When The Smile Being Ornate Part 7


 

Author : Irene Cho

Tittle : Beginning

Category : NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast :

Cho Kyuhyun

Jung Nara

Disclaimer : Thisstoryismine! Don’tcopywithoutpermission!

Note : Terimakasih untuk admin FNC yang udah mau publish tulisanku di blog ini dan terimakasih juga buat reader yang udah mengapresiasi MOF. Ini ff pertamaku, maaf kalo ceritanya gaje, membosankan dan diksinya berantakan. Awas typo bertebaran.Ff ini sudah pernah aku publish di watty dan blog pribadiku.

 Happy reading ^^

 

~~~

 

Aku ingin mencintaimu, sampai tak kenal lelah, sampai tak ingin menyerah dan sampai nantinya kau sadar, bahwa tak ada yang mencintaimu sebesar aku.

 

Kyuhyun’sHome, Gangnam, Soul.
10.00 PM KST

 

Nara memasuki kamarnya dan Kyuhyun. Matanya tertuju ke arah balkon yang pintunya terbuka, dan disana ia menangkap sosok Kyuhyun sedang menerima telepon.

 

Nara melangkah kearahKyuhyun, lalu melingkarkan lengan mungilnya di pinggang Kyuhyun dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di punggung suaminya itu.

 

Kyuhyun sedikit melirikan matanya kebelakang, saat merasakan pelukan Nara di punggungnya.

 

“Nanti aku akan menghubungimu lagi, Hyung.”

 

Kyuhyun mengakhiri percakapannya di telepon. Sepertinya ia menyadari bahwa Nara tak suka melihatnya menerima telepon dari siapapun saat ini.

 

“Ahh … nyaman sekali,” gumam Nara, sesaat setelah Kyuhyun mengakhiri aktivitas berteleponnya. Nara mengeratkan pelukannya dipinggangKyuhyun dan semakin menempelkan tubuhnya dengan punggung Kyuhyun.

 

Kyuhyun hanya menanggapi gumaman Nara dengan senyuman evil-nya. Ia melepas lilitan lengan Nara di pinggangnya, lalu membalik tubuhnya hingga menghadap Nara. Membawa tubuh mungil istrinya itu kedalam dekapan hangatnya.

 

“Kalau seperti ini apa juga nyaman?”

 

“Heum … Seperti ini lebih nyaman,” gumam Nara sambil menenggelamkan kepalanya di dada bidang Kyuhyun. Membaui aroma tubuh Kyuhyun yang selalu membuatnya nyaman dan sekaligus memabukan.

 

Nara POV

 

Ingin rasanya aku menghentikan waktu saat ini. Saat aku memiliki Kyuhyun seutuhnya. Saat perhatian Kyuhyun benar-benar hanya tertuju padaku.

 

Tanganku mulai menari di dada Kyuhyun, membelai dengan lembut dada bidangnya. Yah, aku mencoba membangkitkan gairahnya.

 

Aku menengadah, menatap dalam hazel hitam Kyuhyun, menjinjitkan kakiku, dan mengalungkan lenganku di lehernya. Lalu, aku menempelkan bibirku pada bibir sexyKyuhyun, sambil memejamkan mataku. Hanya menempel.

 

Kurasakan ia sedikit terkejut dengan aksiku ini, karena aku memang tak pernah memulai sebelumnya.

 

Kyuhyun menjauhkan wajahnya dari wajahku, hingga bibir panasnya sudah tak terasa lagi di bibirku. Aku sedikit kecewa. Apa Kyuhyun tak menginginkanku saat ini?

 

Aku membuka mataku yang terpejam, seketika aku melihat wajah Kyuhyun tepat di depan wajahku lengkap dengan seringaiannya.

 

“Kau mulai nakal Nyonya Cho. Akan kubuat kau menyesal karena telah membangunkan “setan” yang sedang tertidur,” ujar Kyuhyun dengan seduktif.

 

Setelah itu wajahnya semakin mendekat ke wajahku.
Semakin dekat …
semakin dekat …
Semakin dekat …
Hingga kening kami sudah saling menempel. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di wajahku. Bibir kami bahkan hanya berjarak satu senti saja. Jika Kyuhyun memajukan wajahnya sedikit saja, maka, bibirku mungkin sudah kembali menyatu dengan bibir panas Kyuhyun.

 

“Akan kubuat kau tak bisa melupakan malam ini,” bisiknya tepat di wajahku.

 

Aku memejamkan mataku. Menikmati hembusan nafasnya. Sementara dadaku sudah naik turun karena nafasku yang sedikit tersengal, menahan gairah.

 

Kyuhyun semakin menarik pinggangku kearahnya. Menekan tubuhku agar semakin menyatu dengan tubuhnya. Hingga kurasakan salah satu tangannya menjalar ke punggungku, mengusapnya perlahan, membuatku bergidik geli. Tangannya terus menjalar, hingga sampai di tengkukku. Lalu dengan perlahan ia menekan tengkukku, membuat bibirku merasakan daging lunak yang panas milik Kyuhyun.

 

Kyuhyun mulai melumat bibirku dengan lembut. Sangat lembut dan perlahan. Sesekali lidahnya ikut menyapa bibirku, menjilati permukaannya. Kyuhyun menggigit bibirku lambat-lambat.

 

Bibir Kyuhyun begitu lembut, dan lidahnya membelai lidahku seperti sutra. Tangannya yang lain masih ada di pinggangku. Memelukku begitu erat.

 

Aku mengalungkan lenganku dilehernya. Menekan tengkuknya agar ia semakin dalam melumat bibirku. Sungguh, aku sangat terbuai dengan lumatan lembutnya. Aku membalas tiap lumatannya, mencoba mengimbangi setiap gerakan bibirnya di bibirku.

 

Kepala kami bergerak gelisah, kekanan dan kekiri. Memberi celah untuk jalan masuk oksigen. Sementara tangan Kyuhyun sudah menjalar kedalam gaun tidurku. Ia membelai dan mengusap perutku. Membuatku menggelinjang. Lalu tangannya mulai merambat kebelakang, kepunggungku. Mengusap punggungku dengan sangat lembut dan sensual.

 

Kyuhyun mengusap punggungku, dan bibirnya terus melumat dan menyesap bibirku dengan lembut, namun sekarang setengah menuntut. Membuatku melenguh tertahan.

 

Tangannya mulai menjalar ke atas, dan…

 

Tak!

 

Ia melepas pengait bra-ku. Lalu jari-jarinya perlahan bergerak kedepan, mengusap buah dadaku, seiring dengan bibirnya yang turun keleherku. Aku menggunakan kesempatan itu untuk menghirup udara dengan rakus.

 

Kyuhyun awalnya hanya mengecup-ngecup ringan kulit leherku, namun kecupannya mulai berubah menjadi hisapan. Membuatku terus mendesah dan melenguh.

 

Kyuhyun seperti tak bosan memberi tanda-tanda di leherku. Ia terus menghisap setiap inci kulit leherku, sementara tangannya sudah mulai memijat buah dadaku di dalam gaun tidurku.

 

“Eungh … Kyu-hh ….”

 

Aku hanya bisa terus melenguh dengan mata terpejam, menggigit bibirku sendiri.

 

Semua aktivitas Kyuhyun ditubuhku membuatku melayang. Merasakan sensasi nikmat yang ditimbulkannya. Jari-jariku mulai menyusup kedalam rambut Kyuhyun. Aku meremas rambutnya saat hisapannya semakin kuat dileherku.

 

Kurasakan tangan Kyuhyun sudah tak berada didalam gaunku lagi, tapi sudah beralih fungsi melorotkan tali gaunku dan juga bra-ku. Membuat gaun tidur sutra itu terlepas dari tubuhku, beserta dengan bra-ku.

 

Kyuhyun tak menyia-nyiakan kesempatan ini, bibirnya mulai beralih ke tulang selangkaku, memberikan tanda-tanda kepemilikannya disana.

