Long Love StoryPart 3 


Author : Intan Choi 
Title : Long Love Story Part 3 

Category : Nc, Yadong, Romance, Chapter. 

Cast : Choi Siwon
            Kim Jira 
            Lee Donghae 

Authot Note : Haaaiii… Datang lagi dengan part3.. Makasih buat yg udah baca sebelumnya, Aku cuma mau kasih tau masalah medis jangan di anggap srius ya..  Aku udah baca dan nyari” artikel nya lewat mbah google.. Dan sigini lah yang aku dapat. Itu udah sebisa mungkin aku rangkum, biar gak bertele-tele, takut salah aku.. Tapi menurut mbah google bener ko.. Tapi gak tau juga menurut kalian, soalnya aku bener” gak tau masalah medis.. Jadi kalau salah boleh kritik ko, tapi pakai cara yg halus ya.. Karena hati ini sangat rapuh.. Eeaaaaa…. Buat typo dan kalimat yg gak enak harap maklum.. Ini masih dalam masa malas edit!!  ADMIN FNC MAKASIH UDAH POST FF Q TERUS… Happy Reading untuk yang menanti cerita ini!!! 
  

  Malam ini Seoul sedang di guyur hujan deras, petirpun dengan riangnya bersuara di luar sana. Di gedung parkiran Apartement yang mewah ini. Ada seorang wanita yang sedang berlutut memohon maaf kepada sang ayah. 
Wanita itu adalah Kim Jira. Jira terkejut melihat ayahnya berada di tempat yang sama dengan nya dan mengetahui semua kondisinya. 
Pada saat itu juga Jira memeluk kaki Tuan Kim. Karena sebagai anak, dia sudah mencoreng nama baik keluarganya. Jira sudah sukses mempermalukan orang tuanya karna dia hamil di luar nikah. 
Walaupun di jaman sekarang banyak wanita seperti itu, tetapi Jira tetap merasa bersalah dan berdosa. Jira tak menyangka dia bisa bertemu dengan ayahnya disini, Jira menyesal telah datang ke tempat ini. 
Tuan Kim yang melihat Jira berlutut sambil memeluk kakinya. Dia hanya bisa meneteskan air matanya sambil mengusap lembut kepala Jira. 
Hati dia perih seperti tersayat benda tajam. Orang tua mana yang tega melihat anak kesayangan nya di hina dan di caci maki oleh orang lain? Tuan Kim juga tidak menyangka Jira mempunyai masalah yang berat selama ini. 
Tuan Kim tidak menyangka, maksud kedatangan nya ke sini. Karena mengantarkan seorang wanita yang mengalami kecelakaan di jalan tadi. 
Tetapi takdir berkata lain, selain mengantarkan wanita yang kecelakaan itu. Tuan Kim juga di pertemukan dengan Jira yang sedang di hina dan di caci maki disini. 
Tuan Kim sungguh terkejut, melihat anak perempuan nya berlutut dan memohon kepada Pria Tua yang sangat dia kenali itu. 
Sedari tadi Tuan Kim bersembunyi di balik tiang tembok besar parkiran ini, Tuan Kim mendengar semua percakapan Jira dan Tuan Choi. 
Bagaikan di sambar petir, tubuh Tuan Kim kaku saat mendengar pengakuan yang keluar dari bibir Jira. Tuan Kim terkejut mengetahui sebuah fakta, bahwa Jira sedang mengandung. 
“Bangunlah, Nak. Kita bicarakan semuanya di rumah,” ucap Tuan Kim sambil membangunkan tubuh Jira yang sedari tadi memeluk kakinya. 
“Maafkan aku, Appa.” hanya tiga kata itu yang sedari tadi di gumamkan oleh Jira. 
Tuan Kim mengusap air mata yang mengalir di pipi Jira, lalu dia mencium kening Jira. Dia berharap Jira bisa kuat mengahadapi masalah yang sedang di hadapinya. 
Tuan Kim memang kecewa atas perlakuan Jira. Tetapi Tuan Kim bisa apa? nasi sudah menjadi bubur, sesuatu hal yang sudah terlanjur terjadi, tidak dapat diubah lagi!
Lebih baik sekarang Tuan Kim membantu Jira merawat calon cucunya, dari pada dia harus marah-marah atas perlakuan Jira yang membuatnya malu. 
  Lagi pula, semua ini bukan sepenuhnya kesalahan Jira. Tuan Kim juga merasa bersalah karena tidak bisa menjaga putrinya. 
Tuan kim merengkuh tubuh mungil Jira, lalu merka berdua berjalan. Melangkahkan kakinya menuju mobil sedan tua yang terparkir rapih di gedung ini.
Baru beberapa langkah, suara tajam dari seorang Pria yang sebaya dengan nya, mengetuk gendang telinganya. 
“Beritahu anakmu, jangan pernah menampakkan wajahnya di hadapan putraku!” ucap Tuan Choi. 
Tuan Kim membalikkan badan nya menghadap Tuan Choi, Jira meremas kemeja kotak-kotak sang ayah. Lalu Jira menutup matanya, Jira tidak sanggup melihat ayahnya di permalukan seperti ini karna ulahnya. 
“Dengarkan aku baik-baik! Sampai matipun, aku tidak akan mengizinkan anakku untuk bertemu dengan lelaki berengsek seperti darah dagingmu!” Jawab Tuan Kim dingin. 
Lalu ayah dan anak itu melangkahkan kakinya, meninggalkan Tuan Choi yang menggeram marah karna ucapan Tuan Kim tadi. 
Mereka berdua sudah sampai di depan mobil sedan berwarna hitam, Tuan Kim membukakan pintu mobilnya untuk Jira. Jira masuk ke dalam mobil sang ayah, lalu Tuan Kim berjalan dan memasuki mobilnya.
Tuan Kim menyalakan mesin mobil tuanya dan menginjakkan pedal gas. Mobil sedan berwarna hitam itu, melaju menyusuri jalan malam kota Seoul yang masih di guyur hujan. 
Tidak ada yang memulai percakapan di dalam mobil itu, Tuan Kim sibuk menyetir. Sedangkan Jira sibuk menundukkan kepalanya sambil terisak pelan. 

