Breakable Part 3


image

Author: Queensera P.

Title: (Un)Breakable

Category: NC21, Romance, Complicated, Multi-Chaptered

Cast:

Cho Kyuhyun

Lee Sena

Shim Changmin

Irene Kim

Disclaimer:

This story is pure from my imagination. I ordinary own the plot. So take your sit, don’t do a chit. And please, don’t be siders! Happy Reading (

.
Do you sometimes miss me too? Cause I’m trapped in a time without you.

.

Setelah satu setengah jam mereka habiskan untuk berada di D’Hindis—tempat mereka makan siang tadi—yang diselingi dengan bermacam-macam obrolan tak terarah, akhirnya kini, dia dan Kyuhyun sedang berada didalam audi putih R8 kepemilikan pria itu yang tengah melaju ke kawasan Seoul Forest untuk mengantakannya ke apartemen.

Sepanjang perjalanan pulang, Sena selalu saja memperhatikan Kyuhyun. Tingkah pria itu sangatlah tidak wajar saat ini—setidaknya bagi Sena sendiri. Karena seringnya, Kyuhyun tidak pernah tersenyum begitu lebar hingga melupakan dirinya yang jelas-jelas berada disampingnya ketika bertemu dengan orang baru. Dan dia yakin hal ini disebabkan oleh seorang wanita bernama Irene Kim itu. Yang baru dia ketahui tadi bahwa wanita itu adalah kekasih Shim Changmin.

“Jadi, kalian sudah pernah bertemu. Sebelumnya?” tanyanya memulai percakapan.

“Huh?”

“Kau dengan Irene—”

Kyuhyun menoleh padanya, masih dengan senyuman itu. Bahkan lebih lebar. “Oh. Irene. Ya, tentu saja. Seperti yang kau dengar tadi, kami bertemu di pesta ulang tahun Ibu. Hanya saja—” Kyuhyun menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, “Yang sangat tidak kusangka, dia dan Changmin berkencan. Kau percaya itu?” Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh. Pria itu menoleh padanya lagi, lalu berkata, “Dunia bisa menjadi sangat sempit jika bersangkutan dengan takdir, bukan?”

Sena terdiam untuk beberapa saat, mendalami raut wajah Kyuhyun lalu tersenyum dan mengangguk, mengiyakan pernyataan Kyuhyun barusan.

Sisa perjalanan, mereka isi dengan musik jazz kesukaan Kyuhyun. Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Sena lebih memilih untuk diam meredam rasa sakit diarea perutnya yang kembali menyerang, sedangkan Kyuhyun disibukkan dengan fokusnya yang sedang membawa mobil.

Lima belas menit kemudian, barulah pria itu menghentikan mesin bergeraknya di basement sebuah apartemen kenamaan Galleria Foret—tempat dimana Sena tinggal.

“Perutmu sudah tidak apa-apa ‘kan?” tanyanya Kyuhyun langsung paska menarik tuas rem. Tangannya dia sapukan diatas kepala Sena. Perempuan itu memang merengek meminta pulang setelah katanya tadi, perutnya sangat sakit. Dan dia tidak bisa menghabiskan makan siangnya—lagi.

Ditanyai seperti itu, Sena hanya membalas ucapan Kyuhyun dengan sebuah senyuman. Membuat Kyuhyun mau tak mau mendesah. “Aku serius, Sena.” ucapnya dengan nada rendah. Nada yang memiliki banyak peringatan.

“Masih sedikit nyeri, tapi tidak apa-apa. Kau tenang saja,” balasnya seraya membawa tangan Kyuhyun untuk digenggamnya.

Kyuhyun tampak sangsi tapi kemudian pria itu menghela nafas. Menarik wajah Sena, lantas membawa tubuh wanita itu masuk ke dalam rengkuhannya dan membaumi pucuk kepalanya sebelum dia harus pergi dan berkutat lagi dengan berkas-berkasnya di kantor. Baginya, menghabiskan waktu satu setengah jam bersama wanita itu, sangatlah tidak cukup. Jadi, biarkan untuk sebentar saja, dia merengkuh tubuh ringkih ini.

“Kau tidak pernah menurut jika disuruh makan. Apa diet sepenting itu, hm?” bisiknya.

Sena terkekeh kecil lalu menjawab, “Aku tidak sedang berdiet, percayalah. Hanya saja, nafsu makanku akhir-akhir ini memang sedang tidak baik.”

“Kalau begitu perbaiki. Atau aku akan selalu mengontrol jadwal makanmu. Kapanpun. Kau tau sendiri seperti apa aku jika sudah memaksa bukan?”

“Cih, dasar tukang paksa! Kau pikir aku takut?” tantang Sena dengan kepala yang dia dongakkan, tak lupa dengan sebuah senyum yang masih terpampang diwajahnya.

“Aku serius, Sena. Jangan kau pikir aku hanya bercanda. Atau—” Kyuhyun menatapnya datar, mendalami bola cokelat-madu sewarna rambut panjangnya tersebut dengan sebuah intimidasi, “aku akan memutuskan semua kontrak kerjamu yang sekarang.”

Sena mendelik, lantas mendorong tubuh Kyuhyun dengan tatapan tidak percaya. “Apa hubungannya sih Kyuhyun?! Yang benar saja!”

“Oh, tentu ada hubungannya. Dan apa kau lupa? Aku bisa melakukan segala cara, jika aku mau.”

“Menyebalkan!”

“Terima kasih.”

Mendengus, Sena menyipitkan matanya pada Kyuhyun, “Lalu, bisa kau jelaskan apa hubungannya aku yang tidak mau makan dengan karirku saat ini? Jangan keterlaluan.”

“Memangnya perlu, ya? Kupikir kau mengerti,” balas Kyuhyun sengit, “Kau begini,” matanya menelisik tubuh Sena dari atas sampai bawah, kemudian berkata lagi, “tidak nafsu memasukkan apapun kedalam perutmu atau merasa kenyang tiba-tiba, itu karena kebiasaanmu yang selalu melewatkan jam makan. Dan itu disebabkan karena apa? Karena pekerjaanmu, kau tahu? Kau terlalu sibuk, Sena.”

“Kau berlebihan! Kalau kau lupa, kau juga sangat sibuk. Bahkan lebih dariku. Jadi, jangan macam-macam Cho Kyuhyun.”

“Aku memang sibuk, tapi setidaknya, aku tidak melupakan kebutuhanku yang satu itu. Kau lihat ini?” tanyanya dengan mengalungkan jempol serta telunjuknya pada pergelengan tangan kiri Sena. “Apa ini yang disebut sebagai tubuh ideal seorang model? Ini.. lebih cocok disebut sebagai tubuh ideal seorang wanita yang terjangkit anoreksia!”

Sena melepaskan lingkaran jari Kyuhyun dengan cara yang sedikit kasar, “Apa?” tanyanya tidak percaya, anoreksia? Kyuhyun itu kenapa? Apa dia lupa jika wanita itu sangat tidak suka dengan pembahasan yang seperti ini? Apalagi dengan konotasi yang negatif, seperti tadi katanya, anoreksia. Keterlaluan. “Haruskah kita bertengkar karena hal sepele ini?” tanyanya kemudian, lantas mendengus sinis.

Kyuhyun menghela nafasnya perlahan, tangannya dia angkat lagi untuk menyentuh pipi wanita itu, ingin menjawab tidak, tapi oleh sang pemilik, tangannya ditepis begitu saja hingga mengenai dashboard. Kyuhyun memejamkan mata, coba menahan amarahnya. “Tidak. Jika kau mau menurut padaku,” jawabnya tegas diiringi dengan sedikit geraman.

Apa-apaan dia? Berani sekali menolak dirinya.

Sena masih membisu ditempat, balas menatap Kyuhyun sama tajamnya. Astaga, kenapa pria ini suka sekali mengatur? Dan kenapa pula pembicaraan mereka harus seperti ini?

