Break The Forecast Part 3


 

Author : Auroragong-ju

Tittle : Break the Forecast

Category : NC21, Yadong, Romance, Chapter

Cast :

  • Cho Kyu Hyun
  • Ji Yeon Hee

Other Cast :

  • Henry Lau
  • Lee Ye Eun

***

 

‘Mimpi itu terkadang dibawa oleh ingatan atas kejadian yang terjadi sebelum mata terpejam. Kemudian, otak akan mengolahnya sedemikian rupa hingga menjadi sebuah kisah yang lain.’

 

***

 

Bab 3

 

Yeon Hee mengedarkan pandangan di tengah ruangan, di mana terdapat banyak sekali kain-kain putih transparan yang menjuntai dan beterbangan ditiup angin. Semakin dibekap keingintahuan, Yeon Hee semakin melangkahkan kakinya. Mendadak mata Yeon Hee menyipit. Tak jauh dari hadapannya, sosok Cho Kyu Hyun tampak menunggu kehadirannya dengan memasang tubuh tegap. Kesan yang timbul sama. Aneh.

 

Putih.

 

Yeon Hee kembali merasa bingung dengan situasi yang tengah ia alami ini. Sayang, bibirnya terkunci dan ia tidak tahu di mana kunci yang cocok untuk membukanya. Kembali melangkah dengan kaki telanjang, Yeon Hee meyakinkan diri untuk menghampiri Kyu Hyun yang tampak aneh dengan setelan putih dan sama seperti dirinya… bertelanjang kaki.

 

Pandangan mereka beradu, bahkan menjadi sangat dekat setelah Yeon Hee bergerak mengikis jarak diantara mereka. Keanehan selanjutnya terjadi, tatapan Kyu Hyun ke arahnya tak tampak seperti tatapannya sehari-hari. Tak hanya sampai di sana, hal yang membuat kening Yeon Hee semakin mengkerut adalah gerakan Kyu Hyun yang menyentuhkan kening mereka. Sayangnya, Yeon Hee tidak menemukan suhu tubuh Kyu Hyun. Ya, ia bahkan tidak bisa merasakan dingin, hangat, atau panas dari kulit pria itu.

 

Mata Yeon Hee melebar. Ketika akan menjauhkan kontak mereka, Kyu Hyun langsung menahan tengkuknya. Lagi, Yeon Hee tidak merasakan suhu tubuh Kyu Hyun, hanya perasaan berat yang bertahan di tengkuknya. Bibirnya pun sekuat tenaga ia buka dan sialnya tidak ada yang berubah. Semuanya masih membisu.

 

Cho Kyu Hyun, tidak!

 

Walau mencoba menahan gerakan Kyu Hyun, tak ada hasil di tiap usaha yang Yeon Hee lakukan. Hanya Kyu Hyun yang kini menjauhkan kening mereka. Pun, hal itu tak berlangsung lama. Perlahan, pergerakan Kyu Hyun berubah, pria itu semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Yeon Hee, membuat lawan mainnya kelabakan.

 

Apa yang dipikirkan pria gila ini? Cho Kyu Hyun! Ini tidak benar!

 

Belum sempat Yeon Hee bertindak, pertemuan dua material lembut itu terjalin. Di sanalah akhirnya Yeon Hee merasakan suhu tubuh Kyu Hyun. Hangat dan… bibir yang lembut. Kemudian, pertautan bibir itu berbalas di saat Yeon Hee mulai terhanyut dengan sesapan Kyu Hyun di bibir bawahnya. Lembut. Manis. Begitulah kata per kata yang mendikte Yeon Hee untuk semakin menceburkan diri ke dalam nafsunya yang merangkak naik. Tangan Kyu Hyun juga mulai meraba-raba di setiap inci tubuh Yeon Hee, membuat tubuh keduanya semakin menempel.

 

“Eummmhhh…” lenguhan Yeon Hee terdengar di sela napas Kyu Hyun yang mulai terdengar memburu.

 

Tak lama, ciuman keduanya terlepas, tetapi Kyu Hyun tak membiarkan Yeon Hee jauh darinya. Tangannya yang kini sudah berada di pinggang Yeon Hee, ia gunakan untuk mengunci gerakan tubuh gadis itu. Keningnya juga sengaja ia tempelkan di kening Yeon Hee agar ia bisa menerpakan napasnya ke wajah Yeon Hee—membuat Yeon Hee terus memejamkan mata dengan pipi memerah—kemudian, Kyu Hyun tersenyum di tengah kegiatannya itu.

