Rancore Part 5


 

Tittle               : Rancore Part 5

Cast                 : Kyuhyun, Seung Hye, Seung Mi

Category         : NC 21, Yadong, Sad, Romance, Family, Chapter

Author              : Vhiy Zaza

 

*****

Author POV

 

Teriknya matahari tidak membuat kedua insan yang sedang kasmaran itu menghentikan kegiatan jalan-jalan mereka. Bahkan keduanya nampak sangat bahagia. Tangan Kyuhyun yang tadi penuh dengan paper bag, saat ini sudah bebas, karena semua paper bag yang tadi ia bawa sudah diambil oleh Sopir Nam dan diletakan ke bagasi mobil.

 

Oppa, aku boleh beli ice cream?” Seung Hye bertanya sambil menunjukkan tatapan polosnya. Dan tatapan itu mampu menghipnotis Kyuhyun, sehingga pria itu langsung mengangguk, tanda membolehkan Seung Hye membeli ice cream. Sambil menjerit girang, Seung Hye berlari mendekati kedai ice cream. Ia  melompat-lompat kecil, persis seperti anak-anak yang kegirangan saat dibawa ke taman bermain. Sekali lagi, tingkah Seung Hye menghipnotis Kyuhyun. Mata Kyuhyun tak lepas dari semua gerakan yang Seung Hye lakukan. “Oppa, uangnya!” Seung Hye berteriak karena jaraknya dengan Kyuhyun cukup jauh.

 

Sambil tersenyum geli, Kyuhyun berjalan mendekati Seung Hye yang sudah tidak sabar ingin memakan ice cream di tangannya. “Makan saja ice cream-nya, Sayang,” perintah Kyuhyun ketika ia berjarak delapan langkah dari tempat Seung Hye berdiri. Namun, Seung Hye langsung menggeleng dan mengerucutkan bibirnya.

 

“Belum dibayar,” ucap Seung Hye.

 

“Berapa?” tanya Kyuhyun pada penjual ice cream. Kemudian langsung memberikan lembaran uang sesuai yang dikatakan penjual ice cream. “Makanlah, sudah dibayar.” Kyuhyun mengalihkan tatapannya pada Seung Hye dan memerintah lembut gadis itu.

 

Dengan semangat, Seung Hye langsung menjilat ice cream di tangannya. Karena terlalu semangat, sudut bibir Seung Hye belepotan. Hal itu membuat Kyuhyun gemas, tanpa peduli dengan keberadaan mereka, Kyuhyun menangkup pipi Seung Hye dengan kedua telapak tangannya, lalu mencium lama bibir Seung Hye. “Pelan-pelan saja, Sayang. Bibirmu belepotan,” bisik Kyuhyun di depan bibir Seung Hye.

 

Seung Hye hanya mengerjap polos, lalu kembali memakan ice cream-nya dengan santai. Ia bertingkah seolah tidak terjadi apa pun sebelumnya. “Mau?” Ia bahkan menawarkan ice cream-nya pada Kyuhyun, yang tentu saja ditolak secara halus oleh Kyuhyun. “Aku habiskan kalau Oppa tidak mau.” Seung Hye mengedikkan bahunya acuh, lalu melahap ice cream di tangannya hingga habis.

 

“Kita ke mana lagi?” tanya Kyuhyun ketika ice cream Seung Hye sudah habis.

 

“Aku juga tidak tahu ingin ke mana lagi,” jawab Seung Hye. Ia mengangkat tangan kanannya dan Seung Hye langsung mengernyit ketika melihat ada bekas ice cream di tangannya. Di tengah kebingungan Seung Hye, tiba-tiba Kyuhyun menarik tangan Seung Hye yang sedikit lengket, lalu membersihkannya dengan sapu tangan yang selalu ada di kantong Kyuhyun.

 

“Kau seperti anak kecil saja.” Seung Hye langsung menatap wajah Kyuhyun saat mendengar ucapan pria itu.

 

Oppa tidak suka aku yang seperti anak kecil?” tanya Seung Hye pelan.

 

“Apa aku mengatakan, aku tidak menyukaimu yang seperti anak kecil?” Kyuhyun balik melempar pertanyaan pada Seung Hye. Seung Hye pun langsung menggeleng. “Nah, sudah bersih. Ayo, kita makan siang.”

 

“Aku tidak ingin makan di restoran, Oppa.” Ucapan Seung Hye langsung menghentikan langkah Kyuhyun.

 

“Lalu kau ingin makan di mana, Sayang?” tanya Kyuhyun, ia menaikkan sebelah alisnya saat menunggu jawaban Seung Hye.

 

“Di rumah,” jawab Seung Hye.

 

“Kau ingin pulang?” tanya Kyuhyun lagi.

 

“Iya, aku ingin pulang. Pulang ke rumah kita, lalu makan di sana.” Jawaban Seung Hye berhasil membuat Kyuhyun tersenyum girang. Pria itu mengangguk semangat dan langsung menarik Seung Hye ke mobil.

 

“Kau akan masak apa?” tanya Kyuhyun saat mereka sudah duduk di dalam mobil.

 

“Aku bisa masak?” Seung Hye menatap lama wajah Kyuhyun.

 

Kyuhyun pun langsung menepuk dahinya karena merasa bodoh. “Aku lupa, kau tidak mengingat apa pun, kalau begitu kita beli saja makanannya di restoran, lalu kita bawa pulang.”

 

“Bagaimana ….” Mulut Seung Hye terbuka berkali-kali, namun tidak ada suara yang keluar. Gadis itu seperti masih ingin mengatakan sesuatu tetapi ia ragu untuk mengatakannya. “Bagai … ahh, lupakan saja.” Seung Hye pun akhirnya menyerah untuk mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.

 

“Bagaimana? Lanjutkan ucapanmu, Sayang.” Kyuhyun memerintah Seung Hye dengan lembut, dahi pria itu mengernyit karena penasaran dengan kelanjutan ucapan Seung Hye. Karena Seung Hye tak kunjung melanjutkan ucapannya, Kyuhyun menggeser duduknya hingga ia duduk lebih rapat dengan Seung Hye. Tangannya terangkat, ia menangkup sebelah pipi Seung Hye dan mengusap pipi mulus itu dengan ibu jarinya. “Apa kelanjutan kata ‘bagaimana’ itu, Sayang?” bisik Kyuhyun tepat di samping telinga kanan Seung Hye.