Dengan menghela nafas sedikit kasar, Sena berkata, “Kau bukan siapa-siapaku Cho Kyuhyun. Kau bukan orang yang memiliki kapasitas untuk mengaturku. Dan kau tidak berhak untuk itu. Sama sekali. Kita, bukan apa-apa. Jadi berhenti melakukan hal yang berlebihan.”

Tertegun. Itu kalimat yang cocok untuk disematkan pada reaksi Kyuhyun kali ini.

Ucapan itu.. Ucapan Sena yang menegaskan bahwa mereka bukanlah apa-apa, membuat Kyuhyun serta-merta terdiam. Setelah Sena keluar dan menutup pintu mobilnya dengan cara yang kasarnya tidak main-main, Kyuhyun bahkan tidak bisa melakukan apapun, meski hanya bergerak dari keterpakuannya.

Kalimat Sena tadi, sama seperti ucapan Ibunya beberapa hari lalu. Walau dengan frasa yang berbeda. Ssecara keseluruhan kalimat itu mengandung inti yang sama. Bahwa dia dan Sena memanglah bukan apa-apa, hubungan mereka tidak sejauh itu untuk bisa saling mengatur kehidupan masing-masing. Dan sekarang, parahnya, ucapan Sena tadi begitu menusuknya. Hatinya, Kyuhyun merasakan seperti ada yang mencubit bagian itu. Begitu nyeri.

Menyadarkannya dari kealpaannya. Menyadarkannya bahwa—dia salah.

Kyuhyun menggeram lalu memukul setir begitu keras. Dia merasa dipermainkan oleh keadaan, kenapa jadi seperti ini sih? Niatnya, dia hanya ingin wanita itu memperhatikan pola makannya. Kyuhyun hanya khawatir dengan kondisinya yang selalu saja merasakan nyeri dibagian perut. Dan dia hanya ingin mengungkapkan seberapa besar rasa cemasnya. Apa ini juga salah?

.
                            (Un)Breakable
.

Kilatan blitz dan dinginnya hotel yang disulap menjadi setting tempat pemotretan kali ini masih terus dalam pekerjaannya, menyerang tubuh semampai Sena yang kini hanya dibalut dengan gaun ketat pas badan selutut berwarna krem.

Mata wanita itu tetap pada posisinya—memandang lurus kearah kamera. Lebih tepatnya dia hanya menatap kosong apa yang dihadapannya. Segala instruksi yang Changmin sampaikan selaku fotografer, dia turuti dengan gerak lambat. Membuat pria setinggi seratus delapan puluh lima sentimeter itu lagi-lagi membuang nafasnya gerah.

“Oke, kita selesaikan sampai disini saja,” katanya, yang langsung disambut oleh para kru untuk segera bubar, merapikan segala macam peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam sesi pemotretan itu. Dia sendiri berjalan menuju Sena yang masih saja bergeming, “Apa yang kau pikirkan?” tanyanya kemudian.

Sena memandang Changmin dengan tatapan bingung, hingga Changmin harus mengulangi pertanyaannya lagi, “Kau—kenapa sangat tidak fokus dari tadi? Ada apa denganmu?”

Setelah mendengar kalimat itu, barulah Sena dapat memahami apa maksud pria jangkung tersebut. Matanya mengerjap untuk beberapa saat, lalu menjawab dengan dehaman kecil, “Tidak. Tidak apa-apa—”

“Kau tidak bisa menipuku, Sena. Katakan ada apa?

Sena mendesah, dia tidak mungkin memberitahu Changmin apa yang sedang dipikirkan olehnya kali ini. Kalau saja dia bisa dengan lantang mengatakan bahwa dirinya khawatir pada Kyuhyun, apa bisa? Karena sejujurnya, dia merasa bersalah pada pria itu atas perkataannya yang terakhir kali sebelum meninggalkannya.

Dia samasekali tidak berniat untuk membahas bagimana tidak jelasnya hubungan mereka. Dia hanya sedang dalam kondisi tidak baik, ditambah dengan rasa cemburunya pada si Gadis Kim, hingga harus mengangkat pembicaraan seperti itu. Dan sekarang, sudah hari kelima sejak perkataannya terlempar tempo hari.

Apa Kyuhyun marah? Pria itu sama sekali tidak menghubunginya sampai detik ini.

Tapi untuk apa pria itu marah? sisi egoisnya berbicara.

Karena memang pada dasarnya, mereka tidak terikat hubungan apa-apa bukan? Kalau begitu, kenapa juga dia merasa sangat bersalah?

Nah! ini yang selalu membuat Sena sebal sendiri. Rasa bersalahnya. Hubungannya dengan Kyuhyun dan ketidakpedulian pria itu saat ini, membuatnya diserang rasa frustasi.

Sena mendesah lagi, kali ini lebih kencang. Dan serta-merta membuat benak Changmin dipenuhi rasa curiga. “Kau ada masalah dengan Kyuhyun?” tembaknya.

“Huh?”

Jawaban wanita itu membuat Changmin tersenyum kecil, kepalanya dia angguk-anggukan tanda mengerti. “Aku paham.”

“Apa?”

“Pergilah. Tidak baik memendam perasaan cemas sendiri begitu saja. Karena kau tidak bisa membaginya denganku, maka selesaikanlah. Datangi dia dan bicarakan baik-baik masalah kalian,” setelah mengucapkan serentetan kalimat itu, Changmin pergi dengan menepuk bahunya pelan dan bergabung bersama beberapa krunya untuk meninggalkan hotel. Jangan lupakan senyuman kecil disudut bibirnya yang pria itu berikan sebelum berbalik pergi.

Sena mendengus, salah satu hal yang bisa membuat dia kesal pada pria tinggi itu adalah Changmin yang sangat mengerti dirinya. Sejak dulu, Changmin memang terlalu peka terhadap apapun yang terjadi padanya dan itulah yang membuatnya tidak bisa menyembunyikan rahasia apapun dari pria tersebut.

Dengan sebuah senyuman lirih, Sena berbisik, “Kau benar.” aku harus menyelesaikan masalah ini dengan Kyuhyun.

Yoorin yang sedari tadi hanya diam mengintip percakapan antara Sena dan Changmin dari balik pintu sebuah kamar, akhirnya berjalan mendekati Sena setelah pria itu pergi. “Hubunganmu dengan Changmin, memangnya sedekat itu ya?” tanyanya tiba-tiba dari balik punggung Sena.

Mendengar suara yang tiba-tiba saja mengejutkannya, Sena dibuat bergidik ngeri. Dia menoleh pada Yoorin, lalu memberikan pelototan pada wanita mungil tersebut. “Kau— astaga Yoorin, kau mengagetkanku tahu!”

Yoorin tertawa keras melihat raut wajah Sena yang setengah ketakutan seperti itu. Tangannya dia tepukan dibahu modelnya tersebut lalu berkata, “Eiyy.. kau pikir aku ini hantu apa!”

“Ya, kau memang seperti itu tadi.”

“Hahaha.. Masa? Mana ada hantu cantik sepertiku,” Masih dengan kekehan yang keluar dari mulutnya, Yoorin berjalan mengikuti Sena menuju ruang ganti, wanita itu memberikan setelan blus putih dan jeans biru pudar kepada Sena—setelan yang memang diapakai wanita itu saat dalam perjalanan menuju studio tadi.

Dari balik pintu, dia mulai pembicaraan lagi, “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Sena.”

“Pertanyaan apa?” sahut Sena dari dalam bilik.

“Hubunganmu dengan Changmin, apa kalian sedekat itu?” tanya Yoorin pelan. Wanita itu berhenti sebentar, dia merasa sangat penasaran omong-omong. Dia pun melanjutkan, “Well, kau memang pernah memberitahuku bahwa dia adalah teman kuliahmu dulu. Tapi—aku tidak yakin kalau kalian hanya berteman, aku benar ‘kan?”

