When The Smile Being Ornate Part 10


 

When The Smile Being Ornate Part 10

Author : Irene Cho

Tittle : Dark Side

Category : NC17, Mature, Romance, Chapter

Cast :

Cho Kyuhyun

Jung Nara

 

Disclaimer : Cerita ini milik saya, sementara seluruh cast milik Tuhan. ALL RIGHTS RESERVED! Don’t copy without permission!

Note : Makasi buat semua admin FNC yang udah publish tulisanku di blog ini. makasi juga buat temen-temen author FNC yang selalu membagi ilmunya, juga buat reader ff ini dan paling spesial buat Famges. Hati-hati dengan ranjau typo. Bukannya mau melihara typo, tapi nulis sebanyak ini sudah pasti banyak kesalahan. Walaupun sudah diperiksa berulang kali, tetap aja si typo nyempil. Jadi tolong nikmati ff ini beserta typo-nya ya wkwkwk

Harap berikan kritik dan saran dengan cara yang baik dan sopan!

Happy Reading^^

 

 

******

 

 

~~~

 

Aku akan menghilang dari duniamu.

 

~~~

 

 

Seoul National University Hospital, Seoul.

11.30 PM KST

 

 

Nara masih berdiri mematung di basement rumah sakit. Saat ini hanya ada dirinya bersama jejeran mobil yang terparkir di sana. Kyuhyun telah berlalu meninggalkan gadis itu sejak beberapa menit yang lalu.

 

 

Tatapannya masih terpaku pada botol plastik yang sekarang ia genggam. Perlahan lelehan cairan bening mulai mengalir di lekuk pipinya. Gadis itu kembali menangis. Tanpa isakan. Bahkan ia tak menyadari air mata yang kembali menetes. Tubuhnya merespon semua rasa sakit akibat tuduhan Kyuhyun, namun ia tak bisa merasakan apapun selain rasa sakit yang berdenyut di hati.

 

 

***

 

 

Holly Cafe, Myeongdong-gu, Seoul.

12.35 PM KST

 

 

“Katakan padaku, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan gadis gilamu itu.” Baekhyun bertanya antusias setelah menyeruput americano-nya. Pria itu bahkan mencondongkan tubuh pada Chanyeol yang duduk di sebelahnya.

 

 

Meletakkan capucino cup nya di atas meja, Chanyeol menyeringai.

 

 

“Dia masih betah menjadi budakku,” jawab pria itu santai.

 

 

“Astaga, Park Chanyeol! Kau benar-benar-benar meletakkan dia di radarmu?”

 

 

Chanyeol mengangkat bahunya acuh sambil mencebikkan bibir bawahnya.

 

 

“Dasar, Kau. Playboy cap kacang,” sembur Jongin pada sahabatnya itu.

 

 

“Daripada kau, yang hanya melihat dan mengikuti gadis masa kecilmu itu secara diam-diam,” cibir Chanyeol membalas ejekan Jongin.

 

 

Sementara Baekhyun tersenyum geli.

 

 

“Ya! Jangan tersenyum. Kau bahkan lebih parah dariku!” seru Jongin sambil melemparkan kotak tisu yang terletak di atas meja di hadapannya. Untungnya Baekhyun bisa menghindari lemparan Jongin, hingga wajah tampannya terlindungi.

 

 

“Jangan menyinggung-nyinggung masalah itu,” dengus baekhyun. “Oh benar, bagaimana rencana kencan butamu dengan gadis itu? Apa dia menerimanya?” tanya Baekhyun yang terlihat penasaran.

 

 

Jongin menyeringai. “Tentu saja. Tak ada yang bisa menolak pesonaku.” Pria itu menyombongkan diri.

 

 

Ketiganya tengah menikmati waktu makan siang di sebuah kafe yang berada tak jauh dari kantor masing-masing. Mereka memang selalu menyempatkan diri untuk makan siang bersama walaupun ketiganya bekerja di tempat yang berbeda.

 

 

Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk. Pria itu menangkap sosok gadis yang ia kenal tengah berjalan bersama seorang pria memasuki kafe.

 

 

“Bukankah itu Sooyoung? Dengan siapa dia? Kekasihnya?”

 

 

Baekhyun yang tengah tertawa mengikuti arah pandang Chanyeol, diikuti oleh Jongin. Mata pria itu melebar. Tanpa berkata apa-apa ia langsung bangun dari sofa dan melangkah tergesa menyusul dua orang yang baru memasuki kafe itu.

 

 

Baekhyun menarik dengan kuat lengan gadis itu hingga gandengannya terlepas dengan pria di sebelahnya, membuat gadis itu sedikit terpekik akibat tarikan Baekhyun.

 

 

Oppa!”

 

 

Mata Sooyoung membulat menatap Baekhyun yang tiba-tiba telah berada di dekatnya. Sementara Baekyun menatap tajam pada gadis itu. Ia menarik Sooyoung ke belakang pungungnya, lalu menyapukan tatapan tajamnya pada pria yang tadi digandeng oleh Sooyoung.

 

 

“Pergilah, jangan pernah mengganggu istriku lagi!” desis Baekhyun.

 

 

Pria itu ternganga dengan mata melebar mendengar ucapan Baekhyun, lalu memilih melangkah pergi meninggalkan kafe. Sementara Sooyoung tersenyum di belakang punggung Baekhyun. Hingga ia merasa Baekhyun kembali menarik lengannya.

 

 

Bokongnya terhempas ke sebuah sofa empuk. Ia cepat-cepat memasang wajah merengut.

 

 

“Siapa pria itu? Kekasihmu?” Chanyeol langsung bertanya pada Sooyeong, sambil melirik pada Baekhyun yang saat ini terlihat uring-uringan.

 

 

“Bukan. Tapi, mungkin dua hari lagi status kami akan seperti itu. Sialnya sahabatmu ini mengacaukan semuanya. Hah … bagaimana aku bisa memiliki kekasih kalau dia selalu menggangguku.” Sooyoung berujar dengan nada mendramatisir. “Oppa bantu aku nengatasi sahabatmu ini,” rengeknya pada Chanyeol.

 

 

“Kau tak boleh memiliki kekasih saat ini, karena kau belum bisa menjaga diri dengan benar. Kau tak tahu saja betapa mengerikannya pria-pria zaman sekarang,” larang Baekhyun.

 

 

“Kau lihatkan, Oppa? Dia sepertinya menginginkanku untuk jadi perawan tua.” Sooyoung kembali merengek pada Chanyeol.

 

 

Sementara Chanyeol dan Jongin hanya tersenyum geli.

 

 

“Kalau begitu kenapa bukan dia saja yang kau jadikan kekasihmu?” celetuk Jongin dengan tawa tertahan, diikuti Chanyeol yang tak bisa menahan tawa.

 

 

“Ya! Kau gila?!” Sooyoung dan Baekhyun serentak berteriak, keduanya memberikan tatapan horor pada Chaneyol dan Jongin.

 

 

***

 

 

Kyuhyun’s Home, Gangnam-gu, Seoul.

02.00 PM KST.

 

 

Pukul 2 siang. Nara masih duduk di meja makan dengan hidangan yang masih utuh tersaji. Gadis itu duduk diam sejak dua jam yang lalu, menunggu kedatangan suaminya. Namun, Kyuhyun tak juga muncul di rumah itu. Tidak. Bukan hanya sejak dua jam yang lalu ia menunggu, bahkan sejak semalam, tapi Kyuhyun belum menunjukan batang hidungnya sama sekali.

