Without Love ( Part 2)


image

Title : Without Love ( Part 2)

Author : ShinJae ( Shin Jae Ra)

Category : NC, Sad, Romance, Drama, Chapter.

Cast :

• Park Hae Jin (Actor)

• Shin Yeon Hwi (OC)

Other Cast :

• Ryu Hyun Joo (OC)

• Kwon Yoon Ji (OC)

• Kim Jae Hee/ Jessi Kim (OC)

Note :

Terima kasih untuk admin yang mengpost ff buatanku ini. Ini ff bergenre nc ketigaku yang aku post disini. Sebelumnya aku sudah pernah buat yang castnya Ji Chang Wook ( strawberry & always think about you), dan untuk sekarang aku akan menjadikan Park Hae Jin sebagai cast utama.

Kenapa aku milih Park Hae Jin disini? Karena sebenarnya aku  keinget  perannya yang jadi sunbae di drama Cheese In The Trap dan seorang psycho di Bad Guys. Tapi cerita disini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dua drama tersebut. Aku cuma mengambil nama Park Hae Jin saja untuk ff karanganku ini. Dan untuk cerita ff ini, aku terinspirasi  dari kisah salah satu temanku. Ohya, karena ff ini berlatar tempat di Korea Selatan, untuk usia yang dipakai aku memakai usia disana atau dilebihkan 1 tahun lebih tua dari usia pada umumnya.

Oke! Aku rasa cukup disini penjelasannya. Dan semoga kalian menyukai ff buatanku ini. Maaf jika banyak typo atau kesalahan dalam pengucapan disini. Karena author juga manusia biasa yang juga banyak kesalahan.

Happy Reading!

****

Sudah terlalu banyak yang mengatakan jika cinta kadang tak harus memiliki. Dan aku harus percaya akan hal itu. Meski ego berkata lain, namun hati harus memilih. Meninggalkan cinta yang tak terbalas, atau ditinggalkan oleh sang cinta tak berbalas.

-Without Love-



Apa yang kau ketahui tentang diriku? Apa kau tahu segalanya? Apa kau juga tahu tentang ini? Tentang perasaan sepihakku padamu.

-Shin Yeon Hwi-



Apa ini maksudmu? Aku tahu semuanya. Termasuk ini, perasaanmu.

-Park Hae Jin-





****





-Part sebelumnya-

“aku Ryu Hyun Joo. Senang bertemu denganmu”.



Dia memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangan kanannya kearahku. Aku menyambutnya, lalu tersenyum manis setelahnya.



“sudah berapa lama kau mengenal Hae Jin oppa?”.

“aku baru mengenalnya sekitar satu bulan”.

“satu bulan? Berarti kau juga sudah tahu siapa aku?”.



Siapa dia? Kenapa dia bertanya seperti itu? Dan yang kuketahui jik dia itu temannya Hae Jin sunbae. Hanya itu.



“yang kutahu, kau adalah teman Hae Jin sunbae”.



Dia tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum miring meremehkan. Aku tak tahu kenapa dia seperti itu. Kenapa dia tersenyum miring kepadaku.



“chingu? Sepertinya kau yang berharap aku hanya temannya Hae Jin oppa”.

“nde? Maaf, tapi aku tak tahu apa maksudmu, Hyun Joo-ssi”.



Aku semakin tak mengerti dengan ucapan demi ucapan yang keluar dari mulutnya. Entah kenapa rasanya dia seperti tak menyukaiku.



“dia kekasihku, Yeon Hwi-a”.


****

Deg!

Aku terdiam kaku saat ini. Seolah aku baru saja dikutuk menjadi batu saat suara Hae Jin sunbae mengatakan kalimat itu. Kalimat terlarang jika kalimat itu terdengar olehku. Meski pada dasarnya, akulah yang salah. Salah karena terlalu bodoh.

Dan kini terjawab sudah. Pertanyaan yang ada diotakku terjawab dengan meninggalkan sayatan luka didadaku. Ah! Aku bahkan hampir lupa tentang ini. Tentang Hae Jin sunbae yang sudah memiliki kekasih. Harusnya aku selalu mengingat tentang hal itu. Agar aku bisa menjaga perasaaku padanya, perasaan ingin memilikinya. Dan sekarang aku sadar. Aku… Jatuh cinta padanya.

“Yeon Hwi-a, kau baik-baik saja?”.

Tepukan pelan pada bahu kananku membuatku kembali sadar. Mataku yang tiba-tiba saja berkunang semakin membuatku pusing. Sepertinya gejala anemiaku datang disaat yang kurang tepat. Aku memejamkan sejenak kedua mataku. Lalu membukanya kembali setelah kurasa kepalaku tak terasa pening lagi. Dan kembali memfokuskan pandangan pada dua obyek didepanku.

“nan gwenchanayo, sunbaenim”.

Aku menjawab pertanyaan Hae Jin sunbae saat kurasa tubuhku sudah merasa lebih baik. Dengan senyum yang terlukis diwajahku, aku mencoba untuk terlihat baik-baiksaja sekarang.

“ah, baguslah. Kalau begitu aku pergi dulu, kau hati-hati saat pulang nanti”.

Aku mengangguk pasti, dengan masih tersenyum tentu saja. Dan senyumanku pudar saat akhirnya mereka berdua pergi menjauh dari tempatku berdiri. Ini bahkan seperti de javu. Kedua mataku yang hanya melihat punggung mereka yang berlalu semakin jauh dan menghilang. Yang hanya meninggalkan luka sayatan perih pada dadaku.

****

Kudapati pantulan wajahku dicermin. Dengan taburan bedak tipis serta pewarna bibir sedikit, sudah  cukup membuat wajahku lebih baik. Dengan blus putih panjang dan celana jeans biru laut juga tak lupa mantel biru yang membalut tubuhku, sudah cukup membuat penampilanku semakin sempurna. Itulah pendapat yang keluar dari otakku.

“eomma, aku pergi dulu”.

“kau berangkat sekarang? Mau eomma antar?”.

“tak perlu, aku bisa naik bus. Aku pergi dulu, eomma annyeong!”.

Chu~

Aku mencium pipi kiri ibuku. Lalu memakai sepatu dengan hak 5cm yang berada di rak sepatu. Dengan melambaikan kedua tanganku, aku berjalan keluar pintu apartemen yang sudah kuhuni belasan tahun ini.

****

Seoul, Jongno-gu, Gwansu-dong, 13 Donhwamun-ro, Seoul Cinema.

Kuedarkan pandanganku saat diriku sudah sampai dibioskop yang menjadi tempat perjanjianku dengan Hae Jin sunbae. Mencari sosoknya yang mungkin saja sudah berada disini lebih dulu. Aku memandang jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tanagan kiriku. Jarum disana menunjukan pukul lima kurang sepuluh menit. Sepuluh menit lebih awal dari waktu janji kami. Kurasa dia belum sampai.

Aku merasakan getaran pada ponsel lipat yang kupegang. Dengan segera kucek siapa penelfon yang menghubungiku. Namun hanya deretan angka yang tertera disana. Aku membuka lipatannya, lalu meletakanya pada telinga kiriku.

“yeoboseyo?”.

“Yeon Hwi-a, ini aku”.

Tubuhku membeku sejenak saat mendengar suara siapa yang menghubungiku saat ini. Dengan senyum yang tak bisa kusembunyikan, aku kembali meyuarakan suaraku.

“Hae Jin sunbae”.

“eoh, kau sudah sampai?”.

“ne, aku baru saja sampai. Apa sunbae juga sudah sampai?”.

“arah jam sembilan”.

“ne?”.

Arah jam sembilan? Apa maksudnya dia ada di arah jam sembilan dari tempatku? Jadi dia sudah datang?

Aku mengikuti ucapan yang baru saja diucapkan oleh Hae Jin sunbae. Tubuhku kini berputar 900 kearah jam sembilan. Dan menatap lurus kedepan untuk mencari sosoknya. Bingo! Akhirnya sesosok pria tampan dengan kemeja putih berbalut mantel biru sedang tersenyum kearahku. Tangan kirinya sama sepertiku, sama-sama memegang ponsel lipat.

Aku memutuskan panggilan kami saat kaki panjangnya berjalan ringan kearahku. Dengan senyum yang sedari tadi tak kunjung luntur dari bibirku, aku menunggu kehadiranya.

“aku sudah membeli tiket”.

Dua lembar tiket sudah berada ditangannya. Dan senyumku menipis saat melihat hal itu. Perasaan tak enak hati menyerangku kali ini. Hae Jin sunbae sudah terlalu baik padaku. Apa yang harus kulakukan untuk membalas tiket film ini?

“rupanya kau sudah membeli tiket”.

“eoh, dan filmnya akan diputar lima belas menit lagi”.

