Crumbling Beliefs


image

Tittle/Judul : Crumbling Beliefs

Author : _Rain_Baek999

Category : NC-17+, Yadong, Romance, School life, ER (Established Romance), OneShoot, Sad.

Word : 5.300 kata.

Cast:

 Kim Hyera – OC

 Park Chanyeol – EXO

Other Cast:

 Byun Baekhyun – EXO

 Shin Jaeyeon – OC

Cover By : Leens Art

Disclaimer : Ini asli dari pikiran dan imajinasi saya sendiri. Diharapkan untuk tidak mengcopy paste karya saya TANPA IJIN!!!. Jika ada kesamaan latar, tempat, tanggal dan waktu, itu sama sekali tidak disengaja.







Aku mencintaimu dalam segala kelebihan dan kekuranganmu. Kau membuatku nyaman saat bersamamu. Tiga tahun waktu yang kita lewati begitu berharga bagiku. Kau segalanya untukku.



Aku mempercayaimu melebihi diriku sendiri. Tapi kau menghancurkan kepercayaanku. Kau membuatku hancur dalam rasa sakit yang dalam. Membuatku tak bisa kembali dalam rasa sakit yang kurasa. Kau mematahkan kepercayaanku. Kau menghancurkan hatiku. Sekarang aku tidak bisa lagi mempercayaimu. Dan aku akan pergi darimu. – Kim Hyera



Crumbling Beliefs >>>



Kim Hyera – POV

Aku membuka pintu rumahku dan menatap langit. Matahari menyinari bumi dengan sinarnya yang begitu terang. Dan langit yang begitu cerah dengan awan berada di sekelilingnya. Aku menyipitkan mataku dan mengangkat tangan kananku berusaha mengurangi sinar matahari yang berusaha mengenai mataku.

Aku berjalan pelan pergi menuju mobilku dan mengendarainya ke jalan raya. Aku menikmati setiap menit perjalanan yang kutempuh. Udara Seoul memang tidak segar, tapi aku masih menikmati hari-hariku di Ibukota yang besar ini.

Aku menghentikan mobilku di depan rumah besar dengan halaman yang luas. Aku keluar dari dalam mobil dan berjalan dengan tenang.

Aku melewati halaman depan rumah dan berjalan ke arah pintu besar dengan dua pintu. Aku menekan bel di samping pintu dan menunggu seseorang untuk membukakan pintu untukku.

Seorang wanita yang cukup berumur yang kuketahui adalah kepala pelayan di rumah itu membungkuk ke arahku. Aku tersenyum kecil dan membalas bungkukkannya.

Dia berjalan ke samping, membukakan jalan untukku agar aku dapat masuk ke dalam. Aku berjalan dengan pelan melewati ruang tamu menuju ruang keluarga. Aku bertemu Mrs. Park yang sedang melewatiku berjalan menuju dapur.

“Annyenghaseyo bibi.” Ucapku sopan kepada wanita berumur 40-an di depanku.

“Oh kau rupanya Hyera. Ada apa?” Kata wanita itu sambil tersenyum hangat kepadaku.

“Aku datang ke sini untuk bertemu Chanyeol.” Kataku.

“Ah.. Dia ada di kamar. Masuklah ke kamarnya, dia sedang bermain game bersama Baekhyun.” Aku mengangguk dan tersenyum kecil. Aku membungkuk untuk undur diri dan pergi ke kamar pria itu.

Aku berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Aku bisa mendengar teriakan kedua pria itu yang sangat keras dari sini. Aku menggelengkan kepalaku memikirkan kelakuan mereka yang masih seperti anak SMP.

Aku membuka pintu kamar itu dan melihat mereka duduk di depan TV bermain PlayStation. Keduanya menghentikan permainan dan berbalik saat mendengar pintu terbuka.

“Oh kau sudah di sini.” Kata Chanyeol ceria dengan suara beratnya. Baekhyun hanya tersenyum melihatku. Aku berjalan ke arah mereka dan duduk di sebelah Chanyeol.

Chanyeol mencium pipiku dan tersenyum padaku. Aku tersenyum membalas senyumnya. Aku melihat ke arah Baekhyun yang berada di samping Chanyeol dari sudut mataku. Aku tidak yakin tapi aku bisa melihat ke sedihan di matanya saat Chanyeol mengecup pipiku. Aku menggelengkan kepalaku kecil tidak yakin dan berusaha menghilangkan pemikiranku tersebut.

Mereka kembali dalam permainan. Aku melihat mereka dengan pandangan bosan pada televisi. Aku tidak terlalu menyukai game terutama game bola yang sedang mereka mainkan.

Aku bersandar di bahu Chanyeol dengan nyaman masih dengan tatapanku tertuju ke televisi. Chanyeol bersorak keras saat mencetak gol ke gawang Baekhyun. Baekhyun merengut dengan wajah kesal. Aku hanya tertawa kecil melihat kelakuan mereka.

Permainan terus berlanjut sampai akhirnya Chanyeol memenangkan permainan. Hari sudah sore, Baekhyun pamit kepada Chanyeol untuk kembali ke rumahnya.

Chanyeol mengangguk dan mengantar Baekhyun sampai ke depan pintu. Aku hanya melambaikan tanganku kepada Baekhyun dan tetap berada di kamar Chanyeol.

Kami menghabiskan waktu bersama dan melakukan banyak kegiatan. Aku berbaring di kasur Chanyeol dengan Chanyeol berada di sampingku. Kami menonton Film Romance Amerika ‘Lost in Florence’. Aku menikmati setiap alur dan tokoh di sana. Aku suka cara Erik Lazard mendekati Stephanie gadis yang tinggal di kota itu.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah Chanyeol. Pria itu menguap kecil dan matanya setengah terbuka ke arah televisi. Aku mengulum senyumku dan terkekeh kecil. Aku tahu Chanyeol tidak terlalu suka menonton film Romance. Tapi karena aku memintanya dia tidak menolak.

Aku mengarahkan tanganku ke tangannya dan menggenggamnya lembut. Chanyeol menghadap ke arahku dan menatapku dengan wajah bingung. Aku hanya memberikannya senyum dan kembali menonton Film yang kami putar.

