When The Smile Being Ornate Part 6


 

Author : Irene Cho

Tittle : Worrying

Category : NC17, Yadong, Romance, Chapter

Cast :

Cho Kyuhyun

Jung Nara

Disclaimer : Thisstoryismine! Don’tcopywithoutpermission!

Note : Terimakasih untuk admin FNC yang udah mau publish tulisanku di blog ini dan terimakasih juga buat reader yang udah mengapresiasi MOF. Ini ff pertamaku, maaf kalo ceritanya gaje, membosankan dan diksinya berantakan. Awas typo bertebaran.Ff ini sudah pernah aku publish di watty dan blog pribadiku.

 Happy reading ^^

 

~~~

 

Dibalik senyuman yang merekah ini, ada hati yang sekarat menunggu mati

 

Kyuhyun’sHome, Gangnam, Seoul.
10.00 PM KST

 

Nara POV

 

Aku membiarkan angin malam menerpa wajahku. Memberikan sensasi dingin yang menyegarkan pada wajah dan juga pikiranku. Cuaca cukup dingin malam ini, namun sama sekali tak membuatku menyurutkan tekad untuk menikmati udara malam musim dingin. Aku berharap angin malam bisa membawa semua rasa sesak yang terus menggerogoti hatiku ke samudra dan menenggelamkanya di sana, agar ada sedikit kelapangan di dalam dadaku. Tapi kejadian siang tadi selalu memenuhi pikiranku.

 

Flashback On

 

Aku berusaha menelan air mataku. Berusaha mengatasi air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata agar tidak mengalir di pipiku.

 

Aku sungguh tak sanggup melihat pemandangan di depanku. Mereka seperti keluarga bahagia, sementara aku hanyalah sosok transparan yang tak terlihat. Tiba-tiba aku merasa asing di rumahku sendiri.

 

Aku segera berlari ke belakang, ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur. Yang kuinginkan saat ini hanyalah menumpahkan cairan yang sudah tertumpuk di pelupuk mataku.

 

Saat melewati dapur, sekilas aku melihat Ahjumma Kim dan Minji menatap iba padaku. Namun aku tak mempedulikannya. Saat ini aku hanya ingin melepaskan perasaan sesak di dadaku.

 

Aku tau, tak seharusnya aku seperti ini. Aku sudah berusaha melapangkan hatiku. Menekan semua kesesakan yang memenuhinya, tapi perasaan sesak itu terus saja menyusup dan semakin menjadi-jadi.

 

Setelah sampai di kamar mandi, air mata itu jatuh membasahi pipi tanpa ku perintah, hingga akhirnya diikuti sebuah isakan. Aku tak bisa menahannya lagi, karena dadaku terasa begitu sesak. Aku terus terisak tanpa khawatir akan didengar orang lain, karena kamar mandi ini memiliki struktur dinding yang kedap suara.

 

Aku mengerti, eommonim sangat menginginkan seorang cucu yang belum bisa kuberikan. Tentu saja ia akan sangat senang saat melihat cucunya, walaupun itu bukan berasal dari rahimku, menantu sahnya.

 

Aku terlalu naif saat mengharapkan eommonim akan berdiri di sampingku dan menguatkanku. Tentu saja beliau lebih memilih bermain bersama cucunya, karena itulah mimpi besarnya di usianya yang tak lagi muda.

 

Setelah menumpahkan semua rasa sesak yang mengganjal di dadaku lewat air mata, hatiku terasa sedikit lebih lapang, walau rasa sesak itu masih tetap mendominasi. Aku membasuh wajahku, menghapus jejak-jejak air mata di pipiku. Aku tak ingin mereka mengetahui bahwa aku habis menangis.

 

Setelah memastikan penampilanku baik-baik saja dan jejak-jejak air mata sudah tak tampak lagi di wajahku, aku melangkah keluar dari kamar mandi.

 

“Eo-eonni …”

 

Aku sedikit kaget dengan panggilan Minji, suaranya terdengar ragu-ragu. Dia saat ini tepat berada di depanku, sepertinya dia menungguku keluar dari kamar mandi. Aku melihat tatapan sendu Minji padaku.

 

“Kenapa Minji-ya? Apa semua makanannya sudah kau antar ke ruang makan?” tanyaku seolah tak menyadari tatapan sendunya padaku.

 

“Sudah. Eonni … gwaenchana?” Tanya Minji sedikit ragu padaku.

 

“Aku tak apa. Baiklah, aku ke ruang makan dulu.” Aku berujar sambil mengembangkan senyumku pada Minji. Menunjukan seolah-olah aku baik-baik saja.

 

Saat memasuki ruang makan, kembali aku menyaksikan pemandangan menyesakkan itu. Eommonim tengah sibuk menyuapi Jaehyun, ia terlihat kompak sekali dengan Sena dalam mengurus Jaehyun. Mereka bahkan saat ini terlihat seperti mertua dan menantu. Sesekali mereka tertawa gemas melihat tingkah Jaehyun.

 

“Ra-ya, kau dari mana?”

 

Suara Kyuhyun membuat eommonim dan Sena memandang ke arahku. Aku langsung menunjukkan senyum terbaikku pada mereka. Lalu melangkah menuju kursi makan di samping Kyuhyun, berhadapan dengan eommonim. Sedangkan Jaehyun duduk di samping eommonim, dan Sena di sebelah Jaehyun.

 

“Maaf, tadi aku ke toilet,” jawabku, sambil merekahkan senyumku.

 

Kulihat eommonim menghentikan aktivitasnya menyuapi Jaehyun. Beliau memandangku dengan tatapan sendu, sepertinya eommonim merasa bersalah padaku. Aku membalas tatapannya dengan senyuman, memberitahu padanya bahwa aku baik-baik saja.

 

“Gomawo Nara-ssi, sudah mengundang kami.”

 

Aku menoleh pada Sena.

 

“Ne, nikmatilah makanannya Sena-ssi, maaf hanya ini yang kami sediakan,” ujarku dengan basa-basi.

 

“Aniyo, ini sudah sangat banyak.” Sena berujar sambil mengembangkan senyumnya.

 

Han Sena, gadis cantik dengan pembawaan anggun dan elegan. Kepribadiannya juga terlihat sangat baik. Tak heran dulu Kyuhyun sangat mencintainya. Aku yakin eommonim juga pasti sangat menyukai Sena dulunya. Jika Sena tak pergi ke Paris, mungkin dia-lah yang akan menjadi istri Kyuhyun. Aku merasa telah mencuri posisinya.

