SUN Flower (Butterfly) Part 14


image

Title : SUN Flower (Butterfly)

Author : DEVITA

Gendre : Colosal, Angst, Romence, Drama, Thrailer, NC

Ranting : 21+

Cast :
Kim Taehyung
Choi Min Gi
Park Jong Soo
Han Ahn Rin
Kim Seokjin
Park Ji Soo
BTS member & Super Junior Member&SNSD

Author Note :

Hohoho udah lama nungguin author? Author seneng banget udah dapet dukungan kalian buat lanjutin nih ff. Ternyata masih ada yang mau nungguin nih ff yang kek sinetron tersanjung panjangnya kkkk. Author juga suka pas readers bilang gaya bahasa author bagus jadi serasa nonoton drama. Disitu author merasa terbang permisaahhh…. itu karena prinsip author juga sih.

Nih yah kalo author baca cerita, entah itu novel, atau pun ff hal yang pertama kali author liat dari tulisan itu pasti diksinya dulu. Diksinya enak dibaca atau enggak, kalo enggak langsung author tinggalin ceritanya. Karena diksi yang bagus itu menandakan kematangan seorang author dalam bercerita sama ceritanya. Masalah nanti sad ending apa happy ending apa siapa tokohnya asalkan diksinya bagus itu author pasti author lama yang nggak bakal sembarangan bikin cerita yang nggak masuk akal. Jadi ceritanya berasa nggak dramatis banget tapi enak dibaca

Kalo readers baca cerita, apa yang kalian lihat pertama kali dari cerita itu? gendrenya kah? Tokohnya kah? Atau sama kayak author, diksinya?

Sambil mikir yuk capcus kita ke cerita….

                            SUN Flower Part 14
                                (Dreaming)

Tae Hyung membuka matanya kembali mendengar suara langkah kaki Min Gi yang mendekat padanya. lelaki itu menarik nafasnya pelan melihat wajah damai Min Gi yang menatapnya seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka berdua. Tae Hyung mendekatkan wajahnya pada wanita itu sampai ujung hidungnya menyentuh pipi kiri Min Gi. Biar ia ingat lagi apa yang terjadi semalam, lelaki itu menutup matanya sejenak. Semua itu bukan mimpi, Min Gi mendatanginya, menangis padanya, tersenyum, lalu menyetuhnya lalu memeluknya dan menjadi miliknya.

Tapi setelah itu wanita ini memintanya meninggalkannya begitu saja? Apakah Min Gi pikir Tae Hyung adalah lelaki sebejat itu? Min Gi memintanya melupakan semua yang terjadi begitu saja, seperti dia yang akan melupakan Tae Hyung. Choi Min Gi kau tidak bisa menyamakan isi kepala satu orang dengan orang lain. Mungkin bagimu bisa melupakan Tae Hyung adalah sebuah kebahagiaan karena kau tidak perlu merasa tersiksa lagi, Tapi bagi Tae Hyung. Melupakanmu sama seperti melupakan kedua orang tuanya, melupakan semua yang kau lakukan dan kau berikan padanya. Benar semua yang kau ucapkan, kau berada disini untuk nyawa Tae Hyung, bukankah itu berarti nyawa Tae Hyung ada di tanganmu? Nyawa ini adalah milikmu Choi Min Gi.

Sebutkan satu alasan kenapa aku tidak boleh mengorbankan nyawa ini untuk diriku sendiri sedangkan kau tau nyawaku ada di tanganmu? Kau mengorbakan hidupmu untuk nyawa ini maka biarkan nyawa ini menyelamatkanmu suatu hari nanti kenapa kau tidak mengerti? Choi Min Gi… kau bilang kau tidak ingin kehilangan Tae Hyung bukan? Lalu apa yang membuatmu berfikir bahwa Tae Hyung mau kehilanganmu? Benar kata Seok Jin, setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk melindungi orang-orang yang disayanginya. Kau melindungi Tae Hyung dengan meninggalkannya, dan Tae Hyung melindungimu dengan caranya sendiri.

Min Gi mulai terasa terusik dengan rasa geli nafas Tae Hyung yang menerpa telinganya wanita itu bergerak gelisah menggeser kepalanya sebelum menoleh ke arah pintu. Hangat, bagaimana ia merasakan denyutan nadi dan jantung Tae Hyung di dekatnya yang seirama membuatnya ingin berada di posisi ini selamanya. kepalanya menoleh ke arah Tae Hyung mendapati lelaki itu sedang memandanginya.

“Aku pergi…” ucap Min Gi tepat di depan wajah Tae Hyung dengan nada yang halus, wanita itu tidak lagi menatapnya dengan tatapan dingin tapi itu membuat Tae Hyung semakin marah.

Tae Hyung tidak tau kenapa alasan ia ingin melihat mata dingin Min Gi yang sengit menatapnya kembali. Kemarin ia masih membenci tatapan itu tapi sekarang ia sadar, bahwa kebencian itu juga bagian dari rasa perduli. Tae Hyung bahkan tidak sadar sekarang malah dia yang menatap Min Gi dengan tatapan dingin.

Wanita itu mengalihkan tatapanya ke arah lain mendapati betapa tidak sukanya Tae Hyung dengan ucapan singkatnya itu. Jangan tanya bagaimana mengerikannya mata tajam yang sedang menatapnya marah di sampingnya, percayalah kau tidak akan sanggup melihatnya. Min Gi menarik nafasnya yang sedikit bergetar lalu menghembuskanya tanpa suara, tanganya tertaut menjadi satu tangan saling mengepal satu sama lain.

“Kita sudah membicarakan ini semalaman dan kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan…” Kata Min Gi tanpa menatap Tae Hyung.

“Lalu meninggalkanku begitu saja.” Potong Tae Hyung.

“Aku tidak pernah meninggalkanmu, jika aku meninggalkanmu kau tidak akan berdiri disini sekarang.”

“Ah benar, mungkin aku sedang berada di neraka Noona, tapi percayalah padaku hidup ataupun mati tidak ada bedanya untuk ku. Tapi karena kau yang menginginkan aku hidup, maka baiklah, aku akan hidup seperti bonekamu.”

Lelaki ini tau benar bagaimana cara yang jitu memancing emosi Min Gi. wanita itu menoleh menatap langsung ke mata Tae Hyung, ia tidak lagi perduli jika mungkin mata lelaki itu mampu mengiris tubuhnya menjadi dua karena mata Tae Hyung bukan hal yang terburuk dalam diri lelaki itu tapi mulutnya.

Tae Hyung menyeringai mendapati tatapan marah Min Gi kembali lagi padanya. “Kau ingin aku hidup seperti itu? aku adalah boneka kesayanganmu yang tidak boleh tergores sedikit pun. Yang tidak pernah kau biarkan bergerak dari tempatnya, boneka tidak hidup benar kan Noona?”

