Love Terrains Part 3


 

Author : SHINRIlia

Title : Love Terrains

Category : NC 17, Yadong, Sad, Romance, Series

Cast :

Choi Siwon (Super Junior)

Jung Shinri (OC’s)

Support Cast :

Kim Myungsoo (Infinite)

Choi Jiwon (Siwon’s Sister)

Author’s Note : Real from my mind! So, Don’t copy without my permission! Big thanks for admin who is a posting this fanfic☺

Enjoy this~

 

 

* * * * *

 

“You make me believe

That there’s nothing in this world I can’t be…”

 

* * * * *

 

Part 3 : Promise I’ll be Always True

 

*

 

RESTORAN sore itu terlihat ramai seperti hari-hari sebelumnya yang selalu sibuk dan padat. Para koki asyik dengan wajan dan penggorengan, sementara para pelayan tak ketinggalan hilir-mudik demi menyerahkan buku menu kepada pelanggan dan memuaskan selera mereka dengan senampan makanan yang pastinya menggunggah selera.

 

Saat itu, Myungsoo masih melayani pelanggan ketika tanpa sengaja ia memperhatikan Shinri yang terlihat lelah sambil menghela nafasnya. Pria itu menyusul Shinri yang sudah duduk di ruang istirahat sambil menyerahkan sekaleng minuman untuk gadis itu.

 

“Kenapa? Kau baik sekali.” Shinri terkekeh melihat sikap Myungsoo sambil ia menyeka keringat di dahinya.

 

“Apanya? Aku memang selalu baik padamu, bodoh!” Dumel Myungsoo sebal. Lantas ia memperhatikan Shinri yang masih terlihat pucat. Ia duduk di hadapan gadis itu dan menatapnya lekat. “Ri-ah, kalau masih sakit, jangan di paksakan. Kau baru saja keluar dari rumah sakit kemarin, dan sangat mengejutkan kau sudah bekerja lagi. Istirahatlah lebih lama. Lagipula Siwon hyung pasti sangat khawatir padamu.”

 

“Yya, aku baik-baik saja. Jangan berlebihan. Aku sudah biasa, Myungsoo-ya. Seperti kau tidak tahu aku saja.” Shinri menyengir kuda. “Dan aku tidak bisa berhenti bekerja. Walaupun kami tinggal bersama, tapi aku tidak bisa hanya menopang kaki meminta dia menghidupiku. Bagaimanapun juga, aku bukan istrinya.”

 

“Belum, lebih tepatnya. Dan segera, kau akan jadi istrinya.” Tanggap Myungsoo cepat. Shinri terbahak kecil mendengarnya, yang membuat Myungsoo mengerutkan dahi. “Jangan bergurau, Myungsoo-ya.”

 

“Lho, apanya?” Tanya Myungsoo heran. Pria itu menggangkat bahunya kemudian. “Hyung pasti akan segera memintamu jadi istrinya. Kalian saling mencintai, dan langkah selanjutnya adalah menikah, bukan? Percaya padaku, kau akan jadi nyonya besar, Ri-ah sayang!” Myungsoo mencubit gemas hiding Shinri seraya tak lupa memeluk erat gadis itu hingga mampu membuat Shinri kesulitan bernafas.

 

“Yya! Lepas! Kau mau mencekikku, heih?” Shinri memukul lengan Myungsoo dan segera ia terbatuk-batuk saat Myungsoo melepaskan rangkulannya. Pria itu hanya menyengir tanpa dosa. Mengelus lengannya yang memerah, Myungsoo lantas mendumel kecil. “Kekuatanmu telah kembali rupanya, Nona Jung.”

 

Shinri hanya menatapnya dengan sebal. “Aish, terserah! Aku mau kembali bekerja.” Ia menghabiskan minumannya lalu meremukkan kaleng tersebut dan melemparkannya dalam tong sampah secara akurat. Myungsoo bahkan tak heran lagi melihat  tingkah gadis itu. Ia hanya mendelik menatap punggung Shinri yang kembali ke restoran untuk menghampiri meja seorang pelanggan.

 

“Annyeonghaseyo. Apa ada yang bisa saya bantu, nyonya?” Shinri bertanya ramah pada sepasang pasangan paruh baya di depannya. Shinri menelan ludahnya ketika melihat penampilan berkelas wanita paruh umur di depannya. Ah… Pasti orang kaya, pikir Shinri dalam hati.

 

“Aghassi, bisakah kau memanaskan pasta ini untukku?”

 

Belum sempat Shinri menjawabnya, suami dari wanita itu lebih dulu menginterupsinya sambil tak lepas menyantap sepiring steak di hadapannya. “Makan saja apa yang ada. Siapa suruh kau terlalu lama menghubungi putramu yang sibuk itu dan jadi mengabaikan makanan.” Ucapnya dengan nada berwibawa.

 

“Aku hanya merindukannya. Apa tidak boleh aku menghubungi anakku sendiri?” Jawab wanita itu pada suaminya dengan tatapan kesal. Sang suami terdiam tanpa minat untuk kembali menjawab.

 

Sementara Shinri hanya berdiri kaku di antara ketegangan yang menyelimuti pasangan paruh baya itu. Pikirannya tersadar bahwa tidak ada gunanya jika ia membatu di sana. Maka Shinri mengibaskan apronnya dan tersenyum kecil tanpa ragu. “Ah, saya akan memanaskannya untuk anda, nyonya. Harap tunggu sebentar.”

 

* * * * *

 

Malam sudah semakin larut dan Siwon belum juga menginjakkan kakinya kerumah. Ponselnya tidak aktif, dan hal ini semakin membuat kekhawatiran Shinri menjadi-jadi. Pasalnya, ini yang pertama kali pria itu pulang larut dan tanpa konfirmasi sebelumnya.

 

Shinri duduk gelisah dalam ruang keluarga dengan piyama tidurnya. Berkali-kali ia melirik ponsel dan pintu secara bergantian dengan wajah yang tak bisa di katakan baik. Gadis itu menarik nafas panjang dan tepat setelah itu, pintu rumah terbuka dengan menampakkan si pemilik rumah berjalan dengan sedikit sempoyongan dan wajah memerah.

 

“Oppa, gwenchanayo?” Dengan segera Shinri menghampiri Siwon yang langsung ambruk dalam pelukannya. Shinri mengernyit ketika ia dapat mencium bau alkohol dari pria itu. “Oppa, kau mabuk?”

 

“Enghh… Kepalaku sedikit pusing, sayang.” Ujar Siwon sambil berusaha memeluk Shinri lebih erat. Ia membenamkan wajahnya ke lekuk leher Shinri dengan matanya yang terpejam.

 

“Yya, kenapa kau minum alkohol?” Omel Shinri dengan wajah heran.

 

“Perusahaan mengadakan pesta makan malam dan aku tidak bisa menolak saat semua karyawanku menuangkan minuman untukku.” Jelas Siwon pelan dengan suaranya yang sedikit parau.

 

Shinri menghela nafasnya. Gadis itu meletakkan tangan Siwon ke pundaknya dan dengan sedikit kepayahan Shinri membawa tubuh besar itu ke kamarnya. “Arraseo. Istirahatlah sekarang, oppa.” Gadis itu membuka sepatu, kaus kaki, jas, dan dasi dan hanya menyisahkan kemeja putih dan celana panjang pada tubuh itu lalu menyelimutinya dengan selimut tebal.

 

“Tidurlah di sini.” Siwon menahan tangannya ketika melihat Shinri yang akan meninggalkan kamarnya. Gadis itu menurut, dan ikut membenamkan dirinya di bawah selimut yang sama dengan kekasihnya.

 

* * * * *

 

Sinar cerah matahari memandikan wajah Siwon yang masih terbungkus dengan selimut tebalnya. Siwon mengerang sambil mengadu merasakan pening yang mendera kepalanya. Pria itu bangkit dari ranjangnya dan segera menuju dapur setelah ia selesai mencuci wajahnya. Siwon tersenyum saat melihat Shinri yang telah siap dengan celemek dan wajan. Pria itu memeluk tubuhnya dan mengendus wangi gadisnya dengan nyaman.

 

“Makanlah. Aku sudah membuat sup pereda mabuk untukmu.” Shinri melepaskan pelukan Siwon darinya dan melepaskan celemek dari tubuhnya. Siwon mengernyitkan dahi saat melihat wajah Shinri yang masam. Gadis itu juga tidak mau menatapnya.

 

“Sayang, kau marah?”

 

“Tidak.”

 

Siwon menyipitkan matanya. Ia tahu gadis itu berbohong dengan menghindari kontak mata darinya. “Hem, sepertinya kau marah padaku.” Siwon menarik Shinri merapat ke tubuhnya dan menatap lekat gadis itu. Shinri terlihat menghela nafas panjang. “Waeyo? Katakan padaku. Apa aku membuat salah?” Siwon seolah mencari jawaban dalam matanya dengan menatap Shinri.

 

“Aku tidak suka melihatmu pulang dalam keadaan seperti semalam. Bagaimana jika ada apa-apa yang terjadi padamu? Dan bagaimana bisa kau tidak memanggil sopir pengganti dan nekat pulang di bawah pengaruh alkohol? Apa kau bodoh? Bagaiamana jika hal buruk terjadi? Aish, kau bodoh sekali!” Shinri mendumel sembari memukul dada bidang kekasihnya itu dengan kesal.

 

Siwon terdiam, lalu saat ia bisa mencerna omelan panjang Shinri, pria itu mengembangkan senyuman manisnya. Ia memeluk Shinri dengan lembut. Gadis itu hanya terlalu khawatir padanya, dan Siwon senang sekali mengetahui perhatian yang Shinri berikan padanya.

 

“Arraseo. Aku tidak akan mengulanginya lagi, Nona Jung. I’m promise. Mianhae sudah membuatmu khawatir.” Siwon mengecup lembut puncak kepala Shinri.

 

“Kau akan dapat masalah jika mengulanginya lagi, arraseo?!” Shinri memberikan death glare-nya pada Siwon. Pria itu terkekeh kecil saat mendapatkan sebuah ide untuk menggoda gadisnya. Pasti akan menyenangkan melihat rona kemerahan itu di wajah Shinri pagi-pagi seperti ini.

 

“Aku penasaram ‘masalah’ apa yang akan aku dapatkan jika mengulanginya. Apa ‘masalah’ seperti ini yang akan aku dapatkan?” Siwon menunjukkan smirk tampannya.

 

Pria itu melumat tanpa ragu bibir mungil Shinri dengan gemas. Memiringkan kepalanya beberapa kali untuk sekedar menghirup satu tarikan oksigen sebelum kembali mencumbu bibir gadisnya. Bulu roma Shinri bergidik saat Siwon mengecup leher putihnya. Ia bergetar ketika lambat laun pria itu semakin memperdalam ciuman pada lehernya yang kemudian Shinri dapat merasakan bekas gigitan kecil disana.