 

“Eumm… Nara-ssi, maaf soal waktu itu. Aku benar-benar tidak tau kalau Kyu–“

 

“Tak usah dibahas lagi Sena-ssi, aku tak apa, Kyuhyun juga sudah menjelaskan semuanya padaku.” Aku menyela ucapn Sena, sungguh jika dia membahas masalah itu sekarang, mungkin aku tak dapat menahan air mataku lagi.

 

Sementara Kyuhyun menggenggam tanganku, dan eommonim kembali memberikan tatapan sendunya padaku. Aku tau mereka semua merasa bersalah padaku. Aku kembali tersenyum pada mereka, menunjukan bahwa aku baik-baik saja.

 

“EoJaehyun-ah, apa kau sangat menyukai bulgogi-nya?” Tanyaku pada Jaehyun, karena sedari tadi kulihat ia menolak sayuran yang disuapi eommonim dan Sena, ia hanya membuka mulutnya jika disuapi bulgogi.

 

“Ne, bulgogimasisseoyo” jawabnya dengan mulut yang terisi penuh dan matanya yang berbinar.

 

Jaehyun masih sama, terlihat sangat menggemaskan, membuat siapapun yang melihatnya, akan langsung menyukainya. Tak heran eommonim langsung luluh saat melihat Jaehyun.

 

“Jaehyun pemilih sekali soal makanan, dia juga tak menyukai sayuran.” Sena terdengar sedikit mengeluh.

 

“Astaga, pantas saja dari tadi dia menolak semua sayuran.” Eommonim terlihat kaget. “Kau benar-benar mirip appa-mu, Jaehyun-ah,” lanjut eommonim dengan senyumnya yang lebar.

 

Kyuhyun memang tak menyukai sayuran, sangat susah membuatnya memasukan sayuran kemulutnya. Tapi untunglah aku selalu punya cara untuk memaksanya. Aku tak ingin ia kekurangan asupan serat di tubuhnya.

 

Dan ternyata kebiasaan itu juga menurun pada Jaehyun. Fakta ini membuktikan bahwa Jaehyun memang benar-benar adalah putra Kyuhyun. Kembali dadaku terasa sesak. Yah, aku belum bisa menerima takdir ini sepenuhnya.

 

 

FlashbackEnd

 

“Sedang apa, Sayang?”

 

Suara itu menarikku dari situasi yang menyesakkan itu. Lalu kurasakan lengan kekar membelit pinggangku. Hingga punggungku menempel pada sebuah dada bidang yang membuatku sangat nyaman. Salah satu tempat sandaran favoritku. Dada lebar Kyuhyun yang selalu membuatku merasa hangat.

 

Aku sedikit menolehkan wajahku kebelakang. Lalu mengalihkan pandanganku ke atas, ke langit malam yang hitam pekat. Tak ada bintang malam ini.

 

“Hanya ingin memandangi bintang, tapi sepertinya ia enggan menampakkan dirinya,” jawabku.

 

Kurasakan dagu Kyuhyun di puncak kepalaku. Sepertinya ia juga memandang ke arah langit.

 

“Sepertinya bintang-bintang itu malu menampakan dirinya padamu. Mereka merasa kalah darimu, yang bersinar jauh lebih terang. Jadi mereka tak punya rasa percaya diri untuk menantangmu.”

 

Aku hanya tersenyum mendengar ocehannya. Yah, Kyuhyun selalu bisa membuatku tersenyum, bahkan rasa sesak di dadaku sedikit berkurang saat Kyuhyun kembali menunjukan kasih sayangnya padaku. Aku tak bisa membencinya. Terlebih ini semua tak sepenuhnya kesalahan Kyuhyun.

 

Aku tahu ini semua adalah permainan sang takdir untuk menguji seberapa kuat ikatan di antara kami. Dan aku tak akan pernah memilih untuk kalah. Aku akan tetap berada di sisi Kyuhyun dan akan memilih untuk terus mempercayainya. Mungkin begitulah caraku untuk menang menghadapi ujian ini.

 

“Ayo kita masuk Ra-ya, cuaca sangat dingin. mungkin saja akan turun salju malam ini. Aku tak ingin kau sakit.” Kali ini Kyuhyun bicara dengan nada serius dan terdengar sedikit khawatir.

 

“Sebentar lagi, Kyu. Aku masih ingin di sini. Lagi pula aku memakai baju hangat. Jadi aku takkan sakit karena kedinginan. Dan … aku ingin melihat salju pertama tahun ini.”

 

“Kita bisa memandangnya dari dalam. Ayolah, jangan keras kepala, Nyonya Cho.”

 

Aku menggeleng cepat.

 

“Tidak akan sakit, karena ada kau yang memelukku,” jawabku dengan yakin.

 

“Aish, sikap keras kepalamu yang muncul kadang-kadang ini, terasa menyebalkan. Dimana kau menyembunyikan istriku yang penurut?” gerutunya, sambil mengeratkan dekapannya di perutku. Sementara aku hanya tersenyum mendengar gerutuannya.

 

Sejenak kami diliputi kebisuan. Aku masih menikmati hangatnya dekapan Kyuhyun, kehangatan yang membuat rasa sesak di dadaku mulai memudar secara perlahan. Entah mengapa saat-saat seperti ini membuatku merasa sangat dicintai oleh Kyuhyun.

 

Drrrrrt … drrrrt ….

 

Suara getaran ponsel menginterupsi suasana intim di antara kami. Kyuhyun melepaskan dekapannya di perutku, lalu aku memutar tubuhku menghadap Kyuhyun. Kyuhyun menatapku sekilas sebelum menerima panggilan itu, membuatku bertanya-tanya, siapa yang menghubunginya.

 

Wae Sena-ya?”

 

Darahku berdesir ketika nama Sena keluar dari bibir Kyuhyun. Kenapa gadis itu menghubungi Kyuhyun malam-malam begini? Suasana hatiku tiba-tiba menjadi buruk kembali.

 

“Bagaimana keadaannya?!”

 

Kulihat ekspresi Kyuhyun menegang. Walaupun suaranya terdengar tetap tenang, tapi raut kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya.

 

“Baiklah, aku akan segera ke sana.”

 

Alu sedikit kaget mendengar kalimat Kyuhyun. Ke sana? ke mana? Apa Kyuhyun akan pergi ke apartment Sena? malam-malam begini? pikiranku semakin kacau.

