When The Smile Being Ornate Part 5


 

Author : Irene Cho

Tittle : Adeul

Category : NC17, Yadong, Romance, Chapter

Cast :

Cho Kyuhyun

Jung Nara

Disclaimer : Thisstoryismine! Don’tcopywithoutpermission!

Note : Terimakasih untuk admin FNC yang udah mau publish tulisanku di blog ini dan terimakasih juga buat reader yang udah mengapresiasi MOF. Ini ff pertamaku, maaf kalo ceritanya gaje, membosankan dan diksinya berantakan. Awas typo bertebaran.Ff ini sudah prnah aku publish di watty dan blog pribadiku.

 Happy reading ^^

 

~~~

 

Preview

Nara terus memandangi kakinya yang terluka sambil terus terisak. Tidak! bukan luka di kakinya yang membuat air matanya terus mengalir, melainkan goresan dihatinya, yang perihnya berkali lipat dibanding luka di kakinya.

 

Aku tidak marah, hanya saja hatiku terluka.

 

StoryBegin

 

Kehidupan memiliki dua sisi. Nikmat atau musibah. Kebahagiaan atau kesedihan. Dua sisi yang menuntut sikap yang berbeda. Syukur atau sabar.

 

Lotte World, Seoul.
03.00 PM KST

 

“Jaehyun dengan eomma dulu ya, appa harus pergi.”

 

Kyuhyun menyerahkan Jaehyun yang berada dalam gendongannya, pada Sena. Ia harus menyusul Nara secepatnya. Karena ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan istrinya itu.

 

Appa!”

 

Jaehyun memanggil Kyuhyun saat ia hendak melangkah menyusul Nara. Membuat Kyuhyun berbalik menatap Jaehyun.

 

Appa! Jaehyun ingin ikut Appa,” rengek Jaehyun.

 

“Tidak, Sayang, Jaehyun tidak bisa ikut Appa sekarang.”

 

Kyuhyun kembali akan melangkah, saat tiba-tiba Jaehyun menarik lengan kemejanya. Membuat Kyuhyun kembali berbalik.

 

“Kita akan jalan-jalan lagi, tapi tidak sekarang, Sayang, karena Appa harus pergi.”

 

Kyuhyun mengecup pipi Jaehyun, setelah itu langsung melangkah. Baru berjalan beberapa langkah, Kyuhyun mendengar suara tangisan Jaehyun. Kembali Kyuhyun menoleh kebelakang.

 

“Pergilah, Kyu. Jaehyun biar aku yang menenangkan.”

 

Sena meyakinkan Kyuhyun untuk melanjutkan langkahnya.

 

“Minji-ya!”

 

Panggilan Kyuhyun membuat Minji tersadar, karena dari tadi gadis itu hanya melamun, mencoba mencerna semua kejadian yang tiba-tiba itu.

 

Ne?”

 

“Hubungi Park Ahjussi untuk menjemput kalian.”

 

“E-eo.” Gadis itu masih terlihat kebingungan.

 

Kyuhyun kembali mengalihkan pandangannya pada Jaehyun yang terus menangis. Sungguh, ia tak tega melihat Jaehyun menangis seperti itu. Tapi saat ini yang terpenting baginya adalah menemukan Nara. Hingga ia kembali bergegas melangkah, dan berlari. Ia harus menemukan Nara secepatnya.

 

Setelah cukup jauh berlari mengitari taman bermain itu, Kyuhyun tak juga menemukan Nara. Membuat Kyuhyun mengacak rambutnya gusar. Ia terlihat frustasi karena mengkhawatirkan Nara, ditambah rasa bersalahnya yang mendalam terhadap istrinya itu.

 

Kyuhyun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Berharap menemukan jejak Nara di sana. Hingga akhirnya matanya menangkap sosok mungil itu.

 

Tercetak sedikit kelegaan di wajahnya. Tapi tidak! Naranya terlihat menyedihkan dengan posisi terduduk di tanah. Ia bergegas mendekati Nara. Lalu berjongkok di depan Nara. Sementara gadis itu seperti tak terusik sedikitpun dengan kehadiran Kyuhyun.

 

“Ra-ya ….”

 

Nara bergeming, namun matanya masih mengalirkan cairan bening. Ia seolah tak mendengar suara Kyuhyun. Gadis itu masih tenggelam dalam luka di hatinya.

 

Kyuhyun memutuskan membopong Nara, karena ia yakin Nara tak akan mendengar apapun yang ia katakan saat ini. Ia ingin membuat Nara tenang dulu, dengan membawanya pulang ke rumah.

 

Namun saat Kyuhyun hendak membopong tubuh mungil Nara, matanya melebar, karena melihat darah yang mengalir dari luka di kaki Nara.

 

“Kau terluka, Ra-ya!”

 

Kyuhyun bergegas membopong Nara, hingga membuat Nara terkesiap dan secara otomatis mengalungkan lenganya di leher Kyuhyun. Perlahan ia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Menatap wajah Kyuhyun yang terlihat sangat khawatir dan panik secara bersamaan. Cukup lama. Masih dengan air mata yang terus mengalir dari kedua mata teduhnya.

 

Sementara Kyuhyun berlari sekencang yang ia bisa. Saat ini yang ia inginkan hanyalah segera sampai di rumah sakit.

