Rancore Part 4


 

Tittle               : Rancore Part 4

Cast                 : Kyuhyun, Seung Hye, Seung Mi

Category         : NC 21, Yadong, Sad, Romance, Family, Chapter

Author              : Vhiy Zaza

 

*****

Seung Mi POV

 

Aku tahu, sangat tahu. Mereka berbohong saat mengatakan tidak sengaja bertemu di jalan. Itu semua sangat tidak mungkin. Seung Hye tidak akan senekat itu pergi keluar disaat ia tidak mengingat apa pun. Jika pun ia keluar, pasti ada yang membawanya, dan aku sangat yakin, jika tadi Kyuhyun sengaja datang ke rumah kami untuk mengajak Seung Hye keluar.

 

Kutatap Kyuhyun dengan tajam. “Tidak sengaja bertemu ya?!” Tanyaku sinis. Lalu tertawa mengejek. “Aku sangat tahu kau seperti apa, Kyuhyun-ah­. Dan itu tadi bukan hanya karena tidak sengaja bertemu,” Sambungku, nada suaraku masih sinis.

 

Tawa mengejekku tadi kini berubah menjadi tawa frustrasi ketika melihat wajah datar Kyuhyun. Ia hanya menanggapi amarahku dengan raut datar seperti itu. “Katakan maaf padaku, dan aku akan memaafkanmu dengan mudah.” Tidak ada lagi ucapan sinis, yang ada hanya suara lemah dan menyedihkan. “Aku mohon, Kyuhyun-ah. Katakan maaf.” Setetes air mata jatuh di pipiku saat memohon pada Kyuhyun.

 

Ia yang bersalah, tapi mengapa aku yang harus mengemis padanya? Seharusnya Kyuhyun langsung mengemis maaf dariku saat aku sedang berucap sinis padanya tadi. Tapi itu hanya ada dalam anganku. “Bodoh,” ucapku sambil memukul-mukul dada Kyuhyun pelan. “Ayo, katakan maaf.” sambungku.

 

Kyuhyun menahan tanganku, digenggamnya pergelangan tanganku dengan lembut. Matanya menatap mataku dengan sorot yang tak kumengerti artinya. “Kau tahu, aku mencintaimu ‘kan?” Aku memeluk erat pinggang Kyuhyun.

 

Tak ada jawaban dari Kyuhyun. Yang kuterima hanyalah usapan lembut di puncak kepalaku. “Mengapa kau melakukan ini padaku, Kyuhyun-ah? Bukankah kau juga mencintaiku?” Pertanyaan itu muncul diselah isakanku. Kudongakkan kepalaku dan menatap langsung pada mata Kyuhyun, mata itu menatap kosong ke arahku. Mulutnya terkunci, tak sedikitpun mulut itu mencoba bergerak dan menjawab pertanyaanku. “Mengapa kau tidak menawabku?”

 

“Iya aku mencintaimu, Mi-ya.” Akhirnya Kyuhyun menggerakkan bibirnya untuk menjawab pertanyaanku. “Aku minta maaf,” sambungnya.

 

“Tadi kalian pergi ke mana?” Mataku mengerjab penuh harap, berharap Kyuhyun akan menjawab dengan jujur pertanyaanku.

 

“Hanya pergi makan siang dan jalan-jalan,” jawab Kyuhyun. “Sudah, jangan menangis lagi.” Ibu jari Kyuhyun bergerak, mengusap air mataku.

 

Dengan hati-hati kutarik tangan Kyuhyun. Aku membawa Kyuhyun ke kamarku. “Tidur di sini, ya?” bisikku di telinga Kyuhyun. Dan untunglah, tanpa bantahan, Kyuhyun mengangguk. Kudorong tubuh tegap Kyuhyun, sehingga ia duduk di tepi ranjang. Lalu aku membungkuk untuk melepaskan sepatu Kyuhyun. “Apa kau ingin mandi dulu?” tanyaku.

 

Mata Kyuhyun begitu fokus melihatku, sambil tersenyum tipis ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, kita tidur saja,” jawabnya.

 

Kami pun akhirnya naik ke atas ranjang, dengan posisi aku di tengah, di antara Kyuhyun dan Na Yoon. Aku bergeser, masuk ke dalam dekapan hangat Kyuhyun. tanganku begitu erat memeluk pinggang Kyuhyun dan kaki kami saling membelit. “Kyuhyun-ah,” bisikku.

 

“Hm.” Kyuhyun hanya menjawab dengan gumaman.

 

Aku menggeleng, mengurungkan niatku. “Kita tidur saja,” ucapku. Setelah itu tidak ada suara lagi, kami memejamkan mata dan mulai memasuki alam mimpi. Hingga lewat tengah malam aku tebangun. Kutatap lama wajah terlelap Kyuhyun. Sedikit pun ketampanannya tidak berkurang saat terlelap seperti ini. Hembusan napas teraturnya membuat bibirku tertarik membentuk senyuman. Kuusap pipi lembut Kyuhyun dengan hati-hati.

 

Dengan cepat kujauhkan jariku dari pipi Kyuhyun, saat priaku itu mengerang tertahan karena merasa terganggu. Tak lama, kelopak mata Kyuhyun mulai bergerak pelan. Mata dengan tatapan tajam yang selalu kusukai itu menatap langsung ke mataku. “Apa aku membangunkanmu?” tanyaku dengan suara pelan.

 

Bibir Kyuhyun tertarik, membentuk senyuman. “Kenapa kau tidak tidur, Mi-ya?” tanyanya serak. Jari-jarinya bergerak, menggenggam jariku yang tadi membuatnya terbangun. “Jari-jari ini sangat nakal.” Kembali Kyuhyun berbicara dengan suara seraknya.

 

“Aku tadi tidur. Tapi, terbangun beberapa saat yang lalu,” jawabku. Entah apa yang merasuki pikiranku, tiba-tiba saja aku mencium Kyuhyun. Ciuman yang begitu dalam, ciuman yang menuntut balasan darinya. Untung saja Kyuhyun menyambut ciumanku dengan senang hati. Ia pun membalas ciumanku sama menuntutnya. Bahkan tangan Kyuhyun ikut bergerak aktif, sama seperti gerakan bibir kami. Tangan Kyuhyun mengusap tengkukku, kemudian turun ke bahuku, dan berhenti lama di dadaku. Ia memberikan pijatan yang menyenangkan di sana.

 

Dadaku terasa sesak karena membutuhkan oksigen. Dengan sedikit tak rela, kujauhkan bibir kami, lalu aku menghirup napas dalam untuk mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya. Satu erangan lepas dari celah bibirku, saat tangan nakal Kyuhyun menentuhku di bawa sana. Aku mendongak dengan mulut sedikit terbuka, beberapa kali eranganku lolos kembali. Jari-jari Kyuhyun mengapa sangat lihai membawaku pada kenikmatan. Puncak kenikmatan itu semakin dekat, saat tiba-tiba jeritan yang begitu kencang menghentikan kegiatan Kyuhyun di tubuh bawahku.

