Human Addiction Chapter 10


 

Title                 : Human Addiction –  chapter  10

Cast                 : Cho Kyuhyun – Kim Nana (OC) – Lee Donghae

Rating              : NC-17

Author             : Leyraah/ Autumnlouvre

 

 

Kim Nana mengerjap ketika suara kenop pintu kamarnya berputar tiba-tiba. Tanpa peringatan dia mendorong tubuh pria yang memeluk ketat pada pinggangnya beberapa saat lalu. Membuat tautan bibir mereka terlepas dan pandangan tajam penuh kecewa di depannya terabaikan begitu saja. Jantung seperti jatuh di perutnya ketika pintu terbuka dan melihat Kim Daehan berdiri di sana. Kilat terkejut terbaca cukup jelas dari balik lensa kacamata silinder pria paruh baya itu. Tanpa aba-aba tatapan mata di sana menusuk Nana, penuh marah dan situasi berubah menjadi ancaman.

 

Untuk pertama kali setelah dua puluh satu tahun hidupnya, hari ini Nana begitu takut berhadapan dengan ayahnya.

 

“Selamat malam, Tuan Kim.” Suara berat pria di sampingnya mengejutkan Nana. Melihat Aether Lee memberi salam pada ayahnya dengan senyum lebar yang kontras akan situasi. “Maaf untuk kelancanganku berada di kamar Nana. Aku tidak berencana apapun selain merindukan putri Anda malam ini.”

 

Nana menutup mata dan menyesal karena tidak bisa menghentikan Aether. Tidak mengerti juga bagaimana Aether selalu terlihat tenang di depan ayahnya sementara hubungan mereka yang berjalan di belakang ayahnya kembali terbongkar.

 

‘Ini caraku bersikap untuk meyakinkan ayahmu bahwa aku serius denganmu’

 

Hanya itu jawaban Aether yang berkali-kali membuat Nana untuk memiliki keberanian. Yang nyatanya tanpa Aether tahu, Nana menanggung rasa bersalah pada ayahnya.

 

Di ambang pintu kamarnya, Kim Daehan belum memperlihatkan reaksi berlebih selain kemarahan yang begitu ketat dari matanya. Alasan dan sebab apa yang menjadikan beliau bersikap seperti itu tidak pernah dipahami Nana. Dan hari ini dengan situasi cukup mengerikan, Kim Daehan menangkap basah Nana dan Aether tepat di kedua matanya.

 

“Nana!” Itu suara ayahnya. Nana membuka mata dan pandangan ayahnya belum berubah. “Harus berapa kali aku memberimu peringatan? Apa seperti ini janjimu padaku!” Ayahnya membentak dan nyaris menciutkan Nana.

 

Aether mengenggam tangannya seolah jadi pelindung. “Anda tidak—“

 

“Kau diam, bajingan!”Nyalang tatapan ayahnya membuat Aether diam. “Kemari  Nana!”

 

Genggaman tangan Aether mengetat, menghentikan Nana dari tindakan apa pun. Gadis itu melihat ayahnya dan menggeleng perlahan. Kim Daehan seperti dihantam godam melihat penolakan putrinya.

 

“Sekali saja, ayah.” Nana mengatakannya dengan gemetar. Tatapan kecewa beliau menyakitinya juga. Tapi Nana ingin tahu pada bagian mana kesalahan Aether dan dirinya. “Katakan padaku kenapa dia tidak bisa bersamaku?”

 

Kim Daehan beralih pada Aether dan menunjuk pria itu. “Kau pergi dari rumahku atau polisi yang akan menyeretmu keluar!”

 

“Anda tidak menjawab pertanyaan putri Anda, tuan Kim.” Aether menatap lurus pria di depannya dengan tidak gentar. “Kenapa aku terlarang untuknya? Aku punya status sosial yang sama derajatnya dengan putri Anda. Aku cukup pantas berdiri di samping   Kim Nana bahkan  aku juga bukan saudara laki-lakinya yang menjalin hubungan terlarang. Apa alasan Anda, tuan Kim?”

 

Nana melihat pada Aether yang masih cukup tenang meski semua yang berhamburan dari mulutnya cukup membuat Nana terkejut. Sepenuh hatinya berharap Aether akan berhasil memperjuangkan hubungan mereka. Tapi ketika Nana memandang ayahnya, setengah harapannya mulai pudar. Dengan tangan terangkat, Kim Daehan mengarahkan revolver pada Aether. Saat itu Nana sudah berada pada titik paling lemah, airmata tidak akan berguna di depan ayahnya. Perlahan dia melepaskan tangan Aether dan mengucapkan janji yang sama pada ayahnya.

 

Hubungannya dengan Aether berakhir.

 

“Keluar! Sebelum kewarasanku hilang dan membunuhmu di depan putriku.”Ancaman Kim Daehan.

 

“Sulit sekali menghadapi ayahmu. Baby, apa yang harus aku lakukan?” Nana menggeleng dan mendorong Aether menjauh.

