Break The Forecast Part 1


 

Author : Auroragong-ju

Tittle : Break the Forecast

Category : NC18, Yadong, Romance, Chapter

Cast :

  • Cho Kyu Hyun
  • Ji Yeon Hee

Other Cast :

  • Henry Lau
  • Lee Ye Eun

 

 

‘Bertahan karena hati, mirip seperti sebuah pohon yang tidak akan pernah berpindah. Karena, sebagian tubuhnya telah mengakar kuat dengan tempat di mana ia tumbuh.’

 

 

***

 

 

Bab 1

 

“Akan lebih baik kalau kau memainkan lagu itu dengan latar berwarna putih. Tampak suci dan sakral,” ucap si gadis yang terlihat serius sembari mengacung-acungkan pensil di tangan kanannya. Tak lama, gadis berwajah mungil itu tampak sibuk dengan rambutnya. Pensil yang sebelumnya terus ia ajak beradu dengan angin, kini ia gunakan untuk tusuk rambutnya yang ia tata dengan asal.

 

Satu-satunya pria di ruangan itu, kini berdecih dan menggelengkan kepalanya. Kemudian, pria berpipi bulat itu tampak menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan gadis lain yang tampil anggun dan kini terlihat bersiap untuk menyampaikan isi pikirannya.

 

“Pensilnya, Ji Yeon Hee,” pinta si gadis bersurai hitam legam yang kini tetap memasang ekspresi lembut, walau tampak tidak suka dengan kelakuan salah satu rekannya. Tubuhnya yang tinggi semampai, juga proporsi tubuhnya yang sangat ideal itu, sungguh membuatnya terlihat seperti boneka Barbie hidup.

 

“Aduh, panas. Bisakah kau ambil pensilmu sendiri?” balas gadis bernama Yeon Hee yang memiliki rambut cokelat bergelombang. Tampak berbanding terbalik dengan si gadis anggun, Yeon Hee tetap menunjukkan pesonannya sendiri. Tubuhnya tidaklah pendek. Hanya, ia juga tidak masuk dalam golongan gadis bertubuh tinggi. Walau begitu, Yeon Hee tampak mungil karena berat tubuhnya yang berada di bawah rata-rata patokan ideal. Tak kalah dengan si Barbie hidup, Yeon Hee juga memiliki paras yang cantik dengan mata yang memiliki garis eyesmile.

 

“Pakai ini…”

 

“Terima kasih, Henry-ah.”

 

Yeon Hee langsung menundukkan kepalanya dan bergaya seolah dirinya tengah memulai fokus untuk memahami coretan di atas kertas berwarna merah muda. Jauh di dalam diri Yeon Hee, jantungnya bergemuruh dan hatinya berkedut nyeri. Inilah imbas dari sebuah cinta sepihak sekaligus cinta diam-diam. Sudah jelas hanya melihat dari gelagatnya, maka orang akan tahu jika Yeon Hee memiliki perasaan pada pria bermata sipit yang menjadi rekan kerjanya itu. Ya, sebuah perasaan untuk Henry Lau yang telah ia pendam sejak lama. Sayang, perasaan dan gelagat cintanya untuk Henry selalu tertutup dengan selimut bernama persahabatan. Miris memang, tapi Yeon Hee tidak ingin mengambil risiko. Karena dia tidak tahu perasaan Henry terarah kepada siapa. Dirinya kah, atau…

 

“Ye Eun-ah, sudah mau jam tujuh malam. Kau tidak memasak untuk kakakmu?”

 

Baik Yeon Hee ataupun Ye Eun, kini kompak menatap ke arah Henry, si penyanyi sekaligus pemain biola andal dan tengah berusaha menapaki puncak popularitas. Keduanya menunjukkan gerakan yang berbeda setelah itu. Yeon Hee tampak membuang muka dan kembali fokus dengan kertas-kertas berisi draft pekerjaannya. Sedangkan Ye Eun segera beranjak dan berjalan menuju dapur yang posisinya ada di belakang ruang keluarga—tempat mereka berkumpul sekarang.