 

Tangan Yeon Hee tanpa sadar memegang lengan atas Kyu Hyun yang terasa liat dan keras, bentuk dari respons yang dikirimkan dari otaknya. Menyakini akan keselamatan dirinya di balik kungkungan Kyu Hyun, Yeon Hee melemaskan otot-otot tubuhnya yang tegang. Jujur, ia semkain terbuai dan tak tahu arah. Satu hal yang kini ia percaya, Cho Kyu Hyun. Entah bagaimana ia bisa sepercaya itu pada pria yang sering membuatnya emosi setengah mati. Setidaknya, di situasi dan tempat yang tidak ia ketahui, ada Kyu Hyun bersamanya. Menciumnya. Mencumbunya. Menghangatkannya.

 

Yeon Hee semakin berani mendesah. Begitupun Kyu Hyun juga semakin berani mencumbu Yeon Hee. Ia lumat daun telinga Yeon Hee sambil sesekali memberikan jilatan di telinga yang mulai memerah itu. Lumatan itu terhenti ketika tangannya mulai masuk ke dalam pakaian Yeon Hee dan tak kalah lagi, bibirnya ia sapukan ke leher cukup jenjang yang Yeon Hee miliki.

 

Perlahan, Kyu Hyun mengangkat tubuh Yeon Hee dan membaringkannya di atas hamparan kasur yang sangat luas bernuansa putih. Ciuman kembali ia layangkan di bibir Yeon Hee yang sudah memerah dan bengkak. Lalu Yeon Hee? Gadis itu setia dengan pejaman matanya dan rasa lapangnya untuk menikmati setiap sentuhan tangan Kyu Hyun di tubuhnya. Sensasi itu membuatnya mabuk dan melayang, bahkan rasanya lebih nikmat dibandingkan efek melayang akibat alkohol. Hingga akhirnya membuatnya melupakan rasa malu ketika helai demi helai pakaian mulai terlepas dan Kyu Hyun pun melakukan yang sama pada dirinya sendiri. Menunjukkan tubuh kokohnya yang sangat menawan, berbanding terbalik dengan tubuh Yeon Hee yang mungil dan tampak rapuh, tetapi padat di beberapa bagian. Sungguh, keduanya terlalu sibuk memuji mahakarya Tuhan yang sedang terpampang nyata di depan mata kepala mereka.

 

Tiba-tiba Kyu Hyun tersenyum lembut, tangannya juga tak kalah lembut untuk menyingkirkan anak-anak rambut yang menutup kening Yeon Hee. Ciuman di bibir Yeon Hee menyusul kepindahan tangan Kyu Hyun yang bergerak untuk menautkan kaki gadis itu pinggangnya. Baby-kiss yang awalnya ringan, kini menjadi lumayan menggebu dan menuntut. Juga, tangan Kyu Hyun mengeksplor setiap inci tubuh Yeon Hee yang sangat lembut. Sampai akhirnya, Kyu Hyun mengambil kesempatan atas tubuh Yeon Hee. Ia telusupkan inti tubuhnya untuk masuk ke pusat tubuh Yeon Hee yang basah dan rapat.

 

“Ohhh…” pekik Yeon Hee diikuti keningnya yang berkerut. Namun, matanya tetap terpejam, karena ia tak memiliki daya untuk membuka matanya walau hanya sebentar saja untuk melihat penyatuan tubuh mereka.

 

Rasanya Yeon Hee ingin beteriak untuk meminta berhenti, tetapi yang bisa ia lakukan hanya memekik sesekali mendesah. Bibirnya sungguh sulit diatur. Bahkan, matanya semakin enggan terbuka dan ia hanya mengetahui semua hal yang terjadi dengan indra perabanya. Kulitnya bergesekan dengan kulit panas Kyu Hyun. Juga, tangannya yang dikunci Kyu Hyun di atas kepala. Semuanya terasa membakar dan terus membangunkan sisi liar dalam dirinya.