 

Siwon tersenyum puas saat mengetahui Shinri yang begitu terpengaruh dengan apa yang ia lakukan. Ia hanya ingin bermanja dan sedikit bermain dengan gadisnya yang sialnya begitu sexy dan cantik hari ini. Oh… Siwon akui jika Shinri selalu tampil cantik dengan sejuta pesona yang mampu menyihirnya tiap saat.

 

Ciuman yang tadinya biasa-biasa saja kini mulai menjadi intens ketika kedua anak manusia itu terpaku untuk saling membalas. Shinri mendorong pelan dada bidang Siwon pertanda bahwa ia mulai kehabisan oksigen setelah melangsungkan long kisseu mereka barusan.

 

“A great of morning kiss.” Siwon memberikan senyuman terbaiknya sambil mengusap sudut bibir Shinri yang basah dengan ibu jarinya. Shinri tersenyum kecil mendengarnya.

 

“Oppa, ayo kita olahraga hari ini.” Shinri menahan Siwon ketika pria itu akan menarik kursi di meja makan. Melihat Siwon yang tak kunjung memberikan reaksi membuat Shinri menghela nafas kecewa. “Tidak bisa, ya? Apa kau sangat sibuk bahkan saat akhir pekan?” Gumamnya yang tidak dapat menahan rasa sedihnya.

 

Siwon tersenyum kecil melihat sikap gadis itu. Ia mengacak rambutnya dengan gemas. “Siapa bilang aku tidak bisa? Tenang saja, aku akan mengambil libur untukmu. Ayo kita melakukan apa saja hari ini. Lagipula ini sudah akhir pekan.” Ucapnya yang sukses membuat mata Shinri menjadi berbinar-binar. Ia tersenyum lebar dengan begitu cantiknya.

 

“Tapi, kenapa tiba-tiba ingin olahraga? Bukankah kita punya ‘cara’ lain untuk mengeluarkan keringat?” Siwon mengedipkan sebelah matanya sembari tangannya yang mengelus punggung Shinri dari balik baju dengan tatapan menggoda.

 

“Aish! Dasar mesum!” Pekik Shinri sambil menepis tangan Siwon darinya. “Yya, kenapa kau jadi mesum, huh?” Tanya Shinri sambil mengambil jarak dari Siwon dan menutup wajahnya yang memerah.

 

“Waeyo? Ada yang salah? Bukannya kau menyukainya, Nyonya Choi?”

 

“YYA!!”

 

Siwon tertawa dengan puas saat ia berhasil menggoda Shinri habis-habisan pagi itu.

 

* * *

 

Mereka melakukan kencan kedua mereka dengan mengelilingi daerah Myeong-dong street yang ramai di kunjungi saat akhir pekan seperti ini. Di tangan Shinri terdapat sebatang gulali manis sementara tangan satunya berada dalam gandengan mesra Siwon. Saat melihat kedai makanan yang menjual sosis dan beragam jajanan seperti tteobokki dan kue ikan, Shinri segera menarik Siwon singgah untuk menikmatinya. Gadis itu tergelak tawanya ketika Siwon yang mengadu lidahnya terbakar karena makanan yang masih panas.

 

Setelah puas menyantap makanan, keduanya lalu tertarik untuk melihat pernak-pernik yang dijual oleh seorang ahjumma paruh baya. Mata Siwon tergelitik dengan sebuah gantungan kunci boneka singa berambut coklat yang lucu. Ia menunjukkannya dengan Shinri kemudian. “Ini cocok untukmu. Dia persiiis… sekali denganmu!” Ia bahkan memberi penekanan di ucapannya.

 

Shinri mendengus. Di ambilnya sebuah gantungan kunci kepala kuda dan ikut ia tunjukkan pada Siwon. “Dan ini juga sangaaat… Persis dengan mu!” Celetuk Shinri yang tak mau kalah. Ia lantas menjulurkan lidahnya dengan wajah meledek. “Ouch, kau kuda jantan yang tampan, Mr. Choi Siwon-ssi.”

 

Siwon terperangah ketika Shinri yang bahkan menepuk kepalanya beberapa kali dengan suara imutnya itu. Pria itu bahkan merasa speechless dengan sikap gadisnya yang cute.

 

“Ahjumma, aku ambil ini.” Shinri menunjukkan gantungan kunci tersebut kepada ahjumma penjual sebelum ia menyerahkan selembar uang padanya. Siwon tersenyum simpul, ia bahkan tak mengira jika Shinri akan membeli gantungan kunci berkepala kuda itu. Entah kenapa, ia merasa senang seolah mereka membeli sebuah barang couple.

 

Malamnya, setelah asyik jalan-jalan mengitari taman hiburan, Shinri juga mengajak Siwon menonton di bioskop. Senyuman cerah tak pernah lenyap dari bibirnya saat hatinya benar-benar merasakan bahagia karena seharian ini mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Shinri duduk menunggu Siwon yang tengah membeli karcis dan tiket dengan ia yang membawa satu big cup popcorn dan dua cola di tangannya.

 

Gadis itu beranjak dari kursinya saat melihat Siwon yang tengah menghampirinya. Namun, mendadak Shinri tersentak ketika seorang wanita tiba-tiba saja menabrak tubuh kekasihnya itu. Shinri juga terkejut ketika minuman milik wanita itu membasahi baju Siwon dan karena merasa bersalah, wanita itu meminta maaf berkali-kali. Tetapi, Shinri tiba-tiba membungkam rapat bibirnya ketika melihat tangan wanita itu singgah pada dada bidang Siwon untuk membersihkan tumpahan minumannya.

 

“Ah, saya sangat menyesal. Tuan tidak apa-apa, kan?” Tanya wanita itu dengan mimik menyesal. Siwon tersenyum segan pada wanita itu dan memberikan konfirmasi bahwa ia tidak apa-apa. Siwon segera mengalihkan pandangannya ketika tanpa sengaja ia melihat ke dalam pakaian wanita itu karena pakaian tersebut mempunyai bentuk potongan dada yang rendah, terlebih ketika membungkuk.

 

Shinri yang melihat itu tampak meradang. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal lalu segera menghampiri Siwon dan wanita itu. Shinri menyerahkan dua cola di tangannya pada Siwon dan dengan tangannya yang bebas, ia menepis tangan wanita itu dari tubuh kekasihnya. “Sepertinya anda tidak perlu menyentuhnya terlalu banyak, aghassi.” Celetuk Shinri dengan nada tajam yang tersirat.

 

Siwon mengulum senyumnya ketika melihat sikap protektif Shinri terhadapnya. Gadis itu menggandeng lengannya sambil melirik pakaian terbuka milik wanita itu. “Dan juga, tolong perhatikan cara berpakaianmu.” Ujar Shinri dengan penekanan keras pada ucapannya. Usai mengatakan itu, Shinri segera menarik Siwon memasuki ruangan dengan wajah kecut.

 

“Aku suka cara cemburumu, Nona Jung.” Bisik Siwon sepelan mungkin pada Shinri di sampingnya. Pria itu mengacak gemas rambut Shinri yang masih diam dengan wajah masamnya.

 

“Aku kan sudah bilang jangan tersenyum seperti itu di depan wanita-wanita yang melihatmu. Dasar menyebalkan.” Shinri mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Siwon terkekeh mendengarnya. Pria itu lalu merangkul gadisnya sembari tak lepas menatap wajah cantik Shinri yang malah terlihat menggemaskan saat ia sedang kesal.

 

* * * * *

 

Hari minggu itu di manfaatkan oleh Shinri untuk duduk santai di taman belakang apartment Siwon. Ia mencelupkan kaki dalam kolam renang sambil menggoyangkan kakinya dengan wajah berbinar. Siwon tersenyum kecil dan menghampiri gadis itu. Duduk di samping Shinri, dan mengikuti apa yang dilakukannya. Sebelum itu, Siwon menggulungkan celana yang dipakainya hingga batas lutut.

 

“Sedang apa?” tanya Siwon. “Ingin berenang?”

 

Shinri menatap pria itu dengan matanya yang menyipit. “Jika aku berenang, jangan mengikutiku, oke?” Siwon terkekeh mendengar gadis itu. Lantas ia mengendikkan bahu dengan santainya. “Tidak ada jaminan untuk itu. Tapi, aku rasa aku tidak bisa.” Jawabnya.

 

Shinri mendengus mendengar Siwon. Gadis itu berdehem sebentar sebelum memulai kembali percakapannya. “Oppa, aku akan pindah kembali ke rumahku.” Ujarnya tanpa mau menatap Siwon yang merasa terkejut dengan perkataannya.

 

“Kenapa tiba-tiba?”

 

“Tidak tiba-tiba juga. Aku sudah lama memikirkannya tapi aku baru mendapat timing yang pas untuk membicarakannya padamu.” Jelas Shinri. Siwon terdiam dan tampak kecewa. “Tidak bisakah kau tinggal di sini saja? Apa kau tidak suka melihatku 24 jam?”

 

“Yya, kenapa berpikir seperti itu?” Shinri cepat-cepat menyanggah asumsi pria itu. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu, oppa. Aku hanya…” Shinri menggantungkan ucapannya membuat Siwon menatapnya lekat karena merasa ingin tahu.

 

“A—aku hanya sedikit tidak nyaman jika terus menumpang hidup denganmu di bawah satu atap yang sama. Bagaimanapun juga, hubungan kita tidak pada tahap yang sah di mana kita harus tinggal bersama selamanya. Aku hanya tidak ingin masyarakat berasumsi negatif tentang kita.”

 

Siwon terdiam sambil menatap Shinri yang hanya terpaku memandang air kolam. “Dan juga, aku tidak ingin terlalu memanjakan diri untuk hidup denganmu. Aku takut jika suatu hari saat aku kembali dengan lingkunganku, maka aku akan merengek untuk kembali padamu.”

 

“Aku tidak keberatan. Aku malah akan menyambutmu dengan tangan terbuka.” Cetus Siwon lirih. Shinri menggangguk mengiyakan ucapan pria itu. “Aku tahu, oppa. Tapi, aku tidak bisa.”

 

Sejenak keduanya hanya saling bungkam. Tidak ada yang kembali memulai percakapan. Hanya sesekali terdengar suara gemericik air yang di timbulkan oleh goyangan kaki mereka. Juga beberapa suara kicauan burung yang bertengger di dahan pohon yang tumbuh asri dekat kolam renang.

 

Siwon sesekali menghembuskan nafas panjang. Sementara Shinri hanya diam dan memandangi kakinya yang basah. “Baiklah, jika itu maumu.” Celetuk Siwon memecahkan keheningan. Ia tidak tahan dengan keadaan sunyi di antara mereka. Siwon tidak suka hal itu.

 

“Kapan kau akan pindah?” tanya Siwon yang tampak was-was. Serasa ada lubang besar di hatinya yang rapuh mengetahui jika gadisnya akan pergi. Akan ada kerinduan besar yang akan ia rasakan kelak.