******

Sesampainya di rumah. Mereka berdua keluar dari mobil sedan hitam yang mereka gunakan tadi, Tuan Kim menggenggam erat tangan Jira.
  Jira semakin terisak, dia berharap sang ayah marah kepadanya. Bukan memperlakukan nya seperti ini, Jira semakin merasa bersalah. 
Tuan Kim mendudukan Jira di sofa berwarna coklat yang ada di ruang tamu rumahnya, dia harus membicarakan semuanya sekarang juga. 
“Jangan menangis, bayi itu anugerah dari tuhan. Walaupun dia hadir dari kesalahanmu, tetapi dia tidak bersalah. Kau harus menjaganya dan merawatnya,” ucap Tuan Kim sambil menggenggam erat tangan Jira. 
“Maafkan aku, Appa. Aku salah,” ucap Jira terisak. Tuan Kim memeluk tubuh Jira, Jira menangis sejadi-jadinya di pelukan sang ayah. 
“Sudahlah, kau tak perlu menangis. Ada Appa dan Eomma yang akan membantumu melewati masa-masa sulit ini, kau tidak sendirian. Jangan menangis lagi,” ucap Tuan Kim menenangkan Jira. 
Nyonya Kim yang sedari tadi di dalam  kamar, dia keluar dari kamarnya. Berjalan menuju ruang tamu, karna dia bingung sedari tadi Nyonya Kim mendengar suara perempuan yang sedang menangis. 
Ketika sampai di ruang tamu rumahnya. Nyonya Kim mengkerutkan kening nya melihat anak dan suaminya sedang berpelukan, dia juga bingung, kenapa Jira menangis seperti itu?
“Yeobo, ada apa?” tanya Nyonya Kim. 
  Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari wanita tua itu, ayah dan anak itu sibuk bertatapan. Karena mereka berdua bingung, bagaimana cara menjelaskan kondisi Jira sekarang ini. 
  Nyonya Kim mengkerutkan kening nya, karena suami dan anaknya tidak ada yang bersuara untuk menjawab pertanyaan nya tadi. 
   “Jira-ya, kenapa kau menangis?” tanya Nyonya Kim dengan raut wajah yang bingung.
“Duduklah dulu, nanti aku jelaskan,” ucap Tuan Kim sambil menarik tangan istrinya dan menyuruhnya duduk. 
Detik itu juga Jira berlutut dan memeluk perut sang ibu, Jira menangis sambil mengucapkan kata maaf kepada perempuan yang telah melahirkan nya. 
“Jira-ya, jangan seperti ini. Ada apa? Kenapa kau menangis?” ucap Nyonya Kim panik. 
“Maafkan aku, Eomma. Aku telah mengecewakanmu,” tutur Jira. 
“Ceritakan yang jelas, jangan membuat Eomma bingung, Jira!” perintah Nyonya Kim. 
Jira hanya bisa menangis mendengarkan perkataan Nyonya Kim. Bibir dia kaku, Jira tidak sanggup mengaku kepada ibunya tentang kondisi dia yang sekarang. 
Tuan Kim yang melihat Jira menangis seperti itu, dia mengusap pelan wajahnya. Lalu perlahan menggenggam tangan istrinya. Tuan Kim akan memberitahukan semuanya sekarang juga, kepada sang istri. 
“Kita akan mempunyai cucu, Sayang,” ucap Tuan Kim. 
Nyonya Kim yang mendengar perkataan yang keluar dari bibir suaminya, tubuh dia menegang. 
Dia terkejut, bagaimana mungkin anak nya bisa hamil? sedangkan Jira saja tidak pernah membawa pria manapun ke hadapan nya. 
“Jangan bergurau kalian!” Ucap Nyonya Kim bergetar. 
Lalu Nyonya Kim mencengkram bahu Jira dengan keras dan mengoyak-oyak tubuh Jira, hingga membuat Jira meringis merasakan sakit.
“Apa benar yang di katakan, Appamu?” tanya Nyonya Kim parau. 
Jira hanya menganggukkan kepalanya saja, kemudian Jira memeluk perut sang ibu dan menangis sejadi-jadinya. 
Nyonya Kim yang melihat anggukan dari kepala sang anak, dia memejamkan matanya. Menyandarkan tubuhnya ke sofa berwarna coklat itu, tubuh dia lemas. Kepala dia pusing, lalu bulir-bulir cairan bening itu mengalir di pipinya yang sudah penuh dengan kerutan. 
Tuan Kim yang melihat istrinya shock seperti itu, dia mengelus lembut tangan Nyonya Kim. Berharap istrinya bisa kembali tenang. 
Nyonya Kim pun perlahan-lahan bisa mengontrol emosinya. Lalu dia menangis sambil memeluk suaminya. 
“Bagaimana ini bisa terjadi?” racau nyonya Kim “Ya tuhan … dia belum menikah, Yeobo,” rintih Nyonya Kim. 
Jira yang mendengar perkataan sang ibu. Dia semakin terisak, Jira memeluk perut Nyonya Kim erat. Sementara Nyonya Kim menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. 
“Kita yang akan merawatnya, Sayang. Bayi itu anugerah, itu hadiah dari tuhan untuk keluarga kita,” ucap Tuan Kim menenangkan istrinya. 
  Nyonya Kim yang mendengarkan perkataan suaminya tadi, dia melepaskan tubuhnya dari pelukan sang suami. Lalu dia menatap tajam Tuan Kim. 
“Anugerah?” tanya Nyonya Kim parau. Tuan Kim menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan sang istri. 
“Kau gila? Bayi itu anugerah jika dia mendapatkan nya ketika sudah menikah!”bentak Nyonya Kim 
  “Tetapi anak kita? dia belum menikah, Yeobo. Sadarlah atas ucapanmu! yang ada itu kesialan!” teriak Nyonya Kim  kepada suaminya. 
Jira semakin terisak mendengarkan perkataan Nyonya Kim tadi, dia sungguh tak menyangka ibunya akan berbicara seperti itu. 
  Bayinya tidak salah, tetapi Jira lah yang salah. Bayi dia tidak membawa sial, kenapa ibu kandungnya sendiri tega berkata seperti itu?
“Eomma, maafkan aku. Aku yang salah Eomma,” Ucap Jira bergetar.
“Ya, kau memang salah! Kau salah besar!” Jawab Nyonya Kim histeris. 
“Bayi itu, di mana Appanya? Siapa Pria yang menaruh benihnya di rahimmu?” tanya Nyonya Kim sambil berteriak. 
Jira yang sedari tadi menangis, kini bibir dia kaku. Dia tidak tau harus berkata apa, karena pria yang menghamilinya sudah mempunyai keluarga sendiri sekarang. 
“Kenapa kau diam saja? Jira! Katakan siapa pria itu!” perintah Nyonya Kim sambil mengguncang tubuh Jira. 
Tuan Kim yang mendengarkan pertanyaan sang istri, tangan dia mengepalkan menahan amarah.
“Cukup! Jangan kau tanyakan keberadaan pria brengsek itu!” perintah Tuan Kim. 
Nyonya Kim mengkerutkan keningnya, dia bingung dengan suaminya. Di saat anak perempuan lain, yang belum menikah sedang hamil.
