It’s Not Same Anymore Part Extra (Despair)


 

Title : It’s Not Same Anymore – Extra : D E S P A I R

Author : Jo Kaniezax

Category : Sad | Romance | Drama

Rate : PG-17

Cast :   Cho Kyuhyun | Kwon Ji Won

Warning :  Typo(s) story belong to me !!

.

Hai Hai….

Sebenarnya Extra – Despair ini sudah lamaaa sekali Jo post di wp pribadi. Karena hiatus panjang kemarin, Jo lupa ngirim ke sini. Nah. Baca extra ini dulu sebelum INSA – 12 ya. Soalnya kalau langsung baca INSA – 12 nanti pasti ada hal yang engga nyambung, hehe.

Disini peran utamanya Mi Kyung yaa. Cerita It’s Note Same Anymore yang dilihat dari sisi Mi Kyung. Selama ini ceritanya dari sisi Ji Won ya kan?

Happy reading!

*

*

*

Aku… tidak pernah memakai barang bermerek.

Tidak juga makan makanan mewah.

Tempat tinggal yang indah.

Gemilang harta… tak pernah ada di dalam pikiranku untuk memilikinya.

Semua itu boleh tak kudapatkan.

Hanya satu. Hanya satu yang ingin kupertahankan walau menangis darah.

Cho Kyuhyun.

***

D E S P A I R

***

[Mi Kyung, 18 tahun]

“Cho.”

Ia menoleh, lalu tersenyum lebar. Anak-anak panti di sekelilingnya terlihat senang bermain dengannya. Tawa mereka selalu ceria jika tidak dihempaskan pada masalah yang menghadang di depan mata.

Ia melambaikan tangannya ke arahku, agar aku mendekat. Dari bawah pohon—dan bersandar di batangnya—aku menggeleng. Mereka semua duduk bersila di atas rumput, dimandikan cahaya matahari terik, namun semangat mereka tak surut.

Aku hanya bisa duduk disini, menjaga kesehatanku sendiri.

Dia mengangkat bahu dan melanjutkan tertawa bersama anak-anak lain. Aku memperhatikannya, dan aku ikut tersenyum walau tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Bagiku, masih bernafas saat bangun di pagi hari adalah anugrah yang luar biasa.

Kalau bukan karena penyakit ini, aku tidak akan kalah dari gadis itu.

***

D E S P A I R

***

Pertama kali aku bertemu Kyuhyun, itu saat ia meminjamkan uang di supermarket.

Waktu itu bunda—panggilan ibu asuh kami—memintaku untuk membeli bahan makanan sepulang sekolah. Nyatanya, setelah aku memilih bahan dan berdiri didepan kasir, uang yang dititipkan Bunda ketinggalan di kamar. Lupa kumasukkan kedalam saku.

Aku kebingungan. Saat itu tangan seseorang terulur di depanku, menyodorkan dompetnya.

“Pakai saja uangku.”

Dari dompet coklat tua itu, pandanganku naik ke atas, melirik wajah sang pemilik dompet. Tampan. Tentu saja setiap wanita yang melihat mereka akan berfikir seperti itu. Munafik namanya kalau berkata ia tidak tampan. Pakaian yang melekat di tubuhnya tidak mahal, tidak bermerek. Tapi aura ketampanan seolah tak bisa ditutupi dengan mudah.

“Ah… Tidak perlu repot.” Aku tersenyum simpul, menolak bantuannya dengan halus. Aku tahu ia tidak berniat jahat. Ia sumuran denganku. Jadi aku yakin dengan sangat ia bukan penajat, kalau itu yang  sedang aku coba tujukan.

Tapi ia kembali menggoyangkan dompet yang disodorkannya. Aku kembali menatap mata itu. Ada ketulusan disana.

“Tapi…”

“Tidak apa. Kau bisa memakainya. Aku tidak memberikannya secara gratis. Kau bisa membayarnya nanti. Lagi pula ada banyak orng yang sedang menunggumu kan?” Lelaki itu melirik tiga kantung besar yang ada di atas meja kasir, masih tertahan karena aku belum membayar.

“Kalau kau berkeras…” aku mengambil dompet itu dari tangannya, sedapat mungkin untuk tidak menyenuh kulitya seinci pun. “Aku akan memakainya,” sambungku.

***

D E S P A I R

***

“Tapi kau tidak perlu membawa kantung itu.”

Aku melirik dua kantung besar yang ada di kanan dan kiri tangannya. Sedang kantung yang agak kecil aku pegang. Ia bersikeras untuk membawakan kantung itu sejak kasir memberikan bon pembayaran. Ia menoleh sesaat, tersenyum kecil.

“Tidak masalah. Lagi pula aku laki-laki, dan kau perempuan. Sudah sepantasnya kan, laki-laki membantu wanita?” Ia terlihat sangat santai, friendly. Jenis orang yang cepat akrab dengan siapa saja.

“Tapi membayar makanan saja itu sudah membantuku.” Aku bersikeras, walau sudut hatiku menghangat. Ia mengangkat bahu tak peduli.

“Kalau begitu yang ini bonus untuk wanita cantik.”

Aku menghentikan lngkahku. Tertegun. W-wanita cantik?! Sadar aku tidak berjalan di sampingnya dan malah tertinggal di belakang, ia menoleh.

“Hei, kenapa kau berhenti?” Aku masih terpana dengan kata-kata manisnya hingga saat aku sadar, ia sudah menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajahku.

“A-ah… Aku hanya teringat sesuatu.”

Wajah lelaki berubah serius.

“Kau lupa membeli sesuatu ya?” dengan cepat aku menggeleng.

“Tidak. Bukan hal penting kok.” Aku tersenyum untuk meyakinkan dirinya, dan juga meyakinkan diriku untuk tidak terjebak dalam kalimat manisnya. Kuakui, itu adalah pertama kali ada seseorang yang memujiku, terlebih laki-laki.

Kami kembali berjalan. Dengan langkah kakinya yang ia perlambat, menungguku. Aku cukup tersanjung dengan perlakuan tanpa katanya yang ‘benar-benar lelaki’.

“Wah. Jadi kau tinggal disini?”

Ia menatap bangunan dua lantai yang menjadi tempat tinggalku sejak aku bisa mengingat. Ekspresi wajahnya terlihat kagum, walau bangunan yang ada di depannya tidak mewah sama sekali. Aku meju kedepan dan membuka pagar, mempersilahkannya masuk.

Kami berjalan beriringan menuju pintu. Saat aku membuka pintu, anak-anak panti yang menungguku langsung menyerbu.

“Eonni! Kenapa lama sekali?”

“Kami lapar nuna~”

“Eonni jahat…”

Mereka mengelilingiku, berteriak girang dan kemudian terdiam. Anak laki-laki yang duduk di pojok ruangan bertanya, “Nuna, siapa itu?”

Lelaki itu masuk, masih dengan dua kantung belanjaan di tangannya. Ia tersenyum kikuk. Sebelum ia sempat mengatakan apapun—seperti memperkenalkan dirinya dan semacamnya—ibu asuh kami muncul.

“Mi Kyung, kenapa…”

Ucapnya terhenti saat ia tak sengaja menangkap kehadiran lelaki itu disana. Tatapan bertanya ibu arahkan padaku, tapi aku mengangkat bahu. Aku pun masih belum tahu nama lelaki itu. Ibu melihat dua kantung belanja yang ada di tangannya dan paham sedikit akan situasi yang kualami.

“Ya sudah. Ayo masuk dulu. Kau juga belum makan siang ‘kan, nak?”

***

“Keluarga besarmu menyenangkan.”

Kini kami bedua duduk di taman belakang, tempat anak-anak biasanya bermain. Kini pun mereka sedang main dengan ceria. Berkumpul dengan duduk melingkar di bawah sinar mentari yang menyengat di atas kepala.

Tadi aku menjelaskan apa yang terjadi pada bunda dan juga mengganti uang telah dipinjamkan lelaki itu. Bunda pun rasanya menyukai kehadiran lelaki itu dan mengajaknya makan. Suasana tadi sangat heboh dengan adanya anak-anak yang sibuk bertanya ini itu padanya. Tampak sekali meeka tertarik padanya.

“Ah… mereka berisik ya… em…”

“Kyuhyun. Cho Kyuhyun.” lelaki itu tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi. Aku terkekeh pelan. Benar juga. Kami belum saling mengetahui hal paling mendasar satu sama lain; nama.

“Aku Mi Kyung. Han Mi Kyung.”

