Fail Part 5 END


 

Author : Mirna Miranda

Title : Fail

Category : NC17, Yadong, Romance, Sad, Chapter.

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Sung Rae Hwa

Author’s note : Akhirna, tiba juga ff ini end, makasih banyak untuk para readers yang masih mau baca ff yang gak jelas dan membosankan ini, terima kasih banyak masih betahan sampe end. Mohon maafkan segala kekurangan ff ini dari awal part sampe sekarang, percayalah itu kesalahan author yang tidak jago ini~~ Makasih juga buat admin yang mau post ff ini sampe end. Thank u so muchhh~~

F A I L—PART 5 END

 

“Argh!!!”

 

 

Rae Hwa pun menghembuskan nafasnya pelan menatap pintu rumahnya itu. Gadis itu sudah berdiri disana selama 1 jam lebih karena ia ragu untuk masuk dan memberitahukan kepada kakaknya kalau dia gagal mendapatkan emas itu.

 

“Calista?” panggil seseorang dari belangkang membuat gadis itu segela menoleh melihat orang itu.

 

“Aiden? Untuk apa kau disini?” tanya gadis itu.

 

“Seharusnya itu pertanyaanku. Tadinya aku ingin mengembalikan ponselmu, tetapi Joon berkata jika kau tidak tinggal disini untuk sementara. Lalu aku berbagi cerita dengan Joon setelahnya. Ini aku beli soda,” ucap Aiden mengangkat bungkusan ditangannya menunjukkanya kepada gadis itu.

 

“Lalu dimana ponselku? Dan, aku sudah menyelesaikan tugas itu, karena itu lah aku kembali.”

 

“Kuletakkan di kamarmu,” jawab Aiden dan dijawab anggukan oleh Rae Hwa.

 

“Lalu kau berhasil mendapat emasnya?” tanya Aiden membuat Rae Hwa mengeratkan pegangannya pada kopernya. Aiden pasti tahu dari kakaknya.

 

Rae Hwa pun menggeleng membuat Aiden menghembuskan nafasnya pelan dan menggeleng menatap gadis itu prihatin.

 

“Ayo masuk. Joon pasti senang kau datang. Kenapa kau ragu masuk ke rumah mu sendiri,” ucap Aiden menarik tangan gadis itu pelan untuk masuk kedalam rumah itu.

.

.

.

“Rae Hwa!” seru Tae Joon segera menghampiri Rae Hwa, dan memeluk adiknya itu erat. Nara pun hanya bisa menggeleng melihat rasa senang suaminya itu.

 

“Kau baik-baik saja kan?” tanya Tae Joon melepaskan pelukannya dan memegang bahu adiknya kemudian memeperhatikan keadaan adiknya itu juga.

 

“Aku baik-baik saja, oppa,” ucap Rae Hwa tersenyum namun kemudian gadis itu menghela nafasnya pelan.

 

“Maafkan aku, oppa. Aku gagal mengambil emas itu.” ucap Rae Hwa membuat Tae Joon kembali memeluk adiknya itu lagi.

 

“Aku sudah tidak peduli soal emas itu. Aku sudah menyadarkan diriku kalau selama ini yang kulakukan sangat bodoh. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu. Biarlah emas itu menjadi milik bajingan itu. Karena, jatuh kembali ketangan kita. Bisa saja kita dalam bahaya. Aku tidak ingin melibatkanmu lagi. Aku menyesal. Maafkan oppa eoh?”

 

Rae Hwa pun hanya bisa mengganguk membalas permintaan maaf kakaknya itu.

 

“Lalu, apa yang diminta pria itu kepadamu?” tanya Tae Joon kini melepaskan pelukannya kembali dan menatap adiknya itu. Tae Joon merasa ada raut keanehan di wajah adiknya.

 

“Dia memintaku untuk pergi darinya selama-lamanya.,” jawab Rae Hwa menghela nafasnya membuat Tae Joon, Aiden, dan Nara menatap gadis itu bingung.

 

“Bagus jika dia hanya meminta itu. Lalu kenapa kau menampilkan ekspresi seperti itu?” tanya Tae Joon masih menatap adikknya itu. Rae Hwa pun kembali menghela nafasnya dan menatap kakaknya itu.

 

“Masalahnya. Aku jatuh cinta padanya, oppa,” ucap Rae Hwa tenang membuat Tae Joon, Nara, dan Aiden membulatkan mata mereka terkejut dan memastikan pendengaran mereka.

 

“Apa?” tanya Tae Joon memastikan pendengarannya.

 

“Aku mencintainya,” ucap Rae Hwa menghela nafasnya, dan tanpa sadar meneteskan air matanya.

 

“Astaga. Apa yang sudah dilakukan pria brengsek itu kepadamu? Setelah mengambil emas keluarga kita. Sekarang, dia mengambil hatimu? Bajingan itu tidak akan kubiarkan lagi.” seru Tae Joon menahan emosinya dan langsung disabarkan oleh istrinya.

 

“Dia tidak melakukan apapun, oppa. Aku yang dengan bodohnya jatuh cinta kepadanya. Aku mengira awalnya dia akan jatuh cinta padaku. Namun, justru aku yang jatuh cinta padanya. Sedangkan dia? Jangankan mencintaiku. Tergoda sebagai pria normal pun tidak. Aku tidak tahu rasanya akan sakit seperti ini,” ucap Rae Hwa bergetar tidak bisa menahan laju tangisannya.