  Pasti semua orang tua akan menanyakan siapa ayah dari anak itu, tetapi suaminya? dia malah tidak peduli dengan ayah dari  bayi yang di kandung Jira. 
“Kita harus tau siapa pria yang telah menaruh benihnya kepada Jira. Kenapa kau tidak mau membahasnya? Kita hatus meminta dia untuk bertanggung jawab, Yeobo!” ucap Nyonya Kim.
“Tidak perlu meminta dia untuk bertanggung jawab!” bentak Tuan Kim, Nyonya Kim terkejut mendengarkan ucapan suaminya yang penuh dengan nada emosi. 
“Tetapi Yeobo-” 
“Aku bilang jangan membahas pria itu!” Sela Tuan Kim. 
“Selama aku masih hidup! Aku yang akan mengurus anak dan cucuku nanti,” seru Tuan Kim. 
“Appa,” ucap Jira bergetar. 
“Kau! Jangan pernah memberitahukan tentang keberadaan cucuku kepada dia!” perintah Tuan Kim kepada Jira. 
“Kau gila? Apa kata orang nanti? anakmu hamil tetapi tidak ada suaminya!” ucap Nyonya Kim tak kalah emosi.  
“Aku tidak perduli apa kata orang lain! Seterah mereka mau berbicara apa! Karena tugasku hanya membahagiakan anak dan cucuku nanti, aku tidak butuh pendapat orang lain!” Jawab Tuan Kim.
  Nyonya kim yang mendengarkan perkataan suaminya itu, dia mengkerutkan keningnya. Dia semakin penasaran tentang jati diri lelaki yang telah menghamili anaknya. 
“Gugurkan saja bayi itu, aku tidak sanggup menanggung malu. Aku tidak kuat mendengarkan perkataan orang lain di luar sana,” lirih Nyonya Kim 
Jira yang mendengarkan perkataan Nyonya Kim, dia menggelengkan kepalanya dan memberi tatapan sendu kepada sang ibu. 
  Kemudian dia berlutut mencium kaki ibunya. Dia menangis sejadi-jadinya, sambil memeluk telapak kaki sang ibu. Berharap Nyonya Kim tidak membenci bayinya dan menarik kembali kata-katanya tadi. 
Tuan Kim mengepalkan tangan nya menahan amarah, dia sangat kecewa kepada istrinya. Bagaimana bisa istrinya tega menyuruh Jira menggugurkan darah daging nya? Tuan Kim sungguh emosi mendengarkan perkataan sang istri. 
“Kau tidak berhak berbicara seperti itu! di mana nalurimu sebagai perempuan? Kau tau betul, bayi itu suci! Seburuk apapun orang tuanya, dia tetap suci dan tidak bersalah!” murka Tuan Kim 
“Aku tidak menyangka kau akan berkata seperti itu!” lirih pria tua itu. 
  Sementara Nyonya Kim hanya diam saja, tidak menjawab perkataan suaminya. Dia sibuk menatap kosong kepada tv yang berada di hadapannya.
  Sementara tuan Kim semakin emosi, melihat istrinya hanya diam saja. Seperti orang gila.  
“Sadarlah … janin itu cucumu!” teriak Tuan Kim sambil melempar vas bunga yang ada di meja berwarna coklat itu, dia sungguh emosi mengahadapi istrinya.
  Nyonya Kim yang sedari tadi, hanya melamun. Dia terkejut melihat suaminya emosi seperti itu.  
“Appa, tenanglah. Eomma tidak sengaja berbicara seperti itu, ini semua salahku Appa,” ucap Jira. 
Tuan Kim yang mendengarkan ucapan Jira tadi, dia duduk di sofa dan mengusap kasar wajahnya. Sedangkan Nyonya Kim menangis, mendengarkan suara Jira yang bernada seperti orang kesakitan. 
  Di relung hatinya yang paling dalam Nyonya Kim sebenarnya menyesal telah berbicara seperti itu. Karena itulah dia hanya melamun seperti orang gila tadi. 
   Nyonya Kim berbicara seperti itu hanya ingin tau dimana keberadaan pria yang telah membuat anaknya berbadan dua. 
“Eomma, bayiku tidak salah. Dia bukan pembawa sial, dan aku mohon jangan menyuruhku untuk menjadi seorang pembunuh,” mohon Jira.
Nyonya Kim yang mendengarkan kata pembunuh dari bibir Jira, dia semakin terisak parah. Nyonya Kim memeluk tubuh anaknya, dia tidak menyangka secara tidak langsung dia menyuruh Jira menjadi seorang pembunuh. 
Nyonya Kim semakin menyesali ucapan nya tadi, dia memeluk erat Jira dan menangis sejadi-jadinya di pundak Jira. 
“Aku akan menceritakan semuanya, Eomma. Aku akan menjelaskan keberadaan pria yang menaruh benihnya ini,” ucap Jira bergetar, Nyonya Kim menganggukkan kepalanya menjawab perkataan Jira tadi. 
Jira menceritakan semuanya kepada Nyonya Kim, awal pertemuan nya dengan Siwon. Masa-masa pacaran nya dengan Siwon, sampai ketika dia tinggal bersama dengan Siwon dan tidak mendapatkan restu dari orang tua Siwon. 
Jira bercerita semuanya kepada Nyonya Kim, tentang hubungan asmaranya yang delapan tahun itu. Nyonya Kim semakin terisak mendengarkan kisah percintaan Jira, sementara Tuan Kim semakin membenci pria yang bernama Choi Siwon.
Tuan Kim tidak menyangka ada seorang pria yang sangat pengecut seperti Siwon. Dan dia semakin merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Jira dari pria seperti itu. 
“Maafkan Eomma, Jira,” Ucap Nyonya Kim setelah mendengarkan semua kisah percintaan anaknya, Jira mengangguk menjawab perkataan Nyonya Kim. 
Nyonya Kim mengelus perut Jira yang masih rata itu, di dalam hatinya dia mengucapkan kata maaf untuk calon cucunya. Karena dia sempat menolak keberadaan janin yang di kandung Jira. 
“Kita pindah dari kota ini,” usul Nyonya Kim. 
  “Lupakan semua kenangan buruk dan kenangan indah yang tercipta di kota seoul,” Sambung Nyonya Kim, lalu dia menoleh ke arah suaminya. Meminta persetujuan kepada kepala keluarganya. 
“Kita buka lembaran baru di kota lain, Yeobo,” bujuk Nyonya Kim, Tuan Kim mengkerutkan keningnya. Seperti orang berfikir. 
“Kita buktikan kepada orang sombong itu, kalau kita bisa membuat cucu kita menjadi orang yang sukses kelak,” Tutur Nyonya Kim.
   “Kita akan merawat janin ini bersama. Eomma dan Appa akan membantumu, Jira,” ucap Nyonya Kim sambil menggenggam tangan Jira. 
Jira menganggukkan kepalanya dan memeluk ibunya dengan erat. Jira bahagia, di saat seperti ini. Orang tuanya rela membantunya. 
Tuan Kim memeluk Jira dan istrinya. Dia sangat berterimakasih kepada tuhan, karena bisa meluluhkan hati istrinya yang keras itu. Dan Tuan Kim pun menyetujui semua usul istrinya tadi yang memintanya untuk pindah dari kota ini.  

