Love Terrains Part 1


 

Author : SHINRIlia

Title : Love Terrains

Category : NC 17, Yadong, Sad, Romance, Series

Cast :

Choi Siwon (Super Junior)

Jung Shinri (OC’s)

Support Cast :

Kim Myungsoo aka L (Infinite)

Author’s Note : Real from my mind! So, Don’t copy without my permission! Big thanks for admin who is a posting this fanfic☺

Enjoy this~

 

 

* * * * *

 

“Someday you colour me anew

Somewhere underneath the sky…”

 

* * * * *

 

Part 1 : The Beginning My Love

 

*

 

Brak!

 

Tabrakan itu serta-merta terjadi tanpa di sengaja. Tatkala sadar bahwa kini pakaian yang di pakainya sudah kotor—terkena tumpahan kopi milik pria itu, Shinri mendongak keatas dengan sambil menahan perasaan dongkol.

 

“Bisakah kau lebih berhati-hati, aghassi?”

 

“Apa?” Jelas pertanyaan dari pria itu membuat Shinri membelalakkan mata. Setahunya disini ialah yang menjadi korban—yang berakibat mengotori pakaiannya dengan kopi milik pria itu, namun kenapa malah pria itu yang complain sebagai pihak yang salah?

 

Pria itu diam memperhatikan raut kesal pemilik nama lengkap Jung Shinri—sebagaimana yang terpampang di name tag seragam waitress miliknya. Lantas ia mengerutkan dahi ketika gadis itu menatap tak suka padanya. Lebih menjurus ke tatapan kesal yang tertahan.

 

“Kau memelototiku?” Tanyanya tak percaya. Suara baritonnya juga sedikit meninggi sehingga membuat Shinri semakin jengkel dengan pria tampan yang sayangnya terlihat angkuh itu.

 

“Kalau iya, memangnya kenapa? Kau siapa sehingga aku harus tunduk padamu?” Jawab Shinri cepat. “Kau lihat bajuku yang terkena tumpahan kopimu? Seharusnya aku yang marah namun kenapa kau malah menyalahkanku?”

 

Shinri menghela nafas panjang. Ia membuang mukanya karena kesal saat bertatapan dengan pria angkuh itu. “Tidakkah kau yang harus lebih berhati-hati, tuan? Daripada memperhatikan gadget saat berjalan, bukankah lebih baik untuk fokus berjalan di tempat terbuka seperti ini? Bagaimana jika kau celaka karena di tabrak sepeda motor pegawai delivery yang sering lewat sini?”

 

Shinri menatap pria itu yang sedikit tercengang mendengar ucapannya. Gadis itu tak ambil peduli. Ia paham seperti apa tipikal pria berjas hitam Armani yang menggantungkan kacamata Ray Ban miliknya pada kemeja putihnya itu. Jam tangan Rolex dan sepatu Pantofel hitam mengkilap yang sanggup menyilaukan pandangan mata.

 

Shinri mendesah sambil mengibaskan noda kopi pada bajunya. Sudahlah. Ia juga bukan tipikal orang yang mengemis permintaan maaf dari orang kaya seperti seseorang yang berdiri kaku di depannya ini.

 

Gadis itu melirik pria itu sekilas sebelum beranjak pergi melalui pintu masuk belakang restoran yang khusus di peruntukkan bagi pegawai sepertinya. Shinri menutup pintunya segera ia telah sampai di dapur tanpa tahu jika pria itu tengah menyuginggakan senyuman tipisnya.

 

*

 

Melirik arloji Rolex mahalnya yang bertahtakan kepingan mini diamond sebagai pengganti angka, Siwon lantas mendesah ketika ia belum melihat jemputannya. Pria itu mengeluarkan tab untuk mengecek kotak masuk email-nya sembari sebelah tangannya ia gunakan untuk menyesap Iced Americano kesukaannya.

 

Siwon berinisiatif untuk masuk kembali ke dalam restoran namun tiba-tiba saja tubuhnya membentur tubuh seorang wanita dan alhasil kopinya menumpahi pakaian wanita tersebut. Siwon terkesiap, bermaksud untuk meminta maaf namun ia melupakan tujuannya sejenak karena ia terlanjur teralihkan fokusnya menatap wajah cantik itu.

 

Matanya berkedip cantik dengan iris hitam bulat yang membuat otak Siwon langsung merekamnya. Rambut panjangnya tersembunyi pada topi yang saat itu di kenakannya.

 

“Bisakah kau lebih berhati-hati, aghassi?”

 

“Apa?”

 

Nah, kan! Saking terbuainya Siwon akan gadis ini, bibirnya malah mengatakan sesuatu yang membuatnya mendapat pelototan dari gadis bernama lengkap Jung Shinri yang Siwon intip dari tanda namanya.

 

Siwon terintimidasi melihat Shinri yang menatapnya dengan pandangan kesalnya. Ia mengerutkan dahi karena gadis itu menunjukkan kekesalannya dengan serta-merta di hadapannya. “Kau memelototiku?”

 

“Kalau iya, memangnya kenapa? Kau siapa sehingga aku harus tunduk padamu?” Jawab Shinri cepat. “Kau lihat bajuku yang terkena tumpahan kopimu? Seharusnya aku yang marah namun kenapa kau malah menyalahkanku?”

 

Siwon menatap baju miliknya yang berubah warna di tempat dimana kopinya tumpah. Lantas Siwon tak lepas menatapnya dengan sarat tatapan yang penuh arti ketika gadis itu memalingkan wajah darinya dan mendesahkan nafas.

 

“Tidakkah kau yang harus lebih berhati-hati, tuan? Daripada memperhatikan gadget saat berjalan, bukankah lebih baik untuk fokus berjalan di tempat terbuka seperti ini? Bagaimana jika kau celaka karena di tabrak sepeda motor pegawai delivery yang sering lewat sini?”

 

Pria itu lantas terdiam seribu bahasa saat mendengar untaian panjang yang gadis itu ucapkan. Ada desiran sejuk yang saat itu bergemuruh dalam hatinya. Dilihatnya Shinri yang mengibaskan bajunya yang menghitam karena noda kopinya seraya mendesahkan nafas.

 

Pria itu hendak membuka mulutnya, namun Shinri lebih dulu mendahuluinya dan memasuki restoran melalui pintu masuk yang terdapat di belakang restoran. Beberapa detik berlalu, Siwon dibuat berdecak melihat sikap gadis itu. Lalu, di detik berikutnya, pria itu tersenyum miring sembari mengusap dagunya dengan tatapan yang tak lepas dari siluet gadis itu bahkan setelah tubuhnya menghilang di balik gedung.

 

“Sajangnim, maafkan saya.”

 

Suara sekretaris Han membuat lamunan Siwon terhenti sesaat. Siwon lalu menatap tajam pria yang hanya selisih tiga tahun lebih tua darinya.

 

“Kau tahu jika kau terlambat, sekretaris Han?” Ucapnya sarkastik. Sisi angkuhnya kembali setelah beberapa detik yang lalu ia dibuat terperangah akan seorang waitress yang bahkan berani memelototinya.

 

“Ne. Saya benar-benar menyesal. Maafkan saya.” Sekretaris Han menundukkan tubuhnya tanda penyesalan diri untuk membuat atasannya itu menunggu jemputannya.

 

Siwon menatap lurus ke dalam restoran ketika pria itu melihat samar wajah Shinri di sana. Tatapannya lurus. Menukik tepat mengikuti kemana gadis itu melangkah untuk melayani pelanggan.

 

Dengan suara rendah, Siwon berkata. “Cari tahu apapun tentang gadis itu. Namanya Jung Shinri.”

 

* *

 

Terdengar Shinri yang mengeluh ketika seragamnya yang juga tidak tampak bersih sedikitpun ketika gadis itu mencucinya di wastafel. Salah seorang pria tampan berambut blonde datang menghampiri Shinri yang masih sibuk membasuh seragamnya.

 

“Ada apa dengan pakaianmu, Ri-ah?”

 

“Seorang pria kaya menabrakku dan membuat kopinya tumpah mengenai seragamku. Aku kesal sekali pada pria menyebalkan itu. Bahkan dia tidak minta maaf padaku.”

 

Pria itu tersenyum kecil mendengar cerita Shinri. Di dekatinya gadis itu lalu dielusnya rambut Shinri dengan gemas yang lalu membuat rambut halus Shinri menjadi sedikit berantakan. “Yya! Kau mau menambah kekesalanku, heih?!” Shinri menatap sangar pria itu.

 

“Hahaha. Kau pasti kesal sekali, nona Jung. Aku kasihan pada pria itu karena pasti kau memelototinya hingga membuatnya ketakutan.”

 

“Apa? Kau bahkan lebih memperdulikan pria itu daripada aku, Myungsoo-ya?” Tanya Shinri dengan nada tak terima pada pria bernama Myungsoo yang hanya menyengir lebar padanya.

 

“Sudahlah. Aku bisa meminta seragam baru pada Pak Kim nanti siang. Buang saja seragam itu nanti.”

 

“Jinjjayo? Kau bisa melakukannya?” Shinri tiba-tiba terlihat berbinar akan bantuan yang Myungsoo tawarkan. Gadis itu bahkan langsung mematikan keran dan memasang puppy eyes pada Myungsoo.

 

“Yya! Hentikan itu! Kau membuatku mual melihat wajah sok imutmu itu!” Myungsoo dengan tega menoyor dahi Shinri menjauh darinya.

 

* * * * *

 

Sekretaris Han datang dengan sebuah map berisi apa yang di minta atasannya itu tempo hari. Di ketuknya pintu itu, lalu segera setelah mendapat respon dari Siwon, pria itu masuk ke dalam.