Sena membuka pintu ruang ganti, dengan mata yang dia sipitkan, dia memandang Yoorin dengan senyuman jahil. “Kau ini ingin tahu sekali ya?”

“Ayolah, beritahu aku. Apa kalian pernah berkencan? Kau lihat tadi—” Yoorin menatap Sena dengan mata berbinarnya, “Tatapannya begitu lembut saat menatapmu. Ck, aku sangat iri~”

Sena berdecak, matanya dia pelototkan lagi pada wanita itu, “Jangan sembarangan, Yoo! Dia sudah memiliki kekasih,” katanya, lalu pergi meninggalkan Yoorin begitu saja.

“Huh? Sudah memiliki kekasih?” tanya Yoorin pada dirinya sendiri, kepalanya dia miringkan empat puluh lima derajat, otaknya saat ini sedang berjalan lambat—mungkin karena kurang tidur lantaran dirinya harus mengatur jadwal Sena yang menggunung. Lalu dalam sekejap dia tersentak, “Tunggu—eh, apa itu artinya aku tidak memiliki peluang?” dengan mata yang melebar maksimal dan jeritan yang memekakan telinga, dia berlari mengejar Sena, “Yak, Lee Sena. Kau bohong ‘kan?! Hei, tunggu aku—” Susah payah Yoorin yang memiliki tubuh mungil dan kaki kecil harus menyamai langkah kaki Sena yang tidak ada anggun-anggunya. Ya Tuhan, mana mungkin ada model yang berjalan dengan langkah lebar-lebar seperti itu.

“Tuan Shim Changmin itu, masih lajang ‘kan? Dia benar-benar tipeku, Sena, kau jangan menghancurkan harapanku!” ujarnya lagi penuh harap setelah dapat berjalan beriringan dengan modelnya tersebut.

Sena meliriknya dengan senyuman tipis, lalu menjawab, “Urusi saja ikan bantatmu itu.”

“Yah, kenapa harus membawa-bawa Donghae Oppa? Ini tidak ada urusannya sama sekali!” sahut Yoorin dengan wajah yang memberengut masam.

“Eiyy.. kau jahat sekali mengabaikan kekasihmu itu.”

“Kekasih apanya? Cih..”

Sena tergelak akan jawaban Yoorin, “Sudahlah, lupakan Shim Changmin. Lebih baik kau membantuku. Mau ‘kan?”

“Membantu apa?”

Dengan gedikan bahu, Sena mengedipkan matanya pada Yoorin, “Memasak?”

“Heol… kau? memasak? Yang benar saja!” Ucapnya tidak percaya yang langsung dihadiahi Sena dengan tatapan datarnya.
.

                          (Un)Breakable
.

Sena memandang ngeri sebuah gedung tinggi-menjulang yang berada dihadapannya. Gedung berdinding kaca tersebut seakan sedang mengintimidasinya saat ini. Tangannya mencengkeram erat tali kantung berisi makanan yang sedari tadi dia genggam. Semangat yang masih dia rasakan beberapa saat lalu, kini meredup karena keraguan dan kegugupan yang menyergap dirinya bersamaan.

Apa tidak apa-apa jika dia menemui Kyuhyun? Siapa tahu pria itu sedang sibuk. Atau masih marah padanya. Pikirnya pendek.

Hari ini, Sena memang memutuskan untuk mendatangi Kyuhyun di Silk Air. Setelah kemarin malam dia memaksa Yoorin untuk mengajarinya membuat Nakji Bokkeum yaitu tumis gurita pedas dan Soondubu —sup tahu kesukaan pria itu, akhirnya pagi ini, dengan semangat membara setelah bangun dari tidurnya, dia mencoba kembali memasaknya lagi dengan kemampuannya sendiri.

Rencananya, dia ingin meminta maaf pada pria itu dengan memberikan makanan yang dia buat. Masalah makanan itu lezat atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting, dia bisa bertemu dengan Kyuhyun kali ini dan pria itu mau memaafkannya. Syukur-syukur pria itu sudah tidak marah padanya lagi. Dia merindukan pria itu, omong-omong. Dan mudah-mudahan saja, Kyuhyun-nya sedang tidak sibuk, setidaknya dia bisa memandang wajah ‘dewa’ kepemilikan pria tersebut setelah hampir sepekan tidak saling tatap.

Menarik nafas dalam, Sena melangkahkan kakinya menuju lobi gedung itu. Tujuannya sekarang adalah lantai dua puluh, tempat dimana Kyuhyun berada. Didalam lift, Sena kembali mencengkeram tali kantung bawaannya lagi. Dia mendesah, kenapa pula dia bertingkah seperti remaja labil disaat usianya sudah mencapai dua puluh enam tahun? Menjijikan.

“Hentikan, Sena. Yang kau temui hanya Kyuhyun, kenapa harus tegang sih?” gerutunya pada diri sendiri.

Setelah pintu lift kapsul tersebut terbuka dan telah mengantarkannya pada lantai yang dia tuju, dia kembali melangkahkan kakinya keluar. Namun baru saja tiga langkah yang dia dapati, suara seseorang menegurnya.

“Oh, Nuna. Kau datang?” tanya orang itu.

Sena menoleh, menatap pria tinggi yang ada dihadapannya lalu tersenyum kecil. Choi Minho. Pria yang dia ketahui bekerja di Silk Air sebagai asisten sekaligus sekretaris dari seorang Cho Kyuhyun. “Harus berapa kali aku memberitahumu untuk tidak memanggilku dengan sebutan itu?” rajuknya.

Minho terkekeh, lalu berkata, “Lalu aku harus memanggilmu apa? Nona? Atau Nyonya Cho?”

Sena mendengus, lalu ikut tertawa kecil.

Semua orang tahu siapa dirinya. Semua orang yang berada di Silk Air tahu siapa Lee Sena. Wanita itu, tidak hanya sekali dua kali menginjakkan kakinya di perusahaan ini. Karena dulu, sebelum Kyuhyun dipromosikan untuk menjabat sebagai Vice President di Singapore Airlines dan masih memimpin Silk Air, dia sering diajak pria itu kesini.

Jadi, ketika Cho Kyuhyun kembali memimpin Silk Air, semua pegawai perusahaan ini sudah paham siapa dirinya. Bahkan mengerti seperti apa hubungan yang dijalaninya dengan Kyuhyun.

“Apaan sih kau ini. Oh ya—” Sena mengarahkan jempolnya pada pintu ruangan Kyuhyun, “apa dia ada didalam?”

“Bos?”

“Menurutmu?”

Minho menyengir, “Yah.. Dia ada. Hanya saja dia sedang ada tamu. Tapi kurasa jika kau masuk, tidak akan apa-apa.”

“Siapa?” Minho hanya mengedikkan bahu, membuat Sena tiba-tiba terserang rasa penasaran. Tidak biasanya pria itu tidak tahu siapa orang yang sedang bersama Cho Kyuhyun.

“Dia pemilik Hanhwa Engineering & Construction. Perempuan. Rekan kerja baru Silk Air.”

Sena menggumam sebentar mendengar pernyataan itu, dia mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.

“Apa yang kau bawa?” tanya Minho seraya menunjukkan dagunya pada kantung yang Sena genggam.

“Oh, ini—”

“Ah! Aku tahu! Aku tahu! Itu pasti untuk Bos ‘kan? Makan siang? Aigoo.. Noona, jadi kau sudah pandai memasak ya?” ejeknya menyela kalimat Sena.

Sena tentu saja mendelik, wanita itu hampir saja akan memukul Minho jika gerakannya tidak terinterupsi oleh suara lain, “Memangnya kenapa kalau Sena Unnie tidak bisa memasak? Kau suka sekali meledeknya ya?”