 

Wajah Kyuhyun seketika berubah menjadi pucat, seolah ia baru saja mendapatkan berita buruk yang sangat mengejutkannya. Jari-jari Kyuhyun dengan cepat menjauh dariku tubuh bawahku. Ia duduk dengan linglung, dan berlari dengan cepat saat sekali lagi jeritan itu terdengar. Aku sangat tahu itu jeritan siapa. Ya, itu jeritan Seung Hye. Tidak ada hal lain yang akan mengalihkan Kyuhyun dariku selain Seung Hye. Bolehkah aku membenci adikku itu?

 

Dengan pangkal paha yang terasa nyeri karena gagal mendapatkan pelepasan, aku berjalan keluar kamar. Aku ikut masuk ke dalam kamar Seung Hye, hal pertama yang kulihat ketika masuk ke dalam kamar Seung Hye, yaitu Seung Hye yang bergerak gelisah dalam tidurnya. Sepertinya ia bermimpi buruk. “Hye-ya, bangun.” Kyuhyun memanggil dan mengguncang tubuh Seung Hye. “Hei, kau kenapa? Cepat buka matamu.” Sekali lagi ia mencoba membangunkan Seung Hye, namun adikku itu masih menjerit dan bergerak gelisah dalam tidurnya. Air mata pun mulai membasahi pipi Seung Hye.

 

“Hye­-ya, bangunlah. Kami ada di sini.” Aku ikut membangunkan Seung Hye. Untunglah Seung Hye membuka matanya.

 

“Ada apa, Nak?” Eomma bertanya pada Seung Hye dengan lembut. “Lihat eomma, Sayang.” Eomma menarik dagu Seung Hye agar Seung Hye melihat padanya. “Apa kau mimpi buruk?” Eomma bertanya dengan hati-hati.

 

Dengan raut ketakutan, Seung Hye terus menggeleng. “Jangan bertanya, aku terus teringat hal mengerikan itu jika kalian bertanya.” Suara Seung Hye terdengar parau.

 

“Baiklah, kami tidak akan bertanya lagi. Sekarang kau tidur lagi, Nak.” Bersamaan dengan eomma mengusap kepala Seung Hye, adikku itu mulai menutup matanya kembali. Namun mataku seketika membulat ketika tangan Seung Hye manarik tangan Kyuhyun saat kami akan keluar.

 

“Jangan pergi, aku takut.” Suara lemah Seung Hye itu seolah menjadi pecut yang meluluhkan hatiku. Jantungku berdetak dengan cepat, entah karena aku merasakan sakit ketika Kyuhyun duduk di sisi ranjang dan menatap Seung Hye dengan penuh kasih, karena amarah, atau bisa jadi karena keduanya.

 

Aku keluar dari kamar Seung Hye dan membanting pintu kamar itu dengan sangat keras. Tak lama eomma pun keluar dari dalam kamar Seung Hye. Mengapa eomma membiarkan mereka berdua saja di dalam kamar itu. “Eomma.” Panggilku lemah. Eomma melihatku dengan tatapan bersalahnya.

 

“Adikmu membutuhkan Kyuhyun, Mi-ya.” Tetesan bening itu langsung mengalir di pipiku saat mendengar ucapan eomma. Aku juga sangat membutuhkan Kyuhyun, dan aku sudah membutuhkannya sejak lama. Mengapa ucapan eomma seakan ia memintaku untuk mengalah dan membiarkan Kyuhyun bersama Seung Hye.

 

Kyuhyun milikku dan aku tidak akan memberikannya pada siapa pun, termasuk pada adik kandungku sendiri. Dengan mata berkabut, aku berlari meninggalkan eomma. Tempat yang kutuju yaitu kamar mandi, di sanalah aku bisa menangis sepuasnya.

 

“Mengapa di sini sangat sakit.” Tanganku yang terkepal, memukul-mukul dadaku keras. Mengapa cinta selalu semenyakitkan ini? Apa yang dimiliki Seung Hye? mengapa ia selalu mendapatkan yang terbaik. “Tidak bisakah aku memiliki Kyuhyun, Tuhan? Hanya satu itu yang kuinginkan saat ini, tidak yang lainnya.”

 

Guyuran air dingin dari shower membuatku menggigil, namun aku tidak memedulikan itu. Pakaianku yang juga ikut basah pun aku abaikan. Aku hanya ingin menangis sepuasnya untuk menyalurkan rasa sakitku. Bayangan-bayangan buruk beterbangan di dalam kepalaku, mungkin saja saat ini Kyuhyun sedang mencumbu Seung Hye, atau mungkin saja lebih dari itu.

 

Aku terjatuh, tulang kakiku sudah tidak mampu menahan berat badanku. Terlalu dingin membuatku lemah. Mungkin saja aku akan demam setelah ini, tapi aku tidak peduli dengan itu. Bukankah dengan aku sakit, Kyuhyun akan berada di dekatku.

 

Perlahan aku mulai berdiri, dan mematikan shower. Tangan bergetarku bergerak mengambil handuk bersih. Kulepas satu persatu pakaian yang masih melekat di badanku. Hidungku mulai terasa gatal dan dan aku beberapa kali mulai bersin. Tanpa merasa perlu menggunakan pakaian, aku naik ke atas tempat tidur, aku berbaring di samping Na Yoon yang sedang tidur lelap. Isakanku masih terdengar jelas di dalam kamar yang sepi ini. Hingga rasa lelah karena terlalu banyak menangis membuatku tertidur.

*****

 

Aku yang sepertinya baru tidur satu jam, harus terbangun karena cahaya matahari yang masuk dari celah gorden, sangat silau dan mengganggu. Kurenggangkan otot-ototku yang kaku, dan mengerang pelan. Mataku yang baru saja terbuka sempurna mendapati Na Yoon sedang berdiri di depan cermin, ia terlihat sudah rapi. “Jam berapa sekarang?” Suaraku terdengar sangat serak.

 

Eomma sudah bangun?” Na Yoon justru balik bertanya padaku. “Halmoni tadi melarangku membangunkan eomma,” sambung Na Yoon.

 

“Iya, eomma sudah bangun.” Ternyata efek sakit hati sangat mengerikan. Suaraku terdengar sangat aneh.

 

“Mandilah eomma, lalu kita sarapan.” Sambil tersenyum, Na Yoon keluar kamar.

 

Aku beranjak dari ranjang, lalu masuk ke kamar mandi. Bukan mandi seperti yang diperintahkan Na Yoon tadi, yang aku lakukan. Aku hanya menggosok gigi, mencuci muka dan buang air. Melihat pantulan wajahku di cermin, rasanya aku ingin berlari karena seperti baru saja melihat setan. Wajahku benar-benar kacau, mata bengkak, pipiku sangat pucat, hanya bagian ujung hidungku yang merah.

 

Selesai merapikan rambut, aku keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan dengan sedikit was-was. Apakah Kyuhyun masih ada di rumah kami? Apa ia juga ikut sarapan dengan kami? Itulah beberapa pertanyaan yang berkelebat di kepalaku saat berjalan menuju ruang makan.