 

Bersamaan dengan itu, gerakan Kyu Hyun semakin gila. Desahannya yang samar dan berat, bercampur dengan desahan erotis Yeon Hee yang keras dan intens. Seintens kedutan di bawah sana. Kemudian, Kyu Hyun mengubah posisinya menjadi berlutut, dengan kedua kaki Yeon Hee yang semakin erat menjepit pinggangnya.

 

Ini gila! Kenapa senikmat ini? Katanya yang pertama sakit, tapi ini… luar biasa nikmat.

 

Yeon Hee semakin memejamkan matanya erat dan semakin meracau tidak keruan di tengah desahan akibat hentakan-hentakan liar nan intens di dalam tubuhnya. Beda halnya dengan Kyu Hyun yang membuka matanya lebar walau sesekali memejam menikmati pijatan nikmat pada pangkal tubuhnya di dalam sana. Juga, melihat ekspresi horny Yeon Hee membuat nafsunya semakin naik.

 

Kyu Hyun semakin mempercepat gerakan pinggulnya dan memegang pinggang Yeon Hee yang menggelepar ke sana-kemari. Senyum puasnya terbit kala Yeon Hee menunjukkan kenikmatannya dengan mendesah sejadi-jadinya. Gadis yang berada di bawahnya ini juga menyentakkan kepalanya ke kanan dan kiri seolah disiksa kenikmatan. Ditambah, jari-jari lentiknya mencengkeram kain putih di bawahnya yang sudah tidak beraturan. Kemudian, disentakan terakhir—yang keras dan dalam—Kyu Hyun langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Yeon Hee, dan segera memeluk tubuh gadis itu yang bergetar tak kalah hebat.

 

“Ahhhh…” lenguhan itu terlepas bersamaan ketika keduanya meledak hebat dan intens.

 

Mereka semakin erat memeluk tubuh satu sama lain, berbagi sisa-sisa keindahan yang telah mereka buru bersama.

 

 

***

 

 

Yeon Hee membuka matanya sangat lebar ketika merasakan kedutan di pusat tubuhnya. Kemudian, pandangannya mengedar. Tidak ada nuansa putih yang dominan di tempat ia membuka mata ini. Tangannya yang masih terasa lemas, kini ia gerakkan untuk menyeka keringat di lehernya yang sangat mengganggu. Lalu, Yeon Hee mengerjapkan matanya sekali lagi.

 

Astaga… aku bermimpi erotis.

 

Yeon Hee langsung melongo menyadari momen panas yang masih bercokol di kepalanya tadi, tak lain dan tak bukan adalah sebuah mimpi. Hal itu membuatnya menghela napas panjang dan tangannya ia gerakkan lagi untuk menyentuh pipinya yang terasa panas.

 

Ini gila! Kenapa aku harus melakukannya dengan Kyu Hyun? Jangan-jangan, ramalan itu…

 

“Tidak!!!”

 

Pintu kamar Yeon Hee terbuka lebar dan menampakkan Jun Jin yang hanya mengenakan celana dalam saja.

 

“Astaga, Oppa!” Yeon Hee yang terkejut langsung menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Bahkan, ia juga langsung membuang muka ke arah lain.

 

Melihat respons adiknya, Jun Jin mengernyit bingung. Biasanya juga sang adik santai ketika melihat dirinya berkeliaran hanya menggunakan celana dalam saja. Bahkan, tak jarang pula sang adik menatap tubuhnya dengan saksama dan memberikan kritikan di sana-sini ketika melihat perubahan pada tubuhnya. Seperti; bertambah gemuk sedikit atau kebalikannya.

 

Seolah mendengarkan alarm di dalam kepalanya, Jun Jin langsung sigap menyusun skenario untuk mengusili sang adik.

 

“Kau baru saja mimpi erotis, ya?” tanya Jun Jin sambil tersenyum lebar dan mulai melancarkan ide jailnya.

 

Respons Yeon Hee sungguh menggelikan. Gadis itu tetap menutup wajahnya dan kembali masuk ke dalam selimut. Melihat hal itu, senyum jail Jun Jin semakin melebar. Di otaknya semakin banyak bermunculan ide-ide untuk mem-bully adiknya yang sering kurang ajar itu. Perlahan, Jun Jin berjalan mengendap-endap mendekati sang adik yang masih bersembunyi di balik selimut.