Setelah menonton, kami hanya bermalas-malasan di tempat tidur. Kami akan bercerita tentang hari yang telah kami lewati selama seminggu. Chanyeol terlihat sangat antusias bercerita ketimbang diriku. Aku hanya tersenyum menanggapi semua perkataannya.

Kami juga akan berpegangan tangan, menatap mata masing-masing atau memberikan ciuman kecil di antara satu sama lain. Aku mencintainya. Dia adalah pria baik yang pernah aku temui. Dia adalah segalanya bagiku. Dia mengerti tentang diriku dan selalu menjadi orang apa adanya di depanku.

Setelah hari mulai gelap, aku berpamitan pada Chanyeol untuk pulang ke rumah. Chanyeol menawarkan dirinya untuk mengantarku tapi aku menolak karena aku membawa mobil sendiri. Chanyeol mengangguk dan mengantarkanku sampai di depan pintu. Aku berbalik ke arahnya dan mengecup bibirnya sekilas sebelum berjalan ke mobil.

Aku menghidupkan mobilku bersiap untuk pergi dan melambaikan tanganku ke arahnya. Chanyeol tersenyum lebar dan melambaikan tangannya kembali. Aku menginjak gas dan pergi menuju rumahku.

Crumbling Beliefs >>>

Aku dan Jaeyeon menyimpan peralatan belajar kami ke dalam tas dan pergi bersama menuju kantin. Aku menceritakan semua kegiatanku kemarin kepadanya. Dari pergi ke rumah Chanyeol sampai apa yang kami lakukan aku ceritakan.

Jaeyeon hanya menjawab dengan ‘hm’ atau anggukkan emndengar ceritaku. Aku menatapnya sekilas dan aku melihat dia menatap hal acak dengan tatapan.. Entahlah aku tidak bisa menjelaskan tatapannya.

Aku berhenti berbicara saat kami sudah berada di kantin. Kami pergi ke kafetarian dan memesan makanan di sana. Setelahnya kami pergi dan mencari meja, tempat kami untuk menghabiskan makan siang kami.

Aku memfokuskan pandanganku saat melihat Baekhyun melambai padaku dan Chanyeol setelahnya. Aku tersenyum dan mengajak Jaeyeon untuk pergi ke tempat mereka.

Kami berjalan ke tempat keduanya dengan nampan berada di tangan kami masing-masing. Aku duduk di sebelah Chanyeol berhadapan dengan Baekhyun. Sedangkan Jaeyeon duduk di samping Baekhyun dan tepat berhadapan dengan Chanyeol.

Kami menikmati makan siang kami diiringi perbincangan kecil. Yang didominasi oleh Chanyeol dan Baekhyun, sedangkan aku dan Jaeyeon hanya mendengarkan mereka. Karena pada dasarnya aku adalah orang yang tidak terlalu suka banyak bicara. Terbanding terbalik dengan keduanya.

Kami berempat bersekolah di Kyunggi High School. Aku dan Jaeyeon adalah teman satu kelas sedangkan Baekhyun dan Chanyeol memiliki kelas yang sama.

Baekhyun adalah sahabatku sejak kami berada di Junior High School (SMP) dan sampai sekarang. Dia adalah teman pria pertamaku yang aku miliki. Aku menyayanginya dan menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Dia adalah pria yang lucu dan menggemaskan. Aku sangat menyukai sifat maupun kelakuannya yang seperti anak-anak.

Baekhyun jugalah yang memperkenalkanku kepada Chanyeol tahun lalu, sampai akhirnya aku dan Chanyeol menjalin hubungan. Awalnya Baekhyun terkejut mendengarku menjalin hubungan dengan sahabatnya tapi akhirnya dia memberikan selamat kepada kami berdua.

“Buka mulutmu.” Perintah Chanyeol menyodorkan daging ke arahku. Aku menatapnya sekilas dan membuka mulutku. Chanyeol menyuapkannya ke mulutku dan aku mengunyahnya pelan.

“Bagaimana? Enak bukan?”

“Hm.” Jawabku sambil tersenyum. Tanpa kusadari empat mata menatap kami dengan pandangan sedih dan terluka.

Aku mengambil beberapa sayur dan menyodorkan sendokku ke arahnya. Chanyeol menatapku dan sayuran dengan ngeri. Aku tahu dia tidak suka sayur, tapi aku ingin dia memakannya karena sayur sangat bagus untuk tubuhnya.

Dengan berat hati dia membuka mulutnya dan memakan sayuran itu. Aku tersenyum dan terkikik kecil. Melihatnya memakan semua sayuran yang aku berikan padanya membuatku ingin tertawa.

Kami melanjutkan makan siang kami dengan tenang dan damai sampai akhirnya lonceng berbunyi dan kami kembali ke kelas kami masing-masing.

Clumbling Beliefs >>>

Aku keluar dari mobil dan berjalan pergi ke rumah Chanyeol. Chanyeol mengirimku pesan beberapa waktu lalu kalau orangtuanya sedang tidak ada di rumah. Mereka pergi ke luar negeri untuk melakukan sebuah bisnis di sana. Jadi di sinilah aku untuk menghabiskan waktuku bersamanya untuk membunuh waktu membosankannya.

Aku membungkuk ke arah Mrs. Ahn kepala pelayan rumah Chanyeol yang membukakan pintu untukku. Setelah itu aku langsung melesat ke kamar Chanyeol yang berada di lantai dua.

Tanpa mengetuk, aku langsung membuka pintu kamar pria itu yang tidak terkunci. Aku melihatnya sedang berbaring di kamarnya sambil menonton tv dengan wajah bosan.

Dia menghadap ke arahku saat mendengar pintu terbuka. Dia tersenyum dengan lebar saat melihatku berada di depan pintu kamarnya. Aku berjalan ke arahnya dan duduk tepat di samping pria itu.