 

Saat sampai di ruang makan, aku hanya menemukan eomma dan Na Yoon. Perasaan lega sekaligus kecewa muncul di hatiku. Aku lega tidak harus melihat Kyuhyun bersama Seung Hye, namun aku kecewa tidak bisa melihat wajah menenangkan priaku. “Kemana Seung Hye?” tanyaku pada eomma setibanya di dekat meja makan.

 

“Adikmu masih tidur, semalam ia benar-benar kacau,” jawab eomma. Tangan eomma masih sibuk menyendok sup ayam ke mangkuk.

 

“Kyuhyun?” suaraku terdengar jauh saat menanyakan Kyuhyun. Sekilas aku melihat eomma terkesiap, namun keterkejutannya hanya beberapa detik saja.

 

Sambil menunjukkan senyuman keibuannya, eomma menjawab pertanyaanku. “Kyuhyun sudah pulang pagi-pagi sekali tadi. Ia berpesan, kau jangan dulu pergi kerja, istirahat saja di rumah. Tadi Kyuhyun mengatakan kau sangat kacau, ternyata benar.”

 

“Dari mana Kyuhyun tahu jika keadaanku sangat kacau?” Aku merasa hanya bergumam, tapi nyatanya eomma menjawab gumamanku itu.

 

“Tadi pagi sebelum pulang, Kyuhyun melihat keadaanmu di kamar.” Hembusan napas berat keluar dari celah bibir eomma, yang aku tidak tahu maksudnya. “Sarapanlah dulu, Nak,” sambung eomma.

 

Na Yoon dengan cepat menghabiskan makanannya. “Halmoni, ayo berangkat.” Untung saja Na Yoon tidak memintaku mengantarnya ke sekolah. Aku tidak yakin dengan keadaanku ini, aku bisa mengantar Na Yoon. “Eomma, Yoonie berangkat.” Na Yoon mencium kedua pipiku saat Eomma mengulurkan tangannya pada putriku itu. Mereka pun pergi dan meninggalkan aku sendirian di ruang makan.

 

Aku benar-benar tidak nafsu makan saat ini. Memikirkan hubunganku dan Kyuhyun nyatanya membuatku kenyang. Namun, aku tetap memakan sarapan yang sudah eomma siapkan. Saat aku sedang menyuapkan sup ke dalam mulutku, terdengar suara pelan memanggilku. “Eonni.” Jantungku berdetak sangat cepat ketika menyadari itu suara Seung Hye. Aku belum siap untuk bertatap muka dengannya. Tidak ketika aku terlihat sangat kacau seperti ini.

 

Mencoba menghindari tatapan Seung Hye, aku menunduk dan terus menyuap sup dan nasi ke mulutku. Aku bertingkah seperti tidak ada siapapun di dekatku. “Eonni baik-baik saja?” tanya Seung Hye. Ingin rasanya aku mendengus kasar untuk menjawab pertanyaan tanpa rasa bersalah itu.

 

Namun kenyataannya, aku menjawab dengan lembut. “Aku baik-baik saja, Hye-ya.” Aku sendiri merasa heran, bagaimana aku bisa menjawab sesantai itu. Bukankah suasana hatiku masih sama, masih ada panas dan amarah di dalam sana.

 

“Aku kira terjadi sesuatu,” sahut Seung Hye, ia mengambil tempat di sampingku dan dengan santai memakan sup yang tadi sempat eomma siapkan sebelum pergi mengantar Na Yoon.

 

“Aku selesai.” Kudorong dengan kasar kursi yang tadi kududuki. Lalu aku berbalik, meninggalkan meja makan. Aku Tidak yakin bisa menahan emosiku jika harus duduk berdampingan dengan Seung Hye lebih lama lagi. Tujuanku setelah meninggalkan ruang makan adalah kamar, kuganti pakaianku dengan pakaian yang lebih rapi dan layak untuk masuk ke area kantor.

 

“Kau pergi kerja, Eonni?” Terdengar suara Seung Hye ketika aku keluar kamar.

 

“Tidak,” jawabku singkat.

 

“Lalu mengapa Eonni memakai pakaian rapi seperti itu?” tanya Seung Hye lagi.

 

“Aku ingin mengunjungi Kyuhyun ke kantornya, Hye-ya.” Aku melirik Seung Hye, ia menghentikan kunyahannya ketika mendengar nama Kyuhun keluar dari mulutku. Namun itu hanya beberapa detik, setelahnya ia kembali makan dengan santai.

 

“Mengapa kau ingin mengunjungi Kyuhyun di kantornya, Eonni? Bukankah itu akan mengganggu Kyuhyun.” Suara Seung Hye terdengar berat.

 

“Aku hanya rindu padanya, Hye-ya,” sahutku, berusaha mengeluarkan nada seceria mungkin. “Sudah beberapa hari ini, kami tidak menghabiskan waktu bersama,” sambungku, sambil menunjukkan senyum malu-malu, sebenarnya senyuman itu bertujuan untuk menyindir Seung Hye. “Aku pergi, Hye-ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Seung Hye, aku langsung berjalan menuju garasi.

 

Kukendarai mobilku dengan santai. Lagu-lagu ceria dari Girlband Rookie yang sedang naik daun, menemani perjalananku menuju kantor Kyuhyun. Dengan mendengarkan suara gadis-gadis muda itu, ditambah dengan melihat pemandangan luar, membuat pikiranku lebih ringan.

 

Berdiam diri di rumah membuat kesedihan dan kekesalanku bertambah. Saat ini rumah seperti ruangan kecil tanpa saluran udara, membuatku sesak dan jika tetap memaksakan diri bertahan di dalamnya, itu akan membuatku mati secara perlahan.

 

Hampir dua puluh menit aku mengendarai mobil menuju kantor Kyuhyun. Saat berhenti di lampu merah, aku melihat mobil Kyuhyun melaju ke arahku. “Kyuhyun,” gumamku, lalu memutar arah, mengikuti mobil Kyuhyun. Kyuhyun akan ke mana? Apa ia akan ke rumah kami? Kalau memang dia ke rumah kami, lalu apa tujuannya? Apa mungkin ia ingin menemui Seung Hye? Pikiran buruk yang berputar-putar di kepalaku itu, membuatku tidak fokus melihat jalan. Aku nyaris saja menabrak tiang lampu yang ada di depan mini market karena pikiranku yang sedang tidak fokus. Sangat beruntung, aku sempat menginjak rem.

 

Karena kejadian ini, banyak pejalan kaki dan orang yang melintas di jalan yang sama denganku, berhenti dan berkerumun di dekat mobilku. Bahkan ada seorang pria paruh baya yang terus memanggilku dan mengetuk kaca mobil. Dengan tangan yang bergetar halus, aku melepas sabuk pengamanku, lalu membuka pintu mobil.

 

“Kau baik-baik saja, Nona?” tanya pria paruh baya yang tadi mengetuk kaca mobilku.