Kemudian lelaki itu semakin merunduk mendekatkan wajahnya pada Min Gi, jari-jari panjang Tae Hyung mengangkat rahang Min Gi sperti mengangkat berlian besar membuat tubuh wanita itu bergetar. “Tapi tidak apa-apa, apa pun untukmu Ibu Permaisuriku sayang karena seperti yang kita tau, nyawaku ada di tanganmu.” Bisik Tae Hyung tepat di atas bibir Min Gi.

Tidak ada yang tau betapa inginnya Min Gi menarik kerah baju Tae Hyung membuat bibir mereka menyatu, kemudian tubuh mereka. Tapi yang ia lakukan malah mendorong dada Tae Hyung menjauh darinya membuat lelaki itu tersenyum kecut sambil mendengus.

“Aku tau ini sulit untukmu, kau pasti sulit menerimanya tapi ini kenyataan Tae Hyung-ah. Belajarlah untuk memandang dunia dengan cara yang berbeda dan kau akan terbiasa. Kau tidak akan tau sebelum kau mencobanya…” Min Gi berusaha mengendalikan dirinya lagi, ia tidak boleh terpancing oleh semua ucapan Tae Hyung dan menunjukan semua kepedulian, kemarahan dan kekhawatiranya atau lelaki itu akan semakin berharap padanya.

Tae Hyung terdiam menatap Min Gi masih dengan tatapan tajamnya, tapi kemudian ia menutup matanya sejenak dan menghembuskan nafas. Saat Tae Hyung membuka matanya kembali wajah dan tatapanya berubah total membuat Min Gi sedikit terkejut dengan kemampuan Tae Hyung mengubah mimik wajahnya dalam satu detik. Jadi apakah seperti itu cara akal licik, raut wajah Tae Hyung serta mulut manisnya bekerja sama?

“Aku mengerti…” jawab lelaki itu pada akirnya dengan raut yang tenang tapi malah membuat Min Gi merasa takut, wanita itu memalingkan wajahnya beberapa saat.

“Aku pamit…” kata Min Gi tidak bisa berkata apa-apa lagi, wanita itu kemudian berbalik berjalan menju pintu keluar kamar Tae Hyung.

Tae Hyung terdiam dengan wajah tenangnya menatap punggung Min Gi menjauh perlahan lalu tertelan dua daun pintu kamarnya. Lalu detik berikutnya sudut bibir kanannya tertarik tatapan tenangnya menajam menatap pintu kamarnya yang tertutup.

“Benar kau tidak tau sebelum kau mencobanya Choi Min Gi, mungkin seseorang yang harus kau khawatirkan bukan aku. Tapi aku senang kau mengkawatirkanku lebih dari Jung Soo…” dan aku bukan lelaki tolol yang akan melepaskan apa yang sudah berada di genggamanku begitu saja. Pertama kau sudah menyerakhan hidupmu padaku lalu hatimu dan sekarang tubuhmu, apa kau fikir aku akan melepaskanya begitu saja? Kemana kau membawa dirimu Choi Min Gi? jika kau ingin menghentikanku maka tempat ini adalah hal pertama yang harus kau jauhi tapi kau malah datang dengan seluruh kecantikanmu sebagai tumbal untuk membuatku menjadi benar-benar seperti iblis yang sudah buta.

*****

Seohyun tersenyum tipis setelah melakukan pertemuan dengan babarapa bangsawan pendukungnya. Dong Hae meninggal walaupun bukan Seohyun penyebabnya, walaupun sama sekali tidak terfikir oleh benaknya bahwa semuanya akan berakhir di luar kendali Jung Soo tapi dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan bukan? Ia tidak tau kematian Dong Hae memang karena kecelakaan atau direncanakan oleh seseorang tapi satu yang pasti. Seohyun berterima kasih pada orang itu.

Jung Soo pasti akan mencari pengganti Dong Hae dan Lee Hyuk Jae akan menjadi kandidat berat pengganti Dong Hae. Kau tau apa yang menyenagkan? Karena Hyuk Jae adalah salah satu pengikutnya, dengan begitu. Kekuasaanya di istana akan semaki besar dan berpengaruh, ia bisa mempengaruhi bagian pertahanan jika ia berhasil. Min Gi bisa saja menyadang gelar sebagai Permaisuri, tapi lihat siapa yang lebih berkuasa? Bukankan ini akan mempermudah jalanya menggulingkan Permaisuri muda yang angkuh itu?

“Nyonya besar…” seorang pelayan bericara di depan pintu mengganggu lamunanya. Seohyun menghela nafas lalu menoleh ke arah pelayan muda yang sedang membungkuk itu.

“Ada apa?”

“Yang Mulia Pangeran Tae Hyung ingin bertemu dengan Anda…”

Mendengar itu alis Seohyun sedikit berkerut, ada urusan apa bocah itu menemuinya? Bukannya terganggu hanya saja ia dan Tae Hyung seperti orang asing di istana ini walaupun secara konvensional Tae Hyung bisa di bilang juga sebagai anak tirinya. Mereka tidak pernah bericara, tidak satu patah kata pun semenjak kedatangan Tae Hyung. Tae Hyung memang sering menyapa dan membungkuk hormat saat mereka berpapasan tapi Seohyun yakin itu hanya sebuah formalitas.

“Tae Hyung?”

“Iya Nyonya, Yang Mulia Pangeran menunggu Anda di ruang pertemuan…”

“Aku akan menemuinya…” jawab Seohyun tanpa berfikir, wanita itu berdiri berjalan keluar dari kamarnya menunju ruang pertemuan.

Saat Seohyun memasuki ruang pertemuan istananya, ia menemukan Tae Hyung yang sedang bermain dengan Jung Dae. Mereka terlihat sedang bermain origami kertas, Jung Dae mengamati dan mengikuti gerakan tangan Tae Hyung. Seohyun terdiam sejenak memandang mereka, terutama Tae Hyung. Saat ia melihat senyum Tae Hyung untuk Jung Dae ia merasa Tae Hyung bukanlah orang yang berbahaya tapi Jung Soo selalu ingin menyikirkanya. Benar ia tau beberapa bagian dari cerita Tae Hyung, bahkan Tae Hyung sebagai pangeran tertua sebagai kandidat utama pemegang tahta selanjutnya menolak tahta dan memilih menikah dengan putri Tamna.

Mungkin itu sudah cukup menjadi alasan Jung Soo berhenti mencoba membunuh Tae Hyung. Lelaki itu membuktikan bahwa ia sama sekali perduli dengan semua kedudukan yang ada di depan matanya. Jung Dae melompat girang saat ia berhasil menyelesaikan origami berbentuk seperti burung, Seohyun tersenyum tipis.

“Terima kasih hyung!” kata Jung Dae sambil berlari mengangkat burung kertas itu di atas kepalanya seolah burung itu terbang. Tae Hyung hanya tersenyum lebar lalu mengangkat kepalanya dan menyadari Seohyun sudah berada di depan pintu membuatnya langsung berdiri dan membungkuk.

