Without Love ( Part 1)


image

Title : Without Love ( Part 1)

Author : ShinJae ( Shin Jae Ra)

Category : NC, Sad, Romance, Drama, Chapter.

Cast :

• Park Hae Jin (Actor)

• Shin Yeon Hwi (OC)

Other Cast :

• Kwon Yoon Ji (OC)

• Kim Jae Hee/ Jessi Kim (OC)

• Ryu Hyun Joo (OC)

Note :

Terima kasih untuk admin yang mengpost ff buatanku ini. Ini ff bergenre nc ketigaku yang aku post disini. Sebelumnya aku sudah pernah buat yang castnya Ji Chang Wook ( strawberry & always think about you), dan untuk sekarang aku akan menjadikan Park Hae Jin sebagai cast utama.

Kenapa aku milih Park Hae Jin disini? Karena sebenarnya aku  keinget  perannya yang jadi sunbae di drama Cheese In The Trap dan seorang psycho di Bad Guys. Tapi cerita disini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dua drama tersebut. Aku cuma mengambil nama Park Hae Jin saja untuk ff karangan aku ini. Dan untuk cerita ff ini, aku terinspirasi  dari kisah salah satu temanku. Ohya, karena ff ini berlatar tempat di Korea Selatan, untuk usia yang dipakai aku memakai usia disana atau dilebihkan 1 tahun lebih tua dari usia pada umumnya.

Oke! Aku rasa cukup disini penjelasannya. Dan semoga kalian menyukai ff buatanku ini. Maaf jika banyak typo atau kesalahan dalam pengucapan disini. Karena author juga manusia biasa yang juga banyak kesalahan.

Happy Reading!

****

Sudah terlalu banyak yang mengatakan jika cinta kadang tak harus memiliki. Dan aku harus percaya akan hal itu. Meski ego berkata lain, namun hati harus memilih. Meninggalkan cinta yang tak terbalas, atau ditinggalkan oleh sang cinta tak berbalas.

-Without Love-



Apa yang kau ketahui tentang diriku? Apa kau tahu segalanya? Apa kau juga tahu tentang ini? Tentang perasaan sepihakku padamu.

-Shin Yeon Hwi-



Apa ini maksudmu? Aku tahu semuanya. Termasuk ini, perasaanmu.

-Park Hae Jin-

****

Minggu, 2 Maret 2008.

Seoul, Seongdong-gu, Oksu-dong.

Sinar mentari yang menembus jendela kaca kamarku seketika membuatku tersadar. Gesekan ranting pohon semakin membuatku tersadar. Cahaya jingga sedikit demi sedikit semakin meninggi menggantikan langit biru tua kehitaman itu.

“huaaa….!!”.

Aku menguap cukup lebar. Lalu meregangkan otot-otot tubuhku yang kaku. Lalu bangkit dari kursi yang kududuki. Berjalan kearah cermin besar yang letaknya tak jauh dari tempatku sebelumnya. Aku mengucek dua-tiga kali mataku dengan tanganku. Mencoba agar sepenuhnya sadar dan mencoba agar dapat melihat dengan jelas.

Aku menatap pantulan bayanganku sendiri. Rambut sebahu tak terikat, kotoran mata yang menumpuk, serta mata panda yang terlihat jelas diwajahku. Aku tersenyum singkat menanggapi tampilanku saat ini. Lalu kakiku kembali kulangkahkan dan berakhir didepan wastafel kamar mandi yang ada didalam kamarku.

Beberapa kali aku membasuhkan air kewajah kumalkiu. Lalu meraih sikat gigi dan pasta gigi yang ada disana. Aku menuangkan pasta gigi cukup banyak diatas sikat gigi pink milikku. Lalu membersihkan gigiku hingga menciptakan cukup banyak buih busa dimulutku. Setelah membersihkan mulutku dan berkumur, yang kulakukan saat ini adalah  berjalan  kearah ranjang empuk milikku yang berbalut sprai biru muda.

Bukk!!

Tubuhku mendarat sempurna tepat diatas ranjang empuk ini. Mataku seketika terpejam. Menyamankan posisi tidur agar aku tak mendapat sakit punggung nantinya. Namun sayang, keinginanku untuk tidur di minggu pagi ini sirna seketika saat seseorang masuk dan menarik tubuhku hingga aku terduduk sempurna.

Mataku masih terpejam, namun indera penciumanku terlalu tajam. Aroma kimchi jigae seketika membangunkan diriku. Aku membuka mataku lalu memandang kearah ibuku dengan senyum polos. Lalu memeluk perutnya yang berada didepanku.

“eomma.. aku lapar”.

Aku berucap masih dengan memeluknya. Menghirup aroma khas milik ibuku. Meskipun juga tercium aroma lain dari tubuhnya.

“arra, ayo sarapan”.

Aku mendongakan kepalaku. Menatap wajah cantik ibuku. lalu tersenyum lebar dan melepaskan pelukan tanganku diperutnya.

“eomma membuat kimchi jigae bukan?”.

“bagaimana kau tahu”.

Aku kembali tersenyum, lalu membangkitkan diriku yang awalnya terduduk menjadi berdiri sejajar dengan ibuku.

“eomma bau kimchi”.

Kulihat senyum cerah dia tamplkan. Deretan giginya memperjelas lagi senyumnya. Aku juga masih tersenyum dan dengan cepat mengaitkan tanganku pada lengannya. Lalu kami berjalan keluar kamar tidurku menuju ruang makan untuk memulai sarapan.

****

Aku kembali ke kamarku setelah selesai membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan kami. Dengan menatap lukisan hasil dari begadangku semalam. Tiga wajah tertera jelas di atas kanvas dengan cat yang setengah kering. Kutatap pula foto keluargaku yang diambil awal tahun ini. Senyuman terukir jelas pada wajah kami. Aku merindukan appa.

Drtt.. drtt…

Kurasakan getaran pada saku celanaku. Kulihat nama yang tertera dilayar kecil bagian depan ponselku. Appa! Sepertinya dia tahu jika aku sedang merindukannya. Dan segera saja aku menerima panggilan diponsel lipatku itu.

“yeoboseyo.. appa!”.

Aku menyuarakan suaraku cukup keras. Tak lupa juga senyuman lebar tertera diwajahku.

wahh.. terdengar dari bagaimana responmu, sepertinya kau merindukan appa, Yeon-ah?”.

“daebak! Bagaimana appa bisa tahu jika aku sedang merindukan appa?”.

Kudengar suara tawa yang cukup nyaring terdengar diseberang sana. Sepertinya ayahku sedang menertawakanku.

“kenapa appa tertawa? Padahal aku sedang tidak melucu”.

Aku memasang wajah kesalku. Tak terima jika appa menertawakanku tanpa alasan jelas. Yah.. meskipun sia-sia juga aku kesal, lagi pula appa juga tak bisa melihat kekesalanku.

ah, maaf. Appa tak bermaksud menertawakanmu. Tapi saat appa mendengar suaramu, entah bagaimana appa selalu ingin tertawa. Mungkin karena appa juga merindukanmu, Yeon-ah”.

“jika appa merindukanku, harusnya appa berkata ‘aku merindukanmu, putriku yang paling cantik’. Bukan tertawa tak jelas seperti tadi”.

Aku pura-pura mengungkapan kekesalanku. Merajuk agar tak ditertawakan lag oleh ayahku.

“arraseo, arraseo.. aku merindukanmu, putriku yang paling cantik… “.

Aku tersenyum tertahan mendengar suara appa. Entah kenapa saat mendengar suaranya aku semakin merindukannya.

“aku juga merindukanmu, appa”.

Aku membalas ungkapan ayahku. Lalu kembali tersenyum setelahnya.

“besok kau mulai masuk kuliah bukan?”.

“ne, dan sepertinya aku harus bagun pagi besok”.

“appa ingin sekali mengantarmu, Yeon-ah”.

“gwenchana-yo, appa. Saat ini appa pasti sangat sibuk dengan pekerjaan appa. Tak perlu khawatir, eomma yang akan mengantarku nanti”.

“ah, benar juga. Dimana eommamu? Apa dia dirumah?”.

“eomma sedang didepan, sepertinya sedang menonton drama pagi”.

“pantas saja. Sebelumnya appa menelfon eommamu, dan tak kunjung dijawab. Baiklah, Yeon-ah. Appa harus bekerja lagi sekarang. Katakan pada eommamu jika appa menelfon. Dan jaga diri kalian, arrachi?”.

“arraseoyo”.

Panggilan kami terputus pada menit ketiga setelah panggilan masuk. Aku menutup kembali ponsel lipat bewarna silver milikku. Lalu meletakannya diatas  skecthbook milkku yang ada di atas meja belajar. Pandanganku kini menatap keluar jendela kamarku. Sorotan sinar matahari yang menyilaukan membuatku tertarik untuk melihat pemandangan disana.