 

Suasana taman bermain yang ramai, cukup membuat Kyuhyun kesulitan mencapai gerbang keluar. Hingga beberapa kali secara tak sengaja Kyuhyun menyenggol pengunjung yang membuat ia dihadiahi beberapa umpatan. Namun Kyuhyun seolah tak mendengar, atau ia mendengar tapi tak peduli.

***

 

Kyuhyun’sHome, Gangnam, Seoul.
05.00 PM KST

 

Bibi Kim membuka pintu saat ia mendengar deru mesin mobil di halaman depan rumah mewah itu. Tak lama muncullah sosok Kyuhyun yang tengah membopong Nara. Dengan langkah tergesa menuju lantai atas.

 

Bibi Kim sedikit terkejut melihat perban yang melilit di kaki Nara. Namun ia mengurungkan niatnya untuk bertanya pada pasangan itu untuk sekedar mengobati rasa penasarannya terhadap apa yang terjadi dengan kaki Nara. Karena Bibi Kim merasa situasinya tidak tepat.

 

Wajah sendu Nara dan air muka Kyuhyun yang terlihat kacau, membuat wanita itu menyadari bahwa situasi antara pasangan itu sedang tidak baik saat ini.

 

Sebelumnya Bibi Kim tak pernah melihat pasangan itu dalam kondisi yang cukup kacau seperti sekarang. Karena selama ini mereka selalu penuh dengan cinta.

 

Kyuhyun yang sangat menyayangi dan mencintai Nara dan Nara yang selalu berusaha melayani dan memperhatikan Kyuhyun dengan baik. Membuat bibi Kim tak menyangka bahwa kejadian seperti ini akan datang menimpa pasangan itu.

 

Ya, Bibi Kim sudah mengetahui apa yang terjadi di taman bermain tadi, karena Minji sudah menceritakan semuanya. Bibi Kim cukup mengenal Sena, dan ia juga sangat tahu bagaimana dulu hubungan Kyuhyun dan Sena. Tapi ia tak menyangka bahwa Sena akan kembali dan membuat keadaan menjadi kacau seperti sekarang.

 

Wanita itu hanya berharap kekacauan ini cepat berakhir dan keharmonisan rumah tangga majikannya itu bisa kembali lagi.

 

Sementara Kyuhyun terus melangkah menaiki tangga. Menginjak undakan demi undakan anak tangga berlantai marmer itu.

 

Ia menoleh ke arah Nara, namun ekspresi Nara tetap tak berubah seperti saat ia menemukan Nara. Hanya air mata saja yang sudah tak terlihat mengalir dari kedua mata favoritnya itu.

 

Sedari tadi mereka hanya dilingkupi kebisuan. Tak ada yang berinisiatif mengeluarkan suara. Bahkan Kyuhyun masih menimbang-nimbang, merangkai kata yang akan ia sampaikan pada Nara, agar tak menyakiti hati istrinya itu lebih dalam lagi.

 

Hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar utama rumah itu. Kyuhyun masih bisa menggapai kenop pintu, walaupun ia sedang membopong Nara, lalu memutar kenop itu hingga membuat pintu itu terbuka. Ia bergegas masuk kedalam dan kembali menutup pintu.

 

Kyuhyun membaringkan Nara di tempat tidur dengan hati-hati, lalu mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Nara. Kyuhyun membungkuk, mendekatkan bibirnya pada dahi Nara, bermaksud memberikan kecupan pada kening Nara. Namun Nara memalingkan wajahnya.

 

Bukan sebuah kecupan yang ia inginkan saat ini, tapi penjelasan dari Kyuhyun-lah yang sangat ia butuhkan. Sungguh, ia masih tak bisa mengerti dengan apa yang terjadi di taman bermain tadi.

 

“Maaf …”

 

Akhirnya Kyuhyun bersuara sambil menggenggam tangan Nara. Namun Nara tetap bergeming, matanya kembali mengeluarkan cairan beningnya.

 

Jika Kyuhyun meminta maaf, berarti itu memang benar. Apa yang ia lihat tadi memang sebuah kenyataan. Bukan lagi sebuah sandiwara dari Kyuhyun. Tak akan ada kejutan manis setelah ini. Walaupun sebelumnya ia sempat berharap kejadian tadi hanyalah sebuah sandiwara, sama seperti yang terjadi dua minggu lalu, saat Kyuhyun memberikan kejutan di hari ulang tahunnya.

 

“Maafkan aku karena membuatmu mengetahui semuanya dengan cara seperti ini.”

 

Air mata Nara semakin deras mengalir. Sungguh ia tak sanggup mendengar semua ini. Hatinya merasa tak siap mendengar semua kenyataan pahit dari bibir Kyuhyun. Namun otaknya terus menguatkan, bahwa ia membutuhkan kejelasan.

 

“Aku tak tau dari mana harus memulainya, semuanya terjadi secara tiba-tiba,” Kyuhyun kembali bersuara.

 

Nara menoleh ke arah Kyuhyun, ia mendapati Kyuhyun tengah bersimpuh di lantai di dekat ranjang. Tepat di samping tempatnya berbaring, masih dengan menggenggam tangannya. Raut frustasi tercetak jelas di wajah suaminya itu.

 

“Kenapa kau harus membohongiku, Kyu?” Nara mencoba berbicara di tengah isakannya.

 

“Demi Tuhan, Ra-ya. Aku tak ingin membohongimu. Tapi aku belum menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan semuanya padamu. Aku tak ingin menyakitimu, tapi aku tak menemukan cara agar kau tak tersakiti. Karena aku tahu, dengan mengetahui faktanya saja, itu sudah sangat menyakitimu.” Kyuhyun mengusap wajahnya gusar.