“ah.. apa sunbae mau popcorn dan soda? Aku akan membelinya untukmu”.

Aku manawarinya camilan. Berharap jika tawaranku ini diterima dan juga dapat membalas kebaikannya karena sudah membeli tiket film tadi.

“baiklah, sepertinya enak”.

“kalau begitu, sunbae tunggu disini. Aku akan membelinya sebentar”.

Aku tersenyum saat dia menerima tawaranku. Lalu berjalan kearah dimana aku bisa mendapatkan sekotak popcorn dan minuman bersoda.

****

Film sudah diputar sekitar sepuluh menit lalu. Dengan berlatar di era Joseon, aktor dan aktris disana tentu saja memakai pakaian tradisional korea yaitu hanbok. Yang jujur saja, sebetulnya aku sama sekali tak menyukai film atau drama yang bergenre saeguk seperti ini. Terbukti dengan mulutku yang sudah beberapa kali menguap karena kantuk, yang bahkan film itu baru diputar sepuluh menit lalu.

“apa filmnya membosankan?”.

Hae Jin sunbae berbisik pelan saat menyadari aku baru saja menguap didepannya. Aku mencoba mengendalikan acara menguapku, dan berbalik berbisik pelan kepadanya.

“sejujurnya, aku tak menyukai film bergenre seperti ini”.

Bisikanku ternyata tak terlalu pelan. Karena salah satu penonton yang ada disebelah kami, mengisyaratkan untuk diam. Aku terdiam begitu saja saat melihat tanda isyarat orang tersebut.

“jika kau tak menyukainya, kau bisa tidur saja disini. Tak perlu dipaksakan”.

“tapi-“.

Ucapanku terpotong saat tangan besarnya menarik kepalaku dan menyandarkan kepalaku pada bahu kirinya. Mataku secara tak sadar membulat sempurna. Tak percaya dengan apa yang baru saja Hae Jin sunbae lakukan. Hingga kusadarkan diriku, dan berniat untuk kembali pada posisiku yang sebelumnya. Namun niatku gagal, saat tanganya kembali melakukan hal yang sama.

“tidurlah, aku yang akan menonton filmnya”.

Aku tak bisa berkata apa-apa sekarang. Posisi yang terlalu nyaman ini membuatku lupa akan segalanya. Termasuk yang yang paling penting. Kekasihnya.

****

Aku membuka perlahan mataku saat seberkas cayaha lampu memaksa masuk. Dengan menyipitkan indera penglihatanku, aku mencoba untuk beradaptasi dengan keadaan yang sekarang sudah terang. Dan yang kulihat saat ini adalah layar besar yang menunjukan deretan huruf hangul disana, yang menandakan jika film sudah berakhir. Dengan keadaan kepala yang masih menyandar pada bahu seseorang, aku mencoba untuk menyadarkan diriku dari sisa-sisa kantuk yang sebelumnya menyerangku.

“kau sudah bangun?”.

Suara bassnya terdengar begitu jelas karena posisiku yang masih setia menyender dibahu kirinya. Dengan segera, kepalaku bangkit dari sana dan bergerak menjauh. Juga dengan cepat merapikan rambut yang tak sampai sebahuku ini dengan asal.

“ ah.. nde, sunbaenim. Tapi.. bagaimana dengan filmnya? Sepertinya aku benar-benar melewatkannya”.

Aku menatap Hae Jin sunbae yang juga menatapku dengan senyuman tentunya, membuat pacuan dijantungku semakin hebat tak terkontrol. Aku memalingkan wajahku sejenak, mencoba untuk menormalkan keadaanku sekarang.

“kau tak perlu khawatir. Aku sudah menontonya dengan penuh hikmat dan sudah menulis beberapa inti maksud dari film itu”.

“tapi tetap saja, harusnya aku tak benar-benar tidur tadi. Lagipula ini juga tugas kelompok. Tak sepantasnya jika hanya sunbae yang mengerjakannya. Aku jadi merasa bersalah”.

Aku mengungkapkan rasa menyesalku padanya. Dengan merundukan wajahku, aku mencoba untuk membuatnya yakin jika aku benar-benar menyesal karena sudah membuatnya harus menonton film itu sendirian.

“jika kau merasa menyesal, kau bisa mentraktirku. Dengan senang hati aku tidak akan mengatakan pada siapapun jika kau hanya tidur saat film diputar tadi, bagaimna?”.

“traktir?”.

****

Dan disinilah kami berakhir. Disebuah tenda makanan pinggir jalan yang terletak tak jauh dari pasar Kwangjang di Jongno. Sembari menunggu pesanan kami, mataku yang tidak bisa fokus untuk melihat kedepan saja, kini memandang kepenjuru arah. Mulai dari seorang ahjussi yang sedang minum sendirian hingga sampai pada dua orang gadis yang duduk bersebelan meja denganku dan Hae Jin sunbae, yang ternyata secara nyata sedang melihat ketempat kami. Ah, lebih tepatnya mereka terus memandangi Hae Jin sunbae.

Aku mengertakan gigi-gigiku. Seolah bersiap terpur saat melihat  tatapan genit kedua gadis itu semakin berani. Tak rela jika mereka memandangi Hae Jin sunbae dengan seperti itu. Hingga sebelum aku semakin buta oleh amarah, suara Hae Jin sunbae mengingatkanku jika pesanan kami sudah tiba.

“Yeon Hwi-a, coba yang ini”.

Sebuah potongan sundae goreng yang disumpit Hae Jin sunbae sudah tepat berada dihadapanku. Kurasa dia berniat menyuapiku sekarang. Dengan lirikan mata tajamku, aku melihat dua gadis yang sedari tadi terus menatap Hae Jin sunbae, kini tengah menjerit tanpa suara saat melihat adegan yang kami lakukan. Dengan menampilkan senyum manisku, aku membuka mulutku, menerima suapan yang Hae Jin sunbae berikan.

“otte? Mashita?”.

Aku mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan yang Hae Jin sunbae lontarkan padaku. Aku menyumpit salah satu potongan sundae goreng juga, lalu mengarahkannya pada Hae Jin sunbae. Berniat menyuapinya juga sekaligus ingin membuat dua gadis itu agar mereka iri.

Dengan senang hati, Hae Jin sunbae menerima suapan yang kuberikan. Lalu kami sama-sama tersenyum sesaat setelahnya. Aku menikmati makan malam bersamanya, lagi. Dengan debaran dahsyat yang mungkin hanya aku yang merasakannya.

****

Kembali mataku menatap benda persegi yang ada diatas nakas tak jauh dari tempat tidurku. Ini bahkan sudah hampir jam dua belas malam, namun mataku sama sekali tak menunjukan tanda-tanda mengantuk. Atau mungkin karena aku sudah tertidur saat dibioskop tadi, sekarang aku sama sekali tak bisa tidur.

Dan terhitung sudah lebih dari dua jam sejak Hae Jin sunbae mengantarku pulang tadi. Tapi tetap saja otakku selalu terpenuhi olehnya. Apa dia juga memikirkanku? Atau mungkin dia tahu perasaanku? Ah, sepertinya aku terlalu jauh berangan-angan. Dia sudah memiliki kekasih sekarang, aku hampir melupakan tentang hal itu lagi. Dan juga besok, atau lebih tepatnya tak sampai sepuluh jam dari sekarang, aku harus bertemu dengan mereka. Hae Jin sunbae dan kekasihnya, Ryu Hyun Joo. Aku bahkan hafal namanya. Kurasa aku harus tidur sekarang jika aku tak ingin datang dengan mata bengkak dengan lingkar mata panda besok.

****

Minggu, 13 April 2008.

Hangang Citizen’s Park ( Jamwon).

Aku memejamkan mataku saat taburan make-up mencoba untuk sedikit mrubah wajahku. Mungkin sekitar lebih dari tiga puluh menit, yang diakhiri dengan polesan lipstik dibibirku, akhirnya acara make-up ini selesai. Pantulan wajahku yang ada dicermin cukup berbeda dengan diriku yang sebelumnya. Yang sekarang mungkin lebih kekesan.. seksi? Atau mungkin berani?

“Yeon Hwi-ssi, ini pakaian yang harus kau pakai”.

Salah seorang yang kuyakini salah seorang anak buah dari kekasih Hae Jin sunbae datang padaku dan menyerahkan sebuah gaun hitam selutut dan berlengan sebahu namun dengan lingkar leher yang cukup besar serta beberapa renda yang terselip disana. Aku mengangguk lalu berjalan ketoilet yang letaknya berdekatan dengan tempat kami. mengganti pakaianku dengan gaun hitam ini.

Aku kembali ketempat dimana aku dimake-up tadi. Dimana Hae Jin sunbae dan kekasihnya, Ryun Hyun Joo berada. Dengan menahan diri agar degup jantungku kembali normal serta menahan rasa yang disebut cemburu saat melihat keduanya bergandengan tangan, langkahku dengan pasti berjalan kearah mereka berdua.