  ******

  Tujuh bulan kemudian, Busan. 
  

Di tepi pantai yang indah dan ber’alaskan pasir putih yang lembut.  Jira duduk sambil merajut baju bayi untuk anaknya kelak. Lalu angin segar menyapa kulitnya yang lembut. 
  Jira tersenyum bahagia menyatukan helaian-helaian benang itu hingga membentuk sebuah baju bayi yang lucu, sebenarnya dia tidak perlu merajut seperti ini untuk memberikan baju kepada calon anaknya. 
Karena kado untuk bayinya yang berupa pakaian dan perlengkapan lainnya sudah tersedia banyak di kamarnya. Lagi pula, setiap kali ke pasar. Nyonya Kim dan tuan Kim selalu menyempatkan diri pergi ke toko perlengkapan bayi. 
  Kedua orang tua itu sangat antusias menanti kelahiran cucu pertamanya. Dan juga sahabat Jira semasa sekolah dulu (Nara dan Soojung) selalu mengirimkan dia paket berupa perlengkapan bayi untuknya. 
   Ya, setelah menghilang selama tiga bulan. Jira baru berani menghubungi kedua sahabatnya itu, Jira menceritakan semuanya kepada kedua sahabatnya mengenai kondisinya yang berbadan dua. Karena itulah banyak tumpukan kado di kamarnya.
  Karena kedua sahabatnya setiap sebulan sekali pasti selalu datang menjenguknya atau jika kedua sahabatnya sibuk. 
Mereka pasti akan mengirimkan paket untuk calon bayinya. Jira sangat beruntung mempunyai sahabat sebaik Nara dan Soojung. 
   Mengenai Donghae … Pria yang berhati malaikat itu juga sudah tau tentang kondisinya tepat pada kehamilan Jira yang menginjak lima bulan, Donghae mencari-cari Jira ke seluruh penjuru Korea ini. 
  Karena meminta informasi Jira dari kedua sahabatnya tidak menghasilkan apapun. Sebab Jira melarang kedua sahabatnya itu memberitahu keberadaan nya, tetapi berkat jasa seseorang yang Donghae sewa. 
  Dia berhasil menemukan Jira, detik itu juga dia pergi ke Busan. Menemui wanita yang dia cintai setengah mati, ketika pertama kali bertemu Jira, selama Lima bulan terpisah. 
  Donghae sangat terkejut melihat perubahan pada bagian tubuh Jira yang membuncit. Donghae meringis melihat wanita yang dia cintai, mengandung janin tanpa di dampingi vigur suami. 
   Setelah pertemuan itu, Jira tidak pernah memberikan harapan lagi kepada Donghae. Karena dia sadar, dia tidak layak untuk hidup bersama Donghae. 
  Lagi pula Jira sudah membuat keputusan, jika dia tidak akan menikah dengan pria manapun. Jira sudah mebulatkan tekad jika dia akan mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk anaknya, kedua orang tuanya dan adiknya.
  Maka dari itu dia tidak pernah memberikan harapan kepada Donghae lagi. Dan Donghae mengerti akan semua itu, Donghae pun membuat kesepakatan jika hanya ada hubungan kakak dan adik saja antara dia dan Jira. 
  Dan Donghae juga meminta kepada Jira, Jika anaknya lahir. Donghae ingin mengambil andil dalam mengurusnya, Donghae ingin menjadi ayah angkat dari janin yang di kandung Jira.
  Karena Donghae sangat mencintai Jira, dia tidak tega memikirkan bagaimana Jira menjelaskan kepada anaknya tentang keberadaan ayah dari bayi itu kelak. 
  Jira sebenarnya tidak mau menyetujui permintaan Donghae itu, tetapi Donghae mengancam Jira. Jika Jira tidak memberinya ijin untuk menjadi ayah dari bayi yang dia kandung, Donghae akan terus mencintai Jira dan tidak akan menikah dengan wanita manapun. 
  Jira yang mendengarkan ancaman. Donghae. Dia terpaksa menyetujui permintaan Donghae itu, karena Jira tidak ingin memberikan harapan kepada pria itu, Jira tidak ingin menyakiti Donghae lebih dalam lagi. 
  Sebab, kemanapun dia pergi dan sekeras apapun dia berusaha melupakan pria itu. Hati dia tetap di penuhi dengan cinta delapan tahun nya. Karena itulah Jira menyuruh Donghae untuk melupakan nya dan mencari wanita lain. 
   Dan demi melihat Donghae bahagia bersama wanita lain kelak, Jira menyetujui jika Donghae menjadi Ayah angkat dari janin yang dia kandung. 
   Jira menepiskan bayang- bayang masa beberapa bulan lalu, ketika dia memutuskan untuk pindah ke kota busan ini. 
  Jira terus merajut baju bayi untuk anaknya kelak, setiap sore jadwal dia memang seperti ini. Merajut baju bayi di tepi pantai. 
