It’s Not Same Anymore Part 11


 

Author : Jo Kaniezax

Title : It’s Not Same Anymore – 11

Category : NC-17 | Sad – Romance | Chapter | Straight

Cast :  | Cho Kyuhyun | Kwon Ji Won | Min Woo

Warning :  Typo(s) story belong to me !!

.

.

Happy Reading ^^

_____

Note : berhubung author hilang ditelan bumi hampir setahun, jadi author berikan kilas balik part sebelumnya untuk merefresh ingatan reader-deul. Barangkali ada yang kelupaan. Happy reading!

Part sebelumnya :

“Tiduri aku.” Kyuhyun tersentak, cepat-cepat ia menarik lengannya yang bersentuhan dengan Ji Won. Lelaki itu menatap tak percaya pada Ji Won.

“K-kau gila!” Ji Won menggeleng lemah. “Aku tidak gila. Aku hanya sedang berjuang.”

“Berjuang bukan melakukan hal seperti ini!” Suara Kyuhyun meninggi. Kini wajahnya merah padam menahan marah. “Jadi… aku harus bagaimana? Perjuangan seperti apa yang harus kulakukan?” Ji Won mengepalkan tangannya di atas lutut, lalu mendongak menatap Kyuhyun.

“Aku sadar selama ini sudah bersikap angkuh, egois. Aku memakai semua kekuatan yang kumiliki hanya untuk menaklukanmu. Tapi semuanya sia-sia. Lantas, aku harus bagaimana agar kau mau menerimaku? Aku melakukan semuanya. Menjadi sahabatmu, menjadi pelindungmu, bahkan menjadi musuhmu. Tapi yang kudapat hanyalah keputus-asaan.” Tanpa sadar Ji Won menumpahkan semua keluh kesah yang ia simpan rapat-rapat selama lima tahun ini. Semua kekesalahan dan sakit hatinya. Ia tidak dalam pengaruh alkohol, atau apapun. Saat ini kesadarannya 100% berada di dalam kendalinya tapi Ji Won seolah kehiangan akal dan menumpahkan semua yang ada di dalam pikirannya.

Ia menangis tanpa suara, lalu melanjutkan, “Aku bahkan mempermalukan diriku sendiri. Tapi, inilah usahaku Kyu. Usaha untuk memalingkan hatimu untukku.” Ji Won menundukkan wajahnya saat ia sadar setetes mata jatuh melewati pipinya.

_

_

_

“Ada apa?”

Ji Won terdiam sesaat, tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajahnya dan berujar pelan, “Aku tidur dengannya.”

Tangan Myung Soo yang menyentuh rambut Ji Won membeku di udara. “Apa?” suara Myung Soo tercekat, demi mendapat kepastian dari bibir Ji Won.

“Aku tidur dengan Kyuhyun,” ulang Ji Won lemah. Myung Soo berdiri, tak lagi bersandar pada pinggir meja. “Kau gila!” teriaknya yang dijawab dengan dengusan sebal Ji Won. “Ya, ya, aku gila.”

“Tapi…” wajah Ji Won berubah sendu. Ia mendongak, menatap Myung Soo yang masih terlihat menekan amarah. “Semuanya sudah berakhir.” Ji Won dapat melihat bahu Myung Soo tidak lagi kaku, yang artinya fase keterkejutan lelaki itu sudah berakhir.

“Berakhir?”

Ji Won mengangguk.

“Berakhir.”

_

_

_

Ji Won termenung di dalam ruangannya. Tadi ia melihat Kyuhyun setelah sebulan lamanya sejak kejadian itu. Tentu saja keadaan menjadi canggung. Itu sudah sepantasnya. Ji Won tak sengaja melirik pigura kecil di atas meja kerjanya, berisikan fotonya bersama Kyuhyun dalam pose yang membahagiakan. Ji Won menghela nafas, lalu menelungkupkan pigura itu. Ia sudah tidak bisa memandanginya lagi.

It’s note same anymore.

_

_

_

“Lepaskanlah. Kau harus tahu jalan untuk berbahagia.”

Min Woo mengucapkan itu sambil mengangkat pigura kecil di atas meja dan mendirikannya lagi menghadap Ji Won, hingga wanita itu bisa melihat kembali cerminan masa lalunya, lewat sebuah pigura.

Ji Won tertegun. Menatap pigura itu seolah ia terseret kembali ke masa lalu, masa dengan segudang beban tapi ia punya obat yang menenangkannya. Kini, ia kehilangan obat itu. Solusinya hanya satu;

Mencari obat baru.

_

_

_

“Apa kau akan meninggakanku juga?” lirih Kyuhyun dalam tangis yang ia tahan-tahan. Dadanya sesak, bebannya tak berkurang sedikitpun. Semakin ia menghirup udara, semakin ia merasa tercekik. Semakin ia berusaha tersenyum, semakin ia tersakiti.

“Kumohon, bangunlah.”

Kyuhyun menundukkan kepalanya, mengecup dahi Mi Kyung lembut, penuh penghayatan.

_

_

_

Ia masuk ke lift yang disesaki orang, lalu saat keluar dari lift ia sempat melirik ruangan Ji Won yang pintunya tertutup rapat. Kyuhyun mendesah dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang baru saja beberapa bulan ini ditempatinya. Ia menemukan sesuatu yang tak terduga di dalam sana.

Kwon Ji Won.

Gadis itu berdiri di tengah ruangan, membelakangi Kyuhyun dengan selembar kertas di tangannya. Tampaknya gadis itu menyadari kedatangan Kyuhyun dan berbalik. Satu senyuman tipis tersungging di bibirnya. Gadis itu mengangkat kertas yang dipegangnya, lalu berujar,

“Ayo kita bercerai.”

___

It’s Note Same Anymore – Chapter 11, begin!

___

Baik Kyuhyun maupun Ji Won, keduanya tak ada yang memulai percakapan. Yang satu sibuk memandang ke luar jendela, yang satu sibuk mengaduk kopinya.