“Jungie… bermainlah diluar bersama paman Min.” Kata Seohyun meraih tangan mungil Jung Dae.

“Huh kenapa?” Jung Dae berhenti berlari mendongak memandang ibunya.

“Ibu ingin berbicara dengan Tae Hyung hyung…”

“Heemph!!” bocah itu mengerucutkan bibirnya membuat bibir merahnya maju melewati bibir dan pipinya membulat sempurna. Lelaki kecil itu kesal tapi tetap menuruti ibunya keluar dari ruangan pertemuan.

“Dia lucu…” komentar Tae Hyung ringan.

Seohyun hanya tersenyum tipis menghampiri Tae Hyung lalu duduk di hadapannya.

“Ada apa kau menemuiku Pangeran?” tanya Seohyun setelah Tae Hyung ikut duduk.

“Aku ingin menawarkan sesuatu untukmu Selir Seo…”

“Apa itu.”

“Kau adalah tabib terbaik diistana ini bukan? Kau mampu membuat berbagai macam obat.” Mendengar ucapan itu alis Seohyun berkerut ringan.

“Iya, apa kau ingin aku membuat sebuah ramuan untuk mu?” Tanya Seohyun perlahan.

“Iya…”

“Untuk apa?”

“Untuk Mentri Duang Ju, kau tau bukan Selir Seo. Dia semakin tua dan penyakitnya semakin parah jadi aku fikir aku harus berbuat sesuatu untuknya….”

“Ah…” Seohyun tersenyum tipis dibalas senyuman manis oleh Tae Hyung. “Untuk itu kau tidak perlu khawatir, Yang Mulia Kaisar sendiri yang memintaku membuat ramuan untuk Mentri Duang Ju sejak awal. Resep ramuan yang aku berikan pada pelayan Mentri Duang Ju adalah ramuan terbaik.”

“Tapi kenapa sampai sekarang dia belum juga sembuh?”

“Itu karena dia sudah tua Pangeran, orang tua memang seperti itu..”

“Itu dia, bukankah kau juga merasa bahwa dia tidak akan sembuh?” pertanyaan itu membuat alis Seohyun berkerut.

“Apa maksudmu Pangeran?”

“Aku ingin kau membuat ramuan yang berbeda Selir Seo, kita tau bahwa Mentri Duang Ju tidak bisa sembuh. Jadi aku fikir kita harus membantunya dengan cara yang lain.” alis Seohyun semakin berkerut, ia tidak benar-benar tidak mengerti apa yang di ucapkan Tae Hyung.

“Lalu kau ingin aku membuat ramuan seperti apa?”

“Aku ingin kau membuatkanya ramuan agar dia cepat pergi ke surga Selir Seo…” mata Seohyun membulat sempurna seperti ada seseorang yang menyiram wajahnya dengan air es mambuat Seohyun memundurkan wajahnya sedikit menatap Tae Hyung tidak percaya.

Sedangkan lelaki di depanya terlihat mengucapkan kata-kata itu dengan begitu ringan seperti Jung Dae yang sedang minta makan. Wajah Tae Hyung tetap tenang masih dengan senyum tipis yang manis di bibirnya.

“Kenapa?” tanya Seohyun tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. “Kenapa kau ingin membunuh Duang Ju?”

“Tidak ada dendam khusus Selir Seo, jangan salah paham. Dia hanya menghalangi jalanku dan memperlambat waktu.” Jawaban itu semakin memuat Seohyun tidak percaya.

“Menghalangi jalanmu? Apa yang kau renanakan?” tangan Seohyun mulai mengepal di balik jubahnya.

“Rencanaku? Hanya satu rencanaku…” Tae Hyung kemudian berdiri lalu membungkuk mendekat pada Seohyun, sangat dekat sampai Seohyun bisa mendengar deru nafas Tae Hyung. Senyum di wajah lelaki itu berubah menjadi seringaian tipis tatapanya berubah mambuat bulu kuduk Seohyun meremang. “Membunuh suamimu….” bisik Tae Hyung pelan namun masih bisa di dengar Seohyun dengan sangat jelas.

Tatapan terkejut Seohyun berubah menjadi tatapan tajam. Wanita itu tersenyum remeh kemudian mendesis seperti ular. “Kau seharusnya tau siapa yang sedang kau hadapi anak muda. Kau meminta sesuatu yang mustahil, bermimpi terlalu tinggi tidak baik untuk kesehatan mentalmu. Kau hanya akan terlihat menyedihkan, karena aku rasa bukan Jung Soo yang akan mati tapi dirimu sendiri. Jadi sebelum aku menghancurkan hidup dan nyawamu lebih baik kau pergi dan lupakan semua omong kosongmu itu”

“Tadi pagi seorang wanita cantik mengatakan sesuatu padaku.” Kata Tae Hyung sambil membenarkan duduknya. “Katanya – Kau tidak akan tau sebelum mencobanya – jadi aku rasa tidak ada yang salah untuk mencoba bermimpi Selir Seo…”
“Tapi mimpimu terlalu jauh Pangeran, kau hanya akan terlihat menyedihkan..”
“Seharusnya kau mengatakan itu pada dirimu sendiri Selir Seo, kau terlalu keras bermimpi menjadi permaisuri. Dan selanjutnya biar aku tebak, kau pasti bermipi bahwa Jung Dae akan menjadi Putra Mahkota bukan? Sayang sekali karena ada aku disini maka tidak ada satupun cita-citamu yang akan terwujud. bukankah itu sangat menyedihkan?” kata Tae Hyung terkekeh kecil.

“Dan kau fikir cita-citamu akan terwujud?” Seohyun mengangkat sebelah alisnya mentap Tae Hyung remeh.

“Tentu saja, dan kau akan membantuku untuk mewujudkanya…”

“Dalam mimipi paling buruk pun Kim Tae Hyung aku tidak akan sudi…” wajah Seohyun kembali menggelap.

“Baiklah mari kita perbaiki sedikit mimpi burukmu Selir Seo, bukankah aku bilang aku datang kesini untuk menawarkan sesuatu? Aku akan memberikan Provinsi Toktong padamu.” ujung kanan bibir Tae Hyung terarik dengan cara yang dramatis. “Kau tau? Aku tidak suka memaksa Selir Seo. Jadi mari kita buat ini menjadi saling menguntungkan, kau ingin menjadi penguasa bukan?”

“Dan mengambil keutungan dari kematian Yang Mulia. Kau fikir aku bisa kau beli dengan janji yang bahkan belum tentu bisa kau tepati? Kau fikir aku bodoh Kim Tae Hyung?!” Mata Seohyun mulai menyalak.