Tak ada jabat tangan seperti perkenalan seperti biasanya. Karena kami lebih dulu dekat dari pada mengetahui nama masing-masing. Tadi kami memasak bersama, membantu ibu menyiapkan makan siang. Lelaki itu, maksudku Kyuhyun tampaknya cukup terbiasa memasak. Mungkin dirumahpun ia demikian. Mandiri.

“Jadi… selama ini kau tinggal disini?”

Aku menatap ke depan, memperhatikan anak-anak yang saling mengejar, tertawa, dan seolah tanpa beban.

“Ya. Sejak aku bisa mengingat.”

“Oh… Enak sekali.”

Aku menoleh. Bingung dengan ucapannya yang tidak biasa orang lain ucapkan ketika tahu keadaanku. Biasa orang lain akan terlihat sedih dan mengucapkan kalimat-kalimat penyemangat. Tapi Kyuhyun berbeda.

“Enak?”

Ia mengangguk. Kami bertatapan untuk beberapa saat.

“Kau dikelilingi oleh anak-anak yang ceria. Hidupmu ramai. Dan menyenangkan. Aku… aku tidak memiliki ayah lagi. Aku hanya hidup berdua dengan ibuku. Itupun beliau bekerja sangat keras untuk bisa membiayai sekolahku hingga kami jarang bertemu. Sisanya… aku sendirian.”

Aku tersenyum tipis. Dari cerita yang ia lontarkan, kehidupannya begitu kosong dan kesepian. Waaupun begitu, ia masih beruntung memiliki ibu yng berjuang keras untuknya.

“Tapi aku memiliki seorang sahabat luar biasa. Dia seperti mentari. Hangat dan sangat menyilaukan.” Mata Kyuhyun berbinar. Bisa kurasaan luapan emosi hanya dari kalimatnya.

“Lain kali aku akan datang bersamanya. Ah, tapi dia hanya ramah padaku. Dan tidak pandai berbaur.”

***

D E S P A I R

***

Seperti katanya beberapa waktu yang lalu, Kyuhyun datang dengan seorang wanita berambut pendek, model bob. Wanita itu tampak canggung dan kikuk. Ia sangat cantik. Kupikir sahabat yang Kyuhyun sebutkan dulu seorang lelaki. Ternyata seorang wanita yang sangat cantik. dan entah kenapa sudut hatiku terasa nyeri.

Aku menepiskan perasaan aneh itu dan berjabat tangan dengannya.

“Mi Kyung.” Karena ia tak lebih dulu bersuara, akhirnya aku yang mengambil langkah.

“Ji Won.” Wajahnya cantik. Penampilan fashionable, kulit dan rambutnya sangat indah terawat. Sudah pasti dia gadis kaya raya. Aku iri padanya.

Seperti kata Kyuhyn, Ji Won tidak bisa berbaur dengan baik. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan duduk diam dan memperhatikan anak-anak bermain riang. Padahal mereka sudah berusaha keras mengajaknya bermain, tapi ia tetap menggeleng dan berkata ingin duduk saja.

“Itu sahabatmu?”

Aku bertanya sambil mengendikkan dagu ke arah Ji Won yang duduk agak jauh dari kami berdua. Kyuhyun mengangguk. “Cantik kan? Tapi dia sedikit gila,” ucap Kyuhyun sambil menunjuk pelipisnya. “Kau mungkin berfikir dia pendiam dan angkuh. Tapi kalau kau mengenalnya… uh, dia betulan gila.” Kyuhyun bergidik, seolah-olah ada hantu yang sedang menempel di tubuhnya.

Aku terkekeh pelan. Saat aku tak sengaja melirik Ji Won, ia sedang menatap ke arah kami, ke arah Kyuhyun tepatnya. Aku terdiam. Tatapan itu… aku tahu tatapan itu. Tatapan kesedihan yang sangat mendalam. Tapi Kyuhyun tidak sadar tatapan itu ditujukan untuknya.

“Dia sahabat yang paling kusayangi.”

Suara Kyuhyun seolah bergema di telingaku. Dalam sekejap, aku tahu apa yang sedang terjadi. Ji Won… gadis itu mencintai Kyuhyun. tapi Kyuhyun hanya menganggap wanita itu sebagai sahabatnya. Complicated.

Aku memalingkan wajah. Tatapan itu tersirat kesakitan di sana. Pengharapan yang tak berujung. Perasaan wanita terlukis di mata. Karena itu aku mengerti. Ji Won mencintai Kyuhyun dengan sangat dalam.

***

D E S P A I R

***

Kyuhyun semakin sering datang ke panti. Kami semakin dekat. Dan aku mulai menyimpan perasaan untuknya. Obrolan kami mengalir begitu saja. Menghabiskan waktu dengan Kyuhyun itu menyenangkan.

Dari pembicaraan kami selama ini, ternyata aku dan Kyuhyun satu sekolah. Dunia sangat berdesakan bukan? Tapi di sekolah kami sama sekali tidak bisa bertemu. Aku dengan kegiatanku, dan Kyuhyun dengan kegiatannya. Pulang sekolahpun aku harus cepat-cepat pulang dan belanja, seperti biasanya.

Jadi hanya di pantilah satu-satunya waktu yang bsia kunikmati dengan Kyuhyun.

“Tadi Ji Won terpeleset di lantai. Dia jatuh dengan pose yang sangat aneh. Kau tahu, dia terlungkup seperti ini…”

Saat seperti inilah yang aku tidak suka. Ditengah-tengah obrolan kami, selalu ada nama Ji Won dan kisahnya terselip disana. Selalu.

Dan Kyuhyun tidak sadar betapa riangnya dia saat membicarakan gadis itu.

***

D E S P A I R

***

Hari ini Kyuhyun datang bersama Ji Won. Tapi entah kenapa aura yang Ji Won keluarkan lebih dingin dari biasanya. Dia menatapku dengan sangat tajam. Aura kebencian seolah ia tujukan hanya untukku.

Sama seperti yang lalu, Ji Won duduk berjauhan dengan aku dan Kyuhyun. Sambil mengobrol dengan Kyuhyun, aku sempat meliriknya yang sedang menatap Kyuhyun. Tatapan itu lagi. Tatapan penuh cinta tapi terbalut dengn kesakitan. Tapi Kyuhyun seolah tidak menyadarinya. Tidak sadar bahwa tatapan itu ditujukan hanya untuknya.

Tak sengaja aku melihat sebelah tangan Ji Won memegang sebuah amplop hitam yang berusaha ia sembunyikan. Tampaknya Kyuhyun juga tidak tahu menahu tentang amplop itu. Jadi aku putuskan untuk tidak bertanya.

Kini Kyuhyun bermain dengan anak-anak. Mereka terlihat sangat bahagia dan aku ingin ikut bersenang-senang, katanya dan langsung meninggalkanku disini. Suara riang anak-anak menyapa pendengaranku saat Kyuhyun bergabung disana. Mereka bercerita banyak. Tertawa. Dan kadang-kadang saling mengejar.

Seorang anak laki-laki mendekati Kyuhyun yang tadinya sedang berkerjar-kejaran. Anak laki-laki itu menyerahkan sebuah amplop hitam yang langsung diterima Kyuhyun dan dibukanya. Dari kejauhan ini, aku bisa melihat Kyuhyun terdiam membaca surat itu. Kemudian tib-tiba dia mendongak, menatapku dan tersenyum bahagia. Lalu ia melambaikan tangannya.

Aku yang tidak tahu apa maksud dari lambaian tangan itu hanya mengangguk dan membalas lambaiannya dengan ragu. Ia tertawa dan kembali bermain dengan anak-anak. Hanya saja, wajah Kyuhyun terlihat berlipat-lipat lebih bahagia. Apa mungin karena surat itu? Tapi apa isi surat itu?

Bukankah surat itu berasa dari amplop yang sama dengan yang tadi dipegang Ji Won?

Tapi…

Lamunanku buyar saat Kyuhyun menyapaku dengan aroma matahari yang mengikutinya. Ia masih setengah tertawa, dan peluh bercucuran di pelipisnya. Anak-anak sudah tak lagi memperebutkan siapa yang akan menjadi tuan putri dan Kyuhyun sebagai pangerannya. Mereka kini asik berlarian satu sama lain seolah energi yang miliki tak akan habis-habis.

“Hah… mereka sangat bersemangat.”

Aku tak melihat amplop ataupun surat itu ditangannya. Mungkin ia lipat dan ia sembunyikan di balik saku celananya. Atau dibuang. Tapi asumsi yang kedua rasanya tidak mungkin. Jadi kuputuskan untuk mempercayai asumsi pertama.