 

 

“Sebaiknya Nyonya makan duluan saja. Mungkin Tuan Muda sedang banyak pekerjaan sehingga tak bisa pulang untuk makan siang.” Suara Bibi Kim membuat Nara mengalihkan perhatiannya. Ia menangkap wajah khawatir Bibi Kim saat menatapnya.

 

 

“Aku tidak lapar, Ahjumma. Bereskan saja meja makan ini.”

 

 

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Nara beranjak dari meja makan. Gadis itu melangkah menaiki tangga dengan tatapan kosong dan tanpa senyum yang biasa melengkung di bibirnya.

 

 

Bibi Kim terus menatap Nara dengan tatapan iba. Wanita paruh baya itu tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya mendapati Nara pulang tengah malam—yang ia tahu Nyonya mudanya itu pergi ke rumah sakit—dengan raut wajah yang terlihat tidak baik. Ia melihat jejak air mata di wajah pucat Nara. Bibi Kim yakin ada sesuatu yang buruk terjadi saat di rumah sakit.

 

 

Sementara Nara terus melangkah gontai menuju kamarnya. Gadis itu memasuki kamar dan memilih duduk di atas tempat tidur. Kembali buliran bening itu membasahi wajahnya. Ia tak menyangka akan ada hal seperti ini. Nara masih ingat dua hari yang lalu ia masih merasakan kebahagiaan bersama Kyuhyun dan Jaehyun. Ia sempat merasa kehidupannya sempurna saat Jaehyun datang ke rumah itu.

 

 

Duduk santai dengan tangan yang saling menggenggam, Kyuhyun dan Nara mengabaikan televisi yang menyala demi memerhatikan Jaehyun yang sibuk bermain dengan robot-robotannya.

 

 

“Apakah Jaehyun rewel?”

 

 

Nara melirik pada Kyuhyun. Pria itu juga tengah menatap padanya.

 

 

Menggeleng cepat diiringi dengan senyuman yang tersungging di lekuk bibirnya. Gadis itu menunjukan wajah berseri.

 

 

“Tidak. Dia bahkan tertawa sepanjang hari. Membuat rumah ini terasa lebih hidup.” Senyum Nara semakin mengembang. Ia sudah lama memimpikan hal ini. Rumah yang penuh dengan tawa anak-anak.

 

 

Nara mengalihkan pandangannya pada Jaehyun, masih dengan senyum dan kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya.

 

 

“Sena benar, Jaehyun benar-benar aktif, bahkan kemarin dia melewatkan tidur siang karena bermain. Jaehyun selalu berlari ke sana kemari. Jika tak ada Kang Ahjumma, aku rasa aku benar-benar akan kewalahan menjaganya,” cerita Nara. Ia masih betah membiarkan bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.

 

 

“Apa kau bahagia?”

 

 

Gadis itu kembali menatap pada Kyuhyun. Mengernyit. Namun, sebuah senyuman kembali terbentuk di bibirnya. Nara mengangguk.

 

 

“Eum …. Sangat,” ucapnya dengan yakin dan tulus.

 

 

“Terima kasih sudah mau menerima Jaehyun.” Kyuhyun menarik tangan Nara dalam genggamannya, mengecupnya sekilas. Sementara Nara hanya tersenyum memandang suaminya. Kyuhyun mendekat pada Nara, lalu mendaratkan bibirnya di kening gadis itu, mengecupnya sedikit lama. Setelahnya pandangan keduanya bertemu. Saling menatap dalam.

 

 

“Aku bersyukur telah dipertemukan dengan malaikat sepertimu, Sayang.”

 

 

“Ayah!”

 

 

Pandangan keduanya beralih pada Jaehyun yang tengah berlari mendekati sofa tempat mereka duduk. Kyuhyun langsung menyambut Jaehyun dan membawa putranya itu ke dalam pangkuannya.

 

 

“Ayah … Ayah …,” oceh Jaehyun saat sudah berada dalam pangkuan Kyuhyun. Tubuhnya tak bisa diam dalam pelukan Kyuhyun.

 

 

“Kenapa, Sayang?” tanya Kyuhyun sambil mencium gemas pipi tembam Jaehyun.

 

 

“Ayah, kenapa Jaehyun mempunyai dua ibu? Ada Ibu dan Ibu Nara, sedangkan Cathy hanya memiliki satu orang ibu saja.” Jaehyun bertanya antusias sambil membandingkan dirinya dengan temannya.

 

 

Kyuhyun terdiam mendengar pertanyaan Jaehyun. Pria itu menatap lama putranya yang menanti jawaban. Ia mengalihkan pandangan pada Nara sekilas. Nara yang mengerti dengan kebingungan Kyuhyun memutuskan untuk membuka suara.

 

 

“Itu karena Tuhan sangat menyayangi Jaehyun, sehingga Tuhan mengirim dua ibu untuk Jaehyun. Jaehyun senang ‘kan punya dua ibu?”

 

 

Jaehyun mengangguk.

 

 

“Jaehyun senang dan Jaehyun menyayangi Ibu,” celoteh anak itu sambil menyengir.

 

 

“Ibu saja? Ibu Nara, tidak?” tanya Nara dengan memasang wajah cemberutnya.

 

 

“Jaehyun juga saying Ibu Nara,” jawab Jaehyun cepat.

 

 

Nara tersenyum mendengar jawaban Jaehyun.

 

 

“Ibu Nara juga sayang Jaehyun.” Nara mencondongkan tubuhnya ke arah Jaehyun. Mengecup gemas kedua pipi Jaehyun, lalu menggesek-gesekkan hidung mancungnya dengan ujung hidung Jaehyun, hingga tawa bocah itu pecah.

 

 

“Lalu, Ayah?” Terdengar suara Kyuhyun yang tak mau kalah.

 

 

Nara kembali menjauhkan tubuhnya dari Jaehyun sambil menatap Kyuhyun dengan senyuman geli.

 

 

“Hmmm ….” Jaehyun mengangkat telunjuk mungilnya dan menempatkan di dahi. Ia terlihat tengah berpikir. “Tidak,” jawab Jaehyun sambil menggeleng dan menggembungkan pipinya.

 

 

“Benarkah?” tanya Kyuhyun terlihat kecewa.

 

 

“Jaehyun tidak menyayangi Ayah, tapi Jaehyun sangat menyayangi Ayah.” Jaehyun langsung mencium pipi Kyuhyun.

 

 

“Ey … kau mempermainkan Ayah?”

 

 

Kyuhyun menggelitik pinggang Jaehyun hingga membuat putranya itu menggelinjang di dalam pelukannya.

 

 

“Ayah! Geli!” Jaehyun meronta dan terus berteriak akibat perlakuan Kyuhyun.

 

 

“Siapa suruh kau mempermainkan Ayah,” ujar Kyuhyun masih sambil menggelitik pinggang putranya.

 

 

“Kau mendapat lawan yang sepadan, Tuan Cho.” Nara ikut tertawa bahagia.

 

 

 

Ruang tengah rumah mewah itu penuh dengan suara gema tawa ketiganya. Tak seperti biasanya yang selalu sunyi. Nara merasa hidupnya semakin sempurna. Ia ingin hari-hari seperti ini tak pernah berlalu. Hari-hari yang penuh dengan tawa dan kehangantan.