 

“Sajangnim, ini apa yang anda minta tentang gadis yang tempo hari anda temui.”

 

Siwon meneguk air putihnya lalu beralih pada map yang di bawakan sekretaris sekaligus tangan kanannya itu. Mengangguk pelan pada pria itu, Siwon lalu meminta agar sekretaris Han untuk meninggalkan ruangannya.

 

Siwon mulai membaca apa yang di dapat oleh sekretarisnya tentang gadis bernama Jung Shinri itu. Tak ada hal yang istimewa atau sesuatu yang bisa membuat Siwon berdecak yang hanya sekedar untuk membuatnya menyuginggkan senyum.

 

Garis besarnya, gadis itu biasa-biasa saja.

 

Dia seorang mahasiswa yang juga bekerja paruh waktu. Pada akhir pekan ia menjaga flower counter dan pada hari biasa ia bekerja sebagai waitress setelah pulang kuliah. Ia termasuk mahasiswa berprestasi yang mendapat beasiswa dari universitasnya. Orangtuanya ada di Busan, dan ia punya seorang sahabat di restoran tempatnya bekerja.

 

Siwon memainkan penanya dengan sambil menatap lurus tulisan yang di ketik rapi itu. Siwon berusaha menemukan sebuah ‘keistimewaan’ namun pria itu tidak mendapatkannya. Ia pun merasa heran, entah hal apa yang membuatnya merasa ‘tergelitik’ ingin tahu tentang gadis itu.

 

* * * * *

 

Pagi itu, Shinri tengah memotong ujung batang bunga mawar putih ketika seorang pria berkacamata hitam masuk dalam flower counter. Maka Shinri meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk melayani pelanggan. Dengan ramah, di sapanya pria itu.

 

“Selamat datang. Jenis bunga apa yang akan anda beli? Saya bisa merangkaikannya untuk anda.”

 

Pria itu diam sambil pandangannya mengitari toko yang terdapat banyak jenis bunga yang semuanya menyebarkan wangi harum. Pria itu lantas menunjuk ke arah Kiri dan Shinri mengikuti arah jari telunjuknya.

 

“Ah, anda ingin bunga Lily? Saya akan merangkainya dengan cantik untuk anda.” Shinri lantas tersenyum lebar seraya tangannya mulai bergerak dengan lincah untuk merangkaikan bunga itu dengan cantik.

 

Rambutnya yang kini tergerai bebas dan ia biarkan jatuh di sisi kirinya tidak membuat gadis itu risih sembari bekerja. Justru ia tampak Anggun. Yang kecantikannya harus beradu elok dengan beberapa tangkai bunga Lily yang kini sudah ia rangkai menjadi sebuket ikatan cantik.

 

Pria itu tanpa sadar mengulum senyum sembari menyisipkan tangannya di balik saku celana. Hatinya berdesir hebat ketika gadis itu tersenyum manis padanya. Ouch, ia merasa ada seorang Cupid yang memanah hatinya.

 

“Silahkan, tuan.”

 

Ia diam menatap Shinri yang kini mengulurkan tangan dengan bucket bunga yang sudah selesai ia rangkai. Siwon meraihnya, memberikan lembaran uangnya pada Shinri lalu menghirup harum bunga itu dan tersenyum tipis sebelum di serahkannya kembali pada Shinri yang bingung akan sikapnya.

 

“Itu untukmu.”

 

Shinri terperangah heran. Ketika pria itu membuka kacamata hitamnya, bertambah pula keheranan Shinri saat bisa langsung mengenali Siwon. Ia tergagap. “K… Kau?”

 

“Heum, ini aku. Choi Siwon imnida.” Siwon mengulurkan tangannya namun Shinri tak kunjung membalas ketika gadis itu lebih sibuk dengan pikirannya. Siwon lantas terkekeh menyadari jabat tangannya yang tak di balas oleh gadis itu. “Ya, baiklah. Mungkin kau terlalu kaget dengan kehadiranku, Shinri-ssi.”

 

“Kau tahu namaku?” Tanya Shinri yang bahkan lebih terlonjak lagi. Hazel matanya lantas bergerak gelisah. Menatap Siwon dengan awas. “A… Apa kau stalker?”

 

Tertawa dengan keras, Siwon bahkan kini merasa perutnya yang kram karena sungguh ia tak dapat menduga pikiran gadis itu. Siwon menghentikan tawanya ketika di lihatnya Shinri yang hanya memasang wajah datar ketika melihatnya tertawa.

 

“Ah, benar-benar.” Siwon menghela nafas. “Kau tidak tahu siapa aku? Kau tidak pernah melihat wajahku di TV atau internet?” Siwon menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuknya. Shinri hanya menatapnya dengan wajah polos dan tak terlihat terlalu ingin tahu.

 

“Aku Choi Siwon, pemilik Hyundai Department Store. Dan ayahku adalah CEO Boryung Medience yang kini juga menjadi profesor di Sungkonghae University.” Perjelas Siwon pada Shinri yang hanya melongo mendengarnya. “Kau sekarang sudah paham?” Siwon lantas menyeringai kecil seraya menatap Shinri yang hanya mengerutkan dahi.

 

“Chogio, tuan Choi Siwon-ssi, apa kau ingin memamerkan kekayaanmu sekarang?”

 

Siwon terbelalak. Ia tidak pernah mengharapkan reaksi ini yang akan Shinri berikan. Sudah lumrah baginya jika ia akan melihat reaksi terkejut yang berlebihan dari seseorang yang tahu siapa dirinya. Namun, gadis ini…

 

“Anio. Maksudku—”

 

“Pergilah. Bukan urusanku untuk tahu latar belakangmu atau apapun itu.” Shinri memalingkan wajah. Ia berniat akan pergi namun Siwon menahan lengannya hingga membuat gadis itu tak nyaman dengan sentuhannya. Maka segera di tepisnya tangan Siwon darinya. “Mau apa lagi?”

 

“Sepertinya kau salah paham padaku, Nona Jung. Apa aku benar-benar kelihatan sedang pamer padamu?”

 

Shinri menarik nafas lalu menatap wajah tampan Siwon dengan tatapan datar dan terkesan tak peduli. Melihat itu, membuat Siwon menipiskan bibir lantas menyeringai. OK, gadis ini memang menguji kesabaran seorang Choi Siwon!

 

“Baiklah. Biar aku luruskan semuanya Karena aku tak mau ada seseorang yang salah paham terhadapku. Pertama, aku tidak pernah punya niat untuk memamerkan kekayaanku. Aku mengatakannya hanya karena sepertinya kau tidak tahu siapa aku. Kedua, aku bukan stalker. Kenapa aku tahu namamu Karena kemarin kebetulan saja aku melihatnya di bajumu.”

 

“Lalu kenapa kau tahu aku di sini? Apa itu hanya kebetulan juga?” Tanya Shinri yang kali ini sukses membuat Siwon diam sejenak untuk memikirkan alibinya. “Ya, kebetulan saja aku melihat toko bunga ini dan melihatmu ada di sini.”

 

Shinri menyipitkan matanya untuk menatap Siwon yang terlihat gugup menjawabnya. Juga, pria itu menyentuh bibirnya beberapa kali.

 

“Ngomong-ngomong, apa toko bunga ini milikmu?” Siwon sengaja mengalihkan topik saat di rasanya Shinri tengah menatapnya dengan tajam.

 

“Bukan. Aku hanya bekerja di sini.”

 

“Apa kau seorang mahasiswa?”

 

“Ya.”

 

“Jadi kau memiliki dua pekerjaan paruh waktu?”

 

“Ya.”

 

“Bagaimana bisa kau membagi waktu antara belajar dan bekerja? Apa kau tidak lelah?”

 

“Aku sudah terbiasa, jadi…” Shinri menggantungkan kalimatnya saat sadar bahwa pria ini terlalu mengorek kehidupan pribadinya. Ia lantas berkecak pinggang. “Apa kita sedang melakukan sesi Tanya jawab sekarang? Apa ini semacam Job Interview?”

 

“Ah… Mian.” Siwon lantas menutup rapat mulutnya yang gatal ingin tahu lebih banyak tentang gadis ini. Pria itu berdehem sebentar sebelum ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sebelum ia benar-benar mencapai pintu, ia memberhentikan langkahnya.

 

“Kita akan bertemu lagi, jadi jangan terkejut jika kau melihatku akhir-akhir ini.” Siwon menunjukkan senyum tipisnya yang tampan. “Jangan lupakan namaku, Shinri-ssi.”

 

Shinri terpekur diam mendengar ucapan Siwon. Ia malu mengakui ini, namun saat melihat pria itu tersenyum manis padanya, hal itu membuat jantungnya berdetak dua kali dari biasanya.

 

“Dan bunga itu untukmu. Sebagai tanda maafku untuk kopiku yang tumpah.”

 

Pandangan Shinri tetap terpaku pada punggung tegap itu sampai tubuh Siwon benar-benar hilang dari pandangannya kemudian.

 

* * * * *

 

Yang benar saja!

 

Ucapan pria itu tempo hari rupanya tak main-main. Tiga hari sejak pertemuan mereka di flowers shop, Siwon kembali datang ke restoran dan mem-booking restoran untuk janji rapatnya dengan para rekan kantornya.

 

Hal itulah yang membuat Shinri bersungut-sungut saat memperhatikan Siwon dari dapur restoran. Entah apa motif pria itu sehingga ia bisa membuat Shinri merasa tak nyaman dengannya.