 

“A-ada apa, Kyu?”

 

Aku bertanya dengan suara bergetar.

 

“Jaehyun demam tinggi, sedangkan Sena tidak bisa membawa Jaehyun ke rumah sakit, karena mobilnya sedang di bengkel.”

 

Jaehyun demam tinggi? Bukankah tadi dia baik-baik saja?

 

“Aku harus pergi, Ra-ya.”

 

Suara Kyuhyun menyadarkanku dari lamunanku.

 

“Tunggu, Kyu. Aku ikut.”

 

“Tidak, Sayang. Ini sudah malam. Lebih baik kau istirahat saja di rumah. Aku akan kembali dengan cepat,” ujarnya mencegahku.

 

Kyuhyun mengecup keningku. Lalu melangkah tergesa keluar dari kamar. Aku hanya bisa menatap kepergiannya. Sementara hatiku kembali merasa tak tenang.

 

Nara POV End

***

 

A street, Seoul
11.00 PM KST

 

Baekhyun terlihat gelisah. Pria itu bahkan tak bisa diam. Ia selalu merubah posisi duduknya di bangku halte itu. Sesekali ia berdiri, lalu memandang ke arah datangnya bus yang sedang ia tunggu. Namun kembali ia menghembuskan nafas kasar, ketika matanya tak menangkap tanda-tanda bus mendekati halte. Pria itu melakukan hal yang sama selama hampir 3 jam.

 

Namun tiba-tiba irisnya melebar, melihat sebuah bus mendekat. Ia berharap seseorang yang ia tunggu ada di dalam bus itu.

 

Matanya berbinar dan kelegaan tercetak di wajahnya yang tadi terlihat sangat khawatir, ketika melihat sosok seorang gadis keluar dari bus.

 

“Bukankah sudah kukatakan, beri kabar kalau kau akan pulang terlambat, agar aku bisa menjemputmu. Kau tau betapa khawatirnya paman dan bibi? Bahkan ponselmu juga tak bisa dihubungi!” Baekhyun langsung meneriaki gadis itu.

 

“O-oppa.”

 

Gadis itu menggumam dengan wajah terkejut. Namun beberapa saat ekspresinya mulai berubah kesal saat menyadari pria itu meneriakinya.

 

“Ya! Ponselku mati, makanya aku juga tak bisa menghubungimu. Lagi pula aku bisa pulang naik bus dan sampai di sini dengan selamat.” Gadis itu balas meneriaki Baekhyun.

 

“Kau beruntung saja kali ini. Kau pikir naik bus malam-malam itu aman untuk seorang gadis sepertimu? Berhenti membuat orang-orang khawatir padamu, Park Sooyoung!”

 

“Aku tak menyuruhmu menungguku di sini.” Ketus Sooyoung. Demi Tuhan, pria ini memarahinya seperti Sooyoung menyuruhnya untuk menunggu saja.

 

“Ya! Kau pikir aku mau menunggumu sampai kedinginan di sini?! kalau bukan karena paman dan bibi, aku takkan mau menunggmu. Lebih baik aku tidur di bawah selimut hangat di kamarku yang nyaman.”

 

“Ya sudah, kau pulang saja sana, tidur di bawah selimut hangatmu, aku juga bisa pulang sendiri.”

 

“Kau benar-benar–. Sudahlah! Ayo pulang,” kesal Baekhyun.

 

Baekhyun melangkahkan kakinya dengan tergesa meninggalkan Sooyoung yang masih menggerutu di halte itu. Pria itu kesal, karena Sooyoung tak mengerti dengan kekhawatirannya.

 

“Dasar menyebalkan,” Sooyoung mengumpat Baekhyun yang sudah melangkah meninggalkannya.

 

Oppa, tunggu aku,” teriak Sooyoung, sambil berlari mengejar Baekhyun, yang sudah mulai menjauh, meninggalkan halte bus.

 

Sooyoung mencoba berlari untuk mengejar Baekhyun. Namun high heels yang sedang ia kenakan membuat kakinya kesakitan saat berlari, hingga ia memutuskan untuk berhenti dan kembali memanggil pria itu.

 

Oppa bisakah kau lebih pelan? Aku kesulitan mengejarmu, kakiku sakit karena high heels ini,” ujar Sooyoung.

 

Oppa, pelan sedikit, kakiku sakit.” Masih tak ada tanggapan dari pria itu, karena ia terus melangkah menjauh.

 

“YA! BYUN BAEKHYUN, KUBILANG KAKIKU SAKIT!”

 

Sooyoung berteriak kesal, karena sedari tadi Baekhyun tak menanggapinya dan terus melangkah menjauh. Gadis itu berjongkok dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.

 

“Dasar menyebalkan, tak punya perasaan. ByunBaekhyun tak punya hati.” Ia terus mengumpati pria yang telah meninggalkannya itu.

 

Sooyoung terus saja mengumpat. Hingga ia melihat sepasang sepatu berada di depannya. Ia mendongak keatas, iris coklatnya menangkap sosok Baekhyun.

 

“O-oppa …”

 

Baekhyun berjongkok, mengusap air mata di pipi Sooyoung.

 

“Bukankah sudah kubilang, jangan memakai sesuatu yang membuatmu tidak nyaman,” kali ini pria itu berkata dengan lembut, tak ada teriakan lagi.

 

Pria bermarga Byun itu berbalik, masih dengan posisi berjongkok.

 

“Naiklah,” titahnya.

 

Sooyoung tersenyum, namun langsung berdiri dan mengalungkan lengannya ke leher baekhyun dan bersandar nyaman di sana. Setelah merasa bahwa Sooyoung sudah siap di posisinya, Baekhyun langsung berdiri dan melangkah, dengan Sooyoung yang bersandar di punggungnya.

 

“Kau menyebalkan.” Ia kembali mendengus, kali ini dengan nada manja. Lalu gadis itu mempautkan bibirnya.

 

“Kedepannya kau harus memberi kabar jika kau pulang telat, jangan buat semua orang khawatir lagi.” Baekhyun mulai bicara baik-baik pada Sooyoung.

 

“Apa kau juga mengkhawatirkanku, Oppa?” Tanya Sooyung antusias.

 

“Tentu saja, kau kan adikku yang paling cerewet. Kalau tak ada kau, tak ada lagi yang bisa ku ganggu.”