 

“Iya, aku baik-baik saja, Ahjussi,” jawabku pelan. Aku melihat kerumunan semakin bertambah. “Maaf, aku kurang konsentrasi saat mengemudi, aku benar-benar minta maaf.” Aku membungkuk dan minta maaf pada orang-orang yang mengelilingiku. Setelah itu aku kembali masuk ke dalam mobil dan mengendarainya dengan cepat. Aku tidak peduli dengan orang-orang yang tadi berkerumun dan mengkhawatirkanku, aku juga tidak peduli jika orang-orang itu sekarang sedang mengumpat karena kelakuanku. Bahkan aku pun melupakan ketakutan yang tadi sempat aku rasakan ketika nyaris menabrak tiang lampu.

 

“Kyuhyun pergi ke mana?” telunjukku mengetuk-ngetuk kemudi mobil, sembari mataku melihat-lihat sekeliling, berharap bisa menemukan mobil Kyuhyun. Sial, kecerobohanku tadi membuatku kehilangan jejak.

 

Tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi, aku menepikan mobilku, lalu berhenti. Kuambil ponselku dan langsung menghubungi Eomma. Tidak lama menunggu setelah panggilan tersambung, eomma langsung menerima panggilanku. “Eomma, apa Kyuhyun ke rumah kita?” Aku langsung bertanya pada eomma.

 

“Eomma baru saja sampai ke rumah, Mi-ya, tidak ada Kyuhyun di rumah, kau di mana?” Eomma menjawab pertanyaanku sekaligus bertanya.

 

“Aku ke kantor Kyuhyun, Eomma. Tapi sebelum sampai ke kantornya, aku melihat mobil Kyuhyun keluar,” jawabku.

 

“Lalu kau sekarang di mana?”

 

“Aku di jalan, tidak jauh dari rumah.” Aku menjawab pertanyaan Eomma.

 

“Pulang saja, Mi-ya. Mungkin Kyuhyun sedang ada pekerjaan di luar.”

 

Yang Eomma katakan ada benarnya. Tapi, ada sisi lain di sudut hatiku yang melarang aku pulang. Aku masih ingin mencari Kyuhyun, dan mencari tahu apa yang ia lakukan di luar saat jam kerja seperti ini. Ingin memastikan jika ia bukan menemui Seung Hye. “Aku ingin jalan-jalan sebentar, Eomma.” Aku langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu sahutan dari Eomma.

 

Kuhembuskan napas kasar, sebelum menghidupkan mobil dan kembali melihat sekitar, mencari mobil Kyuhyun. Namun, mencari keberadaan Kyuhyun saat ini, tidak semudah yang aku kira. Sudah satu jam lebih aku berkeliling, tapi belum juga melihat Kyuhyun ataupun mobilnya. “Kemana sebenarnya pria itu?” gumamku.

 

Baru saja mobilku melintasi restoran China, mendadak aku menginjak rem. Kutajamkan penglihatanku ke arah restoran yang yang berdinding kaca itu. Iya, tidak salah lagi, itu benar-benar Kyuhyun. Dia sepertinya sedang berbicara dengan seseorang. Aku berdecak kesal karena tidak bisa melihat orang sedang berbicara dengan Kyuhyun. Akhirnya aku memutuskan untuk mendekati restoran itu. Aku mencari tempat untuk memarkir mobilku, dan berjalan mendekati restoran tempat Kyuhyun tadi. Agar bisa melihat siapa teman Kyuhyun, aku memilih tempat di belakang Kyuhyun.

 

Hembusan napas lega, langsung keluar dari celah bibirku saat melihat seorang pria memakai jas formal yang sedang berbicara pada Kyuhyun. Mereka nampak sangat serius, mungkin sedang membicarakan pekerjaan. “Anda ingin memesan apa, Nona?” Aku terlonjak pelan saat pelayan berseragam hitam menanyakan pesananku.

 

“Ah, tidak. Aku hanya mampir sebentar,” tolakku halus, lalu langsung meninggalkan restoran. Ya, aku memutuskan untuk pergi saja. Aku takut jika tetap di sana, Kyuhyun melihatku dan aku mengacaukan pertemuan Kyuhyun.

 

Saat duduk di balik kemudi, aku bingung ke mana tujuanku setelah ini.  Pulang ke rumah jelas tidak masuk dalam pilihan, aku sedang tidak ingin melihat Seung Hye, karena yang ditemui Kyuhyun bukan Seung Hye, jadi aku yakin jika Seung Hye sedang di rumah. Setelah berpikir beberapa saat, aku memutuskan untuk ke sekolah Na Yoon, aku bisa menunggu gadis kecilku itu pulang. Walaupun jam pulang sekolah masih lama, tapi menunggu lama lebih baik daripada menghabiskan waktu di rumah. Aku pun mulai melajukan mobilku ke arah sekolah Na Yoon.

*****

 

Author POV

 

Seorang pria paruh baya sedang mengetuk pintu rumah minimalis, milik keluarga Baek. Tak lama, Seung Hye membuka pintu untuk pria paruh baya itu. “Siapa?” tanya Seung Hye. nampak kernyitan di dahi gadis itu.

 

“Saya, sopir Tuan Cho, Nona,” jawab pria paruh baya itu. “Saya ingin menyampaikan pesan Tuan Cho pada Nona,” sambungnya.

 

“Pesan?” tanya Seung Hye. “Pesan apa?” tanyanya lagi, saat melihat pria paruh baya itu mengangguk.

 

Pria paruh baya itu mengintip ke dalam rumah sebentar sebelum mendekat pada Seung Hye dan berbicara pelan. “Tuan Cho ingin Nona menemuinya, saya kemari mengantarkan kiriman Tuan Cho untuk Nona Seung Mi. Nanti saat saya akan pergi, Nona pura-pura meminta saya untuk mengantar Nona keluar.”

 

Seung Hye kembali mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan pria paruh baya yang mengaku sopir Kyuhyun itu.

 

“Siapa Hye-ya?” Terdengar suara Nyonya Baek dari ruang keluarga. Tak lama, Nyonya Baek pun keluar. “Oh, Sopir Nam,” sapa Nyonya Baek sopan. “Mengapa tidak dipersilahkan masuk, Hye-ya?” Nyonya Baek menepuk lengan Seung Hye pelan.  “Masuk dulu, Sopir Nam,” ucap Nyonya Baek.

 

“Di luar saja, Nyonya. Saya hanya ingin mengantarkan ini pada Nona Seung Mi.” Tangan sopir Nam terulur, ia memberikan paper bag yang sejak tadi ia bawa pada Nyonya Baek. “Itu dari Tuan Cho,” ucap Sopir Nam setelah Nyonya Baek menerima paper bag yang ia berikan. “Saya permisi dulu, Nyonya, Nona.” Sopir Baek menundukkan kepalanya dan berbalik dan berjalan pelan.

 

Ahjussi.” Suara Seung Hye menghentikan langkah Sopir Nam.