 

“Kau kenal pria itu?” Myungsoo menyikut lengan Shinri saat mengetahui sahabatnya itu tampaknya betah sekali memperhatikan pria tampan itu. “Kau menyukainya? Gayanya keren sekali. Pasti dia anak konglomerat. Heum, seleramu bagus sekali, Nona!” Myungsoo mengusap dagunya seraya menealah penampilan bergaya Siwon.

 

“Aish, kau menyebalkan! Aku tidak menyukainya sama sekali!” Cetus Shinri dan tak lupa memukul jidat Myungsoo dengan buku menu di tangannya. “Dia pria kaya yang menumpahkan kopi di bajuku tempo hari.” Lalu Shinri juga menceritakan tentang kedatangan Siwon di toko bunga pada Myungsoo yang tampak antusias menjadi pendengar.

 

“Siapa namanya?”

 

“Choi Siwon.”

 

“Omo! Jinjjayo? Dia pewaris utama Hyundai Department Store kalau begitu. Salah satu mall terbesar di Korea yang masing-masing mallnya terdapat 7 lantai. Yang juga menjadi supermarket terbesar kedua di Korea.” Myungsoo bahkan menutup mulutnya karena tak bisa membayangkan betapa kayanya pria itu. Lain halnya dengan Shinri yang menatapnya dengan tatapan risih.

 

“Kau tahu itu, Myungsoo-ya? Kau suka sekali bergosip ternyata.” Gadis itu berdecak tak percaya. Namun sepertinya Myungsoo tak terlalu mempedulikan perkataannya.

 

“Ri-ah, kau benar-benar beruntung bertemu dengan pria kaya sepertinya. Aigo, kau mimpi apa bisa berkenalan dengannya, huh?”

 

Shinri tak menyahuti Myungsoo yang masih asyik sendiri. Gadis itu menatap Siwon dengan tajam dan dengan pandangan datar yang dingin. Shinri bahkan melihat bahwa atasannya tengah duduk bersama dengannya dan sesekali bosnya itu menuangkan anggur dalam gelasnya. Shinri sekarang yakin bahwa Tn Kim pastilah telah mengenal Siwon dengan baik.

 

*

 

“Duduklah.”

 

“Hah?” Shinri menatap datar pria itu ketika dirinya tengah mengusap meja yang kotor dengan lap. Restoran sudah sepi saat semua rekan kerjanya sudah kembali dan rapat mereka yang sudah kelar hari itu.

 

“Duduklah di sini. Temani aku makan.” Siwon menunjuk kursi di depannya namun Shinri memutar bola matanya dengan malas. “Maaf, tapi aku tidak bisa duduk di sana karena kursi itu hanya untuk pelanggan sepertimu dan bukan untuk pelayan seperti kami.” Shinri lalu kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa mau ambil peduli.

 

Siwon bangkit dari kursinya dan meletakkan lap milik gadis itu lalu menarik Shinri duduk di kursinya. Gadis itu tentu saja terlonjak dengan apa yang Siwon lakukan terhadapnya. Ia mengambil ancang untuk berdiri jika saja ia tidak mendengar ucapan Siwon yang suaranya tiba-tiba menjadi rendah. “Duduk atau aku akan meminta Tn Kim untuk memecatmu.”

 

“Apa-apaan kau?!” Shinri membelalakkan Mata dengan menahan kesal mendengar ucapan Siwon yang nyatanya sangat mudah untuk ia ucapkan.

 

“Hanya duduk bersamaku dan makan makanan itu.” Nada suara Siwon yang merendah dengan tatapan tajamnya berhasil membuat Shinri merinding. Gadis itu menatapnya dengan perasaan kesal yang sangat. Apalagi Shinri merasa risih ketika para pelayan lainnya mengarahkan tatapan padanya. Banyak yang sailng berbisik seolah bertanya-tanya ada hubungan apa yang terjadi antara ia dan pria itu.

 

“Aku sudah bicara dengan Tn Kim jadi tidak apa-apa.” Shinri terdiam. Ia memperhatikan pria itu yang begitu tenang dalam menyantap makanannya. Saat Siwon meliriknya, Shinri segera membuang muka. “Kenapa tidak makan? Kau tidak suka makanannya?”

 

“Aku sudah makan.”

 

“Pembohong. Jangan berpura-pura dan makanlah. Aku yang membayar semuanya.”

 

Shinri mendesah. Gadis itu benar-benar tak nyaman dengan suasana ini. Harusnya ia sudah izin pulang saja tadi pagi saat ia sudah mendapatkan feeling buruk ketika melihat Siwon datang ke restoran.

 

“Sepertinya kita tidak sedekat ini untuk makan bersama, Siwon-ssi.” Ujar Shinri dengan nada penuh penekanan.

 

“Kita bahkan akan menjadi lebih dekat setelah ini.” Jawab Siwon dengan tatapan penuh artinya. Shinri mendengus lalu membuang mukanya ke arah lain untuk menghindari tatapan pria itu yang sialnya membuatnya berdebar.

 

Aroma wangi pasta yang menggelitiki Indra penciumannya membuat Shinri menelan ludah. Memang benar bahwa ia berbohong di depan Siwon jika ia sudah makan. Semua itu di lakukannya hanya untuk menjaga image-nya di depan pria ini. Namun, beberapa piring makanan lezat ini sungguh menggugah seleranya sejak lama. Yang nyatanya ia tidak pernah mencicipi makanan seperti itu sekalipun karena ia tahu pastilah harganya begitu mahal.

 

Akhirnya Shinri menyerah. Untuk kali ini saja. Saat ada kesempatan emas terpampang di depan mata, maka akan sia-sia jika di tolak. Itu pikirnya.

 

“Baiklah. Aku akan makan ini karena pasti akan sia-sia kalau di buang.” Gadis itu meraih sebuah sendok dan garpu lalu menyantap pastanya dengan Mata berbinar cerah ketika sampai di lidahnya. Rasanya sangat tak main-main lezatnya. Shinri bahkan begitu mengapresiasi masakan koki restorannya yang patut di beri penghargaan. OK, sepertinya ia terlalu berlebihan untuk ini.

 

Diam-diam Siwon mengulum senyumannya melihat wajah senang Shinri. Pria itu tersenyum begitu manis saat Shinri yang bahkan tak menyadari mulutnya yang belepotan oleh saus.

 

Imut sekali, pikirnya.

 

* * * * *

 

Setelah kejadian itu, Siwon makin gencar mendekati Shinri yang menurutnya gadis itu sangat sulit di taklukan. Seolah ia memang telah membuat tameng sebesar tembok Cina di hatinya agar tidak mudah di robohkan saat Siwon berusaha mencari celah untuk memasukinya.

 

Tertarik? Tentu saja Siwon merasa tergelitik dengan Shinri. Gadis itu kuat. Baik fisik ataupun mentalnya ketika ia berkali-kali mampu membuat Siwon menganga tak percaya dengan segala penolakannya.

 

Sudah bosan Siwon mengajak gadis itu keluar untuk hanya sekedar makan siang bersamanya. Dengan seribu-satu alasan yang klise, ajaibnya Shinri selalu bisa menghindarinya.

 

Seperti Siang itu, saat Siwon telah merampungkan segala pekerjaannya, sekarang pria itu sudah stay di depan gedung universitas tempat Shinri melanjutkan pendidikan. Dengan Audi hitam metaliknya, Siwon berhasil mengunci setiap pasang mata mahasiswa yang berlalu di sana. Para mahasiswa terutama mayoritas perempuan bahkan membelalakkan matanya mengira jika pria itu adalah seorang idol.

 

Shinri baru saja selesai dengan kelasnya dan akan segera bekerja jika saja ia tidak melihat kerumunan mahasiswi di halaman kampusnya. Ia mengangkat bahunya acuh dan sama sekali tidak merasa tertarik melihatnya lebih dekat. Namun, bahunya terangkat kaget ketika namanya di teriakkan oleh sebuah suara yang familiar baginya.

 

“Jung Shinri!”

 

Langkah Siwon ketika ia menghampiri Shinri beriringan dengan jeritan dari para mahasiswi yang terpesona melihat pria itu tersenyum manis pada Shinri. Kehisterisan mereka bertambah pula saat dengan santainya Siwon merangkul gadis itu. Segera saja mereka beramai-ramai menjepret moment itu dengan smartphone mereka.

 

“Kajja.”

 

“K—kau… Apa yang kau lakukan di sini?!” Pupil Shinri melebar sempurna saat ia berusaha melepaskan tangan Siwon dari bahunya namun kekeuh pria itu malah menariknya semakin dekat padanya.

 

“Aku? Aku hanya datang menjemputmu.” Ujar Siwon dengan wajah tenangnya. Shinri melongo untuk beberapa detik lamanya. “Kau tidak mau jalan? Mau sampai kapan jadi model berdua denganku?”

 

Shinri baru menyadari dirinya yang menjadi kerumunan dan bunyi jepretan foto dari para mahasiswa di sana. Gadis itu melepaskan tangan Siwon darinya dengan wajah kesal. “Yya, bisakah kau pergi dari sini?”

 

“Shireo. Aku menjemputmu ke sini untuk membawamu ke suatu tempat.” Lantas Siwon menarik tangan Shinri membelah kerumunan mahasiswa itu dan setelah sampai di mobilnya, ia membuka pintu Mobil untuknya dan tak lupa melindungi kepala gadis itu agar tidak terbentur.

 

“Yya! Apa-apaan kau?! Aku harus bekerja!” Kesal Shinri saat dengan santainya Siwon malah membawanya masuk dalam mobilnya mewahnya.

