My Life’s Destiny


image

Author: Oh Eonnie

Poster By: Song17 Art

Title: My Life’s Destiny

Category: NC-17, Yadong, Smut, Romance, Oneshoot.

Cast:

• Cho Kyu Hyun

• Kim Ha Ni (OC)

Other cast find by your self

Summary:

Kim Ha Ni, gadis belia nan polos yang membutuhkan banyak uang untuk operasi ibunya yang berpenyakitan. Gaji di kafe tempatnya bekerja tidak bisa mencukupi uang tagihan operasi ibunya. Akhirnya teman kerja Ha Ni menawarkan kerja yang cukup menantang dengan gaji satu malam mencapai 100 juta.

Pekerjaannya mudah, hanya memuaskan seseorang di ranjang. Ha Ni benar-benar menimang pekerjaan itu. Sampai akhirnya, dia tidak punya pilihan lain selain menerima pekerjaan itu. Ha Ni ditawar oleh para pelanggan dengan harga tinggi. Sampai seseorang membelinya dengan nilai yang diluar dugaan tapi dengan syarat Ha Ni harus memuaskannya di ranjang selama satu minggu ke depan.

Hai adek-kakak cantik. Oh Eonnie datang lagi. Ada yang kenal, gak? Pasti kenal lah. Hahaha… pede banget aku ya. Cuma bisa bawa ff Oneshoot ke-2 yang gak seberapa ini. Pertama kali juga aku nyoba dengan main cast Cho Kyuhyun. Entahlah ada feel atau malah hancur. Kkkk ceritanya pasaran kaya DVD di pasar loak. *wkwk* dan ya…, mungkin endingnya gantung. So, don’t bashing me, please. Hehehe 😀

Selamat Membaca, dear…

______ My Life’s Destiny ______

Terkadang begitu banyak dari kita yang selalu berkeluh kesah dengan berbagai kesulitan yang datang silih berganti. Padahal segala sesuatu yang kelihatannya buruk belum tentu buruk bagi kita dan yang nampak indah dan menyenangkan, belum tentu juga akan memberikan kebaikan bagi kita.



Sesuatu yang terjadi di dalam hidup manusia memang sudah ditakdirkan, seperti halnya yang terjadi padaku.



Namun kadang menerima takdir itu menyakitkan. Butuh keihlasan, butuh kesabaran untuk bisa menata hati. Semua yang terjadi hari ini sangat menyakitkan, menghancurkan harapan dan mimpiku.



Tapi aku harus terima semua ini. Tuhan pasti sudah menentukan yang terbaik untukku…



_Kim Ha Ni_

2017

Seoul Ilhoon Hospital

Tidak ada sesuatu yang lebih menyakitkan ketika melihat orang yang disayangi terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Kim Ha Ni, gadis belia berumur 18 tahun yang kini sedang menatap sedih ibu tercintanya yang terpisahkan dinding yang menghalangi mereka.

“Ibu, bertahanlah…,” gumaman lirih Hani menyeruak di setiap dinding kamar rumah sakit belapis putih, tidak ada yang spesial di sana. Hanya ada sebuah alat monitor jantung dengan tabung oksigen yang terpasang di tubuh seseorang. Hatinya perih setiap kali menatap ketidakberdayaan ibunya itu.

“Aku mohon, bertahanlah untukku, Bu…,” gumamnya lagi. “Aku janji, akan bekerja keras agar ibu cepat dioperasi,” gadis cantik berseragam itu  masih saja mematung menatap seorang wanita paruh baya yang terbujur kaku di hadapannya. Matanya memanas, tidak tahan lagi untuk mengeluarkan lelehan air mata dari kedua kelopak matanya yang indah.

Sudah dua tahun, ya, sudah dua tahun ibunya – Kwon Hae Won – terbaring lemah di ranjang ini, di kamar ini, dan di rumah sakit ini. Jantungnya masih berdenyut walaupun dengan tempo lemah. Ia juga masih bernafas walaupun masih dengan bantuan tabung oksigen.

Sekuat tenaga gadis berseragam sekolah itu menyemangati dirinya sendiri. Semuanya terjadi begitu saja. Seakan membuatnya tak mampu mencerna dengan baik atas cobaan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Apakah ia dapat memarahi Tuhan? Apakah ia dapat menuntut seseorang itu atas semua cobaan yang telah diberikan kepadanya? Ingin rasanya melakukan semua itu, tetapi Ha Ni tahu semuanya sudah menjadi bagian dari takdirnya.

Ia seharusnya bersyukur Tuhan masih berbaik hati kepadanya untuk tidak mengambil ibunya, Tuhan masih memberi kesempatan Ha Ni memandang, mencintai dan merawat ibunya. Ayahnya – Kim Jong Hoon – telah meninggal saat Ha Ni baru lahir ke dunia. Bahkan Ha Ni tidak tahu wajah ayahnya seperti apa, miris bukan? Hanya ibunyalah yang sejak kecil banting tulang membiayai kebutuhan hidup keluarga. Dari kerja serabutan hingga kuli bangunan, beliau lakukan. Ha Ni sangat berhutang budi kepada Hae Won. Ibunya begitu sayang padanya, hingga berkorban sedemikian rupa hanya untuk putri tunggalnya, Kim Ha Ni.

Ddrrrrttt… Ddrrrttt…

Getaran ponsel di saku kemeja sekolah Ha Ni mengagetkan gadis itu. Dihapusnya secara perlahan tetesan air mata yang menetes tak terduga di permukaan pipinya kemudian mengangkat panggilan dengan nama ‘Hyuna Eonni’ yang tertera pada layar ponselnya.

“Ya eonni, kenapa?” tanya Ha Ni pelan.

“Apa kau masih di rumah sakit? Jam makan siang tidak lama lagi. Pelanggan akan semakin banyak. Cepatlah berangkat ke kafe sebelum Tuan Kim Ryeowook mengomelimu, arraseo?” balas seseorang di seberang sana. Kang Hyuna salah satu teman kerja Ha Ni di kafe tempatnya bekerja. Teman satu kerja yang usianya 5 tahun lebih tua dari Ha Ni. Sampai sekarang masih berteman baik.

“Jinjja? Maaf sudah membuatmu kerepotan eonni. Aku akan segera ke sana,” balas Ha Ni yang merasa bersalah telah meminta waktu beberapa menit kepada Hyuna untuk menjenguk ibunya di rumah sakit. Padahal ini sudah jam kerjanya. Ia sudah membuat gadis keturunan Korea-Jepang itu susah selama dirinya bekerja di kafe.

“Tidak apa. Aku tutup teleponnya dulu ya, cepatlah ke sini,” jawab Hyuna mengerti kemudian memutuskan sambungan teleponnya dengan Ha Ni.

“Ibu, temanku Hyuna Eonni sudah meneleponku. Ibu tidak apa kutinggal, kan? Aku akan kembali lagi ke rumah sakit setelah selesai bekerja. Aku mencintaimu, Bu…,” pamit Ha Ni sebelum akhirnya mendaratkan satu kecupan singkat di kening ibunya. Kebiasaannya jika ia akan meninggalkan ibunya berjuang sendiri dengan rasa sakitnya di tempat ini.

Langkah kakinya itu pergi dengan gerakan cepat. Meyusuri setiap koridor rumah sakit Seoul untuk segera pergi bekerja di kafe. Keseharian Kim Ha Ni hanya seorang pelajar SMA tingkat akhir yang sebentar lagi akan lulus sekolah. Menyampingkan sekolah sambil bekerja untuk dapat terus membayar biaya sekolah setiap bulan dan sisanya Ha Ni kumpulkan untuk biaya operasi ibunnya. Ha Ni berpikir cepat, kerja apa lagi yang harus ia lakukan agar ibunya cepat dioperasi, Ha Ni sangat membutuhkan banyak sekali uang itu untuk biaya operasi ibunya. Ha Ni terus saja bergulat dalam batin sampai tidak sadar ada orang di depanya yang juga berjalan.

Bruk!

Ha Ni merasakan bahwa ada tubuh besar yang menabraknya dan bunga orang yang menabraknya jatuh ke lantai. Ha Ni refleks mengambil bunga itu dan meminta maaf. “Maafkan saya sudah menjatuhkan bunga Anda,” ucap Ha Ni lembut.

Seseorang yang ditabraknya hanya diam, tidak mengucapkan apapun, dan itu membuat Ha Ni aneh. Ha Ni menengadahkan wajahnya untuk melihat orang itu. Orang itu tinggi dan badannya tegap, memakai jas mahal berwarna hitam yang menyembunyikan kemeja berwarna putih yang ia pakai. Wajah pria itu tampan. Laki-laki itu balas menatap Ha Ni seperti terkejut dalam ataupun terpesona.

“Cantik,” ucap pria itu lirih, membuat Ha Ni mengernyit. Ia hendak mengatakan sesuatu pada orang itu, namun ia ingat waktu dia harus pergi bekerja ke kafe.

“Maaf Tuan, saya tidak sengaja, saya sedang terburu-buru, permisi,” Ha Ni pergi begitu saja tanpa menyadari tatapan tajam nan menusuk menatap dirinya.

“Joon Myeon!” panggil laki-laki berjas itu pada bodyguard yang mendampingi di sebelahnya.

“Ya, Tuan.”

“Ikuti gadis itu! Cari tahu latar belakang kehidupannya,” perintahnya dengan senyum licik yang tersemat di wajah tampan nan rupawan tersebut.

“Baik.”

“Menarik dan membuatku bergairah,” gumamnya menatap penuh kepuasan punggung mungil Ha Ni yang perlahan menghilang dari pandangan.

Langit kelam, hitam keabu-abuan. Bunyi gemuruh petir berfrekuensi rendah terdengar samar. Setetes air jatuh membasahi kaca jendela Cafe Shop. Sekitar sepuluh menit kemudian, hujan turun dengan derasnya, seakan menggantikan air mata yang – harusnya – mengalir.

Kafe tempat Ha Ni bekerja terlihat tidak terlalu ramai malam ini. Hanya beberapa orang yang terlihat mengisi beberapa meja di sudut kafe. Mungkin karena cuaca yang sedang tidak bersahabat.

Ditambah lagi dengan hujan disertai petir yang saling bersahutan membuat siapa saja tentu lebih memilih berdiam diri di dalam rumah mereka yang hangat dibandingkan bepergian keluar.

“Ha Ni-ya, bawalah makanan ini ke meja di ujung sana,” pinta laki-laki bermata sipit kepada Ha Ni. Ha Ni mengangguk dan tersenyum manis padanya.

Nama pria itu adalah Henry Lau, seorang pria imut yang berkewarganegaraan China. Ia adalah lelaki imut, manis nan baik hati yang selalu bersikap baik kepada Ha Ni. Ia juga salah satu koki handal di kafe milik Kim Ryeowook.

Jika melihat riwayat keluarganya, Henry Lau sebenarnya bukanlah seseorang dari kalangan ekonomi rendah seperti Ha Ni tetapi entah apa alasan laki-laki itu untuk susah payah bekerja paruh waktu di kafe sederhana seperti ini. Mungkin sekedar menyalurkan hobi memasaknya saja.

“Ne, Oppa,” balas Ha Ni menyunggingkan senyum indahnya pada Henry. Membuat semua orang yang datang ke kafe itu melihat senyum indah bulan sabit Ha Ni berdecak kagum dan terpesona. Sementara Henry yang menerima dan melihat senyum Ha Ni merasa tidak enak.

“Jangan tersenyum seperti itu, kau membuat orang yang memandangmu terserang diabetes nantinya,” candanya.

Ha Ni terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala cantiknya. Kedua tangannya lalu bergegas mengambil alih nampan berisi makanan yang disodorkan oleh Henry padanya. Pria imut itu membalas senyuman Ha Ni. Ya, bisa dibilang keduanya memang cukup dekat. Ha Ni menganggap sosok Henry Lau sebagai kakaknya dan begitu pula sebaliknya. Henry sangat menyayangi Ha Ni seperti adiknya sendiri.