Kim Yura. Wanita berperawakan semampai seperti dirinya datang dengan mata yang juga mendelik kearah Minho. Asisten dan Sekretaris kedua seorang Cho Kyuhyun itu, mengalungkan sebelah tangannya pada bahu Sena.

Well, hal yang memang perlu diketahui disini adalah, bahwa pria super sibuk seperti Kyuhyun, memang harus memiliki pegangan yang banyak. Sehingga, tidak heran jika pria itu memiliki dua pembantu pribadi sekaligus.

Itu jugalah alasan, kenapa Kyuhyun bisa pergi dan pulang kantor semaunya sendiri. Karena, sebagian besar pekerjaannya di -handle oleh dua orang ini. Sedangkan pria itu—dia hanya perlu mempekerjakan otak jeniusnya untuk menyalurkan ide-ide miliknya.

“Akan kuadukan pada Bos karena kau telah menghina kekasihnya!” kata Yura lagi.

“Aku tidak menghina, Yura. Sena Nuna ‘kan memang tidak bisa memasak.”

Mendengar itu, Sena jadi meringis sendiri. Ingin sekali dia menyumpal mulut Choi Minho dengan sepatu hak-nya ini. Sekarang juga.

“Itu namanya menghina Choi Minho.”

“Itu namanya fakta, Kim Yura. Kau seperti tidak mengenal Sena Nuna saja. Dia kan memang tidak bisa memasak.”

Sabar.. sabar, Sena. Tahan.

“Tetap saja itu penghinaan bagi wanita. Kau—pria mana tahu sih..”

“Tanpa perlu menjadi wanita pun, semua pria bisa melihatnya. Pria itu pandai menilai mana wanita yang berkompeten dan mana yang tidak.”

“Jadi menurutmu, Unnie tidak berkompeten?!”

“Aku tidak bilang begitu. Kompeten kan bisa menyangkut banyak hal, untuk urusan dapur Sena Nuna mungkin hanya menadapat nilai tiga dari sepuluh tapi untuk urusan yang lainnya dia jauh berada diatasmu, Kim Yura. Kau ini suka sekali membesar-besarkan masalah.”

Yura membuka mulutnya selebar mungkin, tangannya dia gunakan untuk memukul-mukul bahu Minho, “Kau jahat sekali! Aku tidak seburuk itu tahu! Menyebalkan!”

“Aw.. sakit, Yura. Hei— hentikan. Hei—”

“Aiish.. Stop! Yura hentikan. Astaga..” Sena memutar kedua bola matanya, tangannya dia angkat kehadapan Yura dan Minho. Kedua bocah ini masih saja tidak bisa akur. Heran sekali, kenapa Cho Kyuhyun yang perfeksonis bisa mempekerjakan orang-orang seperti mereka. “Aku kesini untuk bertemu dengan Bos kalian, bukan untuk mendengarkan perdebatan tidak penting seperti ini. Apalagi aku yang menjadi objeknya, jadi, bisakah kalian berhenti?” katanya lagi dengan suara merendah.

Bibir Yura mengerucut tajam, lalu berkata lagi dengan suara rendah, “Salahkan saja dia. Dia menghinamu, Unnie. Dia juga menghinaku. Sebagai sesama perempuan aku hanya ingin membela kaum wanita—”

“Cih, memangnya kau ini wanita?! Mana ada wanita yang kasar sepertimu.” Sungut Minho tak mau disalahkan.

“Itu ‘kan kau yang memulai!”

Minho yang tidak terima disalahkan tentu saja membalas lagi perkataan wanita itu, yang akhirnya—lagi-lagi—membuat mereka berdebat. Sena yang tidak mau ambil pusing, lebih memilih untuk melangkahkan kakinya darisana dan pergi menemui Cho Kyuhyun.

Setelah sampai dipintu ganda ruang kerja Kyuhyun, Sena berhenti sebentar. Matanya melirik sekilas pada Minho dan Yura yang masih saja berdebat didepan lift, tidak peduli pada tatapan aneh dari karyawan lainnya.

Sena mendesah, lalu tersenyum kecil. Mereka memang seperti itu.

Tatapannya kembali pada pintu berwarna cokelat didepannya. Menarik nafas, Sena menggenggam kenop pintu itu lalu mendorongnya pelan kedalam. Kepalanya dia longokkan sedikit, lalu—tertegun.

Kenapa dia ada disini?

Melihat seseorang yang baru dikenalnya tempo hari itu sedang tertawa bersama Kyuhyun saat ini, membuat dadanya terasa sesak. Bagaimana bisa mereka bertemu lagi? Dia pikir, Kyuhyun sedang sama kacaunya seperti dirinya karena mereka tidak bertemu sepekan ini. Dengan dasi dan tatanan rambut yang tidak beraturan, wajah yang kusut, atau kantung mata yang menebal. Tapi setelah dia melihat ini, rasanya, seperti hanya dirinya yang terlalu berharap.

Bodoh, tentu saja kau terlalu berharap Sena. Kau pikir bagaimana Kyuhyun bisa terlihat baik-baik saja saat hubungan kalian terjarak antara Seoul-Singapore. Pria itu, sudah terbiasa tidak bertemu denganmu, sudah barang pasti, waktu seminggu tidak ada pengaruhnya bagi dia. Jadi, buanglah jauh-jauh pikiran tak bergunamu itu.
.

                          (Un)Breakable
.

“Jadi—kau yang akan menjadi pewaris Hanhwa selanjutnya?” tanya Kyuhyun, matanya pria itu layangkan pada pemandangan kota Seoul disiang hari lewat jendela ruang kerjanya. Sebelah tangannya dia masukan kedalam kantung celana, sedangkan sebelahnya lagi dia gunakan untuk memegang cangkir latte-nya.

“Ya. Tentu saja,” Jawaban mantap dia dapatkan setelahnya dari seorang wanita yang menjadi lawan bicaranya saat ini. Wanita itu sedang duduk dikursi ‘kepemimpinan’ seorang Cho Kyuhyun, seakan dirinyalah Sang Penguasa diruangan tersebut.

Kyuhyun tertawa tidak percaya, tubuhnya dia hadapkan pada wanita itu, “Kau penuh kejutan, Irene Kim.”

Irene—si lawan bicaranya juga ikut tertawa lalu berkata, “Well, itu memang bakatku.”

“Apa Changmin tahu?”

Wanita itu menggeleng, masih dengan senyum yang terpatri dibibirnya. “Baru kau dan Ayahmu. Eh.. eum, mungkin Ibumu juga. Yang pasti sih ibuku juga sudah tahu.”

Kyuhyun mendengus, dia memutar kedua bola matanya. Sudut bibirnya terangkat, sinis. Wanita itu—dia hanya menanyakan Shim Changmin tapi malah dibalas dengan semua informasi tidak bergunanya.

“Ayah?” tanyanya kemudian. Ah, tiba-tiba saja sebuah pikiran terbesit dalam benaknya.

Irene mengangguk, dia berdiri dari duduknya, lantas berjalan kearah Kyuhyun dan mengambil latte milik pria tersebut. Menyeruput kopi itu sebentar, karena mengembalikannya lagi pada sang pemilik tanpa rasa bersalah karena telah mencuri minumannya, kemudian menjawab, “Ya, Cho Yeunghwan. Ayahmu. Memangnya aku belum memberitahumu ya?”

“Terakhir kali kita bertemu, itu di D’Hindis dan seingatku kau tidak mengatakan apapun menyangkut kerja sama ini,” jawab Kyuhyun sengit. Membuat wanita itu mau tak mau tergelak atas kebodohannya.