 

“Gwenchanayo. Aku sudah meminta izin dari Tn Kim dan dia dengan senang hati memberikan izin padamu. Dan jangan khawatir karena gajimu tidak akan di potong sepeserpun olehnya.” Celetuk Siwon dengan mudahnya. Dan sekali lagi, Shinri hanya dibuat tak dapat berkata-kata mendengar ucapan pria itu.

 

“Kau mau membawaku kemana sebenarnya?”

 

“Kau akan tahu nanti.” Siwon melirik gadis itu sekilas dan mengulum senyumnya. Sementara Shinri hanya memutar bola matanya dengan kesal.

 

*

 

“Sekretaris Han, kau bisa pergi sekarang.” Perintah Siwon ketika mereka telah sampai di tempat tujuannya. Pria itu mengangguk patuh lalu segera undur diri seperti yang di perintahkan oleh Siwon.

 

Shinri terdiam melihat sikap pria itu. Merasa dirinya tengah di tatap tajam oleh gadis di sebelahnya membuat Siwon mengerutkan dahi. “W—waeyo? Kenapa melihatku seperti itu?” Tanyanya dengan bingung. Setahunya ia tidak membuat kesalahan selain membawa gadis itu dengan sedikit ‘pemaksaan’.

 

“Apa sikapmu selalu seperti itu pada yang lebih tua? Walaupun dia sekretarismu atau apalah, tapi bisakah kau lebih sopan sedikit?” Eluh Shinri sambil mendengus. “Huh, itu sebabnya aku benci orang kaya.” Gumamnya kemudian yang samar-samar Siwon dengar.

 

Siwon terdiam mendengarnya. Wanita ini memang berbeda dari wanita-wanita lain yang ia kenal. Shinri berhasil membuka jendela dunianya yang lain yang bahkan tak pernah terpikirkan olehnya.

 

“Untuk apa kau membawaku kemari?” Shinri mengedarkan matanya ke sekitaran butik bertingkat Lima itu. Gadis itu bahkan berani bertaruh jika harga gaun-gaun yang terpajang di etalase tidaklah main-main mahalnya.

 

“Aku membutuhkan partner untuk acara pesta perusahaan malam ini.”

 

“Lalu?” Dengan polosnya Shinri bertanya dengan mimik wajah yang membuat Siwon gemas ingin mencubit hidung mancungnya itu. “Ah… Jangan bilang jika aku…” Gadis itu menatap Siwon yang hanya menunjukkan senyuman simpulnya.

 

“Shireo! Nan shireoyo!”

 

Siwon segera menarik cepat lengan gadis itu ketika Shinri berancang-ancang akan meninggalkannya.

 

“Hey, aku hanya memintamu untuk menjadi teman pestaku. Dan bukan memintamu untuk tidur di ranjangku. Apakah sulit?” Suara bariton rendah milik Siwon yang berbisik di telinganya membuat Shinri meremang seketika saat pria itu menghembuskan nafasnya di sana.

 

Shinri segera mendorong Siwon lalu mengambil jarak darinya dengan wajah yang sedikit merona. “Kalau begitu cari saja wanita cantik di luar. Kenapa kau mengajakku kesana?” Tanya Shinri dengan nada kesal yang tidak dapat ia sembunyikan

 

“Kau bahkan lebih cantik dari wanita di luar.”

 

Sialnya, ucapan Siwon yang terdengar santai  itu membuat jantung Shinri berdetak dengan gila.

 

* * *

 

Pesta mewah yang di selenggarakan besar-besaran itu berjalan dengan meriah dan tanpa kendala yang berarti. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun manusia-manusia yang ada disana tampak tak ambil pusing dengan waktu.

 

Instrumen ballad romantis mengalun dengan lembut sehingga mengundang pasangan-pasangan yang hadir tak melewatkan moment tersebut untuk bisa berdansa dengan pasangan mereka. Maka ballroom hotel itu kini telah di penuhi puluhan pasangan yang tengah berdansa dengan romantis.

 

Shinri menatap iri segelintir pasangan tersebut sembari menikmati segelas anggur merah yang sedari tadi ia minum. Sementara Siwon yang duduk di sampingnya diam-diam mengulum senyumnya dan sama sekali tidak terlihat mau mengalihkan perhatiannya dari sosok anggun yang tiba-tiba berubah bak seorang Dewi itu.

 

Siwon bahkan harus menahan kekagumannya saat ketika ia mendapati Shinri yang baru keluar dari ruang rias dengan gaun yang ia pilihkan. Tepat dugaannya, bahwa gaun brokat tersebut pastilah begitu apik membungkus tubuh mungilnya dengan mengekpos beberapa bagian kulit putihnya itu. Walau hanya dengan riasan sederhana, nyatanya wajah cantik itu sudah bisa membuat Siwon berdecak memuji betapa kuat inner beauty yang di miliki gadis manis itu.

 

“Ayo berdansa denganku.” Siwon mengulurkan tangannya bak seorang pangeran tampan berkuda putih. Hal itu sukses membuat Shinri merona dengan jantung berdebar.

 

Shinri tersenyum kikuk pada Siwon. “Maaf, aku tidak bisa berdansa.” akunya dengan wajah memerah. Ia akui ia memang payah karena sebagai wanita dewasa nyatanya ia tak mahir berdansa.

 

“Tak apa. Aku akan mengajarimu.” tanpa mau menunggu jawaban gadis itu, Siwon dengan cepat menarik tangan Shinri dan membawanya menuju tempat dimana pasangan lainnya saling bergerak dengan indah bersama pasangan mereka.

 

“Lebih baik jangan. Aku akan mempermalukanmu jika kau berdansa denganku.” ujar Shinri gelisah. Antara gelisah karena tidak bisa berdansa , dan gelisah karena ia kesulitan mengontrol hatinya untuk berhadapan dengan Siwon yang jarak tubuhnya tak kurang dari sejengkal.

 

“Anggap saja hanya ada kita berdua di sini. Sekarang letakkan tanganmu di bahuku.” intruksi Siwon sementara ia sendiri mengalungkan tangannya pada pinggang ramping Shinri. Gadis itu menuruti ucapannya dengan ragu-ragu. Jantungnya hampir copot ketika merasakan tipisnya jarak mereka saat lengan kekar Siwon memenjarakan pinggangnya.

 

“Sekarang kita hanya perlu bergerak bersamaan ke kiri dan ke kanan. Seperti ini.” Siwon membawa tubuhnya bergerak ke kiri bersamaan dengan Shinri. “Bagaimana? Tidak sulit, kan?”

 

“Ini cukup mudah.” komentarnya dengan senyum yang merekah ketika dirasanya ia mulai bisa membiasakan diri. Lantas Ia mendongak untuk menatap Siwon namun mendadak ia salah tingkah saat menyadari tatapan intens yang Siwon tujukan padanya. Ia gugup, maka Shinri memilih jalan aman dengan menghindari kontak mata sementara mereka masih berdansa dengan posisi yang terbilang romantis dan intim.

 

Tanpa Shinri ketahui bahwa pria itu berkali-kali menelan salivanya menatap Shinri dengan tatapan memuja. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa gadis ini adalah wanita pertama yang membuatnya mengerti apa itu artinya ‘berdebar dan tergelitik’. Shinri bahkan lebih dari kata ‘istimewa’ baginya.

 

“Kau pasti sering berdansa dengan wanita lain.”

 

“Tidak pernah.”

 

“Lalu kenapa kau mahir sekali berdansa jika kenyataannya tidak pernah melakukannya?” Shinri tampak tak setuju dengan pengakuan pria itu.

 

Siwon tersenyum kecil melihat rona merah pada pipi Shinri yang selalu mengundang imannya untuk bisa menjangkau pipi itu dengan bibirnya. “Kau tidak percaya padaku? Baiklah. Percayai apa yang ingin kau percayai kalau begitu.” Siwon memilih mengalah daripada ia harus berdebat dengan Shinri yang notanabenya adalah tipe gadis keras kepala.

 

Shinri mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Siwon. Ia memalingkan wajahnya untuk melihat pasangan-pasangan lain yang masih tampak berdansa seperti mereka. Di lihat dari segi apapun, jelas sekali para tamu itu adalah orang-orang berada yang sederajat dengan Siwon. Tiba-tiba saja, Shinri merasa kecil ketika ia yang bukan siapa-siapa dapat berdiri di tengah-tengah mereka.

 

“Kenapa?” Siwon yang merasa gadis itu menghela nafas merendahkan kepalanya untuk menatapnya.

 

“Aku hanya merasa tidak pantas berada di tempat ini sementara aku hanya orang biasa yang jelas jauh dari kalian.”

 

“Kau salah. Semua manusia itu sama, tidak ada yang berbeda dari kita.” Siwon menegaskan sementara ia menatap gadis itu dengan serius. Ia tidak suka Shinri membahas tentang perbedaan status mereka.

 

Shinri tertawa kecil mendengar ucapan Siwon. Ia sedikit melonggarkan pegangannya dari pria itu. “Jika semua manusia sama, maka bukankah si kaya harusnya tidak semena-mena pada si miskin?” Gadis itu menatap kosong kedepan tanpa mengetahui Siwon yang hanya mengerutkan dahi dengan bingung.

 

“Ah, aku benci mengingatnya.” Shinri tiba-tiba melepaskan diri sepenuhnya dari Siwon. Pria itu menahan nafas saat merasakan rasa kehilangan di hatinya. Mata Shinri sedikit memerah dan saat Siwon mencegat langkahnya ketika tanpa aba-aba gadis itu akan meninggalkan lantai dansa.

 

“Mau kemana?”

 

“Pulang. Lepaskan aku.”

 

Siwon menggertakkan gigi. Rahangnya mengeras melihat sikap Shinri yang seenaknya. “Shinri-ssi, ada apa denganmu?”