Kim Ha Ni, gadis cantik itu adalah gadis berdarah Korea pertama yang dikenalnya sejak memutuskan untuk tinggal di Korea Selatan beberapa bulan lalu. Henry Lau juga cukup mengenal seluk-beluk kehidupan Ha Ni dengan baik.

Oleh sebab itu, ia sangat memperhatikan gadis ini. Menurutnya, Ha Ni adalah gadis yang tegar. Ia masih dapat tersenyum di atas pahitnya kehidupan yang telah dikecapnya selama ini.

Mata pria itu dengan lihai mengikuti pergerakan Ha Ni menuju meja yang ditunjukkannya hingga kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi. Ha Ni tidak sengaja menumpahkan orange juice pesanan seorang wanita yang sedang berdandan ria dengan cermin yang masih dipegangnya.

“Astaga!” ucap Ha Ni terkejut.

“Ya! Baju mahalku,” teriak wanita tadi lalu dengan spontan mengalihkan pandangannya pada baju mahal yang baru saja dibelinya dengan harga yang tidak bisa dibilang murah itu.

“Astaga, Ada apa ini?” panik Ryeowook yang keluar dari ruangannya ketika mendengar keributan di luar.

Dilangkahkan kakinya dengan terburu-buru untuk melihat apa yang terjadi, disusul dengan Hyuna dan Henry yang sedari tadi hanya melihat Ha Ni dari kejauhan.

“Ya! Tuan, bukankah Anda pemilik kafe ini? Bagaimana mungkin Anda mempekerjakan gadis ceroboh dan bodoh sepertinya, huh? Jika saya menjadi Anda, saya akan memecat gadis itu. Ck!” ucap wanita tersebut kepada Ryeowook yang dipikirnya tidak selektif dalam memilih karyawan.

“Saya minta maaf Nyonya, ini murni kesalahan saya. Tolong jangan menyalahkan atasan saya, Nyonya,” balas Ha Ni menundukkan kepalanya dalam. Berusaha sekuat mungkin menahan lelehan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Baru kali ini ia dibentak oleh pelanggan karena kecerobohannya setelah hampir dua tahun ia bekerja di kafe milik Tuan Kim Ryeowook.

“Kau, gadis miskin! Gajimu di sini bahkan tidak akan cukup untuk mengganti baju mahalku! Kau tahu itu?” balas wanita tadi tajam.

Tak sadar sama sekali jika perkataannya barusan benar-benar menusuk hati Ha Ni. Ia memang berasal dari keluarga yang miskin tapi tidak ada satu orangpun yang pernah menghinanya seperti yang dilakukan oleh wanita tadi. Apakah orang dengan status ekonomi rendah hanya selalu dapat direndahkan seperti ini?

“Kim Ha Ni…,” lirih Ryeowook pelan.

Pria berambut cepak dengan mata sipitnya itu menatap miris Ha Ni yang seperti patung di tempatnya berdiri sekarang. Apa karena ucapan wanita tadi? Astaga, Ha Ni, Ryeowook juga masih punya hati yang peka dan ia tahu bagaimana kerasnya kehidupan Ha Ni selama ini.

Gadis itu sudah lama bekerja di kafe sederhana miliknya dan ia adalah seorang pekerja keras. Ia yakin  pasti dia melakukannya bukan karena sengaja. Tetapi baru saja ingin membela gadis malang itu, Ha Ni dengan cepat melepas apron pelayan yang digunakannya dan berlari dengan berurai air mata keluar kafe. Ha Ni berpikir jika jelas saja atasannya akan memecatnya karena hal yang terjadi tadi murni karena kecerobohannya. Ia tak tahu sama sekali jika atasannya yang terkenal galak itu sebenarnya ingin melakukan hal yang sebaliknya. Ha Ni berlari sambil sesekali terisak. Melewati trotoar yang sepi dari pejalan kaki. Kakinya terus berlari tanpa arah. Hujan yang turun dengan derasnya menjadi pelengkap kesedihannya kali ini.

Gadis itu seakan tak mempedulikan rintikan hujan yang membuat seluruh tubuhnya kaku karena kedinginan. Bibirnya gemetaran menahan dinginnya cuaca luar yang semakin menusuk kulit putihnya. Suara tangisnya lambat laun tak terdengar karena teredam oleh rintikan hujan yang deras.

Ibu…

Beban ini terlalu sulit untuk kupikul. Sekuat apapun aku menyembunyikan rasa pedih ini,

sekeras apapun aku menganggap semuanya baik-baik saja, kenyataan yang kudapatkan malah sebaliknya…

Ibu, apakah takdirku telah digariskan seperti ini?

“Kau bisa sakit jika bermain hujan, bodoh,” sebuah suara membuat Ha Ni mendongak.

“Henry Oppa?” gumamnya lirih. “Kenapa dia ada di sini?” pikir Ha Ni. Ia tidak sedang berhalusinasi, kan? Ha Ni segera menghapus air matanya dan menciut melihat iris harzel sipit itu menatapnya dengan penuh kemarahan.

“Kenapa kau menangis?” tanyanya tapi Ha Ni tidak menjawab. Gadis manis itu kembali menangis membuat Henry menghela nafas kasar.

“Ayo kembali!” ujar Henry tapi Ha Ni masih bergeming membuat lelaki pemilik mata bulat itu mengambil nafas dan membuangnya dari mulut. Ia bahkan berkacak pinggang menatap Ha Ni tak percaya.

“Kim Ha Ni, ayo kembali bekerja!” Henry Lau tidak tahu harus berbuat apa lagi, ia tahu bagaimana sulitnya hidup yang dijalani Ha Ni. Henry mengerti.

“Apa ini Kim Ha Ni yang aku kenal? Menangis meratapi hidup yang menurutmu sulit. Apa kau tahu, di luaran sana masih banyak orang dengan takdir menyesakkan dibanding denganmu. Seharusnya kau bersyukur, bukan malah mengeluh tidak ada gunanya.”

“…” Ha Ni masih diam.

“Sepertinya kau memang harus dipaksa,” Henry terpaksa menggendong Ha Ni di punggungnya. Tentu saja membuat Ha Ni tersentak. Beberapa orang bahkan mulai memperhatikan mereka saat berjalan menggunakan alat pelindung hujan. Tapi Henry tidak peduli, dengan wajah kalem ia berjalan begitu saja dengan Ha Ni di gendongannya.

Sedangkan Ha Ni hanya terdiam, ia tidak tahu harus berkata dan melakukan apa. Pikirannya sedang tidak sejalan, yang bisa Ha Ni lakukan hanya memeluk leher Henry, dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung lelaki yang sudah dianggap kakak laki-lakinya itu.

Seorang pria berparas tampan tengah duduk sambil bersenandung di kursi kebesarannya, memandangi suasana hujan kota Seoul dari jendela di belakangnya. Tahun ini merupakan tahun keempat dirinya menjabat sebagai CEO di salah satu perusahaan bisnis ternama di Seoul. Ia termasuk CEO yang masih muda, namun itu bukan halangan bagi seorang Cho Kyu Hyun untuk memimpin perusahaannya hingga berkembang pesat seperti saat ini. Hidup bergelimang harta sejak kecil membuat dirinya melakukan segala hal yang ia mau dan segala hal itu harus terwujud.

Pria itu tampak tenang dan sesekali tersenyum simpul. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Ia beberapa kali melirik pintu utama, menanti seseorang yang beberapa saat tadi ia hubungi. “Lama sekali,” gerutunya. Pikirannya kalut terbawa bayangan seorang. ‘Maafkan saya sudah menjatuhkan bunga Anda.’ suara lembut itu selalu menggetarkan Kyu Hyun saat kembali mengingat kejadian tadi siang.

Pria itu kini menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Pandangannya mengedar ke sekeliling ruangan. Ia kembali tersenyum. “Ck! Ada apa denganku?” decaknya bingung akan keadaan dirinya saat ini.

Tak lama, pintu terbuka. Ia menoleh bersamaan dengan seseorang yang ia hubungi kini berdiri di ambang pintu.

“Selamat pagi Sajangnim,” sapa seorang pria bernama Joon Myeon dengan wajah kalemnya.

Joon Myeon membawa beberapa artikel yang diperlukan oleh Kyu Hyun mengenai asal usul gadis yang tadi siang menabraknya di rumah sakit. Pria itu tengah duduk di kursi kebesarannya dan Joon Myeon berdiri di seberang meja tepat di depan meja Kyu Hyun.

“Semua data yang Anda perlukan ada di dalam map itu, Sajangnim,” ucapnya seraya menunjuk map yang ada di atas meja kerja Kyu Hyun. Tak butuh waktu lama, pria tampan itu membuka map berisi data tentang gadis incarannya.

Name: Kim Ha Ni

DOB: Seoul, 30th July 1999

Blood Type: O

Height: 163 cm

Educational Background:

– Seoul Art High School (SOPA)

Family Background:

Father’s Name: Kim Jong Hoon

Mother’s Name: Kwon Hae Won

Address: Yeoksam-dong, Gangnam-gu, Seoul

Employment:

– Father: Driver (RIP)

– Mother: Housewife

“Ayahnya meninggal?” Joon Myeon mengangguk. “Tuan Kim Jong Hoon meninggal saat kelahiran putrinya akibat kecelakaan beruntun 17 silam. Ibunya, Nyonya Kwon Hae Won yang selama ini memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tapi sejak 3 tahun lalu Nyonya Kwon sering sakit-sakitan. Akibatnya, sekarang ia tengah dirawat di rumah sakit selama lebih dua tahun ini Tuan.”

“Lalu siapa yang selama ini membiayai biaya rumah sakit?”

“Putrinya, Kim Ha Ni. Dia yang membayar setiap bulan perawatan ibunya. Bersekolah sambil bekerja paruh waktu di sebuah kafe sederhana milik Tuan Kim Ryeowook, teman Anda.”

Senyum simpul menghiasi bibir Kyu Hyun ketika mengetahui kehidupan gadis itu. “Ini akan sangat mudah. Ada dua cara mengikatnya,” gumamnya. Setelah dirasa cukup, ia mengalihkan pandangannya, menatap orang kepercayaannya.  “Kau boleh pergi,” ucapnya pada Joon Myeon yang kini mengangguk sopan.

“Kim Ha Ni, kupastikan sebentar lagi kau menjadi milikku.”

“Wah, kue cokelat ini benar-benar enak. Kau memang koki hebat,” Hyuna memberikan satu jempol pada Henry. Membuat orang yang menerimanya tersenyum jenaka.

“Ha Ni-ya mau mencoba?” tawar Henry saat tak sengaja matanya melihat Kim Ha Ni berjalan di sekitarnya.

“Ayo cobalah!” Henry memperhatikan saat Ha Ni perlahan mengambil dan memakannya.

“Ini enak,” ucap Ha Ni jujur.

“Tentu saja, Chef Henry Lau,” Hyuna berujar spontan seperti membanggakan dirinya. Padahal yang membuat jelas tahu siapa.

“Habiskan, ya, aku mau ke dapur lagi,” Ha Ni mengangguk disusul Hyuna. Merekapun kini terhanyut dalam obrolan ringan yang mendera.

“Bagaimana kondisi ibumu?” tanya Hyuna.

“Masih sama eonni,” jawab Ha Ni parau. “Aku harus secepatnya mencari uang untuk operasi ibu. Kata dokter, jika terus menunda operasi, penyakitnya akan semakin parah. Tapi sungguh, aku belum punya uang, Eonni,” Hyuna menatap iba Ha Ni. Ia tahu, bagaimana hidup yang dijalani Ha Ni saat ini. Banting tulang hanya untuk membiayai operasi ibunya yang tengah sakit keras dan sisanya untuk kebutuhan sekolah. Di saat anak seumuran Ha Ni bersenang-senang tanpa beban, tapi tidak untuk Kim Ha Ni. Bagi Hani, tidak ada waktu bersenang-senang seperti yang dilakukan orang di luaran sana. Yang ada dalam pikirannya adalah mencari uang yang banyak agar ibunya cepat dioperasi.

“Sebenarnya aku ada pekerjaan yang bisa membantu biaya operasi ibumu, Ha Ni.”

“Benarkah?” mata Ha Ni berbinar penuh harap. “Aku mohon Eonni, apa pekerjaannya? Apapun pasti aku lakukan, asal ibuku dapat dioperasi.”