“Jujur saja iya…” kata Tae Hyung masih tetap tenang. “Jalan pikiranmu mudah sekali dibaca Selir Seo, biar aku tebak kau sedang mempersiapkan Wakil Jendral Hyuk Jae untuk kau ajukan sebagai pengganti Jendral Besar Dong Hae. Karena jika Hyuk Jae berhasil menggantikan Dong Hae maka kekuasaanmu di istana ini semakin kuat, kau bisa mengatur mereka dan melakukan apa yang kau inginkan dengan lebih mudah aku benar kan?”

“Benar, aku fikir rencana selanjutnya adalah menyingkirkan Min Gi tapi aku rasa aku harus sedikit merubah rencanaku.” Jawab Seohyun dengan tatapan tajam. “Aku rasa sebelum aku menyikirkan Min Gi aku harus meningkirkanmu terlebih dahulu. Sekarang aku mengerti kenapa Jung Soo benar-benar ingin membunuhmu Tae Hyung, kau memang tidak pantas hidup.”

Mendengar itu membuat Tae Hyung tertawa. “Kau akan membuat rencana menyingkirkanku setelah kau berhasil mengankat Hyuk Jae? Tapi aku sudah berencana menyingkirkanmu sekarang Selir Seo bagaimana ini?” kata Tae Hyung seperti menertawakan Seohyun.

“Tertawalah selagi kau bisa tertawa Pangeran, karena saat Kaisar kembali nanti kau tidak akan bisa tertawa lagi…” Seohyun menatap Tae Hyung sengit sambil menyeringai tipis.

“Oh benar kah? Kau mengancamku Selir Seo?” Tae Hyung menghentikan tawanya.

“Itu bukan sebuah ancaman Tae Hyung, itu akan segera menjadi kenyataan. Kau seharusnya berfikir seratus kali untuk berani berhadapan denganku aku tidak segan-segan untuk menyingkirkan orang-orang yang menggangguku.” Kali ini Seohyun tersenyum sedikit lebar.

“Ah bukan, bukan seperti itu caranya mengancam Selir Seo. Kau ingin aku ajari cara yang baik dan benar mengancam seseorang?” Tae Hyung kembali ke wajah polos dan tenangnya membuat Seohyun ingin sekali memukul wajah tampan itu hingga hancur.

“Tidak ada hal yang perlu aku pelajari dari bocah ingusan sepertimu..”

“Hmmm, baiklah karena aku anak baik. Walaupun kau tidak menyukainya dan tidak akan berterima kasih padaku aku akan dengan senang hati tetap mengajarimu Selir Seo.”

“Tutup mulutmu!”

“Tidak tidak…. aku yang mengajarimu disini jadi seharusnya kau yang menutup mulut dan dengarkan aku baik-baik.” mata Tae Hyung menajam menatap Seohyun seolah wanita itu adalah mangsanya membuat tubuh Sohyun membeku.

“Jangan pernah berani mengajukan Hyuk Jae sebagai pengganti Dong Hae. Selir Seo tidak baik mengambil keuntungan dari kerja keras orang lain kau harus ingat itu, aku lah yang bekerja keras disini jadi jangan pernah berani mengambil kerja kerasku.” Tatapan Tae Hyung kembali melembut melihat wajah terkejut Seohyun.

“Kau..?” tanya Seohyun tidak percaya.

“Benar aku yang membunuh Jendral Besar.” Jawab Tae Hyung sambil tersenyum manis seperti seorang bocah yang baru saja melakukan kebaikan dan bangga atas apa yang dilakukanya.“Dan jangan sampai aku juga harus membunuhmu Selir Seo, aku tidak suka membunuh wanita cantik. Itu membuatku sedih…”

“Kau tidak bisa membunuhku Tae Hyung, setidaknya tidak semudah kau mengucapkanya…”

“Benarkah? Ah aku tau kau adalah wanita yang cantik pintar dan licik, sangat terkenal dengan kepintaranmu meracik obat Selir Seo. Tapi aku tau kau juga pandai meracik racun. Benar kan?” mendengar ucapan itu membuat jantung Seohyun tertohok.

“Apa maksudmu?” tanya Seohyun sambil menatap Tae Hyung tajam dan mengancam.

“Aku tidak pernah meminta pada orang yang salah, aku memintamu membantu Mentri Duang Ju agar cepat pergi ke surga karena aku tau kau bisa Selir Seo. Kau hanya perlu membuatnya sama seperti Permaisuri Soo Yeong atau sedikit lebih cepat mungkin?” senyum Tae Hyung melebar. “Bagaimana kau mau membantuku bukan?”

“Kau fikir kau bisa menggadikan kepercayaanku Kim Tae Hyung? Kau fikir kau bisa menukarnya dengan Toktong?!”

“Setidaknya itu lebih baik dari pada berakir menyedihkan di tiang gantung kan Selir Seo?”

Rahang Seohyun mengerat tanganya terkepal kuat di balik jubah, seandainya ia tidak berada di lingkungan istana saat ini mungkin ia akan melompat untuk mencekik Tae Hyung.

“Sudah aku bilang cita-citamu tidak akan menjadi kenyataan karena ada aku disini. Kau tidak akan bisa menyetuh Min Gi bahkan seujung rambut pun, apa lagi menjadi Permaisuri. Dan untuk Jung Dae, sayang sekali dia adalah anak yang manis aku tidak tau bagaimana nasibnya nanti jika suatu hari nanti dia di cap sebagai anak seorang pengkhianat?”

“Aku bisa bersumpah bahwa Jung Dae tidak akan bisa menjadi Putra Mahkota bahkan jika aku mati. Karena jika kau kau membuka mulutmu Selir Seo aku bersumpah kita akan mati di tiang gantung bersama-sama. Jung Dae akan dicap sebagai Putra dari pengkhianat yang telah meracuni Permaisuri Soo Yeong. Lagi pula, Jung Soo menginginkan Putra Min Gi-lah yang akan menjadi Putra Mahkota. Jadi tidak ada jalan sama sekali untuk Jung Dae dan dirimu Selir Seo maka berhentilah bermimpi terlalu tinggi.” 

“Ayolah… Aku tidak memintamu untuk membunuh suamimu Selir Seo.” lanjut Tae Hyung dengan ketenangan yang terkendali. “Aku memintamu hanya membunuh Menteri Duang Ju.”

Seohyun hanya terdiam di tempatnya berusaha meredam kemarahanya. Tae Hyung tau tentang semua kebusukanya di masa lalu. Apakah Min  Gi yang memberi taunya? Karena ia pikir selain wanita itu dan beberapa pengikutnya tidak ada orang lain yang tau. Matanya menatap tajam Tae Hyung yang mulai beranjak dari duduknya. Ia tidak percaya ia telah di buat mati kutu dengan bocah ingusan seperti Tae Hyung. Bocah ingusan? Tidak, lelaki itu seperti iblis yang bertopeng malaikat.

