Family Scandal Part 4B


 

Title: Family Scandal 4 (B)

Author: Oh Eonnie & Anemone

Poster by: Verasity Art

Category: NC-17, Romance, Hurt, Complicated, Angst, Chapter.

Cast:

  • Oh Se Hun EXO as Oh Sehun
  • Byun Baek Hyun EXO as Bernard Rothschild
  • Kim Ha Ni as Hermine Diane Kim
  • Jeon Jang Mi as Jung Jang Mi


Author’s Note:

  • Terimakasih banyak untuk Admin FNC yang berbaik hati telah mempublish FF FS (Family Scandal) ini lagi.
  • Thanks too for reader semua yang dari awal sampai saat ini masih mengikuti perkembangan ceritanya.
  • Kamsahamnida atas cover cantiknya @Verasity_Art
  • Terakhir Seisei untuk kami sendiri (Oh Eonnie & Anemone) yang dihadapkan dengan banyaknya kegiatan tapi masih bisa meluangkan waktu untuk diskusi. Semoga sampai seterusnya. Amin.

Yeeeeeyyyy! Datang juga Part 4B… Oke jadi part 4 Full. Ini mungkin bagian part yang akan membuat kalian gemezzz sama Si Bule KW Perancis (Se Hun). Dan bikin baper sama sweet momentnya Baek-Ha Ni.

 

Summary: “Kenangan adalah benda yang diam, jika ia bisa disebut benda. Tidak bergerak dan menetap seperti guci disudut rumah yang tidak berpenghuni. Bisu dan angker. Ia menentang hukum waktu yang selalu bergerak. Ia tidak berubah bentuk. Ia terbingkai dalam bingkainya yang ikut abadi selamanya. Ia tidak bisa dihapus. Ia permanen. Melekat seperti roh pada jasad dan jasad pada roh. Tidak seperti kehidupan, Ia tidak menginginkan perubahan. Ia tidak bisa berubah. Ia tidak bisa diapa-apakan selain diterima sebagai bagian dari sejarah dan riwayat seseorang.

 

Oh Eonnie&Anemone Present ©2017

 

***Happy Reading***

 

“Hati seseorang tidak ada yang tahu, bahkan hati kita sekalipun.”

 

***Family Scandal 4B***

 

Songfic : Hurt by EXO

 

Author Pov

Langit masih terlihat gelap walaupun waktu sudah menunjukan pukul 05.30 AM. Sang surya belum menunjukan dirinya, di akhir musim gugur seperti sekarang ini matahari akan terbit kurang lebih jam 06.00 AM bahkan jika musim dingin matahari akan terbit jam 07.00 AM. Dari remang-remang lampu jalan, sejauh mata memandang terlihat banyaknya pepohonan Ginkgo dimana daunnya berguguran. Angin khas musim gugur membawa guguran daun Ginkgo menari bersama di atas aspal bersama debu jalanan.

Walaupun masih terlalu pagi, beberapa warga Seoul sudah mulai melakukan aktivitasnya. Itu terlihat dari jalanan yang mulai ramai dari pengendara sampai pejalan kaki. Kota metropolitan memang tidak pernah tidur. Waktu terus berjalan, hingga perlahan perbukitan biru mulai terlihat bersama sinar jingga dari arah timur Kota Seoul.

 

Tirai berwarna putih tulang itu bergerak pelan tertiup angin bersama sinar mentari yang berlomba masuk melalui celah jendela.

 

Di sebuah kamar apartemen mewah terlihat wanita setengah baya yang masih tetap cantik, bergelut dengan selimut tebal didampingi tangan kekar yang melingkar di perutnya, membuatnya sungguh-sungguh sangat betah. Ya, karena semalaman ia tidur dalam pelukan hangat pemuda tercintanya. Bukan hanya berpelukan saja, bahkan mereka menghabiskan waktu bersama diiringi desahan-desahan yang membuat mereka terus melakukannya lagi dan lagi.

Jang Mi mengerjapkan matanya menyesuaikan pencahayaan yang sedikit terang di kamar seluas 4×6 meter dengan nuansa putih dan hitam itu. Ia tersenyum saat pertama kali membuka matanya, dilihatnya pria muda nan tampan yang tengah tertidur pulas. Mereka tidur berpelukan dan sekarang pun Jang Mi rasanya masih enggan untuk melepaskan tangan kekar itu dari tubuhnya. Mata Jang Mi mengamati wajah damai Se Hun yang kini tertidur, rambut hitam kecoklatan yang terlihat kusut, mata yang selalu menatap nakal dirinya, kini tertutup dengan indahnya. Hidung mancung yang seakan menantang Jang Mi untuk menyentuhnya, bibir kecil tipis yang selau membuat Jang Mi terdiam dengan hanya mengikuti pemuda tampan itu berkata. Seakan semuanya terasa menjadi satu kesatuan kesempurnaan yang dimiliki Se Hun.

 

Oh Se Hun pangeran kecilnya yang dulu Jang Mi berusaha mati-matian menjaganya, kini tumbuh dewasa dengan segala kesempurnaan yang dia miliki. Rasanya ini mustahil setelah sekian lama tidak bertemu dengannya, dan sekarang Jang Mi dipertemukan kembali dengan pangeran kecilnya dulu. Seakan takdir telah menentukan jalan kehidupan mereka di masa mendatang.

 

“Euughhhh,”

Jang Mi tersenyum, mendapati Se Hun bergerak ringan dengan mata terpejam, lalu memeluknya tambah erat lagi. Bukankah moment seperti ini sangat langka? Biasanya setiap hari saat ia bangun, Ia hanya didampingi bantal guling yang setia di sampingnya. Tidak ada peluk memeluk yang sekarang dirasakannya. Dengan berani, Jang Mi menyentuh pipi pria mudanya dengan elusan lembut. Jang Mi tidak tahan melihat wajah polos Se Hun yang bak bayi kecil yang menggemaskan.

“Aku memang tampan,” ucapan pertama yang Se Hun keluarkan ketika Jang Mi diam-diam mulai menyentuh pipinya.

 

“K…, Kau sudah bangun?” tanya Jang Mi gugup. Entah kenapa ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah sekarang. Bahkan pipinya mulai panas, membuat Jang Mi menyentuh kedua pipinya sendiri.

 

“Kenapa? Aku memang sudah bangun, bahkan saat kau menatapku dengan pandangan terpesona tadi.”

 

Mendengar ucapan Se Hun, wanita cantik itu mendengus pelan dan melirik sebal pria tampan di sebelahnya. “Seharusnya tadi aku curiga padamu, ck. Kau sengaja bukan?” sungut Jang Mi sambil berusaha melepaskan tangan Se Hun yang melingkar erat di perutnya. Namun, bukannya tangan itu terlepas, yang Jang Mi dapati tangan itu malah merambat ke atas perutnya.

“Ahhh…,” desah Jang Mi ketika tangan Se Hun mulai mencubit ‘sesuatu’ di sekitar dadanya.

 

“Yak! Pemuda mesum!” jeritnya tertahan.

 

PLETAK!

 

Jang Mi memukul tangan Se Hun yang dengan beraninya berbuat hal konyol seperti itu di pagi hari.

 

“Aku tidak tahan, jika terus di dekatmu, Sayang,” kekehnya membuat Jang Mi jengah.

 

“Aku tahu, tadi kau menyukainya, kan? Tanganku pun ahli membuatmu mendesah hanya dengan cubitan.”

 

“Pemuda menyebalkan,” Jang Mi berusaha bangkit.

 

Se Hun terkekeh mendengar gerutu wanita dewasanya, namun tangannya kembali mendekap, membuat Jang Mi sulit untuk bangkit.

 

“Jangan pergi dulu, ini masih terlalu pagi untuk pulang, Sayang,” gumam Se Hun sambil memeluk erat Jang Mi dari belakang. Ia mengecup lembut bahu telanjang Jang Mi membuat wanita itu memejamkan matanya. Jang Mi memutar tubuhnya, memandangi pemuda yang tengah memeluknya dengan tatapan curiga.

 

“Besok aku sudah memulai sidang pertamaku. Bagaimana jika seharian ini kita habiskan berdua, hmm?” gumam Se Hun dengan tampang yang sungguh membuat Jang Mi ingin mencakarnya.