 

“Pergilah. Aku mohon…aku mohon Aether. Pergi!” Mencoba bicara dalam tangis adalah satu hal yang cukup sulit dan Nana tidak ingin Aether memperparah keadaan. Napas mulai tersendat dan suara tangisan Nana pecah ketika Aether menyentuh keningnya dengan satu kecupan dalam. Aether berbalik dan Nana seperti kehilangan oksigen. Punggung tegap itu mendekati ayahnya.

 

“Seharusnya Anda menjawab pertanyaannya.” Mulut pistol itu tepat mengarah pada wajah Aether. “Tindakan Anda sebagai Ayah melarang putrinya menjalin hubungan dengan pria sangat berlebihan. Itu mencurigakan. Paling tidak beritahu dia apa alasannya. Aku terus bertanya kenapa dan kenapa? Apa tuan Kim memiliki rahasia? Itu cukup kejam dengan mengorbankan perasaan putri Anda.”

 

Pistol di depan Aether itu bergetar. Kim Daehan yang beberapa saat lalu begitu keras dan mendominasi sekarang hanya pria tua yang bertahan mengadapi seluruh intimidasi Aether.

 

“Turunkan pistol Anda. Aku akan pergi, tuan Kim.” Kemudian pria itu lebih mendekat, bicara pada Kim Daehan dengan bisikan. “Bukan menyerah, karena aku sudah begitu bergantung pada putrimu.”

 

Langkah Aether menjauh, meninggalkan Nana dengan suara tangisnya. Luka itu terjadi lagi karena ayahnya. Bahkan Kim Daehan tidak pernah memberi jawaban dari semua pertanyaan Nana. Pria setengah baya itu berjalan cepat pada lemari, menurunkan koper dan mulai mengemasi beberapa pakaian Nana.

 

“Tatsuya akan mengantarmu ke bandara.” Putus ayahnya tiba-tiba. Nana berjalan mendekat dengan penuh rasa terkejut.

 

“Bandara?apa yang ayah lakukan?”

 

“Pergilah berlibur.”

 

Nana bahkan tidak mengerti apa yang ayahnya baru saja katakan. Dengar rasa marah Nana menahan tangan ayahnya yang akan menutup koper miliknya. “Aku tidak akan pergi kemana pun.”

 

“Kau harus!”Perintahnya tanpa peduli dengan penolakan.

 

“Bagaimana kuliahku di Todai?”

 

“Aku akan mengurus cuti untukmu.”

 

“Ini berlebihan, ayah!” Nana hampir berteriak. “Kau menyuruhku berlibur dengan cara seperti ini. Tanpa tujuan kemana aku harus pergi. Kau lebih terlihat sedang mengusirku!”

 

“Aku akan menjemputmu setelah kau sudah cukup waras untuk melupakan pria itu.”

 

Kim Daehan tidak menarik segala ucapannya. Pada posisi ini, Nana benar-benar baru menyadari satu hal, ada yang salah dengan ayahnya. Ada yang beliau takutkan tentang Aether Lee. Seluruh pikiran diam itu membenarkan segalanya, bahwa kesalahan bukan berasal dari hubungannya dengan Aether. Rahasia di balik punggung ayahnya adalah jawaban yang tidak pernah Nana dapatkan.

 

“Aku menyukai Aether. Jadi ayah tidak perlu menjemputku, karena aku tidak akan melupakannya. Aku akan pergi, kemana saja ayah membuangku.”

 

“Dengar,” Nana tidak ingin melihat ayahnya di saat hatinya terlalu sakit. “bila aku mati dengan kau masih bersama pria itu, maka ingatlah kau bukan lagi putriku. Jangan bertanya alasannya, Nana. Hanya ayahmu ini yang kau punya. Pria baik tidak akan mendekatimu dengan cara seperti psikopat.”

 

“Menyebutnya psikopat itu terlalu kejam!”

 

“Jangan membantahku!” Ada kemarahan yang nyata dalam nyalangnya tatapan Kim Daehan. “Kau tidak mengenal siapa pria itu.”

 

“Jadi ayah tahu siapa dia? Lalu apa sekarang ayah berniat memberitahukan kebenarannya padaku? Atau ayah hanya akan terus seperti ini dan membuatku menjadi korban kesalahanmu.”

 

“Hentikan Nana!”

 

“Aku mencintainya!”

 

Tangan Kim Daehan nyaris hilang kontrol, kepalan genggamnnya berhenti di udara. Untuk pertama kali, hari ini ia ingin sekali menampar putrinya. Tapi mata yang dibayangi perasaan terluka itu adalah cerminan perbuatannya.

 

“Aku tidak pernah mendidikmu untuk berteriak pada orang tuamu. Sepertinya pergi dari hadapanku adalah keputusan yang benar. Pria itu sudah membuatmu hilang akal!”

 

Rupanya Nana sudah berdiri di ambang batas berhadapan dengan ayahnya. Tapi itu bukanlah hal terakhir yang ingin Nana dengar sebelum dia pergi. Nana merasa begitu sakit tanpa penjelasan dan sebagian dari hatinya ingin ayahnya merasakan hal yang sama.