Suara bising dari berbagai jenis kendaraan berlalu lalang dibawanh sana. Serta sungai Han yang memantulkan bayangan birunya langit hari ini. Aku menghembuskan nafasku pelan. Lalu terlihat sedikit kepulan asap yang keluar dari mulutku. Yang menandakan bahwa musim dingin belumlah berakhir.

Ah, benar juga. Besok aku sudah resmi menjadi seorang mahasiswi. Yah.. meskipun usiaku belum genap 19 tahun dan seharusnya aku masih harus memakai seragam kesekolah, tapi berkat kecerdasanku aku dapat menyelesaikan pendidikat setahun lebih cepat dari anak seusiaku. Mengingat hal ini membuatku semakin bahagia. apalagi aku juga akan menjadi mahasiswi di Universitas Nasional Seoul. Dan itu semakin membuatku bahagia.

Aku kembali dari tempatku di depan jendela menuju ke meja belajarku. Menyingkirkan ponselku yang berada diatas sketchbook milikku. Lalu membuka buku berkertas tebal itu. mencari halaman yang masih kosong untuk membubuhinya dengan goresan pensil.

Tiga puluh menit sudah tanganku bergerak diatas lembaran yang awalnya kosong kini sudah menampilkan setidaknya sebagian pemandangan yang sebelumnya kulihat dari balik jendela tadi. Hingga kini terhenti ketika suara ketukan pintu terdengar di indra pendengaranku.

“Yeon-ah, apa kau didalam?”.

Suara eomma terdengar dibalik pintu kamarku. Segera kututup kembali skecthbook-ku dan meletakannya diatas tumpukan buku lannya yang ada di meja belajarku.

“nde, eomma”.

Aku bangkit dari dudukku, lalu berjalan kearah pintu yang sebelumnya diketuk tadi. Meraih gagang pintu dan membukanya. Hingga menampilkan sesosok wanita yang kucintai disana. Dengan rambut sebahu yang sama dengan milikku.

“Yeon-ah, ayo kita ke salon”.

“nde? Tapi kita sudah kesana beberapa waktu lalu, eomma”.

“apa yang kau maksud ‘beberapa waktu lalu’ itu saat tahun baru kemarin?”.

Aku terdiam, lalu mengangguk setelah beberapa detik. Mengiyakan perkataan eomma. Karena memang benar aku terakhir kesana saat awal tahun baru kemarin.

“kita harus kesana, Yeon-ah. Lagipula besok kau sudah menjadi seorang mahasiswi di Universitas Seoul. Kajja!  Kita harus pergi sekarang”.

Tangan kananku kini sudah ditarik paksa oleh ibuku. hingga membuatku pasrah tak bisa melawan kemauannya.

****

Senin, 3 Maret 2008

Seoul, Gwanak-gu, Daehak-dong, Gwanak-ro, Seoul Nat’l Univ.

Aku melangkah pasti menuju ke gedung yang ada dihadapanku. Gedung jurusan Bahasa Korea sudah tepat berada didepan mataku. Juga kulihat beberapa mahasiswa serta mahasiswi juga sudah berlalu lalang disini. Hingga pandanganku kini menemukan sosok gadis dengan rambut panjang sepinggang sedang menatap ponselnya. Segera saja aku menghampiri gadis itu dan menyerukan namanya kencang.

“Ya! Kwon Yoon Ji!”.

Gadis itu memandangku. Lalu tersenyum setelahnya. Langkahku kini semakin dekat dengannya, dan setelah sampai dihadapannya aku memeluknya cukup erat. Menyalurkan rasa rinduku padanya.

“Ya! Lepaskan bodoh! Kau akan membunuhku jika terus seprti ini”.

“ah, mian. Aku terlalu merindukanmu, Yoon Ji-a”.

“ck! Tapi reaksimu terlalu berlebihan. Kau memelukku terlalu erat. Dan itu bisa membuatku sesak nafas dan juga mungkin bisa membunuhku“.

Aku kembali tersenyum mendengar ocehannya. Seperti inilah Yoon Ji yang kukenal. Seorang gadis cerewet yang suka melebih-lebihkan sesuatu. Dan meski usianya satu tahun lebih tua dariku aku tak pernah memanggilnya ‘eonni’ karena dia bilang itu membuatnya begitu tua didepanku. Hingga akhirnya aku selalu memanggilnya dengan nama biasa.

“Yeon Hwi-a, sepertinya aku harus pergi. Sebentar lagi kelas pertamaku akan segera dimulai. Kita bertemu saat makan siang nanti di kantin kampus, okey!”.

Yoon Ji melambaikan tangannya padaku setelah mengatakan hal itu. aku membalas lambaiannya. Lalu berjalan kembali memasuki gedung jurusan Bahasa Korea. Yoon Ji dan aku memang mengambil jurusan yang berbeda. Dia mengambil jurusan bisnis, sedangkan aku mengambil jurusan Bahasa Korea. Jika kalian bertanya bagaimana aku dan Yoon Ji bisa bersahabat, aku mungkin sudah lupa alasan kenapa kami bisa bersahabat. Tapi yang pasti kami mulai bersahabat sejak masuk di sekolah menengah pertama. Dan itu sudah terhitung 6 tahun yang lalu.

Aku kembali tersenyum saat teringat tentang Yoon Ji. Dengan kakiku yang masih terus berjalan, aku terus tersenyum tertahan saat ini. hingga aku berhenti ketika ruangan yang kucari sudah ada dihadapanku. Dan disinilah tempat tujuanku.

****

“cha! Kelas saya akhiri sampai disini. Kalian boleh keluar sekarang”.

Kelas pertamaku akhirnya selesai. Aku merapikan kembali buku-bukuku yang sebelumnya sempat aku keluarkan. Memasukannya kedalam tas ransel bewarna hitam. Hingga kegiatanku terhenti ketika seorang gadis jangkung yang sebelumnya duduk disebelahku memanggilku.

“chogiyo!”.

Aku menolehkan kepalaku kearahnya. Lalu menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, juga menunjuk diriku sendiri dengan jari telunjuk kiriku. Memastikan jika dia benar-benar berbicara padaku.

“kau bicara padaku”.

“nde, aku berbicara denganmu”.

Aku masih memasang wajah lumayan bingung karena aku merasa sedang tak memiliki urusan dengannya. Lalu senyumku kembali muncul meskipun itu sedikit canggung untukku.

“apa aku mempunyai masalah denganmu?”.

Aku bertanya untuk memastikan. Dan kulihat gadis berambut coklat itu menampilkan deretan giginya. Tersenyum padaku yang sebenarnya itu sedikit aneh untukku.

“apa kau juga mahasiswi baru?”.

Aku mengangguk dan kulihat dia kembali tersenyumpadaku. Lalu dia mulai mendekatkan dirinya padaku. Yang membuatku secara reflek untuk sedikit memundurkan tubuhku.

“apa aku bisa meminjam catatanmu? Aku belum sempat menulis saat dosen menerangkan didepan tadi”.

Aku memiringkan kepalaku sejenak. Berfikir tentang ucapannya padaku. Dan tak lama setelahnya tanganku dengan pasti kembali membuka tas ransel hitamku dan mengeluarkan salah satu buku dari sana.

“thank you!”.

Dia mengucapkan terima kasih dalam bahasa inggris. Aku hanya tersenyum dan mengangguk sejenak untuk menanggapi ucapan terima kasih yang dilontarkannya.

“ohya, siapa namamu?”.

Aku menoleh saat sudah menutup kembali tas ransel hitamku. Melihatnya yang sedang merapikan make-up di wajah pucatnya.

“Yeon Hwi, Shin Yeon Hwi”.

Aku mengucapkan namaku. Dan kulihat dia memoleskan lipstik merah muda pada bibirnya. Lalu setelah melakukan hal itu dia memandangku. Yang jujur saja itu membuatku sedikit risih karena dia memandangku terlalu lama.

“aku Kim Jae Hee, tapi kau bisa memangilku Jessica Kim atau  Jessi . Aku juga mahasiswi baru disini, sama sepertimu”.

Aku menjabat tangannya saat tangan kanannya terulur kearahku. Dengan membungkukan sedikit tubuhnku padanya.

“ah, nde. Senang berkenalan denganmu, Jessi-ssi”.

Selesai berkenalan dengan gadis didepanku ini, aku bangkit dari dudukku. Bersiap berjalan keluar dari ruang kelas. Namun tiba-tiba niatku ini batal karena suara gadis jangkung yang baru kuketahui namanya itu bertanya tentang suatu hal padaku.

“apa kau akan ikut acara penyambutan mahasiswa malam ini?”.