 

“Aku harus bekerja, Bocah. Lepaskan.”

 

“Ayolah wanita tua,” rengek Se Hun.

 

“Libur saja satu hari,” Se Hun bahkan memohon.

 

“Tidak Hun, bagaimana aku menghidupi Ha Ni jika aku tidak bekerja,” Jang Mi tertegun sendiri saat mendengar dirinya menyebut nama putri kecilnya. Detik berikutnya Jang Mi menyadari sesuatu.

 

“Astaga Ha Ni!” Jang Mi baru ingat, putrinya pasti menunggunya dengan cemas di rumah.

 

“Aku harus pulang,” Jang Mi segera beranjak dari ranjang ke kamar mandi dengan gerakan tergesa-gesa. Tak menyadari tatapan menelisik pemuda tampan yang memperhatikan gerak-geriknya.

 

“Pelan-pelan, nanti kau bisa jatuh,” tegur Se Hun sambil bersekedap dan menyandarkan tubuhnya di head bed. Dia kesal di saat moment romantis seperti tadi harus hancur hanya karena satu nama, HANI. “Sial!” umpatnya sambil mengacak rambutnya.

 

“Aku tidak ada waktu lagi, Hun. Aku harus pergi.”

 

‘CUP’

 

Jang Mi mengecup kening Se Hun saat sudah memakai pakaian kantornya semalam. Biarpun sudah lusuh akibat ulah pria mudanya itu. “Aku pamit. Kau lanjutkan tidurmu.”

 

Se Hun terus memandangi Jang Mi hingga wanita itu hilang dibalik pintu. Dan saat terdengar suara pintu tertutup…

 

Blam!

 

“KIM HANI! HAHAHAHAHAHA…,” Se Hun tertawa sambil tidur telentang. Ia bahkan melempar asal bantal gulingnya. Ada apa dengan Se Hun?

 

***Family Scandal***

 

Taksi yang membawa Jang Mi berhenti tepat di depan halaman rumahnya. Jang Mi segera turun dari taksi dan tergesa-gesa masuk ke rumahnya. Perasaannya cemas bukan main. Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu menunjukkan pukul 06.30 AM.

 

Jang Mi dengan pelan membuka pintu rumahnya, lalu mengedarkan pandangannya. Dari ruang tamu, ruang tengah, tangga menuju lantai dua, lalu menengok sedikit ke lantai dua dan terlihat sepi. Jang Mi lega, saat merasakan putrinya itu masih tidur di kamarnya. Ha Ni memang malas untuk bangun pagi, Jang Mi bahkan harus berteriak setiap harinya, kecuali akhir pekan.

 

Jang Mi membuang nafas kasar, masih ada sedikit waktu untuk dirinya memasak sarapan sebelum putrinya berangkat sekolah. Mungkin juga saat ini Ha Ni sedang mandi. Jang Mi bergegas menuju dapur namun sesuatu membuat langkahnya terhenti.

 

Tlinggg!

 

Suara unik dari dream kitchen yang menggema dikesunyian itu mengejutkan Jang Mi. Ia segera menoleh ke arah kanan dimana suara itu berasal, matanya sontak melebar saat mendapati Ha Ni di sana. Baru saja Jang Mi mengira anak gadisnya ini masih tidur, tapi apa sekarang? Jang Mi bahkan melihat Ha Ni dengan seragam sekolahnya yang rapih berjalan dari arah dapur dengan membawa piring yang Jang Mi tebak berisikan makanan.

 

“Ha Ni…, kau sudah bangun?” tanya Jang Mi dengan pandangan terkejut, juga melirik apa yang sedang dikerjakan Ha Ni saat tiba di meja makan.

 

“Hmm, seperti yang eomma lihat,” jawab Ha Ni seraya meletakkan piring, mangkok, sendok di atas meja makan.

 

Jang Mi mengepalkan tangannya tanpa sadar. “Maaf Han, Eomma baru pulang. Eomma ketiduran di kantor. Pekerjaan Eomma tadi malam benar-benar ba…”

 

Belum sempat Jang Mi menyelesaikan kalimatnya, Putri tunggalnya itu langsung memotong perkataannya, “Aku mengerti,” ujar Ha Ni dengan nada pelan namun terkesan menusuk. Entah itu perasaan Jang Mi saja atau bagaimana.

 

Wanita berumur 38 tahun itu menelan ludahnya, Jang Mi tampak gelisah. Bagaimana ini? Putrinya pasti kecewa bahkan marah. “Han, kau marah pada Eomma?” tanya Jang Mi pelan.

 

Ha Ni tidak menjawab. Ia masih tetap fokus dengan makanan yang ia buat sendiri. Ha Ni makan dengan cepat, bahkan menghabiskan susunya sekali tenggak. Jang Mi bergeming menatap wajah putrinya menyesal. Akhir-akhir ini Ha Ni memang berbeda, sedikit menata dirinya. Jang Mi tersenyum untuk itu.

 

Ha Ni bangkit dari duduknya lalu membawa piring makanan yang telah habis ke wastafel, gerakan yang Ha Ni tunjukan tak pernah sekalipun terlepas dari pandangan Jang Mi.

 

“Aku berangkat, Eomma,” Ha Ni pamit, membuat Jang Mi tertegun.

 

Anak mana yang tidak marah saat ibunya semalaman tidak pulang tanpa memberi kabar? “Tentu saja putrimu pasti marah. Di saat tadi malam putrimu mencemaskan keadaanmu, tapi kau malah bersenang-senang sendiri,” pikir Jang Mi.

 

“Berangkat pagi sekali, Han? Tidak biasanya,” Jang Mi berusaha tersenyum saat Ha Ni lewat di depannya, tapi senyumnya luntur saat Ha Ni berlalu begitu saja.

 

“Aku ada piket di kelas,” Ha Ni memakai sepatunya sedangkan Jang Mi masih menatap gerak-gerik putrinya.

 

Ha Ni terdiam saat hendak membuka pintu rumahnya, Ia tersenyum tipis dan menoleh sekilas. Jang Mi mundur selangkah saat melihat tatapan menyala dari iris oramel putrinya.

 

“Aku sudah buatkan sup tulang. Aku rasa Eomma kehilangan banyak tenaga,” ujarnya lalu berlalu.

 

Drak!

 

Jang Mi langsung jatuh tertunduk, kalimat tadi kembali terniang di telinganya. ‘Aku rasa Eomma kehilangan banyak tenaga.’

 

“Oh, astaga,” Jang Mi memegang dadanya yang terasa sesak. Bahkan tatapan tajam Ha Ni seolah mengatakan, ‘Aku tahu Eomma.’

 

Ha Ni menatap pintu rumahnya sejenak sebelum bergegas menuju garasi. Ia berangkat ke sekolah dengan motor scooter kesayangannya. Walaupun ia belum punya SIM. Itu sebabnya scooter kesayangannya jarang digunakan. Entah kenapa, hari ini tiba-tiba Ha Ni ingin menaiki scooter ke sekolah. Ah, ada aturan dari pihak sekolah tentang membawa kendaraan tanpa SIM. Lihat saja apa yang akan dilakukan Ha Ni untuk menghindari itu.

 

Jang Mi lagi-lagi tertegun, dalam hati ia bergumam, “Harusnya akulah yang memasak di pagi buta untuk putriku, bukan malah putriku yang memasakkan untukku. Oh, Jung Jang Mi,” air mata menetes dari sudut matanya. Menyesalkah Anda, Jung Jang Mi?

 

“Maafkan Eomma, Ha Ni. Maafkan Eomma yang telah membuatmu kecewa.”

 

“Eomma bahkan tidak sanggup membayangkan seberapa kecewanya kau saat mengetahui semuanya. Apa yang harus Eomma lalukan Ha Ni-ya? Apa?” Jang Mi berdiri lalu mendekati meja makan. Tangisnya pecah saat melihat panci sup dengan uap mengepul.

 

***Family Scandal***

 

Sebuah mobil sedan hitam berhenti beberapa meter dari rumah Ha Ni. Didalam mobil itu terdapat dua pria tampan, dengan style berbeda. Di kursi pengemudi, ada pemuda dengan setelan jas hitam, juga kaca mata hitamnya. Di kursi belakang, ada pria yang tak kalah tampan memakai kemeja putih yang dilapisi baju rajutan berwarna biru muda, lalu coat berwarna biru tua. Tak lupa kaca mata hitam yang menutupi mata kecilnya.