 

Seung Hye menatap mata Kyuhyun dan melanjutkan ucapannya tadi dengan suara pelan. “Tadinya aku ingin mengatakan, bagaimana kalau aku mencoba memasak makanan untuk kita. Tapi aku sadar, aku lupa caranya.”

“Kalau begitu, kita pergi beli bahan makanannya terlebih dahulu,” sahut Kyuhyun yakin. “Ahjussi, kita ke super market terlebih dahulu.” Sopir Nam mengangguk tanda mengerti, lalu menghidupkan mobil dan mengendarainya menuju super market terdekat.

 

Seung Hye menoleh cepat pada Kyuhyun, ia mengernyitkan alisnya. “Untuk apa kita ke super market dan membeli bahan makanan?” tanyanya setelah beberapa saat.

 

“Tentu saja untuk kau masak, Sayang,” jawab Kyuhyun tanpa melihat ke arah Seung Hye.

 

“Tapi …”

 

Ucapan Seung Hye langsung dipotong oleh Kyuhyun. “Kau bisa melihat caranya di internet, Sayang.” Seung Hye bungkam setelah mendengar ucapan Kyuhyun. Sebenarnya ia masih ingin membantah ucapan Kyuhyun, tapi iya sadar jika hal itu tidak akan mengubah keinginan Kyuhyun.

 

Mereka pun tiba di super market. Kyuhyun keluar lebih dulu dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Seung Hye. Tangan Kyuhyun terus menggenggam jari-jari lentik Seung Hye selama perjalanan mereka dari tempat parkir hingga mereka masuk ke dalam super market. “Aku ambil troli dulu,” bisik Kyuhyun, lalu melepaskan genggamannya di tangan Seung Hye.

 

Dengan sabar Seung Hye menunggu Kyuhyun yang sedang mengambil troli untuk tempat belanjaan mereka. “Kita mulai dari mana?” tanya Kyuhyun setelah kembali sambil mendorong troli. Seung Hye pun langsung mengedikkan bahunya tanda tidak tahu harus mulai dari mana.

 

Kyuhyun tersenyum, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia mencari resep makanan rumahan. “tangsuyuk sepertinya enak,” gumam Kyuhyun. Ibu jarinya terus bergerak di layar datar yang ada di tangannya. “kimchi jjigae sepertinya juga enak. Bagaimana kalau kita masak dua-duanya, Sayang?” Kyuhyun mengalih tatapannya dari layar ponselnya ke wajah Seung Hye.

 

“Terserah Oppa saja, aku tidak yakin bisa memasaknya,” sahut Seung Hye pelan.

 

“Kau pasti bisa.” Kyuhyun mengusap puncak kepala Seung Hye dan tersenyum untuk meyakinkan Seung Hye. Ia mulai mendorong troli kosong dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam tangan Seung Hye.

 

“Apa saja yang harus kita beli?” tanya Seung Hye.

 

Kyuhyun menghentikan langkahnya, lalu melihat resep yang tadi ia cari di internet. “Untuk bumbu, kita harus beli garam, cuka, bawang merah dan bawang putih, bawang Bombay, lada dan bubuk cabai,” jawab Kyuhyun. Lalu mulai mencari bumbu yang baru saja ia sebutkan di rak yang berjejer rapi. Seung Hye pun mengekor di belakangnya.

 

“Dimana letak lada dan bubuk cabai, ya?”  Kyuhyun bergumam, matanya terus melihat-lihat ke rak lain. “Sayang, apa kau melihat bubuk cabai dan lada?” Ia menoleh pada Seung Hye yang sejak tadi diam di belakang Kyuhyun.

 

Seung Hye menggeleng pelan. “Aku tidak melihatnya,” sahutnya.

 

Seakan tersadar, Kyuhyun menepuk dahinya dan tersenyum lebar. “Sebentar, aku carikan foto semua bahan yang ingin kita beli.” Hanya butuh waktu lima menit untuk Kyuhyun mencari semua gambar bahan masakan yang akan mereka beli, ia menyimpan gambar-gambar itu lalu memberikan ponselnya pada Seung Hye. “Kau bisa lihat gambar bumbu dan bahan lain yang akan kita beli, di sana, Sayang,” ucap Kyuhyun.

 

Seung Hye melihat lama pada layar ponsel Kyuhyun, raut wajahnya menunjukkan kebingungan. “Geser saja seperti ini, Sayang.” Kyuhyun mengajari Seung Hye. Dan Seung Hye pun tersenyum lebar saat mengerti.

 

“Ayo, kita belanja!” Seung Hye menjerit semangat seraya mengangkat kepalan tangannya ke udara. Dengan senyum yang terus mengembang, Seung Hye mulai memilih bumbu sesuai dengan gambar yang ada di ponsel Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun mengekor di belakangnya. Bibir Kyuhyun pun sama dengan bibir Seung Hye. Bibir itu tertarik ke dua sudut yang berbeda, sehingga membentuk senyuman lebar.

 

“Garam, lada, bawang Bombay.” Satu persatu nama bumbu itu Seung Hye sebutkan. Dan tak lupa, bumbu-bumbu itu ia ambil dan meletakkannya ke troli yang Kyuhyun dorong. “Ah, itu bawang merah.” Dengan gerakan lincah, Seung Hye berlari kecil untuk mengambil bawang merah. Setelah mengambil bawang merah, ibu jari Seung Hye kembali menyentuh layar ponsel Kyuhyun. Namun, alis Seung Hye langsung bertautan saat melihat papan huruf muncul di layar ponsel itu. Ia diam sesaat, lalu mendekat pada Kyuhyun. “Ini bagaimana?” tanya Seung Hye, sembari menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya.

 

Kyuhyun berdeham, sebelum mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya dari tangan Seung Hye. Dan sebelah tangannya yang kosong, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Dengan cepat Kyuhyun memasukkan password ponselnya. Dalam hitungan detik, ponsel itu kembali berpindah tangan.

