadi sempat disembunyikan Sena dibalik pintu, begitupun orang tersebut.

“Lama tak jumpa, kawan.” Kata Changmin sambil memeluk Kyuhyun.

“Sepertinya kau sudah ingat dengan kampung halaman ya?” sahut Kyuhyun dengan menepuk keras punggung pria yang lima centi lebih tinggi darinya itu. Kemudian melepaskan pelukan mereka.

Changmin tergelak diikuti dengan Kyuhyun setelahnya. Ini adalah kali pertama dia bertemu dengan Cho Kyuhyun. Rencananya dia akan menemui pria ini di pesta ulang tahun ibunya tapi ternyata si gila pemain saham dihadapannya ini sudah tidak ada disana. Dan baru kali ini dia sempat menemuinya, itupun dengan Sena yang menariknya karena kebetulan mereka telah menyelesaikan pemotretan untuk Secret Magazine.

Kyuhyun sebenarnya tahu bahwa Shim Changmin sedang berada di Korea dari kedua orang tuanya, namun dia pun tidak ada waktu untuk mencari tahu keberadaan pria itu. Ini semua karena beban tugas yang dilimpahkan padanya. Dan sekarang mereka malah bertemu, dengan Sena sebagai perantaranya. Dia sendiri tidak tahu jika mereka sudah saling bertemu.

Tunggu, apa dia tadi menyebutkan bahwa Changmin dan Sena sudah lebih dulu bertemu? Kenapa dia baru sadar? Apa wanita itu mengetahui keberadaan Changmin?

Mata Kyuhyun kemudian menyipit pada keduanya secara bergantian. “Kalian sudah lebih dulu bertemu dibelakangku?” interogasinya.

Changmin mengedikkan bahu, kemudian merangkul Kyuhyun untuk duduk diatas sofa yang memang telah disediakan disana. Diikuti dengan Sena dibelakang kedua sejoli itu. “Teknisnya kita ini rekan kerja,” Changmin berdeham sejenak, mencari posisi nyaman pada tubuhnya kemudian menatap Sena, “Iya kan, Sena? Jadi, tidak perlu cemburu begitu,” lanjutnya lagi disertai kekehan yang dibalas dengan anggukan dari wanita itu.

“Changmin adalah fotografer untuk proyekku yang baru,” jelas Sena.

“Dan kalian tidak memberitahuku?” ucapnya.

“Aku tidak memiliki kontakmu Cho Kyuhyun, sekadar informasi.” jawab Changmin lugas.

“Dan terakhir kali kita bertemu adalah tujuh hari lalu, saat kau menginap, aku pikir kau sudah bertemu dengannya diacara ulang tahun Ibumu,” tambah Sena tak kalah lugas.

Kyuhyun mendesah. Benar juga sih. Kemudian menatap Changmin lekat. “Dan kau baru menemuiku sekarang? Yang benar saja Shim Changmin!” ucapnya.

“Oh Come On.. Aku baru tahu bahwa kau menetap kembali disini untuk sementara Cho Kyuhyun. Aku juga baru tahu kalau kau mengambil alih Silk Air untuk berada dibawah pimpinanmu. Ibu tidak memberitahuku apa-apa, dan sudah kubilang aku tidak memiliki kontakmu. Jadi, jangan salahkan aku, oke? Berterima-kasihlah pada kekasihmu ini karena dia dengan senang hati menyeretku untuk sampai disini.”

Sena mendelik, kemudian melempar Changmin dengan setangkai bunga yang berada didalam vas yang diletakkan diatas meja tamu itu, “Sudah kubilang, kami bukan sepasang kekasih!” ucapnya keki.

“Akui sajalah Lee Sena.”

“Ck, kau ini keras kepala sekali jika diberitahu.”

“Aku memang benar, iya ‘kan Cho Kyuhyun?”

“Benar apanya? Kita itu bu—”

“Aiish.. sudah, sudah. Kenapa kalian selalu ribut jika bertemu?” sela Kyuhyun menghentikan kalimat Sena. Jujur saja, dia sebenarnya tidak suka dengan pengakuan wanita itu. Bukan sepasang kekasih. Kenapa kalimat itu terdengar kejam ditelinganya? Dan perdebatan mereka berdua, jujur saja, sedikit-banyak membuatnya tidak suka. Ini mengingatkannya pada beberapa tahun lalu saat mereka masih menjalin hubungan.

Kyuhyun menggeleng keras, dia baru saja akan mengganti topik pembicaraan sebelum Changmin yang lebih dulu mengeluarkan suaranya. “Bagaimana jika kita makan siang bersama?”

“Ide yang bagus,” angguk Kyuhyun sekenanya. Yeah.. setidaknya topik ini lebih baik dibanding tadi.

Lalu kedua pria tersebut menggeser pandangannya pada Sena, yang masih saja cemberut. “Bagaimana? Kau mau ‘kan?” tanya Changmin yang dibalas wanita itu dengan desahan malas, “Aku tidak lapar,” jawabnya padat tanpa mau melihat siapapun.