  Entah kenapa ada rasa kepuasan tersendiri bagi Jira ketika menyatukan benang-benang itu hingga membentuk sebuah baju, topi atau syal untuk calon buah hatinya nanti.  
  Lelaki berwajah tampan dengan memakai setelen jas coklat, t-shrit berwarna putih dan celana jeans yang menutupi bagian kakinya mendekat ke arah Jira.
  Lalu pria yang bernama Lee Donghae itu menyampirkan jasnya di bahu Jira. Karena Donghae takut Jira akan sakit jika terkena angin pantai yang sangat kencang dan dingin ini. 
   Jira menolehkan ke arah belakang, dia tersenyum manis kepada lelaki yang memakaikan jas di tubuhnya. Donghae mengelus kepala Jira dengan lembut, kemudian lelaki itu duduk di samping Jira. 
  “Kau tidak kedingininan? Duduk di sini tetapi tidak memakai jaket,” tanya Donghae khawatir. 
   “Aku baik-baik saja, Oppa.” 
   “Selalu seperti itu,” kesal Donghae. 
  Jira hanya tersenyum manis saja mendengarkan ucapan donghae tadi, sudah terbiasa bagi Jira menghadapi Donghae yang sangat over protektif kepada Jira dan janinnya. 
   “Oppa kapan sampai? Kenapa tidak menelfon dulu jika mau kesini,” ucap Jira. 
   “Baru saja sampai, Eomeonim bilang kau sedang di pantai. Aku langsung saja menyusulmu kesini.” 
   “Aaaiisshh … Bukannya istirahat saja di rumah, pasti Oppa lelah.” 
   “Lelahku akan hilang jika melihatmu dan calon anakku,” ucap Donghae sambil mengelus perut Jira dan mencium perut Jira. 
  Jira meringis mendapatkan perlakuan manis seperti ini, Jira semakin bersalah kepada Donghae. Karena dia sudah menjadi benalu dalam hidup Donghae. 
   “Oppa, jangan seperti ini.” 
   “Kenapa?” tanya Donghae. 
   “Kau bisa mencari wanita lain, Oppa.” 
   “Kau tidak ingat? Kita mempunyai perjanjian, bahwa anak yang ada di rahimmu juga anakku. Sangat wajar jika seorang Appa menjenguk calon buah hatinya,” ucap Donghae. 
Jira menetesekan air matanya. Dia tidak sanggup berada di posisi seperti ini, karena Jira yakin, perjanjian itu hanya alasan saja agar Donghae bisa terus berada di dekatnya. 
  “Jangan menangis, aku akan menepati janjiku. Aku akan melupakanmu, tapi tolong. Biarkan aku menjadi Appa dari bayimu kelak,” mohon Donghae. 
   “Kau tidak seharusnya seperti ini, Oppa. Kau tidak perlu mengorbankan hidupmu untuk aku dan anakku.” 
   “Jangan memulainya Kim Jira! kau sudah menyepakatinya pada awal kita bertemu.” 
   “Tapi Oppa, ini salah. Kau bukan Appa dari bayi yang aku kandung, kau tidak perlu seperti ini,” lirih Jira. 
   “Jika kau terus membahas ini, aku bersumpah! Aku tidak akan menikah dengan wanita manapun! Aku bersumpah akan terus menunggumu sampai kau lelah dan menerimaku!” ancam Donghae. 
  Jira yang mendengarkan ancaman Donghae tadi, dia semakin terisak. Air matanya semakin mengalir deras di pipinya, andai saja dia tidak hamil. Jira pasti akan mencoba mencintai pria di hadapan nya. 
  Tetapi takdir berkata lain, dia berbadan dua sekarang. Jira merasa tidak pantas untuk mendampingi Donghae, karena Donghae berhak mendapatkan wanita lain yang jauh lebih baik dari dirinya. 
  Lagi pula Jira juga tidak yakin bisa melupakan pria yang bernama Choi Siwon, karena di dalam tubuhnya ada janin yang sedang meringkuk hasil percintaannya dengan Siwon. 
  Bagaimana mungkin Jira bisa melupakan lelaki itu? Jika akan ada seorang anak kecil yang selalu mengingatkan nya pada lelaki yang sangat dia cintai setengah mati! 
  Jadi keputusan yang terbaik sekarang ini memang menyetuji perjanjian nya dengan Donghae. Karena Jira tidak ingin sedikit pun memberi harapan kepada pria itu, karena Jira tidak ingin menyakitinya lebih dalam lagi. 
    “Baiklah, aku tidak akan membahasnya. Dan aku berharap kau menepati janjimu untuk melupakanku, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikah dengan pria manapun.” 
  Donghae menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Jira tadi, Donghae mengusap air mata yang mengalir di pipi Jira.
   Kemudian mereka beranjak pergi dari pantai itu, karena matahari sedikit demi sedikit sudah menenggelamkan dirinya. 