 

Sooyoung mendengus, lalu mengerucutkan bibirnya.

 

“Kau selalu menyebalkan!”

 

Baekhyun hanya tersenyum. Ia terus melangkah menyusuri jalanan yang sudah mulai lengang. Sementara Sooyoung masih betah bersandar dengan nyaman di punggung Baekhyun. Hingga tiba-tiba matanya menangkap butiran-butiran putih berjatuhan di sekelilingnya.

 

“Salju pertama,” gumamnya.

 

Mereka sama-sama memandang ke atas, menikmati salju yang mulai berjatuhan. Membuat suasana di sekitar mereka terlihat sangat indah dan … romantis?

 

Oppa ….

 

Panggilan Sooyoung membuat Baekhyun menoleh ke belakang.

 

“Apa kau mau mendengar pengakuanku?” tanya Sooyoung pada Baekhyun.

 

“Pengakuan? Kau mau mengakui bahwa aku adalah pria paling tampan yang pernah kau temui?” tanya Baekhyun dengan penuh percaya diri.

 

AniOppa … aku menyukaimu. Tidak. Aku … mencintaimu.”

 

DEG!

 

Baekhyun langsung terdiam dengan mata membulat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia merasa sangat terkejut dengan pengakuan adik sepupunya itu. Ya, karena mereka adalah saudara sepupu, tentu saja pengakuan seperti itu sangat mengejutkankan bagi Baekhyun.

 

Namun tak lama Sooyoung tertawa dengan keras, memecah keheningan malam. Membuat baekhyun kebingungan.

 

“Ya! Oppa, kau ingat bahwa saat salju pertama turun, kita dibolehkan untuk berbohong. Ternyata kau sangat mudah dibohongi, lihatlah ekspresimu itu, seperti keledai bodoh.” Gadis itu terus menertawai Baekhyun.

 

“Ya! Itu tidak lucu sama sekali” dengus baekhyun.

 

Baekhyun melanjutkan langkahnya menyusuri jalanan yang mulai dipenuhi salju dengan wajah merengut karena dikerjai sepupunya itu. Mereka masih dalam kebisuan, tenggelam dalam pikiran masing-masing, sambil menikmati butir-butir salju yang berjatuhan dari langit. Untung saja mereka memakai pakaian tebal sehingga suhu dingin tak bisa menyengat kulit mereka sama sekali.

 

Aku hanya punya satu harapan. Nanti, saat aku dilahirkan kembali, tuhan mau berbaik hati padaku dengan menghapus hubungan darah di antara kami. Agar aku bisa dengan bebas mencintainya, agar aku bisa mencintainya tanpa takut merasa berdosa. Agar aku bisa mencintai ByunBaekhyun dan mengakui perasaanku padanya, lalu menjadi pasangan bahagia seperti pasangan lain.

 

***

 

Jung’s Family Home, Pyeongchang, Seoul.
11.00 PM KST

 

Salju pertama menjadi hal yang cukup istimewa bagi sebagian orang, atau mungkin untuk semua orang? Ah entahlah, yang jelas saat ini sepasang anak adam yang sedang diselimuti kebahagiaan, sangat menikmati turunnya salju pertama dari jendela kaca besar dikamar mereka. Keduanya terus tersenyum melihat butiran-butiran berwarna putih itu melayang, berjatuhan dari langit.

 

Sang pria terus mengecupi puncak kepala wanitanya sambil mengelus perut wanita itu yang sedikit membuncit.

 

“Aku sudah tak sabar menunggu kehadirannya. Sayang, tak bisakah kutiup saja perutmu ini agar bayi kita lebih cepat tumbuh di dalam sana?”

 

Pertanyaan konyol dari sang pria memecah keheningan yang menyelimuti mereka. Karena sedari tadi keduanya hanya fokus menikmati pemandangan malam yang dihiasi butiran-butiran salju yang berterbangan, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

 

“Cih … oppa, kau kira bayi kita balon, yang bisa membesar karena ditiup?” Gadis itu mendengus mendengar pertanyaan konyol tersebut.

 

“Yah, kalau bisa begitu ‘kan bagus, jadi kita tak perlu menunggu lama,” ujarnya santai.

 

“Kau harus sabar, Tuan Park. Kau tau filosofi menunggu? Seseorang akan lebih menghargai sesuatu yang ia dapatkan dengan cara menunggu, dibanding sesuatu yang ia dapatkan secara instan. Itu artinya Tuhan ingin kita lebih menghargai bayi ini. Aku rasa menunggu juga tidak terlalu buruk, kita bisa menikmati tiap prosesnya. Melihat bagaimana pertumbuhannya di rahimku. Membayangkannya saja aku sangat bahagia. Aku bersyukur Tuhan mempercayakannya padaku.” Wanita itu tersenyum bangga.

 

Tentu saja. Ia sangat tahu banyak wanita di luar sana yang tak diberi kesempatan berharga seperti yang ia dapatkan. Bahkan ada beberapa pasiennya yang divonis mandul, sehingga mereka tak bisa merasakan apa yang sekarang ia rasakan, walaupun mereka sangat ingin. Wanita itu tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi padanya. Ia adalah dokter spesialis kandungan, jadi ia punya cukup banyak pengalaman dengan kasus-kasus seperti itu.

 

“Kau benar, Sayang. Aish, kenapa istriku ini pintar sekali,” ujar Jungsoo gemas, lalu mengecup pipi mulus istrinya, Kim Taeyeon.

 

“Kau baru menyadarinya, Suamiku?”

 

“Tentu saja tidak, Sayang. Aku sudah mengetahuinya sejak lama,” ujar Jungsoo. Pria itu lalu memutar tubuh Taeyeon, membuat wanita itu menghadap padanya.

 

“Aku sangat bersyukur memilikimu. kau tau, tak ada lagi yang kuinginkan setelah berhasil menjadikanmu milikku, selain membangun kabahagiaan bersamamu. Terimakasih karena mau menerimaku.”

 

Taeyeon menempelkan telunjuknya di bibir Jungsoo.

 

“Ssst …. Kau tau, Oppa? Sangat mudah mencintai pria sepertimu. Justru aku sangat bersyukur karena kau memilihku.”

 

Jungsoo membelai dengan lembut wajah Taeyeon. Memandang hangat kedalam mata wanita itu. Menatap dengan penuh cinta.