 

Sementara tanganku mulai turun, dan menarik ujung kaos Vneck Kyuhyunkeatas. Mencoba melepas kaos itu dari tubuh Kyuhyun, membuat ia berhenti mencumbuiku.

 

“Kau mulai tak sabaran Nyonya Cho.”

 

Ucapan Kyuhyun membuatku malu. Aku rasa wajahku sudah memerah saat ini. Aku menenggelamkan wajahku didada bidangnya, membuat tubuh telanjang kami saling bergesekan.

 

Ia mendekap tubuhku, membuat tubuh kami semakin menempel. Kurasakan hembusan nafasnya di telingaku, lalu kecupan-kecupan ringan di kulit bagian belakang telingaku.

 

“Hey, Sayang, Kau menutupi pemandangan indahku. Ayo angkat wajahmu.” Kembali Kyuhyun berbisik ditelingaku, membuatku bergidik.

 

Aku mengangkat wajahku perlahan. Mendongak menatapnya, disaat bersamaan ia juga menatapku. Seketika mataku bertemu dengan mata kelam dengan tatapan tajam penuh gairah milik Kyuhyun. Aku suka tatapannya yang tajam, tapi terkesan lembut untukku. Tatapan yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali melihatnya.

 

“Kau tau Sayang? Kau terlihat jauh lebih cantik saat wajahmu memerah seperti sekarang.”

 

Ucapannya membuat wajahku semakin memerah.

 

“Sial, kau benar-benar menggodaku Nyonya Cho.”

 

Ia kembali melumat bibirku, kali ini dengan intens dan terkesan tergesa-gesa. Aku terus mencoba mengimbangi pergerakan bibirnya, namun itu membuatku kewalahan. Lidahnya berhasil menerobos ke dalam mulutku. Bergerilya di dalam sana, menyapu semua bagian rongga mulutku.

 

Kyuhyun mengangkat kaki sebelah kananku, melilitkan di pinggangnya, sementara tangannya mencengkram bokongku saat aku mengangkat kaki sebelah kiriku. Hingga aku berada dalam gendongannya.

 

“Uughh…”
“Aahhhh…”

 

Kami sama-sama mendesah, saat milikku secara tak sengaja menekan bukti gairah Kyuhyun yang sudah menonjol di balik celananya.

 

Aku mulai mengecup-ngecup ringan bibir Kyuhyun, saat ia melangkah kedalam. Sesekali aku menggesekan hidungku dengan hidung mancungnya. Hingga Kyuhyun menyudutkanku di salah satu bagian dinding kamar kami. Ia kembali menyatukan bibirnya dengan bibirku, melumatnya dengan rakus, sesekali ia menggit bibirku dengan gemas.

 

Kyuhyun mulai menenggelamkan wajahnya di belahan dadaku. Menghembuskan nafasnya yang hangat, membuatku kembali bergidik kegelian. Lalu, bibirnya yang panas menghisap dan melumat buah dadaku yang sudah menegang, sesekali Kyuhyun mengulum niple-nya.

 

Sungguh aku tak bisa menahan semua rasa nikmat yang diciptakan Kyuhyun. Membuatku terus mendesahkan namanya. Sementara lenganku memeluk kepala Kyuhyun. Menekannya, untuk memperdalam hisapannya.

 

HisapanKyuhyun semakin dalam dan kuat, meninggalkan jejak kepemilikannya disana.

 

“Aaahhhhh … Kyu-hh ….”

 

Aku menjerit frustasi. Meremas rambutnya sebagai pelampiasan semua rasa nikmat yang ia ciptakan. Aku hanya bisa menengadahkan kepalaku, dan memejamkan mataku, menikmati semua sensasinya.

 

Kurasakan jari-jari Kyuhyun mengusap paha bagian dalamku. Jari-jari itu terus bergerak keatas hingga sampai di milikku yang masih ditutupi underware.

 

Perlahan Kyuhyun mengusap milikku yang sudah basah, dari balik underware-ku.

 

“Aahh … Kyu-hhh … jebbal-hhh ….”

 

Kurasakan jari-jarinya menyelip kebalikunderware-ku. Mengusap milikku. Jari-jari nakal itu menari-nari di dalam milikku, menusuk-nusuknya.

 

Sungguh ini sangat nikmat. Aku tak bisa menahan sensasi geli bercampur nikmat ini. Membuat perutku serasa di dihinggapi beribu kupu-kupu.

 

“Kyu-hh … aahhhh ….”

 

Desahanku membuat Kyuhyun semakin bersemangat menggerakan jari-jarinya di dalam milikku. Membuatku kembali menjerit.

 

Kurasakan bibir panas Kyuhyun sudah beralih ke leherku. Kembali melukis kissmarkdisana. Memberikan tanda kepemilikannya terhadap diriku.

 

Aku memang milik Kyuhyun. Aku hanyalah milik seorang Cho Kyuhyun. Bahkan saat pertama kali bertemu dengannya, aku telah meng-claim bahwa aku adalah miliknya. Yah … aku telah jatuh dalam pesona seorang Cho Kyuhyun.

 

Tubuhku dan Kyuhyun sudah sama-sama berkeringat, karena suhu kamar tiba-tiba terasa panas, padahal cuaca sangat dingin, karena sekarang adalah musim dingin. Ah … bukan, bukan suhu kamar yang meningkat, tapi suhu tubuh kami yang telah dibakar gairah.

 

Jari-jari Kyuhyun terus menari-nari di dalam milikku, hingga kurasakan dinding kewanitaanku mengetat dan berkedut. Aku juga merasa hampir mencapai titik itu, titik kenikmatan karena perbuatan Kyuhyun.

 

“Kyu-hh … aku hampir-hhh ….”

 

Aku berusaha memberitahunya bahwa aku hampir sampai pada puncaknya. Kyuhyun mengerti, dan ia langsung mempercepat gerakan jarinya, menusuk-nusuk lubang kenikmatanku.

 

Sungguh, aku semakin gila dalam kenikmatan ini. Aku tak bisa berpikir lagi, saat aku merasakan gelombang itu semakin dekat … semakin dekat … dan akhirnya….

 

“Kyuhyun-ah … ouhhhh ….”

 

Aku menjerit, meneriakan namanya saat gelombang itu menghempas tubuhku. Aku merasa lemas, bahkan kakiku sudah tak kuat lagi melingkar di pinggang Kyuhyun.

 

Tubuhku terkulai lemas setelah pelepasan dahsyat itu. Aku membenamkan wajahku di dada telanjangnya, sambil mengatur nafasku yang tersengal. Aku benar-benar merasa tak berdaya. Jika Kyuhyun tak menahan pinggangku, mungkin aku sudah terduduk lemas di lantai.

 

Kurasakan Kyuhyun mengusap pungungku.

 

“Kau lelah, sayang?” tanyanya setengah berbisik.

 

“Walaupun aku mengatakan lelah, kau tetap takkan berhenti,” jawabku, masih dengan posisi menenggelamkan wajahku di dada bidangnya.

 

Aku menghirup dengan rakus aroma tubuhnya. Ah … aku sangat menyukai bau tubuh Kyuhyun seperti sekarang. Bau sitrus yang bercampur dengan keringatnya, sangat memabukan untukku.

 

Dada Kyuhyun juga naik turun, sama seperti diriku. Tentu saja, karena ia juga sedang dibakar gairah. Dan aku bisa merasakan detak jantungnya yang juga seirama denganku.

 

“Kau tau itu, Nyonya Cho. Ini baru permulaan.”

 

Aku mengangkat wajahku, menatap sendu kedalam matanya yang memancarkan gairah.

 

Kyuhyun mengecup keningku, turun ke kedua mataku, kedua pipiku yang memerah, dan berhenti di bibirku. Bibir tebal itu kembali melumat bibirku, lumatan lembut tanpa ada nafsu di dalamnya. Aku bisa merasakan cinta di setiap lumatannya.