 

“Saat ini aku bukan putrimu.  karena meski Aether tidak bersamaku lagi aku tidak akan menghentikan perasaanku. Dan kau tidak berhak dengan urusan hatiku.“

 

“Nana-“

 

“Kau bahkan lebih memilih mengirimku pergi daripada memberiku pengertian yang benar.” Tidak. Nana tidak ingin menyakiti ayahnya dengan ucapan kasar. Tapi separuh dari kewarasannya begitu dominan dengan kemarahan.

 

Kim Daehan mencoba mendekati putrinya. “Sayang-“

 

Nana menggeleng, menghentikan ayahnya tanpa peduli luka di wajah pria itu. “Jangan bicara padaku. Aku akan mendengar jika kau sudah bisa mengatakan kenapa aku tidak bisa bersamanya.”

 

Nyatanya Kim Daehan tidak memiliki jawaban. Diamnya seperti kata tidak peduli bagi Nana, yang pada faktanya hati Kim Daehan  sudah hancur terlebih dulu. Berpisah dari putrinya sama sakitnya dengan menghadapi kematian istrinya. Kim Daehan tidak mampu mengatakan pada Nana dan semua jawaban tentang Aether Lee. Pemuda itu tidak seperti yang Nana lihat. Rupa yang tidak lagi sama dan pembalasan mengancamnya di depan mata. Bagaimana bila yang lain datang juga seperti pria itu?

 

Nana tidak akan mengerti pada titik mana ketakutan paling parah Kim Daehan tentang masa depannya.  Tapi sebagai ayah, dia pastikan pemuda itu tidak pernah bisa menyentuh putrinya. Tidak juga yang lain. Sekarang, biarlah Nana selalu menjadi gadis kecilnya yang polos. Gadis kecilnya yang tidak tahu apa-apa dan tidak terlibat dengan masa lalunya. Kim Nana  yang tidak perlu disalahkan atau menjadi target balas dendam. Kim Daehan akan membiarkan Nana memiliki dunianya tanpa orang-orang kejam seperti Aether Lee.

 

Dan juga dirinya.

 

Human Addiction- chapter 10

 

“Nona Kim.”

 

Nana tidak tahu sebab apa yang membuat seluruh tubuhnya terasa berat. Tidak ada apapun yang menekan di dadanya tapi di sana begitu sesak. Bernapas menjadi sulit dan Nana membenci perasaan ini. Ada kesedihan yang datang terlalu tiba-tiba menggerogoti setengah hatinya. Belum pernah dia menghadapi perasaan sekejam ini. Apakah seluruh kesedihan dan sakit ini nyata? Nana tidak mengerti. Ada saat dia mendengar seseorang menangis dari tempatnya berada. Isakan pedih yang seperti ingin merobek jiwanya.

 

Siapa yang menangis?

 

“Bangun, nona Kim.”

 

Isakan seseorang bertambah keras. Memukul hatinya hingga bergetar. Kenapa dia menularkan kesedihan itu padanya? Dalam gelap Nana hanya ingin siapapun itu berhenti menangis dan berhenti melukai hatinya.

 

“Kim Nana, bangun!”

 

Seperti sepasang tangan mengguncang bahunya, Nana bergerak menyingkirkan tangan itu. Kesadaran penuh perlahan menghampirinya, dia duduk dan melihat sekeliling. Pohon-pohon pinus di luar seperti lorong gelap yang mengerikan. Ruang tengah villa milik Kyuhyun dengan perapian digital yang masih menyala. Nana terkejut saat tahu Alex ada di depannya, terlihat cukup buram dalam penglihatan Nana. Gadis itu mengangkat tangan, menyentuh wajahnya yang sudah basah. Dia menangis? Benar, itu suara tangisannya. Nana menangis dalam tidurnya.

 

Mimpi?

 

Itu bukan hanya mimpi, tapi di sana adalah sebagian dari ingatannya. Jika Nana tahu bila hari itu menjadi akhir dia melihat ayahnya, Nana akan berhenti bicara apapun tentang Aether. Nana akan datang pada ayahnya saat beliau memintanya, Nana akan menarik seluruh kata-kata egoisnya dan mengatakan bahwa dia sangat mencintai ayahnya. Harusnya Nana tetap tinggal meski dengan keras ayahnya menyuruh pergi. Maaf yang tidak sempat Nana katakan selalu menjadi penyesalannya. Sampai pada titik dia bernapas hari ini, Nana begitu merindukan ayahnya.

 

Lalu bagaimana dia hidup setelah mimpi itu datang menamparnya?

 

Nana menolak saat Alex menyodorkan gelas berisi air. Gadis itu menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan dan mulai menangis. Tapi itu sama sekali tidak membantu, bagi Nana ini terlalu berat. Emosi, kesedihan, penghianatan yang sakit juga tentang rasa malu. Nana harus menanggung seluruh beban itu dengan pondasi dirinya yang sudah hancur. Sekarang saat ingatan itu datang bersama mimpi, Nana tahu pada bagian mana letak kesalahannya.