 

“Kau mau ke mana?” tanya Yeon Hee saat melihat Henry beranjak setelah beberapa saat lalu Ye Eun meninggalkan mereka.

 

“Membantu Ye Eun memasak. Jangan bilang kalau kau mau ikut, dapur di rumah ini bisa hangus terbakar,” balas Henry yang masih berdiri diam sembari menunduk menatap Yeon Hee yang masih duduk.

 

“Kau tega meninggalkanku sendiri?”

 

Henry terkekeh melihat ekspresi penuh harap dari Yeon Hee. Selalu seperti itu ketika mendekati jam makan. Kadang Henry pergi untuk memesan makanan jika mereka berkumpul di apartemennya. Sesekali waktu, Henry meninggalkan Yeon Hee dengan segunung konsep konser dan memilih untuk menemani Ye Eun memasak.

 

Tanpa menjawab pertanyaan Yeon Hee, Henry berjalan santai menuju dapur sembari melambaikan tangan ke arah Yeon Hee. Tanpa rasa bersalah. Catat.

 

“Dia pikir aku siapa? Kenapa aku yang mengerjakan semuanya dan mereka hanya ber-hahahihi di dapur?” keluh Yeon Hee dengan tatapan jengah. Tangan kanannya segera mengambil pensil yang sebelumnya ia gunakan untuk mengaitkan rambutnya. Hingga akhirnya, rambut Yeon Hee kembali tergerai dengan tidak rapi.

 

Suara obrolan dan tawa bercampur suara alat dapur menyapa pendengaran Yeon Hee. Gadis yang sedang meredam emosi itu, kini tengah membuat konsep untuk konser solo Henry yang akan digelar di gedung daerah Gangnam. Hatinya terus saja mengomel, untung saja otak dan tangannya tetap bisa diajak kompromi. Hingga akhirnya, matanya terhenti pada sela kosong dari kertas yang sejak tadi ia beri coretan hingga membentuk tulisan berantakan.

 

Seharusnya aku meninggalkan mereka dan membiarkan mereka menyelesaikan ini sendiri. Rasanya, aku seperti pembantu di sini. Tapi… hati sialan ini yang membuatku duduk seperti orang dungu. Luar biasa menyedihkan sekali hidupmu itu, Ji Yeon Hee…

 

Yeon Hee mendengar suara langkah kaki dari arah ruang depan. Tanpa menoleh, ia sudah sangat tahu siapa tokoh dibalik suara ketukan berirama konstan itu. Tak butuh waktu lama, Yeon Hee mencium aroma parfum pria yang bercampur dengan keringat. Walau begitu, wangi pinus yang tercium lebih mendominasi indra penciumannya.

 

“Sendiri lagi?” tanya pria yang kini sudah duduk di samping Yeon Hee. Penampilan pria itu terlihat jauh dari kesan rapi. Jas yang seharusnya membalut tubuh, kini sudah disampirkan ke pundak kirinya. Juga, pria itu hanya mengenakan kaus biru muda polos berlengan pendek dan dipadukan dengan skinny jeans berwarna cokelat tua.

 

“Tidak. Ada kau di sampingku,” balas Yeon Hee dengan nada datar. Selalu seperti itu jika ia berhadapan dengan pria ini. Pria yang memiliki wajah aristokrat dan bertubuh tinggi berisi. Dilihat sekilas dari fisik, pria yang memiliki kulit putih pucat ini adalah tipe pria idaman Yeon Hee. Catat, hanya dari fisik. Yeon Hee kemudian mencoretnya dari daftar pria idaman karena sifat yang dimiliki pria itu.

 

“Berbasa-basi denganmu benar-benar membosankan. Membuang waktu saja.”

 

Ketika pria itu beranjak, Yeon Hee berkata, “Sudah tahu begitu, tetap saja dilakukan. Aneh.”

 

“Ingatkan aku kalau kau anak dari sahabat ibuku. Kalau tidak, aku pasti akan langsung memotong rambut panjangmu itu, Rapunzel!”

 

“Cho Kyu Hyun!”

