Expression Of Love


image

Cast : Cho Kyuhyun || Byun Baekhyun || Park Sooyun || Sung Jineul

Genre :  Romance, Sad, Hurt, Oneshoot

Rated : 17+

Author: KyunPach


Fanfiction Oneshoot kedua, setelah GONE.

Typo selalu ada.



Selamat membaca~

Cinta Segitiga.

Sudah biasa di dengar. Banyak orang yang mengalaminya. Bukan kerena orang itu salah mencintai seseorang. Bukan juga salah perasaan yang tumbuh begitu saja. Namanya jatuh cinta bukan? Perasaan itu tidak terduga. Dimana, kapan, pada siapa, tidak ada yang tahu. Jika kau mengatakan tipe ideal ku seperti ini atau tipe ideal ku seperti itu. Itu tidak menjamin. Terkadang seseorang yang membuat nyaman akan di nomer satukan dibandingkan dengan orang yang memenuhi kriteria.

Park Sooyun tersenyum saat Kyuhyun baru saja selesai bernyanyi dengan gitarnya. Pria itu tersenyum dan memberi salam penutup pada seluruh pengunjung kafe.

Sooyun menaikan kedua ibu jarinya “Seperti biasa. Kau selalu mengagumkan” ia berucap saat Kyuhyun menghampirinya. Pria itu mengacak pelan rambut Sooyun “Memang akan terus seperti itu” Kyuhyun tersenyum. Senyum yang selalu membuat jantung Sooyun berdetak lebih cepat.

Kyuhyun berjalan dengan Sooyun yang mengekor dibelakangnya “Setelah ini kita akan kemana?” Sooyun mencoba untuk mensejajarkan langkahnya.

“Aku harus mengambil upah ku dulu”

Sooyun menghalangi langkah Kyuhyun “Kau harus minum dulu Kyu” ia menyerahkan sebotol air mineral. Dan Kyuhyun tersenyum lagi. Berada disekitar wanita itu memang akan terasa membahagiakan. “Kau bawa dulu itu dan tunggulah aku diluar”

Sooyun menghela nafas berat saat Kyuhyun melangkah meninggalkannya. Dengan penolakan seperti itu saja, rasanya sudah menyakitkan. Kau memang terlalu membawa perasaan mu Park Sooyun.

Dengan wajah lesu, ia melangkah keluar dari kafe.

Sejak sekolah menengah atas, seperti inilah kegiatannya. Menjadi ekor seorang Cho Kyuhyun. Ia berteman dengan Kyuhyun karena mereka adalah teman sebangku sejak semester awal. Dan entah sejak kapan, Sooyun sangat merasa nyaman dengan pria tampan itu. Ah tidak, pria itu tidak terlalu tampan. Bahkan tubuhnya saja tidak profesional, perutnya yang sedikit buncit, pipinya yang bulat, memiliki beberapa jerawat. Tapi.. entahlah, mungkin ini yang dinamakan cinta apa adanya.

Tapi apakah benar seperti itu cinta?

Dan aku akan kembali menjawab. Entahlah. Biarlah perasaan ini mengalir apa adanya. Mengikuti arus waktu yang entah akan membawa kemana perasaan itu berlabuh. Dengan arah yang tak tentu. Entah berakhir dengan indah atau menyakitkan, kita tidak pernah tahu.

***

“Ini untuk mu” Kyuhyun menyondorkan ice cream cokelat pada Sooyun dan memilih untuk duduk di samping wanita itu.

“Terima kasih”Sooyun menatap ice cream di tangannya, lalu beralih menatap Kyuhyun “Tapi, ini untuk apa? Tumben sekali” Walau bertanya, ia tetap membuka bungkus ice creamnya. Bahkan sebelum Kyuhyun menjawab, ia sudah melahapnya. Lagipula itu kan pemberian. Kata orang tua, tidak baik jika menolak pemberian, karena jika menolak itu sama saja dengan menolak rezeki. Rezeki itu jangan di sia-sia kan. Itulah pemikiran Sooyun.

“Bos kafe tadi memberikan ku bonus” Kyuhyun membuka kaleng soda. Ia tidak terlalu menyukai ice cream.

“Tapi mengapa kau hanya membelikan ku ice cream?”

“Karena aku pelit”

Sooyun mendengus, dilanjutkan dengan bola matanya yang berputar malas. Ya, Kyuhyun adalah pria yang pelit. Menyebalkan!

Sooyun memilih untuk tidak berkomentar. Ia kembali melahap ice creamnya sembari menyapu pemandangan Sungai Han di malam hari dengan tatapannya. Ini adalah tempat mereka. Kyuhyun dan dirinya. Jika mereka bersama, pasti mereka akan ke tempat ini. Biasanya jika Kyuhyun baru saja menyelesaikan pekerjaan menyanyinya, seperti sekarang. Kadang mereka ke tempat ini hanya untuk mengobrol hal yang tak penting atau jika Kyuhyun akan membuat lagu baru, maka Sooyun akan ada menemani Kyuhyun. Yang jelas, mereka selalu berdua jika di tempat ini.

“Hei. ChoHyun”Itu panggilan khusus Sooyun pada Kyuhyun.

“Ya, aku disini”

Sooyun menatap Kyuhyun yang sedang menatap lurus kedepan “Kau tidak lelah?”

Kyuhyun terdiam beberapa detik, sampai ia sedikit tersenyum, lalu menatap pekatnya langit malam tanpa bintang sambil menghela nafas dan berakhir dengan menatap Sooyun “Bohong jika aku mengatakan jika aku tidak lelah” ia mendekatkan wajahnya pada Sooyun “Jadi kau tahu betul jawabannya” Kyuhyun mengecup bibir kecil merah muda itu, menghisapnya sedikit lalu melepaskan tautannya.

Itu hal yang biasa! Kalian harus tahu itu!

Sooyun mencoba untuk menormalkan detak jantungnya yang terpompa lebih cepat. Ini memang sudah biasa tapi rasanya begitu menggetarkan, membuatnya melayang. Bagaimana tidak? Kyuhyun, lelaki yang dicintainya, menciumnya. Sooyun menghela nafas yang terasa berat dan matanya kini memancarkan kepedihan. Getaran yang membuatnya melayang itu tidak membuatnya bahagia.

“Selalu manis dan kali ini aku bisa merasakan cokelat”

Sooyun tersenyum miris. Kyuhyun! Tidak sadarkah kau dengan tatapan dan senyuman itu!

Menggeleng pelan, untuk menyadarkan pikirannya. Ayolah jangan terbawa perasaan mu, Park Sooyun “Jika kau lelah. Mengapa kau masih saja melakukan ini? Kau seorang dokter Kyuhyun. Gaji mu sudah sangat memuaskan”

Bibir Kyuhyun membentuk garis lurus dan matanya terpejam. Ia menahan geram. “Kau sudah menanyakan itu beberapa kali. Aku pun sudah sering menjawabnya. Apa kau tidak bosan?” Mata itu terbuka dan menampakkan tatapan dingin membekukan. Membuat siapa saja yang melihat itu, akan diam merasa kaku karena seluruh saraf ditubuhnya seakan tak lagi berfungsi.

“Aku mengkhawatirkan mu”

Kyuhyun menjauhkan wajahnya, berdiri dengan berkacak pinggang “Kau tidak usah merasa seperti itu! Kau menyuruhku untuk berhenti bernyanyi? Kau pikir, siapa kau bisa mengatur ku?!” Suaranya penuh penekanan. Ada amarah dan rasa tertekan didalamnya.

“Memangnya siapa aku untuk mu, Kyu? Aku bahkan merasa kau hanya memanfaatkan ku” Sooyun ikut berdiri, menjatuhkan ice cream yang masih tersisa setengahnya.

Kyuhyun mengepalkan tangannya, emosi sudah terkumpul diseluruh tubuhnya.

“Aku tahu kau melakukan semua ini bukan untuk uang. Kau hanya menekan perasaan mu. Kau terlalu sibuk untuk mengalihkan rasa sedih mu, mencoba untuk mengubur rasa lelah mu, mencoba untuk menghilangkan rasa khawatir mu” Sooyun membentak, ia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya dengan kasar “Berhentilah! Berhenti memikirkannya!” Sooyun merasa air matanya mendesak untuk dikeluarkan “Dia kesakitan! Dia sekarat! Kau harus sadar itu, Kyuhyun!”