“Kau yakin?” tanya Hyuna sangsi. Ha Ni mengangguk semangat. Hyuna berbisik pelan agar orang lain tidak mendengarnya.

“APA! Kau gila eonni!” teriak Ha Ni marah, matanya terbelalak terkejut saat teman kerjanya itu mengatakan sesuatu hal di luar logika. “Bekerja sebagai pelacur” itulah bisikan yang membuat Ha Ni marah.

“Sudah aku duga, pasti kau terkejut.”

“Aku tidak akan melakukan pekerjaan hina itu, Eonni. Aku masih punya harga diri!”

“Aku tidak memaksamu, Ha Ni-ya. Aku juga tidak mau kau melakukan hal itu. Tapi, saat aku melihat betapa menyedihkan dirimu, tersiksanya hidupmu, membuatku prihatin. Aku tidak bisa membantumu, aku juga butuh uang untuk kehidupan adik-adikku. Cara satu-satunya adalah melakukan itu. Kau bisa mendapatkan uang ratusan juta dalam semalam.”

“Tapi bukan bekerja seperti itu eonni. Tidak. Aku tidak mau melakukannya.”

Tepat di luar kafe, sebuah mobil mewah baru saja terparkir di pinggir jalan. Tampak seorang laki-laki berjas berwarna hitam legam keluar dari pintu bagian pengemudi. Pria tinggi dan tegap itu berjalan sedikit memutari mobil itu, sebelum kemudian berdiri di samping pintu depan sebelah kiri mobil dengan wajah kalem tidak berekspresinya. Tanpa banyak menunggu waktu, laki-laki itu membuka pintu mobil. Membuat kaki bersepatukan pantofel hitam yang mengkilat perlahan turun. Kemudian, pria berjas biru gelap itu mulai tampak keluar dari mobilnya.

Senyuman miring yang indah kembali terukir di wajahnya. “Apa ini kafe yang kau maksud?” Kim Joon Myeon, anak buah Kyu Hyun mengangguk. “Iya, kafe ini tempat Nona Kim bekerja.”

Kyu Hyun menganguk-angguk kecil. “Tidak buruk.”

Kyu Hyun mulai melangkah maju. Dengan cepat, Joon Myeon mendahului langkah Kyu Hyun. Ia kemudian membukakan pintu untuk tuannya membuat lonceng pintu kafe berbunyi nyaring. Namun, terdengar cukup indah.

Seketika setelah Kyu Hyun memimpin masuk ke dalam kafe, semua pusat perhatian tertuju pada mereka. Mereka berdua, terutama Cho Kyu Hyun. Bagaimana bisa dua orang yang kini sedang berjalan menjadi hal yang paling menarik saat memasuki kafe itu. Apalagi jika yang memimpin langkah di depan adalah seorang pria tinggi dan tampan. Jangan lupakan senyum tipis Kyu Hyun yang terukir sempurna saat pria itu memberi senyuman tipisnya. Hal itu membuatnya semakin menjadi pusat perhatian.

Mendengar lonceng itu, sontak membuat Ha Ni dan Hyuna yang sedang berargumen pendapat mengangkat kepala mereka untuk menatap pelanggan baru mereka.

“Selamat da…,” Ha Ni terdiam. Suaranya yang hendak mengucapkan selamat datang terasa tersangkut di tenggorokannya, seolah ia sendiri lupa cara mengatakan selamat datang yang sudah menjadi rutinitasnya.

‘Ada apa denganku?’ batinnya.

Kyu Hyun tersenyum tipis saat keberuntungan berpihak lagi padanya, tidak perlu bersusah payah mencari ataupun memanggil gadis itu. Toh, sekarang ‘Dewi’nya ada di hadapannya.

“Selamat datang di Cafe Shop History,” Ha Ni akhirnya memberanikan diri. Mengulang kembali sapaan hangat yang diterapkan di kafe tempatnya bekerja. Walaupun dengan susah payah menelan salivanya kasar.

“Astaga! Dia tampan sekali…,” bisik Hyuna tepat di sebelah Ha Ni. Sedangkan Ha Ni masih terus menatap sosok lelaki berjas di hadapannya. Baru kali ini Ha Ni melihat paras seorang pria yang sangat tampan nan rupawan. Apakah mungkin dia titisan seorang dewa? Astaga! Kampungan sekali kau Kim Ha Ni.

“Aku ingin bicara denganmu,” tanpa basa-basi Kyu Hyun langsung mengarahkan tujuannya datang ke kafe itu.

“Astaga! Dia ingin bicara denganmu, Ha Ni-ya,” bisik Hyuna lagi.

“Maaf, Anda si-siapa?” tanya Ha Ni hati-hati.

“Aku Cho Kyu Hyun. CEO Cho Corp Internasional Design. Pasti kau sering dengar,” dengan keangkuhan mendalam, Kyu Hyun menjunjung tinggi derajatnya.

“Ada apa in…? Astaga, Cho Kyu Hyun. Selamat datang di kafe sederhana milikku ini,” Ryeowook terkejut begitu tahu siapa tamu besar yang berkunjung di kafe sederhananya. Putra Presdir Seoul Cho Corp Internasinal Holding Group, Cho Kyu Hyun. Pebisnis handal yang berpengaruh di Korea. Sekaligus teman satu sekolahnya dulu.

“Aku booking kafe ini selama 2 jam, Hyung,” Kyu Hyun mengutarakan keinginannya tanpa basa-basi.

“A-apa?!” pekik Ryeowook.

“Aku akan membayar mahal kerugianmu itu. Tiga kali lipat. Asalkan mengijinkanku bicara empat mata dengannya,” Kyu Hyun menatap Ha Ni penuh minat.

“Ba-baiklah.”

Di dekat jendela kafe, Kyuhyun dan Ha Ni duduk. Di depannya ada segelas kopi dan cemilan ringan.

Keheningan melingkupi mereka. Ha Ni ingin sekali bicara, tapi ia takut saat mata tajam itu menghunus retina matanya.

“Kim Ha Ni,” mata berwarna oxel dan emerland hitam itu kini bertemu pandang. Jantung Ha Ni berdegup kencang. Astaga, mendengar suaranya saja membuat Ha Ni merinding.

“Aku akan membantumu,” permulaan yang singkat padat dan jelas, membuat kening Ha Ni mengerut bingung.

“A-apa maksudmu Tu-Tuan?” tanya Ha Ni gugup yang langsung spontan bersuara.

“Berapa biaya operasi ibumu? Aku akan membayarnya,” tanya Kyu Hyun begitu mengetahui arti kebingungan gadis manis di depannya.

“Tuan tahu darimana?”

“Mudah sekali mencari sesuatu yang membuatku penasaran, Nona Manis.”

“Terima kasih untuk kebaikanmu, Tuan. Tapi maaf, saya tidak bisa menerimanya, apalagi saya tidak mengenal Anda,” entah itu perasaan Ha Ni yang tengah berdebar atau yang lain tapi firasatnya mengatakan sesuatu buruk akan terjadi pada dirinya.

“Tidak, aku bisa membantumu, tapi ada syaratnya memang…,” Kyu Hyun berhenti sebentar, sebelum tubuhnya berdiri mendekati Ha Ni, seakan berbisik mengatakan sesuatu yang membuat Ha Ni tercekat napasnya. “Menjadi wanita malamku selama 7 hari ke depan.”

Bagaikan ada seseorang yang dengan sengaja menjatuhkan bom atom pada tubuh mungilnya, Ha Ni tersentak begitu mendengar syarat terkutuk yang seumur-umur baru ia dengar dari seorang pria asing yang bahkan sama sekali tidak ia kenal. Tubuhnya bagaikan tersambar petir di siang bolong.

“Ini alamatku, pintu rumahku selalu terbuka untukmu, Nona Manis,” Kyu Hyun memberikan kartu nama, menyunggingkan evil smirk dan entah kenapa rasanya Ha Ni ingin sekali mencakar wajah tampan di balik kebejadannya itu. Ha Ni tidak tahu apakah dia licik, tapi dia salah satu jenis orang yang sangat gadis itu benci; orang kaya yang menganggap mereka bisa mendapatkan apa saja dengan hanya mengandalkan uang.

Kyu Hyun berbalik pergi. Dia tahu, gadis kecil itu pasti terkejut. Memikirkan kembali perkataannya. Kyu Hyun percaya diri, ia yakin dalam hitungan ketiga gadis itu pasti memanggilnya dan menerima tawarannya.

Satu…

Dua…

Tiga…

“Tunggu!” Kyuhyun tersenyum senang. Ia berbalik dengan senyum penuh kemenangan. “Ya, kau menerimanya, Nona Manis?”

“Aku hanya ingin melakukan ini,” Ha Ni melangkah maju mendekatinya. Tersenyum manis sebelum mendaratkan sebuah tamparan keras yang ia layangkan pada pria tampan berjas itu.

PLAK!

Bahkan mata Kyu Hyun sudah membulat. Rasa sedikit perih di pipinya menyadarkannya, dan tangan Ha Ni yang telah menampar Kyu Hyun masih melayang di udara. Keduanya saling memandang. Kedua mata membulat dan saat itu Kyu Hyun sadar, untuk pertama kalinya, ada seorang wanita yang menolak keinginannya. Di saat di mana semua wanita menginginkan dirinya, Ha Ni malah menolaknya dengan tamparan.

“Astaga! Ha Ni menamparnya,” pekik Hyuna terkejut begitupun dengan yang lain. Mereka tengah mengintip di balik pintu penghubung dapur.

“Aku memang miskin Tuan, tapi bukan berarti Anda bisa membeliku seenaknya. Aku ini manusia bukan barang yang bisa diperjualbelikan. Aku tidak sudi dibeli pria tak bermoral sepertimu!”

“Brengsek!” umpatnya. Kyu Hyun menatap tajam Ha Ni.

Detik itu juga Kyu Hyun merasa harga dirinya diinjak-injak oleh gadis yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan sinis dan angkuh. Membuatnya kesal sekaligus tertantang. Gadis ini benar-benar! Kyu Hyun bahkan bisa mendapatkan seribu wanita yang dengan suka rela melemparkan diri ke dalam pelukannya tanpa ia paksa. Kyu Hyun tersenyum miring menatap Ha Ni tak kalah sinis, membuat gadis itu mengerutkan keningnya tidak mengerti.

“Aku benar-benar tidak menyangka gadis dengan wajah polos dan lembut sepertimu bisa dengan sangat lantang berbicara sinis dan tajam padaku, Nona. Apa kau tidak tahu, siapa aku? Aku, Cho Kyu Hyun. Pebisnis hebat yang dihormati di negara ini. Membeli rumah, mobil, pesawat, bakan negara sekalipun aku sanggup. Termasuk tubuhmu. Ingat itu!” ujar Kyu Hyun dengan seringaian penuh kemenangan menyaksikan ekspresi wajah Ha Ni yang pucat dan ketakutan.

Pada malam harinya, Ha Ni berjalan dengan lunglai di jalanan. Kini dia sudah tidak punya pekerjaan lagi. Entah kenapa Tuan Kim Ryeowook dengan sangat tiba-tiba memecatnya. Apa kesalahannya? Padahal dia bekerja dengan sangat baik, menurut Ha Ni. Apa mungkin ini berhubungan dengan orang tadi? Tidak, tidak. Ha Ni menggelengkan kepala.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana Ha Ni mencari pekerjaan disela kegiatan sekolahnya? Bagaimana ia bisa mengumpulkan uang untuk biaya operasi ibunya, sedangkan ia sudah dipecat. Yang ada di pikiran Ha Ni adalah biaya untuk operasi dan juga hutang rumah kontrakan yang harus dibayar hari ini. Dengan uang gajian kafe pun belum bisa melunasi semuanya.

Tinnnnnn!

Bunyi klakson mobil seakan berhasil membuat nyawa Ha Ni kembali ke tubuhnya. Ia tersadar untuk beberapa saat. Ha Ni menoleh ke samping dan tampak sebuah mobil laborghini hitam berhenti di sana. Mobil itu tidak asing. Ha Ni pernah melihatnya di kafe tempatnya bekerja. Sedetik kemudian jantungnya berdebar saat mengetahui pemilik mobil sport itu.

