Family Scandal Part 5B


 

Title: Family Scandal 5 (B)

Author: Oh Eonnie & Anemone

Poster by: ONHAEVIL Art

Category: NC-17, Romance, Hurt, Complicated, Angst, Chapter.

Cast:

  • Oh Se Hun EXO as Oh Sehun
  • Byun Baek Hyun EXO as Bernard Rothschild
  • Kim Ha Ni as Hermine Diane Kim
  • Jeon Jang Mi as Jung Jang Mi


Disclaimer :
Cerita ini hanya sebuah karangan. Mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh, judul dan yang lainnya, karena itu semua unsur ketidak sengajaan. Maaf juga kalau banyak kesalahan dalam penulisan.

 

Warning!
Sebelumnya ada sedikit perubahan untuk castnya, Belle Wang visual Hani yang sekarang adalah Hani ketika muda, karena nanti visualnya diganti Dilraba Dilmurat ketika Hani dewasa dengan nama baru Angela. Itu sebabnya di cover lainnya Dilraba. Visual yang menjadi Hani dan Jang Mi adalah artis China. Jangan bingung ya nanti paham sendiri kok.

Summary: “Kenangan adalah benda yang diam, jika ia bisa disebut benda. Tidak bergerak dan menetap seperti guci disudut rumah yang tidak berpenghuni. Bisu dan angker. Ia menentang hukum waktu yang selalu bergerak. Ia tidak berubah bentuk. Ia terbingkai dalam bingkainya yang ikut abadi selamanya. Ia tidak bisa dihapus. Ia permanen. Melekat seperti roh pada jasad dan jasad pada roh. Tidak seperti kehidupan, Ia tidak menginginkan perubahan. Ia tidak bisa berubah. Ia tidak bisa diapa-apakan selain diterima sebagai bagian dari sejarah dan riwayat seseorang.

 

Oh Eonnie&Anemone Present ©2017

 

***Happy Reading***

 

“Tidak ada yang kedua jika kau mencintai yang pertama.”

 

***Family Scandal 5B***

 

Songfic: Toy byBlock B

 

Author Pov

“Oh, Putra Mahkota kita sudah pulang?” sebuah suara membuat yang lainnya menoleh termasuk Baek Hyun.

 

Jong Ki keluar dari ruang perpustakaan yang tepat berada di sebelah ruang keluarga. Ia membawa sebuah buku yang Baek Hyun tebak, buku sastra karya sastrawan Spanyol dilihat dari huruf besar (judul) di sampulnya. Jong Ki tersenyum sambil membenarkan kaca matanya.

 

Chan Yeol dan Kyung Soo menahan nafas mereka beberapa detik, sebelum akhirnya berdiri dan membungkuk. Sedangkan Jun dan Kris langsung membungkuk hormat. Berbeda dengan yang lainnya, Baek Hyun mendesis pelan.

 

“Apa lagi kali ini?” gumamnya pelan, teramat pelan.

 

“Ya. Seperti yang Anda lihat Tuan Billy,” ujar Baek Hyun membuat Jong Ki terkekeh.

 

“Kemarilah,” ujar Jong Ki. Ia berjalan ke ruang keluarga lalu duduk di sofa.

 

“Kalian duduklah,” ujarnya pada Chan Yeol dan Kyung Soo.

 

Kedua pria yang berbeda tinggi badan itu langsung duduk dan disusul Baek Hyun.

 

“Perasaanku tidak enak,” gumam Chan Yeol kepada kedua temannya. Kebetulan dia duduk di tengah, dihimpit Kyung Soo dan Baek Hyun.

 

“Hemmm…, aku rasa kalian sadar kesalahan apa yang kalian perbuat,” Jong Ki menaruh kaki kirinya di atas paha kanannya.

 

Chan Yeol hendak membuka suara tapi Baek Hyun menahannya, “Semua berawal dariku. Akulah yang bersalah.”

 

Jong Ki tersenyum dan mengangguk pelan mendengar ucapan adiknya. Kris dan Jun yang berdiri di dekat sofa yang diduduki Baek Hyun hanya terdiam. Berdiri dengan tegap namun waspada.

 

“Baiklah, langsung saja. Kalian pergi ke kebun belakang. Sayuran organik kita sudah siap panen,” gumam Jong Ki membuat Baek Hyun menatap kakaknya tak percaya.

 

Apa tadi, kebun belakang, sayuran organik? Oh, Keluarga Rothschild memang mempunyai kebun sayuran organik sendiri, untuk konsumsi pribadi.Terlebih jika Perayaan Chuseok, Natal, ataupun Tahun Baru, makanan yang disuguhkan semua bahan-bahannya dari kebun belakang.

 

“Kebun belakang?” Baek Hyun terkekeh. Ia tidak mau dugaannya benar terjadi, “Menulis permintaan maaf satu buku penuh dengan empat bahasa.Ah, mungkin enam bahasa,” gumamnya.

 

“Hyung…,” rengek Baek Hyun membuat Jong Ki melepaskan kaca matanya dan menggeleng pelan.

 

“Candaanmu tidak lucu,” dengus Baek Hyun.Yang benar saja,kakaknya memberi hukuman berkebun begitu?

 

“Siapa yang bercanda?” ujar Jong Ki dengan wajah datarnya membuat Chan Yeol dan Kyung Soo merinding.

 

“Kau menyuruhku berkebun begitu?” protes Baek Hyun.

 

“Lakukan saja, jangan banyak protes atau kau ingin tambah hukumannya?” ujar Jong Ki membuat Baek Hyun berdiri dari duduknya.

 

“Kau tahu aku pewaris tahta Rothschild, bukan? Dan kau menyuruhku berkebun? Yang benar saja,” Baek Hyun berkacak pinggang menatap kesal kakaknya.