 

“Apa kau yakin itu rumahnya?” tanya Baek Hyun sambil bersedekap.

 

Jun tanpa menoleh, mengangguk pelan, “Saya mengikuti nona itu sampai dia masuk ke rumahnya.”

 

Kini gantian Baek Hyun yang mengangguk, ia tersenyum. “Kerja bagus. Aku akan memberimu bonus,” ujarnya.

 

Jun mengernyit, “Maaf jika saya lancang, Tuan Muda. Tapi kenapa Anda meminta saya, pagi-pagi buta mengantar Anda kemari?” Jun sudah siap menerima omelan Baek Hyun tapi yang ada Baek Hyun malah berteriak heboh dan bergerak-gerak seperti cacing kepanasan.

 

“Yak…,yak! Menunduk! Hei, menunduk!”

 

“Ye?” Jun menoleh kebelakang dan melihat Baek Hyun yang menunduk seakan bersembunyi supaya tidak terlihat.

 

“Menunduk! Dia bisa melihatmu!” omel Baek Hyun.

 

Jun melihat seorang gadis dengan scooter baru saja lewat. Ia lalu menoleh ke belakang dimana Baek Hyun tampak mengintip dari kaca mobil. Sungguh ia ingin tertawa melihat perilaku tuan mudanya.

 

“Apa dia sudah pergi?” tanya Baek Hyun. Jun hanya mengangguk sambil berusaha menahan tawanya. Ia bisa dipecat kalau menertawakan kebodohan tuan mudanya.Melihat anggukkan kepala dari Jun, Baek Hyun menegakkan tubuhnya seperti semua. Pegal juga harus ada diposisi itu, walaupun tidak ada sepuluh menit. Apa Baek Hyun sudah tua hingga punggungnya gampang sakit?

 

“Kau harusnya menunduk tadi. Kalau dia melihatmu dan mengenalimu bagaimana, huh?” omelnya sambil memijit-mijit pelan punggungnya.

 

“Maafkan saya, Tuan Muda. Saya benar-benar minta maaf,” ujar Jun sedangkan Baek Hyun hanya mengangkat tangan kirinya.

 

“Jalan. Ikuti dia,” gumamnya.

 

Jun melirik Baek Hyun yang terlihat kesakitan, “Apa Tuan Muda baik-baik saja?” tanyanya tapi Baek Hyun hanya mengangguk, lalu memberi kode untuk menjalankan mobilnya.

 

“Sial. Sepertinya aku terluka karena semalam,” gumamnya pelan. Baek Hyun bahkan tidak bisa tidur nyenyak semalam karena sakit di punggungnya hingga ia harus tidur dengan posisi miring. Ia menolak saat Paman Yook berniat memanggil dokter untuk mengecek keadaannya, yang ada malah hyungnya tahu dan timbul masalah baru nanti.

 

Baek Hyun memejamkan matanya, membayangkan wajah Hani yang tertawa lepas. Memori pertemuan kemarin malam. Aneh, perlahan tapi pasti sakit di punggungnya mulai berkurang.
“Aku tidak tahu kenapa? Pagi-pagi buta pergi hanya karena ingin melihatmu,” batin Baek Hyun.

 

***Family Scandal***

 

Oh Yeah! C’mon!

Take your time

Waenji dugeundaeneun bam-iya (Na Na Na Na x 2)

So tonight

Dal kkeutkkaji dallyeogabolkka (Yea Yea Yea Yea x 2)

Just right, sidong-eul geol-eo egsel-e bal-eul ollyeo

Modeun geos-i teugbyeolhae, neowaneun jal eoullyeo

Mueos-eul wonhadeon Imma make it work (Yeah)

Shawty, Imma party till the sun down

Jigeum i sinbiloun neukkim-eun mwolkka

Wajwo naegelo eoseo Before the sun rise

Nega eobsneun nan eodil gado Nobody (Yeah) o!

Dolo wie yeogin runway

Nal balaboneun nun sog milky way

Just love me right (aha!)

Baby love me right (aha!)

O! Naegelo wa mangseol-ijima, neon maehogjeog-in naui universe

Just love me right (aha!)

Nae ujuneun jeonbu neoya

Just love me right…

Just love me right…

Just love me right…

Nae ujuneun jeonbu neoya…

 

Lagu ‘Love Me Right’ yang dinyayikan EXO, boy group ternama di Korea bergema di telinga Ha Ni mengiringi laju scooternya menyusuri jalanan Kota Seoul. Kurang dari setengah jam, ia tiba di kawasan apartemen mewah, ‘KL Apartment’.

 

Ha Ni tersenyum saat ia sampai tepat di pintu masuk. Seorang satpam –pria paruh baya – langsung menghampiri Ha Ni yang kini sibuk membuka helmnya.

 

“Pagi,Paman,” ujarnya dengan ceria. Lalu melepas headset di telinganya.

 

“Nona Kim?” tanyanya membuat Ha Ni terkekeh.

 

“Lupa padaku, eoh?” ujar Ha Ni dengan wajah sendu membuat penjaga keamanan itu tak enak hati.

 

“Tentu tidak. Mana mungkin saya lupa pada gadis cantik seperti Anda, Nona.” ujarnya membuat Ha Ni kembali terkekeh.

 

“Lama tidak berjumpa,Paman,” Ha Ni turun dari scooternya.

 

“Senang berjumpa lagi dengan Anda, Nona,” sapanya ramah.

 

“Ah ini untuk Paman, setelah berjaga semalaman makanlah dulu sebelum pulang,” Ha Ni menyerahkan paper bag coklat yang diterima dengan bingung oleh paman penjaga keamanan.

 

“Untuk paman?” tanyanya. Sepertinya itu bukan pertama kali. Terlihat dari interaksi bahkan keakraban mereka.

 

Ha Ni mengangguk membuat paman itu tersenyum senang. “Wahhh…,ini kelihatannya enak. Baunya saja sudah menggoda,” ujarnya senang.

 

“Habiskan ya,Paman. Aku naik ke atas dulu. Aku titip scooterku.”

 

Paman penjaga keamanan itu langsung hormat membuat Ha Ni dan kembali tertawa, “Semangat!” ujat Ha Ni lalu melangkah memasuki gedung apartemen mewah itu.

 

“Salam untuk Tuan Muda Kim,” ujar paman penjaga keamanan yang masih bisa didengar Ha Ni.

 

Ha Ni menoleh dan menunjukkan jempolnya, kebanyakan orang-orang di sekitar apartemen itu yang mengenal Ha Ni mengira bahwa Ha Ni adalah adik dari Kim Jong In, salah satu penghuni apartemen mewah itu. Karena kedekatan mereka, juga Jong In yang tanpa canggung mengenalkan Ha Ni sebagai adiknya. Jadi Ha Ni tidak perlu repot-repot melakukan prosedur keamanan sebelum masuk.

 

Ha Ni masuk lift dan menekan tombol angka 8, lantai dimana Jong In tinggal. Ia memegang erat paper bag di tangannya. Ha Ni memainkan ujung sepatunya sambil menunggu liftnya sampai di lantai tujuannya. Ha Ni tersenyum memikirkan seseorang yang membuat Ha Ni selalu merasa disayangi sebagai seorang adik.

 

Ting!
Lift terbuka, Ha Ni segera keluar dan melangkah ke kanan. “Pasti masih tidur,” dengus Ha Ni.

 

Ting tong! Ting tong! Ting tong!

 

Ha Ni dengan semangat menekan belnya, bahkan Ha Ni sengaja memainkannya. Ia tertawa membayangkan Jong In yang kesal dan menggerutu karena tidurnya terganggu. Jong In itu rajanya tidur dan Ha Ni mungkin ratunya tidur.

 

Ting tong! Ting tong!

 

Pemuda yang masih setia bergelut dengan selimut tebalnya itu bergerak kesana-kemari tak nyaman dengan suara bel apartemennya, tangannya mengacak kasar rambutnya. Jong In atau Kai terlihat pusing karena suara bel apartemennya.

 

“Yak. Berisik!” teriaknya sambil menutup kepalanya dengan bantal.

