Break The Forecast Part 2


 

Author : Auroragong-ju

Tittle : Break the Forecast

Category : NC18, Yadong, Romance, Chapter

Cast :

  • Cho Kyu Hyun
  • Ji Yeon Hee

Other Cast :

  • Henry Lau
  • Lee Ye Eun

 

‘Ramalan itu seperti rapalan doa yang diucapkan orang lain. Parahnya, terkadang tidak sesuai angan yang telah kita gantung selama ini.’

 

***

 

Bab 2

 

Kediaman keluarga Kyu Hyun mulai terlihat ramai. Acara yang katanya digelar secara sederhana, ternyata tidak seperti yang dibicarakan. Rumah itu didesain seindah mungkin dengan nuansa putih yang suci. Lampu-lampu kecil juga merambat di pilar-pilar luar rumah, juga pepohonan besar di pelataran dan taman belakang. Lantai satu rumah mewah ini benar-benar disulap seperti ballroom hotel bintang lima yang sangat indah. Tidak hanya dekorasinya, pemeran utama malam ini tampil dengan sangat serasi. Mereka juga sepakat mengenakan pakaian bernuansa putih. Tuan Lee Tae Sup menggunakan setelan jas berwarna putih dan senada dengan setelan yang Kyu Hyun kenakan. Kemudian, nyonya Kim Hana tampak sangat anggun dan modis dengan gaun warna putih selutut yang berpotongan lengan pendek. Walau satu tema, Ye Eun tampil cukup berbeda. Ia menggunakan gaun terusan di atas lutut dengan potongan dada cukup rendah, tetapi lengan gaunnya panjang dan berbahan brukat transparan.

 

“Selamat atas ulang tahun pernikahan kalian. Semoga bertahan hingga maut memisahkan,” ucap nyonya Han Ji Hyeon selaku ibu dari Jun Jin dan Yeon Hee yang kini sedang memeluk Kim Hana.

 

Tuan Ji Young Geum juga terlihat berbincang dan berjabat tangan dengan sang kepala keluarga yang tengah berbahagia. Sisanya, anak-anak mereka tampak canggung satu sama lain. Yeon Hee yang malam ini mengenakan gaun panjang terusan sampai mata kaki, tampak menempel erat pada Jun Jin. Lengannya juga menggamit lengan Jun Jin seolah menyampaikan ancaman agar kakaknya itu tidak kabur sewaktu-waktu.

 

“Hee-ya…” Ye Eun yang masih merasa tidak enak hati dengan kejadian dua hari yang lalu, mencoba mengajak Yeon Hee untuk memperbaiki keadaan.

 

“Ya?”

 

“Ye Eun…”

 

Baik Yeon Hee atau Ye Eun dan dua pria yang merasakan suasana janggal antara sepasang sahabat karib ini, kini menoleh ke arah Henry yang muncul membawa keceriaan. Pria imut itu tampak membawa sebuket bunga dan segera mengulurkannya pada Ye Eun.

 

“Terima kasih. Seharusnya kau berikan ini pada Hana eomma.”

 

“Diwakilkan olehmu saja,” balas Henry sembari tersenyum.

 

Ye Eun mencoba memberi kode pada Henry dengan gerakan mata. Beberapa kali Henry mengernyitkan kening dan tampak tidak paham dengan maksud Ye Eun. Setelah melihat sosok Yeon Hee yang bergelayut manja pada Jun Jin, Henry langsung tersadar dengan kesalahan yang sempat ia buat. Ketika Henry akan berbicara dengan Yeon Hee, Kyu Hyun membuat banyak pasang mata mengalihkan fokus ke arahnya.

 

“Sepertinya kau tidak nyaman dengan tatanan rambutmu,” ucap Kyu Hyun yang kini berada di samping kanan Yeon Hee. Tak segan-segan Kyu Hyun menarik jepit rambut yang nyaris jatuh dari rambut Yeon Hee. “Lebih baik kau memperbaikinya di kamar Ahra noona. Aku temani.”