Kaca pintu mobil di jok penumpang belakangpun turun. “Masuklah,” perintah Kyu Hyun dengan tetap menghadap ke depan.

“Tidak, terima kasih,” tolak Ha Ni agak ketus dan memilih terus berjalan. Mobil itu perlahan mengiringi langkah Ha Ni.

“Naiklah! Aku akan mengantarmu,” kali ini Kyu Hyun menatap wajah rupawan Ha Ni yang terbias sinar rembulan di malam hari. Begitu cantik dan memukau banyak orang.

Ha Ni menekan ibu jari tangan kanan menggunakan telunjuknya. Kakinya menghentak kesal. “Aku bilang tidak. Ya, tidak, Tuan,” Ha Ni berjalan pergi dengan marah yang mendera.

“Ck, semakin kau menolakku, semakin pula aku mengejarmu, Sayang,” gumaman Kyu Hyun lirih tapi masih bisa didengar Joon Myeon di depan yang sedang mengemudi.

•••

“Keluarkan semua barang-barang rongsok ini!”

Ha Ni terkejut setelah sampai di rumahnya. Bibi pemilik rumah kontrakan itu sedang berdiri di depan pintu sambil memerintahkan para pesuruhnya untuk mengeluarkan barang-barangnya yang ada di rumah. Ha Ni berlari ke arahnya.

“Bibi, beri aku kesempatan untuk membayar rumah ini,” pinta Ha Ni. Bibi itu menatap tajam lalu dia berkacak pinggang di hadapannya.

“Kesempatanmu sudah habis! Sudah 2 bulan kau belum bayar rumah kontrakan ini. Sekarang kau pergi dari sini! Bawa barang-barangmu ini!” Bibi kontrakan itupun mendorong Ha Ni sehingga Ha Ni terjatuh.

“Bibi, aku mohon, beri aku waktu lagi untuk membayarnya,” Ha Ni masih bertahan, ia bahkan bersimpuh di kaki Bibi itu.

“Pergi!” bentak Bibi itu mengusir Ha Ni dengan mengibaskan kakinya, membuat gadis itu terjerembab ke tanah. Air mata Ha Ni terus berjatuhan seiring dengan langkah kakinya pergi meninggalkan rumah kontrakan itu.

Tepat setelah Ha Ni pergi, sebuah mobil lamborghini hitam berhenti tepat di samping Bibi pemilik kontrakan. Bibi itu tersenyum senang saat Tuan Muda yang menyuruhnya untuk mengusir Ha Ni dari rumah kontrakan itu datang. Berarti sebentar lagi ia akan mendapat uang banyak yang tuan itu janjikan. Sungguh, senang luar biasa. Ia akan mendapatkan untung besar malam ini.

“Aku sudah mengusirnya, Tuan,” ucap Bibi itu mengintrupsi.

“Bagus!” ucap Kyu Hyun dengan senyum liciknya. Ia yakin, gadis manis itu pasti kesusahan mencari tempat untuk tinggal. Dalam waktu singkat, ia akan menawarkan tempat yang nyaman dengannya. Kim Ha Ni akan menjadi milik Cho Kyu Hyun.

“Berikan uangnya pada Bibi ini,” perintah Kyu Hyun yang langsung dituruti Joon Myeon.

•••

Berkali-kali Ha Ni melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Bibir tipisnya tak henti-hentinya menggumamkan serentetan doa, berharap keterlambatannya hari ini bisa dimaklumi oleh Ahjussi penjaga sekolah.

Tanpa mempedulikan pejalan kaki yang ia lewati, Ha Ni terus memacu kedua kakinya untuk tetap berlari.

Seragam sekolah yang ia kenakan nampak sedikit berantakan. Tapi, siapa yang peduli dengan penampilannya. Yang terpenting sekarang adalah berhasil masuk ke sekolah tanpa masalah.

“Ahjussi…,” panggil Ha Ni dengan napas yang masih memburu, hingga bahunya naik turun, mengiringi setiap deru napasnya.

Seorang laki-laki paruh baya yang dipanggil Ha Ni hanya menyipitkan kedua matanya yang memang sudah sipit hingga menyisakan garis pada matanya. “Kau boleh masuk. Tapi, kau harus menghadap Park Seonsaengnim terlebih dahulu,” seru laki-laki yang mengenakan seragam khusus petugas keamanan tersebut.

“Ne, Ahjussi…,” setelah mendengar ucapan Ahjussi itu, Ha Ni langsung melangkahkan kaki menuju dua orang laki-laki berbeda usia yang dimaksud oleh Ahjussi tadi. “Park, Seonsaengnim…,” ucap Ha Ni sedikit ngeri, karena wajah Park Seonsaengnim terlihat sangat garang.

“Kau terlambat lagi!” Park Seonsaengnim menyipitkan kedua matanya, menatap Ha Ni mengintimidasi.

“N-ne, Seonsaengnim,” jawab Ha Ni dengan suara yang terdengar sangat ketakutan.

“Kuharap, kau terlambat bukan karena jam wekermu yang lupa untuk berbunyi,” ucap Park Seonsaengnim. Ha Ni menelan ludahnya dengan susah payah. Otaknya berpikir keras, berusaha mendapatkan alasan yang masuk akal untuk diucapkan kepada Park Seonsaengnim.

“Eumm…, saya terlambat karena saya ketinggalan bus jemputan, Seonsaengnim,” Park Seonsaengnim menaikkan sebelah alis matanya. Menuntut Ha Ni untuk memberikan alasan yang lebih jelas lagi.

“Saya tidak bohong. Saya benar-benar ketinggalan bus, semalam saya menjaga ibu di rumah sakit,” mata Ha Ni berembun menahan tangis yang kapan saja bisa jatuh di hadapan gurunya.

“Ibumu masih sakit?” tanya Park Seonsaengnim yang langsung dijawab lewat anggukan Ha Ni. Helaan napas terdengar dari mulut pria paruh baya itu. Ia sebenarnya tahu tentang kondisi ibu Ha Ni, kehidupan yang dijalaninya sampai mengesampingkan sekolah untuk bekerja di kafe dengan gaji yang tak seberapa. “Baiklah. Kau boleh masuk,” perintah Park Seonsaengnim menyuruh Ha Ni masuk ke kelasnya.

“Terima kasih,” Ha Ni membungkuk sopan sebelum berlalu dari hadapannya. Tungkai kakinya melangkah cepat menuju kelasnya, sampai tak menyadari ada seorang yang berjalan di hadapannya.

Bruk!

“Ah…,” orang itu mengeluh pelan ketika melihat kertas-kertas di tangannya jatuh berserakan. Ha Ni dengan ceroboh menabrak bahu seseorang dan terjatuh bersama semua kertas yang dibawa orang itu.

“Merepotkan saja,” gerutu orang itu.

“A-a…, maafkan aku!” Ha Ni saat itu segera berdiri dan meminta maaf dengan bahasa informal.

Pemuda yang sejak tadi berdiri hanya memandangi kejadian itu dengan tanpa ekspresi. Setelah itu tanpa mempedulikannya lagi, pemuda itu segera membereskan kertas-kertas yang berserakan di bawah kakinya.

“Sehun-ssi,” cicit Ha Ni pelan. Ha Ni tersadar saat tahu siapa pemuda yang ditabraknya itu. Oh Se Hun, pemuda tampan dan dingin yang terkenal di sekolah. Cassanova boy sekaligus ketua OSIS yang selalu dikagumi teman perempuan Ha Ni, begitupun dengan dirinya. Ha Ni yang melihatnya segera membantu Se Hun dengan gugup.

“Ma-maaf, aku tidak sengaja Se Hun-ssi,” tapi Se Hun masih diam, datar, dan tak peduli. Sebelum ia berdiri, yang dikatakannya hanya, “Terima kasih.”

“Ne,” Ha Ni menatap Se Hun dalam debaran jantung berirama. Tak butuh kata-kata atau ungkapan lain untuk menjabarkan dirinya. Bahkan sejak kali pertama Ha Ni berjumpa dan matanya bertemu pandang, Ha Ni sudah tahu bahwa hanya satu kata itulah yang tepat untuk menggambarkan pribadinya, dingin. Tapi Ha Ni tetap begitu terpesona melihat ketidakramahan Se Hun.

“Sadarlah Kim Ha Ni! Siapa dirimu?” Ha Ni menggelengkan kepalanya, merutuki dirinya sendiri jika semua itu mustahil. Ia hanya gadis miskin yatim yang saat ini sedang berjuang mencari uang kesana-kemari untuk pengobatan sang ibu, sedangkan Se Hun adalah pemuda kaya raya yang keluarganya sangat terpandang.

•••

“Kim Ha Ni!” Ha Ni menoleh, begitupun seluruh teman sekelas Ha Ni tertegun sekaligus terkejut ketika guru Ha Ni datang ke kelas mereka dengan tatapan panik. Ha Ni mengangkat sebelah alisnya dan berdiri. Ia menghampiri guru dengan alis tebal tersebut dengan tatapan bertanya.

“Maaf Seonsaengnim, ada apa?”

“Haahh… haahh… ibumu…,” nafas Ha Ni tertahan saat mendengar ucapan gurunya itu yang diiringi dengan nafas yang ngos-ngosan, firasat gadis itu mulai memburuk. “Ibumu… kritis! Dokter berpesan ibumu harus cepat dioperasi,” mata Ha Ni membelalak, tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia berlari keluar dari kelasnya tanpa membawa tasnya. Ia terus berlari kencang tanpa peduli tatapan orang-orang. Yang terpenting saat ini, yang ia pikirkan saat ini, yang ia khawatirkan saat ini… adalah Ibunya.

“IBU!!!” Ha Ni berteriak kencang setelah sampai di rumah sakit. Ia melihat para tim dokter menangani ibunya dengan alat monitor jantung.

Ha Ni menangis histeris melihat dari etalase kaca jendela. Ibunya sedang berjuang hidup ataupun mati. Sangat ironis, bahwa Ha Ni harus melihat keadaan sekarat ibu tercinta. Melihat air matanya untuk merasakan kerasnya beban hidup yang selama ini dijalani. Dia langsung sadar begitu salah satu tim dokter keluar. Dengan sigap Ha Ni menghampiri. “Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?”

Dokter itu menghela napas kasar sebelum mengatakan hal yang selama ini Ha Ni hindari. “Apa kau sudah punya uang? Secepatnya kita harus mengoperasi ibumu. Keadaannya sekarang kritis. Saya takut nyawa ibumu tak tertolong.”

Seperti terhantam sebongkah batu besar yang siap menerjang, tubuh Ha Ni bergetar hebat, napasnya tercekat, jantungnya bergemuruh dalam situasi ini. Sungguh, Ha Ni belum mempersiapkan uang untuk biaya operasi ibunya. Ha Ni hanya memiliki sedikit untuk biaya sehari-harinya makan dan sisanya ia kumpulkan untuk yang lain. Apalagi saat ini ia pengangguran. Matanya memanas dan tumpah lagi tangisan itu.

“Sebenarnya aku ada pekerjaan yang bisa membantu biaya operasi ibumu, Ha Ni.”



“Benarkah?” mata Ha Ni berbinar penuh harap. “Aku mohon, Eonni, apa pekerjaannya? Apapun pasti aku lakukan, asal ibuku dapat dioperasi.”



“Kau yakin?” tanya Hyuna sangsi. Ha Ni mengangguk semangat. Hyuna berbisik pelan agar orang lain tidak mendengarnya.



“APA! Kau gila eonni!” teriak Ha Ni marah, matanya terbelalak, terkejut saat teman sekerjanya itu mengatakan sesuatu hal di luar logika. “Bekerja sebagai pelacur” itulah bisikan yang membuat Ha Ni marah.



“Terima kasih untuk kebaikanmu Tuan, tapi maaf aku tidak bisa menerimanya, apalagi aku tidak mengenal Anda,” entah itu perasaan Ha Ni yang tengah berdebar ataupun yang lain tapi firasatnya mengatakan sesuatu buruk akan terjadi pada dirinya.