Lelaki itu mengatakan sesuatu yang kejam dengan begitu mudah dan lancar beserta senyum manis dan mata polosnya. Bersandiwara sepanjang waktu seolah dia adalah pangeran baik hati yang hidup dengan penuh rasa syukur. Omong kosong! Dia bahkan lebih mengerikan dari iblis, jika iblis hanya membunuh orang yang di incarnya dia membunuh semua orang yang ada di sekitar orang yang di incarnya. Bahkan orang tua seperti Duang Ju yang tidak mengerti apa-apa sama sekali itu dibunuh.

“Jika kau ingin membunuh Yang Mulia, kenapa kau tidak memintaku membunuhnya kenapa Mentri Duang Ju?” tanya Seohyun matanya mengikuti gerakan Tae Hyung.

“Tidak, Karena membunuh suamimu adalah pekerjaanku…” jawab Tae Hyung ringan.

“Kau berengsek Kim Tae Hyung!” desis Seohyun tajam membuat Tae Hyung terenyum lebar.

“Selir Seo cintamu pada suamimu membuatku terharu, dan pasti akan berakhir sangat mengharukan jika dia tau bahwa kau lah yang telah membunuh Permaisuri Soo Yeong.”  Tae Hyung berdiri perlahan lalu menghela nafas seolah seperti orang yang sedang di ambang putus asa.

Tangan Seohyun terkepal erat di atas meja menatap Tae Hyung tajam, seolah ia bisa memotong leher Tae Hyung menggunakan matanya. Lelaki itu tidak memaksanya dengan langsung, tapi Seohyun tau ia sedang terancam sekarang. Bukan, masalahnya bukan ia takut mati atau hukuman sejenisnya. Yang ada di kepalanya sekarang bagaimana nasib Jung Dae jika mulut Tae Hyung benar-benar berulah.

“Kau sangat mencintainya walaupun kau tau dia tidak begitu mencintaimu. Kau telah mengorbankan segalanya, kau melahirkan Putranya kau juga selalu berada di sampingnya saat ia berada di posisi yang sulit. Kau melakukan segala cara agar dia juga mencintaimu seperti kau mencintainya, termasuk membunuh Permaisuri sekalipun. Kau berniat menyingkirkan permaisuri agar bisa mendapatkan cinta, perhatian serta kedudukan yang setara denganya bukan?” Tae Hyung mulai melangkah menuju pintu keluar.

“Tapi dia tidak pernah mencintaimu Selir Seo, sayang sekali. Hatiku sakit melihat luka di hatimu, kau sudah melakukan dan memberikan apa pun untuknya. Tapi apa yang dia berikan padamu?” Tae Hyung tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, kau hanyalah sapi perah untuknya. Dia hanya ingin meneguk kepuasan darimu, membuatmu melahirkan Putra untuknya setelah itu ia akan meninggalkanmu.”

“Kau salah besar-“

“Benarkah?” Sahut Tae Hyung cepat. “Dibagian mana kesalahaku, bisa kau sebutkan? Dibagian dia tidak mencintaimu atau dibagian kau sudah seperti budak untuknya? Ah aku lupa menambahkan. Dan sialnya si sialan Jong Soo itu malah menobatkan Min Gi menjadi Permaisuri bukan kau.” Tae Hyung terkekeh kecil seperti menertawakan kepahitan hidup Seo Joo Hyun.

“Sebenarnya apa tujuanmu?”

“Mari kita sebut membebaskan diri, kau akan mendapatkan kebebasanmu dan aku akan mendapatkan kekuasaanku. Kau akan menjadi penguasa di Toktong, kau bisa melakukan apa pun disana. Dan Jung Dae, dia akan mewarisinya.” Tae Hyung berbalik saat mencapai depan pintu keluar istana selir kemudian mengulurkan tanganya perlahan.

“ Lihat aku baik-baik Selir Seo, seperti ini cara yang benar mengancam seseorang…” Tae Hyung memiringkan kepalanya sambil menyeringai.

“Kau yang mati atau Jong Soo yang mati? Mati ditangan Jong Soo atau melihat Jong Soo mati di tanganku? Menjadi Selir Silla yang berkhianat atau Walikota Toktong?”

“Bagaimana? Apakah itu terdengar cukup bagus? Aku menunggu jawabanmu sampai pintu ini tertutup Selir Seo, karena aku tidak suka menunggu.”

Dua pelayan yang berdiri di depan pintu mulai menutup pintu perlahan-lahan sementara Seohyun masih tetap mematung di tempatnya. Ia tidak punya pilihan lain, ia tidak punya jalan keluar lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan putranya. Perlahan wanita itu bangkit berbalik dan berjalan menuju ke arah Tae Hyung, tanganya bergetar menerima uluran tangan Tae Hyung.

“Aku tau kau adalah wanita yang bijaksana Selir Seo…”
****

Hari ini masih sama seperti kemarin, di waktu yang sama, nafas yang sama, perasaan yang sama dengan alasan yang sama. Terkadang Min Gi bertanya pada dirinya sendiri untuk apa nyawa ini jika sebenarnya dia bahkan tidak hidup? Wanita itu menatap nanar ke arah jendela istana. Angin siang hari menerpanya begitu halus seperti sentuhan Tae Hyung. Ia pikir keputusanya malam itu tepat untuknya dan Tae Hyung tapi kenyataanya? Min Gi menyesalinya, karena setelah malam itu ia menjadi seperti orang gila.

Membayangkan setiap sentuhan Tae Hyung di sekujur tubuhnya seolah lelaki itu masih menyentuhnya. Bayangan itu terlalu nyata begitu terasa dan membuatnya seperti orang sakau. Wanita itu menyilangkan tanganya menyentuh kedua lenganya sendiri. Disini disekujur tubuhnya Tae Hyung menyetuh Min Gi seperti wanita itu adalah berlian termahal di dunia, tangan besar dan hangat lelaki itu suara baroton yang serak dan sangat mendamba. Min Gi menutup matanya perlahan…

Aku merindukanmu, aku sangat meridukanmu Choi Min Gi…
Kau miliku…
Tatap aku sayangku, sebut namaku, datanglah padaku…
Buka matamu…

Min Gi langsung membuka matanya dan tersadar apa yang telah ia lakukan. bayang itu muncul lagi, bayangan itu terus saja muncul di kepalanya. Ia fikir setelah melampiaskan seluruh perasaanya pada Tae Hyung akan membuatnya bisa melupakan lelaki itu tapi apa yang terjadi sekarang? Min Gi semakin menginginkan lelaki itu seperti orang sakit jiwa dan seolah hanya lelaki itu yang bisa mengobatinya.

“Pelayan!!” Teriak Min Gi sedikit keras lalu seorang pelayang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.

“Saya Yang Mulia…”

“Siapkan kolam aku ingin mandi!” kata Min Gi menatap pelayan itu dengan mata inginya. Pelayan wanita yang mungkin seumuran denganya mengangkat kepalanya dan menatap Min Gi bingung. Di tengah hari seperti ini Permaisurinya ingin mandi? Bukankah tadi pagi Permaisuri sudah mandi?

