When The Smile Being Ornate Part 8


 

When The Smile Being Ornate Part 8

Author : Irene Cho

Tittle : Try to Believe

Category : NC17, Mature, Romance, Chapter

Cast :

Cho Kyuhyun

Jung Nara

 

Disclaimer : Cerita ini milik saya, sementara seluruh cast milik Tuhan. ALL RIGHTS RESERVED! Don’t copy without permission!

 

Note : Makasi buat semua admin FNC yang udah publish tulisanku d blog ini. makasi juga buat temen-temen author FNC yang selalu membagi ilmunya, juga buat reader ff ini dan paling spesial buat Famges. Hati-hati dengan ranjau typo. Bukannya mau melihara typo, tapi nulis sebanyak ini sudah pasti banyak kesalahan. Walaupun sudah diperiksa berulang kali, tetap aja si typo nyempil. Jadi tolong nikmati ff ini beserta typo-nya ya wkwkwk

Harap berikan kritik dan saran dengan cara yang baik dan sopan!

Happy Reading^^

 

 

****

 

 

 

Sangji Ritzvil Caelum Cheongdam, Gangnam, Seoul.

07.00 AM KST

 

 

Bias cahaya menembus kaca jendela sebuah kamar yang masih tampak lengang. Tak seperti biasanya, pemilik ruangan itu masih terlelap, bahkan saat sang surya sudah tersenyum di petala langit.

 

 

Bias cahaya yang menerobos kaca-kaca jendela itu menerpa wajah gadis yang masih memejamkan mata di atas ranjang King Size-nya, membuat gadis tersebut mengerjap, terusik karena cahaya yang menusuk retinanya. Mata indah yang sedikit membengkak itu mulai terbuka perlahan, menampakkan permata kecoklatannya.

 

 

Gadis itu menggeliat, meregangkan otot-otot yang kaku. Tangannya terulur ke arah nakas yang berada di samping tempat tidur, meraih ponselnya, lalu menyalakan benda pipih itu.

 

 

Matanya menyipit karena masih kesulitan menangkap pantulan cahaya yang berbondong-bondong menusuk retinanya ketika memandang layar smartphone di genggamannya. Tak biasanya ia bangun saat matahari sudah bersinar seterang ini. Apa pagi ini matahari terbit lebih awal? Atau ia yang bangun terlalu telat?

 

 

“Jam 7?” gumamnya dengan mata melebar.

 

 

Menoleh ke samping, ke bagian ranjang yang biasa ditiduri Kyuhyun. Namun, ia tak mendapati Kyuhyun di sana. Bahkan tak ada tanda-tanda bahwa ranjang itu telah ditiduri seseorang, karena bagian itu masih terlihat rapi.

 

 

“Apa Kyuhyun sudah bangun? tumben sekali,” gumamnya lagi tanpa memedulikan keadaan ranjang yang masih rapi.

 

 

Gadis itu mulai bangkit dari baringannya. Ia menjuntaikan kaki hingga menyentuh lantai, kemudian memaksa tubuhnya­­—yang sebenarnya masih ingin berbaring—untuk berdiri, lalu melangkah menuju kamar mandi yang terletak di sudut sebelah kiri kamar.

 

 

Nara mengayunkan tangan, mengetuk pintu kamar mandi.

 

 

“Kyu, apa kau di dalam?” Ia sedikit berteriak, namun tak ada jawaban dari dalam.

 

 

Gadis itu kembali mengayunkan tangannya untuk mengetuk pintu dan kembali mengeluarkan suara.

 

 

“Kyu, kau di dalam? aku akan masuk.”

 

 

Nara menempelkan telinganya pada daun pintu, mencoba menangkap suara yang berasal dari dalam kamar mandi. Namun, tak ada suara apapun yang bisa ia dengar. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk memutar kenop pintu, membuat pintu itu terbuka. Nara melangkah masuk, lalu menyisir setiap sudut kamar mandi, tapi lagi-lagi ia tak menemukan keberadaan Kyuhyun.

 

 

Nara memutuskan untuk mencuci wajahnya sebentar, sebelum melanjutkan mencari Kyuhyun.

 

 

Mungkin Kyuhyun sedang di wallking closed,” pikir Nara.

 

 

Setelah selesai dengan acara mencuci mukanya, Nara melangkah menuju wallking closet. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan itu, namun ia tetap tak menemukan Kyuhyun.

 

 

“Eo, kemana Kyuhyun? Apa dia sudah berangkat ke kantor? Sepagi ini?” gumamnya heran, karena tak biasanya Kyuhyun berangkat pagi tanpa berpamitan padanya. Gadis itu merutuki dirinya yang bangun terlambat.

 

 

Ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah, lalu melangkah menuju ruang makan.

 

 

“Mungkin saja Kyuhyun sedang sarapan.” Ia kembali membatin.

 

 

Saat sampai di ruang makan, Nara melihat Bibi Kim tengah menata piring-piring berisi makanan di meja makan. Wanita paruh baya itu hanya sendirian. Tak ada tanda-tanda orang lain berada di ruangan itu.

 

 

Ahjumma,” panggil Nara, membuat wanita paruh baya itu mengalihkan perhatiannya dari meja makan, ke arah Nara.

 

 

“Iya, Nyonya.”

 

 

Bibi Kim melangkah tergopoh, mendekat pada Nara, lalu mengusap lembut lengan nyonya mudanya itu. Memberikan tatapan sendu pada Nara.

 

 

“Nyonya tidak apa-apa? Apa ada yang sakit atau tidak nyaman?” lanjut wanita itu, sambil mengedarkan pandangannya ke bagian tubuh Nara. Seperti memastikan keadaan Nara baik-baik saja. Sementara Nara terlihat kebingungan dengan perlakuan Bibi Kim padanya.

 

 

“A-aku tak apa, Ahjumma,” jawab Nara lembut, sedikit tergagap karena merasa aneh dengan perlakuan Bibi Kim.

 

 

“Aku hanya sedang mencari Kyuhyun, apa Ahjumma melihatnya? Atau dia sudah berangkat ke kantor?” lanjut Nara. Karena ia masih kebingungan mencari keberadaan Kyuhyun.