“Hyun Joo-ssi”.

Aku berucap saat tubuhku benar-benar sampai dibelakang mereka. Keduanya berbalik menatapku, lalu ikatan pada jemari mereka terlepas. Aku mencoba tersenyum kuat sekarang, tak ingin roboh disaat seperti ini.

“ternyata cocok, sepertinya oppa pandai jika mencari model seperti hubaemu ini. Tidak salah aku mengandalkanmu, oppa”.

Hae Jin sunbae hanya tersenyum saat Hyun Ji-ssi memujinya. Lalu setelah tersenyum kearah kekasihnya itu, dia juga memandangku sejenak dengan senyum tipis.

“kau belum memakai sepatunya?”.

Pandanganku mengarah pada kedua ujung kakiku yang beralas sepatu kets hitam disana. Karena aku memang memakai sepatu ini sejak dari rumah tadi. Hingga kini Hyun Joo membawakanku sepasang high heels hitam yang kurasa tinggi haknya mencapai 10 cm atau mungkin lebih. Kulepaskan sepatu kets milikku.  Lalu kupakai sepatu berhak tinggi itu perlahan, dan menyeimbangkan tubuhku agar tidak terjatuh. Kemudian menyamankan kakiku setelah dua buah sepatu itu membungkus kakiku.

“berapa tinggimu, Yeon Hwi-ssi?”.

“aku 168 cm”.

“benarkah? Ternyata selisih tinggiku denganmu cukup jauh. Aku bahkan hanya 156 cm. Selisih 30 cm dengan Hae Jin oppa yang tingginya 186 cm itu, dan karena hal itu juga aku harus memakai sepatu berhak tinggi saat pergi bersamanya”. 

Aku hanya tersenyum singkat saat mendengar penjelasan dari Hyun Joo. Sepertinya dia mudah sekali bercerita entah itu pada siapa, tak terkecuali padaku. Hingga mataku mengarah pada sosok tinggi tegap yang sepertinya sama sekali tak ingin mengganggu obrolan kami.

“baiklah, ayo kita mulai pemotretannya. Oppa juga! Kau harus menjadi model yang baik juga sekarang”.

Hyun Joo menarik tangan Hae Jin sunbae. Membawanya disebuah bangku panjang yang akan dijadikan tempat untuk pemotretan kami. Tunggu! Kami? Apa Hae Jin sunbae juga akan menjadi model sama sepertiku? Kenapa dia tidak mengatakanya sejak awal? Bagaimana ini? Bagaimana jika nanti dia mendengar degup jantungku yang menggila saat kami melakukan pemotretan? Bagaimana jika aku tak bisa fokus karena sosoknya yang sudah pesti akan ada didekatku? Apa lagi dengan fotografernya, dia bahkan kekasihnya Hae Jin sunbae. Lalu sekarang apa yang harus kulakukan?

“Yeon Hwi-ssi! Cepatlah kemari!”.

Mendengar namaku dipanggil, aku melangkah ketempat yang dimaksud. Meski dengan perasaan gugup setengah mati, aku tetap mencoba melangkah pasti. Mencoba untuk tak terlihat gugup, berkali-kali aku mengeluarkan senyumku berharap tak ada yang tahu dengan keadaanku sekarang.

Seperti inilah kondisi kami sekarang. Aku dan Hae Jin sunbae entah bagaimana bisa, kami sama-sama bungkam tanpa ekspresi. Terduduk kaku dalam posisi sama-sama terduduk. Karena jujur saja jika sekarang aku benar-benar gugup. Ditambah lagi dengan debaran dahsyat yang hanya terjadi saat aku berdekatan dengan Hae Jin sunbae, aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.

“sepertinya kalian terlalu kaku. Bagaimana jika Yeon Hwi-ssi berdiri, lalu tangan kirinya memegang bahu kiri Hae Jin oppa? Kalian bisa bukan?”.

Wanita yang memegang kamera, yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih Hae Jin sunbae itu, memberi arahan kepada kami selaku model. Mendengar hal itu, aku lalu berdiri dan melakukan seperti yang diarahkan sang fotografer. Mememgang bahu lebar Hae Jin sunbae.

“oke!”.

Jepretan pertama kami sukses. Lalu entah dari dorongan mana mencoba pose lain. Beberapa pose yang pernah kulihat dimajalah yang sering aku baca kini muncul diotakku. Memberiku sedikit bantuan juga majalah yang sebenarnya selalu eomma beli setiap bulan.

“wah! Sepertinya kau memiliki bakat modeling, Yeon Hwi-ssi. Tapi kenapa hanya Hae Jin oppa yang tak memiliki pose bagus? Ada apa denganmu, oppa?”.

Aku tersenyum saat mendengar pujian yang dilontarkan Hyun Joo. Dengan pujian seperti ini, semakin membuatku melupakan rasa gugup yang awalnya menerpaku. Yah.. Meskipun itu tak menghilangkan debaran berlebihan yang saat ini masih melanda.

Perhatianku teralihkan pada Hae Jin sunbae yang kini berdiri sama sepertiku. Aku melihat wajahnya yang hampir sejajar. Mungkin ini karena aku memakai heels tinggi ini. Biasanya kepalaku hanya sejajar dengan telinga bawahnya, tapi sekarang kurasa ujung kepalaku melebihi bagian atas telinganya. Sepatu ini benar-benar membantu jika ingin terlihat sejajar dengan orang tinggi.

“kau siap?”.

“nde?”.

Kali ini yang bertanya bukan Hyun Joo, melainkan kekasihnya yang ada didepanku ini. Entah bagaimana awalnya, kini aku  menyadari jika tangan kami bertautan. Lalu salah satu tangannya yang menganggur, memaksa kepalaku untuk menyender dibahu lebarnya. Dan ini kali kedua aku menyender nyaman dibahunya. Setelah semalam dimana aku terlelap dengan mudahnya saat menonton kemarin.

Mata bulatku mengarah ketempat dimana wanita yang mungkin akan marah jika melihat situasi seperti ini. Tapi entah karena sikap profesional atau tak peduli, Hyun Joo hanya memasang wajah seperti sebelumnya. Bukan senyum dan bukan pula wajah murung atau wajah datar tak suka, tapi wajahnya hanya menunjukan jika ini bukan masalah. Bahkan dirinya beberapa kali menjepret pose baru kami. Dan dengan enteng pula Hae Jin sunbae semakin mebuat pose yang makin mempersempit jarak kami. seperti ini misalnya.

“oke.. pertahankan sebentar. Ha, dul, set!”.

Setelah kurasa jepretan kami terambil, aku menjauh dan melepaskan diriku dari rangkulan Hae Jin sunbae. Bagaimana tidak? Dia dengan seenaknya tanpa pemberitahuan dan dengan mudahnya menyentuhkan hidung kami. Apa dia tak sadar jika fotografer yang mengambil gambar itu adalah kekasihnya sendiri? Dan bahkan jika seandainya tadi aku tiba-tiba terdorong kedepan, sudah pasti aku akan kehilangan ciuman pertamaku. Yah.. meskipun aku menyukainya, tapi tetap saja aku masih memiliki hati. Aku sadar jika dia tak mungkin menyukaiku, apa lagi dengan keberadaan kekasihnya. Aku bukan seorang gadis yang dengan mudahnya merebut seorang pria yang sudah memiliki kekasih.

Waktu berlalu tanpa kami sadari. Bahkan kini matahari sudah berada tepat diatas kami. Beberapa pasang pakaian sudah aku kenakan, begitupula Hae Jin sunbae. Dan sekarang aku juga sudah memakai pakaianku sendiri juga sepatu kets hitamku tentunya.  Karena aku kemari memakai jasa transpotrasi umum, sekarang aku sedang menunggu jemputanku, jemputan dari sahabat gilaku, Kwon Yoon Ji.

“kau akan pulang? Bagaimana jika kita makan siang terlebih dahulu? Apa kau bisa, Yeon Hwi-ssi?”.

Hyun Joo menawariku makan siang saat aku sedang terduduk dan selesai menali sepatuku. Dan tak lama setelahnya Hae Jin sunbae bergabung diantara kami. Dan kini semakin terlihat, kami seperti sekelompok manusia yang menjalani tragedi sebuah cinta segi tiga. Tapi jika dilihat dari sudut pandang orang lain, aku hanyalah salah seorang hubaenya yang secara tak diketahui menyukainya diam-diam. Sangat miris.

“bagaimana, Yeon Hwi-a? Kau mau ikut makan siang bersama kami?”.

“aniyo, sunbaenim. Aku sudah ada janji dengan temanku. Kalian berdua saja yang makan siang”.

Aku mencoba menolak sehalus yang kubisa. Mencoba agar mereka tak tersinggung dengan penolakanku.