 

Karena Aether Lee, Nana mengabaikan peringatan ayahnya. Harusnya Nana lebih peka untuk pahami ke dalam sudut pandang ayahnya. Karena suatu alasan ayahnya tidak ingin Nana tahu tentang Aether. Sebab apa yang membuat ayahnya melarang Nana berhubungan dengan Aether mungkin adalah jawab terbaik bagi Nana saat itu. Jika Nana masih mengajukan pertanyaan yang sama untuk sekarang, maka hari ini adalah jawabannya. Nyatanya Aether tidak seindah yang Nana tahu.

 

Dia tidak pernah benar-benar mengenal pria itu.

 

Sekarang seluruh perasaan yang membelenggu Nana berganti menjadi amarah. Nana harus tahu apa yang ada di dalam kepala bejat Aether tentang penyebaran rekam video yang menghancurkan sisa harga dirinya. Tidak peduli dengan wajahnya yang berantakan, Nana mengangkat kepala dan masih menemukan Alex berdiri di sampingnya. Gadis itu menurunkan kakinya yang terbujur di atas sofa lalu mengambil gelas yang masih berada dalam tangan Alex. Nana membutuhkan seluruh isi dalam gelas ini untuk menyatukan semua kewarasannya yang hampir direnggut kembali oleh Aether.

 

“Anda baik-baik saja?” Tanya Alex saat Nana menandaskan air tanpa sisa. Napas gadis itu memburu.  Meski ekspresi Alex selalu terlihat datar dan tegas, Nana bisa menemukan bola mata pria itu bergerak ragu.

 

Nana mengangguk. “Alex~ssi, apa yang kau lakukan di sini?” Perlahan Nana mulai sanggup mengatur seluruh emosinya.

 

“Saya datang untuk membawa anda ke Seoul.”

 

“Bagaimana dengan…Kyuhyun? “ Ekspresi Nana ragu, ingatan tentang kemarahan Kyuhyun padanya langsung tembus menju hatinya. Entah itu sakit atau rasa malu yang mendominasi Nana saat ini, dia tidak tahu.

 

“Tuan Cho sudah kembali ke Seoul.”

 

Keterkejutan Nana terbaca jelas oleh Alex. Untuk sesaat dia terlihat linglung, mungkin Nana tidak menduga bahwa Cho Kyuhyun meninggalkannya di villa tengah hutan miliknya setelah tidak cukup puas menyerangnya dengan kemarahan.

 

Kyuhyun pergi karena rekaman video itu. Tidak, Kyuhyun pergi karena Nana tidak memberinya jawaban tentang Aether.

 

Nana tidak tahu, kenapa bentuk kemarahan Kyuhyun padanya harus seperti itu? Seolah dia menempatkan diri sebagai pihak yang merugi dan merasa perlu menghakimi Nana dengan cara yang kejam. Harusnya Kyuhyun  tidak perlu peduli tentang video itu. Toh, Kyuhyun sudah menganggapnya sebagai perempuan kontrak seks yang di matanya tidak ada harganya. Bahkan dia pergi dengan membawa seluruh kemarahannya yang paling mengerikan.

 

“Lalu Kyuhyun yang mengirimmu ke sini?” Alex mengangguk.“Baiklah, sebelum itu aku butuh bersiap-siap.” Kata Nana. Dia melihat Alex yang menatapnya heran.

 

“Aku harus bicara dengan Cho Kyuhyun.” Suara Nana terdengar kesal, tapi dia juga terkejut dengan rasa takut tentang bertemu lagi dengan Kyuhyun. Bukan tentang cara pria itu menunjukkan kemarahannya, Nana ketakutan akan satu dan hal lain yang belum siap dibicarakan dengan orang yang masih dia anggap asing.

 

“Tentu, beliau menunggu Anda di sana. Tapi ini masih pukul tiga pagi, Anda punya waktu sampai matahari terbit sebelum kembali ke Seoul.”

 

“Apa Cho Kyuhyun mengatakan tentang itu juga?” Mata Alex berkedip satu kali. Gadis yang baru saja dia lihat sedang menangis dalam tidurnya kini menantang Alex dengan wajah datar yang dingin.

 

“Tidak.”

 

“Apa kau keberatan kita berangkat pukul tiga pagi? Aku bisa menggantikanmu menyetir sampai Seoul, Alex~ssi- kalau kau butuh tidur di tengah jalan.”

 

Alex tidak yakin cara sarkasme yang Nana gunakan saat ini untuk menutupi rasa kesalnya-yang Alex tidak tahu penyebanya atau dia cukup polos menawarkan kebaikannya. Gadis itu sudah meninggalkan Alex di ruang tengah ketika tiba-tiba berhenti dan berbalik menatapnya yang masih berdiri di tempat yang sama.

 

“Apa kau juga tahu tentang video itu?”

 

Pertanyaan tidak terduga dari Nana membuat Alex kaget. Pria itu buru-buru menundukkan wajahnya, meski tidak kentara tapi Alex menghindari tatapan gadis itu. Mungkin diamnya Alex adalah jawaban. Sekarang tubuhnya bukan hanya jadi tontonan kelompok mantan investor Kyuhyun dan Nana mungkin tidak akan sanggup bertemu siapapun setelah ini. Bahkan di depan Alex Nana merasa berdiri tanpa sehelai pakaian- meski pria itu cukup sopan saat menghadapinya. Menangis sudah tidak ada gunanya bagi Nana. Karena sebanyak apapun rasa malu Nana sekarang tidak cukup disamakan dengan semua bentuk kemarahannya saat ini.