 

Tanpa mendengarkan ocehan Yeon Hee lagi, pria bernama Cho Kyu Hyun itu berjalan dengan santai menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Kyu Hyun bahkan melewatkan adegan di mana Yeon Hee segera menyentuh rambut tergerainya yang panjangnya nyaris menyentuh pantat. Bahkan, Yeon Hee segera mencari ikat rambut yang sebelumnya ia taruh asal. Kemudian, Yeon Hee menggelung rambutnya dengan lebih rapi.

 

Hampir 45 menit sepeninggalan Kyu Hyun tadi, Yeon Hee tampak sibuk dengan lembaran-lembaran kertas yang kini semuanya hampir penuh dengan coretan-coretan pensil di tangannya. Beberapa kali Yeon Hee bersenandung dan terkadang ia menyanyikan lagu trot di sela kesibukannya.

 

Ye Eun tampak berlari kecil, kemudian menghentikan langkahnya di bawah anak tangga terakhir. Kemudian, ia mendongakkan kepalanya ke arah pintu kamar Kyu Hyun. Saat itulah Yeon Hee mengangkat kepalanya dan semakin merasa jengah dengan segala tindak-tanduk Ye Eun.

 

Selama mereka bersahabat, sebenarnya Yeon Hee mengetahui satu rahasia besar Ye Eun yang tidak diketahui orang lain. Rahasia itu tidak lain dan tidak bukan, adalah cara Ye Eun bersikap dan memasang ekspresi di wajahnya. Terkadang, Yeon Hee muak dengan sepak terjang sahabatnya itu yang sangat menyebalkan di matanya. Bagaimana tidak, ia bisa melihat jika Ye Eun sudah belajar mengatur mimik muka dengan sangat baik. Seperti, bagaimana cara tersenyum, memainkan gerakan matanya, menggerakkan bibirnya, dan masih banyak lagi. Konyolnya, Yeon Hee memang pernah memergoki Ye Eun ketika gadis itu tengah bertemu dengan kaca. Ia ingat, dulu dirinya sempat bertanya, “Kenapa kau tersenyum dan mengedipkan mata seperti kucing betina yang ingin menarik perhatian para pejantan?” dan yang Ye Eun lakukan hanyalah tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

 

Tak lama, Yeon Hee yang semakin merasa jengah, kembali memfokuskan diri untuk menyelesaikan pekerjaannya. Baginya, memikirkan kebenciannya pada orang lain sangatlah tidak berguna. Toh ia juga tidak merasa lebih baik dari Ye Eun. Kenyataan itulah yang semakin membuat Yeon Hee jengah dengan dirinya sendiri.

 

Lalu, apa yang bisa aku banggakan terhadap diriku sendiri?

 

“Kyu Hyun oppa, segeralah turun! Ayo makan malam!” teriak Ye Eun dari tangga terbawah. Walau berteriak cukup keras, suara Ye Eun tetap terdengar lembut di telinga. Ye Eun kemudian menoleh dan mendekati Yeon Hee. “Hee-ya, ayo makan.”

 

Suara langkah kaki Kyu Hyun membuat Yeon Hee memutar bola matanya. Benar-benar terdengar seperti suara lari anak kecil dan Yeon Hee juga tidak suka dengan sikap Kyu Hyun selanjutnya yang sudah ia tebak.

 

“Masak apa?” tanya Kyu Hyun dengan nada bicara yang lembut. Juga, Kyu Hyun merangkul pinggang Ye Eun dan berjalan bersama menuju ruang makan. Persis seperti dugaan Yeon Hee.

 

“Kau memiliki limpahan kasih sayang dari Tuhan, Ye Eun-ah. Betapa silau mataku melihat indahnya kehidupanmu,” gerutu Yeon Hee yang kini sibuk sendiri membereskan kertas-kertas berserakan di atas meja.

 

“Hee-ya, cepatlah! Kami sudah sangat lapar!” teriak Henry dari ruang makan.

 

Yeon Hee mendesis sedih. Setiap kali ia membandingkan kehidupannya dengan Ye Eun, rasa iri itu semakin terpupuk. Ditambah, melihat Henry yang lebih dekat dengan Ye Eun, sungguh menyakiti hatinya.