 

 

Bibi Kim menghentikan kegiatannya mengusap lengan Nara. Namun, tatapannya jadi semakin sendu.

 

 

“Mungkin Tuan Muda ada di ruang kerjanya,” jawab wanita itu.

 

 

“Eo, mungkin saja. Aish, kenapa tadi aku tak mencoba melihat ke sana.” Nara setengah menggerutu, sambil menepuk pelan keningnya.

 

 

“Baiklah, Ahjumma, aku akan melihat Kyuhyun dulu, dan sepertinya aku tak bisa membantu menyiapkan sarapan,” ujar Nara sembari melangkah menuju tangga.

 

 

Sebenarnya Nara merasa ada yang kurang jika ia tak ikut menyiapkan makanan untuk suaminya, tapi mengurus keperluan Kyuhyun sebelum berangkat ke kantor ia rasa lebih penting saat ini.

 

 

“Tidak apa-apa, Nyonya,” jawab Bibi Kim maklum.

 

 

Nara menaiki undakan demi undakan anak tangga berlantai marmer. Berjalan menuju ruang kerja Kyuhyun yang berada di lantai dua. Ruangan itu berada di sudut bagian kanan, hanya berjarak satu ruangan dengan kamar mereka.

 

 

Berhenti tepat di depan ruang kerja Kyuhyun. Gadis itu terlihat kebingungan. Ia merasa seperti deja vu. Tiba-tiba perasaannya berkecamuk. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Secara tiba-tiba perasaan sesak menyeruak di dalam rongga dadanya.

 

 

Tangan kanannya perlahan terangkat, menyentuh dadanya sebentar. Gadis itu menarik napas perlahan, mencoba menetralkan detak jantungnya. Nara kebingungan dengan reaksi tubuhnya yang tiba-tiba berubah drastis, namun gadis itu mencoba mengabaikannya.

 

 

Setelah semuanya terasa sedikit normal, Nara menjangkau kenop pintu, memutarnya, lalu mendorong pelan pintu yang terbuat dari kayu mahagoni itu, hingga pintu ruang kerja Kyuhyun sedikit terbuka.

 

 

Namun, tubuh Nara tiba-tiba terdorong ke belakang saat sebuah kilasan adegan yang menyesakkan terlintas di kepalanya. Tubuhnya mulai bergetar dan dadanya terasa seperti ditekan benda berat. Sangat sesak. Bayangan Kyuhyun yang sedang bercumbu dengan Sena memenuhi kepalanya. Membuat tubuhnya lemas dan hatinya terasa seperti ditusuk benda tajam.

 

 

Ia mengingat semua hal buruk yang terjadi kemarin. Mulai dari dirinya yang divonis mengidap endometriosis, lalu Kyuhyun yang salah paham terhadap dirinya dan Jonghyun, hingga puncaknya adalah kejadian semalam di ruang kerja Kyuhyun. Semuanya berputar seperti rollfilm di kepala Nara. Bahkan ia bisa mengingat dengan jelas bagaimana menggebunya ciuman yang dilakukan Kyuhyun dan Sena.

 

 

Gadis itu masih terpaku. Tenggelam dalam lukanya. Ia ingin sekali menangis, menumpahkan kesesakan yang mengganjal di dada. Namun air matanya seolah tak bisa keluar lagi, hingga membuat dadanya terasa semakin sesak.

 

 

Bahkan Kyuhyun tak kembali ke kamar mereka. Apa Kyuhyun menghabiskan malam dengan ….

 

 

Itu tidak mungkin. Kyuhyun tak akan melakukan itu, batinnya. Menepis semua pikiran negatif.

 

 

Pintu ruang kerja Kyuhyun terbuka lebih lebar. Menampilkan sosok Kyuhyun dengan wajah khas bangun tidur. Pria itu terlihat sempoyongan, dengan rambut berantakan, sementara tangannya tengah memijat dahinya. Bau alkohol juga menguar, membuat Nara tersentak dari lamunannya, menyadari kehadiran Kyuhyun di hadapannya.

 

 

“K-Kyu.”

 

 

Nara sedikit tergagap. Gadis itu menatap Kyuhyun dengan tatapan sendu yang menyiratkan luka.

 

 

Kyuhyun mengangkat wajahnya setelah mendengar suara Nara. Mata Kyuhyun yang tadinya menyipit menahan pening, sedikit terbuka lebar saat melihat kehadiran Nara di depan pintu ruang kerjanya. Kyuhyun sudah menarik tangan dari dahi. Ia menatap Nara sekilas, namun tatapan itu terlihat dingin. Tak ada kehangatan yang terpancar dari sorotnya. Pria itu melengos pergi tanpa memedulikan Nara sama sekali. Ia berlalu melewati Nara, menuju kamar mereka, tanpa menoleh lagi pada Nara.

 

 

Nara mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Gadis itu terus menatap punggung Kyuhyun yang mulai menjauh, lalu tenggelam di balik daun pintu kamar mereka.

 

 

Perasaan sesak itu semakin menyeruak, dan akhirnya mendorong cairan bening untuk mengalir dari kedua hazelnya. Terasa sangat sakit ketika Kyuhyun mengacuhkannya. Tidak! Kyuhyun tak pernah seperti ini sebelumnya, Kyuhyun tak pernah mengacuhkannya, bahkan saat Kyuhyun berakting untuk memberikan kejutan ulang tahunnya, Kyuhyun masih menunjukan senyum hangatnya. Tapi sekarang, bahkan Kyuhyun tak menoleh padanya.

 

 

Apa Kyuhyun benar-benar marah akibat kesalahpahamannya, atau karena … Sena.

 

 

Sena?

 

 

Nara tersadar. Gadis itu mengusap air matanya. Membersihkan mata dan pipinya dari buliran-buliran bening itu. Ia berbalik, berjalan menuju ambang pintu ruang kerja Kyuhyun. Nara menyapukan pandangan ke seluruh bagian ruangan itu. Namun ia tak menemukan apapun. Ruangan itu kosong. Hanya ada bantal dan selimut yang sudah tak beraturan di atas sofa. Sepertinya Kyuhyun tidur di sana semalaman.