 

“Astaga.” Tae Joon pun memijat kepala pusing. Nara pun hanya bisa menghela nafasnya pelan dan memeluk adik iparnya itu.

 

“Aku akan kembali,” ucap Rae Hwa tiba-tiba membuat Tae Joon kembali menatap adiknya itu.

 

“Sesuai perjanjian awal, setelah ini semua selesai aku akan kembali ke Amerika. Walaupun aku gagal mendapatkan emas itu, tetapi, aku tetap ingin kembali ke Amerika. Kebetulan Aiden disini, jadi aku akan kembali dengannya.”

 

Tae Joon pun kembali menghembuskan nafasnya menatap adiknya itu.

 

“Kau menghindari si bajingan itu kan?” tanya Tae Joon menahan marahnya.

 

“Ya dan tidak. Aku memang ingin kembali ke Amerika, namun aku masih menundanya. Tetapi, setelah kejadian ini, keputusanku sudah bulat akan kembali,” jawab Rae Hwa mantap.

 

“Aiden. Kapan kau akan kembali?” tanya Rae Hwa mengalihkan pandangannya menatap pria itu.

 

“Karena waktu itu kau memintaku untuk langsung pulang. Jadi, aku sudah memesan tiket untuk besok.”

 

Rae Hwa pun mengangguk paham. “Pesankan satu juga untukku. Aku akan beristirahat.”

 

Mereka bertiga pun hanya bisa menghela nafasnya mereka melihat Rae Hwa yang telah pergi kekamarnya dan menggeret kopernya.

.

.

.

 

Rae Hwa menjatuhkan tubuhnya ditempat tidurnya. Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan menatap langit-langit diatasnya kemudian, memejamkan matanya.

 

Rae Hwa pun terlelap dalam tidurnya dan tidak menyadari Tae Joon, Nara, dan Aiden telah berada dikamar gadis itu.

 

“Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Si bajingan itu harus memperjelas semuanya agar adikku tidak terluka seperti itu.” ucap Tae Joon.

 

Aiden pun hanya bisa mengangguk menyetujui perkataan sahabatnya itu.

 

“Sebaiknya kita jangan ikut campur. Jika memang pria itu juga mencintai Rae Hwa. Pasti, dia tidak akan melepaskan Rae Hwa seperti ini. Juga, jika memang dia tidak menyukai Rae Hwa, seharusnya dia tidak akan memberikan permintaan seperti itu. dia pasti akan mengerjai adikmu, untuk membalas keluarga kita.” Ucap Nara membuat Tae Joon kembali menghela nafasnya.

 

“Kufikir Nara juga ada benarnya. Aku sudah menganggap Rae Hwa sebagai adik. Jadi, aku juga tidak suka melihatnya seperti ini.”

 

“Baiklah, untuk sementara kita akan diam. Lalu Aiden, apa kau sudah memesan tiketnya?”

 

“Sudah. Jam 2 siang.”

 

Tae Joon pun menggangguk paham, “lebih baik kita keluar.”

.

.

.

 

Rae Hwa pun membuka matanya pelan, dan mulai mengerjab-ngerjabkannya untuk menyesuaikan dengan cahaya dikamarnya. Gadis itu pun mengalihkan pandangannya ke jam yang tak jauh darinya. 19.00.

 

“Apa dia sudah makan?” gumam gadis itu memandang langit-langit diatasnya lagi.

 

Rae Hwa merasa jantungnya berdetak kencang, membuat gadis itu spontan memegang dadanya untuk menenangkan jantungnya.

 

“Ya, dia pasti baik-baik saja,” ucap gadis itu kembali memenangkan jantungnya. Namun, gadis itu terkejut ketika memegang lehernya. Ia pun segera terduduk di tempat tidurnya dan kembali memegang lehernya mencari sesuatu.

 

Gadis itu pun bangkit dari tempat tidurnya dan menelisik kamarnya itu dengan seksama. Tempat tidurnya pun telah diacaknya. Dan dengan cepat gadis itu keluar dari kamarnya dan mendapati Aiden masih disana bersantai dengan Tae Joon dan Nara di ruang tamu.

 

“Oppa! Oppa!” panggil Rae Hwa panik membuat Tae Joon segera meneloh dan menatap heran raut panik adiknya itu.

 

“Ada apa?”

 

“Kalung. Apa oppa melihat kalungku?” tanya gadis itu membuat Tae Joon mengerutkan keningnya bingung.

 

“Kalung dari eomma?”

 

“Iya.” Jawab Rae Hwa masih mengedarkan pandangannya untuk mencari kalung itu.

 

“Mungkin kau lupa dimana meletakkannya dimana,” ucap Aiden membuat Rae Hwa mengalihkan pandangannya menatap pria itu.

 

“Bagaimana mungkin aku bisa lupa,” ucap gadis itu sedikit ragu dan dengan cepat mengumpulkan ingatannya.

 

“Astaga, kamar mandi!” ucap gadis itu menepuk dahinya.