 

Tangannya yang semula di pinggangku, turun menuju bokongku dan sampai di pahaku. Kyuhyunnenarik pahaku, agar kakiku kembali melingkar di pinggangnya. Lalu tangannya menopang bokongku saat aku mengangkat kakiku yang lain dan melilitkan di pinggangnya.

 

Kyuhyun mulai melangkah perlahan. Tangannya masih berada di bokongku, menahan bobotku yang sekarang berada dalam gendongannya. Sementara tanganku sudah menyusup kedalam rambut Kyuhyun, menekan kepalanya agar memperdalam penyatuan bibir kami.

 

Kyuhyunmendudukan tubuhku di meja rias, masih dengan bibir kami yang menyatu dan saling melumat. Kurasakan Kyuhyun mulai menarik underware-ku, melepaskannya dari tubuhku dan melemparnya entah kemana.

 

Tautan bibir itu terlepas saat kami merasa membutuhkan oksigen lebih untuk bernafas. Aku menghirup udara sebanyak yang aku bisa, kulihat Kyuhyun juga melakukan hal yang sama. Nafas kami tersengal, tak beraturan.

 

Aku kembali menyatukan bibirku yang telah membengkak, dengan milik Kyuhyun. Bibir Kyuhyun terasa manis di bibirku. Rasa manis yang selalu menimbulkan sensasi yang berbeda tiap aku menyesapnya.

 

Aku bergerak turun ke rahang tegasnya, mengecup dan menyesapnya, terus turun, hingga sampai di leher putihnya. Aku mulai mengecup sekaligus menghirup feromon di leher Kyuhyun. Ini benar-benar memabukkan. Aku tak peduli jika saat ini Kyuhyun menganggapku wanita jalang, karena feromonnya membuatku tak bisa menghentikan kegiatan mencumbuinya, membuatku kehilangan akal sehatku, ditambah dengan gairahku yang telah memuncak.

 

Aku mulai menyesap dan menghisap kuat kulit leher Kyuhyun, meninggalkan jejak kemerahan disana. Aku tersenyum saat melihat tanda yang aku tinggalkan di lehernya. Aku kembali menghisapnya, membuat banyak tanda disana. Aku ingin menunjukan bahwa Kyuhyunhanyalah milikku.

 

“Ra-ya … aahhh ….”

 

Seketika perasaan hangat dan bangga menyusup kedalam hatiku mendengar Kyuhyun mendesahkan namaku saat aku mencumbunya. Membuatku lebih bersemangat untuk membuat tanda di tubuhnya.

 

Bibirku bergerak turun menuju dadanya, membuat gerakan melingkar dengan lidahku di sekitar niple-nya. Sementara Kyuhyun mendekapku dengan erat.

 

“Ya ampun, Ra-ya … bibirmu …. Jangan menggodaku, Sayang.”

 

Desahan Kyuhyun membuatku lebih terpacu untuk mencumbunya, memberikan banyak tanda di tempat favoritku ini. Tempat sandaran favoritku.

 

Tanganku menjalar kebawah, mulai mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Karena kesibukan di kantor membuat Kyuhyun tak bisa berolahraga, sehingga terdapat timbunan lemak diperutnya. Mungkin aku harus mengajaknya berolah raga tiap akhir pekan, walaupun hanya sekedar lari pagi.

 

Aku terus mengusap perutnya dengan sensual, diiringi dengan bibirku yang terus bekerja di dadanya, mengulum dan menghisap niple-nya, membuat Kyuhyun kembali mendesah. Tanganku terus turun hingga sampai pada sesuatu yang menggembung. Aku mengelus sesuatu yang menonjol dari balik celana Kyuhyun itu, membuat Kyuhyun kembali mendesahkan namaku. Aku sangat menikmati kegiatan mencumbunya. Hingga aku mencoba menarik celana yang dikenakan Kyuhyun. Namun tiba-tiba aku merasa tubuhku ditarik menjauh dari Kyuhyun.

 

Aku menatap Kyuhyun dengan tatapan terluka. Apa ia tak menyukai yang ku lakukan? Kyuhyun sepertinya mengerti dengan tatapanku. Ia mengecup bibirku sekilas, lalu membingkai wajahku dengan telapak tangannya.

 

“Aku sangat menyukai apa yang kau lakukan, sayang. Tapi aku tak ingin meledak jika tak di dalammu.”

 

Aku merasa lega sekaligus bahagia setelah mendengar ucapannya.

 

Kyuhyun melepas celana panjang beserta underware-nya dengan tergesa. Hingga akhirnya mataku disuguhi pemandangan milik Kyuhyun yang telah mencuat. Terlihat sangat tegang dan membesar.

 

“Kau lihat kan sayang? Dia sudah tak tahan ingin memasukimu.”

 

Ucapan vulgar Kyuhyun membuat pipiku memerah.

 

Kyuhyun meraih tubuhku, kembali menyatukan bibir kami. Sementara di bawah sana, kurasakan ujung miliknya tengah menggodaku.

 

“Heeemmpp….”

 

Lenguhku tertahan, saat milik Kyuhyun perlahan memasukiku, sementara bibirnya terus membungkam mulutku.

 

Kyuhyun terus berusaha mendorong miliknya untuk memasukiku. Kali ini kurasakan dorongannya semakin kuat, bahkan ia berusaha menghentakan miliknya kedalam milikku.

Hingga akhirnya…

“Euunghhh…”

 

Kami sama-sama melenguh, saat milik Kyuhyun sudah tertanam sempurna dimilikku. Aku merasa penuh dan nikmat disaat bersamaan.

 

Kyuhyun mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur secara perlahan. Kembali membuatku melenguh. Setelah itu kurasakan gerakan pinggulnya menjadi lebih cepat.

 

Kyuhyun menusuk-nusukan miliknya dengan cepat dan dalam, membuatku membelitkan kakiku ke pinggulnya. Gerakan pinggulnya semakin cepat menggenjot milikku. Aku hanya bisa memejamkan mataku menikmati semua rasa nikmat yang diberikan Kyuhyun, sesekali aku juga menggerakkan pinggulku berlawanan arah. Membuat miliknya semakin dalam menusukku.

 

“Kyuh-hhh … ah … ouh ….”

 

Aku kembali meneriakkan namanya. Sungguh, saat ini aku hanya merasakan kenikmatan, bahkan aku melupakan semua kekhawatiranku.

 

Nara POV end

 

Kyuhyun terus menggerakkan pinggulnya dengan cepat, menghentakan miliknya dengan kuat ke dalam milik Nara, membuat punggung Nara terhempas membentur kaca meja rias itu. Sementara benda-benda yang ada di atas meja rias itu sudah berjatuhan ke lantai, karena meja rias itu ikut bergetar akibat gerakan pinggul Kyuhyun. Tapi mereka tak peduli, toh mereka bisa membelinya lagi. Saat ini yang mereka inginkan hanyalah mendaki kenikmatan bersama.

 

Kyuhyun kembali menggapai bibir Nara, menyesap bibir manis yang telah menjadi candu baginya itu. Pasangan itu kembali tenggelam dalam ciuman panas, sementara dibawah sana milik mereka terus beradu mencari kenikmatan.

 

“Hhmmmppptt …”

 

Keduanya melenguh tertahan, saat hentakanKyuhyun semakin dalam dan menyentuh G-spot Nara. Membuat Nara mencengkram lengan Kyuhyun untuk melampiaskan semua rasa nikmat yang ia rasakan.

 

Bibir Kyuhyun perlahan beralih ke leher jenjang Nara, menyesap leher putih yang telah dipenuhi banyak tanda merah itu. Membuat Nara bebas mendesahkan namanya. Tiap desahan Nara seperti penyemangat bagi Kyuhyun untuk menghentakan miliknya lebih kuat ke dalam milik Nara. Membuat ia semakin bergerak dengan cepat dan dalam.

 

“Kyu-hh … ouhh … ahh ….”

 

Kepala Nara begerak gelisah, ia tengah menengadah dengan bibir yang terbuka, terus mendesahkan nama Kyuhyun. Sementara tangannya saat ini telah menyusup kedalam rambut Kyuhyun, menekan kepala suaminya itu untuk menghisap lehernya lebih dalam.