 

“Bukankah großvater(kekek) sangat suka berkebun. Bahkan leluhur kita juga suka berkebun, itu sebabnya keluarga kita punya kebun sendiri, juga kebiasaan mengonsuminya terlebih saat perayaan hari besar,” Jong Ki bersedekap, tersenyum manis pada adiknya.

 

“Bukankah kau penerus tahta Rothschild. Aku rasa kau harus mulai belajar berkebun,” gumam Jong Ki membuat Baek Hyun tanpa sadar mengepalkan tangannya.

 

“Sial, kenapa aku selalu kalah darinya,” batinnya.

 

“Baiklah. Dengan senang hati, aku akan melalukannya,” setelah mengucapkan kalimat itu, Baek Hyun langsung pergi tanpa memberi hormat kepada kakaknya.

 

Kyung Soo dan Chan Yeol langsung berdiri dari duduknya, memberi hormat pada Jong Ki sebelum akhirnya menyusul Baek Hyun, begitupun Jun dan Kris.

 

“Hahahaha…,” Jong Ki tertawa saat semuanya sudah meninggalkan ruang keluarga. Sungguh wajah memerah adiknya yang sedang kesal sangatlah lucu. Tidak bisa dibayangkan, anak manja seperti adiknya berkebun. Dia saja masih suka mengeluh tentang kuku-kukunya.

 

“Hahahahaha…,” tawa Jong Ki. Ia bahkan sampai memukul-mukul pahanya sendiri.

 

***Family Scandal***

 

Wajahnya ditekuk penuh kekesalan, langkahnya berat menuju ladang hijau milik keluarga Rothschild yang berluaskan hampir menyerupai stadion bola standar FIFA.

 

“Akan kubalas nanti setelah kekuasan penuh sudah di tanganku. Kubuat kau merasakan penderitaan lebih dari ini, Billy Rothschild,” batinnya menggebu.

 

“Hei, Baek Hyun! Tunggu!” Chan Yeol dengan langkah lebarnya mengejar Baek Hyun.
Sedangkan Kyung Soo berjalan santai bersama Jun dan Kris.

 

“Siapa namamu?” tanyanya pada Kris.

 

“Saya?” Kris menunjuk dirinya sendiri.

 

Kyung Soo mengangguk. “Kalau dia aku sudah tahu,” ia milirik ke arah Jun.

 

“Kris. Nama saya Kris,” ujarnya membuat Kyung Soo mengangguk.

 

“Siap-siap memperpanjang usus besar kalian saat mengadapi putra mahkota kekanakan itu,” ujarnya membuat Kris mengernyit.\

 

“Memperpanjang usus besar?” Kris berbisik pada Jun.

 

“Bersabar,” gumam Jun membuat pria tinggi itu mengangguk mengerti. Sedangkan Kyung Soo yang mendengar itu tersenyum tipis.

 

Mereka berjalan menuju ladang yang berisikan berbagai macam tanaman organik. Dari acar timun, kacang-kacangan, wortel, kentang, kol, sawi putih, sawi hijau, lobak dan masih banyak lagi sayuran yang dibudidayakan di sana.

 

“Alat pelindung, sarung tangan.”

 

“Mana cangkul dan juga sekop?” ujar Baek Hyun begitu sampai di sana.

 

Petugas kebun hanya diam membuat Baek Hyun mendengus, “Apa kalian tuli, huh?” kesalnya.

 

“Tuan Jong Ki tidak mengijinkan Anda menggunakan alat-alat itu, Tuan,” ujar Jun mewakili.

 

“Apa? Bahkan alat pelindung, sarung tangan?” Baek Hyun menatap tajam pengawalnya.

 

“Itu perintah dari Tuan Jong Ki,” ujar Kris.

 

“Ah…,” Baek Hyun menghela nafas kasar, membasahi bibirnya, langsung berjongkok didepan sayuran lobak.

 

“Kau kejam,Hyung,” gumam Baek Hyun menatap tumbuhan hijau didepannya.

 

“Menggunakan tangan?” tanya Chan Yeol.

 

“Ya,Tuan,” ujar Jun membuat Chan Yeol menghela nafas kasar.

 

“Kenapa diam, ayo kerja biar cepat selesai hukuman kita,” ujar Kyung Soo.

 

“Kenapa kau selalu terlihat santai,” gumam Chan Yeol.

 

Kembali ke sosok yang akan menjadi pesakitan di ladang itu.Yang sedari tadi menatap sendu tamanan lobak.Dibelakangnya, Chan Yeol dan Kyung Soo sudah mulai melakukan hukumannya.Bahkan Kyung Soo terlihat paling santai menghadapi hukuman, berbedadengan kedua temannya.

 

“Hari yang buruk,” gumam Chan Yeol.

 

Jun dan Kris berdiri diujung mengawasi mereka. Hiburan tersendiri melihat putra-putra keluarga kaya berkebun.

 

Sementara Baek Hyun mendengus kesal.Baru kali ini ia memanen sayur-sayuran di ladang. Tangannya yang bersih harus bersentuhan langsung dengan tanah yang keras tanpa sarung tangan dan alat bantu. Jika saja ayah dan ibunya tahu, putra kebanggaan Keluarga Rothschild dihukum untuk memanen sayuran organik, Baek Hyun yakin, kakaknya akan kena semprot oleh ibunya. Belum lagi teriknya sinar mentari walaupun hari sudah mulai sore.

 

“Apa topi juga tidak ada?” teriak Baek Hyun kesal. Sungguh kakaknya teramat kejam.

 

“Tega sekali kau pada adikmu,” Baek Hyun benar-benar ingin menangis sekarang. Tapi hal itu akan menurunkan wibawanya sebagai seorang penerus Keluarga Rothschild.

 

Chan Yeol dan Kyung Soo sudah mendapatkan beberapa lobak, walaupun mereka harus jatuh bangun untuk mencabut lobak. Sedangkan Baek Hyun, satupun belum. Putra Mahkota kita, masih terdiam menatap tamanan lobak didepannya.