 

 

Lalu, di mana Sena? Apa kemarin ia hanya berhalusinasi? Tapi, kenapa terasa nyata?

 

 

Nara menghela napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan, seolah menghembuskan semua rasa sesak yang mengkungkung hatinya.

 

 

Pasti itu hanya halusinasi,” batinnya. Meyakinkan diri.

 

 

Nara bergegas melangkah menuju kamar mereka. Ia bertekad akan meminta maaf pada Kyuhyun. Ia harus mendapatkan maaf dari Kyuhyun, karena ia benar-benar tak sanggup diabaikan oleh suaminya itu.

 

 

Nara mempercepat langkahnya menuju kamar. Namun saat sampai di kamar, Ia hanya menemukan ruang kosong, karena sepertinya Kyuhyun sedang berada di kamar mandi. Gadis itu masuk ke wallking closet, menyiapkan setelan yang akan dipakai Kyuhyun untuk ke kantor. Meletakan setelan itu di atas ranjang, lalu gadis itu melangkah menuju pintu keluar.

 

 

Ia berniat membuatkan sup haejangguk untuk menghilangkan rasa pusing yang menyerang kepala Kyuhyun akibat alkohol. Nara menyadari dari penampilan Kyuhyun tadi, terlebih bau alkohol yang menyengat saat Kyuhyun keluar dari ruang kerjanya. Ia yakin Kyuhyun pasti minum banyak semalam.

 

 

Nara melangkah keluar kamar, ia berjalan dengan perasaan tak tenang, karena Kyuhyun masih terlihat marah padanya. Jujur saja ia tak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya. Kyuhyun tak pernah semarah ini padanya.

 

 

Tak terasa Nara sudah sampai di dapur. Ia melihat Bibi Kim sedang membereskan dapur.

 

 

“Apa Ahjumma bisa membantuku membuat sup haejangguk?” tanya Nara saat ia sudah berada di dekat Bibi Kim. Gadis itu menyanggul rambutnya ke atas.

 

 

Bibi Kim menoleh ke arah Nara, senyum tipis melengkung di bibirnya.

 

 

“Tentu saja, Nyonya,” jawab Bibi Kim tanpa banyak bertanya. Ia sudah menduga bahwa sup itu pasti untuk Kyuhyun.

 

 

Wanita paruh baya itu mengambil bahan-bahan untuk membuat sup haejangguk dari lemari pendingin dan meletakkannya di atas top table. Nara mengambil daun bawang yang baru dikeluarkan bibi Kim dari lemari pendingin. Gadis itu mulai mengiris daun bawang, sedang Bibi Kim membersihkan daging. Nara sejenak melupakan kegelisahannya

 

“Apa Minji sudah berangkat?” tanya Nara, sementara tangannya masih bekerja mengiris daun bawang.

 

 

“Sudah, dari sepuluh menit yang lalu. Dia bilang harus berangkat lebih pagi kalau tak ingin ketinggalan bus,” jawab Bibi Kim yang telah selesai membersihkan daging. Wanita itu mengambil panci dan mengisinya dengan air, lalu meletakkannya di atas kompor listrik.

 

 

“Kenapa dia harus naik bus? Bukankah lebih efisien jika berangkat dengan Kyuhyun. Jadi, Minji bisa menabung uang yang ia gunakan untuk ongkos bus itu.”

 

 

Minji bekerja di Cho Corp. Gadis itu berhasil melewati semua tes saat penerimaan karyawan baru tanpa campur tangan Kyuhyun. Sesuai dengan keiginannya.

 

 

Bibi Kim menatap Nara, lalu wanita itu tersenyum. Ia tak tahu kenapa gadis yang menjadi istri majikannya ini begitu baik. Tuan mudanya memang sangat beruntung memiliki istri seperti Nara. Dan Bibi Kim juga merasa beruntung bisa melayani mereka.

 

 

“Biar bagaimanapun, Minji bukanlah siapa-siapa bagi Tuan Muda. Kami hanya takut nanti banyak berita miring yang beredar jika Minji berangkat bersama Tuan Muda. Nyonya tahu kan kalau berita-berita miring sangat mudah tumbuh dan menyebar, seperti jamur di musim hujan.”

 

 

Nara hanya diam. Yang dikatakan Bibi Kim ada benarnya. Tapi bagi Nara sebenarnya tak masalah dengan bierita seperti itu. Dia tahu bagaimana Minji, bahkan ia sudah menganggap Minji seperti adiknya sendiri.

 

 

“Jika Minji mengalami kesulitan, dia harus mengatakannya padaku dan Kyuhyun.”

 

 

“Baik, Nyonya,” jawab Bibi Kim, sambil mengangguk.

 

 

Ahjumma, apa kau bisa membuatkan nasi goreng?”

 

Suara itu membuat Nara dan Bibi Kim menoleh ke arah pintu masuk dapur. Darah Nara berdesir melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. Nafasnya sedikit sesak. Kejadian tadi malam yang ia anggap halusinasi kembali berputar di kepalanya. Tangannya sedikit bergetar, hingga secara tak sengaja Nara menjatuhkan pisau yang ia gunakan untuk memotong sawi.

 

 

“Se-Sena-ssi?” Nara tercekat oleh rasa sesak dan terkejut.

 

 

“Eo, N-Nara-ssi, kau di sini? Aku kira kau belum turun,” ujar Sena dengan canggung, lalu melanjutkan langkahnya mendekati Nara. Sementara Nara masih terdiam. Perasaan sesak kembali menyeruak di rongga dadanya. Ia tak bisa berpikir dengan jernih.

 

 

Han Sena benar-benar ada di sini. Jadi kejadian yang ia lihat di ruang kerja Kyuhyun semalam bukanlah halusinasi. Setidaknya itulah yang sekarang memenuhi kepalanya.

 

 

“Maaf, semalam aku tak sempat menyapamu, Nara-ssi. Aku tidur agak cepat, karena saat menidurkan Jaehyun aku juga ikut tertidur.”

 

 

Sena masih terlihat canggung. Apalagi ketika melihat reaksi Nara.