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya, tubuhnya yang tadi membungkuk dengan disandar pada kedua tangannya yang ditumpu diatas paha kini menegak. “Tidak lapar?” tanyanya retoris.

Dia menghembuskan napas, penyakit gampang marahnya Lee Sena muncul lagi. “Kau hanya memasukkan empat sendok sereal kedalam lambungmu saat sarapan. Jangan mengelak, kau sendiri yang memberitahuku pagi tadi. Dan sekarang sudah waktunya makan siang–” Kyuhyun melirik jam yang melingkar ditangannya. “Jadi, aku tidak terima alasan kau tidak lapar atau sudah kenyang. Mengerti?”

“Kenapa bisa begitu? Kau curang!”

“Aku anggap itu sebagai pujian, Nona. Terimakasih.” ucapnya seraya bangkit berdiri.

Changmin yang menyaksikan mereka berdua sedari tadi, hanya bisa menatap heran. Bergantian membagi fokusnya pada kedua anak manusia tersebut. Sudut bibir bawahnya dia gigit. Wah.. Apa seperti ini yang disebut dengan tidak sedang menjalin hubungan apapun? Kenapa ucapan dan tindakan terlihat sangat berbeda?

Sena menoleh padanya, menatap dengan kesal pada Changmin. Ini semua gara-gara usulan pria itu, padahal perut Sena sedang dalam keadaan tidak baik. Dia sedang tidak ingin memasukkan makanan apapun kedalam sana. Dan sekarang, Kyuhyun memaksanya. Kalau sudah begini dia tidak akan bisa apa-apa selain menuruti kemauan Tuan Konglomerat itu.

Changmin yang menyadari tatapan Sena, berdeham canggung, “Kupikir Cho Kyuhyun benar. Kau selalu saja seperti ini, bilang tidak lapar padahal isi perutmu itu kosong. Sampai akhirnya asam lambungmu kambuh.” Pria itu bangkit berdiri, mengambil kamera kesayangannya.

“Berhenti membuat orang lain cemas, Sena. Kau samasekali tidak berubah ya?” Ucapnya —lagi—setengah berbisik. Menghindari kalimat itu untuk terdengar oleh Kyuhyun. Kemudian dia berjalan kearah Kyuhyun yang sedang merapikan meja kerjanya, lalu berucap, “Lagipula aku ingin mengenalkan kalian pada seseorang.”
.

                             (Un)Breakable
.

Setelah perdebatan panjang yang dilalui Kyuhyun-Sena atau Changmin-Sena atau Kyuhyun-Changmin atau ketiganya sekaligus, akhirnya mereka berakhir disini. Didalam restoran India ini. Usulan Sena yang meminta untuk makan siang di restoran Italy, ditolak mentah-mentah oleh kedua pria tampan itu. Kyuhyun menolak dengan alasan karena yang akan dipesan wanita itu adalah pasta –makanan yang menurutnya saat ini sangat tidak cocok dengan perut Sena yang kosong, sedangkan Changmin menolak karena dia tidak begitu tertarik dengan makanan-makanan dari negeri spageti itu.

“Aku pesan—” Changmin meneliti daftar menu yang ada ditangannya. “Tikka Massala dan Matcha.” Ucapnya kemudian menyerahkan buku menu pada seorang pelayan.

“Seitan Vindaloo, Lemon Tea —” ucap Kyuhyun juga seraya memberikan buku menu itu. “Kau?” tanyanya pada Sena.

Sena menghembuskan napas, kemudian mengedikkan bahu. “Samakan saja denganmu.”

“Tikka Massala dan Matcha satu porsi, sedangkan Seitan Vidaloo dan Lemon Tea dua.” Ucap Kyuhyun pada pelayan tersebut.

Pria berseragam ala pakaian india itupun mengulangi pesanannya, setelah yakin tidak ada yang dipesan lagi oleh ketiga orang tersebut, dia pun pergi.

“Jadi, kau akan membuka galerimu sendiri disini dan meninggalkan NatGeo?” tanya Kyuhyun. Changmin yang sedang memainkan ponselnya pun mendongakkan kepalanya, lalu mengangguk. “Kau samasekali tidak tertarik bergabung denganku untuk mengelola Singapore Airlines bersama? Atau setidaknya Silk Air?” tanyanya sekali lagi, kali ini dengan sebelah alis yang diangkat keatas.

“Terimakasih sudah menawariku, tapi sungguh aku tidak berminat,” jawabnya disertai dengan senyum kecut.

“Saham perusahaan keluargamu berada ditanganku, Changmin. Kau memilikinya. Dan kau berhak mengaturnya.”

“Yeah, aku tahu. Tapi bisinis bukanlah duniaku, kau sadar itu. Jadi tolong, tidak usah memintaku lagi untuk bergabung denganmu atau dengan Ayah ya? Karena hasilnya akan percuma. Aku hanya bisa mempercayakan semuanya padamu. Itu saja.” Balasnya disertai dengan kekehan.

Kyuhyun mendesah pelan, lalu mengedikkan bahu. Matanya kemudian beralih pada Sena yang sejak tadi sibuk melihat-lihat majalah fashion yang baru wanita itu ambil dari dalam tasnya. “Dasar perempuan,” gumam Kyuhyun.