 

“Nah, ini dia,” gumam Seung Hye. Ia melihat sekali lagi gambar bawang putih yang ada di ponsel, lalu mendekat pada rak dan mendekatkan ponsel di tangannya dengan bawang putih yang sudah terbungkus rapi. “Benar, ini sama dengan gambar.” Seung Hye langsung mengambil bawang putih itu dan memberikannya pada Kyuhyun. “Oppa, yang merah ini apa?” Seung Hye menoleh pada Kyuhyun.

 

“Itu bubuk cabai, Sayang,” jawab Kyuhyun. Ia meninggalkan sebentar troli yang sejak tadi ia dorong, dan berkeliling untuk mencari keberadaan bubuk cabai.

 

“Ini, Oppa?” suara Seung Hye menghentikan langkah Kyuhyun. Ia tersenyum tipis saat melihat Seung Hye mengangkat tangannya yang menggenggam bubuk cabai.

 

“Iya,” jawab Kyuhyun. Ia mendekat pada Seung Hye, mengecup bibir gadis itu sekilas, sebelum mengambil bubuk cabai yang ada di tangan Seung Hye. “Sekarang cari cuka, sayang.” sambil tersenyum lebar, Seung Hye langsung mencari keberadaan cuka.

 

Sudah hampir lima menit Seung Hye mencari keberadaan cuka, namun gadis itu belum juga menemukannya. Dengan bahu melorot lesu, Seung Hye mendekat pada Kyuhyun yang masih berdiri di tempat yang sama. “Aku tidak menemukannya, Oppa,” lapor Seung Hye.

 

Kyuhyun tersenyum lebar dan menggoyang-goyangkan benda yang ada di tangan kanannya. “Ini yang kau cari, Sayang?” ucapnya. Senyum lebar Kyuhyun berganti menjadi kikikan geli ketika Seung Hye merengut dan mengentak-entakkan kakinya. Gadis itu meninggalkan Kyuhyun begitu saja, ia berjalan ke sembarang arah.

 

Tak menunggu Seung Hye jauh, Kyuhyun pun menyusul gadis yang sedang kesal itu. “Hei, Sayang. Jangan marah.”  Kyuhyun menabrakkan troli yang ia dorong pada Seung Hye, berharap Seung Hye akan menoleh padanya. Namun, alih-alih mendapat perhatian dari Seung Hye, Kyuhyun justru sekali lagi ditinggalkan oleh gadis itu. Dan itu membuat Kyuhyun sadar bahwa Seung Hye benar-benar marah padanya.

 

Kyuhyun pun berjalan cepat, masih dengan mendorong troli yang berisi bumbu-bumbu yang tadi Seung Hye pilih. Kyuhyun menarik Seung Hye ke dalam pelukannya. Ia bahkan mengabaikan pandangan orang-orang ada di sekitar mereka. “Ayo, kita memilih bahan lainnya, Sayang.” Kyuhyun berbisik tepat di samping telinga Seung Hye. ia melepaskan pelukan pada tubuh ramping Seung Hye. Namun, Kyuhyun tak membiarkan Seung Hye menjauh darinya. Pria itu mengurung Seung Hye di antara kedua tangannya dan troli yang kembali ia dorong.

 

Seung Hye sengaja berjalan sangat lambat, nyaris seperti siput. Gadis itu ingin membuat Kyuhyun kesal juga. Tapi, apa yang ia lakukan justru membuat Kyuhyun senang. Langkah lambat Seung Hye itu membuat mereka bisa berdiri dengan jarak dekat dalam waktu lama, itulah alasan Kyuhyun senang dengan apa yang Seung Hye lakukan.

 

Karena tidak mendapatkan protes dari Kyuhyun, membuat Seung Hye menoleh pada pria itu. Yang ia dapati saat menoleh adalah wajah berbinar Kyuhyun. “Ada apa, Sayang?” tanya Kyuhyun dengan suara ceria.

 

“Kenapa kau tidak protes, Oppa?” Seung Hye memutuskan untuk bertanya pada Kyuhyun.

 

“Protes?” Dahi Kyuhyun mengernyit, seakan ia tidak mengerti maksud pertanyaan Seung Hye.

 

“Iya, mengapa Oppa tidak protes karena aku sengaja berjalan sangat lambat,” sahut Seung Hye.

 

“Mengapa harus protes? Aku justru senang kau berjalan lambat seperti ini.” Kyuhyun tersenyum lebar saat menjawab ucapan Seung Hye.

 

Kali ini, dahi Seung Hye yang mengernyit karena mendengar jawaban Kyuhyun. Seung Hye tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Kyuhyun. “Senang,” gumamnya. Tapi, karena posisinya dengan Kyuhyun sangat dekat, gumaman itu terdengar jelas di telinga Kyuhyun.

 

“Iya, aku senang,” ucap Kyuhyun. “Karena aku bisa berlama-lama dalam posisi sedekat ini denganmu,” sambungnya.

 

Perlahan, kernyitan di dahi Seung Hye mulai menghilang saat mendengar ucapan Kyuhyun. “Ayo kita belanja lagi!” jerit Seung Hye semangat. Ia ikut mendorong troli yang ada di depannya. “Sekarang kita memilih apa lagi, Oppa?” tanya Seung Hye tanpa menoleh pada Kyuhyun.

 

“Daging sapi dan beras” jawab Kyuhyun.

 

“Baiklah, kita mencari daging.”

 

Kaki-kaki Seung Hye yang tadi berjalan sangat lambat, kini mulai melangkah dengan langkah lebar. Dan dalam beberapa detik, langkah lebar itu berubah menjadi lari kecil. Mau tidak mau, Kyuhyun yang ada di belakang Seung Hye, ikut berlari kecil.

 

“Ini menyenangkan!” seru Seung Hye. Seruan itu tentu saja mengundang perhatian orang-orang juga sedang belanja di super market itu. “Oppa, itu daging.” Telunjuk Seung Hye menunjuk ke arah daging yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat mereka saat ini. “Ayo, kita ke sana.” Baru saja Seung Hye ingin mendorong troli ke tempat daging, Kyuhyun justru membelokkan troli itu ke sisi yang berlawanan.