“Ah… aku sudah harus kembali. Ji Won sedari tadi sudah memberikan sinyal ingin pulang. Ia melotot kepadaku sepanjang ku berlarian tadi. Hii… kau tidak tahu betapa menakutkannya ji Won kalau ia sudah marah. Karena itu, aku akan kembali besok dan membalas suratmu!”

Walau aku tidak tahu apa yang Kyuhyun maksud dengan ‘suratmu’ tapi aku mengangguk dan mengantarkan mereka berdua—Kyuhyun dan Ji Won—hingga pintu pagar. Setelah mereka tak tampak lagi di tikungan jalan, aku masuk dengan hati yang masih bertanya-tanya.

***

D E S P A I R

***

“Aku menyukaimu.”

Aku mengerjab. Wajah Kyuhyun yang duduk di sampingku—ditaman belakang seperti biasa—tampak serius.

“Apa?” tadinya aku ingin berteriak, tapi suara yang keluar malah lemah tak bertenaga. “Aku menyukaimu.” Dia tak keberatan untuk menguang kembali kalimat yang sudah jelas aku dengar. tapi… bagaimana bisa?

Dari sekian banyak wanita yang Kyuhyun kenal, kenapa aku?

Bukankah selama ini… maksudku, selama ini aku yang berfikir bahwa Kyuhyun menyukai Ji Won. Karena selalu Ji Won yang ada di bibir dan pikirannya. Tapi kenapa tiba-tiba… aku? Dan apakah dia tidak tahu kalau Ji Won menyukainya? Bagaimana dia yang selalu bersama Ji Won tidak hu, sedangkan aku seki lihat saja langsung bisa menebak?

“Hei.”

Lamunanku buyar saat dia menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahku. Aku tersentak dan kembali menatapnya. “Aku… eh… maksudku…” Aku kehilangan kata-kata hingga sulit untuk mengucapkan apa yang ada di pikiranku sekarang.

“Tidak perlu menjawab sekarang. Lagi pula aku sudah tahu jawabanmu.” Ia tersenyum misterius. Aku mengerutkan dahi tak mengerti. Aku memang menyukai Kyuhyun. Sangat menyukainya dan aku berusaha keras untuk tidak terlihat seperti itu. Kenapa? Karena… kupikir selama ini Kyuhyun menyukai Ji Won.

“A-aku juga menyukaimu.” Aku bercicit pelan, hampir tidak kedengaran.  Tapi Kyuhyun terkekeh pelan yang langsung membuatku menunduk malu, menyadari keceplosanku yang amat sangat memalukan.

“Aku sudah tahu.” Ia terkekeh geli.

Kemudian tanganku yang tadinya bersebelahan dengannya terasa hangat. Kupikir itu reaksi karena aku terlalu malu untuk menatapnya hingga tubuhku memanas. Tapi ternyata… Kyuhyun sedang menggenggam tanganku!

“Kalau begitu, sekarang kita sepasang kekasih. Kau keberatan?” Aku menatapnya selama tiga detik, tidak mempercayai apa yang baru saja meluncur keluar dari bibirnya. Aku mengangguk senang.

“Ya.”

***

D E S P A I R

***

Sudah seminggu sejak kami memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Sikap Kyuhyun juga berubah. Kalau dulu ia menahan dirinya karena kami belum memulai apa-apa, kali ini sifatnya lebih berani. Ia sudah mulai menggenggam tanganku, mencium pipiku, walau setelah itu canggunglah yang berada di antara kami dengan wajah yang sama-sama merah, malu.

Segalanya terasa manis saat aku bersama Kyuhyun. Sampai suatu hari…

“Maaf. aku harus pergi. Ji Won menungguku.”

Kyuhyun menatapku dengan pandangan menyesal, sambil memasukkan hanphonenya ke saku celana. Barusan telepon dari Ji Won masuk, dan entah apa yang dikatakan Ji Win diseberang sana, akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk pergi.

“Ya, pergilah.”

Aku tersenyum getir sementara ia mengecup kedua pipiku. Kemudian ia berlari tergesa-gesa, bahkan tidak sempat untuk menoleh dan melambaikan tangan, seperti biasa yang ia lakukan ketika hendak pergi.

Begitu khawatirnya kau padanya, Cho?

Aku tak keberatan Kyuhyun meninggalkanku demi Ji Won. Ji Won adalah sahabatnya. Dan aku harus menghargai itu tanpa mempertanyakannya. Ji Won lebih dulu mengenal Kyuhyun dibandingkan aku. Aku tahu itu. Tapi tetap saja sudut hatiku berkerut sakit saat Kyuhyun lebih memilih sahabatnya.

Lebih memilih untuk menemani Ji Won di hari ulang tahunnya.

Padahal hari ini adalah ulang tahunku juga.

Aku tersenyum pahit sambil membawa masuk cake kecil yang hanya dimakan dua sendok oleh Kyuhyun, tepat sebelum telepon itu masuk. Akhirnya sisa cake itu aku habiskan sendiri di kamar sambil menghalau air mata yang kian menumpuk di pelupuk mata.

Pada akhirnya, Kyuhyun lebih memilih Ji Won.

***

D E S P A I R

***

Kupikir insiden ulang tahun itu pertama dan terakhir kalinya Kyuhyun meninggalkanku demi Ji Won. Ternyata tidak. Hari ini Kyuhyun pergi di tengah-tengah kencan kami. Tepatnya, kencan di taman belakang, seperti biasa.

“Maaf Mi Kyung. Ji Won demam dan aku harus membelikan obat untuknya.”

Kyuhyun bangkit dari bangku panjang di taman itu. Tapi aku menahan tangannya. “Bukankah dia memiliki pelayan yang bisa membelikannya obat?” Aku tidak berbohong. Sejak aku tahu siapa sahabat Kyuhyun yang juga bersekolah di tempat yang sama dengan kami, aku mencari tahu tentang dirinya. Seantero sekolah bahkan sampai tukang kebunpun mengenal Ji Won, gadis kaya raya yang selalu terlihat besama dengan Kyuhyun. kekayaannya bukan kekayaan pada umumnya. Kalau Ji Won sudah memegang kendali perusaan nanti—suatu saat—kalau ia mau, Ji Won bisa membeli apapun dengan boros bahkan jika ia habiskan tujuh turunan tanpa henti.

Dan tidak mungkin gadis kaya raya seperti dirinya tidak mempunyai satu pelayan pun, bukan?

Entah kenapa permintaan Ji Won kali ini agak menggangguku. Seolah-olah… dia ingin mendeklarasikan bahwa Kyuhyun adalah miliknya, dan ia akan mengganggu waktuku bersama Kyuhyun sesukanya. Karena dia tahu, Kyuhyun akan meninggalkanku demi dirinya.

Rasa sakit menyusup di dalam hati. Berdentam dan terasa panas.

Kyuhyun menarik nafas, sambil berusaha melepaskan tanganku lembut, berikut meremasnya pelan. “Bukan itu yang dibutuhkannya Mi Kyung. Ia butuh sahabatnya, aku. Ia selalu kesepian. Rumah besar yang dimilikinya tidak mengahangatkannya sedikitpun. Ayah dan ibunya sudah pasti tidak ada disana. Pelayan mereka pun hanya melakukan apa yang disuruh. Ia membutuhkanku.”

Aku menggeleng pelan. “Tapi…” Sangat berat rasanya melepas Kyuhyun, disaat ia pergi demi wanita lain. Wanita yang cintanya mungkin lebih besar dari padaku.

“Nanti aku akan datang lagi.” Ia tidak melihat mataku yang mulai berkaca-kaca, dan pergi begitu saja meninggalkanku yang menahan pedih di dalam hati.

***

D E S P A I R

***

Aku punya satu raasia yang belum kubocorkan pada Kyuhyun, tentang penyakitku. Awalnya penyakit ini tidak menggangguku sama sekali. Tapi karena aku tidak menggubrisnya dan meremehkannya, akhirnya penyakit itu menjadi ganas dan kini aku yang kesulitan.

Kanker darah.

Kanker darah adalah penyakit yang kupikir… tidak ada obatnya di dunia ini. Kalau kanker otak, ada opsi lain, yaitu operasi. Jika benjolan yang ada di selaput kepala berhasil diangkat, maka ucapkan selamat tinggal pada kanker. Bergitu juga dengan kankerl ainnya yang hanya menetap di satu tempat.

Tapi kanker darah?