 

“Secepatnya.” Ujar Shinri. Siwon tersenyum, menutupi hatinya yang serasa akan meledak. Sesak nafas.

 

Shinri memandang wajah Siwon yang meredup. Merasa bersalah, gadis itu dengan lembut memeluk tubuhnya dari samping. “Oppa, aku hanya pindah ke rumah dan bukan akan keluar negeri. Jangan sedih, heum? Mianhae jika aku membuatmu terkejut tapi hal ini benar-benar sudah lama aku pikirkan.”

 

Siwon menghela nafas tanpa mengindahkan pelukan gadis itu. “Aku hanya kecewa mengetahui kau akan pergi. Yang berarti jika rumahku akan sepi lagi.”

 

“Pindah ke tempat yang lebih kecil kalau begitu.” Celetuk Shinri dengan asal. Siwon terkekeh. “Ke rumahmu, maksudnya?” Pria itu menaik-turunkan alisnya dengan maksud menggoda dan jangan lupakan senyuman penuh artinya itu.

 

“Yya.” Siwon terkejut saat air menciprat di wajahnya. Ia menatap Shinri, namun gadis itu hanya menampilkan wajah tanpa dosa. “Kenapa menyiramku? Oho, kau mau mengajakku bermain-main, heum?”

 

Shinri memutar bola matanya dengan jengah. “Oppa, berhenti menggodaku.” Shinri mengerucutkan bibirnya sebal saat Siwon tersenyum jahil padanya. Pria itu ikut menyipratkan air ke wajahnya sehingga turut membuat bajunya juga ikut basah.

 

“Yya, oppa!” pekik Shinri tidak terima. Siwon tertawa dan menjulurkan lidahnya meledek Shinri yang menatapnya dengan wajah sebal.

 

“Kau yang memulai, sayang.” ujar Siwon yang kembali sukses membasahi wajah Shinri dengan air yang ia cipratkan.

 

“Kau sangat-sangat menyebalkan, oppa!” pekik Shinri. Tak mau kalah, Ia kembali melakukan perang air dengan Siwon. Wajah keduanya tertawa lepas saat bermain air. Baju keduanya sudah basah kuyup karena perang air yang mereka lakukan. Hingga akhirnya Shinri tergelincir dan jatuh dalam air.

 

“Oppa, kau senang melihatku jatuh, huh?” Shinri mengerucutkan bibirnya sebal saat melihat Siwon terbahak melihat tubuhnya yang basah total. Geram, Shinri menarik tangan Siwon sehingga membuat pria itu terkejut dan ikut tercebur dalam air. Giliran Shinri yang menertawakan keadaan Siwon. Gadis itu tertawa lepas sambil sesekali mengusap wajahnya yang basah. Tawa Shinri menular ke Siwon yang ikut tersenyum manis melihat wajah ceria gadis itu.

 

“Kau senang membuatku ikut tercebur dan basah-basahan?” Siwon mengerucutkan bibirnya, walau hanya berpura-pura kesal.

 

Shinri mengangkat bahunya santai sambil menjulurkan lidahnya pada Siwon. “Kita sama. Bajuku juga basah.” celetuk Shinri. Siwon memperhatikan baju Shinri yang memang basah, sehingga baju kaos putih yang dipakainya terlihat transparan karna basah. Tubuh Siwon bergetar melihatnya.

 

Bagaimana tidak? Kaos putih Shinri yang basah dan transparan, dan hot pants yang di pakainya sukses mengekpos paha indahnya. Juga rambutnya yang basah tergerai acak-acakkan membuat Shinri sangat mempesona dan terlihat menarik bagi Siwon. Ia tergelitik.

 

“Shinri-ah.” Panggil Siwon pelan dengan nada suara merendah. Ia menatap mata bulat Shinri dengan intens. Sementara Shinri yang tidak mengerti, hanya menatap Siwon dengan wajah polosnya.

 

“Nanti… Nanti jika saat aku memberikan cincin padamu, kau akan menerimanya kan?” Tanya Siwon memandang Shinri dengan lekat. Ia kesulitan mengontrol rasa gugupnya meskipun ia tahu ini bukan ‘acara’ yang sesungguhnya. Ah, rasa-rasanya baru kali ini Siwon bergetar dan baru merasakan apa itu namanya nervous.

 

Lain halnya dengan Shinri yang membeku dengan mimik wajah bodoh. Otaknya masih mencerna baik-baik apa yang Siwon katakan namun ia terhenyak ketika Siwon merengkuh tubuhnya dengan posesif. Hanya dalam waktu beberapa detik, bibir mereka sudah beradu.

 

Siwon mengecup lembut bibir Shinri yang telah menyatu dibibirnya. Sangat pas, bagaikan bibir Shinri memang tercipta untuknya. Siwon tersenyum dalam hati, saat tangan Shinri melingkar di lehernya dan bibirnya yang mulai aktif membalas. Lumatan halus itu semakin menjadi menuntut seiring nafas mereka yang mulai tersengal kehabisan oksigen. Siwon hanya memiringkan kepalanya dan meregangkan sedikit bibirnya sehingga Shinri bisa mengambil nafas sejenak.

 

Siwon menarik pinggang Shinri dengan mesranya. Tubuh bagian bawah mereka basah, tapi tidak dipedulikan. Shinri mencengkram lengan Siwon saat ciuman manis itu semakin dalam dan membuai dirinya. Ia mengerang karena Siwon melumat lidahnya dengan perlahan. “Eungghh…” Lenguhan pertama Shinri terdengar ketika bibir Siwon merambat pada lehernya, meninggalkan jejak-jejak tanda kepemilikan disana.

 

Tangan Siwon tidak bisa diam ditempat, jari-jari besar itu mulai bergerilya dengan menyusup kedalam pakaian Shinri yang basah. Satu tangannya mengelus punggung halusnya, sementara satunya memegang tengkuk Shinri sebelum ia kembali untuk melumat bibirnya dengan panas. Suara decakan basah bibir mereka beradu dan mungkin akan terdengar aneh bagi yang mendengar.

 

Pandangan Siwon menggelap karena hasratnya benar-benar terpancing hingga ke dasar. Seluruh tubuh Siwon sangat panas karena terbakar gairah besar saat tangan mungil itu mengusap pelan dirinya.

 

Ting tong!

 

“Mmm….” Ucap Shinri tertahan. Gadis itu menutup mulutnya agar desahannya tidak keluar. Kedua matanya tertutup rapat dan Siwon berhasil membuat dirinya melayang untuk menginginkan sentuhan yang lain. Mereka kembali berciuman panas dengan saling merasakan gairah yang mengundang sisi primitif keduanya. Setelah bibir Siwon memagut intens bibirnya, pun  Shinri membalas perlakuan Siwon dengan membuka mulutnya dan membalas lumatannya sama banyak.

 

Pandangan Siwon menggelap karena hasratnya benar-benar terpancing hingga ke dasar. Seluruh tubuh Siwon sangat panas karena terbakar gairah besar saat tangan mungil itu mengusap pelan dadanya denga gerakan halusnya yang terasa mampu membuat Siwon meledak. Ah, ia ingin segera membawa gadis itu ke ranjangnya karena kepalanya cukup pening dengan gairahnya sekarang.

 

Ting tong!

 

Siwon membuka matanya mendengar suara bel bel yang berbunyi. Perasaan saja! batin pria itu. Ia kembali larut dalam ciuman memabukkan itu. Bibir merah Shinri membuatnya merasa enggan pergi meninggalkan bibir indah miliknya. Tangannya naik dan mengusap pelan punggung Shinrid dengan gerakan abstrak.

 

Ting tong!

 

Giliran Shinri yang membuka matanya mendengar suara bel yang terus berbunyi dari tadi. Ia memang mendengar, tapi ia tidak yakin. Juga tidak kuasa melepaskan diri dari Siwon di saat sentuhan pria itu membuatnya mabuk kepayang. Melihat penampilan Siwon dengan baju basah dan rambut setengah basahnya itu benar-benar membuat Shinri enggan melepaskan diri dari kekasihnya itu.

 

Ting tong!

Ting tong!

Ting tong!

 

Suara bel berbunyi lebih cepat tiga kali lipat. Keduanya tersadar, dengan mata yang terbuka sempurna tapi masih dengan skin ship yang rapat seperti tadi. Shinri mendorong dada Siwon darinya dan menunduk malu dengan wajah memerah. Dalam hati, Siwon mengutuk keras orang yang mengganggu kegiatan mereka tadi. Ia sangat jengkel. Lagipula siapa juga yang bertamu ke apartmentnya siang-siang bolong saat weekend begini?

 

“Menyebalkan!” tukas Siwon yang dapat di dengar dengan jelas oleh Shinhye. Pria itu menghela nafas beratnya dengan panjang. Kenapa harus pada timing seperti ini? Siwon mengacak kasar rambutnya dan dengan rela tak rela, ia melepaskan Shinri darinya dengan wajah memerah menahan gairahnya.

 

“Aku akan membuka pintu. Kau ganti pakaianmu, nanti masuk angin.” Ujarnya dengan suara parau. Shinri menatapnya sejenak sebelum ia mengangguk setuju. Siwon pasti sangat tersiksa, itu pikirnya. Gadis itu meringis membayangkan rasanya.

 

Siwon melepas bajunya untuk menggantinya dengan sebuah kaos putih dan meraih sebuah handuk untuk mengeringkan rambutnya. Ia masuk dalam rumah dan membuka pintu yang sedari tadi mengganggu kegiatan mereka. Lebih tepatnya suara bel yang dipencet begitu tidak sabaran. Menjengkelkan sekali. Siwon mengutuk siapapun tamu tak di undang yang telah mengganggu waktu privasinya bersama Shinri hari itu.

 

Masih dengan handuk yang menggantung di bahu, Siwon membuka pintu rumahnya dengan kesal. Mulutnya gatal ingin menyumpahi tamu yang bertandang hari itu jika saja Siwon tidak menahan mulutnya. Kekesalannya menciut di ujung kuku ketika melihat pasangan itu berdiri dengan wajah panik.

 

“Siwon-ah! Lama sekali kau membuka pintu. Kau hampir membuat kami ingin memanggil petugas keamanan untuk membobolnya karena kami pikir terjadi sesuatu padamu.”

 

Siwon terdiam. Ia tarik kembali niatnya yang ingin menyumpahi tamu yang merusak waktunya dengan gadisnya. Karena Siwon yakin ia tidak bisa melakukan itu pada mereka.

 

“Appa, eomma. Kenapa datang tanpa memberitahuku dulu?!”

 

* *

 

Suasana awkward tampak sekali dalam ruangan tersebut. Shinri hanya menundukkan kepalanya dengan tangan yang bergetar di atas pahanya, sementara Siwon hanya melirik gadis itu sesekali sebelum ia kembali memandang kedua orangtuanya yang menatap mereka dengan lekat.