“Jadi… kau ingin bercerai?”

Gerakan tangan Kyuhyun—yang mengaduk kopi—terhenti saat ia mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang tidak ia sangka akan menjadi pembuka dari kecanggungan yang melanda mereka berdua. Ji Won menoleh, menatap Kyuhyun. Wanita berambut hitam panjang yang tergerai itu menyudahi kegiatannya menatap langit dari baik dinding kaca cafe, pengalihan dari bibir yang tak bisa membuka percakapan.

Ji Won mengangguk. Sorot matanya serius.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun lirih. Di detik kedua, barulah ia sadar bahwa pertanyaannya barusan menyingkap seolah-olah ia menyayangkan keputusan Ji Won.

“Maksudku—” baru saja Kyuhyun hendak menjelaskan maksudnya, Ji Won lebih dulu memotong.

“—Aku takut.” Ada senyum getir di sudut bibir wanita itu saat berucap.

“Aku tak ingin membelenggumu, tapi disaat yang sama aku mengikatmu kuat-kuat. Aku tak pernah ingin menyakitimu. Tapi kenyataannya berbeda. Aku yang melepasmu Kyu. Aku yang membuangmu, bukan aku yang akan dibuang. Aku lebih senang mengetahui akulah yang mengakhiri hubungan ini dari pada suatu saat aku mendapati diriku yang dicampakkan.”

Kalimat panjang yang diucapkan dengan begitu pelan itu menghantam hati Kyuhyun telak. Suara halus wanita berambut panjang yang duduk di hadapannya ini menamparnya kuat. Mata Kyuhyun mengikuti gerakan tangan Ji Won yang menyodorkan amplop tadi yang ia lihat di ruang kerjanya.

“Kau hanya perlu menandatanganinya. Setelah itu semuanya akan diurus oleh pengacaraku. Setelah ini, kita tidak akan bertemu lagi.”

Lagi-lagi senyum getir itu yang diperlihatkan Ji Won. Kyuhyun menarik napas. Kalimat barusan yang diucapkan Ji Won memberi isyarat inilah perjumpaan terakhir mereka.

Firasatnya buruk.

“Selamat Kyu. Kau bebas.”

Mata Ji Won berkaca-kaca saat mengucapkan itu. Antara tersakiti dan bahagia. Ia sungguh tersiksa menghadapi kenyataan bahwa ia harus berpisah dengan Kyuhyun. Tapi di sisi yang lain, ia senang Kyuhyun berpisah dari dirinya, Ji Won yang selalu menyakiti Kyuhyun tanpa ampun.

Aku tidak akan bisa menyakitimu lagi Kyu.

Kyuhyun tak bisa berkata apa-apa meski bibirnya terbuka saat Ji Won berdiri, membungkuk dalam padanya dan berlalu, meninggalkan dirinya yang hanya bisa termenung seorang diri.

Berpisah… semudah ini?

***

Ji Won memegang kata-katanya. Saat Kyuhyun pulang ke rumah, ia tidak ada di mana pun. Kamarnya kosong, seolah tak ada penghuni sebelumnya. Dari berita yang ia dengar—di kantor—, Ji Won akan ke Amerika tiga hari lagi. Jadi, dimana wanita itu sekarang? Di apartemen Myung Soo kah?

Kyuhyun menarik napas. Ia sedang mengepak bajunya ke dalam koper, bersiap untuk pindah. Sejak awal ini bukanlah rumahnya, dan ia juga tak pernah menganggap ini rumahnya.

Selamat tinggal, Ji Won-ah.

***

Myung Soo baru saja keluar dari kamar mandi—sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil—saat bel apartemennya berbunyi. Sesaat ia mengerutkan dahi. Tak ada seorangpun yang pernah berkunjung ke tempat tinggalnya. Juga tidak ada yang tahu dimana rumahnya.

Ah, ada. Satu orang.

Myung Soo bergegas menuju pintu dan membukanya. Tebakannya benar.

Ji Won disana, dengan raut wajah yang tak terbaca. Di balik tubuhnya, sebuah koper hitam ada disana.

***

Sejak masuk, Ji Won tidak bersuara sedikitpun. Ia tidak bercerita apapun tentang sesuatu yang mengharuskannya untuk membawa koper di sore hari seperti ini. Yang wanita itu lakukan sejak tadi hanyalah merebut handuk yang Myung Soo pegang dan mengambil alih kendali mengeringkan rambutnya.

Myung Soo duduk di sofa, sedang Ji Won berdiri di depannya, masih dengan tangan yang bergerak mengusap kepala Myung Soo dengan handuk. Sudah dua puluh menit berlalu, dan rambut Myung Soo sudah kering sejak tadi. Tapi wanita berambut panjang itu tak kunjung mengeluarkan suara.

Gerakan tangannya tiba-tiba saja berhenti. Myung Soo pikir, inilah saatnya Ji Won membuka suara. Saat ia mendongak, pipinya ditetesi air hangat, yang berasal dari kelopak mata Ji Won.

Myung Soo meraih handuk dari tangan Ji Won. Ia meletakkannya asal di samping tubuhnya. Tangan Ji Won yang wanita itu gunakan untuk menutupi wajahnya ia raih, kemudian perlahan, Myung Soo menarik tubuh Ji Won dan memangkunya. Wanita itu tidak menolak, malah terisak semakin kuat.

Sungguh, ia tidak tega melihat Ji Won rapuh seperti ini.

*

*

*

Entah kenapa, sebelum pergi, Kyuhyun berdiri di depan kamar itu. Kamar milik wanita yang sudah tak sama lagi. Wanita yang tanpa sadar ia ubah sifat dan sikapnya sehingga ia sendiri tidak mengenalinya lagi.

Dan entah karena dorongan apa, Kyuhyun mendorong pintu kamar itu dan memasukinya. Ia menatap sekeliling. Ia pernah masuk ke kamar ini tapi tak pernah benar-benar memperhatikan isinya. Kamar itu dipenuhi barang-barang yang bernuansakan putih dan biru gelap, yang entah kenapa cocok sekali dengan Ji Won.