 

Ting tong! Ting tong! Ting tong!

 

“Yak! Sialan!” Jong In yang kesal bangun dari tidurnya, bahkan melempar selimutnya.

 

Ting tong! Ting tong! Tong tong!

 

Diluar Ha Ni masih semangat bermain dengan bel pintu.

 

Suara bel apartemen berbunyi lagi. Pemuda berkulit tan kecoklatan itu berjalan cepat menuju pintu dengan amarah tertahan lalu membukanya dengan kasar, siap dengan kemarahan yang meletup-letup kepada seorang yang mengganggunya di pagi buta seperti ini. Pagi buta menurut Jong In.

 

“Yak! Ber…,” Jong In terkejut saat melihat siapa yang berkunjung ke apartemennya, sosok gadis manis dengan rambut hitam panjang diikat menjadi dua bagian.Dengan poni tipisnya dan pipinya yang cubby kini tengah berdiri didepan pintu dangan sebuah paper bag berwarna hijau.

 

“Annyeong, Jongie Oppa,” sapa Ha Ni dengan senyum manisnya.

 

Kim Jong In atau Kai, pemuda yang baru saja bangun dari tidurnya itu menatap shock sosok Ha Ni. “Kim Ha Ni, apa yang kau lakukan di sini?”

 

Ha Ni menyodorkan paper bagnya pada Kai, “Sebagai rasa terimakasihku semalam, untuk ayam gorengnya. Aku memasakkan makanan ini untukmu, Oppa, semoga suka.”

 

“Wow! Aku tadi bermimpi bertemu bidadari cantik, dan sekarang bidadari cantik itu berdiri di depanku. Terimakasih Cantik,” ujar Kai membuat Ha Ni mendengus pelan.

 

“Bangun dari mimpimu Oppa,” ujar Ha Ni.

 

“Aku sudah bangun, kan?” tanya Kai polos membuat Ha Ni jengkel sendiri.

 

“Ah, sudahlah. Habiskan, ya. Itu makanan empat sehat limanya tambah sendiri. Hahahaha…! Aku tahu besok sidang pertama oppa, kan?”

 

Kai membuka paper bagnya, menengok apa isinya. Ia tersenyum saat melihat dua kotak disana. “Dua kotak?” tanya Kai sengaja.

 

“Ya, yang satu untuk Se Hun Oppa,” Ha Ni tersenyum lebar sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Well, sudah beberapa hari mereka tidak bertemu dan berkomunikasi.

 

Jong In mengangguk, “Kenapa tidak kau berikan sendiri, kau tahu apartemennya, kan?” tanyanya.

 

“Aku…, ak…,” Ha Ni terlihat ragu menjawabnya, membuat Kai paham.

 

“Terimakasih Cantik. Aku jadi tidak perlu memasak sarapan atau membelinya di cafe dekat kampus,” Kai tersenyum. Ia bahkan mengacak rambut Ha Ni sebagai luapan rasa senangnya dan perlakuan Kai itu membuat Ha Ni mendengus sebal.

 

“Aish Oppa, kau merusak rambutku,” kata Hani kesal sambil membenarkan rambutnya. Sedangkan Jong In terkekeh pelan.

 

“Tidak mampir dulu?” tanya Kai.

 

“Kau ingin membuat siswi sepertiku terlambat dan akhirnya di hukum, Jong-ie Oppa?” tanya Ha Ni.

 

“Aigoo…, uri Ha Ni kesal,” kata Kai menggoda Ha Ni. Membuat gadis itu memukul bahu tegap laki-laki itu.

 

“Yak! Sudah,aku pamit. Oppa, segeralah mandi lalu sarapan, habiskan makanan itu. Oke?”

 

“Baik, Eomma,”jawab Kai dengan nada bercanda, membuat Ha Ni terkekeh.

 

“Masuklah uri Jong-ie. Eomma berangkat kerja dulu.”

 

“Yak!” teriak Ha Ni sambil berlari saat melihat Kai melepas sandalnya.

 

“Hati-hati. Semoga harimu menyenangkan. Belajar yang rajin, eoh!” teriak Kai sambil menurunkan kembali sandalnya.

 

“Ah! Jangan mendengarkan musik di jalanan!” seru Kai saat melihat Ha Ni mulai memakai headsetnya, membuat gadis SMA itu mendengus pelan.

 

“Dia itu cenayang apa?” gumamnya. Ha Ni melambaikan tangannya, “Semoga harimu juga menyenangkan Oppa. Semangat!” Ha Ni mengepalkan tangannya yang diikuti oleh Kai.

 

Kai tetap berdiri di depan pintu apartemennya sampai Ha Ni menghilang di belokan koridor. Kai menghela nafas pelan, menatap paper bag di tangannya. “Bodoh kau, Oh Se Hun,” gumamnya lalu masuk ke dalam.

 

***Family Scandal***

 

Baek Hyun memandangi gedung tinggi itu dari dalam mobilnya sambil mengawasi sekitarnya. Beberapa menit yang lalu, Ha Ni masuk ke gedung itu. Baek Hyun tahu, apartemen itu salah satu apartemen mahal dan mewah di Seoul dan yang membuat Baek Hyun bingung adalah kenapa seorang murid SMA seperti Hani datang ke sana? Ada urusan apa? Menemui siapa? Baek Hyun penasaran sendiri.

 

“Apa perlu saya ikut masuk?” tanya Jun yang sepertinya tahu kegundahan tuan mudanya.

 

“Tidak. Kita tunggu saja di sini sampai dia keluar,” gumam Baek Hyun.

 

15 menit kemudian…

 

Ha Ni keluar dari gedung itu dan berpamitan pada petugas keamanan. Dari yang Baek Hyun lihat sebelumnya dan sekarang ini, Ha Ni adalah tipe orang yang ceria dan mudah bergaul juga sopan. Itu penilaian Baek Hyun.Jun menoleh dan Baek Hyun mengangguk, hingga Jun mulai menjalankan mobilnya kembali mengikuti Ha Ni.

 

Ha Ni merasa ada yang mengikutinya. Dari kaca spion, Ha Ni melihat sebuah mobil sedan, tapi Hani tidak peduli. Ia menambah kecepatan motornya hingga tak lama sampai di sisi gedung sekolahnya. Ha Ni sengaja berhenti di sana.

Ha Ni turun dari motornya, lalu dengan percaya diri mendekati dinding yang biasa ia lompati jika terlambat datang ke sekolah. Apa Ha Ni terlambat lagi? Sepertinya tidak, karena lingkungan sekolah masih sepi. Lalu kenapa Hani lebih memilih untuk memanjat dinding?

 

“Sudah seminggu lebih aku tidak melompatimu, apa kau merindukanku?” entah Ha Ni berbicara pada siapa.

 

Ha Ni mundur dan mengambil ancang-ancang, tentu saja Ha Ni memakai rok yang dirangkapi celana training, jadi ia tidak perlu khawatir. Hani membuang nafas kasar dan menghitung dalam hati, “1-2-3.”

 

“Hya!”

 

Dengan sekali gerakan, Ha Ni sudah sampai di atas dinding. Ya, lompatan yang bagus hingga membuat Baek Hyun dan Jun shock. Tidak menyangka jika gadis manis itu akan melakukan hal gila.

 

Hap!

 

Ha Ni mendarat dengan selamat. Ia membenarkan tasnya dan mengeceknya, melihat semuanya aman Hani tersenyum.

 

“Oke,” ujarnya lalu berjalan memasuki gedung sekolahnya.

 

Sekolah masih sepi, hanya beberapa siswa yang terlihat. Ha Ni berjalan santai di koridor kelas tiga, hingga sampai di jejeran loker.

 

“Ah, ini dia,” gumam Ha Ni lalu membuka loker itu. Tidak terkejut saat melihat isi loker yang dipenuhi surat cinta, coklat dan hadiah-hadiah lainnya.

Ha Ni membuka tasnya, mengambil kotak makan berwarna hijau dan menaruhnya.
Tak lupa, Ha Ni juga mengambil beberapa coklat. Setelah selesai Ha Ni buru-buru pergi.
Loker dengan nomer 128, Son Johnny.