 

Pria paruh baya itu menoleh pada Seung Hye dan bertanya sopan. “Iya, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?”

 

Seung Hye menoleh sebentar pada ibunya, lalu kembali melihat Sopir Nam. “Apa Ahjussi bisa mengantarku keliling Seoul? Aku benar-benar merasa suntuk di rumah, dan juga aku ingin tahu jalan, agar lain waktu aku bisa pergi keluar sendiri.” Sopir Nam langsung tersenyum dan mengangguk sopan.

 

“Tentu saja, Nona. Saya akan mengantar Nona,” ucapnya.

 

“Hye-ya, kau tidak boleh merepotkan Sopir Nam seperti itu.” Nyonya Baek menegur Seung Hye, ia merasa tidak enak pada Sopir Nam.

 

“Tidak apa-apa, Nyonya. Tuan Cho sedang ada pertemuan dengan rekan bisnisnya, jadi saya tidak ada pekerjaan saat ini.” Sopir Nam, tersenyum sopan pada Nyonya Baek. “Kita pergi sekarang, Nona?” tanyanya pada Seung Hye.

 

“Tunggu, aku ganti pakaian dulu, Ahjussi.” Seung Hye berlari cepat ke kamarnya. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk gadis itu bersiap-siap. Ia keluar dengan menggunakan gaun berwarna pink . “Ayo, berangkat, Ahjussi,” ajak Seung Hye. “Eomma, aku pergi dulu.” Seung Hye tidak menunggu sahutan ibunya, ia langsung berjalan menuju mobil Kyuhyun yang tadi dibawa Sopir Nam.

 

Nyonya Baek hanya bisa menghembuskan napas kasar saat melihat mobil yang dikendarai Sopir Nam mulai menjauh. Ia menatap paper bag ditangannya sebentar, lalu masuk ke dalam rumah.

 

Sementara di dalam mobil, Seung Hye membuat Sopir Nam salah tingkah karena sejak masuk ke dalam mobil, Seung Hye terus menatap Sopir Nam. “Ada apa, Nona?” tanya sopir Nam kikuk.

 

“Bukankah tadi Ahjussi mengatakan Kyuhyun sedang ada pertemuan dengan rekan bisnis, lalu kenapa ia memintaku menemuinya?” Akhirnya Seung Hye menanyakan apa yang sejak tadi ada di dalam pikirannya.

 

“Ah itu,” Sopir Nam mengangguk-angguk sambil tertawa pelan. “Itu hanya alasan saja, Nona,” ucap Sopir Nam.

 

“Dan paper bag tadi hanya alasan juga?” Pertanyaan Seung Hye kali ini berhasil membuat raut wajah Sopir Nam berubah. Ia memokuskan pandangannya ke jalan.

 

“Saya hanya memberikannya, Nona. Saya kurang tahu itu sengaja Tuan berikan untuk alasan saja, atau memang Tuan ingin memberikan sesuatu pada Nona Seung Mi.” jawaban panjang Sopir Nam sudah cukup jelas bagi Seung Hye. Ia menunjukkan senyuman menenangkannya pada Sopir Han.

 

“Iya, Ahjussi,” jawab Seung Hye lembut. “Ahjussi tidak perlu merasa tidak enak padaku,” sambung Seung Hye, masih sambil menunjukkan senyuman tulusnya. Setelah itu keheningan menemani keduanya hingga sampai ke tujuan.

 

“Saya menunggu di luar, Nona. Nona masuk saja, Tuan sudah menunggu di dalam.” Seung Hye mengangguk pelan , lalu keluar dari mobil. Mata Seung Hye melihat ke semua meja, mencari keberadaan Kyuhyun. Bibirnya langsung tertarik membentuk senyuman tipis saat sosok tampan itu tertangkap oleh matanya.

 

Gadis berambut cokelat bergelombang itu melangkah dengan semangat mendekati meja Kyuhyun. Namun, langkah itu melambat ketika menyadari Kyuhyun tidak sendiri. “Bukankah Ahjussi mengatakan pertemuan dengan rekan bisnis itu hanya alasan, lalu itu siapa?” gumam Seung Hye. Ia nampak ragu, apakah melanjutkan langkahnya untuk mendekati Kyuhyun, atau memilih tempat duduk lain sambil menunggu pembicaraan Kyuhyun dan rekan bisnisnya selesai.  “Ya, sebaiknya aku menunggu pertemuannya selesai dulu.” Baru saja Seung Hye ingin berbalik dan mencari tempat duduk yang kosong, suara Kyuhyun yang memanggil namanya membuat Seung Hye mau tidak mau mendekat pada Kyuhyun.

 

“Mau kemana kau?” tanya Kyuhyun dingin, ketika Seung Hye berdiri di sampingnya.

 

“Aku t….” Ucapan Seung Hye terpotong karena Kyuhyun tiba-tiba menarik lengan Seung Hye, hingga membuat gadis itu merunduk ke arah Kyuhyun. Satu kecupan lembut Kyuhyun daratkan di bibir manis Seung Hye.

 

Setelahnya, Kyuhyun bertingkah tidak melakukan apa pun, ia kembali melanjutkan pembicaraannya yang tadi sempat terhenti karena Kyuhyun memanggil dan mencium Seung Hye. Pandangan Kyuhyun lurus, fokus menatap lawan bicaranya, tetapi tangan pria itu bergerak aktif menarik tangan Seung Hye dan membawa gadis itu duduk di kursi yang ada di sampingnya.

 

“Apa dia kekasihmu, Kyuhyun-ssi.” Pria yang sudah memperhatikan gerak-gerik Kyuhyun sejak Seung Hye datang tadi akhirnya bertanya pada Kyuhyun. Kyuhyun pun segera menjawab pertanyaan rekan bisnisnya itu dengan anggukan, bahkan bibir Kyuhyun tertarik membentuk senyuman bangga. Iya, senyuman Kyuhyun seakan mengatakan jika gadis cantik ini sudah ada yang memiliki dan akulah pemiliknya.

 

“Jeong Hwan.” Tangan rekan bisnis Kyuhyun terulur ke arah Seung Hye. Uluran tangan itu sebagai isyarat jika ia ingin berkenalan dengan Seung Hye. “Namamu siapa?” tanya Jeong Hwan, ketika Seung Hye tak kunjung menyambut uluran tangannya.

 

Sambil melirik ragu pada Kyuhyun, Seung Hye menyambut uluran tangan Jeong Hwan. “Seung Hye,” jawabnya lembut.

 

Seung Hye berusaha menahan ringisannya ketika Kyuhyun menggenggam erat tangan kiri Seung Hye yang ada dipangkuan gadis itu. Ketika melirik ke arah Kyuhyun, Seung Hye tidak melihat adanya perubahan pada raut wajah Kyuhyun, namun genggaman terlampau erat  di telapak tangannya menyadarkan Seung Hye jika Kyuhyun tidak menyukai apa yang sedang Jeong Hwan lakukan pada Seung Hye. Dengan kikuk, Seung Hye menarik tangannya yang sedang bersalaman dengan Jeong Hwan.