 

“Seharusnya kau hentikan dulu pekerjaanmu ketika teman-temanmu sudah mengajakmu makan,” tegur Henry.

 

Baru saja duduk di kursi kosong yang bersebelahan dengan Henry, Yeon Hee langsung berdiri kembali. Hatinya sudah benar-benar panas dan sangat tidak suka dengan nada bicara, tatapan, serta perlakuan Henry untuknya. Walaupun ia menaruh hati pada pria itu, terkadang kemarahan terhadap Henry tetap menghampiri hatinya.

 

“Kalian makan saja.” Yeon Hee membuang napas panjang. Tiba-tiba ia melihat ekspresi Henry yang berubah. “Pekerjaanku sudah beres. Kau bisa membahasnya dengan Ye Eun. Mau kalian revisi atau rombak total, aku persilakan.”

 

“Yeon Hee-ya…” Ye Eun mencoba menengahi. Sebenarnya ia juga tidak enak hati. Karena saat mereka tengah menghidangkan makanan tadi, Ye Eun mengaku telah kelaparan. Pasti Henry melakukan itu semua agar Ye Eun segera makan tanpa memedulikan kesibukan orang lain.

 

“Kalau begitu aku pulang. Selamat makan malam.”

 

Yeon Hee langsung berjalan menuju ruang keluarga untuk mengambil tasnya dan berjalan keluar. Tidak ada satu orang pun yang berani menghentikan langkah Yeon Hee. Tampak jelas jika gadis itu tengah menahan segala kemurkaan dan biasanya Yeon Hee akan mogok bicara selama mungkin.

 

“Keterlaluan sekali.”

 

Ye Eun dan Henry langsung melemparkan pandang ke arah Kyu Hyun yang tiba-tiba berbicara dengan nada dingin.

 

“Kau tidak melihat Yeon Hee tengah bekerja keras menyelesaikan pekerjaan kalian? Mirisnya, kau mementingkan egomu hanya demi perut,” gerutu Kyu Hyun tanpa berminat menatap ke arah Henry.

 

Ye Eun menunduk dan tampak gusar. Diliriknya Kyu Hyun yang tiba-tiba memasang ekspresi datar sembari mengambil lauk pauk dan mulai menyantap makan malam. Di seberangnya, Ye Eun mendapati Henry tengah menunduk tanpa menyentuh makanan yang telah mereka masak.

 

“Ya sudah, ayo kita makan dulu. Besok kita minta maaf pada Yeon Hee,” ucap Ye Eun diiringi senyum tipis.

 

 

***

 

 

Yeon Hee berjalan memasuki rumahnya dengan langkah lesu. Tujuan utamanya sekarang adalah ruang makan. Benar saja, di sana sudah terhidang beberapa lauk pauk dan sudah ada tiga orang yang terlihat tenang menyantap makan malam mereka.

 

“Aku pulang…”

 

“Oh! Katanya kau sedang menyelesaikan pekerjaanmu di rumah Cho Kyu Hyun.” Kakak laki-laki Yeon Hee langsung melempar pertanyaan walau mulutnya penuh dengan makanan.

 

Oppa, telan dulu makananmu! Menjijikkan!”

 

Tanpa cuci tangan, Yeon Hee langsung mengambil mangkuk nasi dan mengisinya dengan penuh. Juga, Yeon Hee mulai mengambil galbi yang tersaji tak jauh dari hadapannya. Dengan menggunakan sendok, Yeon Hee mengambil kimchi di mangkuk Jun Jin—kakak Yeon Hee—hingga membuat pria itu memelototkan matanya. Saat makan seperti ini, Yeon Hee kembali dilingkupi rasa iri. Ia kembali menyadari kekurangannya. Ya, ia tidak bisa makan menggunakan sumpit. Karena hal itu, makan menggunakan sumpit terlihat lebih enak, begitu pikir Yeon Hee.

 

“Kau sedang ada masalah, ya?” bisik Jun Jin setelah menelan makanannya.

 

Yeon Hee hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menyuapkan sesendok penuh nasi ke mulutnya. Melihat hal itu, orang tua mereka hanya menggelengkan kepala.