 

“Hoaa…” Jun Jin langsung melompat dan melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur; menindih tubuh Yeon Hee.

 

Oppa! Berat!” teriak Yeon Hee di balik selimut.

 

Bukannya turun dari tubuh adiknya, Jun Jin malah terkekeh dan semakin menggerak-gerakkan tubuhnya sampai membuat ranjang sang adik berdecit.

 

Oppa, turun! Astaga, tubuhmu seperti gorilla hamil! Berat!”

 

“Apa kau bilang?”

 

“A… Eomma… Appa!”

 

Keduanya masih saja saling bergulat di atas ranjang, dengan Yeon Hee yang masih di bawah selimut dan Jun Jin yang menindih tubuhnya di atas selimut sambil tertawa terbahak-bahak. Hingga tak lama, mereka mendengar langkah kaki dari arah luar kamar Yeon Hee. Kemudian, suara itu berganti menjadi suara pekikan ibu mereka dan bercampur dengan tawa ayah mereka.

 

“Astaga Ji Chung Jae! Apa yang kau lakukan?!” teriakan sang ibu menggelegar sampai membuat burung-burung yang hinggap di balkon samping kamar Yeon Hee langsung mengepakkan sayap dengan ketakutan.

 

“Hahaha…”

 

Eomma, tolong aku!”

 

Dengaan langkah lebar, nyonya besar di rumah ini langsung mendekati ranjang berdecit yang sangat menyedihkan milik anak keduanya. Tanpa membuang waktu, ia pukul kepala Jun Jin sampai pria itu memekik dan menghentikan aksinya. Senyum Jun Jin juga langsung sirna dan hanya menyisakan ringisan diikuti gerakan mengelus kepalanya yang berdenyut.

 

Eomma, kenapa keras sekali memukul kepalaku? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan otakku?”

 

“Setidaknya kau bisa lebih waras, duhai Ji Chung Jae oppa.” Yeon Hee menekankan kalimatnya pada bagian nama asli Jun Jin. Hingga membuat si pemilik nama semakin melipat wajahnya.

 

“Astaga, nama itu…”

 

Kedua orang tua mereka sama-sama menggelengkan kepala melihat segala kelakuan dua anak yang memiliki karakter tak jauh berbeda. Namun, Yeon Hee jauh lebih normal dibanding Jun Jin yang sungguh konyol karena merasa malu dengan namanya. Benar-benar konyol.

 

“Sudahlah, segeralah mandi dan sarapan,” ucap nyinya Ji sembari berkacak pinggang. Kemudian, ia menunjuk ke arah Jun Jin. “Berkeliaranlah menggunakan celana dalam, asal jangan yang berwarna putih.”

 

Bukannya malu, Jun Jin hanya menatap bagian bawahnya dan langsung terpingkal. Beda halnya dengan Yeon Hee yang kembali menyembunyikan diri di balik selimut. Ingatannya langsung kembali ke mimpi erotis antara dirinya dan Kyu Hyun. Kemudian, ia mengerjap saat pikiran mesumnya mulai beraksi. Apa warna celana dalam yang Kyu Hyun kenakan semalam di alam mimpi, ya?

 

“Heh… anak nakal, kau kenapa? Jangan-jangan benar ya semalam mimpi vulgar?” tanya Jun Jin dengan santai sambil menyibakkan selimut dari wajah Yeon Hee.

 

Oppa…”

 

“Ji Chung Jae!”

 

“Oh… aku serius, Appa. Biasanya dia biasa saja, bahkan santai saat melihat aku telanjang. Tapi, tadi dia berteriak histeris. Atau…”

 

Semua mata menatap ke arah Jun Jin penuh antisipasi, terutama Yeon Hee.

 

“Atau apa?” tanya Yeon Hee dengan panik.

 

Seringaian di wajah Jun Jin kembali muncul. “Jangan-jangan semalam kau melakukan seks dengan Cho Kyu Hyun setelah diramalkan akan berjodoh sampai mati? Woa… aku tidak menyangka kalau kau sudah dewasa.”

 

“Benar itu, Sayang?” tanya nyonya Ji dengan tatapan berbinar. Keanehan kesekian kali di keluarga Ji ini.

 

“Astaga… tidak!”