Chanyeol menepuk tepat di sebelahnya menyuruhku untuk berbaring di sampingnya. Aku menurut dan berbaring di samping Chanyeol. Kami menonton film itu bersama-sama dalam diam. Aku tidak tahu film apa yang dia putar dan menceritakan tentang apa film itu. Aku hanya menonton dan menikmati jalan film tersebut dengan baik berusaha memahami film itu.

Aku menegang saat melihat adegan di depanku. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku meneguk susah payah air ludahku dan melirik sekilas ke arah Chanyeol. Aku bisa melihat Chanyeol juga sedikit menegang di tempatnya saat melihat adegan di dalam tv tersebut. Aku mencengkeram seprai di sampingku sedikit erat berusaha untuk terlihat biasa.

Aku bisa merasakan ketegangan seksual di sekitar kami meningkat dengan pesat. Aku memalingkan wajahku saat melihat adegan yang dilakukan kedua pemeran itu semakin panas.

Aku terdiam saat merasakan tangan hangat Chanyeol memegang wajahku dan memutarkannya ke arahnya. Aku menatap mata hitam pekat Chanyeol yang memandang mata coklat milikku. Jantungku berdetak dengan sangat cepat karena sentuhan lembut dan tatapan hangatnya yang dalam kepadaku.

Dengan lembut tangan hangatnya menyentuh pipiku dan mengelusnya pelan. Aku terbuai dengan sentuhan lembutnya di pipiku.

Aku hanya diam saat merasakan nafas hangat Chanyeol yang menerpa wajahku. Aku tak bergerak dan hanya diam saat merasakan wajah Chanyeol semakin dekat. Aku menatap dalam mata hitamnya yang memandang bibirku dan menunggu apa yang akan terjadi.

Chanyeol menempelkan bibirnya dengan lembut di atas bibirku. Aku merasakan percikan kembang api kecil di dalam dadaku saat bibirnya dengan lembut bergerak di bibirku.

Aku memejamkan mataku pelan dan menikmati setiap detik waktu yang terlewatkan. Dengan berani aku mengangkat tanganku dan mengalunkannya di leher Chanyeol. Aku bisa merasakan senyuman pria itu di sela-sela ciuman kami.

Dengan perlahan Chanyeol mendorongku ke tempat tidur. Dia berusaha untuk tidak menindihku dengan berat tubuhnya. Chanyeol menyesap bibirku dengan lembut dan menjilat sudut-sudut bibirku dengan lidahnya.

Aku mengerang kecil merasakan hal itu. Dia melepaskan ciumannya dan menatapku dalam. Aku menarik nafasku yang sedikit memburu berusaha mengembalikkannya. Dia menatapku dalam dengan mata hitam pekatnya yang menatapku.

“Bolehkah aku?” Tanyanya meminta izin. Aku menggigit bibirku terdiam beberapa saat, sampai akhirnya aku mengangguk kecil yakin.

Chanyeol tersenyum lembut kepadaku dan mengecup keningku lembut. Aku memejamkan mataku menikmati kecupannya yang manis. Dia beralih ke hidungku, lalu ke bibirku lagi menciumnya dengan dalam dan sedikit menggebu-gebu.

Aku membalas ciumannya berusaha mengikuti permainannya sebisa mungkin. Aku menggigil merasakan tangannya berada di ujung kaosku. Dengan perlahan dia menarik kaosku dari tubuhku dan membuangnya ke samping.

Wajahku sedikit memerah saat Chanyeol memandang tubuhku dengan lekat. Dengan perlahan dia mengecup permukaan perutku dengan lembut. Aku bisa merasakan kupu-kupu di perutku berterbangan.

Dia mengarahkan tangannya ke balik punggungku dan melepaskan braku dengan sekali tarikan. Bisa merasakan udara dingin menerpa dadaku membuat tubuhku sedikit menggigil. Dia mengarahkan tangannya ke celana jeans panjangku dan menariknya sekalian dengan celana dalamku.

Aku hanya bisa diam dan menekan wajah memerahku karena malu padanya. Dia juga melepaskan semua bajunya dengan cepat dari tubuhnya membuat kami sama-sama tidak memakai apa pun di tubuh kami.

Dia berdiri dan pergi dariku menuju meja yang tidak jauh dari tempat tidur. Dia mengambil sebuah kotak dan membuka kotak itu yang berisikan sebuah kondom. Wajahku sedikit memerah melihat itu.

Dia membelakangiku dan memasang kondom itu ke Penisnya. Setelah selesai dia berbalik dan beralan ke arahku. Jantungku berdebar setiap mendengar langkahnya yang semakin dekat kepadaku.

Chanyeol merangkak ke arahku dan menindih tubuhku dengan pelan berusaha untuk tidak menindihku. Dia menempalkan bibirnya ke bibirku dengan pelan dan melumat bibirku kecil. Aku bisa merasakan kedewasaannya berdiri tegak dengan keras di paha dalamku. Dia mengecup keningku lembut.

“Aku akan melakukannya pelan, aku janji.” Aku mengangguk pelan dan memeluk tubuhnya erat menunggu kedewasaannya untuk masuk ke dalamku.

Aku mencengkeram punggungnya keras saat merasakan sakit yang luar biasa di Vaginaku. Aku menggigit bibirku kuat menahan sakit di bawah sana. Seakan tubuhku terbelah menjadi dua.

Air mata terbentuk di kelopak mataku bersiap untuk turun. Tapi dengan keras aku menahan air mata yang akan jatuh dengan sekuat tenaga.

Chanyeol menghembuskan nafas lega saat Penisnya telah masuk sepenuhnya. Dengan perlahan dia mendorong pinggulnya lembut agar membuatku terbiasa dengan miliknya.

Aku mulai mengendurkan cengkeramanku saat rasa sakit mulai menghilang dan tergantikan dengan kenikmatan. Aku mendesah kecil dengan suara pelan saat merasakan pergesekkan antara Vaginaku dan Penisnya.

Mendengar itu, Chanyeol mulai mempercepat gerakan pinggulnya di dalam Vaginaku. Aku memejamkan mataku erat menikmati setiap detik yang terlewatkan dengan perasaan nikmat yang kurasa.