 

“Kau bilang ini menyenangkan,” ucap Kyuhyun. “Jadi, ayo kita lakukan lagi, hingga kau kelelahan dan tak sanggup lagi tertawa karena sakit perut.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Kyuhyun mulai berlari dan membawa Seung Hye dan troli di depannya mengelilingi super market.

 

“Tuan … Nona, bisakah kalian berhenti melakukan itu? Apa yang kalian lakukan sangat mengganggu pengunjung lain.” Wanita yang umurnya berkisar awal 40, menegur Kyuhyun dan Seung Hye. Raut masam sangat jelas di wajah wanita itu.

 

“Ah … maaf.” Kyuhyun menundukkan kepalanya sekilas pada wanita yang menegur mereka tadi. Tanpa menunggu sahutan wanita itu, Kyuhyun mendorong troli dengan gerakan santai, dan itu berarti Seung Hye pun ikut berjalan di antara troli dan Kyuhyun.

 

Satu langkah, dua langkah, hingga langkah kedua belas, Kyuhyun menoleh ke arah belakang. Senyuman lebar mengembang di wajahnya ketika wanita yang menegur mereka tadi tidak tertangkap oleh matanya lagi. “Ayo, kita bersenang-senang lagi, Sayang!” jerit Kyuhyun semangat.

 

Entah sudah berapa keliling mereka berlarian seperti itu, dan entah sudah berapa banyak umpatan yang mereka terima karena tingkah kekanak-kanakan mereka itu. “Oppa, sudah. Aku lelah,” rengek Seung Hye.

 

“Ingin istirahat?” Kyuhyun melepaskan troli dan merengkuh pinggang Seung Hye. Tangan kirinya terangkat untuk mengusap keringat di dahi Seung Hye.

 

“Tidak,” sahut Seung Hye pelan. “Kita lanjut saja belanjanya.” Selesai mengucapkan kalimat itu, Seung Hye langsung mendorong troli yang ada di depannya. Sedangkan Kyuhyun tetap setia memeluk longgar pinggang Seung Hye.

 

“Tadi kita ingin mengambil apa, Oppa?”

 

“Sepertinya ingin mengambil daging,” jawab Kyuhyun.

 

“Lalu di mana tempat daging tadi?”

 

Kyuhyun tertawa lepas saat mendengar pertanyaan Seung Hye. Pertanyaan itu membuat Kyuhyun mengingat kelakuan kekanak-kanakan mereka beberapa saat yang lalu. “Sepertinya di sana, Sayang.” Kyuhyun menunjuk ke arah kanan. Dan mereka pun mulai berjalan ke arah yang Kyuhyun tunjuk. Kali ini benar-benar berjalan, tidak ada berlari-lari dan membuat kesal pengunjung lainnya.

 

“Itu dagingnya, Oppa,” ucap Seung Hye. Ia menghampiri penjual daging, dan meninggalkan troli yang tadi ia dorong. “Oppa saja yang dorong!” perintah gadis itu tanpa melihat ke arah Kyuhyun yang ada di belakangnya.

 

Kyuhyun yang biasanya akan berteriak marah ketika ada seseorang memerintahnya. Namun. Saat ini ia nampak santai ketika Seung Hye memerintah dirinya. Ia bahkan melakukan perintah itu tanpa ada penolakan sedikit pun.

 

Mata Kyuhyun terus memerhatikan Seung Hye yang berjalan lima langkah di hadapannya. Sekecil apa pun gerakan yang dilakukan gadis itu tak luput dari pandangan Kyuhyun. Entah mengapa tiba-tiba saja memerhatikan gerak-gerik Seung Hye menjadi semenarik ini bagi Kyuhyun. Pria itu bahkan sengaja memperlambat langkahnya agar bisa terus memerhatikan Seung Hye.

 

Oppa, beli dagingnya berapa kg?”

 

Seung Hye yang tiba-tiba menoleh ke arahnya membuat Kyuhyun terkejut. Namun, ia bisa mengendalikan raut wajahnya dengan cepat, sehingga Seung Hye tidak menyadari keterkejutannya.

 

Oppa.” Seung Hye memanggil Kyuhyun sekali lagi karena pria itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.

 

Kyuhyun berdeham beberapa kali sebelum menjawab Seung Hye. “Maaf, Sayang. Tadi kau menanyakan apa?”

 

Seung Hye memutar bola matanya sebagai bentuk kekesalan pada Kyuhyun. “Beli dagingnya berapa kg?” Dengan nada kesal, Seung Hye mengulangi pertanyaannya tadi.

 

“Satu kg saja, Sayang.” Kyuhyun tersenyum tipis sebelum berjalan mendekat pada Seung Hye. Ia mengeluarkan lembaran uang untuk membayar daging yang baru saja diberikan penjual wanita yang bertubuh gempal.

 

Penjual daging melihat wajah Kyuhyun dan Seung Hye secara bergantian. Wanita paruh baya itu nampak sangat tertarik pada Kyuhyun dan Seung Hye. Tanpa diduga, wanita paruh baya itu memberikan sepotong besar daging kelas satu pada Seung Hye. “Ini hadiah untuk pengantin baru yang sangat serasi,” ucap wanita paruh baya itu.

 

Kyuhyun dan Seung Hye saling melempar pandang karena ucapan penjual daging itu. Bibir mereka berkedut karena menahan tawa. “Terima kasih, Ahjumma,” ucap Seung Hye tulus. Ia mengambil daging yang diberikan wanita paruh baya tadi, lalu menyimpannya ke dalam kantong daging yang masih di tangannya.

 

“Semoga cepat ….” Penjual daging itu menggerakkan tangannya di depan perut, membentuk setengah lingkaran. Kyuhyun dan Seung Hye tidak bisa lagi menahan tawa mereka kali ini. mereka tahu betul maksud penjual daging itu. Ia mendo’akan semoga Seung Hye cepat hamil.