 

“Kau tidak perlu tahu karena kita tidak sedekat itu aku rasa.” Gadis itu sekali lagi mencoba melepaskan tangan Siwon darinya. Sementara pria itu hanya mampu memejamkan mata, mencoba agar tidak meledakkan emosinya di depan gadis itu.

 

“Lepas. Bisakah kau melepashh—”

 

Ucapan gadis itu terputus begitu saja saat merasakan Siwon menarik tangannya dan tiba-tiba saja mencium bibirnya. Shinri tersentak dengan matanya yang terbelalak lebar. Pria itu menekan bibirnya dan saat Siwon berinisiatif melumat bibirnya, Shinri segera mendorong tubuh pria itu dengan mata memerah. Siwon tercenung saat gadis itu menolaknya.

 

“K—kau selalu seenaknya.” Cetus Shinri dengan sebulir air Mata yang mengalir dari sudut matanya. Siwon terkejut melihatnya menangis. Pria itu hendak menahannya namun ia kalah cepat dari Shinri yang telah berlari meninggalkan ruangan.

 

* * * * *

 

Pagi-pagi sekali Shinri sudah membersihkan diri dari bekas riasannya tadi malam. Di tatapnya gaun cantik yang semalam ia gunakan sambil pikirannya kembali pada kejadian disaat pria itu mencium bibirnya untuk pertama kali.

 

Shinri menghela nafas panjang. Ia kini sudah bertekad pada dirinya sendiri untuk bisa menjauh dari Siwon agar ia tidak perlu lagi berurusan dengan pria itu.

 

Namun, rasional dan irasionalnya terasa tak sinkron saat ia membuat keputusan. Ada sisi lain di hatinya yang menolak semua itu. Tapi nyatanya Shinri lebih mengabaikan hatinya dan biarlah cukup hanya seorang diri ia memendam perasaan itu.

 

Lantas lekas di masukkannya gaun serta sepatu pemberian pria itu kembali dalam paper bag. Ia akan mengembalikan semua itu karena ia yakin tidak pantas baginya menerima hadiah dari Siwon.

 

* *

 

“Apa maksudnya ini?”

 

“Ini milikmu dan aku cukup sadar diri untuk bisa menerima ini darimu.”

 

Siwon menghela nafas panjang. Sebelumnya ia begitu gembira saat mengetahui gadis ini datang ke perusahaannya secara pribadi. Namun, Shinri kembali menguji kesabarannya saat ia datang dengan sebuah paper bag berniat untuk mengembalikan gaun dan sepatu yang kemarin ia belikan untuknya.

 

Siwon beranjak dari kursinya sambil menyelipkan tangannya pada saku celana. Di tatapnya gadis itu dengan serius tanpa kesan mengintimidasi. “Jika ini tentang apa yang aku lakukan semalam, aku meminta maaf untuk itu.” Siwon menghela nafas saat Shinri begitu saja memalingkan wajah darinya. “Aku melakukannya bukan semata-mata karena aku hanya asal-asalan. Tapi, aku melakukannya karena perasaanku padamu. Aku menyukaimu.”

 

Pupil mata Shinri membesar mendengar pengakuan pria itu. Ia kembali merasakan jantungnya yang berdebar tiga kali lebih cepat dari biasanya. Gadis itu menelan ludah melihat tatapan Siwon yang sanggup membuatnya lupa akan bernafas.

 

“Menyukaiku? Ck, omong kosong.” Shinri mendesis begitu ia mendapatkan nyalinya kembali. “Tidak bisakah kau lihat jika kita sangat berbeda, Siwon-ssi? Apa otakmu yang cerdas itu terbentur hingga kau bisa tertarik pada orang sepertiku?”

 

“‘Orang sepertimu?’ Apa? Apa yang salah jika aku menyukaimu?”

 

“Sadarlah. Perasaan yang kau miliki itu hanya kesemuan yang tak berarti.” Shinri menatap pria itu dengan berusaha menahan laju air matanya. Sementara Siwon tampak menyeringai masam saat gadis itu meragukan perasaan yang ia miliki.

 

“Jangan menyukaiku.”

 

Usai berkata demikian, Shinri meletakkan paper bag yang di bawanya di lantai lalu memegang handle hendak membuka pintu jika saja ia tidak berhenti sejenak saat mendengar ucapan Siwon.

 

“Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Perasaanku padamu, aku tidak akan menghentikannya. Aku akan membuktikan padamu jika aku tidak main-main.” Ia benar. Siwon sama sekali tidak merasakan keraguan akan ucapannya. Malah ia merasa tertantang untuk memulai jalanannya menuju gadis itu.

 

Siwon menatap punggung gadis itu dengan tajam. Berharap dalam hati jika gadis itu tidak akan pergi dari sisinya namun harapannya musnah ketika melihat gadis itu membuka pintu Lima detik setelah ucapannya.

 

Lagi, Siwon mendesah kecewa. Dan lagi-lagi ia tidak bisa menahan gadis itu di sisinya.

 

* * * * *

 

“Chogio…” Myungsoo terlihat ragu-ragu untuk memanggil pria yang tengah menyilangkan kaki di hadapannya ini. Selesai dengan pekerjaannya, Myungsoo di kejutkan dengan perintah atasannya untuk menemui Siwon yang duduk manis di meja.

 

Siwon membuka kacamata hitamnya lalu tersenyum semringah pada Myungsoo. Di persilahkannya pria itu duduk kemudian. “Duduklah dan jangan gugup begitu. Biasa saja, Myungsoo-ya.”

 

“Ne? ‘M—Myungsoo-ya’?” Tentu saja Myungsoo terbelelalak ketika Siwon yang merupakan si putra konglomerat Choi Ki Ho itu bicara secara informal dan memanggil namanya dengan akrab. Seolah mereka adalah sahabat dekat, yang nyatanya ini adalah pertama kalinya mereka bertatap muka secara pribadi.

 

“Heum, Myungsoo-ya. Kau sahabat Shinri jadi akan lebih baiknya jika kita juga bersahabat. Jadi, santai saja padaku dan panggil aku ‘hyung’ mulai sekarang.”

 

Myungsoo tergagap mendengarnya. Ia seolah baru mendapatkan jackpot besar. Dengan ragu, ia menganggukkan kepala. “Ne, h—hyung.” Ucapnya. “Tapi, kenapa ingin bicara denganku? Shinri tidak bekerja hari ini Karena saat akhir pekan dia tidak bekerja di sini tapi—”

 

“Ne. Aku sudah tahu. Saat akhir pekan dia bekerja di toko bunga.”

 

“Hyung tahu? Bagaimana bisa? Apa dia memberitahukan pada hyung?”

 

“Anio. Aku sengaja mencari tahu tentangnya.” Myungsoo jelas terkejut dengan pernyataan Siwon. Dirinya lebih terperanjat kaget lagi saat pria itu mengakui perasaannya. “Aku menyukainya. Dia gadis yang berbeda dan hanya dia yang bisa membuka mataku. Shinri bukan tipe wanita yang silau dengan latar belakangku.”

 

“Tapi, dia menolakku saat aku mengutarakan perasaanku.” Cetus Siwon berterus terang. Ia rasa ia harus melakukan ini agar Myungsoo dapat membantunya. Tidak ada keraguan di hatinya ketika ia menceritakan segalanya pada Myungsoo yang mendengarnya secara seksama.

 

Myungsoo mendesah kecil mendengar cerita Siwon. Ia rasa ia harus membantu pria ini. Myungsoo tahu jika Siwon tulus dengan perasaannya dan tidak akan bertindak sebagai pria brengsek yang menyakiti sahabatnya.

 

“Hyung harus tahu ini kalau begitu. Alasan kenapa Shinri membenci orang kaya.” Myungsoo berkata serius. “Shinri mempunyai kakak laki-laki bernama Jung Shin. Saat kuliah, Shin hyung menyukai seorang gadis kaya yang hanya berpura-pura menyukainya. Gadis itu berpura-pura jatuh cinta padanya dan saat dia tahu hal itu, Shin hyung sangat terluka. Dia bahkan sempat memohon dan berlutut agar gadis itu bisa belajar mencintainya. Karena Shin hyung selalu menemui gadis itu setiap hari, gadis itu merasa geram sampai menyuruh beberapa preman untuk memberinya pelajaran. Hingga pada suatu malam, Shin hyung habis di pukuli hingga meninggal oleh para preman bayaran gadis jahat itu.”

 

“Dan sampai sekarang, Shinri sangat membenci malapetaka yang menimpa kakak sulungnya. Itulah alasan kenapa dia menolak hyung aku rasa. Karena ia terlalu membenci orang kaya yang menurutnya selalu semena-mena pada orang miskin.” Perjelas Myungsoo pada Siwon yang hanya mampu mengatupkan bibir rapat-rapat.

 

Kini, ia tahu masalah gadis itu selalu menolaknya. Tak lain adalah karena rasa trauma yang selalu ia takutkan akan terulang kembali.

 

“Hyung, aku tahu Shinri dengan baik. Walaupun dia tidak pernah menceritakan padaku, tapi aku tahu dia juga punya perasaan yang sama padamu. Maka, tolong jangan sakiti dia seperti apa yang kakaknya rasakan.”

 

“Ne. Aku tidak akan melakukannya. Perasaanku padanya, itu sebuah ketulusan.” Ucap Siwon serius. Myungsoo tersenyum lega mendengarnya.