Jantungku berdebar kencang di dalam dadaku. Membuatku sesak seakan ingin meledak dalam kesenangan. Perasaan ini, belum pernah aku rasa sebelumnya. Perasaan mendebarkan dan menyenangkan ini begitu nikmat. Membuatku sangat sulit untuk menjelaskannya menggunakan kata-kata.

Chanyeol menggerakan pinggulnya dengan tempo dan irama yang selaras. Membuatku terbuai dengan permainan lembut tapi cepat di waktu yang bersamaan.

Udara panas semakin meningkat. Tubuh kami berkeringat dengan bau sex yang semakin menguar di sekeliling kami. Keringat kami bercampur menjadi satu saat tubuh kami saling menempel satu sama lain.

Aku meremas rambutnya lembut dan melengkungkan tubuhku saat merasakan dorongan perasaan senang itu lebih dan lebih datang kepadaku. Aku juga dapat merasakan Penis Chanyeol semakin besar di dalam Vaginaku.

Chanyeol menggeram kecil saat merasakan dorongan untuk Orgasme tidak lama lagi. Aku juga dapat merasakan Orgasmeku tidak akan lama. Chanyeol mendorong pinggulnya sedikit cepat membuat tubuhku terguncang dengan cukup cepat. Dan..

“Ahh..” Kami berdua mendesah bersama-sama saat mendapatkan Orgasme kami. Chanyeol langsung terjatuh menindih tubuhku.

Kami mengeluar masukkan nafas kami dengan cepat yang memburu. Aku menatap langit-langit kamar Chanyeol dengan pandangan kabur dan mata sayu. Aku mulai merasakan kantuk menghinggapiku.

Dengan perlahan aku memejamkan mataku merasakan kantuk yang luar biasa menyengat padaku. Aku merasakan bibir lembut dan basah mencium keningku sebelum akhirnya aku jatuh tertidur.

Clumbling Beliefs >>>

Aku pergi ke kantin sekolah, untuk bertemu pacar dan sahabat-sahabatku. Hari kelulusan sekolah semakin dekat. Tidak lama lagi kami akan melakukan perpisahan sekaligus pengumuman kelulusan. Aku tidak terlalu pusing dengan kelulusan, karena kau yakin 99% semua angkatan kami akan lulus.

Aku menghampiri meja di mana mereka dan duduk di samping Chanyeol. Mereka sedang membahas tentang rencana setelah kelulusan.

“Hei Chanyeol, kau akan ke mana setelah ini?” Tanya Baekhyun sambil menyesap es jeruk miliknya.

“Aku akan mendaftar di ‘Seoul National University’  dan mengambil jurusan bisnis.” Jawab Chanyeol yakin.

“Kau Jaeyeon?”

“Aku tidak yakin, tapi aku ingin daftar di ‘Hanyang University’ atau ‘Seoul National University’. Aku ingin mengambil menajemen keuangan.” Jawabnya pelan. Semua mata tertuju padaku saat ini. Aku menggosok pipiku pelan yang sebenarnya tak gatal.

“Aku tidak tahu, aku masih belum memikirkannya.” Jawabku jujur. Mereka hanya menatapku dengan pandangan.. Entahlah aku tidak peduli.

“Bagaimana denganmu?” Tanyaku balik kepada Baekhyun. Baekhyun hanya memberikan senyumannya padaku membuatku mengerutkan alisku dalam.

“Rahasia.” Jawabnya dengan senyuman di sudut bibirnya. Aku tidak menanggapi perkataannya. Tapi entah mengapa mendengar jawabannya membuatku tak suka.

“Aku sangat membencimu saat kau bermain seperti ini.” Kataku malas setelah beberapa detik terlewatkan. Baekhyun hanya tersenyum menanggapi perkataanku dan mengacak rambutku. Aku mendengus saat dia melakukannya. Tapi detik berikutnya aku juga tersenyum dengan sahabat baikku tersebut. Sudah lama aku tidak melihat senyuman manis dan tulusnya kepadaku seperti ini.

Kami kembali membahas tentang perguruan tinggi dan jurusan-jurusan yang ada. Lebih tepatnya mereka bertiga. Aku hanya terdiam di tempatku memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah lulus nanti. Aku masih belum yakin dengan keputusanku untuk melanjutkan pendidikkanku atau tidak. Aku memang menginginkannya, tapi aku tidak tahu tujuanku ke mana dan mengambil jurusan apa nantinya. Aku masih belum tahu.

Aku memandang mereka semua dengan lekat berusaha untuk mendengar apa yang mereka bahas dan ikut di dalamnya.

Crumbling Beliefs >>>



Hari kelulusan telah tiba. Kami angkatan kelas 12  menunggu nama kami di panggil satu persatu untuk menerima Piagam kelulusan kami. Aku menunggu dengan sabar namaku di panggil karena nama margaku Kim.

Aku menatap Baekhyun saat mendengar namanya di panggil. Aku memberikan senyuman kecil padanya dan menyuruhnya untuk cepat naik ke atas podium. Dia tersenyum dan bergegas ke sana.

Aku tersenyum melihatnya berjalan dengan percaya diri ke sana. Dia menerima piagam kelulusan dan menatap kami semua dan tersenyum dengan wajah idiotnya. Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya itu.

Setelah Baekhyun dan beberapa nama siswa lain, akhir namaku di panggil. Jantungku berdetak cepat. Aku begitu gugup untuk menerima piagam kelulusanku. Chanyeol meraih tanganku dan meremasnya pelan, membuatku sedikit santai karenanya. Aku membalas senyumnya dan melepaskan tangan kami untuk pergi ke podium.

Aku berjalan perlahan dan berhenti tepat di depan kepala Sekolah kami. Aku membungkuk padanya atas rasa hormatku padanya. Dia menyerahkan piagam kepadaku dan aku mengambilnya dengan pelan.