 

 

***

 

 

Suasana di ruang makan itu terasa canggung. Walaupun ruangan tersebut terdengar lebih ramai dari biasanya karena Jaehyun yang terus mengoceh. Jaehyun anak yang sangat aktif. Dia akan bercerita tentang apapun, sesekali Sena dan Nara menyahutinya. Namun Kyuhyun masih terlihat dingin. Pria itu hanya diam dengan wajah datarnya. Ia menikmati sarapannya dengan tenang. Tak seperti biasanya, Kyuhyun pasti berbicara banyak dengan Nara. Ia hanya sesekali tersenyum ke arah Jaehyun saat anak itu memanggilnya.

 

 

Sementara Nara hanya mencoba untuk bersikap biasa. Walaupun ia merasa situasinya sangat aneh, serta semua bayangan tentang apa yang terjadi antara Kyuhyun dan Sena semalam masih memenuhi kepalanya. Namun gadis itu berusaha untuk menepis. Sesungguhnya ia kebingungan, apakah hal itu benar-benar terjadi atau hanya halusinasinya.

 

 

“Maaf, aku harus berangkat sekarang, karena ada janji dengan pasangan calon pengantin yang akan mem-fitting baju pengantin mereka,” ujar Sena sambil mengangkat pergelangan tangannya. Melihat sekilas pada jam yang melingkar di sana, lalu gadis itu melirik pada Nara dan Kyuhyun secara bergantian.

 

 

“Apa tak masalah jika kau berangkat sendiri?” tanya Kyuhyun yang akhirnya mengeluarkan suara.

 

 

“Aku rasa tak masalah. Orang itu hanya mengganggu di apartemen. Menurutku dia tak tahu soal butikku.”

 

 

Nara hanya diam mendengarkan. Gadis itu tak mengerti ke mana arah pembicaraan dua orang ini. Mungkin nanti ia akan bertanya pada Kyuhyun.

 

 

“Apa tak sebaiknya kau habiskan sarapanmu dulu, Sena-ssi?” ucap Nara.

 

 

“Aku sudah kenyang, sepertinya tadi aku terlalu banyak mengambil porsinya.” Sena terlihat menyesal. “Eo, benar. Tadi aku sudah menghubungi pengasuh Jaehyun untuk datang ke sini, jadi kemungkinan sebentar lagi dia sampai,” sambung gadis itu.

 

 

“Sebenarnya aku sendiri bisa menjaga Jaehyun.”

 

 

“Aku tak ingin merepotkanmu lagi, Nara-ssi. Lagipula Jaehyun sangat aktif. Kau pasti kesulitan menjaganya,” ujar Sena diiringi dengan senyum canggungnya, lalu gadis itu mengalihkan perhatian pada putranya yang baru saja memasukan suapan terakhir nasi goreng ke dalam mulutnya.

 

 

“Jaehyun-ah, Ibu harus pergi bekerja. Don’t be naughty, don’t be cry baby and?”

 

 

Be a sweet boy,” sahut Jaehyun riang, setelah ia menelan habis nasi gorengnya.

 

 

Good boy.” Sena mengusap gemas kepala Jaehyun. “Gimme kiss.” Gadis itu mendekatkan pipinya pada Jaehyun.

 

 

Jaehyun mencium kedua pipi sena, lalu gadis itu balas mencium bibir menggemaskan milik Jaehyun.

 

 

“Ayo antar Ibu.”

 

 

Sena menuntun Jaehyun berdiri, sementara Nara juga bersiap untuk berdiri, gadis itu bermaksud akan mengantar Sena ke depan.

 

 

“Tak usah mengantarku, Nara-ssi. Lanjutkan saja sarapanmu,” ujar Sena mencegah Nara. “Aku berangkat,” sambungnya, sembari menatap Kyuhyun dan Nara, lalu gadis itu berlalu dengan menggiring Jaehyun ke ruang depan.

 

 

“Hati-hati,” sahut nara dan Kyuhyun berbarengan.

 

 

Nara melirik ke arah Kyuhyun setelah Sena dan Jaehyun menghilang dari padangannya.

 

 

“Bukankah ada yang harus kau jelaskan, Kyu? Kenapa Sena dan Jaehyun ada di sini? Dan juga, semalam ….” Nara menggantung kalimatnya. Ia belum sanggup menanyakan itu pada Kyuhyun. Kembali dadanya terasa sesak. Namun ia menahan air matanya untuk tidak mengalir.

 

 

“Nanti,” ucap Kyuhyun singkat.

 

 

***

 

 

Cho Enterprise Building, Seoul

10.20 KST.

 

 

Suara dering telepon mengusik kegiatan Donghae di ruang kantornya. Pria itu meraba-raba loudspeaking telephone yang terletak di atas meja, lalu menekan tombol jawab, tanpa mengalihkan perhatian dari beberapa lembar kertas di genggamnya.

 

 

Sajangnim, baru saja Tuan Lee dari personalia mengantarkan dokumen serta data-data karyawan baru yang Anda minta.” Terdengar suara sekretarisnya dari telepon itu.

 

 

“Tolong antarkan ke ruanganku, Sekretaris Kim,” perintah Donghae dengan nada suara renyah. Pria itu memang sangat terkenal dengan keramahannya pada setiap karyawannya.

 

 

“Baik, Sajangnim.”

 

 

Tak lama pintu ruangan Direktur Cho Enterprise itu terbuka. Menampilkan sosok seorang gadis yang bisa di bilang cukup cantik, dengan rambut panjang bergelombang yang di gerai. Wajah orientalnya dilapisi make up natural yang memberi kesan fresh. Gadis itu mengenakan blazer berwarna baby pink dilapisi dengan dalaman berbahan sifon berwarna putih gading, serta rok pensil selutut berwarna senada, menampakkan kaki jenjangnya yang menawan. Tak lupa stiletto yang melengkapi penampilannya. Khas seorang sekretaris pemimpin perusahaan besar.

 

 

Gadis itu melangkah menuju meja kebesaran Donghae. Sementara sang direktur seperti tak terusik dengan kehadiran sekretarisnya, karena pria itu masih memfokuskan perhatiannya pada huruf-huruf dan angka-angka yang tercetak di lembaran kertas yang ia pegang.