 

 

Air mata Nara semakin deras mengalir. Baru dua hari yang lalu gadis itu merasa sangat bahagia. Seolah semua yang ia inginkan sudah berada dalam genggamannya. Tapi, hari ini semua berbalik. Begitu berbeda. Tak ada canda tawa yang terdengar, justru deraian air mata yang selalu menemaninya sejak semalam. Ia teringat dengan keadaan Jaehyun dan juga kemarahan Kyuhyun.

 

 

Nara ingin tahu bagaimana keadaan Jaehyun. Apa Jaehyun baik-baik saja. Bahkan semalam ia belum sempat bertemu Jaehyun karena Kyuhyun menyeretnya dengan paksa.

 

 

Tagisnya mulai pecah. Gadis itu meraung. Masih ingat jelas di dalam memorinya bagaimana dengan kejamnya Kyuhyun menuduh dirinya yang meracuni Jaehyun. Bagaimana bisa Kyuhyun berpikir seperti itu. Maracuni Jaehyun? Bahkan terpikir untuk berbicara keras saja tidak. Ia sangat menyayangi Jaehyun. Jaehyun seperti harapan baru bagi dirinya yang sudah kehilangan harapan untuk memiliki seorang malaikat kecil.

 

 

Mengusap air mata, Nara mulai bangkit dari tempat tidur, lalu melangkah keluar kamar. Gadis itu ingin menemui Jaehyun di rumah sakit. Ia sangat ingin melihat Jaehyun.

 

 

****

 

 

Seoul National University Hospital, Seoul.

02.30 PM KST

 

 

Nara telah sampai di depan pintu ruang rawat Jaehyun. Gadis itu membuka pintu tergesa. Ia mendapati Bibi Kang tengah duduk di samping tempat tidur Jaehyun. Wanita itu sedang menyuapi bubur untuk Jaehyun. Namun ia tak mendapati Sena ataupun Kyuhyun.

 

 

“Ibu Nara!” Jaehyun berusaha bangkit dari tidurnya, namun Bibi Kang menahan tubuh Jaehyun untuk tetap tidur.

 

 

“Jaehyun-ah.”

 

 

Nara melangkah tergesa menuju ranjang Jaehyun, namun langkahnya dihalangi Bibi Kang yang telah meletakkan mangkok berisi bubur Jaehyun ke atas meja di samping ranjang rawat Jaehyun. Membuat kening Nara mengernyit menatap Bibi Kang.

 

 

“N-Nona Sena bilang Nyonya dilarang mendekati Jaehyun.” Wanita itu berbicara terbata dan memandang takut pada Nara.

 

 

Langkah Nara terhenti saat mendengar ucapan Bibi Kang.

 

 

“Kenapa, Ahjumma? Aku tak akan menyakiti Jaehyun. Apa kau pernah melihatku berlaku kasar pada Jaehyun?” tanya gadis itu. Air mata tiba-tiba sudah tertumpuk di pelupuk matanya.

 

 

Sebegitu hina kah dirinya? Hingga ia dilarang mendekati Jaehyun.

 

 

“Ibu, Jaehyun sakit!” Jaehyun kembali memanggil Nara sambil mengadu, suaranya terdengar seperti menahan tangis.

 

 

Nara sedikit memiringkan kepalanya demi melihat Jaehyun yang berada di belakang Bibi Kang. Ia benar-benar ingin melihat Jehyun.

 

 

“Eo, Jaehyun-ah. Bagian mana yang sakit, Sayang?” Akhirnya air mata Nara jatuh saat mendengar aduan Jaehyun dan juga karena ia tak bisa mendekati bocah itu.

 

 

Ahjumma, biarkan aku memeluk Jaehyun,” mohon Nara pada Bibi Kang. Gadis itu terus melangkah perlahan mendekati ranjang rawat Jaehyun.

 

 

Sementara Bibi Kang terlihat semakin ketakutan. Wanita itu memberanikan diri untuk bicara.

 

 

 

“Ny-Nyonya melupakan hal yang Nyonya lakukan dua hari yang lalu, sebelum mengancamku?” tanya Bibi Kang pada Nara. Wanita itu masih menatap takut-takut pada gadis itu.

 

 

Kening Nara berkerut. Ia tak mengerti apa maksud ucapan Bibi Kang. Mengancam? Mengancam siapa? Bibi Kang? Bahkan ia menghormati Bibi Kang sama seperti ia menghormati Bibi Kim, bagaimana mungkin ia berani mengancam wanitu itu? Lalu hal yang ia lakukan sebelum mengancam?

 

 

“Apa maksud Ahjumma? Aku benar-benar tak—”

 

 

“Pergilah, Jung Nara!”

 

 

Suara teriakan melengking itu memotong ucapan Nara. Gadis itu menoleh ke arah pintu masuk, di sana sudah berdiri Sena dengan tatapan tajam yang ia tujukan pada Nara.

 

 

“Sena-ssi, aku ingin memeluk Jaehyun, biarkan aku mendekatinya.” Nara beralih memohon pada Sena.

 

 

“Memeluknya?” Sena berbicara dengan Nada sangat rendah, namun kentara sekali gadis itu menahan emosi. Tatapan Sena semakin tajam. “Kau bilang ingin memeluknya? Bukannya kau ingin mencekiknya?!” Kali ini suara Sena meninggi. Gadis itu melepaskan amarah yang tadi ia tahan.

 

 

Seperti dihantam palu godam. Dada Nara terasa sakit dan sesak. Bagaimana bisa orang-orang ini menuduhnya melakukan hal mengerikan seperti itu?

 

 

“Aku menyayangi Jaehyun, bagaimana mungkin aku melakukan hal mengerikan seperti itu, Sena-ssi?” Air matanya masih mengalir. Ia mengharap belas kasih Sena agar gadis itu mengijinkannya mendekati Jaehyun.

 

 

Sementara Jaehyun sudah tak bersuara lagi sejak mendengar suara Sena yang meninggi.

 

 

“Jangan bersandiwara lagi, Jung Nara. Aku sudah tahu semuanya. Kau bahkan sudah akan meracuni Jaehyun sejak 2 hari yang lalu, tapi untung Kang Ahjumma melihatmu memasukan racun itu pada susu Jaehyun. Lalu kau mengancam Kang Ahjumma agar menutup mulutnya.”

 

 

Mata Nara melebar mendengar penjelasan Sena. Skenario macam apa yang sedang dimainkan sekarang? Bagaiamana bisa dirinya difitnah seperti itu?

 

 

Nara menoleh ke belakang. Menatap Bibi Kang dengan alis bertaut.

 

 

 

Ahjumma, apa maksud semua ini? Bagaimana bisa kau memfitnahku melakukan hal itu?” Nara menuntut penjelasan dari Bibi Kang. Sementara Bibi Kang menatap takut pada Nara.

 

 

“Selesaikan semua sandiwaramu ini, Nara-ssi. Dan kumohon keluarlah dari ruangan ini, sebelum aku memanggil pihak keamanan rumah sakit,” ancam Sena.

 

 

Sekali lagi, rasa nyeri menghantam dadanya. Nara akhirnya memilih menyeret kakinya menuju pintu keluar.

 

 

“Ibu Nara! Jangan pergi!”

 

 

Nara menoleh ke belakang. Ia melihat Jaehyun yang mulai bangkit duduk di atas ranjangnya. Sepertinya Jaehyun bermaksud menyusulnya. Namun lagi-lagi Bibi Kang menahan Jaehyun.