 

“Kalau Ahjumma sering memberi kami daging seperti tadi, sepertinya aku akan cepat hamil,” gurau Seung Hye. Kikikan geli masih mengiringi ucapannya.

 

“Aku akan sering memberi kalian daging asal kalian juga sering membeli daging padaku.” Penjual daging itu membalas gurauan Seung Hye.

 

“Sepertinya kami akan menjadi pelanggan, Ahjumma.”

 

Tatapan Kyuhyun kembali terpaku pada Seung Hye. Kali ini ia begitu fokus memerhatikan wajah bahagia Seung Hye. Rona merah muncul di pipi Seung Hye saat ia tertawa lepas seperti saat ini. Dan itu menambah kecantikannya berkali-kali lipat.

 

Karena terlalu fokus memerhatikan wajah Seung Hye, Kyuhyun tidak menyadari jika penjual daging yang tadi berbicara pada Seung Hye kini sudah mengalihkan tatapannya pada Kyuhyun. Wanita paruh baya itu tersenyum lebar saat melihat kilatan mata Kyuhyun. “Dasar pasangan muda,” ucap penjual daging itu. Namun, suara penjual daging itu bahkan tidak mampu mengalihkan perhatian Kyuhyun dari wajah Seung Hye.

 

Seung Hye pun ikut melihat ke arah Kyuhyun. “Ada apa dengan tatapanmu, Oppa?” Rona di wajah Seung Hye semakin jelas. Ia merasa malu pada penjual daging yang saat ini sedang tersenyum menggoda ke arahnya. Kami pergi dulu, Ahjumma. Terima kasih dagingnya.” Tanpa menunggu sahutan dari penjual daging itu, Seung Hye langsung mendorong troli yang ada di antara dirinya dan Kyuhyun. Dan hal itu berhasil menyadarkan Kyuhyun. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu menoleh pada penjual daging dan menundukkan kepalanya sekilas sebelum menyusul Seung Hye.

 

“Mengapa kau terburu-buru, Sayang?” tanya Kyuhyun saat ia berhasil menyamakan langkah dengan Seung Hye.

 

Oppa membuatku malu,” jawab Seung Hye.

 

Dahi Kyuhyun mengernyit mendengar jawaban Seung Hye. “Membuatmu malu? Memangnya apa yang aku lakukan?”

 

“Tatapan Oppa tadi membuat Ahjumma penjual daging tadi tersenyum menggoda ke arahku,” sahut Seung Hye.

 

Kyuhyun mengambil alih troli yang Seung Hye dorong. “Ada apa dengan tatapanku tadi? Aku hanya menunjukkan tatapan memuja. Yakinlah, Ahjumma penjual daging tadi pasti pernah mengalami apa yang kita alami sekarang. Karena itulah dia menggodamu. Dia mungkin sedikit merindukan masa-masa seperti kita saat ini.”

 

Dalam hatinya Seung Hye membenarkan ucapan Kyuhyun.

 

Setelah itu keduanya kembali mencari beras dan beberapa bahan masakan lainnya. Namun kali ini mereka mencari bahan-bahan itu dengan cepat. Tidak ada lagi acara berlarian seperti anak-anak. Selain karena tidak ingin mendapat teguran lagi, bunyi di perut keduanya juga menjadi alasan mereka belanja lebih cepat.

 

Kegiatan belanja itu selesai hanya berjarak lima belas menit setelah Kyuhyun dan Seung Hye membeli daging tadi. Kini keduanya keluar dari supermarket dengan membawa banyak kantong yang berisi belanjaan. Sebenarnya hanya Kyuhyun yang membawa banyak kantong belanjaan. Seung Hye hanya membawa satu kantong kecil yang berisi camilan favorite-nya dan minuman rasa jeruk yang dipilihkan Kyuhyun.

 

“Ahkk … cacing-cacing di perutku sepertinya sedang perang,” ucap Seung Hye. Dan ucapannya itu langsung membuat Kyuhyun tertawa.

 

“Sekarang sudah jam dua siang. Jadi, wajar jika cacing-cacing di perutmu itu mulai protes.” Kyuhyun menyahuti ucapan Seung Hye sambil memberikan kantong-kantong di tangannya pada Sopir Nam yang menunggu mereka di dekat mobil.

 

“Keripik kentang ini tidak cukup untuk menghentikan peperangan di perutku, Oppa.” Seung Hye menoleh pada Kyuhyun, lalu berbicara setengah merengek.

 

“Sabar, Tuan Putri. Kita akan segera sampai di rumah. Lalu, kau bisa memasak tangsuyuk dan kimchi jjigae untuk menu makan siang kita. Aku yakin, kedua menu itu akan segera menghentikan amukan peliharaanmu itu.” Kikikan geli mengiringi ucapan Kyuhyun.

 

“Aku tidak yakin aku masih bisa memasak,” gumam Seung Hye.

 

“Kau pasti masih bisa memasak, Sayang. Aku akan mencarikan video agar kau bisa mengikuti langkah-langkahnya. Kau mungkin kehilangan ingatanmu. Tapi, aku yakin kemampuanmu tidak akan ikut hilang.” Kyuhyun mengucapkan itu bersamaan dengan membuka pintu mobil untuk Seung Hye. “Sekarang cepatlah masuk ke mobil.”  Perintah lembut yang Kyuhyun ucapkan langsung dituruti oleh Seung Hye. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk nyaman tepat di belakang Sopir Nam. Selang beberapa detik, Kyuhyun pun ikut masuk dan mengambil tempat serapat mungkin dengan Seung Hye. Pria itu sama sekali tidak merasa sungkan pada Sopir Nam yang sudah berumur.

 

“Pulang ke rumah kami, Ahjussi.” Tanpa menjawab perintah Kyuhyun, Sopir Nam langsung melajukan mobil.

Menit-menit awal perjalanan mereka tidak ada yang berbicara. Kyuhyun terlalu asyik memerhatikan wajah Seung Hye. Sedangkan Seung Hye terlalu sibuk mengunyah keripik kentangnya. Gadis itu bukan tidak menyadari tatapan Kyuhyun, tetapi ia bersikap biasa saja karena memang ia senang ditatap sedalam itu.