 

“Dan sangat mudah juga mencintai wanita sepertimu, Kim Taeyeon. Mari kita ciptakan kebahagiaan dalam keluarga kecil kita. Kau, aku, dan bayi kita.”

 

Jungsoo mengecup dalam kening Taeyeon, membuat gadis itu memejamkan matanya. Lalu bibir Jungsoo turun ke kedua mata Taeyeon, hidung dan sampai di bibir tipis menggoda milik Taeyeon. Pria itu melumatnya dengan lembut, penuh cinta. Sesekali menyesap bibir manis yang selalu membuatnya candu, itu.

 

Mereka mengakhiri ciuman penuh cinta itu. Lalu kembali saling memandang. Menghantarkan gelombang-gelombang cinta lewat tatapan mereka. Jungsoo menurunkan wajahnya, hingga berada di depan perut Taeyeon. Pria itu melingkarkan lengannya di pinggang istrinya.

 

Aegiya, teruslah tumbuh sehat di dalam sana. jangan terlalu menyusahkan eomma-mu dan cepatlah lihat dunia ini. Appa menyayangimu.”

 

Jungsoo mencium penuh sayang perut Taeyeon yang sudah sedikit membuncit. Sementara Taeyeon mengelus rambut Jungsoo. Ia bersukur dengan semua kebahagiaan yang Tuhan limpahkan padanya.

 

***

 

Kyuhyun’sHome, Gangnam, Seoul.
7.30 AM KST

 

Nara sedang menata meja makan bersama Minji, saat ia mendengar deru mesin mobil. Gadis itu bergegas melangkah ke ruang depan. Membuka pintu rumah mewah itu.

 

“Kau baru pulang, Kyu?”

 

“Heum” Kyuhyun menggumam, lalu mengecup kening Nara.

 

Pria itu memang tak pulang semalam, karena Jaehyun yang sedang sakit tak membolehkan Kyuhyun beranjak dari sampingnya sedikitpun, sehingga Kyuhyun terpaksa bermalam di rumah sakit.

 

“Bagaimana keadaan Jaehyun?” tanya Nara. Sebenarnya Nara juga mengkhawatirkan Jaehyun.

 

“Demamnya sudah turun. Nanti sore sudah boleh pulang.”

 

“Kau akan menjemputnya lagi nanti sore?”

 

“Aku tidak bisa, karena aku ada meeting dari siang sampai malam nanti. Lagipula mobil Sena sudah selesai diperbaiki dan aku menyuruh Park Ahjussi untuk menjemput mereka.”

 

“Ya sudah kalau begitu. Apa sebaiknya kau tak usah ke kantor dulu Kyu? Kau terlihat sangat kelelahan.”

 

Nara terenyuh melihat suaminya itu. Saat ini wajah Kyuhyun benar-benar terlihat kelelahan. Pasti Kyuhyun begadang semalaman.

 

“Tidak bisa Ra-yameeting hari ini sangat penting untuk perusahaan, aku tak bisa menyuruh siapapun untuk mewakiliku.”

 

“Kalau begitu, datang saat meeting saja. Pagi ini istirahat dulu di rumah. Nanti siang saja berangkat ke kantor. Aku tak ingin kau jatuh sakit, Kyu. Jangan terlalu memforsir tenagamu,” ujar Nara setengah memohon. Ia tak ingin kondisi Kyuhyun drop gara-gara terlalu lelah.

 

“Baiklah.” Akhirnya Kyuhyun menurut.

 

“Sekarang mandilah, lalu turun ke bawah untuk sarapan, setelah itu baru istirahat.”

 

“Baiklah tuan putri, pangeranmu ini akan mematuhi titahmu.”

 

Mereka terkekeh. Kyuhyun kembali mengecup kening Nara. Kemudian melangkah ke arah tangga, menuju lantai dua rumah itu di mana kamar mereka berada. Sementara Nara kembali ke ruang makan.

 

Nara sudah akan melangkah menuju tangga untuk memanggil Kyuhyun, saat ia melihat Kyuhyun sudah berjalan menuruni tangga. Pria itu tersenyum pada Nara. Membuat Nara membalas senyumannya. Wajah Kyuhyun sudah terlihat lebih segar dibanding tadi.

 

Kyuhyun menggandeng tangan Nara saat ia sudah sampai di bawah. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju ruang makan.

 

Keduanya menjatuhkan bokongnya di kursi makan. Nara mengambilkan nasi untuk Kyuhyun, lalu mengambil beberapa lauk. Ia meletakkan piring itu kehadapanKyuhyun.

 

“Makan yang banyak pangeran,” canda Nara.

 

“Suapi aku,” rengek Kyuhyun dengan nada manja.

 

“Astaga … aku lupa kalau kau adalah bayi besar,” cibir Nara.

 

“Aku adalah bayi besar yang membuatmu bisa memiliki bayi mungil.”

 

Wajah Nara merona. Kyuhyun kembali dengan candaan vulgarnya.

 

“Hmmm … Kyu. Bagaimana kalau kita berkonsultasi pada Taeyeon eonni?” Nara mencoba membuka pembicaraan. Sebenarnya sudah lama ia ingin membicarakan hal ini pada Kyuhyun, tapi ia belum menemukan waktu yang tepat.

 

“Maksudmu?” Tanya Kyuhyun tak mengerti.

 

“Aku hanya ingin memastikan tak ada masalah dengan rahimku, karena sampai sekarang aku masih belum bisa hamil.” Wajah Nara menjadi sendu.

 

“Aku yakin tak ada masalah. Tapi kalau kau tetap ingin mengetahuinya. Baiklah. Ayo kita coba,” ucap Kyuhyun, menuruti keinginan Nara.

 

“Kau benar-benar mau, Kyu?” Tanya Nara dengan mata melebar. Karena sebelumnya ia takut, Kyuhyun tak mau melakukan hal-hal seperti itu.

 

“Apapun untukmu, Sayang.”

 

Nara tersenyum lebar mendengar kalimat Kyuhyun.

 

“Baiklah, nanti aku akan menghubungi Taeyeon eonni untuk membicarakan hal ini.” Wajah Nara tampak berbinar.

 

“Sekarang suapi aku dulu.”

 

“Aish … dasar bayi besar,” dengus Nara. Namun ia tetap menyuapi Kyuhyun.

***

 

The Garden Restaurant, Seoul
07.00 PM KST

 

“B-bagaimana jika ada masalah dengan rahimku?