 

 

Nara menatap pada Sena. Tersemat sebuah permohonan dalam tatapannya.

 

 

“Biarkan aku memeluk Jaehyun, Sena-ssi. Liahatlah, dia juga ingin menemuiku.” Gadis itu kembali memohon pada Sena dengan air mata yang masih mengalir dari kedua matanya.

 

 

“Saat Jaehyun tahu bahwa kau adalah monster yang ingin menghabisi nyawanya, apa menurutmu dia akan memanggilmu seperti itu?”

 

 

Kembali dada Nara diserang rasa sesak dan sakit yang teramat sangat. Monster? Apakah dia semengerikan itu? Nara tak bisa berkata-kata. Hanya air mata yang menunjukan betapa perkataan Sena sangat menyakiti perasaannya.

 

 

“Pergilah. Jaehyun hanya membutuhkanku. Ibunya. Karena dia hanya memiliki aku sebagai ibunya.”

 

 

Nara tak bisa berkata-kata lagi. Sena memang ibunya, tapi ia juga menyayangi Jaehyun seperti putranya sendiri.

 

 

Gadis itu kembali menyeret kakinya mendekati pintu ruangan itu. Air matanya terus mengalir, tak bisa ditahan. Ia tak tahu harus mengadu pada siapa? Tak tahu kemana ia harus membagi rasa sakit di rongga dadanya. Gadis itu kembali teringat dengan permintaan Kyuhyun saat malam ulang tahunnya. Pria itu memintanya untuk membagi rasa sakit dengannya, tapi Kyuhyun pun sekarang tak berada di pihaknya.

 

 

****

 

 

“S-sebenarnya aku pernah menikah saat di Paris.”

 

 

Pandangan Kyuhyun teralih dari wajah damai Jaehyun yang tengah terlelap, ke arah Sena yang duduk di sebelahnya. Matanya melebar saat mendengar sebuah pengakuan yang tak pernah ia ketahui dari Sena, karena gadis itu tak pernah menceritakan tentang statusnya sejak kembali dari Prancis. Merasa terkejut, tentu saja.

 

 

Kyuhyun langsung ke rumah sakit sepulang dari kantor. Bahkan saat di kantor ia tak bisa berkonstrasi karena selalu teringat dengan Jaehyun.

 

 

“Jangan meragukan status Jaehyun,” sambung gadis itu.

 

 

Kyuhyun mengontrol ekspresinya.

 

 

“Tentu saja tidak. Aku bisa melihat betapa Jaehyun sangat mirip denganku.” Kyuhyun menyahuti.

 

 

“Kau ingatkan bahwa aku memutus komunikasi denganmu setelah sebulan aku berada di Paris.”

 

 

Kyuhyun hanya diam. Ia tahu itu bukan pertanyaan, pria itu membiarkan Sena melanjutkan ceritanya.

 

 

“Saat itu aku baru mengetahui bahwa aku sedang hamil.”

 

 

“Kenapa kau tak memberitahuku? Malah menjauhiku,” sergah Kyuhyun. Sebenarnya Kyuhyun sangat menyayangkan tindakan Sena yang menjauhinya. Dia tak akan mungkin lari dari tanggungjawab, mengingat betapa ia sangat mencintai Sena dan ingin menikahinya saat itu.

 

 

“Aku tak ingin kau menyeretku kembali ke Korea,” jawab gadis itu.

 

 

“Lalu kenapa kau harus memutus komunikasi denganku?” Kyuhyun baru bisa menanyakan hal itu sekarang, karena saat pertamakali bertemu dengan Sena setelah gadis itu kembali dari Paris, Kyuhyun merasa pertanyaan itu sudah tak penting.

 

 

“Karena aku membencimu,” lirih gadis itu sambil menundukkan wajahnya. “Aku membencimu dan juga janin dalam kandunganku, karena aku merasa kalian menghalangi mimpiku.”

 

 

Mata kyuhyun membulat mengetahui fakta itu. Fakta Sena yang membencinya. Kyuhyun merasa bersalah pada gadis itu.

 

 

“Maafkan aku,” lirih Kyuhyun.

 

 

“Akhirnya aku pasrah menjalani study dalam keadaan hamil. Saat itu benar-benar terasa berat. Melakukan semua aktivitas kampus dengan perut besar tidaklah mudah. Ketika aku benar-benar kesulitan, Peter datang padaku mengulurkan tangannya. Singkat cerita, pria itu akhirnya menikahiku setelah orangtuaku meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Saat itu Jaehyun sudah berumur 3 tahun. Aku juga sudah mulai membuka butikku sendiri.” Sena menerawang. Sementara Kyuhyun masih mendengar dalam diam. Hatinya diserang rasa bersalah karena Sena harus mengalami kesulitan karena dirinya.

 

 

Sena mengehela napas sejenak, lalu melanjutkan ceritanya.

 

 

“Kehidupan pernikahan kami awalnya baik-baik saja. Namun, saat memasuki usia setahun, aku merasa tak bahagia. Melihat Jaehyun selalu membuatku teringat padamu. Saat itu aku sadar bahwa aku masi mencintaimu.”

 

 

Kyuhyun menatap sena dengan raut terkejut, di saat bersamaan Sena juga tengah menatap pada Kyuhyun. Hanya sekilas. Gadis itu mengalihkan pandangannya pada Jaehyun.

 

 

“Aku meminta Peter untuk menceraikanku, tapi pria itu menolak. Hingga aku memilih untuk kembali ke Korea, melarikan diri dari pria itu.”

 

 

Sena kembali menoleh pada Kyuhyun. Kali ini tatapannya lebih intens ke dalam mata Kyuhyun.

 

 

“Sampai sekarang … aku masih mencintaimu, Kyu.” Sena berucap lirih. Terlihat genangan air mata di pelupuk matanya. Gadis itu menunduk, hingga genangan di matanya jatuh, membentuk aliran di lekuk pipinya. Sementara Kyuhyun mematung mendemgar ucapan Sena.

 

 

“Aku menyesali semua tindakan bodohku saat itu. Jika saja … jika saja aku menerima lamaranmu, pasti kita akan hidup bahagia.” Sena mulai terisak. “Aku bodoh. Aku benar-benat bodoh, hingga membuat Jaehyun berada dalam situasi seperti sekarang. Jika aku menerima lamaranmu, Jaehyun tak akan mengalami hal ini. Semua ini karena kesalahanku.” Sena mulai meraung dengan wajah tertunduk. Kyuhyun menggapai tubuh gadis itu. Membawa kepelukannya. Mencoba menenangkan Sena. Sementara Sena terus meraung sambil menyalahkan dirinya.

 

 

***

 

 

Sangji Ritzvil Caelum Cheongdam, Gangnam, Seoul.

12.00 AM KST

 

 

Tengah malam. Kyuhyun masih betah duduk diam di balik kemudi Audy R8 yang terparkir sejak tadi sore di tepi jalan di komplek perumahan mewah itu. Tak melakukan apa-apa selain memerhatikan rumah dua lantai di balik pagar tinggi menjulang.

 

 

Pandangannya kini tertuju pada salah satu sudut rumah itu. Sebuah ruangan yang terletak di sisi sebelah barat. Ruangan yang masih terlihat terang disaat ruangan lainnya telah gelap. Matanya tak pernah terlih dari sana. Menatap dengan sayu dan terdapat kebingungan serta kebimbangan dalam sorotnya.