 

Kyuhyun memang tidak berbicara, namun tangan pria itu tidak bisa diam. Telapak tangan lebarnya terus mengusap pinggang hingga perut Seung Hye. Bahkan pria itu sesekali meremas pelan pinggang Seung Hye. Dan sekali lagi hal itu tak mengganggu Seung Hye. Ia tetap memakan keripik kentangnya dengan santai.

 

Setelah betah bermenit-menit tanpa berbicara, akhirnya Kyuhyun membuka suara. “Aku juga ingin keripik kentang itu.” Ia berbisik tepat di samping telinga Seung Hye. Ia menyandarkan dagunya di bahu Seung Hye dan memeluk erat pinggang gadis itu dengan satu tangannya.

 

Tanpa membalas bisikan Kyuhyun, Seung Hye menoleh sekilas ke arah Kyuhyun lalu menyuapkan keripik kentang di tangannya ke mulut Kyuhyun. Sekian detik setelah menyuapkan keripik kentang itu, Seung Hye kembali mengabaikan Kyuhyun. “Untung aku hanya membelikan satu keripik kentang tadi. Kalau aku membelikan banyak seperti biasanya, aku pasti akan lebih lama kau abaikan,” rajuk Kyuhyun.

 

Oppa tidak suka jika aku bahagia?” tanya Seung Hye tanpa menoleh pada Kyuhyun.

 

“Aku bukan tidak suka kau bahagia. Hanya saja aku sering kesal setiap kali kau mengabaikanku karena alasan apa pun, termasuk karena keripik kentang.  Beberapa detik yang lalu aku sempat berpikir untuk menghancurkan pabrik yang membuat keripik kentang itu karena keripik kentang mereka lagi-lagi mencuri perhatianmu dariku.”

 

Tangan Seung Hye menggantung begitu saja di udara, mulutnya juga terbuka begitu lebar. Seung Hye tetap seperti itu hingga beberapa saat. Ucapan Kyuhyun tadi sangat mengejutkannya. “Eoh … rupanya kekasihku ini sangat pencemburu,” goda Seung Hye. Ia melirik Kyuhyun saat sudah bisa memperbaiki ekspresi wajahnya. “Mendengar ucapan Oppa tadi, sepertinya ini bukan kali pertama aku mengabaikan Oppa karena kelezatan keripik kentang ini, benar?” tanya Seung Hye. “Lalu, mengapa Oppa masih membelikanku keripik kentang ini, jika keripik kentang ini akan membuat Oppa kesal. Kalau saja tadi Oppa tidak membelikanku keripik kentang ini, aku tidak akan mengingat rasanya seenak ini,” sambung Seung Hye saat merasakan Kyuhyun mengangguk pelan di atas bahunya.

 

“Ya, aku menyesalinya,” gumam Kyuhyun, “dan, Sayang. Cepat habiskan keripik sialan itu. Aku tidak ingin kau terlalu lama mengabaikanku.”

 

Mendengar ucapan Kyuhyun, Seung Hye dengan cepat menghabiskan keripik kentang yang memang tinggal sedikit. Setelahnya ia meneguk beberapa teguk minuman, kemudian mengusap rambut Kyuhyun dengan lembut. “Sudah habis,” bisiknya di telinga Kyuhyun.

 

Kyuhyun tersenyum tanpa mengubah posisinya. Ia menikmati usapan tangan lembut Seung Hye di puncak kepalanya.

***

 

Semua bahan sudah dikeluarkan dari kantong. Kyuhyun dengan sigap mencari video tutorial untuk membantu Seung Hye memasak. Tidak terlalu sulit untuk mencari video tersebut. Dalam hitungan detik, dua video tutorial sudah Kyuhyun dapatkan. Kyuhyun tersenyum tipis saat memberikan ponselnya pada Seung Hye. “Ingin masak yang mana dulu?” tanyanya lembut.

 

“Yang mana saja.”

 

Kimchi jjigae saja dulu,” putus Kyuhyun. Masih sambil tersenyum tipis, Kyuhyun menyelipkan kedua tangannya di bawah lengan Seung Hye, dan mulai menggerakkan telunjuknya di layar datar yang ada dalam genggaman Seung Hye. Entah Kyuhyun sengaja melakukan hal itu untuk menggoda Seung Hye, atau memang dia ingin membantu Seung Hye memutar video tutorialnya. Yang jelas apa yang Kyuhyun lakukan terkesan sangat intim. “Ok, kimchi jjigae siap dimasak,” ucap Kyuhyun semangat saat Video tutorialnya sudah diputar.

 

Kyuhyun menjauh dari Seung Hye beberapa saat untuk mengambil apron berwarna merah muda yang terlipat rapi di dalam lemari dapur. Kemudian membantu Seung Hye memasang apron itu. “Selamat memasak, Sayang,” ucap Kyuhyun setelah apron itu selesai dipasang. Setelah itu, ia kembali menjauh.

 

Kyuhyun memilih duduk di kursi makan. Tempat duduk Kyuhyun dan tempat Seung Hye memasak dibatasi oleh dinding setinggi pinggang. Keberadaan dinding itu sama sekali tidak menghalangi pandangan Kyuhyun pada Seung Hye. Ia menopang sikunya di atas meja makan sembari fokus melihat semua gerakan Seung Hye.

 

Seperti yang Kyuhyun ucapkan tadi. Seung Hye memang kehilangan ingatannya, namun gadis itu nyatanya tidak kehilangan bakatnya sama sekali. Melihat Video tutorial selama beberapa menit sudah membuat Seung Hye mampu menggunakan pisau dengan lincah.

 

Kimchi jjigae matang tanpa hambatan. “Oppa tidak ingin mencoba masakanku?” suara Seung Hye membuat Kyuhyun  meninggalkan kursinya. Ia mendekati Seung Hye yang saat ini sedang menyendok kimchi jjigae.

 

“Luar biasa!” ucap Kyuhyun tidak terlalu jelas. Kedua ibu jarinya mengacung ke atas untuk memuji masakan Seung Hye. “Kau memang pintar memasak, Sayang,” sambungnya setelah berhasil menelan kimchi jjigae yang tadi Seung Hye suapkan. “Cicip makananmu sedikit, perutku tiba-tiba menjadi sangat lapar. Padahal beberapa saat yang lalu tidak terlalu terasa lapar. Aku bantu kau masak nasi, ya? Biar kita cepat makan.”