   ****** 

  Malam ini Busan di guyur hujan, air bening yang sedari sore di bendung oleh awan hitam itu, pada akhirnya tumpah membasahi kota Busan. Petir pun dengan riangnya tertawa di luar sana. 
  Hingga membuat wanita yang sedang hamil delapan bulan itu, beranjak pergi dari ranjang king sizenya. Untuk menutup hordeng jendela kamarnya, karena kilatan cahaya petir itu membuatnya resah. 
   Setelah menutup hordeng jendelanya, Jira mendudukan tubuhnya di sofa kayu yang berada di dekat jendela. Entah kenapa dia merasa ada cairan yang mengalir deras di pangkal pahanya. 
  Lalu cairan itu semakin banyak membasahi pahanya. Jira yang melihat cairan yang biasa orang-orang menyebutnya (ketuban) dia membelalakkan matanya. 
Jantung dia berdegup dengan kencang, Jira takut sesuatu terjadi kepada janin yang berada di dalam perutnya. Lalu dengan perlahan dia berjalan keluar dari kamarnya, meminta pertolongan siapapun yang berada di rumah ini. 
   “Appa … Appa…” rintih Jira yang shock karena melihat cairan ketubannya terus mengalir di pahanya. 
   Karena suara hujan yang sangat besar, dan kamar Jira terletak di lantai dua.  Tuan Kim yang sedari tadi di panggil oleh Jira, dia tidak mendengar rintihan Jira yang bernada kecil itu.
   Jira semakin panik karena tidak ada yang mendengarkan suaranya, kaki dia lemas. Jira tidak kuat jika harus berjalan menuruni anak-anak tangga itu.  
  Jika wanita lain yang sedang hamil.  Pasti, mereka semua mempunyai peran suami yang siaga untuk menanti istrinya melahirkan. Tetapi Jira? Dia tidak punya suami … Yang dia punya hanya dukungan dari semua keluarganya saat ini. 
   Jira tidak punya pelindung ekstra pada saat dia hamil, di malam-malam semasa dia mengandung. Tidak ada suami yang membelai perutnya ketika janinnya sedang bergerak kesana kemari, tidak ada suami yang mengkhawtirkan nya ketika dia merasa kebas di area pinggulnya.
  Dalam masa kehamilan hingga ingin melahirkan pun suami itu hanya ada di dalam khayalnya, karena pria yang menaruh benihnya di rahim Jira, sudah memiliki keluarga sendiri.
  Dan pada akhirnya, Jira hanya bisa duduk di undakan tangga rumahnya. Sambil memegang tiang besi tangga rumahnya. Dan bibirnya terus memanggil ibu dan ayahnya agar bisa menolong Jira. 
    ****