 

“Berarti opsi pertama, kau mimpi erotis. Katakan, kau mimpi melakukan seks dengan siapa?” goda Jun Jin dengan berapi-api, apalagi wajah Yeon Hee semakin memerah. “Kyu Hyun, ya?”

 

“Menggosip saja!”

 

“Ah… pantas saja semalam aku mendengar desahan tak kunjung henti. Aku pikir Appa dan Eomma pelakunya, tapi ternyata kau, ya?”

 

“Benarkah? Aku mendesah?”

 

Melihat wajah melongo sang adik, Jun Jin langsung terbahak dan berkata, “Kena, kau!” kemudian, ejekan demi ejekan Jun Jin layangkan hingga membuat Yeon Hee sebal. Tanpa disangka, Yeon Hee menjambak rambut sang kakak sampai si anak pertama yang luar biasa mempermalukannya itu kehilangan tawa.

 

Tak ada leraian dari orang tua mereka. Yang ada, pasangan separuh baya itu malah melenggang pergi sembari berkata, “Anak-anak kita benar-benar sudah tumbuh dewasa.”

 

 

***

 

 

Suasana berbeda terjadi di kediaman keluarga Kyu Hyun. Bahkan, suara di rumah mereka terasa riuh karena suara burung liar yang bercicit ke sana-kemari. Bukan suara komunikasi antarmanusia. Apalagi si pangeran di rumah ini masih asyik menikmati mimpinya dengan satu tangan yang sibuk di pusat tubuhnya. Mulutnya yang terbuka, tak lepas dari desahan hingga akhirnya bermuara pada lenguhan kasar. Matanya yang terpejam, semakin terpejam erat dengan ekspresi penuh kepuasan. Hingga akhirnya, kenikmatan itu terganggu dengan suara ponselnya yang menggelegar.

 

“Aish!” umpat Kyu Hyun yang tampak enggan membuka mata walau tangannya bergerak untuk meraba-raba nakas di sisi kanan ranjangnya.

 

Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti dan matanya langsung terbuka lebar. Telapak tangan yang tadinya ia usap-usapkan untuk mencari ponsel, kini ia tatap. Tangan itu basah. Tak lama, ia membuka selimutnya dan menatap bagian bawah tubuh dan sekitarnya yang sangat basah.

 

“Ck!”

 

Kyu Hyun kembali melupakan cairan miliknya yang bercecer di ranjangnya, ketika ponselnya kembali berteriak dan membuat kebisingan. Hanya orang sok penting yang pagi-pagi begini mengganggu tidur orang! Kyu Hyun mengomel dalam hatinya. Dan benar saja, setelah membaca nama kontak yang tengah menghubunginya, Kyu Hyun langsung melabelinya sebagai ‘orang sok penting yang selalu mengganggu’.

 

“Apa?” tanya Kyu Hyun dengan ketus.

 

“Jam 10 nanti akan ada meeting. Kau harus membawa sample projek game terbarumu.”

 

“Sialan! Bisakah kau berhenti membahas itu?”

 

“Aku hanya ingin mengingatkanmu.”

 

Sebelum Kyu Hyun menyembur rekan kerjanya dengan umpatan dan makian lainnya, terdengar suara ketukan pintu, disusul suara lembut Ye Eun yang memintanya untuk segera turun ke ruang makan.

 

Akhirnya, dengan gerakan cepat, Kyu Hyun membereskan keonaran yang ia buat tanpa sadar karena hormon laki-lakinya itu. Ketika ia melintasi jendela, Kyu Hyun segera membuka gorden dan menatap beranda rumah tetangga sebelah. Pemandangan sisi rumah keluarga Ji yang menghadap ke sisi kamarnya selalu seperti itu. Pintu menuju balkon yang selalu tertutup dan tirai yang juga tak pernah digeser. Sejak dulu Kyu Hyun heran, apakah Yeon Hee tidak pengap jika siang hari gorden kamarnya tidak pernah dibuka? Padahal Kyu Hyun juga melihat lampu kamar itu selalu mati di pagi sampai sore hari.