 

“Bersyukurlah kau saudaraku, Hyung.Jika bukan, tamatlah riwayatmu…,” keluhnya lalu mencabut lobak didepannya tapi tidak semudah yang dibayangkan, Baek Hyun terjungkal kebelakang.

 

“Awwww…,” ringisnya membuat yang lain langsung menoleh dan menatapnya.Chan Yeol hendak membantu Baek Hyun tapi Kris menahannya.

 

“Jangan menatapku!” teriak Baek Hyun. Ia bangkit dan mencoba lagi, walaupun harus gagal lagi.

 

“Aku bisa melakukannya. Lihat saja,” ujarnya percaya diri dan mencoba lagi.Urat lehernya bahkan terlihat saat Baek Hyun mengeluarkan seluruh tenaganya.

 

Bugh!

 

Gagal, Baek Hyun terjungkal dengan tidak elit.

 

“Celana jeans 196 jutaku. Billy Rothschild!” teriaknya saat celana jeans yang baru dibelinya sebelum ke Korea kotor terkena tanah basah.

 

Bukan tanpa alasankenapa ketiga pria itu harus dihukum memanen sayuran, karena mereka melanggar peraturan yang dibuat oleh Keluarga Rothschild.Lebih tepatnya peraturan yang ditetapkan oleh Jong Ki yang notabene kakak Baek Hyun.

 

***Family Scandal***

 

“Byun Baek Hyun, semangat!”

 

“Bernard Rothschild, semangat!” Kyung Soo berujar seraya mengepalkan tangannya ke arah Baek Hyun untuk memberinya energi saat melakukan hukumannya.

 

Baek Hyun melirik Kyung Soo yang tengah memetik tomat masak. Baek Hyun sebal Kyung Soo dengan santainya bisa menikmati hukumannya, sedangkan dirinya? Oh, Baek Hyun lupa, bukankah Kyung Soo suka memasak? Pasti dia suka berhadapan dengan sayuran, pantas saja saat tadi kakaknya mengatakan hukumanya berkebun, mata Kyung Soo berbinar cerah tidak seperti dirinya.

 

“Ck, dasar…,” dengus Baek Hyun.

 

“Huh! Ini menyebalkan sekali,” gerutunya. Sepertinya Baek Hyun belum menyerah pada lobak.

 

“Baek (hitam), Hyun (putih)! Semangat!” seru Chan Yeol. Ia bahkan mengeja nama Korea sahabat tercintanya.

 

“Yak!” jerit Baek Hyun kesal. Ia melempar lobak ke arah Chan Yeol, tapi tidak sampai membuatnya kesal sendiri.

 

Kyung Soo langsung berujar saat mendengar gerutuan seseorang dari samping, jarak dirinya dengan posisi Baek Hyun memang cukup dekat, berbeda dengan Chan Yeol yang jauh di ujung.

 

“Sudahlah, Baek, terima saja hukuman ini. Jarang-jarang, kan, kita mendapatkan pengalaman menyenangkan seperti sekarang?” Kyung Soo menyusuri raut wajah sahabatnya yang begitu kesal.

 

“Menyenangkan kepalamu!” Baek Hyun melotot kesal lalu mengambil gumpalan tanah yang kecil dan melemparkannya tepat ke arah Kyung Soo. Alhasil Kyung Soo mengaduh kesakitan karena lemparan tanah itu tepat sasaran.

 

“Rasakan!” ujar Baek Hyun dengan senyum puasnya.

 

“Awwh! Yak Byun Baek Hyun!”

 

“Hahahahaha…!” Baek Hyun tertawa lepas melihat Kyung Soo mengaduh kesakitan.

 

Sedangkan Chan Yeol sibuk sendiri. Ia asyik memetik sambil memakan buah strawberry. Saat melihat tanaman itu, pria bertelinga lebar itu langsung lari ke sana. Itu sebabnya ia berada di pojok paling ujung.

 

“Park Chan Yeol, apa kau akan terus asyik di sana. Kau harusnya mencabut wortel-wortel itu!” teriak Baek Hyun.

 

“Astaga!” Chan Yeol terkejut saat melihat kedua sahabatnya ada di depannya.

 

“Iya, iya. Santai saja kenapa,” ujarnya dan berlalu.

 

“Pastikan kau mencabut semuanya,” ujar Kyung Soo.

 

“Iya, iya,” gerutu Chan Yeol.

 

Sedangkan Kyung Soo dan Baek Hyun terkekeh pelan lalu melakukan tos andalan mereka.

 

Beberapa jam berlalu, terik mataharipun kini mulai menyingsing ke arah barat. Panas yang begitu menyengat tak membuat ketiga pria itu berhenti. Itu adalah hukuman atas perbuatan mereka, tentu mereka pasrah, bukan? Untungnya bukan musim panas, jadi mereka tidak gosong.

 

“Huh! Lebih baik aku menghitung uang bernilai jutaan dolar daripada seperti ini. Uhhhh, awas kau, Hyung! Aku adukan pada Muter (ibu),” Baek Hyun tidak ada habis-habisnya menggerutu sedari tadi. Pekerjaannya memanen lobak belum juga selesai.

 

Sedangkan Kyung Soo hampir menyelesaikan pekerjaannya memetik tomat dan timun. Keranjang yang dibawanya sudah hampir penuh.

 

“Wah, ini yang terakhir,” Kyung Soo melihat jajaran tomat merah yang begitu menggiurkan di sana. Itu adalah jajaran terakhir tamanan tomat, pekerjaannya. Dengan semangat Kyung Soo memetik tomat-tomat itu.

 

“Ah, setelah ini aku akan memasak capcae juga membuat jus tomat dicampur ketimun, kelihatannya enak,” ujarnya dengan senang.

 

Kita lihat bagaimana pekerjaannya seorang Park Chan Yeol.