 

Kyuhyun mengangkat wajahnya. Mengalihkan perhatiannya dari makanan di depannya, terhadap istrinya. Sejak kembali dari rumah sakit tadi, Nara memang terlihat sedikit murung. Ia tak menyangka itu yang sedang dipikirkan Nara.

 

Kyuhyun menggapai tangan Nara, menggenggam tangan mungil itu. Memberikan tatapan hangat pada istrinya.

 

“Jangan khawatirkan itu. Aku yakin tak ada masalah dengan kita. Mungkin sekarang memang belum saatnya untuk kita menjadi orang tua,” ucap Kyuhyun menenangkan.

 

“Heum, semoga saja,” desah Nara.

 

Gadis itu belum merasa tenang sama sekali. Ia meragukan dirinya. Banyak kekhawatiran bersarang di kepalanya. Dan kekhawatiran terbesarnya adalah, bagaimana jika ia tak bisa hamil, atau ia mandul? Karena jika masalahnya memang seperti itu, maka jelas-jelas yang bermasalah di sini adalah dirinya.

 

“Taeyeon eonni sangat beruntung, dia sudah hamil bahkan saat umur pernikahannya baru memasuki bulan ke enam.”

 

Nara tak bisa menyembunyikan rasa irinya pada Taeyeon, istri kakak sepupunya. Bahkan ia satu tahun lebih dulu menikah dengan Kyuhyun, dibanding sepupunya itu.

 

“Kyu, bagaimana jika aku tak bisa hamil, apa kau akan meninggalkanku?”

 

Sungguh, Nara benar-benar takut hal itu terjadi. Mengingat Kyuhyun juga memiliki putra dari mantan kekasihnya, gadis itu benar-benar tak bisa tenang. Ia takut Jaehyun bisa jadi pengikat antara Kyuhyun dan Sena, sehingga jika ia memiliki kekurangan seperti itu, mungkin saja Kyuhyun akan kembali pada Sena. Karena tak ada pengikat antara ia dan Kyuhyun, selain janji suci mereka satu setengah tahun yang lalu.

 

Kyuhyun memejamkan matanya. Ia tau Nara sedang khawatir. Tapi itu terlalu berlebihan menurut Kyuhyun.

 

“Dengar Ra-ya, saat aku bilang bahwa aku mencintaimu, itu artinya aku mencintai semua yang ada padamu, termasuk kekuranganmu. Jadi jika seandainya kau memang tak bisa hamil, demi Tuhan, aku tak akan pernah meninggalkanmu. Aku harap kau membuang pemikiran seperti itu.”

 

“Tapi, bagaimana dengan eommonim? Bukankah eommonim sangat menginginkan seorang cucu? Aku takut mengecewakan eommonim.”

 

“Tidak Ra-ya, aku yakin eomma bisa mengerti, terlebih sekarang ada Jaehyun.”

 

Nara terdiam. Benar, Jaehyun. Ia teringat bagaimana bahagianya Nyonya Cho saat bertemu dengan Jaehyun. Bahkan mertuanya itu langsung melupakan dirinya.

 

“Apa kau dan eommonim tak menginginkan seorang anak dariku, Kyu?”

 

Tatapan Nara berubah menjadi lebih sendu. Membuat Kyuhyun menyadari kesalahannya. Tak seharusnya ia membahas Jaehyun saat ini.

 

“Bukan begitu maksudku Ra-ya. Aku-”

 

“Eo, Nara-ya.”

 

Suara seseorang menginterupsi perdebatan mereka. Nara dan Kyuhyun menoleh ke asal suara secara berbarengan. Seketika rahang Kyuhyun mengeras, melihat pria yang kini tengah berdiri di samping mejanya dan Nara. Kyuhyun mengepalkan tangannya kuat, menahan emosinya. Nara juga sedikit terkejut.

 

“O-oppa.”

 

Pria itu tersenyum hangat pada Nara, ia seperti tak mempedulikan kehadiran Kyuhyun di sana, karena pandangannya hanya tertuju pada Nara.

 

“Kebetulan sekali. Bagaimana kabarmu, baby?”

 

Kyuhyun semakin menggelap mendengar panggilan pria itu terhadap Nara. Rahangnya semakin mengeras. Ingin sekali ia melayangkan tinjunya pada mulut kurang ajar pria itu.

 

“Memanggil istriku dengan panggilan menjijikan di depanku. sepertinya kau harus belajar sopan santun, Lee Jonghyun-ssi.” Kyuhyun menekan suaranya, namun terdengar dingin mengintimidasi. Ia Menahan amarahnya pada pria yang tak tau malu menurutnya ini. Namun aura kelam tetap meliputinya.

 

Jonghyun menoleh pada Kyuhyun.

 

“Maaf, Cho Kyuhyun-ssi, aku tak melihat keberadaanmu tadi,” celetuk Jonghyun santai, tanpa mempedulikan intimidasi dari Kyuhyun.

 

Sementara Nara terlihat khawatir. Ia tau bagaimana tempramenKyuhyun. Suaminya itu bisa saja meledak-ledak di tempat ini. Nara mencoba mencari sesuatu untuk mencairkan suasana tegang itu.

 

Oppa, apa nona ini kekasihmu?” Tanya Nara pada Jonghyun, sambil melirik gadis di sebelah Jonghyun. Nara mencoba mengalihkan pembicaraan yang bisa saja menyulut api amarah dalam diri Kyuhyun.

 

Ne, aku kekasihnya,” jawab gadis itu cepat, mendahului Jonghyun yang akan bicara. Jonghyun memberikan tatapan bertanya pada gadis itu. Sementara si gadis hanya mengedikkan bahunya tak peduli.

 

“Oh benarkah? Ah … kita belum berkenalan. Aku Nara, Jung Nara dan ini suamiku, Cho Kyuhyun.” Nara mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya dan Kyuhyun pada gadis di sebelah Jonghyun itu.

 

“Aku Seo Joohyun, senang berkenalan dengan kalian, Nara-ssi dan Kyuhyun-ssi.” Gadis itu menjabat tangan Nara, lalu menoleh pada Kyuhyun yang masih dilingkupi amarah. Kyuhyun tetap menatap tajam pada Jonghyun. Ia tak mempedulikanpembicaran para gadis itu.

 

“Sekarang bisakah kalian pergi dari sini? Aku rasa kalian masih punya rasa malu untuk mengganggu acara orang lain,” sinis Kyuhyun.