“Yeon-a!”.

Suara melengking khas Yoon Ji terdengar olehku. Membuatku bernafas lega karena akhirnya aku akan bisa terlepas dari siksaan dahsyat degup jantungku ini.

“sunbae, temanku sudah datang. Kalau begitu aku pergi dulu. Silahkan nikmati waktu kalian”.

Aku membungkuk beberapa kali kepada sepasang kekasih dihadapanku tadi. Lalu segera berjalan cepat untuk segera menemui Yoon Ji. Hingga tak membutuhkan waktu lama lagi, ketika tubuhku sudah berada dihadapan  Yoon Ji dan dengan cepat pula aku membalikan tubuhnya untuk tak berjalan kearah dimana Hae Jin sunbae berada.

“wae? Kenapa kau malah menariku menjauh? Aku harus menyapa Hae Jin sunbae dulu.. “.

“jangan menyapanya!”.

Aku terus menarik gadis disebelahku ini. Juga menahannya agar tak mudah untuk kabur dariku. Dengan erat, aku seperti menyeret paksa seorang tahanan yang bersiap untuk kabur dari dalam penjara.

“kenapa aku tak boleh menyapanya? Juga, siapa wanita pendek yang bergelayut manja itu?”.

Yoon Ji bertanya penasaran saat ini. Kurasa tak masalah jika aku mengatakan tentang ini. Lagi pula seperti inilah yang terjadi.

“dia juga yang menjadi alasanku. Wanita itu kekasihnya Hae Jin sunbae. Dan sepertinya dia juga tak suka jika seseorang dekat kekasih tampannya itu. Meskipun ucapannya akan sangat halus, tapi makna yang tersirat adalah memintamu untuk menjauh dari Hae Jin sunbae”.

Aku menjelaskan cukup panjang. Tapi sama sekali tak ada respon dari Yoon Ji. Hingga kusadari jika ternyata Yoon Ji sedang menatapku dengan wajah tak percayanya.

“wae? Kenapa kau memandangiku seperti itu? Apa ucapanku tak bisa diterima akal logikamu? Atau mungkin kau tak percaya dengan apa yang kukatakan tadi?”.

Kembali kulayangkan deretan kalimat yang menurutku cukup[ banyak. Aku bahkan hanya satu tarikan nafas saat mengatakan semua itu. Hal yang sebelumnya tak pernah terjadi dalam hidupku. Yakni mengatakan beberapa kalimat dalam satu tarikan nafas.

“heol! Bagaimana kau bisa seperti ini? Ini seperti bukan dirimu, Yeon-a”.

Aku mendengus kesal karena bukannya menanggapi penjelasanku, Yoon Ji justru mengatakan hal aneh. Percuma saja aku membuang energiku untuk mengatakan banyak hal tadi tapi yang mendengarkan justru mengulik hal lain.

“terserah, aku ingin pulang saja”.

****

Aroma harum dari pasta yang baru saja selesai kumasak dengan saus tomat dan cincangan daging ini semakin membuat perutku lapar. Bahkan Yoon Ji yang sedang duduk manis di ruang makan rumahku juga berteriak tak sabaran untuk segera menyantap hidangan yang baru saja kubuat ini.

“palliwa, Yeon-a! Aku akan mati kelaparan jika kau tak segera membawa pasta buatanmu itu”.

“ck! Mana mungkin kau akan mati kelaparan. Apa kau sudah lupa jika stok susu di kulkasku sudah kau habiskan?”.

Aku berdecak saat Yoon Ji menyuruhku untuk segera  menempatkan makanan yang memang kubuat untuknya juga. Aku meletakan dua buah piring yang sudah beris pasta tomat tepat didepan Yoon Ji yang terus merengek minta makanan. Lalu mengambil garpu untuk diriku juga untuk Yoon Ji.

“hm… sepertinya kita benar-benar harus membuka restoran, Yeon-a. Kau yang jadi chef, dan aku akan menjadi meneger restorannya”.

“tak perlu, aku tak suka memasak untuk orang yang terlalu banyak. Aku hanya ingin memasak untuk keluargaku dan temanku saja”.

Aku menolak usulan Yoon Ji yang memang tak menarik untukku. Karena selain alasanku yang itu, aku juga tak terlalu suka berbisnis.

“ohya, berapa upah yang diberikan kekasih Hae Jin sunbae untukmu tadi?”.

“dia bilang satu jam seratus ribu. Jadi tadi aku mendapat tiga ratus ribu”.

Aku menceritakan tentang kesepakatan upah yang kuterima. Tapi tetap saja, jika telingaku menangkap nama pria itu, otakku langsung mengolahnya dan menghasilkan wajah Hae Jin sunbae yang muncul dipikiranku.

“wah.. banyak juga. Kau akan kaya jika menjadi modelnya terus”.

Aku hanya tersenyum singkat untuk menanggapi ucapan Yoon Ji. Bahkan sekarang nafsu makanku sudah hilang sejak Yoon Ji bertanya tadi. Kenapa aku selalu seperti ini jika berbicara tentang sesuatu yang menski hanya terselip kata Hae Jin sunbae? Apa menyukai seseorang akan bereaksi seperti ini?

“Yoon Ji-a”.

Suaraku keluar saat aku benar-benar putus asa sekarang. Aku tak tahu apa Yoon Ji akan menerima kata-kataku ini nantinya. Yang jelas, aku akan jujur sekarang. Lagipula dia juga sudah bersahabat denganku cukup lama. Kurasa tak masalah jika aku berbicara tentang perasaanku pada Hae Jin sunbae.

“wae? Ada yang ingin kau katakan?”.

Aku mengumpulkan seluruh keberanian yang masih kumiki. Dan bersiap untuk menjelaskan semua hal tentang Hae Jin sunbae kepadanya.

“kurasa aku menyukai seseorang, Yoon Ji-a”.

“uhuk! Mwo?”.

Mataku terpejam dengan sendirinya saat suara tersedak Yoon Ji merespon kalimatku. Kutenangkan diriku kembali. Dan kembali melanjutkan menceritakan tentang isi hatiku yang gundah ini.

“dan kurasa.. aku menyukai Hae Jin sunbae”.

“ne? Heol! Kau yakin, Yeon-a? Apa kau sedang sakit sekarang?”.

Sentuhan dingin tangan Yoon Ji terasa kuat didahiku. Namun segera kulepaskan tanganya itu dan kulanjutkan sekali lagi ungkapan perasaanku.

“ aku baik-baik saja. Tapi kurasa aku benar-benar menyukainya”.

Yoon Ji menghentikan acara makannya dan meletakan garpu yang dipegangnya disamping piring. Kuyakini jika dia juga kehilangan nafsu makannya karena ucapanku.

“kau yakin dengan perasaanmu, Yeon-a? Maksudku kau tak masalah dengan sekarang? Dia sudah memiliki kekasih dan kau bahkan bekerja untuk kekasihnya itu. Apa kau tak masalah dengan hal itu?”.

Aku termenung mendengar kalimat yang Yoon Ji katakan. Benar, apa aku tak masalah dengan sekarang? Ya, dia memang memiliki kekasih, dan sejujurnya aku juga sudah berusaha untuk mencegah hal ini terjadi. Tapi entah bagaimana aku justru semakin tak bisa membuang sosoknya dari pikiranku.

“aku yakin dengan perasaanku. Tapi aku tak yakin dengan dia yang sudah memiliki kekasih”.

Kurasakan jemariku yang kuremas sendiri diatas meja ini diraih oleh tangan seseorang. Yoon Ji menggenggam jemariku erat. Dengan wajahnya yang serius, dia berusaha mengatakan hal lain padaku.

“ini yang pertama buatmu bukan? Menyukai seorang pria untu pertama kalinya”.

Aku terdiam tak berkutik. Ini memang pertama kalinya untukku. Menyukai seorang pria untuk pertama kalinya dalam 19 tahun aku hidup didunia. Dan tentu saja Yoon Ji tahu akan hal itu. Karena aku memang akan memberitahukannya segala sesuatu meski itu hal kecil kepadanya.

“sebenarnya ini hakmu, kau boleh saja menyukai Hae Jin sunbae. Tapi yang kumasalahkan bukan ini, Yeon-a. Tapi kesiapanmu. Apa kau siap jika akan terluka nantnya karena perasaanmu ini?”.

Aku tersenyum miris mendengar kata demi kata. Yoon Ji memang selalu khawatir tentangku. Bahkan tentang masalah ini pula.

“aku sudah terluka sekarang. Bahkan saat sebelum aku yakin tentang aku menyukainya atau tidak. Bahkan juga saat aku pertama kali mengenalnya. Aku sudah terluka lebih dulu”.