 

“Aish, kapan selesainya?” Chan Yeol sama dengan Baek Hyun, belum juga menyelesaikan pekerjaanya mencabuti wortel.

 

“Aisttt, kenapa susah sekali mencabut ini!” dengan penuh tenaga Chan Yeol berusaha mencabut wortel di dalam gundukan tanah. Keringat menetes dari pelipisnya, bahkan kaos yang dipakainya sudah basah oleh keringat. Chan Yeol masih berusaha mencabut wortel, sampai akhirnya diapun berhasil.

 

“Ahh, berhas…,” belum sempat Chan Yeol melanjutkan ucapannya, matanya melebar mengetahui wortel yang dicabutnya ternyata patah setengah. Setengahnya lagi masih didalam tanah.

 

“Oh my God!” Chan Yeol melirik kanan-kirinya memastikan tidak ada orang yang melihat perbuatannya, Jun dan Kris juga tidak melihatnya, membuat Chan Yeol menghela nafas lega.

 

Dirasa aman, dengan cepat Chan Yeol membuang wortel rusak yang tinggal setengah itu. “Aman, aman…,” ujar Chan Yeol lega. Ia mengelus dadanya sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

 

“EHM!” suara dehaman seseorang membuat Chan Yeol seketika tersentak. Ia menoleh ke samping kanannya.

 

Chan Yeol menelisik dari bawah; sepatunya hingga ke atas dan…

 

“Eh, Jong Ki Hyung,” Chan Yeol kikuk saat mengetahui perbuatannya ketahuan oleh kakak iparnya.

 

Jong Ki hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik iparnya yang sama seperti Baek Hyun.

 

***Family Scandal***

 

Baek Hyun mengelus tangannya saat dirasa perih karena sedari tadi mencabuti sayuran. “Astaga, tanganku perih sekali,” Baek Hyun menghentikan pekerjaannya dan mencoba istirahat sejenak. Tangannya dikibas-kibaskan dan wajahnya merah seperti kepiting rebus yang baru saja dimasak.

 

“Hei, Bernard kenapa berhenti? Cepat selesaikan pekerjaanmu!” teriak seseorang dari belakang. Baek Hyun menengok kesal saat tahu siapa yang meneriakinya.

 

Jong Ki tersenyum geli melihat raut wajah adik tersayangnya yang menurutnya begitu lucu. Dengan santai Jong Ki berjalan ke arah Baek Hyun.

 

“Cepat selesaikan pekerjaanmu itu, lihatlah Kyung Soo dan Chan Yeol hampir selesai,” Jong Ki menunjuk ke arah dua pria di ujung sana.

 

“Hyung, kau tidak lihat tanganku sakit,” protes Baek Hyun.

 

“Jangan manja, cepat bereskan pekerjaanmu,” Jong Ki menunjuk pekerjaan Baek Hyun yang belum selesai membuat Baek Hyun mendengus kesal.

 

“Oh, kau menyebalkan sekali, Hyung,” gumamnya dan melanjutkan pekerjaanya.

 

***Family Scandal***

 

Waktu berjalan cepat, kini langit gelap dengan jutaan bintang menemani Kota Seoul. Sang dewi malam nampak malu-malu bersembunyi dibalik kabut hitam. Suasana malam Kota Seoul terlihat ramai, masih banyak kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya. Gemerlap lampu dari gedung-gedung tinggi terlihat seperti kunang-kunang jika kau melihatnya dari gedung tinggi.

 

Ha Ni keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Ia baru saja membersihkan wajah dan gosok gigi. Rutinitas yang biasa ia lakukan sebelum tidur.

 

Ha Ni naik ke ranjangnya dan mengambil ponselnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan,maksudnya seseorang yang menghubunginya. Mengirim pesan atau lainnya, membuat gadis manis itu menghela nafas pelan.

 

Drrt!

 

Ha Ni terkejut saat ponsel di tangannya berdering, “Astaga!” Ha Ni mengelus dadanya.

 

~Jongie Oppa Calling~

 

“Halo,” ujar Kai diseberang.

 

“Ya, kenapa Oppa?” jawab Ha Ni.

 

“Why? Kau kecewa karena bukan aku seseorang yang kau tunggu?” tebak Kai membuat Ha Ni mendengus.

 

“Ya kau benar tuan serba tahu. Ada apa?” ujar Ha Ni.

 

“Besok temani aku sarapan di restoran dekat rumahmu ya, sekalian aku antar ke sekolah.”

 

“Restoran Green itu?” tanya Ha Ni sambil mengambil boneka tupai dan memeluknya.

 

“Iya. Kau tahu, kan?”

 

“Tentu. Setiap hari, kan, aku melewati restoran itu. Ah, sudah buka ternyata. Kemarin-kemarin aku lihat masih banyak pekerja,” gumam Ha Ni.

 

“Bagaimana?” tanya Kai.

 

“Oke. Oppa traktir, kan?” ujar Ha Ni.

 

“Tentu saja. Sudah sana tidur. Selamat malam,Cantik. Mimpi indah,” ujar Kai membuat Ha Ni tersenyum.

 

“Selamat malam dan semoga mimpi indah juga,” ujar Ha Ni. Ia hendak memutuskan sambungan tapi terdiam saat mendengar ucapan Kai.

 

“Siapa yang kau tunggu. Se Hun atau yang lain?”

 

“Sudah, ya. Aku mau tidur,” Ha Ni memutuskan sambungan.

 

“Se Hun atau yang lain?” gumam Ha Ni. Ia mengacak rambutnya, “Baek Hyun? Ah, mana mungkin Kai Oppa tahu, siapa juga yang menunggu telepon darinya. Se Hun oppa juga, kenapa dengannya akhir-akhir ini, sih?” gerutu Ha Ni. Ia segera tidur karena besok pasti akan menjadi hari yang panjang juga melelahkan untuknya. Hukuman dari guru BP sudah menantinya.