Kanker itu selalu menyerang sel-sel permbentuk darah. Akibatnya aku tak bisa mengasilkan darah dengan normal, seperti orang pada umumnya. Lalu sel darah tua yang tidak terdaur ulang akan menyumbat sel darah lainnya, akibatnya menyumbat pembuluh darah. Karena itulah disebut kanker darah.

Jadi kesembuhan adalah suatu hal mustahil untuk kupikirkan. Obat yang kutelan selama ini adaah pemberian dari yayasan. Itupun hanya obat pereda rasa sakit, bukan untuk menghentikan pertumbuhn kanker. Obat yang seharusnya kuminum sangatlah mahal dan aku tau yayasan tidak memiliki uang sebanyak itu hanya untuk diberikan padaku.

Kupikir… aku harus memberitahukan ini pada Kyuhyun.

Agar dia memikirkan kembali hubungan kami.

***

D E S P A I R

***

“Hidupku… tak akan lama lagi, Cho.”

Aku mendesah berat sambil menopangkan tubuhku dengan kedua tangan di belakang, dan memandang langit luas. Selama ini kami hanya menghabiskan waktu di taman belakang. Sangat kontras dengan apa yang biasanya pasangan lain lakukan. Aku selalu menolak jika Kyuhyun mengajakku keluar. Alasan yang sebenarnya adalah karena aku lemah. Dan aku tidak mau terlihat lemah di depan Kyuhyun. Jadi kuputuskan menolak ajakan Kyuhyun tanpa alasan. Dan Kyuhyun tidak pernah bertanya.

Tapi kali ini berbeda. Aku memutuskan untuk mengatakan tentang kondisiku yang sesungguhnya.

“Apa maksudmu?”

Aku memejamkan mata, berusaha menikmati semilir angin yang membelai wajah padahal hatiku gundah. Kalau Kyuhyun meningalkanku yang ternyata seorang gadis penyakitan, apakah aku sanggup? Tapi aku lebih tidak sanggup menjalani hidup dengan kebohongan tentang kesehatanku, lebih-lebih jika ia mengetahuinya dari orang lain, bukan dariku.

“Kanker darah…  aku mengidap itu.”

Saat aku membuka mata dan menoleh ke samping, kutatap wajahnya yang tertegun, seolah apa yang barusan aku ucapkan hanya candaan.

“Aku tidak bercanda.”

Seolah tahu apa yang ada di pikirannya, aku menjawab demikian.

“Kupikir kau harus tahu. Dan aku ingin kau memikirkan kembali hubungan kita. Aku tidak mau membebanimu. Menyeretmu dalam masalahku, dan membohongimu. Aku ingin hubungan yang kita jalani tanpa ada rahasia. Dan kuharap kau pun begitu.”

Kyuhyun masih tidak berkata apa-apa. Tapi aku tahu pikiranya sedang kacau.

“Kau… baik-baik saja?”

Aku terkekeh pelan. “Seperti yang kau lihat selama ini, aku baik-baik saja.”

“Kau… sudah melakukan pengobatan?”

Kali ini aku terdiam agak lama.

“Aku tidak punya banyak uang untuk melakukan hal seperti itu.”

Kyuhyun mengerutkan dahi, “Tapi bukankah yayasan bisa membantu?” Aku menarik nafas. Kalau saja persoalannya semudah itu, mungkin aku sudah bisa bermain-main di bawah sinar matahari seperti yang lain.

“Tidak bisa. Biaya untuk pengobatan kanker darah sangat mahal Cho. Lagi pula tidak ada solusi pasti untuk kanker darah. Kanker darah Cuma bisa dihambat, tidak bisa dipulihkan sepenuhnya. Penghambatnya pun dengan cara cuci darah. Mengganti darahku dengan darah orang lain, proses yang sangat menyakitkan dan menguras biaya. Dulu yayasan pernah memberikanku pengobatan seperti itu tiga kali. Setelah itu berhenti. Mereka dengan sangat terpaksa hanya bisa memberikanku obat-obatan pereda sakit.”

Kyuhyun menerawang.

“Kalau begitu, aku yang akan membiayaimu.”

Aku terkekeh pelan. Kemudian menggeleng pelan.

“Kau tidak punya uang sebanyak itu Cho. Dan aku tidak mau memberatkanmu, bukankah aku sudah mengatakan itu sebelumnya? Lagi pula alasanku memberitahukanmu tentang penyakit ini adalah agar kau memikirkan kembali hubungan kita, jangan sampai kau menyesal mengahabiskan waktumu dengan gadis penyakitan yang umurnya tidak lama lagi sepertiku, Cho.”

Kyuhyun menggeleng tegas.

“Aku tidak akan pernah meninggalkamu, Mi Kyung-ah. Bagaimanapun keadaanmu. Aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku berjanji.”

Aku tak bisa berkata-kata mendengar ucpan tulusnya  yang menyentuh dasar hatiku. Baru kali ini. Baru kali ini ada orang yang tulus mengucapkan itu padaku. Sungguh, aku terharu.

Mataku berkaca-kaca saat aku dengan tangan gemetar menggenggam tangannya.

“Terima kasih, Cho.”

***

D E S P A I R

***

“Ji Won…”

Aku menoleh dan mendapati wajah gusar Kyuhyun. Akhir-akhir ini Kyuhyun sudah jarang membicaraan Ji Won. Entah mereka bertengkar atau hal lain. Jadi begitu nama itu keluar dari bibirnya, aku merespon, hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.

“Ada apa dengan Ji Won?”

Setidaknya aku menghormati Ji Won karena dia adalah sahabat Kyuhyun. Dan melihat ekspresi gundah yang terlukis di wajah Kyuhyun mau tak mau bertanya.

“Dia…” Kyuhyun menelan ludahnya sebelum berkata, “Dia menyatakan cinta padaku.”

Aku terdiam. Dan sangat terkejut. Sungguh.

“Apa?” suaraku selah ditelan semilir angin, dan seolah berbisik.

“Kemarin ia mengatakan bahwa ia menyukaiku. Argh, aku bisa gila. Aku sunguh tidak tahu tentang perasaannya.” Kyuhyun meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Wajahnya benar-benar terlihat sangat lelah. Seolah ia memikirkan ha itu sepanjang hari. Tapi untuk apa? Apa pernyataan Ji Won sungguh mengganggu dirinya?

Tapi dalam kondisi sekarang, aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Aku mengerti perasaan jatuh cinta tidak bisa dikedalikan sesuka hati, sama seperti halnya aku jatuh cinta pada Kyuhyun tanpa aku sadari. Cinta, suka, marah, dan berbagai perasaan lainnya adalah hak tiap manusia. Manusia tidak bisa mengendalikan perasaan dan itu adalah mutlak.

“Lalu… apa yang kau katakan padanya?”

Untuk saat ini, hanya itu yang bisa kutanyakan. Kyuhyun mendesah, masih dengan kedua tangan dikepalanya. Wajahnya pun masih masam. Walau begitu, ia menjawab pertanyaanku.

“Aku bilang padanya bahwa aku menyukaimu.” Ia melepaskan tangannya dari kepala dan meraih menggenggam tanganku. Kedua matanya menatapku teduh.

“Aku melakukan satu kesalahan, Mi Kyung-ah.” Aku mengerutkan dahi. Kesalahan seperti apa yang dilakukan Kyuhyun hingga ia harus menggenggam tanganku, seolah memohon maaf? tangannya yang menggenggam tanganku pun terasa dingin.

“Apa?” suaraku terdengar getir, dan aku tahu itu. Aku berharap kesalahan yang dilakukan Kyuhyun tidak berkaitan dengan gadis itu. Tidak. Tidak mungkin.

“Aku…” ia sempat membuang pndangannya sebelum meyakinkan diri dan menatapku, “Aku mencium Ji Won.” Ia mengatakannya dengan sulit dan aku tidak bisa berkedip. Sungguh, ini mengejutkanku.

Dan tanpa sadar, aku menarik tanganku dari genggamannya. “Apa?” suaraku seolah tersangkut dan mataku memanas.

“Kapan…” aku bahkan sudah tidak bisa melanjutkan pertanyaanku, meski begitu tampaknya Kyuhyun tahu apa yang ingin aku tanyakan.

“Sehari sebelum aku menyatakan perasaanku padamu.”

Aku menutup bibirku dengan kedua tangan. Mataku terbelalak tak percaya.

“Cho… kau…”

Ia mendesah kasar sebelum aku lihat sudut matanya berair, sama sepertiku.