 

“Yasudah ambil sana.,” ucap Tae Joon santai.

 

“Bukan kamar mandi disini, oppa. Tapi apartemen Kyuhyun,” ucap Rae Hwa kini berdiri tidak tenang.

 

Tae Joon kembali menoleh kearah adiknya itu dan menghela nafasnya.

 

“Kalau begitu pergilah kesana dan ambil,” jawab Tae Joon membuat Rae Hwa mengerutkan keningnya itu bingung.

 

“Apa tidak apa-apa?”

 

“Untuk apa aku melarangnya? Biarkan Aiden yang mengantarmu,”  ucap Tae Joon membuat Rae Hwa pun segera menarik Aiden untuk pergi.

.

.

.

 

“Perlu kutemani?” tanya Aiden pada Rae Hwa yang masih diam di dalam mobil itu padahal mereka sudah sampai beberapa menit lalu.

 

“Tidak usah,” ucap Rae Hwa cepat dan segera keluar dari mobil itu dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.

 

Dengan ragu, gadis itu pun mulai menekan bel apartemen Kyuhyun. Namun, setelah beberapa kali menekannya tak ada jawaban juga membuat gadis itu nekat masuk kedalam karena dia memang tahu password apartemen itu.

 

“Kyuhyun-ssi?” panggil Rae Hwa. Namun, dia hanya bisa merasakan keheningan. Apartemen ini gelap seperti tidak dihuni siapapun.

 

“Sepertinya dia pergi ke club lagi,” gumam gadis itu segera berjalan menuju kamar Kyuhyun. Karena didalam sanalah kamar mandi tempat kalungnya berada.

 

Rae Hwa pun menyalakan lampu kamar itu, dan betapa terkejutnya gadis itu melihat Kyuhyun tengah terduduk disamping ranjangnya dan menatap lantai itu kosong.

 

“Kyuhyun-ssi?” panggil Rae Hwa namun tak direspon oleh pria itu.

 

Rae Hwa pun mulai berjalan mendekati Kyuhyun dan berjongkok memegang bahu pria itu.

 

“Kyuhyun?” panggil Rae Hwa lagi dan Kyuhyun pun mendongak dan mata keduanya langsung bertemu.

 

“Ada apa denganmu?” tanya Rae Hwa lembut dan memegang wajah pria itu.

 

“Astaga kau demam,” ucap Rae Hwa memegang dahi pria itu.

 

“Kau sudah makan? Kenapa kau bisa demam? Astaga ada apa denganmu? Bicaralah,”  ucap gadis itu memandang Kyuhyun khawatir.

 

“Rae Hwa.” panggil Kyuhyun membuat gadis itu menatapnya semakin cemas.

 

“Ya?”

 

“Aku belum makan.”

 

Rae Hwa pun menatap pria itu masih khawatir. “Sekarang bangunlah, dan tidur ditempat tidurmu. Kau demam.”

 

Kyuhyun pun menurutinya, dengan bantuan gadis itu, dia telah berbaring ditempat tidurnya.

 

Rae Hwa pun berbalik untuk keluar karena ia ingin memasak untuk pria itu. namun, dengan cepat pria itu menahan tangannya.

 

“Kau ingin kemana?” tanya pria itu lemah membuat Rae Hwa menghela nafasnya pelan dan melepaskan tangan pria itu.

 

“Aku akan memasak untukkmu. Dan juga mencari obat untukmu. Tunggulah.”

.

.

.

 

Rae Hwa pun dengan sabar menyuapi Kyuhyun hingga piring itu bersih, Rae Hwa menatap Kuhyun yang juga menatapya. “Kau kenapa bisa belum makan? Kenapa tiba-tiba kau demam?”

 

Kyuhyun pun hanya diam tak menjawab pertanyaan Rae Hwa membuat gadis itu menghembuskan nafasnya kemudian meletakkan piring itu di nakas samping tempat tidur Kyuhyun dan mengambil obat dan air disana.

“Ini, minumlah agar kau lebih baik.”

 

Kyuhyun mengambil obat itu pelan dan memakannya kemudian mengambil air itu juga dan  menghabiskannya.

“Jagalah dirimu baik-baik, aku kesini ingin mengambil kalungku. Aku minta maaf karena kembali kesini,” ucap gadis itu mengangkat kalungnya untuk ditunjukan ke pria itu.

 

“Apa kau merasa pusing?” tanya gadis itu dan dijawab anggukan lemah oleh pria itu.

 

“Aku harus pulang. Tidak apa-apa kan aku meninggalkanmu? Aku memasak banyak untukmu, kau bisa mengambilnya di meja jika kau lapar, dan ini aku akan mencucinya,” ucap Rae Hwa mengangkat piring dan gelas yang di gunakan Kyuhyun tadi.

 

Kyuhyun pun menggeleng membuat Rae Hwa mengerutkan keningnya bingung.

 

“Kenapa?” tanya gadis itu.

 

“Dingin.”

 

Rae Hwa pun menghembuskan nafasnya pelan kemudian berjalan keluar dari kamar Kyuhyun.

Kyuhyun pun menatap punggung gadis itu yang sudah menghilang di balik pintu kamarnya, “dia tetap pergi” gumamnya pelan.