 

Sambil berjalan Ha Ni mengirim sebuah pesan line ke seseorang. Ia terkekeh pelan lalu memasukan ponselnya ke dalam tasnya. “Saatnya bersenang-senang,” gumamnya.

 

***Family Scandal***

 

“Kau lihat tadi? Astaga. Sungguh tak dapat dipercaya,” gumam Baek Hyun sambil memandang dinding yang lumayan tinggi itu. Karena suntuk berada di dalam mobil, akhirnya ia keluar.

 

Jun tersenyum, “Gadis yang menarik,” gumamnya membuat Baek Hyun kesal sendiri. “Ya! Apa kau bilang?” tanyanya.

 

“Ah, tidak. Itu, Nona Kim,” Jun menunjuk Ha Ni yang sudah kembali dengan melompati dinding.

“Apa dia mau membolos? Kenapa tidak masuk lewat pintu gerbang?” Baek Hyun tidak sadar dengan kehadiran Ha Ni.

 

Hani melirik mobil yang terpakir tidak jauh darinya. Apalagi saat melihat dua orang misterius. Ia mendengus, “Mengikutiku, huh?” katanya kesal lalu berjalan mendekat.

 

Baek Hyun panik saat sadar Ha Ni menatap ke arahnya dan berjalan mendekati mobilnya atau lebih tepatnya mendekatinya. Baek Hyun langsung berjongkok di samping mobilnya, berpura-pura mencari sesuatu.

 

“Hei, Tuan?” Ha Ni berdiri tepat di samping Baek Hyun.

 

Jun hendak bertindak tapi Baek Hyun memberi kode hingga Jun terdiam di tempatnya.

 

Ha Ni tersenyum paksa, “Apa yang sedang kalian lakukan? Dan sedang apa di sini?” tanyanya. Ha Ni juga melirik Jun yang berdiri kaku.

 

Baek Hyun masih berjongkok sambil meraba-raba aspal di bawah ban mobilnya.

 

“Gelangku hilang,” ujar Baek Hyun membuat Ha Ni mengernyit.

 

“Hah?” ujar Ha Ni. Gelang hilang?

 

“Jun, bantu aku!” seru Baek Hyun membuat Jun bergegas mendekati Baek Hyun, ikut berjongkok disamping Baek Hyun.

 

Ha Ni memiringkan kepalanya. Ia seperti mengenali suara itu. Ha Ni mengamati dua pria yang berjongkok itu. Terutama yang bermantel biru.

 

“Hei, Byun Baek Hyun?” seru Ha Ni membuat Baek Hyun terkejut dan langsung berdiri.

 

“Kau mengenaliku?” Baek Hyun melepas kaca matanya.

 

Ha Ni mendengus dan bersedekap. “Kena kau!” ujarnya.Ha Ni berjalan mendekat, membuat Baek Hyun mundur selangkah, sedangkan Jun hanya diam sebagai penonton.

 

“Hai,kita berjumpa lagi,” sapa Baek Hyun. Ia sudah siap kena amukan Ha Ni.

 

“Apa kau sibuk?” tanya Ha Ni membuat Baek Hyun terkejut.

 

“Ye?” gumam Baek Hyun tak mengerti.

 

Ha Ni tersenyum membuat Baek Hyun terdiam, “Sepertinya tidak. Oh ya, boleh aku masuk ke mobilmu? Aku tidak akan macam-macam, hanya sepuluh menit. Ah, tidak,lima menit.”

 

“Ye?”tanya Baek Hyun heran.

 

Hani berbisik pelan di telinga kanan Baek Hyun, “Aku inginmengganti bajuku. Kau diam di situdan awasi keadaan. Jangan mengintip,” ujarnya lalu bergegas masuk ke dalam mobil Baek Hyun. Sedangkan Baek Hyun terdiam dan mengedipkan matanya berkali-kali. Baek Hyun juga memegang dadanya yang berdetak tak karuan.

 

“Tuan Muda, Anda…”

 

“Aku baik-baik saja,” gumam Baek Hyun. Ia kembali berjongkok dan menyentuh kedua pipinya yang memerah.

 

Di dalam mobil Baek Hyun, gadis manis itu berganti seragam sekolahnya dengan baju biasa. Ha Ni terlihat manis dengan kaos putih bergambar Menara Eiffel dilapisi jaket. Tak lama Ha Ni keluar. Ia tersenyum sambil mendekati Baek Hyun.

 

“Ayo ikut aku!” ujarnya.

 

Baek Hyun tanpa protes menurut, mengikuti Ha Ni mendekati motor scooternya. Ha Ni memberikan satu helm pada Baek Hyun.

 

“Naiklah,” ujar Ha Ni.

 

Baek Hyun terdiam menatap helm di tangannya, membuat Ha Ni gemas sendiri.

 

“Naik!” ujarnya membuat Baek Hyun langsung naik dan memakai helmnya.

 

“Aish,pakai helmnya yang benar,” Ha Ni membenarkan posisi helm Baek Hyun, membuat Baek Hyun terdiam, menahan agar jantungnya tidak melompat dari tempatnya.

 

“Ah,kau!” Ha Ni menunjuk Jun yang masih berdiri didekat mobil. Dia tidak berbuat sesuatu untuk melindungi Baek Hyun karena tahu Ha Ni tidak mungkin melukai tuan mudanya.

 

“Jun. Kim Jun Myeon,” ujar Baek Hyun memberi tahu nama bodyguardnya pada Ha Ni.

 

“Ah, Kim Jun Myeon-ssi. Kau juga ikut,” ujar Ha Ni tapi Jun malah membungkuk 90 derajat, membuat dahi gadis manis itu mengernyit.

 

“Ada apa dengannya?” tanya Ha Ni.

 

Baek Hyun menahan senyumnya. Ia memberi isyarat pada Jun, membuat pemuda tampan itu mengangguk mengerti lalu kembali masuk ke mobilnya.

 

“Sudahlah, jalan saja. Dia masih ada tugas lain,” ujar Baek Hyun membuat Ha Ni mengangguk lalu menjalankan scooternya.

 

“Let’s go!”

 

Baek Hyun terlihat ragu untuk berpegangan, alhasil Baek Hyun hanya berpegangan pada ujung jaket Ha Ni.

 

***Family Scandal***

 

“Tempat apa ini?” tanya Baek Hyun saat keduanya sampai.

 

Ha Ni menyimpan kedua helmnya dengan aman. “Apa kau tidak bisa baca huruf hangul, huh?” sindir Ha Ni.

 

Baek Hyun melihat tulisan besar dengan huruf hangul di atas bangunan itu. “Jijimjilbang Spa?” gumamnya.

 

“Ya, betul. Ayo masuk!” Ha Ni berjalan lebih dulu disusul Baek Hyun yang terheran-heran.

 

“Kau membolos sekolah, kan? Kenapa kemari? Murid yang bolos itu biasanya pergi ke mall atau tempat bermain game. Kenapa kau malah ke sini?” ujar Baek Hyun membuat Ha Ni mendengus.

 

“Jangan buat aku menyesal karena mengajakmu kemari,” ujar Ha Ni membuat Baek Hyun langsung terdiam.

 

Baek Hyun mengamati sekitarnya, dimana banyak orang yang masuk dan keluar dari yang muda sampai yang tua. Baek Hyun memang tahu tempat apa itu, tapi ia tidak tahu seperti apa dan bagaimana tempat itu. Sauna.

 

Ha Ni memberikan Baek Hyun satu set pakaian berwarna putih-hijau dan handuk. “Ganti dulu,” ujarnya.

 

“Ye?” ujar Baek Hyun bingung.

 

“Apa kau tidak pernah ke sauna, huh?” tanya Ha Ni yang mendapatkan jawaban gelengan kepala dari Baek Hyun.

 

“Wow! Kau warga Korea Selatan bukan, sih?” gumam Ha Ni.

 

Baek Hyun hanya tersenyum, membuat matanya membentuk garis lurus. Ha Ni menghela nafas pelan.

 

“Itu kamar ganti untuk pria. Cepat sana. Nanti kita bertemu di sini,” ujar Ha Ni lalu berlalu meninggalkan Baek Hyun yang masih mengamati sekitarnya.