 

 

Kyuhyun mengembuskan napas saat irisnya menangkap ruangan itu telah gelap. Wajahnya menjadi lebih lega.

 

 

Pria itu menyalakan mesin mobil. Melajukan mobil memasuki gerbang pagar tinggi rumah mewah yang tadi ia perhatikan, terus melaju memasuki pekarangan rumah.

 

 

Keluar dari kuda besi itu, kyuhyun melangkah gontai memasuki rumah. Pria itu melanjutkan langkahnya menuju lantai dua. Menaiki undakan demi undakan anak tangga. Hingga ia sampai di depan sebuah ruang kamar di lantai dua rumah itu.

 

 

Pria itu berhenti di depan pintu. Tangannya perlahan terulur menjangkau handle pintu. Memutarnya, sedikit mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar. Ia melangkah memasuki kamar yang temaram, karena tak ada cahaya yang menyinari selain bias cahaya dari rembulan dan lampu taman.

 

 

Melangkah dengan pelan menuju ranjang, Kyuhyun menangkap siluet seseorang tengah tertidur di atas ranjang king size yang berada di dalam kamar. Ia memilih berdiri di dekat ranjang. Menatap wajah terlelap gadis yang tengah berbaring di atas ranjang. Wajah istrinya.

 

 

Lama dan dalam.

 

 

Pikirannya mulai berkecamuk. Kyuhyun melangkah perlahan untuk lebih dekat dengan sisi ranjang. Namun getaran ponsel membuatnya mengentikan langkah.

 

 

Kyuhyun merogoh bagian dalam jas nya, mengambil ponsel yang bergetar. Pria itu mengusap layar smarthpone itu. Sebuah pesan multimedia dari nomor orang suruhannya.

 

 

Kyuhyun benar-benar merasa di posisi yang sulit saat ini. Nyawa putranya hampir melayang karena susu yang anak itu minum terkontaminasi arsenic, dan lebih gilanya lagi, hampir semua bukti mengarah pada istrinya sebagai orang yang memberi racun itu.

 

 

Kyuhyun membuka pesan multimedia yang ternyata isinya adalah sebuah foto.

 

 

Ini adalah nota pembelian arsenic. Anda bisa melihat sendiri nama dan nomor kartu kredit yang tercetak di nota itu.

 

 

Kyuhyun mengetuk foto itu. Dan ia semakin merasa buruk, karena nama istrinya tertulis di sana.

 

 

Meremas kuat ponselnya, Kyuhyun menatap tajam pada Nara yang berbaring di ranjang. Ia tak tahu mana yang benar dan salah sekarang. Ia seperti kehilangan arah. Di satu sisi ia tak percaya Nara melakukan hal itu. Tapi di sisi lain, bukti-bukti yang ditemukan selalu mengarah pada istrinya.

 

 

Pria itu berbalik. Beranjak dari tempatnya berdiri. Melangkah menuju pintu keluar. Membuka pintu itu lalu menutupnya setengah membanting. Meninggalkan kamar yang biasanya menjadi tempat peristirahatannnya.

 

 

Sementara di dalam kamar, Nara perlahan membuka matanya. Tidak. Ia tidak benar-benar tidur. Ia tahu bahwa kyuhyun memasuki kamar itu, lalu berdiri lama di sisi ranjang dekat posisi tidurnya.

 

 

Buliran bening kembali meleleh dari mata coklatnya. Membasahi bantal yang ia gunakan sebagai penyangga kepala.

 

 

Ia menutup mulut dengan telapak tangan agar suara isakannya tak terdengar ke luar. Gadis itu menikmati sendiri setiap lelehan air mata dan rasa sesak di dadanya.

 

 

Bahkan kyuhyun tak mau tidur di kamar yang sama dengannya.

 

 

***

 

 

Kyuhun’s Home, Gangnam, Seoul.

07.30 AM KST

 

 

Kyuhyun tengah menikmati sarapannya sendirian dengan tenang. Roti panggang yang diolesi keju mozarella, beserta secangkir kopi hangat menjadi pilihannya. Ia sedang tak berselera dengan makanan berat pagi ini. Di atas meja juga sudah tersaji omelet beserta semangkuk kentang goreng.

 

 

Telinganya menangkap suara derap langkah kaki dari arah tangga, namun Kyuhyun berusaha mengabaikannya. Pria itu tetap mengunyah rotinya dengan tenang. Memasang wajah datar.

 

 

Sedikit melirik ke samping saat kursi di sebelahnya ditarik ke belakang. Namun ia memilih kembali fokus dengan roti panggangnya. Mengabaikan Nara yang menjatuhkan bokong ke atas kursi makan yang berdekatan dengannya.

 

 

Nara memenuhi piringnya dengan omelet dan kentang goreng. Gadis itu memulai sarapannya dengan meminum segelas air putih terlebih dahulu. Ia hanya fokus dengan sarapannya, tanpa melirik pada kyuhyun.

 

 

Keduanya sarapan dalam diam. Tak ada yang berinisiatif membuka suara. Mereka lebih memilih menikmati sarapannya masing-masing daripada berbicara dengan satu sama lain seperti bisanya.

 

 

Kyuhyun menyeruput kopinya dengan tenang, lalu menyapukan serbet ke bibir. Membersihkan bibirnya dari sisa roti panggang dan kopi yang menempel. Setelah itu mendorong kursi yang didudukinya ke belakang. Sedikit keras, hingga menimbulkan suara cukup nyaring. Pria itu bangkit, dan mulai melangkah neninggalkan Nara yang masih menikmati sarapannya.

 

 

Nara masih diam. Gadis itu masih tak tertarik untuk melirik ke arah kyuhyun. Ia masih sibuk memasukan potongan omelet ke mulutnya. Mengunyah dengan anggun. Sepertinya gadis itu sangat menikmati sarapannya pagi ini.

 

 

Hingga suapan terakhir, Nara menjangkau jus jeruk yang terletak tak jauh darinya. Meneguk minuman itu dengan tenang. Setelah menghabiskan jus jeruknya, Nara menyapukan serbet ke bibirnya.

 

 

Sepertinya ia belum puas dengan sarapannya, karena gadis itu menjangkau buah apel yang tersedia di meja makan itu. Mengambil pisau, lalu mulai mengupas kulit apel.

 

 

Nara menguliti apel itu dengan tatapan dingin. Sorot matanya terlihat mengerikan. Seolah yang ia lakukan adalah menguliti sesuatu yang sangat ia benci.

 

 

***

 

 

The Golden Restaurant, Myeongdong, Seoul.

01.30 PM KST

 

 

 

Taeyeon melambaikan tangan ke arah suaminya yang baru memasuki restoran sambil melengkungkan senyum di bibirnya.

 

 

Jungsoo bergegas melangkah mendekati meja Taeyeon saat melihat istrinya menghuni salah satu meja yang terletak di tengah restoran itu sambil melambaikan tangan.

 

 

“Maaf, membuatmu menunggu lama.” ujar Jungsoo sambil mencium kening istrinya, lalu mengelus perut istrinya yang memebuncit. Setelah itu, ia mulai duduk di kursinya. “Ada investor yang tiba-tiba ingin bertemu sebelum jam makan siang tadi. Untung saja pertemuan kami tidak lama. Walaupun harus membuatmu menunggu,” jelas Jungsoo penuh sesal.