Yoon Ji berpindah tempat dari duduk dihadapanku kini dirinya memelukku erat. Aku membalas pelukannya. Dan hingga tanpa kusadari lelehan bening akhrnya melesat keluar dari mataku. Aku menangis diam. Tak dapat berkata apapun karena terlalu sakit jika kata apapun itu keluar dari bibirku. Ini bahkan pertama kalinya aku menangis hanya untuk seseorang yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya.

****

Rabu, 30 April 2008.

Seoul, Gwanak-gu, Daehak-dong, Gwanak-ro, Seoul Nat’l Univ.

Aku terduduk disalah satu bangku taman yang ada disini. Sembari menyelesaikan sketsa wajah yang sudah hampir jadi. Hanya kurang menambahkan beberapa goresan pensil pada bagian rambut disana. Dan sketsa wajah ini akan menjadi sempurna.

Senyum terukir diwajahku ketika hasil kerja kerasku sudah didepan mata. Wajah tampan dengan hidung mancung serta senyuman maut itu sudah terlihat begitu nyata diatas kertas sketchbook milikku. Aku menyobek tepi dalam kertas bergambar itu yang akhirnya hanya menyisakan selembar kertas yang berisikan gambar pria yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Aku tersadar kembali keduniaku sesaat setelah sosok Yoon Ji duduk disebelahku. Merebut selembar kertas yang kupegang dengan paksa. Dan aku bersyukur karena kertas itu tak robek karena perbuatannya itu.

“ck! Sepertinya kau benar-benar cinta mati pada Hae Jin sunbae. Apa yang akan kau lakukan dengan sketsa wajahnya ini? Apa kau akan memajangnya di kamarmu dan memandanginya setiap hari?”.

Aku menggeleng tanda menolak segala ucapan yang dilontarkan Yoon Ji. Lalu kembali merebut kertas dengan sketsa wajah itu dari tangannya dan menyelipkannya pada sketchbook yang masih kuletakkan diatas meja besar dihadapanku ini.

“ani, aku tak ingin menympannya untukku sendiri. Aku akan memberikan ini pada sunbae besok”.

Aku terus tersenyum lebar saat ini. Dan Yoon Ji juga tersenyum saat melihatku sekarang. Bahkan beberapa kali tangannya mengusap ujung kepalaku pelan. Mungkin dia merasa kasihan padaku. Kasihan karena aku sedang mengalami cinta sepihak.

“Yeon-a..”.

“wae?”.

Wajah Yoon Ji menatapku sendu. Lalu kedua tangannya menggenggam tanganku lagi seperti beberapa waktu lalu saat aku menceritakan tentang perasaanku pada Hae Jin sunbae.

“apa kau benar-benar akan memberikan sketsa itu besok?”.

Aku mengangguk dengan tersenyum pasti. Hingga kembali lag Yoon Ji memasang wajah khawatirnya padaku.

“besok hari ulang tahunnya. Jadi aku membuat sketsa ini sejak dua hari lalu, dan berniat akan memberikannya besok”.

Genggaman Yoon Ji semakin erat. Bahkan genggamannya kali ini sedikit meremas meskipun tak sakit untukku, tapi kurasa dia sangat khawatir padaku.

“apa kau tak berniat menyerah tentang perasaanmu? Maksudku kau juga tahu bukan, saat kita SMA aku juga pernah mengalami hal yang sama sepertimu. Dan akhirnya aku menyerah karena namja yang kusuka itu tak kunjung berakhir dengan kekasihnya yang tak lain teman satu kelasku. Meskipun kasusku agak berbeda denganmu karena kau baru merasakan cinta pertama, sedangkan aku sudah jatuh cinta kesekian kali, tapi apa kau yakin tak akan menyerah dengan ini?”.

Aku juga sempat terpikir tentang hal ini. Menyerah tentang perasaan yang baru saja tumbuh dihatiku. Jujur saja sebagai seorang wanita yang normal, tentu aku mengharapkan Hae Jin sunbae untuk menjadi milikku. Namun disisi lain aku juga harus memikirkan perasaan kekasihnya.

Sekarang aku bahkan teringat saat hari pesta penyambutan mahasiswa baru awal maret lalu. Saat Hae Jin sunbae menolak tawaran berselingkuh dengan wanita yang juga satu fakultas denganku. Mereka bahkan sempat berciuman, meskipun sama sekali tak terjalin hubungan apapun. 

“Yeon-a, ayo kita pulang”.

Lamunanku berakhir saat Yoon Ji mengajakku pulang. Aku mengikutinya dari belakang. Hingga kami berakhir di halte yang tak jauh dari tempat kami sebelumnya. Kami sama-sama menunggu bus yang akan mengantar kami pulang. Dengan terduduk dibangku yang memang disediakan disini, kami sama-sama terdiam. Hingga Yoon Ji kembali memulai pembicaraan.

“kau tak perlu terlalu memikirkan tentang yang kukatakan tadi. Itu hakmu untuk menyukai siapa saja. Jika hanya menyukainya saja kau sudah bahagia, aku akan terus mendukungmu, Yeon-a. Sebagai sahabat, aku akan selalu mendukungmu”.

Aku tersenyum lega sekarang. Rasanya seolah bebanku seperti berkurang saat Yoon Ji mengatakan hal itu. Aku bahagia, meski aku tak tahu apa aku akan bahagia juga nantinya.

****

Kamis, 1 Mei 2008.

Seoul, Gwanak-gu, Daehak-dong, Gwanak-ro, Seoul Nat’l Univ.

“oke, pembelajaran kita akhiri sampai disini. Dan sampai jumpa dipertemuan kita selanjutnya”.

“khamsahamnida”.

“khamsahamnida”.

Kelas sore dari profesor Oh akhirnya berakhir. Aku bersiap memasukan beberapa bukuku kedalam ransel hitamku yang ada dibawah meja. Hingga saat tanganku ingin memasukan bukuku, mataku melihat bungkusan kertas putih yang memang sudah kusiapkan sejak aku berangkat tadi. Segera aku meraih ponselku yag kuletakkan disaku jeans abu-abu yang kukenakan. Lalu mengetik beberapa kata disana dan mengirimkannya pada Hae Jin sunbae.

To : Hae Jin sunbae.

Sunbae, apa kau memiliki waktu setelah ini? aku ingin bertemu denganmu sebentar.

Aku melihat sosoknya yang berada dibarisan bangku agak depan. Lalu pandangannya menengok kearahku. Dia tersenyum kepadaku, yang membuatku langsung membalas senyumannya itu.

From : Hae Jin sunbae.

Tentu, tunggu aku di minimarket didepan sana. Aku akan menyusulmu setelah berbicara dengan temanku sebentar.

Aku tersenyum semakin lebar saat membaca pesan balasannya. Lalu kembali melihatnya yang ternyata juga sedang melihatku dengan tersenyum seperti tadi. Jika seperti ini terus, kurasa aku tak bisa menyerah sekarang.

****

Aku menduduki bangku kosong yang disediakan minimarket dsini. Dengan menikmati camilan soreku yakni sosis dan susu strawberry, aku menunggu Hae Jin sunbae datang. Dua buah sosis sudah kuhabiskan. Bahkan sosis ketiga sekaligus sosis terakhirku ni hanya menyisakan setengah bagian saja. Aku meminum kembali susu strawberry kesukaanku in. Menghabiskannya tanpa sisa sama sekali. Dan kembali berniat memakan sisa dari potongan sosis siap santap digenggamanku. Hingga kegiatanku tertunda saat suara manis terdengar oleh telingaku.

Aku menengok kearah makhluk berbulu yang sedang bergelayut manja pada kedua kakiku. Sesekali kepalanya itu dia gosokan disana. Seolah ingin bermanja sejenak denganku. Aku tersenyum melihat kelakuan manis kucing berbulu putih hitam itu. Dengan sadar, aku bangkit dari dudukku, kemudian berjongkok untuk mendekat kearah kucing manis itu berada.

“apa kau lapar?”.

Dia hanya mengeong saat aku bertanya. Dengan masih tersenyum gemas, aku mengambil sisa sosisku tadi. Dan menghancurkannya sedikit agar teksturnya lebih lembut. Lalu meletakannya pada telapak tanganku dan memberikannya pada kucing manis ini.

Beberapa kali jilatan lidahnya mengenai kulit tanganku. Yang menimbulkan sensasi geli saat merasakannya. Dan tak membutuhkan waktu lama, sosis yang awalnya ada ditelapak tanganku, kini sudah habis tak tersisa. Aku mengusap beberapa kali bulu-bulu kepalanya yang lembut. Dan kucing itu juga dengan manja mengendus tanganku. Lalu setelahnya berlari kearah kucing lain yang tak jauh dari tempatku. Dan akhirnya pergi meninggalkanku.