 

***Family Scandal***

 

Next day…

 

Baek Hyun sangat-sangat berterimakasih pada kakak satu-satunya itu, karena hukuman kemarin membuat badannya sakit tak karuan, apalagi tangannya. Untung sajaBibi Nam memijatnya juga memberikan salep pada tangannya, tak lupa obat herbal hingga akhirnya ia ketiduran.

 

“Bibi, dimana jaketnya?”tanya Baek Hyun sambil menghampiri bibi Nam di ruang makan.

 

“Ah, sebentar Tuan,” ujar Bibi Nam.

 

“Kau tidak sarapan? Makanan ini hasil dari kerja kerasmu di kebun,” ujar Jong Ki sambil menunjuk hidangan di meja makan.

 

Baek Hyun mendengus, “Kau habiskan saja semuanya,Hyung. Aku ikhlas.”

 

“Kau mau keluar?” tanya Yoora saat melihat penampilan adik iparnya.

 

Baek Hyun memakai kacamata hitamnya, “Ya. Aku harus bertemu sumber energiku.”

 

“Ini Tuan. Sesuai permintaan Anda. Saya memberinya pewangi jeruk,” ujar Bibi Nam sambil memberikan paper bag.

 

“Terimakasih,Bibi,” Baek Hyun memeluk Bibi Nam membuat wanita renta itu terkejut.

 

“Aku pergi dulu,”kata Baek Hyunpamit.

 

Yoora menatap kagum pada adik iparnya, “Dia benar-benar sedang jatuh cinta?”

 

“Sepertinya begitu,” gumam Jong Ki lalu melanjutkan sarapannya.

 

***Family Scandal***

 

Ha Ni menuruni anak tangga perlahan sambil memakai dasinya. Ia berhenti di anak tangga terakhir dan menatap heran ibunya yang berdiri di dekat jendela seperti sedang mengintip sesuatu.

 

“Eomma!” panggilnya membuat Jang Mi tersentak.

 

“Why?” Ha Ni berjalan menghampiri ibunya.

 

Jang Mi menatap intens putri tunggalnya. “Apa kau mengundang mereka untuk sarapan bersama di rumah kita?” tanyanya.

 

“Ye?” Ha Ni berdiri di samping ibunya. Jang Mi memberi kode dengan dagunya membuat Ha Ni menoleh ke jendela yang memperlihatkan keadaan di luar halaman rumah.

 

Ha Ni melebarkan matanya saat melihat empat pria tampan ada di halaman rumahnya, berdiri dengan coolnya di samping kendaraan masing-masing.

 

Se Hun mendengus saat menghentikan mobilnya di halaman rumah Ha Ni. Ia mendapati Kai yang baru saja keluar dari mobilnya. Kai yang melihat Se Hun melambaikan tangannya.

 

“Wow, apa sebelumnya kita sudah janjian?” ujar Kai saat Se Hun keluar dari mobilnya.

 

Se Hun mendengus, “Sedang apa kau di sini?”

 

Kai geleng-geleng kepala. “Tentu saja bertemu dengan kelinci imutku,” ujar Kai dengan nada imutnya membuat Se Hun illfeel.

 

Brum!

 

Pandangan mereka teralih saat Johnny dengan motor sportnya datang, Kai terkekeh sedangkan Se Hun mengepalkan tangannya tanpa sadar.

 

“Hai, Bro!” sapa Kai setelah Johnny melepas helmnya.

 

Johnny tidak peduli, membuat Kai mengangkat bahunya acuh. Baru saja Johnny turun dari motornya, sebuah mobil sport keluaran terbaru dan edisi terbatas yang diimpikan Kai berhenti tepat di samping motor Johnny. Membuat tiga pasang mata itu fokus menatap satu arah.

Baek Hyun keluar dari mobilnya, dengan style modis; kaos putih bergambar abstrak dilapisi jaket kulit, celana jeans ketat juga kaca mata hitam yang menambahkan plus penampilan Baek Hyun. Seperti adengan slow motion, angin musim gugur berhembus perlahan membuat anak rambut Baek Hyun bergerak tepat setelah Baek Hyun melepaskan kaca matanya.

 

“Siapa dia?” ujar Kai.

 

“Astaga!” Ha Ni langsung menuju pintu utama rumahnya. Sedangkan Jang Mi masih berdiri didekat jendela. Terkejut dengan hal itu, ia memperhatikan putrinya yang berlarian kecil menuju pintu utama.

 

Tepat saat Ha Ni membuka pintu rumahnya, dua orang pria keluar dari mobil yang sama dengan Baek Hyun. Mereka terlihat gagah dan juga keren, setelan jas hitam yang rapi dilengkapi kacamata hitam membuat Ha Ni membuka mulutnya seperti huruf O.

 

“Wow,siapa lagi mereka?” gumam Kai.

 

Jun dan Kris berdiri dibelakang Baek Hyun membuat Kai tiba-tiba saja menarik Johnny untuk berada disebelahnya, berdiri dibelakang Se Hun. Sedangkan Johnny mendengus kesal.

 

“Nah, kan, adil,” gumam Kai sambil tersenyum lebar entah apa yang dipikirkan pria berkulit coklat itu.

 

Se Hun menatap tajam Baek Hyun yang terlihat bingung dengan keadaan itu.Dimana bukan hanya dirinya yang ada didepan rumah Ha Ni. Se Hun masih mengingat dengan jelas rupa pria didepannya itu. Seseorang yang memeluk Hani kemarin, membuat Se Hun mengepalkan tangannya kuat-kuat.

 

“Aah…,” gumam Baek Hyun saat ingat sesuatu.

Baek Hyun tersenyum tipis seolah menantang Se Hun, angin khas musim gugur yang berhembus menerbangkan dedauan membuat atmosfir saat ini benar-benar berbeda. Baek Hyun juga tidak mau kalah, ia menatap tajam iris hazel itu.