Changmin terkikik geli. Well, tidak heran sih, namanya juga seorang model pastinya akan mengikuti trend pakaian atau aksesoris terkini. Jadi, yang dilakukan Sena saat ini adalah tindakan yang wajar menurutnya.

“Ini cantik sekali…” ucap Sena memecah keheningan. Matanya berbinar kala melihat deretan liontin sebuah kalung berbentuk hati yang didalamnya terdapat bunga. Entah Sena harus menyebutnya apa lagi, karena itu memang bunga dan bunga itu tampak nyata didalam sana. Dan Sena, jadi menginginkannya.

Kyuhyun dan Changmin menoleh secara bersamaan, “Apa?” tanya keduanya bersamaan.

Sena tersentak, kemudian langsung menutup majalah yang berada ditangannya. Wanita itu menggeleng dengan bibir yang dia lipat kedalam. Membuat Kyuhyun maupun Changmin menatapnya aneh.

“Hai! Apa aku terlalu lama?” ucap seseorang yang membuat ketiganya lagsung menoleh pada suara sapaan tersebut.

Ketiga orang lainnya yang berada disana, memberikan ekspresi yang berbeda-beda. Changmin senang karena yang ditunggu akhirnya datang juga, Kyuhyun yang membelalakan matanya tak percaya dan hampir saja menjatuhkan dagunya diatas lantai dan Sena yang menatap wanita itu dengan alis mengernyit. Ya, jadi seseorang yang akan dikenalkan Changmin padanya dan Kyuhyun adalah seorang wanita—yang sangat manis. Catat: sangat manis!

Bukan—bukannya Sena tidak suka. Wanita bertubuh setinggi 168 cm itu hanya sedikit memiliki masalah sosial terhadap orang asing. Dan dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa berinteraksi dengan lancar terhadap orang baru. Jadi itulah ekspresi yang dikeluarkannya. Dingin.

“Kau—” ucap sebuah suara menginteruspsi, dan menyadarkan pikiran masing-masing.

—tbc

41 thoughts on “Breakable Part 2

  1. Woahh… siapa yg bilang ” kau…” ya???

    Jadi seperti itulah kisahnya si kyuhyun dan sena yg tak kunjung dapet status.. rasanya kayak lagu dangdut yg lagi bertebaran

    Fighting kak!!! Lanjutin lagi

    Suka

  2. Jangan2 irene -_
    Ya dunia sempit ketemunya disitu situ aja wkwk
    Ditunggu klnjtnnya eonni^^
    Smga cpt2 dipost hihihi
    Ga sabr itu siapa cewenya changminn

    Suka

  3. Masih penasaran kenpa omma kyu menolak sena dengan tegas 😕
    Bapaknya kyu ngapain deketin irene..ada gelagat perjodohan nih kayanya 😱
    Sena kyu itu so sweet bgt ya..ga usah lebay pacaran nya..tapi saling membutuhkan dan perhatian 😆

    Suka

  4. Itu kayanya Irene ya ???

    Tapi, kayanya Irene itu ada tencana mau d jodohin sama c’Kyu ya kalau d liat dari gelagat bapanya kemarin ???

    Tapi, dia itu juga bukannya pacarnya Changmin ya ???
    Iya kan ???

    Terus, kalau betul begitu … Gimana kabar perasaan Sena ????

    Suka

  5. Itu pasti irene, udahlah kyu ama irene aja, sena ama changmin gitu aja!😉 soalnya aku lebih suka irene😁😁😁 pasti irene dijodohin ama kyuhyunkan?! #soktauamatyah😂😂😂
    Ok lah ditunggu next partnya thor, cemungut yeah😊

    Suka

  6. Itu jangan jangan irene,,,,
    Aduh,,,,kenapa mereka saling terkait mulu ya masalah cinta???
    Sena,,,,aq kok mlah berfikir klo dia hamil ya???

    Suka

  7. Kok aku ngiranya sena hamil lagi yak?/ wkwk. Doain aja kyuhyun jalin hubungan yang lebih dalam biar ibunya ga ngoceh mau jodohin kyuhyun sama siapa itu namanya lupa jadian kan😂

    Suka

  8. Kok aku ngiranya sena hamil lagi yak?/ wkwk. Doain aja kyuhyun jalin hubungan yang lebih dalam biar ibunya ga ngoceh mau jodohin kyuhyun sama siapa itu namanya lupa jadian kan😂

    Suka

  9. Kok aku ngiranya sena hamil lagi yak?/ wkwk. Doain aja kyuhyun jalin hubungan yang lebih dalam biar ibunya ga ngoceh mau jodohin kyuhyun sama siapa itu namanya lupa jadian kan😂

    Suka

  10. Semoga jadi komen pertama.
    Jjang! Karakter kyuhyun nya suka banget.

    Jadi pengusaha tpi nggk dingin jahat kejam dll.

    Beda dan Keren ini mah!
    Waiting for the next part~

    Semangat kak! 🙂 🙂 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s