Kyuhyun berjalan dengan kedua tangan ia sampirkan di saku celana. Pandangannya jatuh pada gumpalan kertas yang ada di sudut ruangan, tepat di samping meja kecil berlaci banyak. Kyuhyun mendekati gumpalan kertas itu dan memungutnya. Penasaran, ia membuka gumpalan kertas yang sudah diremas itu.

Mata Kyuhyun melebar, menatap tak percaya pada kata-kata yang tertulis disana.

*

*

*

Myung Soo tidak mendapatkan sepatah katapun dari Ji Won. Apapun masalah Ji Won, wanita itu belum mau membuka mulutnya untuk bercerita. Tapi sedikitnya, Myung Soo bisa menebak hal apa yang membuat Ji Won menangis hebat seperti tadi, hingga ia tertidur dengan mata sembap.

Myung Soo menyelimuti tubuh Ji Won dan ikut berbaring di samping gadis itu. Ia menyeka sisa air mata Ji Won, mengusap pipinya lembut, kemudian ikut terlelap.

***

Kyuhyun menurunkan kertas yang kusut itu dengan jari yang bergetar. Tatapannya kosong, dan ia menggeleng tak percaya.

Tidak mungkin…

Handphone di sakunya bergetar. Kyuhyun merogoh saku dan melihat panggilan masuk dari rumh sakit.

“Halo?”

“Tn. Cho? Bisakah Anda ke rumah sakit sekarang? Nona Mi Kyung…”

***

Di koridor yang sepi itu, ia bergetar. Di koridor yang sepi itu, ia kalut. Ia juga menangis. Putus asa. Harapannya hilang.

Mi Kyung pergi. Untuk selamanya.

Mi Kyung pergi.

“Uh….” Kyuhyun meremas rambutnya. Wajahnya basah oleh air mata. Dadanya sakit luar biasa. Ia tidak bisa menjelaskan perasaan yang saat ini melandanya.

Seakan dunia runtuh di bawah telapak kakinya.

“Mi Kyung-ah.”

Kyuhyun tidak bisa berhenti untuk menangis.

Karena yang ia cintai, sudah tak akan membuka mata lagi.

Yang ia cintai, tak akan menatapnya lagi.

*

*

*

“PAPA!”

Min Woo menjawab seadanya. Ia sibuk memotong-motong wortel dan kentang. Air di panci sudah mendidih dan ia belum memotong semua sayuran. Suara langkah kaki Elody terdengar mendekatinya.

“PAPA!”

“Yes, Elody. Wait, oke? Papa cooking now.” Min Woo memotong kentang tanpa menatap wajah Elody. Gadis cilik berambut blonde itu menarik ujung kausnya.

“Tante Ji Won datang!” teriaknya karena tak kunjung mendapatkan perhatian Min Woo.

Gerakan tangan Min Woo terhenti. Ia meletakkan pisau dapur di atas meja, mematikan kompor, dan bergegas menuju ruang tengah. Disana, Ji Won menunggunya.

“Apa aku mengganggu?” tanyanya sambil menatap celemek yang Min Woo pakai. Min Woo menunduk, menatap penampilannya yang terlihat konyol. Tapi saat ia melirik wajah Ji Won, tak ada senyum geli disana. yang ada hanya kehampaan yang pekat.

“Tidak.” Min Woo tersenyum, berusaha mencairkan suasana. Elody mendekati Ji Won.

“Tante—”

“—Elody, masuk ke kamar sebentar ya?”

Elody membalikkan tubuhnya, menatap papa-nya itu dengan dahi berkerut. “Why? I wanna—”

“—Elody, please.”

Melihat wajah serius papa-nya, Elody menurut. Sebelum masuk ke kamar, ia sekali lagi menatap Min Woo dan Ji Won bergantian. Walau masih kecil, dari suasana yang terpancar dari Min Woo dan Ji Won jelas sekali bahwa mereka punya banyak hal yang harus dibicarakan.

***

“Aku akan pergi.”

Min Woo tidak tahu harus berekspresi seperti apa.

“Apa?”

“Aku akan pergi.” Raut wajah dan intonasi suara Ji Won yang dingin meyakinkan Min Woo bahwa wanita yang duduk di hadapannya ini tidak sedang bercanda. Gerakan tangannya kaku, wajahnya tanpa senyum, dan lagi matanya terlihat sembap.

“Kemana?” lirih Min Woo. “Kemana kau akan pergi?”

Ji Won diam sesaat sebelum menjawab, “Kemanapun. Tempat yang tidak seorangpun akan mengenaliku.”

Myung menarik napas. “Oke, kau akan pergi. Tapi… kenapa kau memberitahukannya padaku?”

Pertanyaan yang terlontar itu mengisyaratkan bahwa Min Woo tidak ingin Ji Won pergi.

“Kenapa?” ulang Ji Won lirih. “Karena kau menyukaiku. Aku menganggapmu teman yang sangat berharga, karena itulah aku mengatakannya. Aku tidak mau menyakitimu dengan kepergianku yang tiba-tiba. Aku tidak mau membuatmu menungguku begitu lama. Sekarang ini, aku ingin menjelaskan padamu bahwa aku tidak bisa menerima cintamu, Min Woo. Aku tidak bisa. Aku tidak berhak. Tapi kau berhak untuk berbagia dengan orang lain, selain aku.”

Ji Won mengaitkan jemarinya di atas lutut. Jujur, ia menyayangi Min Woo, tapi hanya sebatas teman. Ia tidak mau menyakiti Min Woo yang berharap untuk dibalas mencintai, di saat Ji Won bahkan belum bisa memusnahkan satu nama di hatinya.

Tidak, ia tidak mau Min Woo membuang-buang waktu hanya untuk mencintai wanita kotor seperti dirinya. Ia menyayangi Min Woo, tapi di atas itu semua, Ji Won ingin Min Woo tidak bersama dirinya.