 

Nara memejamkan matanya, mencoba membesarkan hatinya sendiri. Ia juga tak sanggup melihat wajah Kyuhyun yang terlihat sangat frustasi seperti sekarang.

 

“Mulailah dari Sena.”

 

Kyuhyun menatap Nara, mungkin memang inilah saatnya Nara mengetahui tentang Sena, karena memang ia tak pernah sedikitpun menceritakan tentang Sena pada Nara.

 

Kyuhyun memejamkan matanya, lalu menarik nafas, dan menghembuskannya secara perlahan. Ia mencoba menggali memori yang telah lama ia kubur.

 

“Sena adalah gadis yang memiliki kepribadian yang unik, hampir sama sepertimu, polos, dewasa, namun terkadang manja.” Kyuhyun membuka ceritanya.

 

“Aku sangat menyukainya, tidak … mungkin aku sangat mencintainya.”

 

Ekspresi Nara sedikit berubah saat mendengar kalimat Kyuhyun. Bahkan Kyuhyun mengatakan sangat mencintai Sena. Tapi ia tak ingin berkomentar, karena ia tahu Kyuhyun belum selesai dengan ceritanya.

 

“Kami menjalin hubungan cukup lama, 2 tahun. Kau tau kan bahwa aku dulu adalah seorang player? Bisa bertahan dengan seorang gadis selama 2 tahun adalah sesuatu yang luar biasa untukku.”

 

Nara tahu, karena Kyuhyun telah menceritakan bagaimana ia dulu di masa remajanya. Kyuhyun suka bergonta ganti pasangan, bahkan ia juga sering memiliki lebih dari satu kekasih di waktu bersamaan. Ketampanan dan kekayaan yang dimiliki Kyuhyun membuat gadis-gadis itu secara suka rela melemparkan diri pada Kyuhyun.

 

Jika Kyuhyun bisa bertahan selama itu dengan Sena, berarti Kyuhyun benar-benar sangat mencintai Sena. Kembali Nara merasa hatinya memanas, namun lagi-lagi ia tak ingin berkomentar.

 

“Setelah 2 tahun menjalin hubungan dengan Sena, aku merasa menemukan apa yang kucari selama ‘petualanganku’ sebagai seorang player, ada dalam dirinya. Hingga aku memutuskan untuk menikahinya saat itu. Aku sudah berencana melamarnya, namun tiba-tiba ia memberitahu bahwa ia harus ikut dengan orang tuanya ke Paris, karena mereka ingin memulai bisnis di sana.” Kyuhyun terdiam sejenak, lalu ia kembali menerawang, mencoba mengingat-ingat kisah yang hampir ia lupakan.

 

“Aku berusaha menahannya, bahkan aku melamarnya saat itu juga. Tapi ia bilang ia juga ingin melanjutkan study-nya di Paris, karena ia benar-benar ingin menjadi seorang fashion designer dan ingin belajar langsung di kota mode itu. Aku akan menjadi pria yang kejam jika tetap menahannya di sisiku, sementara ia mempunyai mimpi yang ingin ia raih. Hingga akhirnya aku merelakannya untuk pergi. Saat ia berada di Paris, tak seharipun aku lewatkan untuk sekedar berbicara dengannya melalui telepon, bahkan aku menghubunginya sampai tiga kali dalam sehari.

 

“Namun, itu tak berlangsung lama. Memasuki bulan kedua, Sena jadi sangat susah dihubungi, hingga aku benar-benar kehilangan kontak dengannya.” Kyuhyun kembali menjeda kalimatnya.

 

“Saat itu aku merasa hilang arah. Aku seperti kehilangan cahaya hidupku. Aku kembali menjadi diriku sebelum bertemu dengannya, tidak … bahkan lebih parah. Hingga akhirnya orang tua kita mengatur perjodohan kita. Aku hanya menurut saat itu, karena aku merasa tak punya pilihan. Tapi saat bertemu denganmu, aku merasa seperti menemukan Sena, hingga aku menyetujui untuk menikah denganmu.”

 

“Ja-jadi selama ini aku hanya jadi bayang-bayang Sena untukmu?” Nara menyela penjelasan Kyuhyun, ia berbicara dengan suara serak di tengah isakannya.

 

Hatinya kembali terasa sakit saat mendengar fakta itu. Selama ini Kyuhyun menganggapnya sebagai bayang-bayang Sena. Setidaknya itulah yang ada di pikiran Nara saat mendengar semua penjelasan Kyuhyun.

 

Kyuhyun mengusap dengan lembut air mata yang mengalir dari kedua mata sendu Nara.

 

“Mungkin awalnya memang begitu. Aku melihat Sena dalam dirimu, karena karakter kalian hampir sama. Tapi akhirnya aku sadar, kau adalah kau. Kau sangat berbeda dengan Sena. Aku mencintaimu sebagai dirimu sendiri, bukan karena kau mirip Sena. Aku mencintaimu sebagai Jung Nara, bukan sebagai bayang-bayang Han Sena. Percayalah padaku, Ra-ya.” Kyuhyun berusaha meyakinkan Nara.

 

Ia kembali mengusap air mata Nara, setelah itu beralih mengusap dahi Nara dengan lembut, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Nara. Matanya menatap dengan lembut dan dalam hazelkecoklatan milik Nara.

 

“Bahkan jika semuanya berubah, ada satu hal yang tak akan pernah berubah, kau adalah cintaku, dan aku adalah cintamu.”