 

Kedua orangtuanya saling berpandangan ketika melihat penampilan kedua sejoli itu. Pakaian santai dan dengan rambut keduanya yang masih setengah basah seolah menjadi arti penting kemana pikiran orangtua seperti mereka akan mengarah. Tidak perlu menjadi cerdas untuk memikirkan hal apa yang telah mereka lakukan.

 

Ny Choi berdehem pelan. “Jadi, sudah berapa lama tepatnya kalian pacaran?”

 

“Hampir tiga bulan, mungkin.” Siwon melirik Shinri dan gadis itu ikut meliriknya. Pria itu menggenggam tangannya ketika Shinri terlihat pucat.

 

Jelas Shinri merasa tegang dengan kehadiran mendadak kedua orangtua Siwon. Gadis itu benar-benar gugup dengan keadaannya yang sekarang. Seolah ia tengah tertangkap basah melakukan sebuah tindak kriminal dan tengah dalam tahap interogasi dari polisi, juga suasana menegangkan tersebut seolah membuatnya tengah berada dalam pengadilan untuk mendengar putusan Hakim.

 

Shinri masih dalam kegugupannya ketika ia mendengar gelak tawa dari pasangan paruh baya itu. Gadis itu mengangkat wajah dan beralih menatap Siwon yang hanya memberinya senyuman tipis di bibir. Lalu ia mendengar suara berwibawa milik Tn Choi yang menggema di sana.

 

“Aigo, bukankah anak-anak muda seperti mereka cepat sekali bertindak, yeobo?” Tn Choi menatap istrinya yang juga tengah tertawa. Shinri tidak bisa mengartikan ucapan Tn Choi, maka ia hanya mengerutkan dahinya. “Kalau tahu begitu, seharusnya kami tidak mengganggu ya? Hahaha, mianhae.” Celetuk Ny Choi yang terkekeh.

 

“Lalu, kenapa kau belum membawa Shinri pada kami, Siwon-ah? Kau tahu bahwa kami sudah sangat menantikan calon menantu pertama kami.” Siwon terkekeh kecil mendengar ucapan ibunya dan spontan menimbulkan semburat rona merah terpatri di wajahnya. Shinri terkejut mendengarnya. “Mian, eomma. Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat. Dan kalian keburu datang untuk melihat Shinri sendiri.”

 

Shinri membeku di tempatnya. Ia melihat Siwon yang menatapnya dengan senyum terbaiknya. Wajahnya memanas ketika kedua orangtuanya ikut menatapnya dengan senyuman di bibir. Tidak ada ekspresi marah atau dengki sedikitpun dari wajah orangtua Siwon seperti yang ia bayangkan di drama-drama yang ia tonton saat salah satu pihak orangtua menentang hubungan anaknya.

 

“Shinri-ya, kau pasti sangat terkejut dengan kedatangan kami.” Ujar Ny Choi sambil menatap Shinri dengan semringah. “Sedikit, ahjumma.” Jawab Shinri segan. Sejatinya bukan ‘sedikit’ saja, melainkan sangat terkejut malahan.

 

“Jangan tegang begitu. Santai saja dengan kami.” Ucap Tn Choi yang menyadari sikap gelisah dari gadis itu. Shinri tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.

 

“Menikahlah dengan Siwon segera, Shinri-ssi. Kau tahu bahwa kami sudah sangat menginginkan cucu.” Ucap Tn Choi dengan wajah bahagia. Namun berbeda dengan Shinri yang tampak terkejut sekaligus merona mendengarnya.

 

“Me—menikah?” Shinri membeo dengan wajah polosnya.

 

Siwon menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu menatap ayahnya dengan tatapan memohon. “Ayolah, appa.” Rengek Siwon memelas.

 

“Shinri-ya, kau tahu betapa terkejutnya kami saat melihatmu di sini? Kau wanita pertama yang Siwon bawa ke apartmentnya untuk menginap. Siwon sangat payah dalam urusan asmara jadi mohon di mengerti jika sewaktu-waktu dia bertingkah menyebalkan.” Ujar Ny Choi yang sukses membuat Siwon merona dan salah tingkah. Pria itu hanya mengeluh pelan sembari menepuk dahinya.

 

“Ne, ahjumma.” Balas Shinri sambil terkekeh. Ia melirik Siwon yang tampak memalingkan wajah darinya. “Oppa, apa kau malu?” Bisik Shinri dengan pelan. Gadis itu tidak dapat menyembunyikan senyumannya ketika melihat Siwon yang melengos dengan wajah memerah.

 

Diam-diam, Ny Choi tersenyum melihat interaksi keduanya. Dilihat sekilas saja, Ny Choi tahu hal apa yang bisa membuat Siwon terpana dengan Shinri. Gadis ini begitu lembut dan baik hati pastinya. Bahkan Ny Choi mengingat jelas wajah Shinri saat gadis itu melayaninya ketika ia meminta agar makanannya untuk kembali di panaskan waktu itu.

 

* * * * *

 

Restoran cukup sepi sore itu sehingga bisa di manfaatkan oleh Myungsoo untuk duduk-duduk bercengkrama dengan Siwon di meja yang terletak di sudut. Shinri yang saat itu kebetulan lewat, segera menghampiri kedua pria itu. Ia bahkan sedikit terkejut melihat Siwon di sana yang datang tanpa mengabarinya.

 

“Oppa, kenapa kesini?”

 

“Kau sudah selesai bekerja?” Tanya Siwon tanpa mengindahkan pertanyaan Shinri sebelumnya. Myungsoo hanya memperhatikan kedua orang itu sambil menyeruput jus buahnya.

 

“Ayo.” Siwon segera menautkan jari mereka sebelum ia mengalihkan pandangan pada Myungsoo. “Kami duluan, Myungsoo-ya.” Pamit pria itu tanpa mengetahui Shinri yang hanya bertanya-tanya kemana pria itu akan membawanya.

 

“Eoh, hati-hati hyung. Gomawo untuk traktirannya.” Sahut Myungsoo dengan semringah. Ia melambaikan tangan pada Siwon dan Shinri sebelum keduanya meninggalkan restoran.

 

“Mau kemana?” Tanya Shinri ketika mereka sudah berada dalam Mobil. Siwon hanya menatapnya sambil memberikan senyuman tipis. Pria itu hanya melajukan mobilnya dalam keheningan menuju sebuah tempat yang ingin ia datangi.

 

“Kenapa tiba-tiba ke sungai Hangang?” Shinri mengerutkan keningnya ketika Siwon membawanya ke dermaga sungai.

 

“Hanya sedang ingin saja.” Siwon tersenyum kecil sambil menarik Shinri menaiki dermaga. Pantulan cahaya orange dari refleksi silau sunset menjadi pemandangan yang begitu indah untuk di nikmati. Air sungai yang berarak berirama berkilauan dengan cantiknya karena cahaya keemasan dari matahari yang akan kembali ke peraduannya.

 

“Besok pagi aku akan pulang, oppa. Aku sudah berkemas semalam.” Ucap Shinri dengan pandangan yang tertuju ke langit senja.

 

“Hm. Aku tahu.” Jawab pria itu. “Kemarilah.” Lantas Siwon merentangkan tangannya. “Aku ingin memelukmu sebelum aku akan benar-benar merindukanmu kelak.”

 

Shinri tersenyum mendengarnya. Perlahan gadis itu mendekati Siwon dan memeluk pria itu yang segera di balas dengan erat oleh Siwon. “Aku bahkan belum pergi, oppa. Kau berlebihan.” Dengusnya. “Bahkan aku pindah, toh kita akan lebih sering bertemu.”

 

“Tetap saja, aku tidak bisa lagi memelukmu waktu tidur.” Celetuk Siwon sambil mendesahkan nafas. Mereka masih terus berpelukan seraya di temani senja yang menyerakkan bara di langit barat. Keduanya tampak tak ingin memisahkan diri, sampai kemudian Shinri berujar dengan lirih.

 

“Tentang orangtuamu, aku melayani mereka di restoran sebelum aku melihat mereka kemarin di apartment. Mereka pun pasti mengingat wajahku, aku rasa.”

 

“Heum, aku tahu. Eomma memberitahuku bahwa kau telah memanaskan pastanya saat itu.”

 

Shinri melepaskan pelukannya dan menatap Siwon dengan mata bulatnya. “Lalu? Beliau tidak marah?”

 

Siwon terkekeh melihat tatapan polos gadis itu. Di sentilnya pelan dahi Shinri sehingga membuat gadis itu menatapnya heran. “Memangnya kenapa harus marah? Maksudmu, apa karena kau yang bekerja sebagai pelayan dan kau beranggapan orangtuaku tidak menyukainya, begitu?”

 

“Ya. Memangnya tidak begitu?” Tanya Shinri balik dengan matanya yang berkedip-kedip dengan lugu.

 

“Tidak, Shinri. Kami tidak seperti itu. Bagi kami, tidak ada pembagian level dimana si kaya harus di atas, dan si miskin mutlak di bawah. Semua manusia itu sama, dan orangtuaku tidak pernah mengajarkan hal seperti itu padaku.” Terang Siwon dengan bijak. Shinri terdiam mendengarnya. Ada rasa hangat yang mengaliri hatinya. “Dan orangtuaku sangat menyukaimu, jika kau tahu.”

 

Bahkan semburat rona merah itu tanpa malu-malu tersemat di pipinya mendengar ucapan Siwon. Shinri menundukkan wajahnya dan tepat saat itu Siwon kembali memeluknya dengan hangat. Pria itu diam-diam tersenyum cerah melihat reaksi tersipu gadisnya.

 

“Mereka bahkan ingin makan malam denganmu kapan-kapan.” Siwon terkekeh pelan ketika merasakan gadis itu yang menegang dalam pelukannya. Ah… Shinri pasti sangat gugup, kan?

 

* * * * *

 

Siwon melempar asal ponselnya ketika ia tidak dapat menghubungi nomor Shinri. Ini genap sudah sepekan sejak gadis itu memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Pria itu memijit kepalanya yang berdenyut pening sebelum ia membuka seluruh pakaiannya dan berjalan menuju kamar mandi untuk berendam dengan air hangat.

 

Namun, rencana Siwon untuk berendam hari itu tampaknya tidak berjalan begitu lancar ketika Bel apartment miliknya yang terus di bunyikan dengan tidak sabaran. Siwon mengeluh dan dengan malas, pria itu memakai sebuah handuk untuk menutupi tubuh bawahnya. Tidak mungkin jika Shinri yang memencet Bel sementara gadis itu sudah mengetahui password-nya yang bahkan sudah di luar kepala.

 

Siwon membuka pintunya tanpa mau repot-repot melihat layar intercom. Pria itu lantas membesarkan matanya ketika melihat seorang wanita cantik yang kini berdiri di hadapannya dengan penampilan modisnya.

 

“Oppa! Hua~ sudah berapa lama aku tidak memelukmu seperti ini?”