 

Setelah acara makan malam yang sepi karena pembuat onar sedang dilanda kejatuhan suasana hati, Jun Jin segera menghampiri sang adik yang sudah bergelung selimut di atas ranjang. Mereka selalu seperti ini, akan menghampiri satu sama lain ketika merasa salah satu dari mereka tengah membutuhkan sandaran. Sisi ini dibawa oleh Jun Jin dulu, karena jarak usianya dengan Yeon Hee memang cukup jauh. 10 tahun. Jun Jin pun sangat menyayangi Yeon Hee setelah dulu, Jun Jin kecil sangat lama menantikan kehadiran seorang adik.

 

“Sepertinya malam ini gemintang tidak tampak, membuat langit terlihat kelam.”

 

“Langit malam memang kelam.”

 

Jun Jin tersenyum mendengarkan balasan Yeon Hee. Adiknya itu sangat mudah memakan umpannya. Kemudian, Jun Jin segera bergabung dengan Yeon Hee di atas ranjang yang tidak begitu luas. Diusapnya kepala Yeon Hee dengan sayang dan tak lupa ia berikan kecupan di puncak kepala sang adik.

 

“Kau hanya belum melihat dari sudut pandang lain.”

 

Terdengar helaan napas panjang dari Yeon Hee yang tampak ingin menampik ucapan Jun Jin.

 

“Katakan, apa yang membuatmu risau hingga mengatakan langit malam itu kelam?”

 

“Seperti biasa, dia tidak peka. Dia selalu saja bersikap baik pada Ye Eun dan mengabaikanku. Kalau saja tidak ada Ye Eun, dia akan terus menempeliku.” Yeon Hee mengerucutkan bibirnya. “Semakin hari aku merasa sangat iri dengan kehidupan Ye Eun. Apa kurangnya dia? Kenapa hidupnya terlalu sempurna?”

 

“Contohnya?” Jun Jin buru-buru berdeham setelah melihat lirikan adiknya yang sangat tajam. “Maksudku, selain karena Ye Eun mendapatkan kasih sayang dari pria itu?”

 

“Bukan hanya Henry yang memberikannya kasih sayang. Si Madam Gothel Cho Kyu Hyun itu juga sangat memperhatikan Ye Eun. Belum lagi orang tua dan orang-orang di sekitar Ye Eun. Aku selalu tersisihkan seperti makanan berlemak di piring. Oh… betapa meyakitkan mata melihat kehidupan sempurnanya!”

 

Tangan Jun Jin di kepala Yeon Hee bergerak untuk mengusap lembut rambut sang adik yang tergerai. “Rupanya Yeon Hee ku tetaplah Yeon Hee kecilku.”

 

Oppa!”

 

“Berapa usiamu?”

 

“24 tahun.”

 

“Cobalah buka matamu dan lihat sisi lain dari hal yang selama ini enggan kau lihat.” Suara Jun Jin terdengar sangat tertata dan lembut. Ia kini lebih terlihat seperti ayah yang tengah memberi petuah pada putri kecilnya yang tengah bersedih. “Tidak mungkin Ye Eun memiliki kehidupan sesempurna itu. Jangan lupa, di dunia ini tidak ada yang sempurna. Mari kita urai sedikit informasi tentang Ye Eun yang kita tahu. Juga, mari kita urai kehidupan indah seorang Ji Yeon Hee yang masih sangat manja ini. Ayo kita bandingkan.”

 

Yeon Hee hanya diam sembari membuka telinganya lebar-lebar.

 

“Ye Eun adalah gadis yang cantik secara fisik dan Ji Yeon Hee tidak kalah dengannya. Hanya, memang tubuh Ye Eun lebih proporsional dibanding tubuhmu.” Jun Jin mencolek hidung mancung Yeon Hee dan memasang ekspresi jenaka. “Jangan marah. Kita harus obyektif di sini. Ok?”

 

Call.”