Satu tamparan mendarat di pipi Sooyun. Bunyi tamparan yang sangat nyaring, terdengar menyakitkan. Siapa lagi pelakunya jika bukan Kyuhyun. Nafas lelaki itu memburu karena emosi yang sedari tadi ditahannya.

Satu isakan lolos dari mulut Sooyun. Ini menyakitkan! Hatinya tersayat, menimbulkan luka baru. Bahkan luka lamanya belum sembuh. Tapi kalian harus tahu, jika pesakitan itu berasal dari Kyuhyun. Kyuhyun yang dicintainya, Kyuhyun sang pemilik hati.

Kyuhyun meraih dagu Sooyun, menghadapkan matanya untuk menusuk wajah Sooyun dengan tatapannya “Berani sekali kau!”

“Biarkan saja dia mati, Cho Kyuhyun!”

Mata Kyuhyun melotot bengis “Aku tidak akan membiarkan wanita yang ku cintai mati!” menghempaskan wajah Sooyun kasar “Sung Jineul akan tetap hidup!”

***

Mencintai tanpa dicintai memang menyakitkan. Saat kau memberikan seluruh cinta tanpa balasan. Saat kau memberikan seluruh hati, namun tak terbalas oleh sedikitpun perasaan. Keberadaan mu hanyalah angan, sesuatu yang tidak benar-benar ada. Cinta mu tak di pandang, tapi dengan bodohnya kau membiarkan. Terus berharap pada sesuatu yang tidak memiliki kepastian. Membiarkan perasaan itu sampai waktu tak ditentukan, tanpa kau sadari hati mu sudah tergerus oleh sakit yang kau ciptakan.

Kyuhyun mengerang tertahan saat ia terus menusuk milik Sooyun dengan hujaman yang keras, tak sabaran, bahkan terkesan brutal. Ia sudah mencapai pelepasan dua kali dan kali ini ia sedang berusaha mencapai yang ketiga.

Sooyun terus mencengkram sprei yang sudah berantakan. Ia tidak mendesah, yang ada hanyalah isak. Ia tidak menikmati permainan Kyuhyun diatas tubuhnya. Oh, ini bukan percintaan. Ini pemerkosaan! Tapi adakah pemerkosaan yang sudah terjadi berulang-ulang, bahkan terkesan sering dilakukan? Apa ada pemerkosaan yang terkadang terasa nikmat dan orang di dalamnya akan merasa melayang saat pelepasan? Oh tidak! Ini adalah hal yang biasa. Sooyun sering melakukannya dengan Kyuhyun.

“Aku yakin milik Jineul lebih nikmat dari ini”

Sooyun memejamkan matanya. Hatinya sudah tak berbentuk, terlalu sering dipukul keras oleh ucapan Kyuhyun.

Yang bercinta dengannya itu Park Sooyun. Tapi yang Kyuhyun pikirkan, Sung Jineul. Sialan! Brengsek sekali! Bagaimana perasaan Sooyun?! Dia wanita! Makhluk yang mudah sekali tersakiti hatinya.

“Aku sam-”Kyuhyun mendesah sebelum menyelesaikan  kalimatnya. Itu pelepasannya, ia sudah mencapai puncak. Tapi kalian harus tahu, kerasnya suara desahan sexy itu dan suara hujan deras yang samar diluar sana tak sebanding dengan suara tangisan Park Sooyun. Sooyun bahkan menjerit dalam tangisnya, air matanya sudah membasahi pipinya. Sangat banyak.

Kyuhyun membaringkan tubuhnya. Nafas terengah, membuktikan jika permainannya sangat hebat. Bohong jika ia tidak mendengar tangisan menyakitkan itu. Hatinya terasa ngilu saat suara isak menghampiri pendengarannya. Tapi sungguh, ia merasa mati rasa atas ucapan Sooyun.

Membiarkan Sung Jineul mati? Yang benar saja!

Wanita itu adalah cinta pertamanya sejak umurnya 10 tahun. Menggelikan memang, tapi seperti itulah kenyataannya. Kyuhyun jatuh cinta pada wanita yang memiliki umur 2 tahun lebih muda darinya. Oh, Sung Jineul!

Kyuhyun bangkit, ia segera memunguti baju yang tergeletak tidak rapi di lantai. Memakainya dengan cepat dan keluar dengan suara pintu yang terbating keras. Meninggalkan Sooyun yang semakin terisak dikamar apartemennya.

***

Langit membentang luas dengan warna birunya. Memberikan banyak tempat untuk naungan awan putih yang berkumpul membentuk gumpalan. Gumpalan awan disana tidak terlihat rapi, namun saat dipandang kau pasti pernah berfikir untuk berdiri diatasnya. Membayangkan putih lembut sang awan yang akan menyentuh kulitmu.



Hamparan rumput hijau membentang seluas mata memandang. Beberapa bunga terlihat mekar dengan kelopaknya yang indah. Membuat berbagai macam serangga tergoda untuk hinggap disana. Burung-burung membentangkan sayap untuk dikepakkan, membawanya terbang menyusuri keindahan alam di udara. Mengisi kosongnya udara yang terisi angin selembut lembayung surga.



Sooyun dan Kyuhyun baru saja selesai menghadiri acara perpisahan di sekolahnya. Mereka sudah lulus, mereka sudah tak lagi menjadi anak sekolah, status yang sudah membelenggu mereka selama 12 tahun. Mereka sudah mulai melangkah untuk meraih kesuksesan, untuk menggapai masa depan yang bahagia.



“Bagaimana rasanya lulus dengan nilai tertinggi di sekolah?”Sooyun duduk bersila di atas rerumputan, ia menghadap ke arah Kyuhyun yang tengah memainkan senar gitar yang berada di dekapan lelaki tampan itu.



“Biasa saja. Aku sudah terlalu sering merasakannya”



“Uuuh..”Sooyun melotot dengar binar matanya yang begitu jernih “Kau sombong sekali tuan”



“Terima kasih untuk pujiannya. Dan seharusnya aku mendengar ucapan terima kasih mu untuk ku”



Dahinya berkerut, tidak mengerti dengan ucapan Kyuhun “Aku tidak mengerti” ia menggelengkan kepalanya.



Kyuhyun menghadap ke arah Sooyun, ia menoyor kepala Sooyun dengan telunjuknya. “Kau pikir siapa yang membuatmu mendapatkan peringkat ke empat? Kau lupa siapa yang terus mengajarimu di setiap malam, membantu mengerjakan tugas, kau lupa huh?”



“Peringkat empat itu aku dapatkan dengan usaha ku. Aku terus belajar, aku juga-”



Kyuhyun melotot, membuat Sooyun terkekeh “Iya, itu karena mu ChoHyun” Kyuhyun menaikan dagunya. Oh yeah, kau sepertinya sangat menyombongkan dirimu bung!



“Tapi kan jika bukan karena keinginan ku untuk belajar dengan mu, aku tidak akan seperti ini. Jadi tetap saja, dominannya aku yang membuat diriku pintar. Bahkan peringkat kita tak jauh” Sooyun tak mau kalah untuk menaikan posisinya di hadapan Kyuhyun. Walau sebenarnya, akan sulit sekali utuk menaikan posisinya agar bisa seperti Kyuhyun.



“Tapi..”Sooyun menatap langsung bola mata hitam itu, membiarkan dirinya tenggelam semakin dalam di pusaran perasaan yang sudah memenuhi semua rongga hatinya. “Terima kasih” Dan hatinya siap meledak sekarang, saat senyum itu terlempar untuknya. Untuk kesekian kalinya ia jatuh cinta pada Cho Kyuhyun.



Kyuhyun berdehem pelan “Kau mau mendengar lagu baru ku?”



Senyum itu luntur begitu saja. Sebuah lagu. Hanya sebuah lagu. “Kau menciptakan lagu lagi?”.Kyuhyun menangguk mantap “Judulnya, Because I Miss You”



Sooyun tersenyum miris, ia tahu pasti arti lagu itu walau ia belum mendengar satu bait pun dari liriknya. “Kau merindukan Sung Jineul”



“Aku bahkan selalu merindukannya”



Dan seperti inilah rasanya disaat kau memeberikan seluruh kemampuan mu untuk cinta. Cinta yang tak menjanjikan. Hanya sebuah harapan yang tak kunjung di dapatkan. Yang ada adalah rasa yang menyakitkan, rasa yang sulit sekali untuk di di sembuhkan.

“Sadarlah sayang..” Ia menggenggam tangan lembut yang terasa dingin itu. Mengecup penuh kelembutan, menyalurkan rasa yang tak pernah lenyap di dalam hatinya. Cinta. Satu kata penuh makna. Lima huruf yang bisa menjungkar balikan perasaan. Sebuah rasa yang begitu mengagumkan.