 

Kyuhyun berkata dengan lembut, namun terdengar tegas, seolah ucapannya barusan tidak bisa dibantah oleh apapun dan oleh siapapun.

 

Nara menatap kedalam manik hitam Kyuhyun, mencoba mencari kebohongan di sana. Namun, ia tak menemukannya. Ia yakin Kyuhyun berkata jujur padanya. Tapi itu belum bisa membuat hatinya tenang.

 

“Tapi … apa sekarang kau masih mencintai Sena dan masih berhubungan dengannya, Kyu? Lalu Jaehyun …?” Nara kembali tenggelam dalam isakannya. Tenggorokannya tercekat, ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

 

“Tidak Ra-ya, perasaanku terhadap Sena sudah menghilang sejak aku menikah denganmu, bahkan aku sudah mengubur semua memoriku tentang Sena. Aku tak memiliki hubungan apapun dengannya, selain peran kami sebagai orang tua Jaehyun.”

 

Kyuhyun terdiam sejenak.

 

“Jaehyun … dia adalah putraku. Aku tak mengetahui tentang Jaehyun sebelumnya, hingga seminggu yang lalu Sena datang ke kantorku dan membawa Jaehyun.”

 

Hati Nara terasa seperti diremas saat mendengar kalimat Kyuhyun. Kembali bahunya bergetar karena isakannya.

 

“Aku ingin bertanggungjawab terhadap Jaehyun, Ra-ya. Aku ingin bertanggungjawab terhadap putraku,” lirih Kyuhyun.

 

Kyuhyun mengusap wajahnya gusar. Ia terlihat sangat kacau. Pria itu bahkan tak berani lagi memandang manik hazel Nara. Kyuhyun merasa tak sanggup melihat luka yang ia sebabkan dari mata Nara yang sayu dan telah basah oleh cairan beningnya.

 

Sejenak pasangan itu kembali dilingkupi kebisuan. mereka tenggelam dengan perasaan masing-masing. Nara dengan perasaan lukanya, dan Kyuhyun dengan perasaan bersalahnya.

 

Nara memejamkan matanya sejenak, menarik nafas, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia melirik ke sampingnya, ke tempat Kyuhyun masih bersimpuh. Ia melihat penampilan Kyuhyun yang sangat kacau. Tatanan rambut yang sudah berantakan dan kemeja yang kusut.

 

Ia tak bisa melihat raut wajah Kyuhyun, karena Kyuhyun tengah menunduk, tapi ia yakin raut wajah Kyuhyun pasti lebih kacau dari penampilannya.

 

Nara mencoba duduk dari baringannya. Lalu menggapai wajah Kyuhyun dan menenggelamkan di perutnya. Ia tauKyuhyun pasti juga sangat tersiksa beberapa hari ini. Kyuhyun juga pasti berat menerima semua ini. Suaminya itu juga pasti dalam dilema besar selama beberapa hari ini.

 

Sementara Kyuhyun terkesiap. Tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari Nara. Ia mendongak, menatap wajah Nara.

 

“R-ra-ya ….”

 

“Aku tak bisa berjanji akan menerima Jaehyun dengan lapang dada. Tapi aku takkan membiarkanmu menjadi ayah yang tidak bertanggung jawab.”

 

Nara berbicara sambil menekan rasa sesak di hatinya. Ia tak ingin menjadi seorang istri yang jahat, yang membuat suaminya terbelenggu rasa bersalah. Ia tak ingin seperti itu.

 

Kyuhyun seketika berdiri, lalu ia mendekap tubuh Nara, mengecup kening Nara, setelah itu menciumi puncak kepala Nara.

 

“Aku berjanji tak akan mengecewakanmu lagi.”

***

 

Vatos Urban TacosRestaurant, Yongsan, Seoul
01.00 PM KST

 

ChoiSiwon sang CEO dari Hyundai Group itu sedari tadi terus tersenyum sambil memandangi paperbag yang terletak di atas meja di depannya.

 

Lesung pipi yang menghiasi wajahnya saat tersenyum memang membuat siapapun akan meleleh ketika melihat senyumannya. Tapi, jika ia tersenyum sendirian seperti sekarang, pasti orang-orang akan mengira pria tampan itu telah gila karena tersenyum tanpa alasan yang jelas.

 

Namun sepertinya Siwon tak peduli, ia telah tenggelam dalam lamunannya.

 

Siwon terus tersenyum sambil menerawang, mengingat kejadian satu minggu yang lalu.

 

Flashback On

Incheon Air Port, Incheon.
11.00 AM KST

 

Siwon baru saja turun dari pesawat dengan senyum lebarnya. Sepertinya ia sangat menikmati liburannya ke Italy kali ini. Pria tampan itu terus menunjukan senyumnya yang sangat menawan di sepanjang perjalanannya keluar bandara. Ia seolah tak menyadari betapa banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan terpesona.

 

Siwon terus berjalan sambil menarik koper dan menenteng sebuah paperbag. Ia sengaja tak memasukannya ke koper, karena itu berisi hadiah yang akan ia berikan pada Nara. Pria itu tak ingin repot-repot membongkar kopernya saat nanti sampai di rumah Kyuhyun.

 

Siwon sengaja melarang asistennya untuk menjemputnya di Bandara, karena Donghae yang akan menjemputnya dan mereka akan langsung menuju rumah Kyuhyun.

 

Brukk!!