 

“Lee Ye Eun itu pernah menjalani waktu yang berat ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah di usianya yang masih kecil. Kalau kata Ae Rin, itu pukulan berat untuk seorang anak karena ia pernah mengalami di posisi itu. Coba kita bandingkan dengan kehidupanmu bersama keluarga. Kau tumbuh di tengah keluarga yang rukun dan hangat. Ada ayah dan ibu yang selalu menyempatkan waktunya untuk mendampingimu. Juga, ada kakak tertampanmu yang sangat menyayangi dan memperhatikanmu.

 

“Kau unggul satu tingkat dibanding dirinya. Kalau sekarang Ye Eun terlihat sangat diperhatikan banyak orang, itu karena ia terlihat seperti anjing yang membutuhkan kasih sayang. Makanya orang-orang berbondong-bondong menunjukkan kasih sayang itu untuknya. Tapi kau? Kasih sayangmu sudah berlimpah dan itu membuatmu terlihat sangat kuat. Makanya, orang tidak mau mengasihanimu.”

 

Dalam diamnya, Yeon Hee meresapi fakta yang kakaknya jabarkan. Kebenaran itulah yang terus membuat Yeon Hee setia mengunci bibirnya.

 

“Kau dan Henry lulusan tercepat saat kuliah dulu. Bahkan kalian berdua sama-sama naik podium karena prestasi kalian itu. Lalu Ye Eun? Dia lulus satu tahun setelah kalian. Kau bisa menyanyikan banyak jenis lagu, Ye Eun tidak. Bahkan, dia tidak bisa menyanyi lagu trot. Ayo, apalagi yang ingin kau keluhkan?”

 

Yeon Hee mengangkat bahunya. Kemudian, kepalanya ia dongakkan untuk menatap sang kakak. “Sekarang yang ada di pikiranku, adalah sebuah pertanyaan besar. Bagaimana Oppa bisa berbicara sangat bijak seperti ini?”

 

“Dari novel yang Ae Rin tulis.” Jun Jin mengakui dengan bangga. “Konflik pemeran utama di novelnya itu benar-benar mirip dengan kasusmu. Setelah membantunya me-review novel terbarunya ini, aku bahkan sangat hafal bab itu berada di halaman berapa.”

 

“Aku harus berterima kasih pada Yoo Ae Rin kalau begitu. Sungguh beruntung Oppa memiliki kekasih seperti dirinya. Lama-lama otak Oppa bisa cerdas.”

 

“Anak ini…”

 

 

***

 

Kyu Hyun segera naik ke kamar setelah menghabiskan makan malamnya. Ia tidak ingin berlama-lama di lantai satu dan menyaksikan kekompakan Henry dan Ye Eun. Lee Ye Eun. Wanita itu adalah adik tiri Kyu Hyun, berbeda ayah dan ibu. Namun, Kyu Hyun bisa menerima, bahkan bersikap baik pada gadis itu. Masalah utama terletak pada hatinya. Ya, Ye Eun sejak awal sudah menarik hati Kyu Hyun untuk terus memperhatikannya. Maka dari itu, Kyu Hyun sering merasa tidak suka jika Ye Eun tengah bersama Henry. Gadis itu akan terlihat tidak membutuhkan bantuannya.

 

Pemikiran Kyu Hyun tentang Ye Eun teralih ketika pandangannya kini tengah tertuju ke arah langit. Bintang dan bulan penyebabnya. Kyu Hyun kemudian teringat dengan kejadian beberapa tahun silam ketika ia masih menjalani pendidikan magisternya dan Ye Eun masih berada di tahun awal kuliah.

 

 

***

 

 

Oppa, percepat langkahmu.” Ye Eun berbicara dengan nada manja sembari menarik lengan Kyu Hyun.

 

Ketika Kyu Hyun dan Ye Eun nyaris mencapai puncak bukit, dua sosok sahabat Ye Eun tampak sudah duduk di rerumputan sambil berbincang santai. Kemudian, kepala keduanya menoleh ke arah kedatangan Kyu Hyun dan Ye Eun. Sekadar menyapa, kemudian mereka duduk di atas rerumputan dengan kompak. Tanpa melakukan perkenalan, Kyu Hyun sudah sangat tahu siapa sahabat Ye Eun itu. Pria berpipi bulat yang duduk paling ujung sudah sering berkunjung ke rumahnya—sekaligus rumah Ye Eun—dan sering membuat Kyu Hyun bosan hanya dengan melihat wajahnya.  Kemudian, gadis di samping Ye Eun adalah tetangga sebelah rumahnya yang sudah ia kenal sejak gadis itu masih bayi.