 

Semakin lama genjotan Kyuhyun semakin liar. Ia makin kuat menghentakan-hentakan miliknya pada milik Nara yang mengapit juniornya. Tubuh Nara terbawa arus gerakan liar Kyuhyun.

 

“Kyu-hh … lebih-hh … cepat-hh ….”

 

Kyuhyun menggila, temponya luar biasa cepat. Genjotannya semakin liar, menusuk lebih dalam. Membuat Nara semakin hebat mengeluarkan desahannya.

 

“Ahh … ahh … ouhh …. Kyu-hh.”

 

Desahan-desahan nikmat Nara terdengar seperti nyanyian penyemangat bagi Kyuhyun. Membuat ia semakin dalam mendorong miliknya memasuki Nara. Pinggulnya pun bergoyang lebih cepat, menghentak-hentak milik Nara.

 

Mereka tak memikirkan apapun lagi, selain rasa nikmat yang telah menanti mereka saat mencapai puncak.

 

Kyuhyun merasakan miliknya berkedut, diikuti milik Nara yang juga berkedut dan semakin mencengkram miliknya. Membuat Kyuhyun mempercepat gerakannya menghentak milik Nara. Ia terus memompa milik Nara dengan cepat dan tak beraturan. Hingga akhirnya ….

 

“Aarrgghhh … Ra-ya ….”
“Eungh … Kyu-hh ….”

 

Cairan mereka melebur jadi satu. Kyuhyun menekan miliknya lebih dalam, agar cairannya masuk dan menembus rahim Nara. Namun milik Nara tak mampu menampung cairan Kyuhyun, hingga membuat cairan itu sebagian meluber, keluar milik Nara.

 

Keduanya terengah. Lemas, karena pelepasannya. Tangan Kyuhyun bertumpu pada kaca di belakang tubuh Nara, menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Sementara Nara tengah memeluk tubuh Kyuhyun, dagunya bertumpu pada bahu Kyuhyun. Mereka masih mengatur nafas masing-masing.

 

Perlahan Nara mengangkat wajahnya, membuat wajahnya berhadapan dengan wajah Kyuhyun. Mengusap keringat yang membasahi wajah Kyuhyun. Lalu ia mengecup sekilas bibir Kyuhyun.

 

“Terimakasih, tadi itu sangat hebat,” bisik Nara sambil tersenyum manis pada Kyuhyun.

 

“Ini belum berakhir Nyonya Cho.” Kyuhyun menyeringai.

 

Nara tak terkejut sama sekali, karena memang Kyuhyun tak pernah puas hanya dengan satu ronde saja.

 

Mereka kembali melenguh saat Kyuhyun mencabut juniornya dari milik Nara. Setelah itu, Kyuhyun menggendong Nara ala bridalstyle menuju tempat tidur mereka. Menidurkan tubuh polos Nara di atas tempat tidur king size-nya, diikuti Kyuhyun yang langsung menindih tubuh Nara. Ia menumpukan lengannya di kedua sisi kepala Nara, agar tubuhnya tak sepenuhnya menindih tubuh mungil Nara.

 

Kyuhyun membelai wajah Nara, menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah cantik Nara.

 

“Kau sangat cantik, sayang dan kau adalah milikku. Aku mencintaimu.”

 

Kyuhyun kembali menyatukan bibir mereka. Memberi lumatan lembut pada bibir Nara. Seiring dengan kejantanannya yang menyusup dengan perlahan ke milik Nara. Sepertinya kali ini Kyuhyun ingin bermain dengan lembut.

 

“Ouh …. Kyu-hh,” desah Nara saat kejantanan Kyuhyun telah memasuki tubuhnya dengan sempurna. Gadis itu memejamkan matanya, sementara bibir Kyuhyun sudah beralih ke leher Nara.

 

Kyuhyunmenggerakan pinggulnya dengan lembut dan pelan. Membuat Nara mendesah frustasi. Sungguh Nara menginginkan hentakannya yang cepat dan dalam. Tapi gerakan pelannya juga membuat Nara meresapi segala kenikmatan yang diciptakan Kyuhyun.

 

Nara bisa merasakan bagaimana milik Kyuhyun menyusup serta menggesek dinding kewanitaannya. Rasanya sangat nikmat, sebuah kenikmatan yang tak ingin ia akhiri. Nara menginginkan Kyuhyun terus berada di dalamnya seperti sekarang.

 

“Kyu-hh … ouhh … bisakah lebih cepat?”

 

“Tidak sayang, malam ini kita akan bermain lembut. Agar kau bisa merasakan dan mengingat lebih lama saat aku di dalammu. Membuatmu tak ingin mengakhirinya,” bisik Kyuhyun di telanga Nara.

 

Bibir Kyuhyun sudah berada di dada Nara, menghisap perlahan dada sintal itu. Membuat Nara tak bisa menahan desahannya. gadis itu serasa melayang dalam kenikmatan saat ini. Jari-jari lentiknya menyusup kedalam rambut Kyuhyun, menekan kepala Kyuhyun agar memperdalam hisapan pria itu di dadanya.

 

Gesekan dari pusat tubuh mereka membuat Nara tak henti-hentinya melenguh. Sungguh, ini sangat nikmat, Nara hanya bisa meremas seprei untuk melampiaskan kenikmatan yang ia rasakan. Sementara Kyuhyun membenamkan wajahnya di bahu Nara, menggigit gemas bahu putih Nara saat kejantaannyadicengkram kuat oleh milik Nara. Lalu bibirnya beralih ke leher Nara. Kembali menghisap leher putih itu. Meninggalkan tanda kepemilikannya di sana.

 

Junior Kyuhyun terus menggesek dinding kewanitaan Nara dengan pelan dan lembut. Membuat Nara tersiksa dalam kenikmatan.

 

“Kyu-hh … ouh … bisakah lebih cepat? Aku hampir ….”

 

Kyuhyun mengerti. Pria itu menarik juniornya, lalu menghentakannya kuat kedalam milik Nara. Membuat mereka menjerit kenikmatan. Kyuhyun terus memompa Nara dengan tempo cepat. Hingga ia merasakan milik Nara berkedut dan mencengkram juniornya dengan sangat erat. Kembali Kyuhyun menarik juniornya lalu menghentakannya lagi. Hingga juniornya ditelan seluruhnya oleh milik Nara. Kyuhyun mendiamkan miliknya sebentar, lalu menyemprotkan cairannya ke rahim Nara. Sementara Nara juga mencapai puncaknya. Cairan mereka kembali menyatu. Membuat mereka menjerit kenikmatan.

 

Kyuhyun terkulai lemas di atas Nara, pria itu membenamkan wajahnya di ceruk leher Nara. Lalu berguling kesamping karena tak ingin Nara merasa keberatan. Ia menarik pinggang Nara. Lalu memeluk tubuh lemas istrinya itu. Dada mereka masih berdebar kencang. Menikmati sisa-sisa pelepasan hebat itu. Kyuhyun menarik selimut, menutupi tubuh polos mereka sebatas dada.

 

“Tidurlah. Kau pasti lelah.”

 

Kyuhyun mengecup kening Nara. Lalu mencium puncak kepala Nara. Hingga akhirnya mereka tertidur setelah percintaan panas itu.

 

***

 

Jung’s Family Home, Pyeongchang, Seoul
10.00 AM KST

 

Gadis itu merutuki dirinya sendiri. Ia sangat menyesali keputusan membantu sahabatnya menjalankan sebuah rencana konyol, hingga ia harus terlibat dengan pria gila yang selalu mengganggu hidupnya selama hampir sebulan ini. Tak ada ketenangan sejak pria itu datang ke dalam hidupnya. Bahkan pria itu mengganggunya sampai ke alam mimpi, membuat pola tidurnya ikut terganggu. Oh sepertinya dirinya benar-benar sedang mendapat kutukan.

 

“Kim Sora.” Ia menggeram, menggumamkan nama sahabat yang telah membuatnya terperangkap dalam kesialan ini.