“Aku lelah melihat mu terus seperti ini. Aku sakit melihat mu, Jineul. Kumohon sadarlah”Lirihan itu bergetar, memberitahu bahwa sang pemilik suara sangat kesakitan menahan rasa pedih itu sendirian.

10 tahun Sung Jineul memejamkan matanya. Bertahan dengan tubuh lemah yang terbaring begitu tenang. Sebuah kecelakaan hebat terjadi sepuluh tahun silam. Merenggut nyawa sepasang suami-istri, menyisakan seorang anak yang sekarat. Dia Sung Jineul, suami-istri itu adalah orangtuanya. Beruntung nyawa Jineul bisa tertolong. Tapi sungguh siapa saja yang melihat kondisinya sekarang, pasti akan lebih memilih untuk membiarkan Tuhan mencabut nyawa wanita berparas cantik itu.

Lihatlah! Tubuh itu pasti kesakitan karena alat-alat canggih pembantu kehidupan yang menempel ditubuhnya. Sungguh, biarkan saja ia meninggal dengan tenang.

Tapi semua itu tidak akan terjadi. Cinta yang dalam, enggan membiarkan sang pemilik hati untuk pergi. Meninggalkan ia sendiri dalam kepedihan yang tak bertepi. Cinta itu terus meyakinkan sang pemilik diri untuk bertahan dan tidak akan pernah berhenti untuk mencintai.

Cho Kyuhyun, terlalu mencintai Sung Jineul. Mengabaikan rasa lelah dan mengenyampingkan rasa iba melihat wanitanya yang seperti ini. Yang jelas ia hanya tidak ingin kehilangan cintanya.

“Oppa, bagaimana dengan sekolahmu? Teman-teman mu disana bagimana?”Tanya Jineul saat Kyuhyun mulai mendorong ayunan kayu yang di taikinya. Kyuhyun baru saja menyelesaikan hari pertamanya di sekolah menengah atas.



“Biasa saja. Aku juga baru mempunyai satu teman. Eh, sepertinya aku hanya akan mempunyai satu teman”Kyuhyun menjawab dengan senyum indah diwajahnya. Siapa yang tidak bahagia saat kau berduaan dengan seseorang yang berarti untukmu? Uh, rasanya itu dunia hanya milik berdua.



“Baguslah, oppa!”



“Ya, aku tahu kau tidak ingin jika nantinya aku lebih menghabiskan waktu dengan teman-teman baru ku”



“Ya! Karena kau hanya milik ku!”Begitu tegas, tak terbantahkan perkataan Jineul.



“Aku tahu”Oh, senyuman itu.



“Oppa”Jineul memutar kepalanya untuk menatap Kyuhyun.



“Hmm”



“Tunggulah aku. Dua tahun lagi, setelah aku lulus, aku akan menghampiri mu. Aku akan berada satu sekolah lagi dengan mu. Aku sangat kesepian tanpamu, oppa”Ungkapnya terus terang.



“Tentu saja. Aku selalu menunggu”



“Selama 2 tahun kedepan,  jaga pandanganmu oppa karena aku tidak bisa mengawasi mu. Aku yakin wanita-wanita sekolah menengah atas lebih cantik, lebih dewasa dan lebih sexy pastinya. Jika dibandingkan dengan ku aku tidak ada apa-apanya. Aku tahu semua laki-laki menyukai wanita sexy dan kau adalah laki-laki. Kau bisa saja tergoda. Tapi aku bisa meyakini mu oppa, aku pastinya akan jauh lebih sexy nantinya. Kau akan-“



“Aku mencintaimu. Jadi, semua itu tidak akan terjadi”



Dan ucapan Jineul yang begitu berkepanjangan pun terhenti. Kalimat sederhana itu sudah mampu membuat Jineul yakin dan percaya dengan Kyuhyun.



“Okey, aku semakin mencintaimu oppa”Jineul tersipu. Pipinya memerah, itu tanda cintanya yang malu-malu untuk terungkap.



“Jineul-ahh”



Mereka serempak mengarahkan pandangan pada sumber suara. Itu kedua orang tua Jineul. Mereka tersenyum seraya melambaikan tangan.



“Oppa, aku harus pulang”Jineul bangkit dari ayunan.



Kyuhyun tersenyum dan meraih tangan Jineul untuk digenggamnya. Mereka melangkah mendekati mobil yang menjemput Jineul.



“Annyeong haseyo, ahjussi-ahjumma”Kyuhyun menunduk untuk memberi salam.

“Wuah.. Kau terlihat lebih tampan memakai seragam itu Kyuhyun-ahh”Nyonya Sung, tersenyum ke arah Kyuhyun. Senyuman seorang ibu yang begitu menenangkan.

Kyuhyun tersenyum “Bagaimanapun, dia akan tetap tampan eomma”Itu suara Jineul.



Seperti inilah. Kyuhyun sudah akrab dengan kedua orang tua Jineul. Kyuhyun itu tetangga Jineul, sejak keluarga itu meninggalkan Jepang dan memilih untuk menetap di Korea. Yang jelas, karena kebersamaan Kyuhyun dan Jineul yang seakan tak ada hari esok, cinta itu tumbuh. Ya, cinta. Semoga saja cinta itu akan bertahan sampai akhir.



“Kyuhyun-ahh pulang bersama saja”suara bass penuh wibawa ini milik tuan Sung.

“Tidak, ahjussi. Aku melupakan sesuatu di kelas tadi, aku akan mengambil barang ku terlebih dahulu. Kalian diluan saja”

“Ah, sayang sekali” Ujar nyonya Sung.

Kyuhyun tersenyum dan beralih menatap Jineul “Cah,kau naiklah” ia melepaskan genggamannya.

Jineul mengangguk patuh “Kau harus menunggu ku, oppa. Ingat itu”

Siapa yang tahu saat itu akan terjadi kecelakaan hebat yang membuat Jineul seperti sekarang. Dan memang benar, Kyuhyun harus menunggu. Tapi ia tidak pernah tahu jika menunggu yang di lakukannya akan seperti ini.

Bolehkah? Bolehkah ia mengeluh?

Ya Tuhan, ia sangat lelah. Ingin rasanya ia menyerah. Menyerah atas semua yang dipertahankannya dengan susah payah. Dengan hati yang tercabik dan terus berdarah, melihat sang pujaan terus terbaring lemah.

Ini menyakiti hatinya! Bahkan, ada hati lain yang juga merasakan sakit.

Park Sooyun.

Teman pertamanya saat sekolah menengah atas.

Bodoh, jika ia tidak tahu bahwa Sooyun mencintai. Cinta tersirat lewat mata indahnya, tersirat dalam tingkah lakunya. Tanpa harus terucap, cinta itu sudah tersampaikan. Park Sooyun, wanita lugu yang mencintai Kyuhyun. Bahkan Sooyun menyerahkan mahkotanya untuk Kyuhyun saat setelah hari kelulusan. Kyuhyun memerawani wanita itu dengan mudahnya, karena Sooyun mencintainya. Bahkan kegiatan terlarang mereka terus berlanjut sampai saat sekarang di umur mereka yang ke 26. Mereka memang bejat!

Tapi kalian harus tahu jika Kyuhyun lebih bejat disini! Pria brengsek itu bahkan hanya membayangkan Jineul saat melakukan kegiatan terlarang itu. Sialan memang!

Kyuhyun memejamkan matanya, menghembuskan nafas secara kasar saat mengingat wanita itu. Wanita yang selalu bisa membuatnya tersenyum dan sejenak melupakan Jineul-nya. wanita berhati bak malaikat yang mau mencintai iblis sepertinya.

Dan kini ia teringat dengan perlakuannya tadi malam pada Sooyun.

Oh, percintaan hebat itu!

Tidak. Bukan, percintaan. Itu lebih pantas disebut pemerkosaan.

Mengusap wajah kasar, menjambak rambut penuh tenaga. Persetan dengan sebutan kegiatan itu! Kyuhyun menyesal. Bagaimana kabar wanita itu sekarang?

Oh, suara jeritan dan tangisan itu kembali terngiang di telinganya.

Walau di setiap kegiatan mereka, Kyuhyun selalu mendesahkan nama Sung Jineul. Tapi sungguh, baru kali ini ia memperlakukan Sooyun dengan kasar.

Itu sama saja menyakitinya, Cho Kyuhyun!

Aaarghhtt!