  Donghae yang kebetulan sedang menginap di rumah Jira, dia berjalan ke dapur untuk membuatkan coklat panas untuk Jira. Selesai membuatkan coklat panas itu, Donghae berjalan menuju lantai dua kamar Jira. 
   Ketika sampai di depan tangga. Donghae terkejut melihat Jira yang terduduk sambil memanggil anggota keluarganya. Lalu coklat panas itu, terlepas begitu saja dari tangan Donghae. 
  Hingga membuat cangkir berwarna putih itu terjatuh kelantai dan pecah. Donghae berlari menaiki anak tangga itu, lalu ketika sudah sampai tepat di depan Jira. Dia menangkup wajah Jira yang pucat pasi. 
   “Oppa … Bawa aku kerumah sakit, cairan ini keluar begitu saja, Oppa,” Ucap Jira panik. 
   Donghae yang belum berpengalaman sama sekali menghadapi wanita yang ingin melahirkan. Dia mengusap kasar wajahnya, lalu dia menghela nafasnya kasar dan setelah itu baru dia mempunyai fikiran untuk menggendong Jira. 
   Entah kenapa otak Donghae yang cukup pintar itu, kini berubah menjadi bodoh karena melihat Jira yang ingin melahirkan. Lalu dia menidurkan Jira sebentar di sofa yang berada di ruang tamu. 
  Karena Donghae lupa mengambil konci mobilnya, nyonya Kim yang melihat Donghae kebingungan seperti itu. Dia mengikuti Donghae. 
   “Hae-ya … Ada apa? Kenapa panik sekali?” tanya nyonya Kim sambil mengikuti Donghae menuju kamarnya. 
  “Eomeonim … Jira … Dia… ingin melahirkan,” ucap Donghae panik. 
  Setelah mendengarkan perkataan Donghae, nyonya Kim berlari begitu saja untuk melihat keadaan Jira. 
   Sesampainya di ruang tamu, Nyonya Kim memeriksa Kondisi Jira, ternyata cairan ketuban itu sudah pecah terlebih dulu. Mungkin ini karena Jira yang terlalu bekerja keras membantunya di kedai. 
  Hingga air ketuban itu pecah di usia kandungan Jira yang baru delapan bulan. Nyonya Kim berlari ke kamar Jira mengambil tas bayi untuk dia bawa kerumah sakit.
   Beruntung nya dia, karena seminggu lalu. Nyonya Kim dan Jira sudah mempersiapkan perlengkapan bersalin Jira di tas bayi, jadi sekarang dia tidak perlu repot-repot untuk mebereskan semuanya.
  Di malam yang sedang hujan deras dan petir yang tertawa riang. Jira di antarkan kerumah sakit oleh seluruh keluarganya, tanpa di dampingi pria yang sudah menaruh benihnya di rahim Jira. 