 

Yeon Hee mendongak untuk meminta persetujuan pada Jun Jin. Segera Jun Jin menganggukkan kepalanya dan memberikan lengan Yeon Hee pada Kyu Hyun.

 

Tanpa menunggu lama, mereka menaiki tangga sembari bergandeng tangan. Diam-diam, Ye Eun dan Henry menatap kecewa pada keduanya. Seharusnya mereka bisa meminta maaf pada Yeon Hee yang entah kenapa, kemarahannya kali ini terlihat sangat mengkhawatirkan. Namun, ada sorot lain yang lebih menyakitkan tersirat dari sorot mata Ye Eun. Hal terakhir yang menambah kekecewaan keduanya, Kyu Hyun juga ikut masuk ke dalam salah satu kamar yang tak lama pintunya ditutup dari dalam.

 

“Kau bisa duduk di sini saja,” ucap Kyu Hyun setelah menutup pintu.

 

Yeon Hee yang kini sudah duduk manis di depan kaca besar milik Cho Ahra, menatap Kyu Hyun dari pantulan kaca. Perlahan, tangan Yeon Hee menarik jepit rambut yang membuat kulit kepalanya terasa sakit. Tanpa banyak bicara, Yeon Hee telah selesai membiarkan rambut panjangnya tergerai kembali dan Kyu Hyun sudah tiduran di tempat tidur Ahra.

 

“Aku tidak enak dengan Hana eommonim,” ucap Yeon Hee yang kini sudah menghadap ke arah Kyu Hyun.

 

“Tenang saja. Aku yang mengajakmu pergi dari sana. Bukankah kau juga tidak nyaman?”

 

“Eum… entah kenapa aku bisa marah selama ini pada Henry dan Ye Eun. Aneh.”

 

Kyu Hyun sudah memejamkan mata dan mengabaikan curahan hati Yeon Hee. Melihat hal itu, Yeon Hee hanya mampu membuang napas kasar. Sudah sangat hafal dengan sikap Kyu Hyun. Akhirnya, ia berjalan ke sisi kosong ranjang dan ikut merebahkan diri di samping Kyu Hyun. Hal seperti ini bukanlah momen langka, normal saja untuk keduanya. Karena, mereka memang sudah sering tidur bersama. Kadang, mereka akan tidur berempat—Kyu Hyun, Yeon Hee, Ahra, dan Jun Jin—dan tak memedulikan jenis kelamin masing-masing.

 

Mata Yeon Hee yang sempat terpejam, kini kembali terbuka dan ia posisikan tubuhnya menjadi miring menghadap Kyu Hyun. “Kau mengajakku naik karena tidak suka melihat Ye Eun dan Henry, bukan?”

 

“Ya,” balas Kyu Hyun tanpa membuka matanya.

 

“Heum… apa kau tidak memiliki keinginan untuk menyatakan perasaanmu pada Ye Eun?”

 

“Tidak.”

 

“Ah… kau tidak bisa diajak bekerjasama. Kalau begini, aku juga tidak akan bisa mendapatkan Henry.”

 

Akhirnya mata Kyu Hyun terbuka dan ia memosisikan diri seperti Yeon Hee hingga membuat mereka saling berhadapan. “Anak itu terlihat hiperaktif. Carilah pria lain yang lebih mengerti perasaanmu. Dia hanya mendekatimu saat dia membutuhkan sesuatu.”

 

“Aku tidak percaya kau akan berbicara seperti ini. Luar biasa.”

 

“Biasa saja.”

 

Obrolan tidak jelas mereka terhenti saat pintu kamar itu dibuka dari luar, menampakkan Kim Hana yang tersenyum lebar ke arah mereka berdua. “Kalian segeralah ke bawah, acara akan dimulai.”

 

Yeon Hee tersenyum dan langsung beranjak dari tempat tidur. Beda halnya dengan Kyu Hyun yang hanya diam walau perlahan bangkit dari tidurnya.

 

“Ayo,” ajak Yeon Hee yang tampak sibuk mengikat rambutnya membentuk ekor kuda.