Kyuhyun berteriak. Tidak peduli dengan Sung Jineul, toh wanita itu tidak akan terganggu dan membuka matanya. Shit! Kenyataan itu membuatnya semakin frustrasi saja!

Ia melihat arloji hitamnya. Jam 06.00 pagi. Mengapa waktu berjalan begitu cepat?! Jika seperti ini, ia tidak bisa menemui Sooyun. Pekerjaannya sebagai dokter akan segera di mulai.

***

Angin berhembus membelai kulitnya. Lembut, menenangkan. Ia menarik nafas, menyesapi udara segar namun tetap saja rasanya menyesakan. Hatinya sudah tertumpuk oleh guratan luka. Membuat rasa perih yang akan tertuang dalam air mata.

Park Sooyun menengadah untuk menghambat laju air matanya. Ia tidak ingin menangis lagi. Matanya sudah membengkak karena menangis semalam, bahkan ia hanya tertidur selama 45 menit. Kemarin hari yang sangat menyakitkan, sampai benar-benar tak bisa dilupakan.

Dan sialnya semua itu membuatnya terlambat memasuki kelas. Dosen menyeramkan itu pasti sudah datang. Oh, bagaimana ia bisa lulus S2 dalam jurusan Management bisnis dengan cepat jika karena menangis saja membuatnya terlambat.

“Park Sooyun” Langkahnya terhenti begitu saja. Ah, harusnya ia tidak seperti ini. Kau akan semakin terlambat Sooyun!

Lelaki bertubuh tegap dengan tinggi badan yang terkesan standar berdiri di hadapannya. “Byun Baekhyun” Sooyun bergumam menyebut nama pria tampan di depannya. “Ada apa?”

Baekhyun memperhatikan penampilan Sooyun. Oh, ia tahu situasi wanita ini. Seperti wanita kebanyakan. Mata sembab karena menangis sepanjang malam. Baekhyun menghembuskan nafas secara tidak sadar. Dasar penyakit wanita!

“Kau ada masalah? Tapi maaf aku tak bisa mendengarkan mu sekarang, aku sudah sangat sangat sangat terlam-”

“Apa yang terjadi?”Dengan cepat Baekhyun menyala.

“Apa? Aku tidak-”

“Aku tidak bertanya kau baik-baik saja atau tidak. Aku sudah tahu jawabannya, tapi kenapa?”

Oh, Baekhyun yang perhatian. Baekhyun yang begitu memahami perasaan. Baekhyun sang pria tampan.

Oh, tidak. Lupakan yang terakhir! Pria tampan. Itu juga penyakit wanita!

“Aku sudah terlambat”

Baru saja selangkah melewati Baekhyun, pria itu sudah menarik lengannya. Detik selanjutnya ia sudah dibawa lari. Seenaknya saja pria itu. Langkah besarnya itu tidak sebanding dengan kaki pendek Sooyun. Membuat kesal saja.

Ini dia Byun Baekhyun-nya. Teman yang benar-benar teman. Sooyun tersenyum, ia tahu sebentar lagi langitnya akan berubah menjadi cerah tanpa awan. Lihat saja, belum apa-apa Sooyun sudah merasa sedikit lega. Langit mendung dengan badai hebat akan segera menghilang di hatinya. Biarkan saja ia membolos kali ini.

***

“Dokter Cho”

Kyuhyun yang baru saja keluar memeriksa pasiennya, dibuat kaget karena seorang suster yang tiba-tiba muncul dihadapannya.

Kyuhyun dibuat bingung dengan ekspresi suster itu. Apa yang membuatnya bahagia. “Ya. Ada apa?”

“Nona Sung Jineul menggerakan jarinya”

“A-apa?”

“Oppa kejar aku! Kau itu lambat sekali” Sung Jineul menghentikan langkah cepatnya, melihat Kyuhyun yang tengah bertumpu pada kedua lututnya. Nafas lelaki itu terengah. “Kau lelah? Payah sekali”



Tanpa diduga Kyuhyun berlari cepat, membuat Jineul terkejut dan lari dengan cepat begitu saja.



“Kau tidak akan bisa berlari dari ku. Aku akan mendapatkan mu” Kyuhyun berteriak di tengah nafasnya yang memburu. Sung Jineul, cepat sekali berlarinya.



“Oppa pelankan langkah mu! Aku benar-benar lelah”

“Hentikan langkahmu dulu, Sung Jineul”

“Tidak ak-“

“Sung Jineul”



Kegiatan kejar-kejaran mereka terhenti. Orang tua Jineul tengah melambai ke arah mereka.



“Ayo kita pulang”



Sung Jineul menatap sedih ke arah kedua orangtuanya. Ia masih ingin bermain dengan Kyuhyun-nya. Ya, Kyuhyun-nya, miliknya.



Ia beralih menatap Kyuhyun yang berada cukup jauh dibelakangnya. Pria itu tersenyum, lalu bibirnya bergerak tanpa suara ‘Cah, pergilah’. Jineul kembali menatap kedua orangtuanya. Tidak! ia masih ingin bersama Kyuhyun. Ya, ia masih ingin merasakan perasaan cintanya saat bersama pria itu.



“Aku tidak mau! Aku ingin bersama Kyuhyun oppa” ia berlari dengan cepat ke arah Kyuhyun untuk memeluknya.

Sung Jineul terbangun dari tidur lamanya. Dengan mata yang membulat, nafas terengah dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Dia bermimpi. Tidak! kejadian tadi pernah di alaminya.

“Eomma. Appa. Kalian selalu menjemputku di saat aku sedang bersama Kyuhyun oppa”Jineul memberengut di kursi penumpang setelah mobil mereka melaju membelah jalan raya.



Tuan dan Nyonya Sung tersenyum menggelikan. Yang benar saja! Anak mereka benar-benar menggilai Cho Kyuhyun di saat umurnya belum menginjak 17 tahun.

“Ah, kalian selalu tersenyum seperti itu. Tadi kan aku sedang berpacaran dengan Kyuhyun oppa”



“Kau itu sudah seperti orang dewasa saja”Tuan Sung berujar seraya meraih jemari sang istri untuk di genggamnya dengan sebelah tangannya. Sungguh, ia sangat mencintai wanita di sampingnya. Wanita yang selalu membuatnya jatuh cinta.

“Aku mencintainya. Mencintai Kyuhyun oppa”



Nyonya Sung tersenyum “Apa kau mencintai kami, seperti mencintai Kyuhyun oppa-mu itu?” ujarnya dengan nada yang dibuat seakan ia cemburu.



Jineul tampak berfikir. Apakah eommanya berfikir ia tidak mencintainya karena cintanya pada Kyuhyun oppa? Tidak. Jineul berdehem. Ia meraih tautan jemari kedua orangtuanya untuk ikut menyalurkan rasa cinta dan kasih sayang disana menggunakan kedua tangannya, seraya berkata “Tentu aku mencintai eomma dan appa. Sangat mencintai kalian. Tapi aku juga mencintai Kyuhyun oppa sebagai suami ku kelak” ucapan itu terdengar lugu namun begitu tulus.



Awalnya hanya Tuan Jung yang tertawa mendengar ucapan anaknya. Apa tadi katanya? Suami ku kelak? Hahah anak ini! Dan mereka pun tertawa bersama.



Tak bertahan lama.



Karena semua itu terhenti dengan suara klakson mobil di samping kiri mobil mereka. Truk besar melaju cepat. Menabrak mobil mereka dan membuat mobil itu berguling beberapa kali. Jineul terpental, sementara kedua orang tuanya di dalam mobil yang sudah terbalik. Hanya menghitung detik, mobil itu meledak. Membakar kedua orang tua Jineul. Dan Jineul melihat itu dengan tubuh yang sudah mati rasa.

“Eomma..”

“Appa..”

Kejadian itu langsung teringat olehnya. Oh Tuhan, bagaimana orangtuanya?

Air mata mengalir tanpa terkendali. Apa ia kehilangan mereka? Mereka yang memberinya kasih sayang. Mereka yang mengajarkannya cinta. Mereka yang tak akan pernah tergantikan. Senyuman Appa-nya yang menenangkan, tatapan eomma-nya yang meneduhkan. Bagaimana? Apa ia sudah kehilangan semua itu? Apa ia tidak bisa mendengar namanya di sebut oleh mereka? ‘Sung Jineul’ mereka selalu mengatakannya secara serempak lalu akan tersenyum saat sang pemilik nama berlari ke arah mereka dan memeluk erat penuh kasih sayang.