“nde?”.

“kau tak ikut? Atau kau tak bisa minum?”.

Aku kemabali terdiam sekarang. Apa hari ini ada acara penyambutan mahasiswa baru? Dan jika itu benar, aku juga mungkin belum bisa minum. Usiaku saja belum genap 19 tahun. Tapi jika aku tak ikut aku mungkin akan menyesal tak bisa bersenang-senang. Haruskah aku ikut?

Aku kembali ketempatku semula. Mendudukan diriku lagi disamping gadis jangkung itu yang masih berdiam diri ditempatnya.

“Jessi-ssi, menurutmu apa gadis yang usianya belum genap 19 tahun boleh minum-minum?”.

“apa kau masih 19 tahun?”.

“lebih tepatnya bulan Agustus nanti usiaku genap 19 tahun”.

Jessi mengamatiku cukup lama. Dan itu membuatku tersenyum kikuk saat dilihat orang lain sampai seperti ini.

“kau belum genap 19 tahun, tapi kenapa kau sudah mengoprasi kelopak mata?”.

“oprasi? Aku tak mengoprasi apapun?”.

“jinjja? Mata besarmu membuatku iri”.

“ah, begitu. Tapi bagaimana dengan pertanyaanku tadi? Apa tak masalah jika gadis seusiaku ikut minum-minum?”.

“kau sudah seorang mahasiswi sekarang, dan bukan seorang gadis SMA lagi. Kurasa tak masalah jika harus minum sedikit”.

Aku berfikir sejenak. Memikirkan tentang hal ini sekali lagi. Apa ini tak akan menjadi masalah nantinya?

“arraseo, aku akan ikut. Boleh aku meminta nomor ponselmu? Kabari aku dimana dan kapan acara penyambutan itu. juga, kapan kau akan selesai mengembalikan catatan milikku nanti”.

Aku melihatnya tersenyum. Wajah pucat serta mata sipitnya mengarah pada tas tangan miliknya. Lalu tangan kurusnya mengeluarkan sebuah ponsel hitam dari dalam sana. Kemudian bibir tipisnya mengucapkan satu per satu angka yang menjadi nomor ponsel mliknya. Aku dengan tenang mengetik angka-angka tersebut. Menyimpannya dalam kontak ponsel milikku. Lalu melakukan hal serupa sepertinya, menyebutkan nomor ponselku.

“baiklah, sampai bertemu nanti”.

Aku berucap dan benar-benar keluar dari kelas itu sekarang. Langkahku kini tertuju pada kantin kampus. Tempat untuk bertemu Yoon Ji.

****

“kau akan ikut?”.

Aku menyuapkan nasi kedalam mulutku, lalu mengangguk saat Yoon Ji melontarkan pertanyaan itu padaku.

“Ya! Kau masih 18 tahun, Yeon-a. Belum saatnya kau meminum alkohol”.

“aku tak akan minum terlalu banyak”.

Kali ini sup tauge yang kumasukan kedalam mulutku setelah menjawab perkataan Yoon Ji.

“terserah apa maumu. Aku tak akan menjawab panggilanmu jika kau menelfon dan meminta membawamu saat kau mabuk nanti”.

Aku tersenyum mendengar ocehan Yoon Ji. Dan kulihat dia kembali meneruskan makan siangnya tanpa mengeluarkan suara lagi.

“kau ada kelas lagi hari ini?”.

Aku bertanya saat suasana kami yang semakin sepi. Memulai pembicaraan lagi untuk menghilangkan kesunyian saat ini.

“tidak, tapi sore nanti aku juga akan ada acara penyambutan mahasiswi baru di restoran dekat sini”.

“ck! Kau pasti juga akan minum alkohol”.

Aku mencibrinya saat mengatakan hal itu. tak terima jika dia menentangku saat juga mengatakan akan ikut acara penyambutan dan ikut minum-minum.

“Ya! Usiaku sudah 20 tahun sekarang. Dan kau masih 18 tahun”.

“aku 19 tahun”.

Obrolan kami kembali terhenti sejenak. Namun itu tak berlangsung lama setelah Yoon Ji mengambil sendok makanku dan meletakannya disampik makok nasinya.

“Ya! Kenapa kau mengambil sendokku?”.

Aku protes saat dia menawan sondokku. Menghalauku agar sendok itu tak bisa terjamah oleh tanganku.

“bukankah dia satu jurusan denganmu?”.

“nugu?”.

Yoon Ji memalingkan kepalaku dengan kedua tangannya secara paksa untuk menghadap samping kiri belakang tubuhku. Hingga mataku kini melihat sosok pria dengan hidung mancung sedang menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Juga dia bersama dua orang pria lain yang memunggungiku saat ini, yang kuyakini mereka juga sama sepertinya, menyantap makan siang. Aku memalingkan wajahku lagi. Menatap Yoon Ji yang menampilkan wajah meminta jawaban dariku.

“entahlah, aku tak tahu”.

“kurasa dia sunbae di jurusanmu”.

Aku menaikan kedua bahuku. Tak peduli dengan perkataan Yoon Ji. Lalu mengambil sendok yang sebelumnya sempat dia tahan.

****

Aku menutup buku tebal yang sudah tiga jam ini menemaniku di perpustakan kampus. Lalu kembali mengembalikannya pada rak buku tempat dia berada sebelumnya. Aku memandang jam tanganku. Jarum pendek sudah mendekati angka enam. Dan sepertinya acar itu akan segera dimulai.

Aku melangkahkan kakiku kembali ketempat dimana aku terduduk di perpustakaan tadi. Berniat untuk mengambil tas ransel serta mantelku. Hingga sebelum tubuhku tiba disana, langkahku terhenti saat melihat seorang pria dengan kemeja putih yang dibalut sweter biru tua sudah duduk manis diatas kursiku sebelumnya. Juga sebuah mantel hitam sudah menggantikan tempat dimana mantelku yang awalnya berada diatas kursi tepat disamping pria yang hanya kulihat punggungnya itu. Mataku kini melihat sekeliling. Dan yang kulihat masih banyak tempat duduk kosong disini. Tapi kenapa dia menempati tempatku?

Dengan langkah pasti aku berjalan kesana. Tujuanku adalah untuk mengambil ransel serta mantelku. Hanya itu.

“chogiyo”.

Aku berucap sehalus mungkin saat kusadari dia sedang membaca buku yang cukup tebal. Aku melihat wajahnya dari samping. Lalu dia melihatku sesaat setelah sadar jika aku ada disampingnya.

“ah, apa ini punyamu?”.

Dia bertanya padaku, lalu menutup buku tebalnya dan menyerahkan ransel serta mantelku. Aku hanya mengangguk, tak berniat menjawab dengan suara. Dan bukankah dia orang yang dibicarakan Yoon Ji saat makan siang tadi?

“apa kau jurusan Bahasa Korea?”.

Aku menatapnya saat dia dengan tiba-tiba bertanya kepadaku. Lalu kepalaku kembali mengangguk dengan mimik wajahku yang bingung, bagaimana dia tahu jika aku jurusan Bahasa Korea?

“ah, aku melihatmu dikelas tadi. Dan aku juga di jurusan Bahasa Korea. Dan kau makasiswi baru bukan?’.

Daebak! Dia bahkan bisa mendengar pertanyaan dalam pikiranku. Ataukah dia seorang cenayang yang bisa membaca pikiran? Atau makhluk asing yang mempunyai kekuatan untuk mendengar suara hati manusia?

“nde”.

“apa kau juga akan ikut ke acara penyambutan mahasiswa di restoran depan?”.

“nde”.

Dan aku hanya menjawab singkat semua pertanyaan serta ucapan yang pria didepanku ni lontarkan. Tak ingin berbelit-belit menjawab semua kalimatnya.

“sepertinya kau tak banyak bicara”.

Aku tersenyum dengan anggukan kepala, sekali lagi, saat pria ini mengeluarkan kalimatnya.

“ayo kita kesana”.

Dia sekarang mengambil mantel serta ransel miliknya. Memakainya dan berjalan mendahuluiku setelah selesai memakai kedua benda itu. Aku dengan ragu mengikuti langkahnya. Berjalan dengan posisi sedikit dibelakang tubuh jangkungnya.

Jarak restoran dari kampus sebenarnya tak terlalu jauh. Tapi entah kenapa saat ini kakiku yang beralas  sepatu kets ini sudah merasa lelah seperti sudah melanngkah berpuluh-puluh mil. Dan yang semakin membuatku tak nyaman adalah saat tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir kami. Hingga kesengsaraan ini berakhir ketika tempat tujuan kami sudah di depan mata.

“masuklah lebih dulu, aku akan menyusul nanti”.