 

 

Sajangnim,” lembut gadis itu, mencoba membuat Donghae menyadari kehadirannya. Dan usahanya berhasil karena Donghae akhirnya menoleh padanya.

 

 

“Eoh, iya, Sekretaris Kim,” jawab Donghae dengan menunjukan lengkungan di kedua sudut bibirnya.

 

 

“Ini dokumen yang Anda minta.” Gadis itu meletakan beberapa map yang berisi data-data karyawan baru di perusahaan itu di atas meja Donghae, lalu mendorong sedikit, agar lebih dekat dengan Donghae.

 

 

Donghae meletakan draft perjanjian yang ada di tangannya, lalu menjangkau map-map itu sambil tersenyum pada sekretarisnya.

 

 

“Kau sudah bekerja keras, Sekretaris Kim,” ujar Donghae dengan nada bercanda.

 

 

“Kau meremehkan kemampuanku, Sajangnim?”

 

 

“Tentu saja aku tak pernah meragukan kemampuan seorang gadis yang bisa mengalahkan empat remaja pria sekaligus sepertimu, Sekretaris Kim.”

 

 

Mata gadis itu melebar mendengar ucapan Donghae. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya pada Donghae.

 

 

“Ya! Jika kau masih mengungkit hal itu lagi, jangan salahkan aku jika kau harus menghabiskan sisa hidupmu di atas kursi roda,” ancam gadis itu dengan mata menyipit menatap Donghae.

 

 

“Kau menakutiku, Nona Kim!” seru Donghae dengan ekspresi takut yang dibuat-buat.

 

 

“Aish … kau selalu menyebalkan. Pantas saja tak ada yang mau jadi sekretarismu,” gerutu gadis itu.

 

 

“Aku rasa kau akan menarik ucapanmu barusan jika kau melihat antrian para gadis untuk mendapatkan posisimu sekarang, Sekretaris Kim.”

 

 

Gadis bernama Kim Hyoeun itu memutar bola matanya malas mendengar ucapan Donghae yang nenyombongkan diri.

 

 

“Ya sudah, kau pilih saja mereka yang sudah mengantri, kenapa malah memilihku?” kesal Hyoeun.

 

 

“Aku ingin menghemat pengeluaran, karena kau bisa merangkap menjadi bodyguard untuk menjaga keselamatanku saat berada di luar.”

 

 

“Ya, Lee Donghae!” seru Hyoeun dengan wajah kesal. Sementara Donghae langsung tertawa lepas mendengar teriakan Hyoeun. Pria itu memang sangat senang menggoda Hyoeun. Sepertinya ia sangat suka melihat wajah kesal Hyoeun.

 

 

Hyoeun dan Donghae adalah sahabat kecil, karena rumah mereka bersebelahan. Jika tidak bersama Kyuhyun, Siwon dan Hyukjae, maka Donghae akan menghabiskan waktunya bersama Hyoeun.

 

 

Sejak kecil Hyoeun tak seperti anak perempuan pada umumnya. Gadis itu menyukai hal-hal yang disukai anak laki-laki. Daripada balet, Hyoeun lebih memilih belajar taekwondo. Bermain bersama anak laki-laki lebih menyenagkan baginya, daripada bermain bersama anak-anak perempuan, terutama bersama Donghae. Hyoeun juga tak suka berdandan dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan remaja perempuan pada umumnya. Namun saat menginjak bangku kuliah, gadis itu perlahan mulai berubah.

 

 

Hyoeun menghela napas, sementara Donghae masih terus tertawa.

 

 

“Tertawa saja sepuasmu, Sajangnim,” dengusnya, sambil memasang wajah merengut. “Aku harus permisi karena banyak pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan. Seseorang begitu kejam memberiku banyak pekerjaan minggu ini,” sambung Hyoeun setengah menyindir.

 

 

“Aku rasa orang itu sangat tahu kemampuanmu,” sahut Donghae.

 

 

 

“Yah. Dan dia benar-benar memanfaatkan semua itu.” Hyoeun berujar malas. “Baiklah, saya permisi, ‘Sajangnim‘,” ujar Hyoeun menekanan kata Sajangnim. Gadis itu berbalik, melangkah meninggalkan Donghae.

 

 

“Semangatlah, Sekretaris Kim. Setelah ini, ayo kita makan siang bersama!” seru Donghae, masih dengan senyuman geli yang melengkung di bibirnya.

 

 

Hyoeun berbalik. Mendelik pada Donghae.

 

 

“Kau ingin membuat gosip tentang kita menjadi lebih ramai lagi, huh?”

 

 

Donghae hanya mengedikkan bahunya. Senyuman geli belum juga menghilang dari bibir pria itu.

 

 

Karena kedekatan keduanya, banyak karyawan di perusahaan itu yang salah paham dengan hubungan mereka. Hyoeun memang selalu risih dengan beberapa gosip yang menyebar tentang mereka. Sementara Donghae seperti tak peduli sama sekali.

 

 

“Terimakasih tawarannya, Sajangnim. Tapi saya lebih suka makan dengan ketenangan. Permisi.”

 

 

Memutar badan dan kembali melangkah, Hyoeun akhirnya meninggalkan ruangan Donghae.

 

 

Donghae menggeleng pelan. Senyuman geli masih menggantung di bibirnya. Pria itu sangat suka melihat Hyoeun yang kadang uring-uringan karena mendengar beberapa kabar burung tentang hubungan mereka yang jelas-jelas tidak benar. Karena hubungan yang mereka jalani hanya murni persahabatan, tak lebih dari itu.

 

 

Pria itu mengulurkan tangan, menjangkau tumpukan map yang tadi dibawakan Hyoeun. Donghae memang terbiasa mengecek semua data-data karyawan baru di perusahaan yang ia pimpin itu. Donghae ingin mengenal karyawannya secara personal, agar ia bisa menjalin kedekatan dengan mereka. Bagi Donghae pemimpin yang baik adalah yang mengenali semua orang yang bekerja dengannya. Setidaknya ia harus mengetahui wajah, nama ,serta posisinya di perusahaan.