Apakah dia sendirian sekarang?

“EOMMA” Jineul menjerit dengan tatapan kosongnya.

“APPA” Dan menjerit lagi ketika bayangan kedua orangtuanya yang tengah tersenyum, tergantikan oleh bayangan mobil yang meledak dengan api yang membara.

“EOMMA! APPA!” Kini tangisnya terdengar, menjerit kesakitan. Oh Tuhan, nyawanya seperti direnggut secara paksa.

“Sung Jineul”

Kyuhyun berlari cepat saat mendengar suara keras sang pemilik hatinya. Ia bahagia mendengar suara yang sudah sangat di rindukannya, tapi ia sangat cemas saat isakan menyertai suara itu.

“Sayang..” Suara Kyuhyun teramat lembut. Ia menatap Jineul tidak percaya dan saat itu pula airmatanya turun. Oh Tuhan. Penantiannya tidak sia-sia. Jineul kembali dan ia yakin jika perasaannya masih sama. Ya! Tidak berubah sama sekali. Terima Kasih!

Tubuh itu didekapnya, cinta itu tersalurkan di dalam kehangatannya. “Syukurlah kau sadar, sayang..” Bahkan cinta itu tersirat dalam suaranya.

“Kyu- Kyuhyun oppa..”

Kyuhyun memejamkan mata. Meresapi sebuah gelenyar yang menggelitik hatinya. Itu namanya, Sung Jineul yang mengucapkannya. Ini bukan sekedar mimpi di dalam mimpi. Suara itu sampai ke telinganya dan itu sangat menenangkan.

“Ya. Ini aku”

***

Sebuah perasaan tertuang di dalam air mata. Ketika sebuah kesedihan mengalir disana, mengalir membentuk aliran kecil dan akan jatuh saat berada di ujung wajah. Berharap kesedihan itu akan ikut terbuang bersama, namun nyatanya sesak di dalam dada masih saja ada.

Baekhyun mengusap lembut rambut belakang Sooyun. Menatap wanita itu penuh rasa. Hatinya terluka saat air mata wanita itu mengalir dan sulit di hentikan. “Berhentilah menangis Soo-yaa” bahkan suaranya bergetar.

Sooyun semakin terisak, wajahnya yang penuh air mata itu di tangkup oleh kedua telapak tangannya. Mencoba menyembunyikan, namun tetap saja semua itu sia-sia.

Mereka tengah berada di sebuah taman. Duduk berdua di atas rerumputan, di bawah pohon maple yang menurunkan sisa-sisa air hujan semalam.

Baekhyun meringis mendengar isakan yang semakin keras, tangan itu terjulur untuk pindah pada bahu bergetar disampingnya. Menarik Sooyun untuk lebih dekat dengannya dan memberikan bahunya yang tegap untuk dijadikan sandaran.

“Sudahlah..”

Sooyun menurunkan kedua tangannya, masih dengan isakan seraya berkata  “Ak-aku..” Suaranya tersedat, Sooyun menarik nafas untuk meredakan tangisnya “Aku membenci diriku yang begitu mencintainya” Lagi, ia menarik nafas “Bagaimana aku bisa sebodoh ini karena mencintainya?”

“Semua orang melakukan hal bodoh saat cinta membutakan matanya”

“Tapi kau tidak!”Sooyun protes dan itu membuat Baekhyun terkekeh pelan.

“Kau saja yang tidak tahu bagaimana aku mencintai seseorang” Tangannya kini beralih untuk kembali mengusap rambut Sooyun.

“Karena kau tidak mau memeberi tahu siapa orang yang kau cintai”

“Itu kan terserah aku ingin memberi tahu atau tidak”

“Byun Baekhyun!” Sooyun manarik tubuhnya dari sandaran Baekhyun yang menenangkan. Oh, dia kesal pada lelaki satu ini.

“Apa?”

Sooyun mendorong tubuh Baekhyun penuh tenaga, alhasil lelaki itu limbung dalam posisi duduknya. Tenaga wanita itu lumayan kuat walau habis menangis.

“Kau menyebalkan! Aku pikir kau akan menenangkan ku, tapi apa? Kau membuat ku kesal seperti ini!”

Baekhyun terkekeh “Memangnya kau pernah tenang? Selama mengenal mu yang aku lihat hanya wajah kesal mu. Aku pikir kau hanya bisa kesal dan menangisi si Kyuhyun mu itu”

Mendengus kesal, bola matanya memutar malas “Terserah!” Sooyun terlanjur kesal.

Ya, seperti inilah pertemanan mereka. Baekhyun yang suka sekali melihat kekesalan dan Sooyun yang mudah sekali kesal.

“Jika tahu begini, lebih baik aku masuk kelas saja tadi”

“Kau saja tidak menolak saat aku menarik mu”

“Itu kau yang memaksa!”

“Jika kau terpaksa, kau tidak akan menangis di bahu ku”

“Sialan kau Byun Baekhyun!”

Tawa Baekhyun menggelegar, seakan memecahkan gendang telinga Sooyun yang sudah memanas. Walau begitu, Sooyun tersenyum kecil di balik rasa kesalnya. Benarkan! Baekhyun itu teman yang benar-benar teman.

Sooyun menatap langit berawan yang menjadi naungannya. Ia menghirup udara untuk menumpuk sesak. Musim hujan. Ya, semalam bahkan air matanya mengalir bersama air hujan.

Semalam.

Ya, semalam.

Ah, Sooyun teringat sesuatu. “Baek-ahh” panggilnya membuat Baekhyun menghentikan tawanya. “Apa?” Timpal lelaki itu.

Berdehem pelan, Sooyun menatap Baekhyun penuh permintaan “Kau kan mahasiswa seni musik” tatapannya semakin dalam “Aku yakin kau sangat ahli dalam bidang itu. Kau bisa bermain banyak alat musik, ehm.. Piano atau gitar misalnya. Kau sudah banyak menciptakan lagu. Kau juga bisa bernyanyi dan suara mu sangat..” ia mengangkat kedua ibu jarinya. Sooyun tampak berfikir “Tapi tetap lebih bagus suara Kyuhyun” ucapnya begitu saja.

Baekhyun berdecak. Wanita itu masih saja mengunggulkan Kyuhyun. Dasar!

“Lalu apa mau mu? Berbelit-belit sekali”

Tersenyum menggelikan. Ah, Baekhyun benar-benar pria tampan penuh perhatian “Baekhyun-ahh ajari aku musik”

***

Jineul sudah kembali terlelap. Bukan terlelap dalam tidur panjangnya. Dia baru saja di suntikan obat penenang, wanita itu terus berteriak saat Kyuhyun menceritakan semuanya dan bagaimana kedua orangtua Jineul yang meninggal terbakar.

Siapa orang yang tidak akan terpukul saat mengetahui hal semengejutkan itu setelah tertidur selama 10 tahun? Tentu semua akan sangat terkejut dan sulit menerima kenyataan yang ada.

Jam tujuh malam. Kyuhyun menghembuskan nafas. Lagi, waktu berlalu begitu cepat. Sedari tadi ia terus mengawasi keadaan Jineul. Sangat takut jika wanita itu tidak terbangun lagi.

Deringan ponsel mengalihkan tatapannya dari Sung Jineul. Oh, dia melupakan benda canggih itu. Pasti banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Park Sooyun, itu pikirnya.

Meraih ponsel di saku celana. Kyuhyun mengernyitkan dahi saat melihat notifikasi yang hanya menampilkan satu pesan. Apa dugaannya salah?

Kyuhyun, kau akan bernyanyi di kafe ku tidak?

Dan itu sebuah pesan dari seorang pemilik kafe. Bukan Park Sooyun. Tidak ada pesan dan panggilan apapun dari wanitu itu. Kemana dia?

Kyuhyun cemas. Ia tahu kesalahannya kemarin. Tapi apakah Sooyun sangat marah padanya?

Oh, otakmu! Tentu saja dia marah!

Tapi Park Sooyun sangat mencintainya.

Dan apa kau pikir, cinta bisa mempengaruhi segalanya? Tidak!

“Shit!”

Kyuhyun berdiri, mengecup dahi Jineul sekilas dan berlalu meninggalkan ruang inap wanita itu. Ia harus menemui Park Sooyun sekarang juga!

Kyuhyun mencoba untuk menelfon Sooyun, ponselnya aktif tapi wanitu itu tidak menjawab. Oh, dia sangat ketakutan sekarang.

Aku ke apartemen mu. Kita harus bicara.

Send.