Aku bisa merasakan mataku berkaca-kaca saat menerima Piagam kelulusanku. Dia (Kepala Sekolah) tersenyum dan menepuk pundakku kecil atas kelulusanku. Aku tersenyum padanya dan berbalik untuk melihat semua sahabatku. Baekhyun dan Jaeyeon tersenyum hangat padaku, aku membalas senyuman mereka. Aku menatap Chanyeol yang juga tersenyum lebar ke arahku. Dia memberikanku acungan jempol padaku membuatku tertawa kecil atas responnya.

Setelah semua murid angkatan 12 menerima piagam kelulusan dan berfoto bersama, kami pergi ke orangtua kami masing-masing. Mereka memelukku hangat atas kelulusanku. Aku membalas pelukan orangtuaku dengan hangat.

Chanyeol, Jaeyeon dan Baekhyun datang ke arahku setelah mereka berbicara sama orangtua mereka dan berfoto dengan mereka. Ibuku mengeluarkan kamera Digitalnya dan menyerahkannya pada Baekhyun.

“Baekhyun, bisakah kau mengambil foto kami dengan Hyera?”

“Tentu Ajhuma.” Jawab Baekhyun tersenyum sambil mengambil kamera itu dari tangan ibuku.

Kami berbaris dengan rapi dengan aku berada di tengah antara Ibu dan Ayahku. Aku menatap kamera dengan senyuman kecil di bibirlku. Baekhyun menghitung 1-3 dan mengambil gambar kami. Ibuku mengambil kamera itu dari tangannya dan melihat hasilnya. Dia tersenyum puas atas foto yang di ambil Baekhyun.

“Kalian berempat berbarislah. Ajhuma akan memfoto kalian.” Perintah Ibuku kepada kami. Kami berbaris dengan rapi. Di sebelah kananku Baekhyun dan di sebelah kiriku adalah Chanyeol sedangkan Jaeyeon berada di sebelah Chanyeol.

Kami bersiap dan tersenyum di kamera. Ibuku mengambil gambar setelah menghitung 1-3. Jaeyeon pergi sedikit jauh dari kami, membiarkanku berfoto bersama Chanyeol dan Baekhyun yang berada di kedua sisiku.

Kami tersenyum manis di depan kamera. Setealh itu aku berfoto satu-satu bersama sahabat-sahabatku. Jaeyeon dan aku tersenyum ke arah kamera dengan tangan saling terikat. Kami tersenyum satu sama lain setelah Ibuku mengambil foto kami.

Lalu aku berfoto dengan Chanyeol. Chanyeol mengambil tanganku dan menggengamnya lembut. Aku tersenyum ke arahnya dan membalas genggamannya. Diam-diam ibuku mengambil gambar kami seperti itu.

Kami menghadap ke arah Ibuku dan tersenyum manis ke arah kamera. Setelah hitungan ketiga, Ibuku mengambil gambar kami berdua. Setelah itu aku berfoto dengan Baekhyun. Kami berdua tersenyum satu sama lain dan langsung di abadikan oleh Ibuku tanpa sepengetahuan kami.

Ibuku menyuruh kami bersiap dan dia mulai berhitung. Aku melingkarkan tanganku ke lengannya membuat Baekhyun menatap ke arahku saat Ibuku mengambil gambar kami. Aku bisa mendengar Ibu mengatakan ‘manis’ saat melihat gambarku dan Baekhyun.

Ibu menyuruh kami berfoto sekali lagi. Aku masih melingkarkan lenganku padanya dan tersenyum ke arah kamera. Kali ini Baekhyun menghadap ke kamera dan juga tersenyum.

Kami melihat semua hasil foto kami bersama. Aku tersenyum melihat semua kebersamaan kami. Jaeyeon menghadap kami dan berkata dia harus pergi ke orangtuanya. Kami mengangguk kepadanya. Baekhyun juga berkata bahwa dia harus pergi, ada urusan penting yang harus dia lakukan.

Aku mengangguk padanya dan melihat kepergiannya. Setelah itu orangtuaku pergi membiarkanku dan Chanyeol berdua.

“Jadi, sekarang apa?” Tanyaku padanya. Chanyeol terdiam sejenak berpikir apa yang akan kami lakukan.

“Ingin membeli es cream?” Tanyanya padaku. Aku mengangguk padanya dan tersenyum menyetujui rencananya. Kami pergi menuju mobilnya berada. Chanyeol membukakan pintu untukku membiarkanku masuk ke dalam mobil. Dia menutup pintu setelah yakin aku telah duduk dan pergi ke tempat pengemudi.

Dia menghidupkan mobilnya dan menjalankannya ke jalan raya. Aku menikmati setiap menit waktu yang aku lewatkan bersamanya. Aku menatapnya dari samping dan menatap lekat wajah tampannya itu.

“Aku tahu aku tampan tapi kau tidak perlu menatapku seperti itu.” Kata Chanyeol tiba-tiba membuatku mengerutkan alisku mendengar perkataannya.

“Tck.” Jawabku dan mengalihkan perhatianku ke jalanan.

“Apa? Aku benar bukan?” Tanyanya dengan senyuman menggodanya.

“Apapun Chanyeol.” Jawabku malas. Tidak lama kemudian kami berhenti di sebuah taman. Aku membuka pintu mobil dan keluar dari sana diikuti Chanyeol setelahnya.

Aku melihat sebuah mobil es cream yang tidak jauh dari kami. Chanyeol menghampiriku dan menarik tanganku lembut untuk pergi ke mobil es cream tersebut.

“Satu rasa coklat dan..” Chanyeol menghadap ke arahku.

“vanila.” Jawabku.

“Dan satu rasa Vanila.” Lanjutnya. Penjual es cream tersebut mengangguk dan mulai membuat pesanan kami. Tidak lama kemudian es cream kami datang. Chanyeol mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uangnya untuk membayar es cream kami. Kami membungkuk dan setelahnya pergi dari sana.

Aku dan Chanyeol berjalan dalam diam sambil menikmati es cream milik kami masing-masing. Aku menikmati acara jalan-jalan kami di taman tersebut. Banyak orang-orang menghabiskan waktunya di sana untuk bersantai bersama keluarga maupun pasangannya.

“Jadi, apa tujuanmu setelah ini?” Tanya Chanyeol setelah keheningan panjang di antara kami berdua. Aku berhenti menjilat es creamku dan memandang ke depan.