 

 

“Yah … kurasa aku memang harus terbisa dengan ini. Sejak kau menduduki posisi Paman, aku sudah mempersiapkan diri. Walaupun saat mengalaminya masih terasa sedikit menyebalkan.”

 

 

“Kau menyesali posisiku sekarang?” tanya Jungsoo.

 

 

“Sejujurnya iya. Aku sebenarnya ingin suamiku hanyalah seorang pegawai kantoran biasa dengan waktu bekerja delapan jam sehari. Bukan sebagai CEO dengan waktu kerja yang tak pasti,” aku Taeyeon, membuat raut wajah Jungsoo berubah. “Namun aku lebih tak suka jika Paman tetap bekerja, sementara kondisinya semakin menurun. Karena itu, aku mendukung penuh semua keputusanmu. Sebagai istri aku hanya bisa menyiapkan yang terbaik untukmu agar kau tidak tumbang. Karena itu, kau harus mendengarkan istrimu ini, Oppa. Dan jangan pilih-pilih lagi soal makanan.” Taeyeon merengek di akhir kalimatnya membuat Jungsoo memecah senyumnya.

 

 

“Baiklah, Samonim,” ujar Jungsoo patuh, membuat Taeyeon tersenyum geli.

 

 

“Dan sekarang, biar aku yang memesan,” ucap Taeyeon sambil mengerling.

 

 

Gadis itu melambaikan tangan pada waitress yang berdiri tak jauh dari meja mereka. Waitress itu mendekat degan membawa buku menu, menyerahkannya pada Taeyeon dan Jungsoo. Namun Jungsoo menolak buku menu itu.

 

 

“Aku dilarang memesan oleh ibu negara,” kelakarnya, membuat waitress itu mengernyitkan kening, sementara Taeyeon tersenyum geli.

 

 

Jungso mengedikkan dagunya pada Taeyeon, membuat waitress itu tersenyum tanda mengerti.

 

 

“Apa menu spesialnya hari ini?” Taeyeon berbicara masih dengan pandangan yag tertuju pada buku menu.

 

 

“Hari spesialnya Salmon Scrambled dan Chicken Salad.”

 

 

Oke, aku mau itu,” ujar Taeyeon.

 

 

“Apa Anda ingin sesuatu untuk minumnya?”

 

 

“Air putih saja.”

 

 

Taeyeon menyerahkan kembali buku menu pada waitress tersebut.

 

 

“Baiklah. Makanan Anda akan tersaji segera,” ujar waitress sambil tersenyum, lalu berbalik meninggalkan pasangan itu.

 

 

“Eo, benar, Oppa.” Taeyeon merogoh hand bag-nya.

 

 

“Kenapa?” tanya pria itu.

 

 

Taeyeon mengeluarkan benda pipih persegi panjang. Lalu menyerahkannya pada Jungsoo.

 

 

“Kau meninggalkan ponselmu.” Taeyeon menyodorkan ponsel itu pada Jungsoo. “Tadi kulihat ada pesan dari Nara. Aku belum membukanya.”

 

 

Jungsoo menerima ponselnya.

 

 

“Ini pesan dari semalam,” ujar Jungsoo sambil membuka pesan dari Nara dengan tersenyum. Pria itu merasa bahagia mendapat pesan dari adik sepupunya itu, karena mereka sudah lama tak saling berkomunikasi.

 

 

Namun mata Jungsoo melebar seketika saat membaca pesan. Pria itu nampak cemas.

 

 

“Ada apa, Oppa?” Kecemasan ikut tertular pada Taeyeon saat melihat perubahan wajah Jungsoo. Namun Jungsoo tak menganggapi pertanyaannya. Pria itu masih fokus pada pesan Nara. Sepertinya pesan itu agak panjang.

 

 

“Sial!” umpatnya setelah selesai membaca pesan. Wajah Jungsoo merah padam. Tersirat amarah dan kecemasan di sana. Ia menatap Taeyeon sebentar.

 

 

“Aku harus pergi menemui Nara. Habiskan makananmu.” Pria itu bergegas berdiri.

 

 

“K-kenapa? apa yang terjadi?” tanya Taeyeon yang semakin bingung.

 

 

“Nanti akan kujelaskan.”

 

 

Jungsoo bergegas berlari menuju pintu keluar restoran. Sementara Taeyeon terus menatap kepergian suaminya itu dengan perasaan berkecamuk. Hingga Jungsoo menghilang dari pandangannya.

 

 

***

 

 

Kyuhyun’s Home, Gangnam, Seoul.

02.00 PM KST

 

 

Sena melangkah tergesa memasuki kediaman kyuhyun dan Nara. Gadis itu menenteng paper bag di tangannya. Ekspresi wajahnya terlihat tidak baik. Seperti menahan amarah. Sena terus melangkah hingga ia sampai di ruang tengah rumah itu.

 

 

 

Ia melihat Nara tengah duduk di sofa dengan televisi menyala. Namun Nara terlihat fokus membaca majalah fashion ditemani segelas jus jeruk dan cupcake yang terletak di atas meja di depan sofa yang diduduki gadis tersebut.

 

 

Memperlambat langkah sembari mengatur emosinya, Sena akhirnya sampai di dekat sofa. Gadis itu meletakkan paper bag yang ia tenteng ke atas meja. Sedikit membantingnya, hingga mengusik Nara.

 

 

Nara mengangkat wajah, mengalihkan perhatiannya dari majalah, pada paper bag yang tiba-tiba berada diatas meja. Tatapannya semakin naik hingga ia menemukan Sena telah berdiri di balik meja di depannya dengan tatapan nyalang pada Nara.

 

 

Mengangkat sebelah alis, Nara menatap Sena dengan pandangan bingung namun tersirat ejekan di sana. Tak lama sebelah sudut bibirnya tertarik; menyeringai.

 

 

Sena sedikit terkejut melihat seringaian Nara. Selama ini ia tak pernah melihat Nara menyeringai atau mengejek seperti itu. Tapi kenapa hari ini gadis itu terlihat berbeda?

 

 

Nara meletakkan majalahnya ke atas meja. Gadis itu mulai berdiri kali ini senyuman normal yang ia tunjukan pada Sena, namun tetap saja senyuman itu terlihat dingin, bukan senyum hangat yang biasa ditunjukan Nara.

 

 

“Han-Se-na-ssi. Bukankah kau tak mau datang ke rumah ini lagi? Lalu angin apa yang membawamu datang ke mari?”

 

 

Nara menekankan kalimatnya saat menyebut nama Sena. Gadis itu kembali mengangkat sebelah alisnya saat bertanya pada Sena, membuat Sena semakin bingung dengan perubahan sikap Nara.

 

 

Menyeringai dan tatapan yang seolah mengejek, itu bukanlah kebiasaan Nara yang ia ketahui.

 

 

Setelah kejadian keracunan Jaehyun, Sena memutuskan untuk tidak tinggal di rumah Kyuhyun lagi. Kebetulan Kyuhun juga sudah menemukan rumah yang aman untuk Sena dan Jaehyun.

 

 

“Ehem.”

 

 

Sena berdehem. Mencoba membasahi kerongkongan yang mengering akibat keterkujatannya. Sena memperbaiki ekspresinya kembali seperti saat ia memasuki rumah itu, lalu mulai membuka suaranya.