***

“Woah.. Aku tidak percaya kita bisa menciptakan satu lagu hari ini” Sooyun menatap takjub kertas di genggamannya. Kertas yang berisi not-not angka dan lirik lagu yang baru saja diciptakan oleh dirinya dan Baekhyun.

Baekhyun menumpukan siku pada gitar dipangkuannya. Ia dan Sooyun masih duduk bersama di balkon kamarnya. “Itu berkat ku” dengan bangga ia menyombongkan diri.

Sooyun mendelik, menatap Baekhyun “Tapi lirik lagunya, lebih banyak aku yang menciptakannya”

Baekhyun menghela nafas “Ya ya ya. Aku mengakui kemampuan mu sangat bagus dalam merangkai kata” Dan Sooyun tersenyum bangga.

“Kapan kita bisa menyanyikan ini di depan umum?” Tanya Baekhyun.

“Sekarang! Ayo!”

BRAKKK

Di tempat lain, Kyuhyun baru saja tiba di apartemen Sooyun dan menutup pintunya dengan kasar. Hujan cukup deras diluar tak menjadi penghalang. Walau merepotkan karena sekarang baju Kyuhyun sedikit basah, tapi apa pedulinya. Yang di pikirkannya sekarang wanita-nya.

Apa?

Tidak. Bukan. Bukan wanita-nya.

Tapi sungguh dia sangat tidak sabar, dia sangat ketakutan.

“Park Sooyun!”

Sungguh Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia terus berteriak memanggil Sooyun.

Tanpa berfikir panjang, ia melangkah ke kamar wanita itu. Membuka pintunya kasar, menyalakan lampu dan.. Nihil. Sooyun tidak ada.

Kyuhyun memandang ranjang di hadapannya. Ia meringis mengingat peristiwa malam kemarin. Dirinya sangat kejam. Wanita itu pasti sangat kesakitan.

“Dimana kau, Park Sooyun?!” Kyuhyun terus berteriak walau ia tahu Sooyun tidak ada disini. Ponselnya masih setia untuk terus menghubungi Sooyun, tapi hasilnya masih sama.

“Sialan!”

Kyuhyun menggeram, ia memukul keras dinding disisinya “Aku akan menemukanmu”

***

“Selamat malam” Ucap mereka serempak. Sooyun dan Baekhyun. Mereka saling menatap dan melemparkan senyuman.

“Musim hujan ini membuatku memikirkan sesuatu. Saat aku melihat air hujan yang turun dari langit, aku berpikir air itu membawa luka” Sooyun menatap Baekhyun yang sudah bersiap dengan sebuah gitar dipangkuannya. Yang ditatap tersenyum, memberitahu jika wanita itu bisa melakukannya. Sooyun kembali menatap para pengunjung kafe yang cukup ramai malam ini, menyapukan tatapannya pada seluruh pengunjung “Karena mengutarakan sebuah perasaan sangat sulit bagiku. Maka aku membiarkan rasa itu terpendam bersama luka yang akan bertambah di setiap harinya”

Tatapan itu berhenti pada seorang pria yang berdiri di depan pintu masuk. Rasanya, ia merindukan orang itu walau kemarin mereka bersama. Ingin memeluk pria itu rasanya, ingin menyalurkan kehangatan yang menghantarkan rasa cinta di dalamnya. Tapi itu terlalu mustahil. Ya, semua hanya angan.

Kyuhyun.

Pria itu baru saja tiba saat Sooyun berbicara. Nafasnya terengah karena rasa sesak yang menghujam dada sebelah kirinya sedari tadi. Jangan lupakan! Ia sangat ketakutan.

“Lagu ini tercipta begitu saja. Orang disampingku, membantu ku dalam menciptakan lagu ini. Karena sekarang adalah pertama kalinya aku ingin menciptakan sebuah lagu dan menyanyikannya”Sooyun masih menatap Kyuhyun sampai alunan musik terdengar dan ia memilih mengalihkan pandangannya. Menatap Baekhyun yang memainkan gitarnya. Menghasilkan sebuah nada indah yang menenangkan. Namun semua tahu, dibalik nadanya ada sebuah luka.

Bigaodeonusansok, Jeojeunneouieokkaekkeut

Jageuntteollimdoneukkilsu, Isseodeonneowauigeori

Di bawah paying saat hujan turun,Tepian punggungmu sedikit basah

Kedekatan yang dapat kurasakan, Meski aku tahu kamu sedikit menggigil

Bigaodeonjeongryujang, Barabodeon ne nunbicc

Neodosaenggaknalkka bamsaenanudeon uriuiyaegideul

Di halte bis saat hujan turun, Melihat kedalam matamu

Aku penasaran, apakah kamu masih ingat semua hal yang kita bicarakan sepanjang malam

Biganaeryeooneuldo apeunbigawa

Neoreulbonaedeon geunalcheoreommarya

Hari ini hujan turun lagi, hujan turun membawa luka

Seperti hari di mana aku membiarkanmu pergi

Biganaeryeohapiltto jamdo mot jage

Ajigingabwananajikdo neolgidarinabwa

Sekali lagi hujan turun, membuatku tak bias tidur

Aku berpikir tak akan siap, kurasa aku masih menunggumu

……..

Modeungeon yeongwonhalsueopseoseo, uringeureohge eogallingeolkka?

Modeungeon yeongwonhajimotaeseo geuttaeurin haengbokhaesseulkka?

Taka da yang berlangsung selamanya, apakah itu alasan  mengapa kita berpisah?

Takada yang berlangsung selamanya, apakah itu mengapa kita sangat bahagia?

Biganaeryeooneuldo apeunbigawa

Neoreulbonaedeon geunalcheoreommarya

Hari ini hujan turun lagi, hujan turun membawa luka

Seperti hari di mana aku membiarkanmu pergi

Biganaeryeohapiltto jamdo mot jage

Ajigingabwananajikdo neolgidarinabwa

Sekali lagi hujan turun, membuatku tak bias tidur

Aku berpikir tak akansiap, kurasa aku masih menunggumu

(Soyou, Baekhyun – Rain)

Tidak ada yang tahu Sooyun memiliki suara yang indah. Wanita itu tidak pernah ingin bernyanyi, walau setiap hari Kyuhyun selalu bernyanyi di hadapannya. Dan disinilah sekarang, Sooyun mengeluarkan suaranya yang begitu menenangkan. Mengutarakan sebuah perasaan melalui lirik yang diciptakannya.

Seluruh pengunjung kafe bertepuk tangan, mereka menghentikan kegiatan saat Sooyun dan Baekhyun bernyanyi. Penampilan yang luar biasa.

Sooyun menghembuskan nafas, sama halnya dengan Baekhyun. Mereka tersenyum dan memberi salam pada pengunjung lalu turun dari panggung kecil yang sudah disediakan.

“Woooo.. Bagaimana suara mu bisa seperti itu? Saat di apartemen ku, suara mu tidak sebagus tadi. Kau lihat tadi? Semua pengunjung menatap takjub ke arah kita. Aku bahkan hampir saja berhenti memainkan gitar karena suara mu. Huh, ini begitu sulit dipercaya” Oceh Baekhyun, ia melangkah mundur agar bisa menatap Sooyun yang tersenyum malu-malu menatapnya.

“Kau berlibahan Baek-ahh” Sooyun memukul bahu Baekhyun pelan, seperti inilah malunya Sooyun.

“Tidak” Baekhyun berbalik dan merangkul Sooyun, mereka melangkah maju bersama “Mulai malam ini kau akan menjadi fatner ku. Kita akan menciptakan banyak lagu. Siapa tahu, suatu saat nanti ada agensi besar yang menginginkan kita debut. Maka kau dan aku akan menjadi idol di Korea Selatan”

“Itu ide bagus”Sooyun tersenyum dengan mengacungkan ibu jarinya.

Mereka pun tertawa.

“Ah, apa nama panggung kita nanti Soo-yaa? Kurasa…”

Suara Baekhyun semakin terdengar samar di telinganya, langkahnya semakin melambat dikala sepasang mata menatapnya semakin dalam.

“Kyuhyun..” Langkahnyapun terhenti.

“Apa? Kyuhyun? Kau gila? Kau akan memakai nama pria brengsek itu untuk nama panggung mu? Oh Tuhan, kau benar-benar sudah gila karena men-”

Sooyun buru-buru memukul mulut berisik Baekhyun. Pria itu hampir saja mengucapkan perasaannya di hadapan Kyuhyun.