 

Sedangkan Se Hun merasa muak dengan wajah sok imut pria dihadapannya. “Siapa dia sebenarnya?” batinnya.

 

Johnny mendengus pelan, pagi-pagi sudah disuguhkan hal yang menyebalkan menurutnya. Entah bagaimana bisa sahabatnya berurusan dengan pria-pria menyebalkan itu.

 

“Aku rasa dia bukan orang sembarangan,” gumam Kai yang menilai Baek Hyun dengan teliti.

 

“Aku mencium bau-bau persaingan, benar, kan?” tanya Kai pada Johnny yang sedari tadi mengalihkan pandangannya.

 

“Hei!” Kai menyenggol lengan Johnny.

 

“Mana aku tahu,” kata Johnny ketus membuat Kai mendengus pelan.

 

Ha Ni menelan ludahnya susah payah.Bayangkan saja, enam pria tampan berdiri didepanmu, pagi-pagi saat kau membuka pintu, sudah ada di halaman rumahmu. Untung saja Ha Ni tidak pingsan. Ia melangkah maju dengan pelan.

 

“Permisi,” ujar Ha Ni membuat enam pasang mata itu menoleh ke arahnya membuat Ha Ni menciut.

 

“Hai, Ha Ni!”

 

“Hai, Cantik!” sapa Kai dan Baek Hyun berbarengan membuat keduanya saling pandang.

 

Se Hun menghela nafas pelan lalu mendekati Ha Ni dan menariknya ke mobilnya.

 

“Oppa,” ujar Ha Ni tersentak saat Se Hun menarik tangannya.

 

“Eh?” Kai menahan Baek Hyun saat hendak mendekati Ha Ni. Kai tersenyum saat Jun dan Kris bergerak cepat dengan menahan tangannya.

 

“Santai,Brother.Santai,” ujar Kai.

 

“Biarkan mereka menyelesaikan masalah pribadi mereka,” gumam Kai pada Baek Hyun membuat pria berdarah Jerman itu mengernyit.

 

Jang Mi hanya tersenyum melihat semuanya dari jendela. Ia tidak menyangka putrinya sangat populer dikalangan pria. Tapi jujur saja, ia cemburu. Terlebih melihat raut wajah Oh Se Hun.

 

Se Hun membukakan pintu mobil untuk Ha Ni, membuat gadis manis itu menurut masuk ke mobil.

 

“Jangan berbicara apapun!” ujar Se Hun lalu menutup pintu mobilnya.

 

Ha Ni hanya menghela nafas pelan, memperhatikan Baek Hyun, dua pria berjas, dan Kai dari dalam mobil. Johnny sudah lebih dulu pergi karena menurutnya sudah tidak ada yang penting. Pria dingin itu akan meminta penjelasan pada Ha Ni di sekolah nanti.

 

Se Hun masuk ke mobil dan menutup pintunya dengan kasar.

 

Brak!

 

Ha Ni lagi-lagi menghela nafas pelan, melirik kekasihnya yang berwajah datar. Ia menurut tidak akan berbicara apapun.Karena ia tahu, tandanya Oh Se Hun sedang marah besar. “Tapi kenapa dia marah besar?” pikir Ha Ni.Apa karena Baek Hyun datang ke rumahnya, tapi, kan, Se Hun tidak kenal Baek Hyun.

 

“Aish…,” gumam Ha Ni, merasa pusing dengan dugaannya.

 

Mobil Se Hun melaju dengan cepat meninggalkan halaman rumah Ha Ni.

 

***Family Scandal***

 

“Jadi dia yang bernama Oh Se Hun?” gumam Baek Hyun sambil bermain game di ponselnya.

 

“Ya, Tuan Muda,” jawab Jun yang duduk di kursi depan sedangkan Kris fokus menyetir.

 

Sebelumnya, Baek Hyun memang menyuruh Jun mencari data tentang Ha Ni, itu sebabnya Baek Hyun tahu tentang Se Hun. Kesal tentunya, saat tahu wanita yang diincarnya sudah punya kekasih.

 

“Sombong sekali. Dia pikir, dia tampan apa, yang ada lebih tampan aku,” gerutu Baek Hyun tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

 

“Aku tampan, imut, manis, baik, perhatian, pintar bermain musik, pintar pelajaran juga, kaya apalagi. Apa coba kurangnya aku. Tsk, aku jauh lebih unggul darinya,” gerutu Baek Hyun.

 

“Tinggi,” kata Kris spontanmembuat Baek Hyun langsung mendongkak, sedangkan Jun menoleh dan menatap tajam rekannya. Dua orang dengan tubuh kurang tinggi itu tentu saja tersinggung.

 

“Ah, maksudku itu. Itu…,pamflet iklannya kurang tinggi dipasangnya,” Kris langsung mengoreksi ucapannya. Ia menunjuk papan iklan di pinggir jalan. Kris melirik hati-hati tuan mudanya dari spion dalam mobil.

 

Baek Hyun mendengus sebal, “Kita ke mall. Aku ingin membeli sesuatu,” ujarnya.

 

“Baik,Tuan Muda,” Kris menghela nafas lega.

 

“Apa, kenapa menatapku terus?” ujar Kris saat Jun masih terus menatapnya tajam.

 

“Tsk,”gerutu Jun lalu mengalihkan pandangannya memperhatikan pemandangan jalanan dari kaca mobil. Jelas ia tahu maksud ucapan Kris tadi.

 

Gangnam-gu, pukul 17. 00 KST…

 

Langit nampak mendung, gumpalan awan gelap terlihat berarakan. Hembusan angin juga lebih kencang, menerbangkan dedaun kering bersama debu jalanan. Sepertinya akan terjadi hujan sore ini. Seorang gadis remaja dengan jaket coklatnya terlihat berjalan lambat diantara lautan manusia yang sibuk dengan urusan masing-masing.