Aku hanya tersenyum serta membungkukan sedikit punggungku. Menunjukan rasa hormat karena dia sunbaeku. Kulihat kedua sudut bibirny yang ikut tertarik keatas. Dia tersenyum padaku. Dan untuk pertama kalinya aku merasa ada hal aneh dalam diriku.

Aku masuk ke restoran yang menjadi tempat untuk acara penyambutan mahasiswa. Sepertinya Yoon Ji juga di restoran ini. aku bertanya kepada salah seorang pelayan yang berkerja disini. Menanyakan dimana ruangan yang menjadi tempat anak jurusan Bahasa Korea mengadakan acara. Dengan detail, pekerja itu mengarahkanku keruangan yang kumaksud.

Aku masuk keruangan yang pekerja tadi katakan. Dan pandanganku kini terarah pada gadis jangkung yang meminjam buku catatanku tadi. Karena hanya dia yang kuketahui namanya.

“Jessi-ssi”.

Aku memanggilnya, dan dia tersenyum padaku. Tangannya mengisyaratkanku untuk duduk disebelahnya.

“kau sudah datang rupanya. Apa kau mau minum?”.

“tidak, aku tak ingin minum dulu”.

Tak lama setelah kedatanganku, beberapa orang masuk keruangan ini. Dan kulihat sunbae yang bersamaku tadi berada diantara orang-orang itu. aku memandangnya sejnak, hingga tak lama setelahnya dia juga memandangku dengan tesenyum. Dengan melihat hal seperti itu, tentu bibirku juga menyunggingkan senyum yang sama seperti yang dia lakukan.

“dia tersenyum padamu?”.

“nde?”.

Aku memalingkan wajahku menatap Jessi. Apa dia melihatku dan sunbae itu saat kami saling membalas senyum.

“ani, dia mungkin tersenyum pada orang lain”.

“dia tersenyum padamu, aku yakin itu”.

Aku terdiam sesaat. Berfikir lagi, tapi.. sunbae itu memang tersenyum padaku. Tapi bukankah kami tak saling mengenal? Dia tak tahu namaku. Dan aku juga tak tahu siapa namanya.

“dia Park Hae Jin. Dan tahun ini adalah tahun terakhirnya disini. Dia baru saja menyelesaikan wajib militernya beberapa bulan lalu, yang juga membuatnya harus cuti selama hampir dua tahun. Kudengar dia cukup kaya dan dari gosip yang beredar dia adalah putra salah seorang pebisnis paling hebat di Korea”.

Aku hanya terdiam saat Jessi mulai menceritakan tentang sunbae itu. Tapi memang jika dilihat dia memang terlihat seperti seorang ahli waris. Wajah tampan, badan tinggi menjulang, hidung mancung, bahu yang lebar, dan bibirnya yang…

Tunggu! Apa aku sedang memujinya sekarang? Ah, kau memang mudah sekali terpesona, Shin Yeon Hwi!

“cha! Karena kalian semua sudah berkumpul, bagaimana jika kita awali acara kita dengan perkenalan mahasiswa baru? Otte?”.

Kulihat seorang sunbae dengan tubuh agak besar berucap cukup lantang. Yang tentunya akan langsung terdengar oleh seluruh penghuni yang ada diruangan ini.

“baiklah, kita mulai dari yang berbaju hijau disana dan dilanjutkan kesebelah kirinya”.

Pandangan kami semua tertuju pada seorang gadis yang duduk disebelah kanan Jessi. Kulihat dia meletakan tas selempangnya dikursinya, lalu bangkit dan memperkenalkan diri.

“annyeonghaseyo, choneun Kang Na Ra imnida”.

Gadis berbaju hijau itu membungkuk beberapa kali, lalu duduk dikursinya kembali setelah melakukan hal itu. Dan sekarang giliran Jessi memperkenalkan dirinya.

“annenyeonghaseyo, choneun Kim Jae Hee imnida”.

“wah.. dia tinggi sekali, sepertinya dia juga bukan orang korea asli. Lihat kulit pucatnya itu”.

Seseorang berkomentar tentang Jessi Dan sama seperti gadis disebelahnya, dia juga melakukan hal yang sama, membungkuk beberapa kali lalu kembali duduk pada kursinya. Dan sekarang giliranku. Aku bangkit dari dudukku. Menatap semua yang duduk dihadapanku. Dan entah aku beruntung atau sial, mataku kini kembali menatap Hae Jin sunbae yang juga tengah menatapku. Dengan cepat aku memejamkan mataku sejenak, lalu beberapa detik setelahnya aku memperkenalkan diriku.

“annyeonghaseyo, choneun Shin Yeon Hwi imnida”.

Aku membungkuk beberapa kali. Lalu bersiap untuk kembali duduk, namun belum sempat bokongku menyentuh permukaan kursi, salah seorang sunbae sekarang menyuarakan pertanyaan tak berbobot padaku.

“apa kau… sudah memiliki namja chingu?”.

Aku hampir terbatuk saat pertanyaan itu terkuar begitu saja. Dan yang membuatku mau tak mau, berdasar atas rasa sopan kepada sunbae, aku menjawab pertanyaanya.

“ani, aku tidak memilikinya”.

“berapa usiamu?”.

“usiaku.. em.. aku 19 tahun”.

Kulihat beberapa mahasiswa yang meihatku dengan tatapan yang tak kumengerti. Aku tak peduli dengan semua itu, lalu kembali aku menduduki kursiku yang sempat tertunda untuk kududuki.

****

Aku keluar setelah acara hari ini selesai. Meski sebetulnya masih beberapa para sunbae yang mabuk didalam sana. Dan sekarang masih pukul sepuluh malam. Setidaknya ini lebih cepat dari yang kupikirkan tadi. Waktunya menunggu Yoon Ji di halte depan kampus.

Aku merasakan ponsel di tanganku bergetar. Dan dengan jelas, tertera nama Yoon Ji disana.

“yeoboseyo?”.

Yeon-a, kau sudah selesai?”.

“eo, aku sudah keluar beberapa menit lalu. Kau masih lama?”.

entahlah, mungkin sebentar lagi. Sunbae disini terlalu suka pesta. Sekarang aku sedang di toilet dan diam-diam menelfonmu untuk memastikan keadaanmu”.

“ck! Kau tak perlu khawatir tentang diriku. Aku sama sekali tak mabuk”.

“apa kau minum tadi?”.

“hanya seteguk, rasanya aneh. Jadi aku tak menghabiskannya”.

baguslah, kau memang tak seharusnya minum alkohol. Sudah dulu, aku akan menemuimu dihalte depan sebentar lagi. Annyeong!”.

Pip!

Panggilan kami terputus. Aku kembali memasukan ponsel lipatku kedalam ransel. Lalu mengambil novel yang memang sengaja kubawa dari dalam ranselku. Membacanya sembari menunggu Yoon Ji keluar.

Jarum panjang di jam tanganku sudah berada di angka enam. Yang berati pula sudah tiga puluh menit waktu yang kugunakan untuk menunggu Yoon Ji juga membaca novel tebal ini. Aku kembali menghubungi Yoon Ji. Tapi sialnya suara operatorlah yang menjawab panggilanku. Dan itu membuatku memutuskan untuk kembali memasuki restoran tadi.

Beberapa orang berjalan keluar dari pintu utama restoran tersebut. Dan Yoon Ji tidak ada diantara mereka. Aku mengecek beberapa ruangan yang memang diperuntukan untuk acara sebuah perkumpulan. Banyak yang sudah kosong dan hanya menampilkan beberapa karyawan restoran tersebut juga beberapa pelanggan yang masih menempati ruangan mereka.

Hingga akhirnya aku melihat Yoon Ji keluar dari salah satu ruangan yang belum kuperiksa. Aku menghembuskan nafas lega. Akhirnya aku menemukan sahabatku ini.

“Yeon-a? Kenapa kau kemari?”.

“aku tadi juga disini. Lalu menunggumu di halte tapi kau tak kunjung keluar. Jadi aku mencarimu”.

“mian, para sunbaeku baru mengizinkan kami pulang sekarang”.

“arraseo, sekarang giliranmu menungguku. Aku ingin ketoilet sebentar”.

Omelan tak jelas kini Yoon Ji keluarkan. Kurasa dia tak terima dengan perlakuanku padanya. Dan dengan acuh, aku tetap berjalan menjauhinya.

****

Aku membasuh wajahku dengan air yang keluar dari westafel di toilet wanita. Lalu menarik beberapa lembar tissue dan mengeringkan wajahku dengan benda itu. Kemudian berjalan keluar setelah egiatanku ini selesai.