Min Woo menarik napas panjang. Di dalam lubuk hatinya ia tahu bahwa Ji Won tidak akan bisa ia miliki, bukan karena ia tidak mampu, tapi karena ia tidak memiliki sepetak tempat di hati Ji Won.

“Baiklah, kalau itu keinginanmu.” Min Wo menggigit bibir bawahnya. “Tapi sebelum kau pergi, ijinkan aku menceritakan satu hal.”

Ji Won mengangguk pelan, menunggu Min Woo untuk bercerita. Saat Min Woo mulai bercerita, ia terperangah. Yang dikatakan Min Woo adalah tentang dirinya dan lelaki itu. tentang sebuah kejadian yang sudah lama berlalu, yang ia lupakan di sela-sela kerinduannya pada Kyuhyun.

Malam itu Ji Won tahu, bahwa itulah terakhir kalinya ia bisa bertemu dengan Min Woo.

Ji Won ingin berpamitan juga pada Elody, tapi gadis cilik itu sudah terlelap di kamarnya sambil memeluk boneka kesayangannya. Sebagai gantinya, Ji Won menciumi puncak kepala gadis cilik itu dengan sayang. Tingkah lucu Elody pasti akan dia ingat di tengah perpisahan mereka nanti.

Saat Min Woo mengantarkannya ke depan pintu, Ji Won memerhatikan wajahnya. Ternyata benar. Lelaki itu tidak berbohong. Buktinya sudah sangat jelas, tergurat di wajahnya. Kenapa Ji Won tidak sadar akan wajah pucat Min Woo? Kenapa ia tidak sadar akan lenguhan sakit Min Woo di tengah-tengah ucapannya? Kenapa ia tidak sadar akan tatapan Min Woo yang begitu lemah?

Ji Won melangkah mendekati Min Woo. Tangannya terangkat, memeluk lelaki itu lembut. Ji Won berbisik, “Terima kasih. Terima kasih, Min Woo-ya.” Min Woo tersenyum dan membalas pelukan Ji Won. Mereka berada di dalam posisi itu untuk beberapa saaat, menangkap saat-saat yang menyenangkan. Setelah ini, mereka tidak akan bisa bertemu lagi.

“Maafkan aku,” lirih Ji Won di tengah-tengah pelukan mereka. Min Woo menggeleng. “Tidak perlu meminta maaf, Ji Won-ah. Justru karena kaulah aku masih bernapas hingga sekarang, walau sangat sulit rasanya.”

Min Woo terbatuk. Awalnya batuk yang ringan namun kemudian Min Woo harus melepaskan pelukan mereka untuk menutupi mulutnya. Ji Won terlihat cemas. “Kau baik-baik saja?” tanyanya di tengah-tengah batukan Min Woo. Laki-laki itu mengangguk.

“Aku baik-baik sa—”

Bruk.

Tubuh itu membentur lantai. Ji Won menjerit tertahan, langsung berjongkok, menyentuh tubuh Min Woo. Ia panik. “Min Woo. Min Woo!” ia mengguncangkan tubuh Min Woo, namun tidak ada pergerakan yang berarti. Saat Ji Won berusaha membalikkan tubuh Min Woo, disitulah ia melihatnya.

Aliran darah segar dari telapak tangan Min Woo, yang berasal dari mulutnya!

***

Ji Won tidak tahu kapan ia terlelap. Ia menunggui Min Woo begitu lama di koridor rumah sakit sebelum Myung Soo datang dan menyuruhnya beristirahat. Saat Ji Won membuka mata, ia berada di apartemen Myung Soo, dengan matahari yang sudah mulai meninggi.

Sejenak ia terdiam, mencerna semua yang terjadi kemarin malam. Saat ia ingin berpamitan pada Min Woo, saat ia mengetahui satu hal, dan saat Min Woo mengeluarkan darah segar dari mulutnya.

Tanpa sadar Ji Won mengeluarkan air matanya dalam diam. Ia menghapusnya dengan ibu jari sebelum kemudian beranjak menuju kamar mandi.

***

Saat Ji Won masuk ke ruang tempat Min Woo di rawat, ia menemukan Myung Soo disana, sedang berbincang dengan dokter yang menangani Min Woo. Ji Won menunggu Myung Soo berbincang dengan dokter itu. Dokter itu sempat menatap Ji Won dan menunduk sopan, kemudian keluar dari ruangan. Myung Soo menghampirinya.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir.

Ji Won mengangguk, lalu menggeleng, lalu mengangguk lagi. Wajah Ji Won tertunduk, bahunya bergetar. Myung Soo yang melihat itu langsung memeluk Ji Won, membawa wanita itu ke dadanya.

“Shh… semua akan baik-baik saja.”

Ji Won terisak pelan. Ada gerakan dari kepala Ji Won, ia menggeleng. “Aku tidak tahu.. kalau Min Woo…”

Ucapannya tak tuntas, sebab ia membekap mulutnya dengan punggung tangan. Untuk mengucapkan hal itu, Ji Won tidak sanggup.

“Sshh. Jangan menangis lagi.”

Myung Soo menepuk punggung Ji Won pelan, menenangkannya.

***

Min Woo mengidap penyakit leukimia. Kanker darah. Penyakit yang sama dengan Mi Kyung. Ji Won tak akan sadar hal itu kalau bukan Min Woo sendiri yang menceritakannya tadi malam. Laki-laki itu juga memberitahu tentang pertemuan pertama mereka.

Waktu itu Ji Won baru saja tinggal di Amerika selama 6 bulan. Seperti biasa setiap sebulan sekali, Ji Won ke rumah sakit untuk memantau kondisi psikologisnya. Ia menerima sejumlah resep obat, lalu beranjak pulang.

Tapi hari itu berbeda. Ji Won mendongak menatap langit. Kala itu langit sangat bersih dari awan, cerah, dan warna birunya menyilaukan Ji Won, seolah memberitahukan padanya di dunia ini masih banyak hal yang membahagiakan, bukan hanya rasa sakit akibat penolakan.