 

Kyu Hyun bergerak walau agak malas dan mengulurkan lengannya. Mereka kemudian berjalan bergandengan walau terkesan sangat kaku. Bahkan, Yeon Hee yang memilih mengenakan gaun tanpa lengan, kini merasakan sengatan udara dingin yang menyapa lengan kecilnya itu.

 

“Kedinginan?” tanya Kyu Hyun saat merasakan tubuh Yeon Hee sesekali menggigil.

 

“Sedikit,” balas Yeon Hee tak acuh karena perhatiannya hanya tertuju pada anak-anak tangga yang akan ia lalui karena takut akan menginjak gaunnya sendiri.

 

Kyu Hyun menghentikan langkahnya, membuat Yeon Hee ikut berhenti. Tanpa diduga, Kyu Hyun melepaskan pertautan tangannya dengan tangan Yeon Hee dan ia bergerak untuk melepaskan jas yang melekat di tubuhnya. Banyak pasang mata yang kini menjadi penonton untuk adegan yang sudah terbaca itu, di mana Kyu Hyun menyampirkan jasnya ke pundak Yeon Hee. Kemudian, Kyu Hyun kembali menggamit lengan Yeon Hee.

 

Seperti kejadian dalam cerita-cerita dongeng yang ia baca ketika masih kecil, Yeon Hee sempat terpana dengan perhatian manis Kyu Hyun ini. Apalagi Yeon Hee semakin merasa mirip dengan putri-putri dalam negeri dongeng yang memiliki banyak kisah dengan tangga. Ya, seperti Cinderella yang berhenti di tangga karena sepatu kacanya lepas. Cukup masuk akal menurut Yeon Hee jika adegan Kyu Hyun melepaskan jas di tangga dan memakaikan di pundaknya, cukup mampu disejajarkan dengan salah satu cerita dongeng kesukaannya itu. Walau logikanya sangat terlihat dipaksakan.

 

“Kalian seperti pasangan suami istri yang sudah dinanti tamu undangan,” ucap Jun Jin yang menyambut keduanya. Pria tampan berhidung mancung itu tampak memegang gelas berisi wine dan mengangkat cukup tinggi untuk menyapa Kyu Hyun dan Yeon Hee.

 

“Jangan membuat lelucon, Oppa.”

 

Tangan Yeon Hee yang sebelumnya bergelanyut di lengan Kyu Hyun, kini sudah berpindah ke lengan kekar Jun Jin yang dibentuk dengan disiplin olahraga. Tak lama, Ye Eun dan Henry menghambur untuk bergabung dengan mereka bertiga.

 

“Tidak ada jadwal, Hyung?” tanya Kyu Hyun yang mencoba menguasai suasana dan menyisihkan Henry agar tidak dapat bergabung ke dalam obrolan mereka.

 

“Seharusnya ada, tapi kekasihku lebih memilih bersemedi untuk menyelesaikan projek novelnya.”

 

Kyu Hyun tersenyum mengejek saat Jun Jin menampakkan ekspresi pasrah. Kemudian, Yeon Hee menambah ledekan-ledekan yang semakin menutup keberadaan Henry dan Ye Eun. Terkadang, ia dan Kyu Hyun akan menjadi tim hebat jika memiliki tekad yang sama. Sungguh kekanak-kanakan.

 

“Hai anak-anak manis, pergilah ke peramal di ujung sana. Ia adalah peramal andal dan ternama.”

 

Yeon Hee dan Jun Jin saling melempar pandang dan menahan senyum. Pasalnya, Jun Jin adalah orang yang cukup senang bertemu peramal karena ingin menjaili mereka. Kemudian, pandangan Yeon Hee di arahkan ke Kyu Hyun. Sayangnya, tatapan Kyu Hyun kini tertuju pada Ye Eun yang tampak asyik mengobrol dan mulai berjalan ke arah peramal bersama Henry. Merasa tidak suka, Yeon Hee kemudian mengabaikan Kyu Hyun dan hanya mengajak Jun Jin.

 

Pada akhirnya, Kyu Hyun berjalan sendiri di urutan paling belakang dan tidak memiliki pasangan.