 

Andai waktu dapat diputar, ia pasti akan menolak mentah-mentah ide gila sahabatnya itu. Yah, Kim Sora benar-benar memiliki rencana gila. Bagaimana itu tidak disebut sebuah rencana gila saat ia disuruh bertingkah seperti orang depresi. Orang gila yang mengganas karena ditinggal kekasihnya. Hingga menyerang kekasih yang telah meninggalkannya, saat pria itu berkencan dengan pacar barunya.

 

Oke, waktu itu ia terpaksa menuruti keinginan Sora, karena gadis itu terus meraung setelah ditinggal kekasihnya yang seorang player, saat pria itu telah menemukan ‘mangsa’ barunya. Jadi, demi kebaikan telinganya, dan juga karena ia merasa kasihan pada sahabat satu-satunya itu. Akhirnya Seungwan mau berakting seperti orang gila. Mengacaukan kencan si playboy cap kadal itu bersama kekasih barunya.

 

Tak sampai di situ, ia juga menghajar lelaki itu, hingga mengakibatkan beberapa memar di wajah dan bagian tubuh lainnya. Saat itu ia benar-benar mendalami perannya sebagai ‘orang gila’. Sampai-sampai ia melupakan kamera CCTV yang berada di sekitarnya.

 

Dan awal petaka baginya adalah saat lelaki gila itu menjadi hoobae-nya di perusahaan tempat ia bekerja. Nasib sial tak hanya sampai di sana. Laki-laki itu mengingat wajahnya dan mengancamnya dengan rekaman video CCTV yang entah dari mana pria itu dapatkan. Membuat Seungwan harus menuruti semua keinginannya. Atau secara kasarnya Seungwan harus bersedia menjadi budak si pria gila yang tak lain adalah Park Chanyeol.

 

Dan di sinilah Seungwan berada, di kamar Park Chanyeol, menjalankan tugasnya sebagai budak Chanyeol.

 

Bahkan saat ini orang-orang sangat menjunjung tinggi HAM, tapi kenapa ia masih saja bisa diperbudak? Oh haruskah ia melaporkan pria gila itu pada komisi perlindungan HAM?

 

Seungwan mengenakan jas putih yang melapisi dress selutut yang dikenakannya dan memegang stetoskop di tangannya, sambil terus bergumam tak jelas. Membuat Chanyeol mengernyit.

 

“Dasar gadis aneh,” gumam Chanyeol.

 

“Ya! Apa yang kau lakukan? Sedang berlatih mendalami peran, eo? Kau tak perlu lagi melakukannya. Aku sudah pernah melihat aktingmu yang sangat ‘menakjubkan’ itu,” teriak Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan Seungwan, dari ranjangnya.

 

“Ya! Diam kau! Atau aku akan menghancurkan semua rencana gilamu ini. kau mau, huh?” Umpat Seungwan, gadis itu juga mengancam Chanyeol dengan ancaman yang sebenarnya tidak akan berpengaruh pada Chanyeol.

 

“Coba saja kalau kau berani,” ujar Chanyeol santai sambil menunjukan smirk-nya. Membuat Seungwan menggerutu dan menatap tajam pada Chanyeol. Ingin sekali Seungwan mencekik pria di depannya itu.

 

“Yeollie!”

 

Teriakan seorang gadis dari luar kamar menyentak mereka. Keduanya terlihat panik, lalu mencari posisi masing-masing. Chanyeol cepat-cepat memakai selimutnya, lalu duduk bersandar pada headboard ranjang, memasang wajah tanpa ekspresi disertai tatapan kosong. Sementara Seungwan mencoba membenahi penampilannya.

 

“Yeollie!”

 

Suara itu terdengar lagi, kali Ini diiringi dengan kemunculan sosok seorang gadis di kamar itu, dengan ekspresi khawatirnya yang membuat Seungwan mual melihatnya. EntahlahSeungwan tak menyukai gadis ini bahkan dipertemuan pertama mereka.

 

Gadis itu cantik, dan juga terlihat modis dengan mengenakan dress ketat di atas lutut, yang menunjukan lekuk tubuhnya. Ia mengenakan stiletto berwarna putih, terlihat sangat manis dipadukan dengan dress-nya yang berwarna hijau tosca. Namun, gaya bicara dan bahasa tubuhnya membuat Seungwan bergidik. Gadis itu bicara dengan nada manja yang dibuat-buat, membuat Seungwan seketika ingin mengeluarkan isi perutnya saat mendengar gadis itu berbicara.

 

Baby, apa yang terjadi padamu?”

 

Baby? oh ayolah, pria ini bahkan terlalu tua untuk disebut bayi. Seketika Perut Seungwan benar-benar bergejolak.

 

Aku harus mengakhiri ini dengan cepat, batinnya.

 

Gadis itu mendekati ranjang, bermaksud mendekati Chanyeol yang masih saja dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan kosong. Seperti tubuh yang telah ditinggalkan jiwanya. Namun Seungwan bergegas berdiri di hadapan gadis itu, merentangkan tangannya, bermaksud memblokir langkah gadis itu untuk mendekati Chanyeol.

 

“Ya! Apa yang kau lakukan?” Teriak si gadis, marah. Suara manjanya tadi ia buang entah kemana. Membuat Seungwan mendengus.

 

Dasar berkepribadian ganda, batin Seungwan.

 

“Maaf nona, aku hanya ingin melindungi keselamatanmu,” ujar Seungwan, menekan rasa muaknya.

 

“Apa maksudmu, huh? Aku hanya ingin menemui kekasihku, bukan menemui hewan buas. Jadi kau tak perlu melindungiku!” bentaknya.

 

Kau tak tau saja, kalau pria yang kau sebut kekasihmu itu bahkan lebih berbahaya dari hewan buas sekalipun, Seungwan kembali membatin.

 

“Maaf, Nona, saat ini kekasih tercintamu ini sedang sakit dan dalam pengawasanku,” ujar Seungwan lagi.

 

“Dalam pengawasanmu? Memang kau siapa?” tanya gadis itu dengan dahi berkerut.

 

“Aku adalah dokter ahli jiwa, yang bertugas merawat kekasihmu yang ‘gila’,” jawab Seungwan sambil menekankan kata ‘gila’. Membuat Chanyeol yang tengah berakting, menggerutu dalam hatinya.

 

“Ya! Siapa yang kau sebut gila? Yeollie tidak gila. Sudahlah jangan mengada-ada. Sekarang lebih baik kau minggir karena aku ingin menemui Yeollie.” Gadis itu kembali meneriaki Seungwan, sambil mendorong tubuh Seungwan. Untung saja pertahanan Seungwan cukup kuat, hingga dorongan gadis itu tak berpengaruh sama sekali terhadapnya.

 

Sementara Seungwan berusaha menekan emosinya, ingin sekali ia menjambak rambut gadis ini, yang telah meneriakinya berkali-kali tepat di depan wajahnya.

 

Awas kau Park Chanyeol, kau akan mendapatkan balasanku, batinnya kesal.

 

“Nona, jika kau mendekati tuan Park, dia akan menggigit dan mencakarmu seperti anjing.” Kali ini Seungwanmenaikan suaranya.

 

“Oh, sialan. Apa maksudmu? Kau mengatakan Chanyeol seperti anjing?” gadis itu mengumpat pada Seungwan. Sedikit memancing emosi Seungwan.

 

Seungwan mengepalkan tangannya. Lalu tangannya yang lain berusaha mencari bagian tubuh Chanyeol yang berada di belakangnya, dan mencubitnya dengan keras. Hingga membuat Chanyeol berteriak kesakitan. Namun cubitan Seungwan seolah kode bagi Chanyeol, hingga pria itu langsung mengeluarkan suara seperti anjing dan tubuhnya seketika kejang-kejang. Seungwan tertawa geli saat menoleh ke belakang, di mana Chanyeol berada. Ia kembali menoleh pada gadis itu.