 

* * * *

 

Pukul sudah menunjukkan jam 7 malam tepat namun Shinri masih di jalan menuju rumahnya. Ia sedikit pulang lebih telat dari hari-hari biasanya guna membuat tubuhnya lelah sehingga otaknya tidak akan bercabang untuk memikirkan pria itu. Shinri sadar jika mungkin tameng hatinya telah roboh karena dengan mudahnya ia membiarkan Siwon masuk kesana.

 

“Hey, aghassi. Sendirian, huh?”

 

Shinri terperanjat ketika rambutnya tiba-tiba di tarik oleh seorang pria yang terlihat jahat. Di belakangnya, masih ada tiga lainnya yang tampak menyeringai menatapnya dengan lapar. “Ayo temani kami bermain.”

 

“Yya, lepaskan!” Shinri meronta. Ia menendang tulang kaki salah satu pria itu sehingga aksinya berhasil menyulut kemarahan dari yang lain. Dua lainnya memegang tangan Shinri sementara seorang lainnya mengelus dagu Shinri dengan senyuman yang mampu membuat Shinri pucat. Ia berusaha melepaskan diri namun kekuatannya jelas tak menang dari sekelompok pria gila itu.

 

“LEPASKAN DIA, SAEKI!”

 

Kejadiaannya begitu cepat hingga kini Shinri sudah jatuh di aspal saat dua pria yang memegangnya tengah terlihat adu jontos dengan entah siapa itu. Shinri baru mengenali jika pria itu adalah Siwon ketika pria itu jatuh dengan sebuah luka pada sudut bibirnya.

 

“G—gwenchanayo?”

 

“Masuklah ke mobilku. Bahaya di sini.” Ujar Siwon seraya menyeka darah dari bibirnya. Gadis itu menurut untuk menunggu dalam mobilnya sementara ia kembali melanjutkan perkelahian dengan para pria hidung belang yang hendak menyentuh gadisnya. Siwon tak memberi ampun sedikitpun walaupun wajahnya sudah memar di beberapa tempat.

 

* *

 

Keduanya kini tengah duduk di ruang keluarga di apartment Siwon. Terlihat pria itu yang beberapa kali meringis saat Shinri memberikan alkohol untuk membersihkan luka pada sudut bibir dan beberapa memar lain di wajahnya. Di tatapnya gadis itu dan Siwon merasa sedikit lega karena ia kembali dapat memandang dan melindunginya di saat yang tepat.

 

“Aku rela kesakitan setiap hari jika dengan itu kau bisa memperhatikanku.” Cetusnya lirih. Shinri menghentikan kegiatannya sejenak lalu kembali melanjutkan pekerjaannya dan berusaha memasang wajah datar sedingin mungkin.

 

“Apa Kau bodoh? Kau mau kesakitan seperti ini sementara banyak orang yang mau mendapatkan raga yang sehat? Kau aneh.”

 

Siwon tersenyum kecil mendengar gadis itu. “Kau yang lebih aneh dariku, Ri-ah. Kau terus menghindar dariku dan kau terlihat enggan untuk berada di sisiku. Apa aku sangat salah untuk menyukaimu?”

 

Shinri memalingkan wajah ketika Siwon menatapnya lekat. Gadis itu meletakkan kembali kain kasa setelah selesai mengobati wajah Siwon. Ia bangkit dari duduknya lalu meraih mantelnya. “Terima kasih atas pertolonganmu. Aku akan pulang kalau begitu.”

 

Siwon mencegatnya dengan menahan lengan gadis itu. Shinri meronta darinya namun Siwon kekeuh kali ini untuk mempertahankan gadis itu. Di sentaknya tangan Shinri sehingga gadis itu menjatuhkan kembali mantelnya. “Yya! Aku mau pulang!”

 

“Kau hampir saja celaka karena pria-pria hidung belang yang hendak menyentuhmu! Kau masih mau kembali selarut ini? Kau tidak takut? Pikirkan apa yang akan terjadi jika aku tidak datang saat itu!” Suara Siwon meninggi dan selaras dengan wajahnya yang memerah menahan amarah. Begitu juga dengan nafasnya yang naik turun. “Gajima. Tetaplah di sini dan berhenti membuatku khawatir terhadapmu.” Ujarnya dengan wajah yang sedikit melunak dari sebelumnya.

 

Shinri menghela nafas pendek-pendek. Tidak. Ia tidak bisa berdiam diri bersama pria ini jika ia tak mau perasaannya kembali membuncah untuk Siwon. Ia tidak mau berdebar dan kembali jatuh cinta padanya.

 

“Aku tahu semuanya, alasanmu membenci orang kaya. Aku tahu karena Myungsoo membantuku.”

 

Lamunan Shinri pecah tatkala mendengar ucapan Siwon. Di tatapnya pria itu dan Shinri langsung merutuki Myungsoo yang benar-benar bermulut besar.

 

“Aku tidak akan seperti itu, Ri-ah. Aku tidak akan menyakitimu seperti apa yang gadis itu lakukan pada kakakmu. Aku benar-benar mencintaimu dan tolong percaya padaku.” Ujar Siwon bersungguh-sungguh. Di tatapnya wajah Shinri dan Siwon tahu bahwa gadis itu tengah menahan tangis.

 

“Pembohong.” Cetus Shinri dengan Mata yang berkaca-kaca. Detik berikutnya, gadis itu jatuh terisak dalam kepedihan ketika di ingatnya kembali betapa rapuhnya ia saat kehilangan sosok kakak sulungnya itu. Hingga kejadian itu memberikan ia sebuah pelajaran untuk tak terlibat dengan tipe manusia yang berkelakuan sama. Shinri memberikan tameng kokoh di hatinya akan prinsipnya itu namun semuanya hancur saat ia bertemu Siwon. Dan untuk pertama kalinya, Shinri melanggar komitmennya karena pria itu juga.

 

“Stt… Jangan menangis.” Tak tahan melihat tubuh itu bergetar, Siwon menariknya jatuh dalam pelukannya yang hangat. Pria itu memejamkan mata ketika ia merasakan betapa lemahnya gadis itu kini. Di kecupnya beberapa kali puncak kepala Shinri untuk sekedar menenangkannya.

 

Ketika merasakan Shinri yang sudah lebih tenang, Siwon melepaskan pelukannya. “Lihat aku, Ri-ah.” Ujarnya seraya menengadahkan dagu gadis itu untuk menatap matanya.

 

“Aku sungguh-sungguh padamu. Aku menyukaimu dan itu adalah tulus dari hatiku. Karena kau gadis yang berbeda yang mampu membuatku merasa lebih hidup. Karena itu aku mencintaimu. Percaya padaku, heum?” Siwon menatap lekat dan tepat pada iris mata gadis itu. Tidak ada dusta dalam matanya dan Shinri bisa merasakan itu semua.

 

Jarak mereka yang memang tidak terlalu jauh, membuat Siwon merengkuh tubuh Shinri semakin merapat ke tubuhnya dengan posesif. Ia tahu Shinri mungkin terkejut, tapi ia hanya ingin menyampaikan perasaannya agar gadis itu berhenti men-judge perasaan yang ia miliki.

 

Siwon mengecup lembut bibir Shinri yang telah menyatu dibibirnya. Cukup lama Shinri membatu ketika Siwon menciumnya. Wajar saja, ia menjadi kagok untuk membalas ciumannya daripada Siwon yang memang seorang pencium yang handal. Lihatlah bagaimana ahlinya ia membuat Shinri meremang dengan kecupannya yang makin menjadi-jadi itu.

 

Tersenyum dalam hati, saat perlahan tangan Shinri melingkar di bahunya dan bibirnya yang mulai membalas ciumannya. Siwon begitu semringah karena nyatanya ia tidak lagi mendapatkan penolakan darinya. Siwon Menghisap bibir merah muda itu seolah bibir Shinri adalah permen yang sangat manis.

 

Mereka terus menikmati sentuhan bibir lembut yang mereka ciptakan. Lumatan halus itu semakin menjadi menuntut seiring nafas mereka yang mulai tersengal kehabisan oksigen. Ketika Shinri sedikit membuka mulutnya guna mencari sedikit oksigen, dengan cepat bibir Siwon makin mendesak masuk untuk memperdalam pagutannya

 

Shinri mencengkram lengan Siwon saat ciuman manis itu semakin dalam dan membuai dirinya. Gadis itu tak bisa berpikir apapun untuk melepaskan diri dari Siwon saat hatinya tergelitik dan dengan sepenuh hati ia menyambut cumbuan dari pria itu.

 

Siwon semakin menarik pinggang Shinri dengan mesranya. Pria itu melumat bibir Shinri disertai dengan rasa aneh yang semakin melanda sisi primitif tubuhnya. Bibir merah Shinri membuatnya merasa enggan pergi meninggalkan bibir indah itu. Tangannya naik dan mengusap pelan punggung Shinri dari balik baju.

 

Perlakuan pria itu membuatnya melayang ke langit ketujuh. Sungguh memikat. Dengan penampilan sexy Siwon dengan rambut hitam dan kemejanya yang tiga kancing atasnya sudah terbuka itu.

 

Siwon melepaskan pagutannya, lantas beralih mengecup sisi kiri bibir Shinri. Lalu berpindah ke leher putih gadis itu, dan ia membuat satu tanda kepemilikannya di sana. Dan hal ini membuat kepala Shinri pening.

 

Seolah dirinya di hantam kenikmatan yang bertubi-tubi dari perlakuan menggoda namun lembut yang ia dapatkan dari Siwon. Dan tanpa sadar justru ia memejamkan mata ketika tangan besar Siwon menyusup dalam bajunya dan menyentuh kulit mulusnya yang sukses membuatnya meremang dan menginginkan hal lebih.