Di dorong oleh rasa bencinya pada langit yang seolah menantangnya, Ji Won kembali masuk ke rumah sakit, bukan untuk menemui psikolognya, tapi ia berjalan menuju atap rumah sakit. Disana, ia melihat langit lebih luas, lebih biru dari bayangannya.

Ji Won menyentuh pagar pembatas dengan wajah masih mendongak, menatap langit yang seolah memangilnya. Ia memejamkan mata, menikmati embusan angin yang membelai lembut wajahnya.

Matanya terbuka saat mendengar suara pintu terbuka. Ji Won menoleh dan menemukan seorang anak laki-laki seumuran dengannya—memakai seragam pasien—berjalan menuju pagar pembatas yang jauh darinya. Laki-laki itu pasti tidak menyadari keberadaan Ji Won.

Ji Won memicingkan matanya saat melihat laki-laki itu memanjat pagar pembatas. Ji Won berjalan mendekat. Ia melihat bahu laki-laki itu bergetar, pun tangannya. Semakin Ji Won mendekat, ia bisa mendengar suara isakan tertahan.

“Kenapa harus aku?”

Gumaman dalam bahasa Korea itu membuat Ji Won agak terkejut. Sudah lama sejak ia bertemu dengan orang korea selain Myung Soo, tentunya.

“H-hei.”

Ragu-ragu Ji Won mengeluarkan suaranya. ia memperhatikan bagaimana laki-laki itu tersentak dan dengan cepat memalingkan wajahnya ke samping, ke arah Ji Won, dengan kaki yang masih berada di pagar pembatas.

“Kau… tidak melakukan hal-hal aneh, kan?”

Ji Won seolah menanyakan hal itu pada dirinya sendiri, karena beberapa menit yang lalu, ia nyaris melakukannya—terjun dan membiarkan tubuhnya diremukkan tanah. Tapi kemudian pemikiran lain hinggap di kepalanya, bahwa ia masih berhak untuk hidup meski sulit. Karena itulah Ji Won menggagalkan rencananya, lalu berbalik arah, meninggalkan langit yang mengejeknya.

Menemukan seseorang yang akan melakukan hal yang sama membuat perasaannya aneh. Entah kenapa ia harus menghentikan laki-laki ini, sama seperti ia menghentikan dirinya sendiri.

“Hal aneh?” suaranya terdengar ketus. Laki-laki itu mengusap matanya dengan punggung tangan. Tatapannya yang tajam ia arahkan pada Ji Won.

“Ya. Hal aneh. Seperti… melompat dari sana, misalnya.”

Mata laki-laki itu menyiratkan keterkejutan, lalu raut wajahnya berubah tak senang.  “Memangnya apa yang kau tahu?”

Ji Won menarik napas. “Aku tahu. Karena aku baru akan melakukannya tadi.” Ji Won mendongak, menatap langit cerah.

“Tapi aku merasa kasihan pada diriku sendiri, jadi aku urungkan.”

Ji Won menatap laki-laki lama. Tidak ada yang bersuara di antara mereka sampai Ji Won membalikkan tubuhnya dan berjalan.

“Kalau kau memang ingin melompat, lompatlah. Tapi itu tidak akan menyelesaikan masalahmu.”

Setelah itu, Ji Won keluar dari rumah sakit dan bernapas lega. Ia masih punya Myung Soo sebagai sandarannya. Ia tidak akan lari dari kenyataan. Sambil berpikir demikian, Ji Won mendongak ke atas, ke arah puncak rumah sakit dan menemukan laki-laki itu masih di sana, menatap ke bawah, ke arahnya.

Bulan depannya, Ji Won kembali mengunjungi rumah sakit. Entah kenapa ia mengedarkan pandangannya, berharap dapat bertemu dengan laki-laki itu lagi. Tapi keberadaannya tidak ada di mana pun.

“Kau sudah dengar?”

“Anak Korea yang berada di kamar VIP kemarin sudah pindah ke rumah sakit yang lebih besar. Katanya untuk pengobatan.”

“Ah, anak Leukimia itu ya?”

“Kasihan ya, kudengar penyakit itu sangat ganas dan penderitanya tidak akan bertahan lama.”

“Kasihan sekali. Padahal dia masih muda.”

Anak korea?

Ji Won menyimpulkan itu adalah anak yang sama dengan laki-laki yang ingin ‘melompat’ itu. Jadi, dia memilih untuk berjuang. Entah kenapa Ji Won tersenyum simpul. Penyakit mematikan yang menjadi bebannya kini berubah menjadi alasan untuk hidup.

Ji Won merasa ia tidak sendiri.

***

Begitulah yang Min Woo ceritakan hari itu. Dalam benak Ji Won, kejadian itu samar-samar di ingatannya, namun masih begitu segar di ingatan Min Woo. Ji Won tidak menyangka, bahwa anak laki-laki itu adalah Min Woo.

Juga, kenyataan bahwa Min Woo selama ini berlagak kuat dan menyembunyikan penyakitnya, padahal ia butuh perawatan yang intens. Min Woo mengaku, ia banyak sekali berbohong pada Ji Won tentang pekerjaannya di luar kota, yang kadang-kadang sampai berminggu-minggu. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Min Woo menginap di rumah sakit akibat kesehatannya yang menurun drastis. Tapi begitu keadaannya membaik, Min Woo langsung menemui Ji Won dan berlagak baru saja pulang dari luar kota.

Kini Min Woo berada di ruangannya, masih belum membuka mata.

Berapa kalipun Ji Won berdoa, Min Woo tetap tidur lelap seolah sedang bermimpi indah yang tak bisa ia tinggalkan.

Seminggu kemudian, di sore hari yang hujan ringan, Min Woo terbangun sesaat. Ji Won yang menungguinya begitu senang. Ia menekan bel untuk memanggil dokter, dan menggenggam tangan Min Woo sambil mengeluarkan kata-kata, “Terima kasih sudah terbangun, Min Woo-ya.”