 

“Kau lihat sendiri kan, Nona? Tuan Park sepertinya tidak suka kau mendekatinya. Lebih baik kau pergi dari sini dan jangan pernah temui tuan Park lagi. Ini demi kesembuhan tuan Park dan kebaikanmu, Nona.” Seungwan bicara dengan nada sok bijaknya.

 

“B-bagaimana bisa?” Gadis itu terlihat sangat kebingungan dan juga ketakutan. Ia memandang Seungwan dan Chanyeol yang masih kejang-kejang secara bergantian.

 

“Aku kan sudah bilang bahwa kekasihmu ini gila, jadi bisa saja hal seperti ini terjadi, dan kehadiranmu membuat keadaannya semakin memburuk. Jadi lebih baik kau ikuti saranku, untuk pulang dan jangan pernah temui tuan Park lagi.”

 

Gadis itu mendengus pada Seungwan, mengalihkan pandangannya pada Chanyeol yang masih dengan akting kejang-kejangnya, lalu ia berbalik. Melangkahkan kaki jenjangnya ke arah pintu, dan akhirnya berlalu keluar dari kamar Chanyeol.

 

Seungwan menghembuskan nafas kasar dan Chanyeol berhenti dengan aktingnya, setelah tubuh gadis itu menghilang di balik daun pintu.

 

“Wow! Psyco girl, aktingmu masih tetap memukau seperti terakhir kali ku lihat.” Chanyeol memecah keheningan setelah gadis itu pergi.

 

“Aktingmu juga sangat memukau. Guk   … guk … guk …,” ujar Seungwan santai, sambil menirukan suara anjing, seperti yang dilakukan Chanyeol tadi.

 

“Ya! Kenapa tadi kau mencubitku, dan mengatakan aku seperti anjing, huh?” Teriak Chanyeol pada Seungwan, membuat Seungwan memutar tubuhnya menghadap Chanyeol.

 

“Untung saja aku tak mengatakan kau gila seperti monyet. Kalau tidak, kau pasti harus memanjat lemari dan melompat ke daun pintu,” ujar Seungwan santai.

 

“Kau benar-benar pandai memanfaatkan keadaan,” desis Chanyeol. Sementara Seungwan hanya mengedikkan bahunya tak peduli.

 

“Sudahlah, yang penting aku sudah terbebas dari gadis itu,” ujar Chanyeol dengan senyum kemenangan tercetak jelas di wajahnya.

 

“Kau benar-benar pria gila yang brengsek!” sinis Seungwan sambil berjengit menatap Chanyeol. Sementara Chanyeol mengedikkan bahunya, meniru apa yang tadi Seungwan lakukan.

 

“Lalu apa kau akan mencari mangsa baru lagi?” pertanyaan sarkastik dari Seungwan, mengingat bagaimana dulu Chanyeol juga melakukan hal yang hampir sama pada sahabatnya, Kim Sora.

 

“Kenapa? Apa kau mau mendaftarkan diri menjadi mangsaku berikutnya?” tanya Chanyeol sambil tersenyum jahil.

 

“Mimpi saja kau. Walaupun kau pria satu-satunya yang tersisa di bumi ini, aku tak akan pernah melakukan itu,” ujar Seungwan dengan penuh percaya diri.

 

“Benarkah?”

 

Chanyeol menarik lengan Seungwan, hingga gadis itu jatuh menimpa tubuhnya, lalu memindahkan lengannya ke pinggang Seungwan. Gadis itu meronta, namun Chanyeol menekan pinggangnya, dan mengunci Seungwan dengan tatapannya. Seungwan terlena dengan tatapan tajam Chanyeol dan bau parfum yang menguar dari tubuh pria itu. hingga membuat jantung Seunghwan berdetak tiga kali lebih cepat.

 

“Tolong pegang kata-katamu, Nona Son. Karena, jika sekali saja kau jatuh dalam pesonaku, maka kau tak akan pernah aku lepaskan seumur hidupmu.” Chanyeol berkata dengan suara berat. Penuh penekanan. Embusan napasnya menerpa wajah Seungwan. Membuat gadis itu tak bisa menangkap dengan jelas ucapan Chanyeol. Karena ia tiba-tiba merasa pening, namun juga nyaman. Tipe perasaan yang sangat ia sukai berada dalam hatinya.

 

Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Seungwan, menatap bibir merah Seungwan. Sementara Seungwan melakukan hal yang sama, mengagumi bibir Chanyeol yang terlihat menggoda. Seperti diberi aba-aba, mereka sama-sama memejamkan mata. Lalu gadis itu merasakan sesuatu yang lunak dan basah menempel di bibirnya. tak lama ia merasa benda itu bergerak, lalu melumat bibirnya dengan lembut, sangat lembut, hingga Seungwan tergoda untuk membalas tiap lumatannya.

 

Jantung keduanya berdetak sangat cepat, jauh lebih cepat dari sebelumnya. Sementara bibir mereka masih setia menyatu. Saling melumat dengan sangat lembut. Menikmati rasa manis dari saliva satu sama lain. saling memuja benda lembut dan basah itu.

 

Lumatan lembut itu berubah menjadi hisapan yang penuh gairah. Tangan Chanyeol yang berada di pinggang Seungwan, perlahan naik ke atas, sampai di tengkuk Seungwan. Menekan tengkuk gadis itu, untuk memperdalam penyatuan bibir mereka.

 

Namun seakan ada alarm yang berbunyi di kepala Seungwan. Gadis itu membuka matanya. Ia seolah terkejut. Lalu cepat-cepat menarik diri dari tubuh Chanyeol, hingga penyatuan bibir itu terlepas. Membuat Chanyeol juga membuka matanya. Seungwan mengusap kasar bibirnya yang basah dengan punggung tangannya. Lalu berlari ke luar dari kamar itu.

 

Gadis itu bersandar di depan pintu kamar Chanyeol saat ia telah sampai di luar. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Nafasnya masih terengah.

 

“Bodoh!” erangnya, sambil memukul pelan kepalanya.

 

Sementara di dalam kamar, Chanyeol tersenyum penuh arti. Ia mengusap bibirnya yang basah. Lalu bergumam ….

 

“Kau masuk perangkapku, psyco girl.”

 

***

Seoul National University Hospital, Seoul
02.00 PM KST

 

“Eo, kalian sudah sampai. Duduklah Nara-ya, Kyuhyun-ah.” Taeyeon mempersilahkan Nara dan Kyuhyun untuk duduk, setelah keduanya masuk ke dalam ruangannya. Hari ini adalah hari keluarnya hasil tes lab yang dilakukan Nara dan Kyuhyun.

 

“Bagaimana hasilnya eonni? tak ada masalahkan?” tanya Nara tho the point, diiringi rasa khawatir dan penasaran saat ia dan Kyuhyun baru menjatuhkan bokongnya di sofa ruang praktekTaeyeon.

 

“Hmmm … begini, untuk Kyuhyun tak ada masalah sama sekali. Kualitas sel spermanya sangat bagus dan Jumlah sperma yang diproduksi juga mencukupi untuk pembuahan. Dengan kata lain sel sperma yang dihasilkan Kyuhyun sangat siap untuk membuahi.” Ujar Taeyon menjelaskan. Lalu ia memfokuskan pandangannya pada Nara.

 

“Tapi …” Taeyeon terlihat sedikit ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

 

“… ada sedikit masalah dengan rahimmu Nara-ya,” lanjut TaeyeonWanita itu menarik napas sebentar.
“Kau terkena endometriosis,” terang Taeyeon, dengan raut yang susah diartikan Nara.

 

“Endo … metriosis?” tanya Nara. Ia terlihat bingung.

 

“Ini merupakan salah satu kelainan yang menyerang sistem reproduksi wanita. Penyakit ini muncul ketika jaringan dari lapisan dalam dinding rahim atau endometrium, tumbuh di luar rongga rahim. Hingga menghalangi jalannya sel telur dari ovarium ke rahim.”

 

Deg!

 

Jantung Nara seolah berhenti berdetak. Seketika pikirannya kosong. Apa yang ia khawatirkan terjadi.