 

Setelah kembali dari dapur membersihkan semua yang harus di cuci, Rae Hwa pun mengambil ponselnya yang berada di kantung celana gadis itu.

 

“Aiden. Kyuhyun sakit. Jemput aku besok pagi.”

 

“Okay, baby.”

 

PIP.

 

Rae Hwa pun kembali memasukkan ponselnya dan segera berjalan kearah kamar Kyuhyun. Dengan perlahan Rae Hwa pun masuk ke dalam membuat Kyuhyun menatap gadis itu terkejut.

 

“Kau masih disini?” tanya Kyuhyun membuat Rae Hwa mengembuskan nafasnya pelan dan berjalan ke arah Kyuhyun.

 

“Tidurlah,” ucap Rae Hwa dan ntah mengapa menjadi mantera untuk Kyuhyun karena lelaki itu merebahkan tubuhnya cepat.

 

Rae Hwa pun naik ketempat tidur dan berbaring disamping Kyuhyun tentu saja membuat pria itu terkejut di tambah Rae Hwa yang memeluknya erat.

 

“Tidurlah,” ucap gadis itu mengusap punggung Kyuhyun pelan. Pria itu pun segera memeluk gadis itu erat juga.

 

“Rae Hwa.”

 

“Hm?”

 

“Siapa itu Aiden?” tanya Kyuhyun tiba-tiba membuat gadis itu  sedikit terkejut dan berhenti mengusap punggung sejenak.

 

“Kau mengetahuinya darimana?” tanya Rae Hwa kini santai dan kembali mengusap punggung pria itu.

 

“Jawab saja.”

 

“Pria itu menyukaiku sebagai wanita,” jawab Rae Hwa membuat Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya.

 

“Tapi itu dulu. Sekarang dia menyayangiku seperti adik. Aku pun menyayanginya seperti saudara,” lanjut gadis itu.

 

“Hanya itu?” tanya Kyuhyun dan dijawab anggukan oleh gadis itu.

 

Rae Hwa kini terus mengusap punggung pria. Kyuhyun yang merasa ketenangan disana pun mulai memejamkan matanya.

.

.

.

 

Pukul 1 pagi. Rae Hwa pun membuka matanya karena ia merasa tenggorokannya sangat kering. Dengan perlahan gadis itu melepaskan pelukannya dan juga pelukan Kyuhyun. Setelah berhasil, gadis itu pun segera turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar itu untuk menuju dapur.

 

Kyuhyun merasa terganggu dalam tidurnya karena tiba-tiba merasa dingin kembali. Perlahan pria itu pun membuka matanya. Mata pria itu menggerjap melihat tidak ada siapa-siapa disampingnya. Dengan menahan rasa pusingnya, pria itu pun mulai duduk di tempat tidur itu.

 

“Rae Hwa!” panggil pria itu serak namun tak juga mendapat sahutan.

 

“Rae Hwa!” seru pria itu lagi dan kini terselip nada khawatir disana.

 

“Jangan bercanda dengan ku, Rae Hwa! Kau dimana!” ucap Kyuhyun kini frustasi.

 

Rae Hwa pun masuk kedalam kamar itu dengan tergesa-gesa mendengar suara Kyuhyun yang memanggilnya cukup kuat.

 

“Kyuhyun, kau baik-baik saja?” tanya Rae Hwa khawatir menghampiri pria itu.

 

Kyuhyun pun mengalihkan pandangannya ke gadis yang kini telah duduk disampingnya.

 

“Kau darimana saja?” tanya Kyuhyun dingin.

 

“Aku haus jadi aku mengambil minum didapur.”

 

Kyuhyun pun menghembuskan nafasnya pelan dan mulai membaringkan tubuhnya lagi, dan memejamkan matanya.

 

“Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?” tanya gadis itu dan hanya dibalas gelengan oleh pria itu.

 

Rae Hwa pun  hanya bisa mengusap rambut pria itu pelan dan menyeka keringat pria itu pula.

 

 

“Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun melihat Rae Hwa kini  bersiap-siap untuk keluar dari apartemen itu. Secara ajaib, Kyuhyun telah sembuh pagi ini. Dan Rae Hwa pun sudah memberi pria itu sarapan, dan sekarang ia bersiap-siap ingin pergi.

 

“Aku harus pulang,” ucap gadis itu kini memakai sepatunya.

 

“Pulang? Secepat ini?”

Rae Hwa pun mengerutkan keningnya bingung mendengar pertanyaan Kyuhyun itu.

 

“Aiden pasti sudah menungguku. Juga, bukankah kau meminta aku untuk tidak muncul lagi dihadapan mu selamanya? Aku akan menepati perjanjian yang sudah dibuat. Kemarin aku minta maaf karena aku benar-benar ingin mengambil kalungku,” ucap gadis itu kini berbalik untuk keluar dari apartemen itu.

 

“Rae Hwa-ssi,” panggil Kyuhyun membuat gadis itu pun menoleh menatap pria itu

 

“Hm?”

 

“Aku…”

 

“Ya…”

 

“Kau tahu, aku…”

 

“Ada apa denganmu?”

 

“Rae Hwa, ini sulit untuk kukatakan.”