 

“Sudah makan,” bisik Kyuhyun. Sebenarnya itu tidak bisa disebut bisikan, karena suara Kyuhyun terlalu lantang saat bertanya di dekat telinga Seung Hye.

 

Tanpa bisa ditahan, seung Hye terkikik geli. Ia merasa Kyuhyun sangat lucu ketika cemburu. Namun ketika kata cemburu melintas di kepalanya, Seung Hye langsung menghentikan kikikan gelinya. Mata yang tadi berbinar tiba-tiba berubah menjadi tak terbaca.

 

“Iya aku sudah sarapan tadi di rumah,” jawab Seung Hye tanpa melihat Kyuhyun.

 

“Pesan minuman saja, ya?” Kyuhyun yang menyadari perubahan suasana hati Seung Hye, mencoba berbicara selembut mungkin agar tidak semakin memperburuk suasana hati gadis itu.

 

“Jika kalian masih ingin membahas masalah pekerjaan, aku bisa menunggu di meja lain agar tidak mengganggu.” Mengabaikan ucapan Kyuhyun, Seung Hye justru membicarakan hal lain.

 

“Oh, tidak perlu, Seung Hye-ssi. Aku sudah akan pergi.” Dengan cepat Jeong Hwan menanggapi ucapan Seung Hye. “Aku langsung pergi, Kyuhyun-ssi.” Jeong Hwan berjalan keluar restoran dengan sedikit tergesa-gesa.

 

“Mengapa ia terburu-buru seperti itu?” gumam Seung Hye, matanya mengikuti kepergian Jeong Hwan.

 

“Mungkin dia ada pekerjaan lain,” sahut Kyuhyun. “Sini.” Tangan Kyuhyun menarik pergelangan tangan Seung Hye lembut.

 

Mata Seung Hye membulat karena ulah Kyuhyun, pria itu menarik Seung Hye ke pangkuannya. Dengan cepat, Seung Hye mengedarkan pandangannya ke seluru penjuru restoran. “Apa yang kau lakukan?” tanya Seung Hye pelan. Ia berusaha berdiri dari pangkuan Kyuhyun. Namun, Kyuhyun menahan pinggang Seung Hye dengan sebelah tangannya, dan satu tangan pria itu mengangkat gelas yang berisi coffe latte, miliknya.

 

Oppa,” protes Seung Hye.

 

“Iya, Sayang.” Bibir Kyuhyun tertarik membentuk senyuman manis. Bukannya melepaskan Seung Hye, Kyuhyun justru semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Seung Hye. Ia sangat menyukai rengekan Seung Hye, karena itulah Kyuhyun sengaja menahan Seung Hye untuk tetap di pangkuannya Ia tak peduli dengan tatapan pengunjung lain.

 

“Semua orang memperhatikan kita,” rengek Seung Hye lagi. Ia menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, berharap gerakannya itu dapat merenggangkan pelukan Kyuhyun. Namun, Seung Hye tidak menyadari jika gerakan yang ia lakukan, membuat Kyuhun menggeram.

 

Kyuhyun menggigit pipi bagian dalamnya untuk menahan umpatan. Ia benar-benar frustrasi karena tidak bisa menyentuh Seung Hye saat ini. Meskipun ia tidak peduli dengan tatapan orang lain dengan posisi mereka saat ini, tapi Kyuhyun masih punya akal untuk tidak melakukan hal yang lebih dari ini, tidak di saat mereka di tempat umum.

 

Seperkian detik kemudian, Kyuhyun mendorong Seung Hye menjauh dari pangkuannya. “Duduk di kursimu!” perintah Kyuhyun, lalu ia meneguk habis coffe latte yang masih tersisa di dalam gelasnya. Kyuhyun berulang kali menghembuskan napas kasar, lalu pria itu mengendurkan dasi yang mencekik lehernya.

 

Seung Hye menatap bingung pada Kyuhyun. Ia duduk di kursi yang ada di sebelah Kyuhyun, dan megernyitkan dahinya karena merasa heran, tadi Kyuhyun menariknya ke pangkuan pria itu dan menahan dengan pelukan erat ketika dirinya ingin berdiri. Lalu tiba-tiba saja Kyuhyun mendorongnya menjauh seakan dirinya sangat mengganggu pria itu. “Oppa meminta Nam Ahjussi memnjeputku untuk apa?” Mengabaikan rasa herannya, Seung Hye justru lebih tertarik menanyakan tujuan Kyuhyun membawanya kemari.

 

“Hanya ingin menghabiskan waktu dengan kekasihku,” jawab Kyuhyun santai, pria itu sudah bisa mengedalikan diri dan melupakan pikiran kotor yang tadi menghapirinya.

 

Kyuhyun menunduk sedikit, lalu menggapai tangan kanan Seung Hye. Ia membawa tangan mereka mendekati mulutnya. Lalu memberikan kecupan selembut bulu di punggung tangan Seung Hye, ia menahan kecupannya selama beberapa menit. “Pesanlah makanan atau minuman, Sayang,” bisik Kyuhyun setelah melepaskan kecupannya di punggung tangan Seung Hye.

 

“Aku sudah makan di rumah,” tolak Seung Hye halus.

 

“Kalau begitu kita pergi keluar saja.” Tanpa menunggu respon Seung Hye, Kyuhyun langsung menarik tangan Seung Hye, ia membawa Seung Hye keluar.

 

“Kita akan ke mana?” Seung Hye mencoba menahan langkah Kyuhyun dengan cara menarik tangannya dari genggaman pria itu. Dan berhasil, Kyuhyun menghentikan langkahnya, Kyuhyun menoleh pada Seung Hye sambil mengangkat sebelah alisnya. “Kita akan ke mana?” Seung Hye mengulangi pertanyaannya.

 

“Kau ingin ke mana?” tanya Kyuhyun balik, pria itu kembali menggenggam tangan Seung Hye dan menarik Seung Hye.

 

“Mengapa Oppa justru bertanya padaku?” Seung Hye bertanya sambil berjalan terseok-seok karena mengikuti langkah panjang Kyuhyun.

 

“Karena kita akan pergi ke mana pun yang kau inginkan?” jawab Kyuhyun, lalu menghentikan langkahnya ketika mereka sudah berdiri di dekat mobil.

 

Sopir Nam dengan sigap membukakan pintu belakang, lalu menutup kembali pintu mobil itu ketika Kyuhyun dan seung Hye sudah duduk dengan nyaman di kursi belakang. Sama sigapnya ketika membukakan pintu untuk Kyuhyun dan Seung Hye, sopir Nam pun berlari dengan cepat mengelilingi mobil, lalu duduk di balik kemudi. “Kita ke mana, Tuan?” tanya Sopir Nam sopan. Ia melirik Kyuhyun melalui kaca yang ada di atas kepalanya.