  ******

   Sesampainya di rumah sakit. Jira di rebahkan di ranjang pasien itu, lalu para suster yang berjaga mendorong ranjang pasien itu menuju ruang UGD. Donghae, nyonya Kim dan tuan Kim mengikuti langkah kaki para suster yang sedang mendorong ranjang yang di tiduri Jira. 
   Sesampainya di ruang UGD. Jira di periksa oleh dokter jaga, entah kenapa di dalam kepala Jira memutar semua kenangan saat dia bersama dengan Siwon. Mungkin karena efek dia akan melahirkan benih cintanya dengan Siwon, hingga dia merindukan sosok lelaki itu. 
   Jira ingin sekali Siwon berada disini, mengelus kepalanya. Mengucapkan beberapa kata semangat untuknya, tetapi itu semua mustahil untuknya. Tak terasa lelehan cairan bening itu keluar dari sudut matanya. 
  Pada akhirnya, setelah delapan bulan berusaha tegar. Kini pertahanan Jira runtuh. Dia menangisi pria itu untuk yang kesekian kalinya, dia merindukan pria itu untuk kesekian kalinya. Dan dia juga mengharapkan kehadiran pria itu untuk kesekian kalinya. 
    Donghae yang melihat Jira menangis, dia mendekat ke arah Jira. Lalu dia menggenggam tangan Jira, mengusap lembut kepala Jira. Donghae sangat berharap Jira bisa kuat melalui ini semua. 
    “Kau harus kuat, jangan menangis … Aku yakin kau dan bayimu akan selamat,” ucap Donghae pelan. 
  Andai Donghae tau, jika dia menangis bukan karena takut akan melahirkan. Tetapi Jira menangis karena dia menginginkan jalan hidupnya seperti wanita lain pada umumnya, dia mengingikan Siwon menemaninya di saat-saat sulit seperti ini. 
  Dia menginginkan bayinya di gendong oleh ayahnya sendiri, ketika terlahir di dunia ini. Jira menggigit bibirnya, berharap isak tangisnya tidak terdengar oleh kedua orang tuanya. 
  “Tuan, sepertinya istri anda tidak bisa melahirkan secara normal. Karena air ketuban sudah pecah dan usia kandungan baru mencapai 34 minggu, jalan satu-satunya adalah operasi caesar. Karena bayi anda prematur.” jelas sang dokter yang sudah selesai memeriksa Jira. 
    “Lakukan apa saja dokter, yang terpenting keduanya selamat,” jawab Donghae. 
   Dokter pun menganggukan kepalanya, lalu Donghae mengurus administrasi untuk persalinan Jira. Karena dalam dua jam lagi Jira akan masuk ruang operasi. 
    ***** 
  Setalah seminggu melahirkan dengan cara operasi caecar. Kini Jira sudah sehat dan bisa berjalan. Jira juga sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Tetapi lagi-lagi kebahagian dia harus tertunda.
  Karena pada saat itu, Jira melahirkan di usia 34minggu, bayi yang berjenis kelamin perempuan itu. Hanya memiliki berat badan 1,9kg dengan panjang 44cm. Dan bayi mungil Jira harus di rawat, di ruang Intensive Care Unit (NICU), atau biasa disebut tabung inkubator selama 14hari. 
  Jira yang saat ini berada di ruang NICU bersama Donghae. Dia meneteskan air matanya, dia bahagia melihat bayinya terlahir dengan normal. Tidak kurang satupun, tetapi dia juga sedih karena bayi mungil itu harus di rawat beberapa hari lagi di rumah sakit ini. 
   Karena bayi yang dia beri nama Kim Hana itu terlahir prematur. Jira tidak tega melihat selang infus harus berada di tubuh bayi mungilnya, andai saja Jira bisa memindahkan jarum-jarum suntik itu kepada tubuhnya dia pasti akan lakukan itu. Agar bayinya tidak merasakan sakit seperti ini. 
    “Oppa … Lihatlah, bayi kita sangat cantik. Tetapi aku belum bisa membawanya pulang, aku belum bisa merawatnya di rumah,” batin Jira, berharap suara batinnya itu bisa di dengar oleh Siwon. 
   “Bayi kita pasti kuatkan, Oppa? Dia pasti sembuhkan?” lirihnya dalam hati, berharap sang pujaan hatinya mendengar lirihan nya. 
  Andai saja Siwon disini, apakah dia bahagia jika mengetahui dirinya sudah menjadi seorang ayah? Andaikan Siwon bersamanya sekarang, apakah dia akan menangis melihat bayinya di penuhi dengan selang-selang bening itu? 
  Dan lagi-lagi Jira hanya bisa menangis, meratapi nasibnya yang selama mengandung dan sampai melahirkan tidak di dampingi oleh pria yang sangat dia cintai, oleh pria dari ayah bayi mungil yang cantik itu. 
  #Flashback End. 

   ****** 

Hyundai Departement store, 2017. 

  Jira menghapus air matanya yang mengalir deras karena dia mengingat kenangan masa lalunya saat mengandung dan melahirkan Hana. 
   Enam jam, Jira hanya diam membeku di pusat informasi mall ini. Hingga membuat semua karyawan mall yang berada di pusat informasi bingung melihat tingkah aneh Jira. 
  Sehingga Siwon menyuruh semua pengawalnya untuk mengurus tatapan aneh yang di lontarkan kepada Jira. Lalu pengawal itu pun, menyuruh semua karyawan di bagian pusat informasi untuk pergi mengosongkan ruangan.Sehingga di ruangan ini, hanya ada Siwon, Hana dan Jira. 
Sementara Donghae … Dia lebih memilih pergi, ketika melihat Jira seperti mayat hidup saat bertemu dengan Siwon. Donghae sengaja meninggalkan nya agar Jira bisa menyelesaikan masalahnya dengan Siwon. 
  Karena bagaimanapun, di dalam hubungan mereka yang sudah selesai itu. Masih ada Hana yang menjadi pengikat di antara mereka. 
Masih ada Hana yang belum mengetahui siapa ayahnya. Jadi Donghae memutuskan untuk pergi saja dari tempat ini. 
  Dan seketika Jira tersadar dari lamunan panjangnya, lelaki yang sangat dulu dia rindukan masih berada tepat di depannya. Sambil memangku Hana yang tertidur di pelukan Siwon. 
  Dulu Jira sangat mendambakan melihat Hana berada di dalam pelukan Siwon. Tetapi entah kenapa, sekarang.  Jira malah merasa takut melihat Hana berada di pelukan Siwon. 
    Jira merebut kasar Hana yang terlelap di pelukan Siwon, lalu dia menggendong Hana dan berdiri sekuat mungkin untuk pergi dari tempat ini. 
    

   #TBC^^
  

61 thoughts on “ Long Love StoryPart 3 

  1. NICU : Neonatal Intensive Care Unit.

    Kasian pisan da jira nya ya ampuuun gak tega bacanya.

    Kalo nyebut Jira-ya aku malah bayanginnya Guru Jiraiya nya Naruto wkwkwkwkwk 😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s