 

Namun, ketakutannya membuncah saat pikirannya sadar kemana sentuhan ini akan berlanjut. Maka, dengan sisa keberanian yang ia punya, di dorongnya dengan pelan dada Siwon tanpa berani untuk menatap mata pria itu.

 

“A—aku belum bisa. Mianhae.” Lirih gadis itu dengan pelan. Keduanya sama-sama merasakan rasa frustasi di ambang batas gairah mereka yang hampir meledak.

 

“Tidak. Justru aku yang minta maaf.” Siwon memahami bahwa benar Shinri belum siap batinnya. Tatkala ia juga menyadari perbuatannya yang hampir saja merenggut kesucian gadis itu sementara ia sendiri yang menyelamatkan gadis itu dari sekelompok pria brengsek yang hendak ‘bermain’ dengannya.

 

Siwon mendesis merutuki dirinya sendiri. Ia seolah membuat Shinri keluar kandang macan dan malah masuk dalam kandang singa.

 

Maka dengan penuh kelembutan, di peluknya gadis itu dengan damai dan hangat. “Tetap seperti ini dan jangan lagi menghindariku.” Ujarnya sembari mengecup lembut puncak kepalanya.

 

Siwon mengulum senyumnya ketika merasakan anggukan samar dari gadis itu.

 

* * * * *

 

Terjadi sedikit keributan di taman itu dengan si wanita yang tengah mengoceh sebal pada si pria yang hanya menyesap kopinya dengan santai. “Yya, mulutmu benar-benar bocor, Myungsoo-ya! Bagaimana bisa kau memberitahunya, huh?!”

 

Myungsoo hanya mengulum senyuman manisnya seraya mengorek kupingnya yang terasa panas mendengar semburan omelan dari Shinri. Pria itu mengambil buku kuliah Shinri dan membolak-balikkannya dengan asal. “Wah, tulis tanganmu cantik sekali, Ri-ah.”

 

Shinri mendesis. Di rebutnya buku itu lantas menggunakannya untuk menepuk kepala Myungsoo. “Jangan mengalihkan pembicaraan, bodoh!” Tukas Shinri kesal.

 

“Arra, arra.” Myungsoo mendengus. “Ish, harusnya kau berterimakasih bukannya malah marah-marah padaku. Berkat Kim Myungsoo yang baik hati ini, akhirnya kalian bisa bersama. Bukankah begitu?” Myungsoo lantas menyeringai melihat Shinri yang terdiam. “Kau sekarang sadar ‘kan? Mau berterimakasih padaku sekarang ‘kan?”

 

“Aish, diamlah!” Lantaran sebal dengan ocehan Myungsoo membuat Shinri menyumpal mulut pria itu dengan sebuah roti panggang yang ia beli di kantin kampusnya.

 

“Ayo pulang.” Myungsoo terkejut melihat Shinri yang sudah membereskan buku-bukunya. Pria itu memutar matanya untuk mencari alibi. “Kenapa? Kuliahmu sudah selesai?”

 

“Iya. Memangnya kenapa?” Tanya Shinri polos. Gadis itu mengerutkan dahi saat Myungsoo menarik tangannya untuk kembali duduk di kursi kayu itu. “Tunggu sebentar lagi. Aku sedang lelah.”

 

“Kau aneh sekali.” Celetuk Shinri yang hanya kembali duduk tanpa mengetahui apa maksud tersembunyi Myungsoo.

 

Myungsoo celingak-celinguk melihat sekitaran taman. Saat melihat seorang yang sedang di tunggunya, pria itu tersenyum lebar lalu mengangkat tangannya dan berteriak. “Hyung! Di sini!”

 

Shinri menutup telinganya karena teriakan Myungsoo. Gadis itu menoleh dan matanya membesar saat melihat Siwon tengah berjalan ke arah mereka. Ia menatap Myungsoo namun pria itu hanya memasang wajah tanpa dosa.

 

Setelah tepat ada di depan Shinri, Siwon memberikan gadis itu sebuah senyuman terbaiknya. Dan saat ia melihat Myungsoo, pria itu meninju akrab tangannya dengan gaya salaman a’la anak laki-laki. “Annyeong, hyung.” Sapa Myungsoo semringah.

 

“Annyeong, Myungsoo-ya.”

 

Shinri tercengang mendapati pemandangan itu. Sejak kapan kedua pria itu dekat bak sepasang saudara? Itu pikirnya.

 

“‘Hyung?’ ‘Myungsoo-ya?'” Shinri menirukan panggilan akrab antar dua pria itu. “Sejak kapan kalian mengenal dan jadi sedekat ini?” Heran Shinri.

 

“Kami memang dekat tanpa kau ketahui. Bukankah begitu, Myungsoo-ya?” Tanya Siwon yang segera di benarkan oleh Myungsoo.

 

Shinri merengut mendengarnya. Lantas ia beralih pada Siwon dan menatapnya penuh Tanya. “Dan darimana kau tahu aku di sini?”

 

Bukannya menjawab, Siwon terkekeh sembari melirik Myungsoo penuh arti. Shinri menatap tajam pria itu ketika sadar maksud Myungsoo menahannya tadi. Myungsoo buru-buru bangkit dan bergegas mengambil langkah seribu saat Shinri memandangnya dengan tatapan api berkobar di matanya.

 

“Hyung, jaga gadis itu agar dia tidak membunuhku. Aku pergi dulu.” Di tepuknya bahu Siwon sebelum ia menaiki motornya dan benar-benar melenyapkan diri dari amukan Shinri. Siwon hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabat baik itu.

 

* * *

 

Hujan turun deras mengguyur Seoul malam itu. Shinri duduk dalam Mobil Siwon ketika pria itu mengantarnya pulang kerumah.

 

“Lampu jalanan di sini sangat minim. Aku rasa aku harus mengantarmu pulang setiap hari untuk memastikan kau aman.” Celetuk Siwon sembari mendesah kecil memikirkan kejadian buruk tempo hari yang mengancam gadisnya.

 

“Lakukan saja jika kau mau.” Gumam Shinri yang samar-samar di dengar oleh Siwon. Pria itu tersenyum kecil sambil mengacak gemas rambut halusnya.

 

Mereka sampai di depan rumah kontrakan Shinri. Gadis itu menawarinya untuk segelas teh hangat dan Siwon menerimanya dengan senang hati. Saat Shinri membuka pintu, alangkah terkejutnya ia ketika tiba-tiba genangan air menerjang kakinya. Sontak ia menjerit karena kaget.

 

“Gwenchana?” Tanya Siwon khawatir. Celana panjangnya juga basah oleh air tersebut.

 

Shinri terbelalak kaget ketika mendapati seluruh isi rumahnya yang basah dan tergenang oleh air. Kasurnya basah, begitu juga dengan buku-buku kuliah dan seluruh bajunya yang sudah mengambang di mana-mana. “Aish, kebanjiran lagi!” Shinri merengek kesal sambil menghentakkan kaki.

 

Siwon terdiam. Lagi, katanya? Berarti bukankah itu artinya rumahnya sering kebanjiran untuk yang sudah-sudah?

 

Shinri segera menyelamatkan buku-buku kuliahnya yang ia tahu tak akan banyak membantu. Lalu ia mengangkat baju-bajunya yang telah kotor dan basah kuyup. Ia mendesah panjang dan mengusap wajah dengan frustasi.

 

Melihat itu, Siwon menggulung lengan bajunya hingga ke siku dan menghampiri gadis itu. Ia membantu menyelamatkan buku-buku pelajaran miliknya kemudian menempatinya di kresek kering. Shinri terdiam melihatnya. Ada rasa hangat di hatinya melihat sikap Siwon membantunya, dan ada pula rasa malu yang menderanya.

 

“Ini tidak akan bisa di tempati. Untuk sementara, tinggallah di apartmentku.” Ujar Siwon dengan lembut. “Yya, kau kenapa?” Siwon merendahkan tubuhnya melihat wajah gadis itu.

 

“Aku malu karena kau melihat kejadian ini. Aku sangat memalukan.” Shinri mendesis seraya menutup wajahnya yang memerah. Siwon terdiam sebelum ia berhasil mencerna ucapan gadis itu dan menahan tawanya kemudian.

 

* * *

 

Shinri berdiri di depan kaca besar di kamar mandi seraya melihat tampilannya kini. Siwon meminjamkan baju kebesaran miliknya yang cukup panjang untuk menutupi seperempat pahanya. Setelah selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamarnya untuk mengintip kamar Siwon yang berada tepat di sebelah kamarnya.

 

Shinri mengitari apartment besar milik pria itu dan saat pandangannya terhenti pada ruang keluarga, wajahnya lantas bersemu ketika mengingat mereka sempat berbagi ciuman panas di sana. Shinri terkekeh kecil lalu menutup wajahnya yang merona.

 

“Sedang apa?”

 

Shinri terkesiap mendapati Siwon yang kini berdiri di belakangnya. Ia tampak salah tingkah saat Siwon menatap penampilannya dengan intens. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Waeyo? Apa aku aneh memakai pakaianmu?”

 

“Aniya. Kau bahkan lebih cantik memakai pakaianku.” Ucap Siwon yang sukses membuat Shinri membatu karena merasakan wajahnya yang kini sepanas api.

 

* * *

 

Shinri berdiri di depan jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan basah hujan yang membuatnya tenang. Gadis itu melipat tangannya di dada guna sedikit meringankan rasa dingin yang menderanya.

 

Tiba-tiba saja, ia tersentak kaget ketika seseorang memeluknya dari belakang lengkap dengan sebuah selimut yang membungkus tubuh keduanya. Shinri menoleh dan mendapati Siwon yang tengah menyandarkan dagu pada bahunya.