Aku mendengar sebuah percakapan sesaat setelah keluar dari toilet. Suara wanitalah yang lebih mendominasi dari percakapan itu. Karena rasa penasaran yang kumiliki, aku mengikuti sumber suara tersebut. Dan terdengar semakin jelas saat tubuhku berda didepan ruangan dengan pintu yang terbuka sedikit. Bukankah ini ruangan yang kutempati sebelumnya?

“apa kau yakin dengan perasaanmu?”.



Suara seorang pria kini yang terdengar dari balik ruangan sana. Dan dengan otomatis kakiku berjinjit untuk bisa melihat adegan yang terjadi. Seorang wanita dengan gaun yang menurutku tak cocok dikenakan saat masih musin dingin seperti sekarang, menghadap kearah yang dapat kulihat dengan jelas wajahnya. Juga seorang pria dengan kemeja putih menghadap kearah sang wanita dan hal itu membuatku tak bisa melihat wajahnya. Tetapi yang jelas dia memiliki tubuh yang sangat tinggi.

“nde, aku yakin dengan perasaanku. Aku menyukaimu, sunbae”.

Aku menutup mulutku dengan tanganku saat wanita itu menyatakan perasaannya. Dia terlalu berani untuk menyatakan cinta, itulah yang terbesit di otakku.

“tapi aku tak menyukaimu, lagi pula bukankah kau juga tahu jika aku sudah memiliki kekasih?”.

“aku tahu, tapi aku mencintaimu. Aku tak masalah jika menjadi selingkuhanmu”.

“tapi aku tak menyukaimu”.

Dia ditolak? Dan kulhat kini mereka sama-sama terdiam, lalu sang wanita mendekat, dan semakin mendekat, hingga mereka.. berciuman. Mwo? Berciuman? Apa mereka  gila? Dan bukankah pria itu juga mengatakan jika dia sudah memiliki kekasih? Kenapa dia sama sekali tak menolak ciuman itu?

Aku membalikan tubuhku ketika adegan itu masih berlangsung. Lalu kembali mengintip setelah kurasa mereka selesai melakukan kegiatan itu. Dan yang kulihat sekarang adalah mereka yang sama-sama terdiam. Lalu tak lama setelahnya sang wanita dengan wajah sedih mengambil tas tangannya dan bersiap keluar dari ruangan itu.

Aku memposisikan tubuhku sebelum wanita itu muncul. Berjalan santai seperti orang yang baru lewat. Suara gebrakan pintu tertutup terdengar begitu jelas. Kurasa dia baru saja membantingnya. Dan dengan cepat dia berjalan mendahuluiku tanpa melihatku.  Rambut panjangnya berkibar seirama dengan laju jalannya. Aku memandangnya hingga tubuhnya tak terlihat lagi, dan sekarang menampilkan Yoon Ji yang berjalan cepat kearahku.

“kenapa kau lama sekali?”.

“ah, mian. Perutku sedikit bermasalah tadi”.

“seharusnya kau menghubungiku, aku khawatir padamu. Kukira kau terpeleset disana”.

Aku tersenyum saat Yoon Ji menampilkan mimik wajah khawatir. Dia benar-benar lucu jika seperti ini. Tempat kami yang memang tepat berada di jalan depan pintu ruangan tadi, membuatku tahu siapa pria yang baru saja menolak seorang wanita karena tak menyukainya juga karena dia sudah memiliki kekasih.

“oh! Annyeonghaseyo, sunbaenim”.

Yoon Ji menyapa pria itu. Aku menoleh dan melihat pria yang baru saja keluar dari ruangan itu. Jadi, dia orangnya?

“Hae Jin sunbaenim?”.

Aku bertanya seolah tak percaya dengan siapa yang kulihat. Kami terdiam hingga beberapa saat. Hingga pria itu bertanya kepadaku.

“kau masih disini? Kukira kau sudah pulang tadi, Yeon Hwi-a”.

“aku menunggu temanku. Jadi, aku masih disini”.

“ah, apa dia temanmu?”.

Pria itu menunjuk Yoon Ji. Aku hanya menganggukan kepalaku tapi Yoon Ji menanggapinya dengan menjabat cepat tangan pria itu.

“Yoon Ji, Kwon Yoon Ji dari jurusan bisnis. Senang bertemu denganmu, sunbae”.

“senang bertemu denganmu juga. Tapi maaf sebelumnya, aku masih ada urusan. Jadi, aku pergi dulu. Sampai bertemu besok, Yeon Hwi-a”.

Aku membungkukan badanku saat dia kembali berjalan keluar. Meninggalkanku dan Yoon Ji yang masih berdiam ditempat.

“kau sudah kenal Hae Jin sunbae? Bukankah kau tak mengenalinya saat aku bertanya padamu di kantin tadi?”.

“aku baru tahu namanya beberapa jam lalu”.

“benarkah? Tapi dia sudah memanggil namamu seolah kalian sudah dekat”.

“entahlah, aku tak ingin memikirkannya. Kita pulang saja, aku susah lelah”.

Meski Yoon Ji sudah tak menanyakan tentang Hae Jin sunbae lagi,  namun nyatanya itu tak membuatku berhenti memikirkan pria itu. Pria yang yang kulihat sudah menolak seorang wanita dan berciuman denganya. Dan satu hal lagi yang membuatku entah kenapa merasakan nyeri dibagian dadaku. Park Hae Jin.. yang sudah memiliki kekasih.

****

Minggu, 6 April 2008.

Seoul, Seongdong-gu, Seoul Forest Park.

Aku terduduk disalah satu bangku yang disediakan ditempat ini. lalu kembali menenggak air mineral yang kubeli beberapa saat lalu. Menenggaknya dengan beberapa tegu saja. Hingga hanya menyisakan sebuah botol kosong sekarang.

Aku menatap dengan pandangan kosong kedepan. Meski tatapanku seperti ini, namun otakku terus berfikir. Sudah satu bulan ini aku selalu terfikirkan satu orang. Yang membuatku menjadi tak fokus setiap masuk kelas. Juga aku sering merasakan gejala-gejala aneh saat melihat atau hanya terfikirkan tentangnya. Apa aku sekarang memiliki sebuah penyakit kronis?

Segera kuhentikan lamunan tak jelasku ini. Aku tak ingin menjadi gila hanya karena hal sepele yang akhir-akhir ini melanda diriku. Kembali kufokuskan pikiranku. Dan bersiap kembali melanjutkan lari pagi yang rutin kujalani jika sedang hari libur seperti sekarang.

Aku memperlambat gerakan kakiku. Terlalu lelah jika kakiku kupaksakan lagi untuk berlari. Mataku tetap fokus menatap setiap benda atau makhuk yang ada didepanku. Termasuk makhluk yang satu ini, makhluk yang sudah mengganggu konsentrasiku saat di kampus sekarang sedang berlari berlawanan arah denganku sedang tersenyum bahagia bersama seorang wanita.

Satu..

Dua..

Tiga..

Tepat pada hitungan ketiga. Aku menghentikan kegiatanku saat  mereka melewatiku. Tubuhku dengan otomatis berbalik. Menatap punggung keduanya dengan seksama. Pria itu, Park Hae Jin, sedang tersenyum sembari mengobrol dengan wanita yang ada disebelahnya. Juga wanita yang tingginya mungkin tak sampai 160 cm itu juga membalas setiap pembicaraan yang keluar dari mulut pria itu.

Kedua tanganku mengepal dengan sendirinya. Bahkan dadaku semakin nyeri saat melihat kedua insan itu semakin jauh dari tempatku berdiri. Tubuhku bahkan menjadi panas dengan sendirinya dicuaca yang masih cukup dingin di awal musim semi tahun ini.

Park Hae Jin sunbaenim…

Apa kau tahu nama penyakit dengan gejala aneh yang  hanya kualami saat melihatmu?

****

Jumat, 11 April 2008

Seoul, Gwanak-gu, Daehak-dong, Gwanak-ro, Seoul Nat’l Univ.

Duk!

Aku tersadar saat kepalaku tak sengaja terkena nampan untuk makan dari salah seorang mahasiswi disini. Aku mengusap pelan bagian yang terasa berdenyut dikepalaku bagian belakang. Berharap jika rasa sakitnya akan berkurang jika aku melakukan ini.

“mian, aku tak sengaja”.

Aku memejamkan mataku saat mendengar suara dari tersangka yang menyebabkan kepalaku terasa berdenyut. Dan jujur saja, saat ini aku sedang tak ingin marah atau mengomel. Dengan segera tangan kiriku yang sedang menganggur langsung memberi isyarat kepada sang tersangka untuk segera meninggalkan tempatku.

Aku membuka mataku bertepatan saat Yoon Ji yang berada didepanku juga sedang menatap lekat kearahku. Aku tak mempedulikannya, lagi pula dia juga tak banyak bercerita seperti biasanya. Toh, jikapun dia bercerita aku juga tak yakin akan mendengarnya.