 

Seung Hye tentu saja mengangguk semangat saat Kyuhyun menawarkan diri untuk membantunya memasak. Senyuman tercetak indah di wajah Seung Hye saat melihat Kyuhyun menggulung lengan kemejanya hingga ke siku. Apa yang Kyuhyun lakukan nampak indah dan menggoda di mata Seung Hye. Apalagi saat Kyuhyun mulai mencuci beras di wastafel yang ada di dekat Seung Hye. Mata Seung Hye terpaku pada satu titik, selama beberapa menit.

 

Oppa sexy,” celetukan Seung Hye tentu saja membuat Kyuhyun senang.

 

Oppa sexy milik Seung Hye,” balas Kyuhyun sembari menyelesaikan tugasnya.

 

“Milik Seung Hye? benarkah? Bukankah Oppa sexy  ini milik Seung Mi?”

 

“Jangan menyebut wanita lain saat kita bersama.”

 

Kyuhyun yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, segera berbalik dan menatap langsung pada mata Seung Hye. Dengan gerakan pelan ia meraih pinggang Seung Hye, lalu memeluk erat pinggang itu. Hidung Kyuhyun berada di lekukan leher Seung Hye. Tentu saja hidung itu bekerja cepat, Kyuhyun menjalankan hidungnya di sepanjang leher Seung Hye untuk menghirup aroma tubuh Seung Hye yang khas. “Ayo masak tangsuyuk agar kita bisa cepat makan.”

 

Selesai mengucapkan itu, Kyuhyun menjauh. Ia membiarkan Seung Hye kembali berkutat dengan peralatan dapur. Dan tentu saja ia tidak lupa memutarkan video tutorial lagi agar Seung Hye dapat mengikutinya.

 

“Mengapa Oppa tidak menawarkan diri untuk membantuku memasak tangsuyuk  juga?”

 

“Kau ingin dibantu?”

 

“Sangat ingin.” Seung Hye merapat pada Kyuhyun, lalu mengambil ponsel Kyuhyun yang ada di atas meja. “Putar ulang videonya, kita lihat bersama agar Oppa sexy ini bisa membantuku.”

 

Hampir sepuluh menit keduanya fokus menonton video tutorial di ponsel Kyuhyun. “Nah, Oppa sexy kau mendapat bagian memotong wortel, mentimun, dan bawang Bombay. Aku akan memotong daging dan menyiapkan bumbu halus.” Seung Hye menggeser talenan dan pisau ke hadapan Kyuhyun. Kemudian pergi sebentar untuk mengambil pisau dan talenan lainnya di dalam lemari dapur.

 

Dengan sedikit ragu, Kyuhyun mengangkat pisau yang ada di hadapannya. Kemudian mengambil wortel yang ada di atas meja. Baru saja Kyuhyun akan memotong wortel itu, suara Seung Hye kembali menghentikannya. “Cuci dulu Oppa.”

 

Seperti terhipnotis, Kyuhyun langsung mencuci wortel dan mentimun. “Sudah kucuci. Sekarang boleh langsung aku potong?”

 

Seung Hye yang sedang memotong daging, menoleh sekilas ke arah Kyuhyun. “Iya, potong memanjang, Oppa,” jawab Seung Hye. kemudian gadis itu kembali fokus memotong daging. Sama seperti tadi, Seung Hye terlihat mahir menggunakan pisau. Di saat Kyuhyun belum mulai memotong wortel, Seung Hye sudah membereskan urusan memotong daging. Sekarang gadis itu bahkan sudah mulai membumbui daging yang tadi ia potong.

 

“Diamkan selama 30 menit,” gumam Seung Hye. Ia kemudian menoleh pada Kyuhyun, “Kenapa belum dipotong, Oppa?”

 

“Ah … ini baru mau mulai.” Sangat berbeda dengan Seung Hye, Kyuhyun terlihat sangat kaku saat memotong wortel. Beberapa kali jarinya nyaris teriris karena cara pria itu memegang pisau yang salah.

 

Tanpa suara, Seung Hye merapat pada Kyuhyun, jari-jari lentiknya sengaja mengusap tangan Kyuhyun sebelum akhirnya menggenggam punggung tangan Kyuhyun dan mengajarkan Kyuhyun cara memegang pisau yang benar. “Seperti ini cara memegang pisau yang benar,” ucap Seung Hye dengan suara yang sangat pelan. Tetapi suara pelan dan serak Seung Hye itu membuat tengkuk Kyuhyun meremang. Jangan tanyakan bagian inti Kyuhyun, hal itu sudah dipastikan cepat tanggap atas sentuhan dan suara Seung Hye.

 

“Kau ingin menggodaku, Sayang?” tanya Kyuhyun dengan suara yang sama pelannya dengan suara Seung Hye tadi.

 

“Menggodamu? Aku hanya mengajarkan Oppa cara memegang pisau yang benar. Bagian mana yang Oppa sebut menggoda?” Dengan santai, Seung Hye mengambil bawang Bombay di hadapan Kyuhyun. Dan entah bagaimana caranya, yang jelas saat ini dada Seung menekan di lengan atas Kyuhyun. “Biar kubantu iris bawangnya. Daripada aku santai selama menunggu daging siap digoreng, lebih baik aku membantu Oppa.

 

Acara memasak itu terus berlanjut hingga hampir 45 menit, dan Seung Hye tentu saja melakukan gerakan yang dipastikan dapat memancing Kyuhyun. Beberapa kali Kyuhyun menggeram karena dada Seung Hye yang lembut menempel pada beberapa bagian tubuhnya. sentuhan jemari lentik Seung Hye yang seolah tidak disengaja, dan beberapa kali Seung Hye berbicara dengan suara serak juga nyaris membuat Kyuhyun menarik Seung Hye ke dalam kamar. Tetapi mengingat cacing di perutnya dan Seung Hye, Kyuhyun mengurungkan niatnya itu. Ia lebih memilih menahan diri hingga mereka selesai dengan urusan cacing.