 

Siwon tersenyum semringah saat wanita itu memeluknya yang bahkan masih bertelanjang Dada. Ia sama sekali tidak keberatan dan balas memeluk sayang wanita itu. “Dasar nakal! Hidup di Florida membuatmu menjadi sombong bahkan untuk menghubungiku, huh?” Siwon menyentil dahi wanita itu sesaat setelah mereka melepaskan pelukan kerinduan tersebut.

 

“Hahaha, mian. Aku hanya terlalu malas menghubungi oppa yang pasti berujung dengan omelan darimu.” Celetuk wanita itu dengan cengiran kecilnya. Sesaat, pandangannya beralih menatap tubuh kekar Siwon. “Oho, tubuhmu semakin macho, oppa. Aku yakin kau semakin rajin membentuknya untuk calon iparku nantinya.” Wanita itu dengan jahilnya mengerling sembari menoel perut keras Siwon.

 

“Yya, Choi Jiwon! Kau benar-benar!” Siwon mendengus sembari sedikit menjauhkan tubuhnya dari Jiwon yang terkikik geli melihat reaksi kakak sulungnya itu.

 

“Ah, aku lapar. Oppa pasti punya ramen, kan?” Dengan santainya, Jiwon melengos masuk dalam apartment Siwon sembari mengaduh kelaparan.

 

“Jauh-jauh pulang dari Florida, dan kau malah mencari ramen? Astaga, Jiwon-ah.” Siwon memutar bola matanya dan hendak menutup pintu saat ia menyadari bahwa ia masih bertelanjang dada di depan apartmentnya. Dan jelas ini ulah dari adik perempuannya itu.

 

* * *

 

Kuliahnya baru selesai beberapa menit yang lalu setelah Shinri yang bersiap-siap membereskan bukunya untuk pulang. Gadis itu terpaku menyadari ponselnya yang dalam mode silent dan mendapati puluhan missed calls dari Siwon. Ia lupa memberi konfirmasi pada pria itu bahwa ia akan mengikuti kuliah tambahan hari itu karena ia jauh lebih sibuk setelah pindah ke rumahnya yang semula.

 

Shinri menjinjing beberapa kresek yang berisi bahan masakan yang baru ia beli dari supermarket. Ia berencana untuk memberi kejutan pada Siwon dengan sengaja tidak memberitahukan kedatangannya. Saat ia sudah tiba di depan gedung apartment kekasihnya itu, sontak langkah Shinri terhenti ketika melihat seorang wanita yang memencet Bel berkali-kali. Shinri mengerutkan dahinya ketika melihat wajah asing wanita itu.

 

‘Siapa dia? Sedang apa dia?’ Kira-kira sekelebat pertanyaan itulah yang memenuhi benaknya kini.

 

Shinri lalu melihat Siwon yang membuka pintu dengan tubuh bagian atasnya yang polos yang terlihat seperti pria itu baru selesai mandi. Tubuh Shinri kontan menegang ketika tanpa aba-aba, wanita tersebut memeluk Siwon yang bahkan segera di balas tanpa keberatan dari Siwon yang masih bertelanjang dada. Nafas Shinri tercekat di dasar saat keduanya yang tampak begitu akrab satu sama lain. Gadis itu bahkan menjatuhkan kresek yang di bawanya dan menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya sendiri.

 

Hati Shinri memanas, begitu halnya dengan matanya yang mulai memerah ketika mendapati Siwon yang tersenyum semringah pada Jiwon. Saat Siwon balas memeluknya, saat pria itu menyentil dahinya, semua itu tidak luput dari perhatian Shinri yang bahkan kini telah menganak sungai di matanya.

 

Keterkejutan Shinri tidak sampai hanya di sana. Nyatanya begitu melihat Jiwon menyentuh perut milik Siwon dan pria itu dengan serta-merta membiarkan wanita itu masuk dalam apartmentnya, sukses membuat jantung Shinri tercabik-cabik. Tubuhnya melemas bagai tanpa tulang. Gadis itu berusaha keras membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara isakannya yang pasti terdengar memilukan bagi siapapun yang mendengar.

 

* * *

 

“Hik.” Entah sudah berapa kali Shinri cegukan ketika ia meneguk kasar alkohol di gelasnya itu. Gadis itu tak berhenti bergumam lirih dengan buliran airmata pada pipinya. Ia bahkan sesekali terisak dengan keras sehingga sukses membuatnya menjadi pusat perhatian di kedai tersebut.

 

Dengan matanya yang terpejam, Shinri meracau asal ketika botol sojunya yang ketiga sudah kosong ketika ia ingin meneguknya. Melihat itu, airmatanya kembali jatuh dan mendadak saja ia menjadi lebih melankolis mengingat Siwon yang telah berkhianat padanya. Gadis itu kembali terisak dengan menyedihkan seraya menutup wajahnya yang berantakan.

 

“Aghassi, kau tidak mau mengangkat ponselmu? Itu sudah berdering lima kali jadi tolong terima. Aku rasa itu dari kekasihmu.” Tegur ahjumma pemilik kedai itu dengan perhatian. Ia menepuk pundak Shinri beberapa kali dengan prihatin.

 

Mendengar itu, Shinri hanya menatap marah ponselnya yang lagi-lagi berdering. Ia menggeser ikon hijau tersebut dan belum sempat ia bicara, Siwon lebih dulu menginterupsinya dengan nada khawatir yang kentara sekali.

 

“Yya, kau dimana, Ri-ah? Kenapa kau belum pulang ke rumah? Katakan padaku kau ada di mana sekarang.”

 

Shinri memutar bola matanya dengan jengah mendengar ucapan Siwon. Ia mengepalkan tangannya dengan kesal. “Brengsek. Kau brengsek, Siwon-ssi. Jangan membodohiku lagi, brengsek!!” Pekiknya dengan kencang sehingga membuat Siwon yang di seberang berjingkat kaget. Ahjumma yang mendengar pekikan Shinri juga sama terkejutnya.

 

“Ri-ah, apa maksudmu? Shinri-ah?” Kalut Siwon mendengarnya. Jujur ia benar-benar tak paham dengan ucapan Shinri yang ia tebak tengah dalam pengaruh alkohol.

 

“Halo, tuan. Nona ini sepertinya sangat mabuk jadi lebih baiknya jika kau datang menjemputnya di kedaiku.” Ahjumma tersebut mengambil alih ponsel Shinri ketika gadis itu sudah ambruk di meja dengan menjatuhkan kepalanya di sana.

 

“Apa? Ah, baiklah. Aku akan ke sana secepatnya.” Siwon menginjak pedal gasnya setelah mengetahui alamat yang di berikan oleh ahjumma itu. Tidak sampai 30 menit, Siwon sudah sampai di kedai tersebut. Pria itu terbelalak melihat tiga botol soju yang sudah kosong pada meja gadis itu.

 

“Nona ini menangis hebat sejak tadi sampai ia jatuh karena kelelahan.” Jelas ahjumma setelah melihat kedatangan Siwon. “Kau kekasihnya kan? Maka bawalah gadismu pulang dengan selamat.”

 

“Tentu saja. Gamsahamnida, ahjumeoni.” Siwon menyerahkan beberapa lembar uang untuk membayar. Pria itu membuka jaketnya dan menyelimuti tubuh Shinri agar tidak kedinginan. Ia merangkul Shinri dengan hati-hati agar gadis itu tidak jatuh. Begitu sampai di mobilnya, Siwon lama terdiam demi mengamati wajah Shinri yang memerah karena alkohol yang di teguknya.

 

“Ada apa denganmu, heum? Kenapa tiba-tiba kau minum alkohol seperti ini?” Siwon bergumam seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadisnya. “Kau juga tidak mengangkat telponku seharian ini.” Mendesahkan nafasnya dengan kasar, Siwon bahkan merasa linglung melihat keadaan gadis itu.

 

“Shinri-ah.” Panggil Siwon ketika samar-samar gadis itu mengerjapkan mata pertanda siap untuk terjaga. Shinri melenguh sambil memperhatikan tempatnya saat ini dengan kesadaran tipis. Namun, saat melihat Siwon, gadis itu mulai mengoceh asal-asalan lagi.

 

“Ah… Choi Siwon-ssi?” Shinri mendorong dada Siwon dengan jari telunjuknya ketika pria itu mendekatinya. “Brengsek kau.” Umpatnya. Kali ini, gadis itu kembali menitikkan airmatanya yang membuat Siwon tersentak.

 

“Shinri-ah, ada apa denganmu? Apa aku berbuat salah?” Tanya Siwon dengan sorot kecewa. Hatinya ngilu melihat gadis itu menangis seraya terus mengumpatnya. Ada apa dengan gadis itu?

 

“Apa kau benar-benar mencintaiku?” Tanya Shinri dengan wajahnya yang basah. Ia menatap Siwon dengan tajam dan hatinya yang tercabik-cabik. “Apa kau yakin bahwa kau mencintaiku dan bukannya malah mempermainkan perasaanku, oppa?” Shinri mulai terisak dengan airmatanya yang mengalir deras. Ia menggigit bibir melihat Siwon yang terhenyak dengan pertanyaannya.

 

“Apa maksudmu? Aku benar-benar mencintaimu, jika kau tahu. Mempermainkan perasaanmu? Apa gunanya hal itu aku lakukan padamu, sayang?” Ujar Siwon dengan lembut. Ia menyeka airmata Shinri dengan ibu jarinya perlahan.

 

“Bohong. Pembohong.”

 

Usai mengatakan dua kata itu, Shinri kembali jatuh dalam ketidaksadarannya. Gadis itu dengan mudahnya tertidur bahkan masih dengan wajahnya yang basah. Terlihat gurat kelelahan dari wajah cantiknya. Dan bodohnya Siwon bahkan sama sekali tidak memahami maksud gadis itu. Ia hanya terpaku untuk beberapa saat sebelum ia mengantar Shinri untuk beristirahat di rumahnya.

 

* * * * *

 

Seolah masih belum puas dengan kenyataan yang ia lihat kemarin, kali ini Shinri datang dengan wajah yang jelas tak terlihat baik-baik saja. Tangannya bergetar gugup untuk menekan Bel. Ini masih jam makan siang jadi sudah pasti Siwon sedang tidak ada di rumah. Shinri hanya datang untuk memantapkan hatinya tentang wanita yang kemarin ia lihat.

 

“Nuguseyo?”

 

Shinri membisu ketika Jiwon membuka pintu. Gadis itu terhenyak menealah penampilan berkelas Jiwon yang jelas-jelas berbeda telak darinya yang bahkan hanya memakai baju murah. Lihatlah Jiwon yang begitu bergaya dengan dress polkadot biru dan jam tangan ber-merk miliknya. Ah… Jangan lupakan wajah cantiknya itu. Rambut panjangnya, bulu matanya yang lentik tanpa maskara, dan bibir merah naturalnya.

 

“Apa kau mencari oppa? Maaf, tapi Siwon oppa sedang di kantor saat ini.” Jelas Jiwon ketika menyadari wajah Shinri yang terpaku bodoh menatapnya.