Melihat wajah tidak senang Min Gi pelayan itu kembali merundukan kepalanya lalu mengangguk pelan. “B-baik Yang Mulia…”

Min Gi meluruskan kepalanya kembali lalu beberapa pelayan lain menghampirinya dan membantunya membuka perhiasan serta jubah yang ia kenakan. Dua hari, sudah dua hari mereka melihat Permaisuri bertingkah aneh. Kemarin Permaisuri tiba-tiba pergi ke sanggar tari di pagi buta lalu menari disana sampai sore hari. Melihat itu tentu saja mereka sadar ada yang tidak beres dengan permaisuri, mereka beranggapan mungkin karena situasi kerajaan sekarang sedang buruk ditambah Yang Mulia Kaisar yang belum juga kembali dari Buyeo semenjak insiden kematian Jendral Besar.

“Yang Mulia…” Sin Ah menghampiri Min Gi ia tau benar bagaimana sifat Min Gi dan bagaimana tingkah laku wanita muda itu. Min Gi tidak pernah bercerita tentang kesedihanya pada siapa pun, bahkan jika itu adalah pelayan setianya.

Min Gi menolehken kepalanya pada Sin Ah dan menatap wanita setengah baya itu datar. Sin Ah merunduk hormat sesaat lalu mengankat kepalanya kembali dan memandang Min Gi dengan tatapan lembut khas seorang ibu.

“Saya berada di sini semenjak Anda menginjakan kaki Anda disini Yang Mulia, saya juga sudah bersama Anda sejak hari dimana Anda hidup sebagai bagian dari istana ini. Saya adalah pelayan Anda sampai akhir hidup saya, bersumpah untuk terus menjaga Anda. Tapi apakah rasa sakit ditinggalkan itu begitu besar hingga membuat Anda terus merasa sendirian?”

Mata Min Gi kembali lurus ke jendela, ia tidak bisa memungkiri rasa tertohok saat Sin Ah mengucapkan kata-kata itu padanya. Tapi di dalam dirinya tidak hanya rasa kesepian dan rasa sakit ditinggalkan, karena begitu banyak jenis rasa sakit dalam diri Min Gi hingga dia tidak bisa mengungkapkanya.

“Bahkan jika kau terus disampingku bibik aku tidak akan bisa membagi beban ini padamu. karena kesepian bukan hal paling buruk yang aku rasakan.”

Bukan masalah jika ia kesepian karena semua orang mengutuknya, atau karena mereka memang menginginkannya. Tidak masalah memang mereka tidak menyukainya dan mereka bahagia dengan itu. Tapi bagaimana jika kau kesepian karena kau harus meninggalkan semua orang yang menyayangimu demi kebaikan mereka sementara mereka terus mengemis padamu. atau orang yang menyayangimu meninggalkanmu demi berkorban untukmu dan mendapati kau tetap saja mati walaupun kau bernafas? Rasa rindu dan bersalah? Bagaimana menjelaskannya? Tidak ada kata yang bisa menjelaskan bagaimana menyedihkanya dia sekarang.

Lalu Tae Hyung? Lelaki itu datang seolah seperti pahlawan namun kenyataanya lelaki it hanyalah lubang neraka untuk Min Gi. Dengan semua ketampanannya, dengan semua akal licik dan kekeras kepalaanya. Lelaki itu memaksa Min Gi untuk mengiris urat nadinya sekali lagi.

Para pelayan selesai mempersiapkan kolam untuk Min Gi. Wanita itu berjalan perlahan memasuki kolam merendam dirinya disana, menggosok tubuhnya berusaha mengilangkan bekas sentuhan Tae Hyung. Semua bekas ingatan tentang sentuhan Tae Hyung tapi semuanya percuma. Wanita itu hanya membuatnya semakin jelas, wajah Tae Hyung, suaranya, sentuhanya, aroma tubuhnya, irama nafasnya.

Min Gi menggigil di dalam koloam, wanita itu mulai putus asa matanya mulai memerah dan Sin Ah mulai merasa khawatir.

“Yang Mulia lebih baik Anda istirahat sekarang….”

Min Gi sama sekali tidak mendengarkanya, wanita itu tetap terdiam mengigil di dalam kolam. Mungkin begini lebih baik, dengan begini dengan rasa sakit ini sentuhan Tae Hyung tidak terasa lagi di tubuhnya.

“Yang Mulia Anda bisa sakit…”

“Tinggalkan aku sendiri!” jawab Min Gi dingin dengan nada yang mengancam, Sin Ah menggingit bibir bawahnya. Ia benar-benar khawatir sekarang, apa yang harus ia lakukan? apakah ia harus memanggil Pangeran Tae Hyung?

Sin Ah berdiri lalu meninggalkan Min Gi disana wanita itu berjalan keluar istana berencana untuk menuju istana Pangeran namun lengkahnya terhenti saat melihat Jung Soo berjalan menuju istana Permaisuri. Wanita itu melangkah kembali memasuki istana kemudian masuk ke dalam kamar Min Gi menunggu Jung Soo di depan pintu. Saat lelaki itu memasuki kamar Min Gi, Sin Ah membungkuk.

“Selamat datang Yang Mulia, saya sangat bersyukur Anda kembali dengan selamat.” Kata Sin Ah sambil membungkuk.

“Dimana Permasuri?”

“Permaisuri sedang berada di kolam Yang Mulia…” Alis Jung Soo seketika berkerut ringan menatap Sin Ah. “Beliau sedang Mandi..”

“Mandi?” ulang Jung Soo lagi.

“Ya Yang Mulia.”

Jung Soo hanya menghela nafas “Baiklah kau boleh pergi…”

Sin Ah merunduk sejenak kemudian berjalan meninggalkan kemar Min Gi sementara Jung Soo semakin masuk ke bagian belakang istana dan menuju kolam permaisuri.

Saat memasuki pintu ruangan yang tertutup tirai gelap ia bisa melihat punggung Min Gi yang sedikit mengigil. Jung Soo semakin berjalan mendekat dan mendapati pemandangan yang tidak ia suakai.

“Min Gi-ya…” panggilnya halus membuat wanita itu mengangkat bola mata merahnya dan bola mata itu sedikit membesar menapati Jung Soo berdiri di hadapanya.

“Samchon…” jawab Min Gi pelan dan lemah seperti orang putus asa membuat Jung Soo merasakan ketakutan dan kemarahan di dalam dirinya.

Lelaki itu melangkah masuk ke dalam kolam tanpa perduli Jubah dan bajuya basah. Menghampiri Min Gi dan memegang kedua pundak telanjang wanita itu sambil menatapnya penuh dengan tatapan khawatir.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini?” tanya Jung Soo begitu lembut membuat Min Gi tidak sanggup lagi menahan air matanya.