“Apa? Apa? Kau takut ketahuan pria itu? Kau takut dia mengetahui bahwa kau mencintainya, huh?” Baekhyun berbicara cepat dengan terus mendekatkan wajahnya pada Sooyun yang begitu terkejut atas ucapannya. Baekhyun bahkan menunjuk Kyuhyun yang tengah berdiri beberapa langkah di hadapan mereka dengan telunjuknya.

“Byun Baekhyun. Kau!”

“Kita harus bicara”

Tanpa persetujuan siapapun, Kyuhyun melangkah cepat. Meraih paksa lengan Sooyun, agar terlepas dari rangkulan pria yang baru Kyuhyun ketahui namanya. Byun Baekhyun. Nama itu akan selalu di ingatnya.

“Yak! Kau brengsek!” Baekhyun berteriak.

“Tidak apa-apa. Kau pulang diluan saja Baek-ahh” Timpal Sooyun setengah berteriak.

***

Seperti biasa, disinilah mereka sekarang, pinggiran Sungai Han. Hanya saja mereka berada di dalam mobil Kyuhyun. Hujan menghalangi mereka untuk duduk berdua di bangku, seperti hari-hari sebelumnya.

“Kau bisa bernyanyi juga”

Cukup lama terdiam, Kyuhyun pun memulai pembicaraan.

“Y-ya seperti itulah. Tapi suaraku tidak sebagus suara mu”Ucapnya kikuk dengan senyum hambar.

“Aku pikir, aku sudah sangat mengenalmu. Tapi kurasa tidak. Sepertinya pria tadi lebih dekat dengan mu dibandingkan aku”

“A-apa? Ah, tidak begitu Kyu-”

“Aku bahkan tidak pernah tahu suaramu seindah itu. Kau bahkan tidak menciptakan lagu bersama ku. Aku selalu bernyanyi di hadapanmu, tapi kau tid-”

“Itu karena kau tidak bertanya. Kau bahkan tidak pernah mencoba untuk mengenalku. Yang kau lakukan hanya membiarkan ku terus bersamamu” Sooyun sudah tak tahan untuk berpura-pura baik-baik saja. Ia tidak bisa terus menyembunyikan kepedihannya, hatinya sudah sangat penuh untuk menumpuk kesakitan.

Menatap Sooyun lekat. Oh, sial! Mengapa hatinya merasa terluka “Apa maksudmu?”

“Kau tidak pernah menganggapku ada. Aku hanya bayangan yang selalu mengikutimu dan sama sekali tidak kau perdulikan. Kau hanya menjadikan aku pelampiasan untuk rasa lelah mu. Kau lelah untuk terus menunggu cinta mu kembali”

“Sebenarnya kau bicara apa?” Kyuhyun hampir membentak. Dia menggeram, giginya beradu di dalam mulutnya. Mencoba menahan emosi yang tersulut karena omong kosong Park Sooyun.

Apa?

Omong kosong kau bilang?

Sooyun mendengus “Ku bilang, aku hanya bayanganmu” menghentikan ucapan, ia menatap Kyuhyun yang juga tengah menatapnya “Ah, hanya saja aku ini jenis bayangan yang bisa memuaskan kebutuhan biologis mu”  lanjutnya dengan menekan kata pada akhir kalimat.

“Ya! Dan sekarang aku membutuhkan mu!”

Enak sekali kau Cho Kyuhyun!

Jelas perkataanmu semakin mengoyak hatinya.

Park Sooyun menatap Kyuhyun tidak percaya, pandangannya sudah mengabur karena air mata yang sudah menumpuk. Air mata yang memberi tahu bahwa ia terluka.

“Apa sekarang kau merasa ingin menyerah menunggu Sung Jineul, huh? Kau ingin melampiaskannya?”

“Tidak. Dia bahkan sudah sadar”

Dan luka itu merembak keluar melalui air matanya. “A-apa?”

“Aku jelas sudah mengatakannya”

Kyuhyun mengalihkan pandangannya saat melihat air mata Sooyun. Oh, dia juga ingin menangis. Ada apa dengannya?

“Itu artinya kita akan berpisah? Ah, tidak. Tidak pernah ada ‘kita’” Sooyun berucap dengan air mata yang terus turun membasahi pipinya. “Kau dan aku sudah berakhir”

Menatap Sooyun cepat, Kyuhyun menajamkan tatapannya “Apa? Bisakah kau tidak membuat kesimpulan sendiri?! Bukan beg-”

“Maaf jika selama ini aku mencintaimu” Sooyun memegang dada kirinya, ia mencoba menekan kesakitan disana. “Tapi aku tidak pernah menyesal dengan apa yang telah ku lakukan untukmu. Aku senang, karena aku bisa bersamamu”

Kyuhyun menarik lengan wanita itu, meraih tengkuknya dan mencium bibirnya dalam. Pria itu menangis disana. Ia juga sama terlukanya. Entahlah apa yang Kyuhyun rasakan. Biarkan seperti ini. Biarkan ia menyesapi perasaannya.

***

Tidak mudah melupakan seseorang. Apalagi jika perasaan mu terus mengembang. Menjadi perasaan yang lebih rumit, perasaan yang bahkan kau sendiri sulit untuk mengerti. Maka kau akan sibuk mencari sebuah arti. Hingga tanpa kau sadar, kau sudah sangat jauh berenang di dalam muara hati, terlalu jauh untuk bertepi. Saat kau kehilangan arah, saat kau merasa lelah maka kau akan berhenti disana. Membiarkan dirimu tenggelam, membawa rasa sakit karena dirimu tak kunjung mendapatkan jawaban dari sebuah arti perasaan.

Sudah hampir tiga minggu, setelah kejadian di dalam mobil Kyuhyun. Pria itu menghilang, tak lagi menampakan dirinya di hadapan Sooyun. Tapi kini, Sooyun bisa melihat dia. Ia melihat Kyuhyun disana, duduk berdua dengan seorang wanita yang begitu mempesona. Sooyun tahu, wanita itu Sung Jineul. Pantas saja Kyuhyun begitu sabar menunggu, pantas saja Kyuhyun begitu mencintai Jineul. Karena wanita seperti Sung Jineul lah orangnya. Wanita cantik dengan segala ketulusan di dalam matanya. Wanita mempesona dengan senyuman yang menenangkan.

“Aku membuang sebuah kenangan bersama hujan. Walau aku tahu kenangan itu tak akan pernah terbuang dan kenangan itu berakhir di muara hatiku. Tapi setidaknya aku bisa membuang kesakitan, itu yang aku pikirkan” Sooyun menarik nafas, ia menatap Kyuhyun disana “Sayangnya, aku merindukan kenangan itu. Aku benci saat aku sadar, jika kenangan hanyalah kejadian yang sudah berlalu dan tak akan pernah terulang”

Ia menoleh ke arah kiri. Baekhyun sudah siap dengan pianonya. Sooyun mengangguk dan detik selanjutnya terdengar alunan musik di seluruh penjuru kafe.

Joheunsaram mannanagateungeonijeuraneun mal

Maeumedoeopsneunmarigeollyeoseohuhoedwaeseo

Ketika aku katakana kau seharusnya bertemu dengan seseorang yang baik dan melupakan semua tentangku.

Aku tidak bersungguh-sungguh jadi aku menyesalinya

……..

Geunyangnegamiunnal bogosipeoseo

Geureonnaegasilheunnal

Hari-hari dimana aku membencimu aku merindukanmu

Hari-hari dimana aku membenci diriku sendiri

………

Neolsaenggakhamyeonulkeokgeorilmankeum

Ajikdoneolsaranghajiman

Ketika aku memikirkanmu, aku menangis

Betapa aku masih mencintaimu

……….

Meonhusnalgeunugunga urilmureumyeon

Amureohjianheuncheok useumjieulsuisseulkka

Gajangyeppeunnalsogenegageuttaeuinega

Michidorokgeuriwo

Negamiunnalmiunnal da miunnal

Di hari-hari ke depannya jika seseorang bertanya tentang kita

Apa aku bisa bersikap seperti tidak terjadi sesuatu dan tersenyum?

Kamu, dari hari-hari terindah.Kamu, dari saat itu

Akus angat merindukanmu

Jadi aku membencimu, aku membencimu.Aku membenci segalanya.

( Lee Hae Ri Davichi – Hate That I Miss You)

***

Sooyun merindukan orang yang berdiri didepannya, orang yang tengah menatapnya. Kyuhyun, membawa Sooyun untuk bersamanya. Berdua, di bawah pohon rindang dekat kafe. Mereka harus bicara. Menyelesaikan sebuah kepastian yang menyangkut perasaan.