 

“Tuan Cho sedang berusaha menutup semua portal web yang berkaitan dengan video itu.” Kata-kata Alex menghentikan Nana yang akan pergi. “Sebelum seluruh video itu lenyap dan pelaku kejahatan itu dihukum, beliau tidak akan berhenti dan membiarkan hal tersebut menjadi konsumsi publik.”

 

Meski sebagian dari kepanikannya menghilang karena merasa lega, Nana justru terjebak dalam rasa canggung yang entah mengapa menyerangnya dengan begitu tajam. Bagaimana jika yang ada di hadapannya sekarang ini adalah Kyuhyun dan Nana harus mendengar usaha pria itu untuk menyelamatkan sisa harga dirinya setelah dengan keras kepala Nana menentangnya? Mungkin Nana akan terlihat begitu tolol di depan Kyuhyun dengan rasa malu yang membanjiri kesadarannya.

 

Sekarang Nana tidak tahu mengapa pernyataan Alex cukup menganggunya, hanya saja yang gadis itu pahami, dia tidak nyaman dengan perasaan seperti ini. Ketika kau tahu, bahwa seseorang yang menolongmu adalah seseorang yang juga menyakitimu.

 

***

 

Lee Donghae tidak menyarankan supir pribadi pada Kyuhyun saat mereka berkendara menuju rumah sakit. Pikirnya tidak berguna, sebab disituasi ini, keahlian Kyuhyun menginjak pedal gas Maserati hitam miliknya tidak bisa diganggu gugat. Mobil melaju seperti di lapangan sirkuit dan Kyuhyun tetap tenang meski Donghae hampir pucat pasi. Kangin baru saja menghubungi ketika mereka berada di akhir rapat direksi perusahaan. Petunjuk baru dan mayat, kata Kangin sebelum mengakhiri panggilannya saat itu.

 

“Firasatku buruk tentang ini.” Donghae menatap lurus ke depan, mengumpat pelan pada traffic light yang  berubah merah saat Kyuhyun melewatinya . “Kita hanya berjumpa mayat, Kyuhyun. Kalau kau juga lupa aku baru keluar dari rumah sakit kemarin.”

 

“Rumah sakit tidak menyarankanmu keluar sebelum rabu pagi. Jangan merengek padaku.”

 

Mata Donghae berkilat jengkel lalu bergumam. “Sekarang bila itu menyangkut Nana kau jadi emosional.”

 

Beberapa menit kemudian mobil Kyuhyun masuk ke area fasilitas rumah sakit. Kangin menunggu di pintu utama dan mereka segera menuju ruang autopsi. Ada dua polisi berjaga di depan pintu kamar mayat itu, Kangin memberi Kyuhyun dan Donghae masker pelindung, dia berkata bau mayat tidak akan membantunya fokus. Temperatur ruangan di dalam ruangan itu dingin dan semua bagian dindingnya tertutupi mortuary cabinet. Seorang petugas medis menarik salah satu loker lemari dingin setelah mendapat perintah kangin.

 

“Irie Kenishiro, kewarganegaraan Jepang, tiba di Korea Selatan sepekan lalu dari data imigrasi bandara.” Kata kangin, dia melihat Kyuhyun juga Donghae. “Yang kita tahu, dia menjabat  direktur utama Dream Sky hotel, kebangkrutannya diberitakan setelah proyek kasino Kingdom Group dibatalkan beberapa hari yang lalu, tentu kasus ini bisa menyeret namamu, Cho Kyuhyun.”

 

Donghae meletakkan tangan pada setengah wajahnya yang tertutup masker ketika dia mencoba untuk medekati mayat Irie. “Apa penyebab kematiannya?”

 

“Diagnosis dokter mengatakan dia mengalami gangguan liver dan masalah pencernaan, tapi tim forensik menemukan jejak racun dari kuku dan rambut korban.” Kangin meminta rekam data identifikasi dari petugas medis yang ada bersama mereka. “Ahli patologi forensik membutuhkan waktu setidaknya dua jam untuk tahu penyebab kematiannya.”

 

Di balik masker, mulut Kyuhyun mengencang dalam satu garis tipis. Kedua tangannya mengepal untuk menyamarkan getaran yang tiba-tiba menghantamnya. Kematian Irie Kenishiro perlahan menuntun setengah dari kewarasan Kyuhyun untuk percaya pada satu dan dua kesimpulan yang masih abu-abu. Ada bagian yang saling terkait, tentang apa yang baru dia sadari atau hanya praduga dari manifestasi ketakutannya dua puluh dua tahun yang lalu. Tapi dalam kasus ini, intuisi Kyuhyun sedang mendominasi.

 

“Dia tidak hadir dalam rapat pembatalan kerja sama proyek saat itu, apa kemungkinan Irie Kenishiro dibunuh dengan racun?” Donghae tahu ada yang janggal dengan cara kematian pria tua ini. “Bagaimana dengan jenis racunnya?” Donghae mengalihkan matanya dari mayat Irie pada Kangin.