 

Namun tiba-tiba tubuh Siwon ditabrak seseorang, yang membuat tubuh atletisnya terjungkal, dan tak selang beberapa lama ia merasakan sesuatu yang cukup berat menimpa tubuhnya. Hingga membuat Siwonterjengit.

 

Namun semua rasa sakit yang ia rasakan seolah menguap entah kemana, saat melihat sosok cantik tepat di depan wajahnya.

 

Cukup lama Siwon tertegun, hingga ia tak menyadari sosok itu telah menghilang dari hadapannya.

***

 

Kyuhyun’sHome, Gangnam, Seoul.
01.30 PM KST

 

“Saengilchukae Nara-ya, oppa membawakan hadiah kecil untukmu.”

 

Siwonmemyerahkanpaperbag pada Nara, setelah mereka selesai makan siang dan tengah duduk berbincang di ruang tengah rumah Kyuhyun.

 

“Gomawo, Oppa.”

 

Nara tersenmanis, menerima hadiah ‘kecil’ dari Siwon itu. Ia sedikit tak sabar ingin mengetahui hadiah ‘kecil’ apa yang dimaksud Siwon. Namun mata Nara terbelalak dan wajahnya langsung memerah saat isi paperbag itu sudah berada di tangannya. Kyuhyun, Hyukjae dan Donghae, juga ikut membelalakan matanya saat melihat ‘benda’ yang dipegang Nara.

 

Nara dengan seketika memasukan kembali “benda’ itu kedalampaperbag.

 

“Ya!! Hyung, kau membelikan bikini untuk istriku?!” teriak Kyuhyun. Ia sungguh tidak menyukai hadiah yang diberikan Siwon pada Nara.

 

“Astaga … kau pasti membayangkan tubuh istriku saat membelinya,” geram Kyuhyun menahan amarahnya.

 

“Dan apa itu? Itu bukan ukuran Nara!” lanjut Kyuhyun masih dengan setengah berteriak. Membuat wajah Nara semakin memerah karena Kyuhyun menyebut-nyebut soal ‘ukurannya’.

 

“Ternyata kuda alay ini mesum juga,” cibir Hyukjae.

 

“Bukan. Sungguh, aku membelikan sebuah gaun untuk Nara, bukan “benda” itu.” Siwon terlihat panik, karena gaun yang ia belikan untuk Nara, tiba-tiba berubah menjadi bikini.

 

“Bagaimana bisa? Sudah jelas-jelas kau memberikan paperbag berisi bikini itu,” sengit Kyuhyun.

 

“Aku juga tak tau, Kyu,” ujar Siwon.

 

“Eumm … apa mungkin paperbag-nya tertukar, oppa?” Tanya Nara pada Siwon. Karena Nara yakin Siwon tak mungkin memberikan sesuatu seperti itu padanya.

 

“Mungkin juga begitu Won-ah, coba kau ingat-ingat lagi,” tambah Donghae.

FlashbackEnd

 

“ChoiSiwon-ssi?”

 

Suara itu menarik Siwon dari lamunannya. Ia menengadah melihat sosok yang sebenarnya sedari tadi telah berdiri di dekatnya.

 

Seketika matanya disuguhi sosok gadis yang membuatnya mati rasa seminggu yang lalu. Penampilan gadis itu sedikit berbeda saat ini. Ia memakai setelan kantoran yang membaluti tubuh langsingnya, dengan tangtop yang dilapisi blazer di bagian atasnya dan rok pensil dengan panjang 3 cm di atas lutut, membuat kaki jenjangnya yang mulus terekspos sempurna.

 

“E-eo … Ne, Kang Seulgi-ssi,” Siwon sedikit tergagap.

 

“Sepertinya ini punyaku.”

 

Gadis yang dipanggil Kang Seulgi itu langsung menggapai paperbag yang terletak di atas meja dengan wajah angkuhnya. Lalu menyerahkan paperbag serupa pada Siwon.

 

“Ini punyamu.”

 

Gadis itu melenggang pergi setelah meletakkan paperbag milik Siwon di atas meja. Membuat Siwon mengangkat sebelah alisnya karena ketidaksopanan gadis itu.

 

“Hey Nona! kau hanya pergi tanpa meminta maaf padaku?!” seru Siwon pada Seulgi.

 

Seulgi menoleh ke belakang dengan dahi berkerut.

 

“Meminta maaf padamu? Untuk apa?” tanya Seulgi dengan wajah acuhnya.

 

“Aku rasa kau punya banyak alasan untuk meminta maaf padaku, Nona. Pertama kau menabrakku dan menimpa tubuhku dengan tubuh beratmu. Lalu, kau mengambil paperbag milikku, dan hari ini kau membuatku menunggu sangat lama.”

 

Gadis itu terlihat sedikit berpikir.

 

Jadi, saat itu paperbag ini tertukar? Aish! ini semua gara-gara pencuri itu, batinnya kesal.

 

“Apa kau yakin itu kesalahanku? Atau kau sengaja menabrakan dirimu padaku?” Seulgi mencoba menyangkal.

 

Walaupun sudah menyadari kesalahannya, namun Seulgi tetap mempertahankan egonya.

 

“Tanyakan itu pada dirimu sendiri, Nona, karena kau yang menabrakku,” ujar Siwon dengan senyum meremehkan.

 

Ternyata dia gadis dengan ego yang tinggi, menarik juga, batin Siwon sambil memperhatikan ekspresi gadis itu yang terlihat sedikit gugup karena sudah menyadari kesalahannya, namun tak mau mengakui.