***

“Perutku rasanya penuh dan sesak,” keluh Kyuhyun sembari mengusap perutnya. Ia duduk bersandar di atas sofa yang ada di ruang tengah. “Kau sangat hebat, Sayang. Masakanmu tetap yang terbaik meskipun kau tidak mengingat apa pun.”

 

Kyuhyun melirik ke arah Seung Hye yang duduk di sampingnya. Tidak berbeda dengan Kyuhyun, Seung Hye pun mengusap perutnya yang terasa sesak. Melihat gerakan tangan Seung Hye, tiba-tiba saja Kyuhyun mengingat sesuatu yang tadi sempat ia tahan. Senyum miring menghiasi wajahnya. Jari-jari Kyuhyun dengan cepat bergerak membuka kancing kemeja yang ia pakai. Dalam hitungan detik, dada dan perut Kyuhyun terlihat. Perut Kyuhyun memang tidak mempunyai kotak-kotak yang bisa membuat kaum hawa menjerit. Namun kulitnya yang putih mulus tak kalah pesonanya dengan enam kotak yang didapat dengan latihan teratur itu. Kyuhyun terlihat sexy dengan apa yang ia miliki.

 

Bukan hanya membuka kancing kemeja, Kyuhyun juga membuka ritsleting celananya. Bagian atas celana dalamnya terlihat. “Sayang,” panggil Kyuhyun serak, dan Seung Hye langsung menoleh ke arah Kyuhyun karena panggilan pria itu. Mata Seung Hye membulat sempurna karena melihat tampilan Kyuhyun yang eerrr … sexy.

 

“Apa yang kau lakukan, Oppa?” tanya Seung Hye. Wajahnya bersemu dan tentu saja Seung Hye tergoda dengan tampilan Kyuhyun.

 

“Membalasmu,” jawab Kyuhyun. Pria itu kemudian berjongkok tepat di depan kaki Seung Hye. Tanpa meminta persetujuan Seung Hye, Kyuhyun melepas celana dalam gadis itu. Dan tentu saja semuanya terjadi begitu saja.”

 

Ponsel Kyuhyun bergetar di atas meja. Tidak memekakkan telinga, namun getaran ponsel itu cukup membuat Kyuhyun kesal. Ia terus bergerak untuk meraih puncaknya. Keringat yang menetes di dahinya pun Kyuhyun abaikan. “Ponsel sialan!” jerit Kyuhyun saat kenikmatan itu ia dapatkan. Setelah beberapa detik, ia menunduk dan mencuri ciuman di bibir Seung Hye. “Tidurlah dulu, Sayang. Kau pasti lelah. Aku angkat teleponnya dulu, baru menyusulmu ke kamar.”

 

Tanpa menunggu sahutan dari Seung Hye. Kyuhyun berlari ke ruangan lain untuk menerima telopon. “Iya, Mi-ya?”

 

“Oppa, cepat ke rumah sakit Universitas Seoul. Na Yoon demam tinggi dan dibawa ke rumah sakit.”

 

“Baiklah, aku segera ke sana.” Tanpa menunggu Seung Mi menjawab ucapannya, Kyuhyun langsung mematikan sambungan telepon. Ia membenahi pakaiannya, lalu berlari ke arah pintu utama. Namun, suara lembut Seung Hye menghentikan langkahnya.

 

“Jangan pergi. Tetap di Sini.” Mata Seung Hye menatap polos dan penuh harap pada Kyuhyun. “Jangan tinggalkan aku untuk siapa pun yang tadi meneleponmu.”

 

Kyuhyun mengusap wajahnya karena bingung. “Na Yoon masuk rumah sakit, Hye-ya. Aku harus ke rumah sakit sekarang.”

 

“Jangan …,”

 

“Aku harus pergi, Hye-ya.”

 

Keduanya saling menatap. Mata keduanya sama-sama memancarkan cahaya redup tanda permohonan.

 

“Jangan tinggalkan aku.” Dan akhirnya Kyuhyun yang kalah, air mata yang menetes di pipi Seung Hye membuat Kyuhyun melupakan niatnya untuk segera ke rumah sakit.

 

“Baiklah, aku tidak akan pergi. Sekarang ayo kita ke kamar dan tidur.” Satu tangan Seung Hye mengusap air matanya, dan satu tangan lagi meraih uluran tangan Kyuhyun.

 

Sesampainya di kamar, keduanya langsung tidur sambil berpelukan. Kyuhyun menciumi puncak kepala Seung Hye dan membuai Seung Hye dengan usapan lembut di punggungnya. Dalam waktu sepuluh menit, napas Seung Hye sudah teratur. Dan di saat itulah Kyuhyun melepaskan pelukannya secara perlahan agar tidak membangunkan Seung Hye. Kecupan lembut di dahi Seung Hye seakan menjadi pengganti suara Kyuhyun untuk berpamitan pada Seung Hye.

 

Yang tidak Kyuhyun sadari, Seung Hye sebenarnya tidak tidur. Saat pintu kamar tertutup, senyuman sinis menghiasi wajah Seung Hye.

 

TBC

62 thoughts on “Rancore Part 5

  1. Kalo dr cerita kmrn2 yg kliatan jahat nya tuh seung mi, tp kesini2 seung hye yg kliatan jahat krn egois dan ky ada niatan buruk gt
    Ceritanya bener2 ya ga ketebak bgimana kelanjutannya…
    Saat ini aku #teamseunghye wkwk
    Semangat ya author!!

    Suka

  2. Uuu sedih banget sih seung mi, seung mi sama yg lbh kaya dari chokyu aja deh hehe kasian .. ada pemain lelaki satu lagi seru kali ya min yg jatuh cinta sm seung mi hehe sok ngatur yak maapin … uu pukpuk seung mi..

    Suka

  3. Kok sunghye nya jd jahat bgini ya:( kasian sungmi:( tp chokyu emg cinta bgt nya sm sunhye ya😂 ah pkoknya ditunggu deh thor kelanjutan ff nya😍 smangaaattt

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s