 

Saat mereka sampai di depan seorang peramal laki-laki yang kini mengenakan pakaian serba hitam, Kim Hana meminta kelima anak muda ini untuk didahulukan. Kyu Hyun yang ada di posisi paling belakang, langsung ditarik oleh ibunya itu hingga akhirnya membuat Kyu Hyun berdiri bersebelahan dengan Yeon Hee.

 

“Peramal Sol, mereka adalah anak-anak saya dan juga kerabat dekat. Gadis cantik yang berdiri di ujung sana adalah putri kandung suamiku, namanya Lee Ye Eun dan disebelahnya adalah Henry Lau, sahabat Ye Eun. Nah, yang paling tinggi ini namanya Jun Jin, kakak Yeon Hee yang sudah sangat dekat dengan kedua anak saya. Dan ini anak kedua saya, namanya Cho Kyu Hyun.”

 

Peramal itu memperhatikan kelima anak muda yang baru saja diperkenalkan Kim Hana. Tangannya tampak bergerak-gerak mencampurkan barang-barang persembahan yang kemudian membuat kelima orang yang tengah diramal langsung menunjukkan reaksi aneh. Ye Eun dan Henry tampak membersitkan hidung mereka, tak tahan dengan aroma yang dibuat si peramal. Kyu Hyun sekilas saja menyentuh hidung, kemudian menahan tangannya untuk menutup lubang hidung saat melihat Yeon Hee dan Jun Jin memasang ekspresi tidak terjadi apa-apa.

 

“Pria tampan,” panggil peramal tua itu yang mengarahkan pandangannya ke arah Jun Jin. Tangan peramal itu melambai-lambai meminta Jun Jin untuk lebih dekat. “Kau akan menikah tahun ini.”

 

“Bagaimana bisa?” balas Jun Jin yang menunjukkan keterkejutannya.

 

Yeon Hee mendekati Jun Jin dan sedikit berjinjit. “Oppa sudah bersiap untuk melamar Ae Rin?” bisik Yeon Hee yang termakan omongan peramal.

 

“Belum.”

 

Senyum peramal itu melebar dan tampak menyeramkan di mata Yeon Hee hingga membuat gadis itu bergidik ngeri. “Pasti. Kau menikah tahun ini tanpa persiapan. Ada pengikat kuat antara kau dan kekasihmu.”

 

“Woa… aku harus menantikannya,” gumam Jun Jin yang mulai memasang ekspresi menggoda. “Ah… apa lagi yang dapat Peramal Sol lihat dari wajah saya?”

 

“Di keningmu ada jerawat yang sangat besar.”

 

Jun Jin langsung membisu sedangkan Kyu Hyun dan Yeon Hee dengan kompak tertawa. Ekspresi berbeda ditunjukkan oleh Ye Eun dan Henry, keduanya tampak tidak menemukan sisi humor di sana dan memilih untuk menunggu giliran mereka diramal.

 

“Kalian,” peramal itu menunjuk ke arah Henry dan Ye Eun yang masih diam. “Aku melihat garis jodoh dari hubungan kalian.”

 

Ye Eun dan Henry saling melempar pandang, kemudian tersenyum. Mereka saling menunjuk dan berkata, “Kita?” secara bersamaan.

 

Yeon Hee langsung kehilangan sisa tawa untuk mengejek nasib Jun Jin yang gagal menjaili peramal. Gadis itu langsung menunduk dan menyembunyikan kepalan tangannya di sisi kiri kanan tubuhnya. Kyu Hyun secara refleks menatap Yeon Hee. Tanpa berpikir panjang, Kyu Hyun menggenggam kepalan tangan Yeon Hee yang sebelumnya tertutup jas miliknya. Alasan Kyu Hyun melakukannya juga semata-mata untuk mengalihkan sesuatu perasaan lain dalam hatinya.

 

“Tapi hanya sekilas saja.”