 

“Sudahlah, yang penting barangmu sudah kembali,” ketus Seulgi.

 

“Kau tak melihat isi paperbag-ku ini kan?” Tanya Seulgi penuh selidik.

 

“Tak ada yang menarik di dalam paperbag itu. Hanya formulir bea cukai milikmu dan sebuah bikini dengan ukuran cup bra-nya yang standar.”

 

Siwon berkata dengan acuh sambil berlalu di depan Seulgi, menuju pintu keluar restoran itu.

 

“Yak! Dasar pria mesum!” Teriak Seulgi yang membuat seisi restoran memandang ke arahnya. Sementara Siwon terus melanjutkan langkahnya sambil tersenyum penuh arti.

 

 

“Aku pasti bisa menaklukanmu, Nona Kang,” gumam Siwon.

 

Sepertinya seorang ChoiSiwon sudah memilih kepada siapa ia akan menjatuhkan hatinya.

 

Sementara di dalam restoran, Kang Seulgi terus saja mengumpat dengan kesal. Ia tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang di dalam restoran itu terhadapnya.

 

Namun seketika matanya berbinar. Raut kesalnya sudah tergantikan dengan senyuman yang sangat manis, saat melihat sosok jangkung dengan wajah tampannya yang sangat mendominasi.

 

My baby Sehun, yeogi!”

 

Seulgi berteriak sambil melambaikan tangannya memanggil pria tampan yang baru saja memasuki restoran itu. Masih dengan senyuman manisnya.

 

“Sehun-ah, di sini!” Terdengar suara gadis lain yang juga memanggil Sehun.

 

Seulgi mengalihkan pandangannya kearah meja di sampingnya. Matanya menangkap sosok Soojung tengah duduk manis, sambil melambaikan tangan juga ke arah Sehun.

 

“Ya! Jangan mengganggu, Sehun akan makan denganku,” kesal Seulgi, diikuti dengan delikannya terhadap Soojung.

 

“Kau percaya diri sekali. Biarkan Sehun memilih,” ujar Soojung santai.

 

Soojung segera berdiri saat Sehun sudah berjalan mendekati mereka. Lalu, dengan seketika Soojung menarik lengan Sehun untuk duduk di kursinya. Namun, Seulgi dengan cepat menarik lengan Sehun yang satunya lagi. Hingga terjadilah aksi tarik menarik di dalam restoran itu. Membuat semua mata tertuju pada mereka. Tapi sepertinya para pengunjung restoran tak begitu heran lagi melihat aksi kedua gadis cantik itu.

 

Mereka sudah terbiasa melihat kedua gadis itu memperebutkan Oh Sehun, karena saat jam makan siang seperti sekarang memang orang-orang yang bekerja di perusahaan yang sama dengan Seulgi dan Soojung-lah yang memenuhi restoran itu.

 

“Sehun-ah, ayo makan denganku saja. Kalau kau makan dengannya maka kau tak akan kenyang, karena dia pasti akan mengambil jatah makanmu juga. Kau tahukan nafsu makannya sangat besar?” Soojung mencoba membujuk Sehun sambil menjatuhkan Seulgi.

 

“Ya! Apa kau bilang?!” Seulgi berteriak kesal.

 

Baby, jangan dengarkan dia. Ayo makan denganku. Aku akan memesan makanan kesukaanmu,” Seulgi tak mau kalah membujuk Sehun.

 

“Ya! lepaskan! Sehun akan makan denganku,” teriak Soojung kesal.

 

“Tidak! Dia akan makan denganku,” bantah Seulgi.

 

Hingga akhirnya mereka menarik dengan paksa lengan Sehun, membuat pria tampan itu tertarik kesana kemari.

 

“Hentikan! kalian menyakitiku!” ujar Sehun, sedikit berteriak.

 

Akhirnya mereka melepaskan tarikannya pada lengan Sehun.

 

“Maaf nona-nona, aku tak bisa makan dengan kalian, karena aku sudah ada janji makan siang dengan temanku.” Sehun berujar santai sambil membenahi lengan kemejanya yang kusut ulah kedua gadis itu. Sehun berlalu meninggalkan kedua gadis cantik itu.

 

“Ya! Ini semua gara-gara kau terlalu berisik, dia pasti ingin makan siang denganku tadi.” Seulgi berteriak kesal pada Soojung.

 

“Kau yakin dia mau makan siang dengan gadis yang sudah memiliki kekasih, tapi masih mengejar pria lain, sepertimu?” ujar Soojung dengan senyum mengejek.

 

“Wow! Kau sudah pintar mengarang cerita ya, lebih baik kau menulis novel saja dari pada memfitnahku,” ujar Seulgi setengah kesal.

 

“Cih … aku tidak mengarang, semua orang melihat kau bersama seorang pria, tadi.”

 

“Jadi pria mesum itu yang kau sebut kekasihku?!” kaget Seulgi tak terima.

 

“Aku peringatkan kau, jangan pernah sebut pria mesum itu kekasihku. Dan satu hal lagi, aku pasti bisa menaklukan hati my baby Sehun, jadi lebih baik kau menyerah saja.”

 

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Seulgi langsung melangkah keluar restoran. Meninggalkan Soojung dengan wajah kesalnya. Gadis itu seperti ingin menelan Seulgi hidup-hidup.

 

Soojung kembali duduk di mejanya, menyeruput chocolatemilkshake, utuk mendinginkan kepalanya yang panas karena perdebatannya dengan Seulgi.