 

Arsenik ” Kata Kyuhyun pelan, dengan cara tiba-tiba yang sedikit mengejutkan Kangin.

 

Sementara  Donghae tidak perlu menjadi paling bodoh untuk mengerti sebab apa yang membuat Kyuhyun diam sejak tadi tapi kedua matanya dipenuhi tingkat panik juga waspada.  Mungkin kematian dengan kasus ini akan mereka hadapi kembali seperti reka ulang.

 

“Jenis racun itu yang membunuh Kim Daehan juga kasus yang sama terjadi pada ibumu,  Kyuhyun.”

 

Kangin tahu kasus kematian ibu Kyuhyun dari data yang pernah ia baca. Kasusnya terjadi dua puluh dua tahun lalu, istri pewaris tunggal Kingdom Company diyakini meninggal karena gangguan fungsi hati. Seluruh asset dan kekayaan saat itu jatuh pada Kyuhyun dan saudaranya yang masih berusia tujuh tahun. Setelah kematian Cho Ahlyn tidak ada pemberitaan tentang mereka, kabarnya Kingdom gulung tikar karena manajemen perusahaan yang buruk. Sampai dua tahun yang lalu salah satu media lokal mengetahui kebenaran bahwa Cho Ahlyn meninggal akibat keracunan arsenik. Kyuhyun membenarkan berita tersebut, tapi pria itu menolak untuk bicara lebih jauh tentang kasus ibunya.

 

“Kim Daehan meninggal karena komplikasi akut dalam perjalanannya menuju Okinawa.  Apa maksudmu dengan dia mengalami kasus yang sama dengan Nyonya Cho Ahlyn? Keracunan Arsenik?”

 

Sejak Kyuhyun membuat laporan tentang kasus penusukkan Donghae dan penculikkan Kim Nana, Kangin banyak mempelajari latar belakang gadis itu guna mencari keterkaitan yang mungkin bisa menjadi jalannya untuk menangkap pelaku. Termasuk Kim Daehan, ayah Kim Nana. Berita kematian pemilik salah satu hotel bintang lima di Tokyo itu pernah jadi sorotan publik tahun lalu. Tidak ada isu atau hal yang diberitakan janggal sebelumnya.

 

Donghae mengangguk. “Kematiannya diberitakan seperti itu. Irie Kenishiro menutupi fakta bahwa iparnya meninggal karena racun, termasuk kepada Kim Nana. Dokter bisa saja salah mendiagnosis penyebab kematiannya saat itu karena gejala keracunan arsenik mirip dengan gejala penyakit kronis.” Donghae berhenti, melihat Kangin yang menatapnya serius. Kyuhyun tidak mengatakan apapun selain menatap mayat Irie dengan pandangan tidak terbaca.

 

“Tidak ada tindakan autopsi pada Kim Daehan saat itu, dibutuhkan identifikasi sangat serius untuk melacak jejak arsenik, bagaimana kau bisa mendapat detail yang berbeda?” Tatapan anggota intelligent polisi itu intens.

 

Donghae justru bersikap tenang, sambil melihat wajah pucat dingin mayat di depannya dia menjawab. “Kapsul anti depresan yang di konsumsi Kim Daehan selama dua tahun mengandung arsenik dalam dosis di bawah letal. Seseorang ada di balik kematiannya dan menunggu saat yang tepat sebelum dia di esksekusi menggunakan dosis letal yang mematikan dalam perjalannannya menuju Okinawa.” Donghae berhenti, dia mengangkat kepalanya pada Kangin. “Kau tahu, harta dan tahta bisa jadi pembunuh paling mengerikan.”

 

Kangin diam untuk beberapa saat, ekspresinya serius seperti sedang berpikir. Kemudian pria itu mengangguk sambil menutup mayat Irie Kenishiro sebelum petugas medis kembali menyimpan mayatnya dalam lemari.  “Kim Daehan menjadi seorang WNA setelah menikahi wanita jepang, kita tidak memiliki otoritas untuk ikut campur karena hukum legalitas. Tapi melihat pada kasus ini dan penjelasan yang baru saja kudengar, apakah aku bisa menyimpulkan kematian Irie Kenishiro dan penculikan Kim Nana melibatkan orang yang sama. Kalian tahu? Kim Nana adalah target arsenik berikutnya.”

 

Saat itu juga Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menatap tajam pada Kangin. Ketegangan mengambil alih seluruh gerak tubuhnya. “Apa mungkin keparat itu—“

 

Kangin mengangguk. “Cokelat yang dikirim secera misterius untuk Kim Nana di rumah sakit beberapa hari yang lalu mengandung arsenik dalam dosis tidak berbahaya. Tapi jika Kim Nana tidak melarikan diri dari hotel malam itu, pelaku akan memberinya dosis  yang cukup mematikan. Kami menemukan satu gelas susu mengandung arsenik 200 mg di kamar hotelnya. Kemungkinan itu dipersiapkan untuk Kim Nana sebelum pelaku tahu gadis itu sudah melarikan diri. Mayat Irie Kenishiro juga ditemukan di hotel yang sama dengan pelaku, dari hasil olah TKP Irie Kenishiro meninggal empat jam setelah Nana melarikan diri. Ada kandungan 400 mg arsenik dalam darahnya.”