 

“Ke mana, Sayang?” Kyuhyun bertanya pada Seung Hye. Namun, karena tidak mendapatkan jawaban dari gadis itu, Kyuhyun akhirnya mengatakan tujuan mereka. “Myeongdong!” perintah Kyuhyun dengan suara rendah namun tegas. Tanpa perlu diperintah dua kali, Sopir Nam langsung melajukan mobil ke Myeongdong, sesuai perintah Kyuhyun.

 

“Untuk apa kita ke Myeongdong?” tanya Seung Hye sambil menatap Kyuhyun.

 

Berbeda dengan Seung Hye yang terus memandang wajah Kyuhyun dari samping. Kyuhyun justru menatap lurus ke depan, namun bibir pria itu tersenyum lebar karena senang ditatap lama oleh Seung Hye. Karena itulah ia tidak langsung menjawab pertanyaan Seung Hye, Kyuhyun ingin Seung Hye manatap dirinya lebih lama lagi.

 

Oppa, untuk apa kita ke Myeongdong?” ulang Seung Hye. Bahkan sekarang, gadis itu menggoncang pelan lengan kanan Kyuhyun. “Menyebalkan,” gerutunya kemudian, karena Kyuhyun tak kunjung menjawab pertanyaannya.

 

“Penasaran, Sayang?” tanya Kyuhyun. sangat jelas pertanyaan Kyuhyun hanya untuk menggoda Seung Hye. Dan pertanyaan itu semakin membuat Seung Hye dongkol. “Bukankah tadi aku bertanya kau ingin ke mana, tapi kau tidak menjawab. Jadi, aku putuskan kita pergi ke Myeongdong.” Kyuhyun menjelaskan itu sambil menarik pinggang Seung Hye agar gadis itu duduk lebih rapat dengannya.

 

“Dan mengapa Oppa berpikir untuk pergi ke Myeongdong, bukankah di sana tempat pusat perbelanjaan?” Seung Hye masih menanyakan tujuan Kyuhyun membawanya ke Myeongdong.

 

“Iya, tujuan kita memang belanja,” sahut Kyuhyun cepat. Namun setelah beberapa saat Kyuhyun menyadari sesuatu dari ucapan Seung Hye tadi. “Kau ingat daerah Myeongdong?” tanya Kyuhyun sambil menautkan kedua alisnya.

 

“Aku memang hilang ingatan, tapi bukan berarti aku tidak tahu Myeongdong,” sahut Seung Hye ketus, ia seolah tersinggung dengan pertanyaan Kyuhyun. “Myeongdong sangat sering muncul di TV, dan karena aku tidak tahu apa pun, aku di rumah hanya nonton TV, dari sanalah aku tahu Myeongdong.” Seung Hye membuang muka setelah menjelaskan pada Kyuhyun.

 

Dalam diamnya, Kyuhyun menatap wajah Seung Hye lama. Barulah setelah beberapa menit, ia menarik dagu Seung Hye agar gadis itu menatap ke arahnya. “Kau marah.”

 

“Tidak,” jawab Seung Hye singkat.

 

“Itu tadi bukan pertanyaan, Sayang.” Kyuhyun menangkup wajah Seung Hye dengan kedua telapak tangannya, lalu mengusap pipi kanan Seung Hye dengan ibu jarinya. “Tapi, pernyataan, kau memang marah padaku. Maaf, aku tadi hanya penasaran, kupikir separuh ingatanmu sudah kembali.”

 

“Apa Oppa berharap ingatan kembali?” tanya Seung Hye tiba-tiba, dan itu langsung membuat Kyuhyun bungkam. “Oppa kenapa diam?” Seung Hye kembali bertanya dan sedikit menuntut jawaban dari Kyuhyun.

 

“Kita sampai!” seru Kyuhyun. Ia keluar dari mobil dan langsung membukakan pintu untuk Seung Hye. “Ayo, Sayang.” Tangannya terulur ke arah Seung Hye, dan Seung Hye pun langsung menerima uluran tangan Kyuhyun. Untuk sementara gadis itu mengabaikan pertanyaannya yang tadi tidak Kyuhyun jawab.

 

“Apa yang akan kita beli?” tanya Seung Hye, ia mengedarkan pandangannya ke toko-toko yang semuanya terlihat ramai.

 

“Kau menginginkan apa?” Kyuhyun justru balik bertanya, pria itu menautkan alisnya, menunggu jawaban Seung Hye.

 

Sekali lagi Seung Hye mengedarkan pandangannya, ia mengerucutkan bibirnya dan mengetuk-mengetuk dagunya dengan telunjuk. Seung Hye nampak sedang berpikir keras untuk mengetahui apa yang ia inginkan. “Baju?” ucap Seung Hye tak yakin, ucapannya justru terdengar seperti pertanyaan.

 

“Baiklah, kita borong semua pakaian yang kau sukai.” Tanpa berpikir, Kyuhyun langsung menarik tangan Seung Hye. Mereka memasuki toko pertanya, dan mulai melihat-lihat, namun sayang di toko pertama belum ada yang menarik minat Seung Hye. Akhirnya, Kyuhyun dan Seung Hye memutuskan untuk mencari di toko lain. “Ada yang kamu suka?” tanya Kyuhyun. Pertanyaan itu tak langsung dijawab oleh Seung Hye, gadis itu sibuk keliling dan melihat-lihat. “Kami ambil itu.” Kyuhyun menunjuk pada gaun selutut berwarna tosca yang dipandang lama oleh Seung Hye. Dan gaun itu segera diambil oleh pramuniaga yang sejak tadi mengikuti Kyuhyun dan Seung Hye.

 

Seung Hye menoleh cepat pada Kyuhyun, tatapannya seakan menanyakan dari mana Kyuhyun tahu jika ia menyukai baju itu. “Sangat terlihat di wajahmu, Sayang.” Kyuhyun menjawab pertanyaan yang sebenarnya hanya bersarang di kepala Seung Hye. “Ayo, cari yang lain.” Tangan Kyuhyun menarik tangan Seung Hye.

 

“Seberapa banyak kau akan membelikanku?” tanya Seung Hye.

 

“Sebanyak yang kau inginkan,” jawab Kyuhyun sambil tersenyum. Namun senyuman itu segera mendapat cibiran dari Seung Hye.

 

“Kalau aku mengingkan semuanya, bagaimana?” Seung Hye menanyakan itu karena ia kesal pada Kyuhyun yang Seung Hye anggap terlalu menyombongkan kekakayaan yang pria itu..

 

“Kita beli semuanya,” sahut Kyuhyun santai, dan itu semakin menambah kekesalan Seung Hye.

 

“Dasar brengsek kaya yang sombong!” Seung Hye meninggalkan Kyuhyun begitu saja setelah melontarkan umpatan pada pria itu. Di tengah kekesalannya, Seung Hye mengambil sembarang pakaian yang dipajang di toko tempat mereka berada. “Bungkus semua itu!” perintah Seung Hye nyaris berteriak pada pramuniaga yang sama dengan yang mengambilkan gaun tosca tadi.

 

 

“Ada lagi?” tanya sang pramuniaga.