 

 

“Bukankah sudah kukatakan? Jangan pernah menunjukan kehadiranmu lagi di depanku ataupun Jaehyun. Dan jangan pernah mengirimkan apapaun padanya, terlebih makanan, karena aku tak yakin makanan yang kau kirim itu aman dari racun atau tidak,” ucap Sena dengan suara meninggi. Gadis itu memperingatkan Nara.

 

 

Nara tersenyum lebih lebar, bahkan telinga Sena menangkap suara kekehan. Gadis itu membuang muka, lalu kembali menatap pada Sena.

 

 

“Sepertinya kau begitu protective ya terhadap putramu, Han sena-ssi.” Suara Nara mencibir Sena.

 

 

“Ah … tentu saja, karena putra kesayanganmu itu menjadi jalan yang paling mungkin untuk merebut suamiku.”

 

 

Mata Sena melebar. Ia tak menyangka Nara akan mengatakan hal seperti itu.

 

 

“Jangan bicara omong kosong!” teriaknya.

 

 

Nara mendengus di tengah seringaiannya saat mendengar ucapan Sena.

 

 

“Omong kosong?” Nara terkekeh. “Aku tahu semua rencana busukmu dan aku juga tahu kau dan Kyuhyun bahkan sempat berpagut mesra di rumah ini.” Gadis itu berucap dengan santai seolah apa yang baru saja keluar dari bibirnya bukanlah masalah yang besar.

 

 

Berbanding terbalik dengan Nara, Sena bahkan serasa dilempari bom. Mata gadis itu semakin melebar. Tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. Tampak kegentaran dari sorot matanya yang tadi menatap nyalang pada Nara.

 

 

“Saat malam kau baru memasuki rumah ini, kalian, kau dan kyuhyun menghangatkan malam dengan saling berciuman mesra di ruang kerjanya, dan sialnya aku melihat semua itu dengan mata kepalaku sendiri, bahkan saat jalang sepertimu duduk di pangkuan pria itu.” Nara masih berujar dengan santai, namun tak bisa dipungkiri terselip nada merendahkan dalam setiap katanya.

 

 

Sena memanas. Seolah aliran darahnya berpusat ke wajah, hingga wajah gadis itu menjadi merah padam. Tangannya mengepal dengan kuat. Gadis itu merasa sangat direndahkan oleh Nara. Ia merasa sangat terhina dengan sebutan jalang yang disematkan Nara padanya. Tangannya mulai terayun untuk memberikan sebuah tamparan pada pipi Nara, namun Nara dengan cepat menangkisnya. Secepat kilat Nara mengalihkan cengkramannya pada leher Sena.

 

 

Sudah tak ada lagi senyuman atau seringaian di wajah cantik itu. Yang tersisa hanyalah tatapan yang penuh dengan aura kebencian.

 

 

“Kau tahu bagaimana rasanya saat melihat suamimu mencumbu mantan kekasihnya di rumah kalian, di tempat kalian membangun semua mimpi dan impian bersama?” Nada suara Nara sangat rendah, namun bagi Sena itu terdengar seperti nyanyian kematian. Nara terus mengeratkan cengkramannya di leher Sena. Matanya menyiratkan sebuah amarah yang besar, bahkan tersirat keinginan untuk membunuh dalam sorotnya.

 

 

Sena meronta. Ia berusaha berteriak, tapi tak ada yang bisa ia keluarkan selain lenguhan kesakitan. Gadis itu menggapai tangan nara agar cengkraman gadis itu terlepas dari lehernya, tapi usahanya sia-sia. Tenaganya tak bisa menyeimbangi kekuatan Nara.

 

 

“Kau tahu bagaimana rasanya saat dirimu diliputi rasa bersalah, tapi saat kau ingin meminta maaf, justru kau mendapati penghianatan?”

 

 

Cengkaraman Nara semakin kuat. Sena bahkan seolah telah pasrah jika ajal benar-benar akan menjemputnya saat itu juga.

 

 

“Rasanya bahkan lebih sakit daripada ditusuk beribu-beribu kali dengan pisau berkarat. Bahkan rasanya lebih baik seluruh tulangmu dicabut dari tubuhmu daripada merasakan perasaan itu. Hingga membuat dia ingin menghilang saat itu juga.

 

 

“Aku akan membuatmu merasakan sakit yang sama. Kau dan pria itu harus merasakannya!”

 

 

“Hentikan, Leandra!”

 

 

Suara itu membuat Nara mengalihkan pandangannya dari Sena. Matanya menangkap sosok jangkung tengah berdiri tak jauh dari posisinya dan Sena berada. Gadis itu mulai melonggarkan cengkaramannya.

 

 

“Lepaskan dia!”

 

 

Nara akhirnya melepaskan cengkaramannya pada leher Sena, lalu menarik tangannya, membuat gadis itu tersungkur ke lantai. Pria itu—Park Jungsoo—langsung berlari mendekati Sena, membantu membangunkan Sena. Gadis itu terbatuk, bahkan ia terlihat kesusahan bernapas.

 

 

Sementara Nara hanya memandang dengan tangan bersedekap di dada melihat dua orang di hadapannya

 

 

Ahjumma!” Jungsoo berteriak memanggil Bibi Kim

 

 

Ahjumma!” Ia berteriak lebih keras, saat itulah Bibi Kim baru muncul dari arah dapur.

 

 

Mata Bibi Kim melebar melihat pemandangan di ruang tengah rumah itu.

 

 

“A-apa yang terjadi, Tuan?” tanya wanita itu panik melihat Sena yang tersengal.

 

 

“Suruh Park Ahjussi menyiapkan mobil!” perintahnya.

 

 

“B-baik, Tuan.”

 

 

Bibi Kim bergegas mencari sopir pribadi majikannya itu.

 

 

Jungsoo menatap tajam pada adik sepupunya yang masih berdiri dengan angkuh di hadapan mereka. Sementara gadis itu hanya menunjukan ekspresi tak peduli. Dan mengucapkan kata “Kenapa” tanpa suara pada Jungsoo.

 

 

“Mobilnya sudah siap.” Kembali terdengar suara Bibi Kim, membuat Jungsoo bergegas menggendong tubuh Sena.

 

 

Ahjumma, ikut aku!”

 

 

Bibi Kim mengikuti Jungsoo setengah berlari.

 

 

Setelah orang-orang itu menghilang dari pandangannya, Nara kembali duduk manis di atas sofa. Ia menyeruput jus jeruknya, lalu menjaungkau majalah yang belum selesai ia baca.

 

 

Nara msih asik membaca artikel tentang kecantikan di majalah itu, hingga ia merasakan lengannya ditarik paksa. Lebih tepatnya ia dipaksa untuk berdiri. Gadis itu menoleh ke samping. Sebuah senyuman manis melengkung di bibirnya. Ia memutar tubuhnya untuk menghadap pria yang masih mencengkram lengannya.

 

 

“Oh … Oppa, sejak kapan kau menjadi sekasar ini, heum? Kau benar-benar berubah banyak. Tapi tenang saja, aku tetap suka caramu memerlakukanku,” ujarnya manja. Gadis itu mengerling.

 

 

“Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?” Jungsoo mengabaikan ucapan gadis itu.

 

 

Nara tersenyum manis.

 

 

“Hanya memberi pelajaran pada wanita murahan itu,” ujarnya santai sambil mengedikkan bahu.

 

 

“Kau hampir membunuhnya, Leandra!” Jungsoo meninggikan suaranya. Ia mulai kesal dengan gadis ini.