Min Woo menggeleng. Meski lemah, ia membalas genggaman tangan Ji Won. “Tidak,” ucapnya susah payah.

“Akulah yang berterima kasih padamu, Ji Won-ah.” Ucapannya terpatah-patah, kadang berhenti sesaat untuk mengambil napas.

“Karena ucapanmu saat ituah aku… bisa hidup. Kau… adalah cahayaku Kau penyelamatku. Kau… sangat berarti untukku Ji Won-ah.” Min Woo menatap Ji Won meski pandangannya kabur tertutup air mata.

“Terima kasih, Ji Won-ah. Terima… kasih.” Min Woo menutup matanya perlahan. Bulir air mata langsung saja turun dari kelopak matanya, berakhir di bantal.

Ji Won menggeng. “Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak!”

“Min Woo buka matamu!” Ji Won mengguncangkan bahu Min Woo. Namun tak ada pergerakan dari laki-laki itu. Suara pintu yang terbuka dan suara langkah yang mendekat tak menghentikan Ji Won mengguncangkan tubuh Min Woo.

Saat para dokter itu mengambil alih Min Woo, Ji Won menunggu disana, dengan perasaan kalut luar biasa. Ia ketakutan. Sangat ketakutan. Namun pelukan seseorang dari belakang menenangkannya. Ji Won membalikkan tubuhnya dan terisak disana.

Myung Soo mengusap kepala Ji Won sayang, sambil berusaha menangkan wanita yang sedang terisak kuat di dalam dekapannya.

Dan diiringi dengan tangisan langit, Min Woo pergi—

—untuk selamanya.

***

3 tahun kemudian. Oslo, Norwegia, Europe.

Noria bersenandung kecil sambil membawa sekantung roti hangat yang ia dekap di dada. Sesekali ia disapa oleh tetangganya yang semuanya beriris biru, berambut pirang, sangat kontras dengan dirinya yang beriris hitam, juga rambutnya yang berwarna sama. Karena itulah yang membuatnya berbeda dan selalu mendapatkan lirikan karena kecantikan asianya yang memikat.

God morgen!” Sapa Mrs. Vilde, sambil tersenyum ke arahnya. Noria membalasnya dengan ucapan yang sama.

[Gud morgen : Selamat pagi, Norsk, bahasa Norwegia.]

Mencium aroma harum dari kantung kertas berisikan roti itu, Noria semakin tidak sabar untuk segera pulang ke rumah dan mencicipinya dengan secangkir teh manis. Sempurna!

Akhirnya ia sampai di depan rumahnya. Rumah sederhana bercat putih yang dikelilingi bunga berwarna warni, yang membuat rumah itu sangat indah dan nyaman ditempati. Noria lah yang menanam bunga-bunga itu, lalu merawatnya hingga mekar indah seperti sekarang. Menanam bunga membantunya menghilangan pikiran buruk. Sangat ampuh.

Namun sebuah mobil hitam yang terparkir di halaman rumahnya membuat Noria terlonjak kegirangan.

Laki-laki itu datang.

Noria mempercepat langkah kakinya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu di sana, memunggunginya. Saat mendengar suara langkah kaki—rumah ini berlantaikan kayu—laki-laki itu menoleh dan tersenyum lebar.

“Ji Won-ah!”

Wanita yang disebut namanya itu langsung menelan senyumnya, digantikan oleh wajah cemberut. Sadar wanita di depannya ini kesal, laki-laki bersetelan jas itu tertawa.

“Okay, Noria.” Laki-laki itu merentangkan tangannya yang langsung disambut oleh Noria. Mereka berpelukan melepas rindu.

“Aku baru saja membeli roti. Kau mau?”

Laki-laki itu mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju meja makan bulat di tengah ruangan dapur. Noria meletakkan kantung berisikan roti itu di atas meja dan mengambil dua cangkir lalu mengisinya dengan teh yang sebelumnya ia panaskan.

Aroma teh yang begitu nikmat langsung saja mengudara, membuat suasana menjadi lebih hangat. Mereka duduk berhadapan, dengan secangkir teh di hadapan masing-masing.

“Bagaimana pekerjaanmu, Myung Soo-ya?”

Ya, laki-laki di hadapannya ini adalah Myung Soo, saudara tirinya. Mereka baru saja bertemu beberapa tahun yang lalu, lewat sebuah kejadian yang tidak terduga. Awalnya saling menolak, namun akhirnya saling menyayangi hingga kini.

Dan Noria sendiri adalah Ji Won, wanita kesepian yang kini mengubah nama dan membuang masa lalunya demi hidup di masa depan.

“Baik-baik saja. Bagaimana dengan dirimu?”

Noria mengernyit. “Kau tak liat aku baik-baik saja?”

Myung Soo tertawa. Benar. Wanita di depannya ini baik-baik saja. Tentu saja banyak perubahan yang ia alami demi bisa hidup seperti sekarang. Wanita di depannya ini membuang masa lalunya, ia mengubah namanya, mengubah cara ia bersikap, meninggalkan harta yang seharusnya ia miliki, juga mengubah penampilannya.

Noria yang ada di hadapannya ini bukanlah Ji Won yang selalu bertatapan dingin terhadap semua yang ia lihat. Bukan Ji Won berambut hitam panjang hingga menyentuh bokongnya. Bukan Ji Won yang sangat disegani oleh rekan kerja dan pegawainya. Bukan Ji Won yang terpuruk oleh hanya satu nama.

Noria yang ada di hadapannya ini adalah Noria Silje, wanita berumur 26 tahun yang bekerja paruh waktu untuk hidupnya. Noria yang menganggap dunia ini penuh warna. Noria, wanita berambut hitam sebahu yang ikal di bagian bawahnya, pun dengan poni imut yang membingkai wajahnya. Noria yang disenangi para tetangganya.

Mereka—Ji Won dan Noria—adalah satu, tapi berbeda.