“Aku akan melanjutkan pendidikanku di ‘Seoul National University’.” Chanyeol membeku mendengar perkataanku dan detik berikutnya dia tersenyum.

“Kau tidak bercanda bukan?”

“Tidak, aku serius. Aku sudah mendaftar dan mendapatkan pesan kalau aku sudah di terima di sa-” Aku menghentikan perkataanku dan terkejut saat Chanyeol memelukku erat dalam pelukannya.

“Kita akan berada di University yang sama!” Kata Chanyeol semangat dan melepaskan pelukannya.

“Yeah.” Jawabku pelan dengan senyuman kecil di bibirku. Memang itulah yang aku inginkan. Setelah berpikir cukup lama, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku di Universitas yang sama dengan Chanyeol. Karena aku tahu, aku tidak bisa jauh darinya. Dia sangat berarti bagiku. Aku tidak bisa membayangkan jika aku jauh darinya sehari saja. Itu akan membuatku tidak bisa berpikir dengan tenang.

Kami kembali berjalan menghabiskan waktu sore kami sambil menikmati es cream kami. Aku mengalihkan pandanganku menatap ke arahnya.

Rambutnya yang sedikit panjang melambai mengikuti angin yang bertiup. Aku tersenyum hangat sambil memandangnya. Aku mengalihkan pandanganku ke tangannya. Dengan perlahan aku mendekatkan tanganku ke arahnya dan memegang tangannya lembut. Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arahku dan tersenyum. Dia membalas genggaman tanganku dan meremasnya lembut.

Dia menarik tanganku ke bibirnya dan menciumnya lembut. Senyumanku semakin luas karenanya. Dia menurunkan tanganku dari bibirnya dan menatapku masih dengan senyumannya.

“Aku mencintaimu.” Aku tersenyum dalam kebahagian. Aku menatap ke tanah dan kembali menatapnya.

“Aku juga mencintaimu.”

Crumbling Beliefs >>>

Chanyeol menghentikan mobilnya saat kami berada di depan rumahku. Aku mengecup pipinya dan mengucapkan selamat tinggal padanya. Dia tersenyum dan juga mengucapkan selamat tinggal padaku.

Aku keluar dari mobilnya dan berjalan menuju rumahku. Aku membuka pintu dan melihat Ibu dan Ayahku ada di ruang tamu.

“Kau sudah pulang?”

“Hm.” Jawabku dan berjalan ke arah dapur.

“Sayang..” Aku berhenti minum untuk melihat Ibuku datang ke arahku dengan sebuah surat di tangannya.

“Apa itu?” Tanyaku dengan alis terangkat.

“Ini surat dari Baekhyun.” Aku membeku mendengar perkataan Ibuku. Dengan perlahan aku mengambil surat itu dari tangannya dan memandang surat yang sekarang berada di tanganku. Ibuku hanya memandangku dengan wajah sendunya.

Dia pergi dan meninggalkanku seorang diri di dapur. Aku menatap lekat surat itu dan membawanya ke kamarku. Aku duduk dengan nyaman di atas kasur dan membuka surat tersebut.

Dear Hyejin



Hai, ini aku sahabat konyolmu Byun Baekhyun. Hahaha.. Aku tidak tahu harus memulai dari mana saat menulis ini. Aku hanya berharap kau tidak membenciku saat kau membaca suratku. Seebelumnya aku meminta maaf kepadamu Hyera karena tidak memberitahukan rencanaku. Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan studyku ke ‘Harvard University’ Cambridge Amerika Serikat.



Aku berharap kau mendukungku dan tidak membenciku karena tidak memberitahumu. Dan juga saat kau membaca surat ini, aku sudah tidak berada di Seoul. Aku harap kau mengerti.



Aku juga ingin memberitahukan sesuatu kepadamu. Aku sudah lama ingin mengatakan ini, tapi aku tidak mempunyai keberanian mengatakannya kepadamu. Aku menyukaimu Kim Hyera.



Aku sudah lama menyukaimu sejak kita berada di Junior High School. Tapi aku tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaanku padamu. Alasan lain aku tidak memberitahukan perasaanku karena aku takut kau akan menolak perasaanku. Sebut saja aku bodoh karena ini.



Aku selalu melakukan hal bodoh di depanmu untuk mendapat perhatianmu dan itu berhasil. Tapi aku tahu kau hanya menganggapku sebagai sahabat dan tak lebih. Aku tidak masalah, asalkan aku bisa berada di dekatmu itu membuatku bahagia.



Sampai akhirnya aku memperkenalkanmu dengan Chanyeol. Aku tahu kau memiliki naksir kecil padanya setelah aku memperkenalkan Chanyeol padamu. Tapi aku selalu meyakinkan diriku bahwa kau hanya memandangnya seperti kau memandangku. Sampai akhirnya kau memberitahuku bahwa kau telah berkencan padanya. Aku tidak bisa mengutarakan perasaanku saat itu saat mendengar berita itu darimu. Tapi aku tetap tersenyum dan mendukungmu, walaupun aku sangat sakit di dalam.



Aku akan selalu mendukung apapun yang akan kau lakukan Hyera. Dan aku masih akan menjadi sahabat terbaikmu sampai kapanpun. Jangan terbebani karena perasaanku. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku sebelum aku pergi. Maaf untuk segalanya. Dari sahabat terbaikmu Byun Baekhyun. ~



Aku menurunkan tanganku dan memandang ke depan setelah membaca surat Baekhyun. Aku tidak tahu harus berbuat apa setelah mengetahui perasaannya.

“Pabo.” Gumamku pelan dengan mata sedikit berkaca-kaca. Aku menjatuhkan tubuhku dan memandang lurus ke langit-langit kamarku. Aku menghela nafas pelan dan memejamkan mataku pelan saat merasakan kantuk yang luar biasa menghampiriku.