“Tidak, aku bisa membantumu, tapi ada syaratnya memang…” Kyu Hyun berhenti sebentar, sebelum tubuhnya berdiri mendekati Ha Ni, seakan berbisik mengatakan sesuatu yang membuat Ha Ni tercekat napasnya. “Menjadi wanita malamku selama 7 hari ke depan.”

Ha Ni menggeleng lemah saat mengingat perkataan hina yang sangat menusuknya. Menawarkan pekerjaan yang membuat Ha Ni muak. Menjadi pelacur? Melayani birahi pria hidung belang yang haus akan belaian, menyerahkan keperawanan dirinya hanya untuk sebuah uang?

“Hal bodoh apa yang kau pikirkan Ha Ni! Jangan lakukan!” malaikat baik dari hati kecil Ha Ni berteriak mengingatkan.

“Seharusnya kau lebih mementingkan ibumu dari egomu Ha Ni! Ingat, ibumu sedang di ambang kematian,” malaikat jahat dalam diri Ha Ni juga berseru. Dua ucapan yang bertolak belakang yang membuat Ha Ni bimbang. “Apa aku harus melakukannya?”

“Nona Kim Ha Ni!” teguran sang dokter membuat Ha Ni tersadar.

“Aku akan membayarnya besok pagi. Tapi tolong, Dok, selamatkan ibuku. Aku janji. besok uangnya akan aku dapatkan,” Ha Ni menatap sang dokter memelas, membuat dokter itu tidak tega. Melihat wajah Ha Ni dalam kesakitan hidup yang mendera mengingatkan perjuangannya dulu untuk kesembuhan ibu kandungnya.

“Baiklah. Waktunya hanya besok pagi, saya harap jangan sampai terlambat,” Ha Ni mengangguk. Menatap nanar punggung dokter yang perlahan hilang dalam pandangan.

Ha Ni menelepon seorang. Suara Hyuna terdengar ragu menjawab telepon itu.

“Yeobeoseyo?”

“Hyuna Eonni, aku menerima tawaranmu.”

Ini adalah pilihannya, menerima tawaran Hyuna. Dia tidak mungkin memilih bersama pria yang waktu itu datang ke kafe yang jelas-jelas sudah Ha Ni tolak mentah-mentah, bahkan sampai menamparnya. Mau ditaruh dimana muka Ha Ni jika pria asing itu tahu, pasti orang itu akan lebih menghina dan melecehkannya. Ha Ni mencoba menghapus airmatanya dan berlari meninggalkan rumah sakit. Bagaimanapun ia harus mendapatkan uang. “Ibu, maafkan aku…”

Dan disinilah dia sekarang. Ha Ni mematut pantulan dirinya pada cermin besar di pojok ruangan. Cukup. Dia merasa dandanannya cukup sesuai dengan banyak orang yang akan ditemuinya.

Riasan tipis pada wajahnya, memperjelas seberapa cantik gadis itu.Bermata bulat, beriris kecoklatan dilengkapi bulu tebal dan lentik. Hidung mancung, bibir mungil, rambut hitam digelung sedemikian rupa, memperlihatkan leher jenjangnya. Kulit putih merona miliknya semakin menyempurnakan salah satu makhluk ciptaan Tuhan ini. Tubuh rampingnya, dibalut dengan gaun merah. Begitu tipis dan terbuka. Hanya bisa melindungi daerah dada hingga sepertiga pahanya dari hembusan angin ataupun penglihatan orang lain.

“Kau pasti bisa, Kim Ha Ni,” Ha Ni menyemangati dirinya sendiri melalui bayangannya di cermin. Berharap kata yang ia ucapkan bisa memompa semangat dalam dirinya. Senyum tipis ia paksakan untuk memperkuat usahanya.

Sebenarnya Ha Ni enggan memilih cara ini. Menyerahkan dirinya pada pria hidung belang yang belum ia kenal.

Temannya, Kang Hyuna membantu dirinya dengan menawarkan bekerja di club malam plus-plus. Dalam artian pelacur. Ha Ni akan mencari pria manapun yang bisa memberikan sejumlah uang tak sedikit itu. Dia tak memiliki cara lain selain dengan cara salah dan kotor itu. Jika tidak, ibunya tidak bisa dioperasi, dia tidak ingin orang satu-satunya dalam hidupnya pergi. Kesembuhan ibunya lebih penting. Walaupun harus menjadi seorang wanita yang tak bermoral. Persis, seperti yang Ha Ni katakan pada pria tampan kemarin siang yang sayangnya sangat Ha Ni benci. Apa sekarang perkataanmu berbalik padamu, Kim Ha Ni?

“Kau begitu sangat cantik sayang…,” Madam Anna, pemilik club malam itu terpukau akan kecantikan perempuan baru yang bergabung di club elitnya.

“Apa aku bisa mendapat seratus juta dalam satu malam, Nyonya?” tanya Ha Ni takut.

Suara tawa menggema di tempat itu saat Hani bertanya atas tindakannya ini kepada Madam Anna yang ada di hadapannya. Ya, hanya seratus juta yang ia butuhkan dan itu bukanlah uang yang sedikit untuknya.

“Tidak ada yang akan membeli tubuhmu dengan harga setinggi itu, Nona Kecil,” Madam Anna, bertubuh sangat indah menertawakan Ha Ni.

Gumaman kecil Ha Ni dengarkan dari orang-orang yang ada di hadapannya, tidak masuk akal memang, jika ia menjual dirinya seharga seratus juta hanya untuk semalam, tapi demi apapun ia harus mendapatkannya.

“Kau akan dilelang terlebih dahulu, setelah angka pelelangan itu berakhir, itulah pendapatan yang kau terima.”

“Kim Ha Ni, sekarang giliranmu,” panggilan seseorang membuat kedua wanita itu menoleh.

“Cepat. Ini giliranmu sekarang,” perintah Madam Anna. Ha Ni berjalan takut, begitu memasuki ruangan besar yang diisi dengan puluhan pria muda dan berumur.

“Wow! You look so sexy!”

“So beautiful, Nona!”

“Tubuhnya…, uhhh…, menggairahkan!”

“Gadis yang benar-benar cantik dan menggoda!”

Pujian-pujian yang terlontar dari mulut laki-laki hidung belang di sana malah membuat Ha Ni bergidik. Ia merasa seolah berada di kandang buaya. Di mana buaya-buaya itu mengelilinginya, memainkannya, sebelum memangsanya hidup-hidup.

Pandangan Ha Ni mengarah ke depan. Tampak ada lima belas sampai tiga puluh pria duduk di sana. Semuanya memakai jas yang didominasi warna hitam gelap. Mereka semua pria yang mempunyai banyak uang. Beberapa dari mereka juga tampan-tampan. Dalam sekali lihat, Ha Ni tahu bahwa mereka bukanlah sembarang pria. Mereka menatap Ha Ni penuh minat melihat betapa cantiknya dia dibalut gaun malam dan riasan tipis yang mempesona.

“Oke, kita mulai! Siapa yang ingin menawar terlebih dulu? Waktunya dua menit dari sekarang!”

Mata Ha Ni berkaca-kaca menatap pria liar di setiap hamparan malam. Laki-laki brengsek yang tampak menikmati acaranya. Mendengar kalimat-kalimat itu, tubuh Ha Ni menegang. Ia hanya terdiam di tempatnya. “Aku bukan jalang,” batin Ha Ni rasanya ingin menjerit.

“Dua juta!”

“Tiga juta!”

“Lima juta!”

“Sepuluh juta!”

“Lima belas juta!”

Hanya dalam beberapa detik saja suara pria-pria berjas itu memenuhi pendengaran Ha Ni. Membuatnya semakin kalut dan takut, mematung di tempatnya. Salah satu kebiasaan Ha Ni jika ia sudah terlalu shock akan sesuatu.

“Dua puluh lima juta!”

“Oke, apa ada penawaran lainnya?”

“Lima puluh juta!” ucap pria paruh baya tua botak dengan  perut buncit dihiasi wajah mesumnya. Hani tercekat, melihat mata tua itu menatap mesum dirinya.

“Wow, penawaran tertinggi sejauh ini dilakukan Tuan Gong! Ada yang ingin menawar lebih?”

Ha Ni menggeleng lemah. Tidak. Dia tidak ingin berakhir di tangan pak tua gendut itu. Tidak. “Tuhan tolong aku,” batinya bersuara.

“Seratus juta!”

Suara seorang pria yang lantang memecahkan seluruh penawaran orang-orang di depan Ha Ni, membuat suasana ruangan itu hening. Semuanya menatap pria berjas biru tua yang sangat gelap yang juga memakai kacamata hitam itu. Laki-laki itu duduk dengan arogan. Dagunya terangkat tinggi penuh keangkuhan setelah menyebutkan nominal angka menakjubkan itu dengan begitu mudah.

Ha Ni yang ikut shock dengan angka fantastis itu mencoba melihat jauh ke sana. Ha Ni berharap ia tidak akan mati setelah ini. Ia tidak ingin mati mengenaskan di tangan pria kaya dan brengsek. Itu sangat menyeramkan.

Seorang pria bermata hitam, berkulit putih pucat dengan tubuh tegap menatap lurus ke arah wajah Ha Ni.

“Aku akan memberikan seratus juta pada gadis itu. Dia milikku.”

Tanpa ia sadari, Ha Ni merasakan sesak di dadanya. Mengetahui siapa orang yang telah menawar dengan harga fantastis, matanya kembali berkaca kaca, ia tidak berpikir semudah itu tapi kenyataannya ia telah menemukan orang yang akan membantunya. Dan orang itulah yang ia tolak mentah-mentah.

“D-dia…”

Pria tu berdiri sembari merapihkan jasnya sedikit. Kacamata hitam yang menutup sedikit wajah Adonis ia buka perlahan. Menampakkan wajah sangat sialan tampan yang membuat Ha Ni perlahan membuka mulutnya tidak percaya.

“Orang itu…,” gumam Ha Ni dengan suara yang benar-benar kecil. Sangat kecil hingga rasanya ia sendiri sulit mendengarnya.

“Aku Cho Kyu Hyun. CEO Cho Corp Group Internasional Design menginginkan gadis itu!” suara berat itu kembali terdengar lantang memenuhi ruangan mewah itu. “Aku akan membayar seratus juta. Tunai.”

“Apa tidak ada yang ingin menawar lagi?” tanya penyiar itu basa-basi. Ia tahu, tidak ada pria yang berani melangkahi angka fantastis konglomerat tersohor, putra tunggal Presdir Cho Corp Group, Cho Younghwa.

“Dengan ini saya menyatakan pelelangan ini berakhir. Nona Kim Ha Ni-ssi, kau milik Tuan Cho Kyu Hyun untuk satu minggu ke depan!”

Seisi ruangan benar-benar hening. Ha Ni sendiri masih terdiam dan terkejut. Ia menatap Kyu Hyun lekat memastikan bahwa pria itu nyata, dan saat Kyu Hyun mengangkat senyuman miring mempesona seperti biasa, saat itu juga Ha Ni tahu bahwa ia tidak sedang bermimpi di malam penuh kejutan ini.

Lalu saat salah satu mata tajam Kyu Hyun menembusnya, saat itu Ha Ni tahu bahwa ia benar-benar sudah terikat dengan Kyu Hyun. Terikat secara batin dan fisik.

“Mobil Anda telah siap, Sajangnim,” Joon Myeon mempersilahkan Kyu Hyun untuk masuk mobil diikuti Ha Ni dengan tubuh gemetar luar biasa. “Selamat datang di neraka Kim Ha Ni” Kyu Hyun tersenyum penuh arti.

•••

“Akhh!”

Tubuh Ha Ni terhempas ke atas sesuatu yang empuk dan nyaman. Mata indah itu berpendar, meneliti keadaan sekitar. Ha Ni bisa menangkap keberadaan beberapa lukisan, kelambu putih, serta tiang penyangga tempat tidur. Mata Ha Ni terbelalak, menyadari bahwa ia sedang berada di atas ranjang.