 

Ha Ni pulang terlambat karena harus menjalani hukuman membersihkan kaca jendela seluruh gedung kelas XI. Ha Ni merasa tulang-tulangnya akan patah.Belum lagi Johnny yang mengerjainya. Dengan sengaja menendang bak air untuk membersihkan kaca hingga tumpah dan airnya meluber kemana-mana. Tapi dengan tidak berdosanya manusia es kutub itu lewat saja seperti tidak terjadi apapun. Menambah daftar panjang pekerjaan Ha Ni.

 

“Awas kau, Son Johnny,” gerutu Ha Ni saat ingat kejadian itu. Ia tidak bisa berbuat apapun karena saat ingin mengejar Johnny, guru BPnya datang untuk melihat hasil kerjanya.Alhasil ia kena marah lagi dan mendapat hukuman tambahan membersihkan kamar mandi di lantai 1.Malang bukan?

 

“Aaah…,sudah lama sekali aku tidak jalan-jalan seperti ini,” gumamnya sambil menaruh kedua tangannya di saku jaket. Saat ini ia berjalan sendirian di daerah Gangnam. Ha Ni mampir kesana karena ia ingin membeli sesuatu.

 

“Aish, Se Hun Oppa marah lagi,” gumamnya lagi.

Tadi pagi, selama perjalanan mengantarnya ke sekolah, Se Hun tidak buka suara sedikitpun. Bahkansaat Ha Ni mengucapkan terimakasih sudah mengantarnya, Se Hun tetap diam dan langsung menjalankan mobilnya tanpa mengucapkan satu katapun.Itu membuat Ha Ni frustasi. Jika marah, Se Hun memang seperti itu.

 

“Kalau dia marah seperti itu sungguh membuatku pusing,” Ha Ni meremas rambutnya dengan gemas.

 

Maka dari itu, satu-satunya cara untuk membuat amarah seorang Oh Se Hun mereda, Ha Ni harus melakukan sesuatu.Itu sebabnya ia mampir ke Gangnam setelah pulang sekolah.Dipikirannya hanya Se Hun, Oh Se Hun.

Ha Ni bahkan mengacuhkan pesan dari Kai dan Baek Hyun karena ia sangat lelah seharian menjalani hukuman, tapi untuk Oh Se Hun, ia rela tidak langsung pulang ke rumah.

 

“Ah,aku lapar,” gumam Ha Ni sambil mengelus perutnya.

 

Tes!

 

Tes!

 

“Aish,hujan!” Ha Ni menengadahkan tangannya dan beberapa tetes air hujan jatuh ke telapak tangannya.

 

“Aaa…,sial. Aku tidak membawa payung,” gerutu Ha Ni sambil berlari mencari tempat teduh. Ia menutup kepalanya dengan tasnya.

 

Beberapa orang disekitar Ha Ni juga melakukan hal yang sama. Mereka berlarian mencari tempat yang teduh.

 

“Kenapa tiba-tiba hujan?” gerutu Ha Ni sambil membersihkan cipratan air di jaketnya. Ia berteduh didepan sebuah toko mainan.

 

“Aku baru saja sampai. Kau seharusnya lebih bersabar,Wanita Tua,” ujar Se Hun sambil melangkah dengan payung di tangan kirinya dan ponsel di tangan kanannya. Ia harus berbicara lebih keras karena bisingnya air hujan.

 

“Aku sudah menunggu lebih dari sejam,Bocah! Apalagi saat ini hujan, aku tidak membawa payung,” gerutu Jang Mi diseberang. Bisa ia lihat kekasihnya ada diseberang jalan, Jang Mi tersenyum sendiri melihat Se Hun dari kejauhan.

 

“Salah siapa mau menungguku, huh,” goda Se Hun.

 

“Jangan mengodaku. Cepat kemari! Kau membuatku menghabiskan beberapa gelas kopi,” gerutu Jang Mi.

 

“Iya,Sayang. Jangan cerewet,” ujar Se Hun dan sambungan terputus. Ia melangkah menghindari kubangan air. Se Hun bisa melihat Jang Mi duduk di kafe tidak jauh dari tempatnya.Karena wanita cantik itu duduk didekat jendela walaupun terdapat embun di kaca, itu tidak bisa menghalangi pandangan Se Hun.

 

“Dia selalu cantik dan menggoda,” gumam Se Hun sambil tersenyum tipis.

 

Deg!

 

Entah kenapa, Se Hun menoleh ke arah kanannya. Disana, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya sedang berdiri kedinginan didepan sebuah toko tidak jauh dari kafe. Se Hun terus melangkah tapi pandangannya tidak lepas dari sosok itu.Beberapa payung dari pejalan kaki yang menghalangi pandangannyapun tidak membuat Se Hun lepas memandangi sosok itu.

 

Deg!

 

Langkah kaki Se Hun yang mengenai genangan air terhenti. Waktu juga seakan melambat untuknya. Disana, sosok yang dikenalnya sedang kedinginan berteduh dari hujan, sedangkan disisi lain, seseorang juga menunggunya sedari tadi di kafe. Biasanya, Se Hun tidak perlu pusing-pusing, ia akan langsung datang menemui Jang Mi dan tidak peduli akan sosok itu, tapi kali ini berbeda. Hatinya bergetar tanpa alasan yang dia sendiri tak mengerti.

 

“Kim Ha Ni?” Se Hun mengeja nama itu, nama seseorang yang akhir-akhir ini membuatnya frustasi. Terlebih tadi pagi, ia bahkan tidak fokus pada sidangnya.

 

Se Hun tekekeh pelan, merasa aneh dengan dirinya. “Siapa peduli,” gumamnya dan kembali melanjutkan langkahnya.

 

“Hukum alamnya. Jika kau mencintai dua orang sekaligus, maka pilihlah yang kedua. Kerena tidak ada yang kedua jika kau mencintai yang pertama.”