 

Tunggu… Kyu Hyun menyadarkan dirinya dari kelakuan bak penguntit menggelikan yang tengah ia lakukan ini. Ingatannya kembali pada mimpi seks antara dirinya dan Yeon Hee yang membuatnya mengalami mimpi basah setelah beberapa hari terakhir ini absen. Nyatanya, mimpi berhubungan intim dengan Yeon Hee ini bukanlah pertama kalinya untuk Kyu Hyun. Ia bahkan sudah sering menjadikan Yeon Hee sebagai objek fantasinya sejak pertama kali ia mengalami mimpi basah. Jangan heran, hal itu bermula karena Yeon Hee-lah gadis remaja yang paling dekat dengan Kyu Hyun dan sering Kyu Hyun temui, bahkan sebelum tidur pun Kyu Hyun bisa melihat siluet tubuh Yeon Hee yang beraktivitas walau sekadar mondar-mandir atau duduk di meja belajar.

 

Oppa…” suara Ye Eun memutus pemikiran Kyu Hyun tentang Yeon Hee. Ketukan pintu kemudian menggantikan suara lembut Ye Eun yang sangat khas.

 

“Aku akan segera turun,” balas Kyu Hyun yang kemudian berjalan ke kamar mandi dengan langkah santai.

 

Ketika Kyu Hyun memasuki ruang makan, ia melihat semua anggota keluarga sudah duduk di kursi masing-masing dan langsung menatap ke arahnya. Ye Eun menjadi orang pertama yang menoleh dan langsung melemparkan senyum manisnya.

 

Oppa ingin makan apa?” tanya Ye Eun yang segera mengambil sumpit dan bersiap mengambilkan lauk untuk Kyu Hyun.

 

“Biar aku sendiri saja,” balas Kyu Hyun setelah dirinya duduk.

 

Melihat respons Kyu Hyun yang cukup dingin, Ye Eun mendadak dibekap kesedihan. Kemudian, ia menunduk dan menahan tangisnya. Selama ini, Kyu Hyun jarang sekali marah terhadap dirinya. Walau sedih, tetapi Ye Eun segera menatap ke arah Kyu Hyun dan bertanya, “Apakah Oppa bersikap seperti ini karena kejadian tempo hari?”

 

“Kejadian apa?” tanya Kyu Hyun seolah tidak ingat apapun. Bahkan, pria itu terlihat mulai menyantap sarapannya.

 

Ye Eun menggaruk ibu jari tangan kirinya dengan ibu jari tangan kanan. Kepalanya juga kembali menunduk seolah ia merasa bersalah setelah melakukan kesalahan besar. “Henry yang membuat Yeon Hee marah,” balas Ye Eun dengan suara yang sangat pelan.

 

Kontan obrolan keduanya itu tak luput dari perhatian orang tua mereka. Bahkan, Kim Hana bersiap untuk menengahi, tetapi langsung dihentikan oleh suaminya. Bagi Lee Tae Sup, Ye Eun memang harus sering-sering ditegur seperti itu jika melakukan kesalahan, agar putri kandungnya ini dapat belajar lebih dewasa lagi. Ia juga sangat mengapresiasi cara Kyu Hyun menegur putrinya. Kemudian, hati kecilnya menyuarakan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan. Seandainya saja mereka bukan kakak dan adik tiri, aku akan meminta mereka untuk segera menikah. Dengan sepenuh hati, kuberikan Ye Eun pada Kyu Hyun.

 

“Ya.”

 

Jawaban singkat Kyu Hyun itu menarik Lee Tae Sup untuk mendongak. Ada sejumput rasa kecewa yang melintas dalam hatinya. Ia tahu dan kenal Henry ataupun Yeon Hee, hal itulah yang membuatnya paham dengan obrolan para muda-mudi di hadapannya. Hanya saja, Tae Sup tidak begitu suka dengan kalimat yang mengatakan jika Kyu Hyun sangat cocok dengan Yeon Hee, lalu Ye Eun sangat cocok dengan Henry. Kemudian, tatapannya berpindah ke Ye Eun yang mulai mengangkat kepala. Walau ia membenarkan perilaku Kyu Hyun terhadap Ye Eun. Namun, rasa kasihan tetap tak bisa lepas dari dalam dirinya untuk Lee Ye Eun, putri kecilnya yang sudah tumbuh dewasa dengan cepat.

 

“Aku dan Henry akan segera meminta maaf pada Yeon Hee, jadi Oppa berhenti mendiamkanku.”