Dengan Cho Kyu Hyun yang berada di atasnya. Pria itu menahan sebagian berat badannya dengan kedua sikunya yang bertumpu di sisi tubuh mungil Ha Ni. Sisanya, ia menimpakan badannya di atas. Napasnya yang hangat menggempur wajah Ha Ni tanpa ampun. Tak ada jarak diantara badan mereka, hanya ada jarak yang minim diantara kedua kepala. Mata tajamnya meneliti wajah Ha Ni lamat-lamat seolah-olah merekam wajah cantik Ha Ni pada memorinya.

Ha Ni mendorong dadanya, berharap ada secercah jarak diantara badan mereka yang saling bersentuhan satu sama lain. Tapi, apa yang diharapkan tak terkabul. Dirinya tak berkenan menciptakan jarak diantara dirinya dan pria arogan itu.

“Sesak, Tuan,” dusta Ha Ni sembari mendorong dadanya. Walaupun Kyu Hyun menimpakan sebagian berat tubuhnya pada Ha Ni, tetapi Ha Ni tak merasa sesak sama sekali. Sebenarnya Ha Ni berbohong seperti itu agar dirinya menjauh darinya. Walaupun hasil yang ia dapatkan adalah nol besar.

Kyu Hyun mendekatkan kepalanya kepada Ha Ni. Ujung hidung mereka jadi saling bersentuhan. Matanya yang tak lepas dari acara mengamati jalang kecilnya, membuat tubuh Ha Ni bergetar gugup. “Jangan berbohong,” bisiknya membuat aroma mint menerpa wajah Ha Ni tanpa ampun.

“Lihatlah Nona Kim Ha Ni, Aku bisa membeli tubuhmu, bukan? Sekarang siapa orang yang tak bermoral, heum?”

Kali ini, Kyu Hyun menggantikan seringai tipis – yang sialnya seksi – itu dengan senyuman lembut. Mata dinginnya mencair, kehangatan terpancar dari sana. “Jangan takut padaku, Sayang, sungguh aku tidak akan menyakitimu. Mungkin awalnya memang sakit, tapi setelah itu kau akan kubawa terbang ke surga dunia dengan nikmat,” jawabnya lembut, mengelus surai rambut halus Ha Ni.

Ha Ni gemetar begitu tangan dingin itu menyentuh tubuhnya dengan gerakan sensual.

Senyum Kyu Hyun tampak penuh kepuasan, pria itu kini membuka sisa pakaian yang melekat di tubuh Ha Ni.

“Kau indah,” puji Kyu Hyun.

Wajah Ha Ni memerah dan memalingkan wajahnya dari Kyu Hyun. Ia merutuki dirinya sendiri karena berada di bawah kuasa pria gila itu.

“Tatap mataku, Sayang,” Kyu Hyun memegang dagu Ha Ni untuk menatapnya. Satu arah, satu pandang, terfokus diantara empat pasang mata itu dalam keheningan.

Ha Ni hanya diam, menanti apa yang akan terjadi padanya. Ia terlalu lelah untuk melawan, karena yakin pria itu lebih unggul darinya. Kyu Hyun tersenyum puas karena gadis itu tidak melawan. Ia membuka celananya dan kini tubuhnya telanjang di atas tubuh Ha Ni.

Pria itu mengecup sedikit ujung bibir Hani, lalu lidahnya menelusup masuk, membuka bibir Ha Ni, mencecapnya, dan merasakan seluruh tekstur bibir Ha Ni yang lembut. Ketika Kyu Hyun melepaskan bibirnya, napas Ha Ni terengah-engah. Ciuman ini adalah ciuman pertamanya dan yang paling intens yang pernah ia rasakan dengan seorang pria untuk pertama kalinya.

Tangan Kyu Hyun menyusup ke lipatan paha Ha Ni. Gadis itu tersentak dan menggelinjang merasakan sensasi itu. “Di sini, akan siap menerima sentuhanku.”

Hati-hati gadis ini masih perawan. Kyu Hyun mencoba mengingatkan dirinya lagi. Penghalang itu ada, seolah mencoba menahan Kyu Hyun memasukinya, dan dia mendesak maju, mengklaim apa yang menjadi miliknya.

Kim Ha Ni adalah miliknya.

“SAKIT…! Akhhh!!!” Ha Ni menjerit berusaha mendorong tubuh Kyu Hyun. Tubuhnya berteriak antara kesakitan dan kehasratan.

Sebutir air mata menetes dari sudut matanya. Sisa-sisa kesadarannya yang tertinggal. Ha Ni merasakan tubuh Kyu Hyun yang keras menyatu dengan tubuhnya, membuatnya merasakan sensasi sesak dan sakit yang amat sangat di lipatan pahanya. Tanpa sadar air mata Ha Ni mengalir, membasahi pipi mulusnya. Kyu Hyun mendesakkan dirinya sedalam mungkin, hingga akhirnya berhasil menembus penghalang itu. Mengabaikan jeritan kesakitan Ha Ni, ketika akhirnya jeritan Ha Ni mereda. Kyu Hyun mengangkat kepalanya dan mengecup lembut bibir Ha Ni yang terbuka dan terengah-engah.

“Ha Ni-ya,” lirih Kyuhyun. Ia mengecup mata Ha Ni lembut. Mencoba menenangkan Ha Ni, ia tahu ini adalah pengalaman pertamanya dan itu pasti sangat menyakitkan. Karena ia pun merasakannya ketika menembus penghalang itu.

“Setelah ini…, aku akan mengajarkanmu bagaimana cara memuaskanku,” ucapan itu menggema dalam ruangan. Kyu Hyun mengecup bibir Ha Ni singkat dalam janji yang harus dilakukan.

Ketika Kyu Hyun mulai bergerak, Ha Ni mengerang menahan sakit. Semua terlalu nikmat untuk dirasakan Kyu Hyun. Ia tidak pernah merasakan senikmat ini ketika bercinta dengan wanita-wanita lain.

Kyu Hyun mengerang dan menghujamkan dirinya dalam-dalam dan membawa Ha Ni ke pusat kenikmatan.

“Kau milikku, Ha Ni, milikku,” detik itu pula, Kyu Hyun meledakkan gairahnya bergabung dengan Ha Ni dalam gairah yang melelahkan.

Semuanya telah terjadi. Ha Ni pasrah, saat sesuatu kehidupan baru yang harus dijalani penuh kekuatan. Mencoba merelakan dengan kelapangan hati dan juga ego. Bukankah menerima takdir itu lebih baik?

•••

Pagi dengan sinar mentari hangat yang menerpa. Menimbulkan efek kehangatan dalam tubuh seseorang.

Ha Ni membuka mata indahnya dengan malu-malu, kembali memendarkan penglihatannya. Melihat tiap sudut yang bisa ia lihat. Tata letak serta warna dinding yang klasik. Ingatannya masih berfungsi dengan jelas dan masih mengingat tiap sudut ruangan klasik ini. Ruangan yang luas dan terkesan mewah ini adalah tempat dimana tadi malam Ha Ni menyerahkan keperawanannya dengan pria itu untuk pertama kalinya. Tapi, ada yang berbeda. Tubuhnya begitu sakit, tubuh intinya, bibirnya, dan payudaranya juga sakit saat semalam tuannya itu meremasnya begitu keras. Sosok pria tampan yang seakan berubah menjadi iblis dengan kesempurnaan fisik mendominasi. Bayangan indah bersama ibunya kembali teringat oleh Ha Ni.

“Ayo kejar aku, Ibu,” Ha Ni kecil yang usianya sekitar tujuh tahunan menggoda ibunya sambil berlari dengan cepat.



Wanita dewasa itu mengejar putrinya yang berlari senang dengan balon di tangan mungilnya di sebuah taman yang sepi. Tak lupa tawa manis dari keduanya mengiringi kegiatan kejar-kejaran itu.



“Tunggu ibu, Sayang,” Hae Won tidak bisa mengejar putri kecilnya yang berlari cepat. Dia bahkan berhenti untuk menormalkan nafasnya yang tersengal-sengal sambil menopang badannya dengan menaruh tangan di kedua lututnya. Ketika dia kembali memeriksa si gadis kecil, yang dia dapat hanyalah tempat sepi di sekelilingnya. Tidak ada putri kecilnya yang berlari, tidak ada suara putrinya yang menggodanya, tidak ada siapapun kecuali dirinya sendiri. Wanita itu panik kemudian mencari putri kecilnya yang tadi bermain kejar-kejaran bersamanya.



“Sayang! Kau dimana? Sayang…,” Hae Won panik mencari putrinya itu.



“Ha Ni di sini, Bu…,” Ha Ni kecil keluar dari persembunyian di semak-semak daun bunga. Hae Won bernapas lega.



“Kau membuat ibu khawatir, Sayang. Jangan mengulangi lagi, eoh?” Ha Ni mengangguk patuh dan langsung berhambur ke pelukan sang ibu.



“Aku mencintaimu, Ibu,” gumam Ha Ni kecil yang terus mempererat pelukan di tubuh ibunya. Hae Won tersenyum, “Ibu juga mencintaimu, Sayang.”

Ha Ni menangis pilu dalam diam. Mengingat kenangan indah bersama ibunya. Betapa Tuhan memberikan takdir menyesakkan untuknya? Betapa buruknya takdir Kim Ha Ni setiap tarikan nafasnya? Betapa kotornya kini seorang Kim Ha Ni di mata Tuhan dan semua makhluk ciptaanNya. Dalam kesesakkan yang menerpa, sakit yang dirasakan, buruk dalam mengambil jalan takdir Tuhan dan Ha Ni harus menerima semua itu.

Ha Ni berbalik dan terkejut, saat retina matanya menghadap seorang pria panas yang semalam membelinya. Berdiri menjulang di sisi ranjang, dengan pakaian lengkap, rapih dan bersih. Seperti siap pergi bekerja.

“Selamat pagi,” sapa Kyu Hyun dengan seringaian tipisnya. Ha Ni enggan menjawab. Ia lebih memilih bungkam, tanpa suara sedikitpun. Pikirannya masih terbayang semalam. Bagaimana pria brengsek di hadapannya saat ini melakukan sex dengan sangat kasar, berkali-kali tanpa ampun.

Kyu Hyun berjalan dengan ritme pelan ke arah Ha Ni, membuat Ha Ni refleks menarik selimut yang membungkus tubuh telanjangnya, menyudutkan tubuhnya di sandaran ranjang. Kyu Hyun terkekeh pelan begitu menyadari raut takut Ha Ni padanya. “Malam pertama ini, kau memuaskanku cukup baik, jangan lupa malam nanti,” bisiknya seduktif.

Jika waktu bisa diputar kembali, Ha Ni sungguh akan melarikan diri dari pria ini, membiarkan Ha Ni pergi. Ia terlalu bodoh saat tidak mengetahui uang 100 juta itu tidak hanya untuk satu malam, tapi harus memuaskan satu minggu ke depan. Ha Ni sepenuhnya terjebak dengannya. Pria panas bernama Cho Kyu Hyun ini takkan pernah membiarkan Ha Ni untuk pergi.

Kyu Hyun semakin mendekatkan kepalanya, membuat Ha Ni mabuk kepayang. Kupu-kupu semu berterbangan di perutnya. Jantung Ha Ni bekerja dua kali lipat, bertalu-talu. Sementara Kyu Hyun pikirannya kacau. Inilah efek jika ia berdekatan dengan jalang kecil ini.

“Memabukkan,” Kyu Hyun menghirup aroma bunga yang memabukkan dari tubuh Ha Ni. Seperti heroin, kata orang. Heroin yang membuat diri menjadi candu. Hanya dengan aroma tubuhnya saja, Ha Ni mampu menghipnotis Kyu Hyun. Apa kabar dengan bibir mungil, penuh, serta seksi milik Ha Ni itu? Bibir yang sekiranya mampu membuat seorang Cho Kyu Hyun menjadi pecandu tubuhya. Bahkan ia selalu menggigit begitu gemasnya.

“Aku sudah menyuruh orang membiayai operasi ibumu. Ibumu akan hidup,” Kyu Hyun mengendus leher Ha Ni, membuat Ha Ni merasa risih. “Te-terima kasih,” Kyu Hyun tersenyum mendengar ucapan lirih Ha Ni.