 

Mendengar itu, Yeon Hee mengurai kepalan tangannya dan membalas pegangan tangan Kyu Hyun. Kepalanya yang tertunduk, kini sudah ia angkat dan akhirnya pandangan keduanya bertemu. Ada gurat senyum di wajah Yeon Hee untuk Kyu Hyun, seolah ia menyampaikan kelegaannya dan bahagia mendengarkan lanjutan ramalan untuk Henry dan Ye Eun. “Kita masih memiliki kesempatan,” ucap Yeon Hee tanpa bersuara.

 

Kyu Hyun hanya mengedipkan matanya dengan santai.

 

“Dan kalian…”

 

Semua pasang mata kemudian berpindah untuk menatap Kyu Hyun dan Yeon Hee yang masih tenggelam dengan dunia mereka. Kemudian, Jun Jin menyenggol bahu Yeon Hee dan berkata, “Hei, Peramal Sol akan meramal kalian.”

 

Kedua tersangka langsung mengerjapkan mata mereka.

 

“Aha… jangan-jangan kalian diramalkan akan berjodoh? Ohooo…” Jun Jin berbicara dengan heboh dan tidak tahu malu, membuat Yeon Hee menginjak kaki kakaknya menggunakan ujung sepatu bertumit tinggi miliknya.

 

“Astaga sakit, anak nakal!” umpat Jun Jin.

 

“Ya, kalian akan berjodoh. Ikatan yang kuat.”

 

Baik Kyu Hyun ataupun Yeon Hee, langsung melempar pandang dan melebarkan mata mereka. Sebuah ramalan yang tidak pernah mereka perhitungkan.

 

“Jangan bercanda, Tuan peramal.”

 

Yeon Hee masih memasang ekspresi bingungnya setelah mengajukan protes. “Ah… mungkin jodoh yang Anda maksud karena kami menjadi teman sejak kecil. Mustahil kalau saya dan Kyu Hyun… astaga… itu tidak mungkin.”

 

Peramal itu menggelengkan kepalanya. Ditatapnya Kyu Hyun dan Yeon Hee secara bergantian. Tatapannya sangat tajam hingga membuat Yeon Hee cukup takut untuk balas menatap mata si peramal. Kemudian, peramal itu mengambil selembar amplop dan memberikannya pada Kyu Hyun. “Tidak ada yang tidak mungkin. Jodoh kalian bukan hanya dalam pertemanan, tapi juga sebagai pasanga hidup. Selamanya. Simpan amplop ini baik-baik, kurang lebih satu tahun lagi kalian akan membutuhkannya.”

 

Secara naluriah, pasangan yang diramalkan ini kembali melempar pandang. Tatapan mereka secara bersamaan pula, berpindah dan tertuju pada amplop yang ada di tangan kanan Kyu Hyun. Penolakan mereka tampak berdasar, karena keduanya sama sekali tidak memiliki ketertarikan satu sama lain. Namun, ramalan yang tampak mustahil itu juga mampu membuat bulu kuduk mereka berdiri. Peramal di depan mereka itu tampak meyakinkan dengan segala aura mencekam yang ditebar oleh pria paruh baya yang bersembunyi dalam riasan kelam.

 

“Lalu, saya tidak mendapatkan amplop juga? Mungkin tanggal menikah?” pertanyaan Jun Jin itu berhasil mengalihkan suasana magis antara Kyu Hyun, Yeon Hee, dan ramalan yang baru saja mereka terima.

 

“Tidak.”

 

Jun Jin mengembuskan napas panjang. Gagal lagi rencananya mengerjai peramal tadi.

 

Tiba-tiba Yeon Hee menarik tangan Kyu Hyun untuk menjauh dari kawasan peramal. Bahkan, Yeon Hee mengabaikan tatapan Ye Eun dan Henry yang tampak ingin mengajaknya berkominikasi.

 

“Apa?” tanya Kyu Hyun saat mereka sudah berada di kamar Cho Ahra.

 

Mereka yang masih sama-sama berdiri, kini saling berhadapan setelah Yeon Hee mengunci pintu.

 

“Mana amplopnya?”