Dengan menyandarkan tubuh pada tepi meja Kyuhyun, Irene pun membalas, “Ya, jadi, waktu kau pergi dari pesta ulang tahun Ibumu, Beliau mengajakku mengobrol tentang bisnis dan tetek-bengeknya itu dan darisana pulalah aku tahu bahwa perusahaan kita akan bekerjasama,” kedua telunjuknya Irene gerakan untuk saling bersentuhan. Menandakan bahwa dua perusahaan telah bergabung menjadi satu.

Oh, Kyuhyun baru ingat. Ketika dia pikir saat itu Ayahnya datang untuk membahas tentang ucapan Ibunya.

“Kau memang sudah direncanakan untuk menjadi pemimpin Hanhwa selanjutnya, ternyata.”

“Sama seperti dirimu, ‘kan?” jawab Irene dengan mata yang mengerling jahil.

Kyuhyun tergelak, benar juga. Kenapa nasib mereka bisa sama seperti ini?

“Dan?” tanyanya lagi.

Alis Irene mengerut lucu, “Dan apa?” tanyanya lagi.

“Setelah kau pulang dari Amerika, kau langsung menerima tawaran ini?” tangan Kyuhyun yang sedang menggengggam cangkir, dia ayunkan.

Irene mengangguk, “Ya, kenapa tidak? Proyek yang akan kita jalani ini, menjadi debut pertamaku di dunia bisnis. Jadi, kuharap sebagai rekan kerja, kau tidak merepotkan seperti kakek-kakek akan beranak Tuan Cho,” katanya dengan kekehan diakhir kalimatnya.

“Mana ada kakek-kakek beranak, Ryn!”

Kyuhyun ikut tertawa. Entah kenapa, tawa wanita dihadapannya ini seakan mengajak orang lain untuk ikut tertawa pula. Shim Changmin yang kaku benar-benar beruntung mendapatkan wanita sepertinya yang mudah sekali tersenyum dan tertawa. Benar-benar cocok.

Masih dengan tawa yang menghiasai suasana ruang kerja itu. Irene menggerakan kepalanya kearah kanan. Dan tawanya langsung berhenti menjadi senyum lebar ketika matanya menangkap sosok Sena yang berada diambang pintu. “Hai, Sena!” sapanya riang.

Kyuhyun terkesiap, pria itu ikut menoleh kearah pintu ruang kerjanya. Disana, dia mendapati Sena yang sedang berdiri canggung dengan membawa sebuah kantung. Isinya apa, dia tidak tahu. Tapi jika dilihat dari bentuknya, itu seperti bekal makanan.

Untuk seketika suasana berubah menjadi hening. Kyuhyun hanya terdiam, tidak tahu harus melakukan apa. Kalimat yang dilontarkan wanita itu tempo hari, masih terngiang jelas ditelinganya. Dia masih bisa merasakan sesak akibat perkataan itu, tapi ketika matanya melihat Sena yang kini tengah berdiri beberapa langkah darinya, membuat dadanya kembali berdesir. Dipenuhi kerinduan. Ada rasa yang menumpuk disana.

Berapa lama dia tidak bertemu tatap dengan wanitanya?

“Kenapa berdiri saja disana? Masuklah!” suara Irene memecah keterpakuan antara dirinya dan Sena. “Kau ingin bertemu Kyuhyun?” tanya Irene lagi.

Kali ini, wanita berponi itu dibuat bingung. Ada apa dengan dua orang ini? Kenapa keadaan menjadi canggung?

Oh God! Seumur hidupnya, Irene tidak pernah dalam kondisi seperti ini. Dia seperti tertangkap sedang berselingkuh saja. Dengan dehaman kecil, Irene kembali menegakkan tubuhnya, “Eum.. Cho Kyuhyun, aku pergi dulu kalau begitu. Sampai bertemu lagi!” katanya sambil menepuk pelan bahu Kyuhyun. Kyuhyun hanya memberikan senyum tipis dan anggukan kecil atas reaksinya.

Sesampainya dia didekat Sena, Irene menyapanya lagi, “Senang bertemu denganmu lagi, Sena. Kau—apa kabar?” namun tidak ada jawaban. Dia hanya dibalas oleh keterdiaman Sena. Tunggu, dibalas atau tidak jadinya? Irene menjadi semakin tidak enak, apa sapaannya terlalu berlebihan? Pikir wanita itu. Sena hanya menatapanya dalam, tidak melakukan apa-apa. Kenapa Sena seperti tidak mau akrab dengannya sih? Irene meringis, dia menggigit bibir bawahnya.

“Ah ya.. Sayang sekali, aku harus pergi. Lain kali, kita harus bertemu lagi lalu pergi makan siang bersama, oke? Oh jangan lupakan pria-pria itu untuk diajak.” ujarnya lagi dengan kekehan canggung, “Kyuhyun sudah menunggumu. Aku pergi. Bye-bye, Sena!” bisiknya terakhir kali yang diiringi dengan kerlingan mata dan senyuman lebar sebelum pergi dan menutup pintu ruang kerja Cho Kyuhyun.

Sena masih betah berdiri diam ditempatnya, matanya menatap lantai marmer yang ada dibawah. Dia menghela nafas berat, lalu berkata dengan suara lirih, “Apa aku—mengganggu waktumu?”

Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Kyuhyun, pria itu hanya menatapnya dalam kebisuan. Membuat Sena menjadi rikuh. “A–aku hanya ingin memberikan makan siang ini untukmu,” tangannya terangkat menujukkan sebuah kantung. Kemudian dia berjalan—masih dibawah tatapan Kyuhyun—kearah sofa yang memang ditujukan untuk para tamu. Dia meletakkan bekal makanan itu diatas meja persegi panjang. Lalu kembali menatap Kyuhyun, “Aku—kalau begitu… a-aku pergi dulu—” ucapnya, lantas berbalik menuju pintu ganda besar untuk keluar dari kecanggungan mereka.

Namun, baru saja dia akan memutar kenop pintu, ketika dirasakannya seseorang memeluk tubuhnya dengan begitu erat dan hangat dari arah belakang. Pelukan sarat kerinduan yang Sena dambakan akhir-akhir ini.

“Apa begitu caramu setelah membuatku tersiksa selama seminggu ini? Datang dan pergi begitu saja?” Bisik Kyuhyun rendah ditelinganya.

Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya. Dia sungguh merindukan wanita dalam dekapannya ini. Tidak peduli lagi dengan perkataan Sena tempo hari, dia hanya ingin memuaskan hasratnya dengan mengurung wanita ini lama.

“Kau harus bertanggung jawab, Sena.” Ucapnya lagi.

Sena tersenyum haru, jadi, apa yang dipikirkannya tidak sepenuhnya salah? Kyuhyun memang tidak tampak kacau, penampilan pria itu masih seperti biasanya. Tapi pria itu tersiksa karena dirinya? Hal itu, tentu saja membuat Sena terbang. “Kau merindukanku?” tanyanya kemudian.

“Harus ya, kujawab dengan lantang?” tanya Kyuhyun dengan nada retoris.

Sena terkekeh, dia memutar tubuhnya kebelakang. Kepalanya dia dongakkan keatas dan jari-jarinya dia larikan untuk mengusap rahang Kyuhyun lembut, “Kenapa tidak menghubungiku?”

“Kupikir kau masih marah dan membutuhkan waktu,” jawab Kyuhyun dengan gedikan dibahunya. Tangannya membawa tangan Sena untuk dikecupnya berkali-kali.