 

Pandangan mata Kyuhyun berubah nyaris gelap. Seolah darah tiba-tiba menyembur di kepalanya dan dia hanya tahu tentang keinginan untuk menemukan keparat itu dan menghamburkan isi kepalanya. Tapi entah bagaimana bisa di saat bersamaan Kyuhyun juga merasa tidak berdaya mendengar kebenaran seperti ini. Seperti seseorang baru menemukan jejak kelemahannya dan memukulnya pada titik yang cukup fatal. Kyuhyun meraih ponselnya, meninggalkan ruang dingin itu dengan semua pikiran yang hampir terbelah.

 

Bagaimana gadis itu bisa berbuat seperti ini padanya?

 

“Apa ini masuk akal? Sialan! Kau harus secepatnya menemukan keparat itu, Kangin~ssi.” Donghae sama tegangnya seperti Kyuhyun. Untuk pertama kali setelah tujuh tahun, pria itu bisa melihat Kyuhyun punya hal yang bisa dia khawatirkan selain perusahaannya.

 

“Kita perlu identitasnya dengan akurat. Dia menggunakan dokumen palsu saat melewati loket imigrasi. Kesaksian Kim Nana dalam kasus ini adalah yang terpenting. Bukankah Kim Nana sudah mengenal pelaku selama dua tahun sebagai kekasihnya? Itu akan sangat membantu.”

 

Rahang Donghae terkatup sebelum ada hembusan kasar dari napasnya. “Aku akan membicarakan ini dengan Kyuhyun. Kau tahu, kasus penyebaran video Kim Nana masih belum sepenuhnya bersih, aku tidak yakin untuk saat ini Kyuhyun bisa membawa Nana guna memberikan kesaksiannya.” Donghae cukup tahu sekeruh apa suasana hati pria itu sekarang. Meskipun Kyuhyun punya ego keterlaluan tinggi dengan perasaannya, tapi pria itu cukup bodoh menunjukkan seperti apa gilanya dia memperdulikan Kim Nana.

 

Mereka keluar dari ruang autopsi setelah pembicaraan berakhir. Donghae mendapati Kyuhyun berdiri tidak jauh dari ruang autopsi dan mendengarkan pria itu sedang berbicara dengan Alex melalui ponselnya.

 

“Sudah tiba di Seoul?….Tidak, jangan membawanya ke Pentthouse. Aku akan datang lima belas menit lagi, tepikan mobilmu sekarang.”

 

Kyuhyun menutup ponselnya dan ketika dia akan berbalik Donghae sudah ada di belakangnya. “Aku-“

 

“Pergilah. Aku akan menelpon supir perusahaan.” Kata Donghae menyela Kyuhyun. “Kalau kau tahu akan seperti ini, harusnya kau tidak meninggalkannya di villa.” Donghae menghela napas perlahan dan menatap Kyuhyun setengah jengkel saat pria itu hanya menatpnya dalam keterdiaman yang ganjil.

 

“Aku akan memberitahunya.” Kata Kyuhyun tiba-tiba. Donghae memberi tatapan tidak mengerti pada awalnya. Tapi cara diamnya Kyuhyun dengan kilatan mata tajam serta gestur tubuhnya yang kaku memberinya jawaban.

 

Donghae mengerjap. “Kau yakin? Maksudku apa sekarang saat yang tepat?”

 

“Seperti yang kau katakan, Nana harus tahu. Aku tidak peduli situasinya.” Kyuhyun berbalik dan melangkah pergi meninggalkan lorong ruang autopsi.

 

Donghae tidak perlu mencegah apa yang seharusnya Kyuhyun lakukan sejak dulu. Pria itu hanya menghawatirkan satu hal yang mungkin Kyuhyun abaikan.

 

***

 

Sebenarnya, Nana tidak ingin tahu sebab apa yang membuat Alex harus menepikan mobilnya begitu dia menerima panggilan dari Cho Kyuhyun beberapa saat lalu. Alex hanya mengatakan bahwa mereka harus berhenti di sini. Pada wilayah dengan pertokoan berjajar sepanjang jalan yang juga bersebrangan dengan taman kota. Tapi Nana sudah melalui hampir enam jam perjalanan dari villa dan gadis itu sudah berada di ambang penat. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain duduk di kursi depan penumpang dengan Alex yang sekaku kaktus.

 

Nana menghela napas perlahan dan menurunkan kaca jendela ketika Alex tiba-tiba melompat keluar dari mobil. Sebuah sedan sport hitam melewatinya dan berhenti tepat di depan. Nana membeku di atas kursinya begitu melihat Cho Kyuhyun keluar dari sedan hitamnya. Dia bicara pada Alex, Nana tidak bisa menebak ekpresi tenang Kyuhyun. Tapi saat pria itu menoleh dan melihatnya dari balik kaca mobil, ketegangan Nana meningkat perlahan. Kilat tajam mata Kyuhyun mengingatkan Nana pada petir. Tanda badai yang akan menggilasnya.