 

Tanpa bicara, Kyu Hyun memberikan amplop itu pada Yeon Hee. Setelah amplop berpindah tangan, Kyu Hyun melipat tangannya di depan dada dan menatap Yeon Hee sebagai bentuk antisipasi. Namun, sampai beberapa waktu setelahnya, Yeon Hee hanya memperhatikan amplop itu dalam diam.

 

“Akan kau apakan amplop itu?” tanya Kyu Hyun yang mulai dilanda rasa ingin tahu.

 

“Apa jika kita merobek amplop ini, maka ramalan itu akan terpatahkan?” Yeon Hee mengangkat amplopnya tinggi-tinggi.

 

Kyu Hyun menggelengkan kepalanya. “Aku tidak yakin. Tapi, aku juga tidak percaya pada peramal itu. Ini hanya sebuah ramalan. Dia dibayar untuk hadir di pesta ini. Bisa saja ia hanya bicara omong kosong.”

 

“Woa… kau bisa bicara panjang lebar juga ternyata. Aku pikir berkencan dengan segala program pembuatan game akan membuatmu bisu.” Yeon Hee memperkuat kesan takjubnya dengan mengerjapkan matanya beberapa kali.

 

“Jangan berpikiran menyimpang!”

 

Bibir Yeon Hee mengerucut. Gadis itu juga langsung membuang napas panjang dan berjalan tanpa semangat menuju ranjang Cho Ahra. “Aku hanya ingin menghibur diriku sendiri. Entah kenapa, ramalan itu menghantuiku. Percuma saja Henry dan Ye Eun hanya berjodoh sebentar kalau kita berjodoh selamanya. Itu malapetaka.”

 

“Itu menandakan kau percaya dengan ramalan itu.”

 

“Secara tidak langsung, ya. Ya, aku percaya. Selama ini, ramalan yang aku dengar dan ditujukan untukku selalu terjadi.” Yeon Hee melemaskan bahunya. Kemudian, gadis itu memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk milik Cho Ahra yang sudah sangat lama tidak ditiduri, tetapi tetap terawat.

 

Kembali, Yeon Hee mengangkat amplop berwarna putih bersih pemberian peramal tadi dengan tatapan bingung. Tak lama, Yeon Hee melemparkan pandangan ke arah Kyu Hyun yang tampak berjalan ke arahnya. Ternyata, pria itu lebih memilih duduk di sisi ranjang dan menempel pada pinggang Yeon Hee.

 

“Aku benar-benar merobeknya, ya? Separuh aku bawa dan separuhnya lagi kau yang bawa. Bagaimana?”

 

“Terserah kau saja. Lebih baik lagi kalau keduanya kau bawa.”

 

“Tidak! Menyimpan keduanya di satu tempat sama saja menyatukan mereka. Tidak berguna sekali otak cerdasmu itu, Cho Kyu Hyun.”

 

Terbiasa mendapatkan gerutuan dan ejekan dari gadis itu, Kyu Hyun tak mengacuhkan lagi. Anggap saja angin lalu, pikir Kyu Hyun setiap kali mendapati perlakuan Yeon Hee yang seperti itu. Kini, Kyu Hyun pun hanya diam dan memperhatikan kinerja tangan Yeon Hee yang tengah menyobek amplop di tangannya.

 

“Ini.” Yeon Hee mengulurkan potongan amplop itu pada Kyu Hyun. “Hati-hati, isinya bisa jatuh.”

 

Potongan amplop itu langsung Kyu Hyun masukkan ke saku kemeja putihnya. Kemudian, Kyu Hyun menepuk paha Yeon Hee agar gadis itu menggeser tubuhnya. Pun, Yeon Hee benar-benar menggeser tidurnya tanpa banyak tanya dan setelah itu Kyu Hyun bergabung untuk merebahkan diri.

 

“Nah, ini yang sejak tadi terus bercokol di pikiranku.”

 

Kyu Hyun menoleh dan mendapat pemandangan sebelah wajah Yeon Hee, karena Yeon Hee lebih memilih untuk menatap langit-langit kamar.