 

 

Pria itu membaca CV karyawan baru itu dengan tenang. Sesekali ia mengangguk. Hingga saat membuka map yang ke sekian, mata Donghae melebar. Pria itu terperanjat melihat foto dan nama yang tertulis di CV itu. Perasaan kaget dan tidak percaya menyelimuti hatinya.

 

 

Pria itu menjangkau telepon yang terletak di atas meja. Ia menghubungi ketua tim salah satu divisi di perusahaan itu. Bahkan ia sendiri yang menghubunginya. Bukan memerintahkan Hyoeun selaku sekretarisnya.

 

 

***

 

 

Kyuhyun’s Home, Gangnam, Seoul.

12.15 PM KST

 

 

Winter aconite. Tanaman itu terlihat cantik dengan bunganya yang tengah bermekaran. Terdiri atas enam helai mahkota berwarna putih yang menyeimbangi putihnya salju. Salah satu tanaman tahan beku, sehingga winter aconit biasa digunakan untuk menghiasi taman ketika musim dingin.

 

 

Berdiri diam. Gadis itu memandang dengan sayu ke arah kumpulan winter aconit yang ia tanam di dalam green house-nya. Setidaknya inilah satu-satunya tempat ia bisa menghirup udara dengan lancar.

 

 

Memandangi bunga-bunganya yang terawat biasanya bisa sedikit mengurangi beban pikirannya. Namun kali ini sepertinya cara itu tak ampuh lagi.

 

 

Ingatan tentang dirinya yang mengidap endometriosis hingga menyebabkan ia susah mengandung, kemarahan Kyuhyun, serta yang benar-benar mengganggu dan membuatnya tertekan adalah sesutu yang bahkan ia tak yakin apakah itu nyata atau halusinasi. Kyuhyun yang bercumbu dengan Sena.

 

 

Secara perlahan air mata mengalir melewati lekuk pipinya.

 

 

Nara pernah berjanji pada dirinya sendiri saat Kyuhyun mengadiahinya winter aconit di bulan pertama pernikahan mereka. Ia ingin seperti tanaman itu. Tetap kuat dan cantik saat cuaca ekstrim melanda. Namun sekarang Nara merasa seperti bunga dendelion, mahkotanya akan berguguran, bahkan hanya dengan terpaan angin. Begitu rapuh.

 

 

Gadis itu masih betah tenggelam dalam kesesakannya. Ia menatap iri pada kumpulan bunga di hadapannya. Setidaknya bunga-bunga itu tak akan pernah merasakan perasaan yang mencekik seperti yang sekarang ia rasakan.

 

 

Namun, Nara terlonjak kaget saat sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Nara menoleh ke belakang dan Gadis itu semakin kaget saat mendapati wajah Kyuhyun tepat berada di depan wajahnya. Pria itu memeluknya dari belakang, membuat tubuhnya dijalari kehangatan.

 

 

“Maaf.”

 

 

Satu kata dari bibir Kyuhyun seolah meluruhkan semuanya. Rasa sesak yang mencekik, serta kekhawatirannya.

 

 

Kyuhyun membalik pelan tubuh Nara agar menghadap padanya. Tangan Kyuhyun bergerak pelan melewati lengan gadis itu, hingga sampai pada wajah Nara. Kyuhyun mengusap dengan lembut wajah Nara, menghapus jejak aliran air mata di pipi istrinya.

 

 

“Maafkan semua kekasaranku kemarin,” lirih Kyuhyun dengan tatapan sendu pada Nara. Tersemat penyesalan dari pancaran matanya. Pria itu masih mengusap pelan pipi Nara.

 

 

Nara langsung memeluk Kyuhyun. Tangis gadis itu akhirnya pecah. Ia meraung dalam dekapan hangat Kyuhyun. Nara mengeratkan pelukannya saat suara tangisnya semakin keras. Gadis itu memilih menumpahkan semua perasaan yang bercampur baur dalam hatinya lewat tangisan itu. Walaupun masih terasa kesesakkan di sana, namun perasaan lega bercampur bahagia lebih mendominasi. Dengan Kyuhyun bersikap seperti biasanya saja sudah membuat Nara bahagia. Ia bersyukur Kyuhyun kembali dengan kehangatannya.

 

 

Kyuhyun mengusap dengan lembut punggung Nara yang bergetar. Ia mengeratkan pelukannya saat Nara mendekapnya lebih erat.

 

 

“Aku tahu bahwa aku kembali menyakitimu. Seharusnya aku terus di sampingmu dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi yang kulakukan justru kembali menambah lukamu. Aku memang suami terburuk yang pernah ada.”

 

 

Nara menggelengkan kepalanya, tak setuju dengan ucapan Kyuhyun.

 

 

“Tidak,” lirih gadis itu di sela isakannya.

 

 

Ia mengangkat wajahnya. Menatap Kyuhyun dengan sedikit menengadah karena postur Kyuhyun yang lebih tinggi darinya. Kyuhyun menunduk agar mereka bisa saling bertatapan. Kembali Kyuhyun mengusap wajah Nara yang basah oleh air mata dengan sebelah tangannya. Sementara tangannya yang lain berada di pinggang Nara. Nara menggenggam tangan Kyuhyun yang berada di pipinya. Menahan tangan Kyuhyun di sana. Meresapi kehangatan telapak tangan itu.

 

 

“Kau adalah suami terbaik di dunia.”

 

 

“Tidak, Sayang. Aku—”

 

 

 

 

Nara menempelkan jari telunjuknya pada bibir Kyuhyun. Membuat pria itu mengehentikan kalimatnya.

 

 

“Jangan bicara lagi. Ayo kita lupakan semuanya,” ujar nara lembut sembari menatap dalam ke manik hitam Kyuhyun dengan lengkungan tipis di bibirnya. Seolah meyakinkan Kyuhyun bahwa ia baik-baik saja sekarang.

 

 

Nara juga memilih melupakan semua pikirannya tentang yang terjadi di ruang kerja Kyuhyun. Ia yakin itu hanya halusinasinya. Bukankah Sena juga mengatakan bahwa ia tidur cepat semalam? Jadi tak mungkin ada kejadian seperti itu, pikirnya.