 

“Ji Yeon Hee, rambutmu sudah terlalu panjang,” ucap Kyu Hyun dengan nada datar dan tatapannya terfokus pada rambut panjang Yeon Hee yang baru sepinggang atas.

 

“Kalau rambutku sepanjang rambutmu, itu namanya rambutku pendek, Cho Kyu Hyun…”

 

Kyu Hyun memutar bola matanya. Selalu saja seperti ini. Sejak kecil mereka memang sering beradu mulut hanya karena masalah sepele. Namun, hubungan mereka tidaklah seperti sepasang musuh yang akan saling serang. Hanya adu mulut biasa.

 

“Kau ingin menjadi Rapunzel, ya?”

 

Yeon Hee menoleh dengan kecepatan penuh ke arah Kyu Hyun. “Kau masih ingat dongeng Disney itu?”

 

Hanya mengangkat bahu yang Kyu Hyun lakukan sebagai balasan dari pertanyaan konyol nan menggebu dari Ji Yeon Hee. Bagaimana bisa ia melupakan cerita itu kalau dulu ketika masih kecil, mereka sering bermain bersama. Ia dan kakak perempuannya yang kini sudah menikah, juga bersama Jun Jin serta Yeon Hee sering bermain peran. Tidak main-main, peran yang mereka mainkan berasal dari kartun-kartun yang sering Ahra dan Yeon Hee tonton. Hal paling parah, Kyu Hyun pernah disuruh berperan sebagai Madam Gothel dan Yeon Hee sebagai Rapunzel. Kemudian, Jun Jin dan Ahra menjadi sepasang suami istri yang harus merelakan anaknya untuk diberikan pada Madam Gothel. Peran pangeran dimainkan oleh tetangga samping rumah Kyu Hyun yang sebaya dengannya. Sampai akhirnya, kejadian itu benar-benar membekas di ingatan.

 

Kyu Hyun kembali menatap rambut Yeon Hee yang tertiup angin. Wajar ia teringat dengan dongeng Rapunzel, pasalnya rambut Yeon Hee berwarna kecokelatan dan sedikit memiliki kemiripan dengan rambut emas Rapunzel.

 

“Apa yang tengah kau perhatikan, Eun-ah?” suara Henry itu membuat Kyu Hyun mengalihkan pandangannya.

 

Ye Eun terlihat mendongakkan kepalanya dan tengah menatap langit yang malam ini terbebas dari mendung. Hamparan langit tersaji dengan sangat indah dengan hiasan sebuah bulan sabit dan ribuan bintang yang tampak berkerlap-kerlip membuat mata berbinar.

 

“Bulannya benar-benar cantik, tidak seperti bintang yang membuat mataku sakit,” ucap Ye Eun sembari tersenyum. “Bulan benar-benar sumber cahaya di malam hari.”

 

“Setahuku, bulan hanya mendapatkan pantulan cahaya dari sinar matahari,” celetuk Yeon Hee yang cukup sibuk mengatur rambutnya setelah beberapa kali mendapat terpaan angin malam.

 

“Benarkah?”

 

Kyu Hyun dan Henry tersenyum mendengar pertanyaan yang Ye Eun lontarkan.

 

“Secara teoretis memang begitu. Coba saja kau baca tentang tata surya. Dan bintang yang kau anggap mengganggu itu, nyatanya lebih mandiri dibandingkan bulan. Bintang mengalami proses pembentukan hingga akhirnya memiliki sinarnya sendiri.”

 

“Oh… aku baru tahu,” gumam Ye Eun sembari mengernyitkan keningnya dan juga mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham.