 

“Kalau begitu, kirim pesan saja. Aku pergi” ucap Rae Hwa tersenyum dan segera keluar dari apartemen itu membuat Kyuhyun menghembuskan nafasnya kasar.

 

“Aku mencintaimu. Aku tidak mudah mengatakannya. Aku akan mengatakannya padamu suatu saat nanti. Pasti.”

 

 

“Kau sudah mengecek seluruh barangmu?” tanya Tae Joon kini menatap koper adiknya. Mereka telah berada di bandara. Sebentar lagi Rae Hwa dan Aiden akan kembali ke Amerika.

 

Rae Hwa pun menggangguk. “Aku sudah mengeceknya 2 kali tadi dirumah.”

 

“Lee Donghae. Jaga adikku,” ucap Tae Joon menatap Aiden mewanti-wanti.

 

“Aku lebih baik dalam menjaganya dibanding dirimu, Joon.”

 

Tae Joon pun hanya bisa berdecak kesal dan ditertawai oleh istrinya dan juga Rae Hwa.

 

“Kalau begitu, sampai jumpa, oppa. Aku menyangimu. Maaf cintaku masih di Kyuhyun,” ucap Rae Hwa menyunggingkan senyum mirisnya.

 

Tae Joon pun hanya bisa menatap adiknya itu berusaha memberi semangat. “Kembali kesini jika kau sudah bosan disana,” lanjut Tae Joon mengusap kepala adiknya itu pelan dan dijawab senyuman oleh Rae Hwa.

 

“Kakak ipar, aku pergi” ucap Rae Hwa melambaikan tangannya.

 

“Joon, Nara. Kami pergi dulu,” ucap Aiden juga melambaikan tangannya dan dibalas lambaian juga oleh pasangan suami istri itu.

 

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Kyuhyun menghambiskan dirinya seharian dikantor hari ini. Ia merutuki kebodohannya karena menjadi seorang pengecut yang tidak bisa mengucapkan satu kata saja, cinta.

 

Pria itu pun membaringkan tubuhnya ditempat tidurnya dan memiringkan tubuhnya untuk menatap sisi tempat tidurnya yang kosong.

 

“Kyuhyun-ssi.”

 

“Kyuhyun.”

 

“Cho Kyuhyun!”

 

“Kyuhyun. A!”

 

Kyuhyun pun memejamkan matanya karena bayangan gadis itu terus menghiasi otaknya. Suara gadis itu pun tergiang diotaknya. Senyuman gadis itu begitu membekas dibenaknya.

 

Ia merasakan hawa dingin kini menyentuh kulitnya. Ia merindukan pelukan gadis itu. padahal, baru kemarin gadis itu memeluknya dan tidur disini dengannya.

 

Kyuhyun tiba-tiba saja membayangkan apa jadinya jika ia tak melihat gadis itu dalam jangka waktu yang lama. Ia merasa begitu merindukan gadis itu sekarang.

 

Ia ingin gadis itu memeluknya, menciumnya, dan tersenyum kepadanya. Ia merindukan gadis itu, sungguh.

 

Kyuhyun pun membuka matanya dan menatap kosong disampingnya. “Aku sangat merindukannya.” ucap pria itu segera bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil kunci mobilnya.

 

.

.

.

 

Setelah membelah jalanan kota Seoul dengan kecepatannya yang tidak terkira. Akhirnya, kini Kyuhyun telah sampai di rumah Rae Hwa. Pria itu mengetuk pintu itu perlahan.

 

“Ya?” ucap Nara kini membuka pintu itu dan nampaklah Kyuhyun disana membuat Nara terkejut dan segera memanggil suaminya.

 

“Untuk apa kau kesini?” tanya Tae Joon menatap Kyuhyun tajam.

 

“Rae Hwa. Dimana dia? Ada yang ingin kubicarakan dengannya.” jawab Kyuhyun menatap kedalam rumah itu. matanya mencari-cari Rae Hwa.

 

“Apa yang ingin kau bicarakan dengannya?” tanya Tae Joon ketus membuat Kyuhyun segera menatap pria itu tajam.

 

“Itu urusanku.”

 

“Rae Hwa adikku. Jadi ini pun menjadi urusanku,” ucap Tae Joon menatap Kyuhyun tajam.

 

“Aku ingin memberitahu adikmu, aku mencintainya,” jawab Kyuhyun membuat Tae Joon membulatkan matanya terkejut begitupun Nara.

 

“Apa?” tanya Tae Joon terkejut.

 

“Adikku tidak mendapat emas itu, bagaimana bisa kau mengatakan kau mencintainya?” lanjut Tae Joon.

 

“Aku membohonginya. Aku bertahan karena aku ingin meminta sesuatu dari adikmu. Namun, karena aku sedang emosi saat itu membuatku menjadi tidak berfikir jernih. Jika kau mau mengambil emas itu, ambillah. Aku tidak peduli lagi. Sekarang katakan dimana Rae Hwa?” tanya Kyuhyun kini mengedarkan pandangannya lagi.

 

Tae Joon pun berdiri terkejut ditempatnya. Ia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu pria itu. sama halnya dengan Tae Joon. Nara pun terkejut. Dugaannya selama ini ternyata tidak salah.