 

Drrrrrt … drrrrrt …

 

Soojung melirik ponselnya yang bergetar.

 

EOMMA CALLING

 

Soojung sedikit ragu untuk menjawab panggilan itu. Ia sudah tahu apa yang akan disampaikan ibunya. Sesuatu yang hanya akan membuat mood-nya semakin kacau. Namun akhirnya gadis cantik itu memutuskan untuk menerima telepon dari ibunya.

 

“Heum … wae, eomma?” Soojung berbicara dengan malas.

 

“Eo Jung-ah, bagaimana? Apa kau sudah memutuskan, Sayang?”

 

Soojung semakin kesal karena pertanyaannya juga dijawab dengan pertanyaan oleh sang ibu. Terlebih pertanyaan itu tentang sesuatu yang sangat ia hindari.

 

Eomma, aku sudah memutuskannya dari kemarin, dan Eomma sudah tau jawabanku.” Soojung berusaha mengontrol nada bicaranya.

 

Demi Tuhan, ia tak mengerti dengan jalan pikiran ibunya. Di zaman modern seperti sekarang ibunya masih mengenal yang namanya perjodohan?! Ia merasa seperti gadis yang tak laku, karena ibunya selalu menyodorkan pria untuk menikahinya. Bahkan ini adalah pria ketujuh yang disodorkan ibunya.

 

“Setidaknya kau coba temui dia dulu, Sayang. Eomma yakin, kau akan menyukainya.” Nyonya Jung masih berusaha meyakinkan putrinya yang keras kepala itu.

 

“Tidak, Eomma, aku menyukai pria lain. Jadi biarkan aku memilih,” bantah Soojung.

 

“Jung-ah, jangan mengharapkan seseorang yang bahkan tak melihatmu, karena itu hanya akan membuatmu terluka, Sayang.” Nyonya Jung mencoba berkata dengan lembut pada putri kesayangannya itu.

 

Wanita itu mengetahui bagaimana Soojung mengejar-ngejar Sehun, yang bahkan tak meliriknya sama sekali. karena alasan itu juga yang membuat Nyonya Jung sangat gencar menjodohkan putrinya itu dengan lelaki pilihannya. Namun putrinya benar-benar sangat keras kepala. Soojung bahkan tak pernah datang ke pertemuan yang telah ia atur.

 

Sementara Soojung hanya terdiam. Ia ingin menganggukkan kepalanya dengan kuat, sebagai pertanda bahwa ia sangat setuju dengan perkataan sang ibu.

 

Ia merasa sakit. Sangat sakit. Mengharapkan seseorang yang bahkan sama sekali tak menghargai usahanya untuk mendapatkan perhatiannya. Hatinya serasa disayat-sayat dengan pisau berkarat, lalu lukanya disiram dengan air garam. Sangat perih.

 

“Sayang, cobalah temui pria ini.Dia pria yang sangat baik, Eomma yakin kau pasti akan menyukainya. Dan … pria ini adalah seseorang yang kau kenal,” ujar Nyonya Jung lagi.

 

“Aku … mengenalnya? Siapa?” Tanya Soojung penasaran.

 

“Temui dia, maka kau akan mengetahuinya. Dan eomma janji ini adalah yang terakhir, jika kau tak menyukainya, Eomma tak akan menjodohkanmu lagi, Eomma akan membiarkanmu memilih sendiri.”

 

Soojung kembali terdiam, ia berfikir sejenak. Seseorang yang kukenal? siapa? batin Soojung penasaran. Dan ini adalah yang terakhir, jadi tak ada salahnya aku menemui pria itu, setidaknya setelah ini eomma tak akan menyodorkan pria-pria itu lagi padaku, Soojung kembali membatin.

 

“Baiklah eomma, aku akan menemuinya. Beritahu aku kapan dan di mananya.”

 

Tedengar senyum kelegaan dari Nyonya Jung. Ia merasa sangat senang karena akhirnya putrinya itu luluh juga. Dan lagi, ia yakin usahanya kali ini akan berhasil.

 

“Baiklah sayang, nanti eomma kirimkan lewat pesan.”

 

“Baiklah, aku tutup dulu, aku menyayangi Eomma.” Soojung mengakhiri panggilan itu.

 

Gadis itu menarik nafas sejenak, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia berdiri dari duduknya dan langsung melangkah menuju toilet.

 

Sesampainya di toilet, Soojung mencuci tangannya di wastafel, lalu ia memandang lurus kedepan, menatap wajah cantiknya pada pantulan kaca di wastafel itu.

 

“Keputusan yang bagus Soojung-ah, ini demi kebebasanmu.”

 

Soojung memasuki sebuah bilik toilet, karena tiba-tiba ia merasa ingin buang air kecil.

 

“Kau liat tadi? Kang Seulgi, si jalang itu. Dia selalu menggoda banyak lelaki, setelah gagal menggoda pria tampan tadi, lalu ia kembali menggoda Oh Sehun.”

 

Soojung mendengar suara seorang gadis di luar bilik toilet.

 

“Dia benar-benar menjijikan. Setelah menggoda Sajangnim ia juga menggoda banyak pria,” suara gadis lainnya.

 

“Aku yakin sebentar lagi dia akan ditendang dari perusahaan, karena tunangan Sajangnim tak akan tinggal diam.” timpal gadis pertama.

 

“Ya! Bisakah kalian berhenti berbicara dengan mulut kotor kalian?!”