“Yeon-a.. gwenchana? Apa kepalamu tak apa?”.

Aku memandangnya sembari memasukan potongan daging kedalam mulutku. Mengunyahnya lalu mengangguk untuk menjawab pertanyaan Yoon Ji. Lalu kembali melanjutkan acara makan siangku.

“apa kau sedang ada masalah? Akhir-akhir ini kau sering melamun”.

Masalah? Apa terus terfikirkan seseorang yang rasanya hampir membuat gila bisa disebut masalah? Apa saat aku merasakan nyeri didadaku saat melihat Hae Jin sunbae juga disebut masalah? Apa aku bisa menyebut hal ini sebagai masalah?

“molla.. aku tak tahu ini masalah atau bukan?”.

“ne? Apa maksudmu?”.

Kuletakan sumpit yang sebelumnya kugunakan.  Kutarik panjang nafasku, lalu menghembuskannya melalui mulut.

“Yoon Ji-a… sebenarnya aku sudah merasa aneh sebulan terakhir ini”.

“waeyo?”.

Yoon Ji bersiap untuk menyimak kata yang akan keluar dari mulutku. Begitu pula denganku yang juga sudah siap untuk menceritakannya. Kurasa tak apa jika aku menceritakan semuanya.

“kurasa ak-“.

“kalian juga disini?”.

Suaraku otomatis terhenti saat dua orang pria berdiri tak jauh dari kami. Dengan nampan berisi makanan ditangan masing-masing sudah jelas jika mereka akan makan siang.

“Yeon Hwi-a, annyeong”.

Aku tersenyum tipis juga sedikit mendunkan kepalaku saat kutahu siapa yang baru saja menyapaku. Dengan menunjukan rasa hormat kepada sunbae aku harus bersikap seperti ini. Tak lama setelah melontarkan sapaan untukku, Hae Jin sunbae serta salah satu temannya yang bernama Min Ji Hyuk, kini sudah duduk manis disampingku juga temannya itu yang duduk disamping Yoon Ji.

Aku melanjutkan sesi makan siangku dengan sedikit terburu. Berusaha agar cepat selesai dan pergi meninggalkan tempat yang membuatku hampir tak bisa bernafas normal. Bahkan degup jantungku sudah mulai menunjukan tanda-tanda akan siap meledak jika aku tak segera pergi.

“Yoon Ji-a, aku sudah selesai. Kau tak masalah bukan jika aku pergi dulu. Aku harus ke perpustakaan”.

Makan siangku masih menyisakan beberapa suap nasi juga masih terdapat potongan daging yang belum sempat kumakan. Karena nafsu makan yang sudah hilang sejak beberapa saat lalu, aku memutuskan untuk tak menghabiskan makan siangku. Dan memilih pergi dari tempat ini meninggalkan Yoon Ji yang sendirian bersama kedua sunbae yang masih memakan makan siang mereka.

Kursiku kudorong kebelakang saat tubuhku bersiap untuk meningalkan kantin kampus. Belum juga kakiku melangkah, Hae Jin sunbae sudah lebih dulu menahanku. Menahan lenganku untuk sejenak berhenti.

Kepalaku menoleh menatapnya. Dengan keadaanku yang sudah berdiri dan dirinya yang masih terduduk dikursi, membuatku harus sedikit merendahkan tatapanku karena tubuhnya yang lebih rendah dariku. Aku mengerjabkan kedua mataku beberapa kali saat kusadari tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Bahkan tangannya masih setia pada lenganku. Jika tepat disaat seperti ini waktu terhenti, ini bahkan mirip sekali seperti adegan yang ada di drama yang sering eomma tonton.

“waeyo, sunbaenim?”.

Suaraku terdengar cukup aneh saat mencoba menanyakan alasan kenapa Hae Jin sunbae menahan lenganku. Senyumannya kini terpatri jelas diwajahnya. Lalu tangan yang awalnya sempat menahanku kini terlepas sesaat setelah dia tersenyum padaku.

“aniya, aku hanya ingin bertanya satu hal padamu. Apa kau ada waktu setelah kelas profesor Kang?”.

Otakku berfikir sejenak saat memproses pertanyaan yang ditujukan kepadaku. Kenapa Hae Jin sunbae menanyakan hal ini padaku? Apa dia ingin menemuiku setelah kelas profesor Kang? Lebih tepatnya jika benar dia ingin menemuiku, apa yang ingin dia ketahui? Atau apa yang ingin dia katakan? Kenapa bukan sekarang saja?

“sepertinya aku bisa. Kalau begitu aku pergi dulu, sunbaenim. Annyeonghikaseyo”.

Aku membukuk setelah mengucapkan kalimat yang mengandung arti ‘pamit’ tersebut. Berjalan secepat yang kubisa. Dengan tak mempedulikan teriakan tak terima ditinggalkan yang tentu saja milik Yoon Ji disana.

****

“.. pada dasarnya, bahasa adalah jati diri sebuah bangsa. Dan saya harap kalian bisa menjaga agar bahasa itu sendiri tak terjajah oleh orang asing yang ingin merusak atau mengambilnya. Cha! Pambelajaran kita akhiri sampai disini. Dan jangan lupa dengan tugas kelompok yang saya beri tadi. Juga untuk nama anggota, saya sudah menulisnya didepan. Kalau begitu, selamat menikmati akhir pekan kalian”.

“ne!”.

“ne!”.

Kututup buku tebalku saat profesor Kang beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan keluar kelas. Meninggalkan kami yang masih setia duduk pada bangku masing-masing. Mataku tertuju pada papan tulis panjang bewarna hijau yang ada didepan kelas. Mencari dengan teliti dimana letak namaku dari sekian banyaknya nama yang tertulis disana.

“Shin Yeon Hwi, Shin Yeon Hwi.. Yeon Hwi. Ah! Kelompok 5!”.

Kulihat namaku yang tertera disana. Lalu mataku kembali melihat siapa saja yang akan menjadi teman kelompokku kali ini.

“Kang Ji Eun, Min Ji Hyuk, Park Hae Jin, Shin Yeon Hwi, Lee Dong Chul”.

Bibirku otomatis terucap saat mataku melihat nama-nama yang tertera disana. Terdiri dari lima orang termasuk aku dan Hae… Jin sunbae? Chamkkan! Apa aku akan satu kelompok dengannya? Dengan Park Hae Jin? Park Hae Jin yang tadi menahanku saat aku berusaha kabur saat makan siang tadi? Orang yang sering terfikirkan olehku akhir-akhir ini? Dia?

“Yeon Hwi-a”.

Bulu kuduku seketika berdiri saat suara yang sangat menghantuiku kini terdengar oleh indera pendengaranku. Aku menolehkan kepalaku kesamping kiri. Wajah tampan dengan hidung mancung serta bibir yang cukup tebal sudah ada disana. Membuatku yang tentu saja gugup dengan kehadirannya karena jarak kami yang cukup dekat.

“kau sudah melihatnya? Kita satu kelompok untuk tugas yang diberikan oleh profesor Kang”.

“nde, aku sudah melihatnya”.

“baguslah, ayo kita kesana. Mereka sudah menunggu kita”.

Ujung telunjuk Hae Jin sunbae menunjuk kebelang kami. Mengarah pada tiga orang, terdiri dari seorang wanita dan dua orang pria. Aku mengangguk dan tersenyum setelah mataku melihat seluruh anggota kelompokku yang sedang berdiskusi. Lalu aku ikut berdiri setelah Hae Jin sunbae lebih dulu melangkah kearah mereka yang duduk pada bagian terbelakang kelas tak jauh dari pintu keluar bagian belakang.

Aku membalik kursi menghadap kebelakang agar kami mudah untuk berdiskusi. Lalu mendudukinya dan meletakan tas ranselku dibawah meja kami.

Cukup lama kami berdiskusi. Bahkan kedua jarum yang ada pada jam tanganku sudah dalam posisi garis lurus, menunjuk angka dua belas dan angka emam tepat. Yang mengartikan jika kami sudah terduduk disini selama dua jam sejak kelas selesai.

“.. baiklah, kalau begitu aku, Dong Chul, dan Ji Hyuk sunbae  akan mencari sumber dari buku sejarah dan akan lebih baik lagi jika mencari informasinya  di museum sekalian. Dan untuk Yeon Hwi dan Hae Jin sunbae, kalian bisa mencarinya melalui film yang berlatar tempat di era Joseon. Bagaimana menurut kalian?”.

Kami mengangguk mennyepakati apa yang sudah disampaikan oleh Ji Eun. Aku menulis beberapa bahan materi yang sebelumnya belum tertera pada bukuku. Sembari mendengarkan kalimat apa yang akan disampaikan lagi.