 

Kyu Hyun kemudian tersenyum dan meletakkan sumpitnya. Ditatapnya Ye Eun dan tangannya dengan segera membelai kepala adik tirinya itu. “Aku hanya tidak suka kalau kalian memanfaatkan orang lain dan melupakan bagaimana caranya berterima kasih. Yeon Hee sudah melakukan banyak hal untuk kalian. Dia yang seorang diri menyelesaikan pekerjaan kalian, tetapi kalian malah bersikap buruk terhadap dirinya. Itu bukan tindakan terpuji.”

 

Ye Eun mengangguk. “Maaf…”

 

“Ya sudah, makanlah.”

 

Akhirnya mereka semua mampu bernapas lega setelah petuah pagi yang Kyu Hyun berikan. Di lain sisi, walau Ye Eun terlihat menerima dan menyadari kesalahan dirinya. Sebenarnya, ada perseteruan dalam diri yang ia tahan agar tidak tampak. Ia tidak suka jika Kyu Hyun lebih membela Yeon Hee dibanding dirinya.

 

 

***

 

 

Yeon Hee berjalan keluar sembari mengikat rambutnya dengan asal. Blus sifon warna putih tanpa motif yang ia pakai terlihat miring di bagian pundak. Sampai membuat sang kakak berteriak dari pintu mobil. Namun, memang Yeon Hee yang sibuk sendiri, jadi suara kakaknya tidak ia dengarkan. Dan Jun Jin pun merasa lelah melakukannya, akhirnya pria itu hanya diam dan berharap adiknya segera sadar.

 

“Ji Yeon Hee.”

 

Yeon Hee terlonjak kaget. Matanya yang sebelumnya melihat semua obyek dengan datar, kini memelotot dan penuh keterkejutan. Pria berkulit pucat yang mengisi mimpi panasnya malam tadi, tiba-tiba berhenti di hadapannya.

 

Membuat jantungku mau copot saja!

 

“Kenapa?”

 

“Tali bra mu benar-benar menusuk mata,” ucap Kyu Hyun dengan santai sambil menunjuk tali bra yang terpampang di pundak kanan Yeon Hee.

 

Dengan gerakan bak slow motion, Yeon Hee mengikuti arah jari telunjuk Kyu Hyun. Seketika ia menarik bagian atas blusnya dan langsung menutup pundaknya yang terekspose. Sialnya, wajahnya sudah memerah. Ekspresi Kyu Hyun benar-benar mengingatkannya akan kegiatan mereka di alam mimpi.

 

“Apa lihat-lihat?” tanya Yeon Hee dengan ketus sebagai bentuk usahanya untuk menyembunyikan rasa malu dan ia segera berlari menyusuri jalanan menurun di depan rumahnya dan sesegera mungkin sampai di halte bus depan sana.

 

Kyu Hyun mengangkat bahunya dan berjalan dengan santai mengikuti arah perginya Yeon Hee. Ia yang berpenampilan cukup formal, walau tetap masih dominan casual, masih mengingat jelas warna tali bra yang Yeon Hee kenakan. “Merah muda,” gumam Kyu Hyun yang menahan senyumnya. “Mirip seperti bra yang ia kenakan tadi malam,” lanjut Kyu Hyun yang mengingat-ingat mimpi kebersamaan mereka.

 

Tanpa Kyu Hyun dan Yeon Hee sadari, Jun Jin mengamati keduanya. Ia yang sudah keluar dari mobil sejak tadi, seolah menangkap sinyal aneh dari kedua anak manusia dengan sifat yang jauh berbeda. Sambil membasahi bibir bawahnya—gaya andalan Jun Jin yang membuat bibirnya disebut seksi—juga menelengkan kepalanya ke sisi kanan, Jun Jin kemudian bergumam, “Kedua anak itu, mungkinkah mereka saling mengirimkan foto saat mereka hanya mengenakan pakaian dalam saja? Kyu Hyun saja sampai tahu warna bra yang Yeon Hee pakai semalam. Atau… janan-jangan semalam mereka benar-benar melakukannya?”