 

 

“Benar, Sayang. Ayo kita lupakan. Sekarang kita fokus saja pada penyembuhanmu,” ujar Kyuhyun sambil mengelus pipi Nara. Pria itu menunjukkan senyum hangatnya.

 

 

“Heum.” Nara hanya bergumam. Wajahnya yang tadi terlihat lebih cerah, menjadi murung kembali. Gadis itu menundukan wajahnya. Tak bisa dipungkiri kondisi kesehatannya membuat ia merasa mengecewakan Kyuhyun.

 

 

Kyuhyun menangkup wajah Nara dengan kedua telapak tangannya. Ia menarik dengan lembut wajah gadis itu agar kembali menghadap padanya.

 

 

“Sayang, dengar aku. Kau hanya perlu meminum obatmu dan berkonsultasi secara teratur pada Taeyeon Nuna. Jangan pernah penuhi kepalamu dengan kekhawatiran lagi. Kita pasti bisa melewatinya,” ujar Kyuhyun menenangkan., karena ia menangkap perubahan air muka Nara.

 

 

“K-kita?”

 

 

“Iya, kita. Kau dan aku. Karena aku tak akan pernah membiarkanmu berjuang sendirian.”

 

 

Kyuhyun semakin menunduk, lalu mencium dalam kening Nara, seolah menyalurkan kekuatan pada istrinya. Menunjukan kasih sayangnya yang besar. Sementara nara memejamkan matanya. Hatinya menghangat dan dadanya terasa lapang setelah mendengar ucapan Kyuhyun. Nara seperti merasa mendapat kekuatan tambahan untuk melawan penyakitnya.

 

 

Kyuhyun menyudahi kecupannya di kening Nara, lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Mendekapnya hangat, seolah memberi perlindungan.

 

 

Cukup lama mereka saling berpelukan di tengah kumpulan bunga yang bermekaran di dalam green house itu, hingga Nara menyadari sesuatu.

 

 

Gadis itu melonggarkan pelukannya dan Kyuhyun. Sedikit menciptakan jarak di antara mereka. Membuat Kyuhyun agak bingung dengan reaksinya.

 

 

“Kenapa, Sayang?” tanya Kyuhyun dengan dahi berkerut, ditambah melihat ekspresi Nara yang seperti ingin membicarakan sesuatu.

 

 

“Itu … mengenai Jaehyun dan Sena—”

 

 

“Benar. Aku lupa telah berhutamg satu penjelasan itu padamu,” potong Kyuhyun. “Kemarin saat aku mengikutimu menuju danau, Sena menghubungi—”

 

 

“Tunggu! Mengikutiku?”

 

 

“Aku tak akan membiarkanmu sendirian di tempat itu, Sayang. Apalagi kau dalam keadaan tidak baik,” ujar Kyuhyun.

 

 

Nara terdiam. Jadi Kyuhyun sebenarnya ada di belakangnya kemarin. Kyuhyun benar-benar menjaganya, sementara ia sendiri melanggar janjinya.

 

 

“Maafkan aku,” ucap Nara penuh penyesalan. Gadis itu merasa bersalah karena ia tak menghindari Jonghyun kemarin.

 

 

“Bukankah kita sudah berjanji akan melupakan semua kesalahpahaman kemarin?”

 

 

“Heum. Lanjutkanlah ceritamu,” lirih gadis itu.

 

 

“Sena menghubungiku. Dia terdengar sedang ketakutan. Katanya ada yang menerornya selama dua minggu belakangan.”

 

 

“Terror?” tanya Nara dengan wajah sedikit menegang.

 

 

“Iya, tapi Sena belum ingin bercerita teror seperti apa yang menghantuinya. Saat sampai di apartemennya aku mendapati apartemen itu dalam keadaan berantakan. Sena memintaku untuk membawanya ke tempat yang aman untuk sementara waktu. Dan tempat aman pertama yang terlintas di pikiranku adalah rumah kita. Kau tahukan gadis itu sudah tak mempunyai siapa-siapa lagi? Orang tuanya meninggal saat di Paris dan Sena tak memiliki keluarga lain.”

 

 

Nara hanya diam. Gadis itu merasa kasihan dengan kondisi Sena. Pasti Sena menjalani hidup yang berat. Menjadi single parent di usia muda tidaklah mudah, apalagi tanpa siapapun di sisinya. Tapi gadis itu selalu terlihat kuat. Diam-diam Nara merasa sangat kagum pada Sena.

 

 

“Mungkin mereka akan tinggal di sini untuk beberapa hari. Aku akan mencarikan tempat tinggal yang aman untuk mereka. Apa tidak masalah?”

 

 

Nara menggeleng cepat.

 

 

“Tak masalah sama sekali. Lagipula aku jadi tak kesepian di rumah, karena ada Jaehyun yang bisa ku ajak bermain. Carilah tempat tinggal dengan pengamanan terbaik untuk mereka. Jangan sampai peneror itu mengganggu hidup mereka lagi.”

 

 

“Pasti, Sayang,” ujar Kyuhyun. “Eo benar. Di mana Jaehyun?”

 

 

“Tadi Jaehyun ada di kamarnya, bermain bersama Kang Ahjumma.

 

 

“Kang Ahjumma?” Dahi Kyuhyun berkerut karena merasa asing dengan nama itu.

 

“Pengasuh Jaehyun yang tadi pagi dihubungi Sena,” jawab Nara  menyadari kebingungan kyuhyun.

 

 

Pria itu hanya mengangguk pertanda mengerti.

 

 

“Mau menemaniku menemui Jaehyun?” tawar Kyuhyun.

 

 

“Tentu saja. Sekarang juga sudah waktunya makan siang. Kita memang harus mengajak Jaehyun untuk makan siang,” ujar Nara dengan senyum melengkung di bibirnya.

 

 

“Ayo.”

 

 

Kyuhyun menggengam tangan Nara. Membawa gadis itu keluar dari green house-nya menuju kamar Jaehyun. Sementara bibir Nara terus melengkungkan senyum. Ia merasa lega karena semua kesalahpahaman antara dirinya dan Kyuhyun terselesaikan juga.