“Kau boleh membunuhku sekarang, kau boleh menggantungku Yang Mulia tapi kau harus menepati sumpahmu. Kau sudah bersumpah padaku…” kata Min Gi sambil terisak.

“Apa yang kau katakan, sumpah apa?”

“Kau bersumpah untuk tidak membunuh Tae Hyung bukan? Dan kau melanggarnya! Kau sengaja mengirim separuh prajurit agar dia mati bukan?!” ucapan itu membuat Jung Soo membeku.

“Kau mengacaukan semuanya Samchon, kau mengacaukan semua rencanaku. Kau tidak tau apa yang dia lakukan kau juga tidak tau seperti apa dia!”

“Apa yang dia lakukan padamu?” mata Jung Soo seketika menajam.

“Kau sudah bersumpah tidak akan membunuhnya…”

“AKU BERTANYA APA YANG DIA LAKUKAN PADAMU?!” teriak Jung Soo begitu marah namun Min Gi hanya terdiam sambil terisak.

“CHOI MIN GI!” bentaknya lagi sambil menggoyangkan tubuh wanita itu namun bukan Min Gi namanya jika tidak keras kepala.

“Baiklah…” kata Jung Soo sambil mengatur amarah serta nafasnya. “Aku tidak akan membunuhnya.”

“Dia menyentuhku.” Min Gi bisa merasakan betapa kuatnya cengkraman Jung Soo di pundaknya. “Aku yang memintanya…”

“Kau sudah gila!” desis Jung Soo melepaskan tubuh Min Gi dengan kasar hingga punggung wanita itu terkantuk pinggiran kolam.

“Aku yang bersalah, aku yang memintanya. Aku menginginkanya samchon, aku selalu mengingikan masalaluku kembali. aku ingin hidup, aku ingin rasa sakit ini hilang.” Isakan Min Gi berubah menjadi tangisan. “Aku juga memintanya sebagai ganti dia akan berhenti membalas dendamnya, bahwa setelah malam itu semua perasaan kami harus musnah dan akan musnah.”

“Tapi aku salah, setelah malam itu aku semakin mengingatnya, aku terus mengingatnya bayangannya tidak mau hilang dari kepalaku….”

Jung Soo mengepalkan tanganya kuat, rahangnya mengeras dan berkemeletuk seolah tengah menggigit batu. Ia ingin marah sekarang, ia ingin membunuh Tae Hyung sekarang juga tapi ia sadar dengan sumpahnya dan dengan keadaan Min Gi sekarang. Min Gi tidak mencintainya dan wanita itu tetap berusaha melindunginya. Jung Soo membalikan tubuhnya, mengatur nafasnya lagi lalu membuka jubahnya. Lelaki itu memakaikan jubahnya pada Min Gi, membungkus tubuh mungil Min Gi rapat dengan jubahnya lalu menggendong wanita itu kembali ke kamar.

“Samchon…” ucap Min Gi saat Jung Soo membaringkan tubuh Min Gi dan menyelimutinya. Lelaki itu kemudian duduk di tepi ranjang samping wanita itu.

“Aku sangat mencintaimu, aku memberikan semua yang aku miliki untukmu dan kau memberikan semua yang kau miliki padanya…” kata Jung Soo tanpa menatap Min Gi. “Aku sangat mencintaimu sampai aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, seharusnya aku marah dan menghukumu sebagai seorang penghkianat, tapi apa yang aku lakukan sekarang?”

“Kau selalu memikirkanya, kau memberikan semua yang kau meliki padanya dan itu membuatku semakin ingin membunuhnya.” Lelaki itu merunduk lalu tersenyum pait. “Kau sangat mencintainya, dia mungkin juga mencintaimu. Tapi Min Gi-ya, apakah dia mencintaimu seperti aku? Apakah cintanya padamu sebesar miliku?” lalu menoleh menatap Min Gi yang beranjak bangun dari posisi berbaringnya.

“Jika aku selalu memenuhi keinginanmu, semua ucapanmu, semua yang kau inginkan, aku bisa pergi meninggalkan tahta jika itu yang kau inginkan. Apa pun untukmu permaisuriku. Apakah dia juga bisa melakukan hal yang sama?”

Semua ucapan itu membuat mata Min Gi kembali berair, wanita itu beringsut memeluk pinggang Jung Soo perlahan. “Jika cintamu memang sebesar itu samchon buat aku melupakanya,” air mata Min Gi menetes kembali. “Aku mencintainya dan itu terus menyakitiku, dia terus mengingatkanku tentang masa lalu, tentang semua hal yang aku impikan terjadi, dia terus membuatku berharap semuanya akan kembali tapi aku tau semuanya tidak akan kembali. Bahkan dirinya sendiri.”

Jung Soo mengangkat Min Gi ke pangkuanya, semetara Min Gi memeluk pundak Jung Soo. “Aku ingin bahagia…” air mata Min Gi semakin deras menetes. “Aku ingin melupakanya dan hidup untuk saat ini. Buat aku melupakanya, tolong ambil rasa sakit ini dariku Samchon…” Min Gi terisak lagi. “Bagaiama caranya untuk melupakanya dan menghilangkan rasa sakit ini katakan padaku samchon…”

“Sayangku…” Jung Soo mengusap punggung dan rambut Min Gi perlahan penuh dengan kasih sayang. “Tuhan memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi Tuhan pasti akan memberikan apa yang kita butuhkan. Kenyataan bahwa kau berada bersamaku saat ini, di dalam pelukanku di bawah perlindungaku. Karena Tuhan tau siapa yang lebih mencintaimu dan Tuhan tau siapa yang kau butuhkan.”

“Sekarang katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kau melupakanya?”

“Sentuh aku,” Jawab Min Gi dengan suara yang serak. “Sentuh aku Samchon…” gadis itu semakin mengeratkan pelukanya. “Sentuh aku hilangkan semua sentuhanya pada tubuhku…” pelukan Min Gi semakin mengerat. “Gantikan semuanya dengan milikmu, sentuh aku!”

Kim Tae Hyung, bahkan dengan menyebut namanya di dalam hati pun terasa sakit. Semua ingatan tentang masa lalu yang bahagia dan meyakitkan. Tentang senyuman manis dimusim semi dan pelukan hangat di musim dingin. Ingatan saat kaki kecil mereka berlari di antara rerumputan hutan, suara kecil pengeran mungil memanggilnya sambil tertawa riang. Sepasang tangan mungil yang bergandengan. Kenangan itu dangat indah, begitu indah sampai membuatnya takut.

Dan perlahan ingatan itu mulai terutup dengan darah, dengan suara tangisan dan jeritan. Semuanya berubah, pengeran mungil itu sudah berubah dan tidak akan kembali lagi….

“Buat dia menjauh dariku, sebisa mungkin jauhkan dia dariku.”