Crumbling Beliefs >>>

Sudah 2 tahun berlalu sejak hari kelulusan. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Aku tidak pernah mendengar kabar Baekhyun setelah hari itu. Kami seperti kehilangan kontak. Aku ingin menghubunginya dan menanyakan kabarnya, tapi aku tidak memiliki keberanian untuk memulainya. Dan rasanya begitu canggung jika aku menghubunginya setelah mengetahui perasaannya padaku.

Aku berjalan dengan perlahan menuju kantin Kampus dan melihat Chanyeol duduk seorang diri di salah satu meja di sana. Dia tersenyum ke arahku saat melihatku dan aku membalas senyumannya. Aku berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya. Dia mengecup pipiku lembut dan melingkarkan lengannya di sekeliling pinggangku.

Aku melihat Jaeyeon tidak jauh dari kami. Aku melambai padanya dan menyuruhnya untuk bergabung bersama kami. Jaeyeon membalas lambaian tanganku. Dia sedikit ragu, apakah dia harus bergabung dengan kami. Tapi dia akhirnya mendekat memutuskan untuk datang.

“Hai.” Sapaku.

“Hai.”Balasnya dengan senyuman tipis di bibirnya. Dia melirik sekilas ke arah Chanyeol tapi kembali menatapku.

“Bagaimana kabarmu Jaeyeon? Aku sudah lama tidak melihatmu akhir-akhir ini.”

“Maaf, beberapa minggu yang lalu aku sakit da sekarang aku tengah sibuk menyusul ketinggalanku.” Jawab Hyera menyesal.

“Ah, aku mengerti.” Jawabku.

“Aku ingin memesan apa kau mau ikut?” Tanyaku padanya. Dia menggeleng dan tersenyum kecil menolak tawaranku. Aku tersenyum dan pergi untuk memesan, meninggalkan Jaeyeon dan Chanyeol berdua di sana.

“Ada yang bisa kami bantu?”

“Em, aku pesan sandwich dan Banana Milk satu.” Kataku. Pelayan itu menggangguk dan tersenyum. Tidak lama kemudian pesananku datang. Aku membayar dan berterima kasih kepadanya.

Aku berbalik dan berjalan menuju Jaeyeon dan Chanyeol. Mereka terdiam di tempat mereka sambil menatap mata satu sama lain. Aku mengangkat alisku bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Mereka mengalihkan perhatian mereka saat menyadariku berjalan mendekat ke arah mereka.

Jaeyeon tersenyum canggung saat melihatku. Aku duduk di samping Chanyeol dengan nyaman dan membalas senyumannya. Aku menatap Chanyeol yang juga tersenyum dan memandangku dengan.. Entahlah aku tidak tahu.

“Hyera, aku harus pergi. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Sampai jumpa.” Katanya tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya diam dan menatap tubuhnya yang menjauh dari pandanganku.

‘Apa yang terjadi?’



Crumbling Beliefs >>>



Aku berjalan menuju kelas yang akan aku ikuti. Sudah sebulan berlalu, tidak ada hal istimewa yang terjadi. Aku berhenti saat melihat Chanyeol dan Jaeyeon saling berhadapan dan berbicara.

Aku bersembunyi di balik dinding berusaha mendengarkan pembicaraan mereka. Tapi tidak ada yang dapat aku dengar. Suara mereka begitu kecil dan jauh dariku.

Aku keluar dari persembunyianku saat mendengar langkah kaki mereka. Aku memandang punggung mereka dengan lekat yang berjalan saling beriringan. Aku mengangkat tanganku dan meletakkannya tepat di jantungku. Aku meremasnya pelan merasakan nyeri di dalam sana.

“Aku tidak boleh seperti ini.” Gumamku pelan. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa mereka hanya berbicara sesuatu hal yang penting dan tak lebih. Tapi hati kecilku berkata sebaliknya. Aku memandang mereka lekat sampai punggung mereka tak terlihat lagi.

Crumbling Beliefs >>>



Aku menatap tv dengan pandangan bosan. Saat ini aku berada di Apartemen Chanyeol. Chanyeol memutuskan hidup sendiri dengan membeli salah satu Apartemen agar lebih mandiri.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah Chanyeol yang saat ini sedang mengutak-atik ponselnya. Akhir-akhir ini dia sedikit berubah. Chanyeol lebih sering memainkan ponselnya dan mengabaikanku. Ini membuat dadaku sedikit nyeri. Walaupun tidak seberapa, tapi rasanya cukup sakit di dalam sana. Diabaikan oleh seseorang yang kita sayangi adalah sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.

“Chanyeol?” Panggilku.

“Hm.” Balasnya masih menatap ponselnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanyaku masih menatapnya.

“Membalas pesan.” Jawabnya singkat.

“Untuk siapa?” Dia menghentikan kegiatannya dan terdiam. Dia menghadapku dan membalas tatapanku. Aku menunggu dengan sabar dan menatap matanya dalam yang berwarna hitam itu.

“Baekhyun.” Jawabnya. Aku menurunkan pandanganku ke tangannya. Dia menggaruk tangannya yang tak gatal menggunakan jempol tangannya.

‘Bohong.’ Pikirku dalam hati.

Chanyeol akan melakukan hal itu jika dia merasa gugup ataupun berbohong. Dia memasukkan ponselnya ke dalam kantung celananya dan menonton tv. Aku hanya menatapnya dengan lekat yang kembali mengabaikanku.

Crumbling Beliefs >>>

Saat ini aku berada di kantin bersama Jaeyeon. Aku mengajaknya ke kantin bersama karena kami memang sudah lama tidak kumpul bersama.

Aku berbicara kecil sambil menikmati makanan kami. Jaeyeon beberapa menit sekali akan mengecek ponselnya dan membalas pesan seseorang di ponselnya. Aku menatapnya dengan rasa penasaran. Sejak SMA Jaeyeon tidak pernah berbicara tentang seorang pria ataupun mendengarnya sedang menjalin sebuah hubungan.

Aku melanjutkan makananku dan mengabaikannya. Semua orang tentu saja akan berubah dan tidak mungkin akan seperti itu terus selama hidupnya. Aku menghadapnya saat mendengar dia membersihkan barang-barangnya/

“Maaf Hyera aku harus pergi, ada urusan yang harus aku selesaikan. Tidak apa bukan?” Aku mengangguk dan tersenyum penuh pengertian padanya. Dia membalas senyumku dan melambaikan tangannya padaku. Aku membalas lambaian tangannya dan menatap punggung kecilnya yang semakin menjauh.