“Bersihkan dirimu, bukankah kau sekolah?” Ha Ni mengangguk mendengar pertanyaan Kyu Hyun.

“Aku menunggumu di meja makan,” Kyu Hyun beranjak pergi, sebelum mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Ha Ni. DEG… DEG… DEG… Ha Ni bisa mendengar deguban jantungnya sendiri. “Ada apa denganku?” batin Ha Ni sambil menyentuh dadanya yang berdetak tak seperti biasanya.

•••

Ha Ni duduk di atas kursi makan lalu merilik ke arah pria tampan yang semalam membelinya dalam diam. Cho Kyu Hyun adalah pria yang memiliki banyak sekali pekerjaan, sebagai pemilik sebuah perusahaan besar Cho Corp Group. Pria itu seharusnya saat ini sudah disiapkan makanan oleh istri, misalnya. Tapi lihatlah sekarang, pria berumur lebih dari 28 tahun itu malah lebih memilih menghabiskan waktu bersama gadis manis yang belum menamatkan sekolah. Ingin menjadi pedofil, huh?

“Hari ini kau pulang jam berapa?” Kyu Hyun menatap gadis manis di depan, sebelum memasukkan satu potong daging kecil ke mulutnya. Ha Ni menatap takut ke arah Kyu Hyun.

“J-jam tiga sore…,” ucap Ha Ni takut sekaligus gugup. Kyu Hyun tersenyum miring.

“Tidak usah takut padaku, Nona Manis. Aku tidak akan menggigitmu, kecuali…,” Kyu Hyun memandang hasrat tubuh Ha Ni. “Jika kita sedang bergulat nikmat.”

Blush!

Pipi Ha Ni meremang merah. Kyu Hyun tersenyum tipis, terlihat jelas semburat merah merona di pipi gadis itu dan Kyu Hyun menyukainya.

“Apa sebelum ini kau punya kekasih?” tanya Kyu Hyun menatap Ha Ni dalam. Kyu Hyun tentu  penasaran. Gadis manis di depannya ini apa benar sudah memiliki kekasih atau belum sama sekali. Jika benar, sungguh Kyu Hyun akan melakukan sesuatu yang buruk pada pria itu. Tidak ada yang bisa memiliki Kim Ha Ni, hanya seorang Cho Kyu Hyun yang berhak.

“Aku bertanya padamu, Nona Manis!” Kyu Hyun menegur, saat gadis manis itu belum juga menjawab pertanyaannya. Ia benci diabaikan. Sementara Ha Ni hanya bisa meringis takut mendengar suara Kyu Hyun yang nyaris teriak. Kekasih? Sedangkan kekasih saja Ha Ni tidak

punya. Jangankan memikirkan hal semacam itu, memikirkan biaya operasi ibunya saja sudah seperti mencari jarum di tumpukan jerami, sangat sulit. Gadis itu tidak sempat memikirkan untuk kesenangan dirinya.

Ha Ni menggeleng sebagai jawaban.

“Benar dugaanku. Pantas saja, sangat payah dan kaku dalam berciuman tadi malam,”

Blush!

Kali kedua perkataan Kyu Hyun berhasil membuat pipi gadis manis itu merona merah lagi. Pipi Ha Ni benar-benar layaknya kepiting rebus yang siap disajikan untuk pelanggan.  Kyu Hyun menggigit pipi bagian dalamnya, bagaimana mungkin gadis ini bisa membuatnya menegang hanya dengan melihat pipi mulus bersemu merah jambu itu. Sial.

“Habiskan makananmu, setelah itu kita berangkat,” Kyu Hyun menyudahi acara makan pagi. Ia tidak ingin lepas kendali hanya dengan melihat pipi Ha Ni yang sialnya membuat Kyu Hyun bergairah. Sabar, Bung! Nanti malam kau akan mendapatkannya.

•••

Kyu Hyun menghentikan mobilnya tepat di depan gedung sekolah Ha Ni. Matanya menyipit tajam melihat kerumunan para siswa yang tengah berjalan santai memasuki gerbang sekolah. Tidak, melainkan ada seseorang yang sangat ia kenal memasuki sekolah.

“A-aku pergi, Tuan,” pamit Ha Ni gugup begitu sampai di sekolahnya. Kyu Hyun menyipitkan matanya lalu menghentikan gerakan Ha Ni yang hendak membuka pintu.  “Kau lupa sesuatu, Nona Manis…,” Kyu Hyun menarik pinggang Ha Ni hingga tubuhnya terbawa ke dalam pelukan Kyu Hyun.

Kyu Hyun  langsung melingkarkan tangannya di pinggang Ha Ni dan menarik gadis itu agar lebih menempel padanya, bahkan bagian bawah tubuh mereka pun ikut menempel, Ha Ni sedikit terlonjak.

Kyu Hyun mendesah ketika bagian bawah tubuhnya ditekan oleh tubuh Ha Ni. Kau lihat Cho Kyu Hyun, ini akibatnya jika kau keluar dari pertahananmu. Sial, gadis ini akan sekolah, tahan libidomu, Bung. Kau boleh menidurinya. Tapi, nanti malam. Kyuhyun memeluk Ha Ni, menahan gadis itu agar tetap berada pada tempatnya.

“Jangan kabur dariku…,” bisiknya. Ha Ni mengangguk patuh.

“Cium aku dulu, setelah itu kau bisa keluar dari sini.”

Kyu Hyun menelengkan kepalanya sedikit lalu membuka mulutnya ketika bibir Ha Ni menempel di atas bibirnya, dengan cepat Kyu Hyunpun melahap bibir manis gadis itu. Ha Ni harus menjerit tertahan karena gerakan yang tiba-tiba itu, tangannya mencengkeram kuat rambut Kyu Hyun. Mereka menyesap dan mengecap bibir masing-masing, saling menerima dan memberi.

“Hhhh…, Tuuuann,” Kyu Hyun melepaskan bibir Ha Ni, menurunkan bibirnya ke leher Ha Ni, mengecup garis nadi yang berdenyut di leher gadis itu, semakin turun dan turun hingga ke kerah teratas kemeja sekolah Ha Ni. Ha Ni merasakan sensasi aneh pada tubuhnya, menginginkan bibir Kyu Hyun tidak hanya berhenti di lehernya. Ia ingin lebih dan keinginannya itu terkabul ketika Kyu Hyun melepaskan satu kancing teratas Ha Ni, lalu kancing kedua hingga bra hitam Ha Ni terpampang di depan mata Kyu Hyun. Kyu Hyun tersenyum melihat bra itu, dia menyentuhkan bibirnya di atas gundukan dada Ha Ni membuat gadis itu memekik pelan dan semakin mencengkeram rambut Kyu Hyun.

“Kau benar-benar memiliki payudara sempurna, Nona Manis,” bisik Kyu hyun di atas dada Ha Ni.

Kyu Hyun tersenyum lalu melanjutkan kegiatannya menghisap kulit putih gadis itu. Tidak hanya di satu tempat, Kyu Hyun menghisap di tempat lain lagi, membuat Ha Ni mengerang frustasi. Apa yang ia inginkan? Ia ingin Kyu Hyun tidak hanya menghisap dadanya, ia ingin pria itu melepaskan branya dan mencium puncak payudaranya. Ya Tuhan, Kim Ha Ni apa yang kau pikirkan? Kenapa otakmu jadi begitu kotor? Apa kau benar-benar menjadi seorang jalang?

“Tuuaaan akhhh…,” Kyu Hyun menurunkan bibirnya melewati bra Ha Ni dan mengecup perut Ha Ni, pria itu kembali menghisap kulit putih Hani. membuat gadis itu semakin gila, ia ingin lebih, sesuatu di bawah tubuhnya menghangat dan basah. Apa itu? Apa yang Kyu Hyun lakukan padanya?

Kyu Hyun menggeram tertahan, celananya semakin sempit, ia tahu Ha Ni basah di bawah sana, karena saat ini tempat itu menghangat meyentuh pangkal pahanya yang menegang. Tuhan, Kyu Hyun menginginkan gadis ini, ingin memasuki gadis ini lagi. Tidak, Cho Kyu Hyun tahan dirimu.

Kyu Hyun menarik kepalanya menjauh, nafasnya tersengal-sengal begitu juga dengan Ha Ni, mata mereka saling bertatapan. Ha Ni memandangi Kyu Hyun dengan perasaan gelisah.

Kyu Hyun kembali mengancingkan kemeja Ha Ni, menghindari untuk menatap dada Ha Ni yang terekspos. Kyu Hyun menahan sekuat tenaga sejak tadi untuk tidak melepaskan bra itu dari tempatnya. Bertahanlah Cho Kyu Hyun. Ini tempat umum.

•••

Malam ini adalah malam kelima yang sangat terkutuk bagi seorang Kim Ha Ni. Malam panjang yang akan Ha Ni lakukan melayani nafsu birahi tuannya, gadis cantik nan polos yang tak berdosa yang sudah merasakan kejamnya kehidupan dalam lingkup kerasnya dunia. Sebut saja seorang Ha Ni memang jalang. Jalang kecil yang hidupnya sudah hancur hanya karena keputusasaan takdirnya. Tapi Ha Ni masih beruntung. Ia hanya melayani satu orang dan wajah orang itu tetap sama. Ha Ni bisa sedikit di atas angin dari jalang-jalang di luaran sana tentang hal ini, bukan jalang sesungguhnya yang memang melayani pria berbeda setiap malamnya.

Ha Ni berpikir atas tindakan salah yang telah diambilnya. Betapa semua yang terjadi begitu menyesakkan. Seakan tidak memberi waktu padaku untuk bernafas, merasakan nikmatnya menghirup udara segar, beginikah takdirku?

Saat Ha Ni tidak lagi berpikir rasional, tidak punya pilihan lain menjamahi dunia malam yang begitu sangat kejam, membuat nafasnya tercekat dalam keterkejutan. Tidak punya pilihan lain saat semua kejadian menimpa hidupnya, sampai sesuatu dalam dirinya harus ia relakan menjadi korban kebiadaban dunia. Menjual diri hanya untuk mendapatkan uang dengan cara instan? Benarkah itu disebut seorang jalang? Walau alasan di balik semua itu untuk biaya operasi ibunya? Apakah itu tetap disebut jalang?

Ha Ni menganggukkan dirinya bahwa ia memang seorang jalang. Apapun alasannya, jika seseorang menjual tubuh hanya demi segepok uang itu namanya tetaplah jalang. Ha Ni menyadarinya itu.

Ha Ni berdiri di depan cermin rias. Memakai make up tipis yang sekiranya cukup menyamarkan lebaman biru di area pipi. Ha Ni tersenyum miris saat mengingat kembali bagaimana kasarnya tuannya itu menampar pipinya karena Ha Ni memberontak. Lingerie merah maroon yang membungkus tubuhnya begitu menyesakan tubuh. Belahan dada yang rendah membuat payudaranya terekspos dengan sangat jelas. Lingerie terkutuk yang seumur-umur baru Ha Ni pakai.

Ha Ni dapat melihat pria tampan itu berjalan mendekatinya. Ha Ni sedang mengolesi lip balm di bibirnyapun langsung terhenti akan kegiatannya.

Cho Kyu Hyun berdiri tepat di belakang Ha Ni. Pria yang sialan sangat tampan yang rela merogoh kocek jutaan won hanya untuk membeli seorang Kim Ha Ni.

Kyu Hyun perlahan mengantar lengan hangatnya menjalar, melingkari pinggang Ha Ni dengan posesif. Dagunya bertumpu pada bahu Ha Ni, sedangkan kedua obsidiannya menguliti Ha Ni melalui pantulan bayangan di cermin.

Ha Ni dapat melihat wajahnya yang menatap dirinya dari cermin. Wajah rupawan dengan mata tajamnya yang seakan menusuk tepat di jantung Ha Ni memberikan getaran dahsyat dengan hanya menatapnya saja.