 

“Adikku di Amerika,” awab Tae Joon akhirnya membuat Kyuhyun menatap pria itu terkejut sekaligus marah.

 

“Dia kembali bersama Aiden siang tadi. Adikku memang tinggal disana setelah lulus SMA. Waktu itu aku menyuruhnya pulang hanya untuk mengambil emas itu darimu. Sekarang, karena sudah selesai, jadi dia kembali.” jelas Tae Joon membuat Kyuhyun mengepalkan tangannya kuat.

 

“Kenapa kau melakukan ini!”

 

“Sudah jelas bukan? Aku ingin membalas dendam padamu karena mengambil emas itu.”

 

“Emas. Emas. Emas. Ambil saja emas itu aku tidak perduli!! Berikan padaku alamat Rae Hwa disana!” perintah Kyuhyun geram membuat Tae Joon menggelengkan kepalanya.

 

“Begitukah caramu meminta pada saudara gadis yang kau cintai?” tanya Tae Joon menampilkan senyum meledeknya.

 

“Kumohon hyung. Berikan padaku alamatnya. Aku bisa gila jika tidak bertemu adikmu.” Ucap Kyuhyun kini menatap Tae Joon memohon membuat Tae Joon dan Nara kembali terkejut di tempatnya.

 

“Kau serius pada adikku?”

 

“Aku sangat serius. Aku mencintainya. Sangat.”

 

Tae Joon pun melirik istrinya dan dijawab anggukan oleh Nara. Ia mengerti tatapan suaminya itu.

 

“Jangan mempermainkan adikku. Sekali kau membuatnya menangis. Maka kau akan mati ditanganku detik itu juga,” ucap Tae Joon kini memberikan secarik kertas pada genggaman Kyuhyun. Secarik kertas yang berisikan alamat Rae Hwa yang ditulis Nara, baru saja.

 

Kyuhyun pun segera menatap kertas itu berbinar dan segera merogoh kantungnya untuk mengambil ponselnya.

 

“Pesan tiket pesawat ke Amerika, paling pagi,” ucap pria itu pada seseorang yang tersambung melalui ponselnya itu.

 

PIP.

 

“Terima kasih banyak. Aku pamit,” ucap Kyuhyun segera melesat kembali ke apartemennya.

 

 

 

Rae Hwa merentangkan tangannya untuk merenggangkan otot-ototnya karena gadis itu baru saja bangun dari tidur siangnya. Tiba-tiba saja ia mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Ya, semenjak lulus kuliah, Rae Hwa memutuskan untuk tidak tinggal dengan bibinya lagi dan pindah ke apartemen. Gadis itu pun mulai turun dan berjalan malas untuk membuka pintu apartemennya itu.

 

“Sabar!” ucap  gadis itu setengah berteriak karena mendengar bel itu tak henti-hentinya berbunyi.

 

CKLK.

 

“Ya?” tanya gadis itu melihat seorang pria yang menundukkan wajahnya.

 

“Rae Hwa. Masakkan sesuatu aku lapar,” ucap pria itu mengangkat wajahnya dan membuat Rae Hwa terkejut ditempatnya.

 

“K—kau kenapa bisa disini?” tanya Rae Hwa menatap pria itu tidak percaya.

 

“Aku lapar.”

 

Gadis pun menatap pria itu semakin tidak percaya dan mencoba menepuk pipinya sendiri.

 

“Kau tidak mempersilahkanku masuk?” tanya pria itu membuat Rae Hwa segera menggeser tubuhnya dan mempersilahkan pria itu masuk.

 

“Kau. Kesini hanya untuk meminta makan?” tanya Rae Hwa kini melihat pria yang sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh apartemennya ini.

 

“Ya.” jawab pria itu mengangguk.

 

“Astaga, Cho Kyuhyun,” decak gadis itu kesal.

 

“Sepertinya sudah lama aku tidak mendengar kau memanggil namaku. Aku merindukannya.” ucap Kyuhyun menatap Rae Hwa menyunggingkan senyumnya.

 

Rae Hwa pun hanya bisa diam dan terkejut lagi. Ia bertanya-tanya ada apa dengan Kyuhyun, pria itu menjadi semakin aneh.

 

“Kau ingin makankan? Ayo!” ucap gadis itu mencoba meperbaiki fikirannya yang sudah berkelana semakin jauh.

 

“Suapi.”

 

“Astaga. Cho Kyuhyun. Kau mau sampai kapan memintaku untuk kau suapi, uh?”

 

“Sampai aku ingin berhenti,” ucap pria itu santai membuat gadis itu mendengus pelan.

 

“Sekarang buka mulutmu,” ucap gadis itu menyodorkan sendok yang berisi makanan itu kepada pria itu. mereka sudah duduk di tempat duduk.

 

Kyuhyun pun menerima suapan itu tersenyum senang.

.

.

.

 

Mereka berdua kini tengah duduk di sofa apartemen itu, dan saling diam satu sama lain.

 

“Sebenarnya untuk apa kau kesini? Tidak mungkin kau hanya meminta makanan. Lalu kenapa kau bisa mendapat alamatku?” tanya gadis itu memecahkan keheningan diantara mereka.