“Lagu mu sangat indah”Ungkap Kyuhyun, ia menatap Sooyun begitu dalam.

“Lagu untukmu”

“Aku tahu. Dan aku juga merindukan mu”

Mereka semakin tenggelam di dalam tatap. Menyalurkan rindu yang sudah tak terbendung.

“Aku akan pergi”

Kalimat itu yang membuat tatapan rindu Sooyun menjadi kosong. “A-apa yang kau katakan?”

Kyuhyun menarik Sooyun kedalam pelukannya. Ini yang sedari tadi ingin dilakukannya, saat pertama kali ia melihat Sooyun berada di atas panggung, saat tadi Sooyun bernyanyi dengan air mata.

Menghirup aroma tubuh Sooyun, Kyuhyun merasa sesak “Oh Tuhan, Aku sangat merindukanmu Sooyun-ahh”

Sooyun membalas dekapan hangat itu. Erat, sangat erat. “Jangan pergi jika kau merindukan ku” suaranya bergetar.

“Maafkan aku..” Kyuhyun mempererat pelukannya saat merasakan kemejanya basah. Sooyun menangis lagi, karenanya.

Menggeleng kuat “Ku mohon..” kini suaranya bercampur dengan isak. Walau saat itu Sooyun mengatakan, mereka akan berpisah. Percayalah dia tidak tulus mengatakannya.

Kyuhyun melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah Sooyun. Menatap dalam mata yang selalu berbinar dengan cinta saat memandangnya. “Dengarkan aku..”  Ibu jarinya menghapus air mata yang mengalir di wajah Sooyun.

“Kau bukan bayangan ku. Kau ada untuk ku. Kau ada bersamaku. Aku bisa merasakan perasaanmu, sehingga hatiku selalu bergetar saat kau tesenyum padaku” Kyuhyun mencium dahi Sooyun, penuh kelembutan.

“Jika seperti itu, jangan pergi Kyuhyun-ahh”

Kembali Kyuhyun menatap Sooyun, ia menggeleng lemah “Terima kasih sudah memenuhi hari ku. Terima kasih untuk selalu berada disisiku. Terima kasih telah mencintai ku”

“Kyu-”

“Jika aku bertemu dengan mu lebih dulu. Aku pasti sudah menetapkan hati ku untukmu. Aku pikir, aku mencintaimu saat itu. Tidak. mungkin saat ini juga. Tapi, maafkan aku..” Kyuhyun kembali membawa Sooyun ke dalam dekapannya “Aku lebih mencintai Sung Jineul. Maafkan aku..” Kyuhyun meneteskan air mata. Dia akan kehilangan wanita ini.

Setelah beberapa menit, pelukan mereka terlepas. Sungguh Kyuhyun maupun Sooyun tidak pernah rela melepaskan tautan hangat itu.

Menggenggam kedua jemari Sooyun. Kyuhyun tersenyum menyakitkan “Aku akan pergi ke Jepang. Aku tidak yakin jika aku akan kembali kesini. Aku akan menikahi Sung Jineul”

Sooyun tidak begitu terkejut, tapi tetap saja hatinya tergerus hancur. Biarlah, dia sudah terlanjur tenggelam jauh dalam genangan luka.

“Jineul tahu soal ini. Dia sangat berterima kasih padamu karena telah menjaga ku”

Sooyun hanya diam, membiarkan air mata yang membalas semua perkataan Kyuhyun.

“Aku pergi. Tolong jaga dirimu. Aku mencintaimu”

***

Jineul menggenggam jemari Kyuhyun. Pria yang tengah duduk disampingnya. Mereka tengah berada di pesawat “Terima kasih telah memilihku”

Tersenyum menatap sang pemilik hati, ia juga menggenggam jemari Jineul “Maafkan aku karena mencintai selain dirimu.. Tapi percayalah bahwa hati ku yang memilihmu. Aku sangat mencintaimu. Mungkin aku tidak bisa benar-benar melupakan Park Sooyun. Tapi kau akan selalu di sisiku. Kau yang akan mengisi seluruh ruang di hatiku”

“Aku percaya padamu dan aku juga mencintaimu, Kyuhyun oppa”

—–

Sooyun dan Baekhyun menatap langit yang baru saja dilewati oleh pesawat. Mereka berada di tempat yang sama, saat Sooyun menangis dan meminta bantuan Baekhyun untuk mengajarinya musik.

“Aku tidak percaya, jika aku melepasnya seperti ini. Aku sering bermimpi jika aku akan terus bersamanya, tapi itu memang hanya sebuah mimpi”

Baekhyun tersenyum menatap Sooyun “Mimpi mu bisa menjadi kenyataan. Berdoalah agar di kehidupan selanjutnya, kau bisa memilikinya dengan cinta yang sama besarnya seperti sekarang atau bahkan cinta mu lebih besar nantinya”

Sooyun menatap Baekhyun, ia juga tersenyum. Ucapan Baekhyun bisa menenangkannya. “Aku sangat mencintainya. Aku sangan mencintai Cho Kyuhyun”

“Kau tidak mengatakannya pun aku tahu. Lagu mu saja, liriknya tentang Kyuhyun semua” Sooyun tertawa kecil. Ya, Baekhyun benar.

“Teruslah tersenyum seperti itu Soo-yaa. Aku bisa lebih tenang jika kau tersenyum seperti itu”

Sooyun dibuat bingung dengan ucapan Baekhyun. Ia jadi berpikir yang tidak-tidak. Tapi apakah.. “Baek-ahh, K-kau-”

“Jika Kyuhyun yang akan memiliki mu dan menerima cinta mu di kehidupan selanjutnya. Maka, izinkan aku untuk menjadi Kyuhyun di kehidupan sekarang. Izinkan aku juga untuk mencintai mu melebihi cinta mu pada Kyuhyun. Byun Baekhyun ini mencintaimu Park Sooyun”

Cinta lama telah pergi berlalu dan kini cinta baru menjemput. Menjanjikan suatu perasaan besar dan menjanjikan bahagia yang akan dicapai.

Terima kasih cinta, kau mengajarkan ku apa arti ketulusan. Mengajarkan padaku bagaimana cara membuat orang lain bahagia. Walau tak selalu bahagia, walau menyakitkan dan hatiku yang tergores sulit di sembuhkan, aku tetap bisa merasakan cinta. Merasakan bagaimana saat hati ku bermuara di lautan asmara. Berenang bebas dengan seluruh perasaan. Oh cinta, kau begitu mengagumkan.

END



Ada yang tidak rela dengan endingnya?

Kalo gitu, kita sama. Park Sooyun itu nama korea Author. Jadi Author juga sedih soalnya ga dipersatukan dengan Kyuhyun.

Author cuma pengen mengikuti konsep awal. Dan seperti inilah. Kecewa karena endingnya, tapi semoga kalian menyukai ceritanya.

Terima kasih sudah membaca^^

67 thoughts on “Expression Of Love

  1. Kecewa endingnya kayak gini,, kenapa kyuhyun ga sama sooyun aja sih, dari awal sampai akhir sooyun tertekan batinnya karna kyuhyun, kirain bakal ada pelangi setelah hujan ..
    Huaaaa,, ga rela rasanya kyuhyun lebih milih jineul dan bakal menikahinya ..

    Sequel please authornim, bikin sooyun sama kyuhyun aja, bikin kyuhyun dihantui bayang2 sooyun ..
    Biar aja maksa yg penting kyuhyun sama sooyun kkk

    Suka

  2. Buat sooyun nya bahagia sama baekkie dong ah-_-
    Iiiihhh kzl kalo gitu aja. Masa kyu nya seneng seneng. Soo nya ngga-,,-
    Sequel thor. Peuhleeeuuuuusss

    Suka

  3. Ihhh kenapa nyesek ya???
    Sumpah greget sama kyuhyun, tega ya ninggalin sooyun untuk cewek laen, semoga sooyun hamil anak kyuhyun, semoga sooyun sama baekhyun jadibartis terkenal, semoga sooyun gk maafin kyuhyun, semoga, semoga, dan semoga
    Awas kyu nyesel nanti. Ihh kretek krwtwk hati nya klo ngebayangin jadi sooyun.
    Sequel please!

    Suka

  4. Author bisa banget bikin ffnyaa huaaaa sampe nyesek aku sampe nangis ginii😭😭
    Udh di perawanin, tapi ttp ditinggal. Gaterima huuu😢😢

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s