TBC

Hehehehe maaf yah lama lanjutanya, soalnya bulan mei kemarin author sibuk sidang terus bulan juni puasa jadi baru bisa lanjutin sekarang, mana bentar lagi UU terus UAS wah PR autor banyak yah^^ tapi maksih buat para readers yang udah nunggu ff autor yang entah cem sinetron ini.

31 thoughts on “SUN Flower (Butterfly) Part 14

  1. Weleh weleh makin rumit aja… apa bisa min gi melupan tae hyung..?? Mustahil… tapi siapa yang tahu..?? Toh semua takdir mereka ada di tangan author kekekekek…. ditunggu part selanjutnya yaaaa… semangat…

    Suka

  2. aku komen dulu ajalah baca mah ntar aja, soalnya blm sempet.
    sumvah thor aku sangat sangat sangat nungu2 karyamu yg ini. so aku seneng bgt ff ini udah nongol. smoga sehat selalu ya thor😊

    Suka

  3. Wah dh lma bgt thor ga uptade q sllu nunggu ff ne loh pnsaran gmn slnjut’a tp skg thaks bgt dh mw lnjutin ff’a disela kesibukan’a,rencana’a thor mw bkin brp chapter???,q bngung ma min gi sbnr’a ia pilih spa sih ko kesan’a kya kasih hrpan ma taehyung n jung soo jdi ia kn menderita n sakit hati sndri krn perbuatan’a tu coz ga bsa tegas pilih salah satu dri mereka ber2,klu cwo diksih lampu hijau/harapan tnpa da pengertian dlm arti kejelasan status hbngan yg blm pasti tuh cwo psti bakal ngejar trus tp klu cwe dh blang ia/tidak psti tuh cwo akan maju/mundur scra perlahan,cukup sekian thor ditnggu chap slntjut’a maaf klu komen’a pnjang .

    Suka

  4. Ngefeel bgd ni ff sumpah intrikny gk bkin bosen mlh bkin penasaran gmn slnjtnya gituh…. taehyung emg jempolan soal ngancem” nih … soal cinta kykny km bkl kalh deh ama jungsoo heheeeheee tuh si min gi mw mlh jungsoo lhoooo……

    Suka

  5. Akhirnya di apdet juga :’) iya lama bnget nunggunya
    Mau komentar apa aku ya… Ahh pkoknya harus dilanjut sampe end.. Fanfic paporit lah yang ada taehyungnya… Semangat ya thor nulisnya..

    Suka

  6. Ciye yang akhirnya comeback. Kemana aja, baru nongol. Uda kangen abis sm ni cerita. Duh si mingi gimana si masa dia mlh lebih milih jungsoo. Aku kan pengennya dia sm si taetae. Ok deh smpe ketemu lg, love you..

    Suka

  7. Bingung mau komen apa, seriously aku plg suka sama ff ini beda sm yang lainnya
    Penasaran sm endingnya nanti
    Apa min gi bisa bersatu sm Tae Hyung nggak ya?
    Semangat author buat nerusin ff ini , aku setia menunggu 😊

    Suka

  8. Wah wah,,, siapa yg bkal mati duluan nih??? Jung soo kah? Atau mlah taehyung???
    Ok,, di tunggu part selanjutnya ya thor,,, semangat…

    Suka

  9. Apa minji tau klo yg membunuh ayahnya jung soo???
    Aduh,,,,,jangan sampe itu jongsoo nyentuh minji lagi…..aq tu pengennya minji hamil anak tae hyung,,,,

    Suka

  10. kok aku malah jadi membenci min gi ya dia ingin melindungi tae hyung dengan mengorbankan dirinya dimiliki jung soo tapi secara gk langsung malah semakin mendorong tae hyung melaksanakan rencananya sekalipun nantinya tae hyung gk bisa memiliki min gi setidaknya tae hyung berjuang mengembalikan kehormatan kedua orangtuanya yang sudah direnggut
    semangat tae hyung

    Suka

  11. Tae hyung tetap menjalankan rencananya bahkan Selir Seo tidak punya pilihan lain selain membantunya. bingung sama Min gi apa yang sebenarnya dia inginkan walau bagaimanapun Jung soo sudah mengingkari janjinya untuk tidak membunuh Tae hyung. serius Min gi lebih memilih Jung soo dari pada Tae hyung. serius g ikhlas kalau Min gi lebih memilih Jung soo dibandingkan Tae hyung.

    Suka

  12. Heol saling bertolak belakang?
    Keren ya
    Dikirain min gi bakal tau klo taehyung ngelakuin itu buat kembali sm dia.
    Tp min gi jd mikir taehyung jahat hm
    Emg jahat si taehyung, tp krn min gi taehyung jht kan ya? Apa aku slh?
    Aku malah bingung mau dukung siapa disini
    Aku netral deh wkwk
    Soalnya labil aku si wkwk
    Ditunggu klnjtnnya eonni^^

    Suka

  13. Heol saling bertolak belakang?
    Keren ya
    Dikirain min gi bakal tau klo taehyung ngelakuin itu buat kembali sm dia.
    Tp min gi jd mikir taehyung jahat hm
    Emg jahat si taehyung, tp krn min gi taehyung jht kan ya? Apa aku slh?
    Aku malah bingung mau dukung siapa disini
    Aku netral deh wkwk
    Soalnya labil aku si wkwk
    Ditunggu klnjtnnya eonni^^

    Suka

  14. ..Semakin ingin menjauh & membenci seseorang, akan semakin besar juga rasa cinta & sakit itu ada dihatinya.

    Kirain setelah mlm itu, Min Gi mulai mendukung Taehyung dan mengerti jalan yg dipilih Taehyung. Tapi mlah begini jadinya….

    Buat arthornya mksih ya, udah mau lanjutin disela” kesibukannya. Walaupun saya nunggunya berasa lama banget hehee…

    Saya juga setuju dan suka sama prinsip arthor itu. Tapi rada susah buat dapet bacaan/diksi yg sesuai keinginan.

    Tetep semat ya thoor buat bikin kelanjutannya,
    saya setia menanti…..

    Suka

  15. aaaahh author, ap kbar drimu thor?? huhuhuu lama tak ada kbar berita drimu thor, serasa nunggu bang toyib diriku thor😂😂
    uhh ffnyaa yaah nambah sesuatu thor, nambah rumit tpi mantab thor.. ahh jgn lma2 ya authorku syg update ffnya u,u aku slalu mnunggu thor hiks #apsih??
    pkoknya next part dtunggu.. always healthy ya author smngat trus nulis ffnya hohoo

    Suka

  16. Aduh…. sampe numbuh panjang ini bulu ketek nunggu kehadiran fanficmu ini authornim…. 😂😂😂
    Si min gi lama2 nyebelin juga ya,lah dia direbutin ama dua cowok ganteng,kan nyebelin bgt tuh,mbok ya bagi lah… satu cowok buat daku…. 😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s