 

“Aku mendapat alamatmu dari Tae Joon. Aku kesini ingin mengundangmu kepernikahanku. Bukankah kau bilang jika aku menikah harus mengundangmu,” balas pria itu membuat Rae Hwa mengepalkan tangannya kuat dan berusaha menahan air matanya.

 

“Oh begitukah? Selamat,” ucap Rae Hwa menatap pria itu tersenyum terpaksa. Sekarang ia menyesal kenapa mengucapkan itu dulu. Ia merasa sakit.

 

“Aku juga membawanya kesini. Kau punya cermin?” tanya Kyuhyun semakin membuat Rae Hwa mengepalkan tangannya kuat. Ia tidak ingin menangis. Tidak.

 

“Pasti dia ingin memperbaiki penampilannya sebelum calon istrinya itu datang.”

 

“Ada dikamarku. Ayo ikut,” ucap gadis itu segera bangkit dan diikuti oleh pria itu.

 

.

.

.

 

“Itu cerminnya!” tunjuk Rae Hwa pada cermin yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Kyuhyun pun mulai berjalan kearah cermin itu, dan kini berdiri didepannya. Pria itu pun mengeluarkan dasi dari kantungnya dan menatap gadis itu.

 

“Kemarilah. Bantu aku memasangkan dasi,” ucap Kyuhyun membuat Rae Hwa menhembuskan nafasnya untuk menghilangkan sesak didadanya. Gadis itu pun berjalan menghampiri Kyuhyun dan mulai memasangkan dasi yang diminta pria itu.

 

“Senangnya. Istriku bisa setiap hari melakukan ini,” ucap Kyuhyun membuat Rae Hwa menghentikan gerakannya sejenak. Airmata gadis itu semakin mendesak keluar.

 

“Sudah.” ucap Rae Hwa pelan karena dia ingin menyamarkan suara paraunya.

 

“Terima kasih.” ucap pria itu dan dijawab anggukan oleh gadis itu.

 

“Rae Hwa.”

 

“Ya.”

 

“Calon istriku ada disampingmu.”

 

Rae Hwa pun segera memutar tubuhnya kearah samping, dan yang ia lihat hanya cermin dengan pantulan Kyuhyun dan dirinya.

 

“Mana? Tidak ada. Hanya cermin.” ucap Rae Hwa masih menatap cermin itu.

 

“Gadis dalam cermin itu calon istriku.”

 

Rae Hwa pun tak bisa menahan airmatanya. Airmata gadis itu telah menetes dan menatap pantulannya dicermin itu. ia mengerti sekarang. Sungguh.

 

“Aku sangat mencintainya. Aku ingin dia menyebut namaku setiap harinya. Aku ingin dia tersenyum kepadaku. Ingin dia memelukku setiap malamnya. Menyuapiku setiap hari. Memasangkan dasi ku setiap hari. Menciumku setiap hari. Dan aku ingin menjadi pria yang satu-satunya menjadi korban mimpinya” lanjut Kyuhyun menatap cermin didepannya. Tangisan Rae Hwa pun semakin menjadi dan semakin menatap dirinya dicermin itu.

 

“A—aku kalah. Kau tidak mencintaiku dan tidak tergoda padaku. Emas itu tidak jatuh ketanganku. J—jadi, bagaimana bisa kau mengungkapkan itu.” ucap gadis itu masih dengan tangisannya dan menatap Kyuhyun disampingnya.

 

“Maaf aku membohongimu. Dan soal emas itu. aku tidak perduli lagi. Kau mau mengambilnya beserta milikku lainnya pun aku tidak perduli.”

 

“Sung Rae Hwa, aku mencintaimu. Sangat,” ucap Kyuhyun memegang bahu Rae Hwa dan menatap gadis itu serius.

 

Rae Hwa semakin tidak bisa menghentikan tangisannya. Membuat Kyuhyun kini memegang wajah gadis itu dan menghapus airmata gadis itu.

 

“Menikahlah denganku, Sung Rae Hwa,” ucap pria itu masih menatap dalam mata gadis itu.

 

Dengan cepat Rae Hwa pun memeluk pria itu dan memperkuat laju tangisannya.

 

“Kau jahat, sangat jahat! Brengsek! Bajingan!” seru gadis itu semakin memeluk Kyuhyun erat.

 

“Jadi, menikah denganku?” tanya Kyuhyun mengusap punggung gadis itu pelan.

 

“Ya, bajingan! Kau memang brengsek! Astaga bagaimana bisa aku juga mencintaimu! Bagaimana bisa aku menerima pria brengsek seperti mu!” seru gadis itu masih memperkuat tangisannya dan memeluk erat pria itu.

 

Kyuhyun pun tersenyum tipis dan mengusap punggung gadis itu pelan.

 

Rae Hwa pun melepaskan pelukannya dan menatap pria itu dengan seggukan.

 

“Astaga, kau bilang aku tidak tergoda padamu? Aku hampir gila karena tidak menyentuhmu. Kau harus tau itu.” ucap Kyuhyun menatap Rae Hwa dalam.

 

Rae Hwa pun memajukan wajahnya dan mengecup bibir pria itu dan menariknya.

 

“Kau menggodaku? Baiklah!” ucap Kyuhyun kini mencium bibir gadis itu.