Entah apa alasan yang dimiliki Ji Won, sejak tiga tahun yang lalu ia mengubah dirinya besar-besaran, pun sikapnya. Tapi sekarang Myung Soo mensyukuri hal itu. Ia tidak perlu melihat Ji Won yang terpuruk, jatuh dengan sangat dalam di hatinya dan tak bisa keluar lagi. Nyatanya, Ji Won yang ada di hadapannya—ataupun Noria—kini baik-baik saja.

Myung Soo meletakkan cangkir teh setelah menyesapnya beberapa saat. Keningnya berkerut dalam, menatap cairan pekat di dalam cangkir. Teh ini nikmat sekali rasanya, pikirnya. Teh tradisional yang diracik khusus, sangat berbeda dengan teh instan yang biasa ia cicipi.

“Ji Won-ah.”

Panggilan itu langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Noria, yang sangat tidak suka dipanggil demikian.

“Aku Noria Silje,” gumamnya tajam.

Myung Soo mendesah. Okelah, kalau itu yang ingin Noria mainkan sekarang.

“Noria, ayahmu… tidak, ayah kita sudah meninggal.”

Myung Soo mengatakan hal itu sambil memperhatikan mimik wajah Noria, akan seperti apakah ekspresinya? Ia berharap ada raut sedih di sana, tapi nyatanya tidak ada. Wanita itu mengangkat bahunya tak peduli.

“Aku sudah tahu. Sekretaris si tua itu sudah meneleponku beberapa hari yang lalu.”

“Dan jangan harap aku akan pulang ke Korea hanya karena kau yang minta.”

Ucapan itu mengundang senyum tipis di bibir Myung Soo. Ji Won tepat sasaran. Alasannya ke sini, ke benua yang berbeda dari tempatnya tinggal adalah unuk membawa pulang Ji Won. Ayah Ji Won memberikan sebagian besar  saham perusahaan untuk Ji Won, sebagian yang lain untuk Myung Soo. Walau jumah saham Myung Soo lebih besar, tapi para direktur yang lain mempertanyakan kehadiran Ji Won.

Dan untuk itu, disiniah Myung Soo. Ia berharap Ji Won setidaknya mau kembali ke perusahaan setelah tiga tahun ia tinggalkan untuk menyembuhkan hatinya. Dengan membawa Ji Won pulang, ia bisa menjaga gadis itu lebih baik dari pada yang tiga tahun ini. Selama tiga tahun ini, ia hanya bisa mengunjungi Ji Won paling banyak sekali dalam tiga bulan, karena padatnya perkerjaan di kantor.

“Noria.”

Wanita yang disebut namanya itu menggeleng pelan.

“Aku tidak mau,” ucapnya lemah. Ia bangkit, beranjak dari dapur dan masuk ke kamarnya. Myung Soo mendesah pelan. Ia harus memikirkan cara untuk membawa pulang kembali Noria. Bagaimana pun caranya.

___

Myung Soo sudah seminggu disana, masih berupaya membujuk Noria walau wanita itu jelas jelas menjauhinya. Itu adalah rekor terlama Myung Soo berada di sana lebih dari tiga hari—waktu yang biasa ia pakai untuk mengunjungi Ji Won.

Tidak terhitung berapa kali handphone Myung Soo berdering untuk memintanya pulang, tapi Myung Soo abaikan demi membujuk Noria.

“Noria—”

“—aku tidak dengar.”

Wanita berambut sebahu itu menggeleng-geleng sambil mengelap meja dapur. Ia membersihkan rumahnya dengan telaten, melupakan keberadaan Myung Soo yang selalu mengekorinya seminggu terakhir ini.

Noria bukannya tidak tahu kalau Myung Soo beberapa kali kerap menghilang dengan handphone di tangannya. Ia pasti sedang sangat sibuk tapi tetap bersikeras membujuknya. Kadang keinginan untuk kembali ke Korea hadir di kepalanya. Ia rindu udara Seoul, ia rindu kimchi, ia rindu berbahasa bahasa korea, ia rindu suasana Korea.

Tapi ada satu hal yang menahannya begitu lama. Laki-laki itu. Laki-laki itu pasti ada di sana, di sudut kota dan pasti sedang berbahagia dengan kekasihnya.

Kepalan tangan Noria menguat. Kemudian lamunannya buyar saat Myung Soo kembai ke dalam dan siap merayunya untuk pulang.

“Noria—”

“—blablabla.”

Noria memutar matanya sambil tertawa—puas membodohi Myung Soo—dan berjalan menjauhi laki-laki itu. Tapi dasar Myung Soo keras kepala. Ia tetap menguntit Noria kemana-mana sampai akhirnya wanita itu jengah.

“Oke oke, aku akan ikut pulang denganmu.”

Noria memperhatikan bagaimana raut bahagia Myung Soo begitu ia mengatakannya, hal yang ditunggu-tunggu Myung Soo.

“Benarkah? Kau tidak bohong kan? Kau akan pulang bersamaku?”

“Diam atau aku akan berubah pikiran.”

Myung Soo cepat-cepat mengatupkan bibirnya. Noria yang melihat hal itu terkekeh pelan, mencubit pipi Myung Soo. Cubitannya di pipi Myung Soo berubah menjadi belaian sayang.

“Terima kasih,” ucap Noria memeluk Myung Soo. Laki-laki itu membalas peukan Noria sambi tersenyum senang.

Terima kasih karena telah bertahan denganku, Myung Soo-ya.