 

Shinri meringis mendengar panggilan ‘Oppa’ yang jelas Jiwon tujukan pada Siwon. Hatinya bahkan memanas membayangkan Jiwon menghabiskan malamnya di sana. Ck, baru beberapa hari ia pindah namun Siwon sudah membawa wanita lain menginap di sana? Rasanya sangat menyakitkan jikalau pria itu tahu. Sejenak, Shinri merasa dirinya yang benar-benar rendah sekarang saat mendapati fakta bahwa Siwon telah menemukan ‘Wanita Kedua’ selain dirinya yang ia bawa ke apartment.

 

“Chogio, aghassi…”

 

“Ah, maaf. Aku salah apartment. Permisi.” Shinri meninggalkan tempat itu dengan jantung berdebar keras seraya menepuk dadanya yang bergemuruh sesak.

 

* * *

 

Entah apa yang terjadi pada gadis itu, Myungsoo pun tak dapat menebaknya saat Shinri hanya mengabaikan kekhawatirannya dan berlalu setelah itu tanpa kejelasan. Seperti saat ini, Myungsoo dibuat berdecak ketika mendapati gadis itu menatap kosong ke depan tanpa mengetahui gelasnya yang kini sudah di banjiri genangan air dari teko yang sedang ia gunakan.

 

Myungsoo menghela nafas. Di ambilnya teko dari tangan gadis itu sehingga kontan membuat Shinri sedikit berjingkat kaget. “Yya, Shinri-ah! Apa yang kau lakukan?”

 

Shinri tersadar, lantas di perhatikannya genangan air di sekeliling meja yang merupakan ulahnya. “Ah, maaf.” Gadis itu segera mengambil kain untuk membersihkannya.

 

“Kau kenapa? Kau terlihat tidak fokus sepanjang hari ini. Terjadi sesuatu?”

 

“Tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Shinri tersenyum tipis pada Myungsoo yang di ketahui pria itu sebagai senyuman palsu. Di tepisnya lengan Myungsoo yang singgah di tangannya. “Aku lelah. Aku akan pulang cepat malam ini.” Ujar Shinri dengan lirih.

 

Myungsoo terlihat khawatir. Maka di sentaknya lengan Shinri untuk menghadapnya. “Jangan begini, Ri-ah. Jika ada masalah, ceritakan padaku. Aku ini sahabatmu sejak TK, dan kita sudah persis seperti saudara kembar. Ada apa? Ceritakan, eoh? Aku tidak suka melihat wajah jelekmu itu.”

 

Shinri tersenyum mendengar ucapan Myungsoo. Gadis itu menggigit bibirnya lalu kembali menatap Myungsoo dengan wajah yang sedikit memerah. “Nanti… Aku akan menceritakannya nanti padamu, Myungsoo-ya. Aku akan pulang duluan, oke?”

 

Shinri melepaskan apron dari tubuhnya lalu berjalan menuju ruang karyawan untuk mengganti bajunya. Menyisahkan Myungsoo yang hanya menatap gadis itu dengan perasaan cemas.

 

Shinri berjalan di jalan setapak dengan langkah lemasnya. Gadis itu menatap ponselnya yang sengaja ia matikan dan ragu-ragu untuk mengaktifkannya kembali. Ia takut begitu ia menghidupkannya, ia akan mendapati banyak panggilan dari Siwon seperti kemarin. Akhirnya, Shinri kembali menyimpan benda itu dalam saku mantelnya tanpa mau menyalakannya.

 

Gadis itu tersentak ketika mendapati Mobil Siwon yang akan menuju restoran. Menghela nafasnya dengan gugup, Shinri lantas memberhentikan sebuah taksi dan cepat-cepat masuk ke dalamnya. Setelah menyebutkan tujuannya, taksi itu segera melaju pergi dan tepat ketika itu, Mobil Siwon telah terparkir di restoran.

 

Terlihat oleh Shinri, Siwon yang dengan tergesa memasuki restoran dengan masih dengan pakaian kerjanya. Shinri menghela nafas dan segera di sekanya buliran air mata di wajahnya.

 

Hatinya terasa sesak.

 

*

 

“Oh, hyung? Shinri baru saja pulang karena katanya dia lelah.” Ujar Myungsoo saat melihat Siwon yang berjalan masuk dalam restoran dengan wajah khawatir. “Apa kalian tidak bertemu di jalan? Bahkan belum 10 menit sejak dia pergi.”

 

“Tidak. Aku bahkan sama sekali tidak melihat bayangannya.” Kata Siwon. Pria itu lantas mengusap wajah dengan sorot frustasi. “Dia tidak dapat di hubungi bahkan sejak kemarin. Bahkan ponselnya tidak aktif seharian ini.”

 

“Apa kalian sedang bertengkar? Aku lihat seharian ini dia juga tidak fokus dengan pekerjaannya.” Eluh Myungsoo yang sukses membuat Siwon mengerutkan dahi karena heran.

 

“Kami tidak bertengkar. Kami bahkan masih baik-baik saja sejak Shinri pindah kerumahnya.”

 

* *

 

Berjalan kesana-kemari tanpa tujuan, Shinri pasrah saat langkah kakinya berakhir membawanya kembali ke rumah. Shinri mendesahkan nafasnya dengan pelan lalu dengan langkah terseret, gadis itu berjalan mendekati pintu tanpa sadar jika Siwon tengah bersandar di sana.

 

“Kenapa baru pulang? Darimana saja?” Pertanyaan pria itu membuat Shinri terhenyak melihat kehadirannya. Ia yang bermaksud ingin menghindari Siwon, namun malah harus berakhir melihat pria itu tepat di hadapannya.

 

“Ri-ah, kenapa kau tidak bisa di hubungi? Kau tahu aku sangat khawatir? Bukankah aku pernah bilang bahwa berhenti membuatku khawatir terhadapmu?” Siwon mendesah sebelum ia berjalan mendekati gadis itu hendak memeluknya. Pria itu terkejut saat Shinri memundurkan langkah darinya, menghindari pelukannya. “Kau kenapa?”

 

Shinri membuang wajah seraya menahan deraian air matanya. Ia menepis tangan Siwon dari pundaknya. “Pulanglah. Kau tidak perlu menungguku seperti tadi.” Ujarnya dengan nada datar. Enggan menatap Mata Siwon yang ia tahu tengah menatapnya.

 

Gadis itu berlalu dengan dingin tanpa mengindahkan Siwon yang terhenyak dengan sikapnya. Shinri menutup pintu rumahnya dengan kasar dan bersandar di baliknya. Matanya berkaca-kaca ketika Siwon yang menggedor pintunya beberapa kali sembari memanggil namanya. Hatinya remuk redam ketika kembali di ingatnya kejadian kemarin. Dan ia terluka karenanya.

 

* *

 

Hujan turun dengan deras di luar dan membuat Shinri membuka tirai jendelanya untuk melihat sebuah mobil Audi milik Siwon yang masih terparkir di halaman rumahnya. Gadis itu mendesah melihat sikap keras kepala pria itu yang kekeuh tidak beranjak sedikitpun dari mobilnya.

 

“Apa dia gila? Apa dia tidak kedinginan?” Dengus Shinri dengan gelisah memikirkan keadaan Siwon di luar.

 

Akhirnya, Shinri memakai mantelnya dan membawa sebuah payung untuk dirinya. Gadis itu mengetuk jendela mobil Siwon dan mendapati pria itu yang tengah meringkut dalam posisinya. Shinri meringis melihatnya.

 

“Ri-ah.” Betapa Siwon merasa bahagia ketika melihat kedatangan gadis itu. Ia keluar dari mobilnya dan masuk dalam payungan Shinri dengan wajahnya yang terasa membeku.

 

“Kau gila? Kenapa belum pergi dari sini? Mau mati membeku di sini?!” Sungut Shinri dengan marah. Ia marah karena Siwon membuatnya khawatir. “Pergilah sekarang.”

 

Siwon menatap gadis itu dengan tatapan lurus. Berusaha menemukan kejanggalan yang di sembunyikan oleh gadis itu. “Shireo. Aku tidak akan pergi sebelum kau bicara ada apa denganmu.” Ujarnya. “Jikapun kau tidak mau aku mati membeku di sini, maka kau harus memberitahuku apa yang terjadi padamu, Shinri-ah.”

 

Shinri enggan menatap Siwon ketika pria itu terlalu sibuk menatapnya tanpa berniat untuk berpaling. Ia sedikit beringsut ketika Siwon hendak menyentuh pundaknya. Tubuhnya sedikit basah terkena rintik hujan karena itu.

 

Shinri menggigit bibirnya dengan perasaan bergemuruh. Ia ingin saja menanyakan perihal masalah yang mengganggunya, namun Shinri tak menjamin jika ia sanggup mendengarnya dari mulut Siwon sendiri. Ia takut. Ia hanya terlalu takut untuk mendengar faktanya.

 

“Pulanglah, oke? Jangan melakukan hal bodoh.”

 

Shinri memberikan payung tersebut pada Siwon dan hendak berlari menuju rumahnya namun lengannya berhasil di tahan oleh Siwon. Pria itu menatapnya dengan nanar, seraya berujar dengan sengau. “Kau tidak mau bicara padaku, Ri-ah?”

 

Shinri menatap Siwon dengan matanya yang memerah. Gadis itu sesak melihat tatapan memohon milik kekasihnya itu. Maka segera di tepisnya tangan Siwon darinya.

 

“Maaf.”

 

Lalu Shinri berlalu untuk berlari menerobos hujan, meninggalkan Siwon seorang diri yang hanya berdiri kaku di tengah rintik demi rintik hujan yang turun.

 

* * * * *

 

Pagi menjelma dengan cepat. Shinri yang baru saja terjaga dari tidurnya di buat mengerang kecil ketika alarmnya berbunyi. Dengan malas, di sibaknya selimut tebalnya itu dan ragu-ragu di sibaknya pula tirai jendelanya dengan was-was. Gadis itu menutup mulutnya dengan kaget saat melihat Audi Siwon yang masih ada di luar rumahnya.

 

Terburu-buru, Shinri membasuh wajahnya sebelum ia menghampiri pria itu yang tertidur dalam mobilnya. Shinri mengetuk kaca mobilnya dan alangkah terkejutnya gadis itu saat melihat wajah pucat milik Siwon. Gadis itu segera membuka pintu mobilnya dan terhenyak ketika Siwon yang tiba-tiba langsung jatuh dalam pelukannya begitu gadis itu membuka mobilnya.

 

“Oppa! Oppa, bangunlah!” Shinri menepuk wajah Siwon dengan panik saat merasakan tubuhnya yang panas. Bibir pria itu juga mengering dan berubah warna menjadi pucat pasi.

 

Dengan kepayahan, Shinri membawa tubuh besar Siwon masuk dalam rumahnya. Gadis itu segera mengambilkan kompresan untuk menurunkan demam Siwon. Shinri tak berhenti merutuki dirinya yang sudah sangat keterlaluan pada pria itu. Hingga tanpa sadar, Shinri menitikkan airmata karena benar-benar merasa bersalah.