 

Suasana tempat itu begitu ramai walaupun bukan hari libur. Tidak seperti ibukota negara lain, Seoul memang berbeda. Seoul, banyak tempat sauna atau tempat mandi umum yang digemari masyarakatnya. Kita bisa bersantai bersama keluarga atau teman sambil memakan telur rebus ataupun ramyeon.

 

Ha Ni terlihat bosan menunggu Baek Hyun yang tidak kunjung keluar dari kamar ganti. Kenapa seorang pria lebih lama daripada dirinya?Baek Hyun keluar dan terkejut mendapati Ha Ni didekat pintu.

 

“Kau membuatku mendapat pandangan aneh dari orang-orang,”kata Hani kesal lalu berlalu.

 

Baek Hyun bergegas mengikuti langkah Ha Ni, “Apa pakaian ini steril? Apa aku terlihat cocok memakai ini?” tanyanya sambil memegang ujung kaosnya.

 

Ha Ni menghentikan langkahnya dan menoleh, “Kau benar-benar aneh,” ujarnya. “Ayo masuk!” Ha Ni menarik tangan Baek Hyun membuat pria itu tersentak.

 

Deg!

 

Tangan hangat itu, Baek Hyun tidak bisa mengungkapkannya.

 

“Ah! Kursi pijat. Kita duduk di sana,” ujar Ha Ni. Mereka mendekati beberapa kursi pijat yang berjejer. Ha Ni tersenyum menyapa seorang kakek yang lebih dulu di sana.

 

“Annyeong,” ujar Ha Ni yang dibalas senyum lebar kakek itu.

 

Melihat Baek Hyun hanya diam, Ha Ni mendengus pelan. “Ayo duduk,” Ha Ni mendorong punggung Baek Hyun membuat pria imut itu meringis.

 

“Aaaa!” ringisnya, membuat Hani terkejut.

 

“Kau baik-baik saja?” tanya Ha Ni cemas.

 

Baek Hyun mengangguk sambil memegangi punggungnya. Ha Ni yang curiga langsung membuka sedikit kaos Baek Hyun hingga terlihat luka gores memanjang yang membiru di punggung, tepat di atas pinggang Baek Hyun.

 

“Astaga,” gumam Ha Ni sedangkan Baek Hyun mengigit bibir bawahnya gugup.

 

Ha Ni dan Baek Hyun duduk di pojok ruangan dengan Ha Ni yang mengobati luka di punggung Baek Hyun.

 

“Tahan sedikit. Ini akan terasa perih,” gumam Ha Ni lalu mengolesi salep di luka Baek Hyun. Sedangkan pria bermata sipit itu menunduk dan memejamkan matanya.

 

“Apa ini bekas luka semalam? Harusnya segera diobati. Ini bisa infeksi,” ujarnya. Baek Hyun hanya mengangguk.

 

“Pasti perih sekali dan tidak nyaman untuk tidur,” gumam Ha Ni. Lagi, sebagai jawaban, Baek Hyun mengangguk pelan.

 

Baek Hyun membuka matanya, “Kenapa kau membolos sekolah?” tanyanya tiba-tiba membuat gerakan tangan Ha Ni terhenti.

 

“Karena aku ingin,” jawabnya dan kembali mengobati luka Baek Hyun.Baek Hyun kembali memejamkan matanya saat merasakan perih. “Ahhh…!” ringisnya tertahan.

 

“Peraturan dibuat untuk dilanggar, bukan?” tanya Ha Ni.

 

“Kenapa tidak mengajak temanmu? Jika dihukum, ada orang yang menemanimu,” ujar Baek Hyun.Karena selama ini ia selalu seperti itu dengan Kyung Soo dan Chan Yeol.

 

Ha Ni tersenyum, “Jangan mengajak teman jika itu hal yang salah.”

 

Sudut bibir Baek Hyun tertarik membentuk kurva tipis, “Kau tahu itu salah?”

 

“Ya, ya! Perbuatan itu salah. Itu sebabnya aku tidak mau mengajak temanku. Apalagi hal yang buruk. Kalau mau terjerumus sendiri saja,” gerutu Ha Ni.

 

“Wow! Kau pemberani,” gumam Baek Hyun.

 

“Selesai,” ujar Ha Ni lalu membenahi kotak P3K. Mereka bahkan tidak merasa canggung sama sekali. Seperti sudah saling mengenal dalam jangka waktu lama.

 

“Apa kau lapar? Mau ramyeon atau telur rebus?” tanya Ha Ni.

 

Baek Hyun menoleh, “Terimakasih.”

 

“Ramyeon atau telur rebus?” tanya Ha Ni lagi.

 

“Gadis tidak sabaran,” batin Baek Hyun. “Terserah saja,” jawab Baek Hyun sambil tersenyum.

 

***Family Scandal***

 

Pagi ini Kai sengaja datang ke apartemen Se Hun, tentu pria manis itu tahu password apartemen sahabatnya. Saat sampai sudah bisa ditebak, Se Hun masih terkapar di king sizenya yang berantakan. Tanpa dijelaskan, Kai sudah tahu. Sahabatnya melewatkan malam yang panjang. Kai hanya bisa menggelengkan kepalanya. Se Hun itu kepala batu.

 

Kai pergi ke dapur dan segera menghangatkan makanan yang dibawanya sambil menyiapkan yang lainnya untuk sarapan mereka. Tepat saat Kai selesai menata semuanya, Se Hun muncul dengan pakaian khas rumahan. Sepertinya pria tampan itu baru saja mandi, terlihat dari rambutnya yang basah dan bau sabun yang merebak sampai ke indra penciuman Kai.

 

“Eoh, kau sudah bangun?” tanyanya.

 

“Kau menyiapkan sarapan untukku?” bukannya menjawab Se Hun malah balik bertanya.

 

Kai berdecak pelan, “Duduklah. Kita sarapan bersama.”

 

“Wahhh…, kau seperti kekasihku saja,” ujar Se Hun sambil menarik kursi.

 

“Anggap saja begitu,” ujar Kai membuat Se Hun terkekeh.

 

Se Hun mulai mengambil makanan yang tersaji di atas meja makan, tak lupa mencicipi sup terlebih dulu. Namun sesuatu membuat Se Hun tersentak.

 

“Why?” tanya Kai saat melihat Se Hun terdiam setelah mencicipi sup tulang sapi.

 

Se Hun menatap tajam Kai yang sibuk memakan sarapannya. “Apa kau yang memasaknya?”

tanyanya.

 

Kai hanya menjawabnya dengan anggukan, membuat Se Hun membanting sendoknya kesal.

 

Trak!

 

“Waeyo?” tanya Kai yang terkejut. Untung saja ia tidak tersedak.

 

“Aku tanya sekali lagi, apa kau yang memasaknya?” tanya Se Hun, membuat Kai tertawa renyah.

 

“Wah! Kau bahkan mengenali rasa masakannya,” gumam Kai, membuat Se Hun mendengus. Ia salut pada lidah sahabatnya. Kai memberikan Se Hun jempol, membuat pria berwajah segitiga terbalik itu menggeram kesal.

 

“Kau belum menjawab pertanyaanku soal telur, wortel, atau kopi. Sudah 2 minggu bukan? Padahal aku memberimu waktu 3 hari,” ujar Kai.

 

Iris hazel itu menantapnya tajam membuat Kai menghela nafas dan meletakkan sumpitnya.

 

“Ha Ni datang pagi tadi ke apartemenku untuk memberikan makanan ini,” ujarnya lalu kembali memakan makanannya.

 

Sedangkan Se Hun langsung beranjak meninggalkan meja makan membuat Kai terkekeh.

 

“Hei, kau belum memakan sarapanmu!” seru Kai.

 

Tapi Se Hun tidak menghiraukannya. Ia menghela nafas pelan, “Hati seseorang tidak ada yang pernah tahu, bahkan hati kita sekalipun,” ujarnya dan kembali melanjutkan sarapannya.

 

Johnny menghela nafas pelan membaca pesan line dari Ha Ni. Ia baru saja sampai di sekolah.

 

From Ha Ni:

Pagi, Sunbae. Aku menaruh sesuatu di lokermu. Semangat untuk pagi ini. Oh iya, aku juga mengambil beberapa cokelat di lokermu. Hehehehe… Ssst…, aku membolos hari ini. Kekekeke…, aku sudah siap mendengar omelanmu besok.