Sena menatapnya lirih, “Maaf—” wanita itu menundukkan kepalanya, “harusnya aku tidak berkata seperti itu. Dan harusnya aku tidak kekanakan saat itu. Aku juga semestinya paham dan memaklumi kecemasanmu. Tapi Kyuhyun—” Sena menatap dalam lagi kedua bola kelam pria dihadapannya, “harusnya kau tahu, aku tidak akan pernah bisa marah padamu lebih dari tiga jam. Aku menunggumu, tapi kau tidak datang-datang untuk menemuiku,” kepalanya kembali dia tundukkan dengan tangan yang kini memainkan dasi Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum kecil, tak berapa lama kemudian pria itu mengubah senyumannya menjadi tawa ringan. Tangannya dia gunakan untuk menjepit dagu Sena lalu membawa wajah itu kembali kehadapannya, “Kau pasti kacau sekali—” katanya dengan senyuman tertahan, membuat wajah Sena memberengut masam, “Tapi terima kasih sudah mau datang lebih dulu kepadaku. Jujur saja, aku tidak tahu kapan harus menemuimu. Dan sekarang—kau ada disini. Aku senang.” Kyuhyun merengkuh kembali tubuh Sena dalam dekapannya, menciumi pucuk kepala wanita itu berulang kali seraya mengatakan “Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu, Lee Sena.”

Sena hanya terkekeh menerima perlakuan Kyuhyun yang sangat kekanakan ini, dia kemudian melepas rengkuhan itu lalu membawa Kyuhyun untuk duduk diatas sofa, “Aku membawakanmu makan siang. Dan kau—kau harus mencoba masakanku, Cho Kyuhyun,” katanya.

Kyuhyun memandang makanan yang kini tersaji dihadapannya, “Ini—kau yang membuatnya sendiri?” tanyanya ragu.

“U-huh, tentu saja. Kau akan menjadi orang pertama yang mencoba masakanku. Ini,” Sena menyodorkan sendok didepan mulut Kyuhyun dengan mulut yang terbuka. Memerintahkan pria itu untuk melakukan hal yang sama.

“Kau yakin?”

“Yakin apa? Sudahlah.. cepat buka mulutmu.”

“Ini tidak berbahaya ‘kan?”

Sena menurunkan sendoknya, lalu memberengut. “Tentu saja tidak. Kau pikir aku memasukan racun kedalam makanan ini dan membuatmu mati setelahnya? Itu tidak mungkin Kyuhyun, kalau itu terjadi aku mungkin akan membunuh diriku sendiri setelah aku membunuhmu.”

“Cara bicaramu seperti kita menjadi tokoh Shakespeare saja.”

“Ayolaah.. aku sudah berjuang pagi-pagi sekali untuk membuat ini. Jadi kau harus menghabiskannya!”

“Masa? Apa aku harus? Ka—” kalimat Kyuhyun terputus saat makanan itu telah masuk sempurna kedalam mulutnya. Matanya melebar begitu merasakan pedas dari Nakji Bokkeum yang Sena buatkan. Kyuhyun memang menyukai pedas, tapi pedasnya makanan kali ini benar-benar membuat mulutnya seperti terbakar.

“Apa? Kau kenapa?” Sena menjadi panik sendiri begitu tangan Kyuhyun menggapai-gapai kearahnya seperti orang yang akan tenggelam dan sedang meminta pertolongan. “Ya—Tuhan, kau kenapa Cho Kyuhyun? Bicara yang je—” begitu mengerti akan situasi, Sena langsung berlari menuju lemari pendingin yang ada diruangan pria itu lalu mengambil sebotol air mineral. Dengan cekatan dia membantu Kyuhyun untuk meneguk minumannya. Tangannya yang lain, dia gunakan untuk mengambil tisu, mengusap rahang dan leher Kyuhyun yang basah akibat tumpahnya air mineral tersebut lantaran cara minum Kyuhyun yang serampangan.

Setelah selesai, Kyuhyun menatap Sena dengan mata yang tidak kalah tajam dari pisau dapurnya. “Astaga Sena, kalau seperti ini kau benar-benar akan membunuhku,” dia mendengus kasar, lalu meminum lagi air mineralnya.

“Memangnya sepedas itu ya?” Sena bergidik ngeri membayangkannya, karena jujur saja, dia memang tidak sempat mencicipinya tadi karena takut terlambat mengantarkan makan siang ini pada pria itu. Itu saja sudah percobaan ketiganya karena yang kedua sebelumnya sangatlah tidak pantas untuk dimakan.

“Kau pikir?”

Sena tertawa canggung, lalu menggeleng.

“Kalau tidak bisa memasak, jangan lakukan itu,” ucap Kyuhyun tegas, matanya dia larikan ke mangkuk berisi makanan mengerikan tadi, lalu tatapannya jatuh pada jari-jari Sena, “Kenapa ini?” tanyanya dengan alis yang terangkat.

“Oh—ini, kemarin waktu Yoorin mengajariku memasak, tanganku tidak sengaja teriris.”

Kyuhyun mendesah, lalu berkata, “Jangan sampai aku melihat luka yang seperti ini lagi. Kau tahu, aku tidak suka.” Sena tersenyum mendengar perhatian tak kasat mata oleh Kyuhyun, “Jangan tersenyum. Aku serius, Sena.”

Berkata seperti itu malah membuat Sena semakin melebarkan senyumnya. Dengan segera, dia memeluk tubuh gegap Kyuhyun, lalu berkata, “Aku juga merindukanmu.”

Kyuhyun memandang wanita itu tidak percaya, kemudian tangannya dia larikan untuk mengusap punggung Sena lembut. “Dasar manja,” ucapnya, yang dibalas Sena dengan kalimat, “Hanya padamu, Tuan Konglomerat.”

Sena mengangkat kepalanya, lalu mengecup bibir Kyuhyun, “Aku juga merindukan ini.” Lalu menyentuhkan jemarinya pada material lembut tersebut.

Ibu jarinya masih terus diusap-usapkan pada bibir tebal milik pria tersebut, disingkirkan oleh Kyuhyun. Diganti dengan bibirnya yang mulai mencium bibir Sena. Awalnya hanya ciuman biasa, namun tak lama kemudian ciuman itu berubah menjadi menuntut.

Bibirnya tidak lagi diam, melainkan sudah bermain—melumat habis bibir atas dan bawah Sena. Lidahnya yang panas juga tak mau kalah, dia mengeluarkannya untuk menjelajah rongga mulut wanita itu.

Bisa Sena sesap rasa pedas dari Nakji Bokkeum yang sempat dicicipi Kyuhyun.

Satu yang Kyuhyun sukai dari Sena adalah cara wanita itu setiap kali membalas ciumannya. Jika dia melumatnya kasar, Sena tidak akan kalah kasar untuk mengimbanginya. Jika dia melumatnya lembut, Sena akan selembut mungkin mencicipi bibirnya.

Kyuhyun menarik pinggang Sena hingga kini wanita itu sudah terduduk diatas pangkuannya. Tangannya tidak behenti merayap kesana-kemari untuk meraba setiap inci tubuh wanita itu. Kepalanya dia miringkan kekanan dan kekiri mencari posisi nyaman dalam ciumananya. Menghisap setiap bagian dari bibir wanita itu.

Menyadari oksigen sudah mulai menipis, Kyuhyun melepaskan ciumannya. Namun bibirnya masih menyentuh sudut bibir Sena, “Ini harus diselesaikan, Sena..” katanya lirih.

Sena masih menutup kedua matanya, menikmati keintiman mereka berdua lalu berkata, “Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

Kyuhyun tertawa sinis, dia melumat lagi bibir Sena sebentar kemudian menjawab, “Kau lupa apa gunanya seorang Choi Minho dan Kim Yura?” mendengar itu Sena ikut tertawa.

“As you wish, Cho.”

.
                             (Un)Breakable
.

Setelah menyelesaikan urusannya dengan Minho dan Yura, Kyuhyun membawa Sena kedalam ruang pribadinya didalam kantornya tersebut. Ruang ini memang didesain untuk tempat beristirahat jika dia harus melemburkan diri atas pekerjaannya atau jika dia sedang kelelahan.