 

 

***

 

 

Membanting pintu dengan keras saat keluar dari kamar, Kyuhyun melampiaskan amarahnya pada benda itu. Ia masih berdiri di depan pintu. Menghela napas perlahan, mencoba menetralisir gejolak amarah yang menguasai dirinya. Kyuhyun kemudian menoleh ke belakang, ke arah pintu di belakangnya. Suara isak tangis masih menyusup ke dalam pendengarannya.

 

 

Ia mulai melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. Saat ini Kyuhyun hanya ingin menjauh dari Nara. Tidak. Ia sebenarnya tak sanggup mendengar tangisan Nara. Ia ingin memeluk Nara, menenangkannya agar gadis itu tak mengeluarkan air mata lagi. Bahkan harusnya ia menguatkan Nara, karena Nara pasti masih sangat terpukul dengan kabar buruk yang mereka terima tadi siang. Tapi ego memaksanya untuk tak melakukan itu. Bagaimanapun juga emosinya tersulut saat melihat Jonghyun bersama Nara, bahkan si brengsek itu juga memeluk Nara. Kyuhyun rasanya benar-benar ingin membunuh pria itu saat ini juga.

 

 

Kyuhyun melangkah menuju ruang kerjanya yang terletak di sudut ruangan. Ia perlu menenangkan pikirannya. Meredakan gejolak emosi yang mengkungkung hatinya.

 

 

Kyuhyun memasuki ruang kerjanya, lalu melangkah menuju rak yang berdiri kokoh di bagian barat ruangan itu. Rak-rak yang disediakan khusus untuk menyimpan berbagai macam jenis wine. Ya, ia merasa membutuhkan minuman beralkohol itu untuk meredakan amarahnya yang bergejolak.

 

 

Pria itu mengambil jenis wine yang mengandung alkohol paling tinggi. Lalu meneruskan langkahnya menuju meja bar dan mengambil sebuah gelas krystal di sana. Kemudian Kyuhyun melanjutkan langkahnya menuju sofa yang terdapat di ruangan itu. Ia memilih menjatuhkan bokongnya di sana, sambil meletakkan gelas dan botol wine itu di atas meja di hadapannya.

 

 

Menuangkan wine ke dalam gelas krystal, lalu meneguk minuman beralkohol itu dengan sekali tegukan. Kyuhyun terus menuangkannya. Satu gelas, dua gelas, tiga gelas, hingga Kyuhyun tak bisa menghitung berapa gelas yang telah ia habiskan. Yang jelas saat ini ia hanya merasa ketakutan.

 

 

Ya, Kyuhyun hanya takut kehilangan istrinya. Ia terlalu takut jika Jonghyun benar-benar kembali merebut Nara. Dan ia marah pada dirinya sendiri saat melihat Nara lebih memilih menumpahkan keluhkesahnya pada Jonghyun. Apa Nara tak percaya padanya? Apa istrinya itu tak nyaman dengannya?

 

 

Kyuhyun mulai kehilangan kesadarannya. Kandungan etanol yang terdapat di dalam wine mulai mengacaukan kerja otaknya. Namun, ia masih belum berniat untuk menghentikan aktivitas minumnya. Bahkan Kyuhyun kembali melangkah menuju rak dengan sempoyongan demi mengambil sebotol wine lagi saat wine di botol pertama telah habis ia teguk.

 

 

Saat Kyuhyun berbalik, matanya menangkap sosok seorang gadis memasuki ruang kerjanya. Gadis itu bergegas mendekati Kyuhyun. Memapah Kyuhyun menuju sofa dan membantu Kyuhyun untuk duduk kembali di sofa. Gadis itu memilih duduk di sebelah Kyuhyun.

 

 

“Kyu, apa yang terjadi? Aku mendengar kau bertengkar dengan Nara. Apa Nara marah karena kau mengajakku ke sini?” tanya gadis itu dengan nada khawatir.

 

 

Sementara Kyuhyun mulai menoleh pada gadis itu. Ia menatap gadis tersebut dengan pandangan yang tak fokus. Perlahan tangannya terangkat untuk menjangkau gadis itu, membawa tubuh gadis tersebut ke dalam pelukannya. Kyuhyun mendekapnya erat.

 

Walaupun kaget, namun ia tak menolak perlakuan Kyuhyun.

 

“Ra-ya, jangan menangis, heum. Maafkan aku. Aku hanya takut kau kembali terjebak dengan masa lalumu. Aku hanya takut Jonghyun kembali merebutmu. Kau mengerti kan, Sayang?” racau Kyuhyun dengan suara khas orang mabuk. Sesekali ia mengusap punggung gadis itu dengan penuh kelembutan.

 

Kyuhyun melonggarkan pelukannya. Tangannya yang tadi berada di pinggang gadis di hadapannya, perlahan terangkat menangkup wajah gadis tersebut. Kyuhyun menatap ke dalam hazelnya.

 

“Aku mencintaimu, Sayang. Aku sangat mencintaimu, Ra-ya, kau tahu, kan?”

 

Mengusap lembut pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Kyuhyun masih menatap gadis di hadapannya dengan mata tajamnya yang saat ini terlihat sayu.

 

Ia mulai memajukan wajahnya ke depan, hingga embusan napas hangatnya menerpa wajah gadis itu. Kyuhyun mulai memejamkan mata dan perlahan menempelkan bibir panasnya dengan bibir gadis dihadapannya hingga membuat gadis tersebut membulatkan matanya, terkejut karena tindakan Kyuhyun.

 

Kyuhyun mulai menggerakkan bibirnya, menyesap dengan penuh kelembutan. Sementara salah satu tangannya sudah berpindah ke tengkuk gadis itu, mendorong untuk memperdalam cumbuannya.

 

Gadis itu—Han Sena—tak punya pilihan lain selain menikmati permainan bibir panas Kyuhyun yang sebenarnya juga sangat ia rindukan. Ia bahkan hanya menurut saat Kyuhyun mengangkat pinggulnya untuk pindah ke pangkuan pria itu. Dengan bibir yang masih saling bertaut, bahkan ciuman Kyuhyun terasa lebih menuntut, membuat kepalanya pening namun bisa melepas dahaga kerinduannya.

.

.

.

.

 

TBC

52 thoughts on “When The Smile Being Ornate Part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s