 

Kedua gadis itu terperanjat kaget karena teriakan Soojung.

 

“Jika kalian berbicara sesuatu yang buruk lagi tentang Seulgi, aku tak segan-segan menyumpal mulut kalian dengan tisu toilet!” teriak Soojung marah sambil mendelik tajam.

“Kalian tahu kan aku tak pernah main-main dengan ucapanku?” Kali ini nada bicaranya terdengar mengintimidasi.

Setelah melontarkan ancamannya, Soojung melangkah keluar dari toilet. Sementara kedua gadis itu hanya melongo melihat kepergian Soojung.

“Bukankah Soojung juga tak menyukai Seulgi?” Gadis yang satunya bertanya heran, karena yang ia tauSoojung dan Seulgi adalah musuh bebuyutan.

“Kau tak tahu? Mereka dulunya adalah sahabat dekat.”

“Benarkah?”

***

 

Kyuhyun’sHome, Gangnam, Seoul.
01.00 PM KST

 

Ini sudah dua minggu sejak kejadian yang mengejutkan sekaligus menyesakan itu. Nara perlahan-lahan sudah bisa menerima kehadiran Jaehyun. Ia tak bisa membenci bocah menggemaskan itu.

 

Hari ini Nara mengundang Sena dan Jaehyun untuk makan siang di rumahnya. Setidaknya ia harus menunjukan bahwa ia bisa menerima Jaehyun dengan tangan terbuka. Walaupun masih ada sedikit kesesakan di hatinya tiap mengingat bahwa Jaehyun adalah putra Kyuhyun dengan gadis lain. Ia hanya berharap semoga perasaan sesak ini akan menguap seiring berjalannya waktu.

 

“Nara-ya.”

 

Suara itu menginterupsi kegiatan Nara. Ia mengalihkan pandangannya dari makanan yang sedang ditatanya. Hingga matanya menangkap sosok wanita paruh baya dengan pembawaannya yang anggun. Wanita itu masih terlihat cantik untuk ukuran wanita sesusianya.

 

Eommonim.”

 

Nara bergegas menyambut wanita itu, yang tak lain adalah ibu Kyuhyun, mertuanya.

 

“Tolong jelaskan pada Eommonim, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa ada hal seperti ini? Dan … dimanaKyuhyun? Dimana anak kurang ajar itu? Kau pasti sangat terluka, Nara-ya.”

 

Nyonya Cho langsung memberondong Nara dengan pertanyaan. Setelah itu ia memeluk tubuh menantunya itu. Sementara air mata sudah mengalir di pipi Nara, kembali perasaan sesak itu semakin menguat ia rasakan.

 

“Maafkan Eommonim, Nara-ya.”

 

Nyonya Cho mengusap punggung Nara yang bergetar karena isakannya. Wanita tua itu merasa sangat bersalah pada Nara. Ia merasa bahwa ialah penyebab luka di hati Nara.

 

Eomma di sini?” terdengar suara Kyuhyun.

 

Seketika Nara mengusap air mata di kedua pipinya. Ia tak ingin Kyuhyun melihatnya menangis, karena pasti suaminya itu akan merasa bersalah lagi.

 

Nyonya Cho melepas pelukannya pada Nara. Ia harus memberikan pelajaran pada anaknya yang kurang ajar itu. Begitulah tekad Nyonya Cho. Ia hendak menumpahkan semua amarahnya pada sang anak. Namun tiba-tiba ….

 

Halmoni.”

 

Suara itu …. Suara khas anak-anak yang membuat hati Nyonya Cho menjadi terasa tentram, ditambah dengan panggilan yang sudah sangat lama ia ingin dengar. Panggilan yang sangat ia idam-idamkan disematkan padanya. Seketika hati Nyonya Cho mencair, bahkan ia sudah melupakan semua sumpah serapah yang akan ia lontarkan pada Kyuhyun.

 

Nyonya Cho mendekati Kyuhyun yang tengah menggendong Jaehyun, sementara Sena berdiri disebelahKyuhyun. Pria itu baru saja kembali menjemput Jaehyun dan Sena dari apartement Sena.

 

“C-cucuku.”

 

Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Ia menggapai tubuh Jaehyun yang berada dalam gendongan Kyuhyun. Nyonya Cho hendak menggendong cucunya.

 

Senyum yang sangat lebar tersemat di wajah tuanya, saat sang cucu sudah berada dalam gendongannya. Nyonya Cho merasa mimpinya sudah tercapai saat itu juga. Wanita paruh baya itu sangat sering memimpikan hari seperti ini akan datang.

 

Senyum Nyonya Cho juga menular pada Kyuhyun. Sudah lama Kyuhyun tak melihat sang ibu tersenyum selebar itu. Sejak kematian ayahnya, Kyuhyun tak pernah melihat ibunya tersenyum seperti sekarang. Ia merasa bahagia karena bisa mengembalikan senyum sang ibu. Sementara Sena juga ikut tersenyum.

 

Namun mereka melupakan seseorang yang tengah menelan air matanya.

 

Perasaan sesak terus menggerogoti Nara saat melihat semua yang terjadi di hadapannya. Ia merasa menjadi orang asing di rumahnya sendiri. Menjadi orang asing bagi suami dan mertuanya.

 

Ia merasa seperti melihat sebuah keluarga yang tengah berbahagia, sementara ia hanyalah sosok transparan yang tak terlihat.

TBC

59 thoughts on “When The Smile Being Ornate Part 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s