 

 

“Sepertinya kau tahu bahwa aku rindu dipanggil dengan nama itu. Diantara semua orang, memang hanya kau yang mengerti aku, Oppa.”

 

 

“Jangan main-main lagi, Leandra. Kau bisa membuat Nara dalam masalah besar!” Jungsoo meninggikan suaranya karena ia mulai kesal dengan tanggapan gadis itu.

 

 

C’mon, Oppa. Jangan marah-marah seperti itu. Karena kau terlihat semakin tampan.”

 

 

Jungsoo nenarik napas. Pria itu mencoba mengatur emosinya. Ia tahu, menghadapi Leandra harus dengan kepala dingin.

 

 

“Kumohon, jangan buat masalah lagi. Jangan timbulkan masalah lagi untuk Nara.” Suara Jungsoo menjadi lebih rendah. Pria itu setengah memohon dengan wajah menunduk.

 

 

“Justru aku melindunginya. Kau tahukan bahwa setiap kali dia benar-benar tertekan, sepupumu itu langsung bersembunyi di belakangku?”

 

 

Jungsoo mengangkat wajahnya.

 

 

“Sejak kapan kau muncul?”

 

 

“Heumm ….” Gadis itu bergumam, ia tampak berpikir. “Sejak malam gila itu. Delapan hari yang lalu.”

 

 

“Delapan hari?” pikir Jungsoo

 

 

 

“Apa mungkin kau yang mencelakai Jaehyun dan mengancam Kang Ahjumma?” tebak Jungsoo dengan alis bertaut.

 

 

God! Kau manis sekali, tebakanmu selalu tepat. Yah … aku yang memasukan arsenic ke susu anak itu, sebenarnya aku hanya ingin mendeklarasikan keberadaanku, tapi tak ada satupun yang peka. Hanya kau yang mengerti aku, Oppa.”

 

 

Shit!” umpat Jungsoo kesal.

 

 

“Jangan mengumpat, kau jadi semakin tampan di mataku.”

 

 

“Sekarang biarkan Nara kembali! Jangan menghalanginya!”

 

 

“Aku tak menghalanginya, dia sendiri yang ingin menghilang. Kau tahukan dia sangat lemah? Selalu menumpahkan semua rasa sakitnya padaku. Yah … beginilah takdirku sebagai kepribadian kedua. Dan kau tahu, Oppa? Aku merasa kehadirannya semakin melemah. Sepertinya aku bisa menguasai tubuh ini. Kau bahagiakan untukku?”

 

.

.

TBC

79 thoughts on “When The Smile Being Ornate Part 10

  1. Ceritanya semakin menarik, apa dari cerita ini dapat disimpulkan kalau nara memiliki kepribadian ganda?apa kyuppa sudah mengetahuinya? Aaaàaaa jadi semakin gak sabar nunggu kelanjutan ceritanya 🙂

    Eonni lanjutnya jangan lama lama ya 😀

    Suka

  2. Wow…. kepribadian gandaa… seru nieh
    Jadi inget drakor kill me heal me, tp ini beda, soalnya yg punya dua kepribadian itu cewek nya, bukan cowoknya…..
    Apa cuma jungso aja yg tau klo Nara seperti itu? Klo kyuhyun tau, gimana reaksinya ya??

    Suka

  3. daebakkk nara punya kepribadian ganda.. tapi suka sama kepribadiannya yg kedua ini gak bisa ditindas tapi kejam.

    coba kalo sosok leandra ini bertemu sama kyuhyun gmn reaksinya kyuhyun ya? jadi penasaran

    iya sih mending sosok nara untuk saat ini dihilangkan aja dulu keluarin sosok leandra, setidaknya biar kyuhyun sadar yg butuh kyuhyun itu nara bukan sena

    Suka

  4. Bener-bener diluar dugaan jalan ceritanya
    Kenapa bisa buat sekeren ini sih author???
    Gewlaaa, kasih 5 jempol juga niih
    👍👍👍👍👍
    Kuy lah lanjut..

    Suka

  5. so speachless gatau lagi ini cerita keren parah gatau mau di bilang apa lagii ini cerita kudu jadi novel kak :’
    But anyway nara, itu kerennn di apain supaya nara balik deh ya?
    Semangattt kakk nulisnyaa ceritanyaa

    Suka

  6. Alter ego itu emang selalu lebih keren dari pada kepribadian asli nya tapi juga lebih sadis…..
    Astaga, ternyata nara….

    Terus gimana nasib nya nara kalo alter ego nya lebih kuat, bisa2 nara menghilang dari dunia ini…..

    Tapi jungsoo keren juga ya langsung bisa nebak siapa yg ada di dalam diri nara

    Next part kak

    Suka

  7. ah. . .ini apa? Knpa gw jd kesel bgt gegara tbc. . .thor gila ini keren bgt. . .pnsrn bgt pokoknya thor wajib bgt bca haha lebay bgt gw ych, tp emg bnr keren ko pokoknya cpt2 ada lnjutanya dch sblum q gms gigit bantal, bikin mr cho nyesel udah jahat bgt ama nara

    Suka

  8. Sumpah keren banget dan banget pokoknya kereeennnn banget tambah jadi semakin seru dan semakin penasaran sama kelanjutannya semangat author di tunggu buat kelanjutan ffnya jangan lama lama dong author makin jadi penasaran nih

    Suka

  9. Aaaaaaa jadi seperti robin dan si hyunbin yg entah siapa ituu yaaaahhhh….good good good good
    Dan kyuhyun tidakk tauuu soal kepribadian istri cantiknya ituu..ohhh leandra akan jadi lawan yg sepadan untuk mengatasi han sena tp untuk jaehyun ohh tidakkkk leandra terlalu kasar dia kan hanya anak kecil

    Suka

  10. Jadi emang nara yg ngeracunin jaehyun, ehh bukan nara deng tapi leandra orang kedua di diri nara, gagnyangka dan gag ketebak awalnya, mikir kalo sena yg ngejebak nara, semoga ini bukan tambahan untuk ngerusak hubungan kyu sama nara yaa,
    Fighting authornimm,

    Suka

  11. Yg d tunggu tapi…
    aku gak ngerti. Kepribadian ganda??
    Jjur aku sedikit kecewa tapi yasudahlah. Maaf kalo aku tak sopan. Maaf jg d awal part aku ngefeel bgt sampe hampir ikut nanfis tapi pas d akhir feel itu langsung menguap begitu aja. Entahh deh gak ngerti aku

    Disukai oleh 1 orang

  12. Heol . Daeebaaak .
    Hyde ,jekyll, me dong kak ?
    Jadi si leandra itu yg ngeracunin jaehyun .
    Emangnya kyu nggak tau nara pu ya kepribadian ganda ?
    Emangnya nara nggk nerasa kalo si leandra dlam dirinya itu yg bkin aksi gila gini ?
    Btw , nggk sbar bnget tunggu kelanjutannya , gimana acara pembalasannya si leandra itu ..
    Semangat thor ,next 😍

    Suka

  13. semngaattt teruuss buat ngenext ny yh?? jdi mkin penasaran sumpaahh iiiii 😅 aku ga sbaarr nunggu nyy,, aku nunggu smpai akaran sumpahh iihhh 😆 pkoknyy tingkatkn trus yaa semangkaaaaa,,semngatt kakak 😂😆🙌

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s