 

Pandangan Kyu Hyun kembali tertuju ke arah Yeon Hee yang terlihat masih sibuk mengurus rambutnya yang berkibar. Ia tidak heran dengan tingkah Yeon Hee ini. Sejak dulu Yeon Hee memang tak acuh dengan rambutnya. Sepanjang apapun, Yeon Hee paling tidak bisa mengikat rambutnya itu.

 

 

***

 

 

Suara ketukan pintu membuat Kyu Hyun mengalihkan pandangannya dari hamparan langit malam dan menemukan sang ibu sudah berdiri di ambang pintu. Walau sudah malam, Kim Hana masih berpenampilan rapi. Rambutnya yang ditata rapi bervolume sangat sepadan dengan pakaian formal yang masih melekat di tubuhnya. Perlahan, Kim Hana berjalan mendekati Kyu Hyun yang hanya menyambutnya dengan senyuman.

 

“Bagaimana harimu, Sayang? Dua minggu meninggalkanmu dan Ye Eun rasanya sangat lama.” Kim Hana segera memeluk Kyu Hyun dan mendaratkan kecupan ke kedua pipi Kyu Hyun.

 

“Baik, Eomma. Ada apa?”

 

Kim Hana mencubit lengan putranya. Sungguh, Cho Kyu Hyun-nya yang manja sudah berubah menjadi pria dewasa yang sangat irit berbicara dan cukup anti berbasa-basi.

 

“Apa salah, seorang ibu merindukan anaknya?”

 

“Tidak biasanya Eomma masuk ke kamarku sepulang dari menemani Abeoji dinas,” ucap Kyu Hyun bersamaan dengan dirinya mengangkat bahu. Tampak santai, tetapi tersirat kesan tak acuh.

 

“Kau benar-benar Cho Kyu Hyun yang berbeda. Astaga… waktu benar-benar cepat berlalu.” Kim Hana tampak mencoba untuk lebih menghangatkan suasana, tetapi Kyu Hyun tampak dalam suasana hati yang buruk. Sehingga, ibunya itu segera menyampaikan informasi yang ia bawa. “Lusa ulang tahun pernikahan Eomma dan Abeoji. Akan ada perayaan sederhana, dan Eomma harap kau berkenan menghadirinya.”

 

Kyu Hyun terdiam sejenak dan tampak memikirkan sesuatu. Kemudian, pria itu menghela napas panjang dan mengangguk semampunya. Tampak sekali jika keputusan yang baru saja Kyu Hyun ambil adalah sesuatu yang tidak datang dari hatinya. Sebuah keterpaksaan, dan Kim Hana tahu itu. Bagaimanapun juga, seorang anak tidak akan pernah bisa menggantikan sosok ayah dan ibu kandungnya dari dalam hati mereka. Walau sudah ada ayah atau ibu pengganti yang mencoba memberikan segala kasih sayang untuk mereka.

 

***

65 thoughts on “Break The Forecast Part 1

  1. bener juga maksud kakak yeon hee. pelajaran yang bisa di ambil syukuri apa yang ada, sebenarnya tuhan itu adil kita aja yang selalu nganggap nggak adil. kakaknya romantis banget, dari dulu pengen punya kakak. mau satu yang kayak gitu. di part ini safok dulu sama kakaknya yeon hee

    Suka

  2. Klw cewek carmu bgtu klakukanny sok2 imut ddpn abang kyu dn henry,
    Sabar neng yoen hee mrka smwa akn sadar bwa km lbh brarti dr dy ( mels nybutin nma muka dua) gkgkkk
    Semangatt kk bwt lanjutkn critaaay

    Suka

  3. Yeon hee tetep mandiri aja jangan dikit2 oppaaa oppaaaaa…
    Kamu cantik, pintar, disayang keluarga tapi gak ngebuat kamu jadi manja. Cm kekuranganmu satu gak bisa menata rambutmu yg super panjang itu..

    Suka

  4. Kok rasanya menyanyat hati banget ya???
    Kehidupan yeon hee kayak kehidupanku, suka seseorang tapi seseorang itu mengkhianatiku dg cara bertunangan dg orang lain… rasanya kayak gak mau lagi ketemu dia lagi meski berpapasan

    Lanjutin kak!!
    #nextchapter

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s