Aku membuka ranselku dan mengambil tisu basah yang memang selalu kubawa setiap saat. Kemudian membersihkan sisa remahan sosis yang masih menempel pada tanganku. Membershkannya hingga bersih seperti semula.

“Yeon Hwi-a”.

Sosok tinggi tegap ternyata sudah berdiri tak jauh dari tempatku. Aku tersenyum saat Hae Jin sunbae berjalan mendekat kearahku dengan senyum menawannya.

“apa kau sudah lama menungguku?”.

Aku menggeleng sejenak. Menyangkal pertanyaannya yang dia tanyakan padaku. Dan kurasakan tangan besarnya mengacak pelan ujung rambutku. Yang entah mengapa, ini semakin membuat hatiku berdebar karenanya.

“sepertinya kau sangat menyukai kucing”.

“ne? Kucing?”.

Kenapa sunbae beranggapan seperti itu? apa dia melihatku memberi makan kucing liar tadi? Itu berarti dia sudah cukup lama disini dan aku tak menyadari kedatangannya?

“aku melihatmu memberi makan kucing liar itu tadi. Tapi sepertinya kau tak menyadari kehadiranku”.

Aku membulatkan mataku tak percaya. Kenapa sunbae bisa tahu isi kepalaku? Apa dia bisa membaca pikiran seseorang? Apa dia memiliki ilmu yang dianut oleh cenayang? Benarkah?

“Yeon Hwi-a, bukankah kau ingin mengatakan sesuatu padaku?”.

“ah, matta! Tunggu sebentar”.

Aku kembali membuka ranselku. Dan mengeluarkan bungkusan kertas yang sudah kusiapkan sejak tadi. Lalu menyerahkannya pada Hae Jin sunbae yang ada dihadapanku.

“ige mwoya?”.

Dia bertanya padaku saat kedua tanyannya baru menyentuh bungkusan yang baru saja kuberikan. Aku tersenyum semanis yang kubisa. Lalu mengatakan apa maksud dari benda yang kuberi itu.

“saengil seonmul. Saengil chukhaeyo, sunbaenim”.

“wah..gomawo, Yeon Hwi-a. Apa aku bisa membukanya sekarang?”.

Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Lalu tangannya dengan terampil membuka bungkusan yang membungkus hadiah yang kuberikan padanya. Hingga sebuah figura photo sudah terlihat disana. Mataku yang hanya melihat bagian belakang figura itu, hanya menunduk. Tak tahu apakah Hae Jin sunbae akan menyuka hadiah yang kuberikan padanya itu.

“waeyo? Apa sunbae tak menyukainya?”.

Tak ada jawaban dari pertanyaanku. Hanya tatapan Hae Jin sunbae yang terus mengarah pada sketsa wajah yang ada difigura itu. Aku semakin menunduk tak berani sekarang.

“ini bagus sekali, aku menyukainya”.

Aku mendongakan kepalaku saat pujian yang dikatakan Hae Jin sunbae pada hasil karyaku. Dengan senyum tersipu, aku sangat bahagia sekarang.

“kau yang membuatnya sendiri?”.

Aku mengangguk mengiyakan atas pertanyaannya. Lalu kembali lagi tangan besarnya mengacak pelan ujung rambutku. Hingga aku tersadar jika sebuah pelukan tiba-tiba kurasakan saat ini. Yang juga membuat waktuku seolah berhenti bergerak sekarang.

Mataku berkali-kali mengerjap. Menguji apakah yang sedang terjadi sekarang ini nyata atau tidak. Hingga akhirnya otakku menangkap informasi jika yang sedang terjadi sekarang ini adalah nyata. Tubuhku tetap membeku. Sama sekali tak dapat kugerakan karena aku terlalu gugup. Aku bahkan mencoba agar degup jantungku kembali normal. Namun kurasa usahaku sia-sia. Dan ternyata aku dapat merasakan degup jantung Hae Jin sunbae karena jarak kami yang tak berjarak. Tapi sayang sekali, tak ada debaran gila seperti yang kualami. Yang menunjukan jika aku memang tak memiliki arti untuknya.

****

Jumat, 2 Mei 2008.

Seoul, Gwanak-gu, Daehak-dong, Gwanak-ro, Seoul Nat’l Univ.

Aku kembali mengulang materi yang semalam sudah kupelajari. Kembali mencernanya kedalam otakku agar dapat membekas dan teringat. Bahkan kegiatanku ini bukan hanya diriku saja yang melakukannya. Beberapa mahasiswa yang memang datang 20 menit lebiha awal dari waktu kelas dimulai juga melakukan hal yang sama denganku. Tak terkeuali gadis jangkung disampngku ini, Kim Jae Hee alias Jessi Kim. Gadis keturunan Korea-Rusia ini bahkan sudah datang lebih awal dariku.

“Yeon Hwi-ssi, apa kau punya pulpen lain?”.

Aku mengambil salah satu pulpenku yang memang sedang menganggur. Lalu memberikannya pada pada Jessi yang duduk disebelahku. Dia meraihnya, dan ternsenyum senang menyahutnya.

“thank you”.

Aku hanya membalas senyum saat dia berterima kasih padaku. Lalu kembali melanjutkan acara belajarku yang sempat terhenti sejenak. Namun sepertinya aku harus menghentikan kegiatanku ini lagi. Saat suara melengking seorang wanita terdengan diseluruh penjuru kelas.

“Dong Chul-a!”.

Aku memijit pelipisku pelan. Suaranya yang cempreng membuat kelaku sedikit pusing dan sulit untuk berkonsentrasi lagi. Hingga aku memutuskan untuk menutup bukuku sejenak saat wanita itu justru mengobrol dengan salah satu mahasiswa yang satu angkatan denganku.

“kau juga terganggu dengan suaranya bukan?”.

Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Jessi yang ditujukan padaku. Dengan memasang wajah memelas, aku meletakan kepalaku pada meja didepan kami. Jessi melakukan hal yang sama denganku. Hingga wajah kami saling berhadapan sekarang.

“Sa Rang sunbae benar-benar gila. Kau tahu, saat pesta penyambutan mahasiswa baru dua bulan lalu dia menyatakan cinta pada Hae Jin sunbae. Tapi lihat sekarang, dia bahkan sedang menggoda pria lain yang usianya lebih muda darinya”.

Jessi menyuarakan suaranya dengan berbisik saat mengatakan hal itu. Meskipun hanya sebuah bisikan yang mungkin didengar orang lain, tapi untuk pendengaranku ini sudah sangat jelas. Lalu kembali aku teringat masa saat dimana hari penyambutan itu. Benar juga. Sunbae itulah yang menyatakan perasaannya pada Hae Jin sunbae malam itu. Bahkan dia juga sempat menciumnya disana. Benar-benar memalukan.

“Yeon Hwi-a”.

Aku menengok kearah Hae Jin sunbae yang baru saja masuk kedalam kelas. Aku langsung tersenyum manis untuk membalas senyuman yang lebih dulu dia berkan.

“annyeonghaseyo, sunbaenim”.

“kau sudah belajar untuk kuis hari ini?”.

Aku mengangguk sembari menahan senyumanku agar tak terlalu berlebihan. Dan kulihat Hae Jin sunbae duduk dibangku bagian belakang. Yang tak jauh dari tempatku dan Jessi duduk.

“wahh.. sepertinya kau semakin dekat dengan Hae Jin sunbae. Apa kalian sudah berkencan?”.

Sontak aku membulatkan mataku. Kemudian menormalkan ekspresiku agar tak kentara saat mencoba menyangkal pertanyaan yang diucapkan Jessi. Karena memang tak terjadi apapun diantara aku dan Hae Jin sunbae.

“apa maksudmu? Dia memang selalu baik pada setiap hubaenya. Dan kami tak memiliki hubungan apapun. Kami hanya sekedar sunbae dan hubae saja. Tak ada yang terjadi diantara kami. Lagi pula dia juga sudah memiliki yeo-chin. Bagaimana mungkin aku bisa berkencan dengannya?”.

Aku terus menolak pertanyaan Jessi dengan terus mengoceh. Dengan maksud agar dia tak menyebarkan gosip aneh tentang diriku dan Hae Jin sunbae. Bahkan tanpa kusadari aku juga menyebut kata “yeo-chin” tadi. Seolah memperjelas jika kami memang hanya sekedar hubae dan sunbae di kampus.

“arrseo, arraseo. Aku sudah tahu maksudmu. Lanjutkan lagi belajarmu”.

Perdebatan kami akhirnya berakhir. Tapi aku masih tetap gelisah. Ada apa dengan diriku kali ini? Kenapa aku selalu saja seperti ini? Ahh.. Sepertinya aku memang menjadi orang gila karena jatuh cinta.