 

Johnny bergegas menuju lokernya. Saat sampai di sana dan membukanya, Johnny menemukan sebuah kotak makan.

 

Johnny mendengus pelan, “Dia membolos?” ujarnya dan mengambil kotak makan itu lalu berlalu menuju kelasnya.

 

“Awas saja kau, Kim Ha Ni. Aku tidak akan membantumu kali ini,” katanya kesal. Sepertinya itu bukan yang pertama kali.

 

***Family Scandal***

 

“Makanan datang!” seru Ha Ni sambil menaruh nampan dengan dua panci ranyeon juga dua kaleng minuman di depan Baek Hyun. Tapi pria Jerman itu hanya diam menatap panci dengan uap mengepul. Kuah kaldunya terlihat kental bercampur dengan mie membuat Ha Ni ingin cepat memakannya tapi tidak dengan Baek Hyun. Ibunya melarangnya memakan makanan instan.

 

“Selagi masih hangat,” Ha Ni memberikan sumpit pada Baek Hyun, tapi Baek Hyun terlihat bingung membuat Ha Ni kesal sendiri.

 

Tak!

 

“Ahhh!” keluh Baek Hyun saat Ha Ni memukul dahinya dengan telur rebus. Pria imut itu mengelus dahinya dan menatap Ha Ni tak percaya.

 

“Hahahahaha…,” tawa Ha Ni lalu mengupas kulit telur.

 

“Apa yang kau lakukan, huh?” Baek Hyun mencoba balas dendam.

 

Tak!

 

“Ahhh!” keluh Ha Ni lalu terkekeh membuat Baek Hyun mengernyit.

 

“Apa sakit?” Baek Hyun mengelus dahi Ha Ni membuat gadis itu tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi khawatir Baek Hyun. Ya, Baek Hyun khawatir jika ia menyakiti Ha Ni.

 

“Impaskan?” ujar Ha Ni sambil tersenyum membuat Baek Hyun tersadar dan segera melepas tangannya di dahi Ha Ni. Baek Hyun juga memundurkan tubuhnya.

 

Ha Ni memasukan telur rebus itu ke panci ramyeon, lalu mengaduknya. “Ayo makan,” ujar Ha Ni.

 

Baek Hyun masih terdiam, membuat Ha Ni kembali mendengus, “Jangan hanya dilihat. Ayo makan. Ini tidak akan membuatmu mati!”

 

Baek Hyun hanya bisa mengangguk pelan. Ia berusaha mengupas telur, tapi ternyata hal gampang bisa menjadi sulit jika dipraktikkan. Ha Ni terkekeh melihat Baek Hyun kesulitan mengupas kulit telur.

 

“Astaga,” gumamnya dan merebut telur itu dari tangan Baek Hyun.

 

“Setelah makan itu enaknya tidur,” ujar Ha Ni yang duduk di kursi pijat.

 

“Tapi itu tidak baik untuk kesehatan,” ujar Baek Hyun di sebelahnya.

 

Ha Ni memejamkan matanya lalu memakai headsetnya juga menutup wajahnya dengan handuk, tidak mempedulikan Baek Hyun yang berceloteh mengenai percernaan bermasalah jika habis makan, tidur. Sedangkan pria bermata sipit itu menghela nafas pelan dan mengikuti apa yang di lakukan Ha Ni setalah tahu tidak ada respon sama sekali. Baek Hyun, Baek Hyun, lalu apa gunanya ceramahmu?

 

“Enak bukan pijatannya?” tanya Ha Ni.

 

“Emmmm…,” gumam Baek Hyun, membuat Ha Ni mengangkat sedikit handuknya. Ia tersenyum melihat Baek Hyun yang tertidur.

 

Baek Hyun menggeliat, menyingkirkan handuk di wajahnya lalu membuka matanya perlahan. Ia mengumpulkan kesadarannya kemudian menoleh ke sampingnya.

 

“Sudah bangun?” tanya Ha Ni membuat Baek Hyun tersentak dan langsung menutup wajahnya membuat Ha Ni melempar handuknya ke wajah Baek Hyun. Baek Hyun malu memperlihatkan wajah bangun tidurnya yang menurutnya jelek.

 

“Karena kau sudah bangun, ayo pergi dari sini,” ujar Ha Ni.

 

“Berapa lama aku tidur?” tanya Baek Hyun yang masih menutup wajahnya dengan handuk dan sedikit mengintip.

 

“Ada apa denganmu, huh?” Ha Ni menatap heran Baek Hyun, tapi Baek Hyun hanya menggelengkan kepalanya.

 

“Kurang lebih 2 jam, Tuan Muda. Ayo pergi!” Ha Ni beranjak dari kursi pijat.

 

“Hei, tunggu!”

 

***Family Scandal***

 

Ha Ni dan Baek Hyun keluar dari sauna, mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Angin khas musim gugur langsung menyambut mereka. Membuat Ha Ni merapatkan jaketnya.

 

“Terimakasih,” ujar Baek Hyun membuat Ha Ni menoleh.

 

“Karena mengajakku ke sana,” ujarnya membuat Ha Ni tersenyum.

 

“Jadi kau belum pernah ke sana?” tanya Ha Ni memastikan.

 

Baek Hyun mengangguk, “Karena beberapa alasan, aku tidak bisa melakukan apa yang orang lain lakukan,” ujarnya membuat Ha Ni mengernyit.

 

“Ye?”

 

“Ah, mau kemana lagi kita setelah ini?” Baek Hyun mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ha Ni hendak membuka mulutnya tapi Baek Hyun terlebih dulu berteriak, membuat Ha Ni tersentak.

 

“Ah, itu. Aku ingin bermain permainan itu!” seru Baek Hyun saat melihat sebuah permainan ‘Ufo Catcher’ yang ada di seberang jalan.

 

“Hei, ya!” seru Ha Ni saat Baek Hyun berlari mendekati permainan itu.

 

“Dia benar-benar,” decah Ha Ni. Menurutnya Baek Hyun itu susah sekali ditebak sifatnya.

 

Baek Hyun memasukkan koin lalu mulai permainan. Ia terlihat serius sedangkan Ha Ni berdiri di samping Baek Hyun sambil bersedekap. Tidak tertarik dengan permainan itu. “Kalau mau dapat boneka tinggal beli saja di toko, kan, banyak,” pikir Ha Ni.

 

“Aku akan mendapatkan boneka itu untukmu!” seru Baek Hyun semangat.

 

“Aku tidak…,” Ha Ni menghentikan ucapannya saat melihat kesungguhan Baek Hyun.
Baek Hyun memasukkan koin lalu mulai permainan. Ia terlihat serius sedangkan Ha Ni berdiri di samping Baek Hyun sambil bersedekap. Tidak tertarik dengan permainan itu.

 

“Lihat saja nanti. Aku akan mendapatkannya untukmu. Boneka tupai itu!” seru Baek Hyun membuat Ha Ni menahan tawanya.

 

“Hei, tidak bisa seperti itu, terlalu di bawah,” komentar Ha Ni saat melihat Baek Hyun terus berusaha mengambil boneka tupai. Baek Hyun saat ini berusaha untuk mengambil boneka tupai yang ia inginkan.

 

“Kenapa tupai? Ada boneka lebih yang lebih besar,” gumam Ha Ni. “Aku juga tidak terlalu suka boneka,” lanjutnya dalam hati.

 

“Karena tupai mirip denganmu. Hahahaha…,” tawa Baek Hyun pecah membuat Ha Ni memukul belakang kepala Baek Hyun, tapi pria Jerman itu tidak merintih justru malah mengedipkan matanya pada Ha Ni, membuat Ha Ni menatapnya tak percaya.

 

“Ya,ya! Sedikit lagi,” ucap Baek Hyun gemas saat tombol demi tombol ia tekan supaya bisa menjepit boneka tupainya. Tapi, hasilnya selalu gagal sedari tadi.Sementara Ha Ni yang melihat kegagalan Baek Hyun setiap hampir saja mengambil boneka tupai itu, ikut gemas sendiri dan ingin mencobanya.

 

“Biar aku saja,” Ha Ni merebut tombol yang dipegang Baek Hyun lalu memulai permainannya dengan wajah yang menurut Baek Hyun sangat lucu.