“Aku tahu, aku salah. Aku tahu dengan menciumnya seolah aku memberikannya harapan. Aku salah. Aku tahu. Tapi…” satu bulir air mata jatuh membuat aliran di pipinya. Wajah Kyuhyun saat ini terlihat sangat menderita. Ia ingin menangis dan berteriak, tapi tak bisa.

Dadaku remuk redam saat tahu bahwa Kyuhyun mencium Ji Won sehari sebelum ia mengakui menyukaiku. Sejujurnya, aku tak masalah Kyuhyun mencium siapapun sebelumnya, berapa kalipun. Sejauh yang kutahu kalau ia belum menaruh perasaan padaku. Kalau sehari sebelum pengakuan, apa itu artinya dia bimbang?

Bimbang terhadap perasaannya sendiri. Dan dengan mencium Ji Won seolah ia meyakinkan dirinya sendiri siapa yang sebenarnya ia cintai.

Sampai detik ini, aku masih belum berani bertanya siapa yang ia bayangkan ketika ia mencium Ji Won. Ji Won kah, yang ada di hadapannya saat itu, atau aku, yang jauh dari tubuhnya.

Dan aku tak berani menebak. Aku takut terluka. Aku takut jawabannya tidak sesuai dengan keinginanku.

“Maafkan aku, Mi Kyung. Maafkan aku.”

Suaranya sangat lirih, matanya sembab walau ia tak mengeluarkan setetespun selain yang tadi. Aku dan dia sama-sama tahu, bahwa kami terluka karena cinta.

***

Setelah hari itu Kyuhyun tampak membaik. Benar kata orang, kalau membagi kesakitan pada orang lain setidaknya membuat bahu tak kaku lagi mengangkat beban. Ia sudah mulai tersenyum dan tidak sedikitpun mengungkit tentang Ji Won. Aku juga tahu hubungan Kyuhyun dan Ji Won memburuk. Sepertinya mereka bertengkar hebat dan aku tidak berani bertanya apa sebab dan hubungannya denganku.

Aku tahu mereka bertengkar hebat karena belakangan ini aku sering melihat Kyuhyun sendirian di sekolah, dalam artian, tidak ada Ji Won dimanapun. Biasanya, walau aku tak menyapa Kyuhyun dan memilih untuk melihatnya dari jauh, dimanapun dan kapanpun pasti ada Ji Won di sekitarnya. Tapi kali ini tidak. Wajah Kyuhyun terlihat muram saat di sekolah dan begitu juga dengan Ji Won yang tampak membenci dunia.

Aku bahkan tidak berani bertanya pada Kyuhyun takut ia akan kembali mengingat ingatan yang dibencinya.

***

“Sudah berapa lama kau… maksudku…”

“Ah, kanker ini? Eum… sejak dua tahun yang lalu.”

Aku dan Kyuhyun sudah sepakat untuk tidak merahasiakan apapun dan dimulai dengan perincian penyakitku. Ternyata bercerita tentang penyakit ini pada Kyuhyun tidak seburuk yang aku kira. Ia mendengar, dan bertanya ingin tahu.

“Kau pernah merasa takut?”

Aku mengangkat bahu.

“Sebelum aku bertemu kau, Cho. Sekalipun aku tidak takut terhadap penyakit ini. Kalaupun aku mati besok, aku siap. Lagi pula manusia hidup pada akhirnya mati. Semua akan sama saja. Yang berbeda hanya waktu yang dimiliki dan apa yang dilakukan dengan waktu itu. Tapi sejak aku bertemu denganmu, aku takut, Cho. Sangat takut.”

Ia mengerut dahi, sambil sebelah tangannya bergerak menggenggam tanganku.

“Kenapa?”

Aku tersenyum, dan menarik nafas panjang.

“Karena aku takut kehilanganmu. Sangat takut. Dulu, aku tidak memiliki satu hal berhargapun dalam hidupku sehingga kupikir aku siap mati kapan saja. Aku tidak punya ayah dan ibu yang bisa kubahagiakan. Aku tidak punya sanak saudara. Aku kosong. Tapi kali ini berbeda. Aku bertemu denganmu. Aku memiliki satu hal yang kupikir tak bisa kutinggalkan begitu saja jika aku mati. Karena itu…”

Aku menarik nafas sebelum melanjutkan, “Aku takut.”

Genggamannya di tanganku menguat dan kami saling tersenyum satu sama lain.

***

Hari-hari berlalu. Hubunganku dengan Kyuhyun semakin membaik. Ia semakin sering datang ke panti asuhan, dan aku untuk pertama kalinya datang berkunjung ke rumah Kyuhyun.

Ada ibunya yang menyambut kami dengan hangat. Beliau menerimaku dengan baik dan menggoda kami. Semua terasa hangat dan menyenangkan, seolah-olah aku mempunyai ibu kandung sendiri.

Jadi, begini rasanya mempunyai seorang ibu, yang selalu mengkhawatirkanku dimanapun aku berada. Rasanya sangat menyenangkan. Hangat. Membahagiakan.

***

Aku mulai jarang mendengar nama Ji Won keluar dari bibir Kyuhyun, dan sejujurnya aku juga tidak ingin. Aku memang egois. Aku tahu. Tapi setiap orang yang jatuh cinta adalah egois.

Hari-hari berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa kami sudah menghadapi pengumuman kelulusan. Sekarang, aku sedang menungu Kyuhyun yang sedang berjuang diantara kerumunan untuk bisa menemukan nama kami disana, diantara pada lulusan lainnya yang sedang berbahagia.

Kyuhyun terombang-ambing disana selama sepuluh menit. Ia tidak mengizinkan aku ikut bertarung karena keadaanku yang lemah. Aku akui itu menjengkelkan tapi aku menurut dan menunggunya dan berharap berita yang ia bawa adalah berita baik.

“Kita lulus!”

Wajahnya terlihat memerah karena lama berada di tempat yang berdesakan. Meski begitu, guratan keceriaan tergambar jelas di rona wajahnya.

“Benarkah?” aku mengepalkan tanganku di udara. Dan begitu ia mengangguk, aku melompat-lompat kesenangan dengan tangannya yang menyelubungi tanganku di udara. Kami tertawa riang bersama. Segalanya terasa indah.

Lalu aku berhenti melompat saat kepalaku terasa sakit, berdenyut dari dalam. Aku terkekeh sementara Kyhyun mengkahwatirkanku. “Tidak apa-apa. Aku hanya kesenangan hingga lupa bahwa tubuh ini sangat lemah.”

Aku masih tersenyum lebar walau kepalaku terasa sakit. Kyuhyun menyuruhku untuk menunggunya disini sementara ia  pergi membelikanku minuman, agar aku merasa lebih baik.

Aku mengangguk dan dia pun pergi.

“Mau sampai kapan kau menutup rahasia itu dari Kyuhyun?” aku menoleh dan mendapati Ji Won berdiri disana, dengan kedua tangan bersedekap di dada dan pandangan skeptis yang ia arahkan padaku.

“Apa maksudmu?” aku mengerutkan dahi, tak mengerti.

“Aku tahu tentang penyakitmu itu.” Aku terdiam, tak tahu membalas apa. Tapi aku cukup penasaran, dari mana dia mendapatkan informasi yang tak terduga seperti itu. Apa dia menyewa seseorang untuk mencari tahu segala hal tentang aku, wanita yang telah merebut Kyuhyun? Tapi itu tidak mungkin.

“Kau egois sekali, Mi Kyung-ssi. Kau mengikat Kyuhyun disampingnya, membuat ia bertekuk lutut di hadapanmu sampai ia bisa mencampakkanku. Tapi, kemudian apa? Kau akan mati lebih dulu dari padanya. Kau menyedihkan!”

Aku terbelalak, menatapnya tak percaya. Aku tahu. Aku tahu dari awal kalau akulah yang akan meninggalkan Kyuhyun lebih dulu. Aku tahu, tapi tetap saja aku ingin menghabiskan sisa waktuku dengan Kyuhyun. Apa itu salah?

Aku mengepalkan tanganku di sisi tubuh, menatapnya tajam.

“Lebih baik aku mati dan pernah dicintai Kyuhyun, dari pada kau, gadis yang mengais-ngais cinta pada Kyuhyun!” Aku tak tahu apa yang membuatku berkata demikian. Tak hanya Ji Won, aku pun terkejut dengan ucapanku sendiri. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kata-kata yang keluar tak bisa kutarik kembali. Bukan hanya Ji Won yang tersakiti. Tapi aku juga.

“M-mwo?!” Ji Won tampak terkejut. Aku kembali berkata-kata.