****

Aku sedang terduduk disalah satu bangku di halte bus saat sebuah sedan hitam keluaran dalam negeri berhenti dihadapanku. Seorang pria paruh baya yang mengemudi sedan tersebut keluar dengan setelan jas yang masih melekat rapi disana. Dengan senyum yang ditujukan padaku, sontak aku berdiri dan berjalan cepat kearahnya.

“Appa!”.

Aku berucap cukup kencang. Dan ayahku hanya semakin memperjelas senyuman dibibirnya itu. Lalu mengisyaratkanku untuk segera masuk kedalam mobil. Segera saha aku mengikuti perintah tak langsungnya itu.

Perjalanan dari Seoul Univ kearah rumahku yang ada di Oksu-dong memang cukup memakan waktu. Aku terus memutar channel radio yang tepat. Hingga akhirnya aku menemukan salah satu channel yang tepat untukku.

“bagaimana dengan kuliahmu? Apa semuanya lancar?”.

Aku mengangguk sembari bersenandung kecil mengikuti alunan lagu. Dengan memandang pemandangan luar jendela mobil, aku terus tersenyum menikmati perjanan kami.

“Appa, beberapa waktu lalu aku menjadi model untuk majalah fashion. Dan sepertinya sudah diterbitkan kemarin. Appa harus melihat wajahku disana. Aku benar-benar cantik saat itu”.

“eomma-mu sudah memberitahuku. Dan katanya juga sebelum hari pemotretanmu itu kau bahkan sudah berkencan dengan model yang lainnya. Dan juga kata eomma-mu dia sangat tampan dan tinggi seperti appa. Apa benar begitu?”.

Sepertinya aku lebh lambat jika di urusan menyebarkan berita. Bagaimana bisa eomma mengatakan semuanya? Dia bahkan mengatakan jika Hae Jin sunbae berkencan denganku. Padahal sudah berulang kali aku menjelaskan kami pergi menonton hanya untuk tugas kampus. Kenapa dia mengatakan pada appa jika kami sedang berkencan?

“sepertinya terjadi salah paham disini. Appa, aku tidak berkencan dengannya. Dan saat itu kami hanya menonton film untuk tugas yang diberikan dosen kami. Appa percaya padaku kan?”.

Kekehan kecil ayahku menunjukan jika dia sedang mengejekku sekarang. Sepertinya upayaku tadi mengalami kegagalan. Dan juga ayahku sepertinya tak percaya dengan kata-kata pembelaanku. Kenapa justru seperti ini?

“kepana appa menertawakanku? Aku sama sekali tak sedang bercanda sekarang”.

“appa hanya bahagia. Karena sekarang putri kecil ayah sudah besar”.

Aku tersenyum saat ayah mengatakan hal itu. Lalu dengan cepat aku mengaitkan tangan kiriku kelengan ayahku yang masih menyetir.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Kau tak melihat jika appa masih menyetir?”.

“waeyo? Aku hanya ingin bermanja sebentar dengan ayah tampanku ini. Apa appa keberatan?”.

Suara tawa ayahku seolah menjawab pertanyaan yang terlontar olehku. Aku pun ikut tertular tawa ayahku yang cukup membahana. Dan perjalanan pulang yang awalnya membosankan kini menjadi lautan tawa antara aku dan ayahku.

****

Sabtu, 3 Mei 2008

Seoul, Seongdong-gu, Seoul Forest Park.

Aku memandang ponsel lipat silverku kembali. Memastikan apakah ada pesan atau panggilan masuk untukku. Namun aku harus menghela nafas lagi. Aku sudah duduk di bangku ini selama hampir satu jam. Sejak pukul enam pagi aku sudah sampai disini. Namun si pembuat janji yaitu Kwon Yoon Ji masih belum menampakan batang hidungnya. Dan sekarang jarum panjang pada jam tanganku sudah berada di angka dua belas dan jarum pendek di angka tujuh. Sekarang sudah tepat satu jam. Hingga akhirnya aku melihat sosok gadis dengan balutan jaket putih tengah berlari tergesa kearahku.

“mian, aku bagun terlambat tadi. Semalam aku harus ke bandara untuk menjemput kedua orang tuaku. Mian, aku benar-benar minta maaf”.

Aku menghembuskan nafasku kasar. Seolah mengatakan jika aku sedang kesal sekarang. Dan menyilangkan kedua tanganku didepan dada. Menunjukan sikap kesalku pada Yoon Ji yang sudah membuatku menunggunya amat sangat lama.

“aku bahkan sudah berlari dari rumahku kesini sejak jam lima pagi tadi. Dan aku sudah sampai pukul enam tepat. Dan kau tahu sekarang pukul berapa bukan? Aku membuang waktuku hanya untuk menunggumu disini”.

“mianhae, Yeon-a. Cha! Sebagai tanda permintaan maaf, aku akan membelikanmu seolleongtang. Otte?”.

“seolloengtang?”.

Entah bagaimana saat ini senyumku mengembang ketika nama makan itu terdengar olehku. Anggukan kepalaku semakin menunjukan jika aku setuju dengan ucapan Yoon Ji. Bagaimana aku bisa seperti ini? Sepertinya aku terlalu mudah dirayu jika dengan makanan.

“kajja! Aku juga akan membelikanmu es krim vanila saat pulang nanti”.

“let’s go!”.

****

“wah.. kenyangnya. Yeon-a, ayo kita makan es krim”.

Aku masih menghabiskan beberapa suap lagi sisa seolloengtang yang ada dimangkuk milikku. Menghabiskannya tanpa sisa sama sekali lalu menatap Yoon Ji yang sedang meminum air mineral dari dalam botol.

“aku sudah selesai. Aku akan ke mini market disana lebih dulu, kau jangan lupa membayar tagihannya”.

Aku menarik kursiku dan pegi melesat meninggalkan Yoon Ji. Menuju ke mini market yang bersebelahan dengan restoran seolloengtang yang sebelumya menjadi tempat sarapanku dan Yoon Ji.

Aku meraih dua buah es krim vanila yang ada didalam freezer. Juga empat buah sosis siap makan yang disediakan mini market ini. Aku mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu won dari saku celanaku. Memberikannya pada kasir yang melayani disini.

Tubuhku kududukan disalah satu kursi yang ada didalammini market ini setelah menerima kembalian dari kasir yang sekarang sedang duduk dengan memainkan ponselnya. Sembari menunggu Yoon Ji datang kemari, aku memakan sosis yang kubeli tadi dengan terus menatap pemandangan jalanan yang terlihat dari luar kaca.

“kau sudah membelinya?”.

Yoon Ji mendudukan dirinya didepanku setelah akhirya sampai menyusulku kemari. Kemudian mengambil salah satu sosis yang kuletakan diatas meja dan memakannya. Meskipun sebelumnya kami sudah memakan semangkuk seollongtang, tapi tetap saja soss adalah makanan wajib kami setelah memakan makanan utama. Dan aku hanya memandangnya sejenak lalu tersenyum setelahnya.

“mwoya? Bukankah itu Hae Jin sunbae?”.

Sontak arah pandangku kini menuju kemana ujung telunjuk Yoon Ji mengarah. Mataku membulat dan degup jantungku kembali tak normal. Bahkan sekarang aku merasakan keringat dingin membanjiri tubuhku saat kulihat sosok Hae Jin sunbae dengan seorang wanita itu lagi berjalan kearah pintu masuk mini market ini.

Aku memalingkan wajahku saat keduanya memasuki mini mrket yang sama denganku. Entah kenapa aku ingin sekali bersembunyi dari hadapan Hae Jin sunbae sekarang. Meskipun dalam sisi lainnya aku menginginkan dirinya menemukan tempat persembunyianku. Dan memanggil namaku dengan suaranya.

“Yeon Hwi-ssi?”.

Harapanku pupus sudah. Disaat aku menginginkan dirinya yang memanggil namaku, tapi kenyataan kekasihnyalah yang memanggilku saat ini. Yang membuatku harus menerima jika dia memang sudah memilki seseorang yang ada dihatinya.

“ah, annyeonghaseyo, Hyun Joo-ssi”.

Aku bangkit dari dudukku dan membungkukan badanku untuk menunjukan rasa hormat. Juga mencoba untuk tersenyum ramah meskipun dengan paksaan.

“kau juga kemari? Ini kedua kalinya kita bertemu disini. Apa kau berolahraga juga disini?”.

Suara Hae Jin sunbae kini tertuju padaku. Setelah membeli dua botol air mineral yang ada ditangannya itu, kini dia menghampiri kami semua. Aku hanya mengangguk tanpa suara karena kurasa suaraku akan seperti orang tercekik karena dirinya yang ada dihadapanku bersama kekasihnya itu.

“oh! Annyeonghaseyo, sunbaenim”.

Yoon Ji menyapa Hae Jin sunbae yang kini ikut duduk di meja yang sama dengan kami. Dengan kekasihnya yang lebih dulu duduk disebelah Yoon Ji dan Hae Jin sunbae yang duduk disebelahku dan berhadapan dengan kekasihnya.