“baiklah, sepertinya kita sudah cukup lama disini. Kita akhiri saja pertemuan pertama kita sekang. Kita lanjutkan hari senin nanti”.

Ji Hyuk sunbae mengakhiri pertemuan kami dengan kalimatnya. Aku mengakhiri goresan penaku, lalu segera membereskan buku-buku yang sempat keluar dan memasukannya kembali ketempat asalnya, ransel hitam yang berada dibawah meja panjang ini.

“Hae Jin sunbaenim, apa kau ingin pulang bersama?”.

Suara Ji Eun menguar saat aku masih merapikan buku milikku. Wajahku mengarah padanya yang tengah menatap harap pada Hae Jin sunbae , lalu sekarang aku menoleh kesamping untuk melihat respon yang akan diberikan Hae Jin sunbae kepadanya.

“mianhae, Ji Eun-a. Aku sudah ada janji setelah ini”.

“jeongmal? Arraseo, kalau begitu aku pulang lebih dulu. Annyeong, sunbaenim”.

“eoh, hati-hati dijalan”.

Kulihat wajah meronanya kini mengalahkan warna blush on yang dia pakai saat Hae Jin sunbae berpesan untuk sekedar hati-hati. Dengan senyuman yang tak dapat dia tutupi, Ji Eun berjalan keluar melalui pintu belakang.

“Hae Jin-a, kau ingin ikut bersama kami? kami akan minum dulu sebelum pulang”.

Ji Hyuk sunbae menawarkan ajakan yang dia tujukan kepada Hae Jin sunbae. Lagi-lagi hanya ditujukan padanya. Kenapa mereka hanya bertanya dengan dia?

“terima kasih untuk tawarannya, tapi aku sudah ada janji dengan Yeon Hwi”.

Gerakanku terhenti saat mendengar namaku terucap dan masuk ditelingaku. Menatap sang empu yang baru saja memasukan namaku pada kalimatnya. Kenapa dia mengatakan ada janji denganku? Ini akan menimbulkan scandal tak terduga jika Ji Hyuk sunbae tak tahu maksudnya.

“kalian sudah memiliki janji sendiri? Kencan?”.

“ani, bukan itu yang Hae Jin sunbae maksud. Tapi kami hanya akan membicarakan sedikit hal yang akan dibicarakan”.

Aku tentu saja jelas menolak pertanyaan tak masuk akal dari Ji Hyuk sunbae. Jika aku tak segera melakukan penolakan atas pertanyaannya, aku benar-benar akan menjadi berita utama nanti.

“baiklah, kalian lanjutkan janji kalian. Aku dan Dong Chul akan pergi dulu. Aku pergi dulu, Yeon Hwi-a. Annyeong!”.

Tubuhku membungkuk sekali membalas ucapan yang dilontarkar Ji Hyuk sunbae. Dan kemudian mamakai ranselku dan bersiap bangkit dari dudukku,

“ini sudah lebih dari jam enam. Bagaimana jika kita makan malam sekaligus membahas hal yang ingin kukatakan padamu?”.

Aku hanya mengangguk pasrah menanggapi ajakan Hae Jin sunbae. Tak ada salahnya juga jika aku menuruti ucapannya bukan?

****

Kepulan asap dengan aroma nikmat keluar dari dua buah mangkuk mie yang kupesan bersama Hae Jin sunbae di kedai yang berada tak jauh dari kampus. Ditambah dengan kimchi serta potongan lobak manis di tempat yang terpisah, membuatku  semakin tak sabar untuk menyantap hidangan yang tersaji dihadapan kami ini.

“makanlah, disini mie yang mereka buat sangat enak. Kau akan menyukainya nanti”.

“nde, sunbaenim”.

Kucicipi kuah bening dari mie tersebut. Lalu kusumpit mie yang menurutku cukup panjang saat kuulur keatas. Memakannya perlahan untuk sekedar merasakan nikmatnya makanan ini.

“otte? Mashita?”.

“hm, noemu mashita”.

Enak, sangat enak. Itulah komentarku untuk mie ini. Kucicipi juga kimchi yang disediakan. Pedas, namun tak terlalu pedas.  Juga asam, namun tidak berlebihan. Asin dari kimchinya juga pas. Ini enak sekali.

“kau sangat menyukainya bukan?”.

“ne, kimchi mereka juga enak. Sepertinya aku harus mengajak Yoon Ji untuk makan disini”.

“begitu? Sepertinya kau dekat sekali dengan temanmu itu”.

Sejenak acara menyumpitku terhenti. Perkataan Hae Jin sunbae harus kujawab lebih dulu. Tak sopan rasanya jika aku harus mengabaikan pertanyaan dari sunbae tampan didepanku ini.

“kami sudah berteman sejak SMP. Lalu saat SMA kami juga bersama, sampai sekarang kami ada di universitas yang sama meski berbeda jurusan”.

Aku menjelaskan kapan aku mulai berteman dengan Yoon Ji. Kulihat Hae Jin sunbae mengangguk beberapa kali setelah menerima penjelasan dariku. Dengan senyuman yang tercetak diwajahnya, entah kenapa bibirku juga ikut tersenyum melihat hal itu.

“ah! Yeon Hwi-a, apa kau sibuk hari minggu besok?”.

“waeyo?”.

“aku akan langsung keintinya saja. Sebenarnya aku memiki teman, dia seorang fotografer. Dan dia sangat membutuhkan model untuk sebuah produk karena model yang biasa dia gunakan sedang cidera kaki karena kecelakaan. Dan dia memintaku untuk mencarikan model baru untuknya, lalu tiba-tiba saja aku teringat dirimu”.

Aku masih mencoba mencerna maksud dari ucapan panjang Hae Jin sunbae. Apa maksudnya dia ingin menjadikanku model? Model yang seperti itu? kenapa aku?

“model? Maksud sunbae yang berjalan ditengah-tengah orang banyak itu?”.

“aniya, kau hanya difoto saja untuk model di majalah. Bukan berjalan di catwalk”.

Aku terus mengerjabkan beberapa kali mataku. Tak percaya dengan tawaran yang sama sekali tak pernah kubayangkan akan ditawarkan padaku. Model? Sebenarnya saat SMP aku pernah difoto untuk majalah sekolah karena menjadi runner up taekwondo tingkat nasional saat itu. Tapi yang ditawarkan saat ini akan sangat berbeda dan kurasa aku tak memiliki bakat untuk menjadi modeling. Kenapa Hae Jin sunbae malah memintaku? Apa dia sengaja ingin mempermalukanku? Lagi pula tinggiku masih kurang jika aku akan menjadi model.

“sunbae, bukankah lebih baik jika kau meminta Jessi saja? Dia memiliki tinggi 175 cm, akan sangat sempurna jika dia menjadi model temanmu itu”.

“Jessi? Maksudmu Kim Jae Hee?”.

Aku mengangguk antusias dengan senyum yang menampilkan beberapa gigi depanku. Berharap jika Hae Jin sunbae menerima usulanku dan melupakanku untuk menjadi model temannya itu.

“dia memang tinggi, tapi aku lebih menyukaimu”.

“nde?”.

Otakku mencerna maksud lain dari ucapan yang Hae Jin sunbae sampaikan. Kenapa harus terselip kata’menyukaimu’ dikalimatnya itu?

“maksudku kau juga sudah cukup tinggi. Dan juga wajah cantikmu pasti akan sangat pas jika kau yang menjadi modelnya”.

Cukup tinggi dan cantik. Apa sunbae baru saja memujiku? Atau hanya merayuku untuk tak menolak tawarannya? Entahlah, jikapun dia hanya merayuku yang pasti ini sudah cukup membuat wajahku untuk sekedar merona dihadapannya.

“baiklah, kurasa aku bisa”.

Persetujuanku membuatnya tersenyum memikat didepanku. Dan sangat kuyakini, rona merah pasti sudah sangat jelas tercetak ada kedua pipiku. Melihatnya dari jauh saja sudah membuat kerja jantungku tak normal. Apa lagi jika dia terus tersenyum seperti ini dan dalam jarak yang sangat dekat, sudah pasti jika aku tak bisa mengontrol degup jantungku, mungkin aku sudah pingsan sejak tadi.

“lalu bagaimana dengan tugas kita? Apa kau memiliki waktu untuk menonton besok?”.

Benar juga, aku bahkan hampir melupakan tugas kami karena tawaran Hae Jin sunbae. Dan jika dia tak mengingatkan tentang tugas itu, mungkin aku juga akan melupakannya. Lagipula sepertinya besok aku memiliki waktu untuk sekedar menonton dengannya.

“besok? Seperti bagus, bagaimana jika jam 5 sore di Seoul Cinema di Jongno?”.

“baiklah, kita bertemu disana besok”.