Mereka sudah melepaskan pakaian yang melekat ditubuh mereka masing-masing. Saat ini bibir Kyuhyun tidak berhenti memberikan kenikmatan pada Sena dengan bibirnya yang kini menjangkau kemaluan wanita tersebut. Sena mengerang, wanita itu mengangkat dan menghempaskan kepalanya berulangkali karena tidak tahan atas perlakuan Kyuhyun.

“Eungh.. Kyu—sudah kubilang jangan disah-nah..” ucapnya kacau disertai dengan desahan. Menurutnya, ini sangat menjijikan sekali. Bagaimana bisa kemaluannya bercinta dengan bibir Kyuhyun?

Tidak memedulikan permintaan wanita itu, Kyuhyun masih tetap pada pekerjaannya. Dia sungguh merindukan lubang kenikmatan itu, maka sebelum dia menyentuhnya, dia ingin menyapanya terlebih dahulu.

Sena menggeliat tak tahan, kemaluannya sudah sangat basah dan sebentar lagi dia yakin cairan lembab itu akan keluar. Dia hanya tidak mau mulut panas Kyuhyun itu harus menelan cairannya. Pahanya dia gerak-gerakan, namun oleh Kyuhyun ditahan dengan kedua tangannya. “Tidak— hah.. jangan seperti itu Kyu—eungh. Aku akan keh-luarh..” ucapnya.

Kyuhyun mengangkat kepalanya sebentar, pria itu menarik sudut bibirnya kemudian berkata, “Kalau begitu keluarkan.”

“Tidak bisa. Ak—eenghh. Kyuh—please, ja—nghh. Arrghh..” terlambat. Dia sudah tidak tahan dan akhirnya cairan itu tetap masuk kedalam mulut Kyuhyun.

Pria itu menyukainya, tentu saja. Sena memiliki rasa yang bisa benar-benar membuatnya mabuk.

Masih belum puas, kedua tangannya Kyuhyun gunakan untuk membuka lipatan kemaluan Sena. Bibirnya kembali mendekati lubang tersebut dan menghisapnya lagi. Mulutnya sengaja dia arahkan untuk memebersihkan sisa-sisa cairan itu yang tertinggal. Menyedotnya. Membuat Sena lagi-lagi harus mengerang kegelian. “Kyuhyun!” jeritnya.

Dibawah sana, Kyuhyun hanya terkekeh. Sena bahkan bisa merasakan hembusan udara yang keluar dari kekehan Kyuhyun itu. Tak mau wanitanya itu marah dan berakhir dengan percintaan mereka yang harus dihentikan, Kyuhyun membawa tubunya untuk menggagahi wanita itu. Masing-masing tangannya dia letakkan disamping kepala Sena. Lalu dengan senyuman bocahnya, dia berkata, “Aku suka rasa dan aromamu, Sena. Kenapa kau suka sekali melarangku kesana sih?”

Sena menatap Kyuhyun dengan matanya yang memicing tajam, “Tidak dengan mulutmu, Cho Kyuhyun.”

Kembali tertawa, Kyuhyun menurunkan wajahnya. Bibirnya menggapai bibir Sena yang menurutnya berisik sejak tadi. Dia kembali melumat benda lembut itu, kali ini dengan cara perlahan dan begitu intens. Dia ingin menyalurkan kenikmatan itu pada Sena. Memberitahu dirinya bahwa apa yang dikatakannya itu memang benar.

Sebelah tangannya, Kyuhyun gunakan untuk meraup payudara wanita itu. Meremasnya pelan dan lembut namun penuh dengan kekuatan. Dalam ciumannya, Sena mendesah merasakan jari-jari besar Kyuhyun begitu menguasai buah dadanya.

Melepas lumatannya sebentar, Kyuhyun menatap Sena. “Kau siap?” tanyanya. Sena terkekeh, kedua tangannya menangkup wajah Kyuhyun kemudian mengangguk.

Setelah mendapatkan ijin, pria itu mengemut payudara Sena dengan begitu keras. Miliknya, dia arahkan pada kemaluan Sena yang sudah mengangkang, demi menyambutnya. “Sshh.. ahh..” rintih Sena. Tangannya semakin mencengkeram rambut Kyuhyun.

Kebiasaan pria itu saat mereka sedang bercinta adalah dengan mulutnya yang tidak mau berhenti mengemut putingnya. Pria itu seperti bayi besar yang kehausan jika menyangkut buah dadanya itu.

Sena merasakan perih diarea kemaluan dan perutnya ketika milik Kyuhyun sudah terbenam sepenuhnya disana. Dan tanpa mau menunggu waktu lagi, dengan tidak sabaran, pria itu memulai genjotanya dengan sedikit kasar. Membuat Sena mau tak mau harus menjerit menahan sakit. Yang malah membuat Kyuhyun semakin membara dalam perlakuannya.

Ada yang salah, menurut Sena. Ini tidak seperti biasanya saat mereka bercinta. Yang kini Sena rasakan benar-benar rasa sakit, ngilu dan perih secara bersamaan. Kalau dijabarkan mungkin rasa sakitnya sampai ketulang-tulangnya.

Dia tidak tahu itu karena apa. Tidak bercintanya dia dan Kyuhyun dalam waktu yang lama, tidak serta-merta membuatnya kesakitan seperti ini. Ini benar-benar aneh sekaligus menyiksanya.

“Kyuh— tunggu, eungh.. ini sah—kit sekalih..” katanya dengan desahan yang tertahan.

Kyuhyun hanya tertawa pelan mendengar rintihan wanita itu, miliknya masih menggenjot dibawah sana. Menggempur kemaluan Sena dengan caranya yang tidak ada lembut-lembutnya. Bibirnya, tidak berhenti menghisap puting Sena kuat-kuat.

“Tahan, Sayang—ngh..” ucapnya dengan desahan pula. Tangannya tidak berhenti meraba apapun yang bisa digapainya, bahkan payudara Sena yang menganggur pun bisa menjadi objeknya untuk diremas-remas.

“Ini.. Sakit seka—argh-lih…” ucapnya dengan nada tidak kuat. Sena menitikkan air matanya, dan hal itu tak lepas dari pandangan Kyuhyun, membuat pria itu mau tak mau harus menghentikan genjotannya.

“Sena? Kau kenapa?” tanyanya cemas, tidak biasanya Sena seperti ini. Waktu pertama kali dia merenggut keperawanan wanita itu, raut wajah Sena juga tidak separah ini. “Ada apa? Hei..” tanyanya lagi setelah tidak mendapatkan jawaban apapun dari wanita itu kecuali rintihannya.

Kyuhyun akhirnya mengalah, walau dia masih belum terpuaskan dan harus memutuskan hasratnya lebih dulu. Karena merasa percintaan ini harus benar-benar dihentikan, dia pun mengeluarkan miliknya dari lubang Sena. Dan raut wajahnya berubah menegang ketika melihat darah yang menempel pada miliknya, juga sudah mengotori seprai tempat tidur mereka ini.

“Se—Sena..” bibirnya tidak bisa mengelukan kalimat selanjutnya, dia begitu ngeri melihat darah yang berasal dari lubang wanita itu. Kyuhyun menatap Sena yang masih meringis kesakitan dan menitikkan air matanya dengan mata yang terpejam erat—seperti menahan sakit.

Kyuhyun meneguk ludah berat.

Apa dia terlalu kasar tadi? batinnya.

Tak mau membuang waktu—masih dengan keadaan telanjang, Kyuhyun berjalan kearah kamar mandi, dia mencari-cari kain kecil yang ada disana. Setelah mendapatkannya, Kyuhyun kembali pada ranjang tersebut. “Buka pahamu, Sena.” Perintahnya yang dibalas Sena dengan gelengan kepala.

“Tidak. Jangan—”

Mendesah, Kyuhyun pun membuka kedua paha Sena dengan tangannya sendiri. Sedikit kasar memang, tapi jika menuruti kemauan Sena, itu tidak akan berhasil. Sementara saat ini dia begitu cemas. “Kyuhyun…” ucap Sena frustasi ketika Kyuhyun tidak mau mendengarkannya dan malah memaksa Sena untuk tetap membuka pahanya.