 

“Tidak,” jawab Seung Hye ketus.

 

Kyuhyun yang melihat itu hanya bisa tersenyum geli. Umpatan Seung Hye tadi, tidak mempengaruhi Kyuhyun. “Tolong tambahkan gaun yang ada di ujung.” Kyuhyun menunjuk gaun berwarna putih dengan hiasan bunga di bagian bawahnya. Dan dengan sopan sang pramuniaga mengambil gaun yang Kyuhyun tunjuk.

 

Setelah selesai membayar, Kyuhyun dan Seung Hye keluar dari toko kedua. Kyuhyun membawa banyak paper bag di tangannya. Tapi, sepertinya pria itu belum puas dengan semua yang ia belikan untuk Seung Hye, tanpa persetujuan Seung Hye, Kyuhyun menarik tangan gadis itu memasuki toko sepatu. Berbeda dengan tadi, kali ini Kyuhyun memilihkan sendiri sepatu untuk Seung Hye. Sepatu pilihan Kyuhyun semuanya bertumit tinggi, dan sangat mengejutkan, semua sepatu yang Kyuhyun ambil dan dicobakan pada Seung Hye, pas di kaki gadis itu.

 

“Kau tahu nomor sepatuku, ya?” tanya Seung Hye heran.

 

“Aku tahu semua nomormu.” Ada makna lain dari jawaban Kyuhyun, dan Seung Hye langsung memerah ketika mendengarnya.

 

“Kalau kau tahu nomor sepatuku, mengapa masih dicobakan?” tanya Seung Hye lagi.

 

“Karena aku ingin.” Jawaban Kyuhyun membuat Seung Hye menggembungkan pipinya. Dan hal itu membuat Kyuhyun tersenyum. “Semuanya cantik di kakimu, kita ambil semuanya.” Tanpa meminta persetujuan Seung Hye, Kyuhyun langsung membayar lima sepatu yang tadi ia cobakan ke kaki Seung Hye.

 

“Apa lagi yang ingin kau belikan?” Seung Hye bertanya dengan nada lelah ketika mereka keluar dari toko sepatu.

 

“Kita bahkan baru masuk tiga toko, Sayang. Tapi kau sudah kelelahan.” Karena kedua tangan Kyuhyun penuh dengan paper bag, ia hanya mengecup dahi Seung Hye. “Istirahat?” tanya Kyuhyun lembut. Kyuhyun memindahkan paper bag yang ada di tangan kananya ke tangan kiri, lalu tangan yang bebas itu ia gunakan untuk memeluk pinggang Seung Hye. Tanpa menunggu jawaban Seung Hye, Kyuhyun menarik Seung Hye ke arah cafe yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

 

“Kemana?” Seung Hye menautkan alisnya saat melirik Kyuhyun dari samping.

 

“Ke cafe itu,” jawab Kyuhyun singkat.

 

“Kenapa ke sana?” Kembali Seung Hye menjawab dengan pertanyaan lain.

 

“Bukankah kau kelelahan, kita istirahat di cafe itu saja.” Kyuhyun menarik Seung Hye lagi, namun Seung Hye tetap diam di tempatnya. “Ada apa?” Kyuhyun menoleh pada Seung Hye, dan memperhatikan wajah gadis itu. Mencoba menebak apa keinginan gadisnya itu.

 

“Aku tidak ingin ke cafe itu,” tolak Seung Hye.

 

“Kenapa? Apa kau ingin ke tempat lain?”

 

“Karena sebelum pergi belanja tadi, kita baru saja keluar dari restoran, lalu baru sebentar belanja kita akan ke cafe, aku bisa mati kebosanan jika harus duduk di dalam ruangan terus-menerus.” Bibir Seung Hye mengerucut saat menjawab pertanyaan Kyuhyun.

 

“Lalu, kau ingin ke mana, Sayang.” Dengan sabar Kyuhyun menjawab Seung Hye, ia terus memperhatikan wajah Seung Hye, menunggu jawaban gadis itu.

 

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan sambil bergandengan tangan, kita tidak perlu mampir ke toko-toko itu.” Seung Hye menunjuk jejeran toko yang tertangkap matanya. Kyuhyun berpikir sesaat sebelum mengangguk dan langsung menarik tangan Seung Hye ke dalam genggamannya. Mereka berjalan sambil menebar senyum bahagia.

 

TBC

76 thoughts on “Rancore Part 4

  1. Penasaran sama masa lalunya, sebenernya Kyuhyun pertama menjalin hubungan sm seung hye atau seung mi? Btw Kyuhyun sana sini dapet ye gatel banget wkwk
    Gasabar next chapter👍
    Fighting author!!

    Suka

  2. Suka banget
    Crita yg ditunggu akhirnya up
    Butuh sih sm kyu
    Tp kl udah berbagi hati
    Mo gmn lg
    Balik kanan bubar jalan
    *sambil nangis nahan nyesek

    Suka

  3. Iniii aku bingung… kyu yg PHP in org, atau kyu punya 2 kepribadian…
    Ato gimana sihhh,,, masa iya 2 – 2 nya mo di borong…
    Pan ksihannn…

    Suka

  4. Knp harus memberi harapan kedua wanita kakak beradik sih kyu? Nyesek pastinya buat yg dipilih/pun tidak.
    Knp sung Hye bs ilang ingatan? Dan seolah-olah Kyuhyun takut ingatan sung Hye kembali…blm bs nebak inti ceritanya.

    Suka

  5. Mungkinkah kyu pnya hubungan sama seung hye sebelum dia hilang ingatan?
    Aq ngerasa di hubungan rumit yg d ciptakan cho kyuhyun ini…seung mi lah yg tersakiti.
    Knp sich kyu …kesannya memberi harapan pd kakak adik hrsnya pilih salah satu.

    Suka

  6. PHP is everywhere guys….
    Ini oppa cho labil pake banget, mau nya tu apa sih ? Sama kakak apa adek nya, jangan abu-abu dong oppa…. Tp menurut ku sih lebih mendingan sama adek nya, klo sama kakak nya dapat sepaket ciieenn 😂🤣😂
    Betewe thor, next chap klo bisa lebih di perjelas lagi konflik nya. Klo main tebak-tebakan terus lama-lama jadi bosen…
    Ku rasa, kunci nya adalah ingatan Seunghye yg hilang itu. Jd klo bisa di kasih liat dikit-dikit lah masalalu nya….
    Next chap di tunggu segera ya thor, fighting!!! 😉🙌

    Suka

  7. Entah kenapa gue bingung sama inti dari permasalahannya, dan kyuhyun kenapa dia sepertinya memberi sungmi dan sunghye harapan? Klo emang suka sama sunghye, jangan lah kasih harapan ke sungmi

    Suka

  8. Duuuhh kyuhyun egois bgt siihh.. 😦
    Masa dia mau sama mereka berdua..
    Kan nanti pasti pada sakit hati.. 😦
    Penasaran bgt sama masa lalunya kyuhuun dan seung hye..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s