Ji Won-ssi. Sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini, tapi! tolong jangan dekati Kyuhyun lagi. Aku tidak suka kau terlihat bersamanya.” Hentikan. Hentikan. Aku tak mau berkata seperti itu. Hentikan. “Ah, lagi pula kau sudah dicampakkannya. Tidak ada alasan lagi untukmu mendekatinya kan?” hati dan pikiranku bersiteru. Aku mengatakan hal yang sebenarnya tak ingin kukatakan. Mataku panas dan dadaku sesak. Aku ingin menangis tapi tak bisa.

Plak!

Sedetik setelah mengatakan hal itu, satu tamparan keras mendarat di pipiku. Aku terdiam. Aku menggigit bibir bawahku dan merasakan rasa asin yang menyentuh lidah. Berdarah. Tamparannya melukai sudut bibirku.

“Jaga ucapanmu, Mi Kyung-ssi. Aku penasaran hal apa yang membuat Kyuhyun bertekuk tulut padamu. Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah terlihat dekat dengan wanita selain aku. Tapi begitu kau datang, ia langsung terpikat pada mu. Haaa, aku tahu. Pasti kau rela menanggalkan pakaianmu di depannya ya? Iya ‘kan? Dasar wanita jalang!”

Aku mendongak, menatapnya nyalang. Kini amarahku sepenuhnya naik setelah dihina seperti itu. Hatiku tak terima dikatai wanita jalang oleh wanita yang bahkan telah ditolak oleh Kyuhyun. Aku tidak terima! Aku sudah membuka mulut ingin membalasnya, tapi…

“Ji Won!”

Aku dan Ji Won sontak menoleh ke samping, disana Kyuhyun berdiri menatap sudut bibirku dengan tatapan tak percaya. Ia mendekati Ji Won. Sebelah tangannya terangkat.

Jangan…

Plak!

Namun aku terlambat mengatakannya. Kyuhyun terlanjur menampar Ji Won lebih keras daripada ia menamparku. Bahkan Ji Won harus memundurkan tubuhnya karena tamparan itu.

Kulihat tubuh Kyuhyun kaku, dan pandangannya kosong. Aku tahu, ia melakukan hal itu diluar kendalinya.

Ji Won menyentuh sudut bibirnya yang terluka lebih parah dariku, lalu tersenyum. Hatiku ikut memanas setelah apa yang dialami Ji Won. Dia mencintai Kyuhyun. Dan Kyuhyun menamparnya. Sudah pasti Ji Won sakit hati.

“Besok…” ia meringis sebelum melanjutkan, “Aku akan pergi. Kalau kau masih mengangap aku adalah orang yang pernah dekat dengamu, datanlah ke bandara. Kuanggap itu sebagai ucapan perpisahan.”

Ji Won membalikkan tubuhnya dan berjalan lunglai. Sedetik sebelum ia membalikkan tubuhnya, aku melihat ada linangan air mata di wajahnya. Lalu aku menoleh menatap Kyuhyun. Kulihat tangannya bergetar hebat. Wajahnya pucat dan matanya kosong.

“Aku… menyakitinya.”

Dengan suara parau yang serat oleh kesakitan, ia menatapku.

“Aku menyakitinya, Mi Kyung-ah.” Mata Kyuhyun memerah, dan sudut matanya berair. Tubuhnya masih bergetar hebat, dan aku memeluknya. Berusaha menenangkannya yang sedang terguncang.

“Maafkan aku, Cho.”

***

[Han Mi Kyung, 5 tahun kemudian]

Hari itu aku tidak berani bertanya, apa Kyuhyun datang ke bandara atau tidak. Apa mereka berbaikan atau tidak. Tapi dari raut wajahnya, aku tahu itu bukan hal yang baik. Lalu setelah hari itu kami tidak pernah membahas lagi tentang Ji Won. Sekali pun.

Kyuhyun masuk ke universitas, sedangkan aku memilih untuk menghabiskan waktuku di rumah sakit. Lagi pula aku tidak punya biaya untuk bisa melanjutkan kuliah, pun dengan kondisiku yang tidak memungkinkan. Kyuhyun bekerja sambil kuliah, untuk membiayai pengobatanku padahal aku dengan keras menolaknya. Ia hanya menghabiskan biaya dan waktunya hanya untuk seseorang sepertiku, seseorang yang bahkan sisa hidupnya tak lama lagi.

“Jangan Cho. Jangan paksakan dirimu.”

Kyuhyun menggeleng. Wajahnya terlihat sedih saat aku menolak bantuannya.

“Kalau kau menolak usahaku, kau juga menolakku secara tidak langsung, Mi Kyung-ah.”

Aku terdiam, menarik nafas dan menggenggam tangannya. Aku berfikir, jika aku melakukan sesuatu untuk Kyuhyun dan dia menolaknya, aku akan sedih, seolah tidak dihargi. Karena itulah aku menerima. “Baiklah. Lakukan apapun yang kau mau. Tapi jangan memaksakan dirimu, ya?” dia mengangguk. Kemudian wajahnya mendekat dan mencium keningku lembut.

“Saranghae, Mi Kyung-ah.”

“Nado.”

***

Kyuhyun berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak dan ia juga mengurus surat perizinan yayasan Sky Corp untuk mengobatan. Tentu saja aku senang. Artinya, beban Kyuhyun sedikit berkurang.

Namun ternyata tidak. Ibu Kyuhyun mengalami hal yang sama denganku. Kanker darah yang juga menyedot habis energinya. Kyuhyun kembali bekerja keras dan bahkan hampir melupakan bahwa ia perlu istirahat.

Lalu, berita itu datang. Berita baik tentang pengangkatan pangkat Kyuhyun, bersamaan dengan mimpi buruk itu.

“Ji Won… Ia akan kembali besok.”

Aku tahu, hari ini akan datang. Kyuhyun bekerja di perusahaan milik Ji Won yang sudah pasti akan Ji Won ambil alih suatu saat.

“Oh…”

Aku terdiam. Secara logika, Kyuhyun dan Ji Won tidak akan bertemu walau mereka berada di gedung yang sama. Pangkat Kyuhyun dan Ji Won d perusahaan sangat jauh berbeda. Kyuhyun hanya pegawai biasa yang baru saja naik pangkat, sedangkan Ji Won? Ia adalah pimpinan tertinggi, CEO yang sukses. Kurasa, mereka tidak akan bertemu.

Dan kupikir, Ji Won tidak tahu kalau Kyuhyun bekerja untuknya.

Tapi itu hanya pikiranku. Sedangkan hatiku berkata lain.

Bagaimana kalau ternyata mereka bertemu? Bagaimana kalau ternyata Ji Won tahu Kyuhyun bekerja untuknya? Dan masih bnyak ‘bagaimana’ yang berkecamuk di dalam pikiranku tanpa satupun ada jawaban.

***

Lalu kenyataan yang kudapatkan adalah, Ji Won mempermainkan kami. Aku, Kyuhyun dan ibu Kyuhyun. Dengan sangat kejam ia meminta Kyuhyun untuk memilih, siapa yang akan ia selamatkan. Aku tahu Kyuhyun pasti sangat bimbang. Dari awal aku sudah bilang kalau ia tidak perlu memikirkan aku yang hidup akan sangat singkat. Seharusnya dari awal dia memilih ibunya, tapi Kyuhyun menggeleng keras.

Kupikir, dengan mendatangi Ji Won ke kantornya akan membuatnya iba dan membantu ibu Kyuhyun yang keadaannya lebih parah daripada aku. Tapi Ji Won tersenyum kejam.

“Kalau begitu… serahkan Kyuhyun padaku.”

Ia meminta satu-satunya hal yang kumiliki di dunia ini!

Namun bayangan Kyuhyun menemui ibunya yang bahkan tidak terbangun selama dua hari, membayangkan Kyuhyun yang menitikkan air matanya sambil menggenggam erat tangan seorang wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya, aku terenyuh.

“Baiklah, akan kulakukan jika itu bisa menyelamatkan ibu Kyuhyun.”

Aku mundur.

***

Setelah aku menemui Kyuhyun hari itu, kesehatanku memburuk karena tidak mendapatkan fasilitas seperti biasa. Semuanya diblokir oleh Ji Won dan aku bahkan tidak ingat apa yang aku alami di atas tempat tidur. Padanganku berkabut, dadaku sesak luar biasa, tenggorokanku panas seolah dibakar, dan perutku bergejolak kuat. Samar-samar aku melihat Kyuhyun menggenggam tanganku, sudut matanya berair. Aku merasakan rembesan darah keluar dari hidung dan telingaku. Kepalaku terasa sangat sakit seolah akan pecah.