 

Kyuhyun melumat bibir itu dengan lembut, begitupun Rae Hwa yang membalasnya dengan lembut. Gadis itu sudah mengalungkan tangannya di leher pria itu. dan pria itu pun telah memeluk pinggang gadis itu untuk mendekat.

 

Ciuman pria itu pun beralih keleher gadis itu membuat gadis itu hanya bisa memejamkan matanya geli. Dan pria itu kembali mencium bibir gadis itu. namun, kali ini dengan tempo yang sedikit cepat. Membuat gadis itu pun membalasnya dengan kecepatan (v=s/t ._.V) yang sama.

 

Tangan kanan Kyuhyun kini tengah menyelupkan tangannya kedalam kaus gadis itu dan mengusap punggung gadis itu pelan. Dan kemudian berpindah ke perut rata gadis itu dan mengusapnya pelan.

 

Kyuhyun pun melapaskan ciumannya dan menarik tangannya. Kemudian menatap gadis itu dalam.

 

“Rae Hwa. Kau harus bertanggung jawab,” ucap pria itu segera mengangkat tubuh Rae Hwa dan meletakkan tubuh gadis itu ditempat tidur yang tidak jauh dari mereka.

 

Kyuhyun pun membuka kemejanya dan mengunci gadis itu dengan tubuhnya. Lalu segera meraup bibir gadis itu lagi. Rae Hwa pun kembali mengalungkan tangannya di leher pria itu dan membalas ciuman itu. kali ini ciuman Kyuhyun kembali ke leher gadis itu membuat gadis itu memejamkan matanya menahan rasa gelinya. Pria itu pun melepas ciumannya dan menarik ujung kaos gadis itu keatas dan menyisakan bra gadis itu.

 

Kyuhyun kembali menghujani gadis itu dengan ciumannya. Dan tangan pria itu yang membelai lembut perut gadis itu dan juga membelai lembut payudara gadis itu. Kyuhyun pun melepaskan bra gadis itu dan membuangnya cepat.

 

Rae Hwa pun bergerak gelisah ditempatnya karena gejolak dalam dirinya merasakan sentuhan lembut Kyuhyun pada payurdaranya. Pria itu memijatnya pelan dan mendaratkan ciumannya di kedua payudara itu dan turun ke perut gadis itu lalu kembali melumat bibir gadis itu.

 

Kyuhyun kemakin menempelkan tubuhnya ke gadis itu dan gadis itu pun hanya bisa menaruh tangannya di punggung pria itu dan mengusapnya disana.

 

Kyuhyun pun menghentikan ciumannya dan kini menatap mata gadis itu.

 

“Aku benar-benar bisa gila. kita harus pulang ke Seoul besok. Dan kau harus berperang diranjang denganku seharian penuh!!”

 

“Kau brengsek.”

 

Yes, I am.”

 

Dan Kyuhyun pun kembali melumat bibir gadis itu. kemudian, berlanjutlah kepercintaan mereka yang lebih panas. Memecahkan keheningan hari yang sudah semakin gelap…

 

.

.

.

 

END.

 

Jangan demo._. belum hari buruh._.V sampai jumpa dilain waktu~ ^^

40 thoughts on “Fail Part 5 END

  1. Yang aku rasain saat mbaca ini, alurnya kecepatan.
    Ide ceritanya menarik, tp krn buru-buru, feelnya kurang dapat jadinya
    Btw, ttp berkarya ya cingu
    N buat crt yg lbh bgs lg qey..

    Suka

  2. Baru juga ditinggal beberapa jam udah sakit, gimana selamanya? Hahaha… Kyuhyun lucu ya kalo udah cinta, langsung panggil hyung ke Taejoon. Bayangin mukanya Raehwa waktu lihat Kyuhyun di depan pintunya pasti..kya! Nice story ^^

    Suka

  3. akhirx happy end…
    walau critax mrk blm mnikah, tp syukurlah mrk bsa brsama
    akhirx si kyu mngakui kkalahanxxx
    n skrg dia ga prduli lg ma emas2 i2
    asalkan rea hwa brsamax bruntunglah si ooppa ga ngelaran lope mreka……

    Suka

  4. Kyuu… Udaah nikah aja nihh,gaa pacaran dulu gtu?wkwkwk… Haduh kuraang kaak,kalo bisa ada sequelnyaa yaa kak^^ ditunggu juga karya yang lain😀

    Suka

  5. Akhirnya kyuhyun n rae hwa happy endinggg … Senengnyaaaaa …
    Good job author n adminnnn

    Tapi bagian endingnya kurang sedikit bumbu yadong nyaaa hihihihi

    Dan nasib aiden gimana ?

    Suka

  6. Akhirx kyuhyun mampu mengungkalkan rasa cintax jg…
    kirain bkalan dipendem gtu aja…
    sneng bgt akhirx kyuhyun ama rae hwa bhagia bersama…

    Suka

  7. Ooow akhir yg panas eoh? Hehehe great thor bacaan yg menarik untuk dibaca dan kyu and hwa nya sangat akhhhh gimana ya njelasinnya tak bisa di katalah pokoknya bener2 suka sm ff ini tp kayaknya buat lebih memuaskan harus ada sequelnya nih. Penasaran sm kehidupan mereka setelahnya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s