 

“Bagaimana bisa kita menjadi suami istri padahal kita saja sering tidur satu ranjang dan tidak memiliki nafsu satu sama lain?” pertanyaan yang Yeon Hee lontarkan itu sungguh terdengar sangat polos di telinga Kyu Hyun.

 

Tanpa dosa sekali kau mengatakan semua itu? Dasar gadis polos, tidak tahu saja pikiran laki-laki.

 

“Kenapa?” tanya Yeon Hee yang kini sudah menoleh dan menatap wajah Kyu Hyun.

 

“Tidak apa-apa.”

 

Segera Yeon Hee memutar bola matanya dan langsung menyedekapkan tangannya di depan dada. Pandangan Yeon Hee kembali ke langit-langit kamar. Hal itu tidak lepas dari pandangan mata Kyu Hyun. Sebagai laki-laki normal, Kyu Hyun tidak ingin melewatkan pemandangan indah itu. Belahan dada Yeon Hee tampak melambai-lambai untuk disorot dan dieksplor oleh mata Kyu Hyun.

 

Tanpa Kyu Hyun sadari, ia sudah kesusahan menelan liurnya. Dengan kekuatan penuh, Kyu Hyun menyadarkan dirinya untuk terus menjaga pikiran sehatnya. Sungguh, pertahanannya sedang diuji. Biasanya ia tidak begitu segila ini melihat tubuh Yeon Hee, karena ini kali pertama mereka tidur, dengan Yeon Hee yang mengenakan gaun. Ditambah, gaun itu berwarna putih dan bagian dada gaun itu dihiasi dengan bunga-bunga kecil yang sangat indah.

 

“Eum… langkah apalagi yang harus kita lakukan untuk mematahkan ramalan itu? Apa kita jangan bertemu sampai tahun depan? Atau kita pisahkan Henry dan Ye Eun?”

 

Kyu Hyun berdeham, berusaha menggeser pikiran mesumnya.

 

“Kenapa?”

 

“Kau ingin bergaya seperti pemeran antagonis, begitu?”

 

“Aku hanya bingung dan benar-benar tidak bisa melihat Henry dan Ye Eun berjodoh. Kau  kan sangat dekat dengan Ye Eun dan kau menyukainya, kenapa tidak segera kau nyatakan saja perasaanmu itu?”

 

Segera Kyu Hyun berangsur duduk dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Saat Kyu Hyun menunduk, belahan dada Yeon Hee semakin tampak indah dari sudut pandang sekarang. Benar-benar godaan iman untuk Cho Kyu Hyun.

 

“Ah… aku pusing…”

 

“Tidur saja. Nanti Jun Jin hyung yang akan menggendongmu.”

 

“Apa kau benar-benar tidak memiliki rencana?”

 

Kyu Hyun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Dibukanya aplikasi game kesukaannya dan tak butuh waktu lama untuk Kyu Hyun mampu tenggelam dalam permainan itu hingga mengabaikan Yeon Hee dan suguhan pemandangan indah.

 

“Cho Kyu Hyun!” Yeon Hee menggoyang-goyangkan tangan kanan Kyu Hyun hingga membuat si empunya nama mendesis tak suka. “Ayolah selesaikan dulu masalah ini.”

 

“Sudahlah. Lebih baik kau tidur dan berhenti berimajinasi,” ucap Kyu Hyun yang kemudian mem-pause permainannya untuk menarik selimut dan menyelimuti Yeon Hee.

 

Terdengar helaan napas pasrah dari Yeon Hee yang tak lama berubah menjadi suara napas teratur. Kyu Hyun merasa tenang melihat Yeon Hee tenang. Setidaknya, ia tidak terus menerus mendengar rengekan tak masuk akal dari bibir mungil gadis itu. Namun, berpikir tentang dirinya dan Ye Eun, Kyu Hyun bahkan tidak pernah memikirkan hubungan yang sangat jauh seperti pemikiran Yeon Hee. Sederhana saja, ia dan Ye Eun tetaplah kakak beradik walau bukan saudara sedarah. Hanya, di dunia sosial mereka, status mereka itu sudah melekat dan akan sangat sulit untuk diubah.