Lalu, semuanya gelap.

***

Saat aku tersadar, yang kulihat pertama kali adalah langit-langit kamar rumah sakit yang biasanya kutempati selama aku dibiayai oeh Sky Corp. Ada kebingungan karena seharusnya Ji Won hanya menyelamatkan ibu Kyuhyun, namun saat aku ingin bertanya, Kyuhyun tidak ada dimanapun.

Lalu dia datang, dengan segala kemuraman yang tercetak jelas diwajahnya.

“Aku… akan menikahi Ji Won.”

Aku terhenyak. “Apa…?” aku berharap yang barusan kudengar dari mulut Kyuhyun hanya candaan. Tapi wajah Kyuhyun terlalu muram untuk dikatakan sebagai bercanda.

“Aku akan menikahi Ji Won, Mi Kyung-ah.”

Aku menggeleng. “Tidak mungkin.” Kyuhyun mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia mendesah panjang dan mengangkat wajahnya menatapku.

“Aku harus melakukannya untuk menyelamatkan ibu dan kau, Mi Kyung-ah. Aku tidak punya pilihan lain. Aku… tidak bisa memilih satu diantara kalian. Kalian sama berharganya untukku.”

Aku masih menataonya dengan tatapan tidak percaya.

“Kau tidak harus melakukan itu! Ji Won sudah berjanji akan menyelamatkan ibu jika aku yang mengalah!” suaraku tercekat di tenggorokan, walau aku sudah berusaha keras untuk berteriak.

Kyuhyun menghela nafas.

“Aku tidak bisa membiarkanmu menderita seorang diri, Mi Kyung-ah. Aku mencintaimu. Tak bisakah kau mengerti kenapa aku melakukan semua ini?”

Sama sepertiku, dia juga terlihat lelah. Lelah dengan semua permainan takdir yang begitu kejam. Kyuhyun berkata ingin menyelamatkanku. Ya, secara harfiah dia memang melemparkan dirinya kedalam api untuk menyelamatkanku. Tapi secara emosional, dia tanpa sadar menyakitiku.

Dia akan menikah. Dengan wanita yang cintanya lebih besar dari padaku. Yang cintanya lebih teguh dariku. Bukan berarti aku mengakui bahwa aku kalah dalam hal mencintai Kyuhyun, tapi Ji Won sudah banyak tersakiti dan itulah yang membuat cintanya lebih kuat dari padaku. Walau begitu, aku masih tidak mau menyerah. Satu-satunya yang kumiliki di dunia ini adalah Kyuhyun seorang.

Aku hancur. Kyuhyun hancur. Ji Won hancur. Entah sampai kapan kami bertiga terus berada di lingkaran takdir yang membawa petaka ini. Waktu semakin berlalu tapi tak satupun dari kami yang menemukan jalan keluar.

Lelaki yang kucintai.

Lelaki yang kusayangi.

Lelaki yang kupuja.

Harta satu-satunya milikku.

Besok akan berada di dalam genggaman wanita lain.

Aku hancur.

***

Aku memalingkan wajah begitu Kyuhyun dan Ji Won sah dalam ikatan pernikahan. Hatiku mencelos melihat Kyuhyun di sana mencium kilat dahi Ji Won, walau tatapan Kyuhyun kosong.

Aku menutup bibirku yang bergetar. Mataku memanas dan aku tahu sebentar lagi aku akan menangis. Jadi, sebelum siapapun di ruangan yang sepi ini memergokiku menangis, aku memilih pergi.

Pergi dengan hati yang hancur.

***

Kyuhyun tidak meninggalkanku. Walau ia sudah menjadi seorang suami, dia tidak pernah meninggalkan aku dan aku sangat bersyukur akan hal itu. Kami menghabiskan waktu bersama, bercerita banyak hal dia atas semua kesakitan yang kami lalui bersama.

Sedikitpun Kyuhyun tidak bercerita tentang Ji Won, atau hal-hal yang menyangkut dengan pernikahannya. Sejujurnya pun aku tidak ingin tahu, karena itu aku tidak bertanya atau menyinggungnya. Hal itu hanya akan menyakiti kami berdua.

Lalu berita itu datang. Berita yang mengatakan bahwa Ji Won hampir mati karena menyelamatkan Kyuhyun. Kyuhyun selamat dan ada harga yang harus dibayar untuk itu. Tuhan mengambil kaki Ji Won sebagai balas telah menyelamatkan Kyuhyun.

Kyuhyun terpuruk. Ia merasa bersalah karena dirinya, Ji Won mengalami hal seperti itu. Walau aku berkali-kali mengelus punggungnya dan mengatakan bahwa itu bukan salahnya, tapi ia tetap saja menyalahkan dirinya sendiri.

Ji Won koma, dan ditengah-tengah itu, cobaan kembali menghampiri Kyuhyun. Ibunya meninggal. Kyuhyun kembali terpuruk. Yang bisa kulakukan hanyalah mengisi tempat di sampingnya dan terus-terusan membuatnya merasa lebih baik. Aku tidak menyangka ibu Kyuhyun akan pergi secepat ini. Takdir tidak ada yang bisa menebak. Dan manusia hanya bisa mengikuti alur.

Aku lelah. Dan mulai bertanya-tanya, kapan ini semua akan berakhir?

—END of Mi Kyung POV—

Epilog.

[Isi surat beramplop hitam]

Aku… tidak tahu bagaimana mengatakan hal ini padamu.

Kita awalnya tidak perah bersinggungan, lalu menjadi teman.

Dekat, dan mendapati kalau kita satu sekolah.

Kau tahu, aku menulis ini karena tidak ingin mengatakannya secara langsung.

Aku tidak memiliki keberanian sebesar itu.

Aku menyukaimu. Aku menyukaimu.

Hanya itu.

***

Ji Won menghampiri anak kecil yang ia titipkan surat padanya.

“Sudah?” Ji Won bertanya kikuk. Anak kecil itu menoleh, meninggalkan mainan pasirnya sesaat. Ia mengangguk.

“Sudah, nuna.” Ji Won menggigit bibirnya.

“Benarkah? Kalau begitu… ini. Terima kasih ya.” Ji Won menyodorkan permen lolipop dan tersenyum kecil.

Ia melirik Kyuhyun dari kejauhan, tampak mengobrol dengan Mi Kyung. Seharusnya surat itu sudah dibaca oleh Kyuhyun kalau memang sudah diantarkan oleh anak kecil ini. Minimal, Kyuhyun pasti akan mencari dirinya dan mempertanyakan perihal surat itu, terlepas dari jawabannya kelak.

Tapi ia tidak melihat Kyuhyun memegang amplop itu. Apa surat itu tidak sampai? Atau anak kecil ini salah memberikannya pada orang lain? Ah, mungkin saja.

Karena itu, kuputuskan untuk mengungkapkannya secara langsung.

***

END

***

Dari part ini, Jo mau tegasin kalau Mi Kyung engga tau kalau surat itu adalah surat cinta dari Ji Won untuk Kyuhyun. Yang Mi Kyung tahu, dia pernah melihat amplop itu di tangan Ji Won. Dan Ji Won pikir, surat itu tak pernah sampai ke tangan Kyuhyun. Makanya dia memilih untuk bilang langsung.

Ji Won ga salah, Mi Kyung ga salah, Kyuhyun juga ga salah.

Yang salah si author XD

Oke, setelah ini baru INSA 12 muncul *yeeey

YANG ENGGA NINGGALIN KOMENTAR JO DOAIN DAPAT KYUHYUN!!!

*eh

49 thoughts on “It’s Not Same Anymore Part Extra (Despair)

  1. ini kerasa banget sakitnya,, walupun nih aku udah samar” inget critanya 😄😄😄
    Tapi bagus thor I LIKE IT!!
    Sukses terus thor .. buat lagi ff tapi happy ending ya
    😄😄😘

    Suka

  2. Oke. Biasanya sih, aku nulis pendapatku di akhir. Tapi ini aku balik di awal, karena aku kecewa banget. Seharusnya kalo part ini lebih dulu diterbitin diblog lain, penulisannya akan lebih baik. Minimal editing kecil ya. Banyak banget kesalahan penulisan soalnya.

    NB : tanda baca sama dengan (=) itu artinya sebenarnya/seharusnya.

    Didepan di depan (menunjukkan tempat/benda). Kedepan = ke depan. Didalam = di dalam. Kedalam = ke dalam. Dirumahpun = di rumahpun. Ditangannya = di tangannya. Ditaman = di taman. Dikepalanya = di kepalanya. Diwajahnya = di wajahnya.