 

Sekarang barulah jantung Nana yang meliar di balik dadanya saat Kyuhyun berjalan mendekatinya. Pintu mobil samping Nana terbuka dan gadis itu punya keberanian menatap Kyuhyun. Pria itu membungkuk, setengah tubuhnya melewati Nana untuk melepas seatbelt.

 

“Ikut denganku.” Kata Kyuhyun, suaranya beku dalam pendengaran Nana.

 

“Ada yang ingin aku katakan padamu, Kyuhyun~ssi.” Nana berkata dengan cara gugup begitu wajah Kyuhyun hanya beberapa jengkal dengannya, tapi kilatan yang Nana sebut petir itu tidak nampak, justru hanya mata hitam yang melihatnya dalam ekpresi paling tenang. Untuk pertama kalinya pria itu menyentuh puncak kepalanya, berbicara dalam gestur sopan yang hampir Nana tidak mengenalnya.

 

“Aku tahu, ayo kita bicara. “

 

 

TBC

280 thoughts on “Human Addiction Chapter 10

  1. Semoga lanjutannya cepet ya.. Hehe
    Masih setia nunggu lanjutannya..
    4 bulan tidak terasa.hehehe
    Kyuhyun dan nana punya hubungan yg rumit deh..
    Laaanjuuut author…

    Suka

  2. Alhamdullilah akhirnya part 10 keluar wkwk
    Lagi asik2 baca tiba2 muncul tulisan horor “tbc” hehehe
    Sudah ada titik teraannggg
    Aether psikopat dah
    “Aku tahu, ayo kita bicara” aaahhhhhh ngebayangin bgt ekspresinya Kyuhyun-Nana.
    Love love love

    Suka

  3. Akhirnya part yg di tunggu tunggu up juga, gk sabar lagi nunggu utk part selanjutnya kak jangan lama lama ya up utk next partnya. Suka sekali sama ff yg kakk buat.
    Semangat kak☺

    Suka

  4. Ketika udah selesai baca pasti “lah?bersambung?”
    Padahal aku tau udah panjang banget 😆😆
    Semangat ya,walaupun ini cerita lumutan ini saking lamanya tapi fansnya setia2 loh termasuk aku,tetep nunggu dengan setia kelanjutannya.kalo author punya web pribadi/wattpad bagi-bagi lah karyanya.

    Suka

  5. Ya ampunn akhirnyaa ff yang ditunggu tunggu akhirnya up jugaa.
    Ceritanya Bagus banget gasabar dehh nunggu kelanjutannya.
    Pasti aja selalu bikin penasaran.
    Pokoknya buat author selalu semangat buat lanjutin ceritanya..

    Suka

  6. yeeey comment lagi di part 10~
    as always ff ini selalu bikin penasaran, tbc-nya pas lagi readers kepo2 tingkat tinggi 😀
    part ini lebih pendek dr yg sebelum2nya, menurutku
    semoga ff ini cepet di update biar gak lupa jalan ceritanya 😀
    fighting author-nim!!! :*

    Suka

  7. Wkwk.. ane langsung loncat ke chap terkahir;v kirain bakal end’ di chap ini taunya TBC;(( kapan lanjut nyaa;(( padahal lagi seru”nya.. kayaknya kyuhyun bakal ngasih tau deh kenapa di bersikap seperti itu ke Kim Nana;(( penasaran anjerr;((

    Suka

  8. Nana mau ngajak jadian kyuhyun kan? Ahaha imajinasiku alay bgt-__- lagian tau2 baru ketemu langsung tbc, kan kzl eh tapi aku bakal setia terus ko menunggu kelanjutan ceritanya, yg penting momennya nana-kyuhyun cmiw. Sehat selalu ya author, jgn sampe sakit biar kita bisa terus baca ceritamu❤

    Suka

  9. Ya ampun kalo aku yang ada diposisi nana pasti udah gila beneran…dia awalnya hanya ingin memperjuangkan makan ibunya dengan berakhir bertemu bajingan yang memberi penawaran dengan tubuh nana,diperlakukan buruk secara fisik dan ucapan.membuka perlahan semua yang tidak diketahui olehnya,seakan tidak cukup orang yang selama ini ia percaya dan membuat ia berkata kasar pada ayahnya sudah mengkhianatinya…author pinter banget mainin emosi pembaca dan ya ampun aku gak bisa nebak part selanjutnya apa lagi yang akan terjadi…semoga benar kyuhyun dengan sedikit kebaikan hatinya memberikan penjelasan kepada nana meski sedikit tapi itu bisa membuat mata nana siapa sebenarnya musuh yang sebenar-benarnya.
    Maaf komennya panjang banget,suka sama cerita ini…aku nunggu part selanjutnya😊

    Suka

  10. Gilaaa… Kok jadi ikutan tegang yaakk 😅😅
    Semoga kyuhyun-nana baik baik aja dahh
    Semangat thor!!!
    Btw, kasian sii alex disamain sama kaktus 😅😅

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s