 

“Jadi, a-apa itu artinya aku tak bisa hamil?” Tanyanya dengan suara bergetar dan kerongkongan sedikit tercekat, untuk memastikan bahwa ia tak salah dengar.

 

“Bukan tak bisa Nara-ya, hanya saja agak sulit,” ucap Taeyeon dengan wajah bersalah, karena harus menyampaikan kabar buruk ini pada adik iparnya itu.

 

Seketika air mata mengalir dari mata Nara. Gadis itu tak bisa menutupi kesedihan dan rasa bersalahnya. Kata ‘sulit’ sama saja dengan ‘tidak bisa’ baginya dalam kasus ini. Kyuhyun meraih tubuh Nara kedalam pelukannya. Membawa tubuh mungil yang tengah bergetar itu kedalam dekapan hangatnya. Membiarkan Nara menumpahkan semua air matanya. Ia tau kekhawatiran Nara. Bahkan beberapa hari yang lalu Nara juga sempat membahas masalah ini. Dan apa yang menjadi kekhawatiran Nara benar-benar terjadi.

 

“Apakah tak ada cara untuk penyembuhannya, Noona? Atau jika harus keluar negeri sekalipun tak masalah,” tanya Kyuhyun.

 

“Tentu saja ada, karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Tak harus ke luar negeri. Di rumah sakit ini juga bisa. Nara bisa melakukan terapi hormonal, walaupun persentase keberhasilannya cukup kecil,” jelas Taeyeon.

 

“Dengarkan sayang? Taeyeon noona bilang kau masih bisa hamil. Kau hanya perlu menjalani terapi,” ujar Kyuhyun mencoba menenangkan Nara.

 

“Benar Nara-ya. Tenanglah. Semuanya pasti akan baik-baik saja.” Taeyeon ikut menenangkan adik iparnya itu.

 

“Tapi kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Bagaimana kalau gagal?” Nara menyela. Ia sebenarnya hanya menyuarakan kekhawatirannya.

 

“Maafkan aku, Kyu … maafkan aku ….” Nara kembali menangis tersedu. Ia merasa telah gagal sebagai istri dan seorang wanita.

 

“Ssshh … jangan meminta maaf. Ini semua bukan kesalahanmu. Dan aku yakin, semuanya akan baik-baik saja. Kau pasti bisa sembuh.”

 

***

 

SangjiRitzvilCaelumCheongdam, Gangnam, Seoul.
04.00 PM KST

 

Suasana di dalam mobil itu hening sedari tadi. Tak ada yang membuka pembicaraan. Mereka sepertinya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Masih sedikit syok dengan kabar buruk yang baru saja mereka terima. Terlebih Nara, gadis itu merasa bersalah dan khawatir di saat bersamaan setelah mendengar kabar itu. Jejak-jejak air mata masih tampak jelas di pipinya.

 

“Turunkan aku disini, Kyu.”

 

Kyuhyun menoleh pada Nara. Pria itu memasang wajah herannya.

 

“Tidak, Ra-ya. kita akan pulang,” tegas Kyuhyun.

 

“Aku belum ingin pulang.”

 

“Kita harus pulang, dan kau butuh istirahat.”

 

“Kyu, aku mohon.”

 

Kyuhyun tak bisa melihat wajah memohon Nara. Akhirnya ia menghentikan mobilnya, menuruti keinginan istrinya itu. Nara melepas seatbelt-nya, diikuti Kyuhyun.

 

“Kau tak usah turun, Kyu. Kembalilah ke rumah,” cetus Nara.

 

“Apa maksudmu Ra-ya? Aku tentu akan menemanimu.”

 

“Aku hanya sedang ingin sendiri, kumohon mengertilah.”

 

Kyuhyun kembali luluh melihat wajah sendu Nara. Ia meraih tubuh Nara. Memeluk tubuh mungil itu.

 

“Baiklah. Tapi kau janji tak akan melakukan hal-hal bodoh,” bisik Kyuhyun di telinga Nara. Jujur saja Kyuhyun cukup khawatir. Ia takut Nara bisa saja melakukan hal-hal bodoh, karena pikiran istrinya itu sedang kacau saat ini.

 

“Heum … aku janji.”

 

Kyuhyun melepas pelukannya. Lalu mengusap air mata di pipi Nara. Mengusap pelan pipi mulus itu dan menatap hangat kedalamhazel coklat Nara. Hatinya sebernya juga terluka melihat keadaan Nara seperti sekarang.

 

“Ingatlah, apapun yang terjadi, aku tak akan pernah meninggalkanmu. Jadi buanglah semua kekhawatiranmu.” Kyuhyun berkata dengan tulus. Mencoba meyakinkan dan memberi kekuatan pada Nara.

 

“Heumm.” gadis itu hanya bergumam.

 

Kyuhyun lalu memagut bibir Nara. melumatnya dengan penuh kelembutan. Seolah menyalurkan perasaannya lewat pagutan bibir itu. Lalu mencium dalam kening Nara. Kyuhyun menyudahi kecupannya setelah beberapa saat.

 

“Aku pergi.”

 

Nara bersiap membuka pintu mobil.

 

“Aku akan menjemputmu satu jam lagi,” sergah Kyuhyun.

 

“2 jam. Jemput aku 2 jam lagi.”

 

“Tidak! Aku akan menjemputmu 1 jam lagi. Cuaca sangat dingin. Kau bisa sakit jika berlama-lama diluar.”

 

Nara hanya diam. Ia tak menanggapi ucapan Kyuhyun. Gadis itu hanya membuka pintu mobil, lalu melangkah ke arah danau yang terletak di dalam komplek perumahan mewah itu. Bahkan ia tak merasakan dingin sama sekali. Hatinya hanya dipenuhi oleh banyak kekhawatiran. Hingga tak bisa merasakan hal lain.

 

Nara duduk di bangku yang terletak di pinggir danau. Memandang kesekeliling danau buatan itu. Biasanya jika musim semi, banyak yang datang ke danau ini. Namun karena ini musim dingin, suasana di sekitar danau jadi lebih sepi. Hanya ada beberapa orang yang menikmati udara segar di sekitar danau. Mungkin karena hari ini tak turun salju, sehingga masih ada orang-orang yang mendatangi tempat ini. Karena biasanya di musim dingin, danau ini memang sangat sepi.

 

Di sekitar danau terdapat taman-taman yang indah. Di sekelilingnya juga terdapat jalan beraspal yang biasanya di gunakan untuk berolah raga pagi bagi penghuni komplek mewah itu. Pohon-pohon sakura di tanam di sepanjang jalan. Sehingga saat musim semi, pemandangan di sekitar danau ini terlihat sangat indah, karena pohon-pohon sakura itu akan berbunga, lalu menambah kesan menakjubkan saat bunga-bunga itu berguguran diterpa angin musim semi. Membuat siapapun yang datang ke danau ini akan melupakan semua masalahnya, karena matanya dimanjakan oleh pemandangan di sekitar danau. Namun saat musim dingin pun, suasana sekitar danau tetap tak kalah indah.

 

Pandangannya terpusat pada salah satu sisi jalan. Ia melihat pasangan muda, sama seperti dirinya dan Kyuhyun, sedang berjalan-jalan di sekitar danau. Nara menatap iri pada pasangan itu. Bukan karena si pria lebih tampan dari Kyuhyun, atau si wanita lebih cantik dari dirinya. Tapi Nara iri dengan bocah kecil yang sedang di bimbing pasangan itu. Ia juga ingin melakukan hal seperti itu dengan Kyuhyun.

 

“Nara-ya!”

 

Suara itu menginterupsi kegiatan Nara. Gadis itu menoleh ke asal suara.

 

“O-oppa

 

Ia cepat-cepat menghapus air matanya.

 

“Ternyata benar kau.”

 

“K-kenapa oppa ada di sini?” Heran Nara.