 

Pada akhirnya, Jun Jin menyerah oleh waktu karena sadar jika hari sudah beranjak siang. Bisa-bisa ia mendapat omelan dari Eric dan anggota Shinhwa yang lain. Urusan Kyu Hyun dan Yeon Hee akan ia usut di lain waktu. Jun Jin juga tampak santai, karena ia tahu, ada beberapa mata-mata di sekitar mereka. Jadi, tanpa bersusah payah, Jun Jin akan dengan mudah mendapat informasi mengenai Yeon Hee atau Kyu Hyun. Ah… sebutan yang tepat adalah, informasi mengenai hubungan mereka berdua.

 

 

***

 

 

Yeon Hee memasuk gedung pertunjukan yang tiga hari lagi akan digunakan oleh Henry untuk menggelar konsernya sebelum hiatus beberapa waktu ke depan. Di sana sudah ramai ketika Yeon Hee menapakkan kakinya. Dan lagi, hatinya yang masih belum mampu melupakan perlakuan Henry saat kemarin lusa, kini terus saja berdoa agar dirinya dan Henry tak akan bertemu.

 

“Selamat pagi, Nona Ji,” sapa salah satu pria yang berjalan sembari mengangkat properti berupa kain transparan berwarna putih.

 

Yeon Hee membalas sapaan itu dengan senyuman dan anggukan kepalanya. Kemudian, ia mengedarkan pandangan. Posisinya yang kini menghadap ke arah panggung, menemukan panggung yang beberapa hari lalu kosong, kini sudah didominasi warna putih. Sekumpulan pria ada yang bergelantung di atas dengan bantuan alat keselamatan untuk memasang dekorasi dan beberapa mengecek salah satu lampu yang tidak menyala. Lalu, ada juga yang berpencar di beberapa sisi panggung. Melihat kesibukan yang sudah menjadi pemandangan biasa untuknya, Yeon Hee kemudian duduk dan tatapannya menjadi kosong.

 

Tiba-tiba di tengah acara melamunnya itu, sebuket bunga mawar putih terpampang di depan matanya. Yeon Hee yang terkejut, masih tetap diam walau hidungnya mencuri kesempatan untuk membaui aroma wangi dan segar yang menguar dari kumpulan mawar yang benar-benar sangat dekat dengan wajahnya.

 

 

Author’s Note :

Hai semuanya… terima kasih untuk admin-admin tercintah yang sudah post FF ini. Terima kasih juga untuk kalian yang komen, share, dan like. Oho… aku tidak menyangka akan banyak orang yang menshare cerita ini. Bahkan, lebih banyak yang share daripada yang komen 

Oh iya, aku mau tes kalian. Kalau komen kalian tembus 200 komentar di bab 1 dan di bab 2, bab 4 dan 5 akan segera aku kirim ke admin pas tanggal terdekat. Akan aku kebut untuk selesaikan. Hayo… apa kalian sanggup? Para siders yuk muncul. Hihihi. Bantu teman-teman kalian yang sudah berbaik hati kirim pesan aku pribadi dan ada yang setiap hari tanya kapan lanjutan bab 3nya. Ah… rasanya seneng banget ada yang menantikan cerita ini. Terima kasih.

67 thoughts on “Break The Forecast Part 3

  1. Jodoh tu emang gak kemana buat kyuhyun dan yeon hae. Klu bisa ffnya di panjangin lagi y… 😁😁😁
    Aku suka sma ceritanya😍😁
    Lanjutin terus.. ..!!!

    Suka

  2. sabar sabar mimpi erotis barengan banget janjian ya? tenang nggak lama lagi pasti ngelakui di dunia nyata kok hihihi… jun jin lucubbiasanya henry yang agak ceret sama jail disini di ganti sama jun jin

    Suka

  3. Boleh dipanjangin dikit ga? Lg serius baca tiba2 langsung ganti author note😀😀😀
    Tuh berdua emang jodoh beneran kali ya, ampe mimpi erotis aja janjian…wakwakwak…
    Knp ortu nya ga ada inisiatif buat jodohin kyuhyun ama Yoon hee, biar lakinya lsg merid, jadi ga perlu lah mimpi erotis segala, kan udah langsung praktek,😂😂😂😂😂

    Suka

  4. waduh.. emang jodoh keknya mereka. kkk ayo thor, cepat-cepat dipublish ya ffnya, soalnya udah penasaran sama next partnya. ceritanya juga semakin menarik. aku suka 🙂 fighting thor!!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s