 

* *

 

Selang beberapa jam sejak itu, Siwon mulai membuka matanya dan merasakan sebuah kompresan pada dahinya. Pria itu bangkit, dan tepat saat itu Shinri mendatanginya dengan semangkuk bubur hangat yang baru ia masak.

 

“Makanlah. Setelah itu, oppa bisa makan obat.” Shinri menyodorkan mangkuk buburnya pada Siwon. Pria itu menatap Shinri dengan segaris senyuman di bibir. Siwon mengecap bubur buatan Shinri dengan penuh minat setelah ia memuji lezatnya bubur itu.

 

“Ini. Minumlah.” Siwon menurut saja ketika Shinri memberinya sebutir pil penurun panas. Pria itu menyeka sudut bibirnya setelah ia selesai meminum obatnya.

 

“Kau yang membawaku masuk?”

 

“Kalau bukan aku, siapa lagi?” Celetuk Shinri dengan datar. “Kenapa keras kepala sekali? Bukankah aku sudah menyuruh pulang? Lihat apa yang terjadi. Kau hampir membeku dan menjadi sakit seperti ini!”

 

Lama Siwon menatap wajah Shinri yang merengut ketika mengomelinya. Shinri sendiri menghindari tatapan Siwon dengan beralih menempelkan punggung tangannya pada dahi Siwon dengan jantung berdebar. “Demammu sudah turun. Pulanglah.”

 

Shinri terdiam ketika lagi-lagi Siwon mencegah kepergiannya. “Apa salahku terhadapmu sehingga kau memperlakukanku seperti ini?” Tanya Siwon dengan tatapan kecewanya yang sangat.

 

Siwon menarik pinggang Shinri hendak menciumnya, namun seperti dugaannya jika Shinri kembali menghindarinya.Siwon menelan ludah susah payah sembari tersenyum masam. “Sekeras apapun aku mencoba berpikir, bahkan aku tidak menemukan masalahmu terhadapku.” Lirih Siwon dengan suara sumbang.

 

Shinri menahan airmatanya. Gadis itu beringsut dari Siwon dan terlihat ingin menjaga jarak darinya. Siwon menatapnya dengan kecewa.

 

“Pergilah dari hidupku mulai saat ini.”

 

“Apa?” Siwon membeo tak percaya. Ia menatap Shinri dengan lekat.

 

“Kita akhiri semuanya di sini. Ayo kita berpisah.” Tegas Shinri yang berpura-pura kuat menahan airmatanya. Kali ini, ia membalas tatapan Siwon dengan tajam. “Hubungan kita cukup sampai di sini, oppa.”

 

Kontan Siwon merasa marah. Rahangnya mengeras dan giginya bergemelatup rapat. Ia mendekati Shinri dan segera di sudutkannya tubuh gadis itu dan menatapnya tajam. “Apa-apaan? Jangan bicara omong kosong. Berpisah? Yang benar saja, Ri-ah?” Siwon bahkan berdecak. “Kau meminta berpisah dengan masalah yang tidak aku tahu? Bahkan kau tidak bicara sepatah katapun tentang hal itu, jadi mana aku tahu letak masalahnya?”

 

Siwon mendesah panjang dengan hatinya yang terasa sesak. Ia benci mendengar kata ‘pisah’ dari mulut Shinri.

 

“Apa kau benar-benar mencintaiku?”

 

“Aku mencintaimu setiap harinya. Dan aku benar-benar mencintaimu. Apa kau sangat meragukan ketulusanku?”

 

“Untuk saat ini… Iya. Aku meragukanmu.” Siwon terhenyak mendengar pengakuan Shinri yang meragukan perasaannya. Pria itu membisu untuk beberapa saat sambil menahan nafasnya. Tak beralih sedikitpun ia memandang wajah gadisnya.

 

“Tapi… Kenapa?”

 

“‘Kenapa?'” Shinri mengulangi pertanyaan Siwon dengan mimik dingin. “Bukankah aku yang harus menanyakan itu padamu?” Matanya memanas dan sekuat tenaga gadis itu menahan dirinya. “Kenapa kau menyakitiku? Apa kau lupa dengan janjimu untuk tidak akan menyakitiku? Kenapa kau berkhianat padaku?!”

 

Pecah. Emosi Shinri yang selama ini di tahannya pecah saat itu juga. Wajahnya mulai basah dengan nafasnya yang tersengal.

 

“Jika kau sudah bosan padaku, maka cukup katakan itu dan dengan sukarela aku akan pergi. Dan dengan begitu, maka kau bisa terus bersama wanita itu selamanya. Wanita yang benar-benar selevel dengan kehidupanmu.”

 

Shinri dapat melihat wajah tegang Siwon yang menatapnya. Pria itu mengusap kasar wajahnya ketika Shinri menepis tangannya dan berniat pergi dari kukungan tubuhnya. “Aku akan pergi. Jangan menghalangiku.”

 

“Demi Tuhan, Ri-ah. Tolong jangan begini.” Ucap Siwon dengan suara rendah yang tertahan. Shinri tak mengindahkannya. Ia beringsut dari dekapan Siwon sambil menahan isakan. “Pergilah. Ayo kita akhiri—”

 

Ucapan Shinri terputus begitu Siwon membungkam bibirnya. Pria itu menekan punggung Shinri dan berusaha keras menahan berontakan dari gadis itu. Siwon tak peduli dan sama sekali tak mempunyai niat untuk melepaskan gadis itu darinya walaupun dengan cara yang sedikit kasar. Emosi menguasainya, sehingga ia menekan keras bibirnya dan tak lupa melumatnya dengan sedikit tekanan saat Shinri yang memukul dada bidangnya beberapa kali. Shinri bahkan meraskan bibirnya yang sedikit pedih karena pria itu.

 

Shinri nyatanya bisa merasakan banyak sekali arti dari ciuman Siwon yang sedikit kasar kali itu. Siwon marah dengannya, dan Shinri tahu pasti akan hal itu di lihat dari bagaimana pria itu menyentuhnya. Tapi, ia juga lebih marah dengan pria itu sampai-sampai ia lebih sesak.

 

Ciuman Siwon yang menuntut mampu membuat Shinri kehabisan oksigen. Gadis itu mengerang ketika jari-jari besar milik Siwon menyusup dalam balik pakaiannya. Pria itu selalu tahu mengenai titik-titik sensitif pada tubuhnya. Shinri melenguh saat Siwon berhasil membuat ia meremang dengan tanda-tanda kemerahan mutlak kepemilikan pada lehernya.

 

“O—oppa…” Dengan sisa-sisa tenaganya, Shinri berhasil mengambil jarak dengan mendorong Siwon darinya. Wajahnya memerah dengan bekas airmata dan hasratnya yang tertahan.

 

Siwon menatapnya dengan Mata berkilat tajam. Nafasnya tersengal ketika ia melepaskan ciuman panasnya dari Shinri. Amarahnya masih tertahan di hati.

 

“H—hentikan. Aku—”

 

Shinri tersentak ketika tiba-tiba Siwon membawa tubuhnya ke ranjang dan tidak memberinya kesempatan untuk berkata-kata ketika pria itu langsung menindihnya. Dengan Mata terbelalak, Shinri menatap Siwon yang hanya memberinya pandangan lurus. Tersimpam sedikit luka dalam sorot mata Siwon.

 

Bibir mereka kembali saling menyapa. Shinri mulai terhanyut dan yang bisa ia lakukan hanyalah menikmati dan membalas, tidak lagi memberontak seperti sebelumnya. Ciuman mereka semakin panas dan bergairah. Tangan Siwon kembali menjelajahi tubuh Shinri dengan Mata terpejam. Nafas keduanya mulai memburu. Siwon mulai menggunakan lidahnya dan Shinri merespon baik dengan melingkarkan tangannya di kepala Siwon agar ciuman mereka lebih dalam. Shinri melenguh untuk berusaha menghirup oksigen di tengah ciuman mereka. Desahan itu berhasil memancing hasrat Siwon untuk bergerak lebih.

 

Tangan Siwon bergerak aktif mulai meraba tiap jengkal tubuh gadisnya hingga berakhir turun ke bagian dada. Sasaran pertama Siwon adalah dada Shinri untuk membuka satu persatu kancing baju Shinri tanpa melepaskan ciuman panasnya.

 

Dengan segenap hati, Shinri bahkan menikmatinya. Ia menghirup dalam-dalam aroma maskulin Siwon yang menguar dari tubuhnya yang berkeringat, sama sepertinya. Bahkan ujung-ujung rambutnya yang menutupi dahi ikut basah karena aktivitas mereka.

 

Tangan Siwon bergerak cekatan dan dalam sekejap atasan Shinri sudah bebas dari kancing yang telah ia buka dan mengekspos bagian dada gadis itu. Siwon menatapnya sejenak dan begitu ia berinisiatif untuk membenamkan wajahnya di antara kedua benda berharga milik gadisnya, mendadak ia berhenti. Di tatapnya Shinri dengan sayu.

 

Sementara Shinri yang mulai larut akan sentuhan Siwon, dan tiba-tiba mendapati pria itu berhenti membuatnya meremang, hanya mampu membisu seraya menatapnya dengan penuh kekecewaan.

 

“Maaf. Tapi, Aku tidak bisa melanjutkannya sementara pikiranmu yang tengah kacau terhadapku.”

 

Bak di hantam oleh gelombang yang begitu kencang,Shinri merasa hancur berkeping-keping saat Siwon kembali mengancingkan kemejanya. Gadis itu meremas kuat selimut putihnya ketika melihat bayangan Siwon yang perlahan menghilang dari pandangannya. Sekejap ia hanya terpaku bodoh, namun pada detik berikutnya, airmatanya jatuh tanpa mampu ia cegah.

 

* * * * *

 

Memutar matanya dengan jengah, Shinri hanya mampu menunjukkan wajah datarnya ketika dengan isengnya, Myungsoo mengajaknya menonton pertunjukan jalanan yang ramai sekali di kerumuni pejalan kaki yang singgah ikut menyaksikannya.

 

Dua orang gadis belia tampak tengah melakukan pertunjukan dengan seorang yang memetik halus guitar akustiknya, sementar si vokalis begitu apik membawakan sebuah lagu cinta dengan suara merdunya. Terdengar menggelitik bagi siapapun yang mendengar dan mampu meresapi tiap liriknya yang mengalun dengan lembut dan manis.

 

“Whoa, mereka hebat sekali. Bukankah begitu, Ri-ah?” Myungsoo memuji penampilan memukau kedua gadis itu dengan semringah. Kedua gadis itu mendapat ribuan pujian yang serupa dan dihadiahi banjiran riuhan tepuk tangan begitu menyudahi nyanyiannya.