 

“Kau payah!” ujar Ha Ni.

 

Baek Hyun yang harusnya kesal justru terkekeh. “Bisa tidak? Hmmm…,” godanya yang melihat keseriusan Ha Ni memainkan permainan ambil boneka.

 

“Diamlah. Aku tidak bisa berkonsentrasi,” Hani kesal mendengar ucapan Baek Hyun, seakan mengatainya, ‘Percuma kau tidak akan bisa.’

 

“Kau pikir mudah memainkan Ufo Catcher, harus membutuhkan kesabaran dan perjuangan tahu!” Ha Ni melirik kesal ke arah Baek Hyun.

 

“Kesabaran dan konsentrasi kunci utamanya,” jerit Ha Ni gemas sendiri. Ia harus lebih berkonsentrasi.

 

“Bagiku, bermain Ufo Catcher sama mudahnya dengan meraih hati seseorang, Baek. Asyik mengambilnya, kalau susah tak usah mencoba. Kau juga harus seperti itu,” ucap Ha Ni pelan.

 

“Kalau begitu…, apa yang membuatmu menyukai seseorang?” tanya Baek Hyun.

 

Ha Ni menoleh sekilas ke arah Baek Hyun. “Entahlah,” jawabnya singkat sambil terus memainkan permainannya.

 

“Kau tidak tahu, tapi menasehatiku, ck,” sungut Baek Hyun.

 

“Aku tidak tahu, buatku tampang dan karakter bukan masalah, karena perbedaan justru membuat sesuatu menjadi bermakna. Tapi aku bahagia jika bisa tertawa di samping orang itu. Kenyamanan hati adalah hal yang paling utama,” sahut Ha Ni jujur.

 

Baek Hyun menatap Ha Ni dalam. “Apa kau sudah pernah merasakannya?” tanyanya penasaran.

 

Mustahil, remaja yang masih mencari jati diri belum pernah jatuh cinta. Bahkan cinta moyet.
Ha Ni terdiam. Ia menghentikan permainan tersebut. Lalu melirik Baek Hyun yang memandanginya dengan penuh keseriusan.

 

“Apa yang terjadi jika aku mencintai seseorang, tapi orang itu tidak mencintaiku, bagaimana menurutmu, Ha Ni? Bukankah, Kau bilang harus berjuang sampai berada di titik teratas kemampuan?” itu adalah makna yang Baek Hyun tanggapi dari kalimat Hani sebelumnya.

 

“Itu artinya…,orang yang kau sebutkan memang bukan belahan jiwamu. Jika kau menyukai sesuatu, biarkan saja. Jika ia datang kembali padamu, itu milikmu. Jika tidak, maka itu bukan,” jawab Ha Ni tanpa beban.

 

Sekarang bola mata Baek Hyun benar-benar menatap intens ke arah Ha Ni. Hatinya sedikit bergetar mendengar ucapannya itu, walaupun Baek Hyun tidak tahu siapa yang Ha Ni sukai sekarang.

 

Apa hal yang ditanggapi sebelumnya salah. Jadi, apa yang sebenarnya dimaksud Hani? Apa ada dua hal? Perjuangkan sampai akhir atau biarkan yang lalu dan serahkan pada takdir?

 

“Aku akan seperti permainan ini, Ha Ni.Bersabar dan berjuang untukmu,” ucap Baek Hyun pelan, terdengar seperti bisikan.

 

Kini Ha Ni menatap Baek Hyun dengan dahi berkerut. Samar-samar tadi ia mendengar gumaman Baek Hyun, ‘berjuang untukmu’, apa maksudnya?

 

“Kenapa berhenti? Lanjutkan!” Baek Hyun memalingkan wajahnya dan menyuruh Ha Ni mulai fokus dengan permainan Ufo Catcher.

 

“Aku akan bersabar dan berjuang untukmu Ha Ni. Pasti!” gumam Baek Hyun dalam hati.

 

Selang beberapa waktu, Ha Ni berhasil mendapatkan boneka tupai.

 

“Nah, dapat!” ucap Ha Ni tersenyum senang setelah beberapa menit waktunya terkuras untuk memainkan permainan anak kecil, menurut Hani.Sedangkan Baek Hyun kegirangan bukan main bahkan saking senangnya, Baek Hyun memeluk dan mengangkat tubuh Ha Ni, membuat gadis berponi itu terkejut, apalagi saat tubuhnya di berputar-putar oleh Baek Hyun.

 

“Kita berhasil Ha Ni, berhasil. Ye!” teriak Baek Hyun dengan penuh rasa bahagia di hatinya. Ha Ni pun begitu, ia tidak menolak dan malah ikut tertawa senang.

 

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap tajam kearah mereka. Dengan kepalan tangan yang kuat, bola mata gelap yang selalu menatap datar itu berkilat, tidak ada ekspresi, namun jelas sekali, disana berkumpul segumpal emosi. Se Hun, ia melihat seseorang yang amat sangat dikenalnya tengah berpelukan dengan seorang pria.

 

***Family Scandal***

 

Next day…

 

Ha Ni menuruni anak tangga perlahan sambil memakai dasinya. Ia berhenti di anak tangga terakhir dan menatap heran ibunya yang berdiri didekat jendela seperti sedang mengintip sesuatu.

 

“Eomma!” panggilnya, membuat Jang Mi tersentak.

 

“Why?” Ha Ni berjalan menghampiri ibunya.

 

Jang Mi menatap intens putri tunggalnya, “Apa kau mengundang mereka untuk sarapan bersama di rumah kita?” tanyanya.

 

“Ye?” Ha Ni berdiri disamping ibunya. Jang Mi memberi kode dengan dagunya membuat Ha Ni menoleh ke jendela yang memperlihatkan keadaan di luar halaman rumah.

Ha Ni melebarkan matanya saat melihat empat pria tampan ada di halaman rumahnya, berdiri dengan coolnya disamping kendaraan masing-masing.

 

Se Hun mendengus saat menghentikan mobilnya di halaman rumah Ha Ni. Ia mendapati Kai yang baru saja keluar dari mobilnya. Kai yang melihat Se Hun melambaikan tangannya.

 

“Wow! Apa sebelumnya kita sudah janjian?” ujar Kai saat Se Hun keluar dari mobilnya.

 

Se Hun mendengus, “Sedang apa kau disini?”

 

Kai geleng-geleng kepala, “Tentu saja bertemu dengan kelinci imutku,” ujar Kai dengan nada imutnya membuat Se Hun illfeel.

 

Brum!

Pandangan mereka teralih saat Johnny dengan motor sportnya datang. Kai terkekeh sedangkan Se Hun mengepalkan tangannya tanpa sadar.

 

“Hai, Bro!” sapa Kai setelah Johnny melepas helmnya.

 

Johnny tidak peduli, membuat Kai mengangkat bahunya acuh. Baru saja Johnny turun dari motornya, sebuah mobil sport keluaran terbaru dan edisi terbatas yang diimpikan Kai berhenti tepat disamping motor Johnny. Membuat tiga pasang mata itu fokus menatap satu arah.

Baek Hyun keluar dari mobilnya, dengan style modis; kaos putih bergambar abstrak dilapisi jaket kulit, celana jeans ketat juga kaca mata hitam yang menambah penampilan Baek Hyun. Seperti adengan slow motion, angin musim gugur berhembus perlahan membuat anak rambut Baek Hyun bergerak tepat setelah Baek Hyun melepaskan kaca matanya.

 

“Siapa dia?” ujar Kai.

 

Tbc

 

Hah, kelar juga part 4nya. Semoga puas, ya. Aku dan Kak Anemone tidak memaksa kalian untuk komentar setelah membaca tergantung kesadaran diri masing-masing. Baca aja dah seneng kok. Karena ini adalah hobi kami. Tapi tak dipungkiri akan lebih senang juga bersemangat melanjutkan part selanjutnya kalau kalian berkomentar, apalagi yang membangun. Jangan heran kalau part 5 nanti ada beberapa moment Baek-Hani sebelum bagian di akhir sebelum TBC, pas 4 cowok super kece dateng ke rumah Hani. Jangan pada iri ya…

Salam hangat Oh Eonnie & Anemone.

 

EXO-L

51 thoughts on “Family Scandal Part 4B

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s