“Aku hanya ingin mengelap noda darah ini, Sena. Berhenti menangis!” geram Kyuhyun setengah membentak. Dia sangat ketakutan omong-omong, tapi Sena tidak mau diajak kompromi. Ditambah dengan wanita itu yang terus saja menangis.

Dengan hati-hati, Kyuhyun membersihkan noda darah itu secara perlahan. Dia tak mau menyakiti wanita itu lagi. Dia melakukannya dengan begitu lembut. Begitu juga dengan miliknya yang terkena noda darah tersebut, dia usapkan kain itu pada kemaluannya seperti dia mengusapnya pada milik Sena.

Kyuhyun meringis, ingin menertawakan dirinya sendiri karena hal ini. Bisa-bisanya percintaan mereka harus gagal hanya karena masalah yang dia saja tidak ketahui penyebabnya apa. Parahnya, yang dia khawatirkan saat ini hanya Lee Sena, bukan kebutuhannya. Wanita itu brengsek sekali bukan? Bisa membuatnya dilanda kecemasan. Padahal dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Setelah selesai, dia memakai celananya lagi kemudian menarik selimut dan berbaring dengan posisi yang memiring disebelah Sena. “Ada apa denganmu, hm?” tanyanya lembut, namun tidak mengurangi kecemasannya.

Sena menggeleng, tangisannya memang tidak kencang tapi masih tidak berhenti juga sejak tadi, “I-ni.. sakit sekali, Kyuhyun-ah.” ungkapnya dengan suara parau.

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya, tangannya dia larikan untuk mengusap peluh wanita itu. “Kita kerumah sakit saja, bagaimana?” tawarnya.

Sena tetap menggeleng, membuat Kyuhyun mau tak mau mendesah. Sena bukan orang yang bisa dipaksa, atau wanita itu akan memberontak. Dan dia tidak mau hubungan mereka merenggang seperti kemarin, maka, yang dia lakukan selanjutnya hanyalah mengangguk. Memeluk tubuh ringkih wanitanya, kemudian bergumam, “Baiklah.. kita istirahat saja.” tangannya tidak berhenti mengusap-usap lembut punggung wanita itu.

Biarlah waktunya untuk kembali bekerja wanita ini eksploitasi. Yang terpenting baginya sekarang adalah, kenyamanan Sena saat bersama dengan dirinya.

Segala pikiran buruk, membaur jadi satu dalam benak Kyuhyun. Dia sangat penasaran dengan kondisi wanita itu. Tapi masalahnya dia tidak tahu, dan wanita dalam rengkuhannya ini pintar sekali membuat orang lain cemas.

Apa dia terlalu kasar tadi? Itu tidak mungkin, Sena tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sepanjang dia melakukan percintaan dengan Sena, wanita itu tidak pernah mengalami pendarahan seperti tadi. Pernah, tapi itu hanya satu kali, yaitu saat dia merenggut keperawanannya. Dan kejadian hari ini benar-benar membuatnya syok.

Atau wanita itu sebenarnya sedang dalam masa periodenya? Hanya saja wanita itu tidak sadar. Ah, tidak. Itu tidak mungkin. Kyuhyun tahu betul jadwal menstruasi wanita itu. Lalu apa?

Kyuhyun menatap Sena yang sekarang sudah tenang dengan mata memejam, walau sesekali bibirnya masih meringis kesakitan. Dia mendesah lega, setidaknya, dia tidak menadapati wanita itu menangis lagi. Karena hal itu bisa sangat menyakitinya. Kyuhyun tersenyum kecil pada wanita itu, lalu bibirnya dia arahkan untuk mengecup dahi Sena.

Setelah bibirnya menyentuh dahi tersebut, tiba-tiba saja nafas Kyuhyun tercekat. Tubuhnya menegang dan tatapan matanya berubah menjadi nanar. Kilasan waktu yang dia habiskan bersama wanita itu, berputar seperti roll film didepan matanya.

Sena yang tidak nafsu untuk makan.

Sena yang selalu mengeluhkan rasa sakit yang menyerang perutnya.

Sena yang selalu merasa mual padahal belum memasukan apapun pada tubuhnya.

Sena yang sering terlihat pucat.

Sena yang semakin mengurus.

Dan Sena yang memiliki kontrol emosi lebih rendah dibanding biasanya.

Kyuhyun menggeleng, itu tidak mungkin. Dia menatap wajah Sena lagi dengan tatapan tidak percayanya. Tidak, itu samasekali tidak benar.

Sena—tidak mungkin sedang hamil ‘kan?

—tbc

45 thoughts on “Breakable Part 3

  1. Pokoknya thor aku berharap dan akan trs berharap sena bersama kyuhyun. Scara aku sbg seorg wanita jg bs merasakan kalau seandainya hbngan tanpa ada kejelasan pasti gak enak.
    Semoga sena beneran hamil supaya kyuhyun menyadari kalau selama ini mereka itu sdh slng mencintai cmn gengsi aja makanya sena bisa sampai hamil agar spy mereka bersua tahu kalau mereka fak cmn melakukannya karena nafsu tapi juga ada rasa utk slng memiliki

    Disukai oleh 1 orang

  2. Sena hamil….
    Ekspresi terkejutnya kyu mlh jadi pertanyaan?dia terkejut senang sena hamil atau terkejut karna blm siap sena hamil?
    Hubungan mereka bikin penasaran….smoga aja dpt restu dr oemma kyu

    Disukai oleh 1 orang

  3. Kok kayanya emang irene ga suka ama kyu yaa cuman ga suka aja ada dia takut si kyu di jodohin sama dia..

    Pengennya sih si sena hamil tapi ga keguguran pengen tau kalo sena hamil mereka punya hubungan yang jelas ga..

    Udahlah irene ama si changmin aja .. Tapi pasti ibunya kyu nih yang rese.

    Nexxtt kakk semangatt 💪💪

    Disukai oleh 1 orang

  4. Kayanya kemarin² itu memank Sena hamil lagi dehh ???!!!

    Tapi sekarang dia lagi pendarahan atau mungkin k guguran ???
    Bisa jadi kan ???
    Apa lagi ngeluh sakit perutnya & tadi berdarah setelah anuan 😮

    Kyu sadarnya telat tuh kayanya :/

    Disukai oleh 1 orang

  5. Sena hamil deh itu,,,,,,
    Mereka itu saling mencintai menurutku,,,,tapi entah kenapa gak mau memperjelas hubungan mereka,,,,
    Kyuhyun gak takut kan klo sena hamil???

    Disukai oleh 1 orang

  6. Gregetan bgt sm kyu dan sena
    Kenapa kalian mau hbgn yg bgtu ya :”)
    Jadian tggl jadian aduh
    Changmin sm sena aja deh
    Biar irene sm kyu
    Biarin abisnya pd labil si mereka😂
    Ditunggu klnjtnnya eonni^^

    Disukai oleh 1 orang

  7. ho..ho..ho.jangan jangan sena keguguran itu tpi moga j gx.tpi klw senA bneran hmil iga bisa brabe ma emaknya kyuhyun. gx bisa bayangin dech klw kyuhyun ma irene di jodoh kan gimna nasib ssena changmin. next part

    Disukai oleh 1 orang

  8. Mudah2an sena gamuk beneran.
    dengan bgitu ada alasan untuk kepastian hubungan mereka…
    dan mudah2an sena g knapa2 yg berakibat fatal ama dia…

    Disukai oleh 1 orang

  9. Jdi nya gimana jika sena benar” hamil sedangkn kyuhyun dan sena tdk ada hubungan sama sekali dan apakah kyuhyuh mau brtanggung jawab dtunggu next partnya

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s