    Pada mu = padamu.

    Gemilang harta = gelimang harta. Ketinggalan = tertinggal. Penajat = penjahat. Orng = orang. Lngkahku = langkahku. Meju = maju. Meeka = mereka. Biasa orang lain = biasanya orang lain. Waapun = walaupun. Yng = yang. Kurasaan = kurasakan. Betulan = sungguh. Berasa (mengandung rasa) = berasal. Yang miliki = yang dimiliki. Menguang = mengulang. Seki lihat = sekali lihat. Raasia = rahasia. Permbentuk = pembentuk. Mengasilkan = menghasilkan. Adaah = adalah. Pertumbuhn = pertumbuhan. Tau = tahu. Barusan = baru saja. Pikiranya = pikirannya. Cuma = hanya. Membicaraan = membicarakan. Selah = telah. Ha itu = hal itu. Dikedalikan = dikendalikan. Pndangannya = pandangannya. Menferut dahi = mengerutkan dahi. Diantara pada lulusan = di antara para lulusan. Dihargi = dihargai. Mengobatan = pengobatan. D perusahaan = di perusahaan. Bnyak = banyak. Menataonya = menatapnya. Dia atas = di atas.

    Kalo salah satu nulis nama dengan Kyuhun, misalnya. Berarti nama yang lain juga harus ditulis seperti itu. Exp : Na ra = Nara. Gitu. Pahamkan?

    Kalo bisa hindari kata ‘Kan’, ‘duh’, ‘sih’, dll. Karena kata tersebut masuk ke dalam kata yang nggak baku atau masuk ke dalam bahasa gaul/sehari-hari.

    Dalam satu paragraf itu terdiri dari minimal 3 kalimat dan maksimal 7 kalimat. Untuk menghindari kejenuhan pembaca. Seringnya sih, aku ngeliat satu paragraf yang banyak/padet banget itu udah bikin males baca.

    Sebelum tanda baca tidak ada spasi dan sebaliknya, setelah tanda baca itu ada spasi. Contoh : Kau! Apa yang kau lakukan? Aku tidak mencintaimu. (Dan seterusnya). Terus, setelah tanda baca titik (.), tanda tanya (?), seru (!), itu seharusnya awal kata dalam kalimat adalah huruf besar atau kapital.

    Typo jangan dipelihara.
    Keep writing!!!

    Suka

  3. Please.. Itu berarti kyu salah dong kalo ngira ntu surat dr mikyung !? Ahhh kasian jiwon .. Please bales k kyu apa yg pernah d alami jiwon biar kyu tau rasanya gma.. Tpi ngak tega jga sih.. Ahhh pokoknya d tunggu next part ya kak 😉
    keep writing kak

    Suka

  4. Entah kenapa gue gak suka mi kyung dari awal, bahkan setelah ada part ini yg dari sudut pandang mi kyung, tetep aja gak suka mi kyung.
    Mungkin karna dia semacam mencintai dengan memanfaatkan keadaannya. Zzz

    Suka

  5. Dari awal ini udah ada k salah pahaman …
    Salahkan Authornya … #keroyokAuthornya 😀
    Kenapa d suratnya kaga d lasih ttd ? Jiwon
    Pasti nanti Kyu tau itu surat dari siapa ?!

    Tapi huuhhh
    Mikyung d sini d buat egois amat ! -_-
    Padahal dia udah tau jelas kalau itu bukan surat dari dia, tapi kaga mau bilang jujur -3-
    Egoislah

    Suka

  6. Menurut aku sih, sebenarnya kyu lebih sayang sama jiwon, dua cuma ga sadar aja dan berhubung si mikyung cem angel dan baek ati nya kyu jtuh cnta sama dia, padahal mah jauuuuuuh dari lubuk atinya dia mah cnta bget sama kyu, malah dalem banget. Nah, itu sih menurut aku :v btw aku dulu nya silent readers. Jadi bukan reader baru. Dan thor, peluk dan cium untuk moeh :v ff nyaa gila swag sangat :*

    Suka

  7. setuju saja sich klw semua ini salah authour orang die sendiri yg bikin ceritanya..mo gimna lagi reader ikut aja. tpi aku pendukung ji won.
    gx dapat kyuhyun gpp gue ngarepnya donghae..

    Suka

  8. Dapet kyuhyun ya. Amiin. Siapa yg mau nolak kyuhyun hihihi. Iya author yg salah bikin reader sebel aja sama kyumbul. Tapi ceritanya sukaa padahal blm baca part sebelumnya. Nanti deh bacanya hihihi. Ditunggu kelanjutannya authornim

    Suka

  9. Tapi diliat dari ceritanya mikyung lumayan jhat kak, kenapa dia gak cerita aja yg sejujurnya klu bukan dia yg kasih suratnya. Kyuhyun juga kenapa kepikirannya itu mikyung bukannya jiwon???? 😑😑😑😑😑

    Suka

  10. Emang benerrr….
    Authornya yg laling salahh… 😂😂😂

    Aduhhh ya ampunn kisah mereka miris sangattt…
    Aku lagi2 mewek pas adegan (?) Kelulusan merekaa,,,
    Mirissss,,, sakit hati aku buat jiwonn..
    Segitu amat yee….
    Sangat ditunggu part selanjutnya… semangat….!!!

    Ohh iyaaa author punya blog pribadi ya…???

    Suka

  11. amin,,,,,dapat kyuhyun.
    sebel aq sama kyuhyun ma mi kyung.sudah tau penyakitan bakalan mati tetep aja mau ama kyu,udah tau ji won cinta mati ama kyu,kenapa mi kyung gak ikhlasin kyu ma ji won aja.di tunggu part 12 nya jo,jangan lama2 publis nya

    Suka

  12. Tetep milih jiwon…. krn dr awal jiwon yg udah banyak berkorban buat kyuhyun…. apa ga ada rasa cinta sedikit saja di hati kyuhyun buat jiwon??
    Penasaran gimana reaksinya kyuhyun klo ketemu jiwon lg…tentu dg kondisi jiwon yg udah berubah total? Luarnya doang…dalamnya mah tetep, slalu ada tempat buat kyuhyun di hati jiwon..

    Suka

  13. Ah aku lebih suka jiwon kak… Aku pendukungnya😃😃.. Sebel aja kalo baca part mikyung, karena mau gimana pun aku lebih suka jiwon sih😂 jadi? ini siapa yang salah?… Yg gak komentar di doain dapat kyuhyun? Makasih kak, tapi Donghae lebih menggoda, makanya aku komen, takut doa kakak terkabul 😜😂😂😂 Semangat terus untuk next partnya kak 😊

    Disukai oleh 1 orang

  14. Jadi kalo author yg slah , enaknya kita kasih hukuman apa ??😏😂
    Bakalan ada pov nya ji won sama kyu nggk kak ?
    Fix deh yah . Smngat kaka ..

    Suka

  15. Pokoknya ditunggu INSA part 12 …..bener2 gk sabar….maksa hehe……ternyata bukan hanya Ji-won yg tersakiti tp mi Kyung jg tersakiti…. Dilihat dari sisi mi Kyung ternyata kalau Kyuhyun sebenarnya mempunyai rasa terhadap ji won ,tanpa disadari oleh Kyuhyun….hah benar nyesek…..semuanya tersakiti karena cinta …jangan lama2 ya lanjutanya udah greget banget pingin tahu lanjutanya

    Suka

  16. aaahhhh bingung mau komen apa, htiku jdi terombang-ambing krna drimu thor..
    intinya bingung, gk ad yg bsa buat dslhin. jdi ah gtwlahh
    keep fighting write ya thor, part 12 nya dtunggu scpatnya hohoho

    Suka

  17. Oke semuanya nggak salah,tp yg saya pertanyakan adakah cinta dr kyu untuk ji won walau pun adakah sedikit pada masa sekolah dulu?apa ia benar2 mencintai mikyung bukan mengganggap mikyung hanya sebatas sependeritaan sajakah,jd pertanyaan juga kenapa kyu mencium ji won,jd kyu ragu ya akan perasaanya….antara jiwon dan mikhyung…jd surat itukah yg ditemukan kyu pada kamar ji won waktu itu……

    Suka

  18. Waaahh..
    Akhirnya mi kyung ada partnya yaaa..
    Hmmm…cinta emang egois,cinta itu ga salah..but at last jangan membenarkan sesuatu yg salah..itu menurut q
    Okey ,semangat yaa buat yg lanjutin cerita ff ini..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s