 

Suara ketukan pintu membuat Kyu Hyun melepaskan pandangannya dari Yeon Hee.

 

Oppa…” kepala Ye Eun menyebul dari sela pintu yang terbuka, padahal Kyu Hyun belum mengizinkannya untuk masuk atau sekadar membuka pintu.

 

“Kenapa Eun-ah?” tanya Kyu Hyun yang kini berangsur turun dari ranjang dan berjalan mendekati Ye Eun.

 

Tampak jelas jika kini Ye Eun mencoba menelisik posisi Yeon Hee yang terlelap. Diam-diam ia menyimpan pemikiran buruk tentang sahabatnya itu. Namun, ia tidak berani untuk menyuarakan isi pikirannya. Setelah memastikan Yeon Hee berpakaian lengkap, Ye Eun segera mengedarkan pandangannya pada penampilan Kyu Hyun. Masih sangat rapi. Tanpa pikir pajang, Ye Eun mengembuskan napas panjang.

 

“Eun-ah…”

 

“Ah…” Ye Eun mengerjapkan matanya dan tampak salah tingkah. Beberapa kali Ye Eun menampakkan senyum bingungnya hingga akhirnya sebuah alasan melintas di pikirannya. “Ah iya, di bawah sedang ada acara makan malam. Ayo Oppa turun.”

 

Kyu Hyun mengangguk. Perlahan tangan Ye Eun meraih lengan Kyu Hyun, tetapi Kyu Hyun menghentikannya. “Kau duluan saja, aku harus membangunkan Yeon Hee.”

 

“Oh… ya,” gumam Ye Eun dengan gamang. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Gadis itu segera mengerjapkan matanya dan mengangguk mengiakan. “Ah, ya,” ucapnya sekali lagi tanpa sadar.

 

Ada sorot kekecewaan dari wajah Ye Eun yang dapat Kyu Hyun lihat dengan jelas. Perasaan bahagia langsung menelusup memasuki hati Kyu Hyun. Bahkan, Kyu Hyun juga melebarkan senyumnya. Sayang, Ye Eun terlanjur berbalik dan berjalan pergi sehingga tidak dapat menyaksikan ekspresi itu.

70 thoughts on “Break The Forecast Part 2

  1. kenapa ye eun kurang suka jadinya sama yeon hee. apa dia sebenarnya juga suka sama kyuhyun?. bener kata kyuhyun yeon hee terlalu polos menanggapi pikiran tentang laki laki. laki laki normal tetap aja punya nafsu walau pun itu sahabat jecilnya yang serinh tidur bareng dari kecil ya namanya laki laki paati ada lah nafsu

    Suka

  2. Cinta segi apa ya ini namanya? Bingung deh… btw si yeon hee polos bgt ya pemilihnya soal kyuhyun, ga tau aja aslinya klo si kyuhyun tuh nahan nafsunya mati2an pas deket yeon hee…hahaha

    Suka

  3. cinta perseginya rumittt 😰

    d liat, Kyu kaya suka Yeonhee ???
    tapi sebenernya dia suka Yeeun ?!!
    Henry, dia memank suka Yeeun !

    kalau ramalan itu kejadian sama KyuHee, gimana ya ??? 😁😁😁

    Suka

  4. Kok rumit bgt yaa kisah percintaan mereka…
    Apa bener nanti kyuhyun dan yeon hee berjodoh…??
    Gk sabar bgt pengen baca kelanjutannya… :

    Suka

  5. ekspetasi(ku): Kyuhyun sama Yeeun sama2 saling ungkapin perasaan dan orang tua mereka tau sampe akhirnya Kyuhyun di jodohin sama Yeonhee karena Kyuhyun itu kakaknya Yeeun meskipun cuma angkat tetep aja ga boleh begitu antar saudara, terus Kyuhyun-Yeonhee menikah dengan batasan (perjanjian) yg mereka buat sampe akhirnya mereka ga sadar dan memiliki rasa satu sama lain.

    kenyataan: -dalam proses pembuatan- :’v

    hanya tabakan belaka yaks hasil bacaan ff selama ini:’3

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s