“Masih ingat dengan malam ini, kan?” dia bertanya dengan vokal rendah sarat akan peringatan. Ha Ni menjawab pertanyaannya dengan anggukan kaku. Badan Ha Ni bergetar hebat saat tangannya menjalar, mengelus lengan kanan Hani pelan. Menghantarkan rasa dingin yang dihasilkan oleh kulitnya pada lengannya. “Jangan mencoba untuk melawan lagi atau kau tahu akibatnya nanti,” katanya mencoba untuk memperingati.

Ha Ni tersenyum miris. “Walaupun aku kabur ke ujung dunia sekalipun, tuan tetap akan mengejarku, bukan?” Ha Ni sudah mengikatkan diri dengan Cho Kyu Hyun. Pebisnis handal yang berpengaruh di dunia. Ha Ni tahu, tidak ada siapapun yang berani melawan Cho daepyonim.

Kyu Hyun tertawa rendah, menertawai pertanyaan retoris Ha Ni. “Memangnya kau bisa kabur dariku, heum?” dia membalas pertanyaan retoris Ha Ni dengan kesinisan yang mendalam. “Kau tak bisa menghindariku, Sayang,” dirinya membuat pernyataan. Orang bodoh sekalipun tahu, Kim Ha Ni tak bisa melarikan diri dari seorang Cho Kyu Hyun.

“Bagaimana jika kita mulai saja?” kepala Kyu Hyun melesak ke leher Ha Ni dalam-dalam. Hidungnya menghirup leher Ha Ni, sesekali bibir tebal nan kenyalnya menyentuh kulit leher gadis itu.

Shit! Ha Ni merasa tubuhnya meremang dahsyat saat Kyu Hyun sedang menggodanya habis-habisan.

Bibir bawah Ha Ni ia gigit kuat-kuat guna menahan desahan yang akan lolos dari celah bibir Ha Ni jika Kyu Hyun masih berada pada posisi seperti ini. “Tuan?” bahkan untuk berbicarapun, Ha Ni harus menahan desahan dalam dirinya mati-matian.

Tarikan nafas panjang Kyu Hyun lakukan di salah satu titik leher Ha Ni. Ha Ni tercekat, ikut mengambil nafas berat, mencoba menyembunyikan desahan yang lolos pada akhir tarikan nafasnya. “Aku ingin bercinta denganmu,” balasnya dengan suara yang serak dan berat. Pelukan posesif Kyu Hyun semakin kuat. Ha Ni tak kuasa meloloskan diri dari pelukannya itu. Dirinya semakin berani untuk menggoda Ha Ni. Melarikan belahan bibir seksinya di sekitar leher Ha Ni. Mengecup kuat serta dalam tempo yang lama. Dia bisa memuaskan Ha Ni hanya dengan kinerja bibir tebalnya saja. Menakjubkan.

Hidung Kyu Hyun mengarah ke salah satu bongkahan pipi Ha Ni. Mengelus bongkahan pipi bersemu merah jambu itu dengan ujung hidungnya. Gerakannya begitu sensual dan Ha Ni terbakar dibuatnya. “Ayo bercinta.”

Ha Ni menggoreskan senyum segaris di wajahnya sendiri. Mata Ha Ni mengamati apa yang sedang mereka lakukan melalui pantulan cermin. Ah, bukan apa yang sedang mereka lakukan, tapi apa yang sedang Kyu Hyun lakukan. “Ya, lakukanlah,” Ha Ni berucap pasrah saat obsidiannya menusuk mata Ha Ni membuat lututnya melemas.

Pelukan Kyu Hyun semakin kencang. Badannya sedikit menggoyangkan tubuh Ha Ni. Ekspresinya tak terbaca. Ha Ni tak bisa menerka apa yang sedang ia pikirkan. Bahkan untuk secuil pemikirannyapun, Ha Ni tak bisa menebaknya. “Ini adalah malam kelima kita. Dua hari lagi aku akan melepasmu,” Kyu Hyun mulai berbicara. Nadanya begitu rendah, terdengar mengerikan dan sarat akan ancaman.

Dan, apa yang ia katakan selanjutnya, seratus persen membuat tubuh Ha Ni membeku.

“Jadi, kau harus terus bercinta denganku sebelum aku bilang berhenti. Puaskan aku malam ini, Sayangku.”

Kyu Hyun membalikkan tubuh Ha Ni dengan sekali tarikan. Ha Ni dihempaskan ke ranjang ukuran king size milik pria itu. Kyu Hyun menatap tajam Ha Ni, mengintimidasi gadis ini dengan sorot mata yang dingin dan penuh hasrat.

Ha Ni memejamkam mata karena takut. Kyu Hyun menempatkan mulutnya di mulut Ha Ni, menekannya keras. Ha Ni membuka matanya, kini mata cantik itu membola sempurna. Ha Ni ingin memberontak, tapi ia sadar akan ancaman yang dikatakan Kyu Hyun barusan. Bibir Kyu Hyun semakin menekan kuat dan melumat bibir gadis ini bergantian, dalam, intens, dan cepat. Lidah Kyu Hyun berusaha menerobos masuk. Pria ini menggigit kecil bibir gadisnya, membuat Ha Ni menjerit, sungguh benar-benar sakit. Kyu Hyun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kyu Hyun menyelipkan lidahnya, membelit lidah Ha Ni, dan menghisapnya kuat-kuat. Ha Ni tidak bisa memberontak lagi, percuma dia melakukan itu. Tangan gadis ini meremas lengan Kyu Hyun. Ia tidak kuasa untuk menahan sensasi yang diberikan pria itu.

Kyu Hyun meremas kasar payudara Ha Ni yang tidak bisa dibilang kecil itu, bahkan seorang Cho Kyu Hyun sangat kecanduan dengan dua gundukan menggoda milik Ha Ni. Mencium, menghisap, mengulum sekalipun menggigit jika sedang gemasnya. Membuat Ha Ni berteriak perih. Padahal dia baru berusia 17 tahun. Tidak sewajarnya Ha Ni bisa mempunyai tubuh terbentuk sempurna ini. Keberuntungan untuk seorang Cho Kyu Hyun.

“Ahhh…,” gadis ini mengumpat dalam hati. Karena bisa-bisanya terbawa arus oleh ciuman pria ini. “Kau benar-benar jalang, Kim Ha Ni,” batinnya bermonolog. Perlahan tangan Kyu Hyun menyusuri tiap jengkal tubuh indah Ha Ni. Meremas pantat kenyal gadis mungil itu dengan tempo kasar. Ha Ni menjerit dalam diam. Memaki sumpah serapah pada dirinya sendiri. Raga dan jiwanya sudah kotor, termanipulasi dengan kehidupan yang kejam dan hina.

Seandainya, Ha Ni tidak bertindak gegabah dalam menyelamatkan hidupnya, memikir ulang dengan kepala dingin menentukan masalah jalan keluar yang ada, andai Ha Ni tidak terjerat dalam tipu daya duniawi. Pasti hidupnya tidak seperti ini. Menjadi pelampiasan nafsu birahi pria tak bermoral seperti Cho Kyu Hyun.

“Ahhkk…! Sakiiitt,” suara rintihan dirinya membuat lamunannya tersadar. Terdengar menggema di kamar besar nan mewah yang mereka tempati.

Kyu Hyun terus memandangi wajah rupawan gadis yang sedang berada di bawahnya ini sambil sesekali menghentakkan keras kejantanannya di dalam vagina Ha Ni, membuat gadis itu memekik pelan antara nikmat dan sakit.

“Aakkhh…, Tuannn…,” Ha Ni memejamkan matanya dan mencengkeram kuat seprai di bawah tangannya. Kyu Hyun bisa merasakan vagina gadis itu menyempit.

“Aa…, appo…, Tuan…! Sakiittt…,” Ha Ni meringis perih saat Kyu Hyun terus memperhatikan laju masuknya kejantanannya tanpa mendengar ringisan kesakitan Ha Ni.

Sudah hampir 4 jam mereka bercinta, tapi sampai saat ini Kyu Hyun belum orgasme sekalipun.

“Ahhkk…! Pelan-pelan Tuan, itu menyakitkan ahh…,” Ha Ni mengeluarkan airmata perihnya. Kyu Hyun mengeluar-masukkan kejantanannya dalam hentakan keras dan kasar. Ha Ni sebenarnya sudah lelah melayani Kyu Hyun sama seperti bekerja 24 jam lelahnya. Ha Ni memejamkan matanya, kedua tangannya bertumpu pada bahu pria itu menahan sakit luar biasa, kenapa ia harus selalu merasa sakit ketika tuannya itu memasukinya? Padahal mereka sering melakukannya bukankah Ha Ni harusnya terbiasa?

“Milikmu begitu nikmat sayangku,  uhhhhh…,” desis Kyu Hyun. Pria itu menyentakkan miliknya ke dalam membuat tubuh dalam Ha Ni ikut tersentak, bibirnya tersenyum miring ketika merasakan bagian vitalnya tercengkram kuat di dalam sana. Inilah bagian dimana Kyuhyun selalu dambakan, gadis pemuasnya benar-benar sempit membuatnya harus merasakan perawan setiap menidurinya.

Semuanya selalu terjadi lagi dan lagi. Sinar rembulan yang menyorot terang menjadi saksi bagaimana penyatuan tubuh dua insan manusia itu menjadi satu kesatuan menyerukan geraman nikmat yang terjadi diantara mereka. Hani hanya bisa menitikkan air mata, meratapi nasibnya yang hancur lebur.

Aku tidak tahu apa memilih jalan ini adalah sebuah kesalahan dalam hidupku…



Tapi semua yang terjadi menghancurkan segalanya…



Sakit rasanya hatiku saat kau mengatakan itu



Tapi mungkin itulah takdirku…



Tuhan selalu punya hal terindah di balik hal terburuk…



Itulah yang selalu aku percaya



Semua pasti akan baik-baik saja…





Ending

Tuh kan, gantung! Aku gak bohong kan? Kkkk Jangan protes plisss 😡

Pikiran nanti mau aku buatin sequel. Yang mau, mana suaranya man teman!!! Hehehe… Tapi, lihat dulu jadwal kegiatanku free atau malah padat. Semoga saja free ya. 😀

Mohon untuk tanggapan kalian mengenai FF ini ya adek-kakak cantik. Oh iya, aku lupa ucapin terima kasih buat kak Nurul Dyah Ayu Laksitha selaku editor di ff aku ini. Hihihi…

Cukup sampai di sini saja ceritaku. Bagi yang mau baca karyaku yang lain, boleh aja kok. Kalian tinggal cari di WordPress; Flying NC Fanfiction dengan judul (Family Scandal) & (Sunflower).


Thank’s dear,

Salam hangat dariku, Oh Eonnie.

136 thoughts on “My Life’s Destiny

  1. Butuh sequel? Ya tentu aj, kan nasib ibu nya Hani belum jelas. Klu perlu ad orang ketiga setampan kim taehyung atau jeon jungkook yg berfungsi mendorong kyuhyun untuk menghargai Hani sebagai manusia bukan hanya gadis pemuas nafsuny semata. Klu perlu kyuhyun dibuat cemburu sampai tingkat dewa. Hahaha…. maunya sih. Tp itu semua kan author yg nentuin… semangat nulisnya! ^^

    Suka

  2. Isssss…. author
    makasih udah digantungin… tapi butuh sequel nih… kya…kyaaa… ceritanya keren… tapi gimana nasibnya si yeoja ya… padahal masih muda banget tuh yeojanya

    Suka

  3. Ini mh wajib untuk squel. Gantung bnget.
    Ibunya hani gmna nasibnya ?
    Kyuhyun itu suka / benci sama hani?
    Trus apa hani ngga hamil scara melakukan itu terus menerus😁 ?
    Squel di tunggu ya kak. 😉😉

    Suka

  4. Tega km ya kyu…kasian ha ni
    Sikap arogan kyu gak berubah ya.. kirain bakal berubah setrlah mendapatkan ha ni
    Butuuuhhh sequel ini author….

    Suka

  5. gantung bgt eon baru mlm kelima blm ketuh lho wkwk duhhhhh Hani kasihan bgt ya kejam bgt takdirnya ya allah klo menciptakan manusia tolong yg miskin jgn miskin bgt ya kasihan atu kyk gue ini kpn kayanya????

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s