Crumbling Beliefs >>>



Aku berjalan dengan pelan menuju Perpustakaan dengan semua buku di tanganku. Beberapa junior menyapaku dan membungkuk ke arahku. Aku tersenyum kecil dan membalas bungkukkan mereka.

Aku berbelok ke tikungan yang memang jalan ke arah perpustakaan. Lorong itu cukup sepi karena mungkin beberapa Mahasiswa sedang mengikuti kelas mereka. Aku berhenti dan menjatuhkan semua bukuku saat melihat sesuatu yang tidak pernahku bayangkan.

Air mataku jatuh dengan sendirinya membasahi pipiku saat melihat sahabat baik dan kekasihku bercumbu dengan mesra di lorong Universitas. Tubuhku tak bisa bergerak melihat hal itu. Jantungku seakan berhenti berdetak.

Aku mundur dengan teratur dan berbalik meninggalkan tempat itu secepat yang aku bisa. Aku berlari dengan kencang tak tahu ke mana kakiku membawaku pergi. Krystal bening terus jatuh membasahi pipiku terus menerus tanpa henti.

Aku menghentikan kakiku dan berhenti di depan sebuah danau yang ada di Universitasku. Kakiku lemas, aku terjatuh dengan kedua lututku menopang tubuhku.

Aku menatap lurus ke arah Danau berwarna hijau itu.  Air mata kembali mengalir membasahi pipiku dengan deras. Aku menundukkan wajahku dan menangis dengan kencang melampiaskan perasaan yang aku rasakan.

Aku meremas dadaku yang terasa sangat sakit. Aku memukul dadaku keras berusaha menghilangkan rasa sakit yang aku rasa, tapi tidak bisa. Rasa sakitnya seakan memakanku dengan perlahan. Menghancurkanku sampai ke akar-akarnya sampai tak tersisa. Aku terisak dengan keras dan terus memukul dadaku kuat.

“M-mengapa Chanyeol? Mengapa?” Aku terisak masih terus memukul dadaku keras. Hatiku begitu sakit membuatku jatuh ke dalam dasar terdalam.

“Mengapa kau menghiatiku? Mengapa Chanyeol?” Kataku dengan terisak.

Aku terus menangis yang terasa sampai berabad-abad lamanya bagiku. Aku menyentuh kalung pemberian Chanyeol 1 tahun yang lalu saat ulang tahunku. Aku melepaskannya dan menggenggamnya erat dalam tanganku.

Aku menatapnya dalam dan satu air mata kembali lolos dari mataku. Hatiku begitu sakit. Aku tidak bisa menangani hatiku lagi. Rasanya seakan seseorang menghempaskanmu dengan keras dari ketinggian 20 kaki. Aku memeluk kalung itu erat di dadaku. Aku berdiri dan menatap danau yang sangat besar di hadapanku.

“Aku mempercayaimu melebihi diriku sendiri. Tapi kau menghancurkan kepercayaanku, membuatku hancur dalam rasa sakit yang dalam. Kau menghancurkan hatiku dan mematahkan kepercayaanku. Sekarang aku tidak bisa lagi mempercayaimu. Dan aku akan pergi darimu.” Aku melempar kalung pemberiannya ke dalam danau membuat kalung itu hilang ke dalam dasar danau.

“Selamat tinggal Chanyeol.”

END

Terima kasih telah membaca . Maaf untuk typo dan kesalahan kata dan sebagainya. Jangan lupa memberikan komentar dan Like. Sampai jumpa^^…

_Rain_Baek999

46 thoughts on “Crumbling Beliefs

  1. Adakah sequel nya?? Ini nanggung. Bukan nanggung sih, penasaran bgt aku ama lanjutan nya. Maksudnya, gimana kalo Chanyeol ama Jaeyon tau kalo Hyera ga sengaja liat mereka. Apakah mereka masih tebal muka dan jujur ke Hyera? Apa Chanyeol dan Jaeyon berani minta maaf dan ngakuin semua. Gimana dengan Baekhyun, bisa aja kan Hyera balikan ama Baekhyun? Hm. Bukan. Maksudku Hyera nerima perasaan Baekhyun. Ahhh pokok nya sequel deh kak…. Adakah? Adain dong hihihiiiii keren soalnya

    Suka

  2. dari awal baca emang udah ngrasa kalo jaeyeon itu ada hubungan ama chanyeol makanya paa hyera mutusin buat satu universitas ama chanyeol kan dia terkejut takut ketahuan perselingkuhan mereka
    kasian kamu hyera mending ama baekhyun aja
    moga ada sequelnya ya

    Suka

  3. dari awal baca emang udah ngrasa kalo jaeyeon itu ada hubungan ama chanyeol makanya paa hyera mutusin buat satu universitas ama chanyeol kan dia terkejut takut ketahuan perselingkuhan mereka
    kasian kamu hyera mending ama baekhyun aja

    Suka

  4. Astagaaaaaaa
    Chanyeol jahat ih parah bgt
    Aplgi jayeonnnnn. Sebel sm shbt yg suka ambil pcr wkwk eonni butuh sequelll smga eonni mau ksh sequel hehehehe
    Ditunggu karyaaa slnjtnyaaa

    Suka

  5. Gantung bgt eonni ending ya, butuh sequel . . . Rasanya pengen cabik2 tuh org. Tega bgt menghiati hyera . . . Bakalan kena karma tuh org . . .

    Suka

  6. ffnya bgus kak, tpi ap ya?? klo mnurut aku nih alurnya kecepetan trus pas bagian akhirnya jga gtu bgt.. masa lngsung nyerah gtu aj, gk mnta pnjlsan dri chanyeol.. yaah tp blik ke kakak nya lgi sih maunya kyak gmna.. itu cma pndpat aku aj hhehe
    next ffnya dtunggu ya kak😄

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s