_______

To Be Continue

_______

HEIII ANNYEONG HASEYO YOROBUN…!!! #capslockjebol

Apa kabar semuanyaaa?? Maaf Jo menghilang ditelan Kyuhyun XD

Tau sendiri kan kesibukan anak SMA tahun ke-tiga? Udah UN, ditambah ujian masuk perguruan tinggi lagi! Ujiannya udah lewat sih, tinggal nunggu pengumumannya yang bikin dag dig dug serr. Do’a in ya hehe. *Malah curhat

Jo juga ga rela Min Woo mati kok. Jo juga berat nulisnya 😦

Oh ya, ada yang nyadar ga, visualisasi Min Woo di FF ini? Coba liat poster di atas. Itu Sung Hoon loh! Jo suka dia sejak nonton Oh My Venus hehe. Jo seneng banget begitu tau dia dapat peran utama di drama. Yang ditunggu-tunggu! My Secret Romance. Ada yang nonton? Dia ganteng maksimal disitu. Ah~ Min Woo ❤ Sengaja Jo pake lagi poster ini untuk mengenang Min Woo yang sudah pergi huhu 😦

Umur Ji Won 26 tahun ya, jangan bingung. Di INSA chapter 1, Kyuhyun pernah menyebutkan umurnya 22 tahun. Kyuhyun dan Ji Won seumuran ya. Rentang waktu antara Kyuhyun dan Ji Won nikah sampe mereka cerai anggap saja setahun.

Dan kini latar waktunya di tambah tiga tahun. Nah, pas 26 kan?

Okei, langsung aja seperti biasa ya, manteman. Kalau ada typo, maafkan. Kalau ada salah, katakan. Kalau ada saran, keluarkan. Jo terima semuanya.

See You ^^

PS : Yang ga ninggalin komen Jo doain makin cantik *eh

74 thoughts on “It’s Not Same Anymore Part 11

  1. Akhirnya dilanjut juga maaaakkk… kyuhyun kagak keliatan, kemana.??? Ah tp sebel juga ama kyuhyun di part” sebelumnya.. ditunggu part selanjutnya yaaa.. semangaaat….

    Suka

  2. akhirnya ff ini dilanjut.. Sampe penasaran buanget ini.. Makasi jo..
    Penasaran gimana kyuhyun yg skrng, stelah ngg ktemu sama jiwon dan dtinggal prgi yg trdahulu :” aa ditunggu lanjutannya yaa.. Semoga cepat 😂

    Suka

  3. Tuh kan bener jja kl min woo tuh, org dri masa lalu’a jiwon yg terlupakan.. Ga rela bgt beneran deh min woo’a dibuat dead.. But yaah nama’a jg ff,, suka” author’a jja deh.. Hihih

    But for now,,sebener jg jd pertanyaan besar adalah.. Itu kertas yg ditemuin & dibaca sikyu yg dikamar jiwon itu surat apa?.. Ko si kyu ampe gemeter & ga percaya gtu?!!! Apa jgn” itu surat pemberitahuan/hasil pemeriksaan jiwon dari RS.. Yaa tw kan yaa kl jiwon dl lama konsumsi obat dgn dosis tinggi, dan bisa jja kan itu berefek samping pada organ tubuh bagian dlm’a/ dia jg mengidap penyakit mematikan lain’a?!!

    Yg jelas makin penasaran ma kelanjutan’a jja deh..

    Suka

  4. kertas apa yg kyu temukan n baca ya smpe dia kaget gtu,apakah jiwon akan bertemu kyuhyun lg,kashan jiwon klo bertemu kyu n kyu mau kembali ke jiwon stlah mikyung meninggal gmn klo mikyung ga meninggal apakah kyu mau kembali ke jiwon.

    Suka

  5. mereka berpisah bgtu saja tanpa berkomunikasi lg
    yahh minwoo meninggal?
    tiba” bnget kalo kena leukimia
    apa jiwon akan kmbali lg ke kyuhyun

    Suka

  6. Ya ampuuunnn. Demi apa ini muncul lagi..
    Pertama baca flash back chapters 10 masih ngga konek
    Tapi pas baca mi kyung meninggal, aku baru ber-ooohh.. 😆😆 baru inget..
    Ternyata min woo sakit ya.. Trus elody sama siapa dong? Penasaran sama kertas yg tadi di pegang sama kyu, itu isis nya apa ya?

    Suka

  7. setelah sekian lama nunggu,,,akhirnya publis juga.jiwon ma yang lain aja,drpd ama kyu,tapi gak cinta.mending ma orang lain yang bener tulus.lagian ji won juga udah move on tuh thor

    Suka

  8. Walau ff ini udh lama gak update…tp ttp ingat sm critanya yg gak pasaran. Jd gak prlu flash back lg deh bacanya…. Dan surat yg d temukan kyu aku yakin itu surat pengalihan aset jiwon ke kyu. Aq brharap jiwon bertemu kyu d korea…

    Suka

  9. Penasaran dg kertas yg ditemuin kyu,knp sampai membuat kyu gemetar dan gak percaya? Mg ada rahasia yg bs menyadarkan kyu dari kertas itu,klw slm ini kyu salah mengira mi Kyung yg sebenarnya ji won.
    Gmn kbr perasaan Kyuhyun 3 thn ditinggal Ji-won?
    Berharap kebahagiaan utk kehidupan Ji-won,ada org yg tulus mencintai dan menjaganya meski bukan Kyuhyun.

    Suka

  10. Bangkitkan lagi uri min woo 😭😭 gaje bnget .
    Sayang bnget sma min woo kak 😭
    Tapi kok kyakx ka jo suka bnget sma kanker darah ? Perasaan semuanya mati gegara itu deh ? Sekali kali sakit nya yg ringan kek maag doang bisa kali ya kak 😅
    Tapi pnasaran bangeeeeet gmna klanjutannya . Smngat ka jo . Next juseyoo 😍

    Suka

  11. Akhirnya jd Jiwon yg dulu, walaupun namanya berubah penampilan pun berubah.
    Jangan sakit hati lagi yaa jiwon. Uuhh jd pen nangis. Author Jo, nice ff👏👏💕💕

    Suka

  12. Kyu blum cerai kan sama jiwon??? Moga aja perceraiannya gak terjadi
    Semoga juwon ketemu sama kyu kan semua penghalang sudah tersingkir tinggal mereka yg berjuang

    Suka

  13. akhirnya dilanjutkan jg ff ini, setelah sekian lama menunggu hehe
    ff nya keren walau sempet kaget waktu mi kyung malah dibuat meninggal, hehehe jd berasa ada yg hilang but over all aku suka ff nya
    ditunggu kelanjutannya kak

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s