 

“Hm, hebat sekali.” Ujar Shinri singkat. Pikirannya sedang tidak bersamanya saat ini. Ia kacau, dan ia malas keluar rumah jika saja Myungsoo tidak memaksanya untuk menamaninya. Myungsoo hanya menatap Shinri seraya menghela nafas.

 

“Annyeong haseyo. Saya ingin menyanyikan sebuah lagu dan khusus saya tujukan untuk gadis cantik di sana yang hari ini tengah berulang tahun.”

 

Terdengar sebuah suara yang tak asing bagi Shinri. Gadis itu menganggkat pandangannya dan benar saja, ia melihat Siwon yang kini tengah menunjuk padanya. Shinri terlihat membeku di posisinya. Banyak orang yang menatapnya dengan senyum terkembang. Membicarakan bagaimana beruntungnya Shinri mendapati kekasih romantis seperti Siwon. Itulah yang banyak Shinri dengar dari banyak pengunjung yang menyikutnya. Wajah Shinri memanas dan ia menjadi salah tingkah.

 

Dan apa tadi? Ulang tahunnya? Astaga, bahkan ia sama sekali tidak menyadari bahwa ini hari resmi dimana umurnya kian bertambah.

 

Pikirannya menebak-nebak bagaimana bisa pria itu mengetahui keberadaannya. Lantas Shinri beralih menatap Myungsoo yang hanya menampilkan senyuman manisnya. Gadis itu hendak membuka mulutnya, namun Myungsoo menggelengkan kepalanya dan mengarahkan Shinri untuk kembali menatap Siwon di depannya.

 

Siwon kini duduk di sebuah kursi dengan sebuah gitar akustik yang ada di pangkuannya. Mencocokkan suaranya pada mikrofon sebelum ia menyenandungkan sebuah lagu.

 

“Shinri-ah, saengil chukkae.” ujar Siwon lengkap dengan senyuman tulusnya. Tatapannya tepat menghunus dalam iris mata Shinri. Gadis itu menutup mulutnya dengan haru saat matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.

 

Gitar mulai dipetik. Suara Siwon mulai mengalun dengan lembut. Ia membawakan lagu berjudul ‘The Way You Look at Me’ milik Christian Bautista sambil tak sedikitpun bagian yang ia lewatkan tanpa memandang wajah cantik Shinri yang juga menatapnya dengan bulir air mata harunya. Lewat lagu ini, Siwon berharap Shinri dapat menyadari ketulusan perasaannya.

 

 

No one ever saw me like you do

All the things that I could add up too

I never knew just what a smile was worth

But your eyes say everything

Without a single word

 

‘Cause there’s somethin’ in the way you look at me

It’s as if my heart knows

You’re the missing piece

You make me believe

That there’s nothing in this world I can’t be

I never know what you see

But there’s somethin’ in the way you look at me

 

If I could freeze a moment to my mind

It’ll be the second that you touch your lips to mine

I’d like to stop the clock make time stands still

‘Cause, baby, this is just the way

I always wanna feel

 

 

Shinri merasa terhanyut menyaksikan Siwon bernyanyi untuknya. Nadanya yang lembut dan mendayu-dayu membuatnya bergetar. Gadis itu merasakan sensasi aneh tersendiri yang tanpa di perintah merambat cepat ke pembuluh darahnya dan sampai pada jantungnya hingga membuat kineja organ tersebut meningkat di luar batas. Wajahnya merona.

 

 

‘Cause there’s somethin’ in the way you look at me

It’s as if my heart knows

You’re the missing piece

You make me believe

That there’s nothing in this world I can’t be

I never know what you see

But there’s somethin’ in the way you look at me

 

I don’t know how or why

I feel different in your eyes

All I know is it happens every time

 

‘Cause there’s somethin’ in the way you look at me

It’s as if my heart knows

You’re the missing piece

You make me believe

That there’s nothing in this world I can’t be

I never know what you see

But there’s somethin’ in the way you look at me

 

The way you look at me

 

 

Lagu berakhir. Siwon mendapatkan tepuk tangan yang meriah. Ia tersenyum puas melihat Shinri menatapnya dengan penuh kehangatan. Senyuman yang mampu membuat dunia gadis itu luluh lantak dalam sekejap.

 

Namun, kehadiran seseorang yang tiba-tiba datang dari arah belakang Siwon sukses membuat senyuman Shinri menguap. Gadis itu terkejut saat melihat Jiwon yang tengah tersenyum kecil padanya. Shinri terhenyak, dan tanpa sadar ia memundurkan langkahnya namun Myungsoo berhasil menahannya. Pria itu menggelengkan kepalanya dengan tatapan lembut pada matanya.

 

“Kau tidak mau mendengar Siwon hyung terlebih dahulu?” Tanya Myungsoo yang seolah telah mengetahui semuanya. Shinri menghela nafas saat Siwon berjalan mendekatinya bersama dengan Jiwon yang mengekorinya.

 

“Ri-ah, perkenalkan. Dia adik kandungku yang baru kembali dari Florida beberapa hari lalu. Namanya Jiwon, Choi Jiwon.”

 

Bak di sambar tegangan listrik bertegangan tinggi, Shinri mematung di tempatnya. Gadis itu terlalu bingung untuk bereaksi sampai ketika ia melihat Jiwon mengulurkan tangan padanya. Dengan gemetar dan ragu-ragu, Shinri membalasnya.

 

“Annyeong, Shinri-ya. Kau pasti sangat terkejut melihatku saat itu. Dan aku sadar bahwa aku harus benar-benar meminta maaf membuatmu begitu salah paham terhadapku. Jinjja mianhae.” Jiwon terkekeh sembari melirik Siwon di sampingnya. “Dan aku mohon jangan pernah berpisah darinya. Aku tidak mau melihat kakakku gila karena kau pergi darinya, Shinri-ya.”

 

Shinri hanya terpaku bodoh untuk beberapa saat sebelum Siwon meraih tangannya dengan lembut. Pria itu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan. Begitu di buka, terpampang sebuah cincin yang berhiaskan berlian pada tengah-tengahnya. Shinri menegang ketika pria itu berlutut di depannya.

 

“Shinri-ah, Cinta yang aku miliki ini tak dapat diungkapkan melalui bahasa dan kata-kata. Dia hanya dapat ditunjukkan dengan seribu satu tindakan yang aku berharap kau dapat memahami dan memaknainya bahwa tindakanku ini demi mewujudkan cita-cita dimasa yang akan datang. Aku ingin mengikatmu lebih dalam dengan hidupku. Menjadi teman di sepanjang usiaku dan terpisahkan hanya oleh panggilan Tuhan dan bukan karena oleh manusia.” Siwon berhenti sejenak sebelum ia mengambil nafas untuk melanjutkan kata-katanya.

 

“Ri-ah, menikahlah denganku. Aku mengharapkanmu.”

 

Suara riuh rendah dari kerumunan di sekitarnya membuat Siwon mendapatkan semangatnya. Ia melihat Shinri menitikkan airmata harunya sembari menutup mulutnya. Shinri bahkan terisak kecil karena merasa benar-benar tersentuh dengan ucapan dan tindakan Siwon.

 

“Oppa, berdirilah.”

 

“Aku tidak akan berdiri sebelum kau menerimaku.” Kekeuh Siwon. Kerumunan di sekitarnya ramai-ramai meneriakan kata ‘Menikah’ pada Shinri sehingga sukses membuat gadis itu merona wajahnya. Siwon menggigit bibirnya, dan harap-harap cemas dengan jantung berdebar. Tak pernah ia merasa segugup ini seumur hidupnya.

 

“Aku menerimamu. Sekarang, berdirilah.” Ucap Shinri dengan senyuman lembutnya. Siwon menghela nafas leganya dan segera bangkit untuk memeluk erat gadis itu. Suara riuhan tepuk tangan langsung mengiringi kebahagiaan kedua sejoli itu. Myungsoo bahkan tersenyum begitu semringah, sama halnya dengan Jiwon yang tak dapat menahan kebahagiannya melihat Siwon yang begitu berseri.

 

“Terima kasih banyak.” Siwon memberikan sebuah kecupan hangat pada puncak kepala Shinri dengan penuh syukur. Ia melepaskan pelukannya dan menatap gadisnya dengan penuh cinta sebelum ia menghapus linangan basah di wajah Shinri dengan ibu jarinya.

 

Perlahan Siwon menyematkan cincin tersebut ke jari manis milik Shinri. Sekali lagi ia memeluk hangat gadis itu dan tak berhenti mengukir senyuman penuh kebahagiaan di bibirnya.

 

“Saranghae, Ri-ah.”

 

“Nado saranghae.”

 

Dan semuanya berakhir indah hari itu. Segala perkara dan kesalahpahaman antara mereka terselesaikan dengan sebuah kata manis yang penuh makna dan kesucian, —Menikahlah denganku—

 

 

 

[Love Terrains / Part 3 : END]

So… Continue or Stop? #evilsmirk 😂😂

RCL yaaa!!!

29 thoughts on “Love Terrains Part 3

  1. hebaaaaaat hebaaaat thor neomu joha sama ff ini
    ga apa apa ff ini selesai karena endingnya udah bagus tapi asal author secepatnya bikin ff baru lagi

    Suka

  2. Dan sepertinya aku beneran salah deh 😑 Maaf 🙏🙏🙏 emang salah alamat kayaknya wkwk 🤣🤣 ini dah ending ya maaf ya tor terlalu banyak ff yg aku baca jadi gini nih 😆 Tapi aku coba baca part awalnya dulu ya, jangan heran kalo alur bacaku dari belakang 😆😆😆

    Suka

  3. Perasaan appa nya siwon gak merestui mereka kan yak? 😑Aku rada lupa lupa inget sama cerita awal kalo gak salah yg ada anak kecil cewek terakhir d pangkuan siwon, berarti ini flashback. Jadi gak sabar nunggu lanjutannya d masa yg sekarang, berarti appa nya siwon cuma akting doang gtu 😑Tsk Tsk Tsk

    Suka

  4. Apaaaa. Lanjutkan lanjutkan udah d tunggu lama” malah end gak terima hahahah.
    Duh mbak jowon nya makanya jangan peluknya jangan berlebihan mbak jadi ada yg marah gitu kan jadi kasian ama siwon kalo ada sang betina yg marah karena sang jantan d peluk orang laon wkwkwkwk. Shinri shinri
    lanjut lanjut lanjut lah

    Suka

  5. Continue dong
    Jgn end dulu

    Masa langsung end

    Mau liat jg masa2 mereka nikah
    Pengantin baru
    Atau masa2 menjelang kehamilan n hamilnya shinri

    Pasti seru nih

    Siwon kan takluk banget ama shinri

    Suka

  6. eh nemuui kata2 End pula.
    harapannya sih ada sequel thor,dengan segudang cobaan buat cinta mereka biae nangis2 gitu.
    Tapi untk keseluruhan ceritanya….jelas kok..endingya pun…jjanng
    dinantikan sequelnya ya thor

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s