 

“Kenapa tidak masuk jika kau kedinginan, heum?” Tanya Siwon dengan nada lembut. Di sekanya rambut panjang gadis itu ke belakang telinga agar ia bisa melihat wajah cantik itu lebih jelas.

 

“Tidak apa-apa. Hanya sedang ingin melihat hujan.” Ujar Shinri sembari tangannya yang perlahan mulai membalas pelukan Siwon di perutnya. Mulanya ia ragu-ragu, namun memikirkan betapa pria itu memperlakukannya dengan manis, membuat Shinri merasa harus ikut menunjukkan perhatiannya.

 

“Besok aku akan kembali ke rumah untuk membersihkannya.”

 

“Apa? Kenapa cepat sekali? Tinggallah bersamaku lebih lama.” Protes Siwon yang sedikit tak setuju dengan ide gadis itu. “Dan untuk rumahmu, aku akan menghubungi beberapa orang untuk membersihkannya. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Hanya tetap diam dan cukup duduk manis di sini maka semuanya akan beres.”

 

Shinri terdiam mendengar ucapan pria itu. Ia membalikkan badannya hendak menyuarakan protesnya namun kecupan yang membungkam bibirnya berhasil membuatnya membeku. “Sstt… Turuti aku kali ini, OK.”

 

Shinri akhirnya menyerah. Di anggukannya kepalanya beberapa kali sebelum matanya menjelajahi setiap sudut apartment Siwon yang besar itu. Terlintas sebuah pertanyaan yang tiba-tiba saja gatal ingin ia tanyakan pada pria itu.

 

“Boleh aku bertanya?”

 

“Heum, tentu saja.” Siwon mengangguk. Shinri menelan ludahnya sebelum ia membuka mulutnya kembali. “Berapa banyak gadis yang kau bawa ke sini selain aku?”

 

Siwon terdiam beberapa saat sebelum kemudian ia tertawa kecil. “Kenapa bertanya seperti itu? Kau cemburu?” Di elusnya lembut rambut halus itu sembari matanya tak lepas menatap intens wajah Shinri.

 

“Yya, jawab saja!”

 

“Tidak ada seorangpun. Hanya kau, adikku, dan ibuku yang sering aku bawa ke sini. Ah, dan juga beberapa kali aku memanggil Kim ahjumma untuk datang membersihkan apartmentku.” Jelas Siwon.

 

Shinri sukses menutup rapat-rapat bibirnya mendengar penuturan Siwon. Dilihat dari segi manapun, Shinri lagi-lagi tidak bisa menemukan raut kebohongan dari wajah rupawan itu.

 

“Kau tidak bohong ‘kan?”

 

“Aku bersumpah malah!” Siwon mengangkat dua jarinya ke atas.

 

“Arraseo. Kau tamat jika ketahuan olehku.” Ancam Shinri dengan delikkan tajamnya.

 

Siwon terkekeh senang sambil kembali mendekap gadis itu dalam pelukannya. Ia menyukai sikap Shinri yang agresif untuk memproteksinya. “Jadi, Sekarang kau mengakui bahwa kau menyukaiku juga?”

 

“Aniya. Siapa bilang seperti itu.” Sanggah Shinri dengan cepat. Katakan saja kegengsiannya lebih tinggi dari hati bajanya itu.

 

“Jinjjayo?” Siwon melebarkan jarak tapi tetap tak melepaskan pelukannya pada pinggang gadis itu. “Kita lihat seberapa kuat kau menahannya, Nona keras kepala.” Siwon menenkankan ucapannya lalu tanpa aba-aba diciumnya bibir merah Shinri yang selalu mengundang pertahanannya.

 

Gadis itu menahan nafasnya ketika lagi Siwon menciumnya untuk kedua kali dengan kecupannya yang selalu lembut membuai tanpa ada paksaan. Tatkala Pria itu melumat bibir Shinri lamat-lamat dengan sedikit menuntut saat dirasanya Shinri yang mulai merespon ciumannya dengan tangannya yang ia kalungkan di lehernya. Siwon terkekeh kecil lantas menyadari gadis itu merespon dengan ikut menggerakkan bibirnya bahkan membuka akses mulutnya kepada Siwon.

 

Pria itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Sekali lagi ia dibuat melayang saat menyesap manisnya bibir Shinri yang membuatnya ketagihan. Semakin dalam ciumannya, maka semakin erat pula ia memeluk tubuh Shinri untuk mengikis jarak seminim mungkin. Tangannya mulai mengeksplorasi punggung Shinri dari balik baju kebesaran yang ia gunakan.

 

Siwon tak dapat menahan dirinya. Ia memeluk erat tubuh mungil gadisnya seolah tak ingin ia lepaskan. Ciuman yang sarat akan rasa cinta dan damba yang membuncah. Terhasut dengan gairahnya, ciuman tersebut berubah menjadi lumatan-lumatan dalam dan menciptakan bunyi kecupan yang kentara dalam ruangan besar itu.

 

Shinri mencengkeram lengan Siwon dengan kuat ketika ciumannya turun menuju leher dan hal itu sukses membuatnya menjadi pening seketika. Ciumannya terlalu mendominasi memberikan pengaruh yang besar pada bagian sensitif Shinri. Pria itu seolah tahu dimana letak titik sensitifnya hingga ia terus menyerang Shinri dan membuat gairah mereka tersulut. Tangan lincahnya menelusiri punggung Shinri dengan pergerakan yang tak tentu. Keduanya meremang dan mulai hanyut untuk menginginkan hal lebih.

 

Siwon menjauhkan wajahnya guna memberikan ruang bagi gadisnya untuk mengambil udara. Tatapannya tepat jatuh pada bibir Shinri yang memerah karena ulahnya. Shinri menunduk, ragu-ragu ia memandang Siwon ketika pria itu menghembuskan nafas hangatnya menyapu permukaan wajahnya.

 

“Eottokhaji, Ri-ah? Nyatanya aku yang tidak bisa menahan diriku.” Desahnya dengan ekspresi tertahan dan wajah yang kentara frustasi. Shinri menelan ludah karena ia juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Siwon rasakan.

 

Maka dengan kagok Shinri menatap Siwon dengan tatapan penuh makna. Pria itu menatapnya, dan seolah mengerti dengan apa yang gadis itu pikirkan, Siwon lantas sedikit kaget.

 

“Aku tidak akan mau melakukannya jika kau tidak siap, Ri-ah.” Siwon menatapnya dengan sungguh-sungguh. Berusaha menekan gairah dalam dirinya yang sudah membuatnya begitu pening.

 

“Gwenchana. Kajja.” Shinri menarik tangan Siwon dan dalam hati ia begitu menyumpah dirinya yang begitu nakal untuk mengajak seorang pria bermalam dengannya untuk melakukan suatu hal yang baru pertama kali ia lakukan sebagai seorang dewasa. Shinri berusaha menahan malunya dan anggap saja jika ia sudah memotong habis urat malunya malam itu.

 

“Jangan menyesalinya karena aku tidak akan berhenti meskipun kelak kau memintanya.” Ujar Siwon yang segera dibalas anggukan setuju dari gadis itu.

 

Maka saat Siwon kembali melumat bibirnya Shinri membalas dengan sepenuh hati. Pria itu membopong tubuhnya untuk menuju kamar pribadi Siwon di lantai dua sambil  terus mencium bibir Shinri, melumatnya tanpa henti.

 

Shinri merasakan hempasan pelan ketika tubuhnya merasakan jatuh pada permukaan yang empuk. Tatkala ia menyadari jika sekarang ia sudah mendarat di singgasana kebesaran kekasihnya itu. Siwon menindih tubuh Shinri, menumpu berat badannya pada kedua sikunya, lalu kembali melumat bibir Shinri.

 

“Eunghh…” Gadis itu mendesah tertahan di sela-sela ciuman mereka.

 

Siwon menghentikan ciumannya sejenak lalu berpindah untuk mengecup sayang dahi gadis yang berada di bawah kuasanya itu.

 

“Aku tidak akan melepasmu mulai sekarang karena kau akan segera menjadi milikku. Saranghae.”

 

Shinri mengulum senyuman manisnya mendengar ucapan Siwon. Ya, ia yakin untuk melakukannya. Sebab tidak akan ada rasa penyesalan yang terjadi jika mereka melakukannya dengan cinta.

 

“Nado saranghae…”

 

 

 

 

 

[Love Terrains / Part 1 : END]

Okeee~~ sampai juga di part 2 dengan konflik yang cetarrr😂. See you #bow

38 thoughts on “Love Terrains Part 1

  1. Biasax aku hnya baca ff kyuhyun, baru kali ini coba baca yg main cast x bukan kyu, dan aku tak menyesal memilih ini, ceritanya keren

    Suka

  2. Konfliknya blm ada…. penasaran deh… apa penolakan dr kluarga choi, atw siwon punya cewek lain, atw adik siwon ternyata cewek yg udah menyebabkan kakak shinri meninggal??

    Suka

  3. Jgn terlalu cetar konfliknyaaa chinguuu

    Ntar mereka pisah lagi
    Sdg manis2nya ini

    Konflik soal kasta atau konflik soal ap ya chingu

    Suka

  4. Waahh mereka mau ngelakuin itu…??
    Apakah hubungan mereka bakalan berjalan dgn baik yaa..??
    Penasaran bgt sama kelanjutannya.. 🙂

    Suka

  5. kira kira konflik apa yg bakal menimpa mereka? baru anget angetnya pacaran wkwk
    jangan jangan restu ortu hmmm
    ditunggu next partnya aja deh thor

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s