 

Gadis bernama Seo Joohyun itu mengerti, bahwa Kyuhyun sangat tidak menyukai keberadaan mereka di sana. Ia bisa merasakan lewat tatapan pria itu sejak pertama kali melihat dirinya dan Jonghyun. Ditambah kalimat gamblang Kyuhyun yang mengusir mereka.

 

“Maaf karena sudah mengganggu acara kalian, sepertinya kami memang harus pergi menuju meja kami,” Ujar Seohyun, gadis itu membungkuk, berpamitan pada Nara dan Kyuhyun.

 

“Ayo kita pergi, Sayang.” Ia menarik lengan Jonghyun untuk menjauh dari meja Nara dan Kyuhyun. Memutus tatapan permusuhan yang ditujukan Kyuhyun.

 

“Lihat, bagaimana tadi dia menatap dan memanggilmu, bahkan saat ada aku di sini.” Kyuhyun membuka suaranya saat kedua orang itu telah menjauh dan duduk di mejanya.

 

“Aku rasanya benar-benar ingin merobek mulut kurang ajarnya itu,” kesal Kyuhyun dengan menekan suaranya. Ketara sekali pria itu masih dikuasai amarahnya.

 

Nara menggapai tangan Kyuhyun, menggenggamnya, menatap dengan lembut ke dalam manik hitam Kyuhyun yang memancarkan amarah.

 

“Kau percaya padaku kan, Kyu?” tanya Nara lembut, membuat amarah dimata Kyuhyun mulai meredup, pria itu juga menjadi sedikit lebih tenang. Suara lembut Nara seperti air yang menyiram bara api kemarahan Kyuhyun. Ia mulai memfokuskan pandangannya pada Nara, membalas tatapan lembut istrinya.

 

“Dengar, aku hanya memiliki satu hati, dan sudah kuberikan padamu. Aku tak menyisakan apapun untuk bisa ku berikan pada pria lain. Jadi kumohon, tenanglah, Kyu.” Nara berucap dengan lembut dan tulus. Membuat rasa takut dan khawatir Kyuhyun mulai menghilang.

 

“Tapi kau tetap harus menghindari pertemuan denganya, Ra-ya. Aku tak ingin kau bertemu dengannya.”

 

“Baiklah, Kyu. Sebisa mungkin aku akan menghindari pertemuan dengan Jonghyun oppa.” Nara hanya menurut pada Kyuhyun, karena memang itulah yang terbaik. Ia tak ingin kehadiran Jonghyun menjadi masalah baru dalam rumah tangganya.

 

“Aku tau kau gila karena cinta pertamamu itu. Tapi mencari gara-gara di depan suaminya, apa kau benar-benar sudah gila?” Seohyun sedikit berteriak pada Jonghyun. Gadis itu merasa kesal dengan tindakan Jonghyun tadi.

 

“Memangnya kenapa? Aku hanya ingin menyapanya saja,” jawab Jonghyun cuek.

 

“Kau tak lihat tadi tatapan membunuh yang ditujukan Cho Kyuhyun padamu? Aku saja sampai merinding.” Seohyun bergidik mengingat tatapan Kyuhyun yang ditujukan pada Jonghyun.

 

“Aku tak peduli dengan itu.” Pria itu masih berujar dengan santai.

 

Oppa … tak bisakah kau melupakan cinta kekanakanmu itu? Bahkan setelah ia dimiliki orang lain, apa kau masih tak bisa melihatku?” Seohyun berucap dengan wajah sendu. Terlihat sekali gadis itu merasa terluka. Membuat Jonghyun terdiam, tak bisa menjawab perkataan gadis itu.

 

Mian, aku hanya terbawa suasana.” Seohyun seolah tersadar telah membuat situasi di antara mereka menjadi canggung.

 

“Ehem ….” Jonghyun berdehem, mengatasi kecanggungan. “Aku ke toilet sebentar.”

 

Jonghyun berdiri dari duduknya, pria itu melangkah meninggalkan Seohyun dengan perasaan berkecamuk.

 

Setelah mencuci tangannya di wastafel, Jonghyun menatap kaca yang berada di depannya. Pria itu menatap kedalam manik matanya sendiri. walaupun ia bersikap acuh, namun pria itu tak bisa memungkiri bahwa keberadaan Seohyun di dekatnya cukup mengusik hatinya. Terlebih gadis itu juga tak segan-segan menunjukan perasaannya pada Jonghyun. Namun ia tak bisa begitu saja melenyapkan perasannya yang masih sangat kuat terhadap Nara. Walaupun gadis itu sudah dimiliki pria lain, tapi perasaannya tak pernah berubah. Jonghyun bahkan sering mengutuk kebodohannya di masa lalu yang menyebabkan ia kehilangan gadisnya.

 

“Aku rasa kau punya otak yang cukup pintar untuk sekedar mengingat peringatanku tempo hari.”

 

Suara berat yang sarat akan intimidasi itu menarik kesadaran Jonghyun dari lamunannya. Ia bisa melihat dari pantulan kaca, sosok Kyuhyun berdiri di ambang pintu dengan gaya pongah dan tatapan tajamnya. Jonghyun hanya mendengus.

 

“Kau juga sudah melanggar peringtan yang aku berikan, Cho Kyuhyun-ssi,” balas Jonghyun dengan santai. Ia seolah tak terpengaruh sama sekali dengan intimidasi yang ditujukan Kyuhyun padanya.

 

Mereka memang bertemu beberapa hari setelah acara ulang tahun Nara. tentu saja bukan pertemuan yang menyenangkan, karena saat itu mereka sama-sama mengeluarkan peringatan-peringatan dan ancaman untuk satu sama lain.

 

“Cih … apa kau adalah orang yang suka memutar balikkan fakta?” Sinis Kyuhyun.

“Kau lupa bahwa kau telah melanggar peringatanku untuk tidak menyakiti Nara?” Jonghyun membalas Kyuhyun dengan ucapan tak kalah sinis.

 

“Aku tak pernah menyakiti istriku. Dan aku bukanlah seorang player bajingan sepertimu yang mengkhianati Nara dengan sahabatnya sendiri.”

 

“Lalu bagaimana dengan seorang putra yang kau miliki dengan gadis lain? Bukankah itu artinya kau jauh lebih bajingan dibanding aku?”

 

Deg!

 

Kyuhyun terdiam. Ia seakan kalah telak. Karena memang kehadiran Jaehyun telah membawa luka untuk Nara. Tapi dari mana pria ini mengetahui tentang Jaehyun? padahal Kyuhyun masih mencoba menutup rapat tentang Jaehyun, karena ia ingin menjaga perasaan Nara. Jonghyun pasti memata-matainya.