 

Deg!

 

Ucapan Kai tiba-tiba terngiang di telinga Se Hun, membuat langkahnya kembali terhenti.

 

“Jadi, siapa yang pertama untukmu? Jung Jang Mi?” ucapan Kai kembali terngiang, membuat Se Hun mengepalkan tangannya.

 

“Jika kau bingung, kembalilah pada pilihan awalmu. Bukan pilihan siapa yang kau pilih tapi alasan utamamu, siapa yang ada dipikiranmu. Kau bukan lagi remaja labil yang tidak bisa membedakannya, Hun.Pahami hatimu sendiri, tidak ada yang bisa kecuali dirimu sendiri.”

 

“Aaaa!” teriak samar Se Hun karena beradu dengan suara hujan. Ia memejamkan matanya dan meremas celana jeansnya dengan kasar. Kenapa ucapan Kai kembali terngiang disaat seperti ini.

 

Se Hun membuka matanya perlahan, nafasnya menderu. Ia melihat Ha Ni di sana yang kedinginan.Hatinya bergetar hebat, Se Hun juga melihat ke arah kafe dimana Jang Mi menunggunya. Wanita yang dicintainya sudah menunggunya lama, hatinya juga bergetar tak karuan membuatnya sesak nafas.

 

“Ada apa denganku?” gumamnya.

Se Hun terus melihat Ha Ni dan Jang Mi bergantian. Ia memejamkan matanya dan mengambil langkah.

 

“Inilah yang harus kau lakukan, Oh Se Hun,” gumamnya dan membuka matanya sambil melangkah pasti.

 

Tbc

 

Jadi Se Hun memilih siapa hayo…? Yeeee! Kelar juga setelah perjuangan panjang, bingung sama alurnya biar pas. Maaf ya, kalau part ini jauh dari bayangan kalian, maaf banget kalau jelek dan bikin bosen, bingungkah dengan alurnya? Hehehe, maaf ya.Bagian yang mau akhir emang sengaja dicepetin, nanti selengkapnya di part 6nya. Biasa muter/kilas baliknya, selengkapnya gitu intinya.

 

Terus juga bagian Baek Hyun yang dateng ke rumah Ha Ni pasti ngecewain kalian, ya? Karena dibuat kaya begitu, simple pake banget. Masak mau pada berantem, kan, nggak lucu. Hehehe…

 

Jadi ya, Ha Ni ditarik Se Hun gitu aja ke mobil. Ha Ni nggak proteslah karena Se Hun pacarnya. Sekian, maaf beribu maaf kalau ngebosenin dan mengecewakan hasilnya.

 

Salam dari kami,

O H E O N N I E – A N E M O N E

26 thoughts on “Family Scandal Part 5B

  1. jangan-jangan sehun milih hani.
    penasaran gimana awal hubungan sehun dengan jangmi.
    hahaha baekhyun manjanya kayak cewek.
    kris ngerasa tinggi sih ya hahaha
    johnny iseng banget deh
    semangat !!
    👍👍👍

    Suka

  2. hi thor
    maap ya baru sempet ngomen, suka banget sama ceritanya sumpah gregettt bgt, suka bgt kalo hani ama baek.. ditunggu kelanjutannya^^ fighting

    Suka

  3. Hehehhehee…..asikkkkk sehun ada saingan nya…. biar cepet sadar oh sehun nya… makin penasaran sama kelanjutanya…. semangat buat author faithing….😊😊😊

    Suka

  4. Ahhh keren eonnie!!! Lanjutin yaa, aku suka bgt sama ff ini… Walopun updatenya lama tetepaku tungguin kok. 😘😘😘
    Update lg yaa eonnie, ga sabar nunggu lanjutannya..

    Suka

  5. Sehun milih jang mi aja, biar ha ni sma baek hyun..
    Trus nanti ha ni ninggalin se hun demi baekhyun, dan se hun ninggalin jang mi demi ha ni..
    Ngarep bgt akoh..
    Ini ceritanya bkin spot jantung bgt. Kereeen

    Suka

  6. Aaaa kapan si hani tau klo eommanya pcrn sm sehun???
    Ih aku kesal sendiri jadinyaa
    Sehun bias aku tp aku gasuka sehun disini. Aku lebih suka baek yg keliatan magnae diantara mereka wkw
    Ditunggu klnjtnnya eonni^^

    Suka

  7. onnie boleh gak pinjem sehun sebentar , mau aq cakar2 tu wajah tanganq gatel banget liat kelakuannya ,,
    aq lebih iklas hani sama baek hyun aja onnie

    Suka

  8. Iisshh jdi sebel deehh… 😦
    Gk sabar bgt pengen hani cepet” tau kelakuan nya sehun & jangmi dibelakang dia.. 😦
    Tpi sehun jg udh mulai galau tuuhh.. 🙂

    Suka

  9. Hay Author…
    Wa senangnya jadi Hani dikelilingi cowok* ganteng hehehe 😂
    Penasaran sama Sehun?
    Siapa yg akan dipilih??
    Penasaran thor ama kelanjutannya
    Jangan lama* update ya…
    Semngat untuk karya*nya

    Suka

  10. Sehun emang nyebelin.. Labil kaya bocah tk…
    Kasian tau hani😭😭😭😭
    Pleasee sehun, jangan serakah jadi orang… Kamu harus bisa pilih salah satu.. Pilih hani si lebih tepat nya 😂😂😂

    Suka

  11. enak ya hani direbutin bnyk pria, tp aku lbh setuju hani sama baek, ga rela kalo hani sama sehun yg udah ‘bekas’ ibunya :v di tnggu nextnya

    Suka

  12. Hihihi, jd di kelilingin cwo banyak si Hani.
    Sumpahh kesel sm Oh sehun yg gakbisa milih satu oraang.
    Trus ini juga kependekan, apa karna terlalu asik bacanya yaa hehehe😂😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s