Salah satu botol air mineral dia buka. Mungkin karena tutup segelny yang masih baru, Hae Jin sunbae membuka tutup itu dengan sedikit menggunakan keuatannya. Yang tentu saja saat melakukan hal itu beberapa otot tangannya muncul beberapa detik. Dan itu membuat hatiku semakin berdesir.

“cha! Minumlah!”.

Dia memberikan botol yang sudah terbuka penutupnya itu kepada wanita yang ada didepannya. Senyum merekah terlihat jelas diwajah keduanya. Yang mengakibatkan nyeri hebat pada dadaku.

Aku mengalihkan arah pandangku, menatap kembali pemandangan luar dibalik kaca. Menarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kucoba berulang kali. Berharap ini bisa membuatku lebih tenang setelah dilanda kecemburuan akibat ulah sepasang kekasih yang sedang beromantis ria yang ada didepan mataku.

Konsentrasiku untuk menenangkan diri buyar ketika getaran ponselku terasa dibagian saku celanaku. Tak butuh waktu lebih lama, segera kubuka lipatan ponsel berwarna silver itu.

“yeoboseyo?”.

“Yeon-a. Apa kau masih diluar?”.

Kudengar suara ibuku ada diujung panggilan ini. Mataku kini mengarah pada tiga orang yang terus memandangiku. Dan berakhir pada sahabat karibku yang memandangku dengan penuh tanya. Aku hanya menyebut kata’eomma’ tanpa suara kearahnya. Dan kuterima anggukan mengerti dari wajah Yoon Ji yang awalnya mengeluarkan ekspresi ingin tahu itu.

“nde, eomma. Apa terjadi sesuatu?”.

“ah, eomma hanya ingin mengatakan jika akan ke Pohang hari ini bersama appa-mu, dan mungkin kami akan pulang besok. Ada hal yang harus kami lakukan disana”.

“ah, aku mengerti”.

“baiklah, eomma akan berangkat sekarang. Berhati-hatilah saat pulang nanti”.

Pip!

Panggilan kami terputus setelah aku menekan tombol bewarna merah yang ada di ponselku. Juga dengan langsung kututup ponselku kembali dan meletakannya pada saku celanaku yang menjadi tempat bersemayam sebelumnya.

Arah mataku sekarang memandang kembali tiga sosok yang ternyata terus memandangiku sejak aku menerima panggilan tadi. Hingga beberapa detik kemudian, aku menghentikan aksi tanpa suara kami juga bersiap pergi dari tempat ini. sepertinya aku harus berbohong sedikit agar aku bisa pergi dan agar tak melihat sepasang kekasih ini semakin berbuat kemesraan yang membuatku sakit hati.

“ah, sepertinya ibuku memintaku untuk segera pulang. Yoon Ji-a, kau bisa mengantarku bukan?”.

Aku tersenyum semanis mungkin untuk menyembunyikan omongan penuh dustaku ini. Juga berharap agar Yoon Ji dengan senang hati menerima permintaanku untuk mengantarku pulang sekarang.

“tapi aku tak membawa mobilku kemari”.

Heol! Kenapa disaat genting seperti ini aku justru bernasib sial? Apa ini tandanya aku harus pulang sendiri dengan berlari lagi? Aku sudah terlalu lelah untuk menggerakan kakiku dari sini menuju Oksu-dong.

“apa ada hal sangat mendesak? Sampai ibumu menyuhmu untuk pulang sekarang?”.

Hae Jin sunbae bertanya padaku sekarang. Dan dengan berat hati, sekali lagi aku menjawab pertanyaannya dengan sebuah bualan semata.

“nde, sunbaenim. Ada hal yang sangat mendesak yang harus kulakukan. Jadi, aku harus secepatnya sampai dirumah”.

“ah, jadi seperti itu. Bagaimana jika aku saja yang mengantarmu?”.

Mataku mentapnya dengan ketidak percayaan. Bahkan mulutku kini juga sedikit membuka tanpa kusadari. Apa Hae Jin sunbae sedang bercanda? Atau dia tidak sadar jika sekarang kekasih tercintanya itu sedang terduduk dengan menjuruskan tatapan membunuh saat ini? atau mungkin, dia sudah gila?

“aniyo, sunbae. Aku akan memesan taksi saja. Yoon Ji-a, kau juga harus pulang bersamaku. Ibuku ingin bertemu denganmu juga”.

Aku menunduk beberapa kali. Lalu dengan sigap, tanganku segera meraih tangan Yoon Ji yang sepertinya masih mencerna kalimatku. Aku terus menariknya keluar. Dengan langkah kaki yang lumayan cepat, aku semakin menjauh dari mereka. Hae Jin sunbae dan kekasihnya, Ryu Hyun Joo.

****

Kamis, 22 Mei 2008.

Seoul, Gwanak-gu, Daehak-dong, Gwanak-ro, Seoul Nat’l Univ.

Kini aku sedang menjelajahi beberapa rak buku yang ada di perpustaaan. Sudah hampir lima menit aku mencari buku tentang kehidupan Jendral Lee Soon Shin disini. Namun mataku yang sudah dibantu dengan alat yang bernama kaca mata ini tak kunjung menemukan benda yang kucari. Hingga akhirnya aku menemukan buku tebal yang kuinginkan, namun ternyata kesabaranku tak berhenti sampai disini.

Buku bewarna coklat kehitaman itu dengan manis berada ditempat paling atas dar rak buku. Yang membuatku harus mau tak mau mencari alat bantu untuk meraihnya. Aku meletakkan tangga kecil yang memang biasa digunakan untuk mengambil buku yang berada dirak yang cukup tinggi.

Kakiku menaikinya satu persatu. Tangga yang hanya memiliki dua  pijakan ini rupanya tak cukup membuatku untuk mencapai buku yang ada dibagian paling atas dirak ini. Yang membuatku harus sedikit berjinjit untuk dapat meraihnya.

Usaha memang tak menghianati hasil. Akhirnya aku dapat mengambil buku tebal bewarna coklat tua itu. Bahkan sekarang aku bisa tersenyum senang dengan keadaanku yang masih dalam kondisi berjinjit diatas tangga. Dan ternyata hal itu membuat kesembanganku menghilang. Hingga akhirnya…

Buk!

Aku memejamkan mataku saat tanganku mengusap-usap pinggulku yang rasa sakitnya luar biasa. Berharap jika dengan seperti ini, rasa sakit itu setidaknya akan sedikit berkurang. Tapi rupanya aku tak hanya merasakan sakit pada bagian pinggulku saja. Terbukti dengan sekarang aku merasakan aliran benda cair dengan aroma anyir berada dibagian antara mulut dan hidungku.

Tangan kiriku sedikit mengusap area tersebut. Dan dugaaanku benar. darah segarlah yang ternyata benda cair beraroma anyir itu. Sepertinya ini karena hidungku yang tak sengaja tertimpa buku tebal tadi. Meskipun cukup sial, setidaknya keadaan perpustakaan dijam seperti ini bisa dibilang sepi pengunjung. Karena tentu saja, ini bahkan sudah hampir jam enam sore.

Aku bergegas bangkit dari posisiku sekarang. Lalu meraih buku tebal yang menyebabkan aku mimisan yang tergeletak tak jauh dari posisiku saat jatuh tadi dan membawanya ketempat dimana aku meletakan tasku sebelumnya.

Aku membawa erat buku tebal itu dengan menggunaan tangan kananku. Karena tangan kiriku sedang sibuk untuk menutupi bekas darah yang keluar dari hidungku tadi. Hingga kusadari suasana yang pernah kualami sebelumnya kembali terulang.

Seorang pria berbadan cukup tegap sedang duduk membelakangiku. Dia mendudukan dirinya ditempatku sebelumnya duduk. Sekarang aku kembali merasakan de javu. Ini seperti saat ketika pertama kalinya aku berbicara dengannya. Dengan Hae Jin sunbae.

“Yeon Hwi-a”.

TBC



Thanks for reading!

13 thoughts on “Without Love ( Part 2)

  1. aaa romantisnya hae jin
    tp kan haejin udah punya pacar? iya gak sih??
    sikapnya yg romantis jd bikin serbasalah
    jd penasaran sama haejin gmna aslinya??
    knpa sikapnya bgtu romantis
    tp si yg mengaku pacar hae jin kelihatan nyebelin banget

    Disukai oleh 1 orang

  2. Yeonhwi tegar yaaa
    Menghadapi cinta pertamanya dengan sabar dan tuluss
    Aku suka sikap yeonhwi tapi aku sebel sm haejin😂
    Knp cowo sllu baik kpd stiap wanita😂 kan bikin php😭
    Ditunggu klnjtnnya eonni^^

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s