 

“Aku kembali memperingatkanmu, Cho Kyuhyun! jika kau kembali menyakiti Nara, aku tak akan segan-segan merebutnya kembali. Bahkan jika Nara menolak sekalipun, aku akan memaksanya untuk menjauh darimu. Karena aku tau, ia takkan pernah bahagia denganmu.”

 

“Tutup mulut sialanmu itu! Dan berhentilah menjadi menyedihkan seperti sekarang. Jangan bermimpi untuk merebut Nara dariku,” ucap Kyuhyun tajam.

 

“Aku akan berhenti kalau kau tak menyakiti Nara. Jadi silahkan pegang kata-katamu kalau kau memang tak ingin kehilangannya.”

TBC

46 thoughts on “When The Smile Being Ornate Part 6

  1. Disini nara sangat tersakiti 😦 apalagi nara belum hamil2 😥 kyuhyun pembohong katanya cinta sama nara tapi dengan teganya berselingkuh dengan mantan pacarnya sampai menghasilkan anak >_< lebih baik nara pergi saja dari kehidupan kyuhyun 😥 😥

    Suka

  2. Ada chan, baek sampe taeyon juga 😂😂
    Gaspol thor , kesayangan bnget 😍
    Kalo bisa sih , jonghyun jadi lebih dket sama nar biar kyu juga sdar gimana sakitnya nara . Nara juga kok baik bnget sih kak , nggak manusiawi bnget , stidaknya bkin lah skali dy prgi dari rumah kek ,masa malaikat gitu . Jadi greget bacanya .

    Suka

    • Bhahaha ff ini isinya lengkap😂😂
      Nara terlalu malaikat? Tunggu aja ntar kejutannya ya😆

      Suka

  3. duuuh nyess bgt bgt bgt bgt ampe mewek akuuh, kasian bin merana bgt sii hidup nara,, merasa d nomor sekian kan oleh kyu deh jadinya, kyu bakal sibuk ama jaehyun dan sena yakin deh ini 😢😢 aku kok takut ya ama pemeriksaannya nara , jgn d buat terlalu sedihlah ya naranya 😢

    Suka

  4. Kalau d fikir …
    C’Kyu seenaknya banget ya ???
    Nara mati²an nahan perasaan sakitnya ?! Tapi c’Kyu begitu -_-
    Apa c’Kyu bakalan nepatin ucapannya k Jonghyun tadi ???
    Kalau kaga ?! Udeh, rebut aja Nara dari c’Kyu Jojong-ah ^^

    Disukai oleh 1 orang

  5. Semoga saja kyuhyun tetap pada perkataannya bahwa dia hanya mencintai nara, jangan sampai semua ketakutan nara akan kyuhyun berpaling kesena terjadi.
    Semoga saja tdk ada masalah dgn kandungan nara, biar dia bisa hamil juga..

    Suka

  6. Nara kasian banget sih harus nanggung kesedihan dan cobaan seberat itu…
    Agak kesel sama kyuhyun dah bikin nara sedih..
    Di tunggu next part nya..

    Suka

  7. aku bingung mau komen apa thor.. -.- intinya aku kesel, marah + sakit hati sama kyuhyun. Dan pokoknya ini ff selalu aku tunggu.. Semangat yaa thor buat ngetiknya.. -yri-

    Suka

  8. Nara sama kyuhyun kok jadi tenang gitu 🙁 .
    Nara seharusnya keluarin aja ap yg dirasain, kasihan kan nyesek gitu 🙁 .
    Suami punya anak dr wanita lain itu bukan masalah yg sepele.. Kasihan nara 🙁, kalo perlu seharusnya pergi dulu dr kyuhyun bbrp saat.. Biarin tuh si kyu gila! Dasar kyuhyun!! 🙁🙁
    .
    .
    Btw, ditunggu next chapnya authornim… Ceritanya buat baper bertingkat 😘

    Suka

  9. wowow hawa nya udah mulai panas,hihihi
    moga aja kyu pegang omongannya gk bakal bikin sakit hati nara,mski skarang nara mulai gk tenang gara gara jaehyun

    Suka

  10. Jangan sampai dokter bilang kalau nara gak bisa hamil
    Kasihan nara dia akan benar2 tersisihkan n terabaikan kyuhhun pasti lebih bakal sayang jaehyun dan melupakan nara apa lagi eomma kyuhyun juga seperti nya juga pengen bngt cepat cepat punya cucu.

    Nara pasti jadi orang yang paling terluka & tersakiti
    Jika kyuhhun benar benar tega lakuin itu smoga jonghyun melakukan ancamannya bawa nara pergi jauh ninggalin kyuhyun
    Biar kyuhyun tau rasa udah nyampakin n nyakitin nara

    Suka

  11. yah kasihan Nara harus menelan rasa kecewa karena masa lalu Kyu. sampai dimana sanggup bertahan kalau Kyu lebih memperhatikan anaknya. ternyata Jonghyun masih cinta sama Nara apalagi sama ancamannya Kyu jadi ketar-ketir karena secara tidak langsung telah menyakiti Nara

    Suka

    • Aku tau bakal dpt komen kaya gini wkwkwk
      Emg dri awal aku mau bkin ff ini dg bnyak cast, tpi tetep central nya kyu-nara.

      Suka

  12. Gue pingin nangis lihat kondisinya nara,, sumpah bikin nyesek… Jika aku jadi nara duh bakalan g kuat deh aku ngerasain kayak gitu..
    Semoga nara mendapatkan happy ending buat takdirnya

    Suka

  13. Konflik di ff ini banyak sekalii thorr wkwkkwkw.
    ternyata jonghyun masih suka sama nara yaa.
    Ayo kyu pertahanin nara jangan sakitin dia lagi klo tdk di rebut jonghyun, jangan berpaling ke sena, dia hanya masa lalu
    Next yaa 💪

    Suka

  14. Wahhhhhhh harus extra kuat dan tabah buat Nara.. Kalaupun nanti ada apa2,, masih banyak yang menyayangi Nara..

    Fighting..^^ 🙂

    Suka

  15. Sumpah saya nggak tega bacanya……part ini saya lewat aja bacanya dan part selanjutnya karena nggak tega,tp saya suka ff ini tp nyakitin hatiku bacanya…..maaf ya saya nggak baca tp saya komen….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s