 

“Aku biasa menikmati udara segar di sekitar danau ini. Kebetulan sekali bertemu denganmu,” ujar Jonghyun. Mata pria itu memancarkan kebahagiaan.

 

“Apa oppa tinggal di sekitar sini juga?” tanya Nara penasaran, karena memang hanya orang-orang yang tinggal di komplek ini lah yang biasa datang ke danau itu.

 

“Heum,” gumam Jonghyun.

 

“Sejak kapan?” Tanya Nara lagi.

 

“2 bulan lalu, sejak aku kembali dari Amerika.”

 

Nara hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.

 

Waegeure Nara-ya? Kenapa tadi kau menangis?”

 

Nara menoleh pada Jonghyun.

 

“Aku tidak apa-apa,” jawabnya. Lalu kembali mengalihkan perhatiannya ke arah danau.

 

“Apa Khyuhyun menyakitimu?” tanya Jonghyun lagi. Sepertinya pria itu benar-benar menunggu hal itu terjadi, karena ia akan merebut Nara dari Kyuhyun jika pria itu kembali menyakiti Nara.

 

“Kenapa Oppa berfikir seperti itu? Kyuhyun tak pernah menyakitiku.”

 

“Kau bahagia hidup dengan Kyuhyun?” Jonghyun kembali bertanya.

 

“Tentu saja, aku sangat bahagia” jawab Nara penuh meyakinkan.

 

“Melebihi kebahagiaanmu saat denganku dulu?” tanya Jonghyun lagi dengan rasa penasaran.

 

Oppa, bisakah kita tidak membahas masa lalu?”

 

“Baiklah.” Jonghyun mengalah. Mungkin Nara benar-benar sudah menghapus perasaan untuknya.

 

“Tapi, Nara-ya, apa kau benar-benar bahagia? Bahkan saat Kyuhyun memiliki putra dengan gadis lain?”

 

Nara terdiam. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia bahagia? Tentu saja jawabannya tidak. Tapi hidupnya akan lebih tidak bahagia jika tak bersama Kyuhyun.

 

“Bohong jika aku mengatakan bahwa aku bahagia, tapi hidupku akan lebih tidak bahagia jika jauh dari Kyuhyun. Aku takut kehilangannya. Aku takut jika Kyuhyun meninggalkanku.” Nara kembali terisak. Ia kembali teringat dengan kekhawatirannya.

 

Jonghyun menggapai tubuh Nara, membawa gadis itu kedalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menumpahkan air mata didadanya.

 

“Tenanglah, Kyuhyun tak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan memastikan itu,” ucap Jonghyun sambil menepuk pelan punggung Nara.

 

BUG!!

 

Namun tiba-tiba wajah Jonghyun mendapat sebuah pukulan. Hingga membuat pelukannya dengan Nara terlepas dan tubuhnya terjungkal ke rerumputan.

 

Nara menoleh ke belakang. Matanya melebar setelah menangkap sosok Kyuhyun sudah berdiri dibelakangnya dengan aura kelam. Pria itu terlihat sangat marah. Rahangnya mengeras, tatapannya seolah ingin membunuh dan tangannya masih mengepal, setelah melayangkan tinjunya pada wajah Jonghyun.

 

“K-kyu ….” Nara tercekat.

 

“Kau pikir peringatanku hanya sebuah lelucon, Sialan?!” Teriak Kyuhyun marah pada Jonghyun. Sementara Jonghyun masih meringis karena luka di bibirnya akibat pukulan Kyuhyun.

 

Kyuhyun menarik lengan Nara. Menyeret gadis itu menjauh dari danau. Meninggalkan Jonghyun yang masih meringis kesakitan.

 

***

Kyuhyun’sHome, Gangnam.
06.00 PM KST.

 

Brak!!!

 

Kyuhyun menggebrak pintu rumahnya dengan keras. Membuat Bibi Kim dan Minji terperanjat kaget, karena mereka saat ini berada di ruang depan. Bibi Kim memang ingin membukakan pintu saat ia mendengar deru mesin mobil di halaman rumah.

 

Mereka semakin terkejut saat melihat Kyuhyun menyeret paksa lengan Nara.

 

“Kyu hentikan. Ini sakit.” Nara meringis dan terus meronta, namun Kyuhyun tak mempedulikannya. Pria itu terus menyeret Nara menuju tangga.

 

Bibi Kim dan Minji mematung dengan wajah bingung menyaksikan kejadian yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Kyuhyun tak pernah bersikap kasar pada Nara.

 

Eomma ada apa ini? Kenapa Kyuhyun oppa seperti itu? Kasian eonni.”

 

Minji mengungkapkan kebingungannya pada Bibi Kim setelah Kyuhyun dan Nara menghilang dari pandangan mereka. Sementara bibi Kim hanya diam, wanita itu juga merasa kebingungan. Belum lagi dengan masalah kehadiran seseorang, ah bukan, dua orang di rumah ini. Bibi Kim yakin hari-hari kedepannya akan lebih buruk dari hari ini.

 

Kyuhyun menghempaskan tubuh Nara ketempat tidur setelah mereka sampai di kamar. Amarah masih terlihat jelas menguasai pria itu.

 

“Jadi ini alasanmu? Kau tak ingin kutemani karena ingin berduaan dengan si brengsek itu?” Kyuhyun menekan suaranya, tapi terdengar dingin dan mengintimidasi.

 

“B-bukan Kyu. Kami bertemu secara kebetulan,” Nara mencoba membela diri walaupun sebenarnya ia sangat takut. Kyuhyun terlihat sangat menakutkan saat ini.

 

“Lalu kau membiarkan dirimu dipeluk oleh bajingan itu?” Kyuhyun masih menekan suaranya.

 

“Jonghyun oppa hanya berusaha menenangkanku.”

 

“Lalu apa gunanya aku?! Aku suamimu Jung Nara! Jika kau ingin berbagi keluh kesah, berbagilah denganku. Bukan dengan mantan kekasihmu itu!” Teriak Kyuhyun. Pria itu menumpahkan emosinya.

 

“Maafkan aku.” Kembali cairan bening membasahi pipi Nara.

 

Kyuhyun mengusap wajahnya kasar. Pria itu melangkah ke arah pintu kamar. Membuka pintu itu lalu membantingnya dengan keras.

 

Nara mulai terisak. Gadis itu menyadari kesalahannya. Tak seharusnya ia menerima pelukan Jonghyun. Bukan. Seharusnya tadi ia menghindari Jonghyun, karena Kyuhyun sudah melarangnya untuk bertemu dengan Jonghyun.

 

Setelah beberapa saat Nara mengusap air matanya. Ia harus meminta maaf pada Kyuhyun. Ia tak bisa membiarkan Kyuhyun salah paham dan terus marah padanya.

 

Nara melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari kamar. Menuju ruang kerja Kyuhyun. Ia yakin suaminya itu ada di sana.

 

Nara berhenti sebentar di depan ruang kerja Kyuhyun. Ia menarik nafas lalu mengembuskannya perlahan. Menyiapkan kata-kata yang mungkin bisa meluluhkan hati Kyuhyun.

 

Nara mulai mendorong pintu perlahan. Kepalanya sedikit menyembul dari balik pintu. Namun matanya melebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Tangannya bergetar dan nafasnya tercekat. Ini sangat mirip seperti kejadian saat di kantor Kyuhyun. Tapi ini lebih jelas.

 

Air matanya kembali mengalir dengan deras, dadanya terasa sangat sesak dan kepalanya terasa pening. Walaupun pandangannya mengabur karena air mata. Tapi ia masih bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di ruang kerja Kyuhyun. Suaminya itu sedang berpagut mesra dengan Sena. Bahkan saat ini Sena sudah duduk di pangkuan Kyuhyun. Lengan gadis itu sudah melingkar di leher suaminya itu, sementara bibir mereka saling melumat dan menyesap.

 

Sejak kapan Sena ada di rumah itu?

.
.
.
.
.

TBC

52 thoughts on “When The Smile Being Ornate Part 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s