Hae Jin sunbae menyetujui usulanku. Aku tersenyum saat melihatnya yang juga tersenyum padaku. Lalu kembali melanjutkan acara makan malam kami yang sempat tertunda itu.

****

Sabtu, 12 April 2008.

Seoul, Seongdong-gu, Seoul Forest Park.

Kedua kakiku mengayuh pedal sepeda dengan pelan. Dengan alunan musik yang keluar dari earphone yang terhubung pada ponselku, membuatku semakin menikmati pagi di awal musim semi ini. Semerbak harum bunga yang mulai mekar menambah kesan tersendiri ditempat ini. Hutan kota adalah tempat yang tepat untuk sekedar berolahraga pagi.

Kutarik rem sepedaku. Menghtikan lajunya untuk beristirahat dibawah salah satu pohon disini. Tanpa melepas earphone, aku duduk sembari meluruskan kedua kakiku. Memejamkan kedua mataku dan menghirup udara segar sebanyak yang kubisa.

Hingga semuanya berakhir saat seseorang melepas salah satu earphone yang ada ditelingaku dan tentu saja kedua mataku yang awalnya terpejam secara reflek terbuka karena gangguan tak terduga ini.

“apa yang kau dengarkan?”.

Aku diam tak merespon pertanyaan yang ditujukan padaku. Terlalu kaget saat mataku menangkap sesosok pria tampan yang ada didepanku ini. Park Hae Jin. Sunbae yang satu fakultas denganku sedang duduk tepat disamping kananku dengan earphoneku yang metengger manis ditelinga kirinya. Apa ini mimpi? Tapi kurasa bukan. Atau ini sebuah kebetulan? Beberapa waktu lalu aku memang sempat melihatnya disini, tapi dia sama sekali tak melihatku. Bagaimna bisa sekarang dirinya malah duduk manis tepat disebelahku? Apa benar ini sebuah kebetulan? Atau mungkin… Takdir?

“kenapa sunbae disini?”.

Sejujurnya pertanyaanku ini hanya untuk memastikan jika ini bukanlah fantasiku. Jika dia menjawab, aku tidak sedang bermimpi sekarang.

“wae? Tentu saja aku sedang berolahraga. Apa keringatku tak terlihat?”.

Dia menjawab. Ini bukan fantasiku. Dia bahkan tersenyum sama seperti biasanya. Yang tentunya semakin membuatku gugup luar biasa. Bahkan keringat yang membasahi kaos abu-abunya, entah bagaimana itu semakin membuat tersendiri saat melihatnya. Manly dan juga seksi. Omo! Kenapa aku jadi seperti ini? Ada apa dengan diriku?

Terlalu gugup diriku, segera kupalingkan wajahku untuk tak melihat Hae Jin sunbae. Akan sangat berisiko jika terlalu lama melihat wajah tampannya itu.

“apa rumahmu didaerah sini?”.

“ne? Ani.. aku sebenarnya tinggal di Oksu-dong. Tapi sering berolahraga disini saat akhir pekan”.

“kau sering kesini?”.

“nde”.

Wajahnya sedang berfikir saat aku menjawab pertanyaan yang dia ajukan. Dengan beberapa kali melihatku dengan mimik yang sulit kupahami.

“aku juga sering kemari, tapi ini pertama kalinya aku melihatmu disini”.

Pertama kali? Padahal ini sudah kedua kalinya aku melihatnya disini. Kurasa dia benar-benar tak melihatku saat itu.

“jinjjayo? Entahlah, sepertinya ini memang pertama kalinya”.

Aku berusaha tersenyum untuk menutupi kebohonganku. Tak ingin dia tahu tentang pertemuan kali seminggu yang lalu itu.

“apa kau sendirian?”.

“ne, aku selalu sendiri jika kesini. Bagaimana dengan sunbae sendiri?”.

Aku balik bertanya, namun entah bagaimana dia semakin lebar tersenyum saat ini. Apa pertanyaanku dia anggap lucu? Kenapa dia tersenyum seperti itu sekarang?

“sebenarnya aku bersama temanku. Dan dia sedang di toilet”.

Pertanyaanku akhirnya terjawab. Kepalaku mengangguk mengerti. Dengan senyum karena tertular darinya, aku beberapa kali menatapnya yang masih dengan setia mendengarkan lagu yang sama denganku.

“Oppa!”.

Wajah kami terarah pada sumber suara itu berasal. Sesosok  wanita dengan rambut panjangnya berlari pelan kearah kami. Suara sepatu olahraga yang memiliki hak itu terdengar semakin jelas saat pemiliknya semakin dekat dengan kami.

“Hyun Joo-a!”.

Wajahku berbalik saat Hae Jin sunbae membalas sapaan wanita berambut panjang itu. Hingga kini wanita yang awalnya berlari kearah kami itu sudah berdiri tepat didepanku dan Hae Jin sunbae dengan nafas tak teratur karena baru saja berhenti berlari.

Earphone yang awalnya berada ditelinga Hae Jin sunbae otomatis terlepas saat dirinya bangkit dari duduknya. Begitupun denganku, kulepas eorphone yang masih terpasang pada telinga kananku. Lalu berdiri mengikuti gerakan yang baru saja Hae Jin sunbae lakukan. Kemudian melihat wanita itu yang ternyata lebih dulu sudah menatapku.

Mata sipitnya menatap tajam kearahku. Dan sejujurnya aku cukup takut dengan tatapannya itu. Chamkkan! Bukankah dia yang kulihat bersama Hae Jin sunbae seminggu lalu? Wanita pendek ini bukan? Wanita yang membuat Hae Jin sunbae terus tersenyum saat itu. Bukankah dia orangnya?

“nuguseyo?”.

Wanita ini bertanya, yang tentu saja dia tujukan padaku. Aku hanya bisa tersenyum, lalu membungkuk sebagai tanda perkenalan.

“annyeonghaseyo, Shin Yeon Hwi imnida. Aku salah satu hubae di kampus yang sama dengan Hae Jin sunbaenim”.

Aku memperkenalkan diriku kepada wanita yang tingginya masih jauh dibawahku meski sepatunya sudah berhak cukup tinggi. Tatapannya kini semakin tajam. Seolah sedang melihat semua rincian yang ada pada diriku.

“bukankah dia yang kau perlihatkan kemarin, oppa? Gadis yang kau tunjukan fotonya padaku beberapa hari lalu”.

Pandanganku kini tertuju pada Hae Jin sunbae. Dan kulihat dia mengangguk pasti menanggapi ucapan wanita didepanku ini.

“ne, dia yang akan menjadi modelmu besok”.

Wanita ini semakin menatap tajam kearahku. Hingga mataku sampai tak berani untuk menatapnya juga. Terlalu takut dengan tatapannya itu.

“aku Ryu Hyun Joo. Senang bertemu denganmu”.

Dia memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangan kanannya kearahku. Aku menyambutnya, lalu tersenyum manis setelahnya.

“sudah berapa lama kau mengenal Hae Jin oppa?”.

“nde? Ah.. aku baru mengenalnya sekitar satu bulan”.

“satu bulan? Berarti kau juga sudah tahu siapa aku?”.

Siapa dia? Kenapa dia bertanya seperti itu? Dan yang kuketahui jik dia itu temannya Hae Jin sunbae. Hanya itu.

“yang kutahu, kau adalah teman Hae Jin sunbae”.

Dia tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum miring meremehkan. Aku tak tahu kenapa dia seperti itu. Kenapa dia tersenyum miring kepadaku?

“chingu? Sepertinya kau yang berharap aku hanya temannya Hae Jin oppa”.

“nde? Maaf, tapi aku tak tahu apa maksudmu, Hyun Joo-ssi”.

Aku semakin tak mengerti dengan ucapan demi ucapan yang keluar dari mulutnya. Entah kenapa rasanya dia seperti tak menyukaiku.

“dia kekasihku, Yeon Hwi-a”.

TBC



Thanks for reading!

16 thoughts on “Without Love ( Part 1)

  1. hemmm diam” park hae jin bikin penasaran
    serasa udah kenal gtu sama yeon hwi
    deng dong tiba” di ajak jd model dan ciyee satu kelompok sama haejin hehe
    beneran itu haejin punya pacar??
    tp knpa haejin bilang temen?? siapa yg bohong nih hehe

    Suka

  2. Itu keseluruhan masih masa lalu kan? Penasaran gimana hubungan yeon hwi dan hae jin dimasa sekarang…. masih lanjut temenan, atw mlh merid? Atw mlh pisah?

    Suka

  3. haduuh jarang2 ada ff yg pemeran utamanya aktor drama,, duh ngefans bgt ama Park Hae Jin samchon… tua2 ngangenin+ganteng badai lah… author fighting!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s